(Rungkut Megah
Raya Blok D No 16)
Rabu, tgl 21
Agustus 2013, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
[HP: (031)
70641331 / (031) 60501331 / 081945588855]
7. Mat
16:15-17 - “(15) Lalu Yesus bertanya
kepada mereka: ‘Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?’ (16) Maka jawab Simon
Petrus: ‘Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!’ (17) Kata Yesus
kepadanya: ‘Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan
manusia yang
menyatakan itu kepadamu, melainkan BapaKu yang di sorga.”.
KJV: ‘for
flesh and blood hath not revealed it unto thee, but my Father which is in heaven’ (= karena daging dan
darah tidak menyatakannya kepadamu, tetapi BapaKu
yang ada di surga).
Perhatikan
bahwa Petrus baru memberikan suatu pengakuan iman yang benar tentang Kristus
dalam Mat 16:16, tetapi Yesus lalu mengatakan bahwa hal itu bukan dinyatakan
oleh ‘manusia’ (KJV/Lit: ‘daging dan darah’) kepadanya, tetapi oleh Bapa
yang di surga!
Adam
Clarke (tentang Mat 16:17):
“Is
it not evident, from our Lord’s observation, that it requires an express
revelation of God in a man’s soul, to give him a saving acquaintance with
Jesus Christ; and that not even the miracles of our Lord, performed before the
eyes, will effect this? The darkness must be removed from the heart by the Holy
Spirit, before a man can become wise unto salvation.”
(= Bukankah jelas, dari pengamatan Tuhan kita, bahwa membutuhkan
suatu wahyu / penyataan yang jelas / explicit dari Allah dalam jiwa seorang
manusia, untuk memberinya suatu pengenalan yang menyelamatkan dengan Yesus
Kristus; dan bahwa bahkan mujijat-mujijat dari Tuhan kita, yang
dilakukan di hadapan mata kita, tidak akan menghasilkan hal ini? Kegelapan
harus disingkirkan dari hati oleh Roh Kudus, sebelum seorang manusia bisa
menjadi bijaksana untuk keselamatan.).
Catatan:
bagi saya, bagian yang saya beri garis bawah tunggal cukup jelas, tetapi bagian
yang saya beri garis bawah ganda kurang jelas, dan bisa berarti ganda, misalnya
bisa diartikan bahwa orang itu menjadi bijaksana, tetapi tetap dia bisa memilih
untuk tidak percaya. Tetapi kalau seseorang memilih untuk tidak percaya, apakah
orang itu ‘menjadi bijaksana’?
Lenski
(tentang Mat 16:17): “Peter’s
confession is in no way the product of his own reason, his superior intellect,
or of any meritorious quality or effort on his part. ... The faith and the
knowledge which uttered Peter’s confession were not in any way the product of
‘flesh and blood,’ i.e., of fallible and mortal man. ... What is true of the
inability of Peter’s flesh and blood is equally true of the inability of the
flesh and the blood or the natural powers of all men. To make a confession such
as that which Peter made requires far more. In the verb ‘did reveal’ Jesus
declares the contents of Peter’s confession to be an impenetrable mystery as
far as the powers of mere flesh and blood are concerned. Actually to realize in
the man Jesus the presence of the Christ and Son of God requires more than
sinful flesh and blood is able to muster. It remains so to this day. This
realization is produced by a revelation, one that is wrought by ‘my Father in
the heavens,’ who is thus infinitely exalted above ‘flesh and blood.’ It
lies on the surface that the revelation here referred to goes beyond mere
intellectual knowledge and extends to spiritual conviction and apprehension.”
(= Pengakuan
Petrus sama sekali bukan hasil dari akalnya sendiri, inteleknya yang superior,
atau dari kwalitet atau usaha yang berjasa apapun di pihaknya. ... Iman dan
pengetahuan yang mengucapkan pengakuan Petrus sama sekali bukan hasil dari
‘daging dan darah’, yaitu dari manusia yang bisa salah dan fana. ... Apa
yang benar tentang ketidak-mampuan dari daging dan darah Petrus adalah benar
secara sama dengan ketidak-mampuan dari daging dan darah atau kuasa alamiah dari
semua manusia. Untuk membuat pengakuan seperti yang Petrus buat
membutuhkan jauh lebih banyak. Dalam kata kerja ‘menyatakan’ Yesus
menyatakan bahwa isi dari pengakuan Petrus sebagai suatu misteri yang tidak bisa
ditembus sejauh berkenaan dengan kuasa-kuasa dari semata-mata daging dan darah.
Untuk sungguh-sungguh menyadari kehadiran dari Kristus dan Anak Allah dalam
manusia Yesus membutuhkan lebih dari daging dan darah yang berdosa bisa
kumpulkan / kerahkan. Itu tetap demikian sampai hari ini. Kesadaran
ini dihasilkan oleh suatu wahyu / penyataan, sesuatu yang dikerjakan oleh
‘BapaKu yang di surga’, yang begitu ditinggikan secara tak terbatas di atas
‘daging dan darah’. Terlihat dari luar
bahwa wahyu / penyataan di sini melampaui pengetahuan intelektual dan menjangkau
pada pengertian dan keyakinan rohani.).
Sampai
sini, kata-kata Lenski benar dan bisa saya terima. Tetapi perhatikan bagaimana
lanjutan kata-kata Lenski persis setelah kata-katanya yang ada di atas, yang
saya berikan di bawah ini.
Lenski:
“But
we must not suppose that the Father exercised either an arbitrary or an
irresistible will in regard to Peter. This revelation was not made to him
without means. The Father revealed Jesus to Peter through Jesus himself, and he
endeavors to do this in the case of all men by bringing Jesus into contact with
them. Verses 13, 14 show how in that day men refused
to receive the Father’s revelation and preferred their own foolish estimates
of Jesus. ... Only those know Jesus whose souls have come into living
touch with him through faith that is wrought by the Father’s revelation;
others, even when they call him God’s Son, do not know what they are saying.”
(= Tetapi kita tidak boleh menganggap bahwa Bapa
menggunakan atau suatu kehendak yang sewenang-wenang atau tidak bisa ditolak
berkenaan dengan Petrus. Wahyu / penyataan ini tidak dibuat kepadanya tanpa
jalan / cara. Bapa menyatakan Yesus kepada Petrus melalui Yesus sendiri, dan Ia
berusaha melakukan hal ini dalam kasus
dari semua orang dengan membawa Yesus ke dalam kontak dengan mereka.
Ay 13,14
menunjukkan bagaimana pada saat itu orang-orang menolak untuk menerima wahyu /
penyataan Bapa dan lebih memilih penilaian yang tolol dari mereka sendiri
tentang Yesus. ... Yang mengenal Yesus hanya mereka yang jiwanya
telah datang ke dalam sentuhan yang hidup dengan Dia melalui iman yang dikerjakan oleh wahyu /
penyataan Bapa; orang-orang lain, bahkan pada waktu mereka
menyebut / memanggilNya Anak Allah, tidak tahu apa yang mereka katakan.).
Mat
16:13-14 - “(13) Setelah Yesus tiba di
daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-muridNya: ‘Kata orang,
siapakah Anak Manusia itu?’ (14) Jawab mereka: ‘Ada yang mengatakan: Yohanes
Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia
atau salah seorang dari para nabi.’”.
Bagaimana
Lenski bisa mengucapkan kata-kata yang kontradiksi seperti ini betul-betul tidak
bisa saya mengerti.
Saya
berpendapat bahwa pada waktu Lenski memberikan ay 13-14 sebagai contoh dari
orang-orang yang sudah menerima wahyu / penyataan Bapa, tetapi tetap lebih
memilih penilaian yang tolol dari mereka sendiri, ini adalah sesuatu yang sangat
tolol dan tidak berdasar. Dari mana ia menyimpulkan bahwa orang-orang itu sudah
menerima wahyu / penyataan dari Bapa? Jelas bahwa mereka memang mengerti dan
berpendapat seperti itu (secara salah) tentang Yesus! Dan jelas bahwa mereka
belum / tidak mendapat wahyu / penyataan dari Bapa, bahkan jelas bahwa Bapa
menyembunyikan penyataan itu dari mereka.
Bdk.
Mat 11:25-27 - “(25) Pada waktu itu berkatalah Yesus: ‘Aku bersyukur kepadaMu,
Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu
Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau
nyatakan kepada orang kecil. (26) Ya Bapa, itulah yang berkenan
kepadaMu. (27) Semua telah diserahkan kepadaKu oleh BapaKu dan tidak seorangpun
mengenal Anak selain Bapa, dan tidak
seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan
menyatakannya.”.
Catatan:
text ini akan saya bahas di bawah (point 8).
Calvin
(tentang Mat 16:17): “‘Flesh
and blood hath not revealed it to thee.’ In the person of one man Christ
reminds all that we must ask faith from the Father, and acknowledge it to the
praise of his grace; for the special illumination of God is here contrasted with
flesh and blood. Hence we infer, that the minds of men are destitute of that
sagacity which is necessary for perceiving the mysteries of heavenly wisdom
which are hidden in Christ; and even that all the senses of men are deficient in
this respect, till God opens our eyes to perceive his glory in Christ. Let no
man, therefore, in proud reliance on his own abilities, attempt to reach it, but
let us humbly suffer ourselves to be inwardly taught by the Father of Lights,
(James 1:17,) that his Spirit alone may enlighten our darkness. And let those
who have received faith, acknowledging the blindness which was natural to them,
learn to render to God the glory that is due to Him.” [= ‘Daging dan
darah tidak menyatakannya kepadamu’. Dalam diri satu orang, Kristus
mengingatkan semua orang, bahwa kita harus meminta iman dari Bapa, dan
mengakuinya bagi kemuliaan kasih karuniaNya; karena pencerahan
khusus dari Allah di sini dikontraskan dengan daging dan darah. Maka
kami menyimpulkan, bahwa pikiran manusia tidak
mempunyai kecerdasan yang perlu untuk mengerti misteri-misteri dari hikmat
surgawi yang tersembunyi dalam Kristus; dan bahkan bahwa semua indera manusia
kurang dalam hal ini, sampai Allah membuka mata kita untuk mengerti kemuliaanNya
dalam Kristus. Karena itu, jangan ada orang, sambil bersandar dengan
bangga pada kemampuan-kemampuannya sendiri, berusaha untuk mencapainya, tetapi
hendaklah kita dengan rendah hati membiarkan diri kita untuk diajar secara batin
oleh Bapa segala terang, (Yak 1:17), sehingga RohNya saja bisa menerangi
kegelapan kita. Dan hendaklah mereka yang telah menerima iman, mengakui kebutaan
yang adalah alamiah bagi mereka, belajar untuk memberikan kepada Allah kemuliaan
yang adalah hakNya.].
Yak
1:17 - “Setiap
pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas,
diturunkan dari Bapa segala terang; padaNya tidak ada perubahan atau
bayangan karena pertukaran.”.
William
Hendriksen (tentang Mat 16:17): “In
continuing his address to Peter, Jesus emphasizes that ‘flesh and blood,’
that is, merely human calculation, cogitation, intuition, or tradition, could
never have produced in this disciple’s heart and mind the insight into the
sublime truth that he had just now so gloriously professed. ... It was, says
Jesus, ‘my Father who is in heaven’ who had disclosed this truth to Simon
Bar-Jonah and had enabled him to give buoyant expression to it.”
(= Dalam melanjutkan kata-kataNya kepada Petrus, Yesus menekankan bahwa
‘daging dan darah’, yaitu, semata-mata perhitungan, perenungan, intuisi,
atau tradisi manusia, tidak pernah bisa menghasilkan dalam hati dan pikiran dari
murid ini suatu pengertian ke dalam kebenaran yang agung yang sekarang baru ia
akui dengan begitu mulia. ... Adalah, kata Yesus,
‘BapaKu yang di surga’ yang telah menyatakan kebenaran ini kepada Simon bar
Yonah / bin Yunus dan telah memampukan dia untuk memberikan pernyataan yang
meluap / gembira kepadanya.).
8. Mat
11:25-27 - “(25) Pada waktu itu
berkatalah Yesus: ‘Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena
semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan
orang pandai, tetapi
Engkau nyatakan kepada
orang kecil. (26) Ya Bapa, itulah yang berkenan kepadaMu. (27) Semua
telah diserahkan kepadaKu oleh BapaKu dan tidak seorangpun mengenal Anak selain
Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan
menyatakannya.”.
Kata-kata bagian akhir “dan
orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya”,
dalam NASB diterjemahkan dengan lebih tepat
yaitu: ‘and anyone to whom the Son wills to reveal Him.’ (= dan siapapun kepada siapa Anak menghendaki untuk menyatakan Dia).
Adam
Clarke (tentang Mat 11:25):
“‘Wise
and prudent.’ The scribes and Pharisees, vainly puffed up by their fleshly
minds, and having their foolish hearts darkened, refusing to submit to the
righteousness of God (God’s method of saving man by Christ) and going about to
establish their own righteousness (their own method of saving themselves), they
rejected God’s counsel, and God sent the peace and salvation of the Gospel to
others, called here babes (his disciples), simple-hearted persons, who submitted
to be instructed and saved in God’s own way. Let it be observed, that our Lord
does not thank the Father that he had hidden these things from the wise and
prudent, but that, seeing they were hidden from them, he had revealed them to
the others.” [= ‘orang bijak dan
orang pandai’. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, secara sia-sia
menyombongkan diri oleh pikiran daging mereka, dan setelah hati mereka yang
tolol digelapkan, menolak untuk tunduk pada kebenaran Allah (metode Allah untuk
menyelamatkan manusia oleh Kristus) dan terus mendirikan kebenaran mereka
sendiri (metode mereka tentang menyelamatkan diri mereka sendiri), mereka
menolak rencana Allah, dan Allah mengirimkan damai dan keselamatan dari Injil
kepada orang-orang lain, menyebut mereka bayi-bayi (murid-muridNya), orang-orang
yang berhati sederhana, yang tunduk / menyerah untuk diajar dan diselamatkan
dengan cara Allah sendiri. Hendaklah diperhatikan, bahwa Tuhan kita tidak
bersyukur kepada Bapa bahwa Ia telah menyembunyikan hal-hal ini dari orang bijak
dan orang pandai, tetapi bahwa, melihat hal-hal itu disembunyikan dari mereka,
Ia telah menyatakan hal-hal itu kepada orang-orang lain.].
Catatan:
ini jelas merupakan tafsiran yang membengkokkan ayat. Ayatnya secara jelas
mengatakan Bapa yang menyembunyikan, dan Bapa
yang menyatakan, dan Yesus bersyukur untuk hal itu. Tetapi Clarke menafsirkan
dengan menekankan jasa orangnya yang menolak atau
menerima, sombong atau tunduk dan sebagainya.
Adam
Clarke (tentang Mat 11:27):
“‘No
man knoweth the Son, but the Father; neither knoweth any man the Father, save
the Son, and he to whomsoever the Son will reveal him.’ None can fully
comprehend the nature and atttributes of God, but Christ; and none can fully
comprehend the nature, incarnation, etc., of Christ, but the Father. The full
comprehension and acknowledgment of the Godhead, and the mystery of the Trinity,
belong to God alone.” (= ‘tidak
seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain
Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan
menyatakannya’. Tak seorangpun bisa mengerti sepenuhnya hakekat dan
sifat-sifat dari Allah, kecuali Kristus; dan tak seorangpun bisa mengerti
sepenuhnya hakekat, inkarnasi, dsb, dari Kristus, kecuali Bapa. Pengertian penuh
dan pengakuan tentang Allah, dan misteri tentang Tritunggal, adalah milik Bapa
saja.).
Catatan:
perhatikan bahwa kalimat terakhir dari ay 27 itu sama sekali tak dibahas.
Lenski
(tentang Mat 11:25): “in
the very word νήπιοι,
‘infants,’ lies the hint of the reason for thus blessing them.
... The act on account of which Jesus exalts his Father is a double one:
concealing certain things from wise and intellectual men and revealing them to
men who, compared with these, are nothing but babes. ... Yet in the designations
‘wise and intelligent men,’ on the one hand, and ‘infants,’ on the
other, the reason for God’s act is suggested. The wise and intelligent are
filled with their own wise and learned ideas, and thus God, finding them filled
and satisfied with what they have, can give them nothing. The infants, however,
are those who lack everything and realize their emptiness. They are the poor
that mourn and are meek and hunger and thirst, 5:3–6; 18:3; Phil. 3:8. Having
nothing, God can fill them with everything.”
(= dalam kata NEPIOI, ‘bayi-bayi’, terletak
petunjuk tentang alasan untuk memberkati mereka seperti itu. ...
Tindakan yang menyebabkan Yesus memuji Bapa adalah tindakan ganda:
menyembunyikan hal-hal tertentu dari orang bijak dan orang pandai dan menyatakan
hal-hal itu kepada orang-orang yang, dibandingkan dengan orang-orang ini,
hanyalah bayi-bayi. ... Tetapi dalam penunjukan
‘orang bijak dan orang pandai’, di satu sisi, dan ‘bayi-bayi’ di sisi
lain, alasan dari tindakan Allah dinyatakan secara implicit. Orang
bijak dan orang pandai dipenuhi dengan gagasan-gagasan bijak dan terpelajar
mereka sendiri, dan maka Allah, yang mendapati mereka penuh dan puas dengan apa
yang mereka miliki, tidak bisa memberi apa-apa kepada mereka. Tetapi bayi-bayi,
adalah mereka yang kekurangan segala sesuatu dan menyadari kekosongan mereka.
Mereka adalah orang-orang miskin yang berkabung dan lemah lembut dan lapar dan
haus, 5:3-6; 18:3; Fil 3:8. Karena mereka tak mempunyai apa-apa, Allah bisa
mengisi mereka dengan segala sesuatu.).
Mat
5:3-6 - “(3) ‘Berbahagialah orang
yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
(4) Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. (5)
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
(6) Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka
akan dipuaskan.”.
Mat 18:3
- “lalu berkata: ‘Aku berkata
kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak
kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”.
Fil 3:8
- “Malahan segala sesuatu kuanggap
rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada
semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya
sampah, supaya aku memperoleh Kristus,”.
Catatan:
sama dengan Clarke, Lenski menekankan ‘jasa’
manusianya, dan tafsiran ini berkebalikan dengan bunyi ayatnya.
Persoalannya adalah: apakah
manusia bisa membuat dirinya sendiri, dengan kekuatan dan kemauannya sendiri,
menjadi ‘bayi-bayi’?
Lenski
(tentang Mat 11:25): “The
Father’s action, therefore, comports with his whole plan of universal grace.
He arranged it so that nothing should be required of us, that all should come
from him. If high intellectual attainments on our part were required, this would
automatically shut out all who have no such attainments. If we had to bring
something, grace would be only partial and not complete on God’s part.
Moreover, the fact is that no man can bring anything and if he thinks he can, he
deceives himself. ... We must add, however, that no man is a νήπιος
by nature, be his education ever so primitive. 1 Cor. 1:26 makes it plain that
the sense of Christ’s word is not that the gospel is intended only for the
ignorant and not for the educated. The terms wise, intelligent, as well as
infants, are here used, not to describe men in their state before the gospel
comes to them, but as subsequent to its work upon them. Every man, even the most
ignorant, has some pet wisdom of his own with which he at first reacts against
the gospel of grace. By its power this gospel removes that pet wisdom and makes
men infants so that they receive everything from God. This work succeeds in the
case of some of the most learned and highly educated. But some cling to their
foolish wisdom in spite of all efforts of grace. Such were not only the scribes
and the Pharisees but the unlearned Jews as well who allowed these men to
influence them (v. 15–24). So today some of the worst opponents of the gospel
are those who follow the scientists and advanced religious thinkers of our time.
All these are the wise and intelligent referred to by Jesus.”
[= Karena
itu, tindakan Bapa sesuai dengan seluruh rencanaNya tentang kasih
karunia yang bersifat universal. Ia
mengaturnya sehingga tak ada apapun yang harus dituntut dari kita, sehingga
semua harus datang dari Dia. Jika pencapaian intelektual yang tinggi dituntut
dari kita, ini akan secara otomatis menutup semua yang tidak mempunyai
pencapaian seperti itu. Jika kita harus membawa sesuatu, kasih karunia hanya
sebagian saja dan bukan sepenuhnya, merupakan bagian Allah. Lebih lagi, faktanya
adalah bahwa tak ada orang bisa membawa apapun dan jika ia mengira ia bisa, ia
menipu dirinya sendiri. ... Tetapi
kami harus menambahkan bahwa tak seorangpun adalah seorang NEPIOS (bayi)
secara alamiah, sekalipun pendidikannya begitu primitif.
1Kor 1:26 membuat jelas bahwa arti dari kata-kata Kristus bukanlah bahwa injil
dimaksudkan hanya untuk orang-orang bodoh dan bukan untuk orang-orang
terpelajar. Istilah-istilah bijak, pandai, maupun
bayi, digunakan di sini, bukan untuk menggambarkan manusia dalam keadaan sebelum
injil datang kepada mereka, tetapi sebagai mengikuti pekerjaannya pada mereka.
Setiap orang, bahkan yang paling bodoh, mempunyai sedikit hikmat khusus dari
dirinya sendiri dengan mana ia mula-mula bereaksi terhadap injil kasih karunia. Oleh
kuasanya injil ini menyingkirkan hikmat khusus itu dan membuat manusia bayi-bayi
sehingga mereka menerima segala sesuatu dari Allah. Pekerjaan
ini berhasil dalam kasus dari sebagian / beberapa dari orang-orang yang paling
terpelajar dan berpendidikan tinggi. Tetapi sebagian / beberapa bepegang
erat-erat pada hikmat bodoh mereka sekalipun ada semua usaha-usaha dari kasih
karunia. Yang seperti itu
bukan hanya ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi tetapi juga orang-orang
Yahudi yang tak terpelajar yang mengijinkan orang-orang ini mempengaruhi mereka
(ay 15-24). Demikianlah pada jaman ini sebagian / beberapa dari
penentang-penentang yang terburuk dari injil adalah mereka yang mengikuti para
ilmuwan dan pemikir-pemikir agamawi yang maju / terkemuka dari jaman kita. Semua
ini adalah orang-orang bijak dan orang-orang pandai yang ditunjuk oleh Yesus.].
Catatan:
bagi saya, kata-kata Lenski ini begitu saling bertentangan satu sama lain. Yang
saya beri garis bawah tunggal kelihatannya merupakan kepercayaan Arminian,
sedangkan yang saya beri garis bawah ganda kelihatannya merupakan kepercayaan
Reformed. Jadi, ia kelihatannya terombang-ambing di antara kedua kepercayaan
ini.
Lenski
(tentang Mat 11:26): “Yet
why the Father did what he did calls for an explanation. One explanation we have
noted, the one that speaks of the persons concerned. But this takes us only
halfway. The profoundest reason lies in the Father himself. And this Jesus gives
us by saying that it was his εὐδοκία.
... This is not an arbitrary, incomprehensible will or decree but the ‘good
pleasure’ or ‘good thought’ of God, his gracious purpose and will of
salvation, as the following clear passages show: Eph. 1:5, 9; Phil. 2:13; 2
Thess 1:11; Luke 12:32; 2 Pet. 1:17. ... The ultimate source of our salvation is
this great εὐδοκία.
When God’s acts (concealing, revealing) are traced back to this source, the
ultimate point is reached. If man was to be saved, God had to save him by his
‘good thought’ or εὐδοκία,
by devising means and ways that were in harmony with him who devised them.” [= Tetapi
mengapa Bapa melakukan apa yang Ia lakukan membutuhkan suatu penjelasan. Satu
penjelasan telah kami perhatikan, yang berbicara tentang orang-orang yang
bersangkutan. Tetapi ini membawa kita hanya setengah jalan. Alasan
terdalam terletak dalam Bapa sendiri. Dan ini diberikan Yesus kepada kita dengan
mengatakan bahwa itu adalah EUDOKIA-Nya. ... Ini bukanlah kehendak
atau ketetapan yang sewenang-wenang dan tidak bisa dimengerti tetapi ‘perkenan
yang baik’ atau ‘pemikiran yang baik’ dari Allah, rencana dan kehendakNya
yang murah hati / bersifat kasih karunia tentang keselamatan, seperti yang
ditunjukkan oleh text-text yang jelas berikut ini: Ef
1:5,9; Fil 2:13; 2Tes 1:11; Luk 12:32; 2Pet. 1:17. ... Sumber
terakhir / tertinggi dari keselamatan kita adalah EUDOKIA yang besar / agung ini.
Pada waktu tindakan-tindakan Allah (menyembunyikan, menyatakan) ditelusuri
kepada sumber ini, titik terakhir / tertinggi dicapai. Jika manusia harus
diselamatkan, Allah harus menyelamatkan dia oleh ‘pemikiran baik’ atau
EUDOKIA, dengan merencanakan cara-cara dan jalan-jalan yang sesuai dengan Dia
yang merencanakannya.].
Ef 1:5,9
- “(5) Dalam kasih Ia telah menentukan
kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan
kerelaan kehendakNya, ... (9) Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendakNya
kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaanNya, yaitu rencana kerelaan yang dari
semula telah ditetapkanNya di dalam Kristus”.
Fil 2:13
- “karena Allahlah yang mengerjakan di
dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaanNya.”.
2Tes
1:11 - “Karena itu kami senantiasa
berdoa juga untuk kamu, supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi
panggilanNya dan dengan kekuatanNya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik
dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu,”.
Luk 12:32
- “Janganlah takut, hai kamu kawanan
kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu.”.
2Pet
1:17 - “Kami menyaksikan, bagaimana Ia
menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepadaNya suara
dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: ‘Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah
Aku berkenan.’”.
Catatan:
saya tak mengerti apa hubungannya ayat terakhir ini, sehingga bisa dijadikan
ayat referensi.
Dalam
bagian ini Lenski kelihatannya menjadi Reformed, sekalipun tetap ada bau
Arminian dalam kata-katanya!
Lenski
(tentang Mat 11:27):
“The
third statement follows: ‘and he to whom,’ etc. Luther writes that here
there is no reluctance on the part of the Son to reveal the Father but the vast
condescension of the Son of this Lord of heaven and earth (v. 25). He to whom
all things have been given speaks here. ‘He to whom,’ etc., has reference to
the ‘infants’ mentioned in V. 25. In BOULETAI we have the EUDOKIA; the
Father’s good pleasure and the Son’s will are one. This
is not an arbitrary selection of persons who are admitted to this knowledge but
the pure grace which fills all whom it can induce to discard their own empty and
haughty wisdom. The strong verb EPIGINOSKEIN applies also to these
persons. They shall know with real experimental heart knowledge as children know
their Father on the basis of all the manifestations of his fatherhood and his
love. This is supreme spiritual blessedness but a closed book to the wise and
intelligent of this world. Only by the Son’s revelation can any man really
know the Father and by no wisdom of his own. ‘Here
the bottom falls out of all merit, all powers and abilities of reason, or the
free will men dream of, and it all counts nothing before God; Christ must do and
must give everything.’ Luther. Jesus wills to reveal the Father
only through his own person, work, and Word, John 14:6; 9–11; for in no other
way can a poor sinner ever come to know God.”
[= Pernyataan
ketiga mengikuti: ‘dan ia yang kepadanya’, dst.
Luther menulis bahwa di sini tidak ada keengganan dari Anak untuk menyatakan
Bapa tetapi perendahan yang sangat besar dari Anak dari Tuhan surga / langit dan
bumi ini (ay 25). Ia kepada siapa segala sesuatu telah diberikan berbicara di
sini. ‘Ia yang kepadanya’, dst., mempunyai referensi / hubungan dengan
‘bayi-bayi’ yang disebutkan dalam ay 25. Dalam BOULETAI (=
menghendaki) kita mempunyai EUDOKIA (= berkenan); perkenan yang baik dari Bapa dan kehendak Anak adalah satu. Ini bukanlah suatu penyeleksian yang sewenang-wenang dari
orang-orang yang diterima pada pengenalan ini tetapi kasih karunia murni yang
mengisi semua yang bisa dibujuknya untuk membuang hikmat mereka sendiri yang
kosong dan sombong. Kata kerja yang
keras EPIGINOSKEIN (= mengenal)
juga diterapkan kepada orang-orang ini. Mereka akan mengenal dengan pengenalan
hati yang bersifat pengalaman yang nyata seperti anak-anak mengenal Bapa mereka
berdasarkan semua manifestasi dari kebapaannya dan kasihnya. Ini adalah
keberkatan rohani yang tertinggi tetapi suatu kitab yang tertutup bagi orang
bijak dan orang pandai dari dunia ini. Hanya oleh penyataan / wahyu Anak maka
manusia manapun bisa dengan sungguh-sungguh mengenal Bapa dan bukan oleh
hikmatnya sendiri. ‘Di sini dasar dari semua jasa
rontok, semua kuasa dan kemampuan dari akal, atau kehendak bebas yang dimimpikan
manusia, dan itu semua tak ada nilainya di hadapan Allah; Kristus harus
melakukan dan harus memberikan segala sesuatu’ (Luther). Yesus
menghendaki untuk menyatakan Bapa hanya melalui diriNya sendiri, pekerjaanNya,
dan FirmanNya, Yoh 14:6; 9-11; karena tidak ada jalan lain dalam mana seorang
berdosa pernah bisa mengenal Allah.].
Yoh 14:6,9-11
- “(6) Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.
Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. ... (9)
Kata Yesus kepadanya: ‘Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun
engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa;
bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. (10) Tidak
percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku
katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri, tetapi Bapa, yang diam
di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaanNya. (11) Percayalah kepadaKu,
bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah
karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.”.
William
Hendriksen (tentang Mat 11:27):
“Since
the Son knows the Father he, he alone, is able to reveal him, and does reveal
him (John 1:18; 6:46; 14:8–11). Therefore to the words ‘nor does anyone know
the Father but the Son’ there is added: ‘and
he to whom the Son is willing to reveal (him).’ This must not be
interpreted to mean that the Son is reluctant to reveal the Father, for just a
moment ago (verse 25) the Son has been praising the Father for having revealed
salvation to his humble children. The words indicate that the salvation of
God’s children is dependent not upon anything in man but solely upon
revelation, and that this revelation, in turn, is based solely upon the will and
delight of both the Father and the Son, for not only as to essence but also as
to purpose Father and Son are one (John 10:30). From start to finish therefore
salvation is based on sovereign grace.” [= Karena
Anak mengenal Bapa, Ia, Ia sendiri, bisa menyatakan Dia, dan memang menyatakan
Dia (Yoh 1:18; 6:46; 14:8-11). Karena itu kepada kata-kata ‘tak seorangpun
mengenal Bapa kecuali Anak’ di sana ditambahkan ‘dan ia kepada siapa Anak
itu menghendaki untuk menyatakan (Dia)’. Ini tidak boleh ditafsirkan untuk
berarti bahwa Anak itu enggan untuk menyatakan Bapa, karena sesaat yang lalu
(ayat 25) Anak telah memuji Bapa karena telah menyatakan keselamatan kepada
anak-anakNya yang rendah hati / sederhana. Kata-kata itu menunjukkan bahwa keselamatan dari anak-anak
Allah tergantung bukan pada apapun dalam diri manusia tetapi semata-mata pada
wahyu / penyataan dan wahyu / penyataan ini, dalam urut-urutannya, didasarkan
semata-mata pada kehendak dan kesenangan dari baik Bapa dan Anak,
karena bukan hanya berkenaan dengan hakekat tetapi juga berkenaan dengan tujuan
/ rencana Bapa dan Anak adalah satu (Yoh 10:30). Karena
itu, dari awal sampai akhir, keselamatan didasarkan pada kasih karunia yang
berdaulat.].
Yoh 1:18
- “Tidak seorangpun yang pernah melihat
Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang
menyatakanNya.”.
Yoh
6:46 - “Hal itu tidak berarti, bahwa
ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang
telah melihat Bapa.”.
Yoh 14:8-11
- “(8) Kata Filipus kepadaNya:
‘Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.’ (9)
Kata Yesus kepadanya: ‘Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun
engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa;
bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. (10) Tidak
percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku
katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri, tetapi Bapa, yang diam
di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaanNya. (11) Percayalah kepadaKu,
bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah
karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.”.
Calvin
(tentang Mat 11:27):
“‘None knoweth the Father except the Son, and he to whom the Son shall
be pleased to reveal him.’ ... The passage may be thus summed up: First, it is
the gift of the Father, that the Son is known, because by his Spirit he opens
the eyes of our mind to discern the glory of Christ, which otherwise would have
been hidden from us.” (= ‘Tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak,
dan ia kepada siapa Anak itu berkenan menyatakan Dia.’ Text ini bisa
disimpulkan seperti ini: Pertama, itu merupakan karunia dari Bapa, bahwa Anak
itu dikenal, karena oleh RohNya Ia membuka mata dari pikiran kita untuk melihat
kemuliaan Kristus, yang kalau tidak akan tersembunyi dari kita.).
9. 2Pet 1:1 - “Dari Simon
Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang
bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh
karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.”.
Bagian
yang saya garis-bawahi itu kurang terjemahannya.
KJV:
‘to them that have obtained
like precious faith with us’ (= kepada mereka yang telah mendapatkan
iman yang sama berharganya dengan kita).
RSV: ‘To those who have
obtained a faith of equal standing
with ours’ (= Kepada mereka yang telah mendapatkan
suatu iman yang kedudukannya setara
dengan iman kita).
NIV: ‘To those who
... have received a
faith as precious as ours’ (= Kepada mereka yang ... telah menerima
suatu iman yang sama berharganya dengan
iman kita).
NASB: ‘To those who
have received a faith
of the same kind as ours’ (= Kepada mereka yang telah menerima
suatu iman dari jenis yang sama seperti
iman kita).
Adam Clarke sama sekali
tidak membahas kata ‘memperoleh’ / ‘mendapatkan’
/ ‘menerima’ ini.
Calvin: “This
is a commendation of the grace which God had indiscriminately shewed to all his
elect people; for it was no common gift, that they had all been called to one
and the same faith, ...” (= Ini adalah suatu pujian /
penghargaan tentang kasih karunia yang Allah telah tunjukkan secara tak pandang
bulu kepada semua orang-orang pilihanNya; karena itu bukanlah pemberian umum,
bahwa mereka semua telah dipanggil kepada iman yang satu dan yang sama, ...).
Matthew
Henry: “This
precious faith is obtained of God. Faith is the gift of God, wrought by the
Spirit, who raised up Jesus Christ from the dead.” (= Iman yang berharga ini didapatkan dari
Allah. Iman adalah karunia / pemberian
dari Allah, dikerjakan oleh Roh, yang membangkitkan Yesus dari antara
orang mati.).
Lenski: “Λαγχάνω
means ‘to obtain by lot’ and then simply ‘to obtain,’ yet not without
the connotation expressed in Acts 11:17, the fact that God gave
them this valuable gift, their faith.” (= Lankhano
berarti ‘mendapatkan oleh undian’ dan lalu sekedar ‘mendapatkan’, tetapi
bukannya tanpa konotasi / pengertian tambahan yang dinyatakan dalam Kis 11:17,
fakta bahwa Allah memberikan mereka karunia / pemberian yang berharga ini, iman
mereka.).
Kis 11:15-17 - “(15) Dan ketika aku mulai
berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti dahulu ke atas kita.
(16) Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes membaptis dengan air,
tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus. (17) Jadi jika Allah memberikan karuniaNya
kepada mereka sama seperti kepada kita pada waktu kita mulai percaya kepada
Yesus Kristus, bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia?’”.
Catatan:
a. Saya
berpendapat bahwa Lenski salah dalam menggunakan ayat. Kis 11:17 itu kalau
dilihat dari ayat-ayat yang mendahuluinya, menunjukkan bahwa karunia yang
dimaksudkan dalam ay 17nya bukanlah iman tetapi karunia Roh Kudus atau Roh
Kudusnya sendiri.
b. Dalam
kutipan dari Lenski ini, saya tak mengerti apa yang ia maksudkan pada bagian
yang saya garis-bawahi.
Pulpit
Commentary: “The word rendered ‘obtained’ (TOIS LAKHOUSIN) means properly
‘to obtain by lot,’ as in Luke 1:9. It is noticeable that one of the few
places in which it occurs in the New Testament is in a speech of St. Peter’s
(Acts 1:17); its use here implies that faith is a gift
of God” [= Kata
yang diterjemahkan ‘mendapatkan / menerima / memperoleh’ (TOIS LAKHOUSIN)
sebetulnya berarti ‘mendapatkan oleh undian’, seperti dalam Luk 1:9.
Bisa terlihat dengan jelas bahwa salah satu dari beberapa tempat dimana kata itu
muncul dalam Perjanjian Baru adalah dalam khotbah Santo Petrus (Kis 1:17); penggunaannya
di sini secara implicit menunjukkan bahwa iman adalah suatu karunia dari Allah].
Luk 1:9 - “Sebab
ketika diundi, sebagaimana lazimnya,
untuk menentukan imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk untuk masuk ke dalam
Bait Suci dan membakar ukupan di situ.”.
Kis 1:17 - “Dahulu ia
termasuk bilangan kami dan mengambil bagian
di dalam pelayanan ini.’”.
Bible
Knowledge Commentary: “‘Received’
is from the unusual verb lanchano,
‘to obtain by lot’ (cf. Luke 1:9; John 19:24). This implies God’s
sovereign choice rather than anything they might have done to deserve such a
gift” [= Kata ‘menerima’ berasal dari kata kerja yang tidak umum /
luar biasa LANKHANO,
‘mendapatkan oleh undian’ (bdk. Luk 1:9; Yoh 19:24). Ini
secara implicit menunjukkan pemilihan yang berdaulat dari Allah dan bukannya
dari apapun yang mereka telah lakukan untuk layak mendapatkan karunia seperti
itu].
Luk 1:9
- “Sebab ketika diundi, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan imam yang
bertugas, dialah yang ditunjuk untuk masuk ke dalam Bait Suci dan membakar
ukupan di situ”.
Yoh 19:24
- “Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain: ‘Janganlah kita
membaginya menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi
untuk menentukan siapa yang mendapatnya.’ Demikianlah hendaknya supaya
genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci: ‘Mereka membagi-bagi pakaianKu di
antara mereka dan mereka membuang undi atas jubahKu.’ Hal itu telah dilakukan
prajurit-prajurit itu”.
Mengapa Petrus menggunakan
kata kerja yang sebetulnya berarti ‘mendapatkan oleh
undian’? Apakah dalam melakukan pemilihan, Tuhan melakukannya dengan
pengundian? Tentu tidak. Perhatikan penjelasan dari Jamieson, Fausset &
Brown di bawah ini.
Jamieson, Fausset &
Brown: “Divine
election is as independent of man’s control, as the lot which is cast forth.” (= Pemilihan ilahi sama tak
tergantungnya pada kendali manusia, seperti undian yang dilemparkan.).
Bdk. Amsal 16:33 - “Undi
dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya
berasal dari pada TUHAN.”.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali