Pemahaman Alkitab
(Rungkut
Megah Raya, blok D no 16)
Rabu,
tanggal 2 April 2014, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
II Timotius 3:1-17(1)
2Tim
3:1-17 - “(1)
Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. (2)
Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan
membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan
berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan
agama, (3) tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang,
tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, (4) suka
mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu
dari pada menuruti Allah. (5) Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah
mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka
itu! (6) Sebab di antara mereka terdapat orang-orang yang menyelundup ke rumah
orang lain dan menjerat perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa dan
dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu, (7) yang walaupun selalu ingin diajar,
namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran. (8) Sama seperti Yanes dan
Yambres menentang Musa, demikian juga mereka menentang kebenaran. Akal mereka
bobrok dan iman mereka tidak tahan uji. (9) Tetapi sudah pasti mereka tidak
akan lebih maju, karena seperti dalam hal Yanes dan Yambres, kebodohan
merekapun akan nyata bagi semua orang. (10) Tetapi engkau telah mengikuti
ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan
ketekunanku. (11) Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara
seperti yang telah kuderita di Antiokhia dan di Ikonium dan di Listra. Semua
penganiayaan itu kuderita dan Tuhan telah melepaskan aku dari padanya. (12)
Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan
menderita aniaya, (13) sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat,
mereka menyesatkan dan disesatkan. (14) Tetapi hendaklah engkau tetap
berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan
selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu. (15) Ingatlah juga
bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat
kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus
Yesus. (16) Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk
mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk
mendidik orang dalam kebenaran. (17) Dengan demikian tiap-tiap manusia
kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”.
Ay 1: “Ketahuilah
bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang
sukar.”.
1)
“Ketahuilah”.
KJV:
‘This know also’ (= Ketahuilah ini
juga).
RSV:
‘But understand this’ (= Tetapi
mengertilah ini).
NIV:
‘But mark this’ (= Tetapi
perhatikanlah ini).
NASB:
‘But realize this’ (= Tetapi
sadarilah ini).
Kata
‘ketahuilah’
ada dalam bentuk present imperative.
Lenski:
“The
present imperative bids Timothy ever to realize what Paul states here.”
(= Kata perintah bentuk present meminta Timotius selalu menyadari apa yang
Paulus nyatakan di sini.).
2)
“bahwa pada hari-hari terakhir”.
Barnes’
Notes:
“‘In the last days.’ Under
the gospel dispensation; some time in that period during which the affairs of
the world will be closed up;” (= ‘Pada hari-hari terakhir’. Di bawah / dalam jaman Injil; beberapa
waktu dalam periode itu pada saat urusan-urusan dunia akan berhenti;).
William
Hendriksen: “the
expression ‘in the last days,’ as here used, cannot be limited to the days
which will immediately precede Christ’s second coming. It would have been
senseless to tell Timothy to avoid people who would never bother him at all!”
(= ungkapan ‘pada hari-hari terakhir’, seperti yang digunakan di sini, tidak
bisa dibatasi pada hari-hari yang akan segera mendahului kedatangan Kristus yang
kedua-kalinya. Akan merupakan sesuatu yang tak berguna untuk memberitahu
Timotius untuk menghindari orang-orang yang tidak pernah akan mengganggunya sama
sekali!).
3)
“akan datang masa yang
sukar.”.
KJV:
‘perilous times’ (= masa yang berbahaya).
RSV:
‘times of stress’ (= masa dari tekanan / ketegangan).
NIV:
‘terrible times’ (= masa yang dahsyat / mengerikan / buruk
sekali).
NASB:
‘difficult times’ (= masa yang sukar).
ASV:
‘grievous times’ (= masa yang menyedihkan).
Pulpit
Commentary: “‘Grievous’
is not a very good rendering. ‘Perilous,’ though in some contexts it is a
right rendering, is a little too restricted here. ‘Difficult,’ ‘trying,’
‘uneasy,’ or the like, is nearer the sense.”
(= ‘Menyedihkan’ bukanlah terjemahan yang baik. ‘Berbahaya /
membahayakan’, sekalipun dalam beberapa kontext merupakan terjemahan yang
benar, agak terlalu ketat di sini. ‘Sukar’, ‘berat’, ‘mengganggu /
tidak menyenangkan’ atau yang sejenisnya, lebih dekat dengan artinya.).
Bdk.
Mat 8:28 - “Setibanya
di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang
yang kerasukan setan menemui Yesus. Mereka sangat berbahaya,
sehingga tidak seorangpun yang berani melalui jalan itu.”.
Kata
‘berbahaya’
di sini menggunakan kata Yunani yang sama dengan ‘sukar’
dalam 2Tim 3:1 ini.
Barnes’
Notes:
“‘Perilous times shall
come.’ Times of danger, of persecution, and of trial.” (= ‘Masa yang
berbahaya akan datang’. Masa dari bahaya, dari penganiayaan, dan dari ujian /
pencobaan.).
Calvin: “By this prediction he intended still more to
sharpen his diligence; for, when matters go on to our wish, we become more
careless; but necessity urges us keenly. ... And hence we learn, that, so far
from giving way, or being terrified, on account of any difficulties whatsoever,
we ought, on the contrary, to arouse our hearts for resistance.”
(= Oleh ramalan ini ia bermaksud untuk lebih menajamkan lagi kerajinannya;
karena, pada waktu hal-hal berjalan seperti keinginan kita, kita menjadi
ceroboh; tetapi kebutuhan mendesak kita dengan keras / hebat. ... Dan karena itu
kita belajar, bahwa begitu jauh dari menyerah, atau menjadi takut, karena
kesukaran-kesukaran apapun, sebaliknya kita harus membangunkan hati kita untuk
pertahanan / perlawanan.).
Calvin: “Under ‘the last days,’ he includes the
universal condition of the Christian Church. Nor does he compare his own age
with ours, but, on the contrary, informs Timothy what will be the future
condition of the kingdom of Christ; for many imagined some sort of condition
that would be absolutely peaceful, and free from any annoyance. In short, he
means that there will not be, even under the gospel, such a state of perfection,
that all vices shall be banished, and virtues of every kind shall flourish; and
that therefore the pastors of the Christian Church will have quite as much to do
with wicked and ungodly men as the prophets and godly priests had in ancient
times. Hence it follows, that there is no time for idleness or for repose.”
(= Di bawah ‘hari-hari terakhir’, ia mencakup keadaan Gereja Kristen. Ia
tidak membandingkan jamannya dengan jaman kita, tetapi sebaliknya, memberi
informasi kepada Timotius tentang apa yang akan merupakan keadaan yang akan
datang dari kerajaan Kristus; karena banyak orang membayangkan / mengkhayalkan
sejenis keadaan yang damai secara mutlak, dan bebas dari gangguan apapun.
Singkatnya, ia memaksudkan bahwa tidak akan ada, bahkan di bawah injil, keadaan
sempurna seperti itu, dimana semua kejahatan akan dibuang, dan setiap jenis
kebaikan akan tumbuh dengan subur; dan bahwa karena itu pendeta-pendeta dari
Gereja Kristen akan mempunyai sama banyaknya hal-hal yang harus dilakukan dengan
orang-orang jahat dan tak beriman seperti nabi-nabi dan imam-imam yang saleh
punyai dalam jaman kuno. Sebagai akibatnya, maka disana tidak ada waktu untuk
kemalasan atau untuk istirahat / ketenangan.).
Kata-kata
ini jelas menunjukkan bahwa Calvin bukan pengikut Postmillenialisme.
J.
Vernon McGee: “‘Perilous
times shall come,’ which means grievous or desperate times are coming. That
doesn’t look like the conversion of the world, does it? It doesn’t appear
that the church is going to bring in the Millennium or is going to convert the
world. The Bible doesn’t teach that it will. That is the pipe dream of a great
many idealists and a great many folk who have lived with their heads
ostrich-like in the sand and have never faced reality.” (= ‘Masa yang berbahaya akan
datang’, yang berarti masa-masa yang menyedihkan atau membuat putus asa sedang
datang. Itu tidak kelihatan seperti pertobatan dari dunia, bukan? Tidak
kelihatan bahwa gereja akan membawa masuk Kerajaan 1000 tahun atau akan
mempertobatkan dunia. Alkitab tidak mengajar bahwa gereja akan melakukan hal
itu. Itu adalah khayalan dari sangat banyak orang-orang yang idealist dan sangat
banyak orang yang yang telah hidup dengan kepala mereka yang seperti kepala
burung unta di dalam pasir dan tidak pernah menghadapi realita.)
- Libronix.
Sama
seperti Calvin, J. Vernon McGee menggunakan kata-kata Paulus di sini untuk
menentang Postmillenialisme.
Bible
Knowledge Commentary:
“As in his previous letter,
Paul warned Timothy about the collapse predicted for the last days (cf. 1 Tim
4:1-3), a term which includes the entire period between the first century and
Christ’s return. During this interim, according to the prediction, the world
will see terrible times of societal degeneration.” [= Seperti dalam
suratnya yang terdahulu, Paulus memperingati Timotius tentang keruntuhan yang
diramalkan untuk hari-hari terakhir (bdk. 1Tim 4:1-3), suatu istilah yang
mencakup seluruh periode di antara abad pertama dan kembalinya Kristus. Dalam
sepanjang masa antara dua saat itu, sesuai dengan ramalan, dunia akan melihat
saat-saat yang mengerikan dari kerusakan masyarakat.].
Matthew
Henry:
“Timothy must not think it
strange if there were in the church bad men; for the net of the gospel was to
enclose both good fish and bad, Matt 22:47,48. Jesus Christ had foretold (Matt.
xxiv.) that there would come seducers, and therefore we must not be offended at
it, nor think the worse of religion or the church for it.” [= Timotius tidak boleh merasa aneh jika disana dalam gereja ada
orang-orang jahat; karena jala dari injil harus mencakup baik ikan yang baik
maupun ikan yang buruk, Mat 22:47,48. Yesus Kristus telah meramalkan (Mat 24)
bahwa disana akan datang pembujuk-pembujuk, dan karena itu kita tidak boleh
tersandung padanya, ataupun berpikir lebih buruk tentang agama atau gereja untuk
itu.].
Catatan:
Mat 22:47,48 itu pasti salah, karena ayatnya tidak ada, mungkin yang dimaksudkan
adalah Mat 13:47-48 - “(47) ‘Demikian pula hal Kerajaan
Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan
berbagai-bagai jenis ikan. (48) Setelah penuh, pukat itupun diseret orang ke
pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan
ikan yang tidak baik mereka buang.”.
Matthew
Henry:
“Timothy must know that in
the ‘last days’ (v. 1), in gospel times, there would come perilous times.
Though gospel times were times of reformation in many respects, let him know
that even in gospel times there would be perilous times; not so much on account
of persecution from without as on account of corruptions within.” [= Timotius harus tahu bahwa pada hari-hari terakhir (ay 1), dalam jaman
injil, disana akan datang masa yang berbahaya. Sekalipun jaman injil adalah
saat-saat reformasi dalam banyak aspek, hendaklah ia tahu bahwa bahkan dalam
jaman injil disana akan ada saat-saat yang berbahaya; bukan karena penganiayaan
dari luar tetapi lebih karena kerusakan / kejahatan di dalam.].
Matthew
Henry:
“Note, 1. Sin makes the times perilous.
When there is a general corruption of manners, and of the tempers of men, this
makes the times dangerous to live in; for it is hard to keep our integrity in
the midst of general corruption. 2. The coming of perilous times is an evidence
of the truth of scripture-predictions; if the event in this respect did not
answer to the prophecy, we might be tempted to question the divinity of the
Bible.” (= Perhatikan, 1. Dosa membuat waktu berbahaya. Pada waktu disana ada
kerusakan / kejahatan umum dari kelakuan, dan tentang sifat dari manusia, ini
membuat waktu yang membahayakan untuk hidup di dalamnya; karena adalah sukar
untuk menjaga kelurusan / integritas kita di tengah-tengah kerusakan umum. 2.
Kedatangan dari waktu yang membahayakan ini merupakan suatu bukti dari kebenaran
ramalan Kitab Suci; seandainya peristiwa dalam hal ini tidak sesuai dengan
nubuatnya, kita bisa tergoda untuk mempertanyakan keilahian dari Alkitab.).
The
Biblical Illustrator:
“Sin makes the times bad: -
It is worth our noting that the apostle doth not place the peril and hardness of
the last times, in any external calamity or penal evils, as sword, plague,
famine, persecution; but in the prodigious sins and enormities of such as
profess religion. Sin is the evil of evils, and brings all other evils with it.
Let the times be never so miserable, and the Church lie under sad persecutions;
yet if they be not sinful times, they are not truly perilous times, but rather
purging and purifying times.” (= Dosa membuat masa buruk: - Merupakan sesuatu yang layak
diperhatikan bahwa sang rasul tidak menempatkan bahaya dan kekerasan dari masa
terakhir, dalam bencana lahiriah atau bencana hukum apapun, seperti pedang,
wabah, kelaparan, penganiayaan; tetapi dalam dosa-dosa dan kejahatan besar yang
sangat banyak dari orang-orang yang mengaku beragama. Dosa adalah bencana
terburuk dari bencana-bencana, dan membawa semua bencana lain dengannya.
Sekalipun masa itu tidak pernah begitu menyedihkan, dan Gereja ada di bawah
penganiayaan yang menyedihkan; tetapi jika itu bukan masa yang berdosa, itu
bukanlah benar-benar masa yang berbahaya, tetapi lebih merupakan masa penyucian
dan pemurnian.).
The
Biblical
Illustrator: “Fidelity
in evil times: - The worse the times we live in are, the greater will our honour
be, if we be faithful. ... The Lord hath done more for us of this last age of
the world than He ever did for our forefathers, and therefore He expects more
from us than He did from them; where He bestows much He looks for much again;
where we bestow double cost, we look for a double crop. It is a shame for us if
we do not do our work better by sunlight, than others that have had but
twilight.” (= Kesetiaan dalam masa yang jahat: - Makin buruk masa dimana kita
hidup, makin besar kehormatan kita, jika kita setia. ... Tuhan telah melakukan
lebih bagi kita pada jaman terakhir dari dunia dari pada yang pernah Ia lakukan
bagi nenek moyang kita, dan karena itu Ia mengharapkan lebih banyak dari kita
dari pada Ia mengharapkan dari mereka; dimana Ia memberikan banyak Ia mencari
banyak lagi; dimana kita memberikan ongkos ganda, kita mencari hasil / panen
ganda. Merupakan sesuatu yang memalukan bagi kita jika kita tidak melakukan
pekerjaan kita lebih baik pada cahaya matahari yang terang, dari pada
orang-orang lain yang hanya mempunyai cahaya senja.).
Ay 2-5a: “(2)
Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan
membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan
berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan
agama, (3) tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang,
tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, (4) suka mengkhianat,
tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada
menuruti Allah. (5a) Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi
pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya.”.
1)
“mencintai dirinya sendiri”.
KJV: ‘lovers of their own selves’ (= pecinta-pecinta diri mereka sendiri).
RSV/NASB: ‘lovers of self’ (= pecinta-pecinta diri sendiri).
NIV: ‘lovers of themselves’ (= pecinta-pecinta diri mereka sendiri).
Yunani:
PHILAUTOI.
Calvin:
“To spend time in explaining every
word would be superfluous; for the words do not need exposition. Only let my
readers observe that filauti>a,
self-love, which is put first, may be regarded as the source from which flow all
the vices that follow afterwards. He who loveth himself claims a superiority in
everything, despises all others, is cruel, indulges in covetousness, treachery,
anger, rebellion against parents, neglect of what is good, and such like.”
(= Menghabiskan waktu dengan menjelaskan setiap kata akan merupakan berlebihan /
tak berguna; karena kata-kata itu tidak membutuhkan exposisi / penjelasan yang
terperinci. Hanya hendaklah para pembacaku memperhatikan bahwa PHILAUTIA,
‘kasih kepada diri sendiri’, yang diletakkan di tempat pertama, bisa
dianggap sebagai sumber dari mana mengalir semua kejahatan-kejahatan yang
mengikutinya belakangan. Ia yang mengasihi dirinya sendiri mengclaim suatu
kesuperioran dalam segala sesuatu, menganggap rendah semua orang-orang lain,
kejam, memuaskan diri / menuruti hatinya dalam ketamakan, pengkhianatan,
kemarahan, pemberontakan terhadap orang tua, pengabaian dari apa yang baik, dan
sebagainya.).
Dalam
arti tertentu sebetulnya kita harus mengasihi diri sendiri.
Mat 22:39
- “Dan hukum yang kedua, yang sama
dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti
dirimu sendiri.”.
Yang
jadi masalah, adalah pada waktu kita HANYA mengasihi diri sendiri dan tidak
mempedulikan orang-orang lain maupun Allah sendiri.
Adam
Clarke:
“‘Lovers
of their own selves.’ Philautoi. Selfish, studious of their own
interest, and regardless of the welfare of all mankind.” (= ‘Pecinta-pecinta diri mereka
sendiri’. PHILAUTOI. Egois, bersungguh-sungguh tentang kepentingan mereka
sendiri, dan tidak menghiraukan kesejahteraan dari semua umat manusia.).
Barclay:
“It is no accident
that the first of these qualities will be a
life that is centred in self. The adjective used is philautos,
which means self-loving. Love of
self is the basic sin, from which all others flow. The moment anyone makes
self-will the centre of life, divine and human relationships are destroyed, and
obedience to God and charity to other people both become impossible. The essence
of Christianity is not the enthronement but the obliteration of self.” (= Bukan kebetulan
bahwa yang pertama dari kwalitet-kwalitet ini adalah suatu kehidupan yang
berpusatkan diri sendiri. Kata sifat yang digunakan adalah PHILAUTOS, yang
berarti mengasihi diri sendiri. Kasih kepada diri sendiri adalah dosa dasar,
dari mana semua yang lain mengalir. Pada saat siapapun membuat kehendak sendiri
sebagai pusat kehidupan, hubungan ilahi dan manusia dihancurkan, dan ketaatan
kepada Allah dan kasih kepada orang-orang lain keduanya menjadi mustahil.
Hakekat dari kekristenan bukanlah penobatan / penaikan kepada tahta dari diri
sendiri tetapi penghapusan diri sendiri.).
The
Bible Exposition Commentary: “There
is an emphasis on love: ‘lovers of their own selves,’ lovers of money
(‘covetous’), ‘lovers of pleasures more than lovers of God.’ The
heart of every problem is a problem in the heart. God commands us to love
Him supremely, and our neighbors as ourselves (Matt 22:34-40); but if we love
ourselves supremely, we will not love God or our neighbors. In this universe
there is God, and there are people and things. We should worship God, love
people, and use things. But if we start worshiping ourselves, we will ignore God
and start loving things and using people. This is the formula for a
miserable life; yet it characterizes many people today. The worldwide craving
for things is just one evidence that people’s hearts have turned away from
God.” [= Di sana ada
penekanan pada kasih: ‘Pecinta-pecinta diri mereka sendiri’, pecinta-pecinta
uang (‘tamak’), pecinta-pecinta kesenangan lebih dari pecinta-pecinta
Allah’. Hati / inti dari setiap problem adalah suatu problem dalam hati.
Allah memerintahkan kita untuk paling mengasihi Dia, dan mengasihi sesama kita
seperti diri kita sendiri (Mat 22:34-40); tetapi jika kita paling mengasihi diri
kita sendiri, kita tidak akan mengasihi Allah atau sesama kita. Dalam alam
semesta ini disana ada Allah, dan disana ada orang-orang dan benda-benda. Kita
harus menyembah Allah, mengasihi orang-orang, dan menggunakan benda-benda.
Tetapi jika kita mulai menyembah diri kita sendiri, kita akan mengabaikan Allah
dan mulai mengasihi benda-benda dan menggunakan orang-orang. Ini adalah
formula untuk suatu kehidupan yang menyedihkan; tetapi itu menjadi cici dari
banyak orang jaman sekarang. Keinginan-keinginan untuk benda-benda yang meliputi
seluruh dunia hanyalah merupakan satu bukti bahwa hati orang-orang telah
berbalik dari Allah.].
J.
Vernon McGee:
“‘Lovers of their own selves’ -
self-lovers. This is very much in evidence in our culture today. An article by a
newspaper correspondent who had covered Washington, D.C., for many years, noted
that the one thing which has characterized Washington for the past twenty years
is that those who are in position want the reporters to praise them. In fact,
they insist upon it. That is not confined to Washington. Hollywood is probably
one of the greatest places for scratching each other’s backs. One actor will
publicly say something nice about another, then the other one will return the
favor. You find this in every walk of life. Even schools have self–love. If a
man boosts a school, then the school boosts him by giving him an honorary
degree. Also, you can find this in the churches. Paul goes on to say, in chapter
4, verse 3, that congregations will follow teachers ‘having itching ears.’
These teachers want their ears scratched - they want to be complimented. To be
complimented, you have to compliment. So the teachers compliment their
congregations and their boards of officers. They don’t tell the people that
they are sinners and need a Savior; they tell them how wonderful they are. It is
interesting that the love of self characterizes our contemporary society.
Probably there has never been a time when it has been so common.” (= ‘Pecinta-pecinta
diri mereka sendiri’ - pecinta-pecinta diri sendiri. Ini sangat mudah terlihat
dalam kebudayaan kita jaman sekarang. Sebuah artikel oleh seorang wartawan surat
kabar yang telah meliput Washington D.C. untuk waktu yang lama, memperhatikan
bahwa satu hal yang telah menjadi ciri Washington untuk 20 tahun yang lalu ini
adalah bahwa mereka yang mempunyai kedudukan menginginkan para wartawan untuk
memuji mereka. Sebenarnya / dalam faktanya, mereka berkeras akan hal itu. Itu
tidak terbatas pada Washington. Hollywood mungkin adalah satu dari tempat-tempat
terbesar untuk saling menggaruk punggung masing-masing / saling menyenangkan.
Satu aktor mengatakan di depan umum sesuatu yang baik tentang aktor yang lain,
lalu aktor yang lain itu akan membalas kebaikannya. Engkau menemukan ini dalam
setiap perjalanan kehidupan. Bahkan sekolah-sekolah mempunyai kasih pada diri
sendiri. Jika seseorang mengangkat suatu sekolah, maka sekolah itu mengangkat
dia dengan memberinya suatu gelar kehormatan. Juga, engkau bisa menemukan ini
dalam gereja-gereja. Paulus melanjutkan dengan berkata, dalam pasal 4, ayat 3,
bahwa jemaat-jemaat akan mengikuti akan mengikuti guru-guru / pengajar-pengajar
‘yang mempunyai telinga yang gatal’. Guru-guru / pengajar-pengajar ini ingin
telinga mereka digaruk - mereka ingin diberi pujian. Supaya diberi pujian,
engkau harus memberi pujian. Maka guru-guru / pengajar-pengajar memberi pujian
kepada jemaat-jemaat mereka dan dewan / pengurus mereka. Mereka tidak
memberitahu orang-orang bahwa mereka adalah orang-orang berdosa dan membutuhkan
seorang Juruselamat; mereka memberitahu mereka betapa hebatnya mereka. Merupakan
sesuatu yang menarik bahwa kasih kepada diri sendiri menjadi ciri dari
masyarakat jaman sekarang. Mungkin tak ada saat sebelum ini dimana itu telah
menjadi begitu umum.)
- Libronix.
2)
“menjadi hamba uang.”.
KJV:
‘covetous’ (= tamak).
RSV/NIV/NASB:
‘lovers of money’ (= pecinta-pecinta uang).
Yunani:
PHILARGUROI.
Barnes’
Notes:
“‘Covetous.’ Greek, Lovers
of silver; i.e., of money;” (= ‘Tamak’. Yunani, Pecinta-pecinta perak; yaitu, uang;).
Barclay:
“People would
become ‘lovers of money’ (philarguros). We must remember that Timothy’s work lay in Ephesus, perhaps the
greatest market in the ancient world. ... Ephesus was the town of a prosperous,
materialistic civilization; it was the kind of town where men and women could so
easily lose their souls. There is peril when people assess prosperity by
material things. It is to be remembered that we may lose our souls far more
easily in prosperity than in adversity; and we are on the way to losing our
souls when we assess the value of life by the number of things which we possess.” [= Orang-orang akan menjadi ‘pecinta-pecinta uang’ (PHILARGUROS).
Kita harus ingat bahwa pekerjaan Timotius terletak di Efesus, yang mungkin
adalah pasar terbesar di dunia kuno. ... Efesus adalah kota dari suatu
kebudayaan yang makmur dan materialistis; itu adalah jenis kota dimana laki-laki
dan perempuan bisa dengan begitu mudah kehilangan jiwa mereka. Ada bahaya pada
waktu orang-orang menilai kemakmuran dengan hal-hal yang bersifat materi. Harus
diingat bahwa kita bisa kehilangan jiwa kita dengan jauh lebih mudah dalam
kemakmuran dari pada dalam kesengsaraan; dan kita ada di jalan menuju kehilangan
jiwa kita pada waktu kita menilai nilai kehidupan oleh jumlah hal-hal /
benda-benda yang kita miliki.].
Matthew
Henry:
“Covetousness. Observe, Self-love brings
in a long train of sins and mischiefs. When men are lovers of themselves, no
good can be expected from them, as all good may be expected from those who love
God with all their hearts. When covetousness generally prevails, when every man
is for what he can get and for keeping what he has, this makes men dangerous to
one another, and obliges every man to stand on his guard against his neighbour.” (= Ketamakan. Perhatikan, Cinta kepada diri sendiri membawa masuk
deretan / ekor yang panjang dari dosa-dosa dan kejahatan-kejahatan. Pada waktu
orang-orang adalah pecinta-pecinta diri mereka sendiri, tak ada kebaikan bisa
diharapkan dari mereka, seperti semua kebaikan bisa diharapkan dari mereka yang
mencintai Allah dengan seluruh hati mereka. Pada waktu ketamakan secara umum
menang, pada waktu setiap orang mencari apa yang bisa ia dapatkan dan menjaga
apa yang ia punyai, ini membuat orang-orang berbahaya satu terhadap yang lain,
dan mewajibkan setiap orang untuk berjaga-jaga terhadap sesamanya.).
J.
Vernon McGee: “‘Covetous’
means lovers of money. This follows self-love, because lovers of self become
lovers of money. This old nature likes to have a lot of money spent on it.
Remember that Paul said in 1 Timothy 6:10, ‘… the love of money is the root
of all evil….’ Money itself is not bad. The problems come in our attitude
toward our money. Covetousness reveals itself not only in the acquisition of
wealth but also in the use of it.”
(= ‘Tamak’ berarti pecinta-pecinta uang. Ini mengikuti cinta kepada diri
sendiri, karena pecinta-pecinta diri sendiri menjadi pecinta-pecinta uang.
Manusia lama ini ingin mempunyai banyak uang untuk dihabiskan / digunakan. Ingat
apa yang Paulus katakan dalam 1Tim 6:10, ‘... cinta uang adalah akar segala
kejahatan ...’ Uang itu sendiri tidaklah buruk. Problem-problem datang dalam
sikap kita terhadap uang kita. Ketamakan menyatakan dirinya sendiri bukan hanya
dalam mendapatkan kekayaan tetapi juga dalam penggunaannya.)
- Libronix.
Penerapan:
a) Seorang
teman bercerita tentang seorang perempuan yang mau selingkuh untuk mewujudkan
impiannya, padahal ia kaya.
b) Di internet diberitakan tentang artis-artis yang menjadi
pelacur kelas tinggi.
c) Mengapa
dunia tidak menangani pemanasan global dengan mengganti bahan bakar minyak
dengan yang lain untuk mengurangi pembuangan gas CO2 ke atmosfir?
Misalnya mengapa tidak mengganti mobil yang menggunakan BBM dengan mobil yang
menggunakan listrik? Hanya karena mobil listrik tak memberi keuntungan sebesar
mobil dengan BBM.
d) Penebangan
/ pembakaran hutan di Indonesia.
e) Pendeta
jadi caleg?
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali