Pemahaman Alkitab
(Rungkut
Megah Raya, blok D no 16)
Rabu,
tanggal 19 Maret 2014, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
II Timotius 2:1-26(17)
2Tim 2:14-26
- “(14) Ingatkanlah dan
pesankanlah semuanya itu dengan sungguh-sungguh kepada mereka di hadapan
Allah, agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak
berguna, malah mengacaukan orang yang mendengarnya. (15) Usahakanlah supaya
engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu,
yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu. (16) Tetapi
hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah
kefasikan. (17) Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di antara
mereka termasuk Himeneus dan Filetus, (18) yang telah menyimpang dari
kebenaran dengan mengajarkan bahwa kebangkitan kita telah berlangsung dan
dengan demikian merusak iman sebagian orang. (19) Tetapi dasar yang diletakkan
Allah itu teguh dan meterainya ialah: ‘Tuhan mengenal siapa kepunyaanNya’
dan ‘Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan
kejahatan.’ (20) Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari
emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk
maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia. (21) Jika
seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot
rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai
tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia. (22) Sebab itu
jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai
bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.
(23) Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau
tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, (24) sedangkan seorang
hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang.
Ia harus cakap mengajar, sabar (25) dan dengan lemah lembut dapat menuntun
orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada
mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran,
(26) dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari
jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya.”.
Ay 24: “sedangkan
seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah
terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar”.
KJV:
‘strive ... gentle ... patient’ (= bertengkar ... lemah lembut ...
sabar).
RSV:
‘quarrelsome ... kindly ... forbearing’ (= suka bertengkar ...
penyayang / murah hati ... sabar).
NIV:
‘quarrel ... kind ... not resentful’ (= bertengkar ... baik ... tidak
mudah marah / tersinggung).
NASB:
‘quarrelsome ... kind ... patient when wronged’ (= suka bertengkar
... baik ... sabar pada waktu disalahi / dilukai / diperlakukan secara tak
adil).
Bible
Knowledge Commentary:
“False teaching will always
be divisive, but the Lord’s servant should not be a fighter but a promoter of
unity, by being kind (‘gentle’) to everyone (cf. 1 Thess 2:7), able or ready
to teach (cf. 1 Tim 3:2) those who are willing to learn, and forbearing in the
face of differences (anexikakon,
lit., ‘ready to bear evil treatment without resentment’; used only here in
the NT).” [= Ajaran sesat akan selalu bersifat memecah belah, tetapi
pelayan Tuhan tidak boleh adalah
seorang pejuang / tukang berkelahi tetapi seorang promotor / penganjur kesatuan,
dengan menjadi baik (‘lemah lembut’) kepada setiap orang (bdk. 1Tes 2:7),
bisa atau siap untuk mengajar (bdk. 1Tim 3:2) mereka yang mau belajar, dan
menahan diri / bersabar hati dalam menghadapi perbedaan-perbedaan (ANEXIKAKON,
secara hurufiah, ‘siap untuk menanggung perlakuan jahat tanpa kebencian’;
digunakan hanya di sini dalam PB).].
Calvin: “The servant of God must stand aloof from
contentions; but foolish questions are contentions; therefore whoever desires to
be a servant of God, and to be accounted such, ought to shun them.”
(= Pelayan / hamba Allah harus menjauhkan diri dari pertengkaran-pertengkaran;
tetapi pertanyaan-pertanyaan tolol adalah pertengkaran-pertengkaran; karena itu
siapapun menginginkan untuk menjadi seorang pelayan / hamba Allah, dan dianggap
sebagai orang seperti itu, harus menghindarinya.).
Barnes’
Notes:
“‘Must not strive.’ He may
calmly inquire after truth; he may discuss points of morals, or theology, if he
will do it with a proper spirit; he may ‘contend earnestly for the faith once
delivered to the saints’ (Jude 3); but he may NOT do that which is here
mentioned as STRIFE. The Greek word - machesthai
- commonly denotes, ‘to fight, to make war, to contend.’ ... The
meaning is, that the servant of Christ should be a man of peace. He should not
indulge in the feelings which commonly give rise to contention, and which
commonly characterize it. He should not struggle for mere victory, even when
endeavoring to maintain truth; but should do this, in all cases, with a kind
spirit, and a mild temper; with entire candor; with nothing designed to provoke
and irritate an adversary; and so that, whatever may be the result of the
discussion, ‘the bond of peace’ may, if possible, be preserved;” [= ‘Tidak boleh
bertengkar’. Ia boleh dengan tenang menyelidiki kebenaran; ia boleh
mendiskusikan pokok-pokok tentang moral, theologia, jika ia mau melakukannya
dengan roh / semangat yang benar; ia boleh ‘berjuang untuk mempertahankan /
berargumentasi dengan sungguh-sungguh untuk iman yang sekali pernah diberikan
kepada orang-orang kudus’ (Yudas 3); tetapi ia tidak
boleh melakukan hal itu yang di sini disebutkan sebagai PERCEKCOKAN. Kata
Yunaninya - MAKHESTAI - biasanya menunjukkan, ‘berkelahi, berperang,
berjuang’. ... Artinya adalah, bahwa pelayan / hamba Kristus harus adalah
orang damai. Ia tidak boleh berjuang semata-mata untuk kemenangan, bahkan pada
waktu berusaha untuk mempertahankan kebenaran; tetapi harus melakukan ini, dalam
semua kasus, dengan roh yang baik, dan temperamen yang lembut; dengan kejujuran
sepenuhnya; tanpa apapun yang dirancang untuk memprovokasi dan menjengkelkan
seorang lawan; sehingga apapun hasil dari diskusi, jika memungkinkan, ‘ikatan
damai’ bisa dijaga / dipelihara;].
Calvin:
“‘But gentle towards all,
qualified for teaching.’ When he bids the servant of
Christ be ‘gentle,’ he demands a virtue which is opposite to the disease of
contentions.”
(= ‘Tetapi lembut terhadap semua orang, memenuhi syarat untuk mengajar’.
Pada waktu ia meminta pelayan / hamba Kristus untuk menjadi ‘lembut /
ramah’, ia menuntut suatu kebaikan / sifat baik yang bertentangan dengan
penyakit pertengkaran.).
Barnes’
Notes:
“The word rendered ‘gentle,’ does
not occur elsewhere in the New Testament. It means that the Christian minister
is to be meek and mild toward all, not disputatious and quarrelsome.” (= Kata yang
diterjemahkan ‘lembut / ramah’ tidak muncul di tempat lain dalam Perjanjian
Baru. Itu berarti bahwa pelayan / pendeta Kristen harus lembut dan halus
terhadap semua orang, bukan suka bercekcok dan suka bertengkar.).
Catatan: kata yang diterjemahkan ‘ramah’
[KJV: ‘gentle’ (=
lemah lembut)] adalah EPIOS, berbeda dengan kata PRAUS / PRAOTES yang digunakan
pada umumnya (ay 25).
Calvin: “To the same purpose is what immediately follows,
that he be didaktiko>v,
‘qualified for teaching.’ There will be no room for instruction, if he have
not moderation and some equability of temper.”
(= Kata-kata berikutnya mempunyai tujuan yang sama, supaya ia adalah DIDAKTIKOS,
‘memenuhi syarat untuk mengajar’. Di sana tidak ada kesempatan untuk
instruksi, jika ia tidak mempunyai sikap tenang / lembut / tak berlebih-lebihan
dan temperamen yang tenang.).
William
Hendriksen: “True,
the Lord’s servant - the term
and the admonition apply not only to Timothy but to every ‘minister’ - must
be an excellent soldier (see
verses 3 and 4 above), but he must not
be a quarreller, a mere quibbler
about farcical questions regarding family-trees and rabbinical
law-interpretations. ... The Lord’s servant, then, must be gentle
(this is the best reading, both here and in I Thess. 2:7, the only New Testament
occurrences), that is, affable, easy to speak to, approachable in his demeanor; not
irritable, intolerant, sarcastic, or scornful, not even toward those who err. He
must try to win them. Hence, he
must be gentle to all!” [= Benar, pelayan / hamba Tuhan -
istilah dan nasehat ini berlaku bukan hanya bagi Timotius tetapi bagi setiap
‘pelayan / pendeta’ - harus menjadi seorang tentara yang sangat bagus (lihat
ayat 3 dan 4 di atas), tetapi ia tidak boleh merupakan tukang bertengkar,
semata-mata seorang tukang bercekcok tentang pertanyaan-pertanyaan yang
menggelikan / konyol berkenaan dengan silsilah keluarga dan
penafsiran-penafsiran hukum-hukum rabi. ... Maka, pelayan / hamba Tuhan harus
lembut (ini adalah pembacaan yang terbaik, baik di sini maupun dalam 1Tes 2:7,
satu-satunya pemunculan-pemunculan dalam Perjanjian Baru), artinya, ramah /
sopan / baik, mudah diajak bicara, mudah didekati dalam sikapnya, TIDAK mudah
marah, tak bertoleransi, sarkastik, atau suka mencemooh / memaki, bahkan tidak
terhadap mereka yang salah. Ia harus berusaha untuk memenangkan mereka. Jadi, ia
harus lembut terhadap semua orang!].
Saya
heran melihat adanya penafsir-penafsir yang berbicara / memberi komentar
seakan-akan pertengkaran itu mutlak
tidak diijinkan. Bagi saya, kalau sikap sabar, lembut, tak boleh bertengkar ini
dimutlakkan, ini jelas merupakan suatu kesalahan penafsiran! Saya ingin
menekankan 2 komentar di bawah ini sebagai keseimbangan terhadap
pandangan-pandangan yang memutlakkan seperti itu.
John
Stott (tentang ay 23-24):
“What,
then, is being prohibited to Timothy, and through him to all the Lord’s servants
and ministers today? We cannot conclude that this is a prohibition of all
controversy. For when the truth of the gospel was at stake Paul
himself had been an ardent controversialist, even to the extent of opposing the
apostle Peter to his face in public (Gal. 2:11–14). Besides, in these very
Pastoral Epistles he is urging Timothy and Titus to guard the sacred deposit of
the truth and contend for it. Every Christian must in some sense
‘fight the good fight of the faith’ (1 Tim. 6:12; 2 Tim. 4:7), seeking to
defend and preserve it. What
is forbidden us is controversies which in themselves are ‘stupid and
senseless’ and in their effect ‘breed quarrels’. They are ‘stupid’
or ‘futile’ (JB) because they are speculative. For the same
reason they are ‘senseless’ (apaideutos),
literally ‘uninstructed’ or even ‘undisciplined’, because they go beyond
Scripture and do not submit to the intellectual discipline which Scripture
should impose upon us. They also inevitably ‘breed quarrels’ because when
people forsake revelation for speculation, they have no agreed authority and no
impartial court of appeal. They lapse into pure subjectivism and so into
profitless argument in which one man’s opinion is as good (or bad) as
another’s. If only the church had heeded this warning! The combination of
unbiblical speculations and uncharitable polemics has done great damage to the
cause of Christ.” [= Lalu apa yang dilarang bagi
Timotius, dan melalui dia bagi semua pelayan-pelayan Tuhan dan pendeta-pendeta
jaman sekarang? Kita tidak bisa menyimpulkan bahwa ini merupakan suatu
larangan tentang semua kontroversi / perdebatan. Karena pada waktu kebenaran
injil dipertaruhkan Paulus sendiri adalah seorang tukang debat, bahkan sampai
pada tingkat menentang rasul Petrus di mukanya di depan umum (Gal 2:11-14).
Disamping, dalam Surat-surat Penggembalaan ini ia sedang mendesak Timotius dan
Titus untuk menjaga deposit yang keramat dari kebenaran dan berjuang untuknya. Setiap
orang Kristen dalam arti tertentu harus ‘berjuang dalam perjuangan yang baik
dari iman’ (1Tim 6:12; 2Tim 4:7), berusaha untuk mempertahankan dan menjaga /
memeliharanya. Apa yang dilarang bagi kita
adalah perdebatan-perdebatan yang dalam dirinya sendiri adalah ‘bodoh dan
tolol’ dan sebetulnya ‘membiakkan pertengkaran-pertengkaran’. Mereka
adalah ‘bodoh’ atau ‘sia-sia’ (JB) karena mereka bersifat spekulasi /
dugaan. Untuk alasan yang sama mereka adalah ‘tolol’ (APAIDEUTOS), secara
hurufiah ‘tak diajar’ atau bahkan ‘tak didisiplin’, karena mereka
melampaui Kitab Suci dan tidak tunduk pada disiplin intelektual yang Kitab Suci
harus beri pengaruh kepada kita. Mereka juga secara tak terhindarkan
‘membiakkan pertengkaran-pertengkaran’ karena pada saat orang-orang
meninggalkan wahyu demi spekulasi / dugaan, mereka tidak mempunyai otoritas yang
disetujui dan sidang yang adil untuk naik banding. Mereka tergelincir ke dalam
subyektivisme yang murni dan dengan demikian ke dalam argumentasi yang tak
berguna dalam mana pandangan satu orang sama baiknya (atau buruknya) seperti
pandangan orang lain. Seandainya saja gereja memperhatikan peringatan ini!
Kombinasi dari spekulasi-spekulasi yang tidak Alkitabiah dan polemik-polemik /
perdebatan-perdebatan yang tidak kasih / tidak toleran telah melakukan kerusakan
yang besar pada perkara Kristus.].
Gal
2:11-14 - “(11)
Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab
ia salah. (12) Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia
makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah
mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan
saudara-saudara yang bersunat. (13) Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut
berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh
kemunafikan mereka. (14) Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak
sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua:
‘Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi,
bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk
hidup secara Yahudi?’”.
Lenski: “This is, indeed, a picture of a true
slave of the Lord in all his work for the church. But one should not strain
these words and make a soft jellyfish out of the Lord’s slave, a man who could
not preach Matt. 23:13-39 or any of the stern texts found in the prophets. To
wield the law is to strike with a hammer and no less.”
(= Ini memang merupakan suatu gambaran dari hamba yang sejati dari Tuhan dalam
semua pekerjaannya bagi gereja. Tetapi seseorang tidak boleh menarik /
memaksakan kata-kata ini dan membuat hamba Tuhan menjadi ubur-ubur yang lunak,
seseorang yang tidak bisa mengkhotbahkan Mat 23:13-39 atau text-text keras
manapun yang ditemukan dalam kitab nabi-nabi. Memegang / menggunakan hukum
adalah memukul dengan palu dan tidak kurang dari itu.).
Mat
23:13-39 - “(13)
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu
orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan
orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha
untuk masuk. (14) [Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat
dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah
janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang.
Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.]
(15) Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu
orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk
mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat,
kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu
sendiri. (16) Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata:
Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait
Suci, sumpah itu mengikat. (17) Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta,
apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu? (18)
Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan
yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat. (19) Hai kamu orang-orang buta, apakah
yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu?
(20) Karena itu barangsiapa bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan
juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya. (21) Dan barangsiapa
bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang
diam di situ. (22) Dan barangsiapa bersumpah demi sorga, ia bersumpah demi
takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya. (23) Celakalah kamu,
hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab
persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang
terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan
dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. (24)
Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu,
tetapi unta yang di dalamnya kamu telan. (25) Celakalah kamu, hai ahli-ahli
Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan
pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan
dan kerakusan. (26) Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah
dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih. (27) Celakalah kamu, hai
ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab
kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih
tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis
kotoran. (28) Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di
mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan. (29)
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu
orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu
orang-orang saleh (30) dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita,
tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. (31)
Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu
adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. (32) Jadi, penuhilah juga takaran nenek
moyangmu! (33) Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah
mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka? (34) Sebab itu,
lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli
Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain
akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota, (35)
supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai
dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu
bunuh di antara tempat kudus dan mezbah. (36) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya
semuanya ini akan ditanggung angkatan ini!’ (37) ‘Yerusalem, Yerusalem,
engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus
kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk
ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. (38)
Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. (39) Dan Aku berkata
kepadamu: Mulai sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi, hingga kamu berkata:
Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!’”.
Ay 25: “dan
dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin
Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka
sehingga mereka mengenal kebenaran,”.
1)
“dan dengan lemah lembut dapat
menuntun orang yang suka melawan”.
KJV:
‘those that oppose themselves’
(= mereka yang menentang diri mereka sendiri).
RSV:
‘his opponents’
(= penentang-penentangnya).
NIV:
‘Those who oppose him’
(= Mereka yang menentangnya).
NASB:
‘those who are in opposition’
(= mereka yang ada dalam oposisi).
Calvin:
“‘Patient to the bad.’ The
importunity of some men may sometimes produce either irritation or weariness;
and for that reason he adds, ‘bearing with them,’ at the same time pointing
out the reason why it is necessary; namely, because a godly teacher ought even
to try whether it be possible for him to bring back to the right path obstinate
and rebellious persons, which cannot be done without the exercise of
gentleness.”
(= ‘Sabar terhadap orang jahat / buruk’. Gangguan dari beberapa orang
kadang-kadang bisa menghasilkan atau kejengkelan atau kebosanan; dan karena itu
ia menambahkan, ‘sabar terhadap mereka’, pada saat yang sama menunjukkan
alasan mengapa hal ini perlu; yaitu, karena seorang guru / pengajar yang saleh
bahkan harus mencoba apakah memungkinkan baginya untuk membawa kembali ke jalan
yang benar orang-orang yang tegar tengkuk dan bersifat memberontak, yang tidak
bisa dilakukan tanpa pelaksanaan dari kelembutan.).
Catatan:
sebetulnya ini komentar tentang bagian akhir dari ay 24, tetapi berlanjut sampai
bagian awal dari ay 25.
Ay 24-25:
“(24)
sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah
terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar (25) dan dengan
lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan
memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga
mereka mengenal kebenaran,”.
Barnes’
Notes:
“‘In meekness instructing those that
oppose themselves.’ That is, those who embrace error, and array themselves
against the truth. We are not to become angry with such persons, and denounce
them at once as heretics. We are not to hold them up to public reproach and
scorn; but we are to set about the business of patiently ‘instructing them.’
Their grand difficulty, it is supposed in this direction, is, that they are
ignorant of the truth. Our business with them is, ‘calmly to show them what
the truth is.’ If THEY are angry, WE are not to be. If they oppose the truth,
we are still calmly to state it to them. If they are slow to see it, we are not
to become weary or impatient. Nor, if they do not embrace it at all, are we to
become angry with them, and denounce them. We may pity them, but we need not use
hard words. This is the apostolic precept about the way of treating those who
are in error; and can any one fail to see its beauty and propriety? Let it be
remembered, also, that this is not only beautiful and proper in itself; it is
the WISEST course, if we would bring others over to our opinions. You are not
likely to convince a man that you are right, and that he is wrong, if you first
make him angry; nor are you very likely to do it, if you enter into harsh
contention. You then put him on his guard; you make him a party, and, from
self-respect, or pride, or anger, he will endeavor to defend his own opinions,
and will NOT yield to yours. ‘Meekness’ and ‘gentleness’ are the very
best things, if you wish to convince another that he is wrong. With his HEART
first, and then modestly and kindly show him ‘what the truth is,’ in as few
words, and with as unassuming a spirit, as possible, ‘and you have him.’” (= ‘Dalam kelembutan mengajar mereka
yang menentang diri mereka sendiri’. Artinya, mereka yang memeluk / menerima
kesalahan, dan mengatur diri mereka sendiri menentang kebenaran. Kita tidak
boleh menjadi marah dengan orang-orang seperti itu, dan segera mencela mereka
sebagai orang-orang sesat. Kita tidak boleh mengangkat mereka pada celaan
dan cemoohan umum; tetapi kita harus memulai urusan itu dengan mengajar mereka
dengan sabar. Kesukaran besar mereka, dianggap dalam arah ini, adalah bahwa
mereka tidak tahu tentang kebenaran. Urusan kita dengan mereka adalah dengan
tenang menunjukkan kepada mereka apa kebenaran itu. Jika MEREKA marah, KITA
tidak boleh marah. Jika mereka menentang kebenaran, kita harus dengan tetap
tenang menyatakannya kepada mereka. Jika mereka lamban dengan melihatnya, kita
tidak boleh menjadi bosan atau tidak sabar. Atau, jika mereka tidak memeluk
kebenaran itu sama sekali, kita tidak boleh menjadi marah dengan mereka, dan
mencela mereka. Kita bisa berbelas kasihan kepada mereka, tetapi kita tidak
perlu menggunakan kata-kata yang keras / kasar. Ini adalah perintah rasuli
tentang cara menangani mereka yang ada dalam kesalahan; dan bisakah siapapun
gagal untuk melihat keindahan dan kepatutannya? Hendaklah diingat juga, bahwa
ini bukan hanya indah dan tepat dalam dirinya sendiri; ini adalah jalan yang
paling bijaksana, jika kita mau membawa orang-orang lain kepada pandangan kita
sendiri. Kamu tidak akan mungkin untuk meyakinkan seseorang bahwa kamu benar dan
bahwa ia salah, jika kamu pertama-tama membuat dia marah; juga kamu tidak akan
melakukan itu, jika kamu masuk dalam perdebatan yang keras / kasar. Maka kamu membuat dia berjaga-jaga; kamu membuat dia suatu kelompok, dan
dari rasa hormat kepada diri sendiri, atau kesombongan, atau kemarahan, ia akan
berusaha untuk membela pandangan-pandangannya sendiri, dan TIDAK akan menyerah
pada pandangan-pandanganmu. ‘Kelembutan’ adalah hal-hal yang terbaik, jika
kamu ingin meyakinkan orang lain bahwa ia salah. Pertama-tama dengan HATInya,
dan lalu dengan sopan dan dengan baik tunjukkan dia ‘apa kebenaran itu’,
dengan sesedikit kata-kata dan dengan suatu roh / semangat yang sesederhana
mungkin, ‘dan kamu mendapatkan dia’.).
Catatan:
saya menyetujui kata-kata Albert Barnes ini, kalau kita:
a)
Bukan berhadapan dengan nabi palsu, tetapi dengan orang awam yang salah /
sesat.
b)
Perdebatan bukan di depan umum, tetapi secara pribadi.
Kalau
di depan umum, maka menurut saya kita harus menyatakan bahwa dia sesat, bukan
karena marah / benci kepadanya, tetapi demi para pendengar yang lain, supaya
mereka lebih berhati-hati dan jangan disesatkan.
Bahkan
pada saat melakukan debat pribadi, ada saat dimana kita harus menyatakan kepada
orang itu bahwa ia sesat (kalau ia memang sesat), bukan dengan kebencian /
kemarahan tetapi dengan kasih. Kalau kita tidak pernah memberitahunya tentang
hal itu, itu sama seperti seorang dokter yang tidak mau memberitahu pasiennya
bahwa ia terkena kanker. Kelembutan seperti itu, justru akan membunuh orang itu.
Pada
waktu membaca ayat-ayat seperti yang sedang kita bahas ini kita juga harus
mempertimbangkan ayat-ayat lain, selain ayat-ayat yang sudah kita baca di atas
(Mat 23 Gal 2:11-14), juga
ayat-ayat seperti:
1. Mat 10:14-15
- “(14)
Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu,
keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari
kakimu. (15) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya pada hari penghakiman tanah
Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu.’”.
Bandingkan
dengan:
a. Kis 13:51 - “Akan
tetapi Paulus dan Barnabas mengebaskan debu kaki mereka sebagai peringatan bagi
orang-orang itu, lalu pergi ke Ikonium.”.
b. Kis 18:6 - “Tetapi
ketika orang-orang itu memusuhi dia dan menghujat, ia mengebaskan debu dari
pakaiannya dan berkata kepada mereka: ‘Biarlah darahmu tertumpah ke atas
kepalamu sendiri; aku bersih, tidak bersalah. Mulai dari sekarang aku akan pergi
kepada bangsa-bangsa lain.’”.
2. Luk 4:21-28 - “(21)
Lalu Ia memulai mengajar mereka, kataNya: ‘Pada hari ini genaplah nas ini
sewaktu kamu mendengarnya.’ (22) Dan semua orang itu membenarkan Dia dan
mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkanNya, lalu kata mereka:
‘Bukankah Ia ini anak Yusuf?’ (23) Maka berkatalah Ia kepada mereka:
‘Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepadaKu: Hai tabib, sembuhkanlah
diriMu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asalMu ini, segala yang kami
dengar yang telah terjadi di Kapernaum!’ (24) Dan kataNya lagi: ‘Aku berkata
kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. (25) Dan
Aku berkata kepadamu, dan kataKu ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak
perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam
bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. (26) Tetapi
Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang
perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. (27) Dan pada zaman nabi Elisa banyak
orang kusta di Israel dan tidak ada seorangpun dari mereka yang ditahirkan,
selain dari pada Naaman, orang Siria itu.’ (28) Mendengar itu sangat marahlah
semua orang yang di rumah ibadat itu.”.
3. Mat 21:31-32 - “(31)
Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?’ Jawab
mereka: ‘Yang terakhir.’ Kata Yesus kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan
mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. (32) Sebab Yohanes datang untuk
menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi
pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan
meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak
juga percaya kepadanya.’”.
4. Mat 21:42-46 - “(42)
Kata Yesus kepada mereka: ‘Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu
yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu
terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. (43) Sebab itu,
Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan
diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu. (44) [Dan
barangsiapa jatuh ke atas batu itu, ia akan hancur dan barangsiapa ditimpa batu
itu, ia akan remuk.]’ (45) Ketika
imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus,
mereka mengerti, bahwa merekalah yang dimaksudkanNya. (46) Dan mereka berusaha
untuk menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang
banyak itu menganggap Dia nabi.”.
5. Kis 7:51-53 - “(51)
Hai orang-orang yang keras kepala dan yang tidak bersunat hati dan telinga, kamu
selalu menentang Roh Kudus, sama seperti nenek moyangmu, demikian juga kamu.
(52) Siapakah dari nabi-nabi yang tidak dianiaya oleh nenek moyangmu? Bahkan
mereka membunuh orang-orang yang lebih dahulu memberitakan tentang kedatangan
Orang Benar, yang sekarang telah kamu khianati dan kamu bunuh. (53) Kamu telah
menerima hukum Taurat yang disampaikan oleh malaikat-malaikat, akan tetapi kamu
tidak menurutinya.’”.
6. Kis 13:6-12 - “(6)
Mereka mengelilingi seluruh pulau itu sampai ke Pafos. Di situ mereka bertemu
dengan seorang Yahudi bernama Baryesus. Ia seorang tukang sihir dan nabi palsu.
(7) Ia adalah kawan gubernur pulau itu, Sergius Paulus, yang adalah orang
cerdas. Gubernur itu memanggil Barnabas dan Saulus, karena ia ingin mendengar
firman Allah. (8) Tetapi Elimas - demikianlah namanya dalam bahasa Yunani -,
tukang sihir itu, menghalang-halangi mereka dan berusaha membelokkan gubernur
itu dari imannya. (9) Tetapi Saulus, juga disebut Paulus, yang penuh dengan
Roh Kudus, menatap dia, (10) dan berkata: ‘Hai anak Iblis, engkau penuh dengan
rupa-rupa tipu muslihat dan kejahatan, engkau musuh segala kebenaran, tidakkah
engkau akan berhenti membelokkan Jalan Tuhan yang lurus itu? (11) Sekarang,
lihatlah, tangan Tuhan datang menimpa engkau, dan engkau menjadi buta, beberapa
hari lamanya engkau tidak dapat melihat matahari.’ Dan seketika itu juga
orang itu merasa diliputi kabut dan gelap, dan sambil meraba-raba ia harus
mencari orang untuk menuntun dia. (12) Melihat apa yang telah terjadi itu,
percayalah gubernur itu; ia takjub oleh ajaran Tuhan.”.
7. 2Kor 11:4 - “Sebab
kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada
yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada
yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima.”.
8. Wah 2:2 - “Aku
tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa
engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai
mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa
engkau telah mendapati mereka pendusta.”.
Tetapi
sebaliknya, kita juga tak boleh hanya memperhatikan ayat-ayat di atas ini, dan
mengabaikan kata-kata Paulus dalam 2Tim 2:24-25 ini!
2)
“sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan
kepada mereka untuk bertobat”.
a)
Entah dari mana kata ‘Tuhan’
itu, karena semua terjemahan menterjemahkan ‘God’
(= Allah).
b)
Kata ‘kesempatan’
sebetulnya tidak ada.
KJV:
‘if
God peradventure will give them repentance’
(= jika Allah mungkin akan memberi mereka pertobatan).
NIV:
‘in
the hope that God will grant them repentance’
(= dalam pengharapan bahwa Allah akan memberi mereka pertobatan).
NASB:
‘if
perhaps God may grant them repentance’
(= jika mungkin Allah bisa memberi mereka pertobatan).
Ini
lagi-lagi menunjukkan bahwa pertobatan adalah pemberian Tuhan.
Matthew
Henry:
“Repentance is God’s gift.” (= Pertobatan adalah karunia / pemberian Allah.).
Adam
Clarke tak memberi komentar tentang bagian ini.
Lenski:
“The
thought is not that God ever withholds repentance, but that men so often refuse
to accept it.”
(= Pemikirannya bukanlah bahwa Allah pernah menahan pertobatan, tetapi bahwa
manusia begitu sering menolak untuk menerimanya.).
Ini
tafsiran konyol, yang melenceng sama sekali dari bunyi ayatnya.
Barnes’
Notes:
“‘If God peradventure will
give them repentance, ...’ ... After all our care in teaching others the
truth, our only dependence is on God for its success. We cannot be absolutely
certain that they will see their error; we cannot rely certainly on any power
which argument will have; we can only hope that GOD may show them their error,
and enable them to see and embrace the truth; compare Acts 11:18.” (= Jika Allah mungkin
akan memberi mereka pertobatan, ...’ ... Setelah semua perhatian kita dalam
mengajar orang-orang lain kebenaran, satu-satunya kebergantungan kita adalah
kepada Allah untuk kesuksesannya. Kita tidak bisa pasti / yakin secara
mutlak bahwa mereka akan melihat kesalahan mereka; kita tidak bisa bersandar
dengan pasti pada kuasa apapun yang dipunyai oleh argumentasi; kita hanya bisa
berharap bahwa ALLAH menunjukkan mereka kesalahan mereka, dan memampukan mereka
untuk melihat dan memeluk kebenaran; bandingkan dengan Kis 11:18.).
Kis 11:18
- “Ketika mereka mendengar hal itu,
mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya: ‘Jadi kepada
bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada
hidup.’”.
Calvin:
“‘If sometime God grant to them
repentance.’ This expression, ‘If sometime,’ or ‘If perhaps,’ points
out the difficulty of the case, as being nearly desperate or beyond hope. Paul
therefore means that even towards the most unworthy we must exercise meekness;
and although at first there be no appearance of having gained advantage, still
we must make the attempt. For the same reason he mentions that ‘God will grant
it.’ Since the conversion of a man is in the hand of God, who knows whether
they who today appear to be unteachable shall be suddenly changed by the power
of God, into other men? Thus, whoever shall consider that repentance is the gift
and work of God, will cherish more earnest hope, and, encouraged by this
confidence, will bestow more toil and exertion for the instruction of rebels.”
(= ‘Jika kadang-kadang Allah memberi kepada mereka pertobatan’. Ungkapan
ini, ‘Jika kadang-kadang’, atau ‘Jika mungkin’, menunjukkan kesukaran
dari kasus itu, sebagai dekat dengan keputus-asaan atau melampaui pengharapan.
Karena itu, Paulus memaksudkan bahwa bahkan terhadap orang-orang yang paling
tidak layak kita harus melaksanakan kelembutan; dan sekalipun pertama-tama di
sana tidak kelihatan bahwa kita telah mendapatkan keuntungan, tetap kita harus
mengusahakan. Untuk alasan yang sama ia menyebutkan bahwa ‘Allah akan
memberinya’. Karena pertobatan dari seseorang ada dalam tangan Allah, siapa
tahu apakah mereka yang hari ini terlihat sebagai tak bisa diajar, secara
mendadak akan diubah oleh kuasa Allah menjadi orang-orang yang lain / berbeda?
Jadi, siapapun menganggap bahwa pertobatan adalah karunia / pemberian dan
pekerjaan Allah, akan mengharapkan pengharapan yang paling sungguh-sungguh, dan
dibesarkan hatinya oleh keyakinan ini, akan memberikan lebih banyak jerih payah
dan pengerahan tenaga untuk pengajaran para pemberontak.).
Catatan:
sebagai keseimbangan untuk bertekun dalam melayani orang sesat, lihat perhatikan
ayat-ayat ini:
1. Tit 3:10-11 - “(10)
Seorang bidat yang sudah satu dua kali kaunasihati, hendaklah engkau jauhi.
(11) Engkau tahu bahwa orang yang semacam itu benar-benar sesat dan dengan
dosanya menghukum dirinya sendiri.”.
2. Mat 7:6 - “‘Jangan
kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan
mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia
berbalik mengoyak kamu.’”.
Ay 26: “dan
dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis
yang telah mengikat mereka pada kehendaknya.”.
KJV:
‘And that they may recover themselves
out of the snare of the devil, who are taken captive by him at his will.’
(= Dan supaya mereka bisa memulihkan diri mereka sendiri dari jerat Iblis, yang
ditawan olehnya pada kehendaknya.).
NIV:
‘and that they will come to their senses
and escape from the trap of the devil, who has taken them captive to do his
will.’ (= dan supaya mereka sadar dan lolos dari jerat Iblis, yang telah
menawan mereka untuk melakukan kehendaknya.).
NASB:
‘and they may come to their senses and
escape from the snare of the devil, having been held captive by him to do his
will.’ (= dan supaya mereka sadar dan lolos dari jerat Iblis, setelah
ditawan olehnya untuk melakukan kehendaknya.).
Barnes’
Notes:
“‘And that they may recover
themselves.’ Margin, ‘awake.’ The word which is
rendered ‘recover’ in the text, and ‘awake’ in the margin - ananeepsoosin
- occurs nowhere else in the New Testament. It properly
means, to become sober again, as from inebriation; to awake from a deep
sleep, and then, to come to a right mind, as one does who is aroused from a
state of inebriety, or from sleep. The representation in this part of the verse
implies that, while under the influence of error, they were like a man
intoxicated, or like one in deep slumber. From this state they were to be roused
as one is from sleep, or as a man is recovered from the stupor and dullness of
intoxication.” (= ‘Dan supaya mereka
bisa memulihkan diri mereka sendiri’. Catatan tepi, ‘sadar’. Kata yang
diterjemahkan ‘memulihkan’ dalam text itu, dan ‘sadar’ dalam catatan
tepi - ANANEEPSOOSIN - tidak muncul di tempat lain dalam Perjanjian Baru. Itu
secara benar berarti, menjadi sadar kembali, seperti dari kemabukan; bangun dari
suatu tidur yang dalam, dan lalu, datang pada pikiran yang benar, seperti
seseorang lakukan yang dibangunkan dari suatu keadaan mabuk, atau dari tidur. Gambaran
dalam bagian ini dari ayat itu secara implicit menunjukkan bahwa, sementara di
bawah pengaruh dari kesalahan, mereka seperti seseorang yang mabuk, atau seperti
seseorang yang tidur nyenyak. Dari keadaan ini mereka harus dibangunkan seperti
seseorang dari tidur, atau sebagai seseorang dipulihkan dari pingsan dan
ketumpulan dari kemabukan.).
Barnes’
Notes:
“‘Out of the snare of the devil.’ ...
In one part of the verse, the influence of error is represented as producing
sleep, or stupor; in the other, as being taken in a snare, or net; and, in both,
the idea is, that an effort was to be made that they might be rescued from this
perilous condition.” (= ‘Dari jerat Iblis’. ... Dalam satu bagian dari ayat ini, pengaruh
dari kesalahan digambarkan sebagai menghasilkan tidur, atau pingsan; dalam
bagian yang lain, sebagai ditangkap dalam sebuah jerat, atau jaring; dan dalam
keduanya, gagasannya adalah, bahwa suatu usaha harus dilakukan supaya mereka
bisa diselamatkan dari keadaan yang membahayakan ini.).
Pengertian
kita akan keadaan dari orang-orang jahat itu, apalagi kalau ditambah dengan
pengertian kita akan doktrin Total
Depravity (= Kebejatan Total), seharusnya menyebabkan kita kasihan kepada
orang-orang jahat itu, dan memudahkan kita untuk menangani mereka dengan sabar /
lembut / kasih.
Barnes’
Notes: “‘Who
are taken captive by him at his will.’ Margin, ‘alive.’ The Greek
word means, properly, to take alive; and then, to take captive, to win over
(Luke 5:10); and then, to ensnare, or seduce. Here it means that they had been
ensnared by the arts of Satan ‘unto (eis)
his will;’ that is, they were so influenced by him, that
they complied with his will.” [=
‘Yang ditawan olehnya pada kehendaknya’. Catatan tepi, ‘hidup’. Kata
Yunaninya secara tepat berarti ‘ditangkap hidup-hidup’; dan lalu, ditawan,
dimenangkan (Luk 5:10); dan lalu, menjerat, atau menggoda / membujuk. Di sini
itu berarti bahwa mereka telah dijerat oleh keahlian setan ‘ke dalam (EIS)
kehendaknya’; artinya, mereka begitu dipengaruhi olehnya, sehingga mereka
menuruti kehendaknya.].
Luk
5:10 - “demikian
juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata
Yesus kepada Simon: ‘Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala
manusia.’”.
KJV/RSV/NIV/NASB: ‘catch’ (= menangkap).
Kata Yunani yang digunakan di sini sama dengan yang diterjemahkan
‘mengikat / menawan’ dalam 2Tim 2:26 ini.
Calvin: “‘By whom they are held captive.’ A truly
shocking condition, when the devil has so great power over us, that he drags us,
as captive slaves, here and there at his pleasure. Yet such is the condition of
all those whom the pride of their heart draws away from subjection to God. And
this tyrannical dominion of Satan we see plainly, every day, in the reprobate;
for they would not rush with such fury and with brutal violence into every kind
of base and disgraceful crimes, if they were not drawn by the unseen power of
Satan. That is what we saw at Ephesians 2:2, that, Satan exerts his energy in
unbelievers. Such examples admonish us to keep ourselves carefully under the
yoke of Christ, and to yield ourselves to be governed by his Holy Spirit. And
yet a captivity of this nature does not excuse wicked men, so that they do not
sin, because it is by the instigation of Satan that they sin; for, although
their being carried along so resistlessly to that which is evil proceeds from
the dominion of Satan, yet they do nothing by constraint, but are inclined with
their whole heart to that to which Satan drives them. The result is, that their
captivity is voluntary.” (= ‘Oleh siapa mereka
ditawan’. Suatu keadaan yang benar-benar mengejutkan, pada waktu Iblis
mempunyai kuasa yang begitu besar atas kita, sehingga ia menyeret kita, seperti
budak-budak tawanan, ke sini dan ke sana sesuai dengan kesenangannya. Tetapi
itulah keadaan dari semua mereka yang kesombongan dari hatinya menarik mereka
dari ketundukan kepada Allah. Dan penguasaan setan yang bersifat tiran ini kita
lihat dengan jelas, setiap hari, dalam diri orang-orang yang ditentukan untuk
binasa; karena mereka tidak akan terburu-buru dengan kemarahan dan kekerasan
brutal seperti itu ke dalam setiap jenis kejahatan-kejahatan yang hina dan
memalukan, seandainya mereka tidak ditarik oleh kuasa yang tak terlihat dari
setan. Itulah yang kami lihat di Ef 2:2, bahwa setan mengerahkan tenaganya dalam
orang-orang yang tidak percaya. Contoh-contoh seperti itu menasehati kita untuk
menjaga diri kita dengan hati-hati di bawah kuk dari Kristus, dan menyerahkan
diri kita untuk dikuasai / diperintah oleh Roh KudusNya. Tetapi suatu
penawanan seperti ini tidak memaafkan orang-orang jahat, sehingga mereka tidak
berdosa, karena adalah oleh dorongan setan bahwa mereka berdosa; karena,
sekalipun dibawanya mereka dengan begitu tak bisa ditahan kepada apa yang jahat
keluar dari penguasaan setan, tetapi mereka tak melakukan apa-apa oleh
pemaksaan, tetapi condong dengan seluruh hati mereka pada hal pada mana setan
mendorong mereka. Hasilnya adalah, bahwa penawanan mereka bersifat sukarela.).
Ef 2:2
- “Kamu
hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati
penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara
orang-orang durhaka.”.
Kalau
kata-kata Albert Barnes tadi bisa membuat kita kasihan kepada orang-orang jahat
itu, dan dengan demikian memungkinkan / memudahkan kita untuk melayani mereka
dengan sabar / lembut, maka kata-kata Calvin ini, khususnya pada bagian akhir,
membatasi rasa kasihan itu, supaya jangan karena kasihan, kita lalu menganggap
orang-orang itu tidak bersalah.
-o0o-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali