Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

Rabu, tanggal 1 Mei 2013, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(7064-1331 / 6050-1331 / 0819-455-888-55)

[email protected]

 

II Timotius 2:1-26(6)

 

2Tim 2:8-9 - “(8) Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku. (9) Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu.”.

 

Ay 8: “Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku.”.

 

1)            Terjemahan.

Kata ‘kuberitakan’ sebetulnya tidak ada.

KJV: ‘Remember that Jesus Christ of the seed of David was raised from the dead according to my gospel:’ (= Ingatlah bahwa Yesus Kristus dari benih Daud telah dibangkitkan dari orang mati sesuai dengan injilku:).

RSV: ‘Remember Jesus Christ, risen from the dead, descended from David, as preached in my gospel,’ (= Ingatlah Yesus Kristus, yang telah dibangkitkan dari orang mati, diturunkan dari Daud, seperti dikhotbahkan dalam injilku,).

NIV: ‘Remember Jesus Christ, raised from the dead, descended from David. This is my gospel,’ (= Ingatlah Yesus Kristus, yang telah dibangkitkan dari orang mati, diturunkan dari Daud. Ini adalah injilku,).

NASB: ‘Remember Jesus Christ, risen from the dead, descendant of David, according to my gospel,’ (= Ingatlah Yesus Kristus, yang telah dibangkitkan dari orang mati, diturunkan dari Daud, sesuai dengan injilku).

 

2)         Yesus Kristus adalah inti dari injil.

Dari ayat ini terlihat bahwa Kristus adalah inti dari Injil, dan karena itu adalah aneh / gila pada waktu kita melihat ada banyak pengkhotbah yang pada waktu berkhotbah tidak pernah menyebut nama Yesus Kristus!

 

3)   Paulus menekankan kebangkitan Kristus dari antara orang mati, karena adanya orang-orang yang menyangkalnya.

Bdk. ay 16-18: “(16) Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan. (17) Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di antara mereka termasuk Himeneus dan Filetus, (18) yang telah menyimpang dari kebenaran dengan mengajarkan bahwa kebangkitan kita telah berlangsung dan dengan demikian merusak iman sebagian orang.”.

 

4)            Kemanusiaan dan keilahian Yesus Kristus.

John Stott: In particular, Christ is to be remembered as the one who is both ‘risen from the dead’ and ‘descended from David’. As we meditate on these two expressions, it is remarkable how full an account of the gospel they give. The birth, death, resurrection and ascension of Jesus are all implicit in them. And these remind us both of his divine-human person and of his saving work. First, his person. The words ‘descended from David’ imply his humanity, for they speak of his earthly descent from David. The words ‘risen from the dead’ imply his divinity, for he was powerfully designated God’s Son by his resurrection from the dead. Secondly, his work. The phrase ‘risen from the dead’ indicates that he died for our sins and was raised to prove the efficacy of his sinbearing sacrifice. The phrase ‘descended from David’ indicates that he has established his kingdom as great David’s greater Son (cf. Lk. 1:32,33). Taken together, the two phrases seem to allude to his double role as Saviour and King. [= Secara khusus, Kristus harus diingat sebagai seseorang yang baik ‘dibangkitkan dari orang mati’ dan ‘diturunkan dari Daud’. Pada waktu kita merenungkan kedua ungkapan ini, merupakan sesuatu yang luar biasa betapa penuhnya cerita injil yang mereka berikan. Kelahiran, kematian, kebangkitan dan kenaikan dari Yesus semuanya secara implicit ada di dalam mereka. Dan hal-hal ini mengingatkan kita baik tentang pribadi ilahi-manusiawiNya dan pekerjaan penyelamatanNya. Pertama, pribadiNya. Kata-kata ‘telah diturunkan dari Daud’ secara implicit menunjukkan kemanusiaanNya, karena kata-kata itu membicarakan tentang keturunan duniawi dari Daud. Kata-kata ‘telah dibangkitkan dari orang mati’ secara implicit menunjukkan keilahianNya, karena ia ditunjukkan secara kuat sebagai Anak Allah oleh kebangkitanNya dari orang mati. Kedua, pekerjaanNya. Ungkapan ‘telah dibangkitkan dari orang mati’ menunjukkan bahwa Ia telah mati untuk dosa-dosa kita dan dibangkitkan untuk membuktikan bahwa Ia telah meneguhkan kerajaanNya sebagai Anak yang agung dari Daud (bdk. Luk 1:32,33). Diambil bersama-sama, kedua ungkapan kelihatannya menyinggung peranan gandaNya sebagai Juruselamat dan Raja.].

Ro 1:4 - “dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitanNya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita.”.

Luk 1:32,33 - “(32) Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepadaNya takhta Daud, bapa leluhurNya, (33) dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan KerajaanNya tidak akan berkesudahan.’”.

 

Calvin: “‘Of the seed of David.’ This clause not only asserts the reality of human nature in Christ, ... Heretics deny that Christ was a real man, others imagine that his human nature descended from heaven, and others think that there was in him nothing more than the appearance of a man. Paul exclaims, on the contrary, that he was ‘of the seed of David;’ by which he undoubtedly declares that he was a real man, the son of a human being, that is, of Mary. This testimony is so express, that the more heretics labor to get rid of it, the more do they discover their own impudence.” (= ‘Dari benih / keturunan Daud’. Anak kalimat ini bukan hanya menegaskan kenyataan dari hakekat manusia dalam Kristus, ... Orang-orang sesat / bidat-bidat menyangkal bahwa Kristus adalah seorang manusia yang sungguh-sungguh, yang lain mengkhayalkan bahwa hakekat manusiaNya diturunkan dari surga, dan orang-orang lain berpikir bahwa di dalam Dia hanya ada tidak lebih dari apa yang kelihatannya adalah manusia. Paulus berseru, sebaliknya, bahwa Ia adalah ‘dari benih / keturunan Daud’; dengan mana ia tak diragukan menyatakan bahwa Ia adalah sungguh-sungguh seorang manusia, anak laki-laki dari seorang manusia, yaitu dari Maria. Kesaksian ini begitu jelas, sehingga makin orang-orang sesat / bidat-bidat berjerih payah untuk membuangnya, makin mereka menyingkapkan kekurang-ajaran mereka sendiri.).

 

5)            Kehadiran terus menerus dari seseorang yang pernah hidup di dunia ini.

Barclay: Remember Jesus Christ ‘risen from the dead.’ The tense of the Greek does not imply one definite act in time, but a continued state which lasts forever. Paul is not so much saying to Timothy: ‘Remember the actual resurrection of Jesus’, but rather: ‘Remember your risen and ever-present Lord.’ Here is the great Christian inspiration. We do not depend on a memory, however great. We enjoy the power of a presence. When Christians are summoned to some great task that they feel is beyond them, they must go about it in the certainty that they do not go alone, but that the presence and the power of their risen Lord is always with them. When fears threaten, when doubts invade the mind, when inadequacy depresses, remember the presence of the risen Lord. (= Ingatlah Yesus Kristus ‘yang telah bangkit / dibangkitkan dari orang mati’. Tensa dari bahasa Yunaninya tidak menunjukkan satu tindakan tertentu dalam waktu, tetapi suatu keadaan yang terus berlangsung selama-lamanya. Paulus tidak mengatakan kepada Timotius: ‘Ingatlah kebangkitan yang sungguh-sungguh dari Yesus’, tetapi ‘Ingatlah Tuhanmu yang telah bangkit dan selalu hadir’. Di sini ada ilham Kristen yang agung. Kita tidak tergantung pada ingatan, betapapapun besar / agungnya. Kita menikmati kuasa dari suatu kehadiran. Pada waktu orang-orang Kristen dipanggil untuk suatu tugas yang besar sehingga mereka merasa bahwa itu adalah melampaui mereka, mereka harus melakukannya dengan kepastian bahwa mereka tidak berjalan sendirian, tetapi bahwa kehadiran dan kuasa dari Tuhan mereka yang telah bangkit selalu menyertai mereka. Pada waktu rasa takut mengancam, pada waktu keragu-raguan menyerbu pikiran, pada waktu ketidak-cukupan menekan, ingatlah kehadiran dari Tuhan yang telah bangkit.).

Catatan: kata Yunani yang diterjemahkan ‘risen’ adalah EGEGERMENON, suatu participle dalam bentuk perfect, pasif.

 

Barclay: Remember Jesus Christ ‘born of the seed of David.’ This is the other side of the question. ‘Remember’, says Paul to Timothy, ‘that the Master shared our humanity.’ We do not remember one who is only a spiritual presence; we remember one who trod this road, and lived this life, and faced this struggle, and who therefore knows what we are going through. We have with us the presence not only of the glorified Christ, but also of the Christ who knew the desperate struggle of being human and followed the will of God to the bitter end. (= Ingatlah Yesus Kristus, ‘dilahirkan dari benih / keturunan Daud’. Ini adalah sisi yang lain dari pertanyaan / persoalan. ‘Ingatlah’, kata Paulus kepada Timotius, ‘bahwa sang Tuan mengambil bagian dalam kemanusiaan kita’. Kita tidak mengingat seseorang yang hanya merupakan suatu kehadiran rohani; kita mengingat seseorang yang menginjak jalanan ini, dan menjalani kehidupan ini, dan menghadapi pergumulan ini, dan yang karena itu mengetahui / mengerti apa yang sedang kita alami. Kita mempunyai suatu kehadiran dengan kita bukan hanya dari Kristus yang telah dimuliakan, tetapi juga dari Kristus yang mengetahui / mengerti pergumulan yang putus asa dari pergumulan sebagai manusia dan mengikuti kehendak Allah sampai pada akhir yang pahit.).

Bdk. Ibr 2:17-18 - “(17) Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudaraNya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa. (18) Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.”.

 

Ay 9: “Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu.”.

 

1)   “Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat”.

Matthew Henry: How the apostle suffered (v. 9): ‘Wherein I suffer as an evil-doer;’ and let not Timothy the son expect any better treatment than Paul the father. Paul was a man who did good, and yet suffered as an evil-doer: we must not think it strange if those who do well fare ill in this world, and if the best of men meet with the worst of treatment; [= Bagaimana sang rasul menderita (ay 9): ‘Dalam mana aku menderita sebagai seorang pembuat kejahatan’; dan janganlah Timotius sang anak mengharapkan perlakuan yang lebih baik apapun dari pada Paulus sang bapa. Paulus adalah orang yang melakukan yang baik, tetapi menderita sebagai seorang pelaku kejahatan: kita tidak boleh menganggapnya sebagai sesuatu yang aneh jika mereka yang melakukan hal-hal yang baik berada dalam keadaan yang buruk di dunia ini, dan jika orang-orang yang terbaik mengalami perlakuan yang terburuk;].

 

2)   ‘tetapi firman Allah tidak terbelenggu’.

Kata-kata ini memungkinkan 2 arti, yaitu orang-orang Kristen lain tetap memberitakan Injil, atau Paulus sendiri tetap memberitakan Injil di dalam penjara (seandainya ia tak dipenjara tak ada kemungkinan baginya untuk memberitakan Injil kepada orang-orang yang ada di penjara, tentara-tentara yang menjaga penjara dan sebagainya). Atau bisa juga keduanya digabungkan.

 

Jamieson, Fausset & Brown: “‘Word of God is not bound.’ Though my person is bound, my tongue and pen are not (2 Tim 4:17; Acts 21:13; 28:31). Rather, he includes the freedom of the circulation of the Gospel by others (Phil 1:12). He also hints that Timothy, being free, ought to be the more earnest in circulating it.” [= ‘Firman Allah tidak terbelenggu’. Sekalipun pribadiku diikat / dibelenggu, lidahku dan penaku tidak (2Tim 4:17; Kis 21:13; 28:31). Lebih lagi, ia mencakup kebebasan penyebaran dari Injil oleh orang-orang lain (Fil 1:12). Ia juga mengisyaratkan bahwa Timotius, sebagai orang bebas, harus lebih sungguh-sungguh dalam menyebarkannya].

2Tim 4:17 - “tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya. Dengan demikian aku lepas dari mulut singa.”.

Kis 21:13 - “Tetapi Paulus menjawab: ‘Mengapa kamu menangis dan dengan jalan demikian mau menghancurkan hatiku? Sebab aku ini rela bukan saja untuk diikat, tetapi juga untuk mati di Yerusalem oleh karena nama Tuhan Yesus.’”.

Kis 28:31 - “Dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus.”.

 

Bdk. Fil 1:12-19 - “(12) Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil, (13) sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus. (14) Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut. (15) Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakanNya dengan maksud baik. (16) Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil, (17) tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara. (18) Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita, (19) karena aku tahu, bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus.”.

Catatan: bagian yang saya garis-bawahi salah terjemahan.

KJV/RSV/NIV/NASB: ‘What then?’ (= ‘Lalu apa?’).

 

Calvin: “Let us therefore bear cheerfully, or at least patiently, to have both our body and our reputation shut up in prison, provided that the truth of God breaks through those fetters, and is spread far and wide.” (= Karena itu hendaklah kita memikul / menanggung dengan gembira, atau setidaknya dengan sabar, pada waktu kita mendapati baik tubuh kita maupun reputasi kita dikurung dalam penjara, asalkan kebenaran Allah menerobos belenggu-belenggu itu, dan disebarkan dimana-mana).

 

3)   Kalau Paulus yang dipenjara tetap bisa memberitakan firman, maka kita juga harus bisa melakukannya dalam keadaan kita yang tidak menguntungkan.

 

The Biblical Illustrator (New Testament): The first idea suggested by the words in their original connection is, that Paul’s incarceration did not hinder his own personal exertions as a preacher of the gospel. The practical lesson taught by Paul’s example, in this view of it, is obvious. It is a reproof of our disposition to regard external disadvantages, restraints, and disabilities as either affording an immunity from blame if we neglect to use the power still left us, or discouraging the hope of any good effect from using it. (= Gagasan pertama yang diusulkan oleh kata-kata ini dalam hubungan aslinya adalah, bahwa penahanan Paulus tidak menghalangi pengerahan tenaga pribadinya sebagai seorang pengkhotbah / pemberita dari injil. Ajaran praktis yang diajarkan oleh teladan Paulus, dalam pandangan ini, adalah jelas. Itu merupakan suatu teguran / celaan terhadap kecenderungan kita untuk menganggap keadaan-keadaan luar yang tidak menguntungkan, pengekangan-pengekangan, dan ketidak-mampuan sebagai atau memberikan suatu kekebalan dari kesalahan jika kita mengabaikan penggunaan kuasa yang masih ditinggalkan bersama kita, atau mengecilkan hati pengharapan tentang hasil baik apapun dari penggunaannya.).

 

Barclay: Andrew Melville was one of the earliest heralds of the Scottish Reformation in the sixteenth century. One day, the Regent Morton sent for him and denounced his writings. ‘There will never be quietness in this country’, he said, ‘till half a dozen of you be hanged or banished the country.’ ‘Tush! sir,’ answered Melville, ‘threaten your courtiers in that fashion. It is the same to me whether I rot in the air or in the ground. The earth is the Lord’s; my fatherland is wherever well-doing is. I have been ready to give my life when it was not half as well worn, at the pleasure of my God. I lived out of your country ten years as well as in it. Yet God be glorified, it will not lie in your power to hang nor exile his truth!’ You can exile an individual, but you cannot exile the truth. You can imprison a preacher, but you cannot imprison the word that is preached. The message is always greater than the individual; the truth is always mightier than the bearer. (= Andrew Melville adalah satu dari pemberita-pemberita yang paling awal dari Reformasi Skotlandia pada abad ke 16. Suatu hari, Regent Morton memanggilnya dan mencela tulisan-tulisannya. ‘Tidak akan pernah ada ketenangan dalam negara ini’, katanya, ‘sampai setengah lusin dari kamu digantung atau dibuang dari negara ini’. ‘Huh! tuan’, jawab Melville, ‘ancamlah anggota-anggota istanamu dengan cara itu. Bagiku adalah sama apakah aku membusuk di udara atau di dalam tanah. Bumi adalah milik Tuhan; tanah airku adalah dimanapun perbuatan baik ada. Aku telah siap untuk menyerahkan nyawaku pada waktu itu belum setengahnya dipakai dengan baik, pada kesenangan dari Allahku. Aku hidup di luar negaramu 10 tahun maupun di dalamnya. Tetapi hendaklah Allah dimuliakan, tidak akan terletak dalam kuasamu untuk menggantung atau membuang kebenaranNya!’ Engkau bisa membuang seorang individu, tetapi engkau tidak bisa membuang kebenaran. Engkau bisa memenjarakan seorang pengkhotbah, tetapi engkau tidak bisa memenjarakan firman yang diberitakan. Beritanya selalu lebih besar dari individunya; kebenarannya selalu lebih kuat / perkasa dari pada pembawa / pemberitanya.).

 

-bersambung-

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali