kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Minggu, tgl 29 September 2019, pk 08.00 & 17.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

II Samuel 9:1-13(1)

 

2Sam 9:1-13 - “(1) Berkatalah Daud: ‘Masih adakah orang yang tinggal dari keluarga Saul? Maka aku akan menunjukkan kasihku kepadanya oleh karena Yonatan.’ (2) Adapun keluarga Saul mempunyai seorang hamba, yang bernama Ziba. Ia dipanggil menghadap Daud, lalu raja bertanya kepadanya: ‘Engkaukah Ziba?’ Jawabnya: ‘Hamba tuanku.’ (3) Kemudian berkatalah raja: ‘Tidak adakah lagi orang yang tinggal dari keluarga Saul? Aku hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah.’ Lalu berkatalah Ziba kepada raja: ‘Masih ada seorang anak laki-laki Yonatan, yang cacat kakinya.’ (4) Tanya raja kepadanya: ‘Di manakah ia?’ Jawab Ziba kepada raja: ‘Dia ada di rumah Makhir bin Amiel, di Lodebar.’ (5) Sesudah itu raja Daud menyuruh mengambil dia dari rumah Makhir bin Amiel, dari Lodebar. (6) Dan Mefiboset bin Yonatan bin Saul masuk menghadap Daud, ia sujud dan menyembah. Kata Daud: ‘Mefiboset!’ Jawabnya: ‘Inilah hamba tuanku.’ (7) Kemudian berkatalah Daud kepadanya: ‘Janganlah takut, sebab aku pasti akan menunjukkan kasihku kepadamu oleh karena Yonatan, ayahmu; aku akan mengembalikan kepadamu segala ladang Saul, nenekmu, dan engkau akan tetap makan sehidangan dengan aku.’ (8) Lalu sujudlah Mefiboset dan berkata: ‘Apakah hambamu ini, sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku?’ (9) Lalu raja memanggil Ziba, hamba Saul itu, dan berkata kepadanya: ‘Segala sesuatu yang adalah milik Saul dan milik seluruh keluarganya kuberikan kepada cucu tuanmu itu. (10) Engkau harus mengerjakan tanah baginya, engkau, anak-anakmu dan hamba-hambamu, dan harus membawa masuk tuaiannya, supaya cucu tuanmu itu ada makanannya. Mefiboset, cucu tuanmu itu, akan tetap makan sehidangan dengan aku.’ Ziba mempunyai lima belas orang anak laki-laki dan dua puluh orang hamba. (11) Berkatalah Ziba kepada raja: ‘Hambamu ini akan melakukan tepat seperti yang diperintahkan tuanku raja kepadanya.’ Dan Mefiboset makan sehidangan dengan Daud sebagai salah seorang anak raja. (12) Mefiboset mempunyai seorang anak laki-laki yang kecil, yang bernama Mikha. Semua orang yang diam di rumah Ziba adalah hamba-hamba Mefiboset. (13) Demikianlah Mefiboset diam di Yerusalem, sebab ia tetap makan sehidangan dengan raja. Adapun kedua kakinya timpang..

 

I) Daud mau menunjukkan kasihnya kepada keluarga Saul yang tersisa (ay 1).

 

Ay 1: Berkatalah Daud: ‘Masih adakah orang yang tinggal dari keluarga Saul? Maka aku akan menunjukkan kasihku kepadanya oleh karena Yonatan.’.

 

1)   Keinginan / tindakan Daud ini bertentangan dengan kebiasaan pada jaman itu.

 

Pulpit Commentary: It was a practice only too common in the East, on a change of dynasty, for the reigning monarch to put to death the surviving members of the family of his predecessor, in order to make his own position more secure. And the conduct of David, in contrast therewith, evinced his gratitude, fidelity, piety, and noble generosity. [= Merupakan suatu praktek yang sangat umum di Timur, pada pergantian dinasti, bagi raja yang bertakhta untuk membunuh semua anggota-anggota keluarga pendahulunya yang masih hidup, untuk membuat posisinya sendiri lebih aman. Dan tingkah laku Daud, yang kontras dengan hal itu, membuktikan rasa terima kasih, kesetiaan, kesalehan, dan kemurahan hati yang mulia darinya.].

 

Matthew Henry: “He does not say, ‘Is there any left of the house of Saul, that I may find some way to take them off, and prevent their giving disturbance to me or my successor?’ It was against Abimelech’s mind that any one was left of the house of Gideon (Judg 9:5), and against Athaliah’s mind that any one was left of the seed royal, 2 Chron 22:10,11. Those were usurped governments. David’s needed no such vile supports. He was desirous to show kindness to the house of Saul, not only because he trusted in God and feared not what they could do unto him, but because he was of a charitable disposition and forgave what they had done to him.” [= Ia tidak berkata, ‘Adakah siapapun tertinggal dari keluarga Saul, sehingga aku bisa menemukan suatu cara untuk memusnahkan mereka, dan mencegah mereka memberikan gangguan kepadaku dan pengganti-penggantiku?’ Itu merupakan sesuatu yang menentang pikiran Abimelekh bahwa ada siapapun yang tertinggal dari keluarga Gideon (Hak 9:5), dan menentang pikiran Atalya bahwa ada siapapun yang tertinggal dari keturunan raja, 2Taw 22:10,11. Mereka itu adalah pemerintahan-pemerintahan yang diambil dengan kekerasan. Daud tidak membutuhkan penjagaan-penjagaan jahat seperti itu. Ia ingin menunjukkan kebaikan kepada keluarga Saul, bukan hanya karena ia percaya kepada Allah dan tidak takut terhadap apa yang mereka bisa lakukan terhadap dia, tetapi karena ia mempunyai kecenderungan yang murah hati dan mengampuni apa yang telah mereka lakukan terhadap dia.].

Hak 9:5 - “Ia pergi ke rumah ayahnya di Ofra, lalu membunuh saudara-saudaranya, anak-anak Yerubaal, tujuh puluh orang, di atas satu batu. Tetapi Yotam, anak bungsu Yerubaal tinggal hidup, karena ia menyembunyikan diri.”.

2Taw 22:10-11 - “(10) Ketika Atalya, ibu Ahazia, melihat bahwa anaknya sudah mati, maka bangkitlah ia membinasakan semua keturunan raja dari kaum Yehuda. (11) Tetapi Yosabat, anak perempuan raja, mengambil Yoas bin Ahazia, menculik dia dari tengah-tengah anak-anak raja yang hendak dibunuh itu, memasukkan dia dengan inang penyusunya ke dalam gudang tempat tidur. Demikianlah Yosabat, anak perempuan raja Yoram, isteri imam Yoyada, - ia adalah saudara perempuan Ahazia - menyembunyikan dia terhadap Atalya, sehingga ia tidak dibunuh Atalya.”.

 

Penerapan: pendeta-pendeta banyak pakai cara kotor untuk memperkuat kedudukannya, supaya tidak di ‘kudeta’. Misalnya dengan tidak mau menggunakan pendeta lain yang kotbahnya lebih bagus dari dia untuk berkhotbah di gerejanya. Apalagi dalam memilih pendeta baru untuk melayani di gerejanya. Ia selalu memilih pendeta yang kurang bagus khotbahnya dibandingkan dengan dirinya sendiri. Dan kalau ada yang lebih bagus, ia jadi iri hati dan membenci pendeta itu. Ini seperti Saul yang mendengki terhadap Daud, dan lalu berusaha untuk membunuh dia.

 

1Sam 18:6-9 - “(6) Tetapi pada waktu mereka pulang, ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu, keluarlah orang-orang perempuan dari segala kota Israel menyongsong raja Saul sambil menyanyi dan menari-nari dengan memukul rebana, dengan bersukaria dan dengan membunyikan gerincing; (7) dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, katanya: ‘Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.’ (8) Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: ‘Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya.’ (9) Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud..

 

Matthew Henry: If Providence has raised us, and our friends and their families are brought low, yet we must not forget former acquaintance, but rather look upon that as giving us so much the fairer opportunity of being kind to them: then our friends have most need of us and we are in the best capacity to help them. Though there be not a solemn league of friendship tying us to this constancy of love, yet there is a sacred law of friendship no less obliging, that to him that is in misery pity should be shown by his friend, Job 6:14. A brother is born for adversity. Friendship obliges us to take cognizance of the families and surviving relations of those we have loved, who, when they left us, left behind them their bodies, their names, and their posterity, to be kind to. [= Jika Providensia telah mengangkat kita, dan sahabat-sahabat kita dan keluarga mereka direndahkan, kita tidak boleh melupakan hubungan yang lalu, tetapi sebaliknya melihat akan hal itu sebagai memberi kita begitu banyak kesempatan yang lebih bagus untuk menjadi baik terhadap mereka: pada waktu itu sahabat-sahabat kita paling membutuhkan kita dan kita ada dalam kapasitas yang terbaik untuk menolong mereka. Sekalipun di sana tidak ada suatu persatuan persahabatan yang kudus yang mengikat kita pada kekonstanan kasih ini, tetapi di sana ada suatu hukum persahabatan yang kudus yang tidak kurang mengikatnya, sehingga kepada dia yang ada dalam penderitaan harus ditunjukkan belas kasihan oleh sahabatnya, Ayub 6:14. Seorang sahabat dilahirkan untuk kesukaran / penderitaan / bencana. Persahabatan mewajibkan kita untuk memperhatikan keluarga dan orang-orang yang sedarah yang masih hidup dari mereka yang telah kita kasihi, yang pada waktu mereka meninggalkan kita, mereka meninggalkan di belakang mereka tubuh-tubuh mereka, nama-nama mereka, dan keturunan mereka, supaya kita bersikap baik kepada mereka.].

Ayub 6:14 - Siapa menahan kasih sayang terhadap sesamanya, melalaikan takut akan Yang Mahakuasa..

KJV/RSV/NIV/NASB: ‘his friends’ [= sahabat-sahabatnya].

 

2)   Keinginan / tindakan Daud ini didasari oleh janjinya kepada Yonatan.

 

Ay 1: Berkatalah Daud: ‘Masih adakah orang yang tinggal dari keluarga Saul? Maka aku akan menunjukkan kasihku kepadanya oleh karena Yonatan.’.

 

Sebetulnya Daud pernah berjanji kepada Saul dan Yonatan.

 

The Bible Exposition Commentary: David had promised both Saul and Jonathan that he would not exterminate their descendants when he became king (1 Sam 20:12-17,42; 24:21), and in the case of Jonathan’s son Mephibosheth, David not only kept his promise but went above and beyond the call of duty. [= Daud telah berjanji kepada Saul dan Yonatan bahwa ia tidak akan memusnahkan keturunan-keturunan mereka pada waktu ia menjadi raja (1 Sam 20:12-17,42; 24:21), dan dalam kasus Mefiboset anak Yonatan, Daud bukan hanya memegang / menepati janjinya tetapi berjalan lebih jauh dari panggilan kewajiban.].

 

Janji Daud kepada Saul ada dalam 1Sam 24:21-23.

 

1Sam 24:21-23 - (21) Oleh karena itu, sesungguhnya aku tahu, bahwa engkau pasti menjadi raja dan jabatan raja Israel akan tetap kokoh dalam tanganmu. (22) Oleh sebab itu, bersumpahlah kepadaku demi TUHAN, bahwa engkau tidak akan melenyapkan keturunanku dan tidak akan menghapuskan namaku dari kaum keluargaku.’ (23) Lalu bersumpahlah Daud kepada Saul. Kemudian pulanglah Saul ke rumahnya, sedang Daud dan orang-orangnya pergi ke kubu gunung..

 

Janji Daud kepada Yonatan ada dalam 1Sam 20:12-17.

 

1Sam 20:12-17 - “(12) Lalu berkatalah Yonatan kepada Daud: ‘Demi TUHAN, Allah Israel, besok atau lusa kira-kira waktu ini aku akan memeriksa perasaan ayahku. Apabila baik keadaannya bagi Daud, masakan aku tidak akan menyuruh orang kepadamu dan memberitahukannya kepadamu? (13) Tetapi apabila ayahku memandang baik untuk mendatangkan celaka kepadamu, beginilah kiranya TUHAN menghukum Yonatan, bahkan lebih lagi dari pada itu, sekiranya aku tidak menyatakannya kepadamu dan membiarkan engkau pergi, sehingga engkau dapat berjalan dengan selamat. TUHAN kiranya menyertai engkau, seperti Ia menyertai ayahku dahulu. (14) Jika aku masih hidup, bukankah engkau akan menunjukkan kepadaku kasih setia TUHAN? Tetapi jika aku sudah mati, (15) janganlah engkau memutuskan kasih setiamu terhadap keturunanku sampai selamanya. Dan apabila TUHAN melenyapkan setiap orang dari musuh Daud dari muka bumi, (16) janganlah nama Yonatan terhapus dari keturunan Daud, melainkan kiranya TUHAN menuntut balas dari pada musuh-musuh Daud.’ (17) Dan Yonatan menyuruh Daud sekali lagi bersumpah demi kasihnya kepadanya, sebab ia mengasihi Daud seperti dirinya sendiri.”.

 

Kelihatannya dalam 2Sam 9 ini Mefiboset sudah dewasa. Karena itu Calvin mengatakan bahwa sudah berlalu waktu yang cukup lama dan baru sekarang Daud melaksanakan janjinya kepada Yonatan.

 

a)         Mengapa Daud begitu lambat menepati janjinya?

 

1.   Ada yang menganggap Daud salah karena terlambat menepati janjinya.

Calvin menilai Daud lalai menepati janjinya, dan setelah sekian lama, barulah ia menepatinya. Calvin menyalahkan Daud dalam hal ini tetapi tetap mengatakan ‘However, it is better late than never.’ [= Tetapi adalah lebih baik terlambat dari pada tidak pernah.] - ‘Sermons on 2Samuel’, hal 431.

 

Calvin: “We have said that David remembered rather late the promise which he had made to Jonathan, and by that we are admonished to think of our duty when God makes us prosper. We know that wealth intoxicates us so much that we only think of personal luxuries, and other concerns are, as it were, buried. And if that happened to David, let us fear for ourselves, and be on guard. ... Indeed, in general, we must take care that the honours, the riches and luxuries of this world do not make us forget our duty.” [= Kami telah mengatakan bahwa Daud mengingat agak terlambat janji yang telah ia buat kepada Yonatan, dan oleh hal itu kita dinasehati untuk memikirkan kewajiban kita pada waktu Allah membuat kita makmur. Kita tahu bahwa kekayaan meracuni begitu parah sehingga kita hanya memikirkan kemewahan-kemewahan pribadi, dan urusan-urusan yang lain seakan-akan dikubur. Dan jika itu terjadi pada Daud, hendaklah kita takut untuk diri kita sendiri, dan berjaga-jaga. ... Memang, secara umum, kita harus berhati-hati supaya kehormatan-kehormatan, kekayaan-kekayaan dan kemewahan-kemewahan dari dunia ini tidak membuat kita melupakan tanggung jawab kita.] - ‘Sermons on 2Samuel’, hal 434,435.

 

2.   Ada yang menganggap bahwa sikon yang menyebabkan Daud tidak bisa menepati janjinya, sampai pada saat ini.

 

Pulpit Commentary: As Mephibosheth was five years old at his father’s death (ch. 4:4), but now had a son (ver. 12), a sufficient time must have elapsed for him to grow up and marry; so that probably the events of this chapter occurred seventeen or eighteen years after the battle of Gilboa. As David was king at Hebron for seven years and a half, he had been king now of all Israel for about nine years. But during this long period he had been engaged in a weary struggle, which had left him little repose, and during which it might have been dangerous to draw the house of Saul out of obscurity. But he was at last firmly established on the throne, and had peace all around; and the time was come to act upon the promise made to Jonathan (1 Sam. 20:14, 15), and which we may be sure David had never forgotten. [= Karena Mefiboset berusia 5 tahun pada saat kematian ayahnya (psl 4:4), tetapi sekarang telah mempunyai seorang anak (ay 12), suatu waktu yang cukup lama telah berlalu baginya untuk bertumbuh menjadi dewasa dan menikah; sehingga mungkin peristiwa-peristiwa dari pasal ini terjadi 17 atau 18 tahun setelah pertempuran di Gilboa (1Sam 31). Karena Daud menjadi raja atas Hebron untuk 7,5 tahun, sekarang ia sudah menjadi raja atas seluruh Israel untuk sekitar 9 tahun. Tetapi selama periode yang lama ini ia telah terlibat dalam suatu pergumulan yang melelahkan, yang menyisakan dia sedikit ketenangan, dan selama masa itu mungkin merupakan sesuatu yang berbahaya untuk menarik keluarga Saul dari keadaan tak dikenal. Tetapi ia akhirnya diteguhkan dengan kuat pada takhta, dan mempunyai damai di sekitarnya; dan waktunya sudah datang untuk bertindak sesuai dengan janji yang dibuat kepada Yonatan (1Sam 20:14,15), dan yang kita boleh yakin tidak pernah Daud lupakan.].

 

2Sam 4:4 - “Yonatan, anak Saul, mempunyai seorang anak laki-laki, yang cacat kakinya. Ia berumur lima tahun, ketika datang kabar tentang Saul dan Yonatan dari Yizreel. Inang pengasuhnya mengangkat dia pada waktu itu, lalu lari, tetapi karena terburu-buru larinya, anak itu jatuh dan menjadi timpang. Ia bernama Mefiboset.”.

 

Adam Clarke: “‘Is there yet any that is left.’ David recollecting the covenant made with his friend Jonathan, now inquires after his family. It is supposed that political considerations prevented him from doing this sooner. Reasons of state often destroy all the charities of life.” [= ‘Apakah di sana ada siapapun yang masih tinggal / tersisa’. Daud mengingat perjanjian yang dibuat dengan sahabatnya, Yonatan, sekarang menanyakan tentang keluarganya. Diduga bahwa pertimbangan-pertimbangan politik mencegahnya untuk melakukan hal ini lebih cepat. Alasan-alasan dari negara sering menghancurkan semua kebaikan / kemurahan dari kehidupan.].

 

b)         Tetapi yang jelas, Daud menepati janjinya.

 

The Biblical Illustrator: One of the characteristics of the man who shall abide in the tabernacle of the Lord and dwell in His holy hill is that he sweareth to his own hurt and changeth not. Fidelity to covenant engagements, whether in daily labour, the mechanic’s shop, the marts of business, the learned professions, whether in pulpit or pew, is one of the very highest virtues of mankind. Be true to your word at the loss of property or even of life itself.[= Salah satu ciri dari orang yang akan tinggal di Kemah Tuhan dan diam di gunungNya yang kudus adalah bahwa ia bersumpah dan tetap menepatinya sekalipun rugi. Kesetiaan pada perjanjian, apakah dalam pekerjaan sehari-hari, di toko mekanik, pasar bisnis, pekerjaan profesional, apakah di mimbar atau di tempat duduk jemaat, adalah salah satu dari kebaikan tertinggi dari umat manusia. Tepatilah kata-katamu sekalipun harus mengalami kerugian harta milik atau bahkan nyawamu sendiri.].

 

Bdk. Maz 15:1-5 - “(1) [Mazmur Daud.] TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemahMu? Siapa yang boleh diam di gunungMu yang kudus? (2) Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, (3) yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya; (4) yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi; (5) yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya..

Catatan: terjemahan ‘orang yang tersingkir’ itu kurang tepat, dalam KJV diterjemahkan ‘a vile person’ [= orang yang jahat].

 

II) Pertemuan dan pembicaraan Daud dengan Ziba, hamba keluarga Saul (ay 2-4).

 

Ay 2-4: (2) Adapun keluarga Saul mempunyai seorang hamba, yang bernama Ziba. Ia dipanggil menghadap Daud, lalu raja bertanya kepadanya: ‘Engkaukah Ziba?’ Jawabnya: ‘Hamba tuanku.’ (3) Kemudian berkatalah raja: ‘Tidak adakah lagi orang yang tinggal dari keluarga Saul? Aku hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah.’ Lalu berkatalah Ziba kepada raja: ‘Masih ada seorang anak laki-laki Yonatan, yang cacat kakinya.’ (4) Tanya raja kepadanya: ‘Di manakah ia?’ Jawab Ziba kepada raja: ‘Dia ada di rumah Makhir bin Amiel, di Lodebar.’.

 

1)   Ziba, hamba dari keluarga Saul.

Ay 2a: Adapun keluarga Saul mempunyai seorang hamba, yang bernama Ziba..

 

Pulpit Commentary: Meanwhile Ziba had probably taken care of Saul’s property in the tribe of Benjamin. There is no reason to doubt that he had been steward there for Saul, and after his master’s death had continued in possession of the estate. David, we may feel sure, would not interfere with it, and Ziba would hold it for Saul’s heirs, who could not themselves take possession. To him David now sends, not because he expected to hear of a son of his dear friend Jonathan, but because he was ready to show kindness to any representative of the fallen monarch. [= Sementara itu Ziba mungkin telah menjaga milik / tanah Saul dalam suku Benyamin. Tidak ada alasan untuk meragukan bahwa ia telah menjadi manager / pengurus di sana untuk Saul, dan setelah kematian tuannya telah melanjutkan dalam kepemilikan dari tanah itu. Daud, kami bisa yakin, tidak mau mencampurinya, dan Ziba menahannya untuk ahli waris Saul, yang dirinya sendiri tidak bisa mengambilnya sebagai milik. Sekarang Daud mengutus kepada dia, bukan karena ia mengharapkan untuk mendengar seorang anak laki-laki dari sahabat terkasihnya Yonatan, tetapi karena ia siap untuk menunjukkan kebaikan kepada wakil yang manapun dari raja yang jatuh itu.].

 

2)   Pembicaraan Daud dengan Ziba.

Ay 2b-4: (2b) Ia dipanggil menghadap Daud, lalu raja bertanya kepadanya: ‘Engkaukah Ziba?’ Jawabnya: ‘Hamba tuanku.’ (3) Kemudian berkatalah raja: ‘Tidak adakah lagi orang yang tinggal dari keluarga Saul? Aku hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah.’ Lalu berkatalah Ziba kepada raja: ‘Masih ada seorang anak laki-laki Yonatan, yang cacat kakinya.’ (4) Tanya raja kepadanya: ‘Di manakah ia?’ Jawab Ziba kepada raja: ‘Dia ada di rumah Makhir bin Amiel, di Lodebar.’.

 

a)   Daud meminta informasi dari Ziba tentang keluarga Saul yang masih tertinggal / tersisa.

Ay 2b-3a: (2b) Ia dipanggil menghadap Daud, lalu raja bertanya kepadanya: ‘Engkaukah Ziba?’ Jawabnya: ‘Hamba tuanku.’ (3a) Kemudian berkatalah raja: ‘Tidak adakah lagi orang yang tinggal dari keluarga Saul?.

 

b)   Daud berkata kepada Ziba bahwa ia hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah.

Ay 3b: Aku hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah.’.

KJV/RSV/NASB: the kindness of God [= kebaikan (dari) Allah].

NIV: God’s kindness [= kebaikan Allah].

 

The Biblical Illustrator: The phrase, ‘kindness of God’ may be taken to mean either the kindness God requires of man or shows to man.[= Ungkapan ‘kebaikan dari Allah’ bisa diartikan atau kebaikan yang Allah tuntut dari manusia atau tunjukkan kepada manusia.].

 

Keil & Delitzsch: ‎‘The kindness of God’ is love and kindness shown in God, and for God’s sake (Luke 6:36). [= ‘Kebaikan dari Allah’ adalah kasih dan kebaikan yang ditunjukkan dalam Allah, dan demi Allah (Luk 6:36).].

Luk 6:36 - “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.’”.

 

The Biblical Illustrator: DAVID’S KINDNESS was not only unselfish and according to covenant; it WAS THE KINDNESS OF GOD. ... True and unselfish kindness of man to man must have its origin in God - kindness that flows into the human soul from God, and is akin to the kindness of His great and loving heart. Show me not man’s kindness, but the kindness of God. We hear much in these days of the enthusiasm of humanity, and the brotherhood of man; but whence comes this enthusiasm, and who first taught this brotherhood of man? The so-called ‘natural religions’ never inspired in man any love for humanity, and the Christless teachers of the race never proclaimed the brotherhood of man. It is simple historic verity to assert that apart from Christ and His religion there has never been any true and lasting humanitarianism on the earth. David had felt in his own soul something of the great and wondrous kindness of God, and this kindness he will show to Jonathan’s crippled son. [= Kebaikan Daud bukan hanya tidak bersifat egois dan sesuai dengan perjanjian; itu adalah kebaikan dari Allah. ... Kebaikan yang benar / sejati dan tidak egois dari manusia kepada manusia harus mendapatkan asal usulnya dalam Allah - kebaikan yang mengalir ke dalam jiwa manusia dari Allah, dan mirip dengan kebaikan dari hatiNya yang agung dan penuh kasih. Jangan tunjukkan kepadaku kebaikan manusia, tetapi kebaikan dari Allah. Pada saat ini kita banyak mendengar tentang semangat / kegairahan tentang kemanusiaan, dan persaudaraan manusia; tetapi dari mana datangnya semangat / kegairahan ini, dan siapa yang pertama-tama mengajar persaudaraan manusia ini? Apa yang disebut ‘agama yang alamiah’ tidak pernah mengilhami manusia kasih apapun untuk kemanusiaan, dan guru-guru / pengajar-pengajar tanpa Kristus dari umat manusia tidak pernah memberitakan persaudaraan manusia. Merupakan kebenaran sederhana yang bersifat sejarah untuk menegaskan bahwa terpisah dari Kristus dan agamaNya, di sana tidak pernah ada ajaran yang benar dan kontinyu tentang kemanusiaan di bumi. Daud telah merasakan dalam jiwanya sendiri suatu dari kebaikan yang agung dan luar biasa dari Allah, dan kebaikan ini mau ia tunjukkan kepada anak laki-laki yang cacat dari Yonatan.].

 

Bdk. Yoh 15:5 - “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”.

 

c)   Ziba memberi informasi bahwa masih ada satu anak laki-laki Yonatan, yang cacat kakinya, dan Ziba juga memberi informasi dimana anak Yonatan itu berada.

Ay 3c-4: “(3c) Lalu berkatalah Ziba kepada raja: ‘Masih ada seorang anak laki-laki Yonatan, yang cacat kakinya.’ (4) Tanya raja kepadanya: ‘Di manakah ia?’ Jawab Ziba kepada raja: ‘Dia ada di rumah Makhir bin Amiel, di Lodebar.’.

 

1.   Ada 2 cucu Saul yang bernama Mefiboset, jangan kacaukan keduanya.

 

2Sam 21:7-9 - “(7) Tetapi raja merasa sayang kepada Mefiboset bin Yonatan bin Saul, karena sumpah demi TUHAN ada di antara mereka, di antara Daud dan Yonatan bin Saul. (8) Lalu raja mengambil kedua anak laki-laki Rizpa binti Aya, yang dilahirkannya bagi Saul, yakni Armoni dan Mefiboset, dan kelima anak laki-laki Merab binti Saul, yang dilahirkannya bagi Adriel bin Barzilai, orang Mehola itu, (9) kemudian diserahkannyalah mereka ke dalam tangan orang-orang Gibeon itu. Orang-orang ini menggantung mereka di atas bukit, di hadapan TUHAN. Ketujuh orang itu tewas bersama-sama. Mereka telah dihukum mati pada awal musim menuai, pada permulaan musim menuai jelai..

 

2.   Peristiwa yang membuat Mefiboset menjadi timpang.

Bdk. 2Sam 4:4 - Yonatan, anak Saul, mempunyai seorang anak laki-laki, yang cacat kakinya. Ia berumur lima tahun, ketika datang kabar tentang Saul dan Yonatan dari Yizreel. Inang pengasuhnya mengangkat dia pada waktu itu, lalu lari, tetapi karena terburu-buru larinya, anak itu jatuh dan menjadi timpang. Ia bernama Mefiboset..

 

Calvin (‘Sermons on 2 Samuel’, hal 431) mengatakan bahwa Allahlah yang menghabisi semua keturunan Saul, dan sekalipun menyisakan satu orang, yang satu ini dibuat menjadi cacat oleh Allah, supaya jangan ada yang mengganggu kedudukan Daud sebagai raja Israel.

 

3.   Makhir bin Amiel.

 

Pulpit Commentary: Of Ammiel we read again in ch. 17:27, where we find that he was a man of wealth, who helped to supply the wants of David and his men during the rebellion of Absalom. Possibly this kindness of David towards one for whom he had feelings of loyalty, as representing a royal house to which he had remained faithful, won his heart. There was a magnanimity about it which would commend it to a man who was himself generous and true. [= Tentang Amiel kita membaca lagi dalam psl 17:27, dimana kita mendapati bahwa ia adalah seorang kaya, yang menolong untuk menyuplai kebutuhan-kebutuhan Daud dan orang-orangnya selama pemberontakan Absalom. Mungkin kebaikan Daud ini terhadap seseorang untuk siapa ia mempunyai perasaan kesetiaan, yang mewakili suatu keluarga kerajaan pada mana ia tetap setia, memenangkan hatinya. Disana ada suatu kemurahan hati tentangnya yang akan menghargainya bagi seseorang yang dirinya sendiri adalah murah hati dan benar.].

 

2Sam 17:27-29 - “(27) Ketika Daud tiba di Mahanaim, maka Sobi bin Nahas, dari Raba, kota bani Amon, dan Makhir bin Amiel, dari Lodebar, dan Barzilai, orang Gilead, dari Rogelim, membawa (28) tempat tidur, pasu, periuk belanga, juga gandum, jelai, tepung, bertih gandum, kacang babi, kacang merah besar, kacang merah kecil, (29) madu, dadih, kambing domba dan keju lembu bagi Daud dan bagi rakyat yang bersama-sama dengan dia, untuk dimakan, sebab kata mereka: ‘Rakyat ini tentu telah menjadi lapar, lelah dan haus di padang gurun.’”.

 

Barnes’ Notes: David reaped the fruit of his kindness to Mephibosheth, for, when he fled from Absalom, Machir, the son of Ammiel, was one of those who were most liberal in providing him and his army with necessaries (marginal reference). According to 1 Chron 3:5, Ammiel (called inversely Eliam, 2 Sam 11:3) was the father of Bath-sheba. If this be the same Ammiel, Machir would be Bath-sheba’s brother. However, the name is not a very uncommon one (Num 13:12; 1 Chron 26:5, etc.). [= Daud menuai buah dari kebaikannya kepada Mefiboset, karena pada waktu ia lari dari Absalom, Makhir bin Amiel adalah salah satu orang yang paling murah hati dalam menyediakan dia dan pasukannya dengan kebutuhan-kebutuhan (referensi tepi). Menurut 1Taw 3:5, Amiel (dipanggil / disebut secara terbalik Eliam, 2Sam 11:3) adalah ayah dari Batsyeba. Jika ini adalah Amiel yang sama, Makhir adalah saudara laki-laki dari Batsyeba. Tetapi nama itu adalah suatu nama yang sangat umum (Bil 13:12; 1Taw 26:5, dsb.).].

1Taw 3:5 - Inilah yang lahir bagi dia di Yerusalem: Simea, Sobab, Natan dan Salomo, empat orang dari Batsyua binti Amiel,.

2Sam 11:3 - Lalu Daud menyuruh orang bertanya tentang perempuan itu dan orang berkata: ‘Itu adalah Batsyeba binti Eliam, isteri Uria orang Het itu.’.

 

Bil 13:12 - dari suku Dan: Amiel bin Gemali;.

1Taw 26:5 - Amiel, anak yang keenam, Isakhar, anak yang ketujuh dan Peuletai, anak yang kedelapan, sebab Allah telah memberkati dia..

 

4.   Komentar-komentar beberapa penafsir tentang hal ini.

 

Matthew Henry: Those he enquired after were the remains of the house of Saul, to whom he would show kindness for Jonathan’s sake: Is there any left of the house of Saul? Saul had a very numerous family (1 Chron 8:33), enough to replenish a country, and was yet so emptied that none of it appeared; but it was a matter of enquiry, Is there any left? See how the providence of God can empty full families; see how the sin of man will do it. Saul’s was a bloody house, no marvel it was thus reduced, ch. 21:1. [= Hal-hal yang ia tanyakan adalah sisa-sisa dari keluarga Saul, kepada siapa ia mau menunjukkan kebaikan demi Yonatan: Apakah ada siapapun yang tersisa dari keluarga Saul? Saul mempunyai keluarga yang sangat banyak (1Taw 8:33), cukup untuk memenuhi suatu negara, tetapi begitu dikosongkan sehingga tidak ada darinya yang muncul; tetapi itu merupakan suatu persoalan yang ditanyakan, Adakah siapapun yang tertinggal / tersisa? Lihatlah bagaimana Providensia Allah bisa mengosongkan keluarga-keluarga yang penuh; lihatlah bagaimana dosa seseorang melakukan hal itu. Keluarga Saul adalah keluarga berdarah, tidak mengherankan keluarga itu dikurangi seperti itu, psl 21:1.].

 

1Taw 8:33-40 - “(33) Ner memperanakkan Kish; Kish memperanakkan Saul; Saul memperanakkan Yonatan, Malkisua, Abinadab dan Esybaal. (34) Anak Yonatan ialah Meribaal dan Meribaal memperanakkan Mikha. (35) Anak Mikha ialah Piton, Melekh, Tarea dan Ahas. (36) Ahas memperanakkan Yoada; Yoada memperanakkan Alemet, Azmawet dan Zimri; Zimri memperanakkan Moza. (37) Moza memperanakkan Bina; anak orang ini ialah Rafa, dan anak orang ini ialah Elasa, dan anak orang ini ialah Azel. (38) Azel mempunyai enam orang anak, dan inilah nama-nama mereka: Azrikam, Bokhru, Ismael, Searya, Obaja dan Hanan. Itulah sekaliannya anak-anak Azel. (39) Anak-anak Esek, saudaranya, ialah Ulam, anak sulungnya, lalu Yeush, anak yang kedua, dan Elifelet, anak yang ketiga. (40) Anak-anak Ulam itu adalah orang-orang berani, pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa, pemanah-pemanah; anak dan cucu mereka banyak: seratus lima puluh orang. Mereka semuanya itu termasuk bani Benyamin..

 

1Sam 21-22 - Saul membantai imam-imam di Nob.

 

The Biblical Illustrator mengatakan bahwa di sini ada pertunjukan tentang perubahan yang tidak bisa diketahui oleh manusia sebelumnya. Orang yang tadinya kaya bisa hancur dan bangkrut dalam waktu yang singkat, seperti Ayub dan Naomi, dan dalam cerita ini, keluarga Saul. Juga dalam kehidupan kita sehari-hari kita bisa melihat banyak sekali contoh dari hal itu. Orang yang kaya, yang karena kejahatan / penipuan orang lain, atau karena kebodohan dan ambisi mereka sendiri, jatuh dari puncak gunung ke dasar jurang. Penafsir itu lalu mengakhiri dengan kata-kata di bawah ini.

 

The Biblical Illustrator: In a word - we are taught the folly of making earthly things our rest and portion. If you possess them in abundance, they cannot give true or abiding satisfaction: - possess them! - they are so insecure, that you know not that they shall be yours by the dawn of tomorrow’s morn. ‘Vanity of vanities, all is vanity.’ You may be in a palace and on a throne, and your family overloaded with opulence and secular distinctions, and in a few years the question may be asked, ‘Is there any left of the house of Saul?’ [= Singkatnya - kita diajar tentang kebodohan yang membuat hal-hal / benda-benda duniawi sebagai sandaran / penopang dan bagian kita. Jika kamu memilikinya dengan berlimpah-limpah, mereka tidak bisa memberimu kepuasan yang sejati dan menetap: - milikilah mereka! - mereka adalah begitu tidak pasti, sehingga kamu tidak tahu apakah mereka akan tetap menjadi milikmu pada dini hari besok. ‘Kesia-siaan dari kesia-siaan, segala sesuatu adalah sia-sia’. Kamu boleh ada dalam sebuah istana dan pada sebuah takhta, dan keluargamu dipenuhi dengan kekayaan dan kehormatan / reputasi sekuler, dan dalam beberapa tahun bisa ditanyakan pertanyaan, ‘Masih adakah orang yang tinggal dari keluarga Saul?’].

 

Penerapan:

a.   Terapkan ini untuk diri saudara sendiri. Jangan terlalu berharap pada kedudukan, kekayaan dsb, yang merupakan hal-hal yang sangat fana, dan bisa hilang dalam sekejap!

b.   Terapkan ini pada waktu saudara melihat orang lain yang jaya, apalagi sombong dengan kejayaannya. Tidak perlu iri hati melihat / mendengar segala kesuksesan mereka. Semua itu hanya merupakan hal-hal yang sangat fana, dan bisa hilang dalam sekejap mata.

c.   Hal yang betul-betul penting dan berharga hanyalah kekayaan rohani, harta di surga!

 

Bdk. Mat 6:19-20 - “(19) ‘Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. (20) Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya..

 

 

-bersambung-

 


 

Kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Minggu, tgl 23 Januari 2011, pk 17.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

[email protected]

 

II SAMUEL 3:1-39(1)

 

2Sam 3:1-39 - “(1) Peperangan antara keluarga Saul dan keluarga Daud berlarut-larut; Daud kian lama kian kuat, sedang keluarga Saul kian lama kian lemah. (2) Di Hebron lahirlah bagi Daud anak-anak lelaki. Anak sulungnya ialah Amnon, dari Ahinoam, perempuan Yizreel; (3) anaknya yang kedua ialah Kileab, dari Abigail, bekas isteri Nabal, orang Karmel; yang ketiga ialah Absalom, anak dari Maakha, anak perempuan Talmai raja Gesur; (4) yang keempat ialah Adonia, anak dari Hagit; yang kelima ialah Sefaca, anak Abital; (5) dan yang keenam ialah Yitream, dari Egla, isteri Daud. Semuanya ini dilahirkan bagi Daud di Hebron. (6) Selama ada peperangan antara keluarga Saul dan keluarga Daud, maka Abner makin mendapat pengaruh di antara keluarga Saul. (7) Saul mempunyai gundik yang bernama Rizpa; dia anak perempuan Aya. Berkatalah Isyboset kepada Abner: ‘Mengapa kauhampiri gundik ayahku?’ (8) Lalu sangat marahlah Abner karena perkataan Isyboset itu, katanya: ‘Kepala anjing dari Yehudakah aku? Sampai sekarang aku masih menunjukkan kesetiaanku kepada keluarga Saul, ayahmu, kepada saudara-saudaranya dan kepada sahabat-sahabatnya, dan aku tidak membiarkan engkau jatuh ke tangan Daud, tetapi sekarang engkau menuduh aku berlaku salah dengan seorang perempuan? (9) Kiranya Allah menghukum Abner, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika tidak kulakukan kepada Daud seperti yang dijanjikan TUHAN dengan bersumpah kepadanya, (10) yakni memindahkan kerajaan dari keluarga Saul dan mendirikan takhta kerajaan Daud atas Israel dan atas Yehuda, dari Dan sampai Bersyeba.’ (11) Dan Isyboset tidak dapat lagi menjawab sepatah katapun kepada Abner, karena takutnya kepadanya. (12) Lalu Abner mengirim utusan kepada Daud dengan pesan: ‘Milik siapakah negeri ini? Adakanlah perjanjian dengan aku, maka sesungguhnya aku akan membantu engkau untuk membawa seluruh orang Israel memihak kepadamu.’ (13) Jawab Daud: ‘Baik, aku akan mengadakan perjanjian dengan engkau, hanya satu hal kuminta dari padamu, yakni engkau tidak akan menghadap aku, kecuali jika engkau membawa lebih dahulu Mikhal, anak perempuan Saul, apabila engkau datang menghadap aku.’ (14) Daud mengirim utusan juga kepada Isyboset, anak Saul, dengan pesan: ‘Berikanlah isteriku Mikhal, yang telah kuperoleh dengan seratus kulit khatan orang Filistin.’ (15) Lalu Isyboset menyuruh mengambil perempuan itu dari pada suaminya, yakni Paltiel bin Lais. (16) Dan suaminya berjalan bersama-sama dengan dia, sambil mengikuti dia dengan menangis sampai ke Bahurim. Lalu berkatalah Abner kepadanya: ‘Ayo, pulanglah.’ Maka pulanglah ia. (17) Sementara itu berundinglah Abner dengan para tua-tua orang Israel, katanya: ‘Telah lama kamu menghendaki Daud menjadi raja atas kamu. (18) Maka sekarang bertindaklah, sebab TUHAN sudah berfirman tentang Daud, demikian: Dengan perantaraan hambaKu Daud Aku akan menyelamatkan umatKu Israel dari tangan orang Filistin dan dari tangan semua musuhnya.’ (19) Abner berbicara dengan orang Benyamin; pula Abner pergi membicarakan dengan Daud di Hebron segala yang sudah dipandang baik oleh orang Israel dan oleh seluruh kaum Benyamin. (20) Ketika Abner datang kepada Daud di Hebron bersama-sama dua puluh orang, maka Daud mengadakan perjamuan bagi Abner dan orang-orang yang menyertainya. (21) Berkatalah Abner kepada Daud: ‘Baiklah aku bersiap untuk pergi mengumpulkan seluruh orang Israel kepada tuanku raja, supaya mereka mengadakan perjanjian dengan tuanku dan tuanku menjadi raja atas segala yang dikehendaki hatimu.’ Lalu Daud membiarkan Abner pergi dan berjalanlah ia dengan selamat. (22) Anak buah Daud dan Yoab baru saja pulang setelah mengadakan penggerebekan dan mereka membawa pulang jarahan yang banyak. Tetapi Abner tidak lagi bersama-sama Daud di Hebron, sebab ia telah dilepasnya pergi dengan selamat. (23) Ketika Yoab bersama dengan segenap tentaranya sudah pulang, diberitahukan kepada Yoab, demikian: ‘Abner bin Ner telah datang kepada raja dan ia sudah dibiarkannya pergi dengan selamat.’ (24) Kemudian pergilah Yoab kepada raja, katanya: ‘Apakah yang telah kauperbuat? Abner telah datang kepadamu; mengapa engkau membiarkannya begitu saja? (25) Apakah engkau tidak kenal Abner bin Ner itu. Ia datang untuk memperdaya engkau dan untuk mengetahui gerak-gerikmu dan untuk mengetahui segala yang hendak kaulakukan.’ (26) Sesudah itu keluarlah Yoab meninggalkan Daud dan menyuruh orang menyusul Abner, lalu mereka membawanya kembali dari perigi Sira tanpa diketahui Daud. (27) Ketika Abner kembali ke Hebron, maka Yoab membawanya sebentar ke samping di tengah-tengah pintu gerbang itu, seakan-akan hendak berbicara dengan dia dengan diam-diam; kemudian ditikamnyalah dia di sana pada perutnya, sehingga mati, membalas darah Asael, adiknya. (28) Ketika hal itu didengar Daud kemudian, berkatalah ia: ‘Aku dan kerajaanku tidak bersalah di hadapan TUHAN sampai selama-lamanya terhadap darah Abner bin Ner itu. (29) Biarlah itu ditanggung oleh Yoab sendiri dan seluruh kaum keluarganya. Biarlah dalam keturunan Yoab tidak putus-putusnya ada orang yang mengeluarkan lelehan, yang sakit kusta, yang bertongkat, yang tewas oleh pedang atau yang kekurangan makanan.’ (30) Demikianlah Yoab dan Abisai, adiknya, membunuh Abner, karena ia telah membunuh Asael, adik mereka, di Gibeon dalam pertempuran. (31) Dan berkatalah Daud kepada Yoab dan kepada segala rakyat yang bersama-sama dengan dia: ‘Koyakkanlah pakaianmu dan lilitkanlah pada tubuhmu kain kabung dan merataplah di depan mayat Abner.’ Raja Daud sendiripun berjalan di belakang usungan mayat. (32) Ketika orang menguburkan Abner di Hebron, maka menangislah raja dengan suara nyaring pada kubur Abner dan seluruh rakyatpun menangis. (33) Karena Abner raja mengucapkan nyanyian ratapan ini: ‘Apakah Abner harus mati seperti orang bebal? (34) Tanganmu tidak terikat dan kakimu tidak dirantai. Engkau gugur seperti orang gugur oleh orang-orang durjana.’ Dan seluruh rakyat itu makin menangis karena dia. (35) Seluruh rakyat datang menawarkan kepada Daud untuk makan roti selagi hari siang, tetapi Daud bersumpah, katanya: ‘Kiranya Allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika sebelum matahari terbenam aku mengecap roti atau apapun.’ (36) Ketika seluruh rakyat melihat hal itu, mereka menganggap hal itu baik, seperti segala sesuatu yang dilakukan raja dianggap baik oleh seluruh rakyat. (37) Maka tahulah seluruh rakyat dan seluruh Israel pada hari itu, bahwa pembunuhan Abner bin Ner bukanlah rancangan raja. (38) Kemudian berkatalah raja kepada para pegawainya: ‘Tidak tahukah kamu, bahwa pada hari ini gugur seorang pemimpin, seorang besar, di Israel? (39) Tetapi aku ini sekarang masih lemah, sekalipun sudah diurapi menjadi raja, sedang orang-orang itu, yakni anak-anak Zeruya, melebihi aku dalam kekerasan. Kiranya TUHAN membalas kepada orang yang berbuat jahat setimpal dengan kejahatannya.’”.

 

I) Perang yang berlarut-larut antara pihak Daud dan pihak Isyboset.

 

Ay 1:Peperangan antara keluarga Saul dan keluarga Daud berlarut-larut; Daud kian lama kian kuat, sedang keluarga Saul kian lama kian lemah.

 

Pulpit Commentary: “‘David waxed stronger and stronger.’ Of course he did. It could not but be so, for he was a chosen servant, not seeking or doing his own will, but simply placing his life in the hands of God, to work out for his people and for future ages, purposes the precise nature of which he could not understand. No weapon formed against him could prosper. He who contended against him fought against God. The forces of nature were on his side. Never did mortal more vainly contend against fate than did Ishbosheth contend against David. ... ‘Stronger and stronger’ may be affirmed of the kingdom of righteousness on earth. For even the seeming failures and delays only become, in the hands of Providence, the means of acquiring the hardier and more enduring virtues by which at last the final victory shall be won. The same is true of any conflicts in which character is at stake. Our ‘righteousness shall be brought forth as the light,’ and our ‘judgment as the noonday.’ The parallel may be seen also in the conflict of the ‘old’ and the ‘new man.’ The one is on the way to perish; the other is ‘renewed day by day.’” (= ‘Daud menjadi lebih kuat dan lebih kuat’. Tentu saja ia menjadi lebih kuat. Tidak bisa tidak demikian, karena ia adalah seorang pelayan pilihan, yang tidak mencari atau melakukan kehendaknya sendiri, tetapi hanya meletakkan hidupnya dalam tangan Allah, untuk mengerjakan bagi umatNya dan untuk jaman-jaman yang akan datang, tujuan-tujuan / rencana-rencana yang sifat persisnya tidak bisa ia mengerti. Tak ada senjata yang dibentuk terhadapnya bisa berhasil. Ia yang melawan / menentang dia berperang melawan Allah. Kekuatan-kekuatan dari alam ada di pihaknya. Tidak pernah ada orang yang dengan lebih sia-sia melawan / menentang nasib dari pada Isyboset pada waktu melawan / menentang Daud. ... ‘Lebih kuat dan lebih kuat’ bisa ditegaskan tentang kerajaan kebenaran di bumi. Karena bahkan apa yang terlihat sebagai kegagalan dan penundaan, dalam tangan Providensia, hanya menjadi cara untuk mendapatkan kebaikan-kebaikan yang lebih tahan dan abadi dengan mana pada akhirnya kemenangan akhir akan dimenangkan. Hal yang sama adalah benar tentang konflik apapun dimana karakter dipertaruhkan. ‘Kebenaran kita akan diterbitkan / terbit seperti terang’, dan ‘penghakiman kita seperti tengah hari’. Hal yang paralel bisa juga terlihat dalam konflik dari ‘manusia lama’ dan ‘manusia baru’. Yang satu ada dalam jalan menuju kebinasaan; yang lain diperbaharui dari hari ke sehari).

 

Maz 37:6 - “Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang”.

KJV: ‘thy judgment’ (= penghakimanmu).

RSV: ‘your right’ (= hakmu).

NIV: ‘the justice of your cause’ (= keadilan dalam perkaramu).

NASB: ‘your judgment’ (= penghakimanmu).

ASV: ‘thy justice’ (= keadilanmu).

NKJV: ‘your justice’ (= keadilanmu).

 

Bdk. Amsal 4:18 - “Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari”.

 

2Kor 4:16 - “Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari”.

 

Catatan: saya tidak terlalu yakin apakah penerapan terakhir yang diberikan Pulpit Commentary di atas bisa dibenarkan. Rasanya itu merupakan suatu perohanian / pengalegorian yang salah. Tetapi banyak penafsir lain juga menafsirkan seperti itu.

 

II) Situasi / perkembangan dalam kalangan Daud.

 

Ay 2-5:(2) Di Hebron lahirlah bagi Daud anak-anak lelaki. Anak sulungnya ialah Amnon, dari Ahinoam, perempuan Yizreel; (3) anaknya yang kedua ialah Kileab, dari Abigail, bekas isteri Nabal, orang Karmel; yang ketiga ialah Absalom, anak dari Maakha, anak perempuan Talmai raja Gesur; (4) yang keempat ialah Adonia, anak dari Hagit; yang kelima ialah Sefaca, anak Abital; (5) dan yang keenam ialah Yitream, dari Egla, isteri Daud. Semuanya ini dilahirkan bagi Daud di Hebron..

 

1)   Daud mempraktekkan polygamy.

 

The Biblical Illustrator (Old Testament): “Before the remarkable change of policy on the part of Abner that led to the termination of the war is recorded, a glimpse is given us of the domestic life of King David (2 Sam 3:2-5); ... Though polygamy was not allowed to David, it certainly was winked at; it was not imputed to him as guilt; it was not treated as an act of rebellion against God’s law. But, on the other hand, this toleration of polygamy did not and could not prevent the evils to which, from its very nature, it gives rise [= Sebelum perubahan politik yang luar biasa pada pihak Abner yang membimbing pada akhir dari peperangan dicatat, diberikan kepada kita sekilas dari kehidupan rumah tangga dari Raja Daud (2Sam 3:2-5); ... Sekalipun polygamy tidak diijinkan bagi Daud, itu jelas pura-pura tidak dilihat; itu tidak diperhitungkan sebagai kesalahan kepadanya; itu tidak diperlakukan / dibicarakan sebagai suatu tindakan pemberontakan terhadap hukum Allah. Tetapi di sisi lain, toleransi terhadap polygamy ini tidak dan tidak bisa mencegah bencana-bencana yang muncul dari sifat dasarnya].

Catatan: saya tidak setuju dengan kata-kata yang saya garis-bawahi. Saya yakin Tuhan tetap menganggap salah dosa polygamy itu. Dan bencana-bencana yang muncul belakangan, bukan muncul hanya sebagai suatu akibat alamiah, tetapi juga sebagai hukuman / hajaran Tuhan. Tetapi memang pada jaman dimana suatu dosa merajalela, biasanya Tuhan lebih mentoleransinya. Dalam jaman Alkitab, ada dua dosa seperti itu, yaitu polygamy dan perbudakan. Dalam jaman sekarang, di Indonesia, mungkin dosa yang merajalela adalah urusan sogok menyogok.

 

Matthew Henry: “It was David’s fault thus to multiply wives, contrary to the law (Deut 17:17), and it was a bad example to his successors” [= Merupakan kesalahan Daud untuk menambah istri seperti itu, bertentangan dengan hukum Taurat (Ul 17:17), dan itu merupakan suatu teladan buruk bagi pengganti-penggantinya].

Ul 17:14,17 - “(14) ‘Apabila engkau telah masuk ke negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, dan telah mendudukinya dan diam di sana, kemudian engkau berkata: Aku mau mengangkat raja atasku, seperti segala bangsa yang di sekelilingku, ... (17) Juga janganlah ia mempunyai banyak isteri, supaya hatinya jangan menyimpang; emas dan perakpun janganlah ia kumpulkan terlalu banyak”.

 

2)   Kalau polygamy yang Daud lakukan itu salah, mengapa ada text Kitab Suci seperti 2Sam 12:8?

2Sam 12:7-9 - “(7) Kemudian berkatalah Natan kepada Daud: ‘Engkaulah orang itu! Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Akulah yang mengurapi engkau menjadi raja atas Israel dan Akulah yang melepaskan engkau dari tangan Saul. (8) Telah Kuberikan isi rumah tuanmu kepadamu, dan isteri-isteri tuanmu ke dalam pangkuanmu. Aku telah memberikan kepadamu kaum Israel dan Yehuda; dan seandainya itu belum cukup, tentu Kutambah lagi ini dan itu kepadamu. (9) Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mataNya? Uria, orang Het itu, kaubiarkan ditewaskan dengan pedang; isterinya kauambil menjadi isterimu, dan dia sendiri telah kaubiarkan dibunuh oleh pedang bani Amon”.

 

Penjelasan: 2Sam 12:8 tidak bisa diartikan bahwa Tuhan memang memberikan istri-istri Saul kepada Daud, dan seandainya itu masih kurang, Ia pasti akan menambahinya. Penafsiran ini bertentangan dengan semua ayat yang menyatakan secara jelas bahwa Tuhan melarang polygamy. Jadi, arti text itu hanyalah bahwa dalam Providensia Allah, Ia telah memberikan segala sesuatu yang tadinya miliik Saul kepada Daud. Dan memang menurut tradisi Timur pada saat itu, istri-istri dan gundik-gundik dari raja yang mati menjadi milik dari penggantinya. Tetapi perlu diperhatikan bahwa Saul hanya mempunyai satu istri (1Sam 14:50) dan satu gundik (2Sam 3:7), dan tidak ada satupun dari mereka yang menjadi istri Daud setelah kematian Saul.

1Sam 14:50 - “Isteri Saul bernama Ahinoam, anak Ahimaas. Panglima tentaranya bernama Abner, anak Ner, paman Saul”.

2Sam 3:7 - “Saul mempunyai gundik yang bernama Rizpa; dia anak perempuan Aya. Berkatalah Isyboset kepada Abner: ‘Mengapa kauhampiri gundik ayahku?’”.

 

Jadi, kata-kata ‘dan seandainya itu belum cukup, tentu Kutambah lagi ini dan itu kepadamu’ tidak menunjuk kepada istri-istri tetapi hanya pada harta benda dan sebagainya.

 

3)   Istri-istri dan anak-anak Daud.

 

a)   Dari daftar anak-anak Daud di sini tak ada anak yang menjadi termasyhur / terkenal; sebaliknya tiga di antaranya menjadi terkenal karena keburukan mereka.

 

Matthew Henry: “We read not that any of these sons came to be famous (three of them were infamous, Amnon, Absalom, and Adonijah); we have therefore reason to rejoice with trembling in the building up of our families” [= Kita tidak membaca bahwa yang manapun dari anak-anak laki-laki ini menjadi termasyhur (tiga dari mereka mempunyai nama buruk, Amnon, Absalom, dan Adonia); karena itu kita mempunyai alasan untuk bersukacita dengan gemetar dalam membangun keluarga kita].

 

b)         Kileab, anak dari Abigail.

Ay 3a: anaknya yang kedua ialah Kileab, dari Abigail, bekas isteri Nabal, orang Karmel.

Bdk. 1Taw 3:1 - “Inilah anak-anak Daud yang lahir bagi dia di Hebron; anak sulung ialah Amnon, dari Ahinoam, perempuan Yizreel; anak yang kedua ialah Daniel, dari Abigail, perempuan Karmel.

 

Matthew Henry: “His son by Abigail is called Chileab (v. 3), whereas (1 Chron 3:1) he is called Daniel. Bishop Patrick mentions the reason which the Hebrew doctors give for these names, that his first name was Daniel - God has judged me (namely, against Nabal), but David’s enemies reproached him, and said, ‘It is Nabal’s son, and not David’s,’ to confute which calumny Providence so ordered it that, as he grew up, he became, in his countenance and features, extremely like David, and resembled him more than any of his children, upon which he gave him the name of Chileab, which signifies, like his father, or the father’s picture” [= Anak laki-lakinya dari Abigail disebut Kileab (ay 3), sedangkan dalam 1Taw 3:1 ia disebut Daniel. Uskup Patrick menyebutkan alasan yang diberikan oleh doktor-doktor Ibrani untuk nama-nama ini, bahwa nama pertamanya adalah Daniel - ‘Allah telah menghakimi aku’ (yaitu, terhadap Nabal), tetapi musuh-musuh Daud mengejeknya, dan berkata, ‘Itu adalah anak laki-laki dari Nabal, bukan dari Daud’, dan untuk membantah fitnahan itu Providensia mengaturnya sedemikian rupa sehingga, pada waktu anak itu bertumbuh menjadi dewasa, ia menjadi, dalam wajah dan bentuk, sangat mirip dengan Daud, dan menyerupainya lebih dari anak-anaknya yang manapun, kepada siapa ia memberinya nama Kileab, yang berarti, ‘seperti ayahnya’, atau ‘gambar ayahnya’].

Catatan:

·         Menurut Barnes, nama ‘Daniel’ berarti ‘God is my judge’ (= Allah adalah hakimku).

·         Ini merupakan cerita yang menarik, tetapi kita tidak bisa tahu dengan pasti kebenarannya.

 

c)         Absalom, anak dari Maakha, anak perempuan dari Talmai, raja Gesur.

Ay 3b: yang ketiga ialah Absalom, anak dari Maakha, anak perempuan Talmai raja Gesur.

 

Barnes’ Notes: “Talmai was the name of one of the sons of Anak at Hebron (Num 13:22); this Talmai was perhaps of the same race” [= Talmai adalah nama dari salah satu dari anak-anak laki-laki dari Enak di Hebron (Bil 13:22); Talmai ini mungkin adalah dari bangsa yang sama].

Bil 13:22 - “Mereka berjalan melalui Tanah Negeb, lalu sampai ke Hebron; di sana ada Ahiman, Sesai dan Talmai, keturunan Enak. Hebron didirikan tujuh tahun lebih dahulu dari Soan di Mesir”.

Kelihatannya orang Enak ini termasuk orang Kanaan yang seharusnya dibasmi, dan dilarang untuk dinikahi. Bahwa keturunan Enak ini tinggal di Kanaan terlihat dari Bil 13:28.

Bil 13:27-29 - “(27) Mereka menceritakan kepadanya: ‘Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya. (28) Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana. (29) Orang Amalek diam di Tanah Negeb, orang Het, orang Yebus dan orang Amori diam di pegunungan, orang Kanaan diam sepanjang laut dan sepanjang tepi sungai Yordan.’”.

Memang kalau dilihat dari larangan Tuhan, maka dari 7 bangsa dengan siapa orang Israel dilarang kawin campur, tidak ada keturunan Enak.

Ul 7:1-5 - “(1) ‘Apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau ke dalam negeri, ke mana engkau masuk untuk mendudukinya, dan Ia telah menghalau banyak bangsa dari depanmu, yakni orang Het, orang Girgasi, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus, tujuh bangsa, yang lebih banyak dan lebih kuat dari padamu, (2) dan TUHAN, Allahmu, telah menyerahkan mereka kepadamu, sehingga engkau memukul mereka kalah, maka haruslah kamu menumpas mereka sama sekali. Janganlah engkau mengadakan perjanjian dengan mereka dan janganlah engkau mengasihani mereka. (3) Janganlah juga engkau kawin-mengawin dengan mereka: anakmu perempuan janganlah kauberikan kepada anak laki-laki mereka, ataupun anak perempuan mereka jangan kauambil bagi anakmu laki-laki; (4) sebab mereka akan membuat anakmu laki-laki menyimpang dari padaKu, sehingga mereka beribadah kepada allah lain. Maka murka TUHAN akan bangkit terhadap kamu dan Ia akan memunahkan engkau dengan segera. (5) Tetapi beginilah kamu lakukan terhadap mereka: mezbah-mezbah mereka haruslah kamu robohkan, tugu-tugu berhala mereka kamu remukkan, tiang-tiang berhala mereka kamu hancurkan dan patung-patung mereka kamu bakar habis”.

 

Tetapi yang penting bukan huruf dari Ul 7:1-5 ini, melainkan arti sebenarnya. Tuhan melarang pernikahan campuran bukan karena alasan kebangsaan, tetapi karena alasan agama. Bangsa apapun, kalau mereka beragama lain (menyembah berhala), tetap harus dimasukkan dalam kelompok dengan siapa orang Israel dilarang menikah.

 

Matthew Henry: “Absalom’s mother is said to be the daughter of Talmai king of Geshur, a heathen prince. Perhaps David thereby hoped to strengthen his interest, but the issue of the marriage was one that proved his grief and shame” (= Ibu Absalom dikatakan adalah anak perempuan dari Talmai, raja Gesur, seorang pangeran / raja kafir. Mungkin dengan itu Daud berharap untuk memperkuat pengaruh sosial politiknya, tetapi hasil dari pernikahan itu adalah sesuatu yang membuktikan rasa sedih dan malunya).

 

Jamieson, Fausset & Brown: “Maacah, the daughter of Talmai, king of Geshur - a region in Syria, north of Israel. This marriage seems to have been a political match, made by David with a view to strengthen himself against Ish-bosheth’s party, by the aid of a powerful friend and ally in the north. Piety was made to yield to policy, and the bitter fruit of this alliance with a pagan prince he reaped in the life of the turbulent Absalom. Absalom denotes ‘father of peace,’ or ‘father’s peace.’ The name was a complete misnomer; because the bearer became the disturber of David's happiness and a rebel to his government” (= Maakha, anak perempuan dari Talmai, raja Gesur - suatu daerah di Syria, di utara Israel. Pernikahan ini kelihatannya merupakan suatu persatuan politik, dibuat oleh Daud dengan suatu maksud untuk memperkuat dirinya sendiri terhadap pihak Isyboset, oleh pertolongan dari seorang sahabat dan sekutu yang kuat di utara. Kesalehan ditundukkan pada politik, dan buah yang pahit dari persekutuan dengan raja / pangeran kafir ini ia tuai dalam kehidupan dari Absalom yang bergolak / seperti badai. Absalom berarti ‘bapa dari damai’, atau ‘bapanya damai’. Nama itu sama sekali tidak cocok; karena si pembawa nama menjadi pengganggu dari kebahagiaan Daud dan seorang pemberontak dari pemerintahannya).

 

d)         Yitream, anak dari Egla, istri Daud.

Ay 5a: dan yang keenam ialah Yitream, dari Egla, isteri Daud.

 

Matthew Henry: “The last is called David’s wife, which therefore, some think, was Michal, his first and most rightful wife, called here by another name; and, though she had no child after she mocked David, she might have had before” (= Yang terakhir disebut istri Daud, yang karena itu, sebagian orang beranggapan, adalah Mikhal, istrinya yang pertama dan yang paling berhak / sah, di sini disebutkan dengan nama yang lain; dan, sekalipun ia tidak mempunyai anak setelah ia mengejek Daud, ia bisa telah mempunyai anak sebelumnya).

Bdk. 2Sam 6:20-23 - “(20) Ketika Daud pulang untuk memberi salam kepada seisi rumahnya, maka keluarlah Mikhal binti Saul mendapatkan Daud, katanya: ‘Betapa raja orang Israel, yang menelanjangi dirinya pada hari ini di depan mata budak-budak perempuan para hambanya, merasa dirinya terhormat pada hari ini, seperti orang hina dengan tidak malu-malu menelanjangi dirinya!’ (21) Tetapi berkatalah Daud kepada Mikhal: ‘Di hadapan TUHAN, yang telah memilih aku dengan menyisihkan ayahmu dan segenap keluarganya untuk menunjuk aku menjadi raja atas umat TUHAN, yakni atas Israel, - di hadapan TUHAN aku menari-nari, (22) bahkan aku akan menghinakan diriku lebih dari pada itu; engkau akan memandang aku rendah, tetapi bersama-sama budak-budak perempuan yang kaukatakan itu, bersama-sama merekalah aku mau dihormati.’ (23) Mikhal binti Saul tidak mendapat anak sampai hari matinya.

Jamieson, Fausset & Brown mempunyai pandangan yang sama dengan Matthew Henry.

 

Pulpit Commentary: “As Eglah is especially called David’s wife, the Jewish interpreters hold that she was the highest in rank in his household, and therefore identical with Michal, who was restored to David while at Hebron. But she was childless; and more probably the words are to be taken as simply closing the narrative, and as belonging, therefore, equally to each of the six” (= Karena Egla secara khusus disebut istri Daud, para penafsir Yahudi percaya bahwa ia adalah yang tertinggi dalam tingkatan di rumah tangganya, dan karena itu identik dengan Mikhal, yang dikembalikan kepada Daud ketika di Hebron. Tetapi ia tidak mempunyai anak; dan lebih mungkin kata-kata itu dianggap sekedar sebagai penutup cerita, dan karena itu berlaku secara sama kepada masing-masing dari 6 istri itu).

Keberatan: kata ‘wife’ (= istri) dalam ay 5a itu ada dalam bentuk tunggal.

 

Kesimpulan: sekalipun dalam kalangan Daud / diri Daud ada hal-hal yang berdosa, tetapi secara keseluruhan ia tetap adalah seorang yang setia kepada Tuhan. Fakta bahwa ia bisa menikah berulang-ulang, dan menghasilkan banyak anak, menunjukkan bahwa ia mulai merasakan ketenteraman. Jadi, inilah yang ada dalam kalangan Daud.

 

 

-bersambung-

 

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali