Pemahaman Alkitab
(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Rabu, tanggal 21 Nopember 2012, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(0819-455-888-55)
II Timotius 1:1-18(2)
Ay 4: “Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku.”.
Bible Knowledge Commentary: “Paul remembered Timothy’s tears on their last parting, possibly at Paul’s second Roman arrest. In this letter he would ask Timothy to join him in Rome (cf. 4:9,21). Paul had longed for Timothy’s companionship which was such a joy to him. Even the great apostle at times became lonely, discouraged, and in need of support from fellow Christians.” [= Paulus mengingat air mata Timotius pada perpisahan terakhir mereka, mungkin pada waktu penangkapan Romawi yang kedua terhadap Paulus. Dalam surat ini ia meminta Timotius untuk bergabung dengannya di Roma (bdk. 4:9,21). Paulus merindukan penyertaan Timotius, yang merupakan suatu sukacita baginya. Bahkan rasul yang besar / agung itu kadang-kadang menjadi / merasa kesepian, kecil hati, dan membutuhkan dukungan dari sesama orang-orang Kristen].
Ay 5: “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.”.
1) “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas,”.
KJV/ASV: ‘unfeigned’ (= tidak dibuat-buat / tidak pura-pura).
RSV/NIV/NASB: ‘sincere’ (= tulus).
NKJV: ‘genuine’ (= asli).
Kalau ada iman yang tulus, mestinya juga ada iman yang pura-pura!
Bible Knowledge Commentary: “So many, it seems, had opposed or deserted Paul (cf. 1:15; 2:17; 3:1-9,13; 4:3-4,10-21) that Timothy’s ‘sincere’ (anypokritou, ‘unhypocritical’; cf. 1 Tim 1:5) faith stood out in bold relief.” [= Begitu banyak orang, kelihatannya, telah menentang atau meninggalkan Paulus (bdk. 1:15; 2:17; 3:1-9,13; 4:3-4,10-21) sehingga iman Timotius yang ‘tulus’ (ANYPOKRITOU, ‘tidak munafik’; bdk. 1Tim 1:5) menonjol dalam pertolongan yang berani].
1Tim 1:5 - “Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas.”.
2Tim 1:15 - “Engkau tahu bahwa semua mereka yang di daerah Asia Kecil berpaling dari padaku; termasuk Figelus dan Hermogenes.”.
2Tim 2:17 - “Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di antara mereka termasuk Himeneus dan Filetus,”.
2Tim 3:1-9,13 - “(1) Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. (2) Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, (3) tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, (4) suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. (5) Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu! (6) Sebab di antara mereka terdapat orang-orang yang menyelundup ke rumah orang lain dan menjerat perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa dan dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu, (7) yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran. (8) Sama seperti Yanes dan Yambres menentang Musa, demikian juga mereka menentang kebenaran. Akal mereka bobrok dan iman mereka tidak tahan uji. (9) Tetapi sudah pasti mereka tidak akan lebih maju, karena seperti dalam hal Yanes dan Yambres, kebodohan merekapun akan nyata bagi semua orang. ... (13) sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan.”.
2Tim 4:3-4,10-21 - “(3) Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. (4) Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng. ... (10) karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika. Kreskes telah pergi ke Galatia dan Titus ke Dalmatia. (11) Hanya Lukas yang tinggal dengan aku. Jemputlah Markus dan bawalah ia ke mari, karena pelayanannya penting bagiku. (12) Tikhikus telah kukirim ke Efesus. (13) Jika engkau ke mari bawa juga jubah yang kutinggalkan di Troas di rumah Karpus dan juga kitab-kitabku, terutama perkamen itu. (14) Aleksander, tukang tembaga itu, telah banyak berbuat kejahatan terhadap aku. Tuhan akan membalasnya menurut perbuatannya. (15) Hendaklah engkau juga waspada terhadap dia, karena dia sangat menentang ajaran kita. (16) Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak seorangpun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku - kiranya hal itu jangan ditanggungkan atas mereka -, (17) tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya. Dengan demikian aku lepas dari mulut singa. (18) Dan Tuhan akan melepaskan aku dari setiap usaha yang jahat. Dia akan menyelamatkan aku, sehingga aku masuk ke dalam KerajaanNya di sorga. BagiNyalah kemuliaan selama-lamanya! Amin. (19) Salam kepada Priska dan Akwila dan kepada keluarga Onesiforus. (20) Erastus tinggal di Korintus dan Trofimus kutinggalkan dalam keadaan sakit di Miletus. (21) Berusahalah ke mari sebelum musim dingin. Salam dari Ebulus dan Pudes dan Linus dan Klaudia dan dari semua saudara.”.
2) “yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.”.
Catatan: kata ‘hidup’ / ‘tinggal’ yang kedua sebetulnya tidak ada.
KJV: ‘which dwelt first in thy grandmother Lois, and thy mother Eunice; and I am persuaded that in thee also’ (= yang pertama-tama tinggal dalam nenekmu Lois, dan ibumu Eunike; dan aku yakin bahwa dalam dirimu juga).
a) ‘hidup’.
NIV: ‘lived’ (= hidup).
KJV/RSV/NASB/Lit: ‘dwelt’ (= tinggal / diam).
Jamieson, Fausset & Brown: “‘Dwelt,’ (enookeesen) - ‘made its dwelling’ (John 14:23). The past tense implies they were now dead.” [= ‘Tinggal / diam’, (ENOOKEESEN) - ‘membuat tempat tinggalnya’ (Yoh 14:23). Past tense-nya secara implicit menunjukkan bahwa sekarang mereka sudah mati].
Catatan: Yoh 14:23 - “Jawab Yesus: ‘Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firmanKu dan BapaKu akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.”.
Saya tidak mengerti mengapa ia menggunakan Yoh 14:23 sebagai referensi, karena kata Yunani yang digunakan dalam ayat ini berbeda dengan yang digunakan dalam 2Tim 1:5.
b) “iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike”.
1. Iman yang bagaimana yang ada dalam diri Lois dan Eunike?
Calvin mengatakan bahwa tidak ada kepastian apakah iman mereka adalah iman Yahudi (tetapi yang benar), atau iman Kristen. Calvin lebih condong pada yang pertama. Ia berkata sekalipun Yudaisme pada saat itu sudah sangat rusak / sesat, tetapi Allah tetap selalu mempunyai umatNya, yang Ia tidak ijinkan untuk ikut menjadi rusak bersama dengan orang banyak. Jadi, ada kemungkinan bahwa Lois dan Eunike hidup dan mati dengan iman kepada sang Pengantara, tetapi Kristus belum pernah dinyatakan kepada mereka.
Calvin: “It is uncertain whether, on the one hand, these women were converted to Christ, and what Paul here applauds was the commencement of faith, or whether, on the other hand, faith is attributed to them apart from Christianity. The latter appears to me more probable; for, although at that time everything abounded with many superstitions and corruptions, yet God had always his own people, whom he did not suffer to be corrupted with the multitude, but whom he sanctified and separated to himself, that there might always exist among the Jews a pledge of this grace, which he had promised to the seed of Abraham. There is, therefore, no absurdity in saying that they lived and died in the faith of the Mediator, although Christ had not yet been revealed to them” (= ).
Bahkan pada waktu Paulus mengatakan kata-kata “dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu”, Calvin berpandangan bahwa ia tidak sedang berbicara tentang iman Timotius pada saat itu. Calvin menganggap bahwa ini berarti bahwa sejak kecil, sekalipun belum mendengar Injil Kristen, Timotius sudah dikaruniai rasa takut kepada Allah, dan iman seperti itu terbukti adalah benih yang hidup, yang belakangan menyatakan dirinya sendiri (pada saat Paulus memberitakan Injil Kristen kepadanya).
Calvin: “‘And I am persuaded that in thee also.’ This clause confirms me in the conjecture which I have just now stated; for, in my opinion, he does not here speak of the present faith of Timothy. It would lessen that sure confidence of the former eulogium, if he only said that he reckoned the faith of Timothy to resemble the faith of his grandmother and mother. But I understand the meaning to be, that Timothy, from his childhood, while he had not yet obtained a knowledge of the gospel, was imbued with the fear of God, and with such faith as proved to be a living seed, which afterwards manifested itself” (= ).
Ini berbeda dengan pandangan William Hendriksen; ia berpendapat bahwa iman mereka adalah iman kristen. Argumentasinya:
a. Kis 16:1 dengan jelas mengajar bahwa ibu Timotius disebut sebagai ‘seorang Yahudi dan telah menjadi percaya’. Terjemahan hurufiahnya adalah ‘a believing Jewish woman’ (= seorang perempuan Yahudi yang percaya). Kata sifat ‘believing’ yang digunakan di sini dimodifikasi sedikit menjadi ‘faithful’ (= setia) dan digunakan dalam pasal yang sama berkenaan dengan Lidia (Kis 16:15). Itu adalah setelah Lidia dibaptis. Sebelum pertobatan kepada iman Kristen itu, ia disebut ‘orang yang menyembah / beribadah kepada Allah’ (Kis 16:14).
Kis 16:14-15 - “(14) Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus. (15) Sesudah ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya, ia mengajak kami, katanya: ‘Jika kamu berpendapat, bahwa aku sungguh-sungguh percaya [KJV/RSV/NASB: ‘faithful’ (= setia)] kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku.’ Ia mendesak sampai kami menerimanya.”.
Di sini bisa ditambahkan tentang Kornelius, yang pada saat sudah mempunyai iman Yahudi (yang benar), tetapi belum pernah mendengar Injil Kristen, disebut sebagai orang yang takut kepada Allah.
Kis 10:2,22 - “(2) Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah. ... (22) Jawab mereka: ‘Kornelius, seorang perwira yang tulus hati dan takut akan Allah, dan yang terkenal baik di antara seluruh bangsa Yahudi, telah menerima penyataan Allah dengan perantaraan seorang malaikat kudus, supaya ia mengundang engkau ke rumahnya dan mendengar apa yang akan kaukatakan.’”.
b. Pasal yang sama juga mengajar bahwa setelah kepala penjara mentaati desakan / nasehat dari Paulus, ia dibicarakan sebagai ‘seorang percaya’ (Kis 16:31,34).
Kis 16:31,34 - “(31) Jawab mereka: ‘Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.’ ... (34) Lalu ia membawa mereka ke rumahnya dan menghidangkan makanan kepada mereka. Dan ia sangat bergembira, bahwa ia dan seisi rumahnya telah menjadi percaya kepada Allah.”.
c. Dalam penggunaan istilah dari Paulus, ‘orang-orang percaya’ adalah orang-orang yang pada jaman Perjanjian Lama percaya pada janji-janji yang berpusatkan kepada Kristus, seperti Abraham, dan mereka yang pada jaman Perjanjian Baru menerima Kristus sebagai penggenapan dari janji-janji itu (Ro 4:12; Gal 3:9). Jadi, berkenaan dengan jaman Perjanjian Baru maka ‘orang-orang percaya’ adalah orang-orang Kristen (2Kor 6:15).
Ro 4:12 - “dan juga menjadi bapa orang-orang bersunat, yaitu mereka yang bukan hanya bersunat, tetapi juga mengikuti jejak iman Abraham, bapa leluhur kita, pada masa ia belum disunat.”.
Gal 3:9 - “Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu.”.
2Kor 6:15 - “Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?”.
d. Menurut Lukas, orang-orang Yahudi yang bertobat pada iman Kristen adalah ‘orang-orang percaya dari antara orang-orang yang bersunat’ (Kis 10:45).
Kis 10:45 - “Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga,”.
William Hendriksen: “What does he mean here by ‘faith’? Was it nothing more than ‘Old Testament Israelitish faith,’ or was it faith in Jesus Christ, as the fulfilment of the Old Testament promises? I believe that the latter view has probability on its side: (1) Acts 16:1 clearly teaches that as soon as Timothy’s mother is introduced, at the beginning of the second missionary journey, she is called ‘a believing Jewish woman.’ That adjective (‘believing’) is the one which, in a slightly modified sense (‘faithful’), is used in the same chapter with respect to Lydia (Acts 16:15). That was after Lydia’s baptism. Before that conversion to the Christian faith she was called, ‘one who worshiped God’ (Acts 16:14). (2) The same chapter also teaches that after the jailer had obeyed the missionaries’ exhortation, he is spoken of as a believer. (Acts 16:31, 34.) (3) In Paul’s terminology ‘believers’ are those of the old dispensation who trusted in the Christ-centered promises - for example, Abraham -, and those of the new dispensation who accept Christ as the fulfilment of these promises (Rom. 4:12; Gal. 3:9). As far as the new dispensation is concerned, ‘believers’ are Christians (II Cor. 6:15). According to Luke, Jews converted to the Christian faith are ‘believers from among those circumcised’ (Acts 10:45). It would seem, therefore, that, at a date not later than Paul’s first missionary journey, grandmother Lois (living, perhaps, with her daughter?) and mother Eunice had been converted, so that they saw in Christ the fulfilment of the promises, and placed their, trust in him; and that these two women, in turn, had co-operated with Paul in that glorious work of grace which resulted in Timothy’s conversion.” [= ].
Kelihatannya William Hendriksen mempunyai argumentasi-argumentasi yang cukup kuat, tetapi kalau ia benar, bagaimana mungkin Timotius dikatakan sebagai anak rohani dari Paulus (2Tim 1:2)? Mungkin seperti dikatakan Adam Clarke (lihat di bawah), Lois dan Eunike memang orang Kristen, dan mereka juga sudah memberitakan Injil Kristen kepada Timotius, tetapi Timotius hanya mengerti tetapi belum percaya. Ia baru menjadi percaya setelah Paulus memberitakan Injil kepadanya.
2. Keluarga Timotius dan kekristenan.
Jamieson, Fausset & Brown: “It is an undesigned coincidence, and so a mark of truth, that in Acts 16:1, just as here, the belief of the mother alone is mentioned, while no notice is taken of the father” (= Merupakan suatu kebetulan yang tidak dirancang, dan dengan demikian suatu tanda kebenaran, bahwa dalam Kis 16:1, persis seperti di sini, kepercayaan dari sang ibu saja yang disebutkan, sedangkan tak ada perhatian / pemberitahuan tentang sang ayah).
Bdk. Kis 16:1-3 - “(1) Paulus datang juga ke Derbe dan ke Listra. Di situ ada seorang murid bernama Timotius; ibunya adalah seorang Yahudi dan telah menjadi percaya, sedangkan ayahnya seorang Yunani. (2) Timotius ini dikenal baik oleh saudara-saudara di Listra dan di Ikonium, (3) dan Paulus mau, supaya dia menyertainya dalam perjalanan. Paulus menyuruh menyunatkan dia karena orang-orang Yahudi di daerah itu, sebab setiap orang tahu bahwa bapanya adalah orang Yunani.”.
Barnes’ Notes: “In the history in the Acts, nothing is said of the father, except that he was ‘a Greek,’ but it is implied that he was not a believer. In the Epistle before us, nothing WHATEVER is said of him. But the piety of his mother ALONE is commended, and it is fairly implied that his father was NOT a believer.” (= Dalam sejarah dalam Kisah Rasul, tak ada apapun dikatakan tentang sang ayah, kecuali bahwa ia adalah ‘seorang Yunani’, tetapi ditunjukkan secara implicit bahwa ia bukanlah orang percaya. Dalam Surat di depan kita, tak ada apapun yang dikatakan tentang dia. Tetapi kesalehan dari ibunya SAJA yang dipuji, dan secara adil ditunjukkan secara implicit bahwa ayahnya BUKAN seorang percaya).
Adam Clarke: “In Acts 16:1, we are informed that Paul came to Derbe and Lystra; and behold, a certain disciple was there, named Timotheus, the son of a certain woman, who was a Jewess, and believed; but his father was a Greek. ... Luke says Timothy’s father was a Greek, consequently we may believe him to have been then in his pagan state; Paul, in mentioning the grandmother, mother, and son, passes by the father in silence; which intimates that either the father remained in his unconverted state, or was now dead. ... Lois, the grandmother, appears to have been the first convert to Christianity: she instructed her daughter Eunice, and both brought up Timothy in the Christian faith; so that he had a general knowledge of it before he met with Paul at Lystra. There, it appears the apostle was the instrument of the conversion of his heart to God; for a man may be well instructed in divine things, have a very orthodox creed, and yet his heart not be changed. Instruction precedes conversion; conversion should follow it. To be brought up in the fear of God is a great blessing; and a truly religious education is an advantage of infinite worth.” (= Dalam Kis 16:1, kita diberi informasi bahwa Paulus datang ke Derbe dan Listra; dan lihatlah, seorang murid tertentu ada di sana, bernama Timotius, anak laki-laki dari seorang perempuan tertentu, yang adalah seorang Yahudi, dan percaya; tetapi ayahnya adalah seorang Yunani. ... Lukas berkata bahwa ayah Timotius adalah seorang Yunani, dan karena itu kita bisa percaya bahwa ia pada saat itu ada dalam keadaan kafir; Paulus, dalam menyebutkan nenek, ibu, dan anak, melewati sang ayah; yang mengisyaratkan bahwa atau ia tetap ada dalam keadaan tidak bertobat, atau ia sekarang sudah mati. ... Lois, sang nenek, kelihatannya adalah petobat pertama kepada kekristenan; ia mengajar anak perempuannya Eunike, dan keduanya membesarkan / mendidik Timotius dalam iman Kristen; sehingga ia mempunyai pengetahuan umum tentangnya sebelum ia bertemu dengan Paulus di Listra. Di sana, kelihatannya sang rasul menjadi alat dari pertobatan dari hatinya kepada Allah; karena seseorang bisa diajar dengan baik dalam hal-hal ilahi, mempunyai pengakuan iman yang sangat ortodox, tetapi hatinya tidak diubah. Pengajaran mendahului pertobatan; pertobatan harus mengikutinya. Dibesarkan / dididik dalam rasa takut terhadap Allah merupakan suatu berkat yang besar; dan suatu pendidikan agamawi yang benar merupakan suatu keuntungan yang nilainya tak terhingga.).
The Biblical Illustrator (New Testament): “THE INSTRUMENTAL CAUSE TO WHICH THE FAITH OF TIMOTHY IS HERE ASCRIBED - namely, the previous faith of his pious mother, Eunice, and of his grandmother, Lois. The only effectual cause to which unfeigned faith can be ascribed, is the grace of Christ and His Spirit. Nevertheless, in conferring this precious gift, the Lord frequently works by instruments or means.” (= Penyebab yang bersifat sebagai alat pada mana iman Timotius dianggap berasal - yaitu, iman yang sebelumnya dari ibunya yang saleh, Eunike, dan dari neneknya, Lois. Satu-satunya penyebab yang efektif pada mana iman yang tidak pura-pura bisa dianggap berasal, adalah kasih karunia Kristus dan RohNya. Tetapi dalam memberi / menganugerahkan karunia yang berharga ini, Tuhan sering bekerja dengan alat-alat atau jalan-jalan / cara-cara).
Catatan: aneh, mengapa dikatakan ‘sering’ dan bukannya ‘selalu’?
Bdk. 1Kor 3:5-9 - “(5) Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya. (6) Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. (7) Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. (8) Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri. (9) Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.”.
Ada dua hal yang ingin saya persoalkan tentang kutipan di atas ini:
a. Iman / keselamatan dari nenek, ibu, dan Timotius sendiri, tidak bisa menyelamatkan ayat Timotius! Karena itu, Kis 16:31 tidak boleh ditafsirkan bahwa kalau seseorang selamat maka seluruh keluarga selamat / pasti akan selamat!
Kis 16:31 - “Jawab mereka: ‘Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.’”.
Ayat ini harus diartikan sebagai perintah dan janji yang masing-masing berlaku bagi orang yang diajak bicara (kepala penjara) maupun bagi keluarganya. Jadi, kepala penjara itu diperintahkan untuk percaya dan diberi janji keselamatan, dan keluarganya juga diperintahkan untuk percaya dan juga diberi janji keselamatan. Kalau hanya salah satu yang percaya, tentu hanya pihak itu saja yang diselamatkan!
b. Pendidikan Kristen dalam keluarga sejak kecil merupakan sesuatu yang sangat penting / berharga! Karena itu, kita harus mengajarkan sesering mungkin tentang kekristenan / injil kepada anak-anak / cucu-cucu kita.
Kel 12:24-27 - “(24) Kamu harus memegang ini sebagai ketetapan sampai selama-lamanya bagimu dan bagi anak-anakmu. (25) Dan apabila kamu tiba di negeri yang akan diberikan TUHAN kepadamu, seperti yang difirmankanNya, maka kamu harus pelihara ibadah ini. (26) Dan apabila anak-anakmu berkata kepadamu: Apakah artinya ibadahmu ini? (27) maka haruslah kamu berkata: Itulah korban Paskah bagi TUHAN yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir, ketika Ia menulahi orang Mesir, tetapi menyelamatkan rumah-rumah kita.’ Lalu berlututlah bangsa itu dan sujud menyembah.”.
Ul 4:8-9 - “(8) Dan bangsa besar manakah yang mempunyai ketetapan dan peraturan demikian adil seperti seluruh hukum ini, yang kubentangkan kepadamu pada hari ini? (9) Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anakmu dan kepada cucu cicitmu semuanya itu,”.
Ul 6:4-9 - “(4) Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! (5) Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. (6) Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, (7) haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. (8) Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, (9) dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.”.
Ul 11:18-20 - “(18) Tetapi kamu harus menaruh perkataanku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu; kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu. (19) Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun; (20) engkau harus menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu,”.
Ul 32:45-46 - “(45) Setelah Musa selesai menyampaikan segala perkataan itu kepada seluruh orang Israel, (46) berkatalah ia kepada mereka: ‘Perhatikanlah segala perkataan yang kuperingatkan kepadamu pada hari ini, supaya kamu memerintahkannya kepada anak-anakmu untuk melakukan dengan setia segala perkataan hukum Taurat ini. ”.
Yos 4:4-7,20-24 - “(4) Lalu Yosua memanggil kedua belas orang yang ditetapkannya dari orang Israel itu, seorang dari tiap-tiap suku, (5) dan Yosua berkata kepada mereka: ‘Menyeberanglah di depan tabut TUHAN, Allahmu, ke tengah-tengah sungai Yordan, dan angkatlah masing-masing sebuah batu ke atas bahumu, menurut bilangan suku orang Israel, (6) supaya ini menjadi tanda di tengah-tengah kamu. Jika anak-anakmu bertanya di kemudian hari: Apakah artinya batu-batu ini bagi kamu? (7) maka haruslah kamu katakan kepada mereka: Bahwa air sungai Yordan terputus di depan tabut perjanjian TUHAN; ketika tabut itu menyeberangi sungai Yordan, air sungai Yordan itu terputus. Sebab itu batu-batu ini akan menjadi tanda peringatan bagi orang Israel untuk selama-lamanya.’ ... (20) Kedua belas batu yang diambil dari sungai Yordan itu ditegakkan oleh Yosua di Gilgal. (21) Dan berkatalah ia kepada orang Israel, demikian: ‘Apabila di kemudian hari anak-anakmu bertanya kepada ayahnya: Apakah arti batu-batu ini? (22) maka haruslah kamu beritahukan kepada anak-anakmu, begini: Israel telah menyeberangi sungai Yordan ini di tanah yang kering! - (23) sebab TUHAN, Allahmu, telah mengeringkan di depan kamu air sungai Yordan, sampai kamu dapat menyeberang seperti yang telah dilakukan TUHAN, Allahmu, dengan Laut Teberau, yang telah dikeringkanNya di depan kita, sampai kita dapat menyeberang, (24) supaya semua bangsa di bumi tahu, bahwa kuat tangan TUHAN, dan supaya mereka selalu takut kepada TUHAN, Allahmu.’”.
Amsal 22:6 - “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”.
Amsal 29:17 - “Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.”.
Ef 6:4 - “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali