(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Minggu, tgl 1 Juni 2014, pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
II Samuel 7:1-29(6)
2Sam 7:18-29 - “(18) Lalu masuklah raja Daud ke dalam, kemudian duduklah ia di hadapan TUHAN sambil berkata: ‘Siapakah aku ini, ya Tuhan ALLAH, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini? (19) Dan hal ini masih kurang di mataMu, ya Tuhan ALLAH; sebab itu Engkau telah berfirman juga tentang keluarga hambaMu ini dalam masa yang masih jauh dan telah memperlihatkan kepadaku serentetan manusia yang akan datang, ya Tuhan ALLAH. (20) Apakah yang dapat dikatakan Daud kepadaMu lebih lagi dari pada itu. Bukankah Engkau yang mengenal hambaMu ini, ya Tuhan ALLAH? (21) Oleh karena firmanMu dan menurut hatiMu Engkau telah melakukan segala perkara yang besar ini dengan memberitahukannya kepada hambaMu ini. (22) Sebab itu Engkau besar, ya Tuhan ALLAH, sebab tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada Allah selain Engkau menurut segala yang kami tangkap dengan telinga kami. (23) Dan bangsa manakah di bumi seperti umatMu Israel, yang Allahnya pergi membebaskannya menjadi umatNya, untuk mendapat nama bagiNya dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang besar dan dahsyat bagi mereka, dan dengan menghalau bangsa-bangsa dan para allah mereka dari depan umatNya? (24) Engkau telah mengokohkan bagiMu umatMu Israel menjadi umatMu untuk selama-lamanya, dan Engkau, ya TUHAN, menjadi Allah mereka. (25) Dan sekarang, ya TUHAN Allah, tepatilah untuk selama-lamanya janji yang Kauucapkan mengenai hambaMu ini dan mengenai keluarganya dan lakukanlah seperti yang Kaujanjikan itu. (26) Maka namaMu akan menjadi besar untuk selama-lamanya, sehingga orang berkata: TUHAN semesta alam ialah Allah atas Israel; maka keluarga hambaMu Daud akan tetap kokoh di hadapanMu. (27) Sebab Engkau, TUHAN semesta alam, Allah Israel, telah menyatakan kepada hambaMu ini, demikian: Aku akan membangun keturunan bagimu. Itulah sebabnya hambaMu ini telah memberanikan diri untuk memanjatkan doa ini kepadaMu. (28) Oleh sebab itu, ya Tuhan ALLAH, Engkaulah Allah dan segala firmanMulah kebenaran; Engkau telah menjanjikan perkara yang baik ini kepada hambaMu. (29) Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hambaMu ini, supaya tetap ada di hadapanMu untuk selama-lamanya. Sebab, ya Tuhan ALLAH, Engkau sendirilah yang berfirman dan oleh karena berkatMu keluarga hambaMu ini diberkati untuk selama-lamanya.’”.
V) Sikap Daud terhadap Firman Tuhan yang disampaikan oleh Natan.
1) Ay 18: “Lalu masuklah raja Daud ke dalam, kemudian duduklah ia di hadapan TUHAN sambil berkata: ‘Siapakah aku ini, ya Tuhan ALLAH, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?”.
KJV: ‘hitherto’ (= sampai saat ini).
RSV: ‘thus far’ (= sejauh ini).
NIV/NASB: ‘this far’ (= sejauh ini).
a) “Lalu masuklah raja Daud ke dalam, kemudian duduklah ia di hadapan TUHAN”.
Calvin mengatakan bahwa Daud mengadakan semacam ‘retreat’, untuk sendirian dengan Tuhan, dan merenung dan berdoa secara pribadi. Calvin mengatakan bahwa sekalipun ada doa bersama (dalam kebaktian), tetapi tetap perlu melakukan doa pribadi seperti ini.
Calvin: “We hear what the fortieth Psalm says, that if we applied ourselves to know how God governs us and how he disposes the condition of the human race, it would utterly surpass all our intelligence (Psa. 40:5). We could more easily count the hairs of our head a hundred times than understand the admirable providence of God as it really is.” [= Kita mendengar apa yang Maz 40 katakan, bahwa jika kita mencurahkan tenaga kita untuk mengetahui bagaimana Allah memerintah kita dan bagaimana Ia mengatur keadaan dari umat manusia, itu akan sama sekali melampaui semua kemampuan kita untuk mengerti (Maz 40:6). Kita bisa dengan lebih mudah menghitung rambut dari kepala kita 100 kali dari pada mengerti Providensia Allah yang mengagumkan sebagaimana adanya.] - ‘Sermons on 2 Samuel’, hal 354.
Maz 40:6 - “Banyaklah yang telah Kaulakukan, ya TUHAN, Allahku, perbuatanMu yang ajaib dan maksudMu untuk kami. Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Engkau! Aku mau memberitakan dan mengatakannya, tetapi terlalu besar jumlahnya untuk dihitung.”.
Calvin: “For when we are in company with some other, either we let our minds wander this way or that, or often ambition enters in so that we speak more to moral creatures than to God. For this reason, it is necessary for us to pray in such a way that only God is the witness,” (= Karena pada waktu kita bersama-sama dengan orang-orang lain, atau kita membiarkan pikiran kita mengembara kesana kemari, atau sering ambisi masuk sehingga kita berbicara lebih kepada makhluk-makhluk bermoral dari pada kepada Allah. Untuk alasan ini, adalah perlu bagi kita untuk berdoa dengan cara sedemikian rupa sehingga hanya Allah adalah saksi.) - ‘Sermons on 2 Samuel’, hal 355.
Bandingkan dengan:
Mat 14:23 - “Dan setelah orang banyak itu disuruhNya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.”.
Mark 6:31 - “Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!’ Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat.”.
Mark 6:45-46 - “(45) Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-muridNya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. (46) Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa.”.
Penerapan: dalam kesibukan duniawi kita, di tengah-tengah banyaknya problem, penderitaan, dan juga kesenangan duniawi, bahkan di tengah-tengah kesibukan pelayanan, kita harus menyediakan waktu untuk mengadakan retreat, dan sendirian bersama dengan Tuhan.
b) “Siapakah aku ini, ya Tuhan ALLAH, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?”.
Calvin: “Well, this teaches us to feel how deeply we are indebted and obligated to God, and how great is his mercy to us. It also teaches us to consider what our condition would be if God left us as we are. For until we have seriously contemplated our poverty, it is certain that our view of the goodness of God will be obscure, and we will not apprehend it as we should. Here, then, is the rule to which we must hold: in order to praise God properly, and to appreciate the favours which he gives us, let us begin to examine what we would be if he had left us in our first state. Well, then we will have reason to say that his goodness to us is inestimable.” (= Ini mengajar kita untuk merasa betapa dalamnya kita berhutang dan berkewajiban kepada Allah, dan betapa besar belas kasihanNya kepada kita. Itu juga mengajar kita untuk merenungkan bagaimana keadaan kita seandainya Allah meninggalkan kita sebagaimana adanya kita. Karena sampai kita secara serius merenungkan kemiskinan kita, adalah pasti bahwa pandangan kita tentang kebaikan Allah akan kabur, dan kita tidak akan mengertinya seperti seharusnya. Maka inilah peraturan yang harus kita pegang: supata bisa memuji Allah dengan benar, dan menghargai kebaikan-kebaikan yang Ia berikan kepada kita, marilah kita mulai memeriksa apa jadinya kita seandainya Ia meninggalkan kita dalam keadaan pertama kita. Maka kita akan mempunyai alasan untuk mengatakan bahwa kebaikanNya kepada kita adalah tidak ternilai.) - ‘Sermons on 2 Samuel’, hal 356-357.
Calvin lalu memberikan ayat ini.
Maz 8:5 - “apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?”.
Calvin: “There David, on the one hand, puts the state of man in the balance against the mercy of God. For we are poor dust of the earth. We are nothing but powder and corruption. In addition, within our souls there is nothing but filth, and we are so alienated from God that we do not merit being allowed among his creatures. Now that is what we are. On the other hand, we must recognise how God governs, nourishes, and sustains us, and how he guides our steps in such a way that he does not cease to show us that he has a more than paternal care for us.” (= Disana Daud, di satu sisi, meletakkan keadaan manusia dalam keseimbangan terhadap belas kasihan Allah. Karena kita adalah debu bumi yang malang. Kita bukan apa-apa kecuali bubuk dan kejahatan. Sebagai tambahan, di dalam jiwa kita tidak ada apapun kecuali kotoran, dan kita begitu terasing dari Allah sehingga kita tidak pantas untuk diijinkan di antara makhluk-makhluk ciptaanNya. Itulah apa adanya kita. Di sisi lain, kita harus mengenali bagaimana Allah memerintah, memberi makan, dan menopang kita, dan bagaimana Ia membimbing langkah-langkah kita dengan cara sedemikian rupa sehingga Ia tidak berhenti untuk menunjukkan kepada kita bahwa Ia mempunyai lebih dari perhatian kebapaan bagi kita.) - ‘Sermons on 2 Samuel’, hal 357.
Calvin: “Well, he even goes further in this passage, as we must too. For it is not enough that we recognise in general that we are nothing, so that the goodness of God to us is all the more admirable, but each one must consider himself in particular. For when we speak of the universal condition of men, it sounds cold, as though it were an irrelevant thought to us. We must, therefore, go beyond it, so that we recognise that men from the very greatest to the very smallest are nothing, that they are nothing but vanity and filth - on this basis each of us may consider what he is, and thus discover all the more reason to humble himself.” (= Ya, ia bahkan melanjutkan dalam text ini, seperti yang juga harus kita lakukan. Karena tidak cukup bahwa kita mengenali secara umum bahwa kita adalah nihil, sehingga kebaikan Allah bagi kita makin mengagumkan, tetapi setiap orang harus mempertimbangkan dirinya sendiri secara khusus. Karena pada saat kita berbicara tentang kondisi universal dari manusia, itu kedengaran dingin, seakan-akan itu adalah pikiran yang tidak relevan bagi kita. Karena itu, kita harus melakukan melampauinya, sehingga kita mengenali bahwa manusia dari yang terbesar / teragung sampai yang terkecil, adalah nihil, bahwa mereka bukan apa-apa kecuali kesia-siaan dan kotoran - berdasarkan hal ini setiap orang dari kita bisa mempertimbangkan apa ia itu, dan dengan demikian menemukan lebih banyak alasan untuk merendahkan dirinya sendiri.) - ‘Sermons on 2 Samuel’, hal 357.
Penerapan: bandingkan dengan kekaguman Pdt. Stephen Tong tentang Khong Hu Cu. Ini jelas bertentangan dengan pandangan Calvin tentang manusia.
Matthew Henry: “He speaks very humbly of himself and his own merits. So he begins as one astonished: ‘Who am I, O Lord God! and what is my house?’ v. 18. God had reminded him of the meanness of his original (v. 8) and he subscribed to it; he had low thoughts, (1.) Of his personal merits: ‘Who am I?’ He was upon all accounts a very considerable and valuable man. His endowments both of body and mind were extraordinary. His gifts and graces were eminent. He was a man of honour, success, and usefulness, the darling of his country and the dread of its enemies. Yet, when he comes to speak of himself before God, he says, ‘Who am I?’ A man not worth taking notice of. (2.) Of the merits of his family: ‘What is my house?’ His house was of the royal tribe, and descended from the prince of that tribe; he was allied to the best families of the country, and yet, like Gideon, thinks his family poor in Judah and himself ‘the least in his father’s house,’ Judg 6:15. David thus humbled himself when Saul’s daughter was proposed to him for a wife (1 Sam 18:18), but now with much more reason. Note, It very well becomes the greatest and best of men, even in the midst of the highest advancements, to have low and mean thoughts of themselves; for the greatest of men are worms, the best are sinners, and those that are highest advanced have nothing but what they have received. ... All our attainments must be looked upon as God’s vouchsafements” [= Ia berbicara dengan sangat rendah hati tentang dirinya sendiri dan jasa-jasanya sendiri. Maka ia mulai seperti seseorang yang terheran-heran: ‘Siapa aku ini, ya Tuhan Allah! dan apa keluargaku?’ ay 18. Allah telah mengingatkannya tentang keburukan asal usulnya (ay 8) dan ia menyetujuinya; ia mempunyai pemikiran yang rendah, (1.) Tentang jasa-jasa / kelayakan pribadinya: ‘Siapa aku?’ Pada semua perhitungan ia adalah seorang yang sangat layak dipertimbangkan dan berharga. Kemampuan tubuh maupun pikirannya adalah luar biasa. Karunia-karunia dan kasih karunianya adalah menonjol. Ia adalah orang yang terhormat, sukses, dan berguna, kesayangan dari negaranya dan menakutkan bagi musuh-musuhnya. Tetapi, pada waktu ia datang untuk berbicara tentang dirinya sendiri di hadapan Allah, ia berkata, ‘Siapa aku?’. Seseorang yang tidak layak diperhatikan. (2.) Tentang jasa / kelayakan keluarganya: Apa keluargaku?’ Keluarganya adalah dari suku kerajaan, dan diturunkan dari pangeran dari suku itu; ia tergabung pada keluarga-keluarga yang terbaik dari negara itu, tetapi seperti Gideon, berpikir bahwa keluarganya miskin di Yehuda dan dirinya sendiri ‘yang terkecil dari keluarga ayahnya’, Hak 6:15. Maka Daud merendahkan dirinya sendiri pada waktu anak perempuan Saul ditawarkan kepadanya sebagai istri (1Sam 18:18), tetapi sekarang dengan alasan yang lebih banyak. Perhatikan, adalah sangat pantas bagi orang-orang yang paling agung / besar dan baik, bahkan di tengah-tengah kemajuan-kemajuan yang tertinggi, untuk mempunyai pemikiran-pemikiran yang rendah dan buruk / hina tentang diri mereka sendiri; karena orang-orang yang terbesar / teragung adalah cacing-cacing, yang terbaik adalah orang-orang berdosa, dan mereka yang paling maju tidak mempunyai apa-apa kecuali yang telah mereka terima. ... Semua pencapaian-pencapaian kita harus dipandang sebagai pemberian-pemberian Allah].
Penerapan: apa yang saudara banggakan dalam kehidupan saudara? Bentuk tubuh, wajah, kepandaian, bakat-bakat tertentu, karunia-karunia tertentu, kekayaan, atau apa? Ingat, bahwa semua itu merupakan anugerah dari Tuhan, untuk mana saudara harus bersyukur, dan bukannya membanggakan diri!
Matthew Henry: “He speaks very highly and honourably of God’s favours to him. (1.) In what he had done for him: ‘Thou hast brought me hitherto, to this great dignity and dominion. Hitherto thou hast helped me.’ Though we should be left at uncertainty concerning further mercy, we have great reason to be thankful for that which has been done for us hitherto, Acts 26:22. (2.) In what he had yet further promised him. God had done great things for him already, and yet, as if those had been nothing, he had promised to do much more, v. 19.” [= Ia berbicara secara sangat tinggi dan hormat tentang kebaikan Allah kepadanya. (1.) Dalam apa yang telah Ia lakukan baginya: ‘Engkau telah membawa aku sampai saat ini, sampai martabat dan kekuasaan yang besar ini. Sampai saat ini Engkau telah menong aku’. Sekalipun kita ditinggalkan pada ketidak-pastian berkenaan dengan belas kasihan yang lebih jauh, kita mempunyai alasan yang besar untuk bersyukur untuk apa yang telah dilakukan bagi kita sampai saat ini, Kis 26:22. (2.) Dalam apa yang Ia telah janjikan lebih jauh kepadanya. Allah telah melakukan hal-hal besar baginya, tetapi seakan-akan hal-hal itu tidak ada, Ia telah menjanjikan untuk melakukan lebih banyak lagi, ay 19.].
c) Ay 18 ini tak menunjukkan bahwa Daud kecewa dengan larangan Tuhan baginya untuk membangun Bait Suci.
The Bible Exposition Commentary: Old Testament: “This announcement must have disappointed David, but he accepted it graciously and gave the Lord thanks for all His goodness to him. ... God’s servants must learn to accept the disappointments of life, for as A. T. Pierson used to say, ‘Disappointments are His appointments.’” [= Pengumuman ini pasti telah mengecewakan Daud, tetapi ia menerimanya dengan baik dan bersyukur kepada Tuhan untuk semua kebaikanNya kepadanya. ... Pelayan-pelayan Allah harus belajar untuk menerima kekecewaan-kekecewaan dari kehidupan, karena seperti A. T. Pierson biasa katakan, ‘Kekecewaan-kekecewaan adalah ketetapan-ketetapanNya’.].
Menurut saya, Daud tidak kecewa; dia telah belajar hal ini! Tetapi kebanyakan dari kita, atau mungkin semua kita, mungkin sekali belum mempelajarinya sehingga mudah sekali kecewa pada waktu keinginan kita ditolak oleh Tuhan.
Adalah bagus kalau kita mempercayai doktrin Reformed bahwa Allah menentukan segala sesuatu. Tetapi kalau ini tidak disertai dengan kepercayaan bahwa Allah menentukan segala sesuatu itu untuk kebaikan kita (Ro 8:28), maka kita akan mudah sekali kecewa, bahkan marah kepada Tuhan, pada saat keinginan kita tidak dikabulkan olehNya.
2) Ay 19: “Dan hal ini masih kurang di mataMu, ya Tuhan ALLAH; sebab itu Engkau telah berfirman juga tentang keluarga hambaMu ini dalam masa yang masih jauh dan telah memperlihatkan kepadaku serentetan manusia yang akan datang, ya Tuhan ALLAH.”.
Terjemahan LAI bukan hanya tidak tepat tetapi juga ada kekurangannya.
KJV: ‘And this was yet a small thing in thy sight, O Lord GOD; but thou hast spoken also of thy servant’s house for a great while to come. And is this the manner of man, O Lord GOD?’ (= Dan ini adalah suatu hal kecil dalam pandanganMu, ya Tuhan ALLAH; tetapi Engkau juga telah berbicara tentang keluarga hambaMu untuk masa yang akan datang. Dan apakah ini adalah cara manusia, ya Tuhan ALLAH?).
Ada dua hal yang berbeda:
a) Bagian yang saya garis-bawahi.
NIV menterjemahkan seperti Kitab Suci Indonesia, tetapi KJV menterjemahkan secara lebih hurufiah.
Calvin: “even when I have considered and closely watched and applied all my mental powers to commit to memory all that I have received - it is still nothing in comparison with this great goodness of God, which he has bestowed on me in infinite measure. ... For as we have seen, God was not just promising to give him Solomon, but the promise extended even to our Lord Jesus Christ.” (= bahkan pada waktu aku telah merenungkan dan mengawasi secara dekat dan menggunakan seluruh kekuatan pikiranku untuk mengingat semua yang telah aku terima - itu tetap tidak ada apa-apanya dalam perbandingan dengan kebaikan yang besar dari Allah ini, yang Ia telah berikan kepadaku dalam ukuran yang tak terbatas. ... Karena seperti telah kita lihat, Allah bukan hanya berjanji untuk memberinya Salomo, tetapi janji itu meluas bahkan kepada Tuhan kita Yesus Kristus.) - ‘Sermons on 2 Samuel’, hal 359.
b) Kalimat yang saya cetak dengan huruf besar dalam KJV tidak ada dalam Kitab Suci Indonesia / RSV, tetapi ada dalam KJV/NIV/NASB. Hanya saja NASB menterjemahkan bukan sebagai kalimat tanya.
Jamieson, Fausset & Brown: “‘And is this the manner of man, O Lord God?’, (wzo°t towrat haa°aadaam) - ‘and this is the manner of man.’ This is the rendering of Gesenius, who further explains it, ‘not of God’ - i.e., to deal with me thus so familiarly, as man with man. The Hebrew ‘Adam’ being sometimes used to denote mean persons, some render these words, ‘Is this the manner of men to deal with obscure people? And so thou hast done to me, not as to the son of a humble shepherd, but of some, illustrious sovereign, entitled to such notice.’” [= Dan apakah ini adalah cara manusia, ya Tuhan ALLAH?’, (wzo°t towrat haa°aadaam) - ‘dan ini adalah cara manusia’. Ini adalah terjemahan dari Genesius, yang menjelaskannya lebih jauh, ‘bukan dari Allah’ - yaitu, menangani aku dengan begitu akrab, seperti orang dengan orang. Karena kata Ibrani ADAM kadang-kadang digunakan untuk menunjuk kepada orang-orang yang buruk / hina, sebagian orang menterjemahkan kata ini, ‘Apakah ini adalah cara dari orang-orang untuk menangani orang-orang yang tidak dikenal? Dan demikianlah Engkau telah bertindak terhadap aku, bukan seperti kepada anak dari gembala yang rendah, tetapi dari raja yang terkenal, yang berhak untuk mendapatkan perhatian seperti itu’.].
3) Ay 20-22: “(20) Apakah yang dapat dikatakan Daud kepadaMu lebih lagi dari pada itu. Bukankah Engkau yang mengenal hambaMu ini, ya Tuhan ALLAH? (21) Oleh karena firmanMu dan menurut hatiMu Engkau telah melakukan segala perkara yang besar ini dengan memberitahukannya kepada hambaMu ini. (22) Sebab itu Engkau besar, ya Tuhan ALLAH, sebab tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada Allah selain Engkau menurut segala yang kami tangkap dengan telinga kami.”.
Tak ada hal yang penting di sini, jadi saya tak bahas apa-apa.
4) Ay 23: “Dan bangsa manakah di bumi seperti umatMu Israel, yang Allahnya pergi membebaskannya menjadi umatNya, untuk mendapat nama bagiNya dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang besar dan dahsyat bagi mereka, dan dengan menghalau bangsa-bangsa dan para allah mereka dari depan umatNya?”.
Bdk. 1Taw 17:21 - “Dan bangsa manakah di bumi seperti umatMu Israel, yang Allahnya pergi membebaskannya menjadi umatNya, untuk mendapat nama bagi-Mu dengan perbuatan-perbuatan yang besar dan dahsyat, dan dengan menghalau bangsa-bangsa dari depan umatMu yang telah Kaubebaskan dari Mesir?”.
Pulpit Commentary mengatakan bahwa dalam ayat ini kata ELOHIM (= Allah) menggunakan kata kerja bentuk jamak (‘pergi’), tetapi anehnya dalam 1Taw 17:21 yang merupakan ayat paralelnya, kata ‘pergi’ adalah kata kerja bentuk tunggal.
Pulpit Commentary: “It is remarkable that in this place the word for ‘God,’ Elohim, is followed by a verb plural, the almost invariable rule in Hebrew being that, though Elohim is itself plural, it takes a verb singular whenever it refers to the true God. In the corresponding passage (1 Chron 17:21) the verb is in the singular” (= ).
Kata ELOHIM memang adalah kata benda bentuk jamak, tetapi biasanya menggunakan kata kerja bentuk tunggal, seperti dalam Kej 1:1, dimana sekalipun subyeknya adalah ELOHIM, tetapi kata kerja yang digunakan yaitu ‘menciptakan’ merupakan kata kerja bentuk tunggal.
Contoh-contoh lain:
a. Kej 20:13 - “Ketika Allah menyuruh aku mengembara keluar dari rumah ayahku, berkatalah aku kepada isteriku: Tunjukkanlah kasihmu kepadaku, yakni: katakanlah tentang aku di tiap-tiap tempat di mana kita tiba: Ia saudaraku.’”.
Kata-kata ‘menyuruh aku mengembara’ dalam bahasa Ibraninya adalah kata kerja bentuk jamak.
b. Kej 35:7 - “Didirikannyalah mezbah di situ, dan dinamainyalah tempat itu El-Betel, karena Allah telah menyatakan diri kepadanya di situ, ketika ia lari terhadap kakaknya.”.
Kata ‘menyatakan’ dalam bahasa Ibraninya adalah kata kerja bentuk jamak.
c. Maz 58:12 - “Dan orang akan berkata: ‘Sesungguhnya ada pahala bagi orang benar, sesungguhnya ada Allah yang memberi keadilan di bumi.’”.
Kata-kata ‘memberi keadilan’ dalam bahasa Ibraninya ada dalam bentuk jamak (sebetulnya ini bukan kata kerja tetapi participle).
Padahal dalam ayat-ayat di atas ini, subyeknya juga adalah kata ‘ELOHIM’ yang digunakan untuk menyatakan Allah yang esa.
Ini semua menjadi salah satu dasar dari doktrin Allah Tritunggal.
5) Ay 24: “Engkau telah mengokohkan bagiMu umatMu Israel menjadi umatMu untuk selama-lamanya, dan Engkau, ya TUHAN, menjadi Allah mereka.”.
Calvin: “Well, this is addressed to us, for although we are not descended from the race of Abraham, though God has not brought us back from the land of Egypt, still we have been associated with these people who were elected and chosen. Indeed, the Jews, who were little ‘branches of the tree, have been cut off, and we have been grafted in’ their place (Rom. 11:17). For God has banished them from his Church, and we have entered in.” [= Ya, ini ditujukan kepada kita, karena sekalipun kita tidak diturunkan dari ras / bangsa Abraham, sekalipun Allah tidak membawa kita kembali dari tanah Mesir, tetap kita telah dihubungkan dengan orang-orang yang dipilih ini. Memang orang-orang Yahudi, yang adalah cabang-cabang kecil dari pohon telah dipotong, dan kita telah dicangkokkan di tempat mereka (Ro 11:17). Karena Allah telah membuang mereka dari GerejaNya, dan kita telah masuk.] - ‘Sermons on 2 Samuel’, hal 381.
Ro 11:17 - “Karena itu apabila beberapa cabang telah dipatahkan dan kamu sebagai tunas liar telah dicangkokkan di antaranya dan turut mendapat bagian dalam akar pohon zaitun yang penuh getah,”.
Calvin: “Now today, we have the actual fulfilment of this shadow. It was a more than miraculous deed when God stretched out his hand to bring back his people out of Egypt, but we have been redeemed in a manner even more excellent and noble. This happened when he drew us from where we were in the depths of hell, under the curse, and presented himself to us in the person of our Lord Jesus Christ. Thus, the heavens were opened to us so as to put us in possession not of the land of Canaan, but of eternal felicity” (= Sekarang kita mempunyai penggenapan yang sungguh-sungguh dari bayangan ini. Adalah suatu tindakan yang lebih dari mujijat pada waktu Allah mengulurkan tanganNya untuk membawa kembali umatNya dari Mesir, tetapi kita telah ditebus dengan suatu cara yang bahkan lebih bagus dan mulia. Ini terjadi ketika Ia menarik kita dari tempat dimana kita ada dalam kedalaman neraka, di bawah kutuk, dan memperkenalkan diriNya sendiri kepada kita dalam pribadi dari Tuhan kita Yesus Kristus. Jadi, surga dibuka bagi kita supaya kita memiliki, bukan tanah Kanaan, tetapi kebahagiaan yang kekal) - ‘Sermons on 2 Samuel’, hal 381.
Matthew Henry: “The redemption of Israel, as described here, was typical of our redemption by Christ” (= Penebusan Israel, seperti yang digambarkan di sini, merupakan TYPE dari penebusan kita oleh Kristus).
6) Ay 25-29: “(25) Dan sekarang, ya TUHAN Allah, tepatilah untuk selama-lamanya janji yang Kauucapkan mengenai hambaMu ini dan mengenai keluarganya dan lakukanlah seperti yang Kaujanjikan itu. (26) Maka namaMu akan menjadi besar untuk selama-lamanya, sehingga orang berkata: TUHAN semesta alam ialah Allah atas Israel; maka keluarga hambaMu Daud akan tetap kokoh di hadapanMu. (27) Sebab Engkau, TUHAN semesta alam, Allah Israel, telah menyatakan kepada hambaMu ini, demikian: Aku akan membangun keturunan bagimu. Itulah sebabnya hambaMu ini telah memberanikan diri untuk memanjatkan doa ini kepadaMu. (28) Oleh sebab itu, ya Tuhan ALLAH, Engkaulah Allah dan segala firmanMulah kebenaran; Engkau telah menjanjikan perkara yang baik ini kepada hambaMu. (29) Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hambaMu ini, supaya tetap ada di hadapanMu untuk selama-lamanya. Sebab, ya Tuhan ALLAH, Engkau sendirilah yang berfirman dan oleh karena berkatMu keluarga hambaMu ini diberkati untuk selama-lamanya.’”.
Mulai dari ayat ini Daud meminta kepada Tuhan. Dan di sini ia meminta Tuhan menggenapi janji-janjiNya. Percaya pada janji Tuhan, tidak berarti kita tidak perlu berusaha dan berdoa supaya janji itu diwujudkan.
Calvin: “faith is the source of all requests and prayers, as will soon be explained to us in more detail.” (= iman adalah sumber dari semua permohonan dan doa, seperti akan segera dijelaskan kepada kita secara lebih mendetail.) - ‘Sermons on 2 Samuel’, hal 387.
Matthew Henry (tentang ay 27): “He grounds his petitions upon the message which God had sent him (v. 27): ‘Thou hast revealed this to thy servant,’ that is, ‘Thou hast of thy own good will given me the promise that thou wilt build me a house, else I could never have found in my heart to pray such a prayer as this. I durst not have asked such great things if I had not been directed and encouraged by thy promise to ask them. They are indeed too great for me to beg, but not too great for thee to give.” [= Ia mendasarkan permohonan-permohonannya pada pesan yang telah Allah kirimkan kepadanya (ay 27): ‘Engkau telah menyatakan ini kepada hambaMu’, artinya ‘Engkau, dari kehendakMu sendiri yang baik, telah memberiku janji bahwa Engkau akan membangun rumah / keluarga bagiku, kalau tidak, aku tidak pernah bisa telah menemukan dalam hatiku untuk meniakkan suatu doa seperti ini. Aku tak berani meminta hal-hal sebesar ini seandainya aku tidak diarahkan dan didorong oleh janjiMu untuk memintanya. Memang hal-hal itu terlalu besar bagiku untuk meminta, tetapi tidak terlalu besar bagiMu untuk memberi.].
-Amin-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali