Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Rabu, tanggal 6 Maret 2013, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(0819-455-888-55)

[email protected]

 

II Timotius 1:1-18(9)

 

2Tim 1:1-18 - “(1) Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah untuk memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus, (2) kepada Timotius, anakku yang kekasih: kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau. (3) Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam. (4) Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku. (5) Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu. (6) Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. (7) Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. (8) Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi InjilNya oleh kekuatan Allah. (9) Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karuniaNya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman (10) dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa. (11) Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru. (12) Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakanNya kepadaku hingga pada hari Tuhan. (13) Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari padaku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah itu dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus. (14) Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakanNya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita. (15) Engkau tahu bahwa semua mereka yang di daerah Asia Kecil berpaling dari padaku; termasuk Figelus dan Hermogenes. (16) Tuhan kiranya mengaruniakan rahmatNya kepada keluarga Onesiforus yang telah berulang-ulang menyegarkan hatiku. Ia tidak malu menjumpai aku di dalam penjara. (17) Ketika di Roma, ia berusaha mencari aku dan sudah juga menemui aku. (18) Kiranya Tuhan menunjukkan rahmatNya kepadanya pada hariNya. Betapa banyaknya pelayanan yang ia lakukan di Efesus engkau lebih mengetahuinya dari padaku.”.

 

Ay 16-17: (16) Tuhan kiranya mengaruniakan rahmatNya kepada keluarga Onesiforus yang telah berulang-ulang menyegarkan hatiku. Ia tidak malu menjumpai aku di dalam penjara. (17) Ketika di Roma, ia berusaha mencari aku dan sudah juga menemui aku..

 

Kata-kata ‘menyegarkan hatiku’ salah terjemahan. Kata ‘hati’ itu seharusnya tidak ada. Seharusnya ‘menyegarkan aku’.

KJV: ‘for he oft refreshed me’ (= karena ia sering menyegarkan aku).

RSV/NIV/NASB ≈ KJV.

 

Lalu kata-kata ‘Ia tidak malu menjumpai aku di dalam penjara’ juga salah terjemahan. Kata ‘menjumpai’ seharusnya juga tidak ada.

KJV: ‘and was not ashamed of my chain:’ (= dan tidak malu tentang rantai / belengguku:)

RSV/NIV/NASB KJV.

 

Setelah membicarakan ketidak-setiaan dari banyak orang dalam ay 15, maka dalam ay 16-18 Paulus membicarakan satu orang yang setia, yaitu Onesiforus.

 

Untuk tafsirannya tentang ay 15-18 William Barclay memberi judul: THE FAITHLESS MANY AND THE FAITHFUL ONE (= Orang banyak yang tidak setia dan satu orang yang setia).

 

Bible Knowledge Commentary: From these sad examples of unfaithfulness, Paul turned to the sparkling instance of Onesiphorus (mentioned elsewhere only in 4:19), who had supported Paul not only in Ephesus but also in Rome. Repeatedly he had gone out of his way to help Paul, even to the point of following him to Rome and painstakingly seeking out his whereabouts. There, despite Paul’s imprisonment and the stigma attached to it, Onesiphorus remained unfazed, continuing his faithful ministry without hesitation. For all of this Paul commended him, twice invoking God’s mercy (1:16,18) on both the faithful servant and his household. [= Dari contoh-contoh ketidak-setiaan yang menyedihkan ini, Paulus berpaling kepada contoh yang berkilauan dari Onesiforus (disebutkan di tempat lain hanya dalam 4:19), yang telah menyokong Paulus bukan hanya di Efesus tetapi juga di Roma. Berulang-ulang ia telah meninggalkan urusannya untuk menolong Paulus, bahkan sampai pada titik dimana ia mengikutinya ke Roma, dan dengan sungguh-sungguh mencari tempat dimana ia berada. Di sana, sekalipun Paulus dipenjara dan ada noda yang melekat pada hal itu, Onesiforus tetap tidak terganggu, melanjutkan pelayanannya yang setia tanpa ragu-ragu. Untuk semua ini Paulus memuji dia, dua kali meminta belas kasihan Allah (1:16,18) kepada baik pelayan yang setia ini maupun keluarganya.].

2Tim 4:19 - “Salam kepada Priska dan Akwila dan kepada keluarga Onesiforus.”.

 

Bible Knowledge Commentary: The contrast between the faithful and the unfaithful, the strong and the weak, the trustworthy and the unreliable, is striking. The many in Asia (v. 15) portray the very things Paul had been warning Timothy against - cowardice, shame, self-indulgence, infidelity. Onesiphorus, on the other hand, demonstrated the characteristics Paul had been recommending to Timothy - courage, love, self-discipline, boldness, and faithfulness. Clearly the negative and the positive examples were designed to strengthen Timothy’s resolve to be counted among those who were willing to stand shoulder to shoulder with the apostle. [= Kontras antara yang setia dan yang tidak setia, yang kuat dan yang lemah, yang bisa dipercayai dan yang tidak bisa dipercayai, adalah menyolok. Banyak orang di Asia (ay 15) menggambarkan hal-hal terhadap mana Paulus telah memperingatkan Timotius, ketakutan, rasa malu, pemuasan diri sendiri, ketidak-setiaan. Di sisi lain, Onesiforus menunjukkan karakteristik yang Paulus telah anjurkan kepada Timotius, keberanian, kasih, disiplin diri sendiri, keberanian, dan kesetiaan. Dengan jelas contoh-contoh yang negatif dan positif dirancang untuk menguatkan keputusan Timotius untuk diperhitungkan / dianggap termasuk di antara mereka yang mau untuk berdiri bahu membahu dengan sang rasul.].

 

Calvin: From this prayer we infer, that the good offices done to the saints are not thrown away, even though they cannot recompense them; for, when he prays to God to reward them, this carries in it the force of a promise. At the same time, Paul testifies his gratitude, by desiring that God will grant the remuneration, because he is unable to pay. (= Dari doa ini kami menyimpulkan, bahwa jasa-jasa baik yang dilakukan terhadap orang-orang kudus tidaklah dibuang, sekalipun mereka tidak bisa membalasnya; karena pada waktu ia berdoa kepada Allah untuk memberi upah / pahala kepada mereka, ini membawa di dalamnya kekuatan dari suatu janji. Pada saat yang sama, Paulus menyaksikan rasa terima kasihnya, dengan menginginkan bahwa Allah memberikan balasan / upah, karena ia tidak bisa membalas.).

 

Penerapan: pada waktu ada orang-orang yang berbuat baik kepada saudara dan saudara tak bisa membalasnya, setidaknya saudara bisa membalasnya dengan doa-doa saudara bagi dia.

 

Calvin: It is worthy of attention, that although he praises the kindness of Onesiphorus alone, yet, on his account, he prays for mercy to the whole family. Hence we infer, that ‘the blessing of God rests, not only on the head of the righteous man,’ but on all his house. So great is the love of God toward his people, that it diffuses itself over all who are connected with them (= Layak diperhatikan bahwa sekalipun ia memuji kebaikan Onesiforus saja, tetapi karena dia, ia berdoa untuk belas kasihan bagi seluruh keluarga. Karena itu kami menyimpulkan bahwa ‘berkat Allah tinggal / tetap ada, bukan hanya pada kepala dari orang benar’, tetapi pada seluruh keluarganya. Begitu besar kasih Allah kepada umatNya, sehingga kasih itu menyebarkan dirinya sendiri atas semua yang berhubungan dengan mereka).

Catatan: awas, ini tak berarti bahwa pada saat seseorang percaya maka ia dan keluarganya semua selamat!

 

Calvin: “‘And was not ashamed of my chain.’ This is a proof, not only of his liberality, but likewise of his zeal; seeing that he cheerfully exposed himself to danger and to the reproach of men, in order to assist Paul (= ‘Dan ia tidak malu tentang rantai / belengguku’. Ini adalah bukti, bukan hanya tentang kemurahan hatinya, tetapi juga tentang semangatnya; mengingat bahwa ia dengan sukacita membuka dirinya sendiri terhadap bahaya dan terhadap celaan dari manusia, untuk bisa menolong Paulus).

 

Ay 18: Kiranya Tuhan menunjukkan rahmatNya kepadanya pada hariNya. Betapa banyaknya pelayanan yang ia lakukan di Efesus engkau lebih mengetahuinya dari padaku.

 

Calvin: “‘That he may find mercy with the Lord on that day.’ This prayer shews us how much richer a recompense awaits those who, without the expectation of an earthly reward, perform kind offices to the saints, than if they received it immediately from the hand of men. And what does he pray for? ‘That he may find mercy;’ for he who hath been merciful to his neighbors will receive such mercy from God to himself. And if this promise does not powerfully animate and encourage us to the exercise of kindness, we are worse than stupid (= ‘Supaya ia bisa mendapatkan / menemukan belas kasihan dengan Tuhan pada hari itu’. Doa ini menunjukkan kepada kita betapa jauh lebih kayanya suatu upah yang menantikan mereka, yang tanpa mengharapkan upah duniawi, melaksanakan jasa-jasa yang baik kepada orang-orang kudus, dari pada jika mereka menerimanya langsung dari tangan manusia. ‘Supaya ia bisa menemukan belas kasihan’; karena ia yang telah berbelas kasihan kepada sesamanya akan menerima belas kasihan seperti itu dari Allah bagi dirinya sendiri. Dan jika janji ini tidak secara kuat menghidupkan dan menguatkan kita untuk melakukan kebaikan ini, kita lebih buruk dari bodoh / tolol).

 

Barnes’ Notes: ‘The Lord grant unto him that he may find mercy of the Lord in that day.’ The day of judgment; ... This proves that Onesiphorus was then alive, as Paul would not offer prayer for him if he was dead. The Papists, indeed, argue from this in favor of praying for the dead - ASSUMING from 2 Tim 4:19, that Onesiphorus was then dead. But there is no evidence of that. The passage in 2 Tim 4:19, would prove only that he was then absent from his family. (= ‘Kiranya Tuhan memberinya supaya ia menemukan belas kasihan dari Tuhan pada hari itu’. Hari penghakiman; ... Ini membuktikan bahwa Onesiforus masih hidup pada saat itu, karena Paulus tidak akan menaikkan doa untuk dia jika ia sudah mati. Para pengikut Paus memang berargumentasi dari bagian ini untuk mendukung doa untuk orang mati - dengan menganggap dari 2Tim 4:19, bahwa Onesiforus sudah mati pada saat itu. Tetapi tidak ada bukti tentang hal itu. Text dalam 2Tim 4:19 hanya membuktikan bahwa pada saat itu ia sedang absen dari keluarganya.).

2Tim 4:19 - “Salam kepada Priska dan Akwila dan kepada keluarga Onesiforus.”.

Catatan: hanya karena Onesiforusnya sendiri tidak disebutkan dalam 2Tim 4:19 ini, maka Gereja Roma Katolik menafsirkan bahwa ia sudah mati. Betul-betul suatu penafsiran yang lucu. Ini pasti merupakan suatu EISEGESIS, bukan EXEGESIS. Banyaknya ajaran dalam Gereja Roma Katolik yang sebetulnya tidak mempunyai dasar Alkitab sama sekali, seringkali menyebabkan mereka ‘terpaksa’ memutar-balikkan ayat-ayat Alkitab, supaya bisa mempunyai dasar Alkitab bagi ajaran mereka.

 

 

II Timotius 2:1-26(1)

 

2Tim 2:1-6 - “(1) Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus. (2) Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain. (3) Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. (4) Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya. (5) Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga. (6) Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.”.

 

Ay 1: Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus..

KJV: Thou therefore, my son, be strong in the grace that is in Christ Jesus. (= Karena itu engkau, anakku, jadilah kuat dalam kasih karunia yang ada dalam Kristus Yesus.).

 

Barnes’ Notes: ‘Thou therefore.’ In view of the fact stated in the previous chapter, that many had turned away from the apostle, and had forsaken the paths of truth. ‘Be strong in the grace which is in Christ Jesus;’ ... The meaning is, Be strong, relying on the grace which the Lord Jesus only can impart. (= ‘Karena itu engkau’. Mengingat fakta yang dinyatakan dalam pasal yang terdahulu, bahwa banyak orang telah berbalik dari sang rasul, dan telah meninggalkan jalan kebenaran. ‘Jadilah kuat dalam kasih karunia yang ada dalam Kristus Yesus’; ... Artinya adalah, dengan bersandar pada kasih karunia yang hanya Tuhan Yesus bisa berikan.).

 

Dalam bahasa Yunani kata-kata ‘jadilah kuat’ adalah ENDUNAMOU, yang merupakan kata perintah bentuk pasif! Jelas bahwa kita tak bisa menjadi kuat dengan usaha / kekuatan sendiri!

 

Bible Knowledge Commentary: be strong (lit. ‘be empowered’; cf. Eph 6:10).  Yet Timothy’s strength was not his own; it was a divine ‘gift’ (grace, ‎charis‎) found only ‘in Christ’ (Phil 4:13). [= jadilah kuat (secara hurufiah, ‘dikuatkanlah’; bdk. Ef 6:10). Tetapi kekuatan Timotius bukanlah kepunyaannya sendiri; itu adalah suatu ‘karunia’ ilahi (kasih karunia, Kharis) didapatkan hanya ‘dalam Kristus’ (Fil 4:13)].

 

Bdk. Ef 6:10 - “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasaNya.”.

Kata-kata ‘hendaklah kamu kuat’ dalam Ef 6:10 ini dalam bahasa Yunani adalah ENDUNAMOUSTHE, yang juga merupakan kata perintah bentuk pasif.

 

Fil 4:13 - “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”.

NASB: I can do all things through Him who strengthens me. (= Aku dapat melakukan segala sesuatu melalui Dia yang menguatkan aku.).

 

2Tim 4:17 - “tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya. Dengan demikian aku lepas dari mulut singa.”.

 

A. T. Robertson: “‘Be strengthened.’ ‎endunamou‎. Present passive imperative of ‎endunamooo‎. ... ‘Keep on being empowered,’ ‘keep in touch with the power.’ (= ‘Dikuatkanlah’. ENDUNAMOU. Kata perintah bentuk present, pasif, dari ENDUNAMOOO. ... ‘Teruslah dikuatkan’, ‘berhubunganlah terus dengan kuasa’.).

 

UBS New Testament Handbook Series: “‘Be strong’ is an imperative, for which see ‘strength’ and comments in 1 Tim 1:12. The present tense indicates a condition that should be continuous, hence ‘Continue being strong,’ ‘Keep on being strong.’ The passive voice of the imperative may suggest that it is really God who is the source of strength, and therefore it makes possible a translation like ‘Let God make you strong,’ ‘Allow God to strengthen you.’ (= ‘Dikuatkanlah’ merupakan suatu kata perintah, untuk mana lihat ‘kekuatan’ dan komentar dalam 1Tim 1:12. Present tense-nya menunjukkan suatu keadaan yang harus dilakukan terus, karena itu, ‘Teruslah kuat’, ‘Tetaplah kuat’. Bentuk pasif dari kata perintah ini bisa menunjukkan bahwa Allahlah yang sungguh-sungguh merupakan sumber dari kekuatan, dan karena itu memungkinkan suatu terjemahan seperti ‘Biarlah Allah membuatmu kuat’, ‘Ijinkanlah Allah menguatkan kamu’.).

1Tim 1:12 - “Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku -”.

 

Calvin: “‘Be strong in the grace.’ ... By this expression he intends to shake off sloth and indifference; for the flesh is so sluggish, that even those who are endued with eminent gifts are found to slacken in the midst of their course, if they be not frequently aroused.” (= ‘Jadilah kuat dalam kasih karunia’. ... Dengan ungkapan ini ia bermaksud untuk menghilangkan kemalasan dan kelalaian / sikap acuh tak acuh; karena daging itu begitu lamban / malas, sehingga bahkan mereka yang diberi dengan karunia-karunia yang menonjol didapati mengendur / melambat di tengah-tengah jalan mereka, jika mereka tidak sering dibangunkan / digerakkan.).

 

Calvin: “Some will say: ‘Of what use is it to exhort a man to be strong in grace, unless free-will have something to do in cooperation?’ I reply, what God demands from us by his word he likewise bestows by his Spirit, so that we are strengthened in the grace which he has given to us. And yet the exhortations are not superfluous, because the Spirit of God, teaching us inwardly, causes that they shall not sound in our ears fruitlessly and to no purpose. Whoever, therefore, shall acknowledge that the present exhortation could not have been fruitful without the secret power of the Spirit, will never support free-will by means of it.” (= Beberapa orang berkata: ‘Apa gunanya untuk mendesak seseorang untuk kuat dalam kasih karunia, kecuali kehendak bebas mempunyai sesuatu untuk dilakukan dalam kerja sama?’. Saya menjawab, apa yang Allah tuntut dari kita oleh firmanNya Ia juga berikan oleh RohNya, sehingga kita dikuatkan dalam kasih karunia yang Ia telah berikan kepada kita. Sekalipun demikian desakan-desakan tidaklah berlebihan / tak berguna, karena Roh Allah, sambil mengajar kita di dalam, menyebabkan sehingga desakan-desakan itu tidak berbunyi di telinga kita tanpa buah dan tanpa guna. Karena itu, siapapun mengakui bahwa desakan ini tidak bisa telah berbuah tanpa kuasa rahasia dari Roh, tidak akan pernah menyokong kehendak bebas dengan cara ini.).

 

The Biblical Illustrator (New Testament): Strong in Christ Jesus: - When Wingfield expressed his pity for Kirby, who was condemned to die for the truth, the undaunted martyr replied, ‘Fire, water, and sword are in His hands, who will not suffer them to separate me from Him.’ Here was power from on high perfected in human weakness. Nor was it less manifested in another who exclaimed, ‘If every hair on my head were a man, they should suffer death in the faith in which I now stand.’ It was in the exhaustion of age, and after long imprisonment, hardship, and ill treatment, that Latimer, when brought out to be burnt at Oxford, lifted his wrinkled hands towards heaven, and cried, ‘O God, I thank Thee that Thou hast reserved me to die this death.’ (= Kuat dalam Kristus Yesus: - Pada waktu Wingfield menyatakan belas kasihannya untuk Kirby, yang dijatuhi hukuman mati untuk kebenaran, martir yang berani ini menjawab, ‘Api, air, dan pedang ada dalam tanganNya, yang tidak akan membiarkan mereka untuk memisahkan aku dari Dia’. Di sinilah kuasa / kekuatan dari atas disempurnakan dalam kelemahan manusia. Juga itu tidak kurang dinyatakan dalam martir lain yang berseru, ‘Seandainya setiap rambut pada kepalaku adalah seorang manusia, mereka akan mengalami kematian dalam iman dalam mana aku sekarang berdiri’. Adalah dalam usia sangat tua, dan setelah pemenjaraan, penderitaan dan perlakuan buruk yang lama, bahwa Latimer, pada waktu dibawa keluar untuk dibakar di Oxford, mengangkat tangannya yang berkerut ke arah surga, dan berteriak, ‘Ya Allah, aku bersyukur kepadaMu bahwa Engkau telah menyimpan / mencadangkan aku untuk mengalami kematian ini’.).

 

 

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali