Pemahaman Alkitab
(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Rabu, tanggal 24 April 2013, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(0819-455-888-55)
II Timotius 2:1-26(5)
2Tim 2:3-7 - “(3) Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. (4) Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya. (5) Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga. (6) Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya. (7) Perhatikanlah apa yang kukatakan; Tuhan akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu.”.
Ay 6: “Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.”.
John Stott: “If the athlete must play fair, the farmer must work hard. He ‘toils’ at his job, as the verb indicates. Hard work is indeed indispensable to good farming. This is particularly so in developing countries before mechanization arrives. In such circumstances successful farming depends as much on sweat as on skill. However poor the soil, inclement the weather, or disinclined the farmer, he must keep at his work. ... Unlike the soldier and the athlete the farmer’s life is ‘totally devoid of excitement, remote from all glamour of peril and of applause’. Yet the first share of the crops goes to the hardworking farmer. He deserves it. His good yield is due as much to his toil and perseverance as to anything else. That is why a sluggard never makes a good farmer, as the book of Proverbs insists. He always loses his harvest, either because he is asleep when he ought to be reaping, or because he was too lazy to plough the previous autumn, or because he has allowed his fields to become overgrown with nettles and thorns (Pr. 10:5; 20:4; 24:30, 31).” [= Jika sang olahragawan harus bermain dengan fair / jujur, sang petani harus bekerja keras. Ia berjerih payah pada pekerjaannya, seperti ditunjukkan oleh kata kerjanya. Kerja keras memang sangat diperlukan bagi pertanian yang baik. Khususnya ini adalah demikian di negara-negara berkembang sebelum datangnya mekanisasi. Dalam keadaan seperti itu pertanian yang sukses tergantung secara sama pada keringat seperti pada keahlian. Bagaimanapun buruknya tanah dan cuaca, atau bagaimanapun segannya sang petani, ia harus tetap bekerja. ... Berbeda dengan prajurit dan olahragawan, kehidupan sang petani adalah ‘sama sekali tidak memiliki kegembiraan, jauh dari semua glamor / pesona dari bahaya dan dari tepuk tangan / sorakan’. Tetapi bagian pertama dari panen pergi kepada petani yang bekerja keras. Ia layak mendapatkannya. Hasilnya yang baik disebabkan sama banyaknya oleh jerih payah dan ketekunannya sama seperti oleh apapun yang lain. Ini sebabnya seorang pemalas tidak pernah menjadi seorang petani yang baik, seperti kitab Amsal berkeras. Ia selalu kehilangan panennya, atau karena ia tidur pada waktu ia seharusnya menuai, atau karena ia terlalu malas untuk membajak pada musim gugur sebelumnya, atau karena ia mengijinkan ladangnya dipenuhi dengan rumput liar dan duri (Amsal 10:5; 20:4; 24:30,31).].
Amsal 10:5 - “Siapa mengumpulkan pada musim panas, ia berakal budi; siapa tidur pada waktu panen membuat malu.”.
Amsal 20:4 - “Pada musim dingin si pemalas tidak membajak; jikalau ia mencari pada musim menuai, maka tidak ada apa-apa.”.
Amsal 24:30-31 - “(30) Aku melalui ladang seorang pemalas dan kebun anggur orang yang tidak berakal budi. (31) Lihatlah, semua itu ditumbuhi onak, tanahnya tertutup dengan jeruju, dan temboknya sudah roboh.”.
John Stott: “To what kind of harvest is the apostle referring? Two applications are more obviously biblical than others. First, holiness is a harvest. True, it is ‘the fruit (or ‘harvest’) of the Spirit’, in that the Spirit is himself the chief farmer who produces a good crop of Christian qualities in the believer’s life. But we have our part to play. We are to ‘walk by the Spirit’ and ‘sow to the Spirit’ (Gal. 5:16; 6:8), following his promptings and disciplining ourselves, if we would reap the harvest of holiness. Many Christians are surprised that they are not noticeably growing in holiness. Is it that we are neglecting to cultivate the field of our character? ‘Whatever a man sows, that he will also reap’ (Gal. 6:7). As Bishop Ryle emphasizes again and again in his great book entitled ‘Holiness,’ there are ‘no gains without pains’. For example: ‘I will never shrink from declaring my belief that there are no spiritual gains without pains. I should as soon expect a farmer to prosper in business who contented himself with sowing his fields and never looking at them till harvest, as expect a believer to attain much holiness who was not diligent about his Bible-reading, his prayers, and the use of his Sundays. Our God is a God who works by means, and He will never bless the soul of that man who pretends to be so high and spiritual that he can get on without them.’ As Paul puts it here, it is ‘the hardworking farmer’ who has the first share of the crop. For holiness is a harvest. Secondly, the winning of converts is a harvest too. ‘The harvest is plentiful,’ Jesus said, referring to the many who are waiting to hear and receive the gospel (Mt. 9:37; cf. Jn. 4:35; Rom. 1:13). Now in this harvest it is of course ‘God who gives the growth’ (1 Cor. 3:6, 7). But again we have no liberty to be idle. Further, both the sowing of the good seed of God’s word and the reaping of the harvest are hard work, especially when the labourers are few. Souls are hardly won for Christ, not by the slick, automatic application of a formula, but by tears and sweat and pain, especially in prayer and in sacrificial personal friendship. Again, it is ‘the hardworking farmer’ who can expect good results.” [= Jenis panen apa yang ditunjuk oleh sang rasul? Dua penerapan secara jelas adalah lebih Alkitabiah dari pada yang lain. Pertama, kekudusan adalah suatu panen. Memang benar, itu adalah ‘buah (atau ‘panen’) dari Roh’, dalam hal bahwa Roh itu sendiri adalah sang petani utama / kepala yang menghasilkan panen yang baik dari sifat-sifat Kristen dalam kehidupan orang percaya. Tetapi kita mempunyai bagian kita untuk dilakukan. Kita harus ‘berjalan oleh Roh’ dan ‘menabur bagi Roh’ (Gal 5:16; 6:8), mengikuti dorongan / desakanNya dan pendisiplinan diri kita sendiri, jika kita mau menuai panen kekudusan. Banyak orang-orang Kristen heran bahwa mereka tidak bertumbuh secara nyata dalam kekudusan. Apakah itu karena kita sedang mengabaikan untuk mengusahakan ladang karakter kita? ‘Apa yang ditabur orang itu juga yang akan dituainya’ (Gal 6:7). Seperti yang ditekankan oleh Uskup Ryle berulang-ulang dalam bukunya yang hebat yang berjudul ‘Holiness’ (= Kekudusan), di sana ‘tidak ada keuntungan / perolehan tanpa rasa sakit / penderitaan’. Sebagai contoh: ‘Saya tidak akan pernah mundur dari pernyataan kepercayaan saya bahwa di sana tidak ada keuntungan / perolehan rohani tanpa rasa sakit / penderitaan. Saya harus secara sama mengharapkan seorang petani untuk berhasil dalam usahanya, yang merasa puas dengan dirinya sendiri dengan menabur di ladangnya dan tidak pernah memperhatikannya sampai musim menuai, seperti mengharapkan seorang percaya untuk mencapai banyak kekudusan, yang tidak rajin tentang pembacaan Alkitabnya, doa-doanya, dan penggunaan hari-hari Minggunya. Allah kita adalah Allah yang bekerja dengan cara-cara / jalan-jalan, dan Ia tidak akan pernah memberkati jiwa dari orang itu yang menganggap diri begitu tinggi dan rohani, sehingga ia bisa berhasil / maju tanpa hal-hal itu.’ Seperti Paulus nyatakan di sini, adalah ‘petani yang bekerja keras’ yang mendapatkan bagian pertama dari panen. Karena kekudusan adalah suatu panen. Kedua, pemenangan dari petobat-petobat juga adalah suatu panen. ‘Panennya banyak’, kata Yesus, sambil menunjuk kepada orang banyak yang sedang menunggu untuk mendengar dan menerima injil (Mat 9:37; bdk. Yoh 4:35; Ro 1:13). Dalam panen ini tentu saja ‘Allahlah yang memberi pertumbuhan’ (1Kor 3:6-7). Tetapi lagi-lagi kita tidak mempunyai kebebasan untuk menjadi malas. Selanjutnya, baik menaburkan benih yang baik dari firman Allah dan menuai panen adalah pekerjaan yang berat, khususnya kalau pekerja hanya sedikit. Jiwa-jiwa tidak dimenangkan untuk Kristus, bukan oleh penerapan yang curang / licik dan otomatis dari suatu formula, tetapi oleh air mata dan keringat, khususnya dalam doa dan dalam persahabatan pribadi yang bersifat pengorbanan. Lagi-lagi, adalah ‘petani yang bekerja keras’ yang bisa mengharapkan hasil yang baik.].
Gal 5:16 - “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.”.
Gal 6:7-8 - “(7) Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diriNya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. (8) Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.”.
Mat 9:37 - “Maka kataNya kepada murid-muridNya: ‘Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.”.
Yoh 4:35 - “Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.”.
Ro 1:13 - “Saudara-saudara, aku mau, supaya kamu mengetahui, bahwa aku telah sering berniat untuk datang kepadamu - tetapi hingga kini selalu aku terhalang - agar di tengah-tengahmu aku menemukan buah, seperti juga di tengah-tengah bangsa bukan Yahudi yang lain.”.
1Kor 3:6-7 - “(6) Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. (7) Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.”.
Barclay: “It is not the lazy farmer, but the farmer who works hard, who must be the first to receive the share of the fruits of the harvest. What then are the characteristics of the farmer which Paul would wish to see in the life of the Christian? (1) Often, farmers must be content, first to work and then to wait. More than any other worker, farmers have to learn that there is no such thing as quick results. Christians too must learn to work and to wait. Often, they must sow the good seed of the word into the hearts and minds of their hearers and see no immediate result. Teachers often have to teach and see no difference in those they teach. Parents often have to seek to train and guide, and see no difference in the children. It is only when the years go by that the result is seen; ... The farmer has learned to wait with patience, and so must the Christian teacher and the Christian parent. (2) One special thing characterizes the farmer - and that is a readiness to work at any hour. At harvest time, we can see farmers at work in their fields as long as the last streak of light is left; they know no hours. Neither must the Christian. The trouble with so much Christianity is that it is spasmodic. But, from dawn to sunset, Christians must always be working at their challenge of being Christians.” [= Bukanlah petani yang malas, tetapi petani yang bekerja keras, yang harus pertama-tama menerima bagian dari buah / hasil dari panen. Lalu apa karakteristik dari petani yang Paulus ingin lihat dalam kehidupan orang Kristen? (1) Seringkali, petani-petani harus puas, pertama-tama bekerja dan lalu menunggu. Orang-orang Kristen juga harus belajar untuk bekerja dan untuk menunggu. Seringkali, mereka harus menabur benih yang baik dari firman ke dalam hati dan pikiran dari pendengar-pendengar mereka dan tidak langsung melihat hasilnya. Pengajar-pengajar sering harus mengajar dan tidak melihat perbedaan dalam diri yang mereka ajar. Orang tua sering harus berusaha untuk melatih dan membimbing, dan tidak melihat perbedaan dalam anak-anak. Hanyalah pada saat tahun-tahun berlalu maka hasilnya terlihat; ... Petani telah belajar untuk menunggu dengan sabar, dan pengajar Kristen dan orang tua Kristen juga harus begitu. (2) Satu hal khusus menjadi ciri / karakter dari petani - dan itu adalah kesediaan untuk bekerja kapanpun. Pada musim menuai, kita bisa melihat petani-petani bekerja di ladang mereka selama lintasan terakhir dari terang / cahaya masih ada; mereka tidak mengenal jam / waktu. Orang Kristen juga harus demikian. Problem dengan begitu banyak kekristenan adalah bahwa itu bersifat tak tetap / sementara. Tetapi, dari matahari terbit sampai terbenam, orang-orang Kristen harus selalu bekerja sesuai dengan tantangan mereka sebagai orang-orang Kristen.].
The Bible Exposition Commentary: New Testament: “A farmer needs patience. ‘See how the farmer waits for the land to yield its valuable crop and how patient he is for the fall and spring rains’ (James 5:7, NIV). A pastor friend of mine often reminds me, ‘The harvest is not the end of the meeting - it is the end of the age.’” [= Seorang petani membutuhkan kesabaran. ‘Lihatlah bagaimana petani menunggu supaya tanah / ladang menghasilkan hasil / panen yang berharga dan bagaimana sabarnya ia untuk hujan musim gugur dan hujan musim semi’ (Yak 5:7, NIV). Seorang pendeta sahabat saya sering mengingatkan saya, ‘Panen bukanlah akhir dari pertemuan - itu adalah akhir jaman’.].
Yak 5:7 - “Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi.”.
Saya berpendapat kata-kata terakhir dari kutipan di atas sangat indah, dan sangat perlu dicamkan senantiasa. Kita sering menilai apakah pelayanan kita berhasil atau tidak, pada akhir dari pelayanan itu, apakah itu adalah Kebaktian, Pemahaman Alkitab, KKR, Seminar, acara debat, dan sebagainya. Kalau yang datang banyak, dan mereka memperhatikan dengan baik, dan ada pertobatan-pertobatan, kita menganggap pelayanan itu berhasil / sukses. Tetapi kalau yang datang sedikit, dan mereka tidak mendengar dengan baik, dan tak ada pertobatan-pertobatan, maka kita menilai pelayanan itu gagal. Tetapi sebetulnya kata-kata di ataslah yang benar. Panen tidak terlihat pada akhir dari pertemuan / acara. Panen yang sebenarnya baru diketahui / terlihat pada akhir jaman!
The Bible Exposition Commentary: New Testament: “Something else is true in this image of the farmer: The spiritual leaders who share the Word with the people are the first ones to enjoy its blessings. The preacher and the teacher always get more out of the sermon or lesson than do the hearers because they put much more into it. They also get great joy out of seeing planted seeds bear fruit in the lives of others. Farming is hard work, and it can have many disappointments; but the rewards are worth it.” (= Sesuatu yang lain adalah benar dalam gambaran dari petani: Pemimpin-pemimpin rohani yang membagikan Firman dengan orang-orang / jemaat adalah orang-orang yang pertama yang menikmati berkat-berkatanya. Pengkhotbah dan pengajar selalu mendapatkan lebih banyak dari khotbah atau pelajaran dari pada pendengar-pendengar mendapatkannya, karena mereka menghabiskan / memasukkan jauh lebih banyak ke dalamnya. Mereka juga mendapatkan sukacita yang besar karena melihat benih-benih yang ditanam menghasilkan buah dalam kehidupan-kehidupan dari orang-orang lain. Pertanian adalah pekerjaan yang berat, dan itu bisa menghasilkan kekecewaan-kekecewaan; tetapi upah / pahalanya layak untuk itu.).
Saya belajar dari buku-buku tafsiran / theologia, lalu menyusunnya menjadi suatu khotbah, dan mengkhotbahkannya, dan memasukkannya ke web, dan banyak orang mendengarnya, dan mempelajarinya dari web kami. Tetapi saya adalah orang yang mendapat paling banyak dibandingkan dengan para pendengar dan pembaca, bahkan dibandingkan dengan mereka yang bukan hanya membaca / mempelajari, tetapi lalu juga mengkhotbahkannya. Mengapa? Karena saya memasukkan tenaga, waktu, pikiran paling banyak. Dalam membaca dan mempelajari buku-buku itu, saya mendapatkan lebih banyak pengetahuan, baik yang positif / baik maupun yang negatif / salah, dan saya menyaringnya, sehingga otomatis saya mendapatkan lebih banyak pengetahuan dari pada pendengar khotbah saya dan pembaca tulisan saya.
The Bible Exposition Commentary: New Testament: “‘A farmer deserves his share of the harvest.’ ‘The hardworking farmer should be the first to receive a share of the crops’ (2 Tim 2:6, NIV). Paul is stating here that a faithful pastor ought to be supported by his church. The same idea is found in 1 Cor 9:7, where Paul used a soldier, a farmer, and a herdsman to prove his point: ‘The laborer is worthy of his reward’ (1 Tim 5:18). Paul deliberately gave up his right to ask for support so that nobody could accuse him of using the Gospel for personal gain (1 Cor 9:14ff). But this policy is not required for all of God’s servants. As a local church grows and progresses, the people ought to faithfully increase their support of their pastors and other staff members. ‘If we have sown spiritual seed among you, is it too much if we reap a material harvest from you?’ (1 Cor 9:11, NIV). It is sad to see the way some local churches waste money and fail to care for their own laborers. God will honor a church that honors His faithful servants.” [= ‘Seorang petani layak mendapatkan bagiannya dari panen’. Petani yang bekerja keras harus yang pertama menerima suatu bagian dari hasil / panen’ (2Tim 2:6, NIV). Paulus menyatakan di sini bahwa seorang pendeta yang setia harus disokong oleh gerejanya. Gagasan yang sama ditemukan dalam 1Kor 9:7, dimana Paulus menggunakan seorang tentara, seorang petani, dan seorang gembala untuk membuktikan maksudnya: ‘Pekerja patut / layak mendapatkan upahnya’ (1Tim 5:18). Paulus secara sengaja menyerahkan / membuang haknya untuk meminta sokongan sehingga tak seorangpun bisa menuduhnya menggunakan Injil untuk keuntungan pribadi (1Kor 9:14-dst). Tetapi kebijaksanaan ini tidak dituntut dari semua pelayan-pelayan Allah. Pada waktu gereja lokal bertumbuh dan maju, orang-orang / jemaat harus dengan setia menaikkan sokongan mereka untuk pendeta-pendeta mereka dan anggota-anggota staf / pegawai yang lain. ‘Jika kami telah menaburkan benih rohani di antara kamu, apakah terlalu banyak jika kami menuai panen materi dari kamu?’ (1Kor 9:11, NIV). Merupakan sesuatu yang menyedihkan untuk melihat cara beberapa gereja lokal menghabiskan / memboroskan uang dan gagal untuk memperhatikan / memelihara pekerja-pekerja mereka sendiri. Allah akan menghormati suatu gereja yang menghormati pelayan-pelayanNya yang setia.].
Bdk. 1Kor 9:7-14 - “(7) Siapakah yang pernah turut dalam peperangan atas biayanya sendiri? Siapakah yang menanami kebun anggur dan tidak memakan buahnya? Atau siapakah yang menggembalakan kawanan domba dan yang tidak minum susu domba itu? (8) Apa yang kukatakan ini bukanlah hanya pikiran manusia saja. Bukankah hukum Taurat juga berkata-kata demikian? (9) Sebab dalam hukum Musa ada tertulis: ‘Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik!’ Lembukah yang Allah perhatikan? (10) Atau kitakah yang Ia maksudkan? Ya, untuk kitalah hal ini ditulis, yaitu pembajak harus membajak dalam pengharapan dan pengirik harus mengirik dalam pengharapan untuk memperoleh bagiannya. (11) Jadi, jika kami telah menaburkan benih rohani bagi kamu, berlebih-lebihankah kalau kami menuai hasil duniawi dari pada kamu? (12) Kalau orang lain mempunyai hak untuk mengharapkan hal itu dari pada kamu, bukankah kami mempunyai hak yang lebih besar? Tetapi kami tidak mempergunakan hak itu. Sebaliknya, kami menanggung segala sesuatu, supaya jangan kami mengadakan rintangan bagi pemberitaan Injil Kristus. (13) Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu? (14) Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.”.
Bdk. 1Tim 5:18 - “Bukankah Kitab Suci berkata: ‘Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik,’ dan lagi ‘seorang pekerja patut mendapat upahnya.’”.
Catatan: sekalipun kata-kata dari kutipan di atas ini benar, saya tidak yakin bahwa itu cocok sebagai tafsiran dari 2Tim 2:6 ini, karena kalau demikian, maka ‘panen’ harus diartikan sebagai uang! Tetapi untuk 1Kor 9:7-14 dan 1Tim 5:18 itu memang cocok.
Ay 7: “Perhatikanlah apa yang kukatakan; Tuhan akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu.”.
KJV: ‘Consider what I say; and the Lord give thee understanding in all things’ (= Renungkan apa yang aku katakan; dan Tuhan memberimu pengertian dalam segala sesuatu).
RSV: ‘Think over what I say, for the Lord will grant you understanding in everything’ (= Pertimbangkan / pikirkan apa yang aku katakan, karena Tuhan akan memberimu pengertian dalam segala sesuatu).
NIV: ‘Reflect on what I am saying, for the Lord will give you insight into all this’ (= Pikirkan apa yang aku katakan, karena Tuhan akan memberimu pengertian ke dalam semua ini).
NASB: ‘Consider what I say, for the Lord will give you understanding in everything’ (= Pertimbangkan apa yang aku katakan, karena Tuhan akan memberimu pengertian dalam segala sesuatu).
Adam Clarke: “‘And the Lord give thee understanding.’ But instead of dooee he give, ACDEFG, several others, besides versions and fathers, have doosei, he will give.” (= ‘Dan Tuhan memberimu pengertian’. Tetapi alih-alih DOOEE ‘Ia memberi’, ACDEFG, beberapa yang lain, disamping versi-versi dan bapa-bapa, mempunyai DOOSEI, ‘Ia akan memberi.’.).
KJV menterjemahkan bagian ini dalam present tense, tetapi RSV/NIV/NASB menterjemahkannya dalam future tense. Ini disebabkan adanya manuscript-manuscript yang berbeda.
Adam Clarke: “Consider thou properly, and God will give thee a proper understanding of all things that coucern thy own peace, and the peace and prosperity of his church. Think as well as read.” (= Pertimbangkanlah dengan benar, dan Allah akan memberimu pengertian yang benar tentang segala sesuatu yang berkenaan dengan damaimu sendiri, dan damai dan kemakmuran dari gerejaNya. Berpikirlah dengan sama baiknya seperti membaca.).
John Stott: “This verse concludes the first paragraph of the chapter. There is an important biblical balance here. If Timothy is to know and understand the truth, not least as expressed in the metaphors Paul has just employed, two processes will be necessary, the one human and the other divine. Timothy himself must ‘think over’ or ‘reflect on’ (NEB) the apostle’s teaching, listening to it carefully and applying his mind to it. For then the Lord will grant him understanding in everything. According to this better text, which the RSV follows, what Paul here expresses is a promise, and not merely a wish. There are at least two important implications of this combination of human study and divine illumination for anybody who wants to inherit the promised gift of understanding from the Lord. First, if we are to receive understanding from the Lord, we must consider what the apostle is saying. This is a good example of Paul’s self-conscious apostolic authority. He commands Timothy to ponder his teaching and promises that the Lord will grant him ‘understanding in everything’ if he does so. He sees nothing anomalous about claiming that his teaching as an apostle merits careful study, or that it can be interpreted by the Lord alone, or that this is the way for Timothy to grow in understanding. It is clear evidence that Paul believed his teaching to be not his own but the Lord’s. Indeed, in the following verses, almost imperceptibly, he equates ‘my gospel’ (8) with ‘the word of God’ (9). Secondly, if we are to receive understanding from the Lord, we must consider what the apostle is saying. Some Christians never get down to any serious Bible study. The reason may of course be purely ‘carnal’, namely that they are too lazy. Alternatively, it may be ‘spiritual’ (though I fear I would have to call it ‘pseudo-spiritual’), namely that they believe understanding will come to them from the Holy Spirit and not from their own studies (which is a totally false antithesis). So all they do is to skim through some Bible verses in a haphazard and desultory fashion, hoping (and even praying) that the Holy Spirit will show them what it all means. But they do not obey the apostle’s command, ‘Think over what I say.’ Others are very good at Bible study. They are ‘hardworking farmers’, as it were. They use their minds and grapple with the text of Scripture. They compare versions, consult concordances and pore over commentaries. But they forget that it is the Lord alone who imparts understanding, and that he imparts it as a gift. So we must not divorce what God has joined together. For the understanding of Scripture a balanced combination of thought and prayer is essential. We must do the considering, and the Lord will do the giving of understanding.” [= Ayat ini menyimpulkan paragraf pertama dari pasal ini. Ada suatu keseimbangan Alkitabiah yang penting di sini. Jika Timotius mau mengetahui dan mengerti kebenaran, tidak kurang seperti dinyatakan dalam kiasan-kiasan yang baru Paulus gunakan, diperlukan dua proses, yang satu manusiawi dan yang lain ilahi. Timotius sendiri harus ‘memikirkan’ atau ‘mempertimbangkan’ (NEB) ajaran sang rasul, mendengarnya dengan teliti dan menerapkan pikirannya kepadanya. Karena pada saat itulah Tuhan akan memberinya pengertian dalam segala sesuatu. Menurut text yang terbaik, yang diikuti oleh RSV, apa yang Paulus nyatakan di sini adalah suatu janji, dan bukan semata-mata suatu keinginan / harapan. Ada sedikitnya dua pengertian / maksud dari kombinasi dari pembelajaran manusiawi dan pencerahan ilahi untuk siapapun yang ingin mewarisi karunia pengertian yang dijanjikan dari Tuhan. Pertama, jika kita mau menerima pengertian dari Tuhan, kita harus mempertimbangkan apa yang sang rasul katakan. Ini adalah suatu contoh yang baik tentang kesadaran Paulus akan otoritas rasulinya sendiri. Ia memerintahkan Timotius untuk merenungkan ajarannya dan menjanjikan bahwa Tuhan akan memberinya ‘pengertian dalam segala sesuatu’ jika ia melakukan demikian. Ia tidak melihat apapun yang aneh tentang tindakan mengclaim bahwa ajarannya sebagai seorang rasul layak untuk dipelajari dengan teliti, atau bahwa itu bisa ditafsirkan oleh Tuhan saja, atau bahwa ini adalah jalan bagi Timotius untuk bertumbuh dalam pengertian. Ini adalah bukti yang jelas bahwa Paulus percaya ajarannya sebagai bukan ajarannya sendiri tetapi ajaran Tuhan. Memang, dalam ayat-ayat berikutnya, hampir secara tak terlihat / terasa, ia menyamakan ‘injilku’ (ay 8) dengan ‘firman Allah’ (ay 9). Kedua, jika kita mau menerima pengertian dari Tuhan, kita harus mempertimbangkan / memikirkan apa yang sang rasul katakan. Sebagian / beberapa orang-orang Kristen tidak pernah mulai mempertimbangkan pembelajaran Alkitab yang serius apapun. Alasannya tentu bisa semata-mata ‘daging’, yaitu bahwa mereka adalah terlalu malas. Sebagai pilihan yang lain, itu bisa adalah ‘rohani’ (sekalipun saya takut saya harus menyebutnya ‘rohani palsu’), yaitu bahwa mereka percaya pengertian akan datang kepada mereka dari Roh Kudus dan bukan dari pembelajaran mereka sendiri (yang merupakan suatu kontras / pertentangan yang salah secara total). Maka semua yang mereka lakukan adalah membaca sepintas lalu beberapa ayat Alkitab dengan suatu cara yang serampangan dan acak / tak berketentuan / meloncat-loncat, sambil berharap (dan bahkan berdoa) bahwa Roh Kudus akan menunjukkan kepada mereka apa arti dari semuanya. Tetapi mereka tidak mentaati perintah sang rasul, ‘Pikirkanlah / pertimbangkanlah apa yang aku katakan’. Orang-orang lain sangat baik dalam pembelajaran Alkitab. Mereka seakan-akan adalah ‘petani-petani yang bekerja keras’. Mereka menggunakan pikiran mereka dan berjuang dengan text dari Kitab Suci. Mereka membandingkan versi-versi, memeriksa konkordansi dan membaca dengan rajin buku-buku tafsiran. Tetapi mereka lupa bahwa adalah Tuhan saja yang memberi pengertian, dan bahwa Ia memberikannya sebagai suatu karunia. Jadi kita tidak boleh menceraikan / memisahkan apa yang telah Allah persatukan. Untuk mengerti Kitab Suci suatu kombinasi yang seimbang dari pikiran dan doa adalah penting / hakiki. Kita harus melakukan pemikiran / pertimbangan, dan Tuhan akan melakukan pemberian pengertian.].
Bdk. ay 8-9: “(8) Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku. (9) Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu.”.
Bdk. Luk 24:45 - “Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.”.
Perhatikan adanya 3 faktor dalam ayat ini yang membuat seseorang bisa mengerti Kitab Suci, yaitu:
1. Pikiran.
2. Kitab Suci.
3. Pembukaan pikiran oleh Tuhan.
Kesimpulan / ringkasan tentang ketiga gambaran, yaitu prajurit, olahragawan, dan petani:
John Stott: “So far, then, we have looked at the first three metaphors with which Paul illustrates the duties of the Christian worker. By them he has isolated three aspects of wholeheartedness which should be found in Timothy, and in all those who like Timothy seek to pass on to others ‘the good deposit’ they have themselves received: the dedication of a good soldier, the law-abiding obedience of a good athlete and the painstaking labour of a good farmer. Without these we cannot expect results. There will be no victory for the soldier unless he gives himself to his soldiering, no wreath for the athlete unless he keeps the rules, and no harvest for the farmer unless he toils at his farming.” (= Maka, sejauh ini, kita telah melihat pada 3 kiasan pertama dengan mana Paulus mengilustrasikan kewajiban-kewajiban dari pekerja Kristen. Oleh mereka ia telah memisahkan 3 aspek dari kesepenuh-hatian yang harus ditemukan dalam diri Timotius, dan dalam diri semua mereka yang seperti Timotius berusaha untuk menyampaikan kepada orang-orang lain ‘deposit yang baik’ yang telah mereka terima sendiri: dedikasi dari seorang prajurit yang baik, ketaatan yang tunduk pada hukum dari olahragawan yang baik dan jerih payah yang sungguh-sungguh dari seorang petani yang baik. Tanpa hal-hal ini kita tidak bisa mengharapkan hasil-hasil. Di sana tidak ada kemenangan untuk prajurit kecuali ia menyerahkan dirinya pada keprajuritannya, tak ada rangkaian / mahkota bunga untuk olahragawan kecuali ia mentaati peraturan-peraturan, dan tak ada panen untuk petani kecuali ia berjerih payah pada / di pertaniannya).
William Barclay: “One thing remains in all three pictures. The soldier is upheld by the thought of final victory. The athlete is upheld by the vision of the crown. The farmer is upheld by the hope of the harvest. Each submits to the discipline and the toil for the sake of the glory which will come in the end. It is the same with the Christian. The Christian struggle is not without a goal; it is always going somewhere. Christians can be certain that after the effort of the Christian life there comes the joy of heaven; and the greater the struggle, the greater the joy.” (= Satu hal tersisa dalam ketiga gambaran. Prajurit dikuatkan oleh pemikiran tentang kemenangan akhir. Olahragawan dikuatkan oleh penglihatan tentang mahkota. Petani dikuatkan oleh pengharapan tentang panen. Masing-masing tunduk pada disiplin dan jerih payah demi kemuliaan yang akan datang pada akhirnya. Itu adalah sama dengan orang Kristen. Perjuangan orang Kristen bukanlah tanpa tujuan; itu selalu pergi / menuju suatu tempat. Orang-orang Kristen bisa yakin / pasti bahwa setelah usaha dari kehidupan Kristen di sana datang sukacita dari surga; dan makin hebat / besar perjuangannya, makin besar sukacitanya.).
Bandingkan dengan:
· Ro 8:18 - “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.”.
· 2Kor 4:17 - “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.”.
John Stott (tentang 2Tim 2:8-13): “So far we may summarize his theme by the epigram ‘nothing that is easy is ever worth while’, or rather the reverse ‘nothing that is worth while is ever easy’. No soldier, athlete or farmer expects results without labour or suffering.” (= Sejauh ini kita bisa meringkas themanya dengan pernyataan pendek ‘tak ada apapun yang mudah yang berharga’, atau lebih baik sebaliknya, ‘tak ada yang berharga yang mudah’. Tak ada prajurit, olahragawan atau petani mengharapkan hasil tanpa jerih payah atau penderitaan.).
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali