(Rungkut
Megah Raya Blok D No 16)
Rabu,
tgl 4 Desember 2013, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
[HP:
(031) 70641331 / (031) 60501331 / 081945588855]
KJV:
‘Who hath believed our report? and to
whom is the arm of the LORD revealed?’ (= Siapa yang telah mempercayai
pemberitaan kami? dan kepada siapa lengan TUHAN dinyatakan?).
Sebetulnya
dilihat sepintas lalu sudah kelihatan dengan jelas arti dari ayat ini. Yang
percaya pada pemberitaan (Injil) oleh Yesaya adalah orang kepada siapa tangan
/ lengan (= kekuasaan) Tuhan dinyatakan.
Yes
53:1 itu dikutip dalam 2 ayat Perjanjian Baru.
Ro 10:16-17
- “(16) Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu. Yesaya
sendiri berkata: ‘Tuhan, siapakah yang percaya
kepada pemberitaan kami?’ (17) Jadi, iman timbul dari pendengaran,
dan pendengaran oleh firman Kristus.”.
Yoh 12:37-38
- “(37) Dan meskipun Yesus mengadakan begitu banyak mujizat di depan
mata mereka, namun mereka tidak percaya kepadaNya, (38) supaya genaplah firman
yang disampaikan oleh nabi Yesaya: ‘Tuhan, siapakah yang percaya kepada
pemberitaan kami? Dan kepada siapakah tangan
kekuasaan Tuhan dinyatakan?’”.
Sekarang
kita memperhatikan penafsir-penafsir Arminian tentang ayat-ayat ini.
Tentang
Yes 53:1b, Adam Clarke sama sekali tidak memberi komentar apapun. dan tentang
Yoh 12:38b, Adam
Clarke hanya memberi komentar: “‘The
arm of the Lord.’ The power, strength, and miracles of Christ.”
(= ‘Lengan Tuhan’. Kuasa, kekuatan, dan mujijat-mujijat Kristus.).
Tetapi
tentang Ro 10:17, Adam Clarke memberikan komentar.
Adam
Clarke (tentang Ro 10:17): “‘So
then faith cometh by hearing.’ Preaching the Gospel is the ordinary means of
salvation; faith in Christ is the result of hearing the word, the doctrine of
God preached. Preaching, God sends; if heard attentively, faith will be
produced; and if they believe the report, the arm of the Lord will be revealed
in their salvation.”
(= ‘Jadi iman datang oleh pendengaran’. Pemberitaan Injil adalah cara /
jalan yang biasa dari keselamatan; iman kepada Kristus adalah hasil dari
mendengar firman, doktrin / ajaran Allah yang diberitakan. Pemberitaan, Allah
mengirimkan; jika didengarkan dengan penuh perhatian, iman akan dihasilkan;
dan jika mereka percaya pemberitaannya, lengan
Tuhan akan dinyatakan dalam keselamatan mereka.).
Tanggapan
saya:
Adam Clarke jelas memutar-balikkan dalam menafsir. Lengan Tuhan yang
seharusnya adalah penyebab orang menjadi
percaya, oleh dia dianggap sebagai hasil dari
orang yang mau percaya Injil.
Tentang
Ro 10:16-17 Lenski juga tak membicarakan apapun yang berhubungan dengan
doktrin Irresistible Grace (= Kasih
karunia yang tidak bisa ditolak).
Tetapi
tentang Yoh 12:38, Lenski memberikan komentar.
Lenski
(tentang Yoh 12:38): “Parallel
with ‘our report,’ or the prophetic message from the Lord, is ‘the arm
of the Lord,’ his almighty power, evidenced most completely in the signs (v.
37) wrought by Jesus. The Jews saw these signs but with their unbelieving eyes
refused to see that Jehovah’s arm was revealed in them, that they were
divine works and nothing less. Neither the divine testimony of the prophets
including Jesus himself, nor the divine testimony of the signs wrought faith
in the hearts of the Jews.”
[= Paralel dengan ‘pemberitaan kami’, atau berita nubuatan dari Tuhan,
adalah ‘lengan Tuhan’, kuasaNya yang maha
kuasa, dibuktikan secara paling lengkap dalam tanda-tanda (ay 37) yang
dilakukan oleh Yesus. Orang-orang Yahudi melihat tanda-tanda ini
tetapi dengan mata mereka yang tidak percaya menolak untuk melihat bahwa
lengan Yehovah dinyatakan dalam tanda-tanda itu, bahwa tanda-tanda itu adalah
pekerjaan-pekerjaan ilahi dan tidak kurang dari itu. Baik kesaksian ilahi dari
nabi-nabi mencakup Yesus sendiri, maupun kesaksian ilahi dari tanda-tanda
tidak mengerjakan iman dalam hati dari orang-orang Yahudi.].
Jadi
Lenski tidak menghubungkan ayat ini dengan Irresistible
Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak). ‘Lengan Tuhan’ yang seharusnya menunjukkan kuasa Tuhan yang
menyebabkan orang-orang itu percaya, oleh Lenski ditafsirkan menunjuk pada
tanda-tanda / mujijat-mujijat yang Yesus lakukan. Perlu diingat bahwa dalam
Yoh 12:38 ini memang bisa saja ditafsirkan demikian (sekalipun ini tetap
merupakan penafsiran yang dipaksakan), tetapi bagaimana dengan Yes 53:1 dari
mana Yoh 12:38 itu dikutip? Dalam kontext Yesaya itu tidak ada mujijat apapun!
Lalu bagaimana lengan Tuhan itu bisa menunjuk kepada tanda-tanda /
mujijat-mujijat? Ini jelas merupakan suatu penafsiran yang sangat tidak masuk
akal.
Sekarang
mari kita perhatikan tafsiran dari Calvin dan orang-orang Reformed tentang
ayat-ayat di atas.
Ro 10:16-17
- “(16) Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu. Yesaya
sendiri berkata: ‘Tuhan, siapakah yang percaya
kepada pemberitaan kami?’ (17) Jadi, iman timbul dari pendengaran,
dan pendengaran oleh firman Kristus.”.
Calvin
(tentang Ro 10:16): “He however does afterwards point out the reason, by saying,
‘To whom has the arm of the Lord been revealed?’ by which he intimates
that there is no benefit from the word, except when
God shines in us by the light of his Spirit; and thus the inward calling,
which alone is efficacious and peculiar to the elect, is distinguished from
the outward voice of men. It is hence evident, how foolishly some
maintain, that all are indiscriminately the elect, because the doctrine of
salvation is universal, and because God invites all indiscriminately to
himself. But the generality of the promises does not alone and by itself make
salvation common to all: on the contrary, the
peculiar revelation, mentioned by the Prophet, confines it to the elect.”
(= Tetapi belakangan ia menunjukkan alasannya, dengan mengatakan, ‘Kepada
siapa lengan Tuhan telah dinyatakan?’ dengan mana ia mengisyaratkan bahwa di
sana tidak ada manfaat dari firman, kecuali pada waktu Allah bersinar di dalam
kita dengan terang dari RohNya; dan demikianlah panggilan dalam, yang hanya
mujarab / efektif dan khusus bagi orang-orang pilihan, dibedakan dari suara
luar / lahiriah dari manusia. Maka jelaslah, betapa dengan bodoh
sebagian orang mempertahankan / berpendapat bahwa semua orang tanpa pembedaan
adalah orang-orang pilihan, karena doktrin keselamatan bersifat universal, dan
karena Allah mengundang semua orang tanpa pembedaan kepada diriNya sendiri.
Tetapi sifat umum dari janji itu sendiri dalam dirinya sendiri tidak membuat
keselamatan umum bagi semua orang: sebaliknya, wahyu
khusus / khas, yang disebutkan oleh sang nabi, membatasinya pada orang-orang
pilihan.).
Calvin
(tentang Ro 10:17): “And this is a remarkable passage with regard to the efficacy
of preaching; for he testifies, that by it faith is produced. He had indeed
before declared, that of itself it is of no avail; but that when it pleases
the Lord to work, it becomes the instrument of his power. And indeed the voice
of man can by no means penetrate into the soul; and mortal man would be too
much exalted, were he said to have the power to regenerate us; the light also
of faith is something sublimer than what can be conveyed by man: but all these
things are no hindrances, that God should not work effectually through the
voice of man, so as to create faith in us through his ministry.” (= Dan
ini merupakan suatu text yang luar biasa berkenaan dengan kemujaraban /
keefektifan dari pemberitaan / khotbah; dan ia menyaksikan, bahwa olehnya iman
dihasilkan. Sebelumnya ia memang telah menyatakan,
bahwa dari dirinya sendiri itu tak ada gunanya; tetapi
bahwa pada waktu itu memperkenan Tuhan untuk bekerja, itu menjadi alat dari
kuasaNya. Dan memang suara manusia sama sekali tidak bisa menembus
ke dalam jiwa; dan manusia yang fana akan terlalu ditinggikan, seandainya ia
dikatakan mempunyai kuasa untuk melahirbarukan kita; terang dari iman juga
adalah sesuatu yang lebih agung dari pada apa yang bisa diberikan oleh
manusia: tetapi semua
hal-hal ini bukanlah halangan-halangan, sehingga Allah tidak bisa bekerja
secara efektif melalui suara manusia, sehingga menciptakan iman dalam diri
kita melalui pelayanannya.).
Leon
Morris (tentang Yoh 12:38): “Unbelief is now seen to be foreshadowed in
prophecy. John has already made it clear that it is only as God draws us that
we can believe. Now we have the further thought that what is written in
prophecy must be fulfilled. The prophecy cited (Isa. 53:1) speaks both of
failure to believe and of a revelation of ‘the arm of the Lord.’ In other
words, faith and the divine activity are connected. And even unbelief has some
place in the purpose of God.”
[= Sekarang ketidak-percayaan dilihat sebagai dibayangkan lebih dulu dalam
nubuat. Yohanes telah membuatnya jelas bahwa hanyalah pada waktu Allah menarik
kita maka kita bisa percaya. Sekarang kita mempunyai pemikiran lebih jauh
bahwa apa yang ditulis dalam nubuat harus digenapi. Nubuat
yang dikutip (Yes 53:1) berbicara tentang kegagalan untuk percaya dan tentang
suatu pernyataan dari ‘lengan Tuhan’. Dengan kata lain, iman dan aktivitas
ilahi berhubungan. Dan bahkan ketidakpercayaan mempunyai suatu
tempat dalam rencana Allah.] - Libronix.
Calvin
(tentang Yoh 12:38): “‘To whom hath the arm of the Lord been revealed?’ In this
second clause he assigns the reason why they are few; and that reason is, that
men do not attain it by their own strength, and God does not illuminate all
without distinction, but bestows the grace of his Holy Spirit on very few.
And if among the Jews the obstinate unbelief of many ought not to have been an
obstacle to believers, though they were few in number, the same argument ought
to persuade us, at the present day, not to be ashamed of the Gospel, though it
has few disciples. But we ought first to observe the reason which is added,
that what makes men believers is not their own sagacity, but the revelation
of God. The word ‘arm,’ it is well known, denotes ‘power.’ The
prophet declares that the arm of God, which is contained in the doctrine of
the Gospel, lies hid until it is revealed, and at the same time testifies that
all are not indiscriminately partakers of this revelation. Hence it
follows, that many are left in their blindness destitute of inward light,
because hearing they do not hear, (Matthew 13:13.)” [= ‘Bagi
siapa lengan Tuhan telah dinyatakan?’ Dalam anak kalimat yang kedua ini ia
memberikan alasan mengapa mereka sedikit; dan alasannya adalah, bahwa manusia
tidak mencapainya oleh kekuatan mereka sendiri, dan Allah
tidak menerangi semua orang tanpa pembedaan, tetapi memberikan kasih karunia
dari Roh KudusNya pada sangat sedikit orang. Dan jika di antara
orang-orang Yahudi ketidakpercayaan yang keras kepala dari banyak orang tidak
boleh menjadi halangan bagi orang-orang percaya, sekalipun mereka sedikit
jumlahnya, argumentasi yang sama harus meyakinkan kita, pada jaman sekarang,
untuk tidak malu tentang Injil, sekalipun itu mempunyai sedikit murid-murid. Tetapi
pertama-tama kita harus memperhatikan alasan yang ditambahkan, bahwa apa
yang membuat manusia menjadi orang-orang percaya bukanlah kecerdasan mereka
sendiri, tetapi wahyu dari Allah. Kata ‘lengan’, diketahui
dengan baik, menunjukkan ‘kuasa’. Sang nabi
menyatakan bahwa lengan Allah, yang terkandung dalam doktrin dari Injil, tetap
tersembunyi sampai itu dinyatakan, dan pada saat yang sama menyaksikan bahwa
tidak semua secara tanpa pembedaan adalah pengambil-pengambil bagian dari
wahyu ini. Maka akibatnya, banyak orang ditinggalkan dalam kebutaan
mereka tanpa mempunyai terang di dalam / batin, karena sekalipun mendengar
mereka tidak mendengar, (Mat 13:13).].
Tentang
Yes 53:1a, Calvin mengatakan bahwa Yesaya menyatakan keluhannya /
kesedihannya karena hanya sedikit orang-orang yang percaya oleh pemberitaan
injil. Dan tentang Yes 53:1b, Calvin menafsirkan sebagai berikut:
Calvin
(tentang Yes 53:1b): “‘To whom (literally, on whom) is the arm of Jehovah
revealed?’ In this second clause he points out the reason why the number of
believers will be so small. It is, because no man can come to God but by an
extraordinary revelation of the Spirit. ... It assigns the cause why there are
so few that believe; and that is, that they cannot attain it by the sagacity
of their own understanding. ... Isaiah does not include merely the men of his
own time, but all posterity to the end of the world; for, so long as the reign
of Christ shall endure, this must be fulfilled; and therefore believers ought
to be fortified by this passage against such a scandal. These words refute the
ignorance of those who think that faith is in the power of every person,
because preaching is common to all. Though it is sufficiently evident that all
are called to salvation, yet the Prophet expressly states that the external
voice is of no avail, if it be not accompanied by a special gift of the
Spirit. And whence proceeds the difference, but from the secret election of
God, the cause of which is hidden in himself?” [= ‘Bagi siapa (secara hurufiah, ‘pada siapa’) lengan Yehovah
dinyatakan?’ Dalam anak kalimat yang kedua ini, ia menunjukkan alasan
mengapa jumlah dari orang-orang percaya akan begitu sedikit. Itu adalah,
karena tak seorangpun dapat datang kepada Allah
kecuali oleh suatu pernyataan yang luar biasa dari Roh. ... Itu
memberikan penyebab mengapa disana hanya ada begitu sedikit yang percaya; dan
itu adalah bahwa mereka tidak dapat mencapainya
oleh kecerdasan dari pengertian mereka sendiri. ... Yesaya
tidak mencakup semata-mata orang-orang dari jamannya, tetapi semua keturunan
sampai akhir jaman; karena selama pemerintahan Kristus bertahan, ini harus
digenapi; dan karena itu orang-orang percaya harus dibentengi oleh text ini
terhadap skandal seperti itu. Kata-kata ini
membantah ketidaktahuan / kebodohan dari mereka yang berpikir bahwa iman ada
dalam kuasa dari setiap orang, karena pemberitaan itu bersifat umum bagi semua
orang. Sekalipun adalah cukup jelas bahwa semua orang dipanggil
pada keselamatan, tetapi sang Nabi menyatakan
secara explicit bahwa suara luar itu tak ada gunanya, jika itu tidak disertai
oleh suatu karunia khusus dari Roh. Dan
dari mana muncul perbedaan itu, kecuali dari pemilihan rahasia dari Allah,
penyebab mana tersembunyi dalam diriNya sendiri?].
E.
J. Young (tentang Yes 53:1): “The
‘arm of the Lord’ is used
by metonymy for the Lord’s strength. The revelation of the Lord’s strength
and believing what we have proclaimed are two aspects of the same thing. The
revelation of God’s arm upon a person is one of power (cf. Jer. 17:5), and
hence to believe the report proclaimed is evidence that the Lord’s power has
been manifested. It is the arm of the Lord that brought the nation out of
Egypt (cf. 51:9–10; 63:12), and this arm of power enables a man to believe.
The passage clearly teaches that faith is a gift of God and not a work of
man’s unaided power. It also teaches that unless God manifests His power,
men will not be converted. We must ever depend upon God to work that His
kingdom may be extended.”
[= ‘Lengan Tuhan’ digunakan sebagai kata yang lain untuk ‘kekuatan
Tuhan’. ‘Wahyu dari kekuatan Tuhan’ dan ‘percaya pada apa yang telah
kami beritakan’ adalah dua aspek dari hal yang sama. Wahyu dari lengan Allah
pada seseorang adalah wahyu dari kuasa (bdk. Yer 17:5), dan karena itu mempercayai
berita yang diberitakan adalah bukti bahwa kuasa Tuhan telah dinyatakan.
Adalah lengan Tuhan yang membawa bangsa itu keluar dari Mesir (bdk. 51:9-10;
63:12), dan lengan dari kuasa ini memampukan
seseorang untuk percaya. Text
ini secara jelas mengajar bahwa iman adalah suatu karunia / pemberian dari
Allah dan bukan suatu pekerjaan dari kuasa manusia tanpa pertolongan. Itu juga
mengajar bahwa kecuali Allah menyatakan kuasaNya, manusia tidak akan
dipertobatkan. Kita harus selalu bergantung kepada Allah untuk
bekerja sehingga KerajaanNya bisa diperluas.].
Yer
17:5 - “Beginilah firman TUHAN: ‘Terkutuklah orang yang mengandalkan
manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri,
dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!”.
KJV:
‘Thus saith the LORD; Cursed be the
man that trusteth in man, and maketh flesh his arm,
and whose heart departeth from the LORD.’ (= Demikianlah firman TUHAN;
Terkutuklah orang yang percaya kepada manusia, dan membuat
daging sebagai lengannya / kekuatannya, dan yang hatinya
meninggalkan TUHAN).
Yes
51:9-10 - “(9) Terjagalah, terjagalah! Kenakanlah kekuatan, hai
tangan TUHAN! Terjagalah seperti pada zaman purbakala, pada zaman
keturunan yang dahulu kala! Bukankah Engkau yang meremukkan Rahab, yang
menikam naga sampai mati? (10) Bukankah Engkau yang mengeringkan laut, air
samudera raya yang hebat? yang membuat laut yang dalam menjadi jalan, supaya
orang-orang yang diselamatkan dapat menyeberang?”.
Yes 63:12
- “yang dengan tanganNya yang
agung menyertai Musa di sebelah kanan; yang membelah air di depan mereka untuk
membuat nama abadi bagiNya;”.
3)
Hal-hal lain yang mendasari doktrin Irresistible
Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak) ini:
a)
Kalau kasih karunia Allah itu bisa ditolak, tak ada gunanya kita berdoa
kepada Allah supaya Ia mempertobatkan orang-orang yang belum percaya.
Loraine
Boettner:
“If God does not effectually call, we may imagine Him saying, ‘I will
that all men should be saved; nevertheless, it must finally be, not as I will
but as they will.’ He is then put into the same extremity with Darius who
would gladly have saved Daniel, but could not (Dan. 6:14). ... Furthermore, if
God actually stood powerless before the majesty of man’s lordly will, there
would be but little use to pray for Him to convert any one. It would then be
more reasonable for us to direct our petitions to the man himself” [= Jika
Allah tidak memanggil secara efektif, kita bisa membayangkan Dia berkata: ‘Aku
mau supaya semua manusia diselamatkan; tetapi, akhirnya adalah bukan seperti
yang Kukehendaki, tetapi seperti yang mereka kehendaki’. Maka
Ia dimasukkan ke dalam keadaan kebutuhan yang sangat yang sama seperti Darius,
yang dengan senang hati ingin menyelamatkan Daniel tetapi tidak bisa (Dan 6:15).
... Lebih jauh lagi,
jika Allah sungguh-sungguh berdiri tanpa daya di depan keagungan dari kehendak
manusia yang mulia, di sana tidak ada gunanya untuk berdoa supaya Ia
mempertobatkan siapapun. Akan lebih masuk akal bagi kita untuk mengarahkan
permohonan kita kepada manusia itu sendiri] - ‘The Reformed
Doctrine of Predestination’, hal 171.
Dan 6:15
- “Setelah raja mendengar hal itu, maka
sangat sedihlah ia, dan ia mencari jalan untuk melepaskan Daniel, bahkan sampai
matahari masuk, ia masih berusaha untuk menolongnya.”.
b)
Doktrin Arminianisme merupakan penyelamatan oleh diri sendiri!
Loraine
Boettner:
“The universalistic note is always prominent in the Arminian system. A
typical example of this is seen in the assertion of Prof. Henry C. Sheldon, who
for a number of years was connected with Boston University. Says he: - ‘Our
contention is for the universality of the opportunity of salvation, as against
an exclusive and unconditional choice of individuals to eternal life.’ Here we
notice not only (1) the characteristic Arminian stress on universalism, but also
(2) the recognition that, in the final analysis, all that God does for the
salvation of men does not actually save
anybody, but that it only opens
up a way of salvation so that men can save themselves, ... Perhaps the
strongest assertion of the Arminian construction is to be found in the creed of
the Evangelical Union body, or so-called Morisonians, the very purpose of which
was to protest against unconditional election. A summary of its ‘Three
Universalities’ is found in the creed thus: ‘The love of God the Father, in
the gift and sacrifice of Jesus to all men everywhere without distinction,
exception, or respect of persons; the love of God the Son, in the gift and
sacrifice of Himself as a true propitiation for the sins of the whole world; the
love of God the Holy Spirit, in His personal and continuous work of applying to
the souls of all men the provisions of divine grace.’ Certainly, if God loves
all men alike, and if Christ died for all men alike, and the Holy Spirit applies
the benefits of that redemption to all men alike, one of two conclusions
follows. (1) All men alike are saved (which is contradicted by Scripture), or,
(2) all that God does for man does not save him, but leaves him to save himself!
What then becomes of our evangelicalism, which means that it is God alone who
saves sinners? If we assert that after God has done all His work it is still
left for man to ‘accept’ or ‘not resist,’ we give man veto power over
the work of Almighty God and salvation rests ultimately in the hand of man. In
this system no matter how great a proportion of the work of salvation God may
do, man is ultimately the deciding factor. And the man who does come to
salvation has some personal merit of his own; he has some grounds to boast over
those who are lost. He can point the finger of scorn and say, ‘You had as good
chance as I had. I accepted and you rejected the offer. Therefore you deserve to
suffer.’ How different is this from Paul’s declaration that it is ‘not of
works, that no man should glory,’ and ‘He that glorieth, let him glory in
the Lord,’ Eph. 2:9; 1 Cor. 1:31. The tendency in
all these universalistic systems in which man proudly seizes the helm and
proclaims himself the master of his destiny is to reduce Christianity to
a religion of works. ... ‘The issue,’ says Dr. Warfield, ‘is indeed a
fundamental one and it is clearly drawn. Is it God the Lord who saves us, or is
it we ourselves? And does God the Lord save us, or does He merely open up the
way of salvation, and leave it, according to our choice, to walk in it or not?
The parting of the ways is the old parting of the ways between Christianity and
autosoterism. Certainly only he can claim to be evangelical who with full
consciousness rests entirely and directly on God and on God alone for his
salvation.’”
[= Nada universal selalu
menonjol dalam sistim Arminian. Suatu contoh yang khas tentang ini terlihat dalam
penegasan dari Prof. Henry C. Sheldon, yang untuk bertahun-tahun berhubungan
dengan Universitas Boston. Katanya: - ‘Pendirian kami
adalah untuk keuniversalan dari kesempatan keselamatan, bertentangan
dengan suatu pemilihan yang eksklusif dan tak bersyarat dari individu-individu
kepada hidup yang kekal’. Di sini kami memperhatikan bukan hanya (1)
ciri yang ditekankan Arminian pada keuniversalan, tetapi juga (2) pengenalan /
pengakuan bahwa dalam analisa terakhir, semua yang Allah lakukan untuk
keselamatan manusia tidak sungguh-sungguh menyelamatkan siapapun, tetapi bahwa
itu hanya membuka suatu jalan keselamatan sehingga manusia bisa menyelamatkan
diri mereka sendiri, ... Mungkin penegasan yang terkuat dari konstruksi Arminian
didapatkan dalam credo dari tubuh Persatuan Injili, atau yang disebut
Morisonians, yang tujuannya adalah memprotes terhadap pemilihan yang tak
bersyarat. Suatu
ringkasan dari ‘Tiga Keuniversalan’nya didapati dalam credo itu sebagai
berikut: ‘Kasih Allah Bapa, dalam karunia dan korban
Yesus bagi semua manusia dimana-mana tanpa pembedaan, perkecualian, atau
sikap memandang muka; kasih dari Allah Anak, dalam karunia dan korban dari
diriNya sendiri sebagai pendamaian yang sejati / benar untuk dosa-dosa dari
seluruh dunia; kasih dari Allah Roh Kudus, dalam pekerjaan pribadi dan terus
menerus dariNya dalam menerapkan persediaan dari kasih karunia ilahi kepada
jiwa-jiwa dari semua manusia’. Pasti, jika Allah mengasihi semua manusia secara sama, dan jika Kristus mati
untuk semua manusia secara sama, dan Roh Kudus menerapkan manfaat dari penebusan
itu kepada semua manusia secara sama, satu dari dua kesimpulan ini mengikuti.
(1) Semua manusia diselamatkan secara sama (yang ditentang oleh Kitab Suci),
atau, (2) semua yang Allah lakukan untuk manusia tidak menyelamatkan dia, tetapi
meninggalkan / membiarkan dia untuk menyelamatkan dirinya sendiri! Lalu apa
jadinya dengan doktrin gereja kita yang injili, yang berarti bahwa adalah Allah
saja yang menyelamatkan orang-orang berdosa? Jika kami / kita menegaskan bahwa
setelah Allah telah melakukan semua pekerjaanNya, maka tetap tertinggal bagi
manusia untuk ‘menerima’ atau ‘tidak menolak’, kami / kita memberi
manusia kuasa memveto atas pekerjaan dari Allah Yang Mahakuasa dan keselamatan
pada akhirnya terletak dalam tangan manusia. Dalam
sistim ini tak peduli betapa besar bagian dari pekerjaan keselamatan yang Allah
bisa lakukan, manusia pada akhirnya adalah faktor penentu. Dan
manusia yang memang datang pada keselamatan mempunyai jasa pribadi tertentu dari
dirinya sendiri; ia mempunyai dasar tertentu untuk bermegah / bangga atas mereka
yang terhilang. Ia bisa menunjuk dengan jari pencemooh dan berkata, ‘Kamu
mempunyai kesempatan yang baik sama seperti yang aku punyai. Aku menerima dan
kamu menolak tawaran itu. Karena itu kamu layak untuk menderita’.
Alangkah berbedanya ini dari pernyataan Paulus bahwa itu ‘bukanlah dari
pekerjaan / perbuatan baik, supaya tak seorangpun bermegah’, dan ‘ia yang
bermegah, hendaklah ia bermegah dalam Tuhan’, Ef 2:9; 1Kor 1:31. Kecenderungan
dalam semua sistim-sistim universal ini dalam mana manusia dengan bangga
memegang kemudi dan memproklamirkan dirinya sendiri sebagai tuan dari nasibnya
berarti menurunkan kekristenan pada suatu agama dari perbuatan baik. ...
‘Persoalannya’, Kata Dr. Warfield, ‘memang
merupakan suatu persoalan dasari dan itu digambarkan dengan jelas. Apakah Allah,
sang Tuhan, yang menyelamatkan kita, atau apakah kita yang menyelamatkan diri
kita sendiri? Dan apakah Allah, sang Tuhan, menyelamatkan kita, atau apakah Ia
semata-mata membuka jalan keselamatan, dan meninggalkannya / membiarkannya,
menurut pemilihan kita, untuk berjalan di dalamnya atau tidak? Perpisahan
dari jalan-jalan ini adalah perpisahan yang kuno tentang jalan-jalan antara
kekristenan dan penyelamatan diri sendiri. Pastilah hanya ia yang
bisa mengclaim sebagai injili, yang dengan penuh kesadaran bersandar dengan
sepenuhnya dan secara langsung kepada Allah dan hanya kepada Allah untuk
keselamatannya’.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’,
hal 174-176.
Ef 2:8-9
- “(8) Sebab karena kasih karunia kamu
diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu
bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”.
1Kor
1:31 - “Karena itu seperti ada
tertulis: ‘Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam
Tuhan.’”.
Contoh
lain tentang ajaran Arminian yang dibicarakan oleh Loraine Boettner diatas
adalah ajaran dari Adam Clarke.
Adam
Clarke (tentang Kis 10:35): “Why
was Cornelius accepted with God while thousands of his countrymen were passed
by? Because he did not receive the grace of God in vain; he watched, fasted,
prayed, and gave alms, which they did not. Had he not done so, would he have
been accepted? Certainly not; because it would then appear that he had received
the grace of God in vain, and had not been a worker together with him.”
(= Mengapa Kornelius diterima oleh Allah sementara ribuan orang sebangsanya
dilewati? Karena ia tidak menerima kasih karunia Allah dengan sia-sia; ia
berjaga-jaga, berpuasa, berdoa, dan memberi sedekah, yang mereka tidak lakukan.
Seandainya ia tidak melakukan demikian, apakah ia akan diterima? Pasti tidak;
karena kalau demikian maka akan kelihatan bahwa ia telah menerima kasih karunia
Allah dengan sia-sia, dan tidak menjadi seorang yang bekerja sama dengan Dia.).
Catatan: bagi saya, kata-kata Clarke ini sangat berbau
keselamatan karena perbuatan baik!
A)
Doktrin ‘Irresistible Grace’ (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak)
ini dianggap bertentangan dengan ‘Free
Will’ (= Kehendak Bebas).
Steven Liauw:
“Bisa-bisa
saja bahwa Kalvinis tidak memakai istilah ‘memaksakan.’ Tetapi saya sudah
beri dalam tanda kurung penjelasan lebih lanjut: ‘Memberi tanpa dapat
ditolak.’ Asali mengakui dipakainya istilah irresistible grace. Bagi
saya, irresistible dan ‘tidak dapat ditolak’ sudah sama dengan
memaksa. Kalvinis mengatakan bahwa
manusia menerima Kristus dengan senang hati karena dilahirbarukan
dulu oleh Tuhan. Tetapi kelahiran
kembali itu kan juga kasih karunia. Jadi
sebelum manusia itu lahir baru, dia berdosa, mati dalam dosa. Dalam
kondisinya yang mati dalam dosa itu, apakah
dia mau lahir baru? Kalvinis akan menjawab
bahwa manusia yang mati dalam dosa, tidak mau
lahir baru. Jadi, dalam Kalvinisme, manusia
(yang selamat) dilahirbarukan tanpa pilihan,
tanpa dapat menolak, dan bertentangan dengan keinginan dia (dia tidak mau lahir
baru sebelum dilahirbarukan).
Pembaca-lah yang dapat menilai, apakah ini tidak mirip
dengan pemaksaan? Percuma untuk mengatakan
bahwa setelah lahir baru dia akan menerima Kristus dengan rela hati, karena: 1. Dia
tidak punya pilihan untuk mau lahir baru atau tidak (jadi kelahiran baru
dipaksakan padanya). 2. kerelaan hatinya adalah
sesuatu yang telah Tuhan tetapkan dan toh tidak mungkin dia lawan.
Permasalahannya bukanlah apakah Kalvinis mau mengakui ini ‘memaksa’ atau
tidak. Kalvinis boleh jadi tidak mau mengakui, tetapi saya menyimpulkan. Silakan
publik yang menilai”.
(graphe - Liauw4.doc).
Suhento Liauw: “Sama
seperti Limited Atonement,
Irresistible Grace adalah poin nalar lanjutan dari serangkaian nalar
Calvin. Karena nalar mereka menyimpulkan bahwa Kristus hanya memilih sebagian
orang sehingga Ia tidak mungkin menebus semua orang, maka penebusan Kristus
sewajarnya bersifat terbatas dari situ terciptalah konsep Limited Atonement.
Nalar lanjutannya, jika Kristus hanya memilihi sebagian kecil orang untuk masuk
Sorga, dan hanya menebus mereka saja, maka orang yang terpilih serta yang
tertebus tidak mungkin dapat menolak anugerah itu. Inilah dasar dari konsep Irresistible
Grace. Bisakah disimpulkan bahwa
sesungguhnya ada orang yang pada dasarnya tidak ada keinginan masuk Sorga namun
apa boleh buat karena telah terpilih maka tidak dapat menolak sehingga terpaksa
masuk Sorga? Sebaliknya ada orang yang sangat ingin masuk Sorga namun saying (sayang)
sekali ia tidak terpilih dan akhirnya masuk neraka? Sebagian
Calvinis mengiyakan dan sebagian membantah.”. (Graphe - Liauw -
I.doc).
Catatan: kata-kata
Steven Liauw dan Suhento Liauw di atas ini sudah saya kutip dan bahas di bagian
awal tulisan ini, dan karena itu tak perlu saya ulang pembahasannya di sini.
Jawaban dari Calvinisme:
1)
Irresistible Grace (= Kasih
karunia yang tidak bisa ditolak) tidak bertentangan dengan ‘Free
Will’ (= Kehendak Bebas), karena menurut Calvinisme / Reformed orang itu
tidak dipaksa.
Dalam
Westminster Confession of Faith, pasal
10, no 1, bagian akhir, dikatakan: “they come most freely, being made willing by His grace”
(= mereka datang dengan paling bebas, setelah dibuat menjadi mau oleh kasih
karuniaNya).
R.
C. Sproul:
“Much
confusion exists on this point. I remember the first lecture I ever heard from
John Gerstner. It was on the subject of predestination. Shortly into his lecture
Dr. Gerstner was interrupted by a student who was waving his hand in the air.
Gerstner stopped and acknowledged the student. The student asked, ‘Dr.
Gerstner, is it safe to assume that you are a Calvinist?’ Gerstner answered,
‘Yes,’ and resumed his lecture. A few moments later a gleam of recognition
appeared in Gerstner’s eyes and he stopped speaking in mid-sentence and asked
the student, ‘What is your definition of a Calvinist?’ The student replied,
‘A Calvinist is someone who believes that God forces some people to choose
Christ and prevents other people from choosing Christ.’ Gerstner was
horrified. He said, ‘If that is what a Calvinist is, then you can be sure that
I am not a Calvinist.’ The student’s misconception of irresistible grace is
widespread. I once heard the president of a Presbyterian seminary declare, ‘I
am not a Calvinist because I do not believe that God brings some people, kicking
and screaming against their wills, into the kingdom, while he excludes others
from his kingdom who desperately want to be there.’ I was astonished when I
heard these words. I did not think it possible that the president of a
Presbyterian seminary could have such a gross misconception of his own
church’s theology. He was reciting a caricature which was as far away from
Calvinism as one could get. Calvinism does not teach and never has taught that
God brings people kicking and screaming into the kingdom or has ever excluded
anyone who wanted to be there. Remember that the cardinal point of the Reformed
doctrine of predestination rests on the biblical teaching of man’s spiritual
death. Natural man does not want Christ. He will only want Christ if God plants
a desire for Christ in his heart. Once that desire is planted, those who come to
Christ do not come kicking and screaming against their wills. They come because
they want to come. They now desire Jesus. They rush to the Savior. The whole
point of irresistible grace is that rebirth quickens someone to spiritual life
in such a way that Jesus is now seen in his irresistible sweetness. Jesus is
irresistible to those who have been made alive to the things of God. Every soul
whose heart beats with the life of God within it longs for the living Christ.
All whom the Father gives to Christ come to Christ (John 6:37).” [= Ada
banyak kebingungan tentang pokok ini. Saya teringat pelajaran pertama yang
pernah saya dengar dari John Gerstner. Itu adalah tentang pokok predestinasi.
Begitu masuk ke dalam pelajarannya, Dr. Gerstner diinterupsi oleh seorang
mahasiswa yang melambaikan tangannya di udara. Gerstner berhenti dan mengenali /
menjawab mahasiswa itu. Mahasiswa itu bertanya, ‘Dr. Gerstner, apakah tepat
untuk menganggap bahwa engkau adalah seorang Calvinist?’ Gerstner menjawab,
‘Ya’, dan melanjutkan pelajarannya. Beberapa saat kemudian sekilas perhatian
tampak / muncul di mata Gerstner dan ia berhenti berbicara di tengah-tengah
kalimat dan bertanya kepada mahasiswa itu, ‘Apa definisimu tentang seorang
Calvinist?’ Mahasiswa itu menjawab, ‘Seorang
Calvinist adalah seseorang yang percaya bahwa Allah memaksa sebagian orang untuk
memilih Kristus dan mencegah orang-orang lain dari memilih Kristus’.
Gerstner terkejut. Ia
berkata, ‘Jika itu adalah seorang Calvinist, maka engkau bisa yakin / pasti
bahwa saya bukanlah seorang Calvinist’. Kesalah-mengertian
mahasiswa itu tentang ‘kasih karunia yang tidak bisa ditolak’ tersebar luas.
Saya pernah mendengar seorang presiden dari suatu
seminari Presbyterian menyatakan, ‘Saya bukanlah seorang Calvinist karena saya
tidak percaya bahwa Allah membawa sebagian orang, sambil menendang-nendang dan
menjerit-jerit bertentangan dengan kehendak mereka, ke dalam kerajaan, sementara
/ sedangkan Ia mengeluarkan orang-orang lain dari kerajaanNya, yang benar-benar
ingin untuk berada di sana’. Saya heran pada waktu saya mendengar kata-kata
ini. Saya menganggap mustahil bahwa presiden dari suatu seminari Presbyterian
bisa mempunyai suatu kesalah-mengertian yang begitu besar tentang theologia
gerejanya sendiri. Ia sedang mengutip suatu karikatur / penggambaran
yang sengaja disalahkan, yang adalah sejauh mungkin dari Calvinisme yang bisa
didapatkan seseorang. Calvinisme tidak mengajar
dan tidak pernah mengajar bahwa Allah membawa orang-orang, yang sambil
menendang-nendang dan menjerit-jerit, ke dalam kerajaan, atau pernah
mengeluarkan siapapun yang ingin berada di sana. Ingat bahwa pokok
utama dari doktrin Reformed tentang predestinasi bersandar / terletak pada
ajaran Alkitabiah tentang kematian rohani manusia. Manusia alamiah tidak
menghendaki Kristus. Ia hanya akan menghendaki Kristus jika Allah menanamkan
suatu keinginan untuk Kristus dalam hatinya. Satu
kali keinginan itu ditanamkan, mereka yang datang kepada Kristus tidak datang
dengan menendang-nendang dan menjerit-jerit bertentangan dengan kehendak mereka.
Mereka datang karena mereka ingin / mau datang. Sekarang mereka menginginkan
Yesus. Mereka lari dengan tergesa-gesa kepada sang Juruselamat.
Seluruh pokok tentang kasih karunia yang tidak bisa ditolak adalah bahwa kelahiran
kembali menghidupkan seseorang pada kehidupan rohani dengan cara sedemikian rupa
sehingga sekarang Yesus terlihat dalam kemanisanNya yang tidak bisa ditolak.
Yesus tidak bisa ditolak bagi mereka yang telah dibuat hidup bagi hal-hal dari
Allah. Setiap jiwa yang hatinya berdenyut dengan kehidupan dari Allah di
dalamnya, rindu akan Kristus yang hidup. Semua yang Bapa berikan kepada Kristus
datang kepada Kristus (Yoh 6:37).] - ‘Chosen
By God’, hal 121-123.
Yoh 6:37
- “Semua yang diberikan Bapa
kepadaKu akan datang kepadaKu, dan barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak
akan Kubuang.”.
R. C. Sproul: “The
position of Augustine, Martin Luther, John Calvin, and others is so often
caricatured to mean that in God’s gracious election he brings people kicking
and screaming against their wills into his kingdom. The Augustinian view is that
God changes the recalcitrant and enslaved sinner’s will by the Spirit’s
changing his internal bent, disposition, or inclination. Augustinians have
spelled out this view so often and so clearly, it is amazing that the caricature
is so often repeated.” [= Posisi dari Agustinus, Martin Luther, John Calvin, dan yang lain-lain,
begitu sering dengan
sengaja digambarkan secara salah sehingga berarti bahwa dalam
pemilihan yang bersifat kasih karunia dari Allah, Ia membawa orang-orang yang
menendang-nendang dan menjerit-jerit bertentangan dengan kehendak mereka ke
dalam kerajaanNya. Pandangan Augustinian adalah bahwa
Allah mengubah kehendak yang keras kepala dan diperbudak dari orang berdosa oleh
Roh yang mengubah kecenderungan atau kecondongan batinnya.
Orang-orang Augustinian telah menunjukkan pandangan ini begitu sering dan dengan
begitu jelas, dan adalah
mengherankan bahwa karikatur / gambaran yang sengaja disalahkan ini begitu
sering diulang.] - ‘Willing to Believe’, hal 94 (Libronix).
Loraine
Boettner:
“It is a common thing for opponents to represent this doctrine as implying
that men are forced to believe and turn to God against their wills, or, that it
reduces men to the level of machines in the matter of salvation. This is a
misrepresentation. Calvinists hold no such opinion, and in fact the full
statement of the doctrine excludes or contradicts it. The Westminster
Confession, after stating that this efficacious grace which results in
conversion is an exercise of omnipotence and cannot be defeated, adds, ‘Yet so
as they come most freely, being made willing by His grace.’”
(= Merupakan suatu hal yang umum bagi
penentang-penentang untuk menggambarkan doktrin ini sebagai menunjukkan bahwa
orang-orang dipaksa untuk percaya dan berbalik kepada Allah bertentangan dengan
kehendak / kemauan mereka, atau, doktrin ini merendahkan manusia ke tingkat dari
mesin dalam persoalan keselamatan. Ini
adalah suatu penggambaran yang salah. Para Calvinist tidak mempercayai pandangan
seperti itu, dan dalam faktanya pernyataan penuh dari doktrin itu membuang atau
menentang pandangan itu. Pengakuan Westminster, setelah menyatakan
bahwa kasih karunia yang mujarab / efektif ini yang menghasilkan pertobatan
adalah suatu penggunaan dari kemahakuasaan dan tidak bisa dikalahkan,
menambahkan, ‘Tetapi sedemikian rupa sehingga mereka
datang dengan paling bebas, setelah dibuat menjadi mau oleh kasih karuniaNya’.)
- ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 176.
Loraine
Boettner:
“The special grace which we refer to as efficacious is sometimes called
irresistible grace. This latter term, however, is somewhat misleading since it
does suggest that a certain overwhelming power is exerted upon the person, in
consequence of which he is compelled to act contrary to his desires, whereas the
meaning intended, as we have stated before, is that the elect are so influenced
by divine power that their coming is an act of voluntary choice.” [= Kasih
karunia khusus yang kami tunjukkan sebagai efektif / pasti berhasil,
kadang-kadang disebut sebagai kasih karunia yang tidak bisa ditolak. Tetapi
istilah yang terakhir ini agak menyesatkan, karena istilah itu menunjukkan
secara tak langsung bahwa suatu kuasa tertentu yang sangat besar digunakan
terhadap orang itu, dan sebagai akibatnya ia dipaksa untuk bertindak
bertentangan dengan keinginannya, sedangkan
arti yang dimaksudkan, seperti yang telah kami nyatakan sebelumnya, adalah bahwa
orang-orang pilihan begitu dipengaruhi oleh kuasa ilahi sehingga datangnya
mereka (kepada
Kristus) merupakan tindakan dari pilihan yang sukarela.]
- ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 178.
2)
Harus diingat bahwa arti dari istilah ‘Free
will’ (= Kehendak Bebas) dalam theologia Reformed berbeda dengan ‘Free
will’ (= Kehendak Bebas) dalam kalangan Arminian.
a)
Banyak orang Reformed yang tidak setuju dengan istilah free
will ( = kehendak bebas). Mereka lebih memilih istilah ‘free
agent’ (= agen bebas), karena yang bebas bukan kehendaknya, tetapi seluruh
manusianya.
Perlu
dicamkan bahwa istilah free will /
kehendak bebas yang begitu populer itu, sebetulnya tidak pernah ada dalam
Alkitab. Memang, kalau istilahnya tidak ada, tetapi ajarannya ada (seperti
‘Tritunggal’), maka tentu saja tak ada masalah. Tetapi apakah ajarannya
ada? Kalau kita menanyai orang Arminian dimana ada ajaran tentang free
will / kehendak bebas, maka biasanya ia menunjukkan ayat-ayat dimana ada
orang-orang yang memilih, atau ada perintah dari Tuhan untuk memilih, atau
ayat-ayat yang mengatakan ‘barangsiapa percaya’ dan seterusnya.
Misalnya:
Yos
24:14-15 - “(14) Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepadaNya
dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu
telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada
TUHAN. (15) Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN,
pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya
nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang
negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah
kepada TUHAN!’”.
Memang
mereka disuruh memilih, tetapi dari mana terlihat kalau mereka bisa memilih yang
baik dari diri mereka sendiri? Atau, dari mana bisa terlihat bahwa mereka punya free will / kehendak bebas untuk memilih yang baik dari diri mereka
sendiri?
Yoh
3:16 - “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah
mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya
tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”.
Memang
ayat ini mengatakan ‘setiap orang’
(bahasa Inggris; ‘whosoever’ /
barangsiapa), tetapi apakah setiap orang memang bisa memilih untuk percaya
kepada Yesus dengan kekuatan dan kemauannya sendiri? Ayat ini tidak membicarakan
hal itu. Ayat-ayat yang secara explicit membahas hal itu adalah ayat-ayat di
bawah ini.
Yoh
6:44,65 - “(44) Tidak ada seorangpun yang dapat
datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia
akan Kubangkitkan pada akhir zaman. ... (65) Lalu Ia berkata: ‘Sebab itu telah
Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat
datang kepadaKu, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.’”.
Jadi,
sebetulnya, bukan hanya istilah free
will / kehendak bebas itu tidak ada dalam Alkitab, tetapi bahkan ajarannya
juga tidak ada.
Karena
itu, jangan merasa aneh kalau Calvin dan para Calvinist tak senang dengan
istilah itu.
Charles
Haddon Spurgeon: “Any man who should deny that man is a free agent might well be
thought unreasonable, but free-will is a different thing from free-agency.
Luther denounces free-will when he said that ‘free-will is the name for
nothing’; and President Edwards demolished the idea in his mastery treatise”
(= Orang yang menyangkal bahwa manusia adalah agen bebas akan dianggap tidak
masuk akal / tidak rasionil, tetapi kebebasan kehendak berbeda dengan tindakan
bebas. Luther mencela kehendak bebas ketika ia berkata bahwa ‘kehendak bebas
adalah nama untuk sesuatu yang tidak ada’; dan Presiden Edwards menghancurkan
gagasan / idee ini dalam bukunya yang luar biasa) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 10.
Robert
L. Dabney:
“...
I have not used the phrase ‘freedom of the will’. I exclude it, because
persuaded that it is inaccurate, and that it has occasioned much confusion and
error. Freedom is properly predicated of a person, not of a faculty. ... I have
preferred therefore to use the phrase, at once popular and exact: ‘free
agency’ and ‘free agent’” (= Saya tidak memakai ungkapan
‘kebebasan kehendak’. Saya meniadakannya karena diyakinkan bahwa itu adalah
tidak tepat, dan bahwa itu menimbulkan banyak kebingungan dan kesalahan.
Kebebasan secara tepat ditujukan kepada seseorang, bukan pada bagian dari jiwa /
pikiran. ... Karena itu saya lebih menyukai untuk menggunakan ungkapan yang
sekaligus populer dan tepat: ‘tindakan bebas’ dan ‘agen bebas’) - ‘Lectures
in Systematic Theology’, hal 129.
Catatan:
1.
Istilah ‘agent’ berarti ‘a
person that performs actions or is able to do so’ (= seseorang yang
melakukan tindakan-tindakan atau yang mampu melakukannya).
2.
Istilah ‘agency’ berarti ‘action’
(= tindakan) atau ‘the business of a
person’ (= kegiatan / kesibukan seseorang).
Ini
diambil dari Webster’s New World
Dictionary.
Tetapi
karena istilah ‘free will’ sudah
begitu populer, dan lebih-lebih dalam kalangan orang awam di Indonesia istilah
kehendak bebas sangat populer sedangkan istilah ‘agen bebas’ dan ‘tindakan
bebas’ tidak pernah terdengar, maka saya tetap
menggunakan istilah free will /
kehendak bebas. Tetapi tentu saja kita harus
berhati-hati terhadap penyalah-gunaan atau arti yang salah dari istilah free
will / kehendak bebas ini.
b)
Arti yang salah dan benar dari free
will ( = kehendak bebas).
1.
Adanya free will / kehendak
bebas tidak berarti bahwa manusia itu bebas secara mutlak.
Kalau
kita meninjau doktrin Allah (theology),
maka kita bisa melihat bahwa satu-satunya makhluk
yang bebas mutlak adalah Allah, dan Allah menciptakan segala sesuatu
dan membuat segala sesuatu tergantung kepada diriNya (Neh 9:6
Maz 94:17-19 Maz 104:27-30 Kis 17:28
1Tim 6:13 Ibr 1:3). Jadi jelas bahwa
manusia tidak bebas secara mutlak, tetapi sebaliknya tergantung kepada Allah.
2.
Adanya free will / kehendak
bebas tidak berarti bahwa manusia selalu bisa / mampu melakukan apa yang ia
kehendaki.
Ini
berlaku dalam hal:
a.
Biasa / jasmani. Misalnya manusia boleh saja ingin terbang, tetapi ia
tidak bisa terbang.
b.
Rohani. Orang berdosa di luar Kristus tidak bisa berbuat baik atau datang
kepada Kristus dengan kekuatannya sendiri. Bahkan orang kristenpun sering
menginginkan hal yang baik tetapi tidak mampu melakukannya.
Ro
7:18-23 - “(18) Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai
manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak
memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. (19)
Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik,
yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang
aku perbuat. (20) Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki,
maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku. (21)
Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku
menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. (22)
Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, (23) tetapi di
dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum
akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam
anggota-anggota tubuhku.”.
Mat
26:41 - “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam
pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.’”.
Jadi
free will / kehendak bebas tidak
berhubungan dengan kemampuan untuk melakukan apa yang ia kehendaki.
3.
Adanya free will / kehendak
bebas tidak berarti pada saat manapun dalam kehidupannya, manusia itu
betul-betul bisa memilih beberapa tindakan sesuai dengan kehendaknya
sendiri.
Orang
Reformed mempercayai bahwa segala sesuatu ditentukan oleh Allah, dan pasti akan
terjadi sesuai kehendak Allah. Karena itu adalah omong kosong kalau kita dalam
hal ini beranggapan bahwa manusia betul-betul bisa memilih tindakan
sesuai dengan kemauannya. Sebaliknya, ia pasti akan melakukan tindakan yang
telah ditentukan oleh Allah.
Catatan:
kalau mau mengetahui tentang penentuan mutlak dari Allah atas segala sesuatu,
bacalah buku saya yang berjudul ‘Providence of God’.
4.
Free will / kehendak bebas
berarti: semua
yang manusia lakukan, ia lakukan sesuai dengan ketetapan Tuhan,
tetapi pada saat yang sama, ia tetap melakukan itu karena itu memang adalah
kehendaknya / keputusannya. Ia tidak dipaksa
oleh Allah untuk melakukan kehendak / ketetapan Allah tersebut. Ia
akan secara sukarela melakukan ketetapan Allah tersebut.
R.
L. Dabney: “We fully admit that where an agent is not free he
is not morally responsible. A just God will never punish him for actions in
which he is merely an instrument, impelled by the compulsion of external force
or fate. But what is free-agency? ... Let every man’s consciousness and common
sense tell him: I know that I am free whenever
what I choose to do is the result of my own preference. I choose and
act so as to please myself, then I am free. That is to say, our responsible
volitions are the expression and the result of our own rational preference. When
I am free and responsible it is because I choose and do the thing which I do, not
compelled by some other agents, but in accordance with my own inward
preference.”
(= Kami
sepenuhnya mengakui bahwa dimana seseorang yang melakukan suatu tindakan tidak
bebas, ia tidak bertanggung jawab secara moral. Seorang Allah yang adil tidak
akan pernah menghukumnya untuk tindakan-tindakan dalam mana ia semata-mata
hanyalah alat, dipaksa oleh paksaan dari kekuatan luar atau takdir. Tetapi
apakah tindakan bebas itu? ... Hendaklah
hati nurani dan akal sehat dari setiap orang memberitahunya: Saya tahu bahwa
saya bebas kapanpun apa yang saya pilih untuk lakukan adalah hasil dari
pilihanku sendiri. Saya memilih dan bertindak sedemikian rupa sehingga
menyenangkan diri saya sendiri, maka saya bebas. Artinya, kemauan-kemauan yang
bertanggung jawab dari kita adalah ungkapan dan hasil dari pilihan rasionil kita
sendiri. Pada waktu saya bebas dan bertanggung jawab itu adalah karena saya
memilih dan melakukan hal yang saya lakukan, tidak dipaksa oleh agen-agen
yang lain, tetapi sesuai dengan pilihan hatiku sendiri.)
- ‘The Five Points of Calvinism’,
hal 13-14 (Libronix).
Bahkan
pada saat manusia itu ‘dipaksa’ untuk melakukan sesuatu, ia tetap melakukan
sesuai keputusan / kehendaknya sendiri. Misalnya: seseorang ditodong dan dipaksa
untuk menyerahkan uangnya. Ia bisa saja memutuskan untuk melawan, apapun
resikonya. Tetapi setelah ia mempertimbangkan resiko kehilangan nyawa / terluka,
maka ia mengambil keputusan untuk menyerahkan uangnya. Ini tetap adalah
keputusan / kehendak bebasnya. Karena itu sebetulnya ungkapan bahasa Inggris ‘I
did it against my will’ (= aku melakukan itu bertentangan kehendakku)
adalah sesuatu yang salah.
Yang
bisa terjadi adalah: sesuatu dilakukan
terhadap kita bertentangan dengan kehendak kita. Misalnya kita diikat lalu
dibawa ke tempat yang tidak kita ingini. Tetapi ini bukan kita yang melakukan,
dan tentu saja dalam hal seperti ini kita tidak bisa dianggap bertanggung jawab.
Jadi,
kalau kita melakukan
sesuatu, itu karena kita mau / menghendaki untuk melakukan hal itu.
John
Owen:
“...
we do not absolutely oppose free-will, ... but only in that sense the Pelagians
and Arminians do assert it” (= ... kami tidak secara mutlak menentang
kehendak bebas, ... tetapi hanya dalam arti yang dinyatakan oleh orang-orang
Pelagian dan Arminian) - ‘The Works
of John Owen’, vol 10, hal 116.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali