(Rungkut
Megah Raya Blok D No 16)
Rabu,
tgl 8 Januari 2014, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
[HP:
(031) 70641331 / (031) 60501331 / 081945588855]
c)
Predestinasi tidak menghancurkan kebebasan manusia.
Sekalipun
Calvinisme mempercayai kedaulatan Allah yang menentukan keselamatan seseorang
dan bahkan juga menentukan segala sesuatu yang lain, tetapi Calvinisme tetap
mempercayai kebebasan manusia. Mengapa? Karena dalam Kitab Suci kita melihat
bahwa sekalipun segala sesuatu terjadi sesuai
kehendak / rencana Allah, tetapi pada waktu manusianya melakukan hal itu, ia
tidak dipaksa, tetapi melakukannya dengan sukarela.
Misalnya:
1.
Pada waktu mengutus Musa kepada Firaun, Tuhan berkata bahwa Ia akan
mengeraskan hati Firaun.
Kel 4:21
- “Firman TUHAN kepada Musa: ‘Pada waktu engkau hendak kembali ini ke
Mesir, ingatlah, supaya segala mujizat yang telah Kuserahkan ke dalam tanganmu,
kauperbuat di depan Firaun. Tetapi Aku akan
mengeraskan hatinya, sehingga ia tidak membiarkan bangsa itu
pergi.”.
Kel
7:3 - “Tetapi Aku akan mengeraskan hati Firaun,
dan Aku akan memperbanyak tanda-tanda dan mujizat-mujizat yang Kubuat di tanah
Mesir.”.
Ini
menunjukkan bahwa Tuhan sudah menentukan bahwa Firaun tidak akan melepaskan
Israel. Tetapi pada waktu Musa sampai kepada Firaun, dikatakan bahwa
‘Firaunlah yang mengeraskan hatinya sendiri’.
Kel 7:22
- “Tetapi para ahli Mesir membuat yang demikian juga dengan ilmu-ilmu
mantera mereka, sehingga hati Firaun berkeras
dan ia tidak mau mendengarkan mereka keduanya seperti yang telah difirmankan
TUHAN.”.
Kel
8:15,19,32 - “(15) Tetapi ketika Firaun melihat, bahwa telah terasa kelegaan, ia
tetap berkeras hati, dan tidak mau mendengarkan mereka keduanya -
seperti yang telah difirmankan TUHAN. ... (19) Lalu berkatalah para ahli itu
kepada Firaun: ‘Inilah tangan Allah.’ Tetapi hati
Firaun berkeras, dan ia tidak mau mendengarkan mereka - seperti yang
telah difirmankan TUHAN. ... (32) Tetapi sekali inipun Firaun
tetap berkeras hati; ia tidak membiarkan bangsa itu pergi.”.
Kel
9:34-35 - “(34) Tetapi ketika Firaun melihat, bahwa hujan, hujan es dan guruh
telah berhenti, maka teruslah ia berbuat dosa; ia
tetap berkeras hati, baik ia maupun para pegawainya. (35) Berkeraslah
hati Firaun, sehingga ia tidak membiarkan orang Israel pergi -
seperti yang telah difirmankan TUHAN dengan perantaraan Musa.”.
2. Hal yang sama terjadi pada waktu Firaun akhirnya memutuskan untuk
mengejar Israel.
Kel
14:3-4 - “(3) Maka Firaun akan berkata tentang orang Israel: Mereka telah sesat
di negeri ini, padang gurun telah mengurung mereka. (4) Aku
akan mengeraskan hati Firaun, sehingga ia mengejar mereka. Dan
terhadap Firaun dan seluruh pasukannya Aku akan menyatakan kemuliaanKu, sehingga
orang Mesir mengetahui, bahwa Akulah TUHAN.’ Lalu mereka berbuat demikian.”.
Kel
14:5 - “Ketika diberitahukan kepada raja Mesir, bahwa bangsa itu telah lari,
maka berubahlah hati Firaun dan
pegawai-pegawainya terhadap bangsa itu, dan berkatalah mereka: ‘Apakah yang
telah kita perbuat ini, bahwa kita membiarkan orang Israel pergi dari perbudakan
kita?’”.
3.
Yudas mengkhianati / menyerahkan Yesus sesuai dengan ketetapan Allah.
Luk 22:22
- “Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan,
akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan!’”.
Tetapi
pada waktu Yudas melakukan hal itu, ia betul-betul melakukannya dengan
kehendaknya sendiri. Kita tidak melihat bahwa Allah memaksa
dia untuk mengkhianati Yesus.
4.
Orang-orang yang membunuh Yesus melakukan hal itu sesuai dengan apa yang
sudah Allah tentukan dari semula.
Kis 4:27-28
- “(27) Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan
Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan
Yesus, HambaMu yang kudus, yang Engkau urapi, (28) untuk
melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa
dan kehendakMu.”.
Tetapi
pada waktu mereka melakukannya, mereka betul-betul bebas, dan melakukannya atas
kehendak mereka sendiri.
3)
Tambahan berkenaan dengan free will / kehendak bebas versi Arminian.
Point
ini sebetulnya agak menyimpang, tetapi saya memang mau membahas free will
secara lebih lengkap, untuk menunjukkan betapa konyolnya kepercayaan
terhadap ‘dewa orang Arminian’ yang bernama
free will ini!
a)
Pada waktu Allah mencipta kita, apakah dia tanya / minta ijin kepada kita
dalam hal:
1.
Apakah kita mau dicipta?
2.
Apakah kita mau dicipta sebagai manusia?
3.
Apakah kita mau dicipta sebagai manusia seperti
apa adanya kita sekarang ini, baik dalam bentuk badan, kebangsaan,
jenis kelamin, kepandaian / IQ, bakat / karunia dan sebagainya?
Dia
tak pernah menanyakan apapun tentang hal-hal itu, atau minta ijin tentang
hal-hal itu! Dia mau mencipta kita jadi apa, itu haknya
Dia! Ini berlaku juga untuk binatang-binatang dan para malaikat. Apakah ini melindas free will kita / semua
makhluk ciptaan???
Calvin:
“Let
them answer why they are men rather than oxen or asses. Although it was in
God’s power to make them dogs, he formed them to his own image” [=
Biarlah mereka (orang-orang yang menolak Predestinasi) menjawab mengapa mereka adalah manusia dan bukannya sapi atau keledai.
Sekalipun Allah berkuasa membuat mereka menjadi anjing, Ia membentuk mereka
sesuai gambarNya] - ‘Institutes of
the Christian Religion’, Book III, Chapter XXII, no 1.
Bdk.
Ro 9:20-21 - “(20) Siapakah kamu, hai
manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang
membentuknya: ‘Mengapakah engkau membentuk aku demikian?’ (21) Apakah tukang
periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang
sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk
dipakai guna tujuan yang biasa?”.
Bdk.
Yes 45:9-17 - “(9) Celakalah
orang yang berbantah dengan Pembentuknya; dia tidak lain dari beling periuk saja!
Adakah tanah liat
berkata kepada pembentuknya: ‘Apakah yang kaubuat?’ atau yang telah
dibuatnya: ‘Engkau tidak punya tangan!’ (10) Celakalah
orang yang berkata kepada ayahnya: ‘Apakah yang kauperanakkan?’ dan kepada
ibunya: ‘Apakah yang kaulahirkan?’ (11) Beginilah
firman TUHAN, Yang Mahakudus, Allah dan Pembentuk Israel: ‘Kamukah yang
mengajukan pertanyaan kepadaKu mengenai anak-anakKu, atau memberi perintah
kepadaKu mengenai yang dibuat tanganKu? (12) Akulah yang menjadikan bumi
dan yang menciptakan manusia di atasnya; tanganKulah yang membentangkan langit,
dan Akulah yang memberi perintah kepada seluruh tentaranya. (13) Akulah yang
menggerakkan Koresh untuk maksud penyelamatan, dan Aku akan meratakan segala
jalannya; dialah yang akan membangun kotaKu dan yang akan melepaskan
orang-orangKu yang ada dalam pembuangan, tanpa bayaran dan tanpa suap,’ firman
TUHAN semesta alam. (14) Beginilah firman TUHAN: ‘Hasil tanah dari Mesir dan
segala laba dari Etiopia dan orang-orang Syeba, orang-orang yang tinggi
perawakannya, akan pindah kepadamu dan menjadi kepunyaanmu, mereka akan berjalan
di belakangmu dengan dirantai; mereka akan sujud kepadamu dan akan membujuk
engkau, katanya: Hanya di tengah-tengahmu ada Allah, dan tidak ada yang lain; di
samping Dia tidak ada Allah! (15) Sungguh, Engkau Allah yang menyembunyikan
diri, Allah Israel, Juruselamat. (16) Tetapi tukang-tukang berhala harus mundur
dengan penuh noda, semuanya akan mendapat malu dan kena noda juga. (17)
Sedangkan Israel diselamatkan oleh TUHAN dengan keselamatan yang selama-lamanya;
kamu tidak akan mendapat malu dan tidak akan kena noda sampai selamanya dan
seterusnya.’”.
Tetapi
bagaimana dengan text di bawah ini, yang kelihatannya bertentangan dengan 2 text
di atas?
Yer
18:1-11 - “(1) Firman yang datang dari TUHAN kepada Yeremia, bunyinya: (2)
‘Pergilah dengan segera ke rumah tukang periuk! Di sana Aku akan
memperdengarkan perkataan-perkataanKu kepadamu.’ (3) Lalu pergilah aku ke
rumah tukang periuk, dan kebetulan ia sedang bekerja dengan pelarikan. (4) Apabila
bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka
tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang
baik pada pemandangannya. (5) Kemudian datanglah firman TUHAN
kepadaku, bunyinya: (6) ‘Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti
tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti
tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tanganKu, hai kaum
Israel! (7) Ada kalanya Aku berkata tentang suatu
bangsa dan tentang suatu kerajaan bahwa Aku akan mencabut, merobohkan dan
membinasakannya. (8) Tetapi apabila bangsa yang terhadap siapa Aku berkata
demikian telah bertobat dari kejahatannya, maka
menyesallah Aku, bahwa Aku hendak
menjatuhkan malapetaka yang Kurancangkan itu terhadap mereka. (9) Ada
kalanya Aku berkata tentang suatu bangsa dan tentang suatu kerajaan bahwa Aku
akan membangun dan menanam mereka. (10) Tetapi apabila mereka melakukan apa yang
jahat di depan mataKu dan tidak mendengarkan suaraKu, maka
menyesallah Aku, bahwa Aku hendak
mendatangkan keberuntungan yang Kujanjikan itu kepada mereka. (11)
Sebab itu, katakanlah kepada orang Yehuda dan kepada penduduk Yerusalem:
Beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku ini sedang menyiapkan malapetaka
terhadap kamu dan merancangkan rencana terhadap kamu. Baiklah kamu masing-masing
bertobat dari tingkah langkahmu yang jahat, dan perbaikilah tingkah langkahmu
dan perbuatanmu!”.
Ada
beberapa hal yang ingin saya tekankan:
1. Jelas bahwa yang cocok dengan Ro 9:20-21 adalah Yes 45:9-dst itu,
bukan Yer 18:1-dst.
Calvin
(tentang Ro 9:20): “But
he represses this arrogance of contending with God by a most apt similitude, in
which he seems to have alluded to Isaiah 45:9, rather than to Jeremiah 18:6; for
nothing else is taught us by Jeremiah, than that Israel was in the hand of the
Lord, so that he could for his sins wholly break him in pieces, as a potter the
earthen vessel. But Isaiah ascends higher, ‘Woe to him,’ he says, ‘who
speaks against his maker;’ that is, the pot that contends with the former of
the clay; ‘shall the clay say to its former, what doest thou?’ etc. And
surely there is no reason for a mortal man to think himself better than earthen
vessel, when he compares himself with God.” (= Tetapi ia menekan
kesombongan yang menentang / melawan Allah ini oleh suatu gambaran / perumpamaan
yang paling cocok, dalam mana ia kelihatannya telah menyinggung Yes 45:9, dan bukannya Yer
18:6; dan tak ada yang lain yang diajarkan
kepada kita oleh Yeremia, dari pada bahwa Israel ada dalam tangan Tuhan,
sehingga karena dosa-dosanya Ia bisa menghancurkan mereka sepenuhnya, seperti
seorang penjunan menghancurkan periuk tanah liat. Tetapi
Yesaya naik lebih tinggi, ‘Celakalah ia’, katanya, ‘yang berbicara
menentang / melawan Penciptanya’; yaitu, periuk yang menentang / melawan
pembentuk tanah liat; ‘akankah tanah liat berkata kepada pembentuknya, apa
yang engkau lakukan?’ dst. Dan pasti disana tidak ada alasan bagi
manusia yang fana untuk memikirkan bahwa dirinya lebih tinggi dari periuk tanah
liat, pada waktu ia membandingkan dirinya sendiri dengan Allah.).
2. Baik Ro 9:20-21 maupun Yes 45:9-dst memang bicara dari
sudut pandang Allah, tentang kedaulatan Allah, yang berhak menjadikan
manusia manapun menjadi bagaimanapun. Tetapi Yer 18:1-dst jelas berbicara dari
sudut pandang manusia, sehingga seolah-olah Allah mengubah rencanaNya
tentang seseorang / suatu bangsa sesuai dengan apa yang dilakukan oleh orang /
bangsa itu. Perhatikan secara khusus kata-kata ‘maka
menyesallah Aku’ dalam Yer 18:8,10! Ini jelas merupakan penyorotan dari
sudut pandang manusia, karena dari sudut pandang Allah sendiri tidak
mungkin Ia menyesal (1Sam 15:29).
Calvin
(tentang Yer 18:7-10): “I
have said that this part of the doctrine is more popular or comprehensive, for
he refers to repentance. When Paul adduced this similitude, - that we are in the
power of God as the clay is in the hand of the potter, he spoke not in so
popular a manner: for he did not speak of repentance, but ascended higher and
said, that before the world was created, it was in God’s power to determine
what he pleased respecting every individual, and that we are now formed
according to his will, so that he chooses one and rejects the other. Paul then
did not refer to faithfulness nor to repentance, but spoke of the hidden purpose
of God, by which he has predestinated some to salvation and some to destruction.
(Romans 9:21.) Isaiah also seems to have had the same thing in view; for he says
only, ‘Woe to them who rise up against their Maker.’ (Isaiah 45:9.) Cannot I
determine, saith God, with regard to men, as the potter, who forms the clay as
he pleases? We must then maintain this principle, - that men are thus formed
according to God’s will, so that all must become mute; for uselessly do the
reprobate make a clamor, object and say, ‘Why hast thou formed us thus?’ Has
not the potter, says Paul, power, etc.? This is what must be said of God’s
hidden predestination. But Jeremiah here accommodates his doctrine to the
people, that he might shew, that God had by a gratuitous covenant chosen and
adopted the seed of Abraham in such a way, that he could still repudiate the
unworthy, even all those who despised so great a favor. We now see the various
applications of this doctrine; God determined, before the creation of the world,
what he pleased respecting each individual; but his counsel is hid, and to us
incomprehensible. There is here a more familiar application made, - that, God at
one time takes away his blessings, and that at another he raises men as it were
from death, that he might set them on high, according as he pities those who
truly and from the heart turn to him, or is offended with the ingratitude of
such as reject his offered favors.” [= Aku
telah berkata bahwa bagian doktrin ini lebih populer atau luas, karena ia
menunjuk pada pertobatan. Pada waktu Paulus
mengemukakan gambaran / perumpamaan ini, - bahwa kita ada dalam kuasa Allah
seperti tanah liat ada dalam tangan dari penjunan, ia tidak berbicara dengan
cara yang begitu populer: karena ia tidak berbicara tentang pertobatan, tetapi naik
lebih tinggi dan berkata, bahwa sebelum
dunia / alam semesta diciptakan, itu ada dalam tangan Allah untuk menentukan apa
yang memperkenanNya berkenaan dengan setiap individu, dan bahwa kita sekarang
dibentuk sesuai dengan kehendakNya, sehingga Ia memilih yang seorang dan menolak
yang lain. Jadi, Paulus tidak menunjuk pada kesetiaan ataupun pada
pertobatan, tetapi berbicara tentang rencana Allah
yang tersembunyi, dengan mana Ia telah mempredestinasikan sebagian pada
keselamatan dan sebagian pada kehancuran (Ro 9:21). Yesaya
kelihatannya juga mempunyai hal yang sama dalam pandangannya; karena ia hanya
berkata, ‘Celakalah mereka yang berbantah / menentang Pencipta mereka’ (Yes
45:9). Tidak bisakah Aku menentukan, kata Allah, berkenaan dengan manusia,
seperti si penjunan, yang membentuk tanah liat seperti yang ia senangi? Jadi
kita harus mempertahankan prinsip ini, - bahwa manusia dibentuk sedemikian rupa
sesuai kehendak Allah, sehingga semua harus berdiam diri; karena secara sia-sia
para reprobate / orang-orang yang ditentukan binasa membuat keributan,
keberatan, dan berkata, ‘Mengapa Engkau telah membentuk aku seperti ini?’
Tidakkah sang penjunan, kata Paulus, mempunyai kuasa, dst.? Inilah yang harus
dikatakan tentang predestinasi yang tersembunyi dari Allah. Tetapi Yeremia
di sini menyesuaikan ajarannya dengan bangsa itu,
supaya ia bisa menunjukkan, bahwa Allah, oleh perjanjianNya yang murah hati /
bersifat kasih karunia, telah memilih dan mengadopsi benih Abraham dengan cara
sedemikian rupa, sehingga Ia bisa tetap menolak untuk mengakui orang-orang yang
tidak layak, yaitu mereka yang meremehkan kebaikan yang begitu besar. Sekarang
kita melihat penerapan-penerapan yang bermacam-macam dari doktrin ini; Allah
menentukan, sebelum penciptaan dunia, apa yang Ia perkenan berkenaan dengan
setiap individu; tetapi rencanaNya tersembunyi, dan bagi kita tidak bisa
dimengerti. Lalu di sini dibuat suatu penerapan
yang lebih akrab, - bahwa, Allah pada satu waktu mengambil berkat-berkatNya, dan
bahwa pada saat yang lain Ia membangkitkan orang-orang seakan-akan dari
kematian, supaya Ia bisa meninggikan mereka, sesuai dengan bagaimana Ia
mengasihani mereka yang sungguh-sungguh dan dari hati berbalik kepadaNya, atau
bagaimana Ia tersinggung / marah dengan rasa tidak tahu terima kasih dari
orang-orang yang menolak kebaikanNya yang Ia tawarkan.].
b)
Arminian menganggap bahwa kalau orang berdosa tidak bisa berbuat baik
ataupun percaya kepada Yesus, maka mereka juga tidak punya free
will, dan kalau orang Kristen dijaga oleh Allah sehingga tidak bisa murtad,
maka mereka juga tak punya free will /
kehendak bebas.
Saya
menjawab:
1.
Setan tidak bisa berbuat baik, dan jelas juga tidak bisa beriman kepada
Kristus. Apakah mereka juga tidak punya free will?
2.
Malaikat-malaikat yang baik tidak bisa berbuat dosa ataupun murtad;
apakah mereka juga tidak punya free will?
3.
Yesus (sebagai manusia) juga tidak bisa berbuat dosa. Apakah Ia juga
tidak punya free will?
4.
Kalau orang-orang Kristen masuk surga maka kita tidak lagi bisa berbuat
dosa, meninggalkan iman dan sebagainya. Apakah kita kehilangan free will?
5.
Pada saat orang-orang yang tidak percaya masuk neraka apakah masih ada
kesempatan untuk percaya kepada Yesus? Sudah jelas tidak. Kalau demikian, apakah
mereka kehilangan free will?
6.
Allah sendiri tidak bisa berbuat dosa. Apakah Ia tidak punya free will?
Ibr
6:18 - “supaya oleh dua kenyataan yang
tidak berubah-ubah, tentang mana Allah tidak mungkin
berdusta, kita yang mencari perlindungan, beroleh dorongan yang kuat
untuk menjangkau pengharapan yang terletak di depan kita”.
2Tim
2:13 - “jika kita tidak setia, Dia
tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal
diriNya.’”.
R.
L. Dabney:
“Arminians
urge always an objection drawn from their false philosophy. They say that if
God’s grace in regeneration were efficient, certainly determining the
convert’s will away from sin to gospel duty, it would destroy his free-agency.
Then there would be no moral nor deserving quality in his subsequent evangelical
obedience to please God, any more than in the natural color of his hair, which
he could not help. My answer is, that their
philosophy is false. The presence and operation of a right principle in a
man, certainly determining him to right feelings and actions, does not infringe
his free-agency but rather is essential to all right free-agency. My proofs are,
that if this spurious philosophy were true, the saints and elect angels in
heaven could not have any free-agency or praise-worthy character or conduct. For
they are certainly and forever determined to holiness. The man Jesus could not
have had any free-agency or merit, for his human will was absolutely determined
to holiness. God himself could not have had any freedom or praiseworthy
holiness. He least of all! for his will is eternally, unchangeably, and
necessarily determined to absolute holiness. If there is anything approaching
blasphemy in this, take notice, it is not mine. I put this kind of philosophy
from me with abhorrence.”
(= Orang-orang Arminian selalu mendesakkan suatu keberatan yang ditarik dari
filsafat mereka yang salah. Mereka berkata bahwa
jika kasih karunia Allah dalam kelahiran baru adalah efisien / pasti berhasil,
dengan pasti menentukan kehendak si petobat menjauhi dosa kepada kewajiban
injil, itu akan menghancurkan tindakan bebasnya. Maka disana tidak
ada kwalitas moral atau bernilai dalam ketaatan injili setelahnya untuk
menyenangkan Allah, sama seperti dalam warna alamiah dari rambutnya, yang tidak
bisa ia apa-apakan. Jawaban saya adalah, filsafat
mereka salah. Kehadiran
dan operasi / pekerjaan dari suatu penyebab yang benar dalam seorang manusia,
secara pasti menentukan dia kepada perasaan-perasaan dan tindakan-tindakan yang
benar, tidak melanggar tindakan bebasnya tetapi merupakan sesuatu yang hakiki
bagi semua tindakan bebas yang benar. Bukti-bukti
saya adalah, bahwa seandainya filsafat yang palsu ini benar, maka orang-orang
kudus dan malaikat-malaikat pilihan di surga tidak bisa mempunyai tindakan bebas
atau karakter atau tingkah laku yang layak dipuji. Karena mereka
secara pasti dan untuk selama-lamanya ditentukan pada kekudusan. Manusia
Yesus tidak bisa mempunyai tindakan bebas atau jasa, karena kehendak manusiaNya
ditentukan secara mutlak kepada kebenaran.
Allah sendiri tidak bisa mempunyai kebebasan apapun atau kekudusan yang
layak dipuji. Ia yang paling tidak bisa dari semua! karena kehendakNya secara
kekal, secara tak bisa berubah, dan secara hakiki ditentukan kepada kekudusan
yang mutlak. Jika disana ada apapun yang mendekati suatu penghujatan
dalam hal ini, perhatikan, itu bukanlah pandangan saya. Saya mendorong /
melemparkan jenis filsafat ini dari saya dengan kejijikan.)
- ‘The Five Points of Calvinism’,
hal 76-77 (Libronix).
c)
Arminianisme mengatakan bahwa doktrin Reformed tentang kelahiran baru /
regeneration menunjukkan bahwa Allah melindas kehendak bebas kita, karena Ia
tidak meminta ijin / persetujuan kita, apakah kita mau dilahir-barukan atau
tidak.
Ada
2 jawaban yang bisa saya berikan tentang hal ini:
1.
Arminianisme mempercayai ‘Prevenient Grace’ (= Kasih karunia yang mendahului), yang
mereka percayai telah Allah berikan kepada semua orang tanpa kecuali sejak
lahir. Ini menyebabkan semua orang yang sebetulnya ada dalam keadaan Total Depravity (= Kebejatan Total) menjadi bisa percaya kepada
Yesus, asal mereka menggunakan kehendak bebas mereka dengan baik.
Kalau
doktrin ini benar, apakah Allah meminta persetujuan
dari semua orang itu apakah mau diberi Prevenient
Grace atau tidak? Sudah jelas tidak! Kalau demikian, apa bedanya dengan
Allah melahirbarukan tanpa minta persetujuan kita? Bukankah sama-sama
‘melindas free will’?
2.
Apakah seorang dokter kalau menolong orang yang pingsan / koma, minta
ijin dulu kepada orang itu, apakah ia mau ditolong atau tidak?
d)
Apakah Lot yang dipaksa untuk keluar dari Sodom (Kej 19:16), Yunus yang
dipaksa ke Niniwe (Yunus 1-3), dan Bileam yang dipaksa untuk memberkati Israel,
punya free will?
Bil 22:35,38
- “(35) Tetapi Malaikat TUHAN berfirman
kepada Bileam: ‘Pergilah bersama-sama dengan orang-orang itu, tetapi hanyalah perkataan yang akan Kukatakan kepadamu harus kaukatakan.’ Sesudah itu pergilah Bileam bersama-sama dengan pemuka-pemuka
Balak itu. (38) Tetapi berkatalah Bileam kepada Balak: ‘Ini aku sudah datang
kepadamu sekarang; tetapi
akan mungkinkah aku dapat mengatakan apa-apa? Perkataan yang akan ditaruh Allah
ke dalam mulutku, itulah yang akan kukatakan.’”.
Bil 23:5,8,12,16,20,26
- “(5) Kemudian TUHAN menaruh perkataan ke dalam mulut Bileam dan berfirman:
‘Kembalilah kepada Balak dan katakanlah demikian.’ ... (8) Bagaimanakah
aku menyerapah yang tidak diserapah Allah? Bagaimanakah aku mengutuk yang tidak
dikutuk TUHAN? ... (12) Tetapi ia menjawab: ‘Bukankah aku
harus berawas-awas, supaya mengatakan apa yang ditaruh TUHAN ke dalam mulutku?’ ... (16) Lalu TUHAN
menemui Bileam dan menaruh perkataan ke dalam mulutnya, dan berfirman:
‘Kembalilah kepada Balak dan katakanlah demikian.’
... (20) Ketahuilah, aku mendapat perintah untuk memberkati, dan apabila Dia memberkati,
maka aku tidak dapat membalikkannya. ... (26)
Tetapi Bileam menjawab Balak: ‘Bukankah
telah kukatakan kepadamu: Segala yang akan difirmankan TUHAN, itulah yang akan
kulakukan.’”.
Bil
24:2,3,12,13 - “(2) Ketika Bileam memandang ke depan dan melihat orang
Israel berkemah menurut suku mereka, maka Roh Allah
menghinggapi dia. (3) Lalu diucapkannyalah sanjaknya, katanya:
‘Tutur kata Bileam bin Beor, tutur kata orang yang terbuka matanya; ... (12)
Tetapi berkatalah Bileam kepada Balak: ‘Bukankah
telah kukatakan juga kepada utusan-utusan yang kaukirim kepadaku: (13) Sekalipun
Balak memberikan kepadaku emas dan perak seistana penuh, aku
tidak akan sanggup melanggar titah TUHAN dengan
berbuat baik atau jahat atas
kemauanku sendiri; apa yang akan difirmankan
TUHAN, itulah yang akan kukatakan.”.
Ul 23:4-5
- “(4) karena mereka tidak menyongsong kamu dengan roti dan air pada waktu
perjalananmu keluar dari Mesir, dan karena mereka mengupah Bileam bin Beor dari
Petor di Aram-Mesopotamia melawan engkau, supaya dikutukinya engkau. (5) Tetapi
TUHAN, Allahmu, tidak mau mendengarkan Bileam dan TUHAN,
Allahmu, telah mengubah kutuk itu menjadi berkat bagimu,
karena TUHAN, Allahmu, mengasihi engkau.”.
Yos
24:9-10 - “(9) Ketika itu Balak bin Zipor, raja Moab, bangkit berperang melawan orang
Israel. Disuruhnya memanggil Bileam bin Beor untuk mengutuki kamu. (10) Tetapi Aku
tidak mau mendengarkan Bileam, sehingga iapun memberkati kamu.
Demikianlah Aku melepaskan kamu dari tangannya.”.
Neh
13:2 - “Karena
mereka tidak menyongsong orang Israel dengan roti dan
air, malah mengupah Bileam melawan orang Israel supaya dikutukinya. Tetapi
Allah kami mengubah kutuk itu menjadi berkat.”.
Dari
sederetan ayat-ayat tentang Bileam yang dipaksa memberkati oleh Tuhan ini, saya
akan soroti satu ayat yang paling menyolok.
Bil 24:13
- “Sekalipun Balak memberikan kepadaku emas dan perak seistana penuh, aku
tidak akan
sanggup
melanggar titah TUHAN dengan berbuat baik atau jahat atas kemauanku
sendiri;
apa yang akan difirmankan TUHAN, itulah yang akan kukatakan.”.
Kata ‘kemauan’
di sini diterjemahkan dari kata bahasa Ibrani LEB yang bisa diartikan ‘mind’
(= pikiran) atau ‘will’ (=
kehendak) - Bible Works 7.
Perhatikan
juga kata-kata ‘tidak
akan sanggup’! Bileam menyatakan bahwa ia tidak akan sanggup
berbuat baik dan jahat atas kemauannya sendiri. Ia hanya bisa mentaati Tuhan
(dengan terpaksa!).
Pulpit
Commentary (tentang Bil 23:20):
“‘I have received commandment to
bless.’ The word ‘commandment’ is not wanted here. Balaam had received,
not instructions, but an inward revelation of the Divine will which
he could not contravene.”
[= ‘Aku telah menerima perintah untuk memberkati’. Kata ‘perintah’ tidak
dibutuhkan di sini (kata itu
sebetulnya tidak ada dalam bahasa aslinya). Bileam telah menerima, bukan
instruksi / perintah, tetapi suatu wahyu di dalam dari kehendak Ilahi yang
tidak bisa ia tentang.].
Matthew
Henry (tentang Bil 23:8):
“he owns the design defeated, and his own
inability to accomplish it. He could not so much as give them an ill word
or an ill wish: How shall I curse those whom God has not cursed? v. 8. Not
that therefore he would not do it, but therefore he could not do it.”
(= ia mengakui rancangannya dikalahkan, dan ketidak-mampuannya
sendiri untuk mencapainya. Ia tidak bisa
memberi mereka (Israel) suatu
kata yang buruk atau suatu keinginan / harapan yang buruk: ‘Bagaimanakah aku
menyerapah yang tidak diserapah Allah?’ ay 8. Bukan
bahwa karena itu ia tidak mau
melakukannya, tetapi karena itu ia tidak
bisa melakukannya.).
Matthew
Henry (tentang Bil 23:8):
“It is a confession of the sovereignty and dominion of the divine power.
He owns that he could do no more than God would suffer him to do, for God could
overrule all his purposes, and turn his counsels headlong” (= Itu
merupakan suatu pengakuan tentang kedaulatan dan
penguasaan dari kuasa ilahi. Ia mengakui bahwa ia tidak
bisa melakukan lebih dari yang Allah ijinkan ia lakukan, karena Allah
bisa mengesampingkan semua tujuannya, dan membalikkan rencananya dengan cepat).
Barnes’
Notes (tentang Bil 23:20):
“‘I have received commandment to bless.’ literally, ‘I have
received to bless.’ The reason of his blessing lay in the augury which he
acknowledged, and in the divine overruling impulse which he could not resist,
not in any ‘commandment’ in words” (= ‘Aku mendapat perintah untuk
memberkati’. Secara hurufiah, ‘Aku mendapat untuk memberkati’. Alasan
dari berkatnya terletak dalam nubuat yang ia akui, dan dalam
dorongan pengesampingan ilahi yang tidak bisa ia tolak, bukan dalam
‘perintah’ dengan kata-kata).
Pulpit
Commentary (tentang Bil 23):
“God,
who opened the mouth of an ass and made it utter human speech, now
opens the mouth of one whose heart was ready to deceive and curse, and makes
that mouth to utter truth and blessing” (= Allah, yang membuka
mulut dari seekor keledai dan membuatnya mengucapkan ucapan manusia, sekarang
membuka mulut dari orang yang hatinya siap untuk menipu dan mengutuk, dan
membuat mulut itu mengucapkan kebenaran dan berkat) - hal 326.
Dimana
kehendak bebas Bileam? Bukankah ia tidak lebih bebas dari keledainya? Silahkan
orang-orang yang menyembah ‘dewa’ yang bernama ‘free will’ (= kehendak bebas) ini menjawab pertanyaan ini!
e)
Arminianisme tidak percaya manusia diperbudak oleh dosa / setan, karena
hal itu dianggap bertentangan dengan free will. Lalu bagaimana dengan ayat-ayat
ini?
Yak 1:25
- “Tetapi barangsiapa meneliti hukum
yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan
orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk
melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh
perbuatannya.”.
Yak
2:12 - “Berkatalah dan berlakulah
seperti orang-orang yang akan dihakimi oleh hukum yang memerdekakan
orang.”.
Yoh
8:31-36 - “(31) Maka kataNya kepada
orang-orang Yahudi yang percaya kepadaNya: ‘Jikalau kamu tetap dalam firmanKu,
kamu benar-benar adalah muridKu (32) dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan
kebenaran itu akan memerdekakan kamu.’ (33)
Jawab mereka: ‘Kami adalah keturunan Abraham dan tidak
pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau
dapat berkata: Kamu akan merdeka?’ (34) Kata Yesus kepada mereka:
‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang
berbuat dosa, adalah hamba dosa. (35) Dan
hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah.
(36) Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu,
kamupun benar-benar merdeka.’”.
Gal 5:1
- “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka,
Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu
berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.”.
Ro
6:18 - “Kamu telah dimerdekakan
dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.”.
Ro 6:22
- “Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan
dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah,
kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya
ialah hidup yang kekal.”.
Ro 8:2
- “Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan
kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.”.
Kalau manusia berdosa memang tidak diperbudak oleh
dosa / setan, lalu dimerdekakan dari apa?
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali