(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Minggu, tgl 13 April 2014, pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
II Samuel 7:1-29(1)
2Sam 7:1-29 - “(1) Ketika raja telah menetap di rumahnya dan TUHAN telah mengaruniakan keamanan kepadanya terhadap semua musuhnya di sekeliling, (2) berkatalah raja kepada nabi Natan: ‘Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut Allah diam di bawah tenda.’ (3) Lalu berkatalah Natan kepada raja: ‘Baik, lakukanlah segala sesuatu yang dikandung hatimu, sebab TUHAN menyertai engkau.’ (4) Tetapi pada malam itu juga datanglah firman TUHAN kepada Natan, demikian: (5) ‘Pergilah, katakanlah kepada hambaKu Daud: Beginilah firman TUHAN: Masakan engkau yang mendirikan rumah bagiKu untuk Kudiami? (6) Aku tidak pernah diam dalam rumah sejak Aku menuntun orang Israel dari Mesir sampai hari ini, tetapi Aku selalu mengembara dalam kemah sebagai kediaman. (7) Selama Aku mengembara bersama-sama seluruh orang Israel, pernahkah Aku mengucapkan firman kepada salah seorang hakim orang Israel, yang Kuperintahkan menggembalakan umatKu Israel, demikian: Mengapa kamu tidak mendirikan bagiKu rumah dari kayu aras? (8) Oleh sebab itu, beginilah kaukatakan kepada hambaKu Daud: Beginilah firman TUHAN semesta alam: Akulah yang mengambil engkau dari padang, ketika menggiring kambing domba, untuk menjadi raja atas umatKu Israel. (9) Aku telah menyertai engkau di segala tempat yang kaujalani dan telah melenyapkan segala musuhmu dari depanmu. Aku membuat besar namamu seperti nama orang-orang besar yang ada di bumi. (10) Aku menentukan tempat bagi umatKu Israel dan menanamkannya, sehingga ia dapat diam di tempatnya sendiri dengan tidak lagi dikejutkan dan tidak pula ditindas oleh orang-orang lalim seperti dahulu, (11) sejak Aku mengangkat hakim-hakim atas umatKu Israel. Aku mengaruniakan keamanan kepadamu dari pada semua musuhmu. Juga diberitahukan TUHAN kepadamu: TUHAN akan memberikan keturunan kepadamu. (12) Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. (13) Dialah yang akan mendirikan rumah bagi namaKu dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya. (14) Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anakKu. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia. (15) Tetapi kasih setiaKu tidak akan hilang dari padanya, seperti yang Kuhilangkan dari pada Saul, yang telah Kujauhkan dari hadapanmu. (16) Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapanKu, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya.’ (17) Tepat seperti perkataan ini dan tepat seperti penglihatan ini Natan berbicara kepada Daud. (18) Lalu masuklah raja Daud ke dalam, kemudian duduklah ia di hadapan TUHAN sambil berkata: ‘Siapakah aku ini, ya Tuhan ALLAH, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini? (19) Dan hal ini masih kurang di mataMu, ya Tuhan ALLAH; sebab itu Engkau telah berfirman juga tentang keluarga hambaMu ini dalam masa yang masih jauh dan telah memperlihatkan kepadaku serentetan manusia yang akan datang, ya Tuhan ALLAH. (20) Apakah yang dapat dikatakan Daud kepadaMu lebih lagi dari pada itu. Bukankah Engkau yang mengenal hambaMu ini, ya Tuhan ALLAH? (21) Oleh karena firmanMu dan menurut hatiMu Engkau telah melakukan segala perkara yang besar ini dengan memberitahukannya kepada hambaMu ini. (22) Sebab itu Engkau besar, ya Tuhan ALLAH, sebab tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada Allah selain Engkau menurut segala yang kami tangkap dengan telinga kami. (23) Dan bangsa manakah di bumi seperti umatMu Israel, yang Allahnya pergi membebaskannya menjadi umatNya, untuk mendapat nama bagiNya dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang besar dan dahsyat bagi mereka, dan dengan menghalau bangsa-bangsa dan para allah mereka dari depan umatNya? (24) Engkau telah mengokohkan bagiMu umatMu Israel menjadi umatMu untuk selama-lamanya, dan Engkau, ya TUHAN, menjadi Allah mereka. (25) Dan sekarang, ya TUHAN Allah, tepatilah untuk selama-lamanya janji yang Kauucapkan mengenai hambaMu ini dan mengenai keluarganya dan lakukanlah seperti yang Kaujanjikan itu. (26) Maka namaMu akan menjadi besar untuk selama-lamanya, sehingga orang berkata: TUHAN semesta alam ialah Allah atas Israel; maka keluarga hambaMu Daud akan tetap kokoh di hadapanMu. (27) Sebab Engkau, TUHAN semesta alam, Allah Israel, telah menyatakan kepada hambaMu ini, demikian: Aku akan membangun keturunan bagimu. Itulah sebabnya hambaMu ini telah memberanikan diri untuk memanjatkan doa ini kepadaMu. (28) Oleh sebab itu, ya Tuhan ALLAH, Engkaulah Allah dan segala firmanMulah kebenaran; Engkau telah menjanjikan perkara yang baik ini kepada hambaMu. (29) Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hambaMu ini, supaya tetap ada di hadapanMu untuk selama-lamanya. Sebab, ya Tuhan ALLAH, Engkau sendirilah yang berfirman dan oleh karena berkatMu keluarga hambaMu ini diberkati untuk selama-lamanya.’”.
I) Daud ingin mendirikan Bait Allah.
1) Keadaan Daud pada saat itu.
Ay 1: “Ketika raja telah menetap di rumahnya dan TUHAN telah mengaruniakan keamanan kepadanya terhadap semua musuhnya di sekeliling,”.
Hanya Tuhan yang bisa beri rest / istirahat / ketenangan (baik di luar maupun di dalam diri kita).
Matthew Henry: “David at rest. ... Though he was a man of war, he was for peace (Ps 120:7) and did not delight in war” [= Daud beristirahat / ada dalam ketenangan. ... Sekalipun ia adalah orang perang, ia adalah orang yang suka damai (Maz 120:7) dan tidak menyenangi perang].
Jangan pikir orang yang sering geger adalah orang yang tidak cinta damai!
Maz 120:7 - “Aku ini suka perdamaian, tetapi apabila aku berbicara, maka mereka menghendaki perang.”.
Jamieson, Fausset & Brown: “It has been objected that David’s purpose to erect the temple is here said to have originated when ‘the Lord had given him rest round about from all his enemies.’ There is nothing said of this in the parallel passage of Chronicles (1 Chron 17:1); and we find him involved in contests with many of the neighbouring states (2 Sam 8), which were followed by foreign wars and intestine troubles during all his life. But the statement, that he had ‘rest round about from all his enemies,’ referred to an interval of peace which occurred shortly after his succession, on the discomfiture of the Philistines, with whom, according to Josephus, the Syrians and Phoenicians were combined in two successive campaigns (see the notes at 2 Sam 5:17-25) - a defeat so complete that they ceased for a long time to invade the Hebrew territory. This interval of peace was remarkable; and David most probably fancied it to be the period referred to by Moses (Deut 12:10-11) for the erection of a national place of worship” [= Telah diajukan keberatan bahwa rencana Daud untuk mendirikan Bait Allah di sini dikatakan telah muncul ketika ‘Tuhan telah memberinya istirahat / keamanan di sekitarnya dari musuh-musuhnya’. Tidak ada apapun yang dikatakan tentang hal ini dalam text paralelnya dari Tawarikh (1Taw 17:1); dan kita mendapati dia terlibat dalam peperangan dengan banyak negara-negara tetangga (2Sam 8), yang diikuti oleh perang-perang asing dan kesukaran-kesukaran / problem-problem internal dalam sepanjang hidupnya. Tetapi pernyataan, bahwa ia mendapatkan ‘istirahat / ketenangan di sekitarnya dari semua musuh-musuhnya’, menunjuk pada suatu waktu damai yang terjadi tak lama setelah kenaikannya menjadi raja, pada kemenangannya terhadap orang-orang Filistin, dengan siapa, menurut Yosephus, orang-orang Siria dan Fenesia digabungkan, dalam dua pertempuran berturut-turut (lihat catatan pada 2Sam 5:17-25) - suatu kekalahan yang begitu menyeluruh / sempurna sehingga mereka berhenti untuk waktu yang lama untuk menyerang daerah orang Ibrani. Waktu damai ini merupakan sesuatu yang menyolok; dan sangat mungkin bahwa Daud membayangkannya sebagai masa yang ditunjuk oleh Musa (Ul 12:10-11) untuk pendirian suatu tempat ibadah nasional].
1Taw 17:1 - “Setelah Daud menetap di rumahnya, berkatalah ia kepada nabi Natan: ‘Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut perjanjian TUHAN itu ada di bawah tenda-tenda.’”.
Ul 12:10-11 - “(10) Tetapi apabila nanti sudah kamu seberangi sungai Yordan dan kamu diam di negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk dimiliki, dan apabila Ia mengaruniakan kepadamu keamanan dari segala musuhmu di sekelilingmu, dan kamu diam dengan tenteram, (11) maka ke tempat yang dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat namaNya diam di sana, haruslah kamu bawa semuanya yang kuperintahkan kepadamu, yakni korban bakaran dan korban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu dan segala korban nazarmu yang terpilih, yang kamu nazarkan kepada TUHAN”.
Wilmington’s Bible Handbook (Bible Survey): “David used this time of rest not for self-indulgent pleasure but for meditation and plans for future ministry. Later, David would take a vacation when he should have been at war, with disastrous results (11)” [= Daud menggunakan waktu istirahat / ketenangan ini bukan untuk kesenangan yang memuaskan diri sendiri, tetapi untuk meditasi / perenungan dan rencana untuk pelayanan di masa yang akan datang. Belakangan, Daud mengambil liburan pada saat ia seharusnya berperang, dengan akibat yang bersifat menghancurkan (2Sam 11)].
2Sam 11:1-4 - “(1) Pada pergantian tahun, pada waktu raja-raja biasanya maju berperang, maka Daud menyuruh Yoab maju beserta orang-orangnya dan seluruh orang Israel. Mereka memusnahkan bani Amon dan mengepung kota Raba, sedang Daud sendiri tinggal di Yerusalem. (2) Sekali peristiwa pada waktu petang, ketika Daud bangun dari tempat pembaringannya, lalu berjalan-jalan di atas sotoh istana, tampak kepadanya dari atas sotoh itu seorang perempuan sedang mandi; perempuan itu sangat elok rupanya. (3) Lalu Daud menyuruh orang bertanya tentang perempuan itu dan orang berkata: ‘Itu adalah Batsyeba binti Eliam, isteri Uria orang Het itu.’ (4) Sesudah itu Daud menyuruh orang mengambil dia. Perempuan itu datang kepadanya, lalu Daud tidur dengan dia. Perempuan itu baru selesai membersihkan diri dari kenajisannya. Kemudian pulanglah perempuan itu ke rumahnya.”.
Bdk. Kej 4:7 - “Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.’”.
2) Daud menyatakan keinginannya untuk membangun Bait Allah kepada nabi Natan.
Ay 2: “berkatalah raja kepada nabi Natan: ‘Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut Allah diam di bawah tenda.’”.
a) Ini pertamakalinya ada nabi Natan muncul dalam Alkitab.
Barnes’ Notes: “‘Nathan the prophet.’ Here first mentioned, but playing an important part afterward (e.g. 2 Sam 12:1; 1 Kings 1:10; 1 Chron 29:29; 2 Chron 9:29). From the two last passages it appears that he wrote the history of David’s reign, and a part at least of Solomon’s” [= ‘Natan sang nabi’. Di sini disebutkan untuk pertamakalinya, tetapi memainkan peranan yang penting belakangan (misalnya 2Sam 12:1; 1Raja 1:10; 1Taw 29:29; 2Taw 9:29). Dari 2 text yang terakhir terlihat bahwa ia menulis sejarah pemerintahan Daud, dan sedikitnya sebagian dari pemerintahan Salomo].
1Taw 29:29 - “Sesungguhnya, riwayat raja Daud dari awal sampai akhir tertulis dalam riwayat Samuel, pelihat itu, dan dalam riwayat nabi Natan, dan dalam riwayat Gad, pelihat itu,”.
2Taw 9:29 - “Selebihnya dari riwayat Salomo dari awal sampai akhir, bukankah semuanya itu tertulis dalam riwayat nabi Natan dan dalam nubuat Ahia, orang Silo itu, dan dalam penglihatan-penglihatan Ido, pelihat itu, tentang Yerobeam bin Nebat?”.
b) Pulpit Commentary mengatakan bahwa penempatan cerita ini di sini, setelah pemindahan tabut Tuhan ke Yerusalem, menunjukkan bahwa Daud memang memindahkan tabut Tuhan ke Yerusalem, dengan maksud mendirikan Bait Allah di Yerusalem.
c) Ada sesuatu yang bagus dalam diri Daud.
Ada sesuatu yang bagus dalam diri Daud, yaitu: Pada waktu ia sudah jaya dan diam dalam sebuah rumah yang bagus, ia tidak melupakan Tuhan, dan ia mau melakukan hal yang baik bagi Tuhan, yaitu membangun rumah untuk Tuhan. Biasanya pada waktu seseorang sudah mempunyai rumah yang bagus, ia ingin membangun rumah yang lain yang lebih bagus, lalu membangun villa, lalu membeli banyak tanah, lalu membeli banyak mobil, perhiasan, dan seterusnya. Tetapi Daud tidak demikian.
Kita harus meniru Daud dalam persoalan ini. Dalam keadaan tenang dan makmur, ia tidak lupa Tuhan, bahkan ia ingin melakukan sesuatu bagi Tuhan, yaitu membangun Bait Allah!
Calvin: “Therefore, in the first place, David is to be greatly praised for this worthy desire because ‘he was at rest in his house’ (2Sam 7:1). He did not forget this blessing that God had given him, nor lose himself in his pleasure, disregard God and become dissolute. Rather, he saw to it that God was served and adored as he deserved. Such discretion is rarely seen in the lives of the prosperous. Instead, they are intoxicated with the easy lives and thus become proud and despise God, and give themselves completely to evil.” [= Karena itu, di tempat pertama, Daud harus sangat dipuji untuk keinginan yang pantas / berguna karena ‘ia ada dalam damai / keamanan dalam rumahnya’ (2Sam 7:1). Ia tidak lupa berkata ini bahwa Allah telah memberinya, ataupun kehilangan dirinya sendiri dalam kesenangannya, mengabaikan Allah dan menjadi tak terkendali. Sebaliknya, ia menjaga supaya Allah dilayani / disembah dan dipuja seperti yang Ia layak dapatkan. Kebijaksanaan seperti itu jarang terlihat dalam kehidupan dari orang-orang yang makmur. Sebaliknya, mereka dimabukkan oleh hidup yang mudah dan lalu menjadi sombong dan meremehkan Allah, dan menyerahkan diri mereka sendiri sepenuhnya pada kejahatan.] - ‘Sermons on Second Samuel’, hal 296.
Calvin: “Now here is where we should emulate David. If God gives us rest and prosperity, let us not be so ill advised as to throw caution to the winds and act like wild stallions, giving ourselves licence to abuse the liberality which he bestows upon us. Rather, let us realise that more than ever we must commit ourselves to his service, and seriously consider how he can be honoured in purity as he deserves, thus showing that we are not ungrateful for so many benefits that we have received from his hand.” (= Di sinilah kita harus berusaha menandingi / menyamai Daud. Jika Allah memberi kita ketenangan / keamanan dan kemakmuran, hendaklah kita tidak begitu keliru sehingga mengabaikan sikap berhati-hati dan bertindak seperti kuda jantan liar, memberi diri kita sendiri ijin / kebebasan untuk menyalah-gunakan kemurahan hati yang Ia anugerahkan kepada kita. Sebaliknya, hendaklah kita menyadari bahwa lebih dari kapanpun kita harus menyerahkan diri kita sendiri pada pelayananNya, dan dengan serius mempertimbangkan bagaimana Ia bisa dihormati dalam kemurnian seperti yang Ia layak dapatkan, dan dengan demikian menunjukkan bahwa kita bukannya tidak tahu terima kasih untuk begitu banyak kebaikan yang telah kita terima dari tanganNya.) - ‘Sermons on Second Samuel’, hal 297.
Penerapan: Kalau kita menjadi makmur, mempunyai jabatan yang tinggi, menjadi kaya, dan sebagainya, kita harus tetap ingat bahwa semua itu merupakan berkat Tuhan, dan kita tidak boleh ‘lupa daratan’, lebih-lebih kita tidak boleh lupa Tuhan, tetapi sebaliknya, kita bahkan harus makin berjuang untuk menyenangkan dan memuliakan Tuhan.
Bdk. Ul 32:15 - “Lalu menjadi gemuklah Yesyurun, dan menendang ke belakang, - bertambah gemuk engkau, gendut dan tambun - dan ia meninggalkan Allah yang telah menjadikan dia, ia memandang rendah gunung batu keselamatannya.”.
Adam Clarke (tentang Ul 32:15): “‘Jeshurun’ Yashuruwn, the upright. This appellative is here put for Israel, and as it comes from yaashar, ‘he was right, straight’” (= ‘Yesyurun’. YEsYurun, si orang lurus / jujur. Sebutan ini di sini digunakan untuk Israel, dan itu datang dari YASYAR, ‘ia adalah benar, lurus’).
Jadi, ayat ini menggambarkan / menubuatkan Israel, yang pada waktu menjadi makmur, menjadi sombong dan meninggalkan Tuhan.
Bdk. Amsal 30:7-9 - “(7) Dua hal aku mohon kepadaMu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: (8) Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. (9) Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkalMu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.”.
Matthew Henry: “David had been uneasy till he found out a place for the ark (Ps 132:4,5), and now he is uneasy till he finds out a better place. Gracious grateful souls, (1.) Never think they can do enough for God, but, when they have done much, are still projecting to do more and devising liberal things. (2.) They cannot enjoy their own accommodations while they see the church of God in distress and under a cloud. David can take little pleasure in a house of cedar for himself, unless the ark have one. Those who stretched themselves upon beds of ivory, and were not grieved for the affliction of Joseph, though they had David’s music, had not David’s spirit (Amos 6:4,6) nor those who dwelt in their ceiled houses while God’s house lay waste” [= Daud merasa tidak tenang sampai ia mendapatkan suatu tempat untuk tabut (Maz 132:4-5), dan sekarang ia merasa tidak tenang sampai ia menemukan suatu tempat yang lebih baik. Jiwa-jiwa yang penuh rasa terima kasih dan murah hati, (1) Tidak pernah berpikir mereka bisa melakukan cukup bagi Allah, tetapi, pada waktu mereka telah melakukan banyak, mereka tetap mengusahakan untuk melakukan lebih banyak lagi dan merencanakan hal-hal yang baik. (2) Mereka tidak bisa menikmati tempat tinggal mereka sendiri sementara mereka melihat gereja Allah dalam keadaan yang menyedihkan dan berada di bawah awan. Daud bisa menikmati sedikit kesenangan dalam sebuah rumah dari kayu aras untuk dirinya sendiri, kecuali tabut juga mempunyai sebuah rumah. Orang-orang yang membaringkan diri mereka sendiri di ranjang dari gading, dan tidak sedih karena penderitaan (keturunan) Yusuf, sekalipun mereka mempunyai musik dari Daud, mereka tidak mempunyai roh Daud (Amos 6:4,6), demikian juga dengan mereka yang tinggal di rumah-rumah yang beratap sementara rumah Allah terbengkalai].
Maz 132:1-5 - “(1) [Nyanyian ziarah.] Ingatlah, ya TUHAN, kepada Daud dan segala penderitaannya, (2) bagaimana ia telah bersumpah kepada TUHAN, telah bernazar kepada Yang Mahakuat dari Yakub: (3) ‘Sesungguhnya aku tidak akan masuk ke dalam kemah kediamanku, tidak akan berbaring di ranjang petiduranku, (4) sesungguhnya aku tidak akan membiarkan mataku tidur atau membiarkan kelopak mataku terlelap, (5) sampai aku mendapat tempat untuk TUHAN, kediaman untuk Yang Mahakuat dari Yakub.’”.
Amos 6:1-6 - “(1) ‘Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion, atas orang-orang yang merasa tenteram di gunung Samaria, atas orang-orang terkemuka dari bangsa yang utama, orang-orang yang kepada mereka kaum Israel biasa datang! (2) Menyeberanglah ke Kalne, dan lihat-lihatlah; berjalanlah dari sana ke Hamat yang besar itu, dan pergilah ke Gat orang Filistin! Adakah mereka lebih baik dari kerajaan-kerajaan ini, atau lebih besarkah daerah mereka dari daerahmu? (3) Hai kamu, yang menganggap jauh hari malapetaka, tetapi mendekatkan pemerintahan kekerasan; (4) yang berbaring di tempat tidur dari gading dan duduk berjuntai di ranjang; yang memakan anak-anak domba dari kumpulan kambing domba dan anak-anak lembu dari tengah-tengah kawanan binatang yang tambun; (5) yang bernyanyi-nyanyi mendengar bunyi gambus, dan seperti Daud menciptakan bunyi-bunyian bagi dirinya; (6) yang minum anggur dari bokor, dan berurap dengan minyak yang paling baik, tetapi tidak berduka karena hancurnya keturunan Yusuf!”.
Kata ‘bunyi-bunyian’ dalam ay 5 dalam KJV/RSV diterjemahkan ‘instruments of music’ (= alat-alat musik).
Matthew Henry: “Now that he was not called out to serve God and Israel in the high places of the field, he would employ his thoughts, and time, and estate, in serving him another way, and not indulge himself in ease, much less in luxury. When God, in his providence, gives us rest, and finds us little to do of worldly business, we must do so much the more for God and our souls. How different were the thoughts of David when he sat in his palace from Nebuchadnezzar’s when he walked in his! Dan 4:29,30. That proud man thought of nothing but the might of his own power, and the honour of his own majesty; this humble soul is full of contrivance how to glorify God, and give honour to him” (= Sekarang bahwa ia tidak dipanggil untuk melayani Allah dan Israel di tempat-tempat tinggi di padang, ia mau menggunakan pikiran, dan waktu, dan tanah / miliknya, untuk melayani Dia dengan cara yang lain, dan bukannya memuaskan dirinya sendiri dalam kesenangan / ketenteraman, apalagi dalam kemewahan. Pada waktu Allah, dalam ProvidensiaNya, memberi kita istirahat / keamanan, dan mendapati kita hanya punya sedikit untuk dilakukan dalam urusan duniawi, kita harus melakukan begitu banyak untuk Allah dan jiwa-jiwa kita. Betapa berbedanya pikiran-pikiran Daud pada saat ia duduk di istananya dengan pikiran Nebukadnezar pada waktu ia berjalan-jalan di istananya! Dan 4:29-30. Orang sombong itu tidak memikirkan apapun kecuali kekuatan dari kuasanya sendiri, dan kehormatan dari keagungannya sendiri; jiwa yang rendah hati ini penuh dengan penemuan bagaimana memuliakan Allah, dan memberikan kehormatan kepadaNya).
Daniel 4:29-30 - “(29) sebab setelah lewat dua belas bulan, ketika ia sedang berjalan-jalan di atas istana raja di Babel, (30) berkatalah raja: ‘Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?’”.
Matthew Henry: “David’s thought of building a temple for the honour of God. He had built a palace for himself and a city for his servants; and now he thinks of building a habitation for the ark. … Thus he would make a grateful return for the honours God put upon him. Note, When God, in his providence, has remarkably done much for us, it should put us upon contriving what we may do for him and his glory. What shall I render unto the Lord?” (= Pikiran Daud tentang pambangunan Bait Allah demi kehormatan Allah. Ia telah membangun sebuah istana untuk dirinya sendiri dan suatu kota untuk pelayan-pelayannya; dan sekarang ia berpikir tentang pembangunan suatu tempat tinggal untuk tabut. ... Dengan demikian ia akan membuat suatu balasan yang penuh rasa terima kasih untuk kehormatan-kehormatan yang Allah letakkan di atasnya. Perhatikan, Pada waktu Allah, dalam providensiaNya, telah melakukan banyak hal untuk kita, itu harus memberikan kita beban untuk mengusahakan / merencanakan apa yang bisa kita lakukan bagiNya dan untuk kemuliaanNya. Apa yang akan saya sumbangkan / berikan kepada Tuhan?).
The Biblical Illustrator (Old Testament): “So, said David, look at the condition of affairs: I dwell in a house of cedar, and the ark of God dwelleth within curtains, etc. ... To be at ease whilst His house is without a roof is to proclaim oneself no child of Heaven” (= Maka, kata Daud, lihatlah pada kondisi dari keadaan ini: Aku tinggal dalam sebuah rumah dari kayu aras, dan tabut Allah tinggal di tenda, dsb. ... Merasa tetap tenang / senang, sementara RumahNya tanpa atap, berarti menyatakan diri sendiri sebagai bukan anak Surga).
Bandingkan dengan orang-orang Yahudi pada jaman Hagai.
Hagai 1:2-4 - “(2) ‘Beginilah firman TUHAN semesta alam: Bangsa ini berkata: Sekarang belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah TUHAN!’ (3) Maka datanglah firman TUHAN dengan perantaraan nabi Hagai, bunyinya: (4) ‘Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?”.
The Biblical Illustrator (Old Testament): “But it is somewhat strange that we hear so seldom of rich Christian men devoting their superfluous wealth to maintaining a mission station with a full staff of labourers, or to the rearing of colleges, or hospitals, or Christian institutions, which might provide on a large scale for Christian activity in ways that might be wonderfully useful. It is in this direction that there is most need to press the example of David” (= Tetapi merupakan sesuatu yang agak aneh bahwa kita begitu jarang mendengar tentang orang-orang Kristen kaya yang membaktikan kekayaan mereka yang berlebihan untuk membiayai tempat missi dengan suatu staf penuh dari pekerja-pekerja, atau untuk pendirian / perluasan fakultas-fakultas, atau rumah sakit - rumah sakit, atau lembaga-lembaga Kristen, yang bisa menyediakan secara besar-besaran untuk aktivitas Kristen dengan cara-cara yang bisa sangat berguna. Dalam arah inilah paling dibutuhkan untuk menekankan teladan Daud).
The Biblical Illustrator (Old Testament): “Mathew Henry says: Note: When God, in His providence, has remarkably done much for us, it should put us upon contriving what we may do for Him and His glory. ‘What shall I render unto the Lord?’ And John Trapp adds: ‘Ahab dwelt in a palace of ivory, and yet had no thoughts of heart for God and His service.’ David and Ahab both have their like among the sons of men” [= Matthew Henry berkata: Perhatikan: Pada waktu Allah, dalam ProvidensiaNya, telah melakukan banyak hal secara luar biasa / menyolok untuk kita, itu harus membebani kita untuk merencanakan apa yang bisa kita lakukan untukNya dan kemuliaanNya. ‘Apa yang akan saya berikan untuk Tuhan?’ Dan John Trapp menambahkan: ‘Ahab tinggal dalam sebuah istana gading (1Raja 22:39), tetapi tidak mempunyai pikiran dari hati untuk Allah dan pelayananNya’. Daud dan Ahab keduanya mempunyai orang-orang yang mirip seperti mereka di antara anak-anak manusia].
The Biblical Illustrator (Old Testament): “To the feelings of the godly a disreputable place of worship, contrasting meanly with the taste and elegance of the hall, or even the villa, is a pain and a reproach. What we have more need to look at is the disproportion of the sums paid by rich men, and even by men who can hardly be called rich, in gratifying their own tastes and in extending the kingdom of Christ” [= Bagi perasaan orang saleh suatu tempat ibadah yang jelek, kontras secara hina dengan kwalitet rasa dan kemewahan dari ruangan tempat tinggal, atau bahkan villa, merupakan sesuatu yang menyakitkan dan suatu celaan. Apa yang perlu lebih kita perhatikan adalah ketidak-seimbangan dari jumlah (uang) yang dibayar oleh orang-orang kaya, dan bahkan oleh orang-orang yang hampir tidak bisa disebut kaya, dalam memuaskan selera mereka sendiri dan dalam perluasan kerajaan Kristus].
Renungkan: berapa uang yang saudara keluarkan untuk makan, beli pakaian, beli barang-barang mewah (blackberry??), piknik, jalan-jalan ke luar negeri? Dan berapa uang yang saudara persembahkan untuk Tuhan? Pantaskah perimbangannya?
d) Dalam diri Daud juga ada sesuatu yang salah.
Daud ingin memuliakan Tuhan, ia ingin membangun Bait Allah itu untuk menyenangkan Tuhan. Ia bukannya memasukkan takhyul atau penyembahan berhala ke dalamnya, ia bukannya melakukan semua itu untuk keuntungannya sendiri, tetapi betul-betul mempunyai maksud yang baik dengan pendirian Bait Allah tersebut.
Ini terlihat dari 1Raja 8:17-19 - “(17) Lalu raja melanjutkan: ‘Ketika Daud, ayahku bermaksud mendirikan rumah untuk nama TUHAN, Allah Israel, (18) berfirmanlah TUHAN kepadanya: Engkau bermaksud mendirikan rumah untuk namaKu, dan maksudmu itu memanglah baik; (19) hanya, bukanlah engkau yang akan mendirikan rumah itu, melainkan anak kandungmu yang akan lahir kelak, dialah yang akan mendirikan rumah itu untuk namaKu.”.
Tetapi tak peduli tindakannya baik, dan motivasi / maksudnya juga baik, itu belum tentu merupakan kehendak Tuhan!
Matthew Henry: “It was certainly a good work, but it was uncertain whether it was the will of God that David should have the doing of it” (= Itu pasti merupakan suatu pekerjaan yang baik, tetapi adalah tidak pasti apakah itu merupakan kehendak Allah bahwa Daudlah yang melakukan hal itu).
Calvin: “What was wrong, then? Simply that he did not wait for God to declare his will to him, and say: ‘It is you who ought to build me a temple’.” (= Lalu, apa yang salah? Hanya karena ia tidak menunggu Allah untuk menyatakan kehendakNya kepadanya, dan berkata: ‘Engkaulah yang harus membangun Bait Suci untukKu’.) - ‘Sermons on Second Samuel’, hal 298.
Calvin: “whenever we are strongly motivated to honour God, let us not be guided by our own imagination. Let us not attempt anything beyond his Word, but rather be so in line with it that we allow him to govern us and guide us by the path that he knows to be right.” (= pada waktu kita didorong dengan kuat untuk menghormati Allah, biarlah kita tidak dipimpin oleh khayalan kita sendiri. Hendaknya kita tidak mengusahakan apapun yang melampaui FirmanNya, tetapi begitu sejalan dengannya sehingga kita mengijinkan Dia untuk memerintah kita dan memimpin kita oleh jalan yang Ia tahu sebagai benar.) - ‘Sermons on Second Samuel’, hal 298.
Calvin: “Thus, we know that zeal cannot be considered good unless it is properly directed.” (= Karena itu, kita tahu bahwa semangat tidak bisa dianggap baik kecuali semangat itu diarahkan secara benar.) - ‘Sermons on Second Samuel’, hal 297.
Amsal 19:2 - “Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah.”.
NIV: ‘It is not good to have zeal without knowledge, nor to be hasty and miss the way.’ (= Tidaklah baik untuk mempunyai semangat tanpa pengetahuan, ataupun untuk tergesa-gesa dan salah jalan / arah.).
Jadi, bagian ini memperingatkan kita untuk tidak secara sembrono melakukan hal-hal baik yang muncul dalam pikiran kita, sekalipun motivasinya baik.
Contoh:
1. Pengkhotbah / kyai Islam yang bertobat / menjadi kristen, langsung menjadi pendeta, tanpa sekolah theologia. Mungkin motivasinya baik, tetapi ini jelas bertentangan dengan 1Tim 3:6 yang mengatakan bahwa syarat dari penilik jemaat / penatua adalah “Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis.”.
2. Panti asuhan untuk anak-anak korban perkosaan, kalau tidak ada yang mengadopsi anak-anak itu, maka anak-anak itu dididik untuk menjadi hamba Tuhan!
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali