Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Rabu, tanggal 13 Maret 2013, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

[email protected]

 

II Timotius 2:1-26(2)

 

Ay 2: “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.”.

 

1)         “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi,”.

Kata-kata ‘di depan banyak saksi’ menunjukkan bahwa Paulus mengajarkan kepada Timotius di depan banyak orang, sehingga mereka bisa menjadi saksi bahwa apa yang Timotius ajarkan memang sesuai dengan ajaran Paulus, dan bukan dari dirinya sendiri.

 

2)         “percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai,”.

KJV/RSV/NASB: ‘faithful men’ (= orang-orang yang setia).

NIV: ‘reliable men’ (= orang-orang yang bisa diandalkan).

 

John Stott: Paul proceeds to indicate the kind of ministry for which Timothy will need to strengthen himself by Christ’s grace. So far he has been exhorted to hold the faith and guard the deposit (1:13, 14). He is to do more than preserve the truth, however; he is also to pass it on. [= Paulus melanjutkan untuk menunjukkan jenis pelayanan untuk mana Timotius akan memerlukan untuk menguatkan dirinya sendiri oleh kasih karunia Kristus. Sejauh ini ia telah didesak untuk memegang iman dan menjaga tanggungan / apa yang dipercayakan kepadanya (1:13,14). Tetapi ia harus melakukan lebih dari pada menjaga / memelihara kebenaran; ia juga harus menyampaikannya.].

 

William Barclay: It is not only a privilege to receive the Christian faith; it is a duty to transmit it. All Christians must look on themselves as the link between two generations. (= Bukan hanya merupakan suatu hak untuk menerima iman Kristen; merupakan suatu kewajiban untuk menyebarkan / meneruskannya. Semua orang Kristen harus memandang diri mereka sendiri sebagai mata rantai / penghubung antara dua generasi.).

 

William Barclay: The faith is to be transmitted to faithful men and women who in their turn will teach it to others. The Christian Church is dependent on an unbroken chain of teachers. ... These teachers are to be faithful. The Greek for ‘faithful,’ pistos, is a word with a rich variety of closely connected meanings. A person who is pistos is someone who is believing, loyal and reliable. All these meanings are there. Falconer said that these believing people are such ‘that they will yield neither to persecution nor to error’. The teachers’ hearts must be so set on Christ that no threat of danger will lure them from the path of loyalty and no seduction of false teaching cause them to stray from the straight path of the truth. They must be steadfast both in life and in thought. (= Iman harus diteruskan / disebarkan kepada laki-laki dan perempuan yang setia, yang selanjutnya akan mengajarkannya kepada orang-orang lain. Gereja Kristen tergantung pada suatu rantai yang tak terputus dari guru-guru / pengajar-pengajar. ... Guru-guru / pengajar-pengajar ini harus setia. Kata Yunani untuk ‘setia’, PISTOS, adalah suatu kata dengan suatu variasi yang kaya dari arti-arti yang berhubungan dekat. Seseorang yang PISTOS adalah seseorang yang percaya, setia dan bisa diandalkan. Semua arti-arti ini ada di sana. Falconer berkata bahwa orang-orang yang percaya ini adalah begitu rupa ‘sehingga mereka tidak akan menyerah, baik kepada penganiayaan ataupun kepada kesalahan’. Hati dari guru-guru / pengajar-pengajar ini harus ditetapkan kepada Kristus sedemikian rupa, sehingga tak ada ancaman bahaya akan membujuk / memikat mereka dari jalan kesetiaan dan tak ada godaan / bujukan dari ajaran palsu menyebabkan mereka menyimpang dari jalan lurus dari kebenaran. Mereka harus setia baik dalam kehidupan dan dalam pemikiran.).

 

Calvin: “‘Commit to believing men.’ He calls them believing men, not on account of their faith, which is common to all Christians, but on account of their pre-eminence, as possessing a large measure of faith. We might even translate it ‘faithful men;’ for there are few who sincerely labor to preserve and perpetuate the remembrance of the doctrine intrusted to them. Some are impelled by ambition, and that of various kinds, some by covetousness, some by malice, and others are kept back by the fear of dangers; and therefore extraordinary faithfulness is here demanded.” (= ‘Percayakanlah kepada orang-orang percaya’. Ia menyebut mereka ‘orang-orang percaya’, bukan karena iman mereka, yang merupakan sesuatu yang umum bagi semua orang-orang Kristen, tetapi karena keunggulan mereka, karena mempunyai suatu takaran yang besar dari iman. Kita bahkan bisa menterjemahkannya ‘orang-orang yang setia’; karena hanya ada sedikit orang yang dengan sungguh-sungguh / tulus bekerja untuk menjaga / memelihara dan mengabadikan / menghidupkan terus menerus ingatan tentang ajaran yang dipercayakan kepada mereka. Sebagian orang didorong oleh ambisi, dan itu dari jenis-jenis yang bermacam-macam, sebagian oleh ketamakan, sebagian oleh kedengkian / kebencian, dan yang lain ditahan oleh rasa takut terhadap bahaya; dan karena itu kesetiaan yang luar biasa dituntut di sini.).

Catatan: kata Yunani yang diterjemahkan ‘yang dapat dipercayai’ adalah PISTOIS, yang bisa diterjemahkan ‘faithful’ (= setia) ataupun ‘believing’ (= percaya).

KJV/RSV/NASB: ‘faithful’ (= setia).

NIV: ‘reliable’ (= dapat dipercayai).

 

3)         “yang juga cakap mengajar orang lain.”.

 

William Hendriksen: Timothy’s strength in the sphere of grace will grow if he cultivates the gift which grace has bestowed on him. ... one sure way of being strengthened in grace is to transmit to others the truths which have embedded themselves in one’s heart and have become enshrined in the memory. Accordingly, let Timothy be a teacher. Even more, let him produce teachers! (= Kekuatan Timotius dalam ruang lingkup kasih karunia akan bertumbuh jika ia mengolah karunia yang telah diberikan oleh kasih karunia kepadanya. ... satu jalan yang pasti untuk dikuatkan dalam kasih karunia adalah dengan meneruskan / menyebarkan kepada orang-orang lain kebenaran-kebenaran yang telah menanamkan diri mereka sendiri dalam hati seseorang dan telah diabadikan dalam ingatan. Sesuai dengan itu, hendaklah Timotius menjadi seorang guru / pengajar. Lebih lagi, hendaklah ia menghasilkan guru / pengajar!).

 

Matthew Henry: He must instruct others, and train them up for the ministry, and so commit to them the things which he had heard; and he must also ordain them to the ministry, lodge the gospel as a trust in their hands, and so commit to them the things which he had heard. Two things he must have an eye to in ordaining ministers: - Their fidelity or integrity ..., and also their ministerial ability. (= Ia harus mengajar orang-orang lain, dan melatih mereka untuk pelayanan, dan dengan demikian mempercayakan kepada mereka hal-hal yang telah ia dengar; dan ia juga harus mentahbiskan mereka untuk pelayanan, meletakkan injil sebagai sesuatu yang dipercayakan dalam tangan mereka, dan dengan demikian mempercayakan kepada mereka hal-hal yang telah ia dengar. Dua hal yang harus ia perhatikan dalam mentahbiskan pelayan-pelayan / pendeta-pendeta: - Kesetiaan atau ketulusan / kelurusan mereka ..., dan juga kemampuan pelayanan mereka.).

 

The Bible Exposition Commentary: New Testament: The ability to study, understand, and teach the Word of God is a gift of God’s grace. ‘Apt to teach’ is one of God’s requirements for the pastor (1 Tim 3:2; 2 Tim 2:24). ‘Apt to teach’ implies apt to learn; so a steward must also be a diligent student of the Word of God. [= Kemampuan untuk belajar, mengerti, dan mengajarkan Firman Allah merupakan suatu karunia dari kasih karunia Allah. ‘Cakap mengajar’ adalah salah satu persyaratan Allah untuk pendeta (1Tim 3:2; 2Tim 2:24). ‘Cakap mengajar’ secara implicit menunjukkan kecakapan untuk belajar; sehingga seorang pelayan juga harus merupakan seorang pelajar yang rajin dari Firman Allah.].

1Tim 3:2 - “Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang,”.

2Tim 2:24 - “sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar”.

 

Saya yakin bahwa dalam hal ini sebagian besar pendeta-pendeta / penginjil-penginjil / pengkhotbah-pengkhotbah tidak memenuhi syarat sama sekali! Kebanyakan mereka tidak senang atau tidak mau menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran mereka, untuk belajar! Banyak dari mereka yang terlalu sibuk dengan hal-hal sekunder dalam gereja, sehingga melupakan / mengabaikan hal yang terutama dalam gereja, yaitu belajar dan mengajar!

 

John Stott: “‘None will ever be a good minister of the Word of God unless he is first of all a scholar.’ (Calvin). Spurgeon had the same conviction. ‘He who has ceased to learn has ceased to teach. He who no longer sows in the study will no more reap in the pulpit.’” [= ‘Tak seorangpun akan pernah menjadi seorang pelayan Firman Allah yang baik kecuali ia pertama-tama menjadi seorang murid / pelajar’. (Calvin). Spurgeon mempunyai keyakinan yang sama. ‘Ia yang telah berhenti untuk belajar telah berhenti untuk mengajar. Ia yang tidak lagi menabur dalam belajar tidak lagi akan menuai di mimbar.’] - ‘Between Two Worlds’, hal 180.

 

The Biblical Illustrator (New Testament) tentang 2Pet 1:15: “They are dangerous teachers, that never were learners. While they will not be scholars of truth, they become masters of error” (= Mereka adalah guru-guru / pengajar-pengajar yang berbahaya, yang tidak pernah menjadi pelajar-pelajar. Pada waktu mereka tidak mau menjadi pelajar-pelajar dari kebenaran, mereka menjadi guru-guru dari kesalahan).

 

Bdk. Amsal 19:27 - “Hai anakku, jangan lagi mendengarkan didikan, kalau engkau menyimpang juga dari perkataan-perkataan yang memberi pengetahuan”.

KJV: “Cease, my son, to hear the instruction that causeth to err from the words of knowledge” (= Berhentilah, anakku, untuk mendengar ajaran yang menyebabkan kita menyimpang dari kata-kata pengetahuan).

NIV: “Stop listening to instruction, my son, and you will stray from the words of knowledge” (= Berhentilah mendengar instruksi, anakku, dan engkau akan tersesat dari kata-kata pengetahuan).

NASB: “Cease listening, my son, to discipline, and you will stray from the words of knowledge” (= Berhentilah mendengar, anakku, pada disiplin, dan engkau akan tersesat dari kata-kata pengetahuan).

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali