(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Minggu, tgl 25 Desember 2011, pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
II Samuel 6:1-23(1)
2Sam 6:1-23 - “(1) Daud
mengumpulkan pula semua orang pilihan di antara orang Israel, tiga puluh ribu
orang banyaknya. (2) Kemudian bersiaplah Daud, lalu berjalan dari Baale-Yehuda
dengan seluruh rakyat yang menyertainya, untuk mengangkut dari sana tabut
Allah, yang disebut dengan nama TUHAN semesta alam yang bertakhta di atas
kerubim. (3) Mereka menaikkan tabut Allah itu ke dalam kereta yang baru
setelah mengangkatnya dari rumah Abinadab yang di atas bukit. Lalu Uza dan
Ahyo, anak-anak Abinadab, mengantarkan kereta itu. (4) Uza berjalan di samping
tabut Allah itu, sedang Ahyo berjalan di depan tabut itu. (5) Daud dan seluruh
kaum Israel menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga, diiringi
nyanyian, kecapi, gambus, rebana, kelentung dan ceracap. (6) Ketika mereka
sampai ke tempat pengirikan Nakhon, maka Uza mengulurkan tangannya kepada
tabut Allah itu, lalu memegangnya, karena lembu-lembu itu tergelincir. (7)
Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh dia di sana
karena keteledorannya itu; ia mati di sana dekat tabut Allah itu. (8) Daud
menjadi marah, karena TUHAN telah menyambar Uza demikian hebatnya; maka tempat
itu disebut orang Peres-Uza sampai sekarang. (9) Pada waktu itu Daud menjadi
takut kepada TUHAN, lalu katanya: ‘Bagaimana tabut TUHAN itu dapat sampai
kepadaku?’ (10) Sebab itu Daud tidak mau memindahkan tabut TUHAN itu ke
tempatnya, ke kota Daud, tetapi Daud menyimpang dan membawanya ke rumah
Obed-Edom, orang Gat itu. (11) Tiga bulan lamanya tabut Tuhan itu tinggal di
rumah Obed-Edom, orang Gat itu, dan TUHAN memberkati Obed-Edom dan seisi
rumahnya. (12) Diberitahukanlah kepada raja Daud, demikian: ‘TUHAN
memberkati seisi rumah Obed-Edom dan segala yang ada padanya oleh karena tabut
Allah itu.’ Lalu Daud pergi mengangkut tabut Allah itu dari rumah Obed-Edom
ke kota Daud dengan sukacita. (13) Apabila pengangkat-pengangkat tabut TUHAN
itu melangkah maju enam langkah, maka ia mengorbankan seekor lembu dan seekor
anak lembu gemukan. (14) Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat
tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan. (15) Daud dan seluruh orang Israel
mengangkut tabut TUHAN itu dengan diiringi sorak dan bunyi sangkakala. (16)
Ketika tabut TUHAN itu masuk ke kota Daud, maka Mikhal, anak perempuan Saul,
menjenguk dari jendela, lalu melihat raja Daud meloncat-loncat serta
menari-nari di hadapan TUHAN. Sebab itu ia memandang rendah Daud dalam
hatinya. (17) Tabut TUHAN itu dibawa masuk, lalu diletakkan di tempatnya, di
dalam kemah yang dibentangkan Daud untuk itu, kemudian Daud mempersembahkan
korban bakaran dan korban keselamatan di hadapan TUHAN. (18) Setelah Daud
selesai mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, diberkatinyalah
bangsa itu demi nama TUHAN semesta alam. (19) Lalu dibagikannya kepada seluruh
bangsa itu, kepada seluruh khalayak ramai Israel, baik laki-laki maupun
perempuan, kepada masing-masing seketul roti bundar, sekerat daging, dan
sepotong kue kismis. Sesudah itu pergilah seluruh bangsa itu, masing-masing ke
rumahnya. (20) Ketika Daud pulang untuk memberi salam kepada seisi rumahnya,
maka keluarlah Mikhal binti Saul mendapatkan Daud, katanya: ‘Betapa raja
orang Israel, yang menelanjangi dirinya pada hari ini di depan mata
budak-budak perempuan para hambanya, merasa dirinya terhormat pada hari ini,
seperti orang hina dengan tidak malu-malu menelanjangi dirinya!’ (21) Tetapi
berkatalah Daud kepada Mikhal: ‘Di hadapan TUHAN, yang telah memilih aku
dengan menyisihkan ayahmu dan segenap keluarganya untuk menunjuk aku menjadi
raja atas umat TUHAN, yakni atas Israel, - di hadapan TUHAN aku menari-nari,
(22) bahkan aku akan menghinakan diriku lebih dari pada itu; engkau akan
memandang aku rendah, tetapi bersama-sama budak-budak perempuan yang
kaukatakan itu, bersama-sama merekalah aku mau dihormati.’ (23) Mikhal binti
Saul tidak mendapat anak sampai hari matinya”.
I) Daud memindahkan tabut Tuhan dari
rumah Abinadab ke Yerusalem (ay 1-9).
1)
Tabut Tuhan di rumah Abinadab.
Terakhir
kali tabut Tuhan itu diceritakan dalam 1Sam 6:1-7:2 dimana tabut yang
tadinya dirampas oleh orang Filistin itu dikembalikan kepada orang Israel, dan
lalu diletakkan di rumah Abinadab.
1Sam 7:1-2
- “(1) Lalu orang-orang Kiryat-Yearim
datang, mereka mengangkut tabut TUHAN itu dan membawanya ke dalam rumah Abinadab
yang di atas bukit. Dan Eleazar, anaknya, mereka kuduskan untuk menjaga tabut
TUHAN itu. (2) Sejak saat tabut itu tinggal di Kiryat-Yearim berlalulah waktu
yang cukup lama, yakni dua puluh tahun, dan seluruh kaum Israel mengeluh kepada
TUHAN”.
Keil
& Delitzsch mengatakan bahwa tabut Tuhan itu sudah berada di rumah Abinadab
selama 70 tahun.
Keil & Delitzsch: “The
ark of the covenant had been standing in the house of Abinadab from the time
when the Philistines had sent it back into the land of Israel, i.e., about
seventy years (viz., twenty years to the victory at Ebenezer mentioned in 1Sa.
7: 1ff., forty years under Samuel and Saul, and about ten years under David:
see the chronological table on pp. 210f.)”
(= ).
Matthew
Henry: “We
have not heard a word of the ark since it was lodged in Kirjath-jearim,
immediately after its return out of its captivity among the Philistines (1 Sam
7:1,2), except that, once, Saul called for it, 1 Sam 14:18. That which in former
days had made so great a figure is now thrown aside, as a neglected thing, for
many years” [= Kita tidak mendengar satu katapun tentang tabut itu sejak tabut itu
diinapkan di Kiryat-Yearim, segera setelah pengembaliannya dari penahanannya di
antara orang-orang Filistin (1Sam 7:1-2), kecuali bahwa sekali, Saul
memerlukannya, 1Sam 14:18. Tabut itu yang pada masa yang lalu telah menjadi
suatu simbol yang agung sekarang dikesampingkan, sebagai suatu hal / benda yang
diabaikan, untuk banyak tahun / waktu yang lama].
Catatan:
Saya tidak tahu apakah 1Sam 14:18 bisa diperhitungkan di sini atau tidak, karena
untuk ayat ini terjemahan Kitab Suci bahasa Inggris berbeda dengan Kitab Suci
Indonesia.
1Sam
14:18 - “Lalu kata Saul kepada Ahia: ‘Bawalah baju efod ke mari.’
Karena pada waktu itu dialah yang memakai baju efod di antara orang
Israel”.
Kata-kata
‘baju efod’ diambil dari LXX /
Septuaginta.
KJV/RSV/NIV/NASB/ASV/NKJV:
‘the
ark of God’ (= tabut Allah).
Mungkin
di sini ada kesalahan pada pengcopyan awal, karena ‘tabut Allah’ tidak
pernah digunakan untuk mencari kehendak Allah, tetapi ‘baju efod’ memang
dipakai untuk tujuan itu.
Kel 28:28-30
- “(28) Kemudian haruslah tutup dada itu dengan gelangnya
diikatkan kepada gelang baju efod dengan memakai tali ungu tua, sehingga
tetap di atas sabuk baju efod, dan tutup dada itu tidak dapat bergeser dari baju
efod. (29) Demikianlah di atas jantungnya harus dibawa Harun nama para anak
Israel pada tutup dada pernyataan keputusan itu, apabila ia masuk ke
dalam tempat kudus, supaya menjadi tanda peringatan yang tetap di hadapan TUHAN.
(30) Dan di dalam tutup dada pernyataan keputusan itu haruslah kautaruh Urim
dan Tumim; haruslah itu di atas jantung Harun, apabila ia masuk menghadap
TUHAN, dan Harun harus tetap membawa keputusan bagi orang Israel di atas
jantungnya, di hadapan TUHAN”.
2)
Daud ingin memindahkan tabut Tuhan itu ke Yerusalem.
The
Bible Exposition Commentary: Old Testament:
“Why
did David want the Ark in Jerusalem? For one thing, he wanted to honor the Lord
and give Him His rightful place as King of the nation. But David also had a
secret desire in his heart to build a sanctuary for the Lord (see chap. 7; Ps
132:1-5), and the first step would be to place the Ark in the capital city.
David knew that the Lord desired a central sanctuary (Deut 12:5,11,21; 14:23-24;
16:2,6,11; 26:2), and he hoped the Lord would let him build it”
[= Mengapa Daud menginginkan tabut itu di Yerusalem? Pertama, ia ingin
menghormati Tuhan dan memberiNya tempatNya yang menjadi hakNya sebagai Raja dari
bangsa itu. Tetapi Daud juga mempunyai keinginan rahasia / diam-diam dalam
hatinya untuk membangun tempat kudus untuk Tuhan (lihat pasal 7; Maz 132:1-5),
dan langkah pertama adalah menempatkan Tabut itu di ibu kota. Daud tahu bahwa
Tuhan menginginkan tempat kudus yang sentral (Ul 12:5,11,21; 14:23-24;
16:2,6,11; 26:2), dan ia berharap Tuhan akan mengijinkannya membangunnya].
2Sam 7:1-2
- “(1) Ketika raja telah menetap di
rumahnya dan TUHAN telah mengaruniakan keamanan kepadanya terhadap semua
musuhnya di sekeliling, (2) berkatalah raja kepada nabi Natan: ‘Lihatlah,
aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut Allah diam di bawah tenda.’”.
Maz 132:1-5
- “(1) [Nyanyian ziarah.]
Ingatlah, ya TUHAN, kepada Daud dan segala penderitaannya, (2) bagaimana ia
telah bersumpah kepada TUHAN, telah bernazar kepada Yang Mahakuat dari Yakub:
(3) ‘Sesungguhnya aku tidak akan masuk ke dalam kemah kediamanku, tidak akan
berbaring di ranjang petiduranku, (4) sesungguhnya aku tidak akan membiarkan
mataku tidur atau membiarkan kelopak mataku terlelap, (5) sampai aku mendapat
tempat untuk TUHAN, kediaman untuk Yang Mahakuat dari Yakub.’”.
Ul 12:5,11,21
- “(5) Tetapi tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, dari segala
sukumu sebagai kediamanNya untuk menegakkan namaNya di sana, tempat itulah
harus kamu cari dan ke sanalah harus kamu pergi. ... (11) maka ke tempat yang
dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat namaNya diam di sana, haruslah kamu
bawa semuanya yang kuperintahkan kepadamu, yakni korban bakaran dan korban
sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu dan segala
korban nazarmu yang terpilih, yang kamu nazarkan kepada TUHAN. ... (21) Apabila tempat
yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, untuk menegakkan namaNya di sana, terlalu
jauh dari tempatmu, maka engkau boleh menyembelih dari lembu sapimu dan kambing
dombamu yang diberikan TUHAN kepadamu, seperti yang kuperintahkan kepadamu, dan
memakan dagingnya di tempatmu sesuka hatimu”.
Catatan:
jelas bahwa kata ‘nama’ dalam
text di atas ini bukan menunjuk pada nama YHWH, tetapi kepada diri Tuhan
sendiri.
3)
Daud mengumpulkan para pemimpin dan pemuka dan berunding dengan mereka
tentang pemindahan tabut Tuhan.
Ay 1:
“Daud mengumpulkan pula semua orang pilihan di antara orang Israel, tiga puluh
ribu orang banyaknya.”.
Dari
ay 1 ini perundingan itu tidak terlihat, tetapi mari kita lihat ayat-ayat
paralelnya dalam 1Taw 13:1-3 - “(1)
Daud berunding dengan pemimpin-pemimpin pasukan seribu dan pasukan seratus
dan dengan semua pemuka. (2) Berkatalah Daud kepada seluruh jemaah Israel:
‘Jika kamu anggap baik dan jika diperkenankan TUHAN, Allah kita, baiklah kita
menyuruh orang kepada saudara-saudara kita yang masih tinggal di daerah-daerah
orang Israel, dan di samping itu kepada para imam dan orang-orang Lewi yang ada
di kota-kota yang dikelilingi tanah penggembalaan mereka, supaya mereka
berkumpul kepada kita. (3) Dan baiklah kita memindahkan tabut Allah kita ke
tempat kita, sebab pada zaman Saul kita tidak mengindahkannya.’”.
1Taw
13:1 menunjukkan adanya suatu musyawarah karena dikatakan bahwa ‘Daud
berunding dengan pemimpin-pemimpin pasukan seribu dan pasukan seratus dan dengan
semua pemuka’. Daud bukan seseorang yang otoriter, padahal ia adalah
seorang raja. Anehnya, banyak pendeta, atau ketua Majelis, atau ketua sinode,
atau donatur terbesar gereja, yang
bersikap otoriter (menjadi ‘Paus’) dalam gereja! Ini merupakan suatu
kekurang-ajaran, yang bukan hanya tidak Alkitabiah, tetapi juga merupakan suatu
sikap menentang Tuhan, yang adalah Raja Gereja yang sebenarnya.
4)
Daud tidak meminta petunjuk Tuhan.
Sekalipun
dalam 1Taw 13:2 ada kata-kata Daud yang berbunyi ‘jika
diperkenankan TUHAN, Allah kita’, tetapi ia tidak meminta petunjuk Tuhan!
1Taw 13:1-3
- “(1) Daud berunding dengan pemimpin-pemimpin pasukan seribu dan
pasukan seratus dan dengan semua pemuka. (2) Berkatalah Daud kepada seluruh
jemaah Israel: ‘Jika kamu anggap baik dan jika diperkenankan TUHAN, Allah
kita, baiklah kita menyuruh orang kepada saudara-saudara kita yang masih
tinggal di daerah-daerah orang Israel, dan di samping itu kepada para imam dan
orang-orang Lewi yang ada di kota-kota yang dikelilingi tanah penggembalaan
mereka, supaya mereka berkumpul kepada kita. (3) Dan baiklah kita memindahkan
tabut Allah kita ke tempat kita, sebab pada zaman Saul kita tidak
mengindahkannya.’”.
The
Bible Exposition Commentary: Old Testament:
“But
one thing was missing: there is no record that David sought the mind of the Lord
in this matter. Relocating the Ark to Jerusalem seemed a wise idea and everybody
was enthusiastic about doing it, but the king didn’t follow his usual pattern
of asking the Lord for His directions. After all, what pleases the king and the
people may not please God, and what doesn’t please God will not have His
blessing” (= Tetapi ada satu hal yang kurang: di sana tidak ada catatan bahwa Daud
mencari pikiran Tuhan dalam persoalan ini. Pemindahan Tabut Tuhan ke Yerusalem
kelihatannya merupakan suatu gagasan / usul yang bijaksana dan setiap orang
bersemangat dalam melakukannya, tetapi sang raja tidak mengikuti pola biasanya
dengan bertanya kepada Tuhan untuk pimpinan / pengarahanNya. Bagaimanapun juga,
apa yang menyenangkan raja dan rakyat bisa tidak menyenangkan Allah, dan apa
yang tidak menyenangkan Allah tidak akan mendapatkan berkatNya).
5)
Daud dan seluruh rakyat melakukan pemindahan tabut Tuhan ke Yerusalem.
Ay 2-5:
“(2) Kemudian bersiaplah Daud, lalu berjalan dari Baale-Yehuda dengan seluruh
rakyat yang menyertainya, untuk mengangkut dari sana tabut Allah, yang disebut
dengan nama TUHAN semesta alam yang bertakhta di atas kerubim. (3) Mereka
menaikkan tabut Allah itu ke dalam kereta yang baru setelah mengangkatnya dari
rumah Abinadab yang di atas bukit. Lalu Uza dan Ahyo, anak-anak Abinadab,
mengantarkan kereta itu. (4) Uza berjalan di samping tabut Allah itu, sedang
Ahyo berjalan di depan tabut itu. (5) Daud dan seluruh kaum Israel menari-nari
di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga, diiringi nyanyian, kecapi, gambus,
rebana, kelentung dan ceracap.”.
a)
Nama Baale-Yehuda (ay 2).
Wycliffe
Bible Commentary: “‘Baale
of Judah’. Cf. 1 Chr 13:6. The idiom means ‘Lords of Judah’. These were
the leading members of the land of Judah. ... Traditionally the term has been
regarded as a place name - Baale of Judah” (= ‘Baale dari Yehuda’.
Bdk. 1Taw 13:6. Ungkapan ini berarti ‘Tuhan-tuhan dari Yehuda’. Ini adalah
anggota-anggota yang terkemuka dari tanah Yehuda. ... Secara tradisionil istilah
itu telah dianggap sebagai nama suatu tempat - Baale dari Yehuda).
1Taw
13:6 - “Lalu Daud dan segenap orang Israel berangkat ke Baala, ke
Kiryat-Yearim, yang termasuk wilayah Yehuda, untuk mengangkut dari sana
tabut Allah, yang disebut dengan nama TUHAN yang bertakhta di atas kerubim”.
Keil
& Delitzsch: “Baale-Jehudah
is another name of the city of Kirjath-jearim (Josh
15:60; 18:14), which is called Baalah in Josh 15:9 and 1 Chron 13:6, according
to its Canaanitish name, instead of which the name Kirjath-jearim (city of the
woods) was adopted by the Israelites, though without entirely supplanting the
old name” [= Baale-Yehuda
merupakan nama lain dari kota Kiryat-Yearim (Yos 15:60; 18:14), yang disebut
Baala dalam Yos 15:9 dan 1Taw 13:6, sesuai dengan nama Kanaannya, dan bukannya
dengan nama Kiryat-Yearim (kota dari kayu) yang diambil oleh orang-orang Israel,
sekalipun tanpa menggantikan sepenuhnya nama lamanya].
Kata
‘Baal’ artinya ‘tuan / tuhan’, tetapi juga jelas adalah nama dewa pada
saat itu. Tetapi tetap digunakan dalam Kitab Suci, bahkan oleh orang Israel!
Bandingkan dengan ajaran Yahweh-isme yang melarang kata ‘Allah’ dengan
alasan itu adalah nama dari Tuhannya orang Islam, atau nama dari dewa kafir pra
Islam! Menurut saya, ini adalah ajaran bodoh!
Catatan:
kalau mau tahu lebih banyak tentang ajaran Yahweh-isme, dan semua kebodohan dan
penipuannya, baca buku saya berjudul ‘Yahweh-isme’.
b)
Tabut Tuhan.
Ay
2: “tabut Allah, yang disebut dengan
nama TUHAN semesta alam yang bertakhta di atas kerubim”.
Adam
Clarke: “‘Whose
name is called by the name of the Lord’. That is, The ark is called the ark of
the Lord of hosts” (= ‘Yang
namanya disebut dengan nama Tuhan’.
Artinya, Tabut itu disebut Tabut TUHAN semesta alam).
c)
Mereka menggunakan kereta yang baru.
Ay
3: “Mereka menaikkan tabut Allah itu ke
dalam kereta yang baru”.
Ini
jelas merupakan tindakan yang salah, karena hukum Taurat mengharuskan tabut
Tuhan dipikul oleh orang Lewi.
Memang
tabut Tuhan itu diberi 4 gelang emas pada keempat penjurunya, dan kayu
pengusung, dengan mana tabut Tuhan itu harus diangkat. Pengangkatnyapun tak
boleh sembarang orang, tetapi ditentukan dalam hukum Taurat.
Kel 25:12-15
- “(12) Haruslah engkau menuang empat gelang emas untuk tabut itu dan
pasanglah gelang itu pada keempat penjurunya, yaitu dua gelang pada rusuknya
yang satu dan dua gelang pada rusuknya yang kedua. (13) Engkau harus membuat
kayu pengusung dari kayu penaga dan menyalutnya dengan emas. (14) Haruslah
engkau memasukkan kayu pengusung itu ke dalam gelang yang ada pada rusuk tabut
itu, supaya dengan itu tabut dapat diangkut. (15) Kayu pengusung itu haruslah
tetap tinggal dalam gelang itu, tidak boleh dicabut dari dalamnya”.
Bil 7:9
- “Tetapi kepada bani Kehat tidak
diberikannya apa-apa, karena pekerjaan mereka ialah mengurus barang-barang
kudus, yang harus diangkat di atas bahunya”.
Mengapa
mereka melakukan pelanggaran seperti ini? Pulpit Commentary mengatakan bahwa
kesalahan seperti ini tidaklah mengherankan. Mereka sudah lama tidak berurusan
dengan tabut Tuhan itu sehingga sangat mungkin mereka melupakan cara sebenarnya
dalam mengangkut tabut Tuhan itu. Bagi kita, dengan mudah kita bisa melihat
dalam Alkitab kita bagaimana Tuhan menghendaki kita melakukan hal itu. Tetapi
bagi mereka, Alkitab tidak tersedia seperti bagi kita pada jaman sekarang.
Alkitab / Perjanjian Lama masih ada dalam bentuk manuscript, dan Pulpit
Commentary mengatakan bahwa tidak terbayangkan kalau Daud, atau bahkan imam
besar Abyatar membawa manuscript pada saat itu. Mereka hanya tahu bahwa tabut
Tuhan itu kembali dari Filistin dengan menggunakan kereta, dan mereka
menirunya.
Matthew
Henry: “It
was no excuse for them that the Philistines had done so and were not punished
for it; they knew no better, nor had they any priests or Levites with them to
undertake the carrying of it; better carry it in a cart than that any of
Dagon’s priests should carry it. Philistines may cart the ark with impunity;
but, if Israelites do so, they do it at their peril”
(= Bukan suatu dalih bagi mereka bahwa orang-orang Filistin telah melakukan
demikian dan tidak dihukum untuk itu; mereka tidak tahu dengan lebih baik, juga
mereka tidak mempunyai imam ataupun orang-orang Lewi bersama mereka untuk
melakukan pengangkutan tabut itu; lebih baik membawanya dalam sebuah kereta dari
pada imam Dagon yang manapun yang membawanya. Orang-orang Filistin bisa membawa
tabut dengan kereta tanpa dihukum; tetapi jika orang-orang Israel melakukan hal
yang sama, mereka melakukannya atas resiko mereka sendiri).
Pulpit
Commentary: “But in so solemn a matter the priests ought to have made diligent
search, and have gone for instruction to the copies which they possessed of the
Divine Law. ... But this want of inquiry and easy assumption, that as the ark
was brought in a cart to Abinadab’s house, so in a cart it should be carried
away, was an act of great irreverence, and all the guilty were punished. The
heaviest blow fell on the house of Abinadab, which lost a dear son. Entrusted
for seventy years with the care of so sacred a symbol of Jehovah’s presence,
Abinadab and his family ought to have made a special study of the laws
concerning it. Apparently they left it very much to itself; for it is never said
that God blessed them for their care of it as he did Obed-Edom” (= Tetapi
dalam suatu persoalan yang begitu keramat imam-imam seharusnya membuat
penyelidikan yang rajin / tekun, dan mencari instruksi ke manuscript-manuscript
yang mereka miliki tentang hukum Taurat Ilahi. ... Tetapi tidak adanya
penyelidikan dan perkiraan / anggapan yang mudah, bahwa karena tabut itu dibawa
dalam kereta ke rumah Abinadab, demikian juga tabut itu harus dibawa untuk
meninggalkannya dengan sebuah kereta, merupakan suatu tindakan ketidak-hormatan
yang besar, dan semua yang bersalah dihukum. Pukulan yang terberat jatuh pada
keluarga dari Abinadab, yang kehilangan seorang anak yang dikasihi. Setelah
dipercayai selama 70 tahun dengan pemeliharaan / penjagaan dari simbol yang
begitu keramat dari kehadiran Yehovah, Abinadab dan keluarganya seharusnya telah
membuat suatu pembelajaran khusus tentang hukum-hukum tentangnya. Tetapi
kelihatannya mereka membiarkan tabut itu begitu saja; karena tak pernah
dikatakan bahwa Allah memberkati mereka untuk pemeliharaan / penjagaan tabut itu
seperti yang Dia lakukan kepada Obed-Edom).
The
Biblical Illustrator (Old Testament):
“Let
us not look at such details as little things, and suppose that it matters
nothing whether the ark is carried in one way or another, provided that it is
brought to its proper destination” (= Hendaklah kita tidak melihat detail-detail
seperti itu sebagai hal-hal yang kecil, dan menganggap bahwa tidak menjadi soal
apakah tabut itu dibawa dengan satu cara atau cara yang lain, asalkan tabut itu
dibawa ke tujuannya yang benar).
The
Bible Exposition Commentary: Old Testament:
“The
lesson here is obvious: God’s work must be done in God’s way if it is to
have God’s blessing. The fact that all the leaders of Israel agreed to use the
cart didn’t make it right” (= Pelajaran di sini adalah jelas: pekerjaan Allah harus dilakukan
dengan cara Allah jika itu mau mendapatkan berkat Allah. Fakta bahwa semua
pemimpin-pemimpin Israel setuju untuk menggunakan kereta tidak membuatnya
menjadi benar).
The
Bible Exposition Commentary: Old Testament:
“The
church today needs to heed this reminder and return to the Word of God for an
understanding of the will of God. No amount of unity or enthusiasm can
compensate for disobedience. When God’s work is done in man’s way, and we
imitate the world instead of obeying the Word, we can never expect the blessing
of God. The crowds may approve what we do, but what about the approval of God?
The way of the world is ultimately the way of death”
(= Gereja pada saat ini perlu memperhatikan pengingat ini dan kembali kepada
Firman Allah untuk suatu pengertian tentang kehendak Allah. Tak ada banyak
kesatuan atau semangat yang bisa memberikan kompensasi untuk ketidak-taatan.
Pada waktu pekerjaan Allah dilakukan dengan cara / jalan manusia, dan kita
meniru dunia dan bukannya mentaati Firman, kita tidak pernah bisa mengharapkan
berkat Allah. Orang-orang banyak bisa merestui apa yang kita lakukan, tetapi
bagaimana dengan restu dari Allah? Cara / jalan dunia pada akhirnya adalah jalan
kematian).
The
Biblical Illustrator (Old Testament):
“the
best of services may be gone about in a faulty way. There may be some criminal
neglect of God’s will that, like the dead fly in the apothecary’s pot of
ointment, causes the perfume to send forth a stinking savour. And so it was on
this occasion. What induced them to follow the example of the Philistines rather
than the directions of Moses, we do not know, and can hardly conjecture. It does
not appear to have been a mere oversight. It has something of a deliberate plan
about it, as if the law given in the wilderness were now obsolete, and in so
small a matter any method might be chosen that the people liked. It may have
been an error of inadvertence. But that somewhere there was a serious offence is
evident from the punishment with which it was visited (1 Chron 15:13). The great
lesson for all time is to beware of following our own devices in the worship of
God when we have clear instructions in His word how we are to worship Him” [= pelayanan-pelayanan terbaik bisa dilakukan dengan cara yang salah. Di
sana ada suatu pengabaian kehendak Allah yang bersifat kriminil, sehingga
seperti lalat yang mati dalam pot obat dari ahli obat, menyebabkan minyak wangi
mengeluarkan bau busuk. Dan begitulah dalam peristiwa ini. Apa yang menyebabkan
mereka mengikuti teladan dari orang-orang Filistin dari pada pengarahan Musa,
kita tidak tahu, dan hampir tidak bisa menebak. Kelihatannya itu bukan semata
merupakan suatu kekhilafan / kelalaian. Ada sesuatu rencana yang disengaja
tentang hal itu, seakan-akan hukum Taurat yang diberikan di padang gurun
sekarang sudah usang, dan dalam hal sekecil itu metode apapun yang disenangi
orang-orang bisa dipilih. Itu bisa merupakan suatu kesalahan tentang
ketidak-hati-hatian. Tetapi bahwa entah dimana di sana ada suatu pelanggaran
yang serius adalah jelas dari hukuman yang diberikan atas kesalahan itu (1Taw
15:13). Pelajaran yang besar untuk semua saat adalah untuk berhati-hati dalam
mengikuti rencana kita sendiri dalam ibadah / kebaktian Allah pada saat kita
mempunyai instruksi yang jelas dalam firmanNya bagaimana kita harus menyembah
Dia / berbakti kepadaNya].
1Taw
15:13 - “Sebab oleh karena pada pertama
kali kamu tidak hadir, maka TUHAN, Allah kita, telah menyambar di
tengah-tengah kita, sebab kita tidak meminta petunjukNya seperti
seharusnya.’”.
Catatan:
kata ‘kamu’ di sini menunjuk kepada orang-orang Lewi.
The
Biblical Illustrator (Old Testament):
“There
is a touch of veneration about this arrangement. The cart was ‘new.’”
(= Di sana ada sedikit pemujaan tentang rencana / persiapan ini, Kereta itu
‘baru’.).
Matthew
Henry: “And
it mended the matter very little that it was a new cart; old or new, it was not
what God had appointed” (= Dan itu membetulkan persoalan itu sangat sedikit bahwa itu adalah
kereta yang baru; lama atau baru, itu bukanlah apa yang Allah telah tetapkan).
The
Biblical Illustrator (Old
Testament): “The
fact that the ark was placed upon a new cart shows how, IN THE DESIRE TO SERVE
GOD, EVEN A GOOD MAN MAY ERR. It is a fact substantiated by experience, and
supported by the voice of history, that man at his best is but an erring
creature. His folly is often exhibited in his best moments. ... The claim to
infallibility is but the ambition of the child - the blundering of the blind.
Would it not be a wonderful improvement on the old style of things to have a new
cart? Will it not harmonise with the new order established? Pay no attention to
that worn-out, obsolete plan of carrying the ark; abandon the old poles and have
a ‘new cart.’ It will save the shoulders of the Levites; it will be a new
feature in its way; it will be admired for its construction, and commended for
the use to which it will be devoted. And so we reason in our work for God.
Antiquity gains no reverence from us. The old poles with which our fathers did
their work are considered out of date and useless, and we drag out our ‘new
cart’ on every occasion when our labour is required. Starting some fresh
thing, inventing some novelty, forgetting all the while that God’s way is best”
(= Fakta bahwa tabut itu ditempatkan pada sebuah kereta yang baru menunjukkan
bagaimana, dalam keinginan untuk melayani
/ beribadah kepada Allah, bahkan seorang yang baik / saleh bisa salah.
Merupakan suatu fakta yang didukung oleh pengalaman, dan disokong oleh suara
dari sejarah, bahwa sebaik-baiknya manusia ia hanyalah seorang makhluk ciptaan
yang bisa salah. Kebodohannya sering ditunjukkan dalam saat-saat terbaiknya. ...
Claim bahwa ia tidak bisa salah hanyalah merupakan ambisi dari seorang anak -
kesalahan yang sangat besar dari seorang buta. Bukankah merupakan suatu kemajuan
/ perbaikan yang sangat bagus terhadap gaya yang lama dari hal-hal untuk
menggunakan kereta yang baru? Bukankah itu akan harmonis dengan kondisi baru
yang ditegakkan? Jangan pedulikan rencana yang sudah usang dan kuno tentang
pengangkatan tabut; tinggalkan kayu-kayu pengusung dan pakailah ‘kereta yang
baru’. Itu akan menghemat bahu-bahu dari orang-orang Lewi; itu akan merupakan
segi / ciri-ciri yang baru dalam perjalanannya; itu akan dikagumi untuk
konstruksinya, dan dipuji untuk penggunaan untuk mana itu akan dibaktikan. Dan
demikianlah kita berargumentasi dalam pekerjaan kita untuk Allah. Kekunoan tidak
mendapatkan penghormatan dari kita. Kayu-kayu pengusung yang lama dengan mana
bapa-bapa / nenek moyang kita melakukan pekerjaan mereka, dianggap ketinggalan
jaman dan tak berguna, dan kita menarik ‘kereta baru’ kita pada setiap
kesempatan, pada waktu jerih payah kita dibutuhkan. Mulai dengan hal yang
baru / segar, menemukan / menciptakan sesuatu yang baru, sementara itu melupakan
bahwa jalan / cara Allah adalah jalan / cara yang terbaik).
The
Biblical Illustrator (Old
Testament): “Have
a new cart, and the world will stop and stare. Affect originality, even if it be
a spurious thing, and you may speak to listening ears. Stop not to ask questions
about propriety; pay no respect to the past; be extravagant and sensational, and
you will gather a crowd. We have grown liberal all at once. God’s commandments
are without authority in this age; you may be religious in whatever way is most
appropriate. By all means have a cart. If you find yourself in doubt as to the
Saviour’s Divinity, you can have an Unitarian cart; if you think the mode of
Nonconformist worship too dull, and that more aesthetic beauty is desirable in
the service then have a Ritualistic cart; if you have any scruples about the
immortality of your soul, then have the Annihilationist cart; ... Get rid of the
old poles; ‘new carts’ are the fashion of this novelty-loving age. Let all
the old-fashioned things rot. Reform your plans, improve your methods, ...
produce a ‘new cart.’ Oh! how fond we are of novelties! The last new thing
is the best. The last new creed; the latest criticism on ‘supernatural
religion;’ the last utterance of the scientist; the last sceptical theory
from, the professor; these are the things that win admiration. But give me
religion without these inventions. Let it be pure and simple, without any
man-made additions - the old ark borne by the consecrated poles. Take away those
mocking substitutes. ‘For other foundation can no man lay, than that is laid,
which is Jesus Christ.’” (= Pakailah kereta yang baru, dan dunia akan berhenti dan
melihat. Pakailah sesuatu yang asli, bahkan jika itu adalah sesuatu yang palsu,
dan engkau akan berbicara pada telinga-telinga yang mendengarkan. Jangan
berhenti untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan tentang kepatutan; jangan
pedulikan yang lalu; jadilah luar biasa / berlebih-lebihan dan sensasional /
menggemparkan, dan engkau akan mengumpulkan banyak orang. Kita telah bertumbuh
menjadi liberal sepenuhnya pada satu saat. Perintah-perintah / hukum-hukum Allah
tidak punya otoritas pada jaman ini; engkau bisa religius dalam cara / jalan
apapun yang paling cocok. Dengan cara apapun / bagaimanapun, pakailah sebuah
‘kereta’. Jika engkau mendapati dirimu sendiri meragukan keilahian sang
Juruselamat, engkau bisa menggunakan ‘kereta’ Unitarian; jika engkau
berpikir bahwa cara ibadah dari orang-orang yang tak mau berkompromi sebagai
terlalu membosankan, dan bahwa lebih banyak keindahan estetika / seni merupakan
sesuatu yang diinginkan dalam kebaktian, maka pakailah ‘kereta’ yang
menekankan ritual / upacara agama; jika engkau mempunyai keberatan apapun
tentang kekekalan dari jiwamu, maka pakailah ‘kereta’ Annihilationist /
orang yang percaya bahwa manusia berdosa nanti akan dimusnahkan; ... Buanglah
kayu-kayu pengusung yang lama; ‘kereta-kereta baru’ adalah mode dari jaman
yang mencintai hal-hal yang baru ini. Biarlah semua hal-hal yang kuno membusuk.
Reformasikanlah rencana-rencanamu, perbaikilah metode-metodemu, ... hasilkanlah
‘sebuah ‘kereta yang baru’. Oh! alangkah senangnya kita pada hal-hal yang
baru! Hal yang terbaru adalah yang terbaik. Pengakuan Iman yang terbaru, kritik
yang terbaru terhadap ‘agama yang supranatural’; ucapan yang terbaru dari
ilmuwan; teori skeptis yang terbaru dari profesor; hal-hal ini adalah hal-hal
yang memenangkan kekaguman. Tetapi berilah aku agama tanpa penemuan-penemuan
baru ini. Hendaklah itu murni dan sederhana / biasa, tanpa tambahan-tambahan
buatan manusia yang manapun - tabut yang lama yang dipikul dengan kayu-kayu
pengusung. Buanglah / singkirkanlah pengganti-pengganti yang menghina / mengejek
ini. ‘Karena tidak ada
seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah
diletakkan, yaitu Yesus Kristus’.).
‘Baru’
tetapi salah! Jauh lebih baik yang ‘lama’ atau bahkan ‘kuno’ tetapi
benar! Bandingkan dengan Elia yang menggunakan mezbah Tuhan yang lama.
1Raja
18:30 - “Kata Elia kepada seluruh
rakyat itu: ‘Datanglah dekat kepadaku!’ Maka mendekatlah seluruh rakyat itu
kepadanya. Lalu ia memperbaiki mezbah TUHAN yang telah diruntuhkan itu”.
1Kor
3:11 - “Karena tidak ada seorangpun
yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu
Yesus Kristus”.
Hati-hati
dalam melakukan sesuatu yang baru yang saudara anggap baik / menyenangkan Tuhan,
tetapi tidak ada dasar Alkitabnya atau bahkan bertentangan dengan Alkitab!
Hati-hati juga dengan ajaran / doktrin yang baru, atau praktek-praktek yang baru
dalam gereja, yang bukan hanya tidak punya dasar Alkitab, tetapi bahkan
bertentangan dengan Alkitab!
Contoh:
1.
Doa yang diiringi musik.
2.
Sekarang bahkan kata-kata chairman / pemimpin liturgi, kata-kata dari
orang yang memberi kesaksian, bahkan khotbah, juga ada yang diiringi dengan
musik!
3.
Doa bersuara dalam kalangan gereja-gereja Tionghoa, termasuk GRII.
4.
Cara berdoa dimana yang sebagian menyanyi dan yang sebagian berdoa. Atau
yang sebagian berdoa untuk hal satu dan sebagian yang lain berdoa hal lain, dan
semua dilakukan masing-masing dengan suara keras.
5.
Bersalam-salaman dengan sedikitnya 10 orang pada saat ibadah! Ini merusak
persekutuan vertikal dengan Tuhan! Ingat bahwa ibadah / kebaktian bukan
merupakan persekutuan horizontal, tetapi vertikal. Karena itu kalau mau
melakukan persekutuan horizontal, lakukan itu sebelum atau sesudah kebaktian,
bukan pada saat kebaktian.
6.
Buang cara ibadah lama yang tenang, dan pakailah cara ibadah baru yang
meriah, disertai bahasa Roh, tumbang dalam Roh, tari-tarian, loncat-loncat, dan
sebagainya.
7.
Buang liturgi yang lama, dan gunakan liturgi yang baru, bahkan buang
seluruh liturgi secara total. Ada hal-hal yang boleh dibuang dari liturgi karena
memang tak ada perintah, explicit atau implicit, untuk menggunakannya. Misalnya:
12 Pengakuan Iman Rasuli dan Doa Bapa Kami. Tetapi kalau doa pengakuan dosa atau
khotbah, dibuang, itu tidak Alkitabiah!
8.
Buang lagu-lagu pujian yang lama dan pakai lagu-lagu yang baru. Tak
masalah dengan lagu baru, selama:
a.
Saudara bukannya menganggap usang lagu lama yang justru sangat bermutu.
b. Lagu
baru itu tidak mengandung kesalahan-kesalahan dalam kata-katanya. Dalam faktanya
banyak sekali terjadi kesalahan-kesalahan, bahkan kesesatan-kesesatan, dalam
lagu-lagu baru itu, karena pengarangnya bukan orang yang mengerti theologia!
9.
Buang buku-buku tafsiran / theologia yang lama dan pakai yang baru!
Lagi-lagi saya tak bermasalah dengan orang yang menggunakan buku-buku tafsiran /
theologia yang baru, asal bermutu, dan asal mereka tak menganggap buku-buku lama
itu usang! Sangat banyak buku-buku lama itu yang betul-betul hebat dan tak
tertandingi sampai jaman sekarang, atau mungkin sampai kapanpun.
10. Buang
ajaran / doktrin yang lama dan pakai ajaran / doktrin yang baru, apakah itu
Liberalisme, Kharismatik, Yahweh-isme, Pria Sejati / Wanita Bijak, atau banyak
ajaran-ajaran baru yang sesat jaman ini!
Catatan:
saya tak memberi alasan mengapa hal-hal yang saya contohkan ini salah, karena
terlalu panjang kalau semua diberikan di sini. Tetapi saya punya dasar-dasarnya.
Tetapi
pada saat yang sama, jangan terlalu mudah menyalahkan dan menganggap tidak
Alkitabiah, kalau saudara tidak punya dasar Alkitab untuk menyalahkan!
Penggunaan tepuk tangan, band, dalam kebaktian, menurut saya tidak apa-apa,
karena tak ada ayat manapun yang menentangnya.
Kebaktian
pakai DVD untuk acara Firman Tuhan; salah atau benar? Kalau saya, saya tak
bisa melihat apapun yang salah dalam hal ini! Kalau mau menyalahkan, harus
punya dasar Alkitab. Misalnya pemain musik tak ada, dan kita lalu pakai musik
dari tape recorder, apakah salah? Saya percaya itu tidak salah juga.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali