Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Rabu, tanggal 20 Maret 2013, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

[email protected]

 

II Timotius 2:1-26(3)

 

2Tim 2:1-7 - (1) Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus. (2) Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain. (3) Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. (4) Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya. (5) Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga. (6) Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya. (7) Perhatikanlah apa yang kukatakan; Tuhan akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu..

 

Ay 3-6: (3) Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. (4) Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya. (5) Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga. (6) Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.”.

 

Dalam 4 ayat di atas ini Paulus menggambarkan orang Kristen dengan 3 penggambaran, yaitu sebagai prajurit / tentara (ay 3-4), sebagai olahragawan (ay 5), dan sebagai petani (ay 6). Ada persamaan-persamaannya, tetapi juga ada penekanan-penekanan yang berbeda. Kita akan membahasnya satu per satu.

 

Ay 3: “Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.”.

 

1)         “Seorang prajurit / tentara yang baik”.

 

William Barclay: He calls Archippus, in whose house a church met, ‘our fellow soldier’ (Philemon 2). He calls Epaphroditus, the messenger of the Philippian church, ‘my fellow-soldier’ (Philippians 2:25). Clearly, in the life of the soldier Paul saw a picture of the life of the Christian. [= Ia menyebut Arkhipus, dalam rumah siapa suatu gereja bertemu, ‘sesama / rekan tentara kita’ (Filemon 2). Ia menyebut Epafroditus, utusan dari gereja Filipi, ‘sesama / rekan tentaraku’ (Filipi 2:25). Jelas, dalam kehidupan dari tentara / prajurit Paulus melihat gambaran dari kehidupan orang Kristen.].

Filemon 2 - “dan kepada Apfia saudara perempuan kita dan kepada Arkhipus, teman seperjuangan kita dan kepada jemaat di rumahmu:”.

Fil 2:25 - “Sementara itu kuanggap perlu mengirimkan Epafroditus kepadamu, yaitu saudaraku dan teman sekerja serta teman seperjuanganku, yang kamu utus untuk melayani aku dalam keperluanku.”.

Catatan: dalam kedua ayat di atas, untuk kata-kata ‘teman seperjuangan’ KJV/RSV/NIV/NASB menterjemahkan ‘fellow soldier’ (= sesama / rekan tentara).

 

Jelas bahwa kita bukan tentara dalam arti jasmani / sekuler, dan kita juga tidak berperang secara jasmani, tetapi kita adalah tentara rohani, dan melakukan perang rohani.

 

Bdk. Ef 6:12 - “karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.”.

 

Konsep kita tentang hidup kita, akan sangat berperan dalam membentuk dan mengarahkan kehidupan kita. Kalau kita mempunyai konsep yang Alkitabiah tentang kehidupan kita, yaitu bahwa hidup ini adalah peperangan, maka kita pasti akan serius, mati-matian dan bukannya hidup santai dan bermalas-malasan.

 

2)         “Dari Kristus Yesus”.

Dialah komandan kita (bdk ay 4), dan karena itu Dia harus kita taati dalam segala sesuatu.

Ini akan kita bahas di bawah dalam pembahasan ay 4.

 

3)         “Ikutlah menderita”.

KJV: endure hardness (= tahanlah kekerasan / kesukaran).

RSV: Share in suffering (= Sama-samalah menanggung penderitaan).

NIV: Endure hardship (= Tahanlah penderitaan).

NASB: Suffer hardship (= Tahanlah penderitaan).

 

Adam Clarke: “‘Endure hardness.’ He considers a Christian minister under the notion of a soldier, not so much for his continual conflicts with the world, the Devil, and the flesh, for these are in a certain sense common to all Christians, but for the hardships and difficulties to which he must be exposed who faithfully preaches the Gospel of Christ.” [= ‘Tahanlah kekerasan / kesukaran’ (ikutlah menderita). Ia menganggap seorang pendeta Kristen dibawah gagasan dari seorang tentara, tidak sebegitu banyak untuk konflik-konflik yang terus menerus dengan dunia, Iblis, dan daging, karena hal-hal ini dalam arti tertentu adalah umum bagi semua orang-orang Kristen, tetapi lebih untuk kekerasan dan kesukaran terhadap mana ia yang dengan setia mengkhotbahkan Injil Kristus harus terbuka.].

 

The Biblical Illustrator (New Testament): Enduring hardness: - It behoves thee not to complain if thou endure hardness; but to complain if thou dost not endure hardness. (= Menahan kekerasan / kesukaran: - Engkau tidak boleh mengeluh jika engkau menahan kekerasan / kesukaran; tetapi mengeluh jika engkau tidak menahan kekerasan / kesukaran.).

 

Barnes’ Notes: Soldiers often endure great privations. Taken from their homes and friends; exposed to cold, or heat, or storms, or fatiguing marches; sustained on coarse fare, or almost destitute of food, they are often compelled to endure as much as the human frame can bear, and often indeed, sink under their burdens, and die. If, for reward or their country’s sake, they are willing to do this, the soldier of the cross should be willing to do it for his Saviour’s sake, and for the good of the human race. Hence, let no man seek the office of the ministry as a place of ease. Let no one come into it merely to enjoy himself. Let no one enter it who is not prepared to lead a soldier’s life and to welcome hardship and trial as his portion. He would make a bad soldier, who, at his enlistment, should make it a condition that he should be permitted to sleep on a bed of down, and always be well clothed and fed, and never exposed to peril, or compelled to pursue a wearisome march. Yet do not some men enter the ministry, making these the conditions? (= Tentara-tentara sering menahan kekurangan / kemiskinan yang besar. Diambil dari rumah-rumah dan sahabat-sahabat mereka; terbuka terhadap cuaca dingin, atau panas, atau badai, atau berjalan dalam barisan yang melelahkan; disokong dengan makanan kasar, atau hampir tak ada makanan, mereka sering dipaksa untuk menahan sebanyak yang badan manusia bisa menahan, dan bahkan sering ambruk di bawah beban-beban mereka, dan mati. Jika, demi upah atau demi negara mereka, mereka mau melakukan hal ini, tentara dari salib harus mau melakukannya demi Juruselamatnya, dan demi kebaikan umat manusia. Karena itu, janganlah seorangpun mencari jabatan dari pendeta sebagai tempat yang enak / menyenangkan / tenteram. Janganlah seorangpun masuk ke dalamnya semata-mata untuk menikmati dirinya sendiri. Janganlah seorangpun memasukinya yang tidak siap untuk menjalani kehidupan seorang tentara dan menyambut kekerasan dan pencobaan sebagai bagiannya. Ia adalah seorang tentara yang buruk, yang, pada pendaftarannya, memberi suatu persyaratan bahwa ia diijinkan untuk tidur di sebuah ranjang berisi bulu burung, dan selalu dipakaiani dan diberi makan dengan baik, dan tidak pernah terbuka terhadap bahaya, atau terpaksa untuk mengikuti suatu barisan yang melelahkan. Tetapi tidakkah sebagian orang memasuki pelayanan dengan memberi syarat-syarat ini?).

 

John Stott: Soldiers on active service do not expect a safe or easy time. They take hardship, risk and suffering as a matter of course. These things are part and parcel of a soldier’s calling. As Tertullian put it in his ‘Address to Martyrs’: ‘No soldier comes to the war surrounded by luxuries, nor goes into action from a comfortable bedroom, but from the makeshift and narrow tent, where every kind of hardness and severity and unpleasantness is to be found.’ Similarly, the Christian should not expect an easy time. If he is loyal to the gospel, he is sure to experience opposition and ridicule. He must ‘share in suffering’ with his comrades-in-arms. The soldier must be willing to concentrate as well as to suffer. (= Tentara-tentara pada pelayanan aktif tidak mengharapkan saat yang aman dan enak. Mereka menganggap kesukaran dan penderitaan sebagai suatu persoalan biasa. Hal-hal ini adalah bagian dan paket dari panggilan seorang tentara. Seperti Tertullian menyatakannya dalam bukunya yang berjudul ‘Amanat bagi para martir’: ‘Tak ada tentara yang datang pada peperangan dikelilingi oleh kemewahan, atau bertindak dari suatu kamar tidur yang nyaman, tetapi dari tenda sementara dan sempit, dimana setiap jenis kesukaran dan kekerasan dan ketidak-nyamanan ditemukan’ Mirip dengan itu, orang Kristen tidak boleh mengharapkan saat yang enak. Jika ia setia pada injil, ia pasti mengalami oposisi dan ejekan. Ia harus ‘sama-sama menanggung penderitaan’ dengan kawan seperjuangannya. Tentara harus mau untuk berkonsentrasi maupun untuk menderita.).

 

The Biblical Illustrator (New Testament): YOU MUST EXPECT TO FIND ENEMIES AND DIFFICULTIES IF YOU DO WHAT IS RIGHT. Every one was against Daniel because he prayed to God. Every one was against Shadrach, Meshach, and Abednego, because they would not bow down to an idol. But God was on their side. There was once a famous man of God named Athanasius . He was bold enough to maintain the true faith of Christ against Emperors, and Bishops, and he was driven into banishment over and over again. Some of his friends advised him to give in, for, said they, the world is against you; ‘Then,’ answered Athanasius, ‘I am against the world.’ (= Engkau harus berharap untuk bertemu musuh-musuh dan kesukaran-kesukaran jika engkau melakukan apa yang benar. Setiap orang menentang Daniel karena ia berdoa kepada Allah. Setiap orang menentang Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, karena mereka tidak mau menyembah kepada suatu patung berhala. Tetapi Allah berada di pihak mereka. Pernah ada seorang yang terkenal dari Allah yang bernama Athanasius. Ia cukup berani untuk mempertahankan iman yang benar tentang Kristus terhadap / menentang kaisar-kaisar, dan uskup-uskup, dan ia dibuang berulang-ulang. Beberapa dari sahabat-sahabatnya menasehatinya untuk menyerah / mengalah, karena, mereka berkata, dunia menentangmu; ‘Maka’, jawab Athanasius, ‘Aku menentang dunia’.).

 

Pulpit Commentary: “If the heart is divided between the ministry of God’s Word and the enjoyment of an easy life, there will be a constant temptation to avoid those various forms of ‘hardship’ which properly belong to the campaign of the soldiers of Christ. Troubles will be shirked rather than endured; and ministerial duties will be made to stand on one side when they interfere with the inclinations of the moment. Labour will be evaded when the soul calls for ease. The determined struggle, and the sturdy stand against evil, whether in his own heart or in the world around him, will be postponed to a more convenient season, while weak compromises and sinful compliances take their place in the immediate present. At the same time, contradiction and opposition, crooks and crosses of various kinds, untoward events, troubles, disappointments, and difficulties of all sorts, will be met, not in the spirit of Christian fortitude, not in the spirit of Christian meekness and patience, but with petulant complaints, or with roughness and ill temper, as running against the current of the love of ease in the soul. It is, therefore, incumbent upon the servant of God to be wholly given up to the ministry which he has received.” [= Jika hati terbagi antara pelayanan Firman Allah dan penikmatan dari suatu kehidupan yang enak, maka akan ada pencobaan yang terus menerus untuk menghindari berbagai-bagai bentuk kekerasan / kesukaran itu, yang secara tepat termasuk dalam pertempuran / expedisi militer dari tentara-tentara Kristus. Kesukaran-kesukaran akan dielakkan dan bukannya ditahan; dan kewajiban-kewajiban pelayanan akan disingkirkan pada waktu hal-hal itu mengganggu kecondongan hati dari saat itu. Jerih payah akan dihindari pada waktu jiwa menuntut kenyamanan. Pergumulan yang tekun, dan pendirian yang teguh menentang kejahatan, apakah dalam hatinya sendiri atau dalam dunia di sekelilingnya, akan ditunda sampai pada suatu saat yang lebih baik / tidak menyusahkan, sedangkan kompromi-kompromi yang lemah dan sikap menyerah / mengalah yang berdosa mengambil tempat mereka pada saat itu. Pada saat yang sama, kontradiksi dan oposisi, lekukan (?) dan salib-salib dari berbagai-bagai jenis, peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan, problem-problem, kekecewaan-kekecewaan, dan kesukaran-kesukaran dari semua jenis, akan dihadapi, bukan dalam roh dari ketabahan Kristen, bukan dalam roh dari kelembutan dan kesabaran Kristen, tetapi dengan keluhan-keluhan yang tidak sabar, atau dengan kekasaran dan sikap hati yang buruk, karena melawan arus dari kasih terhadap kenyamanan dalam jiwa. Karena itu, adalah wajib bagi pelayan Allah untuk diserahkan sepenuhnya kepada pelayanan yang telah ia terima.].

 

Ay 4: “Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.”.

 

1)         Terjemahan.

 

a)   ‘memusingkan dirinya’.

KJV: entangleth himself (= melibatkan dirinya sendiri).

RSV: gets entangled (= terlibat).

NIV: gets involved (= terlibat).

NASB: entangles himself (= melibatkan dirinya sendiri).

 

b)   ‘dengan soal-soal penghidupannya’.

KJV: ‘with the affairs of this life’ (= dengan urusan-urusan dari kehidupan ini).

RSV: ‘in civilian pursuits’ (= dalam pekerjaan-pekerjaan / kesibukan-kesibukan sipil / non militer).

NIV: ‘in civilian affairs’ (= dalam urusan-urusan sipil / non militer).

NASB: ‘in the affairs of everyday life’ (= dalam urusan-urusan dari kehidupan sehari-hari).

 

c)   ‘komandannya’.

KJV: him who hath chosen him to be a soldier. (= ia yang telah memilihnya menjadi seorang tentara).

RSV: the one who enlisted him. (= orang yang mendaftarkannya).

NIV: his commanding officer. (= pejabat yang berkuasa / berwenang).

NASB: the one who enlisted him as a soldier. (= orang yang mendaftarkannya sebagai seorang tentara).

 

2)   Seorang prajurit yang sedang berjuang.

 

The Biblical Illustrator (New Testament): The Christian must be prepared for trial and conflict: - Some of God’s people seem to forget this. They think they are soldiers on pay days and at reviews: but as soon as the fiery darts begin to fall around them, and the road gets rough and rugged, they fancy they are deserters. A strange mistake this. You are never so much a soldier as when you are marching or fighting. I fear the fault of this mistake lies very much with some of us who may be called recruiting sergeants. In persuading men to enlist we speak much more of the ribbons, the bounty money, and the rewards, than we do of the battle-field and the march. Hence, perhaps, the error. But if we are to blame in this respect our great King is not. The whole of His teaching is in the other direction. He puts all the difficulties fairly before us, and we are exhorted to count the cost, so that we may not be covered with shame at last. [= Orang Kristen harus siap untuk pencobaan dan konflik: - Sebagian dari umat Allah kelihatannya melupakan hal ini. Mereka mengira mereka adalah tentara pada hari-hari pembayaran / gajian dan pada peninjauan (?): tetapi begitu panah berapi mulai jatuh di sekitar mereka, dan jalanan menjadi berat dan keras, mereka menginginkan mereka adalah desertir / pembelot. Ini adalah suatu kesalahan yang aneh. Kamu tidak pernah menjadi tentara sebegitu banyak seperti pada waktu engkau sedang berbaris atau bertempur. Saya takut kesalahan dari hal ini terletak pada sebagian dari kita yang bisa disebut sersan yang merekrut. Dalam membujuk / meyakinkan orang untuk mendaftar kita berbicara lebih banyak tentang pita hiasan, uang hadiah, dan upah / pahala, dari pada kita berbicara tentang medan pertempuran dan barisan. Mungkin karena itu terjadi kesalahan ini. Tetapi jika kita harus dipersalahkan dalam hal ini, Raja kita tidak boleh dipersalahkan. Seluruh ajaranNya berada dalam arah yang lain. Ia meletakkan semua kesukaran-kesukaran secara jujur di hadapan kita, dan kita didesak untuk menghitung ongkos / harganya, supaya jangan kita ditutupi dengan rasa malu pada akhirnya.].

 

Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:

·        Mat 10:24-25 - “(24) Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya. (25) Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.”.

·        Yoh 15:20 - “Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firmanKu, mereka juga akan menuruti perkataanmu.”.

·        Yoh 16:1-3 - “(1) ‘Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku. (2) Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. (3) Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku.”.

·        Luk 9:57-58 - “(57) Ketika Yesus dan murid-muridNya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: ‘Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.’ (58) Yesus berkata kepadanya: ‘Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya.’”.

·        Kis 14:21-22 - “(21) Paulus dan Barnabas memberitakan Injil di kota itu dan memperoleh banyak murid. Lalu kembalilah mereka ke Listra, Ikonium dan Antiokhia. (22) Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara.”.

·        Kis 20:22-23 - “(22) Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ (23) selain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku.”.

·        Luk 14:26-33 - “(26) ‘Jikalau seorang datang kepadaKu dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu. (27) Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi muridKu. (28) Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? (29) Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, (30) sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. (31) Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? (32) Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. (33) Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi muridKu.”.

 

The Biblical Illustrator (New Testament): THE SOLDIER AFTER HAVING BEEN ENLISTED HAS TO BE DRILLED - that is to say, he has to learn his business. A good soldier is not to be made in a day; there must be time and pains spent upon him; he must be trained and taught, and that very carefully, before he is fit to fight against the enemies of his country. And it is just the same with Christian soldiers. They have to learn to act together, so as to support and help one another in the conflict with evil. And then they have to learn the use of their weapons - of one more especially, which is called the ‘sword of the Spirit.’ (= Tentara setelah didaftarkan harus dilatih - artinya, ia harus mempelajari urusannya. Seorang tentara yang baik tidak dibuat dalam satu hari; di sana harus ada waktu dan usaha yang dihabiskan untuk dia; ia harus dilatih dan diajar, dan itu dengan sangat hati-hati / teliti, sebelum ia cocok untuk bertempur melawan musuh-musuh dari negaranya. Dan sama halnya dengan tentara-tentara Kristen. Mereka harus belajar untuk bertindak bersama-sama, sehingga menopang dan menolong satu sama lain dalam konflik dengan kejahatan. Dan lalu mereka harus mempelajari penggunaan dari senjata-senjata mereka - tentang satu senjata dengan lebih khusus, yang disebut ‘pedang Roh’).

Ef 6:17 - “dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah,”.

Catatan: pendeta-pendeta yang menganggap / memperlakukan pendeta-pendeta lain (yang tidak sesat dalam pandangan mereka) bukannya sebagai rekan seperjuangan tetapi sebagai saingan, harus merenungkan hal ini, dan bertobat!

 

3)   tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya.

 

William Hendriksen: First, like a soldier on active duty, perhaps even engaged in a campaign, Timothy must perform his task wholeheartedly. If a soldiering person should pursue a business on the side, one that would really absorb his interests, so that he becomes ‘implicated’ in it, he would not be able to really ‘give’ himself to his appointed task as a soldier. (= Pertama-tama, seperti seorang tentara dalam kewajiban / tugas aktif, mungkin bahkan ikut serta dalam operasi militer, Timotius harus melaksanakan tugasnya dengan segenap hati. Jika seorang tentara mengejar suatu bisnis sebagai pekerjaan sambilan / sampingan, suatu pekerjaan yang akan sungguh-sungguh menyerap perhatiannya, sehingga ia menjadi ‘terlibat’ di dalamnya, ia tidak akan bisa sungguh-sungguh memberikan / menyerahkan dirinya sendiri pada tugas yang ditetapkan baginya sebagai seorang tentara.).

 

The Bible Exposition Commentary: New Testament: It is sometimes necessary for a pastor, or a pastor’s wife, to be employed because their church is not able to support them. This is a sacrifice on their part and an investment in the work. But a pastor who is fully supported should not get involved in sidelines that divide his interest and weaken his ministry. I have met pastors who spend more time on their real estate ventures than on their churches. (= Kadang-kadang perlu bagi seorang pendeta atau seorang istri pendeta, untuk bekerja karena gereja mereka tidak mampu menyokong mereka. Ini merupakan suatu pengorbanan di pihak mereka dan suatu investasi dalam pekerjaan. Tetapi seorang pendeta yang disokong secara penuh tidak boleh terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan sampingan yang membagi perhatiannya dan melemahkan pelayanannya. Saya telah / pernah bertemu dengan pendeta-pendeta yang menghabiskan lebih banyak waktu untuk usaha-usaha real estate dari pada untuk gereja-gereja mereka.).

 

Adam Clarke: “It is well remarked by Grotius, on this passage, that the legionary soldiers among the Romans were not permitted to engage in husbandry, merchandise, mechanical employments, or anything that might be inconsistent with their calling. Many canons, at different times, have been made to prevent ecclesiastics from intermeddling with secular employments. He who will preach the Gospel thoroughly, and wishes to give full proof of his ministry, had need to have no other work. He should be wholly in this thing, that his profiting may appear unto all. There are many who sin against this direction. They love the world, and labour for it, and are regardless of the souls committed to their charge. But what are they, either in number or guilt, compared to the immense herd of men professing to be Christian ministers, who neither read nor study, and consequently never improve? These are too conscientious to meddle with secular affairs, and yet have no scruple of conscience to while away time, be among the chief in needless self-indulgence, and, by their burdensome and monotonous ministry, become an incumbrance to the church! Do you inquire: In what sect or party are these to be found? I answer: In ALL. Idle drones, - ... disgrace every department in the Christian Church. They cannot teach because they will not learn.” (= Dikatakan dengan baik oleh Grotius, tentang text ini, bahwa tentara-tentara dari legiun-legiun / pasukan-pasukan di antara orang-orang Romawi tidak diijinkan untuk terlibat dalam pertanian / peternakan, perdagangan, pekerjaan-pekerjaan mekanis / mesin, atau apapun yang bisa tidak konsisten dengan panggilan mereka. Banyak peraturan-peraturan, pada jaman yang berbeda-beda, telah dibuat untuk mencegah pendeta / pastor dari percampuran dengan pekerjaan-pekerjaan sekuler. Ia yang mau mengkhotbahkan Injil secara sepenuhnya, dan berharap untuk memberikan bukti penuh dari pelayanannya, tidak boleh mempunyai pekerjaan lain. Ia harus berada secara penuh dalam hal ini, supaya kegunaannya bisa terlihat kepada semua orang. Ada banyak orang yang berdosa terhadap peraturan ini. Mereka mencintai dunia ini, dan berjerih payah untuknya, dan tidak mempunyai kepedulian terhadap jiwa-jiwa yang diserahkan pada tanggung jawab mereka. Tetapi apakah mereka itu, dalam jumlah atau kesalahan, dibandingkan dengan kumpulan besar manusia yang mengaku sebagai pendeta-pendeta Kristen, yang tidak membaca ataupun belajar, dan karena itu tidak pernah maju / bertambah baik? Orang-orang ini terlalu berhati-hati untuk bercampur dengan urusan-urusan sekuler, tetapi tidak mempunyai keberatan hati nurani untuk menghabiskan / membuang waktu, menjadi di antara kepala dalam pemuasan diri sendiri yang tidak perlu, dan oleh pelayanan mereka yang membebani dan monoton, menjadi suatu rintangan / beban bagi gereja! Apakah engkau bertanya: Dalam sekte atau kelompok / golongan mana orang-orang ini ditemukan? Saya menjawab: Dalam semua kelompok / golongan. Pemalas-pemalas yang menganggur, - ... memalukan / menodai setiap departemen dalam Gereja Kristen. Mereka tidak bisa mengajar karena mereka tidak mau belajar.).

 

John Stott: what is forbidden the good soldier of Jesus Christ is not all ‘secular’ activities, but rather ‘entanglements’ which, though they may be perfectly innocent in themselves, may hinder him from fighting Christ’s battles. This counsel applies specially to the Christian minister or pastor. He is called to devote himself to teaching and tending Christ’s flock, and there are other Scriptures besides this one to say that if possible he should not have the additional burden of having to get his living in some ‘secular’ employment. (= apa yang dilarang bagi tentara yang baik dari Yesus Kristus bukanlah semua aktivitas sekuler, tetapi ‘keterlibatan-keterlibatan’ yang, sekalipun dalam dirinya sendiri hal-hal itu bisa tak berdosa secara sempurna, tetapi hal-hal itu bisa menghalanginya untuk bertempur dalam pertempuran-pertempuran Kristus. Nasehat ini diterapkan khususnya kepada pendeta atau gembala Kristen. Ia dipanggil untuk membaktikan dirinya sendiri kepada pengajaran dan perawatan / pemeliharaan kawanan domba Kristus, dan ada ayat-ayat lain dari Kitab Suci disamping yang satu ini yang mengatakan bahwa jika mungkin ia tidak boleh mempunyai beban tambahan tentang harus mendapatkan nafkahnya dalam suatu pekerjaan ‘sekuler’.).

Catatan: sayang sekali Stott tidak memberikan ayat-ayat referensi yang dia bicarakan.

 

John Stott: It is true that the apostle himself had often earned his keep by his tent-making. Yet he made it plain that in his case the reason was personal and exceptional, namely to ‘make the gospel free of charge’ and so put no possible ‘obstacle in the way of the gospel of Christ’ (1 Cor. 9:18, 12). He still asserted the principle for himself and for every minister, by command of the Lord, that ‘those who proclaim the gospel should get their living by the gospel’ (1 Cor. 9:14). Indeed, he clearly expected this to be the general rule. And this needs to be remembered in our day when ‘auxiliary’, ‘supplementary’ and ‘part-time’ ministries are increasing, in which the pastor continues his trade or profession and exercises his ministry in his spare time. Such ministries can hardly be said to contravene Scripture. Yet they are difficult to reconcile with the apostle’s injunction to avoid entanglements. In the Church of England service for the ordination of presbyters the Bishop exhorts the candidates in these words: ‘Consider how studious ye ought to be in reading and learning the Scriptures … and for this selfsame cause how ye ought to forsake and set aside (as much as you may) all worldly cares and studies, … give yourselves wholly to this Office, … apply yourselves wholly to this one thing, and draw all your cares and studies this way.’ [= Memang benar bahwa sang rasul sendiri sering telah mendapatkan nafkahnya dengan pembuatan tendanya. Tetapi ia membuatnya jelas bahwa dalam kasus ini alasannya adalah pribadi dan merupakan perkecualian, yaitu untuk ‘membuat injil itu gratis’ dan dengan demikian tidak meletakkan kemungkinan ‘halangan dalam jalan dari injil Kristus’ (1Kor 9:18,12). Ia tetap menegaskan prinsip untuk dirinya sendiri dan untuk setiap pendeta, dengan perintah dari Tuhan, bahwa ‘mereka yang memberitakan injil harus mendapatkan nafkahnya oleh injil’ (1Kor 9:14). Bahkan, ia dengan jelas mengharapkan ini sebagai peraturan umum. Dan ini perlu diingat pada jaman kita pada saat pelayanan ‘pembantu’, ‘tambahan’ dan ‘paruh waktu’ sedang bertambah, dalam mana sang pendeta melanjutkan perdagangannya dan pekerjaannya dan menjalankan pelayanannya pada waktu luangnya. Pelayanan seperti itu tak bisa dikatakan bertentangan dengan Kitab Suci. Tetapi pelayanan-pelayanan seperti itu sukar diperdamaikan dengan perintah sang rasul untuk menghindari keterlibatan-keterlibatan. Dalam kebaktian Gereja Inggris untuk pentahbisan penatua-penatua sang Uskup mendesak para calon dengan kata-kata ini: ‘Pertimbangkan / renungkan betapa kamu harus rajin dalam membaca dan belajar Kitab Suci ... dan untuk alasan yang sama betapa kamu harus meninggalkan dan mengesampingkan (sebanyak kamu bisa) semua perhatian dan pelajaran duniawi, ... serahkan dirimu sendiri sepenuhnya untuk Jabatan / Tugas ini, ... gunakanlah dirimu sendiri sepenuhnya untuk satu hal ini, dan tariklah semua perhatian dan pelajaranmu ke jalan ini / dengan cara ini’.].

 

Bandingkan dengan text-text di bawah ini:

·        Kis 18:1-3 - “(1) Kemudian Paulus meninggalkan Atena, lalu pergi ke Korintus. (2) Di Korintus ia berjumpa dengan seorang Yahudi bernama Akwila, yang berasal dari Pontus. Ia baru datang dari Italia dengan Priskila, isterinya, karena kaisar Klaudius telah memerintahkan, supaya semua orang Yahudi meninggalkan Roma. Paulus singgah ke rumah mereka. (3) Dan karena mereka melakukan pekerjaan yang sama, ia tinggal bersama-sama dengan mereka. Mereka bekerja bersama-sama, karena mereka sama-sama tukang kemah.”.

·        1Kor 9:7-18 - “(7) Siapakah yang pernah turut dalam peperangan atas biayanya sendiri? Siapakah yang menanami kebun anggur dan tidak memakan buahnya? Atau siapakah yang menggembalakan kawanan domba dan yang tidak minum susu domba itu? (8) Apa yang kukatakan ini bukanlah hanya pikiran manusia saja. Bukankah hukum Taurat juga berkata-kata demikian? (9) Sebab dalam hukum Musa ada tertulis: ‘Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik!’ Lembukah yang Allah perhatikan? (10) Atau kitakah yang Ia maksudkan? Ya, untuk kitalah hal ini ditulis, yaitu pembajak harus membajak dalam pengharapan dan pengirik harus mengirik dalam pengharapan untuk memperoleh bagiannya. (11) Jadi, jika kami telah menaburkan benih rohani bagi kamu, berlebih-lebihankah kalau kami menuai hasil duniawi dari pada kamu? (12) Kalau orang lain mempunyai hak untuk mengharapkan hal itu dari pada kamu, bukankah kami mempunyai hak yang lebih besar? Tetapi kami tidak mempergunakan hak itu. Sebaliknya, kami menanggung segala sesuatu, supaya jangan kami mengadakan rintangan bagi pemberitaan Injil Kristus. (13) Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu? (14) Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu. (15) Tetapi aku tidak pernah mempergunakan satupun dari hak-hak itu. Aku tidak menulis semuanya ini, supaya akupun diperlakukan juga demikian. Sebab aku lebih suka mati dari pada...! Sungguh, kemegahanku tidak dapat ditiadakan siapapun juga! (16) Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil. (17) Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku. (18) Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.”.

·        2Kor 11:7-9 - “(7) Apakah aku berbuat salah, jika aku merendahkan diri untuk meninggikan kamu, karena aku memberitakan Injil Allah kepada kamu dengan cuma-cuma? (8) Jemaat-jemaat lain telah kurampok dengan menerima tunjangan dari mereka, supaya aku dapat melayani kamu! (9) Dan ketika aku dalam kekurangan di tengah-tengah kamu, aku tidak menyusahkan seorangpun, sebab apa yang kurang padaku, dicukupkan oleh saudara-saudara yang datang dari Makedonia. Dalam segala hal aku menjaga diriku, supaya jangan menjadi beban bagi kamu, dan aku akan tetap berbuat demikian.”.

 

 

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali