Pdt. Budi Asali, M. Div.
(HP:
7064-1331 / 6050-1331)
http://www.golgothaministry.org
BAG. 06
5 points calvinismE
Hal-hal
yang perlu diketahui tentang 5 points Calvinisme:
1)
5 points Calvinisme ini disingkat dengan acrostic
TULIP.
Total Depravity
(= Kebejatan total).
Unconditional Election
(= Pemilihan yang tidak bersyarat).
Limited Atonement
(= Penebusan terbatas).
Irresistible Grace
(= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak).
Perseverance of the Saints
(= Ketekunan orang-orang kudus).
2)
Penjelasan singkat tentang point-point
dari 5 points Calvinisme ini.
Pada
pelajaran-pelajaran yang akan datang saya akan membahas point-point ini satu per
satu secara mendetail,
beserta dasar-dasar Kitab Sucinya. Dan
jangan saudara menolak atau menerima yang manapun dari 5 points Calvinisme ini
sebelum saudara diyakinkan oleh dasar-dasar Kitab Sucinya!
Penjelasan
di bawah ini hanyalah penjelasan singkat, untuk memberikan gambaran menyeluruh
tentang 5 points Calvinisme ini.
a)
Total
Depravity (= kebejatan total).
Ini
mengajarkan bahwa seluruh manusia sudah dipengaruhi secara negatif oleh dosa,
dan ini menyebabkan manusia itu sendiri sama sekali tidak bisa melakukan hal-hal
yang betul-betul baik di mata Allah dan tidak bisa percaya kepada Yesus dengan
kekuatan dan kemauannya sendiri.
b)
Unconditional
Election (= pemilihan yang tidak bersyarat).
Ini
mengajarkan bahwa dari permulaan segala jaman, sebelum
segala sesuatu ada, Allah sudah menetapkan / memilih orang-orang tertentu untuk
selamat / masuk surga, dan orang-orang yang lain untuk binasa / masuk neraka.
Penentuan / pemilihan ini dilakukan semata-mata berdasarkan kehendak Allah,
bukan karena apa yang ada, atau yang akan ada, dalam diri manusia.
Doktrin
ini merupakan wujud dari penekanan yang sangat kuat dari Calvinisme tentang
kedaulatan Allah.
Jangan
terlalu cepat menolak doktrin ini dengan mengatakan bahwa doktrin ini
menunjukkan bahwa Allah tidak adil! Saya sendiri dulu tidak mempercayai doktrin
ini karena seolah-olah menunjukkan bahwa Allah itu tidak adil. Tetapi setelah
saya mempelajari dasar-dasar Kitab Sucinya, saya yakin bahwa doktrin ini memang
merupakan ajaran Kitab Suci.
c)
Limited
Atonement (= Penebusan terbatas).
Ini
mengajarkan bahwa pada waktu Yesus mati di salib untuk
menebus dosa manusia, sebetulnya Ia tidak melakukan hal itu untuk menebus dosa
setiap manusia di dunia ini. Design (=
rencana / tujuan) dari penebusan ini adalah untuk menebus orang-orang pilihan (elects)
saja.
Kalau
doktrin tentang pemilihan (predestinasi) sudah sukar diterima, maka doktrin
tentang Penebusan Terbatas ini lebih sukar lagi untuk diterima.
Mengapa? Karena konsep Arminian bahwa Yesus mati untuk setiap manusia, sudah
begitu tersebar dan mendarah daging dalam diri banyak orang kristen, sehingga
konsep Penebusan Terbatas ini kelihatannya salah, bahkan sesat.
Bagi
diri saya sendiri, pada waktu saya mendengar ajaran ini untuk pertama kalinya,
saya merasa kaget dan tidak bisa menerima. Tetapi lagi-lagi setelah mempelajari
argumentasi-argumentasi dan dasar-dasar Kitab Suci yang diajukan, saya akhirnya
menerima. Ini adalah point yang terakhir yang saya terima dari ke 5 point
Calvinisme ini.
d)
Irresistible
Grace (= kasih karunia yang tidak bisa ditolak).
Ini
mengajarkan bahwa pada waktu Allah mau menyelamatkan
seseorang dan memberikan kasih karuniaNya kepada orang itu, maka orang itu tidak
mungkin bisa menolak kasih karunia Allah itu. Dengan demikian orang itu
akan bertobat, diselamatkan, dan rencana Allah tergenapi.
e)
Perseverance
of the Saints (= Ketekunan orang-orang kudus).
Ini
mengajarkan bahwa sekali seseorang menjadi orang kristen
yang sejati dan diselamatkan, ia tidak akan berhenti menjadi orang
kristen / murtad, dan ia tidak mungkin kehilangan keselamatannya.
Menurut
saya, ini adalah point yang paling jelas dari ke 5 point Calvinisme ini, dan
saya betul-betul tidak mengerti bagaimana ada orang kristen yang tidak mau
percaya pada point ke 5 ini, dan menganggap bahwa orang kristen sejati bisa
kehilangan keselamatannya.
3)
5 points Calvinisme ini bukanlah keseluruhan dari doktrin Calvinisme.
Loraine
Boettner:
“Let
the reader, then, guard against a too close identification of the Five Points
and the Calvinistic system. While these are essential elements, the system
really includes much more” (= Jadi, baiklah pembaca menjaga diri untuk
tidak menyamakan / terlalu dekat mengidentifikasikan Lima Point Calvinisme
dengan Sistim Calvinisme. Sekalipun 5 point ini adalah elemen-elemen yang
hakiki, tetapi sistim Calvinisme mencakup jauh lebih banyak hal) - ‘The
Reformed Doctrine of Predestination’, hal 59-60.
Calvinisme
mempercayai banyak doktrin-doktrin penting yang lain (bahkan yang lebih penting
/ mendasar), seperti:
a)
Kitab Suci adalah Firman Allah yang dijunjung tinggi otoritasnya dan
harus diajarkan habis-habisan.
b)
Doktrin Allah Tritunggal.
c)
Doktrin tentang keilahian dan kemanusiaan Kristus.
d)
Doktrin tentang penebusan Kristus, yang menjadikan Kristus sebagai
satu-satunya jalan keselamatan.
e)
Doktrin bahwa manusia bisa selamat hanya karena iman, bukan karena
perbuatan baik.
f)
Keharusan memberitakan Injil.
g)
Kekudusan dalam hidup orang kristen.
Bahwa
Calvinisme menekankan kedaulatan Allah, dan mengajarkan bahwa keselamatan tidak
bisa hilang, sama sekali tidak berarti bahwa Calvinisme mengajarkan bahwa orang
kristen boleh hidup sembarangan. Sebaliknya Calvinisme sangat menekankan
kekudusan!
h)
dsb.
Hal
ini perlu ditekankan karena ada banyak orang yang menganggap bahwa asal
seseorang mempercayai 5 points Calvinisme ini, maka ia adalah seorang Calvinist
/ Reformed. Bahkan ada yang hanya menekankan pada point
ke 2 dan ke 5 saja, dan menganggap bahwa orang yang mempercayai 2 point itu
sudahlah seorang Calvinist / Reformed. Ini jelas salah!
Sekalipun
seseorang mempercayai ke 5 points Calvinisme ini,
tetapi:
1.
Kalau ia tidak percaya pada doktrin Allah
Tritunggal, atau kalau ia tidak menekankan pengajaran
Kitab Suci, atau kalau ia tidak memberitakan
Injil, atau kalau ia tidak menekankan kekudusan,
maka ia tidak bisa disebut sebagai seorang Calvinist / Reformed.
2.
Kalau ia tidak mempercayai bahwa Allah
menentukan segala sesuatu, dan mengatur terjadinya segala sesuatu, dengan
ProvidensiaNya, maka ia juga tidak bisa disebut sebagai Calvinist /
Reformed.
Tetapi
sebaliknya, orang yang Alkitabiah / Injili tetapi menolak salah satu saja dari
ke 5 points Calvinisme ini, juga tidak bisa disebut sebagai orang Calvinist /
Reformed.
5 points Calvinisme ini hanya merupakan lima hal terpenting yang
membedakan Calvinisme dengan Arminianisme.
4)
5 points Calvinisme ini sebetulnya merupakan
suatu kesatuan, karena 5 points ini sangat berhubungan satu dengan yang
lainnya. Karena itu, sebetulnya seseorang tidak bisa
menerima hanya sebagian dari 5 points Calvinisme ini, karena ini akan
menimbulkan pertentangan / ketidak-konsekwenan. Kita harus menerima semuanya
atau menolak semuanya.
Loraine
Boettner:
“...
these are not isolated and independent doctrines but are so inter-related
that they form a simple, harmonious, self-consistent system; and the way in
which they fit together as component parts of a well-ordered whole has won the
admiration of thinking men of all creeds. Prove any one
of them true and all the others will follow as logical and necessary parts of
the system. Prove any one of them false and the whole system must be abandoned”
(= ... mereka ini bukanlah doktrin-doktrin yang terisolir dan berdiri sendiri
tetapi begitu berhubungan satu sama lain sehingga
mereka membentuk sistim yang tunggal, harmonis, dan konsisten; dan cara dengan
mana mereka mencocokkan diri sebagai bagian-bagian komponen dari suatu kesatuan
telah memenangkan kekaguman dari pemikir-pemikir dari semua aliran. Buktikan
yang manapun dari mereka benar dan semua yang lain akan mengikuti sebagai
bagian-bagian yang logis dan harus ada dari sistim. Buktikan yang manapun dari
mereka salah dan seluruh sistim harus ditinggalkan) - ‘The
Reformed Doctrine of Predestination’, hal 59.
5)
Serangan / penghinaan Pdt. dr. Jusuf B. S. terhadap 5 points Calvinisme
ini.
Saya
berpendapat bahwa 5 points Calvinisme ini sebetulnya merupakan doktrin yang
sangat penting dan indah dalam kekristenan, karena ini menyebabkan kita:
a)
Menjadi rendah hati, karena kita sadar bahwa kita bisa selamat / memilih
untuk percaya kepada Yesus bukan karena kebaikan diri kita, tetapi karena Allah
memilih kita dan bekerja dalam diri kita.
b)
Makin bersyukur kepada Allah dan mengasihi Allah karena keselamatan yang
Ia anugerahkan kepada kita.
c)
Lebih memiliki damai, karena keyakinan akan keselamatan yang tidak bisa
hilang.
Tetapi
Pdt. dr. Jusuf B. S. dari Gereja Bukit Zaitun justru menyerang 5 points
Calvinisme ini, menyebutnya sebagai racun, dan dengan cara menghina mengubah acrostic
TULIP menjadi LIPAS.
Total Depravity.
®
Lemah
total.
Unconditional Election.
®
Ikatan Takdir.
Limited Atonement.
®
Penebusan
terbatas.
Irresistible Grace.
®
Anugerah
Allah.
Perseverance of the Saints.
® Selamat.
Catatan:
·
Ini ia tuliskan dalam bukunya yang berjudul ‘Keselamatan tidak bisa
hilang?’, hal 22-23.
·
Di salah satu makalah yang di tulis oleh Pdt. dr. Jusuf B. S.,
digambarkan di sebelah acrostic LIPAS
itu seekor kelabang. Saya kira Pdt. dr. Jusuf B.
S. mencampuradukkan LIPAS (= kecoak)
dengan LIPAN (= kelabang).
Dalam buku ‘Keselamatan tidak bisa hilang?’, gambar kelabang itu sudah tidak
ada, mungkin karena ia sudah menyadari perbedaan LIPAN dan LIPAS.
Saya
berpendapat bahwa pengubahan TULIP menjadi LIPAS / LIPAN ini bukan
merupakan suatu penyerangan (karena sama sekali tidak ada argumentasi
serangan dalam hal ini), tetapi merupakan suatu
penghinaan! Padahal dalam bagian Pendahuluan dalam bukunya itu (hal 7-8),
ia menulis sebagai berikut:
“Keduanya (maksudnya
orang Calvinist dan Arminian) masih dapat
bekerja sama dengan manis misalnya dalam kebaktian bersama seperti Natal, ...
Kita tetap perlu menjaga keutuhan umat Kristen ... Sebab itu jangan
ada perdebatan yang berlebih-lebih, jangan ada kebencian dan tindakan-tindakan
dosa ... Musuh wajib kita cintai, apalagi dengan saudara seiman, yang akan
tinggal bersama di Surga untuk kekal! Oleh sebab itu jangan perbedaan
tafsiran ini memecah umat Kristen terhadap dunia luar (seperti yang terjadi di
Eropa 16-17 abad yang lalu). ... Kalau kebetulan ada
pihak lain yang membaca buku ini, dan ada kata-kata tegas, terus terang yang
mungkin dirasa kurang enak, kami mohon maaf. Buku ini dibuat bukan untuk
maksud perpecahan dalam umat Kristen. Kekhasan umat Kristen adalah saling
mengasihi meskipun berbeda pendapat dan tafsiran, sehingga dunia melihat ada
kasih Kristus di antara kita (Yoh 13:35)”.
Saya
hanya bertanya-tanya:
¨
Apakah ‘kata-kata tegas, terus terang’ itu sama dengan ‘kata-kata
yang menghina’?
¨
Bagaimana Pdt. dr. Jusuf B. S. bisa mengharapkan kesatuan dan saling
mengasihi kalau bukunya bersifat menghina?
¨
Bagaimana ia bisa meminta maaf lebih dulu, dan setelah itu memberikan
penghinaan?
¨
Apa gerangan gunanya kata-kata yang manis dalam Pendahuluan buku ini,
kalau ternyata bukunya berisikan penghinaan? Apakah ini hanya sekedar yang
disebut orang Jawa sebagai ‘abang-abang
lambe’ atau bahkan sebagai suatu kemunafikan?
Sekarang
perlu kita persoalkan: Mengapa ada seseorang yang menganggap ajaran Calvinisme
yang begitu sehat sebagai racun? Mengapa ada orang yang tega mengubah nama
bunga TULIP, yang harum dan mengandung madu, menjadi nama
binatang LIPAS yang kotor dan berbau atau binatang LIPAN yang beracun?
Tentang hal ini saya berpendapat bahwa komentar Calvin tentang Yoh 6:61
cocok sekali, dimana Calvin berkata sebagai berikut:
“We
ought, indeed to regulate our doctrine in such a manner that none may be
offended through our fault ... But it will never be possible for us to exercise
such caution that the doctrine of Christ shall not be the occasion of offence to
many, because the reprobate, who are devoted to
destruction, suck venom from the most wholesome food, and gall from honey” (= Kita memang harus mengatur ajaran kita sedemikian
rupa sehingga tidak ada yang tersinggung / sakit hati karena kesalahan kita ...
Tetapi tidak pernah mungkin bagi kita untuk berhati-hati sedemikian rupa
sehingga ajaran Kristus tidak menyinggung / menyakiti banyak orang, karena orang-orang
reprobate, yang disediakan / dikhususkan untuk kebinasaan, menghisap
racun dari makanan yang paling sehat / bermanfaat, dan empedu dari madu).
Dengan
mengutip kata-kata Calvin ini di tempat ini, saya memang tidak memaksudkan bahwa
Pdt. dr. Jusuf B. S. adalah seorang ‘reprobate’
(= orang yang ditetapkan binasa). Tetapi saya ingin menunjukkan bahwa orang
memang bisa menghisap racun dari makanan sehat (yang sebetulnya tidak beracun),
dan menghisap empedu dari madu, dan juga menghisap LIPAS / LIPAN dari TULIP.
Hal itu bukan hanya bisa dilakukan oleh seorang reprobate,
tetapi juga oleh seorang kristen. Ini justru menunjukkan
/ membuktikan adanya Total Depravity
dalam diri manusia!
6)
Semua tokoh-tokoh Reformasi dari abad 16 mempercayai doktrin ini.
Ahli
sejarah Philip Schaff berkata: “All
the Reformers of the sixteenth century, following the lead of Augustin and of
the Apostle Paul, - as they understand him, - adopted, under a controlling sense
of human depravity and saving grace, and in antagonism to self-righteous
legalism, the doctrine of a double predestination
which decides the eternal destiny of all men” (= Semua tokoh-tokoh
Reformasi dari abad ke 16, mengikuti pimpinan dari Agustinus dan rasul Paulus, -
sebagaimana mereka mengerti dia, - mengambil / menyetujui / menerima, di bawah
suatu pengertian tentang kebejatan manusia dan kasih karunia yang menyelamatkan,
dan dalam permusuhan terhadap legalisme yang membenarkan diri sendiri, doktrin
tentang predestinasi ganda yang menentukan tujuan
kekal dari semua manusia) - ‘History
of the Christian Church’, vol VIII, hal 546-547.
Karena
itu, kalau saudara percaya kepada Pdt. dr. Jusuf B. S. maka itu berarti bahwa
saudara menentang semua tokoh-tokoh Reformasi (Martin Luther, John Calvin,
Zwingli, John Knox).
Memang
harus diakui bahwa bisa saja semua tokoh-tokoh Reformasi itu salah, karena
mereka memang juga adalah manusia biasa, dalam arti mereka bukan Tuhan yang
tidak bisa salah. Tetapi mereka semua adalah orang-orang yang orang-orang yang
luar biasa dalam hal intelek, kerohanian dan pengertian Kitab Suci, sehingga sangat
kecil kemungkinan bahwa mereka bisa salah secara bersama-sama seperti
itu.
Tetapi
bagaimanapun perlu ditekankan, bahwa benar atau tidaknya doktrin ini tidak
tergantung pada otoritas manusia, para tokoh Reformasi sekalipun, tetapi
pada Kitab Suci. Karena itu pada pelajaran-pelajaran yang akan datang
kita akan membahas setiap point dari 5 points Calvinisme ini secara terperinci,
lengkap dengan dasar-dasar Kitab Sucinya!
-o0o-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali