Pemahaman Alkitab
(Rungkut
Megah Raya, blok D no 16)
Rabu,
tanggal 13 Februari 2019, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
II Timotius 3:1-17(5)
2Tim 3:1-17 - “(1) Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. (2) Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, (3) tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, (4) suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. (5) Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu! (6) Sebab di antara mereka terdapat orang-orang yang menyelundup ke rumah orang lain dan menjerat perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa dan dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu, (7) yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran. (8) Sama seperti Yanes dan Yambres menentang Musa, demikian juga mereka menentang kebenaran. Akal mereka bobrok dan iman mereka tidak tahan uji. (9) Tetapi sudah pasti mereka tidak akan lebih maju, karena seperti dalam hal Yanes dan Yambres, kebodohan merekapun akan nyata bagi semua orang. (10) Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku. (11) Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita di Antiokhia dan di Ikonium dan di Listra. Semua penganiayaan itu kuderita dan Tuhan telah melepaskan aku dari padanya. (12) Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya, (13) sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan. (14) Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu. (15) Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. (16) Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. (17) Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”.
18) “lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.”.
Kata-kata ‘menuruti’ (2 x) dan ‘hawa nafsu’ ini salah terjemahan! Bandingkan dengan terjemahan-terjemahan dari Alkitab-Alkitab bahasa Inggris.
KJV: ‘lovers of pleasures more than lovers of God;’
[= pecinta-pecinta dari kesenangan-kesenangan lebih dari pada pecinta-pecinta
Allah;].
RSV/NIV/NASB:
‘lovers
of pleasure rather than lovers of God’
[= pecinta-pecinta dari kesenangan dan bukannya pecinta-pecinta Allah].
Pulpit
Commentary: “‘Pleasure’
is a word used in Scripture to denote, not lawful and wise enjoyment, but a
carnal sensuousness which often leads to sensuality. We see what an absorbing
power pleasure is, and how by degrees it destroys the sense of duty and ignores
the voice of conscience.”
[= ‘Kesenangan’ adalah suatu kata yang digunakan dalam Kitab Suci untuk
menunjukkan, bukan penikmatan yang sah dan bijaksana, tetapi suatu pemuasan
daging yang sering membimbing / membawa pada pemuasan nafsu daging yang
berlebih-lebihan. Kita melihat bagaimana kesenangan
itu merupakan suatu kuasa yang menyerap / memakan habis (perhatian, waktu dsb), dan bagaimana
secara bertahap itu menghancurkan perasaan akan tanggung jawab dan mengabaikan
suara dari hati nurani.].
Matthew
Henry: “When
men are generally ‘lovers of pleasure more than lovers of God.’ When there
are more epicures than true Christians, then the times are bad indeed. God is to
be loved above all. That is a carnal mind, and is full of enmity against him,
which prefers any thing before him, especially such a sordid thing as carnal
pleasure is.” [= Pada waktu orang-orang pada umumnya adalah
‘pecinta-pecinta kesenangan lebih dari pecinta-pecinta Allah’. Pada waktu di
sana ada lebih banyak orang-orang yang membaktikan dirinya pada
kesenangan-kesenangan dari pada orang-orang Kristen yang sejati, maka saat itu
memang betul-betul buruk. Allah harus dicintai lebih dari semua. Merupakan suatu
pikiran yang bersifat daging, dan yang penuh dengan permusuhan terhadap Dia,
yang lebih memilih apapun lebih dari Dia, khususnya suatu hal yang kotor / buruk
seperti kesenangan daging.].
Adam
Clarke: “‘Lovers
of pleasures more than lovers of God.’ This is nervously and beautifully
expressed in the Greek, phileedonoi
mallon ee philotheoi,
lovers of pleasure rather than lovers of God; i.e. pleasure, sensual
gratification, is their god; and this they love and serve; God they do not.”
[= Ini secara kuat dan indah dinyatakan dalam bahasa Yunani, PHILEEDONOI MALLON
EE PHILOTHEOI, pecinta-pecinta dari kesenangan-kesenangan dan bukannya
pecinta-pecinta dari Allah; artinya kesenangan, pemuasan daging / sex, adalah
dewa / allah mereka; dan ini mereka cintai dan layani; Allah tidak (mereka
cintai dan layani).].
Pulpit
Commentary: “It
represents a dissipated class under a Christian profession, who have no serious
pursuits, and prefer the friendship of the world to the friendship of God.”
[= Itu mewakili suatu golongan yang memuaskan diri di bawah suatu pengakuan
Kristen, yang tidak mempunyai pengejaran / perjuangan untuk mencapai sesuatu,
dan lebih memilih persahabatan dengan dunia dibandingkan persahabatan dengan
Allah.].
Kesenangan ini bisa berupa hobby, olah raga, makan, piknik, nonton TV, shopping, chatting melalui WA, dan sebagainya. Jadi, bahkan kalau kesenangan itu dalam dirinya sendiri bukan dosa, tetapi kalau hal itu disenangi / diutamakan lebih dari Allah, itu sudah menjadi allah lain, dan jelas merupakan dosa!
Perwujudannya juga bisa bermacam-macam seperti:
a) Piknik sehingga tidak ke gereja.
b) Shopping sehingga tidak ikut Pemahaman Alkitab.
c) Nonton TV sehingga tidak bersaat teduh.
d) Terus menghabiskan waktu untuk main handphone sehingga menjadikan hidupnya tidak berguna sama sekali bagi Tuhan!
e) Menggunakan uang untuk kesenangan sendiri sehingga tidak memberikan persembahan persepuluhan.
f) Royal dalam hal uang kalau itu untuk menyenangkan diri sendiri (baik dalam hal makan, jalan-jalan ke luar kota / luar negeri, beli barang yang menyenangkan diri sendiri dsb), tetapi pelit dalam memberi persembahan untuk Tuhan!
William
Hendriksen: “They
are ‘pleasure-loving rather than
(or more than) God-loving.’ This definitely does not mean that they also love
God to some extent. It means that they do not love God at all (for ‘rather
than’ or ‘more than’ in this sense
see also John 3:19; 12:43; Acts 4:19; 17:11; I Tim. 1:4; cf. somewhat similar
idioms in Luke 15:7; 18:14). Not only does one find these people outside of the
church. They have infiltrated the church (and not only the church, see verse 6).
And even should they be excommunicated, they will still pretend to be eminent
Christians.”
[= Mereka adalah ‘pecinta kesenangan dan bukannya (atau ‘lebih dari’)
pecinta Allah’. Ini jelas bukan berarti bahwa mereka juga mencintai Allah
sampai pada tingkat tertentu. Ini berarti bahwa mereka tidak mencintai Allah
sama sekali (untuk ‘bukannya’ atau ‘lebih
dari’ dalam arti ini lihat juga Yoh 3:19;
12:43; Kis 4:19; 17:11; 1Tim 1:4; bdk. ungkapan yang agak mirip dalam Luk 15:7;
18:14). Bukan hanya orang bisa menemui orang-orang seperti ini di luar gereja.
Mereka telah memasuki / menyusup ke dalam gereja (dan bukan hanya gereja, lihat
ay 6). Dan sekalipun mereka seharusnya dikucilkan / disiasat gerejani, mereka
akan tetap berpura-pura menjadi orang-orang Kristen yang menonjol.].
Yoh
3:19 - “Dan
inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih
menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka
jahat.”.
Yoh
12:43 - “Sebab
mereka lebih suka akan kehormatan manusia
dari pada kehormatan Allah.”.
Kis 4:19 - “Tetapi Petrus dan Yohanes menjawab mereka: ‘Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah.”.
NIV: “But Peter and John replied, ‘Judge for yourselves whether it is right in God’s sight to obey you rather than God.” [= Tetapi Petrus dan Yohanes menjawab, ‘Nilailah untuk dirimu sendiri apakah itu benar dalam pandangan Allah untuk mentaati kamu lebih dari Allah.].
Kis 17:11 - “Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.”.
NIV: “Now the Bereans were of more noble character than the Thessalonians, for they received the message with great eagerness and examined the Scriptures every day to see if what Paul said was true.” [= Orang-orang Berea lebih mulia karakternya dari orang-orang Tesalonika, karena mereka menerima pesan / berita itu dengan kesungguhan yang besar dan memeriksa Kitab Suci setiap hari untuk melihat apakah yang Paulus katakan itu benar.].
1Tim 1:4 - “ataupun
sibuk dengan dongeng dan silsilah yang tiada putus-putusnya, yang hanya
menghasilkan persoalan belaka, dan bukan tertib hidup keselamatan yang diberikan
Allah dalam iman.”.
NIV: ‘nor to devote themselves to myths and endless genealogies. These promote controversies rather than God’s work - which is by faith.’ [= atau membaktikan diri mereka sendiri pada dongeng-dongeng dan silsilah-silsilah yang tak ada akhirnya. Ini memajukan kontroversi-kontroversi lebih dari pekerjaan Allah - yang adalah oleh iman.].
Luk 15:7 - “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.’”.
NIV: ‘I tell you that in the same way there will be more rejoicing in heaven over one sinner who repents than over ninety-nine righteous persons who do not need to repent.’ [= Aku memberitahumu dengan cara yang sama di sana akan ada lebih banyak sukacita di surga atas satu orang berdosa yang bertobat dari atas 99 orang benar yang tidak membutuhkan pertobatan,].
Luk 18:14 - “Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.’”.
NIV: “I
tell you that this man, rather than the
other, went home justified before God. For everyone who exalts himself will be
humbled, and he who humbles himself will be exalted.”
[= Aku memberitahumu bahwa orang ini, lebih dari
yang lain itu, pulang ke rumah (sebagai orang yang) dibenarkan di hadapan Allah.
Karena setiap orang yang meninggikan dirinya sendiri akan direndahkan, dan ia
yang merendahkan dirinya sendiri akan ditinggikan.].
Pulpit
Commentary: “II.
Here is a wrong object. Pleasure - instead of God. What a
contrast! We find that there is sometimes an æsthetic sensuousness that finds
pleasure in immoral ‘art’ - where God is not, where there is no reverence,
no righteousness, no purity, no goodness. And men worship before the shrine of
pleasure till they become idolaters, worshipping worldly applause, fleshly
satisfaction, and carnal joy. There is a pleasure that is lawful and healthful;
without it brain and body, mind and heart, suffer; but it must ever be
subordinated to an earnest life and a godly devotion, or we become ‘lovers of
pleasure more than lovers of God.’”
[= II. Di sini ada suatu obyek yang salah.
Kesenangan - dan bukannya Allah. Betul-betul suatu kontras! Kami
mendapati bahwa di sana kadang-kadang ada suatu pemuasan yang berhubungan dengan
keindahan yang menemukan kesenangan dalam ‘seni’ yang tidak bermoral -
dimana Allah tidak ada, dimana di sana tidak ada rasa hormat, tidak ada
kebenaran, tidak ada kemurnian, tidak ada kebaikan. Dan
manusia menyembah di hadapan kuil dari kesenangan sampai mereka menjadi
penyembah-penyembah berhala, menyembah pujian / tepuk tangan duniawi, pemuasan
yang bersifat daging, dan sukacita daging.
Di sana ada suatu kesenangan yang sah dan sehat;
tanpa mana otak dan tubuh, pikiran dan hati, menderita; tetapi itu harus selalu
ditundukkan pada suatu kehidupan yang sungguh-sungguh dan suatu pembaktian yang
saleh, atau kita menjadi ‘pecinta-pecinta kesenangan lebih dari
pecinta-pecinta Allah’.].
Barclay: “They will be ‘lovers of pleasure rather than lovers of God.’ Here, we come back to where we started: such people place their own wishes in the centre of life. They worship self instead of God.” [= Mereka akan menjadi ‘pecinta-pecinta kesenangan dari pada pecinta-pecinta Allah’. Di sini, kita kembali pada tempat dimana kita mulai: orang-orang seperti itu menempatkan keinginan-keinginan mereka sendiri di pusat kehidupan mereka. Mereka menyembah diri sendiri, dan bukannya Allah.].
John
Stott: “notice
at once the first and the last phrases used. The first says that they are
‘lovers of self’ (philautoi)
and the last (4) that they are not, as they should be, ‘lovers of God’ (philotheoi).
Indeed four of the nineteen expressions are compounded with ‘love’ (phil-),
suggesting that what is fundamentally wrong with these people is that their love
is misdirected. Instead of being first and foremost ‘lovers of God’, they
are ‘lovers of self’, ‘lovers of money’ (NEB:
‘men will love nothing but money and self’) and ‘lovers of
pleasure’ (4).”
[= perhatikan sekaligus frasa pertama dan terakhir yang digunakan. Yang pertama
mengatakan bahwa mereka adalah ‘pecinta-pecinta diri sendiri’ (PHILAUTOI)
dan yang terakhir (ay 4) bahwa mereka bukanlah, seperti seharusnya,
‘pecinta-pecinta Allah’ (PHILOTHEOI). Dalam faktanya 4 dari 19 ungkapan
digabungkan dengan ‘cinta’ (PHIL-), yang secara
tak langsung menunjukkan bahwa apa yang salah secara dasari dengan orang-orang
ini adalah bahwa cinta mereka salah arah. Alih-alih menjadi
pertama-tama dan terutama ‘pecinta-pecinta Allah’, mereka adalah
‘pecinta-pecinta diri sendiri’, ‘pecinta-pecinta uang’ (NEB:
‘orang-orang akan tidak mencintai apapun selain uang dan diri sendiri’) dan
‘pecinta-pecinta kesenangan’ (ay 4).].
The
Bible Exposition Commentary:
“‘Lovers
of pleasures more than lovers of God’ does not suggest that we must choose
between pleasure and God; for when we live for God, we enjoy the greatest
pleasures (Ps 16:11). The choice is between loving pleasure or loving God. If we
love God, we will also enjoy fullness of life here and forever; but the
pleasures of sin can only last for a brief time (Heb 11:25). No one can deny
that we live in a pleasure-mad world; but these pleasures too often are just
shallow entertainment and escape; they are not enrichment and true enjoyment.”
[= Kata-kata ‘pecinta-pecinta kesenangan-kesenangan lebih dari pada
pecinta-pecinta Allah’ tidak mengusulkan / menyatakan secara tak langsung
bahwa kita harus memilih antara kesenangan dan Allah; karena pada waktu kita
hidup untuk Allah, kita menikmati kesenangan-kesenangan yang terbesar (Maz
16:11). Pilihannya adalah antara mencintai kesenangan atau mencintai Allah. Jika
kita mencintai Allah, kita juga akan menikmati kepenuhan dari kehidupan di sini
dan untuk selama-lamanya; tetapi
kesenangan-kesenangan dari dosa hanya bisa berlangsung untuk suatu waktu yang
singkat (Ibr 11:25). Tak seorangpun bisa
menyangkal bahwa kita hidup dalam suatu dunia yang gila kesenangan; tetapi
terlalu sering kesenangan-kesenangan ini hanya merupakan hiburan yang dangkal
dan pelarian (dari kenyataan / kebosanan); mereka
bukanlah sesuatu yang memperkaya dan penikmatan yang benar.].
Maz 16:11
- “Engkau
memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapanMu ada sukacita
berlimpah-limpah, di tangan kananMu ada nikmat
senantiasa.”.
KJV:
‘Thou
wilt shew me the path of life: in thy presence is
fulness of joy; at thy right hand there
are pleasures for evermore.’ [= Engkau
akan menunjukkan kepadaku jalan kehidupan: dalam kehadiranMu ada kepenuhan dari
sukacita; di tangan kananMu ada kesenangan-kesenangan
untuk selama-lamanya.].
Ibr
11:24-25 - “(24) Karena
iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, (25) karena ia
lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara
menikmati kesenangan dari dosa.”.
Lenski:
“‘Rather’
means that in place of a love and liking for God, a love and liking for
pleasure, their own pleasure as they want it, wholly control them. Beyond all
question that is the mark of the world of men today. How it invades the
membership of the church we see on every hand.”
[= ‘Lebih dari’ berarti bahwa di tempat dari suatu cinta dan kesukaan untuk
Allah, suatu cinta dan kesukaan untuk kesenangan, kesenangan mereka sendiri
seperti yang mereka inginkan, sepenuhnya mengendalikan mereka. Tak diragukan
bahwa itu adalah tanda dari dunia orang-orang jaman sekarang. Bagaimana itu
menginvasi anggota-anggota gereja kita lihat di setiap sisi.].
Saya
kutip dari tulisan saya sendiri tentang sejarah dari John Calvin:
Dalam pertemuan Calvin dengan Farel, secara naluri Farel merasakan bahwa Calvin memang disediakan Allah untuk meneruskan dan menyelamatkan reformasi di Geneva.
Mula-mula Calvin menolak permintaan Farel untuk menetap di Geneva, dengan alasan bahwa ia masih muda, ia masih perlu belajar, dan juga rasa takut dan malunya yang alamiah yang menyebabkan ia tidak cocok untuk melayani banyak orang. Tetapi semua alasan ini sia-sia.
Philip Schaff mengatakan:
“Farel, ‘who burned of a marvelous zeal to advance the Gospel,’ threatened him with the curse of Almighty God if he preferred his studies to the work of the Lord, and of his own interest to the cause of Christ. Calvin was terrified and shaken by these words of the fearless evangelist, and felt ‘as if God from on high had stretched out his hand’. He submitted, and accepted the call to the ministry, as teacher and pastor of the evangelical Church of Geneva.” [= Farel, ‘yang berapi-api dengan semangat yang mengagumkan terhadap kemajuan Injil,’ mengancamnya dengan kutuk dari Allah yang mahakuasa kalau ia mengutamakan pelajarannya lebih dari pekerjaan Tuhan dan kesenangannya sendiri lebih dari aktivitas / gerakan Kristus. Calvin sangat ketakutan dan gemetar karena kata-kata dari penginjil yang tak kenal takut ini, dan merasa ‘seakan-akan Allah dari atas mengulurkan tanganNya’. Ia tunduk / menyerah, dan menerima panggilan pelayanan, sebagai guru dan pendeta dari gereja injili di Geneva.] - Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 348.
Catatan: penulis bagian ini seharusnya bukan Philip Schaff, tetapi anaknya, yaitu David Schaff.
Dr. W. F. Dankbaar menceritakan hal ini sebagai berikut:
“Calvin menampik dan berkata, bahwa bukan itu rencananya. Ia ingin belajar lebih banyak lagi dan ia mau menulis. Untuk pekerjaan praktis, ia merasa diri tidak sanggup. Lebih dulu ia harus memperdalam ilmunya. Yang perlu baginya ialah: ketenangan hidup dan pikiran. Lalu ia meminta: ‘Kasihanilah saya dan biarkanlah saya mengabdikan diri saya kepada Tuhan dengan cara lain’. Tiba-tiba meloncatlah Farel. Dibekuknya bahu Calvin lalu berteriak dengan suara yang gemuruh: ‘Hanya ketenanganmu yang saudara pentingkan? Kalau begitu, saya atas nama Allah yang Mahakuasa menyatakan di sini: kehendakmu untuk belajar adalah alasan yang dibuat-buat. Jika saudara menolak menyerahkan diri saudara untuk bekerja dengan kami - Allah akan mengutuk saudara, sebab saudara mencari diri sendiri, bukan mencari Kristus!’. Calvin gemetar. Ini bukan Farel lagi yang bicara, ini adalah suara Tuhan. ‘Saya merasa disergap, tidak hanya karena permintaan dan nasehat, melainkan karena dalam kata-kata Farel yang sangat mengancam itu seolah-olah Allah dari surga meletakkan tanganNya dengan paksa di atasku’. Terlalu besar kuasa itu rasanya, lalu iapun menyerah.” - ‘Calvin, Jalan Hidup dan Karyanya’, hal 41-42.
Kalau
‘kesenangan terhadap belajar firman’ saja bisa dikecam / dikutuk seperti
itu, pikirkan, bagaimana dengan kesenangan-kesenangan duniawi yang lain???
19) “Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya.”.
KJV: ‘Having a form of godliness, but denying the power thereof’ [= Mempunyai suatu bentuk dari kesalehan, tetapi menyangkal kekuatannya]. NIV/NASB mirip dengan KJV.
RSV: ‘holding the form of religion but denying the power of it’ [= memegang bentuk dari agama tetapi menyangkal kekuatannya].
Dari bagian ini terlihat bahwa yang digambarkan / dinubuatkan oleh Paulus di sini adalah orang yang secara lahiriah adalah orang Kristen, bukan orang kafir!
Pulpit
Commentary: “Ver.
5. - The relation of the apostasy to
the Christian profession. I. the
external form of piety is to exist under the apostasy. ‘Having a form
of godliness.’ The picture is that of a Christianized paganism in the Church.
There was to be a scrupulous regard for all ritualistic regularity; an outward
show of devoutness under strict forms, and the mask of godliness over all to
cover a heart in secret enslaved by sin.”
[= Ay 5. - Hubungan kemurtadan dengan pengakuan Kristen. I. BENTUK LAHIRIAH DARI
KESALEHAN akan ada di BaWaH kemurtadan. ‘Mempunyai suatu bentuk
kesalehan’. Gambarannya adalah gambaran tentang suatu ‘kekafiran yang
dikristenkan’ dalam Gereja. Di sana akan ada suatu ketaatan / kepedulian yang
teliti untuk semua kebiasaan yang bersifat upacara; suatu pertunjukan lahiriah
tentang pembaktian di bawah bentuk-bentuk yang ketat, dan topeng kesalehan atas
semua untuk menutupi suatu hati, yang secara diam-diam diperbudak oleh dosa.].
Pulpit
Commentary: “The
class referred to were strangers to experimental religion, which they
dishonoured by saying one thing with their lips and an other thing with their
lives.”
[= Golongan yang dibicarakan adalah orang-orang asing terhadap pengalaman
agamawi, yang mereka permalukan dengan mengatakan satu hal dengan bibir mereka,
dan hal yang lain dengan kehidupan mereka.].
Dan ini yang justru sangat membahayakan! Ini jauh lebih berbahaya dari pada orang jahat yang sama sekali bukan kristen!
Matthew
Henry: “Two
traitors within the garrison may do more hurt to it than two thousand besiegers
without.” [= Dua pengkhianat di dalam pos tentara bisa
melakukan lebih banyak kerugian kepadanya dari pada 2000 pengepung di luar.].
Ini bukan hanya lebih membahayakan bagi orang kristen yang sungguh-sungguh, tetapi juga lebih membahayakan bagi orang-orang munafik ini sendiri.
Pulpit
Commentary: “Such a repudiation involves graver sin and deeper
condemnation than if they had never known the truth or heard of the way of life.”
[= Penyangkalan seperti ini melibatkan dosa yang lebih serius / membahayakan dan
hukuman yang lebih dalam dari pada jika mereka tidak pernah mengetahui kebenaran
atau mendengar jalan kehidupan.].
Bdk. 2Pet 2:20-22 - “(20) Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula. (21) Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka. (22) Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: ‘Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.’”.
Karena itu:
a) Sekalipun nubuat ini harus digenapi, usahakanlah supaya jangan saudara yang menggenapi nubuat ini!
b) Kalau di dalam gereja, saudara menjumpai banyak orang-orang brengsek seperti ini, yang rasanya memuakkan bagi saudara, jangan heran, karena ini memang sudah dinubuatkan. Kalau orang-orang brengsek seperti ini tidak ada dalam gereja, kita justru harus heran, karena itu berarti nubuat Paulus salah / tidak tergenapi!
c) Juga jangan lalu keluar dari gereja dengan alasan orang-orang kristen brengsek semua. Jelas tak semua orang Kristen brengsek. Juga kalau saudara keluar dari gereja dengan alasan seperti itu, pikirkan: apakah di luar gereja orang-orangnya (orang-orang dunia) nggak brengsek?
Pulpit
Commentary: “The hypocrite’s garb.
‘Having a form of godliness, but denying the power thereof.’ There may be
conscious and unconscious hypocrisy. Either way godliness is ‘feigned.’”
[= Pakaian / penyamaran orang munafik. ‘Mempunyai suatu bentuk kesalehan,
tetapi menyangkal kekuatannya’. Di sana ada kemunafikan yang sadar dan tak
sadar. Yang manapun, kesalehan ‘dilakukan secara pura-pura’.].
Catatan: kalau kesesatan, saya setuju ada orang yang sesat secara sadar, dan ada yang secara tak sadar. Tetapi kemunafikan rasanya mustahil. Bagaimana orang bisa tak sadar kalau ia sedang berpura-pura / bersandiwara??
Adam Clarke: “They have religion in their creed, but none in their hearts.” [= Mereka mempunyai agama dalam Credo / Pengakuan Iman mereka, tetapi tidak dalam hati mereka.].
Penerapan:
Banyak orang kristen yang mengucapkan 12 Pengakuan Iman Rasuli dari minggu ke minggu, khususnya kata-kata ‘Gereja yang kudus dan am’, tetapi sesungguhnya mereka membenci gereja lain / menganggap gereja lain sebagai saingan! Dalam arti sebenarnya ada gereja-gereja yang mengucilkan gereja mereka sendiri dari gereja-gereja lain, yang TIDAK mereka anggap sesat. Inilah credo yang hanya di mulut, tetapi tidak di hati!
Banyak ‘hamba-hamba Tuhan’ yang kelihatannya berkobar-kobar tetapi sebetulnya menjadikan gereja sebagai suatu bentuk bisnis!
The
Biblical Illustrator: “Ver.
5. - Having a form of godliness, but denying the power - Form and power of
godliness: - This form is a profession of religion; the outward appearance of
piety; the external performance of holy duties. Its power is the inward
experience of its saving efficacy; that is attested by a holy, heavenly walk.
This power is denied, not merely by the declaration of the lips, but by all
those actions which are inconsistent with it, and which prove that we do not
feel its influence.”
[= Ay 5. - Mempunyai suatu ‘bentuk’ kesalehan, tetapi menyangkal
‘kuasa’nya - ‘Bentuk’ dan ‘kuasa’ dari kesalehan: - ‘Bentuk’
ini adalah suatu pengakuan agamawi; penampilan kesalehan secara lahiriah;
pelaksanaan lahiriah dari kewajiban-kewajiban kudus. ‘Kuasa’nya
adalah pengalaman di dalam / batin dari kemujaraban penyelamatannya; itu
diteguhkan kebenarannya oleh suatu kehidupan yang kudus dan surgawi. ‘Kuasa’
ini disangkal, bukan semata-mata oleh pernyataan bibir, tetapi oleh semua
tindakan-tindakan yang tidak konsisten dengannya, dan yang membuktikan bahwa
kita tidak merasakan pengaruhnya.].
The
Biblical Illustrator: “I.
A FORM OF GODLINESS IS ABSOLUTELY NECESSARY IF WE WOULD BE SAVED. We are
unequivocally commanded to assume the form of godliness; to testify by external
acts our allegiance to the Lord; and to attend on those ordinances and
sacraments which He surely did not appoint that we might with impunity neglect
them. Say not that you secretly and in your hearts worship and love Him. It is
impossible that there should be internal piety without some outward
manifestation of it. If ‘with the heart man believeth unto righteousness, with
the lips confession will be made to salvation.’ ... II. BUT THIS FORM IS
INSUFFICIENT, UNLESS IT BE UNITED WITH THE POWER OF GODLINESS. ... III. YET
NOTWITHSTANDING THE CLEAR EVIDENCE OF THIS TRUTH, THESE ARE MANY WHO SATISFY
THEMSELVES WITH THE FORM WITHOUT THE POWER OF GODLINESS.”
[= I.
SUATU ‘BENTUK’ KESALEHAN ADALAH MUTLAK PERLU JIKA KITA MAU DISELAMATKAN.
Kita jelas diperintahkan untuk mengambil ‘bentuk’ dari kesalehan; untuk
menyaksikan kesetiaan kita kepada Tuhan oleh tindakan-tindakan lahiriah; dan
untuk memperhatikan upacara-upacara dan sakramen-sakramen yang jelas Ia tetapkan
bukan supaya bisa kita abaikan tanpa hukuman. Jangan
berkata bahwa kamu secara diam-diam dan dalam hatimu menyembah / berbakti dan
mengasihi Dia. Adalah mustahil bahwa di
sana ada kesalehan di dalam / batin tanpa perwujudan lahiriah darinya.
Jika ‘dengan hati orang percaya dan
dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan’ (Ro 10:10).
... II. TETAPI ‘BENTUK’ INI TIDAKLAH CUKUP, KECUALI ITU DIPERSATUKAN DENGAN
‘KUASA’ DARI KESALEHAN. ... III. TETAPI SEKALIPUN ADA BUKTI YANG JELAS
TENTANG KEBENARAN INI, ADA BANYAK ORANG YANG MEMUASKAN DIRI MEREKA SENDIRI
DENGAN ‘BENTUK’ TANPA ‘KUASA’ DARI KESALEHAN.].
The
Biblical Illustrator: “Hence
observe - that a man may have a form of godliness, and yet live in all manner of
wickedness. ... But yet the form of godliness may stand with the power of
ungodliness. A man may be a glorious professor in the highest form, and yet a
puny in the form of grace. He may be a blazing comet for profession, and yet be
a devil incarnate in life and conversation.”
[= Jadi perhatikanlah - bahwa seseorang bisa mempunyai suatu ‘bentuk’
kesalehan, tetapi hidup dalam semua cara kejahatan. ... Tetapi ‘bentuk’
kesalehan bisa ada bersama dengan ‘kuasa’ dari ketidak-salehan. Seseorang
bisa adalah seorang pengaku dalam ‘bentuk’ yang tertinggi, tetapi lemah /
kecil dalam ‘kuasa’ dari kasih karunia. Ia bisa menjadi suatu komet yang
terang untuk pengakuan, tetapi merupakan setan / iblis yang berinkarnasi dalam
kehidupan dan percakapan.].
Contoh:
1. Ada seorang pengacara
Kristen ditanya, bagaimana bisa jadi pengacara dan orang Kristen sekaligus? Ia
menjawab, hari Minggu, jadilah orang Kristen, hari Senin - Sabtu jadilah setan!
2. Ada kata-kata yang
ditujukan kepada seorang pengusaha Kristen: hari Senin - Sabtu tipu manusia,
hari Minggu tipu Tuhan.
Kalau ini memang benar,
maka ini merupakan contoh-contoh dari orang-orang yang menggenapi bagian nubuat
Paulus ini.
The
Biblical Illustrator: “(a)
Some
come by the form of godliness in an hereditary way. Their ancestors were always
godly people, and they almost naturally take up with the professions of their
fathers. This is common, and where it is honest, it is most commendable. But remember, not generation,
but regeneration, makes the Christian.”
[= (a) Beberapa / sebagian orang datang pada ‘bentuk’ dari kesalehan itu
dengan cara yang bersifat menurun. Nenek moyang mereka selalu adalah orang-orang
saleh, dan mereka hampir secara alamiah mengambil pengakuan-pengakuan dari
bapa-bapa / nenek moyang mereka. Ini merupakan sesuatu yang umum, dan dimana itu
jujur, itu paling patut mendapat pujian. Tetapi
ingatlah, bukan kelahiran, tetapi kelahiran
baru / kembali, membuat orang Kristen.].
The
Biblical Illustrator: “(c)
So have I seen the form of godliness taken up on account of friendships. Many a
time courtship and marriage have led to a formal religiousness, lacking heart.”
[= (c) Demikian juga saya sudah melihat ‘bentuk’ kesalehan diambil karena
persahabatan. Banyak kali pacaran dan pernikahan
telah membimbing pada suatu kerelijiusan lahiriah, tanpa disertai hati.].
The
Biblical Illustrator: “(f)
From the days of Iscariot until now, some have taken up the form of godliness to
gain thereby. To make gain of godliness is to imitate the son of perdition.”
[= (f) Dari jaman Iskariot sampai sekarang, beberapa / sebagian orang telah
mengambil ‘bentuk’ dari kesalehan untuk mendapatkan keuntungan darinya.
Membuat keuntungan dari kesalehan berarti meniru anak kebinasaan.].
Catatan: istilah ‘the son of perdition’ [= anak kebinasaan] diambil dari Yoh 17:12 versi KJV/RSV/NASB.
The
Biblical Illustrator: “Nobody
can do so much damage to the Church of God as the man who is within its walls,
but not within its life.”
[= Tak seorangpun bisa membuat begitu banyak kerusakan pada Gereja Allah seperti
orang yang berada di dalam tembok-temboknya, tetapi tidak di dalam
kehidupannya.].
The
Biblical Illustrator: “1.
I suppose that one, at anyrate, of the main examples of this ‘form’ was
participation in the simple worship of the primitive Church. And although the
phrase by no means refers merely to acts of worship, still that is one of the
main fields in which this evil is manifest. Many of us substitute outward
connection with the Church for inward union with Jesus Christ. ... Let us be
very sure that we do not substitute Church membership, coming to chapel, going
to prayer-meeting, teaching in Sunday schools, reading devout books, and the
like, for the inward submission to the power.”
[= 1. Saya menganggap bahwa bagaimanapun, salah satu dari contoh-contoh utama
dari ‘bentuk’ ini adalah partisipasi dalam kebaktian yang sederhana dari
Gereja primitif. Dan sekalipun ungkapan ini sama sekali tidak semata-mata
menunjuk pada tindakan berbakti, tetap itu adalah salah satu dari bidang-bidang
utama dalam mana kejahatan ini diwujudkan. Banyak
dari kita menggunakan hubungan lahiriah dengan Gereja untuk menggantikan
persatuan batin dengan Yesus Kristus. ... Hendaklah
kita sangat pasti bahwa kita tidak menggunakan keanggotaan Gereja, kehadiran di
kapel, kepergian ke persekutuan doa, pengajaran di Sekolah Minggu, pembacaan
buku-buku rohani, dan sebagainya, untuk menggantikan ketundukan batin pada
‘kuasa’nya.].
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali