Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

Rabu, tanggal 27 Februari 2019, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

II Timotius 3:1-17(6)

 

2Tim 3:1-17 - “(1) Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. (2) Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, (3) tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, (4) suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. (5) Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu! (6) Sebab di antara mereka terdapat orang-orang yang menyelundup ke rumah orang lain dan menjerat perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa dan dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu, (7) yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran. (8) Sama seperti Yanes dan Yambres menentang Musa, demikian juga mereka menentang kebenaran. Akal mereka bobrok dan iman mereka tidak tahan uji. (9) Tetapi sudah pasti mereka tidak akan lebih maju, karena seperti dalam hal Yanes dan Yambres, kebodohan merekapun akan nyata bagi semua orang. (10) Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku. (11) Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita di Antiokhia dan di Ikonium dan di Listra. Semua penganiayaan itu kuderita dan Tuhan telah melepaskan aku dari padanya. (12) Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya, (13) sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan. (14) Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu. (15) Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. (16) Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. (17) Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”.

 

Ay 5b: Jauhilah mereka itu!.

 

1)   Orang-orang yang digambarkan dalam ay 2-5a itu sudah ada pada jaman Timotius, tetapi akan makin lama makin banyak / hebat.

 

Dari kata-kata ‘Jauhilah mereka itu!’ Calvin mengatakan bahwa ini bukannya akan terjadi lama setelah itu, tetapi terjadi pada jaman mereka sendiri. Ia lalu berkata di bawah ini.

 

Calvin: “So then, from the very beginning of the gospel, the Church must have begun to be affected by such corruptions.” [= Jadi, dari sejak awal dari injil, Gereja harus / pasti telah mulai dipengaruhi oleh kerusakan-kerusakan seperti itu.].

 

Jamieson, Fausset & Brown: “‘Turn away’ - implying that some of such characters, forerunners of the last days, were already in the Church.” [= ‘Berbaliklah’ - secara implicit menunjukkan bahwa beberapa dari karakter-karakter seperti itu, pendahulu-pendahulu dari hari-hari terakhir, sudah ada dalam Gereja.].

 

Bible Knowledge Commentary: Though these characteristics are cataloged under the auspices of a prediction about ‘the last days,’ it is clear that Paul considered them to be already present in Ephesus. Though they would intensify with time, Timothy had to beware of such people and ‘have nothing to do with them.’ [= Sekalipun orang-orang dengan ciri-ciri khusus seperti itu digolongkan di bawah tanda-tanda dari suatu ramalan tentang ‘hari-hari terakhir’, adalah jelas bahwa Paulus menganggap mereka sudah hadir / ada di Efesus. Sekalipun mereka akan lebih banyak / lebih hebat dengan berjalannya waktu, Timotius harus berhati-hati terhadap orang-orang seperti itu dan ‘tidak berurusan dengan mereka / menjauhi mereka’.].

 

2)   Paulus memerintahkan Timotius untuk menjauhi orang-orang seperti itu.

 

The Biblical Illustrator: 1. You see the precept before us requires us to form a judgment of the character of others. You must do so, or you cannot obey this precept. Elsewhere you are forbidden to judge, but you are to bring into harmony that prohibition with this direction. You are to do both. ... 2. By the text, too, we are required to act upon an unfavourable judgment when that judgment is unfavourable. You decide that certain persons have the form of godliness, but are denying the power, and from such you are to turn away. [= 1. Kamu melihat bahwa perintah di depan kita ini menuntut kita untuk membentuk suatu penghakiman tentang karakter orang-orang lain. Kamu harus melakukan demikian, atau kamu tidak bisa mentaati perintah ini. Di tempat lain kamu dilarang untuk menghakimi, tetapi kamu harus mengharmoniskan larangan itu dengan perintah ini. Kamu harus melakukan keduanya. ... 2. Oleh text ini, juga, kita dituntut untuk bertindak berdasarkan suatu penghakiman yang negatif / tidak menyenangkan, pada waktu penghakiman itu negatif / tidak menyenangkan. Kamu memutuskan bahwa orang-orang tertentu mempunyai bentuk dari kesalehan, tetapi sedang menyangkal kuasanya, dan dari orang-orang seperti itu kamu harus menjauhkan diri.].

 

Bandingkan dengan:

 

Mat 7:1-2 - “(1) ‘Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. (2) Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu..

 

Yoh 7:24 - Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.’.

 

J. Vernon McGee: “‘From such turn away’ means that the believer is to avoid them. Let me ask you a question: If you are in a dead, cold, liberal church, and you are a true believer, what are you doing there when the Word of God says to avoid those things? All across this country there are wonderful pastors who are faithfully preaching the Word of God. Why aren’t you supporting and standing with these fine men? [= ‘Berbaliklah dari orang-orang seperti itu’ berarti bahwa orang percaya harus menghindari mereka. Biarlah aku menanyakan kamu suatu pertanyaan: Jika kamu ada dalam suatu gereja yang mati, dingin, liberal, dan kamu adalah seorang percaya yang sungguh-sungguh, apa yang sedang kamu lakukan di sana pada waktu Firman Allah mengatakan untuk menghindari hal-hal ini? Di seluruh negara ini ada pendeta-pendeta yang sangat bagus yang dengan setia mengkhotbahkan / memberitakan Firman Allah. Mengapa kamu tidak sedang mendukung dan berdiri bersama orang-orang yang sangat bagus ini?] - Libronix.

 

Catatan: ini tentu tak hanya berlaku untuk gereja-gereja Liberal, tetapi untuk semua gereja yang kita ketahui sebagai gereja yang sesat / mati! Saya tak habis pikir mengapa gerangan orang tetap mau pergi ke suatu gereja, yang pendetanya memang menjadikan gereja itu sebagai cara untuk mencari duit! Jelas bahwa orang-orang seperti ini tidak peduli pada kebenaran!

 

Bdk. 1Kor 5:1-13 - “(1) Memang orang mendengar, bahwa ada percabulan di antara kamu, dan percabulan yang begitu rupa, seperti yang tidak terdapat sekalipun di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, yaitu bahwa ada orang yang hidup dengan isteri ayahnya. (2) Sekalipun demikian kamu sombong. Tidakkah lebih patut kamu berdukacita dan menjauhkan orang yang melakukan hal itu dari tengah-tengah kamu? (3) Sebab aku, sekalipun secara badani tidak hadir, tetapi secara rohani hadir, aku - sama seperti aku hadir - telah menjatuhkan hukuman atas dia, yang telah melakukan hal yang semacam itu. (4) Bilamana kita berkumpul dalam roh, kamu bersama-sama dengan aku, dengan kuasa Yesus, Tuhan kita, (5) orang itu harus kita serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan. (6) Kemegahanmu tidak baik. Tidak tahukah kamu, bahwa sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan? (7) Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus. (8) Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran. (9) Dalam suratku telah kutuliskan kepadamu, supaya kamu jangan bergaul dengan orang-orang cabul. (10) Yang aku maksudkan bukanlah dengan semua orang cabul pada umumnya dari dunia ini atau dengan semua orang kikir dan penipu atau dengan semua penyembah berhala, karena jika demikian kamu harus meninggalkan dunia ini. (11) Tetapi yang kutuliskan kepada kamu ialah, supaya kamu jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama. (12) Sebab dengan wewenang apakah aku menghakimi mereka, yang berada di luar jemaat? Bukankah kamu hanya menghakimi mereka yang berada di dalam jemaat? (13) Mereka yang berada di luar jemaat akan dihakimi Allah. Usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu.”.

 

Ini menunjukkan orang kristen yang sejati harus mengucilkan mereka. Cuma repotnya, kalau orang-orang itu yang mayoritas, bagaimana bisa orang kristen yang sejati mengucilkan mereka? Kalau saya, saya akan dirikan gereja baru.

 

Barnes’ Notes: ‘From such turn away.’ Have no contact with them as if they were Christians; show no countenance to their religion; do not associate with them; compare 2 John 10:11 ; see the notes at 2 Cor 6:17. [= ‘Dari orang-orang seperti itu berbaliklah’. Jangan mempunyai kontak dengan mereka seakan-akan mereka adalah orang-orang Kristen; jangan memberi muka / menunjukkan dukungan / toleransi pada ‘agama’ mereka; jangan bergaul dengan mereka; bdk. 2Yoh 10-11; lihat catatan pada 2Kor 6:17.].

 

Mari kita memperhatikan ayat-ayat yang dijadikan referensi oleh Albert Barnes.

 

a)   2Yoh 10-11 - “(10) Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. (11) Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat..

 

Kata-kata ‘memberi salam’ (2 x) oleh KJV diterjemahkan ‘bid him God speed’ [= kiranya Allah memberi kesuksesan kepadamu]. - https://en.wiktionary.org/wiki/Godspeed

Ini merupakan suatu wish / pengharapan supaya orang itu mendapatkan kesejahteraan, nasib baik, sukses, dan sebagainya. Mungkin mirip dengan kata-kata ‘God bless you’ [= kiranya Allah memberkatimu]. Jadi, hati-hati dalam menuliskan GBU / JCBU dsb!!! Jangan menujukannya kepada orang yang saudara tahu merupakan seorang sesat / nabi palsu!

 

1.      Ay 10: “Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya.”.

 

Wycliffe Bible Commentary: “‘Neither bid him God speed.’ Do not say a greeting of sympathy.” [= ‘jangan mengatakan semoga Allah memberi kesuksesan kepadamu’. Jangan mengatakan suatu salam dari simpati.].

 

Barnes’ Notes: “This cannot mean that no acts of kindness, in any circumstances, were to be shown to such persons; but that there was to be nothing done which could be fairly construed as encouraging or countenancing them as ‘religious teachers.’ The true rule would seem to be, in regard to such persons, that, so far as we have contact with them as neighbors, or strangers, we are to be honest, true, kind, and just, but we are to do nothing that will countenance them as religious teachers. We are not to attend on their instruction, Prov. 19:27; we are not to receive them into our houses, or to entertain them as religious teachers; we are not to commend them to others, or to give them any reason to use our names or influence in propagating error. ... To do that, to meet such persons with a friendly greeting, would be construed as countenancing their doctrine, and as commending them to others; and hence it was forbidden that they should be entertained as such.” [= Ini tidak berarti bahwa tidak ada tindakan kebaikan, dalam keadaan / sikon apapun, boleh ditunjukkan kepada orang-orang seperti itu; tetapi bahwa tidak boleh ada apapun yang bisa ditafsirkan / dianalisa secara jujur / adil sebagai menyemangati atau menyetujui / mendukung mereka sebagai ‘guru-guru / pengajar-pengajar agamawi’. Peraturan yang benar kelihatannya adalah, berkenaan dengan orang-orang seperti itu, bahwa, sejauh kita berhubungan dengan mereka sebagai sesama / tetangga, atau orang asing, kita harus jujur, benar, baik, dan adil, tetapi kita tidak boleh melakukan apapun yang akan menyetujui / mendukung mereka sebagai guru-guru / pengajar-pengajar agamawi. Kita tidak boleh mendengarkan / memperhatikan instruksi mereka, Amsal 19:27; kita tidak boleh menerima mereka ke dalam rumah kita, atau menghibur / memberi keramahan kepada mereka sebagai guru-guru / pengajar-pengajar agamawi; kita tidak boleh merekomendasikan mereka kepada orang-orang lain, atau memberi mereka alasan apapun untuk menggunakan nama atau pengaruh kita dalam menyebarkan kesalahan. ... Melakukan hal itu, menemui orang-orang seperti itu dengan sapaan yang ramah, akan ditafsirkan sebagai menyetujui / mendukung ajaran mereka, dan sebagai merekomendasikan mereka kepada orang-orang lain; dan karena itu dilarang bahwa mereka dihibur / diberi keramahan seperti itu.].

Amsal 19:27 - “Hai anakku, jangan lagi mendengarkan didikan, kalau engkau menyimpang juga dari perkataan-perkataan yang memberi pengetahuan.”.

KJV: Cease, my son, to hear the instruction that causeth to err from the words of knowledge. [= Berhentilah, anakku, untuk mendengar instruksi yang menyebabkan menyimpang dari kata-kata pengetahuan.].

Catatan: dalam Alkitab versi KJV, kata-kata ‘that causeth’ dicetak dengan huruf miring, yang menunjukkan bahwa kata-kata itu tidak ada dalam bahasa aslinya.

 

Barnes’ Notes: “The word used expresses the common form of salutation, as when we wish one health, success, prosperity, Matt. 26:49; Acts 15:23; 23:26; James 1:1. It would be understood as expressing a wish for success in the enterprise in which they were embarked; and, though we should love all people, and desire their welfare, and sincerely seek their happiness, yet we can properly wish no one success in career of sin and error.” [= Kata yang digunakan menyatakan / menunjukkan bentuk salam yang umum, seperti pada waktu kita mengharapkan kesehatan, kesuksesan, kemakmuran / keberhasilan seseorang, Mat 26:49; Kis 15:23; 23:26; Yak 1:1. Itu akan dimengerti sebagai menyatakan suatu harapan untuk kesuksesan dalam usaha dalam mana mereka memulai perjalanan; dan, sekalipun kita harus mengasihi semua orang, dan menginginkan kesejahteraan mereka, dan dengan tulus mengusahakan kebahagiaan mereka, tetapi kita tidak bisa mengharapkan secara benar kesuksesan siapapun dalam karir / pekerjaan dari dosa dan kesalahan.].

 

Mat 26:49 - “Dan segera ia maju mendapatkan Yesus dan berkata: ‘Salam Rabi,’ lalu mencium Dia.”.

Kis 15:23 - “Kepada mereka diserahkan surat yang bunyinya: ‘Salam dari rasul-rasul dan penatua-penatua, dari saudara-saudaramu kepada saudara-saudara di Antiokhia, Siria dan Kilikia yang berasal dari bangsa-bangsa lain.”.

Kis 23:26 - “‘Salam dari Klaudius Lisias kepada wali negeri Feliks yang mulia.”.

Yak 1:1 - Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, kepada kedua belas suku di perantauan.”.

 

Adam Clarke: “Give him no entertainment as an evangelical teacher. Let him not preach under your roof.” [= Jangan memberinya penghiburan / keramahan seperti seorang guru / pengajar injili. Jangan biarkan / ijinkan ia berkhotbah di bawah atapmu.].

 

Adam Clarke: ‘Neither bid him God speed.’ ‎Kai ‎‎chairein ‎‎autoo ‎‎mee ‎‎legete. And do not say, ‘Health to him’ - do not salute him with ‘Peace be to thee’! The usual salutation among friends and those of the same religion in the east is, ‘Salam aleekum’, ‘Peace be to you;’ which those of the same religion will use among themselves, but never to strangers, except in very rare cases. This is the case to the present day; and, from what John says here, it was a very ancient custom. We have often seen that ‘peace’ among the Hebrews comprehended every spiritual and temporal blessing. [= ‘Jangan mengharapkan Allah memberi kesuksesan kepadanya’. Kai ‎‎chairein ‎‎autoo ‎‎mee ‎‎legete. Dan jangan berkata, ‘Kesehatan baginya’ - jangan memberi salam kepadanya dengan kata-kata ‘Shalom bagimu’! Salam yang biasa / umum di antara sahabat-sahabat dan mereka dari agama yang sama di Timur adalah, ‘Salam aleekum’, ‘Damai bagimu’; yang digunakan oleh mereka dari agama yang sama di antara mereka sendiri, tetapi tidak pernah kepada orang-orang asing, kecuali dalam kasus-kasus yang sangat jarang. Ini adalah kasus / keadaannya sampai pada saat ini; dan, dari apa yang Yohanes katakan di sini, itu merupakan suatu tradisi yang sangat kuno. Kita telah sering melihat bahwa ‘damai’ (SHALOM) di antara orang-orang Ibrani mencakup setiap berkat rohani dan sementara.].

 

Penerapan: karena itu jangan latah / sembarangan menggunakan kata ‘shalom’!!! Itu sangat berbeda dengan salam kita pada umumnya, seperti halo, hai, apa kabar dsb!

 

Adam Clarke: “The words mean, according to the eastern use of them, ‘Have no religious connection with him, nor act toward him so as to induce others to believe you acknowledge him as a brother.’” [= Kata-kata itu berarti, menurut penggunaan mereka di Timur, ‘Jangan mempunyai hubungan agamawi dengan dia, ataupun bertindak terhadapnya sehingga membimbing orang-orang lain untuk percaya bahwa engkau mengakui dia sebagai seorang saudara’.].

 

Penerapan: Jadi jelas, jangan berfoto berdua dengan seorang yang saudara ketahui adalah seorang nabi palsu dan lalu memasukkannya ke face book! Ini jelas akan menyebabkan orang-orang percaya bahwa saudara menganggap nabi palsu itu sebagai saudara seiman! Kalau mau melakukan yang seperti itu boleh, asal saudara berpose dengan mengacungkan tinju saudara kepada nabi palsu itu!

 

Matthew Henry mengatakan bahwa mungkin ‘Ibu yang terpilih’ kepada siapa rasul Yohanes menujukan surat ini (2Yoh 1) adalah seseorang yang sangat ramah dalam menerima tamu / hamba Tuhan. Tetapi karena yang sedang dibicarakan di sini adalah nabi-nabi palsu, maka rasul Yohanes melarangnya menerima tamu yang seperti itu.

 

Matthew Henry (tentang 2Yoh 10): “‘Support them not: ... Do not welcome them into your family. ... Doubtless such may be relieved in their pressing necessities, but not encouraged for ill service. Deniers of the faith are destroyers of souls;” [= ‘Jangan mendukung / menyokong mereka: ... Jangan menyambut mereka ke dalam keluargamu. ... Tak diragukan bahwa orang-orang seperti itu boleh diringankan dalam kebutuhan-kebutuhan mereka yang menekan, tetapi tidak menyemangati untuk pelayanan yang buruk / jahat / tidak sehat. Penyangkal-penyangkal iman adalah penghancur-penghancur jiwa-jiwa.].

 

Jamieson, Fausset & Brown: “The greeting forbidden in the case of such is that usual among Christian brethren: not a mere formality, but a token of Christian brotherhood.” [= Salam yang dilarang dalam kasus ini adalah salam yang biasa / umum di antara saudara-saudara Kristen: bukan semata-mata salam formalitas, tetapi suatu tanda dari persaudaraan Kristen.].

 

Jamieson, Fausset & Brown: True love is combined with hearty separation from all that is false, whether persons or doctrines. Misbelief destroys faith, the source of love, so love itself: therefore love abhors it as overthrowing Christianity, the center of love’s affection. [= Kasih yang sejati / benar digabungkan dengan pemisahan yang tulus / sungguh-sungguh dari semua yang palsu / salah, apakah orang-orang atau ajaran-ajaran. Kepercayaan yang salah menghancurkan iman, sumber dari kasih, jadi menghancurkan kasih itu sendiri; karena itu kasih membencinya sebagai membalikkan / menghancurkan kekristenan, pusat dari perasaan kasih.].

 

Penerapan: Ini harus sangat diperhatikan oleh ‘orang-orang kristen’ bodoh yang sok kasih, yang selalu melarang orang mengeluarkan kata-kata keras terhadap nabi-nabi palsu!

 

Barclay: Here, we see very clearly the danger which John saw in these false teachers. They are to be given no hospitality; and the refusal of hospitality would be the most effective way of stopping their work. John goes further; they are not even to be given a greeting on the street. This would be to indicate that to some extent you had sympathy with them. It must be made quite clear to the world that the Church has no tolerance for those whose teaching destroys the faith. ... When the saintly Polycarp, the second-century Bishop of Smyrna, met the heretic Marcion, Marcion said: ‘Do you recognize me?’ ‘I recognize Satan’s first-born,’ answered Polycarp. It was John himself who fled from the public baths when Cerinthus, the heretic, entered them. ‘Let us hurry away in case the building should collapse on us,’ he said, ‘because Cerinthus, the enemy of truth, is here.’ [= Di sini, kita melihat dengan sangat jelas bahaya yang Yohanes lihat dalam guru-guru / pengajar-pengajar palsu ini. Mereka tidak boleh diberi keramahan dalam menerima tamu; dan penolakan keramahan itu akan merupakan cara yang paling efektif untuk menghentikan pekerjaan mereka. Yohanes berjalan lebih jauh; mereka bahkan tidak boleh diberi salam di jalan. Ini akan menunjukkan bahwa sampai tingkat tertentu engkau bersimpati dengan mereka. Harus dibuat menjadi jelas kepada dunia bahwa Gereja tidak mempunyai toleransi untuk mereka yang ajarannya menghancurkan iman. ... Ketika orang kudus Polycarp, uskup dari Smirna pada abad kedua, bertemu dengan orang sesat Marcion, Marcion berkata: ‘Apakah engkau mengenali aku?’ ‘Aku mengenali anak sulung Iblis’, jawab Polycarp. Adalah Yohanes sendiri yang lari dari kamar mandi umum pada waktu Cerinthus, orang sesat, memasukinya. ‘Marilah kita cepat-cepat dalam kasus bangunan ini roboh menimpa kita’, katanya, ‘karena Cerinthus, musuh dari kebenaran, ada di sini’.].

 

Jelas dari cerita tentang rasul Yohanes maupun Polycarp terlihat bahwa dalam kasus-kasus seperti ini rasa sungkan orang Timur harus dibuang! Kita sering melanggar ayat ini, karena rasa sungkan orang Timur! Dalam kasus seperti ini, maupun dalam banyak kasus-kasus lain, saudara harus memilih antara sungkan kepada nabi palsu / orang sesat, atau sungkan kepada Tuhan!

 

2.   Ay 11: “Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat.”.

 

Wycliffe Bible Commentary: “‘Partaker.’ One who fellowships. The one who bids God speed actually fellowships in the work of the antichrist.” [= ‘Pengambil bagian’. Orang yang bersekutu. Orang yang mengucapkan kata-kata ‘kiranya Allah memberi kesuksesan kepadamu’ sungguh-sungguh bersekutu dalam pekerjaan dari anti Kristus.].

 

Jamieson, Fausset & Brown: “you wish him it while opposing Christ; so you identify yourself as ‘having communion with (koinonei) his evil deeds.’ We cannot have communion with saints and with Antichrist at once.” [= kamu mengharapkannya sementara ia menentang Kristus; maka kamu menganggap dirimu sebagai ‘mempunyai persekutuan dengan (KOINONEI) tindakan-tindakan jahatnya’. Kita tidak bisa mempunyai persekutuan dengan orang-orang kudus dan dengan Anti Kristus sekaligus.].

 

Matthew Henry (tentang 2Yoh 11): “Favour and affection partake of the sin. We may be sharers in the iniquities of others. How judicious and how cautious should the Christian be! There are many ways of sharing the guilt of other people’s transgressions; it may be done by culpable silence, indolence, unconcernedness, private contribution, public countenance and assistance, inward approbation, open apology and defence.” [= Kebaikan dan kasih mengambil bagian dari dosanya. Kita bisa menjadi pengambil-pengambil bagian dalam kejahatan-kejahatan orang-orang lain. Betapa orang Kristen harus bijaksana dan hati-hati! Di sana ada banyak cara / jalan untuk mengambil bagian dari pelanggaran-pelanggaran orang-orang lain; itu bisa dilakukan dengan ke-diam-an yang patut dipersalahkan, kemalasan, ketidak-pedulian, kontribusi / sumbangan pribadi, persetujuan dan pertolongan umum, persetujuan / pengakuan di dalam hati, apologia dan pembelaan terbuka.].

 

Adam Clarke: “‘Is partaker of his evil deeds.’ He that acts toward him as if he considered him a Christian brother, and sound in the faith, puts it in his power to deceive others, by thus apparently accrediting his ministry. No sound Christian should countenance any man as a Gospel minister, who holds and preaches erroneous doctrines; especially concerning the Lord Jesus. Nor can any Christian attend the ministry of such teachers without being criminal in the sight of God. He who attends their ministry is, in effect, bidding them God speed;” [= ‘Adalah pengambil bagian dalam tindakan-tindakan jahatnya’. Ia yang bertindak terhadapnya seakan-akan ia menganggapnya sebagai seorang saudara Kristen, dan sehat dalam iman, meletakkannya dalam kuasanya untuk menipu orang-orang lain, dengan demikian jelas menyokong pelayanannya. Tak ada orang Kristen yang sehat boleh menyetujui / menyokong siapapun sebagai seorang pelayan Injil, yang memegang dan memberitakan ajaran-ajaran yang salah; khususnya berkenaan dengan Tuhan Yesus. Juga orang Kristen manapun tidak bisa menghadiri pelayanan dari guru-guru seperti itu tanpa menjadi seorang kriminal dalam pandangan Allah. Ia yang menghadiri pelayanan mereka, sebetulnya sedang mengucapkan kepada mereka kata-kata yang mengharapkan Allah membuat mereka sukses;].

 

b)   2Kor 6:14-17 - “(14) Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? (15) Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya? (16) Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini: ‘Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umatKu. (17) Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu..

 

Barnes’ Notes (tentang 2Kor 6:17): ‘Come out from among them.’ That is, from among idolaters and unbelievers; from a frivolous and vicious world. These words are taken, by a slight change, from Isa 52:11. ... Paul, therefore, applies the words here with great beauty and force to illustrate the duty of Christians in separating themselves from a vain, idolatrous, and wicked world. ‘And be ye separate.’ Separate from the world, and all its corrupting influences. ... ‘And touch not the unclean thing.’ In Isaiah, ‘touch no unclean thing;’ that is, they were to be pure, and to have no connection with idolatry in any of its forms. So Christians were to avoid all unholy contact with a vain and polluted world. The sense is, ‘Have no close connection with an idolater, or an unholy person. Be pure; and feel that you belong to a community that is under its own laws, and that is to be distinguished in moral purity from all the rest of the world.’ ‘And I will receive you.’ That is, I will receive and recognize you as my friends and my adopted children. This could not be done until they were separated from an idolatrous and wicked world. The fact of their being received by God, and recognized as his children, depended on their coming out from the world. [= ‘Keluarlah dari antara mereka’. Yaitu, dari antara penyembah-penyembah berhala dan orang-orang yang tidak percaya; dari suatu dunia yang tidak karuan dan jahat / kejam. Kata-kata ini diambil, dengan sedikit perubahan, dari Yes 52:11. ... Karena itu, Paulus menerapkan kata-kata di sini dengan keindahan dan kekuatan yang besar untuk menjelaskan kewajiban orang-orang Kristen dalam memisahkan diri mereka sendiri dari suatu dunia yang sia-sia, menyembah berhala, dan jahat. ‘Dan pisahkanlah dirimu dari mereka’. Pisahkanlah dirimu dari dunia dan semua pengaruh merusaknya. ... ‘Dan janganlah menjamah apa yang najis’. Dalam Yesaya, ‘jangan menyentuh hal / benda yang najis’ (KJV); artinya, mereka harus murni, dan tidak mempunyai hubungan dengan penyembahan berhala dalam bentuk yang manapun. Demikian juga orang-orang Kristen harus menghindari semua kontak yang tidak kudus dengan suatu dunia yang sia-sia dan tercemar / kotor. Artinya adalah, ‘Jangan mempunyai hubungan yang dekat dengan seorang penyembah berhala, atau orang yang tidak kudus. Jadilah murni; dan rasakanlah bahwa kamu termasuk pada suatu masyarakat yang ada di bawah hukumnya sendiri, dan itu harus dibedakan dalam kemurnian moral dari semua sisa dunia’. ‘Dan Aku akan menerima kamu’. Artinya, Aku akan menerima kamu dan mengakui kamu sebagai sahabat-sahabatKu dan anak-anak adopsiKu. Ini tidak bisa dilakukan sampai mereka terpisah dari suatu dunia yang menyembah berhala dan jahat. Fakta bahwa mereka diterima oleh Allah, dan diakui sebagai anak-anakNya, tergantung pada keluarnya mereka dari dunia.].

 

Yes 52:11 - Menjauhlah, menjauhlah! Keluarlah dari sana! Janganlah engkau kena kepada yang najis! Keluarlah dari tengah-tengahnya, sucikanlah dirimu, hai orang-orang yang mengangkat perkakas rumah TUHAN!.

 

Adam Clarke: “‘From such turn away’ - not only do not imitate them, but have no kind of fellowship with them; they are a dangerous people, and but seldom suspected, because their outside is fair.” [= ‘Dari orang-orang seperti itu berbaliklah’ - bukan hanya jangan meniru mereka, tetapi jangan mempunyai jenis persekutuan dengan mereka; mereka adalah orang-orang yang berbahaya, tetapi jarang dicurigai, karena secara lahiriah mereka baik / bagus.].

 

Pulpit Commentary: We ought to withdraw from their fellowship, avoid all familiarity with them, hold no terms with the enemies of Christ and his kingdom. [= Kita harus menarik diri dari persekutuan mereka, menghindari semua keakraban dengan mereka, tidak mempunyai hubungan dengan musuh-musuh Kristus dan KerajaanNya.] - hal 46.

 

Penerapan: orang seperti Hai-hai di face book, seharusnya dijauhi oleh orang-orang Kristen yang sungguh-sungguh, tetapi kelihatannya banyak orang Kristen yang mau berteman dengan pemfitnah sesat dan penghujat seperti dia. Demikian juga dengan pemfitnah seperti Suhento Liauw! Dimana otoritas dari firman Tuhan dalam diri orang-orang yang mau berteman dengan orang seperti itu?

 

3)   Apakah tindakan menjauhi orang-orang jahat seperti itu merupakan kemunafikan yang sama seperti yang dilakukan oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat pada jaman Yesus?

 

Menurut saya, sama atau tidak, itu tergantung pada motivasi kita dalam menjauhi orang-orang seperti itu.

 

a)   Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi pada jaman Yesus menjauhi karena mereka merasa diri mereka sendiri benar, dan mereka lebih baik dari orang-orang lain.

Luk 18:9 - “Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini:”.

 

b)   Kita menjauhi orang-orang seperti itu, karena:

 

1.      Kita mentaati perintah Tuhan; bukan karena kita merasa diri lebih baik dari mereka.

Memang kita seharusnya lebih baik dari mereka, tetapi kalau kita bisa lebih baik dari mereka, itu karena kasih karunia Allah, bukan karena diri kita sendiri.

 

2.      Kita tidak mau orang menganggap semua orang Kristen adalah seperti orang-orang itu. Jadi, kita menjauhi untuk menunjukkan kepada dunia, bahwa tidak semua orang Kristen seperti itu, dan orang Kristen yang sejati tidak setuju / tidak mendukung sikap hidup yang seperti itu.

 

3.      Kita tidak mau ketularan sikap / kehidupan mereka yang buruk; dan inipun karena Tuhan memerintahkannya.

1Kor 15:33 - “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.”.

 

Juga, dalam kita menjauhi orang-orang seperti itu, ada perbedaan dengan tindakan menjauhi yang dilakukan oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi pada jaman Yesus. Perbedaannya adalah:

 

a.      Kita menjauhi setelah kita menginjili / menasehati mereka terlebih dulu.

Titus 3:10 - “Seorang bidat yang sudah satu dua kali kaunasihati, hendaklah engkau jauhi.”.

 

(1) Tindakan menasehati ini mungkin tidak selalu bisa dilakukan, tetapi sedapat-dapatnya harus diusahakan.

 

(2) Ayat ini menunjukkan bahwa pengucilan / siasat gerejani bisa dilakukan bukan hanya terhadap orang-orang Kristen yang melakukan dosa-dosa moral, tetapi juga terhadap orang-orang Kristen yang mempunyai kepercayaan / ajaran yang sesat (perhatikan kata ‘bidat’ dalam Tit 3:10 itu!).

 

b.      Yang kita jauhi bukanlah seadanya orang jahat, tetapi orang jahat yang secara lahiriah adalah orang Kristen.

 

1Kor 5:9-11 - “(9) Dalam suratku telah kutuliskan kepadamu, supaya kamu jangan bergaul dengan orang-orang cabul. (10) Yang aku maksudkan bukanlah dengan semua orang cabul pada umumnya dari dunia ini atau dengan semua orang kikir dan penipu atau dengan semua penyembah berhala, karena jika demikian kamu harus meninggalkan dunia ini. (11) Tetapi yang kutuliskan kepada kamu ialah, supaya kamu jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama.”.

 

John Stott: Not that he was to avoid all contact with sinners, for Jesus himself had been ‘the friend of publicans and sinners’, and if Timothy were to shun association with them he would have to go right out of the world (cf. 1 Cor. 5:9–12). Paul means rather that within the church, for he has been giving a description of ‘a kind of heathen Christianity’, Timothy was to have nothing to do with what might be called ‘religious sinners’. Indeed, one could go further. Anybody whom the Book of Common Prayer terms ‘an open and notorious evil liver’ should be disciplined, and, if he remains unrepentant, excommunicated (cf. 1 Cor. 5:5, 13). [= Bukan bahwa ia harus menghindari semua kontak / hubungan dengan orang-orang berdosa, karena Yesus sendiri adalah ‘sahabat dari pemungut-pemungut cukai dan orang-orang berdosa’, dan seandainya Timotius harus menolak / menghindari hubungan dengan mereka ia akan harus keluar dari dunia ini (bdk. 1Kor 5:9-12). Tetapi Paulus memaksudkan bahwa di dalam gereja, karena ia telah memberikan suatu penggambaran dari ‘sejenis kekristenan kafir’, Timotius tidak boleh berurusan / berhubungan dengan apa yang bisa disebut ‘orang-orang berdosa yang religius’. Memang, kita bisa berjalan lebih jauh. Siapapun yang ‘the Book of Common Prayer’ sebut ‘seorang yang hidup jahat secara terbuka / terang-terangan dan terkenal buruk’ harus didisiplin, dan jika ia tetap tidak bertobat, dikucilkan (bdk. 1Kor 5:5,13).].

Catatan: kalau mau tahu tentang ‘the Book of Common Prayer’ lihat link ini: https://en.wikipedia.org/wiki/Book_of_Common_Prayer

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali