Golgotha School of Ministry

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

Rabu, tgl 30 Oktober 2013, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

[HP: (031) 70641331 / (031) 60501331 / 081945588855]

Email: [email protected]


Irresistible Grace(14)


(kasih karunia yang tidak bisa ditolak)


R. C. Sproul: One of the most important teachings of Jesus on this matter is found in the Gospel of John. ‘Therefore I have said to you that no one can come to Me unless it has been granted to him by My Father’ (John 6:65). Let us look closely at this verse. The first element of this teaching is a universal negative. The words ‘No one’ are all-inclusive. They allow for no exception apart from the exceptions Jesus adds. The next word is crucial. It is the word ‘can’. This has to do with ability, not permission. Who has not been corrected by a schoolteacher for confusing the words ‘can’ and ‘may’? I used to have a teacher who never missed an opportunity to drill this point home. If I raised my hand and said, ‘Can I sharpen my pencil?’ the response was always the same. She would smile and say, ‘I am sure that you can. You also may sharpen your pencil.’ The word ‘can’ refers to ability; the word ‘may’ refers to permission. In this passage Jesus is not saying, ‘No one is allowed to come to me… .’ He is saying, ‘No one is able to come to me… .’ The next word in the passage is also vital. ‘Unless’ refers to what we call a ‘necessary condition’. A necessary condition refers to something that must happen before something else can happen. The meaning of Jesus’ words is clear. No human being can possibly come to Christ unless something happens that makes it possible for him to come. That necessary condition Jesus declares is that ‘it has been granted to him by the Father.’ Jesus is saying here that the ability to come to him is a gift from God. Man does not have the ability in and of himself to come to Christ. God must do something first. The passage teaches at least this much: It is not within fallen man’s natural ability to come to Christ on his own, without some kind of divine assistance. To this extent at least, Edwards and Augustine are in solid agreement with the teaching of our Lord. The question that remains is this: Does God give the ability to come to Jesus to all men? The Reformed view of predestination says no. Some other views of predestination say yes. But one thing is certain; man cannot do it on his own steam without some kind of help from God. What kind of help is required? How far must God go to overcome our natural inability to come to Christ? A clue is found elsewhere in this same chapter. In fact, there are two other statements by Jesus that have direct bearing on this question. Earlier in chapter 6 of John’s Gospel Jesus makes a similar statement. He says, ‘No one can come to Me unless the Father who sent Me draws him’ (John 6:44). The key word here is ‘draw’. What does it mean for the Father to draw people to Christ? I have often heard this text explained to mean that the Father must woo or entice men to Christ. Unless this wooing takes place, no man will come to Christ. However, man has the ability to resist this wooing and to refuse the enticement. The wooing, though it is necessary, is not compelling. In philosophical language that would mean that the drawing of God is a necessary condition but not a sufficient condition to bring men to Christ. In simpler language it means that we cannot come to Christ without the wooing, but the wooing does not guarantee that we will, in fact, come to Christ. I am persuaded that the above explanation, which is so widespread, is incorrect. It does violence to the text of Scripture, particularly to the biblical meaning of the word ‘draw’. The Greek word used here is HELKO. Kittel’s Theological Dictionary of the New Testament defines it to mean to compel by irresistible superiority. Linguistically and lexicographically, the word means ‘to compel.’ To compel is a much more forceful concept than to woo. To see this more clearly, let us look for a moment at two other passages in the New Testament where the same Greek word is used. In James 2:6 we read: ‘But you have dishonored the poor man. Do not the rich oppress you and drag you into the courts?’ Guess which word in this passage is the same Greek word that elsewhere is translated by the English word ‘draw’. It is the word ‘drag’. Let us now substitute the word ‘woo’ in the text. It would then read: ‘Do not the rich oppress you and ‘woo’ you into the courts?’ The same word occurs in Acts 16:19. ‘But when her masters saw that their hope of profit was gone, they seized Paul and Silas and dragged them into the marketplace to the authorities.’ Again, try substituting the word ‘woo’ for the word ‘drag’. Paul and Silas were not seized and then wooed into the marketplace. I once was asked to debate the doctrine of predestination in a public forum at an Arminian seminary. My opponent was the head of the New Testament department of the seminary. At a crucial point in the debate we fixed our attention on the passage about the Father’s drawing people. My opponent was the one who brought up the passage as a proof text to support his claim that God never forces anyone or compels them to come to Christ. He insisted that the divine influence on fallen man was restricted to drawing, which he interpreted to mean wooing. At that point in the debate I quickly referred him to Kittel and to the other passages in the New Testament that translate the word ‘drag’. I was sure I had him. I was sure that he had walked into an insoluble difficulty for his own position. But he surprised me. He caught me completely off guard. I will never forget that agonizing moment when he cited a reference from an obscure Greek poet in which the same Greek word was used to describe the action of drawing water from a well. He looked at me and said, ‘Well, Professor Sproul, does one drag water from a well?’ Instantly the audience burst into laughter at this startling revelation of the alternate meaning of the Greek word. I stood there looking rather silly. When the laughter died down I replied, ‘No sir. I have to admit that we do not drag water from a well. But, how do we get water from a well? Do we woo it? Do we stand at the top of the well and cry, ‘Here, water, water, water’?’ It is as necessary for God to come into our hearts to turn us to Christ as it is for us to put the bucket in the water and pull it out if we want anything to drink. The water simply will not come on its own, responding to a mere external invitation. [= Salah satu dari ajaran-ajaran yang terpenting dari Yesus tentang persoalan ini ditemukan dalam Injil Yohanes. ‘Karena itu Aku telah mengatakan kepadamu bahwa tak seorangpun bisa datang kepadaKu, kecuali itu telah dikaruniakan kepadanya oleh BapaKu’ (Yoh 6:65). Mari kita melihat ayat ini dengan lebih teliti. Elemen pertama dari ajaran ini adalah suatu ‘tidak’ yang bersifat universal. Kata-kata ‘tak seorangpun’ merupakan kata-kata yang mencakup semua. Kata-kata itu tidak mengijinkan suatu perkecualian terpisah dari perkecualian-perkecualian yang Yesus tambahkan. Kata selanjutnya sangat penting. Itu adalah kata ‘dapat’. Ini berurusan dengan kemampuan, bukan ijin. Siapa yang tidak pernah dibetulkan oleh guru sekolah untuk pengacauan kata-kata ‘can’ / ‘dapat’ dan ‘may’ / ‘boleh’? Saya pernah mempunyai seorang guru yang tidak pernah melalaikan suatu kesempatan untuk menggiring hal ini ke tempat yang seharusnya. Jika saya mengangkat tangan saya dan berkata, ‘Dapatkah saya meruncingkan pensil saya?’ tanggapannya selalu sama. Ia tersenyum dan berkata, ‘Aku yakin bahwa kamu dapat. Kamu juga boleh meruncingkan pensilmu’. Kata ‘dapat’ menunjuk pada kemampuan; kata ‘boleh’ menunjuk pada ijin. Dalam text ini Yesus tidak berkata, ‘Tak seorangpun diijinkan untuk datang kepadaKu’ ...’. Ia berkata, ‘Tak seorangpun dapat / bisa datang kepadaKu ...’ Kata selanjutnya dalam text itu juga sangat penting. ‘Kecuali’ menunjuk pada apa yang kita sebut ‘syarat yang perlu’. Suatu syarat yang perlu menunjuk pada sesuatu yang harus terjadi sebelum sesuatu yang lain bisa / dapat terjadi. Arti / maksud dari kata-kata Yesus adalah jelas. Tak seorang manusiapun dapat datang kepada Kristus kecuali sesuatu terjadi yang membuatnya mungkin baginya untuk datang. Syarat perlu yang Yesus nyatakan itu adalah bahwa ‘itu dikaruniakan kepadanya oleh Bapa’. Yesus berkata di sini bahwa kemampuan untuk datang kepadaNya merupakan suatu pemberian / anugerah dari Allah. Manusia tidak mempunyai kemampuan dalam dan dari dirinya sendiri untuk datang kepada Kristus. Allah harus melakukan sesuatu lebih dulu. Text ini mengajarkan sedikitnya hal ini: Itu bukanlah dalam kemampuan manusia yang terjatuh untuk datang kepada Kristus dari dirinya sendiri, tanpa sejenis pertolongan ilahi. Sampai pada tingkat ini setidaknya, Edwards dan Agustinus ada dalam persetujuan yang kokoh dengan ajaran dari Tuhan kita. Pertanyaan yang tertinggal adalah ini: Apakah Allah memberikan kemampuan untuk datang kepada Yesus itu kepada semua orang? Pandangan Reformed tentang predestinasi berkata ‘tidak’. Pandangan-pandangan lain tentang predestinasi berkata ‘ya’. Tetapi satu hal adalah pasti; manusia tidak dapat melakukannya dengan tenaganya sendiri tanpa sejenis pertolongan dari Allah. Jenis pertolongan apa yang dibutuhkan? Berapa jauh Allah harus pergi / berjalan untuk mengalahkan ketidak-mampuan alamiah kita untuk datang kepada Kristus? Suatu petunjuk ditemukan di tempat lain dalam pasal yang sama ini. Sebetulnya, di sana ada dua pernyataan lain oleh Yesus yang mempunyai hubungan langsung dengan pertanyaan ini. Di bagian yang lebih awal dalam pasal 6 dari Injil Yohanes, Yesus membuat suatu pernyataan yang mirip. Ia berkata, ‘Tak seorangpun dapat datang kepadaKu kecuali Bapa yang mengutus Aku menariknya’ (Yoh 6:44). Kata kunci di sini adalah ‘menarik’. Apa artinya bagi Bapa untuk menarik orang-orang kepada Kristus? Saya telah sering mendengar text ini dijelaskan untuk berarti bahwa Bapa harus membujuk atau memikat orang-orang kepada Kristus. Tetapi, manusia mempunyai kemampuan untuk menolak bujukan ini dan menolak pikatan ini. Bujukan itu, sekalipun perlu, tidaklah memaksa. Dalam bahasa filsafat itu berarti bahwa tarikan Allah adalah syarat yang perlu, tetapi bukan syarat yang cukup, untuk membawa manusia kepada Kristus. Dalam bahasa yang lebih sederhana, itu berarti bahwa kita tidak dapat datang kepada Kristus tanpa bujukan ini, tetapi bujukan ini tidak menjamin bahwa dalam faktanya kita akan datang kepada Kristus. Saya yakin, bahwa penjelasan di atas, yang begitu tersebar luas, adalah tidak benar. Itu melakukan kekerasan terhadap text dari Kitab Suci, khususnya terhadap arti Alkitabiah dari kata ‘menarik’. Kata Yunani yang digunakan di sini adalah HELKO. Kittel’s Theological Dictionary of the New Testament mendefinisikannya sebagai berarti ‘memaksa dengan kesuperioran yang tak bisa ditolak’. Secara ilmu bahasa dan secara ilmu perkamusan, kata itu berarti ‘memaksa’. ‘Memaksa’ adalah suatu konsep yang jauh lebih kuat dari ‘membujuk’. Untuk melihat ini dengan lebih jelas, hendaklah kita melihat sebentar pada 2 text lain dalam Perjanjian Baru dimana kata Yunani yang sama digunakan. Dalam Yak 2:6 kita membaca: ‘Tetapi kamu telah menghinakan orang-orang miskin. Bukankah justru orang-orang kaya yang menindas kamu dan yang menyeret kamu ke pengadilan?’ Tebaklah kata yang mana dalam text ini yang adalah kata Yunani yang sama yang di tempat lain diterjemahkan oleh kata bahasa Inggris ‘draw’ / ‘menarik’. Itu adalah kata ‘menyeret’. Sekarang mari kita menggantikannya dengan kata ‘membujuk’ dalam text. Maka bunyinya menjadi: ‘Tetapi kamu telah menghinakan orang-orang miskin. Bukankah justru orang-orang kaya yang menindas kamu dan yang membujuk kamu ke pengadilan?’ Kata yang sama muncul dalam Kis 16:19. ‘Ketika tuan-tuan perempuan itu melihat, bahwa harapan mereka akan mendapat penghasilan lenyap, mereka menangkap Paulus dan Silas, lalu menyeret mereka ke pasar untuk menghadap penguasa.’ Lagi-lagi, cobalah menggantikan kata ‘membujuk’ untuk kata ‘menyeret’. Paulus dan Silas tidak ditangkap lalu dibujuk ke pasar. Pernah sekali saya diminta untuk memperdebatkan doktrin tentang predestinasi di forum umum di suatu seminari Arminian. Lawan saya adalah kepala / pimpinan dari departemen Perjanjian Baru dari seminari itu. Pada titik yang penting dalam debat itu, kami menancapkan perhatian kami pada text tentang Bapa menarik orang-orang. Lawan saya yang mengemukakan text ini sebagai suatu text bukti untuk mendukung claimnya bahwa Allah tidak pernah memaksa siapapun atau memaksa mereka untuk datang kepada Kristus. Ia berkeras bahwa pengaruh ilahi pada manusia yang telah jatuh, dibatasi pada tindakan menarik, yang ia tafsirkan sebagai berarti ‘membujuk’. Pada titik itu dalam debat itu saya dengan cepat mengarahkan dia kepada Kittel dan pada text-text lain dalam Perjanjian Baru yang menterjemahkan kata ‘menyeret’. Saya yakin bahwa saya telah menempatkan dia di posisi yang tidak menguntungkan. Saya yakin bahwa ia telah berjalan ke dalam suatu kesukaran yang tak terpecahkan untuk posisinya sendiri. Tetapi ia mengejutkan saya. Ia menyergap saya sepenuhnya dengan tak disangka-sangka. Saya tak akan pernah melupakan saat yang sangat menderita pada waktu ia mengutip suatu referensi dari suatu syair Yunani yang tak dikenal dalam mana kata Yunani yang sama digunakan untuk menggambarkan tindakan mengambil air dari sebuah sumur. Ia memandang saya dan berkata, ‘Nah, Profesor Sproul, apakah seseorang menyeret air dari sebuah sumur?’ Dengan segera para penonton meledak tertawa pada penyataan yang mengejutkan ini tentang arti alternatif dari kata Yunani itu. Saya berdiri di sana dan terlihat agak tolol. Pada waktu tertawanya sudah mereda saya menjawab, ‘Tidak pak. Saya harus mengakui bahwa kita tidak menyeret air dari sebuah sumur. Tetapi bagaimana kita mendapat air dari sebuah sumur? Apakah kita membujuknya? Apakah kita berdiri di atas sumur dan berteriak, Kesini, air, air, air?’ Adalah sama perlunya bagi Allah untuk datang ke dalam hati kita untuk membalikkan kita kepada Kristus seperti kita perlu untuk meletakkan ember / timba dalam air dan menariknya keluar jika kita menginginkan apapun untuk minum. Air tak akan datang dari dirinya sendiri, menanggapi semata-mata suatu undangan luar / lahiriah.] - ‘Chosen by God’, hal 67-71.


Arthur W. Pink: In order for any sinner to be saved three things were indispensable: God the Father had to purpose his salvation, God the Son had to purchase it, God the Spirit has to apply it. God does more than ‘propose’ to us: were He only to ‘invite’, every last one of us would be lost. This is strikingly illustrated in the Old Testament. In Ezra 1:1-3 we read, ‘Now in the first year of Cyrus king of Persia, that the word of the Lord by the mouth of Jeremiah might be fulfilled, the Lord stirred up the spirit of Cyrus king of Persia, that he made a proclamation throughout all his kingdom, and put it also in writing saying, Thus saith Cyrus king of Persia, the Lord God of heaven hath given me all the kingdoms of the earth, and He hath charged me to build Him an house at Jerusalem, which is in Judah. Who is there among you of all His people? his God be with him, and let him go up to Jerusalem which is in Judah, and build the house of the Lord God of Israel.’ Here was an ‘offer’ made, made to a people in captivity, affording them opportunity to leave and return to Jerusalem - God’s dwelling-place. Did all Israel eagerly respond to this offer? No indeed. The vast majority were content to remain in the enemy’s land. Only an insignificant ‘remnant’ availed themselves of this overture of mercy! And why did they? Hear the answer of Scripture: ‘Then rose up the chief of the fathers of Judah and Benjamin, and the priests, and the Levites, with all whose spirit God had stirred up, to go up to build the house of the Lord which is in Jerusalem’ (Ezra 1:5)! In like manner, God ‘stirs up’ the spirits of His elect when the effectual call comes to them, and not till then do they have any willingness to respond to the Divine proclamation. [= Supaya orang berdosa manapun diselamatkan tiga hal sangat diperlukan: Allah Bapa harus merencanakan keselamatannya, Allah Anak harus membelinya, Allah Roh Kudus harus menerapkannya. Allah melakukan lebih dari ‘mengusulkan’ kepada kita: seandainya Ia hanya ‘mengundang’, setiap orang dari kita akan terhilang. Ini diilustrasikan secara menyolok dalam Perjanjian Lama. Dalam Ezra 1:1-3 kita membaca, ‘Pada tahun pertama zaman Koresh, raja negeri Persia, TUHAN menggerakkan hati Koresh, raja Persia itu untuk menggenapkan firman yang diucapkan oleh Yeremia, sehingga disiarkan di seluruh kerajaan Koresh secara lisan dan tulisan pengumuman ini: ‘Beginilah perintah Koresh, raja Persia: Segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan kepadaku oleh TUHAN, Allah semesta langit. Ia menugaskan aku untuk mendirikan rumah bagiNya di Yerusalem, yang terletak di Yehuda. Siapa di antara kamu termasuk umatNya, Allahnya menyertainya! Biarlah ia berangkat pulang ke Yerusalem, yang terletak di Yehuda, dan mendirikan rumah TUHAN Allah Israel.’ Di sini suatu ‘tawaran’ dibuat, dibuat bagi suatu bangsa dalam pembuangan, memberikan mereka kesempatan untuk meninggalkan dan kembali ke Yerusalem - tempat tinggal Allah. Apakah seluruh Israel dengan keinginan yang besar menanggapi tawaran ini? Tidak. Mayoritas dari mereka puas untuk tinggal di negara / tanah musuh. Hanya suatu ‘sisa’ yang kecil / tak berarti yang memakai kesempatan tawaran belas kasihan ini. Dan mengapa mereka melakukannya? Dengarkan jawaban dari Kitab Suci: ‘Maka berkemaslah kepala-kepala kaum keluarga orang Yehuda dan orang Benyamin, serta para imam dan orang-orang Lewi, yakni setiap orang yang hatinya digerakkan Allah untuk berangkat pulang dan mendirikan rumah TUHAN yang ada di Yerusalem’ (Ezra 1:5)! Dengan cara yang sama, Allah menggerakkan roh-roh dari orang-orang pilihanNya pada waktu panggilan efektif datang kepada mereka, dan tidak sampai saat itu mereka mempunyai kemauan apapun untuk menanggapi proklamasi / pemberitaan Ilahi.] - ‘The Sovereignty of God’ (AGES), hal 129-130.


Calvin (tentang Yoh 6:44): “‘No man can come to me, unless the Father, who hath sent me, draw him.’ He does not merely accuse them of wickedness, but likewise reminds them, that it is a peculiar gift of God to embrace the doctrine which is exhibited by him; which he does, that their unbelief may not disturb weak minds. ... Christ declares that the doctrine of the Gospel, though it is preached to all without exception, cannot be embraced by all, but that a new understanding and a new perception are requisite; and, therefore, that faith does not depend on the will of men, but that it is God who gives it. ‘Unless the Father draw him.’ ‘To come to Christ’ being here used metaphorically for ‘believing’, the Evangelist, in order to carry out the metaphor in the apposite clause, says that those persons are ‘drawn’ whose understandings God enlightens, and whose hearts he bends and forms to the obedience of Christ. The statement amounts to this, that we ought not to wonder if many refuse to embrace the Gospel; because no man will ever of himself be able to come to Christ, but God must first approach him by his Spirit; and hence it follows that all are not ‘drawn,’ but that God bestows this grace on those whom he has elected. True, indeed, as to the kind of ‘drawing,’ it is not violent, so as to compel men by external force; but still it is a powerful impulse of the Holy Spirit, which makes men willing who formerly were unwilling and reluctant. It is a false and profane assertion, therefore, that none are ‘drawn’ but those who are willing to be ‘drawn,’ as if man made himself obedient to God by his own efforts; for the willingness with which men follow God is what they already have from himself, who has formed their hearts to obey him. (= ‘Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, kecuali Bapa, yang telah mengutus Aku, menariknya’. Ia tidak semata-mata menuduh mereka tentang kejahatan, tetapi juga mengingatkan mereka, bahwa itu merupakan suatu pemberian / karunia khusus dari Allah untuk memeluk / mempercayai doktrin yang ditunjukkan olehNya; yang Ia lakukan, supaya ketidak-percayaan mereka tidak mengganggu pikiran yang lemah. ... Kristus menyatakan bahwa doktrin dari Injil, sekalipun itu dikhotbahkan / diberitakan tanpa perkecualian, tidak bisa dipercayai oleh semua orang, tetapi bahwa suatu pengertian yang baru dan suatu persepsi yang baru dibutuhkan; dan karena itu, iman itu tidak tergantung pada kehendak manusia, tetapi bahwa adalah Allah yang memberikannya. ‘Kecuali Bapa menariknya’. ‘Datang kepada Kristus’ digunakan di sini sebagai kiasan untuk ‘percaya’, sang Penginjil, untuk membawa kiasan dalam anak kalimat yang tepat, mengatakan bahwa orang-orang itu ‘ditarik’, yang pengertiannya Allah terangi, dan yang hatinya Ia bengkokkan dan bentuk pada ketaatan Kristus. Pernyataan itu sama dengan ini, bahwa kita tidak boleh heran jika banyak orang menolak untuk percaya pada Injil; karena tak seorangpun akan pernah, dari dirinya sendiri, dapat datang kepada Kristus, tetapi Allah harus pertama-tama mendekatinya oleh RohNya; dan lalu mengikuti bahwa tidak semua orang ‘ditarik’, tetapi bahwa Allah memberikan kasih karunia ini kepada mereka yang telah Ia pilih. Memang, tentang jenis ‘tarikan’, itu bukan sesuatu tarikan yang keras / kasar, seakan-akan memaksa manusia dengan kekuatan luar; tetapi itu tetap merupakan dorongan yang kuat dari Roh Kudus, yang membuat manusia yang tadinya tidak mau dan segan menjadi mau. Karena itu, merupakan suatu penegasan yang salah bahwa tak seorangpun ‘ditarik’ kecuali mereka yang mau untuk ‘ditarik’, seakan-akan manusia membuat dirinya sendiri taat kepada Allah oleh usaha-usahanya sendiri; karena kemauan dengan mana manusia mengikuti Allah adalah apa yang mereka sudah punyai dari Dia sendiri, yang telah membentuk hati mereka untuk mentaati Dia.).


e)   Ro 3:11 dan Ro 10:20.

Ro 3:11 - “Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah.

Ro 10:20 - “Dan dengan berani Yesaya mengatakan: ‘Aku telah berkenan ditemukan mereka yang tidak mencari Aku, Aku telah menampakkan diri kepada mereka yang tidak menanyakan Aku.’”.


Mari kita membahas pertanyaan “Siapa yang mencari dan siapa yang dicari?” dalam seluruh Alkitab.


Ro 3:11 ini perlu dicamkan khususnya pada waktu kita melihat ayat-ayat yang menyuruh manusia mencari Allah, seperti:

1.   1Taw 16:11 - Carilah TUHAN dan kekuatanNya, carilah wajahNya selalu!”.

2.   Maz 27:8 - “Hatiku mengikuti firmanMu: ‘Carilah wajahKu’; maka wajahMu kucari, ya TUHAN”.

3.   Maz 105:3-4 - “(3) Bermegahlah di dalam namaNya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN! (4) Carilah TUHAN dan kekuatanNya, carilah wajahNya selalu!”.

4.   Yes 55:6 - Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepadaNya selama Ia dekat!”.

5.   Yer 29:13-14a - “(13) Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, (14a) Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN”.

6.   Amos 5:4-6 - “(4) Sebab beginilah firman TUHAN kepada kaum Israel: ‘Carilah Aku, maka kamu akan hidup! (5) Janganlah kamu mencari Betel, janganlah pergi ke Gilgal dan janganlah menyeberang ke Bersyeba, sebab Gilgal pasti masuk ke dalam pembuangan dan Betel akan lenyap.’ (6) Carilah TUHAN, maka kamu akan hidup, supaya jangan Ia memasuki keturunan Yusuf bagaikan api, yang memakannya habis dengan tidak ada yang memadamkan bagi Betel”.


Saya kira orang Arminian tidak akan menemukan kesulitan dengan sederetan ayat-ayat di atas ini (tetapi anehnya, Adam Clarke tidak memberikan apa-apa dari ayat-ayat ini yang berhubungan dengan doktrin Arminianisme).

Tetapi, bagaimana mereka menafsirkan Ro 3:11b yang berbunyi: “tidak ada seorangpun yang mencari Allah”?


Adam Clarke tak beri komentar apapun tentang ayat ini, dan Lenski hanya mengatakan bahwa kalau dalam Mazmur ayatnya ada dalam bentuk tidak langsung, maka di sini Paulus menuliskannya dalam bentuk langsung.

Maz 14:2 - “TUHAN memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah.”.

Selain itu Lenski tidak memberi komentar apapun tentang Ro 3:11 ini.

Dan tentang Maz 14:2 Clarke hanya mengatakan bahwa ayat itu menggambarkan Allah seakan-akan Ia adalah manusia, dan Ia digambarkan melihat ke bawah / ke dunia ini untuk mengetahui apakah ada orang yang mengerti akan adanya Allah, dan karena itu mencariNya. Ia tak menghubungkan Maz 14:2 dengan Ro 3:11, dan lebih-lebih ia tidak menjelaskan bagaimana kedua ayat itu bisa sesuai dengan theologia dari Arminianisme.


Kalau Maz 14:2 dan Ro 3:11 sudah sangat menyulitkan orang-orang Arminian, lebih-lebih, bagaimana mereka menafsirkan ayat-ayat ini?


Yes 65:1 - Aku telah berkenan memberi petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku; Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku. Aku telah berkata: ‘Ini Aku, ini Aku!’ kepada bangsa yang tidak memanggil namaKu.”.


Ro 10:20 - “Dan dengan berani Yesaya mengatakan: ‘Aku telah berkenan ditemukan mereka yang tidak mencari Aku, Aku telah menampakkan diri kepada mereka yang tidak menanyakan Aku.’”.


Orang Arminian, yang mengatakan bahwa semua manusia telah diberi kemampuan dari Roh Kudus, sehingga sekarang semua tergantung pada kemauan mereka, pasti akan kebingungan menafsirkan Yes 65:1 / Ro 10:20 ini!


Adam Clarke (tentang Ro 10:20): “‘But Esaias is very bold’ ... He speaks out in the fullest manner and plainest language, Isa 65:1, notwithstanding the danger to which such a declaration exposed him, among a crooked, perverse, and dangerous people: ‘I was found of them that sought me not; I put my salvation in the way of those (the Gentiles) who were not seeking for it, and knew nothing of it: thus, the Gentiles which followed not after righteousness have attained to the law of righteousness,’ Rom 9:30, and they have found that redemption which the Jews have rejected. [= ‘Tetapi Yesaya sangat berani’. ... Ia berbicara dengan tegas dalam cara yang paling penuh / lengkap dan bahasa yang paling sederhana / jelas, Yes 65:1, meskipun ada bahaya pada mana pernyataan seperti itu membuka dia, di antara bangsa yang bengkok, jahat, dan berbahaya: ‘Aku ditemukan mereka yang tidak mencari Aku; Aku meletakkan keselamatanKu di jalan mereka (orang-orang non Yahudi) yang tidak mencarinya, tak tahu apa-apa tentangnya: maka, orang-orang non Yahudi yang tidak mengikuti kebenaran telah mencapai hukum kebenaran’, Ro 9:30, dan mereka telah menemukan penebusan itu yang telah ditolak oleh orang-orang Yahudi.].

Ro 9:30 - “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Ini: bahwa bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah beroleh kebenaran, yaitu kebenaran karena iman.”.  


Jadi, Adam Clarke hanya mengatakan bahwa orang-orang yang tidak mencari keselamatan tetapi memperolehnya, adalah orang-orang non Yahudi. Tetapi lagi-lagi, ia sama sekali tak menghubungkan dengan doktrin Arminianisme yang ia anut, lebih-lebih ia tak menjelaskan bagaimana ayat ini bisa cocok dengan theologianya.


Sekarang mari kita perhatikan tafsiran dari Calvin dan orang-orang Reformed berkenaan dengan ayat-ayat ini.


1.   Tentang Ro 3:11 - “Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah.”.


Calvinisme / Reformed menganggap ayat ini menunjukkan secara jelas bahwa keselamatan seseorang tidak tergantung pada kehendak orang itu sendiri, tetapi tergantung kepada Allah.

Ro 3:11 - “Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah.

Ini menunjukkan bahwa manusia berdosa itu sendiri, terlepas dari pekerjaan Allah / Roh Kudus dalam dirinya, tidak bisa dan tidak akan mau mencari Allah.

Tetapi mengapa dalam faktanya ada orang-orang yang mencari Allah? Karena dalam diri orang yang adalah ‘orang pilihan’, sekalipun ia mula-mula tidak mencari Allah (sesuai dengan Ro 3:11 ini), Allah bekerja, melahir-barukannya, sehingga ia lalu mencari Allah dan menemukan Allah (melalui Yesus Kristus).

Catatan: perlu diingat bahwa dalam ajaran Calvinist / Reformed, kelahiran baru terjadi sebelum iman!


Calvin (tentang Ro 3:11): “The first effect is, that there is none that understands: and then this ignorance is immediately proved, for they seek not God; for empty is the man in whom there is not the knowledge of God, whatever other learning he may possess; yea, the sciences and the arts, which in themselves are good, are empty things, when they are without this groundwork.” (= Akibat pertama adalah, bahwa di sana tidak ada yang mengerti: lalu ketidak-tahuan ini segera terbukti, karena mereka tidak mencari Allah; karena kosonglah orang dalam siapa disana tidak ada pengetahuan / pengenalan tentang Allah, apapun pengetahuan lain yang ia miliki; ya, ilmu-ilmu pengetahuan dan seni-seni, yang dalam diri mereka sendiri adalah baik, adalah hal-hal yang kosong, pada waktu mereka ada tanpa dasar ini).


Matthew Henry (tentang Ro 3:11): “‘None that seeketh after God,’ that is, none that has any regard to God, any desire after him. Those may justly be reckoned to have no understanding that do not seek after God. The carnal mind is so far from seeking after God that really it is enmity against him. (= ‘Tak seorangpun yang mencari Allah’, artinya, tak seorangpun yang mempunyai kepedulian apapun tentang Allah, keinginan apapun untuk mencariNya. Mereka bisa dengan benar dianggap tidak mempunyai pengertian, kalau mereka tidak mencari Allah. Pikiran daging begitu jauh dari mencari Allah, yang sesungguhnya itu adalah suatu permusuhan terhadap Dia.).


John Murray (tentang Ro 3:11): Verse 10 had been a statement in general terms; this verse is more specific and particularizes respects in which universal sinfulness appears. In the noetic sphere there is no understanding; in the conative there is no movement towards God. With reference to God all men are noetically blind and in respect of Godward aspiration they are dead. (= Ayat 10 merupakan suatu pernyataan dalam istilah-istilah yang umum; ayat ini adalah lebih spesifik dan mengkhususkan hubungan-hubungan dalam mana keberdosaan universal muncul. Dalam hal intelek disana tidak ada pengertian; dalam hal usaha disana tidak ada gerakan menuju Allah. Berkenaan dengan Allah semua manusia adalah buta secara intelektual, dan berkenaan dengan keinginan ke arah Allah mereka mati.) - NICNT.


Charles Hodge (tentang Ro 3:11): “‘There is none who understands, there is none who seeks after God.’ In the Psalms it is said: ‘God looked down from heaven upon the sons of men, to see if there was one wise, seeking after God.’ Here again the apostle gives the thought, and not the precise words. Instead of ‘if there was one wise,’ he gives the idea in a negative form, ‘There is none who understands,’ ... This right apprehension or spiritual discernment of divine things is always attended with right affections and right conduct - he that understands seeks after God - which latter expression includes all those exercises of desire, worship, and obedience, which are consequent on this spiritual discernment. (= ‘Tidak ada yang mengerti, di sana tidak ada yang mencari Allah’. Dalam Mazmur dikatakan: ‘Allah melihat ke bawah dari surga kepada anak-anak manusia, untuk melihat apakah di sana ada orang yang bijaksana / berhikmat, yang mencari Allah’. Di sini lagi-lagi sang rasul memberikan pemikiran, dan bukan kata-kata yang persis. Sebagai ganti dari ‘apakah disana ada orang yang berhikmat / bijaksana’, ia memberikan gagasan dalam bentuk negatif, ‘Disana tidak ada yang mengerti’. ... Pengertian yang benar atau ketajaman rohani tentang hal-hal ilahi ini selalu disertai dengan perasaan yang benar dan tingkah laku yang benar - ia yang mengerti, mencari Allah - dan ungkapan terakhir ini mencakup semua aktivitas dari keinginan, penyembahan, dan ketaatan, yang merupakan akibat dari pengertian rohani ini.).

Catatan: Ro 3:11 dikutip dari Maz 14:2 - “TUHAN memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah.”.


William Hendriksen (tentang Ro 3:11): The picture he draws is dismal: no one is righteous; in fact, no one understands his deplorable condition. And no one is even trying to understand, is even searching for God, the Source of all wisdom and knowledge. But are there no exceptions? Paul answers, ‘There is no one … no one … no one … no one … not even one.’ (= Gambaran yang ia gambarkan adalah suram: tak ada orang yang benar; dalam faktanya, tak ada orang yang mengerti keadaannya yang menyedihkan. Dan tak ada orang yang bahkan mencoba untuk mengerti, mencari Allah, Sumber dari segala hikmat dan pengetahuan. Tetapi apakah di sana ada perkecualian-perkecualian? Paulus menjawab, ‘Disana tidak seorangpun ...  tidak seorangpun ... tidak seorangpun ... tidak seorangpun ... bahkan tidak seorangpun’.).

Ro 3:10-12 - “(10) seperti ada tertulis: ‘Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. (11) Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. (12) Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.”.


2.   Tentang Yes 65:1-2 - “(1) Aku telah berkenan memberi petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku; Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku. Aku telah berkata: ‘Ini Aku, ini Aku!’ kepada bangsa yang tidak memanggil namaKu. (2) Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tanganKu kepada suku bangsa yang memberontak, yang menempuh jalan yang tidak baik dan mengikuti rancangannya sendiri;”.


Tentang Yes 65:1 Adam Clarke hanya meributkan tentang terjemahan yang benar, dan setelah memilih terjemahan yang benar, ia boleh dikatakan tak memberi komentar apapun bagaimana ayat ini bisa cocok dengan theologia Arminiannya. Dan tentang Yes 65:2 ia sama sekali tidak memberi komentar apapun.


E. J. Young (tentang Yes 65:1): God here speaks of the Gentiles, who, in contrast to the Jews, have received His grace even though they had not asked for it. ... In other words, God’s free grace reached those who did not know Him and who made no effort to find Him. They in fact were found of Him. Isaiah’s forceful language simply asserts the reality of sovereign and free grace given to sinners who deserve it not, and who have had no concern for it. (= Allah di sini berbicara tentang orang-orang non Yahudi, yang, dalam kontras dengan orang-orang Yahudi, telah menerima kasih karuniaNya sekalipun mereka tidak mencarinya. ... Dengan kata lain, kasih karunia yang cuma-cuma dari Allah mencapai mereka yang tidak mengenalNya dan tidak melakukan usaha untuk mencariNya. Mereka sesungguhnya ditemukan olehNya. Bahasa / kata-kata yang kuat dari Yesaya hanya menegaskan kenyataan dari kasih karunia yang berdaulat dan cuma-cuma yang diberikan kepada orang-orang berdosa yang tak layak mendapatkannya, dan yang tak mempedulikannya.).


Calvin (tentang Yes 65:2): “By ‘the stretching out of the hands’ he means the daily invitation. There are various ways in which the Lord ‘stretches out his hands to us;’ for he draws us to him, either effectually or by the word. In this passage it must relate chiefly to the word. The Lord never speaks to us without at the same time ‘stretching out his hand’ to join us to himself, or without causing us to feel, on the other hand, that he is near to us. He even embraces us, and shews the anxiety of a father, so that, if we do not comply with his invitation, it must be owing entirely to our own fault.” (= Dengan ‘mengulurkan tangan’ ia memaksudkan undangan harian. Di sana ada bermacam-macam cara dalam mana Tuhan ‘mengulurkan tanganNya kepada kita’; karena Ia menarik kita kepadaNya, atau secara efektif, atau oleh firman. Dalam text ini, itu harus berhubungan terutama dengan firman. Tuhan tidak pernah berbicara kepada kita tanpa pada saat yang sama ‘mengulurkan tanganNya’ untuk menggabungkan kita dengan diriNya sendiri, atau tanpa menyebabkan kita untuk merasa, di sisi lain, bahwa Ia dekat dengan kita. Ia bahkan memeluk kita, dan menunjukkan kekuatiran seorang bapa, sehingga jika kita tidak memenuhi / mengikuti undangannya, itu harus dianggap sepenuhnya sebagai kesalahan kita sendiri.).


3.   Tentang Ro 10:20 - “Dan dengan berani Yesaya mengatakan: ‘Aku telah berkenan ditemukan mereka yang tidak mencari Aku, Aku telah menampakkan diri kepada mereka yang tidak menanyakan Aku.’”.


Charles Hodge (tentang Ro 10:20): “Paul follows the Septuagint version of the passage, merely transposing the clauses. The sense is accurately expressed. ‘I am sought of them that asked not for me, I am found of them that sought me not,’ is the literal version of the Hebrew, as given in our translation. The apostle quotes and applies the passage in the sense in which it is to be interpreted in the ancient prophet. In the first verse of that chapter Isaiah says, that God will manifest himself to those ‘who were not called by his name;’ and in the second, he gives the immediate reason of this turning unto the Gentiles, ‘I have stretched out my hand all the day to a rebellious people.’ This quotation, therefore, confirms both the great doctrines taught in this chapter; the Jews were no longer the exclusive or peculiar people of God, and the blessings of the Messiah’s kingdom were thrown wide open to all mankind. With regard to Israel, the language of God is peculiarly strong and tender. ‘All day long I have stretched forth my hands.’ The stretching forth the hands is the gesture of invitation, and even supplication. God has extended wide his arms, and urged men frequently and long to return to his love; and it is only those who refuse, that he finally rejects.” (= Paulus mengikuti versi Septuaginta dari text ini, semata-mata mengubah urutan anak-anak kalimatnya. Artinya dinyatakan secara akurat. ‘Aku dicari mereka yang tidak menanyakan Aku, Aku ditemukan mereka yang tidak mencari Aku’, adalah terjemahan hurufiah dari bahasa Ibraninya, seperti yang diberikan dalam terjemahan kami. Sang rasul mengutip dan menerapkan text ini dalam arti dalam mana itu diterjemahkan dalam nabi kuno. Dalam ayat yang pertama dari pasal itu Yesaya berkata, bahwa Allah akan menyatakan diriNya kepada mereka ‘yang tidak disebut oleh namaNya’; dan dalam ayat yang kedua, Ia memberi alasan langsung dari pembelokan kepada orang-orang non Yahudi ini, ‘Aku telah mengulurkan tanganKu sepanjang hari kepada suatu bangsa yang suka memberontak’. Karena itu, kutipan ini meneguhkan kedua doktrin-doktrin besar yang diajarkan dalam pasal ini; orang-orang Yahudi tidak lagi merupakan bangsa / umat Allah yang esklusif atau khusus, dan berkat-berkat dari kerajaan Mesias dilemparkan secara lebar kepada seluruh umat manusia. Berkenaan dengan Israel, bahasa / kata-kata Allah kuat dan lembut secara khusus. ‘Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tanganKu’. Penguluran tangan ini adalah suatu gerakan isyarat dari undangan, dan bahkan permohonan. Allah telah mengulurkan tanganNya dengan lebar, dan mendesak manusia secara sering dan lama untuk kembali kepada kasihNya; dan hanyalah mereka yang menolak, yang akhirnya Ia tolak.).

Catatan: Hodge tak mengarah pada pandangan Calvinist, tetapi bahkan berbau ajaran Arminian (bagian yang saya garis-bawahi), atau dalam bagian itu ia hanya meninjaunya dari sudut pandang manusia.


Calvin (tentang Ro 10:20): “Without doubt, then, the Prophet declares it as what would take place, that those who were before aliens would be received by a new adoption unto the family of God. It is then the calling of the Gentiles; and in which appears a general representation of the calling of all the faithful; for there is no one who anticipates the Lord; but we are all, without exception, delivered by his free mercy from the deepest abyss of death, when there is no knowledge of him, no desire of serving him, in a word, no conviction of his truth.” (= Maka, tanpa keraguan, sang nabi menyatakan apa yang akan terjadi, bahwa mereka yang sebelumnya adalah orang-orang asing akan diterima oleh suatu pengadopsian yang baru kepada keluarga Allah. Maka itu merupakan panggilan orang-orang non Yahudi; dan dalam mana terlihat suatu gambaran umum dari panggilan semua orang percaya; karena di sana tidak seorangpun yang mengantisipasi / mendahului Tuhan; tetapi kita semua, tanpa perkecualian, dibebaskan oleh belas kasihanNya yang cuma-cuma dari jurang kematian yang terdalam, pada waktu di sana tidak ada pengetahuan tentang Dia, tak ada keinginan melayani Dia, singkatnya, tak ada keyakinan tentang kebenaranNya.).


William Hendriksen (tentang Ro 10:20): By reminding the hearers that God was found by those who did not seek him, and was revealed to those who did not ask for him, it emphasizes God’s sovereign right to bestow salvation on whomsoever he wills. (= Dengan mengingatkan para pendengar bahwa Allah telah ditemukan oleh mereka yang tidak mencariNya, dan dinyatakan kepada mereka yang tidak menanyakan Dia, itu menekankan hak berdaulat Allah untuk memberikan keselamatan kepada siapapun yang Ia kehendaki.).





Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]


Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:


Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali