Kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

Minggu, tgl 15 Januari 2012, pk 17.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

II Samuel 6:1-23(3)

2Sam 6:8-13 - “(8) Daud menjadi marah, karena TUHAN telah menyambar Uza demikian hebatnya; maka tempat itu disebut orang Peres-Uza sampai sekarang. (9) Pada waktu itu Daud menjadi takut kepada TUHAN, lalu katanya: ‘Bagaimana tabut TUHAN itu dapat sampai kepadaku?’ (10) Sebab itu Daud tidak mau memindahkan tabut TUHAN itu ke tempatnya, ke kota Daud, tetapi Daud menyimpang dan membawanya ke rumah Obed-Edom, orang Gat itu. (11) Tiga bulan lamanya tabut Tuhan itu tinggal di rumah Obed-Edom, orang Gat itu, dan TUHAN memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya. (12) Diberitahukanlah kepada raja Daud, demikian: ‘TUHAN memberkati seisi rumah Obed-Edom dan segala yang ada padanya oleh karena tabut Allah itu.’ Lalu Daud pergi mengangkut tabut Allah itu dari rumah Obed-Edom ke kota Daud dengan sukacita. (13) Apabila pengangkat-pengangkat tabut TUHAN itu melangkah maju enam langkah, maka ia mengorbankan seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan”.

 

7)   Sikap Daud.

 

a)            Daud marah.

Ay 8: “Daud menjadi marah, karena TUHAN telah menyambar Uza demikian hebatnya; maka tempat itu disebut orang Peres-Uza sampai sekarang.”.

 

1.   Tidak jelas Daud marah kepada siapa, kepada dirinya sendiri atau kepada Tuhan atau kepada peristiwa itu?

Keil & Delitzsch mengatakan bahwa Daud bukan marah kepada Tuhan, tetapi kepada peristiwa / bencana itu, atau pada penyebab bencana itu, yaitu dirinya sendiri, karena ia yang menghendaki pemindahan tabut itu.

Tetapi Calvin dan Matthew Henry menganggap bahwa Daud memang marah kepada Tuhan. Dan kalau dilihat kalimat dari ay 8 itu, memang arahnya lebih sesuai dengan penafsiran dari Calvin dan Matthew Henry.

 

Matthew Henry: He was displeased. It is not said because Uzzah had affronted God, but because God had made a breach upon Uzzah (v. 8): ‘David’s anger was kindled.’ It is the same word that is used for God’s displeasure, v. 7. Because God was angry, David was angry and out of humour. As if God might not assert the honour of his ark, and frown upon one that touched it rudely, without asking David leave. Shall mortal man pretend to be more just than God, arraign his proceedings, or charge him with iniquity? David did not now act like himself, like ‘a man after God’s own heart.’ It is not for us to be displeased at any thing that God does, how unpleasing soever it is to us [= Ia marah / tidak senang. Tidak dikatakan karena Uza telah menghina Allah, tetapi karena Allah telah menyambar Uza (ay 8): ‘Daud menjadi marah’. Adalah kata yang sama yang digunakan untuk ketidak-senangan / kemarahan Allah, ay 7. Karena Allah marah, Daud marah. Seakan-akan Allah tidak boleh menyatakan kehormatan dari tabutNya, dan merengutkan muka kepada orang yang menyentuhnya dengan tidak sopan, tanpa meminta ijin Daud. Apakah manusia yang fana akan menganggap diri lebih benar dari Allah, menyalahkan cara bekerja Allah, atau menuduhNya dengan kesalahan / ketidak-adilan? Daud saat ini tidak bertindak seperti dirinya sendiri, seperti ‘orang yang mengikuti hati Allah’. Kita tidak boleh tidak senang / marah pada apapun yang Allah lakukan, bagaimanapun tidak menyenangkannya hal itu bagi kita].

 

2.      Daud menamai tempat itu Perez-Uza.

Ay 8b: maka tempat itu disebut orang Peres-Uza sampai sekarang.

RSV/NIV/NASB/ASV menterjemahkan seperti Kitab Suci Indonesia, yang tidak menunjukkan siapa yang memberikan nama itu.

KJV/NKJV: he called the name of the place Perezuzzah to this day (= ia menyebut nama tempat itu Perez-Uza sampai sekarang).

Dari terjemahan KJV/NKJV ini kelihatannya Daudlah yang memberikan nama itu. Kalau dilihat dari bahasa Ibraninya maka saya berpendapat terjemahan KJV/NKJV yang benar. Kata Ibraninya adalah VAYIQRA [= ‘and he called’ (= dan ia menyebut)]. Kata ‘he’ (= ia) itu seharusnya memang ada. Jadi Daudlah yang memberikan nama itu.

 

Sebetulnya tidak jelas apa tujuan Daud menamai tempat itu seperti itu. Tetapi perhatikan pandangan Matthew Henry tentang hal ini.

Matthew Henry: He took care to perpetuate the remembrance of this stroke by a new name he gave to the place: Perez-uzzah, the breach of Uzzah (= Ia menjaga untuk mengabadikan ingatan tentang pukulan ini dengan suatu nama baru yang ia berikan pada tempat itu: Perez-Uza, pelanggaran Uza).

 

b)            Daud menjadi takut.

Ay 9: “Pada waktu itu Daud menjadi takut kepada TUHAN, lalu katanya: ‘Bagaimana tabut TUHAN itu dapat sampai kepadaku?’”.

 

Matthew Henry: He should rather have said, ‘Let the ark come to me, and I will take warning by this to treat it with more reverence. (= Ia seharusnya mengatakan, ‘Biarlah tabut itu datang kepadaku, dan aku akan memperhatikan peringatan dari hal ini untuk memperlakukannya dengan lebih hormat / takut’).

 

Calvin mengatakan rasa takut Daud kepada Allah merupakan sesuatu yang baik. Tetapi di atas hal yang baik itu ia membangun hal yang salah. Kita juga bisa seperti itu. Misalnya, kita takut kepada Allah, dan lalu tidak melayani Dia karena takut kalau-kalau kita melayaniNya secara salah, sehingga membangkitkan murkaNya.

 

Calvin: “Thus, let us note that in fearing God, we must maintain a balance and know where this fear should lead us” (= Maka, hendaklah kita memperhatikan bahwa dalam takut kepada Allah, kita harus mempertahankan suatu keseimbangan dan tahu kemana rasa takut ini harus membimbing kita) - ‘Sermons on 2Samuel’, hal 254.

 

Kita bisa membangun hal yang salah di atas seadanya hal benar yang ada pada kita. Misalnya kepercayaan pada doktrin tentang predestinasi merupakan sesuatu yang baik, tetapi kalau itu menyebabkan kita tidak memberitakan Injil, itu salah.

Kepercayaan bahwa hanya iman yang menyelamatkan kita merupakan sesuatu yang baik. Tetapi kalau itu menyebabkan kita tidak mengusahakan pengudusan maka itu sesuatu yang salah.

Keselamatan tidak bisa hilang merupakan kepercayaan yang benar dan baik, tetapi kalau itu menyebabkan kita berani berbuat dosa, itu sesuatu yang salah.

 

c)      Daud menghentikan usaha pemindahan tabut ke Yerusalem, dan menempatkannya di rumah Obed-Edom.

Ay 10: “Sebab itu Daud tidak mau memindahkan tabut TUHAN itu ke tempatnya, ke kota Daud, tetapi Daud menyimpang dan membawanya ke rumah Obed-Edom, orang Gat itu”.

 

1.   Apa yang Daud pikirkan, putuskan dan lakukan tadi, yaitu memindahkan tabut ke Yerusalem, merupakan sesuatu yang bagus. Tetapi karena adanya bencana ia menghentikan semuanya. Seharusnya yang ia lakukan adalah introspeksi, bertobat dari kesalahannya, dan melanjutkan usaha tadi. Bandingkan dengan Yosua yang mengalami kekalahan dari Ai. Ia melakukan introspeksi, membersihkan dosa dari antara Israel, lalu melanjutkan usahanya menyerang Ai, dan ia berhasil.

 

Matthew Henry: David’s feelings on the infliction of this stroke were keen, and perhaps not altogether as they should have been. He should have humbled himself under God’s hand, confessed his error, acknowledged God’s righteousness, and deprecated the further tokens of his displeasure, and then have gone on with the good work he had in hand (= Perasaan Daud terhadap pemberian pukulan ini keras, dan mungkin sama sekali tidak seperti yang seharusnya. Ia harus merendahkan dirinya di bawah tangan Allah, mengakui kesalahannya, mengakui kebenaran Allah, dan mencela tanda-tanda selanjutnya dari kemarahan / ketidak-senangannya, dan lalu melanjutkan pekerjaan baik yang ia punyai dalam tangannya).

 

2.   Daud takut membawa tabut itu ke Yerusalem, kalau-kalau tabut itu membawa bencana kepada dia. Tetapi kalau demikian, mengapa ia lalu menempatkan tabut itu di rumah Obed-Edom? Bukankah ini suatu tindakan egois dan kurang ajar? Apakah ia tak peduli kalau bencana itu lalu mengenai Obed-Edom dan keluarganya?

 

II) Tabut Tuhan di rumah Obed Edom.

 

1)            Keberadaan tabut itu di rumah Obed-Edom menyebabkan Tuhan memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya (ay 11).

Ay 11: “Tiga bulan lamanya tabut Tuhan itu tinggal di rumah Obed-Edom, orang Gat itu, dan TUHAN memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya.”.

 

The Biblical Illustrator (Old Testament): When the ark had been left at the house of Obed-edom, Obed-edom was not afraid to take it in. Its presence in other places had hitherto been the signal for disaster and death. It is not so much God’s ark in our time and country that needs a lodging, but God’s servants, God’s poor, sometimes persecuted fugitives flying from an oppressor, very often pious men in foreign countries labouring under infinite discouragements to serve God. The Obed-edom who takes them in will not suffer (= Pada waktu tabut itu ditinggalkan di rumah Obed-Edom, Obed-Edom tidak takut untuk membawanya masuk. Kehadirannya di tempat-tempat lain sampai saat ini telah menjadi tanda untuk bencana dan kematian. Memang pada jaman kita dan di negara kita bukanlah tabut Allah yang membutuhkan penginapan, tetapi pelayan-pelayan Allah, orang-orang miskin dari Allah, kadang-kadang buronan yang lari dari seorang penindas, sangat sering orang-orang saleh di negara-negara asing bekerja di bawah pengecilan hati untuk melayani Allah. ‘Obed-Edom’ yang membawa mereka masuk tidak akan menderita).

 

The Biblical Illustrator juga mengatakan bahwa tabut itu membawa bencana pada waktu ada di Filistin, juga membawa bencana pada waktu diangkut dan diperlakukan secara salah oleh orang Israel sendiri. Tetapi sekarang di rumah Obed-Edom, dimana tabut itu diperlakukan dengan baik, ternyata tabut itu membawa berkat. Jadi, sesuatu membawa berkat atau bencana tergantung dari bagaimana seseorang memperlakukan sesuatu itu.

Jadi, segala sesuatu mempunyai kemungkinan ganda dalam dirinya, berkat atau bencana. Yang paling utama adalah Yesus Kristus sendiri atau Injil. Bagaimana manusia menyambut / memperlakukan Yesus Kristus / Injil, menentukan apakah Yesus Kristus / Injil itu akan membawa berkat atau bencana / hukuman.

Luk 2:34b - “Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang”.

2Kor 2:14-16a - “(14) Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenanganNya. Dengan perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana. (15) Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa. (16a) Bagi yang terakhir kami adalah bau kematian yang mematikan dan bagi yang pertama bau kehidupan yang menghidupkan”.

 

Hal yang sama bisa diterapkan terhadap:

a)            Alkitab.

Bagaimana sikap kita terhadap Alkitab (isinya, bukan buku / bendanya), menentukan apakah Alkitab itu akan membawa berkat atau hukuman. Kalau kita mempunyai Alkitab, tetapi tidak pernah kita baca, atau kita baca tetapi tidak kita percayai dan taati, maka itu akan membawa hukuman. Tetapi kalau Alkitab itu kita baca, pelajari, imani dan taati, itu akan membawa berkat.

b)            Gereja.

Bagaimana sikap kita terhadap gereja (yang baik, bukan yang sesat) menentukan apakah saudara mendapat berkat atau tidak, bahkan sebaliknya mendapat hukuman. Kalau saudara betul-betul mendukung gereja dengan kehadiran saudara, rela menggunakan waktu, tenaga, pikiran, uang, karunia saudara untuk gereja, maka saudara akan mendapatkan berkat. Tetapi kalau sebaliknya, maka saudara tidak akan mendapat berkat, tetapi malah mendapat hukuman.

Kalau saudara hadir dalam gereja, bagaimana sikap saudara, itu juga menentukan, apakah saudara akan mendapat berkat atau tidak, atau bahkan mendapat hukuman. Kalau saudara hadir dalam kebaktian, dan saudara bersikap hormat, bersungguh-sungguh dalam berbakti, mendengar Firman Tuhan dengan sungguh-sungguh juga, dsb, maka saudara pasti akan diberkati. Tetapi kalau sebaliknya, maka saudara tidak diberkati, bahkan bisa dihukum.

 

The Biblical Illustrator (Old Testament): The wanderings of the ark and the opposite effects which its presence produced according to the manner of its reception, are symbols of a great truth which runs all through human life, and is most especially manifested in the message and the mission of Jesus Christ. All things have a double possibility in them - of blessing or of hurt. ... Nothing is sure to do a man good; nothing necessarily does him hurt. All depends upon the man himself, and the use he makes of what God in His mercy sends. ... So life is what you and I will to make it, and the events which befall us are for our rising or our falling according as we determine they shall be, and according as we use them. ... The Ark was the symbol of a present God, and His presence is meant to be the life and joy of all creatures, and the revelation of Him is meant to be only for our good, giving strength, righteousness, and peace. But the same double possibility which I have been pointing out as inherent in all externals belongs here, too, and a man can determine to which aspect of the many-sided infinitude of the Divine nature he shall stand in relation. ... That is seen in the permanent effects of the gospel upon a man’s character. Received by simple faith in Jesus Christ, it brings to us the clear consciousness of pardon, ... Rejection strengthens all the evil motives for rejection, and adds to the insensibility of the man that has rejected. ... The ark has done you hurt if it has not done you good. Christ’s gospel is never inert, one thing or other it does for every soul that it reaches. Either it softens or it hardens. Either it saves or it condemns. ‘This Child is set for the rise or for the fall of many.’ (= ).

The Biblical Illustrator (Old Testament): Why Obed-edom found the ark a blessing: - But the ark of the Lord had been in the house of Abinadab forty years, and we do not read of any particular benediction falling upon that house. That is quite possible. Men may have God in the house, and not know it. Men may have the Bible in the house, and never read it; or men may read the letter, and never enter into the spirit of the book. There is a difference between mere lodgment, and generous and appreciative hospitality. What a difference there is between a ceremony and a welcome - mere politeness almost amounting to mechanical veneration, and cordial sympathy, loving appreciation, a heart going out in great bursts of affection towards God for his compassion and love and manifold mercy! Abinadab and Obed-edom were in very deed not the same men. We do not all derive the same advantage from the Bible. One man reads it, and it is a letter - very stiff, formal, pedantic, reading like a royal proclamation, or like an ancient document out of which the meaning and immediate force have somehow become evacuated. Another man reads the Bible as if it had just been written - an immediate message from heaven - a comforting utterance from God’s condescending heart, a speech made audibly, with all the fascination and persuasiveness of celestial music. We do not all get the same advantage from the Church. Attendance upon Divine worship may be a ceremony; or we may long for the opening of the gates of the house of the Lord; we may ‘prevent’ the sun - be there before the light is there, waiting, longing, yearning to be admitted, and find in the place, itself speaking to us, comforting though invisible angels of God (= ).

 

Matthew Henry: “He lodged the ark in a good house, the house of Obed-edom a Levite, which happened to be near the place where this disaster happened, and there, (1.) It was kindly entertained and welcomed, and continued there three months, v. 10,11. Obed-edom knew what slaughter the ark had made among the Philistines that imprisoned it and the Bethshemites that looked into it. He saw Uzzah struck dead for touching it, and perceived that David himself was afraid of meddling with it; yet he cheerfully invites it to his own house, and opens his doors to it without fear, knowing it was a ‘savour of death unto death’ only to those that treated it ill. ... It paid well for its entertainment: The Lord blessed Obed-edom and all his household. The same hand that punished Uzzah’s proud presumption rewarded Obed-edom’s humble boldness, and made the ark to him a ‘savour of life unto life.’” (= ).

 

Matthew Henry: “None ever had, nor ever shall have, reason to say that it is in vain to serve God. Let masters of families be encouraged to keep up religion in their families, and to serve God and the interests of his kingdom with their houses and estates, for that is the way to bring a blessing upon all they have. The ark is a guest which none shall lose by that bid it welcome” (= Tidak ada orang yang pernah mempunyai, atau akan pernah mempunyai, alasan untuk mengatakan bahwa adalah sia-sia untuk melayani Allah. Hendaklah tuan-tuan / pemimpin-pemimpin dari keluarga-keluarga didorong untuk memelihara agama dalam keluarga mereka, dan untuk melayani Allah dan kepentingan-kepentingan dari kerajaanNya dengan rumah-rumah dan tanah-tanah, karena itu adalah jalan untuk membawa berkat pada semua yang mereka miliki. Tabut itu adalah tamu yang tak seorangpun akan kehilangan / rugi dengan menyambutnya).

 

2)   Berkat Tuhan kepada Obed-Edom dan seisi rumahnya diceritakan kepada Daud (ay 12a).

Ay 12a: “Diberitahukanlah kepada raja Daud, demikian: ‘TUHAN memberkati seisi rumah Obed-Edom dan segala yang ada padanya oleh karena tabut Allah itu.’”.

 

Matthew Henry: As David could read God’s frowns upon them all in Uzzah’s stroke, so he could read God’s favour to them all in Obed-edom’s prosperity; ... It was an evidence that the ark was not such a burdensome stone as it was taken to be, but, on the contrary, happy was the man that had it near him (= Sebagaimana Daud bisa membaca rengutan wajah Allah terhadap mereka semua dalam pukulan terhadap Uza, demikian pula ia bisa membaca kebaikan Allah  kepada mereka semua dalam kemakmuran Obed-Edom. ... Itu merupakan suatu bukti bahwa tabut itu bukanlah suatu batu yang membebani seperti Daud telah menganggapnya, tetapi sebaliknya, berbahagialah orang yang mempunyainya di dekatnya).

 

III) Daud memindahkan tabut Tuhan dari rumah Obed-Edom ke Yerusalem.

 

1)   Ini menyebabkan Daud melanjutkan rencana semula untuk memindahkan tabut itu ke Yerusalem.

Ay 12b: “Lalu Daud pergi mengangkut tabut Allah itu dari rumah Obed-Edom ke kota Daud dengan sukacita.”.

 

Matthew Henry: When David heard that Obed-edom had such joy of the ark, then he would have it in his own city. Note, The experience others have had of the gains of godliness should encourage us to be religious (= Pada waktu Daud mendengar bahwa Obed-Edom mendapatkan sukacita seperti itu dari tabut, maka ia mau mendapatkannya di kotanya sendiri. Perhatikan, Pengalaman dari orang-orang lain yang telah mendapatkan keuntungan dari kesalehan, harus mendorong kita untuk menjadi orang yang relijius).

 

2)      Sekarang mereka mengangkut tabut itu dengan cara yang benar.

 

a)      Untuk bisa mengerti cara yang benar dalam mengangkut tabut, tentu harus mempelajarinya dari Firman Tuhan / hukum Taurat.

Pulpit Commentary: So far from there being anything unlucky in the ark, its presence brings with it a manifest blessing, and thus David’s fears are allayed. But before he returns to his purpose, he commands that proper inquiry be made. The priests must examine the holy book, and, having learned from it where his former conduct was wrong, he assembles the people once again to carry the ark to its home (1 Chron 15:2,12-15) [= Begitu jauh dari adanya apapun yang membuat sial dalam tabut itu, kehadirannya membawa dengannya suatu berkat yang nyata, dan karena itu rasa takut Daud ditenangkan / dihilangkan. Tetapi sebelum ia kembali pada tujuan / rencananya, ia memerintahkan supaya penyelidikan yang tepat / benar dilakukan. Imam-imam harus memeriksa buku yang kudus, dan setelah mempelajari darinya dimana salahnya tindakan yang terdahulu itu, ia mengumpulkan rakyat / orang-orang sekali lagi untuk membawa tabut itu ke rumahnya (1Taw 15:2,12-15)].

1Taw 15:2,12-15 - “(2) Ketika itu berkatalah Daud: ‘Janganlah ada yang mengangkat tabut Allah selain dari orang Lewi, sebab merekalah yang dipilih TUHAN untuk mengangkat tabut TUHAN dan untuk menyelenggarakannya sampai selama-lamanya.’ ... (12) dan berkata kepada mereka: ‘Hai kamu ini, para kepala puak dari orang Lewi, kuduskanlah dirimu, kamu ini dan saudara-saudara sepuakmu, supaya kamu mengangkut tabut TUHAN, Allah Israel, ke tempat yang telah kusiapkan untuk itu. (13) Sebab oleh karena pada pertama kali kamu tidak hadir, maka TUHAN, Allah kita, telah menyambar di tengah-tengah kita, sebab kita tidak meminta petunjukNya seperti seharusnya.’ (14) Jadi para imam dan orang-orang Lewi menguduskan dirinya untuk mengangkut tabut TUHAN, Allah Israel. (15) Kemudian bani Lewi mengangkat tabut Allah itu dengan gandar pengusung di atas bahu mereka, seperti yang diperintahkan Musa, sesuai dengan firman TUHAN”.

 

b)            Pelaksanaan pengangkutan tabut.

Ay 13: “Apabila pengangkat-pengangkat tabut TUHAN itu melangkah maju enam langkah, maka ia mengorbankan seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan.”.

 

1.   Kata-kata “pengangkat-pengangkat tabut TUHAN” secara implicit menunjukkan bahwa mereka sudah menggunakan orang-orang Lewi untuk mengangkatnya seperti yang seharusnya.

Matthew Henry: He rectified the former error. He did not put the ark in a cart now, but ordered those whose business it was to carry it on their shoulders. This is implied here (v. 13) and expressed 1 Chron 15:15. Then we make a good use of the judgments of God on ourselves and others when we are awakened by them to reform and amend whatever has been amiss [= Ia membetulkan kesalahannya yang terdahulu. Sekarang ia tidak meletakkan tabut itu dalam sebuah kereta, tetapi memerintahkan mereka yang urusannya adalah membawanya pada pundak mereka. Itu dinyatakan secara implicit di sini (ay 13) dan dinyatakan secara explicit dalam 1Taw 15:15. Maka kita menggunakan dengan baik penghakiman-penghakiman dari Allah kepada diri kita sendiri dan orang-orang lain pada waktu dibangunkan oleh mereka untuk mereformasi dan membetulkan apapun yang tadinya salah].

Bdk. 1Taw 15:15 - “Kemudian bani Lewi mengangkat tabut Allah itu dengan gandar pengusung di atas bahu mereka, seperti yang diperintahkan Musa, sesuai dengan firman TUHAN”.

 

2.      Penjelasan tentang ay 13b.

Ay 13: “Apabila pengangkat-pengangkat tabut TUHAN itu melangkah maju enam langkah, maka ia mengorbankan seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan.”.

 

Pulpit Commentary: Many suppose that David sacrificed an ox and a fatling every six paces along the whole way from the house of Obed-Edom, which was probably near or even in Jerusalem, unto the tent prepared for the ark in Zion. ... But there is an objection to this view, namely, that it is not the sense of the Hebrew. What is there said is that at starting, after stepping six paces, David sacrificed an ox and a fatling (by the hands, of course, of the priests), to ask a blessing upon the removal of the ark, and avert all misfortune [= Banyak orang menganggap bahwa Daud mengorbankan seekor sapi jantan dan seekor anak lembu setiap enam langkah dalam sepanjang jalan dari rumah Obed-Edom, yang mungkin berada dekat dengan, atau bahkan ada di dalam, Yerusalem, ke kemah yang dipersiapkan untuk tabut itu di Sion. ... Tetapi di sana ada suatu keberatan terhadap pandangan ini, yaitu, bahwa itu bukanlah arti dari bahasa Ibraninya. Apa yang dikatakan di sana adalah bahwa pada saat berangkat, setelah melangkah enam langkah, Daud mengorbankan seekor lembu jantan dan seekor anak lembu (tentu saja oleh tangan dari imam-imam), untuk meminta suatu berkat pada pemindahan dari tabut, dan mencegah / menghindarkan semua kesialan].

 

Albert Barnes juga tidak setuju kalau pengorbanan itu dilakukan setiap enam langkah; ia menganggap itu sebagai suatu kemustahilan. Keil & Delitzsch, sekalipun menganggap bahwa itu memungkinkan, tetapi mengatakan bahwa ayatnya hanya menunjukkan bahwa setelah berhasil mengeluarkan tabut dan melangkah enam langkah, mereka mempersembahkan korban. Dan memang ayat itu tidak mengatakan bahwa mereka melakukan persembahan korban setiap enam langkah.

 

Yang jelas, hukuman Tuhan telah membuat Daud menyadari kesalahannya, dan sekarang ia melakukan pengangkutan tabut dengan cara yang benar. Dan ini merupakan sesuatu yang harus kita tiru. Memang bukan semua bencana merupakan hukuman / hajaran Tuhan. Tetapi kalau kita terus menerus ditimpa bencana, itu memungkinkan merupakan hukuman / hajaran Tuhan. Jadi kita harus melakukan introspeksi, dan kalau memang ada dosa / kesalahan, kita harus membetulkannya.

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali