(Rungkut
Megah Raya Blok D No 16)
Rabu,
tgl 14 Juni 2017, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
ALLAH
TRITUNGGAL(3)
III)
Dasar Kitab Suci dari doktrin Allah Tritunggal.
Orang-orang
yang anti Tritunggal sering mengclaim bahwa doktrin Allah Tritunggal tidak
mempunyai dasar Alkitab.
Dan untuk untuk bisa memaksakan claim itu, mereka biasanya:
1)
Menuntut kita untuk memberikan satu ayat yang menunjukkan doktrin Allah
Tritunggal.
Ini merupakan suatu tuntutan yang tidak berdasar. Tak ada hukum apapun
yang mengharuskan kita untuk memberikan satu ayat yang menunjukkan suatu doktrin
apapun. Kita berhak menggunakan seluruh Alkitab, dan banyak sekali ayat dari
Alkitab, dari mana akhirnya bisa disimpulkan adanya doktrin Allah Tritunggal
ini! Ini metode yang benar dan sah untuk mendapatkan doktrin manapun.
Dalam persoalan keilahian Kristus, yang jelas berhubungan dengan doktrin
Allah Tritunggal, maka tuntutannya biasanya diubah menjadi: beri satu ayat
dimana Yesus sendiri mengatakan ‘Aku
adalah Allah, sembahlah Aku’ dan sebagainya.
Lagi-lagi ini merupakan tuntutan yang tak berdasar. Tidak ada hukum yang
mengharuskan kita untuk memberikan kata-kata Yesus sebagai dasar dari doktrin
apapun. Seluruh Alkitab kita percayai sebagai firman Tuhan, dan karena itu kita
bisa menggunakan semua ayat dalam Alkitab, tak peduli ayat itu ucapan Yesus atau
bukan, sebagai dasar dari doktrin apapun, termasuk keilahian Kristus. Dan ayat
yang menyatakan secara explicit bahwa Yesus adalah Allah, sangat banyak (ini
akan kita pelajari belakangan).
2)
Menggunakan tulisan-tulisan / kata-kata orang, bahkan sumber-sumber
sekuler, yang menyatakan bahwa doktrin Allah Tritunggal tidak ada dalam Alkitab,
atau tidak mempunyai dasar Alkitab sama sekali.
Saya ingin memberikan satu contoh yang benar-benar kurang ajar.
Saksi-Saksi Yehuwa mengutip dari Encyclopedia
Britannica sebanyak 2 x dalam persoalan ini.
a)
Dalam buku ‘Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal?’, hal 6, mereka
berkata: “The
New Encyclopedia Britannica menyatakan: ‘Kata Tritunggal atau doktrinnya yang jelas
tidak terdapat dalam Perjanjian Baru.’”.
b) Dalam
buku ‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 393, mereka
memberikan kutipan yang lebih panjang dari Encyclopedia Britannica itu: “Kata Tritunggal, maupun doktrin Tritunggal yang
jelas, tidak terdapat dalam
Perjanjian Baru. Yesus dan pengikut-pengikutnya juga tidak bermaksud menentang
Shema dalam Perjanjian Lama: ‘Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah
kita, TUHAN itu esa!’ (Ul. 6:4). ... Doktrin ini berkembang
secara bertahap selama beberapa abad dan melalui banyak perdebatan. ... Menjelang akhir abad ke-4 ...
doktrin Tritunggal pada dasarnya mengambil bentuk yang sampai sekarang
dipertahankan.”.
Catatan:
perhatikan ada 3 x ...
yang menunjukkan mereka melakukan kutipan sebagian, meloncati bagian-bagian
tertentu. Ini memang tak masalah, selama tak membuat artinya jadi berubah!
Sekarang,
saya akan membandingkan kutipan sebagian
dari Saksi Yehuwa, dengan kutipan penuh
dari Encyclopedia Britannica 2000.
Encyclopedia Britannica
2000 (dengan entry ‘Trinity’):
“in
Christian doctrine, the unity of Father, Son, and Holy Spirit as three persons
in one Godhead. Neither the word Trinity nor
the explicit doctrine appears in
the New Testament, nor did Jesus and his followers intend to contradict the
Shema in the Old Testament: ‘Hear, O Israel: The Lord our God is one Lord’
(Deuteronomy 6:4). The earliest Christians,
however, had to cope with the implications of the coming of Jesus Christ and of
the presumed presence and power of God among them--i.e., the Holy Spirit, whose
coming was connected with the celebration of the Pentecost. The Father, Son, and Holy
Spirit were associated in such New Testament passages as the Great Commission:
‘Go therefore and make disciples of all nations, baptizing them in the name of
the Father and of the Son and of the Holy Spirit’ (Matthew 28:19); and in the
apostolic benediction: ‘The grace of the Lord Jesus Christ and the love of God
and the fellowship of the Holy Spirit be with you all’ (2 Corinthians 13:14).
Thus, the New Testament established the basis for the doctrine of the Trinity.
The doctrine developed gradually over
several centuries and through many controversies.
Initially, both the requirements of monotheism inherited from the Old Testament
and the implications of the need to interpret the biblical teaching to
Greco-Roman religions seemed to demand that the divine in Christ as the Word, or
Logos, be interpreted as subordinate to the Supreme Being. An alternative
solution was to interpret Father, Son, and Holy Spirit as three modes of the
self-disclosure of the one God but not as distinct within the being of God
itself. The first tendency recognized the distinctness among the three, but at
the cost of their equality and hence of their unity (subordinationism); the
second came to terms with their unity, but at the cost of their distinctness as
‘persons’ (modalism). It was not until the 4th century that the distinctness
of the three and their unity were brought together in a single orthodox doctrine
of one essence and three persons. The Council of Nicaea in 325 stated the
crucial formula for that doctrine in its confession that the Son is ‘of the
same substance (homoousios) as the Father,’ even though it said very little
about the Holy Spirit. Over the next half century, Athanasius defended and
refined the Nicene formula, and, by
the end of the 4th century, under the leadership of
Basil of Caesarea, Gregory of Nyssa, and Gregory of Nazianzus (the Cappadocian
Fathers), the doctrine of the Trinity took
substantially the form it has maintained ever since.
Copyright © 1994-2000 Encyclopædia Britannica, Inc.”.
Terjemahannya:
“Dalam doktrin Kristen,
kesatuan dari Bapa, Anak, dan Roh Kudus sebagai tiga pribadi dalam satu Allah /
keilahan. Baik
kata Tritunggal maupun doktrinnya yang EXPLICIT tidak muncul / tampak dalam
Perjanjian Baru, juga Yesus maupun para pengikutNya tidak bermaksud untuk
menentang Shema dalam Perjanjian Lama: ‘Dengarlah hai orang Israel, TUHAN itu
Allah kita, TUHAN itu esa’ (Ulangan 6:4). Tetapi orang-orang Kristen mula-mula harus menghadapi pengertian
/ petunjuk tentang datangnya Yesus Kristus dan tentang anggapan tentang
kehadiran dan kuasa dari Allah di antara mereka, yaitu Roh Kudus, yang
kedatanganNya dihubungkan dengan perayaan dari Pentakosta. Bapa,
Anak, dan Roh Kudus digabungkan / disatukan dalam text-text Perjanjian Baru
seperti Amanat Agung: ‘Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu
dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus’ (Matius 28:19);
dan dalam pemberian berkat rasuli: ‘Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan
kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian’ (2Kor 13:13).
Dengan cara ini Perjanjian Baru menegakkan / memperlihatkan / membuktikan dasar
untuk doktrin dari Tritunggal.
Doktrin
ini berkembang secara perlahan-lahan selama berabad-abad dan melalui banyak
kontroversi / perdebatan.
Pada awalnya, tuntutan monotheisme dari Perjanjian Lama maupun adanya kebutuhan
untuk menafsirkan ajaran alkitabiah kepada agama-agama Yunani-Romawi
kelihatannya menuntut bahwa keilahian dalam Kristus sebagai Firman, atau LOGOS,
ditafsirkan sebagai lebih rendah dari pada Allah. Pemecahan alternatif adalah
dengan menafsirkan Bapa, Anak, dan Roh Kudus sebagai tiga mode / cara
penyingkapan diri sendiri dari Allah yang esa, tetapi tidak berbeda dalam diri
Allah sendiri. Kecenderungan yang pertama mengakui perbedaan di antara
ketiganya, tetapi dengan mengorbankan kesetaraan dan karena itu juga kesatuan
mereka (subordinationisme); yang kedua sesuai dengan kesatuan mereka, tetapi
dengan mengorbankan perbedaan mereka sebagai ‘pribadi-pribadi’ (modalisme).
Baru pada abad ke 4lah perbedaan dari ketiganya dan kesatuan mereka dipersatukan
dalam suatu doktrin orthodox tunggal tentang satu hakekat dan tiga pribadi.
Sidang Gereja Nicea pada tahun 325 menyatakan formula yang sangat penting untuk
doktrin itu dalam pengakuannya bahwa Anak adalah ‘dari zat yang sama
(HOMOOUSIOS) dengan Bapa’, sekalipun pengakuan itu berkata-kata sangat sedikit
tentang Roh Kudus. Selama setengah abad selanjutnya, Athanasius mempertahankan
dan menghaluskan / membersihkan formula Nicea itu, dan pada akhir dari abad keempat, dibawah pimpinan dari
Basil dari Kaisarea, Gregory dari Nyssa, dan Gregory dari Nazianzus, (Bapa-bapa
Kappadokia), doktrin
Tritunggal mendapat bentuk secara kokoh yang dipertahankannya sejak saat itu. Hak
cipta © 1994-2000 Encyclopædia Britannica, Inc.”.
Catatan:
1.
Untuk ayat terakhir ini penomoran ayat antara Kitab Suci Indonesia dan
Kitab Suci Inggris berbeda satu angka; dalam Kitab Suci Indonesia 2Kor 13:13;
dalam Kitab Suci Inggris 2Kor 13:14.
2.
Kata ‘EXPLICIT’ diterjemahkan ‘yang
jelas’ oleh
Saksi-Saksi Yehuwa, dan ini jelas merupakan terjemahan yang menyesatkan. Dalam
Perjanjian Baru dan bahkan dalam seluruh Kitab Suci memang tidak ada dasar yang
explicit untuk doktrin Allah Tritunggal (misalnya ayat yang
mengatakan bahwa Allah itu satu hakekatNya, tetapi ada dalam 3 pribadi yang
setara). Tetapi dasar-dasar yang jelas,
jelas ada. Dan Encyclopedia Britannica 2000 sendiri memberikan 2 text yang
dipakai sebagai bukti / dasar dari doktrin Allah Tritunggal, yaitu Mat 28:19
dan 2Kor 13:13.
Catatan:
dari Free Dictionary dari GOOGLE, saya mendapatkan bahwa kata ‘explicit’
berarti: ‘fully
and clearly expressed;
leaving nothing implied’
[= dinyatakan secara penuh dan secara jelas, tak meninggalkan apapun yang
dinyatakan secara tidak langsung / implicit].
Point
ke 2 ini bukan masalah besar, karena buku asli dari Saksi-Saksi Yehuwa ada dalam
bahasa Inggris, dan dalam buku aslinya mereka tetap menggunakan kata
‘explicit’ itu.
3.
Bagian yang saya beri garis-bawah tunggal dan warna biru adalah bagian
yang dikutip oleh Saksi-Saksi Yehuwa, sedangkan yang saya beri garis bawah ganda
/ dobel dan warna merah, adalah bagian, yang secara kurang ajar mereka loncati, padahal itu adalah bagian yang sangat penting.
Pengutipan sebagian, dan pembuangan bagian yang
seharusnya penting untuk dikutip, membuat Encyclopedia Britannica kelihatannya
mengatakan sesuatu yang berbeda dengan yang seharusnya.
Dari
pengutipan sebagian yang mereka lakukan, kelihatannya Encyclopedia Britannica
menyatakan bahwa doktrin Allah Tritunggal tidak mempunyai dasar Alkitab.
Tetapi kalau kita
melihat artikel penuh dalam Encyclopedia Britannica maka jelas Encyclopedia
Britannica tidak menyatakan seperti itu, bahkan Encyclopedia Britannica
memberikan 2 dasar ayat Alkitab
yang secara
sengaja dibuang oleh Saksi-Saksi Yehuwa pada waktu mereka memberikan pengutipan
sebagian!
Kalau
saudara mau tahu lebih banyak tentang kecurangan Saksi-Saksi Yehuwa dalam
mengutip, lihat di link ini: https://www.jwfacts.com/watchtower/trinity.php
Sekarang saya akan mulai menunjukkan dasar-dasar Alkitab dari doktrin
Allah Tritunggal.
A)
Kitab Suci menunjukkan ketunggalan Allah.
1) Ayat-ayat Kitab Suci yang secara explicit
menyatakan bahwa Allah itu satu.
Ul 6:4
- “Dengarlah,
hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!”.
Yes
45:5a - “Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali
Aku tidak ada Allah.”.
Yoh
17:3 - “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya
Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”.
1Kor 8:4-6
- “(4)
Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: ‘tidak ada berhala di
dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang
esa.’ Sebab
sungguhpun ada apa yang disebut ‘allah’, baik di sorga, maupun di bumi - dan
memang benar ada banyak ‘allah’ dan banyak ‘tuhan’ yang demikian - (6)
namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa,
yang dari padaNya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu
Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang olehNya segala sesuatu telah
dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.”.
Ef
4:3-6 - “(3)
Dan
berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: (4) satu tubuh,
dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang
terkandung dalam panggilanmu, (5) satu Tuhan,
satu iman, satu baptisan, (6) satu Allah
dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.”.
1Tim 2:5
- “Karena
Allah itu esa dan esa pula Dia yang
menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus,”.
Yak 2:19
- “Engkau
percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja?
Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.”.
2) Penggunaan kata-kata bentuk tunggal untuk Allah
atau dalam hubungannya dengan Allah:
a)
Penggunaan kata ganti orang bentuk tunggal.
Contoh:
1. Kalau Allah berbicara tentang diriNya sendiri, maka pada
umumnya Ia menggunakan kata ‘Aku’ (bahasa Inggris: ‘I’).
Contoh:
Kej
12:1-3 - “(1)
Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: ‘Pergilah dari negerimu dan dari
sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan
kepadamu; (2) Aku
akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta
membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. (3) Aku akan memberkati orang-orang yang
memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu
semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.’”.
2. Kalau orang lain berbicara tentang Allah, maka digunakan kata
‘Dia’ (bahasa Inggris: ‘He’).
Contoh:
1Raja
18:39 - “Ketika seluruh rakyat melihat kejadian itu, sujudlah mereka serta
berkata: ‘TUHAN, Dialah
Allah! TUHAN, Dialah
Allah!’”.
3. Kalau orang berbicara kepada Allah, maka digunakan kata ‘Engkau’
(bahasa Inggris: ‘You’). Dalam bahasa Yunani maupun Ibraninya
terlihat bahwa yang digunakan adalah ‘You’ dalam bentuk tunggal.
Bentuk tunggal ini bahkan terlihat dalam beberapa versi Alkitab bahasa Inggris
yang menggunakan kata bahasa Inggris kuno ‘Thou’ [= Engkau (bentuk
tunggal)].
Contoh:
1Raja 18:36-37
- “(36)
Kemudian
pada waktu mempersembahkan korban petang, tampillah nabi Elia dan berkata: ‘Ya
TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang,
bahwa Engkaulah
Allah di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hambaMu dan bahwa atas firmanMulah
aku melakukan segala perkara ini. (37) Jawablah aku, ya TUHAN, jawablah aku,
supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah
Allah, ya TUHAN, dan Engkaulah
yang membuat hati mereka tobat kembali.’”.
KJV/RSV/NASB/ASV/YLT:
‘Thou ... Thy ... Thy ... Thou ... Thou’.
Istilah
‘Thou’, ‘Thee’, ‘Thy’, dan ‘Thine’
merupakan kata-kata bahasa Inggris kuno, untuk ‘You’ (Subyek), ‘You’
(Obyek), ‘Your’, dan ‘Yours’, tetapi
semua itu dalam bentuk tunggal. Dalam
bahasa Inggris modern pembedaan tunggal jamak itu tidak ada. Jadi,
kata-kata ‘You’ (Subyek), ‘You’ (Obyek), ‘Your’,
dan ‘Yours’ bisa jamak ataupun tunggal.
b)
Penggunaan kata kerja bentuk tunggal.
Contoh:
Kej
1:1 - “Pada
mulanya Allah menciptakan langit dan
bumi.”.
Dalam
bahasa Ibraninya, kata ‘menciptakan’
dalam Kej 1:1 adalah kata kerja bentuk tunggal. Kalau kata itu mau
diterjemahkan secara hurufiah, maka terjemahannya adalah ‘he
created’ atau ‘he
has created’.
Lihat
Mansoor, hal 81 bawah, untuk kata kerja bentuk tunggal / jamak.
c)
Penggunaan kata sifat bentuk tunggal.
Menahem
Mansoor: “In English,
the adjective remains unchanged, whether we use it with a masculine or feminine
noun, in singular or plural. Thus we say a good son, a
good daughter, good sons, good daughters. In Hebrew, as in French, every
adjective changes in agreement with its noun.”
[= Dalam bahasa Inggris, kata sifat tetap tak
berubah, apakah kita menggunakannya dengan suatu kata benda maskulin atau
feminin, dalam bentuk tunggal atau jamak. Jadi kita mengatakan ‘a
good son’, ‘a good daughter’, ‘good
sons’, ‘good daughters’. Dalam
bahasa Ibrani, seperti dalam bahasa Perancis, setiap kata sifat berubah sesuai
dengan kata bendanya.] - ‘Biblical Hebrew Step By Step’, hal 45.
Jadi
kata sifat dalam bahasa Ibrani mempunyai 4 bentuk, yaitu:
1.
Kata sifat maskulin tunggal.
2.
Kata sifat feminin tunggal.
3.
Kata sifat maskulin jamak.
4.
Kata sifat feminin jamak.
Untuk
contoh-contoh dari keempat kata sifat itu bisa dilihat dalam buku yang sama
hal 53-54.
Kata
‘good’ untuk maskulin tunggal - TOV.
Kata
‘good’ untuk maskulin jamak - TOVIM.
Kata
‘good’ untuk feminin tunggal - TOVAH.
Kata
‘good’ untuk feminin jamak - TOVOT.
Contoh
penggunaan kata sifat bentuk tunggal untuk Allah:
Maz 25:8
- “TUHAN
itu baik dan benar;
sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat”.
Dalam
bahasa Ibraninya, kata-kata ‘baik’
dan ‘benar’
dalam Maz 25:8 adalah kata sifat bentuk tunggal (ini bisa dilihat dalam
BibleWorks).
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ