Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

Rabu, tanggal 23 Januari 2019, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

II Timotius 3:1-17(3)

2Tim 3:1-17 - (1) Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. (2) Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, (3) tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, (4) suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. (5) Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu! (6) Sebab di antara mereka terdapat orang-orang yang menyelundup ke rumah orang lain dan menjerat perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa dan dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu, (7) yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran. (8) Sama seperti Yanes dan Yambres menentang Musa, demikian juga mereka menentang kebenaran. Akal mereka bobrok dan iman mereka tidak tahan uji. (9) Tetapi sudah pasti mereka tidak akan lebih maju, karena seperti dalam hal Yanes dan Yambres, kebodohan merekapun akan nyata bagi semua orang. (10) Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku. (11) Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita di Antiokhia dan di Ikonium dan di Listra. Semua penganiayaan itu kuderita dan Tuhan telah melepaskan aku dari padanya. (12) Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya, (13) sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan. (14) Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu. (15) Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. (16) Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. (17) Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”.

 

10)      “tidak mau berdamai”.

KJV: trucebreakers [= pelanggar gencatan senjata].

RSV: implacable [= tidak bisa ditenangkan / tak berbelas-kasihan / bersifat tidak mengampuni].

NIV: unforgiving [= bersifat tidak mengampuni].

NASB: irreconcilable [= tak bisa didamaikan].

 

Dari mana bisa terjadi perbedaan terjemahan-terjemahan seperti ini? Kata ini bisa ditinjau dari beberapa sudut, sehingga semua terjemahan di atas memang memungkinkan.

 

Perhatikan komentar / tafsiran dari beberapa penafsir di bawah ini.

 

Wycliffe mengatakan bahwa terjemahan yang benar adalah ‘implacable’ [= tidak bisa ditenangkan / tak berbelas-kasihan / bersifat tidak mengampuni].

 

Jamieson, Fausset & Brown juga mengatakan bahwa terjemahan yang benar dari kata Yunani ASPONDOI yang digunakan di sini adalah ‘implacable’, sedangkan terjemahan ‘trucebreakers’ [= pelanggar gencatan senjata / perjanjian] seperti dalam KJV, dalam bahasa Yunani adalah ASUNTHETOI.

 

Tetapi Adam Clarke mengatakan bahwa kata Yunani ASPONDOI yang digunakan di sini berasal dari kata ‘A’ yang berarti ‘tidak’, dan kata SPONDEE, yang berarti ‘suatu pencurahan’, yang menunjuk pada ‘suatu perjanjian’ karena dalam membuat perjanjian, ada upacara pencurahan anggur dan darah. Jadi, kata ASPONDOI berarti orang yang tidak mau terikat oleh perjanjian. Mereka mau / berani menjanjikan apapun, karena mereka tidak pernah bermaksud untuk melaksanakan apa yang dijanjikan.

 

Adam Clarke: “‘Truce-breakers.’ Aspondoi‎. From a‎, the alpha negative, and spondee‎, a libation, because in making treaties libations both of blood and wine were poured out. The word means those who are bound by no promise, held by no engagement, obliged by no oath; persons who readily promise anything, because they never intend to perform. [= ‘Pelanggar gencatan senjata’. ASPONDOI. Dari A, alfa negatif / tidak, dan SPONDE, suatu penuangan cairan, karena dalam membuat perjanjian-perjanjian baik darah dan anggur dicurahkan. Kata itu berarti mereka yang tidak diikat oleh janji apapun, tidak ditahan oleh janji apapun, tidak diikat oleh sumpah apapun; orang-orang yang dengan siap / segera menjanjikan apapun, karena mereka tak pernah bermaksud untuk melakukannya.].

 

Sedangkan Albert Barnes mengatakan bahwa ASPONDOI memang berarti ‘tanpa perjanjian’, dan ini menunjuk kepada orang yang menentang perjanjian. Tetapi ia berkata bahwa ini bisa menunjuk kepada 2 golongan orang, yaitu:

a)   Orang yang tidak menghargai perjanjian (ini seperti pandangan Clarke di atas).

b)   Orang yang tidak mau didamaikan dengan orang lain pada waktu terjadi perbedaan. Ini menjadi seperti terjemahan Kitab Suci Indonesia dan NASB.

 

Barnes’ Notes: “‘Trucebreakers.’ The same word in Rom 1:31, is rendered ‘implacable;’ see the notes at that verse. It properly means ‘without treaty;’ that is, those who are averse to any treaty or compact. It may thus refer to those who are unwilling to enter into any agreement; that is, either those who are unwilling to be reconciled to others when there is a variance - IMPLACABLE; or those who DISREGARD treaties or agreements. In either case, this marks a very corrupt condition of society. Nothing would be more indicative of the lowest state of degradation, than that in which all compacts and agreements were utterly disregarded. [= ‘Pelanggar gencatan senjata’. Kata yang sama dalam Ro 1:31, diterjemahkan ‘implacable’ (tak bisa ditenangkan / tak berbelas kasihan); lihat catatan pada ayat itu. Itu secara tepat berarti ‘tanpa perjanjian’; artinya, mereka yang menolak / menentang perjanjian apapun. Jadi itu bisa menunjuk kepada mereka yang tidak mau masuk ke dalam perjanjian apapun; artinya, atau mereka yang tidak mau diperdamaikan dengan orang-orang lain pada waktu di sana ada perbedaan / pertengkaran - TAK BISA DITENANGKAN / TAK BERBELAS KASIHAN; atau mereka yang tidak mempedulikan perjanjian-perjanjian. Dalam kasus yang manapun, ini menandai suatu keadaan masyarakat yang jahat / rusak. Tak ada apapun yang lebih menunjukkan keadaan degradasi yang terendah, dari pada keadaan itu dalam mana semua perjanjian sama sekali tak dipedulikan.].

 

Barnes’ Notes (tentang Ro 1:31): “‘Implacable.’ This word properly denotes those who will not be reconciled where there is a quarrel; or who pursue the offender with unyielding revenge. It denotes an unforgiving temper; and was doubtless common among the ancients, as it is among all pagan people. The aborigines of America have given the most striking manifestation of this that the world has known. It is well known that among them, neither time nor distance will obliterate the memory of an offence; and that the avenger will pursue the offender over hills and streams, and through heat or snow, happy if he may at last, though at the expiration of years, bury the tomahawk in the head of his victim, though it may be at the expense of his own life. [= ‘Tak bisa ditenangkan / diperdamaikan’. Kata ini secara tepat menunjukkan mereka yang tidak mau diperdamaikan dimana disana ada suatu pertengkaran; atau yang mengejar si pelanggar dengan balas dendam yang tidak mau mundur. Itu menunjukkan suatu temperamen yang tidak mengampuni; dan tak diragukan merupakan sesuatu yang umum di antara orang-orang kuno, sebagaimana itu umum di antara orang-orang kafir. Orang-orang pribumi Amerika telah memberikan perwujudan yang paling menyolok tentang ini yang pernah dikenal oleh dunia. Merupakan sesuatu yang terkenal bahwa di antara mereka, baik waktu maupun jarak tidak akan menghapuskan ingatan tentang suatu pelanggaran; dan bahwa sang pembalas dendam akan mengejar si pelanggar melewati bukit-bukit dan sungai-sungai, dan melalui panas atau salju, bahagia jika ia akhirnya, sekalipun pada akhir dari tahun-tahun, menguburkan tomahawk di kepala korbannya, sekalipun dengan pengorbanan nyawanya sendiri.].

Catatan: dalam Ro 1:31 ada problem text (lihat Jamieson, Fausset & Brown), karena itu ada terjemahan-terjemahan yang tidak mempunyai kata ini.

 

William Barclay: People will be implacable in their hatreds (aspondos). Spondē is the word for a truce or an agreement. Aspondos can mean two things. It can mean that someone is so bitter as to be completely unable to come to terms with the person with whom he or she has quarrelled. Or it can mean being so dishonourable as to break the terms of an agreement. In either case, the word describes a certain harshness of mind which separates people from their neighbours in unrelenting bitterness. It may be that, since we are only human, we cannot live entirely without differences with one another; but to perpetuate these differences is one of the worst - and also one of the most common - of all sins. When we are tempted to do so, we should hear again the voice of our blessed Lord saying on the cross: ‘Father, forgive them.’ [= Orang-orang akan menjadi tidak berbelas kasihan dalam kebencian mereka (ASPONDOS). SPONDE adalah kata untuk suatu gencatan senjata atau suatu perjanjian. ASPONDOS bisa berarti dua hal. Itu bisa berarti bahwa seseorang adalah begitu pahit sehingga sama sekali tidak bisa sampai pada syarat-syarat (perjanjian) dengan orang dengan siapa ia telah bertengkar. Atau itu bisa berarti begitu tidak terhormat sehingga melanggar syarat-syarat dari suatu perjanjian. Dalam kasus manapun, kata itu menggambarkan suatu kekerasan pikiran tertentu yang memisahkan orang-orang dari sesama mereka dalam kepahitan yang tak henti-hentinya. Memang bisa bahwa, karena kita hanyalah manusia, kita tak bisa hidup sepenuhnya tanpa perbedaan-perbedaan satu dengan yang lain; tetapi mengabadikan perbedaan-perbedaan ini adalah salah satu dari yang terburuk - dan juga salah satu dari yang paling umum - dari semua dosa-dosa. Pada waktu kita dicobai untuk melakukan demikian, kita harus mendengar lagi suara Tuhan kita yang diberkati / terpuji yang berkata pada salib: ‘Bapa, ampunilah mereka’.].

 

The Bible Exposition Commentary: “‘Trucebreakers’ (2 Tim 3:3) describes people who will not try to agree. They are unyielding and irreconcilable and must have their own way. [= ‘Pelanggar gencatan senjata’ (2Tim 3:3) menggambarkan orang-orang yang tidak mau berusaha untuk setuju. Mereka tidak menyerah dan tidak bisa didamaikan dan harus mendapatkan keinginan mereka.].

 

Penerapan:

 

1.            Apakah saudara adalah orang yang memegang janji?

Bdk. Maz 15:1-4 - [(1) Mazmur Daud.] TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemahMu? Siapa yang boleh diam di gunungMu yang kudus? (2) Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, (3) yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya; (4) yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi;”.

 

Perhatikan bahwa yang saya garis bawahi itu merupakan salah satu syarat dari orang yang boleh diam di rumah Tuhan. Tetapi Paulus mengatakan bahwa ternyata ‘melanggar perjanjian’ menjadi ciri dari orang di dalam gereja!

 

2.            Apakah saudara adalah orang yang tidak mau didamaikan dengan orang dengan siapa saudara bertengkar? Orang Kristen seharusnya menjadi pembawa / pembuat damai.

Mat 5:9 - “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”.

Dan karena itu orang Kristen itu sendiri harus mau berdamai dengan orang lain. Kalau saudara sudah mau berdamai, tetapi ‘lawan’ saudara tidak mau, itu bukan salah saudara.

Ro 12:18 - Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!”.

 

11)      “suka menjelekkan orang”.

KJV: false accusers [= penuduh-penuduh palsu].

RSV: slanderers [= pemfitnah-pemfitnah].

NIV: slanderous [= bersifat memfitnah].

NASB: malicious gossips [= gosip-gosip yang jahat].

 

Kata Yunani yang digunakan adalah DIABOLOI, yang merupakan kata bentuk jamak dari DIABOLOS. Dari kata DIABOLOS ini diturunkan kata bahasa Inggris ‘devil’ {= setan / iblis}], yang berarti ‘an accuser / a slanderer’ [= seorang penuduh / pemfitnah], yang merupakan gelar untuk setan / iblis (muncul dalam Wah 12:9).

 

Wah 12:9 - “Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis (Yunani: DIABOLOS) atau Satan (Yunani: SATANAS), yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.”.

 

Bandingkan dengan Roh Kudus yang disebut PARAKLETOS (Yoh 14:16  Yoh 14:26  Yoh 15:26  Yoh 16:7), yang bisa diartikan ‘Pembela’.

 

Kalau saudara suka memfitnah / menjelekkan orang, maka ingat bahwa itu pekerjaan Iblis!

 

Adam Clarke: “‘False accusers.’ ‎Diaboloi. Devils; but properly enough rendered false accusers, for this is a principal work of the Devil. Slanderers; striving ever to ruin the characters of others.” [= ‘Penuduh-penuduh palsu’. DIABOLOI. Iblis-iblis; tetapi secara cukup tepat diterjemahkan penuduh-penuduh palsu, karena ini adalah pekerjaan utama dari Iblis. Pemfitnah-pemfitnah; selalu berusaha untuk menghancurkan karakter dari orang-orang lain.].

 

Barnes’ Notes: “‘False accusers.’ Margin, ‘makebates.’ The word ‘makebate’ means one who excites contentions and quarrels. Webster. The Greek here is diaboloi ‎- ‘devils’ - the primitive meaning of which is, ‘calumniator, slanderer, accuser;’ compare the notes at 1 Tim 3:11, where the word is rendered ‘slanderers.’ [= ‘Penuduh-penuduh palsu’. Catatan tepi, ‘makebates’. Kata ‘makebate’ berarti seseorang yang membangkitkan pertikaian dan pertengkaran. Webster. Kata Yunaninya di sini adalah DIABOLOI - ‘Iblis-iblis’ - arti primitif darinya adalah, ‘Pemfitnah, penuduh’; bandingkan dengan catatan pada 1Tim 3:11, dimana kata itu diterjemahkan ‘pemfitnah-pemfitnah’.].

 

Barnes’ Notes (tentang 1Tim 3:11): ‘Not slanderers.’ compare Titus 2:3, ‘Not false accusers.’ The Greek word is ‎diabolous ‎- ‘devils.’ It is used here in its original and proper sense, to denote a ‘calumniator,’ ‘slanderer,’ or ‘accuser.’ It occurs in the same sense in 2 Tim 3:3, and Titus 2:3. Elsewhere in the New Testament, it is uniformly rendered ‘devil’ (compare notes, Matt 4:1), and is given to Satan, the prince of the fallen angels (Matt 9:34), by way of eminence, as ‘the accuser;’ compare notes on Job 1:6-11, and Rev 12:10. [= ‘Bukan pemfitnah’. bdk. Tit 2:3, ‘bukan penuduh palsu’. Kata Yunaninya adalah DIABOLOUS - ‘iblis-iblis’. Kata itu digunakan di sini dalam arti yang orisinil dan tepat, untuk menunjuk kepada seorang pemfitnah atau penuduh. Kata itu muncul dengan arti yang sama dalam 2Tim 3:3, dan Tit 2:3. Di tempat lain dalam Perjanjian Baru, kata itu secara seragam diterjemahkan ‘iblis’ (bandingkan catatan, Mat 4:1), dan diberikan kepada Setan / Iblis, pangeran dari malaikat-malaikat yang jatuh (Mat 9:34), sebagai yang paling utama, seperti ‘si penuduh / pendakwa’; bandingkan catatan tentang Ayub 1:6-11, dan Wah 12:10.].

 

Ayub 1:6-11 - “(6) Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datanglah juga Iblis. (7) Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: ‘Dari mana engkau?’ Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: ‘Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi.’ (8) Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: ‘Apakah engkau memperhatikan hambaKu Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.’ (9) Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: ‘Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah? (10) Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu. (11) Tetapi ulurkanlah tanganMu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapanMu.’.

 

Wah 12:10 - Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata: ‘Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapiNya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita..

 

Matthew Henry: The times are perilous when men are false accusers one of another, diaboloi - devils one to another, having no regard to the good name of others, or to the religious obligations of an oath, but thinking themselves at liberty to say and do what they please, Ps 12:4. [= Masa adalah berbahaya pada waktu orang-orang adalah penuduh-penuduh palsu satu terhadap yang lain, DIABOLOI - iblis-iblis satu terhadap yang lain, tak mempedulikan nama baik dari orang-orang lain, atau pada kewajiban-kewajiban agamawi dari suatu sumpah, tetapi menganggap diri mereka sendiri bebas untuk mengatakan dan melakukan apa yang mereka senangi / inginkan, Maz 12:5.].

Maz 12:5 - “dari mereka yang berkata: ‘Dengan lidah kami, kami menang! Bibir kami menyokong kami! Siapakah tuan atas kami?’”.

 

Barclay: In these terrible days, people will be ‘slanderers.’ The Greek for ‘slanderer’ is diabolos, which is precisely the English word ‘devil.’ The devil is the patron saint of all slanderers, and of all slanderers he is chief. There is a sense in which slander is the most cruel of all sins. If our possessions are stolen, we can set to and build up our fortunes again; but, if our good name is taken away, irreparable damage has been done. It is one thing to start an evil and untrue report on its malicious way; it is entirely another thing to stop it. ... Many men and women, who would never dream of stealing, think nothing of - even find pleasure in - passing on a story which ruins someone else’s good name, without even trying to find out whether or not it is true. There is slander enough in many churches to make the recording angel weep as he records it. [= Dalam / pada hari-hari yang mengerikan ini, orang-orang akan menjadi ‘pemfitnah-pemfitnah’. Kata Yunani untuk ‘pemfitnah’ adalah DIABOLOS, yang secara persis adalah kata bahasa Inggris untuk ‘devil’ / ‘Iblis’. Iblis adalah orang kudus pelindung dari semua pemfitnah, dan dari semua pemfitnah ia adalah kepala / pemimpin. Di sana ada suatu arti dalam mana fitnah adalah yang paling kejam dari semua dosa. Jika milik kita dicuri, kita bisa mulai dan membangun kekayaan kita lagi; tetapi jika nama baik kita diambil, kerusakan yang tak bisa diperbaiki telah dilakukan. Memulai suatu laporan / desas desus yang jahat dan tidak benar pada jalannya yang jahat merupakan sesuatu yang sepenuhnya berbeda dengan menghentikannya. ... Banyak orang-orang laki-laki dan perempuan, yang tidak pernah bermimpi tentang mencuri, tidak berpikir apapun tentang, bahkan mendapatkan kesenangan dalam, menyampaikan suatu cerita yang menghancurkan nama baik seorang lain, bahkan tanpa berusaha untuk mengetahui apakah itu benar atau tidak. Ada cukup banyak fitnah dalam banyak gereja-gereja untuk membuat malaikat pencatat menangis pada waktu ia mencatatnya.].

 

‘Memfitnah’ ini merupakan salah satu dosa untuk mana seseorang seharusnya dikucilkan dari gereja. Ini sudah bisa terlihat dari ay 5: “Jauhilah mereka itu!”. Juga bisa terlihat dari text di bawah ini.

 

Bdk. 1Kor 5:10-11 - “(10) Yang aku maksudkan bukanlah dengan semua orang cabul pada umumnya dari dunia ini atau dengan semua orang kikir dan penipu atau dengan semua penyembah berhala, karena jika demikian kamu harus meninggalkan dunia ini. (11) Tetapi yang kutuliskan kepada kamu ialah, supaya kamu jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama.”.

 

Tetapi agak repot juga mengucilkan / memberlakukan siasat gerejani terhadap seseorang yang mempunyai kedudukan tertinggi dalam gerejanya, sekalipun ia secara terang-terangan terus menerus memfitnah, seperti dalam kasus Suhento Liauw yang terus menerus memfitnah Calvin sebagai pembunuh Servetus, dan macam-macam fitnahan busuk lainnya. Bukan saja ia tidak dikucilkan, tetapi ia bahkan menjadi teladan bagi jemaat dan murid-muridnya, untuk juga memfitnah Calvin / para Calvinist / Calvinisme!

 

Juga repotnya, orang Kristen seringkali / pada umumnya bukannya mengucilkan orang yang memfitnah / menyebarkan gosip, tetapi sebaliknya mereka senang mendengarnya.

 

Bagi saudara yang senang mendengar gossip / fitnah, ingat bahwa orang yang sekarang ini memfitnah / menggosip orang lain kepada saudara, suatu hari bisa saja memfitnah / menggosip saudara kepada orang lain!

 

12)      “tidak dapat mengekang diri”.

KJV: incontinent [= tanpa penguasaan diri].

RSV: profligates [= diserahkan sepenuhnya pada ketidak-bermoralan].

NIV/NASB: without self-control [= tanpa penguasaan diri].

 

Clarke mengatakan bahwa kata Yunani yang digunakan adalah AKRATEIS, yang berasal dari 2 kata Yunani, yaitu ‘A’, yang berarti ‘tidak’, dan KRATOS, yang berarti ‘power’ [= kekuatan / kuasa]. Jadi, orang ini tidak mempunyai kekuatan untuk menguasai dirinya / nafsunya. Ini bisa terjadi dalam banyak hal / keinginan, seperti sex, makan, amarah, bersenang-senang, tidur, main handphone, dan sebagainya.

 

Bahkan hal-hal yang baik, atau hal yang dalam dirinya sendiri bukan dosa, tetapi kalau dilakukan secara berlebihan, menjadi dosa. Misalnya olah raga, main HP, jalan-jalan, shopping, makan, dan sebagainya. Karena itu semua keinginan kita harus dikendalikan, supaya tidak melampaui batas.

 

Adam Clarke: “‘Incontinent.’ Akrateis. From a, the alpha negative, and kratos, power. Those who, having sinned away their power of self-government, want strength to govern their appetites; especially those who are slaves to uncleanness.” [= ‘Tanpa penguasaan diri’. AKRATEIS. Dari A, alpha negatif / tidak, dan KRATOS, kuasa. Mereka yang, telah berdosa dengan membuang kuasa mereka untuk pemerintahan diri sendiri, kekurangan kekuatan untuk memerintah nafsu makan mereka; khususnya mereka yang adalah budak-budak dari kecemaran.].

 

Barnes’ Notes: “‘Incontinent.’ 1 Cor 7:5. Literally, ‘without strength;’ that is, without strength to resist the solicitations of passion, or who readily yield to it. [= ‘Tanpa penguasaan diri’. 1Kor 7:5. Secara hurufiah, ‘tanpa kekuatan’; artinya, tanpa kekuatan untuk menahan godaan dari nafsu, atau yang dengan segera / siap menyerah kepadanya.].

1Kor 7:5 - “Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak.”.

KJV: for your incontinency [= untuk ketidak-mampuanmu untuk mengontrol].

RSV: through lack of self-control [= melalui kurangnya penguasaan diri].

NIV/NASB: because of your lack of self-control [= karena kurangnya penguasaan dirimu].

 

Barclay: People will be ‘ungovernable in their desires’ (akratēs). The Greek verb kratein means ‘to control.’ It is possible to reach a stage when, far from controlling a habit or desire, a person becomes a slave to it. That is the inevitable way to ruin, for no one can take control of anything without first taking control of self. [= Orang-orang akan menjadi ‘tidak bisa diperintah / dikendalikan dalam keinginan-keinginan mereka’ (akratēs). Kata kerja Yunani KRATEIN berarti ‘mengontrol / mengendalikan’. Adalah mungkin untuk mencapai suatu tingkat pada waktu, jauh dari penguasaan / pengendalian suatu kebiasaan atau keinginan, seseorang menjadi seorang budak darinya. Itu adalah suatu jalan yang tak terhindarkan pada kehancuran, karena tak seorangpun bisa mengendalikan apapun tanpa pertama-tama mengendalikan dirinya sendiri.].

 

13)            “garang”.

KJV/RSV: fierce [= ganas / galak].

NIV/NASB: ‘brutal’ [= brutal / kejam].

 

Clarke mengatakan bahwa kata Yunani yang digunakan adalah ANEEMEROI, yang berasal dari 2 kata Yunani, yaitu ‘A’, yang berarti ‘tidak’, dan HEEMEROS, yang berarti ‘mild’ / ‘gentle’ [= lembut]. Jadi, arti katanya adalah ‘tidak lembut’, atau ‘garang’ / ‘galak’.

 

Adam Clarke: ‘Fierce.’ ‎Aneemeroi; From a, the alpha negative, and heemeros, mild or gentle. Wild, impetuous, whatever is contrary to pliability and gentleness. [= ‘Ganas / galak’. ANEMEROI; Dari A, alpha negatif / tidak, dan HEMEROS, moderat atau lembut. Liar, tidak sabar / bergerak dengan kekuatan dan kecepatan yang besar, apapun yang bertentangan dengan kelunakan dan kelembutan.].

 

Matthew Henry: When men have no government of themselves and their own appetites: not of their own appetites, for they are incontinent; not of their own passions, for they are fierce; when they have no rule over their own spirits, and therefore are like a city that is broken down, and has no walls; they are soon fired, upon the least provocation. [= Pada waktu orang-orang tidak mempunyai pemerintahan atas diri mereka sendiri dan nafsu makan / keinginan mereka sendiri: tidak tentang nafsu makan / keinginan mereka sendiri, karena mereka tidak punya penguasaan diri; tidak tentang nafsu mereka sendiri, karena mereka ganas / galak; pada waktu mereka tidak punya peraturan atas roh / kecenderungan mereka sendiri, dan karena itu seperti sebuah kota yang roboh, dan tidak mempunyai tembok; mereka segera / cepat menyala / meledak, karena provokasi yang terkecil.].

Bdk. Amsal 25:28 - “Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya.”.

 

Barclay: People will be ‘savage.’ The word is anēmeros and would be more fittingly applied to a wild animal than to a human being. It denotes a savagery which has neither sensitivity nor sympathy. People can be savage in rebuke and savage in pitiless action. Even a dog may show signs of being sorry when it has hurt its owner; but there are people who, in their treatment of others, can be lost to human sympathy and feeling. [= Orang-orang akan menjadi ‘liar / ganas / buas’. Kata itu adalah anēmeros dan akan secara lebih tepat diterapkan pada seekor binatang liar dari pada kepada seorang manusia. Itu menunjukkan suatu keliaran / keganasan yang tidak mempunyai kepekaan ataupun simpati. Orang-orang bisa ganas dalam mengkritik / memarahi dan ganas dalam tindakan tanpa belas kasihan. Bahkan seekor anjing bisa menunjukkan tanda-tanda penyesalan pada waktu ia telah menyakiti pemiliknya; tetapi disana ada orang-orang yang, dalam perlakuan mereka terhadap orang-orang lain, bisa tidak peka / dikeraskan terhadap simpati dan perasaan manusia.].

 

14)      “tidak suka yang baik”.

KJV: despisers of those that are good [= pemandang rendah tentang hal-hal yang baik].

RSV/NASB: haters of good [= pembenci-pembenci dari yang baik].

NIV: not lovers of the good [= bukan pecinta-pecinta dari yang baik].

 

Adam Clarke: ‘Despisers of those that are good.’ Aphilagathoi. Not lovers of good men. ... Those who do not love the good must be radically bad themselves. [= ‘Pemandang rendah tentang hal-hal yang baik’. APHILAGATHOI. Bukan pecinta-pecinta dari orang-orang yang baik. ... Mereka yang tidak mengasihi orang-orang yang baik, pasti mereka sendiri adalah buruk secara radikal.].

 

Barnes’ Notes: “‘Despisers of those that are good.’ In Titus 1:8, it is said of a bishop that he must be ‘a lover of good men.’ This, in every condition of life, is a virtue, and hence, the opposite of it is here set down as one of the characteristics of that evil age of which the apostle speaks. [= ‘Pemandang rendah tentang hal-hal yang baik’. Dalam Tit 1:8, dikatakan tentang seorang uskup bahwa ia harus adalah ‘seorang pecinta dari orang-orang yang baik’. Ini, dalam setiap sikon kehidupan, adalah suatu sifat baik, dan karena itu, kebalikannya di sini dituliskan sebagai satu dari ciri-ciri dari jaman yang jahat itu tentang mana sang rasul berbicara.].

Tit 1:8 - “melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri”.

KJV: ‘a lover of good men’ [= seorang pecinta orang-orang yang baik].

 

Barclay: In these last terrible days, people will come ‘to have no love for good things or good persons’ (aphilagathos). There can come a time in life when the company of good people and the presence of good things is simply an embarrassment. Those who feed their minds on cheap literature can in the end find nothing in the great classics. Their mental palate loses its taste. Finding even the presence of good people something which is best avoided is a true sign of having reached the very depths. [= Pada hari-hari terakhir yang mengerikan ini, orang-orang akan ‘tidak mempunyai kasih untuk hal-hal yang baik atau orang-orang yang baik (APHILAGATHOS). Akan datang suatu masa dalam kehidupan pada waktu kumpulan / hubungan dengan orang-orang baik dan kehadiran dari hal-hal yang baik merupakan hal yang memalukan. Mereka yang memberi makan pikiran mereka dengan literatur murahan pada akhirnya tidak bisa menemukan apapun dalam literatur klasik yang agung. Rasa kecap mental mereka kehilangan rasanya. Menemukan bahkan dalam kehadiran dari orang-orang baik sesuatu yang sebaiknya dihindari adalah suatu tanda yang benar dari telah tercapainya kedalaman yang sangat dalam.].

 

-bersambung-

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali