(Rungkut
Megah Raya Blok D No 16)
Rabu,
tgl 31 Mei 2017, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
ALLAH TRITUNGGAL(1)
I) Pernyataan tentang doktrin
Allah Tritunggal.
1) Dalam diri Allah hanya ada
1 hakekat yang tidak terbagi-bagi (one indivisible essence), tetapi ada 3
pribadi yaitu Bapa, Anak & Roh Kudus.
a) Adanya 3 pribadi tidak berarti bahwa orang kristen
mempercayai 3 Allah!
Calvin:
“three are spoken of, each of which
is entirely God, yet there is not more than one God.”
[= tiga yang dibicarakan, masing-masing adalah Allah sepenuhnya, tetapi tidak
ada lebih dari satu Allah.]
- ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XIII, No 3.
b) Tetapi orang kristen juga tidak mempercayai Allah
itu tunggal secara mutlak. Orang kristen mempercayai Allah Tritunggal.
Calvin
mengutip kata-kata Gregory Nazianzus yang berbunyi sebagai berikut:
“I
cannot think on the one without quickly being encircled by the splendor of the
three; nor can I discern the three without being straightway carried back to the
one.”
[= Saya tidak dapat memikirkan yang satu tanpa dengan cepat dilingkupi oleh
kemegahan dari yang tiga; juga saya tidak bisa melihat / memperhatikan yang tiga
tanpa segera dibawa kembali kepada yang satu.]
- ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XIII, No
17.
c) Allah menyatakan diriNya dalam 3 pribadi bukan
karena Ia memilih / menghendaki hal itu, tetapi karena memang Ia adalah
demikian.
Louis
Berkhof: “this tri-personal existence is a
necessity in the Divine Being, and not in any
sense the result of a choice of God. He could not
exist in any other than the tri-personal form.”
[= keberadaan yang bersifat tiga pribadi ini adalah suatu keharusan dalam Diri
/ Keberadaan Allah, dan sama sekali bukanlah hasil dari pilihan Allah. Ia
tidak bisa berada dalam apapun yang lain dari pada bentuk tiga pribadi.]
- ‘Systematic
Theology’, hal 84.
2) Seluruh hakekat Allah yang
tidak terbagi-bagi itu dimiliki oleh ketiga pribadi itu.
a) Hakekat illahi itu tidak mempunyai keberadaan di
luar / terpisah dari ketiga pribadi itu.
b) Kalau berbicara tentang ‘Essential Being’
[= Keberadaan secara hakiki] dari pribadi-pribadi dalam diri Allah, maka mereka
betul-betul setingkat, tidak ada yang lebih tinggi / rendah.
c) Dalam persoalan hubungan ketiga pribadi ini dengan
hakekat illahi, semua analogi tidak berguna dan kita harus menyadari bahwa Allah
Tritunggal adalah suatu misteri yang jauh melampaui pengertian kita.
3) Ketiga pribadi dalam diri
Allah itu ditandai dengan urut-urutan (order) yang tertentu.
Allah
Bapa adalah yang pertama; Allah Anak yang kedua; dan Allah Roh Kudus yang
ketiga.
Urut-urutan
ini tidak berhubungan dengan waktu atau hakekat, tetapi hanya dengan urut-urutan
asal usul Mereka secara logika.
Louis
Berkhof: “It need hardly be said that this
order does not pertain to any priority of time or of essential dignity, but
only to the logical order of derivation.
[= Hampir tidak perlu dikatakan bahwa urut-urutan ini tidak berhubungan dengan
keberadaan lebih dulu atau kewibawaan hakiki, tetapi
hanya dengan urut-urutan asal usul secara logika.]
- ‘Systematic Theology’, hal 88-89.
4) Ada sifat-sifat / milik-milik pribadi
(personal attributes) yang membedakan ketiga pribadi dalam diri Allah.
Ini
disebut ‘opera ad intra’, karena hal-hal ini
merupakan pekerjaan-pekerjaan dalam diri Allah
yang tidak berhubungan dengan ciptaanNya. Hal-hal ini merupakan pekerjaan
pribadi yang tidak dilakukan oleh ketiga pribadi secara bersama-sama. Hal ini
merupakan sesuatu yang tidak dapat diberikan / tidak dapat dimiliki bersama-sama
(incommunicable).
‘Generation’
[= pekerjaan melahirkan] hanyalah merupakan pekerjaan Allah Bapa.
‘Filiation’
[= descent from a parent / kelahiran] hanya bisa ditujukan terhadap Allah Anak.
‘Procession’
hanya dapat ditujukan terhadap Allah Roh Kudus.
‘Opera
ad intra’ dibedakan dengan ‘opera
ad extra’ yang merupakan pekerjaan-pekerjaan dengan mana Allah
Tritunggal dimanifestasikan keluar.
Sekalipun
pekerjaan-pekerjaan tertentu lebih ditujukan kepada pribadi-pribadi tertentu
(Misalnya: penciptaan - Allah Bapa; penebusan - Allah Anak; pengudusan - Allah
Roh Kudus), tetapi pekerjaan-pekerjaan itu bukanlah pekerjaan-pekerjaan dari
pribadi-pribadi tertentu saja, melainkan pekerjaan-pekerjaan dari seluruh Allah
Tritunggal / ketiga Pribadi dari Allah Tritunggal.
5) Doktrin Allah Tritunggal
adalah suatu misteri yang melampaui pengertian manusia.
a) Manusia tidak dapat mengertinya sepenuhnya
atau membuatnya bisa dimengerti sepenuhnya.
Dalam
doktrin Allah Tritunggal diajarkan bahwa Allah itu satu hakekatnya tetapi
mempunyai 3 pribadi, yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Bapa
itu Allah sepenuhnya; Anak itu Allah sepenuhnya;
dan Roh Kudus itu juga Allah sepenuhnya.
Tetapi
kita tidak mempercayai 3 Allah (Tritheisme); kita tetap mempercayai Allah itu
satu.
Tidak
masuk akal? Bukan tidak masuk akal tetapi melampaui akal.
Sedikit
penjelasan tentang ‘tidak masuk akal’ dan ‘melampaui
akal’: kalau kita berkata bahwa Allah itu 1 hakekat dan 3 hakekat pada
saat yang sama, maka itu bertentangan dengan akal / logika dan itu betul-betul
merupakan suatu kekacauan.
Demikian
juga kalau kita berkata bahwa Allah itu 1 pribadi dan 3 pribadi pada saat yang
sama.
Tetapi
kalau kita berkata bahwa Allah itu 1 hakekat tetapi 3 pribadi, itu tidak
bertentangan dengan akal / logika, tetapi melampaui akal / logika.
William
G. T. Shedd: “The
clue to the right construction of the doctrine of the Trinity, lies in the
accurate distinction and definition of Essence and Person. The doctrine is
logically consistent, because it affirms that God is one in another sense than he is three; and three in
another sense than he is one. If it affirmed unity in
the same respect that it affirms trinality, the doctrine would be
self-contradictory.”
[= Petunjuk pada konstruksi / penyusunan doktrin Tritunggal, terletak pada
pembedaan dan pendefinisian yang akurat / tepat dari ‘Hakekat’ dan
‘Pribadi’. Doktrin ini konsisten secara logika, karena doktrin ini
menegaskan bahwa Allah itu satu dalam
arti yang berbeda dengan pada waktu dikatakan Ia itu tiga, dan tiga dalam arti yang berbeda dengan pada waktu
dikatakan Ia itu satu. Seandainya doktrin ini menegaskan kesatuan dalam
hal yang sama dengan pada waktu doktrin ini menyatakan ke-tiga-an,
maka doktrin ini bertentangan dengan dirinya sendiri.]
- ‘Shedd’s
Dogmatic Theology’, vol
I, hal 268.
Mengapa
saya katakan ‘melampaui akal / logika’? Karena kita tidak bisa membayangkan
bagaimana satu hakekat dengan tiga pribadi itu!
Ini
juga merupakan sesuatu yang perlu dicamkan dalam mempelajari doktrin Allah
Tritunggal. Jangan mempelajarinya doktrin Allah Tritunggal dengan membayangkan,
karena bagaimanapun dan apapun yang saudara bayangkan, Allahnya pasti tidak
seperti itu.
Dan
pernyataan bahwa Allah ‘melampaui akal’ ini yang justru masuk akal. Otak
kita yang terbatas tidak mungkin bisa mengerti sepenuhnya tentang Allah yang tak
terbatas! Seseorang
pernah berkata bahwa kalau ada orang yang bisa mengajarkan Doktrin Allah
Tritunggal sehingga bisa dimengerti sepenuhnya, maka itu pasti adalah ajaran
sesat. Kalau
Allah yang tidak terbatas bisa dimengerti seluruhnya
oleh otak manusia yang begitu terbatas, itu justru tidak masuk akal!
Argumentasi
ini sering saya gunakan kalau saya menghadapi orang-orang yang mempercayai
Allah yang tunggal mutlak.
Bandingkan
dengan ayat-ayat ini:
1.
Ayub 11:7-9 - “(7) Dapatkah
engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa?
(8) Tingginya seperti langit - apa yang dapat kaulakukan? Dalamnya melebihi
dunia orang mati - apa yang dapat kauketahui? (9) Lebih panjang dari pada bumi
ukurannya, dan lebih luas dari pada samudera.”.
Pertanyaan
dalam Ayub 11:7 itu jelas harus dijawab ‘Tidak!’.
Matthew
Henry (tentang Ayub 11:7-8):
“We
may, by searching find God (Acts 17:27), but we cannot find him out in any thing
he is pleased to conceal; we may apprehend him, but we cannot comprehend him; we
may know that he is, but cannot know what he is. ... We may, by a humble,
diligent, and believing search, find out something of God, but cannot find him
out to perfection; we may know, but cannot know fully, what God is, nor find out
his work from the beginning to the end, Eccl. 3:11. Note, God is
unsearchable.” [= Kita bisa, dengan mencari,
menemukan Allah (Kis 17:27), tetapi kita tidak bisa menemukan Dia dalam hal
apapun yang Ia berkenan untuk menyembunyikan; kita bisa memahami / mengerti Dia,
tetapi kita tidak dapat memahami / mengerti Dia dengan sepenuhnya; kita bisa
mengetahui bahwa Ia ada, tetapi kita tidak bisa tahu apa Dia itu. ... Kita bisa,
dengan pencarian yang rendah hati, rajin, dan percaya, mengetahui sesuatu
tentang Allah, tetapi kita tidak dapat mengetahui Dia dengan sempurna; kita bisa
tahu / mengenal, tetapi tidak bisa tahu / mengenal dengan sepenuhnya, apa Allah
itu, ataupun memahami pekerjaanNya dari awal sampai akhir, Pkh 3:11. Perhatikan,
Allah itu tidak bisa diselidiki / diselami.].
Bdk.
Pkh 3:11b - “Tetapi manusia tidak dapat menyelami
pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.”.
Kalau
pekerjaan Allah saja manusia tidak bisa menyelami, apalagi Allahnya sendiri!
2.
Ayub 36:26 - “Sesungguhnya,
Allah itu besar, tidak
tercapai oleh pengetahuan kita, jumlah tahunNya tidak dapat
diselidiki.”.
NIV: ‘How great is God - beyond
our understanding! The number of his years is past finding out’ [= Alangkah
besarnya Allah - melampaui pengertian kita! Jumlah tahun-tahunNya tidak bisa diketahui /
diselidiki].
Kalau jumlah tahun-tahun Allah itu saja tidak dapat kita
selidiki, apalagi Allahnya sendiri!
3.
Ayub 37:5b,22-23 - “(5b) ... Ia melakukan perbuatan-perbuatan
besar yang tidak tercapai oleh pengetahuan kita; ... (22) Dari
sebelah utara muncul sinar keemasan; Allah diliputi
oleh keagungan yang dahsyat. (23) Yang Mahakuasa, yang tidak dapat kita pahami,
besar kekuasaan dan keadilanNya; walaupun kaya akan kebenaran Ia tidak
menindasnya.”.
Ay 5bnya
menunjukkan bahwa perbuatan-perbuatan Allah saja begitu besar sehingga tidak
bisa kita mengerti, apalagi Allahnya sendiri. Dan bahwa Allahnya sendiri tidak
bisa kita mengerti, ditekankan lagi oleh ay 22-23nya.
Sekarang
bagaimana dengan Yoh 4:22?
Yoh 4:22
- “Kamu
menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan
datang dari bangsa Yahudi.”.
Tidak
ada problem dengan ayat ini. Kita yang mengenal Allah melalui pengertian yang
benar dari Kitab Suci, bisa mengatakan hal yang sama. Kita bisa berkata bahwa
kita mengenal Allah, tetapi kita tidak bisa berkata bahwa kita mengerti Dia dengan sempurna.
Matthew
Henry (tentang Yoh 4:22):
“‘We
know what we worship. We go upon sure grounds in our worship, for our people are
catechised and trained up in the knowledge of God, as he has revealed himself in
the scripture.’ Note, Those who by the scriptures have obtained some knowledge
of God (a certain
though not a perfect
knowledge) may worship him comfortably to themselves, and acceptably to him, for
they know what they worship.”
[= ‘Kami tahu / kenal apa yang kami sembah. Kami berjalan di atas tanah /
dasar yang pasti dalam ibadah / penyembahan kami, karena bangsa kami diberi
pelajaran dasar dan dididik dalam pengetahuan / pengenalan terhadap Allah,
sebagaimana Ia telah menyatakan diriNya sendiri dalam Kitab Suci’. Perhatikan,
Mereka yang dengan Kitab Suci telah mendapatkan suatu pengetahuan tentang Allah
(suatu pengetahuan tertentu,
sekalipun bukan pengetahuan yang
sempurna) bisa menyembah Dia dengan menyenangkan bagi diri mereka
sendiri, dan bisa diterima bagi Dia, karena mereka tahu / kenal apa yang mereka
sembah.].
Ini
sesuai dengan kata-kata Paulus, yang ada dalam 1Kor 13:8-12 - “(8)
Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti;
pengetahuan akan lenyap. (9) Sebab pengetahuan
kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. (10) Tetapi jika
yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap. (11) Ketika aku
kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti
kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi
dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. (12) Karena sekarang
kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang
aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi
nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.”.
Jadi,
ayat-ayat yang menunjukkan bahwa kita bisa mengenal Allah, harus diartikan
sebagai pengenalan yang
terbatas, sejauh yang Allah kehendaki / nyatakan tentang diriNya
sendiri dalam Alkitab. Ini cukup untuk keselamatan kita!
Tetapi
ayat-ayat yang menunjukkan bahwa kita tidak bisa mengenal Allah, harus diartikan
sebagai pengenalan yang
sempurna. Ini baru bisa ada pada akhir jaman, atau pada saat kita
mati dan masuk ke surga.
Semua
ini juga sesuai dengan kata-kata Yohanes dalam 1Yoh 3:2 - “Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah,
tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila
Kristus menyatakan diriNya, kita akan
menjadi sama seperti Dia, sebab kita
akan melihat Dia dalam keadaanNya yang sebenarnya.”.
Kata-kata
‘apabila
Kristus menyatakan diriNya’
jelas menunjuk pada kedatangan Kristus yang keduakalinya. Pada saat itu:
1.
‘kita
akan menjadi sama seperti Dia’.
Kata
‘sama’
seharusnya tidak ada.
KJV:
‘we shall be like him’
[= kita akan seperti Dia].
Tentu
kita tidak akan menjadi setara dengan Dia / menjadi Allah.
Calvin
mengatakan bahwa kita tidak akan menjadi setara dengan Dia, karena harus ada
perbedaan antara kepala dan anggota-anggota tubuh. Sang rasul mengatakan bahwa
kita akan seperti Dia karena Ia akan mengubah tubuh kita yang hina sehingga
menjadi seperti tubuhNya yang mulia.
Bdk.
Fil 3:21 - “yang
akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuhNya yang mulia, menurut kuasaNya yang
dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diriNya.”.
2.
‘kita
akan melihat Dia dalam keadaannya yang sebenarnya’.
Calvin
menafsirkan kata ‘sebab’
(yang mendahului anak kalimat ini) bukan sebagai ‘cause’
[= penyebab], tetapi sebagai ‘effect’ [= akibat]. Jadi, pada saat kita menjadi seperti Dia, maka kita
akan melihat Dia dalam keadaanNya yang sebenarnya.
Kata
Yunani yang digunakan adalah HOTI, yang bisa berarti ‘because’
[= sebab], tetapi bisa juga berarti ‘that’
[= sehingga / supaya].
Ada
2 hal yang perlu kita ketahui tentang kata-kata ‘kita akan melihat Dia dalam keadaanNya yang sebenarnya’:
a. Memang orang-orang yang tidak percaya juga akan melihat Dia, tetapi
mereka akan melihat Dia sebagai Hakim yang mengerikan,
sedangkan kita akan melihat Dia sebagai Sahabat.
b. Sekarangpun kita ‘melihat’ Dia, tetapi kita melihat Dia hanya
secara samar-samar. Nanti kita akan melihat Dia apa adanya. Ini sesuai dengan
1Kor 13:12 yang sudah kita baca dan pelajari di atas, tetapi untuk jelasnya saya
berikan lagi di sini.
1Kor 13:12
- “Karena
sekarang kita melihat dalam
cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi
nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang
aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi
nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.”.
b) Kesulitan yang terbesar terletak pada hubungan
antara pribadi-pribadi dalam diri Allah dengan hakekat illahi dan hubungan
antara pribadi yang satu dengan pribadi yang lain. Kesulitan-kesulitan ini tidak
pernah bisa dipecahkan oleh manusia.
Kita
berusaha untuk menyatakan doktrin Allah Tritunggal ini sedemikian rupa, bukan supaya semua ini bisa dimengerti dengan jelas,
tetapi hanya supaya kita terhindar / terlindung
dari ajaran-ajaran sesat tentang Allah Tritunggal.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ