Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

Rabu, tanggal 12 Februari 2014, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

II Timotius 2:1-26(13)

 

2Tim 2:14-18 - “(14) Ingatkanlah dan pesankanlah semuanya itu dengan sungguh-sungguh kepada mereka di hadapan Allah, agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak berguna, malah mengacaukan orang yang mendengarnya. (15) Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu. (16) Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan. (17) Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di antara mereka termasuk Himeneus dan Filetus, (18) yang telah menyimpang dari kebenaran dengan mengajarkan bahwa kebangkitan kita telah berlangsung dan dengan demikian merusak iman sebagian orang.”.

 

Ay 16: “Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan.”.

 

1)            “Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci.

KJV: ‘But shun profane and vain babblings’ (= Tetapi hindarilah omongan yang kotor / duniawi / tak senonoh dan sia-sia:).

RSV: Avoid such godless chatter, (= Hindarilah omongan / ocehan jahat seperti itu,).

NIV: ‘Avoid godless chatter,’ (= Hindarilah omongan / ocehan jahat).

NASB: ‘But avoid worldly and empty chatter,’ (= Tetapi hindarilah omongan / ocehan duniawi dan kosong,).

Agak aneh bahwa Kitab Suci Indonesia, KJV, NASB, memberikan 2 kata sifat. Dalam bahasa Yunani digunakan hanya satu kata sifat yaitu BEBELOUS, yang artinya bisa ‘profane’ (= kotor, duniawi / tak senonoh), ‘worldly’ (= duniawi), ‘godless’ (= jahat), ‘irreligius’ (= tidak religius) - Bible Works 7.

 

Barnes’ Notes: Their tendency is to alienate the soul from God, and to lead to impiety. Such kinds of disputation are not merely a waste of time, they are productive of positive mischief. A man fond of contention in religious things is seldom one who has much love for the practical duties of piety, or any very deep sense of the distinction between right and wrong. You will not usually look for him in the place of prayer, nor can you expect his aid in the conversion of sinners, nor will you find that he has any very strict views of religious obligation. (= Kecenderungan mereka adalah menjauhkan jiwa dari Allah, dan membimbing pada kejahatan. Jenis perdebatan seperti itu bukan hanya membuang-buang waktu, tetapi menghasilkan kejahatan yang positif. Seseorang yang senang akan perdebatan dalam hal-hal agamawi jarang adalah orang yang mempunyai banyak kasih untuk kewajiban-kewajiban praktis dari kesalehan, atau perasaan yang sangat dalam apapun tentang perbedaan antara benar dan salah. Biasanya engkau tidak akan mencari di tempat doa, juga engkau tak bisa mengharapkan pertolongannya dalam pertobatan dari orang-orang berdosa, juga engkau tidak akan mendapati bahwa ia mempunyai pandangan-pandangan apapun yang sangat ketat tentang kewajiban-kewajiban agamawi.).

 

Pertama-tama, saya tidak setuju dengan pandangan Barnes yang kelihatan anti debat dan menganggap debat sebagai sesuatu yang negatif / tak berguna. Juga, Barnes bukan hanya ‘menyerang’ debat itu sendiri, tetapi juga ‘menyerang’ orang-orang yang suka berdebat, dan menurut saya ini merupakan suatu kekonyolan. Bukan hanya dalam Alkitab banyak orang beriman yang saleh (Paulus, Apolos, Stefanus) yang sering sekali berdebat, tetapi bahkan kalau kita membaca buku tafsiran Albert Barnes sendiri, jelas bahwa ia sendiri banyak berdebat dalam mempertahankan argumentasinya.

 

Kedua, kelihatan bahwa Albert Barnes masih menghubungkan ay 16 ini dengan orang yang suka berdebat secara salah dalam ay 14. Menurut saya ini tidak tepat, karena pembicaraan tentang kesenangan berdebat yang salah itu ada dalam ay 14, sedangkan dalam ay 15 Paulus menasehati Timotius dalam pemberitaan firman yang benar, dan ay 16 kelihatannya berhubungan dengan ay 17-18 yang berbicara tentang penyesat-penyesat / nabi-nabi palsu. Jadi menurut saya ay 16 seharusnya juga ditafsirkan ke arah pemberitaan yang sesat dari para nabi palsu, dan bukannya tentang orang-orang yang suka berdebat secara salah. Mari kita lihat textnya sekali lagi.

 

Ay 14-18: (14) Ingatkanlah dan pesankanlah semuanya itu dengan sungguh-sungguh kepada mereka di hadapan Allah, agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak berguna, malah mengacaukan orang yang mendengarnya. (15) Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu. (16) Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan. (17) Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di antara mereka termasuk Himeneus dan Filetus, (18) yang telah menyimpang dari kebenaran dengan mengajarkan bahwa kebangkitan kita telah berlangsung dan dengan demikian merusak iman sebagian orang..

 

Adam Clarke: “‘Shun profane and vain babblings.’ This is the character he gives of the preaching of the false teachers. Whatever was not agreeable to the doctrine of truth was, in the sight of God, empty and profane babbling; engendering nothing but ungodliness, and daily increasing in that.” (= ‘Hindarilah omongan yang kotor / tak senonoh dan sia-sia’. Ini adalah karakter yang ia berikan tentang pemberitaan dari guru-guru palsu. Apapun yang tidak sesuai dengan doktrin / ajaran kebenaran, dalam pandangan Allah, adalah omongan kosong dan kosong / tak senonoh; yang tidak menyebabkan apapun kecuali kejahatan, dan hari demi hari meningkat dalam hal itu.).

 

UBS New Testament Handbook Series: For ‘godless’ ... The Greek word itself refers either to a thing or a person that has no relationship or connection with God whatsoever. The verb form ... refers to the act of taking something that is dedicated to God and making it unacceptable to God. For ‘godless chatter’ see comments on 1 Tim 6:20. The expression is plural, indicating not one but many occurrences of the event. ... ‘Godless chatter’ as in 1 Tim 6:20 may also be expressed as ‘worthless (or, silly) discussions that show no reverence for God.’ [= Untuk ‘jahat’ ... Kata Yunaninya sendiri menunjuk atau pada suatu benda atau seseorang yang tidak mempunyai hubungan atau pertalian apapun dengan Allah. Bentuk kata kerjanya ... menunjuk pada tindakan mengambil sesuatu yang dipersembahkan kepada Allah dan membuatnya tidak bisa diterima bagi Allah. Untuk ‘omongan / ocehan yang jahat’ lihat komentar tentang 1Tim 6:20. Ungkapan itu jamak, yang menunjukkan bukan satu tetapi banyak kejadian-kejadian dari peristiwa. ... ‘Omongan / ocehan jahat’ seperti dalam 1Tim 6:20 juga bisa dinyatakan sebagai ‘diskusi-diskusi yang tak berharga (atau, tolol) yang tidak menunjukkan rasa takut / hormat bagi Allah.’].

 

2)         “yang hanya menambah kefasikan.”.

KJV: ‘for they will increase unto more ungodliness.’ (= karena hal-hal itu akan meningkat pada lebih banyak kejahatan.).

RSV: for it will lead people into more and more ungodliness, (= karena itu akan membimbing orang-orang ke dalam kejahatan yang makin lama makin jahat / banyak,).

NIV: ‘because those who indulge in it will become more and more ungodly.’ (= karena mereka yang memuaskan diri di dalamnya akan menjadi makin lama makin jahat.).

NASB: ‘for it will lead to further ungodliness,’ (= karena itu akan membimbing kepada kejahatan lebih jauh lagi).

 

UBS New Testament Handbook Series: “‘It will lead people into more and more ungodliness’ is literally ‘they will greatly increase ungodliness,’ ... Some interpreters see irony here, since the word for ‘increase’ can also mean ‘progress’; these people are therefore making progress but on a downward rather than an upward direction. (= ‘Itu akan membimbing orang-orang ke dalam kejahatan yang makin lama makin jahat / banyak’ secara hurufiah adalah ‘mereka akan sangat meningkat dalam kejahatan’, ... Beberapa penafsir melihat ironi di sini, karena kata untuk ‘meningkat’ bisa juga berarti ‘maju’; karena itu orang-orang ini membuat kemajuan tetapi ke arah yang menurun / bawah dan bukannya ke atas.).

 

Memang, pemberitaan firman yang buruk (yang sebetulnya bukan ‘firman’), bukan bersifat netral. Itu bukan saja tidak membangun, tetapi sebaliknya merusak, para pendengarnya.

 

Ay 17-18: “(17) Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di antara mereka termasuk Himeneus dan Filetus, (18) yang telah menyimpang dari kebenaran dengan mengajarkan bahwa kebangkitan kita telah berlangsung dan dengan demikian merusak iman sebagian orang.”.

 

1)            “Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker.” (ay 17a).

KJV: ‘a canker’ (= suatu kanker).

Terjemahan ‘kanker’ ini pasti mudah diserang, karena apakah pada jaman itu sudah dikenal penyakit kanker? Tetapi terjemahan yang lebih benar adalah ini:

RSV/NIV/NASB: ‘gangrene’ (= ganggren).

 

A. T. Robertson: “‘As doth gangrene.’ ‎hoos ‎‎gangraina. A late word (medical writers and Plutarch), only here in the New Testament. From ‎graoo ‎or ‎grainoo‎, to gnaw, to eat, an eating, spreading disease. [= ‘Seperti ganggren lakukan.’ hoos ‎‎gangraina. Suatu kata baru-baru ini (penulis-penulis medis dan Plutarch), hanya di sini dalam Perjanjian Baru. Dari ‎graoo ‎atau ‎grainoo‎, menggerogoti, memakan, tindakan makan, penyakit yang menyebar.].

 

The Biblical Illustrator: “‘Gangrene’: - The substitution of ‘gangrene’ for ‘cancer’ is an improvement, as giving the exact word used in the original, which expresses the meaning more forcibly than ‘cancer.’ Cancer is sometimes very slow in its ravages, and may go on for years without causing serious harm. Gangrene poisons the whole frame, and quickly becomes fatal. The apostle foresees that doctrines, which really ate out the very heart of Christianity, were likely to become very popular in Ephesus, and would do incalculable mischief. (= ‘Ganggren’: - Penggantian ‘ganggren’ untuk ‘kanker’ merupakan suatu kemajuan, karena memberikan kata yang tepat yang digunakan dalam bahasa aslinya, yang menyatakan artinya dengan lebih kuat dari pada ‘kanker’. Kanker kadang-kadang sangat lambat dalam pembinasaannya, dan bisa berjalan terus untuk bertahun-tahun tanpa menyebabkan bahaya / kerusakan yang serius. Ganggren meracuni seluruh kerangka / badan, dan dengan cepat menjadi fatal. Sang rasul melihat lebih dulu doktrin-doktrin itu, yang sungguh-sungguh memakan jantung dari kekristenan, sangat memungkinkan untuk menjadi sangat populer di Efesus, dan akan melakukan kerusakan yang tak terhitung.).

Bdk. Kis 20:17-18,28-30 - “(17) Karena itu ia menyuruh seorang dari Miletus ke Efesus dengan pesan supaya para penatua jemaat datang ke Miletus. (18) Sesudah mereka datang, berkatalah ia kepada mereka: ‘Kamu tahu, bagaimana aku hidup di antara kamu sejak hari pertama aku tiba di Asia ini: ... (28) Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperolehNya dengan darah AnakNya sendiri. (29) Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. (30) Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka.”.

Catatan: kata ‘Anak’ seharusnya tidak ada.

 

Matthew Henry (tentang ay 16-17): He must take heed of error: ‘Shun profane and vain babblings.’ The heretics, who boasted of their notions and their arguments, thought their performances such as might recommend them; but the apostle calls them ‘profane and vain babblings:’ when once men become fond of those they will increase unto more ungodliness. The way of error is down-hill; one absurdity being granted or contended for, a thousand follow: ‘Their word will eat as doth a canker, or gangrene;’ when errors or heresies come into the church, the infecting of one often proves the infecting of many, or the infecting of the same person with one error often proves the infecting of him with many errors. (= Ia harus berhati-hati tentang kesalahan: ‘Hindarilah omongan yang kotor / duniawi / tak senonoh dan sia-sia’. Orang-orang sesat, yang membanggakan gagasan-gagasan / pikiran-pikiran mereka dan argumentasi-argumentasi mereka, berpikir bahwa prestasi mereka adalah sedemikian rupa sehingga bisa memuji mereka; tetapi sang rasul menyebut mereka ‘omongan yang kotor / duniawi / tak senonoh dan sia-sia’: pada waktu satu kali orang-orang menjadi senang dengan hal-hal itu, mereka akan bertambah kepada kejahatan yang lebih lagi. Jalan dari kesalahan adalah menurun; satu kekonyolan diakui / diterima sebagai benar atau diperjuangkan, seribu kekonyolan akan mengikuti: ‘Perkataan mereka akan memakan seperti yang dilakukan oleh suatu kanker, atau ganggren’; pada waktu kesalahan-kesalahan atau kesesatan-kesesatan masuk ke dalam gereja, penularan terhadap seseorang sering membuktikan penularan terhadap banyak orang, atau penularan terhadap orang yang sama dengan satu kesalahan sering membuktikan penularan terhadap dia dengan banyak kesalahan.).

 

Barnes’ Notes: “‘Will eat as doth a canker.’ Margin, ‘gangrene.’ This word - gangraina ‎- occurs nowhere else in the New Testament. It is derived from graioo, grainoo, to devour, corrode, and means ‘gangrene’ or ‘mortification’ - the death of a part, spreading, unless arrested, by degrees over the whole body. The words rendered ‘will eat,’ mean ‘will have nutriment;’ that is, will spread over and consume the healthful parts. It will not merely destroy the parts immediately affected, but will extend into the surrounding healthy parts and destroy them also. So it is with erroneous doctrines. They will not merely eat out the truth in the particular matter to which they refer, but they will also spread over and corrupt other truths. The doctrines of religion are closely connected, and are dependent on each other - like the different parts of the human body. One cannot be corrupted without affecting those adjacent to it, and unless checked, the corruption will soon spread over the whole. (= ‘Akan memakan seperti yang kanker lakukan’. Catatan tepi, ‘ganggren’. Kata ini GANGRAINA - tidak muncul di tempat lain dalam Perjanjian Baru. Itu diturunkan dari graioo, grainoo, melahap, merusak, dan berarti ‘ganggren’ atau ‘pematian’ - kematian dari suatu bagian, kecuali ditahan, menyebar secara bertahap ke seluruh tubuh. Kata-kata yang diterjemahkan ‘akan memakan’, berarti ‘akan mendapatkan makanan’; artinya, akan menyebar kepada, dan memakan, bagian-bagian yang sehat. Itu tidak semata-mata menghancurkan bagian-bagian yang dipengaruhi secara langsung, tetapi akan meluas kepada bagian-bagian yang sehat di sekitarnya, dan menghancurkan mereka juga. Demikian juga dengan doktrin-doktrin yang salah. Mereka tidak semata-mata memakan kebenaran dalam hal khusus yang mereka tunjuk, tetapi mereka juga akan menyebar kepada dan merusak kebenaran-kebenaran yang lain. Doktrin-doktrin dari agama berhubungan secara dekat, dan tergantung satu sama lain - seperti bagian-bagian yang berbeda dari tubuh manusia. Yang satu tak bisa dirusak tanpa mempengaruhi mereka yang berdekatan dengannya, dan kecuali dihentikan, kerusakan / pembusukan akan segera menyebar kepada seluruhnya.).

 

Karena itu, kalau saudara melihat suatu gereja / persekutuan / grup facebook dimana ada satu orang yang sesat, maka curigailah bahwa ada lebih banyak lagi orang-orang lain yang sesat secara sama di kelompok itu. Dan kalau saudara melihat satu kesesatan dalam diri seseorang, maka curigailah bahwa ada banyak kesesatan yang lain dalam diri orang yang sama itu.

 

Sebagai contoh, kalau kita melihat orang-orang dari kalangan Yahwehisme, nanti ternyata bahwa banyak dari mereka bukan hanya salah dalam urusan nama pengharusan nama Yahweh, pelarangan kata ‘Allah’, pengharusan nama Yeshua / Yahshua, tetapi mereka (setidaknya banyak dari mereka, kalau bukannya semua) juga bersalah dalam ajaran-ajaran lain seperti:

a)            Keselamatan karena perbuatan baik, karena larangan dan pengharusan di atas dihubungkan dengan keselamatan.

b)   Ajaran tentang Allahnya bukanlah Tritunggal, tetapi Sabelianisme.

c)      Bahasa asli Perjanjian Baru adalah bahasa Ibrani (yang jelas-jelas merupakan suatu penipuan).

d)   dan sebagainya.

 

2)         “Di antara mereka termasuk Himeneus dan Filetus,” (ay 17b).

 

Jamieson, Fausset & Brown: “‘Hymeneus.’ (note, 1 Tim 1:20). After his excommunication he probably was re-admitted into the church and again troubled it.” [= ‘Himeneus’. (catatan, 1Tim 1:20). Setelah pengucilannya mungkin ia diterima kembali ke dalam gereja dan mengganggunya / menyusahkannya lagi.].

1Tim 1:20 - “di antaranya Himeneus dan Aleksander, yang telah kuserahkan kepada Iblis, supaya jera mereka menghujat.”.

Ini menunjukkan bahwa pengucilan / siasat gerejani boleh / harus dilakukan bukan hanya terhadap orang-orang yang tak mau bertobat dari dosa-dosa mereka, tetapi juga terhadap orang-orang yang sesat, khususnya pengajar-pengajar sesat.

 

Jewish New Testament Commentary: “‘Hymenaeus.’ Sha’ul had already excommunicated at 1 Ti 1:20, but apparently this did not put an end to his mischief. ‘Philetus’ is not mentioned elsewhere. (= ‘Himeneus’. Saul / Paulus telah mengucilkan dalam 1Tim 1:20, tetapi rupanya ini tidak mengakhiri kejahatan / kerusakannya. ‘Filetus’ tidak disebutkan di tempat lain.).

 

The Bible Exposition Commentary: Paul named two men who were false teachers, and he also identified their error. It is likely that the Hymenaeus named here (2 Tim 2:17) is the same man named in 1 Tim 1:20. We know nothing about his associate, Philetus. [= Paulus menyebutkan dua orang yang adalah guru-guru palsu, dan ia juga menunjukkan / mengidentifikasi kesalahan mereka. Besar kemungkinannya bahwa Himeneus yang disebutkan di sini (2Tim 2:17) adalah orang yang sama dengan yang disebutkan dalam 1Tim 1:20. Kita tidak tahu apapun tentang rekannya, Filetus.].

 

Calvin: “‘Of the number of whom are Hymenaeus and Philetus.’ He points out with the finger the plagues themselves, that all may be on their guard against them; for, if those persons who aim at the ruin of the whole Church are permitted by us to remain concealed, then to some extent we give them power to do injury. It is true that we ought to conceal the faults of brethren, but only those faults the contagion of which is not widely spread. But where there is danger to many, our dissimulation is cruel, if we do not expose in proper time the hidden evil. And why? Is it proper, for the sake of sparing one individual, that a hundred or a thousand persons shall perish through my silence? Besides, Paul did not intend to convey this information to Timothy alone, but he intended to proclaim to all ages and to all nations the wickedness of the two men, in order to shut the door against their base and ruinous doctrine.” (= ‘Dari kelompok mana Himeneus dan Filetus’. Ia menunjuk dengan jari wabah itu sendiri, supaya semua orang bisa berjaga-jaga terhadap mereka; karena, jika orang-orang itu, yang bertujuan menghancurkan seluruh gereja, kita ijinkan untuk tetap tersembunyi, maka sampai tingkat tertentu kita memberi mereka kuasa untuk melakukan kerusakan. Memang benar bahwa kita harus menyembunyikan / menutupi kesalahan-kesalahan dari saudara-saudara kita, tetapi hanya kesalahan-kesalahan yang penularannya tidak tersebar luas. Tetapi dimana ada bahaya terhadap banyak orang, penyembunyian kita itu kejam, jika kita tidak membukakan pada waktu yang tepat kejahatan yang tersembunyi. Dan mengapa? Apakah benar, demi menyayangkan satu individu, sehingga seratus atau seribu orang akan binasa melalui sikap diamku? Disamping, Paulus tidak bermaksud untuk menyampaikan informasi ini kepada Timotius saja, tetapi ia bermaksud untuk memproklamasikan kepada semua jaman dan kepada segala bangsa, kejahatan dari dua orang ini, supaya menutup pintu terhadap ajaran mereka yang hina / jelek dan bersifat menghancurkan.).

 

Jelas bahwa dalam persoalan pengajar sesat, Calvin bukan hanya mengijinkan, tetapi ia bahkan mengharuskan kita, untuk membukakan hal itu kepada sebanyak mungkin orang, untuk menahan penyebaran dari ajaran sesat itu.

Juga perhatikan, bahwa kalau Paulus boleh menyebutkan nama orang sesat dalam Alkitab, maka tak ada alasan untuk melarang pendeta / pengkhotbah untuk juga memasukkan nama-nama para penyesat ke dalam khotbah / pengajaran! Orang yang mengatakan ini sebagai ‘tidak etis’ dsb, justru adalah orang yang atau tidak mengerti Alkitab, atau tidak memperhatikan Alkitab dengan teliti, atau tidak peduli pada Alkitab, yang jelas-jelas melakukan hal itu.

 

Juga kalau orang menggunakan ayat seperti 1Kor 13:7 - “Ia (kasih) menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”, maka perlu diingat bahwa dalam kasus adanya ajaran sesat, ada dua kelompok orang yang harus kita pertimbangkan, yaitu:

a)      Kelompok pengajar sesat itu.

b)   Orang-orang yang berpotensial untuk disesatkan.

Kalau, karena kasih kita menutupi kesalahan dari para pengajar sesat itu, maka kita tidak mengasihi orang-orang yang berpotensial untuk disesatkan itu. Ini jelas tidak benar! Dalam kasus seperti ini, kesesatan dan identitas dari para penyesatnya harus dinyatakan, supaya semua orang bisa terhindar dari kesesatan!

 

3)   “yang telah menyimpang dari kebenaran dengan mengajarkan bahwa kebangkitan kita telah berlangsung”.

 

UBS New Testament Handbook Series: The nature and content of this teaching is difficult to determine. (= Hakekat / sifat dan isi dari ajaran ini sukar untuk ditentukan.).

 

Memang pada saat itu Paulus dan orang-orang Kristen di sana pasti tahu apa yang dimaksudkan bahwa ‘kebangkitan kita telah berlangsung’. Tetapi bagi kita, hal itu tidak bisa dipastikan. Hanya bisa ditebak-tebak saja. Dan menurut saya tak terlalu ada gunanya untuk menebak-nebak.

 

Calvin: “After having said that they had departed from ‘the truth,’ he specifies their error, which consisted in this, that they gave out that ‘the resurrection was already past.’ In doing this, they undoubtedly contrived a sort of allegorical resurrection, which has also been attempted in this age by some filthy dogs. By this trick Satan overthrows that fundamental article of our faith concerning the resurrection of the flesh.” (= Setelah mengatakan bahwa mereka telah menyimpang dari ‘kebenaran’, ia menyatakan secara explicit kesalahan mereka, yang terdiri dari ini, bahwa mereka menyatakan bahwa ‘kebangkitan telah berlalu / terjadi’. Dalam melakukan hal ini, tak diragukan mereka membuat sejenis kebangkitan yang bersifat alegory, yang juga telah diusahakan dalam jaman ini oleh beberapa anjing-anjing kotor. Dengan trik ini Iblis merobohkan artikel iman kita yang bersifat dasari berkenaan dengan kebangkitan daging.).

 

Penerapan: memang tak pantas hanya mengatakan seseorang sebagai sesat, tanpa menjelaskan apa kesesatannya.

 

Matthew Henry: They have ‘erred concerning the truth,’ or concerning one of the fundamental articles of the Christian religion, which is truth. The resurrection of the dead is one of the great doctrines of Christ. Now see the subtlety of the serpent and the serpent’s seed. They did not deny the resurrection (for that had been boldly and avowedly to confront the word of Christ), but they put a corrupt interpretation upon that true doctrine, saying that the resurrection was past already, that what Christ spoke concerning the resurrection was to be understood mystically and by way of allegory, that it must be meant of a spiritual resurrection only. It is true, there is a spiritual resurrection, but to infer thence that there will not be a true and real resurrection of the body at the last day is to dash one truth of Christ in pieces against another. [= Mereka telah bersalah berkenaan dengan kebenaran, atau berkenaan dengan salah satu artikel dasari dari agama Kristen, yang adalah kebenaran. Kebangkitan orang mati adalah salah satu dari doktrin-doktrin besar dari Kristus. Sekarang lihatlah kelicikan si ular dan keturunan ular. Mereka tidak menyangkal kebangkitan (karena itu secara berani dan terbuka menentang kata-kata Kristus), tetapi mereka memasukkan suatu penafsiran yang buruk pada doktrin itu, dengan mengatakan bahwa kebangkitan sudah lewat / berlalu, bahwa apa yang Kristus katakan berkenaan dengan kebangkitan harus dimengerti secara mistik dan dengan cara yang bersifat alegory, bahwa itu harus diartikan sebagai suatu kebangkitan rohani saja. Memang benar, disana ada suatu kebangkitan rohani, tetapi menyimpulkan dari sana bahwa tidak akan ada suatu kebangkitan yang benar dan sungguh-sungguh dari tubuh pada hari terakhir, berarti menabrakkan kebenaran dari Kristus satu sama lain.].

 

Contoh lain: Saksi-Saksi Yehuwa mempercayai Yesus sebagai ‘allah kecil’.

 

4)         “dan dengan demikian merusak iman sebagian orang.”.

 

a)   Selalu ada orang-orang bodoh yang tertipu oleh ajaran-ajaran sesat  itu.

 

Calvin: “But when we learn that, from the very beginning of the gospel, the faith of some was subverted, such an example ought to excite us to diligence, that we may seize an early opportunity of driving away from ourselves and others so dangerous a plague; for, in consequence of the strong inclination of men to vanity, there is no absurdity so monstrous that there shall not be some men who shall lend their ear to it.” (= Tetapi pada waktu kita mempelajari bahwa dari sejak awal dari injil, iman dari sebagian orang dirusak / dihancurkan, contoh seperti itu harus menggairahkan kita pada kerajinan, supaya kita bisa menggunakan kesempatan yang dini untuk menyingkirkan dari diri kita sendiri dan orang-orang lain wabah yang berbahaya seperti itu; karena, sebagai konsekwensi dari kecenderungan yang kuat dari orang-orang pada kesia-siaan, maka bukanlah kekonyolan yang begitu besar bahwa disana akan tidak ada beberapa orang yang akan mendengarkannya.).

Catatan: rasanya kata-kata bagian akhir ini kok kebanyakan kata ‘not’ (= tidak).

 

Pulpit Commentary: It is the usual way with heresy to corrupt and destroy the gospel, under pretence of improving it. And there are always some weak brethren ready to be deceived and misled. (= Merupakan cara yang umum / biasa dengan bidat untuk merusak dan menghancurkan injil, di bawah kepura-puraan untuk memperbaikinya. Dan disana selalu ada beberapa saudara yang lemah yang siap untuk ditipu dan disesatkan.).

 

Budgen mengutip dari Charles Haddon Spurgeon (1834-1892) sebagai berikut:

“Every now and then there comes up a heresy, some woman turns prophetess and raves; or some lunatic gets the idea that God has inspired him, and there are always fools ready to follow any impostor” (= Sesekali muncullah seorang penyesat, seorang wanita yang menjadi nabiah dan mengoceh; atau seorang gila yang mempunyai gagasan bahwa Allah mengilhaminya, dan selalu ada orang-orang tolol yang siap untuk mengikuti seadanya penipu) - ‘The Charismatics and the Word of God’, hal 183.

 

Karena itu jangan meremehkan ajaran sesat sekonyol apapun, karena itu selalu bisa menyesatkan orang.

Di facebook, grup ELIM, ajaran yang mengatakan ‘iman = perbuatan’ sebetulnya sudah keterlaluan konyolnya, tetapi kenyataannya banyak yang menerimanya! Sampai-sampai saya bantah dengan cara sebagai berikut:

Ro 3:27-28 - “(27) Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan IMAN! (28) Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena IMAN, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.”.

Kalau iman = perbuatan, mari kita ganti kata ‘iman’ dengan kata ‘perbuatan’ dan lihat ayatnya akan jadi bagaimana.

 

Ro 3:27-28 (versi sesat) - “(27) Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan PERBUATAN! (28) Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena PERBUATAN, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.”.

 

Inipun tidak menyadarkan orang-orang sesat yang memang buta / membutakan dirinya itu!

 

b)      Keselamatan bisa hilang?

Kalau anak kalimat ini mengatakan bahwa ajaran sesat bisa merusak iman sebagian orang, apakah itu berarti bahwa orang-orang yang rusak imannya / disesatkan itu kehilangan keselamatan mereka? Tentu tidak! Ini sebetulnya jelas kalau kita membaca sambungan dari ay 18 ini yaitu ay 19: “Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah: ‘Tuhan mengenal siapa kepunyaanNya’ dan ‘Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan.’”.

 

Jadi, orang-orang yang ‘imannya dirusakkan’ itu sebetulnya tidak pernah punya iman yang sungguh-sungguh, karena kalau mereka punya, mereka tidak bisa betul-betul disesatkan.

1Yoh 2:18-19 - “(18) Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir. (19) Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.”.

Mat 24:24 - “Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.”.

Yoh 8:31 - “Maka kataNya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepadaNya: ‘Jikalau kamu tetap dalam firmanKu, kamu benar-benar adalah muridKu”.

 

Jadi, mereka bukan kehilangan keselamatan, tetapi mereka tidak pernah diselamatkan.

 

-bersambung-

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali