(Rungkut Megah
Raya Blok D No 16)
Rabu, tgl 24
Juli 2013, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
[HP: (031)
70641331 / (031) 60501331 / 081945588855]
Barnes’
Notes (tentang Ibr 12:2): “The
word ‘author’ - archeegon
- (marg. beginner) - means properly the source, or cause of
anything; or one who makes a beginning. ... The phrase ‘the beginner of
faith,’ or the leader on of faith, would express the idea. He is at the head
of all those who have furnished an example of confidence in God, for he was
himself the most illustrious instance of it. The expression, then, does not mean
properly that he produces faith in us, or that we believe because he causes us
to believe - whatever may be the truth about that - but that he stands at the
head as the most eminent example that can be referred to on the subject of
faith. ... The word ‘finisher’ - teleiooteen
- corresponds in meaning with the word ‘author.’ It means that
he is the completer as well as the beginner; the last as well as the first.”
[= Kata
‘pencipta’ - ARKHEGON - (catatan tepi - pemulai) - secara tepat berarti
sumber, atau penyebab dari apapun; atau seseorang yang membuat suatu pemulaian.
... Ungkapan ‘pemulai dari iman’, atau pemimpin dari iman, menyatakan
gagasan / artinya. Ia adalah kepala dari semua mereka, yang telah memberikan
suatu teladan tentang keyakinan kepada Allah, karena Ia sendiri adalah contoh
yang paling menonjol darinya. Maka, ungkapan itu secara tepat tidak berarti
bahwa Ia menghasilkan iman di dalam kita, atau bahwa kita percaya karena Ia
menyebabkan kita untuk percaya - apapun adanya kebenaran tentang itu - tetapi
bahwa Ia berdiri sebagai kepala seperti contoh yang paling menonjol yang bisa
ditunjukkan dalam persoalan tentang iman. ... Kata ‘penyelesai’ - TELEIOTEN - sesuai
/ cocok dalam arti dengan kata ‘pencipta’. Itu berarti bahwa Ia adalah
penyempurna maupun pemulai; yang terakhir maupun yang pertama.].
Catatan:
saya hanya menekankan bagian yang saya garis-bawahi. Bagian tengah dari kutipan
kata-kata Barnes ini bagi saya sangat tidak masuk akal, dan bertentangan dengan
bagian yang saya garis-bawahi. Itu juga secara tepat sudah dibantah oleh
kata-kata Lenski di atas, maupun oleh kata-kata Abraham Kuyper di bawah ini.
Abraham
Kuyper: “Hence it may not be said that Jesus had saving faith. For Jesus was no
sinner, and therefore could not have ‘that assured confidence that not only to
others, but to Him also, was given the righteousness of the Mediator.’ We have
only to connect the name of Jesus with the clear and transparent description of
saving faith by the Heidelberg Catechism to show how foolish it is for the
Ethical theologians to explain the words, ‘Jesus, the Author and Finisher of
our faith,’ as tho He had saving
faith like every child of God. Hence saving faith is unthinkable in heaven.
Faith is saving; and he that is
saved has obtained the end of faith. He no longer walks by faith, but by sight.
It should therefore be thoroughly understood that saving faith refers only to
the sinner, and that Christ in the garments of the Sacred Scripture is
its only object.” (= Maka tidak bisa / tidak boleh
dikatakan bahwa Yesus mempunyai iman yang menyelamatkan. Karena Yesus
bukan orang berdosa, dan karena itu tidak bisa mempunyai ‘keyakinan yang pasti
itu yang bukan hanya kepada orang-orang lain, tetapi kepada Dia juga, diberikan
kebenaran dari sang Pengantara.’ Kita hanya harus menghubungkan nama Yesus
dengan penggambaran yang jelas dan nyata tentang iman yang menyelamatkan oleh
Katekismus Heidelberg untuk menunjukkan betapa
bodohnya bagi ahli-ahli theologia Etika untuk menjelaskan kata-kata ‘Yesus,
Pencipta dan Penyelesai dari iman kita’ seakan-akan Ia mempunyai iman yang
menyelamatkan seperti setiap anak Allah. Jadi,
iman yang menyelamatkan merupakan sesuatu yang tak terpikirkan di surga.
Iman itu menyelamatkan; dan ia yang sudah selamat (maksudnya
‘sudah masuk surga’) telah memperoleh tujuan dari iman. Ia
tidak lagi berjalan dengan iman, tetapi dengan penglihatan. Karena
itu, harus dimengerti secara teliti / sepenuhnya
bahwa iman yang menyelamatkan hanya menunjuk kepada orang berdosa,
dan bahwa Kristus dalam pakaian dari Kitab Suci yang Kudus adalah satu-satunya
obyeknya.) - ‘The Work of the Holy Spirit’, hal 397.
Ro 8:24
- “Sebab kita
diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana
orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?”.
Ibr
11:1 - “Iman
adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti
dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”.
Dari dua ayat di atas jelaslah bahwa kalau kita sudah di surga, dan sudah
melihat semuanya, maka tidak ada lagi iman!
John
Owen (tentang Ibr 12:2):
“he works it in us, or bestows it on us, by his Spirit, in the beginning
and all the increases of it from first to last. Hence his disciples prayed unto
him, ‘Lord, increase our faith,’ Luke 17:5. ... So he is the ‘author’ or
beginner of our faith, in the efficacious working of it in our hearts by his
Spirit; and ‘the finisher’ of it in all its effects, in liberty, peace, and
joy, and all the fruits of it in obedience: for ‘without him we can do
nothing.’” [= Ia mengerjakannya (iman)
di dalam kita, atau memberikannya kepada kita, oleh RohNya, pada mulanya /
awalnya dan semua peningkatannya / pertumbuhannya dari pertama sampai akhir.
Karena itu murid-muridNya berdoa kepadaNya, ‘Tuhan, tambahkanlah iman kami’,
Luk 17:5. ... Jadi, Ia adalah ‘pencipta’ atau
pemulai dari iman kita, dalam pekerjaan yang mujarab tentangnya dalam hati kita
oleh RohNya; dan ‘penyelesai’ darinya dalam semua hasil-hasilnya,
dalam kebebasan, damai, dan sukacita, dan semua buah-buah darinya dalam
ketaatan: karena ‘tanpa Dia / di luar Dia kita tidak bisa berbuat apa-apa’.]
- ‘Hebrew 12’, hal 25-26 (AGES).
Luk 17:5
- “Lalu kata rasul-rasul itu kepada
Tuhan: ‘Tambahkanlah iman kami!’”.
Yoh 15:5
- “Akulah pokok anggur dan kamulah
ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia
berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat
berbuat apa-apa.”.
John
Owen (tentang Ibr 12:2): “‘the
author and finisher of our faith.’ - He both begins it in us, and carries it
on unto perfection.” [= ‘pencipta dan penyelesai dari iman kita’ - Ia
memulainya di dalam kita, dan meneruskannya / melanjutkannya sampai pada
kesempurnaan.] - ‘Hebrew
12’, hal 27 (AGES).
5. 2Kor
4:13 - “Namun karena kami memiliki roh
iman yang sama, seperti ada tertulis: ‘Aku percaya, sebab itu aku
berkata-kata’, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.”.
Adam
Clarke (tentang 2Kor 4:13):
“‘We
having the same spirit of faith.’ As David had when he wrote Ps 116:10: ‘I
believed, therefore have I spoken’: we also believe that we shall receive the
fulfilment of all God’s promises; and being fully convinced of the truth of
the Christian religion, we speak and testify that our deliverance is from God;
and that he does not fail those who trust in him; and that he saves to the
uttermost them who come unto him through Christ Jesus.” (= ‘Kamu mempunyai roh iman yang
sama’. Seperti yang Daud punyai ketika ia menulis Maz 116:10: ‘Aku percaya,
karena aku telah berbicara’: kita juga percaya bahwa kita akan menerima
penggenapan dari semua janji-janji Allah; dan karena sepenuhnya diyakinkan
tentang kebenaran dari agama Kristen, kita berbicara dan menyaksikan bahwa
pembebasan kita adalah dari Allah; dan bahwa Ia
tidak meninggalkan / mengecewakan mereka yang percaya kepadaNya; dan bahwa Ia
menyelamatkan sampai akhir mereka yang datang kepadaNya melalui Yesus Kristus.).
Catatan:
a. Maz 116:10 - “Aku
percaya, sekalipun aku berkata: ‘Aku ini sangat tertindas.’”.
KJV:
‘I believed,
therefore have I spoken’ (= Aku percaya,
karena itu aku telah berbicara).
RSV:
‘I kept my
faith, even when I said,’ (= Aku
memelihara imanku, bahkan / yaitu pada waktu aku berkata,).
NIV:
‘I believed;
therefore I said’ (= Aku percaya; karena
itu aku berkata).
NASB:
‘I believed
when I said,’ (= Aku percaya pada waktu
aku berkata).
b.
Adam Clarke sama sekali tak menyinggung arti dari kata-kata ‘spirit
of faith’ / ‘roh iman’! Dan kata-katanya pada bagian akhir membuat
saya heran, bagaimana dengan mengatakan kata-kata seperti itu ia bisa percaya
bahwa keselamatan bisa hilang.
Calvin
(tentang 2Kor 4:13):
“By metonymy, he gives the name of ‘the spirit of faith’ to faith
itself, because it is a gift of the Holy Spirit.” (= Oleh suatu metonymy,
ia memberikan sebutan ‘roh iman’ kepada iman itu sendiri, karena
itu adalah suatu karunia dari Roh Kudus.).
Catatan:
kata ‘metonymy’
berarti ‘use of the name of one thing for that of another assossiated with or
suggested by it’ (= penggunaan nama / sebutan dari satu hal untuk untuk
hal yang lain yang berhubungan dengannya atau dikesankan ditunjukkan secara tak
langsung olehnya) - ‘Webster’s New World
Dictionary’.
Charles Hodge (tentang 2Kor 4:13): “‘That
same spirit of faith.’
‘Spirit of faith’ may be a
way of saying faith itself, or the word ‘spirit’
may refer to ‘the human spirit,’ and the whole would then mean, ‘having
the same believing spirit.’ It is more in accordance with scriptural usage,
and especially with Paul’s manner, to make ‘spirit’
refer to ‘the Holy Spirit,’ who is so often designated from the effects that
he produces. (= ‘Roh iman yang
sama itu’. ‘Roh iman’ bisa menjadi suatu cara untuk mengatakan ‘iman itu
sendiri’, atau kata ‘roh’ bisa
menunjuk pada ‘roh manusia’, dan maka seluruhnya akan berarti ‘mempunyai
roh percaya yang sama’. Adalah lebih sesuai dengan
penggunaan yang Alkitabiah, dan khususnya dengan cara Paulus, untuk membuat
‘roh’ menunjuk kepada ‘Roh Kudus’, yang begitu sering ditunjukkan /
disebutkan dari hasil / akibat yang Ia hasilkan.).
Hodge
lalu memberi beberapa contoh:
a. Roh
Kudus disebut ‘Roh ke-anak-an’.
Ro
8:15 - “Sebab kamu tidak menerima roh
perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh
yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya
Abba, ya Bapa!’”.
KJV:
‘the Spirit of
adoption’ (= Roh adopsi).
RSV:
‘the spirit of
sonship’ (= roh ke-anak-an).
NIV:
‘the Spirit of
sonship’ (= Roh ke-anak-an).
NASB:
‘a spirit of
adoption’ (= suatu roh adopsi).
Kata
Yunani yang diterjemahkan ‘adoption’ / ‘sonship’
adalah HUIOTHESIAS, yang berarti ‘pengadopsian
sebagai anak’ (Bible Works 7).
b. Roh
Kudus disebut ‘Roh hikmat’.
Ef
1:17 - “dan meminta kepada Allah Tuhan
kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh
hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.”.
c. Roh
Kudus disebut ‘Roh kasih karunia’.
Ibr 10:29
- “Betapa lebih beratnya hukuman yang
harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang menganggap
najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh
kasih karunia?”.
d. Roh
Kudus disebut ‘Roh kemuliaan’.
1Pet 4:14
- “Berbahagialah kamu, jika kamu
dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan,
yaitu Roh Allah ada padamu.”.
Untuk
ayat yang terakhir ini saya merasa tidak tepat penggunaannya, karena saya
beranggapan bahwa ‘Roh Kemuliaan’ bukan berarti ‘Roh yang memberi kemuliaan’
tetapi ‘Roh yang mulia’. Bandingkan dengan istilah ‘The
Lord of glory’ bagi Yesus dalam 1Kor 2:8, yang jelas berarti ‘Tuhan yang
mulia’.
Jadi,
kalau Roh Kudus disebut ‘Roh iman’, itu menunjukkan bahwa Ia adalah pemberi
/ penyebab dari iman itu.
6. Yoh
1:12-13 - “(12) Tetapi semua orang yang
menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak
Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya; (13) orang-orang
yang diperanakkan bukan dari darah atau dari
daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan
dari Allah.”.
Adam
Clarke (tentang Yoh 1:13):
“‘Which
were born, not of blood.’ Who were regenerated, ouk
ex
haimatoon,
not of bloods - the union of father and mother, or of a distinguished or
illustrious ancestry; for the Hebrew language makes use of the plural to point
out the dignity or excellence of a thing: and probably by this the evangelist
intended to show his countrymen, that having Abraham and Sarah for their parents
would not entitle them to the blessings of the new covenant; as
no man could lay claim to them, but in consequence of being born of God;
therefore, neither the will of the flesh - anything that the corrupt heart of
man could purpose or determine in its own behalf; nor the will of man - anything
that another may be disposed to do in our behalf, can avail here; this new birth
must come through the will of God - through his own unlimited power and
boundless mercy, prescribing salvation by
Christ Jesus alone. It has been already observed that the Jews
required circumcision, baptism, and sacrifice, in order to make a proselyte.
They allow that the Israelites had in Egypt cast off circumcision, and were
consequently out of the covenant; but at length they were circumcised, and they
mingled the blood of circumcision with the blood of the paschal lamb, and from
this union of bloods they were again made the children of God. See Lightfoot.
This was the only way by which the Jews could be made the sons of God; but the
evangelist shows them that, under the Gospel dispensation, no person could
become a child of God, but by being spiritually regenerated.”
(= ‘Yang diperanakkan, bukan dari darah’. Yang dilahirbarukan, OUK EX
HAIMATON, ‘bukan dari darah-darah’ - persatuan dari ayah dan ibu, atau dari
suatu keturunan yang terhormat / terkemuka atau termasyhur; karena
bahasa Ibrani menggunakan bentuk jamak untuk menunjukkan kewibawaan atau
keunggulan dari sesuatu: dan mungkin oleh hal ini sang penginjil
bermaksud untuk menunjukkan bahwa mempunyai Abraham dan Sara sebagai orang tua /
nenek moyang mereka tidak akan membuat mereka berhak atas berkat-berkat dari
perjanjian baru; karena tak ada orang yang bisa
meletakkan claim kepada mereka, tetapi sebagai konsekwensi dari kelahiran dari
Allah; karena itu, bukan karena kehendak dari daging - apapun yang hati yang
jahat dari manusia bisa rencanakan atau putuskan untuk kepentingannya sendiri;
juga bukan dari kehendak manusia / orang laki-laki - apapun yang orang lain bisa
/ mungkin tentukan untuk lakukan demi kepentingan kita, bisa berguna di sini;
kelahiran baru ini harus datang melalui kehendak Allah - melalui kuasaNya
sendiri yang tak terbatas dan belas kasihanNya yang tak terbatas, menentukan
keselamatan oleh Yesus Kristus saja. Telah pernah diamati
bahwa orang-orang Yahudi menuntut / mensyaratkan sunat, baptisan, dan korban,
untuk membuat seorang proselit. Mereka mengijinkan bahwa orang Israel di Mesir
telah membuang sunat, dan sebagai akibatnya ada di luar perjanjian; tetapi
akhirnya mereka disunat, dan mereka mencampur darah dari sunat dengan darah dari
domba Paskah, dan dari persatuan darah-darah ini mereka dibuat lagi menjadi
anak-anak Allah. Lihat Lighfoot. Ini adalah satu-satunya cara dengan mana
orang-orang Yahudi bisa dibuat menjadi anak-anak Allah; tetapi sang
penginjil menunjukkan kepada mereka bahwa, di
bawah jaman Injil, tak ada orang bisa menjadi
seorang anak Allah, kecuali dengan dilahirkan baru secara rohani.).
Catatan:
a. Saya
tidak terlalu percaya bagian yang saya beri garis bawah ganda, sekalipun hal itu
dinyatakan oleh banyak penafsir. Teori itu digunakan oleh para Unitarian /
Saksi-Saksi Yehuwa untuk menafsirkan kata-kata bentuk jamak yang dipakai untuk
menunjuk kepada Allah, hanya dalam arti ini, untuk menghindari doktrin Allah
Tritunggal.
b. Bagian
yang saya cetak dengan huruf besar menurut saya ditambahkan oleh Clarke untuk
mengaburkan arti! Ayatnya sama sekali tak membicarakan hal itu. Kalau
keselamatan ditentukan Allah oleh Yesus Kristus saja, maka Clarke bisa
melanjutkan dengan mengatakan: lalu bagaimana seseorang bisa percaya kepada
Yesus Kristus? Tergantung kehendak bebasnya! Tetapi kalau jadi seperti ini, maka
itu menjadi ‘karena kehendak manusia’, dan akan bertentangan frontal dengan
Yoh 1:13 ini.
Lenski
(tentang Yoh 1:13): “‘Which were born, not of blood, nor of the will of the flesh, nor of the
will of man, but of God,’ ... describing the birth of God’s children
as not being due to natural generation but to a generation that has its source
in God, ἐκ Θεοῦ.”
(= ‘yang diperanakkan bukan dari
darah atau dari kehendak daging, ataupun dari kehendak manusia / seorang
laki-laki, melainkan dari Allah’, ... menggambarkan kelahiran anak-anak Allah sebagai bukan disebabkan karena tindakan memperanakkan secara
alamiah, tetapi karena suatu tindakan memperanakkan yang mempunyai sumbernya
dalam Allah, EK THEOU.).
William
Hendriksen (tentang Yoh 1:13): “The
evangelist teaches that God’s true children do not owe their origin to blood
(physical descent; for example, from Abraham), nor to the will of the flesh (carnal desire, the sexual impulse of man
or woman), nor to the will of man
(the procreative urge of the male) but to God alone.” [= Sang penginjil mengajar bahwa anak-anak yang sejati dari Allah tidak
berhutang asal usul mereka dari darah (keturunan fisik; sebagai contoh, dari
Abraham), ataupun dari kehendak dari daging (keinginan daging, dorongan sex dari
orang laki-laki atau perempuan), atau dari kehendak manusia / laki-laki
(dorongan memperanakkan dari laki-laki) tetapi dari Allah saja.].
Matthew
Henry: “Man
is called ‘flesh and blood,’ because thence he has his original: but we do
not become the children of God as we become the children of our natural parents.
Note, Grace does not run in the blood, as corruption does. Man polluted ‘begat
a son in his own likeness’ (Gen 5:3); but man sanctified and renewed does not
beget a son in that likeness. The Jews gloried much in their parentage, and the
noble blood that ran in their veins: ‘We are Abraham’s seed;’ and
therefore to them pertained the adoption because they were born of that blood;
but this New-Testament adoption is not founded in any such natural relation. ...
it is the grace of God that makes us willing to be his.”
[= Manusia disebut ‘daging dan darah’, karena dari sana ia mendapatkan asal
usulnya: tetapi kita tidak menjadi anak-anak Allah pada waktu kita menjadi
anak-anak dari orang tua alamiah kita. Perhatikan:
Kasih karunia tidak mengalir dalam darah, seperti kejahatan mengalir dalam darah.
Manusia yang telah dikotori ‘memperanakkan seorang
anak laki-laki dalam gambarnya sendiri’ (Kej 5:3); tetapi manusia yang
dikuduskan dan diperbaharui tidak memperanakkan seorang anak dalam gambar itu.
Orang-orang Yahudi banyak bermegah dalam asal usul mereka, dan darah mulia yang
mengalir dalam pembuluh darah mereka: ‘Kami adalah keturunan Abraham’; dan
karena itu milik merekalah pengadopsian itu karena mereka dilahirkan oleh darah
itu; tetapi pengadopsian Perjanjian Baru ini
tidak didasarkan pada hubungan alamiah seperti itu. ... adalah kasih karunia
Allah yang membuat kita mau untuk menjadi milikNya.].
Kej 5:3
- “Setelah Adam hidup seratus tiga
puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut
rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set kepadanya.”.
Mat 3:9
- “Dan janganlah
mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami!
Karena aku berkata kepadamu: Allah
dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!”.
Yoh 8:33,39,40
- “(33) Jawab mereka: ‘Kami adalah
keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana
Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?’ ... (39) Jawab mereka kepadaNya: ‘Bapa
kami ialah Abraham.’ Kata Yesus kepada mereka: ‘Jikalau
sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang
dikerjakan oleh Abraham. (40) Tetapi
yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang
mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan
yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham.”.
Saya
tidak mengerti mengapa Matthew Henry mengatakan ‘Perjanjian
Baru’ sedangkan di atas tadi Adam Clarke mengatakan ‘di
bawah jaman Injil’. Menurut saya, bahkan
dalam jaman Perjanjian Lama, kelahiran baru juga datang dari Allah!
Yeh 11:19
- “Aku
akan memberikan mereka hati yang lain dan roh yang baru di dalam batin mereka;
juga Aku akan menjauhkan dari tubuh mereka
hati yang keras dan memberikan mereka hati yang taat,”.
Calvin:
“But faith is the principal work of the Holy Spirit. ... to believers in
Christ is given the privilege of becoming children of God, who are born not of
flesh and blood, but of God (John 1:12-13). Contrasting God with flesh and
blood, he declares it to be a supernatural gift that those who would otherwise
remain in unbelief receive Christ by faith. Similar to this is that reply of
Christ’s: ‘Flesh and blood have not revealed it to you, but my Father, who
is in heaven’ (Matthew 16:17).” [= Tetapi iman
adalah pekerjaan utama dari Roh Kudus. ... kepada orang-orang percaya
dalam Kristus diberikan hak untuk menjadi anak-anak Allah, yang dilahirkan bukan
dari daging dan darah, tetapi dari Allah (Yoh 1:12-13). Mengkontraskan
Allah dengan daging dan darah, ia menyatakannya sebagai karunia supranatural sehingga mereka yang seharusnya
tetap tidak percaya, menerima Kristus oleh / dengan iman. Mirip
dengan ini adalah jawaban Kristus: ‘Daging dan darah tidak menyatakan ini
kepadamu, tetapi BapaKu, yang ada di surga’ (Mat 16:17).] - ‘Institutes
of the Christian Religion’, Book III, Chapter 1, no 4.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali