Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Rabu, tanggal 9 Januari 2013, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(0819-455-888-55)

[email protected]

 

II Timotius 1:1-18(4)

 

2Tim 1:6-8 - “(6) Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. (7) Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. (8) Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi InjilNya oleh kekuatan Allah.”.

 

Ay 7: “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”.

 

1)         Terjemahan.

Dalam ay 7 ini sebetulnya kata ‘roh’ hanya keluar 1 x.

KJV: For God hath not given us the spirit of fear; but of power, and of love, and of a sound mind. (= Karena Allah tidak memberikan kepada kita roh dari ketakutan; tetapi dari kuasa, dan dari kasih, dan dari suatu pikiran yang sehat.).

Catatan: RSV/NIV menuliskan 2x seperti Kitab Suci Indonesia, tetapi yang benar adalah seperti KJV (hanya 1x).

 

2)         “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan”.

 

a)   Haruskah kita menuliskan ‘roh’ (menunjuk kepada roh manusia) atau ‘Roh’ (menunjuk kepada Roh Kudus)?

 

William Hendriksen: In this passage some (in agreement with A.V., A.R.V., R.S.V.) spell Spirit with a small letter (‘spirit’), while others capitalize. The former sometimes argue that the descriptive genitive (‘… of power and love and self-discipline’) rules out any reference to the Holy Spirit. But the use of such a genitive does not in itself settle the question, for a similar modifier is also used in passages which undoubtedly refer to the Holy Spirit. Thus, Jesus, in speaking about the coming Helper or Comforter, calls him ‘the Spirit of truth’ (John 14:17; 15:26; 16:13). There are other similar phrases in which many interpreters find a reference to the Holy Spirit (Is. 11:2; Zech. 12:10; Rom. 8:2; Eph. 1:17; Heb. 10:29). Moreover, the idiom, ‘not the Spirit of … but (the Spirit) of …’ is used by Paul in other passages which, in the light of their specific contexts, seem to refer to the Holy Spirit, though not every interpreter is ready to grant this (Rom. 8:15; I Cor. 2:12). [= Dalam text ini sebagian orang (dalam persetujuan dengan AV, ARV, RSV) mengeja ‘Roh’ dengan suatu huruf kecil (‘roh’), sedangkan yang lain menggunakan huruf besar (‘Roh’). Yang terdahulu kadang-kadang berargumentasi bahwa genitif yang bersifat menggambarkan (‘... dari kuasa dan kasih dan kedisiplinan diri sendiri’) mengesampingkan referensi apapun dengan Roh Kudus. Tetapi penggunaan genitif seperti itu dalam dirinya sendiri tidaklah membereskan persoalannya, karena suatu pemodifikasi (kata yang menentukan sifat) yang mirip, juga digunakan dalam text-text yang tak diragukan menunjuk kepada Roh Kudus. Karena itu, Yesus, dalam berbicara tentang datangnya sang Penolong dan Penghibur, menyebutNya ‘Roh kebenaran’ (Yoh 14:17; 15:26; 16:13). Di sana ada ungkapan-ungkapan lainnya yang mirip dalam mana banyak penafsir menemukan suatu referensi dengan Roh Kudus (Yes 11:2; Zakh 12:10; Ro 8:2; Ef 1:17; Ibr 10:29). Lebih lagi, ungkapan ‘bukan Roh dari ... tetapi (Roh) dari ...’ digunakan oleh Paulus dalam text-text lain yang, dalam terang dari kontext-kontext mereka yang spesifik, kelihatannya menunjuk kepada Roh Kudus, sekalipun tidak setiap penafsir siap untuk mengakui hal ini (Ro 8:15; 1Kor 2:12).].

 

Yoh 14:17 - “yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.”.

Yoh 15:26 - “Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.”.

Yoh 16:13 - “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diriNya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarNya itulah yang akan dikatakanNya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.”.

Yes 11:2 - “Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN;”.

Zakh 12:10 - “‘Aku akan mencurahkan roh pengasihan dan roh permohonan atas keluarga Daud dan atas penduduk Yerusalem, dan mereka akan memandang kepada dia yang telah mereka tikam, dan akan meratapi dia seperti orang meratapi anak tunggal, dan akan menangisi dia dengan pedih seperti orang menangisi anak sulung.”.

Ro 8:2 - Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.”.

KJV: For the law of the Spirit of life in Christ Jesus hath made me free from the law of sin and death. (= Karena hukum dari Roh kehidupan dalam Kristus Yesus telah membuat aku bebas dari hukum dosa dan maut).

Ef 1:17 - “dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.”.

Ibr 10:29 - “Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia?”.

Ro 8:15 - “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’”.

KJV: For ye have not received the spirit of bondage again to fear; but ye have received the Spirit of adoption, whereby we cry, Abba, Father. (= Karena kamu tidak menerima roh perbudakan untuk takut lagi; tetapi kamu telah menerima Roh adopsi, dengan mana kita berseru, Abba, Bapa!).

1Kor 2:12 - “Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita.”.

 

Jadi, sekalipun tak ada kepastian tetapi kelihatannya William Hendriksen menganggap bahwa kata ‘Roh’ menunjuk kepada Roh Kudus.

 

UBS New Testament Handbook Series: The interpretation of the phrase ‘a spirit of timidity’ depends on how ‘spirit’ is understood. This is so because ‘spirit’ is used in a variety of ways in the Bible. If ‘spirit’ here refers to the human spirit, that is, to the inner being of a person or the state in which a person finds himself or herself, then ‘a spirit of timidity’ is another way of saying ‘a timid spirit.’ The whole clause can then be restructured as: ‘God did not make us timid’ (compare TNT ‘God did not make us cowards’) or ‘God did not give us a timid spirit.’ It is possible, however, to take ‘spirit’ here as referring to the Holy Spirit, so that the clause is stating that the Holy Spirit does not make one timid. Many commentaries in fact offer this opinion, but only a few translations make this information explicit (for example, TEV, French Common Language Version FRCL). Some translations make a distinction between the first and second occurrences of ‘spirit,’ with the second occurrence being identified with God’s Spirit (compare NJB ‘God did not give us a spirit of timidity, but the Spirit of power and love and self control’). While all three are possible, the second of these options seems to make better sense [= Penafsiran dari ungkapan ‘roh ketakutan’ tergantung pada bagaimana ‘roh’ dimengerti. Ini adalah seperti itu karena ‘roh’ digunakan dalam berbagai-bagai cara dalam Alkitab. Jika ‘roh’ di sini menunjuk pada roh manusia, yaitu pada keberadaan dalam dari seorang pribadi atau keadaan dalam mana seseorang mendapati dirinya sendiri, maka ‘roh ketakutan’ adalah suatu cara lain untuk mengatakan ‘suatu roh yang takut’. Maka seluruh anak kalimat bisa disusun ulang seperti ini: ‘Allah tidak membuat kita takut’ (bandingkan TNT ‘Allah tidak membuat kita pengecut’) atau ‘Allah tidak memberi kita roh yang takut’. Tetapi adalah mungkin untuk mengartikan ‘roh’ di sini sebagai menunjuk kepada Roh Kudus, sehingga anak kalimat itu menyatakan bahwa Roh Kudus tidak membuat seseorang takut. Dalam faktanya, banyak buku tafsiran memberikan pandangan ini, tetapi hanya sedikit terjemahan membuat informasi ini explicit (sebagai contoh, TEV, French Common Language Version FRCL). Sebagian terjemahan membuat suatu pembedaan antara pemunculan ‘roh’ yang pertama dan yang kedua, dengan pemunculan kedua diidentifikasi sebagai Roh Allah (bandingkan NJB ‘Allah tidak memberi kita roh ketakutan, tetapi Roh dari kuasa dan kasih dan penguasaan diri’). Sekalipun ketiganya memungkinkan, yang kedua dari pilihan-pilihan ini kelihatannya membuat arti yang lebih baik].

Catatan: pandangan ketiga tak bisa diterima, karena seperti sudah saya bahas di atas, kata ‘roh’ sebetulnya hanya muncul 1 x dalam bahasa Yunaninya.

 

b)   ‘Ketakutan’.

Adam Clarke: Instead of ‎deilias‎, fear, some MSS. and versions have ‎douleias‎, servitude or bondage; God hath not given unto us the spirit of BONDAGE (= Bukannya DEILIAS, ‘rasa takut’, sebagian manuscript dan versi mempunyai DOULEIAS, ‘perbudakan’ atau ‘perhambaan’; Allah tidak memberi kita roh perhambaan).

Catatan: saya tidak melihat penafsir lain membicarakan hal ini, jadi, itu pasti hanya manuscript-manuscript yang tak terlalu bagus, dan seharusnya diabaikan.

 

A. T. Robertson: “‘A spirit of fearfulness’ ‎pneuma ‎‎deilias‎. ... ‎Deilia ‎is an old word (‎deilos‎, ‎deidoo) ‎and always in a bad sense of cowardice, only here in the New Testament. [= ‘Roh ketakutan’ pneuma ‎‎deilias‎. ... ‎Deilia adalah suatu kata kuno ‎(‎deilos‎, ‎deido) dan selalu dalam arti buruk dari kepengecutan, hanya di sini dalam Perjanjian Baru.].

 

Vincent: “‘Spirit of fear’ (‎pneuma ‎‎deilias). Better, ‘of cowardice.’ Occurs only here in the New Testament. [= ‘Roh ketakutan’ (PNEUMA DEILIAS). Lebih baik ‘dari kepengecutan’. Muncul hanya di sini dalam Perjanjian Baru.].

 

UBS New Testament Handbook Series: The word for ‘timidity’ occurs only here in the whole New Testament. The word pertains to a state of being afraid due to lack of courage, hence ‘cowardice’ (NRSV). [= Kata untuk ‘ketakutan’ muncul hanya di sini dalam seluruh Perjanjian Baru. Kata itu berkenaan dengan suatu keadaan takut karena tak adanya keberanian, karena itu bisa diartikan ‘kepengecutan’ (NRSV).].

 

c)   Ay 7 ini harus dimengerti dalam kontextnya, yang berhubungan dengan pelayanan (ay 6-8).

Jadi, bagian ini artinya: kalau kita orang Kristen, maka kita tidak boleh takut melayani!

 

Tetapi perhatikan bagaimana Adam Clarke menafsirkan bagian ini.

Adam Clarke: “‘God hath not given us the spirit of fear.’ Here is an allusion to the giving of the law on mount Sinai. This was communicated with such terrible majesty as to engender fear in all the Israelites: even Moses, on the occasion, did exceedingly fear and tremble. The Gospel was ushered in, in a much milder manner; everything was placed on a level with the human intellect; and within reach of every human spirit. Nothing was terrific, nothing forbidding; but all was inviting.” (= ‘Allah tidak memberi kita roh ketakutan’. Di sini ada suatu kiasan pada pemberian hukum Taurat di Gunung Sinai. Ini diberikan dengan keagungan yang begitu mengerikan sehingga menimbulkan rasa takut dalam semua orang Israel: bahkan Musa, pada peristiwa itu, sangat takut dan gemetar. Injil diperkenalkan / dibawa masuk, dengan suatu cara yang jauh lebih lembut; segala sesuatu ditempatkan pada suatu level dengan intelek manusia; dan dalam jangkauan dari setiap roh manusia. Tak ada apapun yang menakutkan, tak ada yang melarang; tetapi semua mengundang.).

 

Saya menganggap tafsiran Clarke sama sekali tak cocok dengan kontextnya. Baik ay 6 maupun ay 8nya, berbicara tentang pelayanan, dan sama sekali tidak mengarah pada perbandingan antara hukum Taurat dan Injil.

Ay 6-8: (6) Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. (7) Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. (8) Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi InjilNya oleh kekuatan Allah..

 

The Biblical Illustrator (New Testament): Christian enthusiasm is not ‘the spirit of fear.’ This is obvious. Until that spirit is laid there can be no enthusiasm. (= Antusiasme / kegairahan / semangat Kristen bukanlah ‘roh ketakutan’. Ini jelas. Sampai roh itu diletakkan, di sana tidak bisa ada antusiasme / kegairahan / semangat.).

 

The Bible Exposition Commentary: New Testament: The ministry of the Gospel is no place for a ‘timid soul’ who lacks enthusiasm. In fact, courageous enthusiasm is essential for success in any kind of work. (= Pelayanan dari Injil bukanlah tempat bagi suatu ‘jiwa pengecut’ yang tidak mempunyai antusiasme / semangat. Dan faktanya, antusiasme yang berani merupakan sesuatu yang hakiki untuk sukses dalam jenis pekerjaan apapun.).

 

Ketakutan yang dimaksudkan di sini tentu bukan rasa takut kepada Allah, karena kalau rasa takut yang itu, justru harus dipunyai orang Kristen. Tetapi rasa takut terhadap setan, manusia, dan sebagainya. Manusia itu bisa bermacam-macam, misalnya pemerintah yang anti Kristen, orang-orang yang anti Kristen, orang tua yang anti Kristen, atau bahkan dari kalangan orang-orang Kristen sendiri, seperti pendeta / majelis yang tidak Alkitabiah, donatur / orang kristen kaya yang mau mengatur kita semau mereka, dan sebagainya.

 

Bdk. Mat 10:28 - “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.”.

 

Bdk. Mat 16:24-25 - “(24) Lalu Yesus berkata kepada murid-muridNya: ‘Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. (25) Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.”.

 

2)         “melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban”.

 

a)   Kata-kata ‘yang membangkitkan’ itu sebetulnya tidak ada.

 

b)   “kekuatan”.

 

Vincent: “‘Of power’ (‎dunameos)‎. Found in all the Pauline Epistles except Philemon. In the Pastorals only here, 2 Tim 1:8, and 2 Tim 3:5. Not used by our writer in the sense of ‘working miracles,’ which it sometimes has in Paul. Here, the power to overcome all obstacles and to face all dangers. It is closely linked with the sense of ‎parreesiaboldness.’” [= ‘Dari kuasa / kekuatan’ (DUNAMEOS). Ditemukan dalam semua Surat-surat Paulus kecuali Filemon. Dalam surat-surat Pastoral hanya di sini, 2Tim 1:8, dan 2Tim 3:5. Tidak digunakan oleh penulis kita dalam arti dari ‘pekerjaan / tindakan melakukan mujijat-mujijat’, yang kadang-kadang merupakan artinya dalam Paulus. Di sini kuasa untuk mengalahkan semua halangan dan untuk menghadapi semua bahaya. Itu berhubungan dekat dengan arti dari PARRESIA ‘keberanian’.].

 

UBS New Testament Handbook Series: ‘Power’ here is not physical but refers to the spiritual strength that enables Christians to be victorious over adverse circumstances and to remain faithful to their Lord. Another way of saying this is ‘strength in our hearts (or, minds).’ [= ‘Kekuatan’ di sini bukan bersifat fisik tetapi menunjuk pada kekuatan rohani yang memampukan orang-orang Kristen untuk menang atas keadaan-keadaan yang merugikan / bersifat bermusuhan dan tetap setia kepada Tuhan mereka. Cara lain untuk mengatakan ini adalah ‘kekuatan dalam hati (atau pikiran) kita’.].

 

The Biblical Illustrator (New Testament): Christian enthusiasm is not a transient spasm of excitement; it is power, and that means stability, persistence, inexhaustible resources, unwearied and inextinguishable force. The spirit of power, however, although the first and basal element in Christian enthusiasm, is not the only one. For power, by itself, will make a man not an enthusiast, but a fanatic. Fanaticism is by no means weakness, it is force, often of the most vigorous kind, but force without regulation and control. (= Antusiasme / semangat Kristen bukanlah suatu kegembiraan / kegairahan sementara yang angin-anginan / berubah-ubah; itu adalah kekuatan, dan itu berarti kestabilan, keteguhan hati, sumber-sumber yang tak habis-habisnya, tenaga / kekuatan yang tak lelah dan tak bisa dipadamkan. Tetapi roh kekuatan, sekalipun merupakan elemen yang pertama dan dasari dalam antusiasme / semangat Kristen, bukanlah satu-satunya elemen. Karena kekuatan, kalau hanya sendirian, akan membuat seseorang bukan menjadi antusias, tetapi membuatnya menjadi seorang fanatik. Fanatisme sama sekali bukanlah kelemahan, itu adalah tenaga / kekuatan, seringkali dari jenis yang paling bersemangat, tetapi itu adalah tenaga / kekuatan tanpa peraturan dan kontrol / kendali.).

 

Calvin: Hence we are taught, first, that not one of us possesses that firmness and unshaken constancy of the Spirit, which is requisite for fulfilling our ministry, until we are endued from heaven with a new power. And indeed the obstructions are so many and so great, that no courage of man will be able to overcome them. It is God, therefore, who endues us with ‘the spirit of power;’ for they who, in other respects, give tokens of much strength, fall down in a moment, when they are not upheld by the power of the Divine Spirit (= Karena itu, kita diajar, pertama-tama, bahwa tak seorangpun dari kita memiliki keteguhan dan kekonstanan yang tak tergoyahkan dari Roh, yang merupakan persyaratan untuk menyelesaikan pelayanan kita, sampai kita diberi suatu kuasa yang baru dari surga. Dan memang halangan-halangannya adalah begitu banyak dan begitu besar, sehingga tak ada keberanian dari manusia yang bisa mengalahkan mereka. Karena itu, Allahlah yang memberi kita dengan ‘roh kekuatan’; karena mereka yang dalam hal-hal lain menunjukkan tanda-tanda kekuatan yang besar, jatuh dalam sekejap mata, pada waktu mereka tidak didukung oleh kuasa dari Roh Ilahi).

 

Calvin: Secondly, we gather from it, that they who have slavish meanness and cowardice, so that they do not venture to do anything in defense of the truth, when it is necessary, are not governed by that Spirit by whom the servants of Christ are guided. Hence it follows, that there are very few of those who bear the title of ministers, in the present day, who have the mark of sincerity impressed upon them; for, amongst a vast number, where do we find one who, relying on the power of the Spirit, boldly despises all the loftiness which exalts itself against Christ? Do not almost all seek their own interest and their leisure? Do they not sink down dumb as soon as any noise breaks out? The consequence is, that no majesty of God is seen in their ministry (= Kedua, kami menyimpulkan darinya, bahwa mereka yang mempunyai keburukan / kejahatan yang memperbudak dan kepengecutan, sehingga mereka tidak berusaha melakukan apapun untuk membela kebenaran, pada waktu itu diperlukan, tidak diperintah oleh Roh itu oleh siapa pelayan-pelayan Kristus dibimbing. Karena itu, di sana ada sangat sedikit dari mereka yang mempunyai gelar pendeta / pelayan, pada masa ini, yang mempunyai tanda ketulusan ditanamkan pada mereka; karena di antara suatu jumlah yang besar, dimana kita menemukan seseorang yang, dengan bersandar pada kuasa / kekuatan Roh, dengan berani memandang rendah semua kemegahan yang meninggikan dirinya sendiri terhadap Kristus? Tidakkah hampir semua orang mencari kepentingan mereka sendiri dan kesenangan mereka? Tidakkah mereka tenggelam membisu begitu ada suara / keributan timbul? Konsekwensinya adalah, bahwa tak ada keagungan Allah terlihat dalam pelayanan mereka).

 

c)   “kasih”.

 

UBS New Testament Handbook Series: For ‘love’ compare 1 Tim 1:5. The focus here is on people’s love for other people, rather than their love for God or God’s love for people. (= Untuk ‘kasih’ bandingkan dengan 1Tim 1:5. Fokusnya di sini adalah pada kasih orang-orang untuk orang-orang lain dan bukannya kasih mereka untuk Allah atau kasih Allah untuk orang-orang.).

1Tim 1:5 - “Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas.”.

 

Barnes’ Notes: “‘And of love.’ Love to God and to the souls of men. The tendency of THIS, also, is to ‘cast out fear’ (1 John 4:18), and to make the mind bold and constant. Nothing will do more to inspire courage, to make a man fearless of danger, or ready to endure privation and persecution, than ‘love.’ The love of country, and wife, and children, and home, makes the most timid bold when they are assailed; and the love of Christ and of a dying world nerves the soul to great enterprises, and sustains it in the deepest sorrows. [= ‘Dan dari kasih’. Kasih kepada Allah dan kepada jiwa-jiwa manusia. Kecenderungan dari INI, juga adalah ‘membuang rasa takut’ (1Yoh 4:18), dan untuk membuat pikiran berani dan konstan / tetap. Tak ada yang akan melakukan lebih untuk menginspirasikan keberanian, untuk membuat manusia tidak takut terhadap bahaya, atau siap untuk menanggung kekurangan dan penganiayaan, dari pada ‘kasih’. Kasih akan negara, dan istri, dan anak-anak, dan rumah, membuat orang yang paling penakut menjadi berani pada waktu hal-hal itu diserang; dan kasih terhadap Kristus dan terhadap dunia yang sekarat memberanikan jiwa bagi suatu usaha besar yang berbahaya, dan menopangnya dalam kesedihan yang terdalam.].

1Yoh 4:17-18 - “(17) Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini. (18) Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.”.

Catatan: saya merasa penggunaan ayat ini tidak terlalu cocok, karena ketakutan yang dibicarakan oleh ayat ini adalah ketakutan terhadap hari penghakiman.

 

Tentang kasih kepada Allah atau kepada manusia yang dibicarakan, saya lebih setuju dengan pandangan dari Barnes. Kasih kepada Allah dan kepada sesama manusia tak bisa dipisahkan.

 

The Bible Exposition Commentary: New Testament: If we have love for lost souls and for the people of God, we will be able to endure suffering and accomplish the work of God. Selfishness leads to fear because, if we are selfish, we are interested only in what we will get out of serving God, and we will be afraid of losing prestige, power, or money. True Christian love, energized by the Spirit (Rom 5:5), enables us to sacrifice for others and not be afraid. [= Jika kita mempunyai kasih untuk jiwa-jiwa yang terhilang dan untuk umat Allah, kita akan mampu untuk menanggung penderitaan dan menyelesaikan pekerjaan Allah. Keegoisan membimbing pada ketakutan karena jika kita egois, kita berminat hanya dalam apa yang akan kita dapatkan dari pelayanan Allah, dan kita akan takut untuk kehilangan gengsi, kuasa, atau uang. Kasih Kristen yang sejati, diberi kekuatan oleh Roh (Ro 5:5), memampukan kita untuk berkorban untuk orang-orang lain dan tidak takut.].

 

d)   “dan ketertiban”.

Kata ‘ketertiban’ di sini diterjemahkan dan ditafsirkan secara beraneka ragam.

KJV: ‘a sound mind’ (= suatu pikiran yang sehat).

RSV: ‘self-control’ (= penguasaan diri).

NIV: ‘self-discipline’ (= kedisiplinan diri sendiri).

NASB: ‘discipline’ (= kedisiplinan).

Menurut Bible Works 7 kata Yunaninya bisa diterjemahkan seperti KJV atau seperti RSV.

 

A. T. Robertson: ‘Of discipline’ ‎soofronismou‎. A late Koine word (from ‎soofronizoo‎, to control), self-control, here only in the New Testament. [= ‘Dari disiplin’ (‎sofronismou)‎. Suatu kata Koine kuno (dari ‎sofronizo‎, mengontrol), penguasaan diri, hanya di sini dalam Perjanjian Baru.].

 

Vincent: “‘Of a sound mind’ (‎soofronismou)‎. Occurs only here in the New Testament. Not occurring in the Septuagint. Not occurring in Classical writers. Not ‘self-control,’ but ‘the faculty of generating it in others or in oneself,’ making them ‎soofrones‎, ‘of sound mind.’ Compare Titus 2:4. [= ‘Dari suatu pikiran yang sehat’ (sofronismou). Muncul hanya di sini dalam Perjanjian Baru. Tidak muncul dalam Septuaginta. Tidak muncul dalam penulis-penulis klasik. Bukan ‘penguasaan diri’, tetapi ‘kemampuan untuk menghasilkannya dalam orang-orang lain atau dalam diri sendiri’, membuat mereka SOFRONES, ‘dari pikiran yang sehat’. Bandingkan dengan Tit 2:4.].

Tit 2:4 - “dan dengan demikian mendidik (SOPHRONIZOSIN) perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya,”.

 

UBS New Testament Handbook Series: The word for ‘self-control’ occurs only here in the whole New Testament and refers to ‘self discipline,’ ‘good judgment’ (SPCL), and ‘moderation.’ Its opposite is excessive self-indulgence or lack of good sense. [= Kata untuk ‘penguasaan diri’ muncul hanya di sini dalam seluruh Perjanjian Baru dan menunjuk pada ‘pendisiplinan diri sendiri’, ‘penilaian yang baik’ (SPCL), dan ‘sikap yang tidak berlebih-lebihan’. Lawan katanya adalah pemuasan diri sendiri yang berlebih-lebihan atau kurangnya kemampuan untuk berpikir sehat / kemampuan untuk menilai.].

 

The Bible Exposition Commentary: New Testament: He is also the One who gives self-control (‘a sound mind’). This word is related to the words ‘sober’ and ‘sobriety’ that we often meet in the pastoral letters (1 Tim 2:9,15; Titus 1:8; 2:2,4,6,12). ‘Self-discipline’ is a better translation of ‘sound mind’ (2 Tim 1:7). It describes a person who is sensibly minded and balanced, who has his life under control. [= Ia juga adalah Yang memberikan penguasaan diri (‘suatu pikiran yang sehat’). Kata ini berhubungan dengan kata-kata ‘waras / tak mabuk / bijaksana’ dan ‘kewarasan’ yang sering kita jumpai dalam surat-surat pastoral (1Tim 2:9,15; Titus 1:8; 2:2,4,6,12). ‘Disiplin diri sendiri’ merupakan suatu terjemahan yang lebih baik dari ‘pikiran sehat’ (2Tim 1:7). Itu menggambarkan seseorang yang berpikiran waras dan seimbang, yang mempunyai kehidupannya di bawah kontrol.].

 

Calvin: But why did he afterwards add ‘love’ and ‘soberness’? In my opinion, it was for the purpose of distinguishing that power of the Spirit from the fury and rage of fanatics, who while they rush forward with reckless impulse, fiercely boast of having the Spirit of God. For that reason he expressly states that this powerful energy is moderated by ‘soberness and love,’ that is, by a calm desire of edifying (= Tetapi mengapa ia belakangan menambahkan ‘kasih’ dan ‘kewarasan’? Dalam pandangan saya, itu adalah untuk tujuan membedakan kuasa / kekuatan dari Roh itu dari kemarahan dan kegusaran dari orang-orang fanatik, yang pada waktu mereka berlari ke depan dengan dorongan hati yang berani / sembrono, dengan sengit membanggakan bahwa mereka mempunyai Roh Allah. Untuk alasan itu ia secara explicit menyatakan bahwa tenaga yang kuat ini dilunakkan oleh ‘kewarasan dan kasih’, yaitu, oleh suatu keinginan yang tenang untuk mendidik).

 

The Biblical Illustrator (New Testament): Soundness of mind is opposed to SUPERSTITION. A person in the dark sees nothing distinctly, and is therefore very apt to form confused and erroneous ideas of every object around him, his imagination giving to them what form and colour it pleases. Such is the situation of a superstitious man with respect to all objects of a spiritual or religious kind - he sees nothing in its proper form and proportion. A frequent and dangerous superstition is that which lays an undue stress on mere external religious observances. A man, therefore, of a sound mind, while he attributes to forms and ceremonies their true value, will not substitute them for more substantial good. He will manifest the soundness of his mind by preferring the substance to the form, and by endeavouring to possess the spirit of religion rather than the mere shadow of it. (= Kesehatan dari pikiran dikontraskan dengan TAKHYUL. Seseorang dalam kegelapan tidak melihat apapun dengan jelas, dan karena itu sangat condong untuk membentuk gagasan-gagasan yang kacau dan salah tentang setiap obyek di sekitarnya, khayalannya memberi kepada hal-hal itu bentuk dan warna apapun yang disenanginya. Demikianlah situasi dari seorang yang bersifat takhyul berkenaan dengan semua obyek dari jenis rohani dan agamawi - ia tidak melihat apapun dalam bentuk dan proporsi yang benar. Takhyul yang sering dan berbahaya adalah yang memberikan suatu tekanan yang tidak semestinya pada semata-mata ibadah agamawi lahiriah. Karena itu, seseorang dengan pikiran yang sehat, sekalipun ia menghubungkan dengan bentuk-bentuk dan upacara-upacara nilai mereka yang benar, tidak akan menggantikan mereka untuk kebaikan yang lebih besar. Ia akan menyatakan kesehatan dari pikirannya dengan lebih memilih zat / hakekatnya dari bentuknya, dan dengan berusaha untuk memiliki roh dari agama dari pada semata-mata bayangannya.).

 

Contoh:

 

1.         Takhyul kafir, misalnya:

a.   Angka 13 dan angka 4, yang dianggap sebagai angka sial.

b.   Shio, hong sui, astrologi / horoscope.

c.   Banyak hal aneh-aneh yang berhubungan dengan kematian / orang mati, atau dengan pernikahan.

d.   Dan sebagainya.

 

2.         Takhyul Kristen.

a.   Orang-orang yang menekankan baptisan / Perjamuan Kudus kelewat batas, atau memberi arti / manfaat kepada hal-hal itu, yang sama sekali tidak pernah diberikan oleh Alkitab. Misalnya dengan menganggap / mengajarkan bahwa baptisan / Perjamuan Kudus bisa menyembuhkan penyakit, menjadikan kita hebat / pandai dan sebagainya.

b.   Penggunaan minyak urapan yang sama sekali ngawur (bdk. Kel 30:22-33!).

c.   Penekanan berlebihan terhadap penggunaan Doa Bapa Kami, 12 Pengakuan Iman Rasuli dalam kebaktian.

d.   Pandangan-pandangan yang berhubungan dengan Israel / Holy Land, seperti baptis ulang di Sungai Yordan, pemberkatan nikah ulang di sana dan sebagainya.

 

3)         Arti kata-kata Paulus.

William Hendriksen: The gist of Paul’s argument, then, would seem to be as follows: ‘My dear child, Timothy, fight that tendency of yours toward fearfulness. The Holy Spirit, given to you and me and every believer, is not the Spirit of timidity but of power and love and self-discipline. Avail yourself of that limitless, never-failing power ..., and you will proclaim God’s truth; of that intelligent, purposeful love ..., and you will comfort God’s children, even to the extent of visiting me in my Roman prison; and of that ever-necessary self-discipline or self-control ..., and you will wage God’s battle against cowardice, taking yourself in hand.’ (= Maka, inti dari argumentasi Paulus, kelihatannya adalah sebagai berikut: ‘Anakku yang kekasih, Timotius, perangilah kecenderunganmu pada ketakutan. Roh Kudus, yang diberikan kepadamu dan kepadaku dan kepada setiap orang percaya, bukanlah Roh dari ketakutan tetapi dari kuasa / kekuatan dan kasih dan disiplin diri sendiri. Gunakanlah bagi dirimu sendiri kekuatan yang tak terbatas dan tak pernah gagal itu ..., dan kamu akan memberitakan kebenaran Allah; kasih yang cerdas dan punya maksud tertentu ..., dan kamu akan menghibur anak-anak Allah, bahkan sampai pada tingkat mengunjungi aku dalam penjara Romawiku; dan disiplin diri sendiri atau penguasaan diri yang selalu perlu ..., dan kamu akan berperang dalam pertempuran Allah terhadap kepengecutan, sambil menguasai dirimu sendiri’.).

Catatan: bagian yang saya loncati dan gantikan dengan titik-titik adalah kata-kata Yunaninya, yang saya anggap tak terlalu perlu.

 

Wiersbe’s Expository Outlines (New Testament): One of Timothy’s problems was cowardice, a timidity about facing problems and doing God’s work. His youthfulness probably contributed to this (1 Tim 4:12). Paul reminds Timothy that he was neglecting the gift God had given him (1 Tim 4:14) and that he needed to stir it up, ... Paul was not suggesting that Timothy was losing his salvation, for this is impossible, but that he was losing his zeal for the Lord and enthusiasm in the Lord’s work. Paul is writing about the Holy Spirit in v. 7. The Spirit does not generate fear in us (see Rom 8:15), but rather power, love, and discipline (sound mind, self-control). Every Christian needs all three! The Holy Spirit is the power of our lives (Acts 1:8; Eph 3:20-21; Phil 4:13). ... The Spirit also gives us ‘love’ for the fruit of the Spirit is ‘love’ (Gal 5:22). Our love for Christ, for the Word, for other believers, and for the lost, must come from the Spirit (Rom 5:5). The Spirit also gives us discipline and self-control; as a result we are not easily captured by our feelings or circumstances. When the Spirit is in control, we will experience peace and poise, and fear and cowardice will vanish. Note Acts 4:1-22, especially v. 13. [= Salah satu problem Timotius adalah kepengecutan, suatu ketakutan dalam menghadapi problem-problem dan melakukan pekerjaan Allah. Usianya yang muda mungkin memberi sumbangsih kepada hal ini (1Tim 4:12). Paulus mengingatkan Timotius bahwa ia sedang menyia-nyiakan karunia yang Allah telah berikan kepadanya (1Tim 4:14) dan bahwa ia perlu mengobarkannya, ... Paulus tidak menunjukkan secara implicit bahwa Timotius sedang kehilangan keselamatannya, karena ini merupakan sesuatu yang mustahil, tetapi bahwa ia sudah kehilangan semangatnya untuk Tuhan dan antusiasmenya dalam pekerjaan Tuhan. Paulus sedang menulis tentang Roh Kudus dalam ay 7. Roh tidak membangkitkan rasa takut dalam diri kita (lihat Ro 8:15), tetapi kekuatan, kasih dan disiplin (pikiran sehat, penguasaan diri). Setiap orang Kristen membutuhkan ketiga hal ini! Roh Kudus adalah kuasa / kekuatan dari kehidupan kita (Kis 1:8; Ef 3:20-21; Fil 4:13). ... Roh juga memberi kita ‘kasih’ karena buah dari Roh adalah ‘kasih’ (Gal 5:22). Kasih kita untuk Kristus, untuk Firman, untuk orang-orang percaya yang lain, dan untuk orang-orang yang terhilang, harus datang dari Roh (Ro 5:5). Roh juga memberi kita disiplin dan penguasaan diri; dan sebagai akibatnya kita tidak mudah ditangkap / dikuasai oleh perasaan kita atau sikon. Pada waktu Roh menguasai, kita akan mengalami damai dan ketenangan, dan rasa takut dan kepengecutan akan hilang. Perhatikan Kis 4:1-22, khususnya ay 13.].

1Tim 4:12,14 - “(12) Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. ... (14) Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua.”.

Kis 1:8 - “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.’”.

Ef 3:20-21 - “(20) Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, (21) bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.”.

Fil 4:13 - “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”.

Gal 5:22 - “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,”.

Ro 5:5 - “Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”.

Kis 4:7-13 - “(7) Lalu Petrus dan Yohanes dihadapkan kepada sidang itu dan mulai diperiksa dengan pertanyaan ini: ‘Dengan kuasa manakah atau dalam nama siapakah kamu bertindak demikian itu?’ (8) Maka jawab Petrus, penuh dengan Roh Kudus: ‘Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua, (9) jika kami sekarang harus diperiksa karena suatu kebajikan kepada seorang sakit dan harus menerangkan dengan kuasa manakah orang itu disembuhkan, (10) maka ketahuilah oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel, bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati - bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dengan sehat sekarang di depan kamu. (11) Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan - yaitu kamu sendiri -, namun ia telah menjadi batu penjuru. (12) Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.’ (13) Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus.”.

 

 

-bersambung-

      

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali