(Rungkut
Megah Raya Blok D No 16)
Rabu,
tgl 18 Oktober 2017, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
ALLAH
TRITUNGGAL(12)
4. Komentar para penafsir tentang Ul 6:4.
a.
Matthew Henry.
Matthew
Henry (tentang Ul 6:4-5): “Here
is, I. A brief summary of religion, containing the first principles of faith and
obedience, v. 4,5. ... 1. What we are here taught to
believe concerning God: ... That he is the one only living and true God;
he only is God, and he is but one. The firm belief of this self-evident truth
would effectually arm them against all idolatry,
which was introduced by that fundamental error, that
there are gods many. It is past dispute that there
is one God, and there is no other but he, Mark 12:32.” [=
Di sini ada, I. Suatu ringkasan singkat tentang agama, mencakup / berisikan
prinsip-prinsip pertama dari iman dan ketaatan, ay 4,5. ... 1. Apa yang di sini
kita diajar untuk percaya berkenaan dengan Allah: ... Bahwa Ia adalah
satu-satunya Allah yang hidup dan benar; hanya Dia adalah Allah, dan Ia hanya
satu. Kepercayaan yang teguh tentang kebenaran yang
jelas ini akan mempersenjatai mereka terhadap semua penyembahan berhala, yang
diperkenalkan oleh kesalahan dasar itu, bahwa di sana ada banyak allah.
Merupakan sesuatu yang sudah tak diperdebatkan bahwa
di sana ada satu Allah, dan di sana tidak ada yang lain kecuali Dia, Mark 12:32.].
Mark 12:29-32
- “(29)
Jawab Yesus: ‘Hukum yang terutama ialah: Dengarlah,
hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. (30) Kasihilah
Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan
segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. (31) Dan hukum yang kedua
ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain
yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.’ (32) Lalu kata ahli Taurat itu
kepada Yesus: ‘Tepat sekali, Guru, benar kataMu itu, bahwa
Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.”.
Memang
dimanapun dalam Alkitab ditekankan bahwa hanya ada satu Allah, maka ini
tujuannya adalah menentang polytheisme / kepercayaan kepada banyak allah /
dewa, bukan menentang doktrin Allah Tritunggal.
Matthew
Henry (tentang Ul 6:4-5): “Some
have thought there is here a plain intimation of the trinity of persons in the
unity of the Godhead; for here is the name of God three times, and yet all
declared to be one.” [= Sebagian / beberapa orang telah
berpikir bahwa di sini ada suatu isyarat yang jelas tentang Tritunggal dari
pribadi-pribadi dalam kesatuan dari Allah; karena di
sini ada nama Allah tiga kali, tetapi semua dinyatakan sebagai satu.].
Ul 6:4-5 -
“(4)
Dengarlah,
hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN
itu esa! (5) Kasihilah TUHAN,
Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap
kekuatanmu.”.
b.
Adam Clarke.
Adam
Clarke mengatakan bahwa orang-orang Yahudi ini dalam melakukan pengakuan iman
ini, mengulang kata EKHAD ini dengan sangat keras sampai beberapa menit.
Ia lalu melanjutkan dengan berkata sebagai berikut:
Adam
Clarke
(tentang Ul 6:4): “this
I suppose they do to vent a little of their spleen against the Christians, for
they suppose the latter hold three Gods, because of their doctrine of the
Trinity; but all their skill and cunning can never
prove that there is not a plurality expressed in the word אֱלֹהֵ֖ינוּ /
'Eloheeynuw,
which is translated ‘our God’; and were the Christians,
when reading this verse, to vociferate אֱלֹהֵ֖ינוּ /
'Eloheeynuw
for several minutes as the Jews do achad,
it would apply more forcibly in the way of conviction to the Jews of the
plurality of persons in the Godhead, than the word 'achad,
of one, against any pretended false tenet of Christianity, as every Christian
receives the doctrine of the unity of God in the most conscientious manner. Some
Christians have joined the Jews against this doctrine, and some have even
outdone them, and have put themselves to extraordinary pains to prove that 'Elohiym
is a noun of the singular number! This has not yet been proved. It would be as
easy to prove that there is no plural in language.”
[= ini
saya duga mereka lakukan untuk menyatakan sedikit dari khayalan mereka terhadap
/ menentang kekristenan, karena mereka menganggap bahwa yang belakangan ini
mempercayai tiga Allah, karena doktrin mereka tentang Tritunggal; tetapi semua keahlian dan
kecerdikan mereka tidak pernah dapat membuktikan bahwa tidak ada kejamakan yang
dinyatakan dalam kata
ELOHEYNU, yang
diterjemahkan ‘Allah kita’;
dan seandainya orang-orang Kristen, pada waktu membaca ayat ini,
meneriakkan אֱלֹהֵ֖ינוּ /
'Eloheeynuw
selama beberapa menit seperti yang orang-orang Yahudi lakukan dengan kata EKHAD,
itu akan memberikan pembuktian dengan lebih kuat kepada orang-orang Yahudi
tentang kejamakan pribadi dalam diri Allah, dari pada kata EKHAD, ‘satu’,
terhadap ajaran palsu apapun yang diclaim tentang kekristenan,
karena setiap orang Kristen menerima doktrin tentang kesatuan Allah dalam cara
yang paling ketat. Sebagian
orang-orang Kristen telah bergabung dengan orang-orang Yahudi menentang doktrin
ini (doktrin
Allah Tritunggal),
dan bahkan sebagian mengalahkan orang-orang Yahudi itu, dan berusaha mati-matian
untuk membuktikan bahwa ELOHIM adalah sebuah kata benda tunggal! Ini tidak
pernah terbukti. Adalah lebih mudah membuktikan bahwa tidak ada bentuk jamak
dalam bahasa.].
c.
Jamieson, Fausset & Brown.
Jamieson,
Fausset & Brown (tentang Ul 6:4):
“‘Hear, O Israel: The Lord our God is one
Lord’ - or, as the words may perhaps be better
translated, ‘Hear, O Israel: Yahweh
is our God (Elohim,
plural), Yahweh alone.’ {The Septuagint has: kurios
ho Theos heemoon kurios heis estin (cf. Zech 14:9).} The basis of their
religion was an acknowledgment of the unity of God with the understanding, and
the love of God in the heart (Deut 6:4-5).” [= ‘Dengarlah, hai Israel: Tuhan
Allah kita adalah satu Tuhan’ - atau, sebagaimana kata-kata itu mungkin bisa
diterjemahkan dengan lebih baik, ‘Dengarlah hai Israel: Yahweh
adalah Allah (ELOHIM, bentuk jamak) kita, satu-satunya Yahweh’. {Septuaginta
menuliskan: kurios ho Theos
heemoon kurios heis estin (bdk. Zakh 14:9).}
Dasar dari agama mereka adalah suatu pengakuan tentang kesatuan Allah dengan
pengertian, dan kasih kepada Allah dalam hati (Ul 6:4-5).].
Catatan:
dalam buku fisiknya bukan ditulis ‘Yahweh’ tetapi ‘Jehovah’.
d.
Albert Barnes.
Barnes’
Notes (tentang Ul 6:4): “These
words form the beginning of what is termed the ‘Shema’ (‘Hear’) in the
Jewish Services, and belong to the daily morning and evening office. They may be
called ‘the creed of the Jews.’ This weighty text contains far more than a
mere declaration of the unity of God as against polytheism; or of the sole
authority of the revelation that He had made to Israel as against other
pretended manifestations of His will and attributes. It asserts that the Lord
God of Israel is absolutely God, and none other. He, and He alone, is Jehovah
(Yahweh) the absolute, uncaused God; the One who had, by His election of them,
made Himself known to Israel.” [= Kata-kata ini membentuk permulaan dari apa yang
disebut ‘SHEMA’ (‘Dengarlah’) dalam kebaktian-kebaktian Yahudi, dan
termasuk dalam upacara harian pagi dan sore. Kata-kata itu bisa disebut
‘pengakuan iman dari orang-orang Yahudi’. Text yang sangat berpengaruh ini
mengandung jauh lebih banyak dari pada semata-mata suatu pernyataan tentang
kesatuan Allah yang menentang politheisme; atau tentang otoritas satu-satunya
dari wahyu yang telah Ia buat kepada Israel bertentangan dengan
manifestasi-manifestasi palsu yang lain tentang kehendak dan atribut-atributNya.
Itu menegaskan bahwa Tuhan Allah dari Israel adalah Allah secara mutlak,
dan tidak ada yang lain. Ia, dan hanya Ia sendiri, adalah Yehovah (Yahweh) Allah
yang mutlak, dan tidak mempunyai penyebab; seseorang yang oleh pemilihanNya
tentang mereka, telah menyatakan diriNya sendiri kepada Israel.].
e.
Keil & Delitzsch.
Keil
& Delitzsch
(tentang Ul 6:4): “‘Jehovah our God is one Jehovah.’ This does
not mean ‘Jehovah is one God, Jehovah alone’ (Abenezra), for in that case יְהֹוָה
לְבַדֹּו
(YEHOVAH LEBADO) would be used instead of יְהֹוָה
אֶחָד
(YEHOVAH EKHAD);
still less ‘Jehovah our God, namely, Jehovah is one’ (J. H. Michaelis). יְהֹוָה
אֶחָד
together form the predicate of the sentence. The idea is not, Jehovah our God is
‘one (the only) God,’ but ‘one (or the only) Jehovah:’ ... Hence
what is predicated here of Jehovah (Jehovah one) does not relate to the unity of
God, but simply states that it is to Him alone that the name Jehovah rightfully
belongs, that He is the one absolute God, to whom no other Elohim can be
compared. This is also the meaning of the same expression in Zech. 14:9, where
the words added, ‘and His name one,’ can only signify that in the future
Jehovah would be acknowledged as the one absolute God, as King over all the
earth.” [=
‘Yehovah Allah kita adalah satu Yehovah’. Ini tidak berarti ‘Yehovah
adalah satu Allah, Yehovah saja’ (Abenezra), karena dalam kasus itu יְהֹוָה
לְבַדֹּו
(YEHOVAH LEBADO) akan digunakan dan bukannya
יְהֹוָה
אֶחָד
(YEHOVAH EKHAD); dan lebih-lebih bukan ‘Yehovah Allah kita, artinya,
Yehovah adalah satu’ (J. H. Michaelis). יְהֹוָה
אֶחָד (Yehovah
EKHAD) bersama-sama membentuk predikat dari kalimat itu.
Gagasannya bukanlah, Yehovah Allah kita adalah ‘satu (satu-satunya) Allah’,
tetapi ‘satu (atau satu-satunya) Yehovah’: ... Jadi apa yang dinyatakan di
sini tentang Yehovah (Yehovah satu) tidak berhubungan dengan ketritunggalan
Allah, tetapi hanya / sekedar menyatakan bahwa adalah bagi Dia saja nama Yehovah
itu dimiliki secara benar, bahwa Ia adalah satu Allah yang mutlak, dengan siapa
tak ada ELOHIM lain bisa dibandingkan. Ini
juga merupakan arti dari ungkapan yang sama dalam Zakh 14:9, dimana ditambahkan
kata-kata, ‘dan namaNya satu’, hanya bisa berarti bahwa pada masa yang akan
datang Yehovah akan diakui sebagai satu Allah yang mutlak, sebagai Raja atas
seluruh bumi.].
Zakh
14:9 - “Maka TUHAN
akan menjadi Raja atas seluruh bumi; pada waktu itu
TUHAN adalah satu-satunya dan namaNya
satu-satunya.”.
Keil
& Delitzsch
(tentang Ul 6:4): “This
clause not merely precludes polytheism, but also syncretism, which reduces the one absolute God to a national deity, a Baal (Hos.
2:18), and in fact every form of theism and deism,
which creates for itself a supreme God according to philosophical abstractions
and ideas.” [= Anak
kalimat ini tidak semata-mata membuang / mencegah politheisme, tetapi
juga sinkretisme, yang merendahkan satu Allah yang mutlak menjadi seorang allah
nasional, seorang Baal (Hos 2:18), dan sebetulnya
setiap bentuk dari theisme dan deisme, yang menciptakan untuk dirinya
sendiri seorang Allah yang terbesar / tertinggi sesuai dengan hal-hal yang
abstrak dan gagasan-gagasan yang bersifat filsafat.].
Hos
2:15-19 - “(15) Maka
pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN, engkau akan memanggil Aku: Suamiku,
dan tidak lagi memanggil Aku: Baalku! (16) Lalu Aku menjauhkan nama para Baal
dari mulutmu, maka nama mereka tidak lagi disebut. (17) Aku akan mengikat
perjanjian bagimu pada waktu itu dengan binatang-binatang di padang dan dengan
burung-burung di udara, dan binatang-binatang melata di muka bumi; Aku akan
meniadakan busur panah, pedang dan alat perang dari negeri, dan akan membuat
engkau berbaring dengan tenteram. (18) Aku akan menjadikan engkau isteriKu untuk
selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteriKu dalam keadilan dan
kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang. (19) Aku akan menjadikan engkau
isteriKu dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN.”.
Catatan:
saya tak mengerti mengapa ayat ini dijadikan referensi olehnya.
f.
John Walvoord.
Bible
Knowledge Commentary
(tentang Ul 6:4): “This
verse has been called the Shema,
from the Hebrew word translated ‘Hear.’ The statement in this verse is the
basic confession of faith in Judaism. The verse means that ‘the LORD’
(Yahweh) is totally unique. He alone is ‘God.’ The Israelites could
therefore have a sense of security that was totally impossible for their
polytheistic neighbors. The ‘gods’ of the ancient Near East rarely were
thought of as acting in harmony. Each god was unpredictable and morally
capricious. So a pagan worshiper could never be sure that his loyalty to one god
would serve to protect him from the capricious wrath of another. The
monotheistic doctrine of the Israelites lifted them out of this insecurity since
they had to deal with only one God, who dealt with them by a revealed consistent
righteous standard. This confession of monotheism does not preclude the biblical
doctrine of the Trinity. ‘God’ is plural
(ELOHIM), possibly implying the Trinity, and ‘one’
(EKHAD) may suggest a unity of the Persons in the Godhead (cf. Gen 2:24,
where the same word for ‘one’ is used of Adam and Eve).”
[= Ayat ini telah disebut SHEMA, dari kata Ibrani yang diterjemahkan
‘Dengarlah’. Pernyataan dalam ayat ini adalah pengakuan iman dasar dalam
Yudaisme. Ayat itu berarti bahwa ‘TUHAN’ (Yahweh) adalah unik secara total.
Hanya Dia adalah ‘Allah’. Karena itu orang-orang Israel bisa mempunyai suatu
perasaan aman yang adalah mustahil secara total untuk tetangga-tetangga mereka
yang percaya banyak allah. ‘allah-allah / dewa-dewa’ dari Timur Dekat kuno
jarang dipikirkan sebagai bertindak secara harmonis. Setiap allah / dewa tak
bisa diramalkan dan plin plan / berubah-ubah secara moral. Maka seorang
penyembah kafir tidak pernah bisa yakin bahwa kesetiaannya kepada satu allah /
dewa akan berfungsi untuk melindungi dia dari murka yang plin plan dari allah /
dewa yang lain. Doktrin monotheistik dari orang-orang Israel mengangkat mereka
keluar dari ketidak-amanan ini karena mereka harus berurusan dengan hanya satu
Allah, yang menangani mereka dengan suatu standard kebenaran konsisten yang
dinyatakan. Pengakuan monotheistik ini tidak membuang doktrin Alkitabiah tentang
Tritunggal. ‘Allah’ adalah jamak (ELOHIM),
mungkin menunjuk secara implicit pada Tritunggal, dan ‘satu’ / ‘esa’
(EKHAD) bisa mengusulkan suatu kesatuan dari Pribadi-pribadi dalam Allah (bdk.
Kej 2:24, dimana kata yang sama untuk ‘satu’ digunakan tentang Adam dan
Hawa).].
Catatan:
dari semua buku tafsiran yang saya gunakan dalam mempelajari Ul 6:4 ini,
hanya penafsir ini yang menggunakan kata EKHAD sebagai dasar dari doktrin
Allah Tritunggal.
g.
Calvin
(tentang Ul 6:4): “‘Hear, O Israel.’ When
Moses proclaims that God is One, the statement is not confined to His sole
essence, which is incomprehensible, but must be also understood of His power and
glory, which had been manifested to the people; as though he had said, that they
would be guilty of rebellion unless they abode in the One God, who had laid them
under such obligations to Himself. Therefore he not only calls him Jehovah, but
at the same time infers that He is the God of that people whom he addresses,
‘Thy God.’ Thus all other deities are brought to nought, and the people are
commanded to fly and detest whatever withdraws their minds from the pure
knowledge of Him; for although His name may be left to Him, still He is stripped
of His majesty, as soon as He is mixed up with a multitude of others. Thus He
says by Ezekiel, (Ezekiel 20:39,) ‘Go ye, serve ye every one his idols;’ in
which words He not only repudiates all mixed worship, but testifies that He
would rather be accounted nothing than not be worshipped undividedly. The
orthodox Fathers aptly used this passage against the Arians; because, since
Christ is everywhere called God, He is undoubtedly the same Jehovah who declares
Himself to be the One God; and this is asserted with the same force respecting
the Holy Spirit.”
[= ‘Dengarlah, hai Israel’. Pada waktu Musa
memproklamirkan bahwa Allah adalah Satu, pernyataan ini tidak dibatasi pada
satu-satunya hakekatNya, yang tidak bisa dimengerti, tetapi harus juga
dimengerti tentang kuasa dan kemuliaanNya, yang telah dinyatakan kepada bangsa
itu; seakan-akan ia telah mengatakan, bahwa mereka akan bersalah tentang
pemberontakan kecuali mereka tinggal dalam Allah yang Satu itu, yang telah
meletakkan mereka di bawah kewajiban-kewajiban seperti itu kepada DiriNya
sendiri. Karena itu ia bukan hanya menyebutNya Yehovah, tetapi pada saat yang
sama menyatakan secara implicit bahwa Ia adalah Allah dari bangsa itu yang ia
sebut, ‘Allahmu’. Jadi semua allah-allah / dewa-dewa lain dibawa pada
kenihilan, dan bangsa itu diperintahkan untuk lari dan membenci apapun yang
menarik pikiran mereka dari pengenalan yang murni tentang Dia; karena sekalipun
namaNya bisa dibiarkan / ditinggalkan kepadaNya, tetap Ia dilucuti dari
keagunganNya, begitu Ia dicampur dengan banyak allah / dewa yang lain. Maka Ia
berkata oleh Yehezkiel, (Yeh 20:39), ‘Pergilah kamu, beribadahlah kamu
masing-masing kepada berhalanya’; dalam kata-kata mana Ia bukan hanya menolak
semua penyembahan campuran, tetapi juga menyaksikan bahwa Ia lebih memilih untuk
dianggap tidak ada dari pada tidak disembah secara tidak terpecah. Bapa-bapa
ortodox sering menggunakan text ini terhadap pengikut-pengikut Arianisme;
karena, karena Kristus dimana-mana disebut Allah, tak diragukan Ia adalah
Yehovah yang sama yang menyatakan DiriNya sendiri sebagai Satu Allah; dan ini
ditegaskan dengan kekuatan yang sama berkenaan dengan Roh Kudus.].
Yeh
20:39a - “Hai kamu,
kaum Israel, beginilah firman Tuhan ALLAH, biarlah masing-masing pergi beribadah
kepada berhala-berhalanya.”.
h. Matthew Poole (tentang Ul 6:4):
“One in essence, and the only object of our worship.”
[=
Satu dalam hakekat, dan satu-satunya obyek penyembahan kita.].
i. Theological Wordbook of the Old Testament (tentang kata ECHAD):
“Some
scholars have felt that, though ‘one’ is singular, the usage of the word
allows for the doctrine of the Trinity.
While it is true that this doctrine is foreshadowed in the ot,
the verse concentrates on the fact that there is one God and that Israel owes
its exclusive loyalty to him (Deut 5:9; 6:5).”
[= Beberapa / sebagian sarjana telah merasa bahwa,
sekalipun ‘satu’ ada dalam bentuk tunggal, penggunaan kata itu mengijinkan
untuk doktrin tentang Tritunggal. Sekalipun
adalah benar bahwa doktrin ini diberi bayangan lebih dulu dalam PL, ayat itu
berkonsentrasi pada fakta bahwa di sana ada satu Allah dan bahwa Israel
berhutang kesetiaan yang exklusif kepadaNya (Ul 5:9; 6:5).]
- hal 30 (no 61).
Ul 5:8-9
- “(8)
Jangan
membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau
yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. (9) Jangan
sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN Allahmu,
adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya
dan kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,”.
Ul
6:4-5 - “(4)
Dengarlah,
hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! (5) Kasihilah TUHAN,
Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap
kekuatanmu.”.
j. P. C. Craigie.
Peter.
C. Craigie (tentang Ul 6:4):
“‘Hear, O Israel’
- see also 5:1, where the same phrase opens the chapter containing the
Decalog, just as here the words introduce a major and important part of Moses’
address. ‘The Lord our God is one Lord.’ The
Hebrew at this point can be rendered in a number of different ways, and it is
possible that ‘one’ is intended as a name or title of God: C. H.
Gordon has suggested the rendering, ‘Yahweh is our God, Yahweh is One.’
These words, which have been called the fundamental monotheistic dogma of the
OT, have both practical and theological implications. The Israelites had already
discovered the practical implications when they celebrated the Exodus in song:
‘Who is like you, O Lord, among the gods?’ (Exod. 15:11), a rhetorical
question inviting a negative response - there were no gods like the Lord! In the
Exodus, the Israelites had discovered the uniqueness of their God and that the
Egyptian ‘gods’ could do nothing to stop the Lord’s people leaving Egypt.
It was because they had experienced the living presence of their God in history
that the Israelites could call the Lord our God. Thus the oneness and reality of the Lord were practical knowledge to the
people. But there were also theological implications and the context of this
verse indicates its source as a direct revelation from God (v. 1). The
word expresses not only the ‘uniqueness’ but also the ‘unity’ of God. As one God (or the ‘Unique’), when he spoke there was no other
to contradict; when he promised, there was no other to revoke that promise; when
he warned, there was no other to provide refuge from that warning. He was not
merely first among the gods, as Baal in the Canaanite pantheon, Amon-Re in
Egypt, or Marduk in Babylon; he was the one and only God and as such he was
omnipotent. It was this
all-powerful Unique God who imposed on Israel the charge to love him, thereby
revealing another aspect of his character.”
[= Bahasa Ibraninya di titik ini bisa diterjemahkan dalam sejumlah cara
yang berbeda, dan adalah mungkin bahwa ‘satu’ dimaksudkan sebagai suatu nama
atau gelar dari Allah: ... Kata itu
menyatakan bukan hanya ‘keunikan’ tetapi juga ‘kesatuan’ dari Allah.
Sebagai satu Allah (atau Yang ‘Unik’), pada waktu Ia berbicara tidak boleh
ada yang lain yang menentang; pada waktu Ia berjanji, tidak ada yang lain yang
membatalkan janji itu; pada waktu Ia memperingatkan, tidak ada yang lain yang
menyediakan perlindungan dari peringatan itu. Ia bukannya semata-mata yang
pertama di antara allah-allah / dewa-dewa, seperti Baal dalam kumpulan dewa-dewa
Kanaan, Amon-Re di Mesir, atau Marduk di Babilonia; Ia adalah satu-satunya Allah
dan sebagai Allah seperti itu Ia adalah maha kuasa.]
- ‘The New International Commentary On The New Testament’.
Catatan:
saya hanya menterjemahkan bagian yang saya garis-bawahi.
k. J. A. Thompson.
J.
A. Thompson (tentang Ul 6:4):
“‘Hear, O Israel.’ Israel is invited to respond to Yahweh with the same fullness of love
that Yahweh displayed towards his people. In the New Testament verse 5 is
described by Jesus as the first and great commandment (Matt. 22:36–38. Cf.
Mark 12:29–34; Luke 10:27, 28). This small section (4–9) has been known to
the Jews for many centuries as the ‘Shema’ (Heb., ‘Hear’) and has been recited along with 11:13–21 and Numbers 15:37–41 as a
daily prayer. The reference to the binding of God’s laws on one’s forehead
is discussed under 6:8. The prescription of verse 4 has sometimes been regarded
as the positive way of expressing the negative commands of the first two
commandments of the decalogue (5:7–10). This central confession of faith
consists of only four words, ‘Yahweh, our God, Yahweh, One.’ The expression has been variously understood. Possible translations are
‘Yahweh our God, Yahweh is one’, ‘Yahweh is our God, Yahweh is one’.
‘Yahweh is our God, Yahweh alone’. Whatever
translation is chosen the essential meaning is clear. Yahweh was to be the sole
object of Israel’s worship, allegiance and affection. The word ‘one’ or
‘alone’ implies monotheism, even if it does not state it with all the
subtleties of theological formulation. Biblical monotheism was given
a practical and existential expression which would lead to the abandonment of
such views as monolatry. Even if some in Israel acknowledged the existence of
other gods, the affirmation that Yahweh alone was Sovereign and the sole object
of Israel’s obedience sounded the death-knell to all views lesser than
monotheism.”
[= Terjemahan manapun yang dipilih, arti hakikinya adalah jelas. Yahweh
harus menjadi obyek satu-satunya dari penyembahan, kesetiaan, dan kasih Israel.
Kata ‘satu’ atau ‘saja’ secara implicit menunjuk pada monotheisme,
sekalipun itu tidak menyatakannya dengan semua kehalusan / ketajaman dari
formula theologia.]
- ‘Tyndale Old Testament Commentaries’.
Catatan:
saya hanya menterjemahkan bagian yang saya garis-bawahi.
5.
Para ahli theologia.
Calvin,
Louis Berkhof, R. L. Dabney, Charles Hodge, W. G. T. Shedd, John Murray, Herman
Bavinck, Herman Hoeksema, B. B. Warfield, A. H. Strong, tidak menggunakan
perbedaan kata EKHAD dan YAKHID sebagai dasar dari doktrin Allah Tritunggal. Ini
saya cari dalam buku-buku mereka dimana mereka membahas tentang Tritunggal, atau
tentang Ul 6:4, dan saya tidak menemukan bahwa mereka menggunakan hal ini
sebagai argumentasi untuk mendukung doktrin Allah Tritunggal. Ul 6:4 hanya
digunakan untuk menunjukkan keesaan Allah, dan tidak lebih dari itu.
Yang
menggunakan argumentasi EKHAD dan YAKHID itu untuk mendukung doktrin Allah
Tritunggal adalah Loraine Boettner, dalam bukunya ‘Studies in Theology’.
Loraine
Boettner: “Jewish Misunderstanding of the Doctrine. The Christian doctrine of the Trinity has been generally misunderstood among
the Jewish people, with the result that they believe we worship three Gods. To
set forth this idea and the reason for its strong hold on the Jewish people
to-day we propose to quote rather extensively from the writings of one who is in
a position to understand the problem, - from the writings of Ex-Rabbi Leopold
Cohn. Says he: "The reason that the Jews have become estranged from the
doctrine of the Triune God is found in the teachings of Moses Maimonides. He
compiled thirteen articles of faith which the Jews accepted and incorporated
into their liturgy. One of them is ‘I believe with a perfect faith that the
Creator, blessed be His name, is an absolute one’ (Hebrew, ‘Yachid’). This
has been repeated daily by Jews in their prayers, ever since the twelfth
century, when Moses Maimonides lived. This expression of an ‘absolute one’ is diametrically opposed to the word of God which teaches with great
emphasis that God is not a ‘Yachid,’ which
means an only one, or an ‘absolute one,’ but ‘achid,’ which means a united one. In
Deuteronomy 6:4 God laid down for His people a principle of faith, which is
certainly superior to that of Moses Maimonides, inasmuch as it comes from God
Himself. We read, ‘Hear O Israel, the Lord our God, the Lord is ONE,’
stressing the sense of the phrase ‘one’ by using not ‘yachid,’ which
Moses Maimonides does, but ‘achid,’ which
means a united one. "We want now to trace where these two words, ‘yachid’ and ‘achid,’ occur
in the Old Testament and in what connection and sense they are used, and thus
ascertain their true meaning. "In Genesis I we read, ‘And there was
evening and there was morning, one day.’ Here the
word ‘achid’ is used, which implies that the evening and the morning - two separate
objects - are called one, thus showing
plainly that the word ‘achid’ does
not mean an ‘absolute one,’ but a united one. Then in
Genesis 2:24 we read, ‘Therefore shall a man leave his father and his mother
and shall cleave unto his wife, and they shall be one flesh.’ Here
too the word ‘achid’ is used, furnishing another proof that it means a united one, referring, as it does in this case, to two separate persons. "Now
let us see in the Word of God where that expression ‘yachid,’ an ‘absolute one,’ is found.
In Genesis 22:2 God says to Abraham, ‘Take now thy son, thine only son.’ Here we read the word ‘yachid.’ The same identical word, ‘yachid,’ is repeated in the 12th verse of the same chapter. In Psalm 25:16 it is
again applied to a single person as also in Jeremiah 6:26, where we read,
‘Make thee mourning as for an only son.’ The same
word, conveying the sense of one only, occurs in Zechariah 12:10, ‘And they
shall look upon me whom they have pierced, and they shall mourn for Him as one
mourneth for his only son.’
"Thus we see that Moses Maimonides, with all his great wisdom and much
learning, made a serious mistake in prescribing for the Jews that confession of
faith in which it is stated that God is a ‘yachid,’ a
statement which is absolutely opposed to the Word of God. And the Jews, in
blindly following the so-called ‘second Moses’ have once more given evidence
of their old proclivities of perverting the Word of the living God. The Holy
Spirit made that serious complaint against them through Jeremiah the prophet,
saying, ‘For ye have perverted the words of the living God, of the Lord of
hosts our God’ (Jer. 23:36).”
[= Kesalah-pahaman Yahudi tentang doktrin itu. Doktrin Kristen tentang
Tritunggal pada umumnya telah disalah-pahami di antara bangsa Yahudi, dengan
akibat bahwa mereka percaya kita menyembah tiga Allah. Untuk menyatakan dengan
kata-kata gagasan dan alasan untuk pegangannya yang kuat ini pada bangsa Yahudi
jaman sekarang kami mengajukan / mengusulkan untuk mengutip dengan cukup banyak
dari tulisan-tulisan dari seseorang yang ada dalam posisi untuk mengerti problem
itu, - dari tulisan-tulisan dari seorang ex Rabi Leopold Cohn. Katanya,
"Alasan bahwa orang-orang Yahudi telah menjadi bersikap memusuhi / terpisah
dari doktrin Allah Tritunggal ditemukan dalam ajaran-ajaran dari Moses
Maimonides. Ia mengumpulkan 13 artikel iman yang diterima dan dipersatukan oleh
orang-orang Yahudi ke dalam liturgi mereka. Salah satu dari mereka adalah ‘Aku
percaya dengan suatu iman yang sempurna bahwa sang Pencipta, terpujilah namaNya,
adalah suatu satu yang mutlak’ (Ibrani, ‘YAKHID’). Ini telah diulang
setiap hari oleh orang-orang Yahudi dalam doa-doa mereka, sejak abad ke 12, pada
waktu Moses Maimonides hidup. Ungkapan tentang suatu ‘satu yang mutlak’
bertentangan secara frontal dengan firman Allah yang mengajarkan dengan
penekanan yang besar bahwa Allah bukanlah suatu ‘YAKHID’, yang berarti
‘satu-satunya’, atau suatu ‘satu yang mutlak’, tetapi ‘AKHID’, yang
berarti suatu ‘satu gabungan’. Dalam Ul 6:4 Allah meletakkan untuk umatNya
suatu prinsip dari iman, yang pasti lebih tinggi dari milik Moses Maimonides,
karena itu datang dari Allah sendiri. Kami / kita membaca, ‘Dengarlah hai
Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan adalah SATU’, menekankan arti dari ungkapan
‘satu’ dengan tidak menggunakan ‘YAKHID’, yang Moses Maimonides lakukan,
tetapi ‘AKHID’, yang berarti suatu ‘satu gabungan’. "Sekarang kami
ingin menelusuri dimana dua kata ini, ‘YAKHID’ dan ‘AKHID’, muncul dalam
Perjanjian Lama dan dalam hubungan dan arti apa mereka digunakan, dan dengan
demikian menemukan / memastikan arti mereka yang benar. "Dalam Kej 1 kita /
kami membaca, ‘Dan jadilah petang dan jadilah pagi, satu hari’. Di sini kata ‘AKHID’ digunakan, yang
menunjukkan secara implicit bahwa petang dan pagi - dua obyek yang terpisah -
disebut SATU, dengan demikian menunjukkan dengan jelas bahwa kata ‘AKHID’
tidak berarti suatu ‘satu yang mutlak’, tetapi suatu ‘satu gabungan’.
Lalu dalam Kej 2:24 kami / kita membaca, ‘Karena itu seorang laki-laki akan
meninggalkan ayah dan ibunya dan akan bersatu dengan istrinya, dan mereka akan
menjadi SATU daging’. Di sini juga kata ‘AKHID’ digunakan, menyediakan /
memberikan bukti yang lain bahwa itu berarti suatu ‘satu gabungan’,
menunjuk, seperti yang dilakukan dalam kasus ini, pada dua pribadi yang
terpisah. "Sekarang mari kita melihat dalam Firman Allah dimana ungkapan
‘YAKHID’, suatu ‘satu yang mutlak’, ditemukan. Dalam Kej 22:2 Allah
berkata kepada Abraham, ‘Ambillah anakmu, satu-satunya
anakmu’. Di sini kami / kita membaca kata ‘YAKHID’. Kata yang identik yang
sama, ‘YAKHID’, diulang dalam ayat ke 12 dari pasal yang sama. Dalam Maz
25:16 itu diterapkan lagi pada seorang pribadi tunggal seperti juga dalam Yer
6:26, dimana kami / kita membaca, ‘Berkabunglah seperti untuk seorang anak satu-satunya’. Kata yang sama, memberikan arti dari ‘hanya
satu’, muncul dalam Zakh 12:10, ‘Dan mereka akan memandang kepada dia yang
telah mereka tikam, dan mereka akan berkabung untuk Dia sebagai seseorang
berkabung untuk satu-satunya
anaknya’. "Jadi kita melihat bahwa Moses Maimonides, dengan semua
hikmatnya yang besar dan pengetahuannya yang banyak, membuat suatu kesalahan
yang serius dalam merumuskan untuk orang-orang Yahudi pengakuan iman itu dalam
mana dinyatakan bahwa Allah adalah suatu ‘YAKHID’, suatu pernyataan yang
secara mutlak bertentangan dengan Firman Allah. Dan orang-orang Yahudi, dalam
mengikuti secara membuta orang yang disebut ‘Musa kedua’ telah sekali lagi
memberikan bukti dari kecenderungan alamiah kuno mereka tentang penyimpangan
Firman dari Allah yang hidup. Roh Kudus membuat keluhan / pengaduan serius itu
terhadap mereka melalui Yeremia sang nabi, dengan berkata, ‘Karena kamu telah
menyimpangkan firman dari Allah yang hidup, dari Tuhan semesta alam Allah
kita’ (Yer 23:36).] - ‘Studies
in Theology’, hal 104-105.
Catatan:
semua kata AKHID dalam kutipan di atas ini
seharusnya adalah EKHAD!!!
Saya
tidak mengerti bagaimana Loraine Boettner bisa membuat kesalahan seperti itu.
Pada waktu ia mengutip kata-kata dari orang yang katanya adalah seorang ex rabi,
apakah ia tak mengecek kata-kata itu? Dan lebih-lebih lagi, bagaimana mungkin
seorang rabi Yahudi bisa membuat kesalahan seperti itu? Rasanya sama sekali
tidak masuk akal. Atau mungkin sang ex rabi menuliskan kata EKHAD itu dalam
bahasa Ibrani dan Loraine Boettner tak bisa bahasa Ibrani sehingga membacanya
secara salah?
Pdt.
Stephen Tong dalam bukunya tentang Tritunggal, juga menggunakan argumentasi ini,
yang jelas-jelas didapatkan dari Loraine Boettner.
Dosen
theologia saya di RTS (Dr. Douglas Kelly) juga menggunakan argumentasi EKHAD dan
YAKHID sebagai dasar dari doktrin Allah Tritunggal. Tetapi mengingat ia juga
menggunakan buku-buku Loraine Boettner, mungkin sekali ia mendapatkannya dari
sana.
Kesimpulan
akhir tentang argumentasi berdasarkan kata EKHAD dalam Ul 6:4 ini: argumentasi
ini mungkin tetap bisa digunakan, tetapi mengingat rumitnya arti kata-kata
itu, lebih-lebih kalau sudah masuk ke dalam Perjanjian Baru, maka saya
cenderung untuk tidak menggunakannya sebagai argumentasi untuk mendukung
doktrin Allah Tritunggal.
Ini
tentu tidak berarti bahwa saya tidak mempercayai doktrin Allah Tritunggal.
Kepercayaan saya terhadap doktrin Allah Tritunggal tetap tak tergoyahkan
karena ada sangat banyak argumentasi-argumentasi yang lain.
Ini
juga tidak berarti saya menerima argumentasi dari Saksi-Saksi Yehuwa yang saya
berikan pada awal dari point ini (session 8). Argumentasi itu mutlak salah,
dan bersifat mendustai.
Jadi
apa yang saya tegaskan di sini sebagai kesimpulan adalah: hanya satu
argumentasi ini saja, yang dulunya sangat sering saya gunakan untuk mendukung
doktrin Allah Tritunggal, tetapi sekarang setelah mendalaminya, saya cenderung
untuk tidak menggunakannya lagi.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ