Kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)  

Minggu, tgl 25 Desember 2011, pk 17.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

II Samuel 6:1-23(1)

2Sam 6:1-23 - “(1) Daud mengumpulkan pula semua orang pilihan di antara orang Israel, tiga puluh ribu orang banyaknya. (2) Kemudian bersiaplah Daud, lalu berjalan dari Baale-Yehuda dengan seluruh rakyat yang menyertainya, untuk mengangkut dari sana tabut Allah, yang disebut dengan nama TUHAN semesta alam yang bertakhta di atas kerubim. (3) Mereka menaikkan tabut Allah itu ke dalam kereta yang baru setelah mengangkatnya dari rumah Abinadab yang di atas bukit. Lalu Uza dan Ahyo, anak-anak Abinadab, mengantarkan kereta itu. (4) Uza berjalan di samping tabut Allah itu, sedang Ahyo berjalan di depan tabut itu. (5) Daud dan seluruh kaum Israel menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga, diiringi nyanyian, kecapi, gambus, rebana, kelentung dan ceracap. (6) Ketika mereka sampai ke tempat pengirikan Nakhon, maka Uza mengulurkan tangannya kepada tabut Allah itu, lalu memegangnya, karena lembu-lembu itu tergelincir. (7) Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh dia di sana karena keteledorannya itu; ia mati di sana dekat tabut Allah itu. (8) Daud menjadi marah, karena TUHAN telah menyambar Uza demikian hebatnya; maka tempat itu disebut orang Peres-Uza sampai sekarang. (9) Pada waktu itu Daud menjadi takut kepada TUHAN, lalu katanya: ‘Bagaimana tabut TUHAN itu dapat sampai kepadaku?’ (10) Sebab itu Daud tidak mau memindahkan tabut TUHAN itu ke tempatnya, ke kota Daud, tetapi Daud menyimpang dan membawanya ke rumah Obed-Edom, orang Gat itu. (11) Tiga bulan lamanya tabut Tuhan itu tinggal di rumah Obed-Edom, orang Gat itu, dan TUHAN memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya. (12) Diberitahukanlah kepada raja Daud, demikian: ‘TUHAN memberkati seisi rumah Obed-Edom dan segala yang ada padanya oleh karena tabut Allah itu.’ Lalu Daud pergi mengangkut tabut Allah itu dari rumah Obed-Edom ke kota Daud dengan sukacita. (13) Apabila pengangkat-pengangkat tabut TUHAN itu melangkah maju enam langkah, maka ia mengorbankan seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan. (14) Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan. (15) Daud dan seluruh orang Israel mengangkut tabut TUHAN itu dengan diiringi sorak dan bunyi sangkakala. (16) Ketika tabut TUHAN itu masuk ke kota Daud, maka Mikhal, anak perempuan Saul, menjenguk dari jendela, lalu melihat raja Daud meloncat-loncat serta menari-nari di hadapan TUHAN. Sebab itu ia memandang rendah Daud dalam hatinya. (17) Tabut TUHAN itu dibawa masuk, lalu diletakkan di tempatnya, di dalam kemah yang dibentangkan Daud untuk itu, kemudian Daud mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan di hadapan TUHAN. (18) Setelah Daud selesai mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, diberkatinyalah bangsa itu demi nama TUHAN semesta alam. (19) Lalu dibagikannya kepada seluruh bangsa itu, kepada seluruh khalayak ramai Israel, baik laki-laki maupun perempuan, kepada masing-masing seketul roti bundar, sekerat daging, dan sepotong kue kismis. Sesudah itu pergilah seluruh bangsa itu, masing-masing ke rumahnya. (20) Ketika Daud pulang untuk memberi salam kepada seisi rumahnya, maka keluarlah Mikhal binti Saul mendapatkan Daud, katanya: ‘Betapa raja orang Israel, yang menelanjangi dirinya pada hari ini di depan mata budak-budak perempuan para hambanya, merasa dirinya terhormat pada hari ini, seperti orang hina dengan tidak malu-malu menelanjangi dirinya!’ (21) Tetapi berkatalah Daud kepada Mikhal: ‘Di hadapan TUHAN, yang telah memilih aku dengan menyisihkan ayahmu dan segenap keluarganya untuk menunjuk aku menjadi raja atas umat TUHAN, yakni atas Israel, - di hadapan TUHAN aku menari-nari, (22) bahkan aku akan menghinakan diriku lebih dari pada itu; engkau akan memandang aku rendah, tetapi bersama-sama budak-budak perempuan yang kaukatakan itu, bersama-sama merekalah aku mau dihormati.’ (23) Mikhal binti Saul tidak mendapat anak sampai hari matinya”.

 

I) Daud memindahkan tabut Tuhan dari rumah Abinadab ke Yerusalem (ay 1-9).

 

1)   Tabut Tuhan di rumah Abinadab.

Terakhir kali tabut Tuhan itu diceritakan dalam 1Sam 6:1-7:2 dimana tabut yang tadinya dirampas oleh orang Filistin itu dikembalikan kepada orang Israel, dan lalu diletakkan di rumah Abinadab.

1Sam 7:1-2 - “(1) Lalu orang-orang Kiryat-Yearim datang, mereka mengangkut tabut TUHAN itu dan membawanya ke dalam rumah Abinadab yang di atas bukit. Dan Eleazar, anaknya, mereka kuduskan untuk menjaga tabut TUHAN itu. (2) Sejak saat tabut itu tinggal di Kiryat-Yearim berlalulah waktu yang cukup lama, yakni dua puluh tahun, dan seluruh kaum Israel mengeluh kepada TUHAN”.

 

Keil & Delitzsch mengatakan bahwa tabut Tuhan itu sudah berada di rumah Abinadab selama 70 tahun.

Keil & Delitzsch: The ark of the covenant had been standing in the house of Abinadab from the time when the Philistines had sent it back into the land of Israel, i.e., about seventy years (viz., twenty years to the victory at Ebenezer mentioned in 1Sa. 7: 1ff., forty years under Samuel and Saul, and about ten years under David: see the chronological table on pp. 210f.) (= ).

 

Matthew Henry: We have not heard a word of the ark since it was lodged in Kirjath-jearim, immediately after its return out of its captivity among the Philistines (1 Sam 7:1,2), except that, once, Saul called for it, 1 Sam 14:18. That which in former days had made so great a figure is now thrown aside, as a neglected thing, for many years [= Kita tidak mendengar satu katapun tentang tabut itu sejak tabut itu diinapkan di Kiryat-Yearim, segera setelah pengembaliannya dari penahanannya di antara orang-orang Filistin (1Sam 7:1-2), kecuali bahwa sekali, Saul memerlukannya, 1Sam 14:18. Tabut itu yang pada masa yang lalu telah menjadi suatu simbol yang agung sekarang dikesampingkan, sebagai suatu hal / benda yang diabaikan, untuk banyak tahun / waktu yang lama].

Catatan: Saya tidak tahu apakah 1Sam 14:18 bisa diperhitungkan di sini atau tidak, karena untuk ayat ini terjemahan Kitab Suci bahasa Inggris berbeda dengan Kitab Suci Indonesia.

1Sam 14:18 - “Lalu kata Saul kepada Ahia: ‘Bawalah baju efod ke mari.’ Karena pada waktu itu dialah yang memakai baju efod di antara orang Israel”.

Kata-kata ‘baju efod’ diambil dari LXX / Septuaginta.

KJV/RSV/NIV/NASB/ASV/NKJV: ‘the ark of God’ (= tabut Allah).

Mungkin di sini ada kesalahan pada pengcopyan awal, karena ‘tabut Allah’ tidak pernah digunakan untuk mencari kehendak Allah, tetapi ‘baju efod’ memang dipakai untuk tujuan itu.

Kel 28:28-30 - “(28) Kemudian haruslah tutup dada itu dengan gelangnya diikatkan kepada gelang baju efod dengan memakai tali ungu tua, sehingga tetap di atas sabuk baju efod, dan tutup dada itu tidak dapat bergeser dari baju efod. (29) Demikianlah di atas jantungnya harus dibawa Harun nama para anak Israel pada tutup dada pernyataan keputusan itu, apabila ia masuk ke dalam tempat kudus, supaya menjadi tanda peringatan yang tetap di hadapan TUHAN. (30) Dan di dalam tutup dada pernyataan keputusan itu haruslah kautaruh Urim dan Tumim; haruslah itu di atas jantung Harun, apabila ia masuk menghadap TUHAN, dan Harun harus tetap membawa keputusan bagi orang Israel di atas jantungnya, di hadapan TUHAN”.

 

2)   Daud ingin memindahkan tabut Tuhan itu ke Yerusalem.

The Bible Exposition Commentary: Old Testament: Why did David want the Ark in Jerusalem? For one thing, he wanted to honor the Lord and give Him His rightful place as King of the nation. But David also had a secret desire in his heart to build a sanctuary for the Lord (see chap. 7; Ps 132:1-5), and the first step would be to place the Ark in the capital city. David knew that the Lord desired a central sanctuary (Deut 12:5,11,21; 14:23-24; 16:2,6,11; 26:2), and he hoped the Lord would let him build it [= Mengapa Daud menginginkan tabut itu di Yerusalem? Pertama, ia ingin menghormati Tuhan dan memberiNya tempatNya yang menjadi hakNya sebagai Raja dari bangsa itu. Tetapi Daud juga mempunyai keinginan rahasia / diam-diam dalam hatinya untuk membangun tempat kudus untuk Tuhan (lihat pasal 7; Maz 132:1-5), dan langkah pertama adalah menempatkan Tabut itu di ibu kota. Daud tahu bahwa Tuhan menginginkan tempat kudus yang sentral (Ul 12:5,11,21; 14:23-24; 16:2,6,11; 26:2), dan ia berharap Tuhan akan mengijinkannya membangunnya].

2Sam 7:1-2 - “(1) Ketika raja telah menetap di rumahnya dan TUHAN telah mengaruniakan keamanan kepadanya terhadap semua musuhnya di sekeliling, (2) berkatalah raja kepada nabi Natan: ‘Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut Allah diam di bawah tenda.’”.

Maz 132:1-5 - “(1) [Nyanyian ziarah.] Ingatlah, ya TUHAN, kepada Daud dan segala penderitaannya, (2) bagaimana ia telah bersumpah kepada TUHAN, telah bernazar kepada Yang Mahakuat dari Yakub: (3) ‘Sesungguhnya aku tidak akan masuk ke dalam kemah kediamanku, tidak akan berbaring di ranjang petiduranku, (4) sesungguhnya aku tidak akan membiarkan mataku tidur atau membiarkan kelopak mataku terlelap, (5) sampai aku mendapat tempat untuk TUHAN, kediaman untuk Yang Mahakuat dari Yakub.’”.

Ul 12:5,11,21 - “(5) Tetapi tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, dari segala sukumu sebagai kediamanNya untuk menegakkan namaNya di sana, tempat itulah harus kamu cari dan ke sanalah harus kamu pergi. ... (11) maka ke tempat yang dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat namaNya diam di sana, haruslah kamu bawa semuanya yang kuperintahkan kepadamu, yakni korban bakaran dan korban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu dan segala korban nazarmu yang terpilih, yang kamu nazarkan kepada TUHAN. ... (21) Apabila tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, untuk menegakkan namaNya di sana, terlalu jauh dari tempatmu, maka engkau boleh menyembelih dari lembu sapimu dan kambing dombamu yang diberikan TUHAN kepadamu, seperti yang kuperintahkan kepadamu, dan memakan dagingnya di tempatmu sesuka hatimu”.

Catatan: jelas bahwa kata ‘nama’ dalam text di atas ini bukan menunjuk pada nama YHWH, tetapi kepada diri Tuhan sendiri.

 

3)   Daud mengumpulkan para pemimpin dan pemuka dan berunding dengan mereka tentang pemindahan tabut Tuhan.

Ay 1: “Daud mengumpulkan pula semua orang pilihan di antara orang Israel, tiga puluh ribu orang banyaknya.”.

Dari ay 1 ini perundingan itu tidak terlihat, tetapi mari kita lihat ayat-ayat paralelnya dalam 1Taw 13:1-3 - “(1) Daud berunding dengan pemimpin-pemimpin pasukan seribu dan pasukan seratus dan dengan semua pemuka. (2) Berkatalah Daud kepada seluruh jemaah Israel: ‘Jika kamu anggap baik dan jika diperkenankan TUHAN, Allah kita, baiklah kita menyuruh orang kepada saudara-saudara kita yang masih tinggal di daerah-daerah orang Israel, dan di samping itu kepada para imam dan orang-orang Lewi yang ada di kota-kota yang dikelilingi tanah penggembalaan mereka, supaya mereka berkumpul kepada kita. (3) Dan baiklah kita memindahkan tabut Allah kita ke tempat kita, sebab pada zaman Saul kita tidak mengindahkannya.’”.

 

1Taw 13:1 menunjukkan adanya suatu musyawarah karena dikatakan bahwa ‘Daud berunding dengan pemimpin-pemimpin pasukan seribu dan pasukan seratus dan dengan semua pemuka’. Daud bukan seseorang yang otoriter, padahal ia adalah seorang raja. Anehnya, banyak pendeta, atau ketua Majelis, atau ketua sinode, atau donatur terbesar  gereja, yang bersikap otoriter (menjadi ‘Paus’) dalam gereja! Ini merupakan suatu kekurang-ajaran, yang bukan hanya tidak Alkitabiah, tetapi juga merupakan suatu sikap menentang Tuhan, yang adalah Raja Gereja yang sebenarnya.

 

4)   Daud tidak meminta petunjuk Tuhan.

Sekalipun dalam 1Taw 13:2 ada kata-kata Daud yang berbunyi ‘jika diperkenankan TUHAN, Allah kita’, tetapi ia tidak meminta petunjuk Tuhan!

1Taw 13:1-3 - “(1) Daud berunding dengan pemimpin-pemimpin pasukan seribu dan pasukan seratus dan dengan semua pemuka. (2) Berkatalah Daud kepada seluruh jemaah Israel: ‘Jika kamu anggap baik dan jika diperkenankan TUHAN, Allah kita, baiklah kita menyuruh orang kepada saudara-saudara kita yang masih tinggal di daerah-daerah orang Israel, dan di samping itu kepada para imam dan orang-orang Lewi yang ada di kota-kota yang dikelilingi tanah penggembalaan mereka, supaya mereka berkumpul kepada kita. (3) Dan baiklah kita memindahkan tabut Allah kita ke tempat kita, sebab pada zaman Saul kita tidak mengindahkannya.’”.

The Bible Exposition Commentary: Old Testament: But one thing was missing: there is no record that David sought the mind of the Lord in this matter. Relocating the Ark to Jerusalem seemed a wise idea and everybody was enthusiastic about doing it, but the king didn’t follow his usual pattern of asking the Lord for His directions. After all, what pleases the king and the people may not please God, and what doesn’t please God will not have His blessing (= Tetapi ada satu hal yang kurang: di sana tidak ada catatan bahwa Daud mencari pikiran Tuhan dalam persoalan ini. Pemindahan Tabut Tuhan ke Yerusalem kelihatannya merupakan suatu gagasan / usul yang bijaksana dan setiap orang bersemangat dalam melakukannya, tetapi sang raja tidak mengikuti pola biasanya dengan bertanya kepada Tuhan untuk pimpinan / pengarahanNya. Bagaimanapun juga, apa yang menyenangkan raja dan rakyat bisa tidak menyenangkan Allah, dan apa yang tidak menyenangkan Allah tidak akan mendapatkan berkatNya).

 

5)   Daud dan seluruh rakyat melakukan pemindahan tabut Tuhan ke Yerusalem.

Ay 2-5: “(2) Kemudian bersiaplah Daud, lalu berjalan dari Baale-Yehuda dengan seluruh rakyat yang menyertainya, untuk mengangkut dari sana tabut Allah, yang disebut dengan nama TUHAN semesta alam yang bertakhta di atas kerubim. (3) Mereka menaikkan tabut Allah itu ke dalam kereta yang baru setelah mengangkatnya dari rumah Abinadab yang di atas bukit. Lalu Uza dan Ahyo, anak-anak Abinadab, mengantarkan kereta itu. (4) Uza berjalan di samping tabut Allah itu, sedang Ahyo berjalan di depan tabut itu. (5) Daud dan seluruh kaum Israel menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga, diiringi nyanyian, kecapi, gambus, rebana, kelentung dan ceracap.”.

 

a)            Nama Baale-Yehuda (ay 2).

Wycliffe Bible Commentary: “‘Baale of Judah’. Cf. 1 Chr 13:6. The idiom means ‘Lords of Judah’. These were the leading members of the land of Judah. ... Traditionally the term has been regarded as a place name - Baale of Judah” (= ‘Baale dari Yehuda’. Bdk. 1Taw 13:6. Ungkapan ini berarti ‘Tuhan-tuhan dari Yehuda’. Ini adalah anggota-anggota yang terkemuka dari tanah Yehuda. ... Secara tradisionil istilah itu telah dianggap sebagai nama suatu tempat - Baale dari Yehuda).

1Taw 13:6 - “Lalu Daud dan segenap orang Israel berangkat ke Baala, ke Kiryat-Yearim, yang termasuk wilayah Yehuda, untuk mengangkut dari sana tabut Allah, yang disebut dengan nama TUHAN yang bertakhta di atas kerubim”.

Keil & Delitzsch: Baale-Jehudah is another name of the city of Kirjath-jearim (Josh 15:60; 18:14), which is called Baalah in Josh 15:9 and 1 Chron 13:6, according to its Canaanitish name, instead of which the name Kirjath-jearim (city of the woods) was adopted by the Israelites, though without entirely supplanting the old name [= Baale-Yehuda merupakan nama lain dari kota Kiryat-Yearim (Yos 15:60; 18:14), yang disebut Baala dalam Yos 15:9 dan 1Taw 13:6, sesuai dengan nama Kanaannya, dan bukannya dengan nama Kiryat-Yearim (kota dari kayu) yang diambil oleh orang-orang Israel, sekalipun tanpa menggantikan sepenuhnya nama lamanya].

 

Kata ‘Baal’ artinya ‘tuan / tuhan’, tetapi juga jelas adalah nama dewa pada saat itu. Tetapi tetap digunakan dalam Kitab Suci, bahkan oleh orang Israel! Bandingkan dengan ajaran Yahweh-isme yang melarang kata ‘Allah’ dengan alasan itu adalah nama dari Tuhannya orang Islam, atau nama dari dewa kafir pra Islam! Menurut saya, ini adalah ajaran bodoh!

Catatan: kalau mau tahu lebih banyak tentang ajaran Yahweh-isme, dan semua kebodohan dan penipuannya, baca buku saya berjudul ‘Yahweh-isme’.

 

b)      Tabut Tuhan.

Ay 2: “tabut Allah, yang disebut dengan nama TUHAN semesta alam yang bertakhta di atas kerubim”.

Adam Clarke: “‘Whose name is called by the name of the Lord’. That is, The ark is called the ark of the Lord of hosts” (= ‘Yang namanya disebut dengan nama Tuhan’. Artinya, Tabut itu disebut Tabut TUHAN semesta alam).

 

c)            Mereka menggunakan kereta yang baru.

Ay 3: “Mereka menaikkan tabut Allah itu ke dalam kereta yang baru”.

Ini jelas merupakan tindakan yang salah, karena hukum Taurat mengharuskan tabut Tuhan dipikul oleh orang Lewi.

Memang tabut Tuhan itu diberi 4 gelang emas pada keempat penjurunya, dan kayu pengusung, dengan mana tabut Tuhan itu harus diangkat. Pengangkatnyapun tak boleh sembarang orang, tetapi ditentukan dalam hukum Taurat.

Kel 25:12-15 - “(12) Haruslah engkau menuang empat gelang emas untuk tabut itu dan pasanglah gelang itu pada keempat penjurunya, yaitu dua gelang pada rusuknya yang satu dan dua gelang pada rusuknya yang kedua. (13) Engkau harus membuat kayu pengusung dari kayu penaga dan menyalutnya dengan emas. (14) Haruslah engkau memasukkan kayu pengusung itu ke dalam gelang yang ada pada rusuk tabut itu, supaya dengan itu tabut dapat diangkut. (15) Kayu pengusung itu haruslah tetap tinggal dalam gelang itu, tidak boleh dicabut dari dalamnya”.

Bil 7:9 - “Tetapi kepada bani Kehat tidak diberikannya apa-apa, karena pekerjaan mereka ialah mengurus barang-barang kudus, yang harus diangkat di atas bahunya”.

 

Mengapa mereka melakukan pelanggaran seperti ini? Pulpit Commentary mengatakan bahwa kesalahan seperti ini tidaklah mengherankan. Mereka sudah lama tidak berurusan dengan tabut Tuhan itu sehingga sangat mungkin mereka melupakan cara sebenarnya dalam mengangkut tabut Tuhan itu. Bagi kita, dengan mudah kita bisa melihat dalam Alkitab kita bagaimana Tuhan menghendaki kita melakukan hal itu. Tetapi bagi mereka, Alkitab tidak tersedia seperti bagi kita pada jaman sekarang. Alkitab / Perjanjian Lama masih ada dalam bentuk manuscript, dan Pulpit Commentary mengatakan bahwa tidak terbayangkan kalau Daud, atau bahkan imam besar Abyatar membawa manuscript pada saat itu. Mereka hanya tahu bahwa tabut Tuhan itu kembali dari Filistin dengan menggunakan kereta, dan mereka  menirunya.

 

Matthew Henry: It was no excuse for them that the Philistines had done so and were not punished for it; they knew no better, nor had they any priests or Levites with them to undertake the carrying of it; better carry it in a cart than that any of Dagon’s priests should carry it. Philistines may cart the ark with impunity; but, if Israelites do so, they do it at their peril (= Bukan suatu dalih bagi mereka bahwa orang-orang Filistin telah melakukan demikian dan tidak dihukum untuk itu; mereka tidak tahu dengan lebih baik, juga mereka tidak mempunyai imam ataupun orang-orang Lewi bersama mereka untuk melakukan pengangkutan tabut itu; lebih baik membawanya dalam sebuah kereta dari pada imam Dagon yang manapun yang membawanya. Orang-orang Filistin bisa membawa tabut dengan kereta tanpa dihukum; tetapi jika orang-orang Israel melakukan hal yang sama, mereka melakukannya atas resiko mereka sendiri).

 

Pulpit Commentary: “But in so solemn a matter the priests ought to have made diligent search, and have gone for instruction to the copies which they possessed of the Divine Law. ... But this want of inquiry and easy assumption, that as the ark was brought in a cart to Abinadab’s house, so in a cart it should be carried away, was an act of great irreverence, and all the guilty were punished. The heaviest blow fell on the house of Abinadab, which lost a dear son. Entrusted for seventy years with the care of so sacred a symbol of Jehovah’s presence, Abinadab and his family ought to have made a special study of the laws concerning it. Apparently they left it very much to itself; for it is never said that God blessed them for their care of it as he did Obed-Edom” (= Tetapi dalam suatu persoalan yang begitu keramat imam-imam seharusnya membuat penyelidikan yang rajin / tekun, dan mencari instruksi ke manuscript-manuscript yang mereka miliki tentang hukum Taurat Ilahi. ... Tetapi tidak adanya penyelidikan dan perkiraan / anggapan yang mudah, bahwa karena tabut itu dibawa dalam kereta ke rumah Abinadab, demikian juga tabut itu harus dibawa untuk meninggalkannya dengan sebuah kereta, merupakan suatu tindakan ketidak-hormatan yang besar, dan semua yang bersalah dihukum. Pukulan yang terberat jatuh pada keluarga dari Abinadab, yang kehilangan seorang anak yang dikasihi. Setelah dipercayai selama 70 tahun dengan pemeliharaan / penjagaan dari simbol yang begitu keramat dari kehadiran Yehovah, Abinadab dan keluarganya seharusnya telah membuat suatu pembelajaran khusus tentang hukum-hukum tentangnya. Tetapi kelihatannya mereka membiarkan tabut itu begitu saja; karena tak pernah dikatakan bahwa Allah memberkati mereka untuk pemeliharaan / penjagaan tabut itu seperti yang Dia lakukan kepada Obed-Edom).

 

The Biblical Illustrator (Old Testament): Let us not look at such details as little things, and suppose that it matters nothing whether the ark is carried in one way or another, provided that it is brought to its proper destination (= Hendaklah kita tidak melihat detail-detail seperti itu sebagai hal-hal yang kecil, dan menganggap bahwa tidak menjadi soal apakah tabut itu dibawa dengan satu cara atau cara yang lain, asalkan tabut itu dibawa ke tujuannya yang benar).

 

The Bible Exposition Commentary: Old Testament: The lesson here is obvious: God’s work must be done in God’s way if it is to have God’s blessing. The fact that all the leaders of Israel agreed to use the cart didn’t make it right (= Pelajaran di sini adalah jelas: pekerjaan Allah harus dilakukan dengan cara Allah jika itu mau mendapatkan berkat Allah. Fakta bahwa semua pemimpin-pemimpin Israel setuju untuk menggunakan kereta tidak membuatnya menjadi benar).

 

The Bible Exposition Commentary: Old Testament: The church today needs to heed this reminder and return to the Word of God for an understanding of the will of God. No amount of unity or enthusiasm can compensate for disobedience. When God’s work is done in man’s way, and we imitate the world instead of obeying the Word, we can never expect the blessing of God. The crowds may approve what we do, but what about the approval of God? The way of the world is ultimately the way of death (= Gereja pada saat ini perlu memperhatikan pengingat ini dan kembali kepada Firman Allah untuk suatu pengertian tentang kehendak Allah. Tak ada banyak kesatuan atau semangat yang bisa memberikan kompensasi untuk ketidak-taatan. Pada waktu pekerjaan Allah dilakukan dengan cara / jalan manusia, dan kita meniru dunia dan bukannya mentaati Firman, kita tidak pernah bisa mengharapkan berkat Allah. Orang-orang banyak bisa merestui apa yang kita lakukan, tetapi bagaimana dengan restu dari Allah? Cara / jalan dunia pada akhirnya adalah jalan kematian).

 

The Biblical Illustrator (Old Testament): the best of services may be gone about in a faulty way. There may be some criminal neglect of God’s will that, like the dead fly in the apothecary’s pot of ointment, causes the perfume to send forth a stinking savour. And so it was on this occasion. What induced them to follow the example of the Philistines rather than the directions of Moses, we do not know, and can hardly conjecture. It does not appear to have been a mere oversight. It has something of a deliberate plan about it, as if the law given in the wilderness were now obsolete, and in so small a matter any method might be chosen that the people liked. It may have been an error of inadvertence. But that somewhere there was a serious offence is evident from the punishment with which it was visited (1 Chron 15:13). The great lesson for all time is to beware of following our own devices in the worship of God when we have clear instructions in His word how we are to worship Him [= pelayanan-pelayanan terbaik bisa dilakukan dengan cara yang salah. Di sana ada suatu pengabaian kehendak Allah yang bersifat kriminil, sehingga seperti lalat yang mati dalam pot obat dari ahli obat, menyebabkan minyak wangi mengeluarkan bau busuk. Dan begitulah dalam peristiwa ini. Apa yang menyebabkan mereka mengikuti teladan dari orang-orang Filistin dari pada pengarahan Musa, kita tidak tahu, dan hampir tidak bisa menebak. Kelihatannya itu bukan semata merupakan suatu kekhilafan / kelalaian. Ada sesuatu rencana yang disengaja tentang hal itu, seakan-akan hukum Taurat yang diberikan di padang gurun sekarang sudah usang, dan dalam hal sekecil itu metode apapun yang disenangi orang-orang bisa dipilih. Itu bisa merupakan suatu kesalahan tentang ketidak-hati-hatian. Tetapi bahwa entah dimana di sana ada suatu pelanggaran yang serius adalah jelas dari hukuman yang diberikan atas kesalahan itu (1Taw 15:13). Pelajaran yang besar untuk semua saat adalah untuk berhati-hati dalam mengikuti rencana kita sendiri dalam ibadah / kebaktian Allah pada saat kita mempunyai instruksi yang jelas dalam firmanNya bagaimana kita harus menyembah Dia / berbakti kepadaNya].

1Taw 15:13 - “Sebab oleh karena pada pertama kali kamu tidak hadir, maka TUHAN, Allah kita, telah menyambar di tengah-tengah kita, sebab kita tidak meminta petunjukNya seperti seharusnya.’”.

Catatan: kata ‘kamu’ di sini menunjuk kepada orang-orang Lewi.

 

The Biblical Illustrator (Old Testament): There is a touch of veneration about this arrangement. The cart was ‘new.’ (= Di sana ada sedikit pemujaan tentang rencana / persiapan ini, Kereta itu ‘baru’.).

 

Matthew Henry: And it mended the matter very little that it was a new cart; old or new, it was not what God had appointed (= Dan itu membetulkan persoalan itu sangat sedikit bahwa itu adalah kereta yang baru; lama atau baru, itu bukanlah apa yang Allah telah tetapkan).

 

The Biblical Illustrator (Old Testament): The fact that the ark was placed upon a new cart shows how, IN THE DESIRE TO SERVE GOD, EVEN A GOOD MAN MAY ERR. It is a fact substantiated by experience, and supported by the voice of history, that man at his best is but an erring creature. His folly is often exhibited in his best moments. ... The claim to infallibility is but the ambition of the child - the blundering of the blind. Would it not be a wonderful improvement on the old style of things to have a new cart? Will it not harmonise with the new order established? Pay no attention to that worn-out, obsolete plan of carrying the ark; abandon the old poles and have a ‘new cart.’ It will save the shoulders of the Levites; it will be a new feature in its way; it will be admired for its construction, and commended for the use to which it will be devoted. And so we reason in our work for God. Antiquity gains no reverence from us. The old poles with which our fathers did their work are considered out of date and useless, and we drag out our ‘new cart’ on every occasion when our labour is required. Starting some fresh thing, inventing some novelty, forgetting all the while that God’s way is best (= Fakta bahwa tabut itu ditempatkan pada sebuah kereta yang baru menunjukkan bagaimana, dalam keinginan untuk melayani / beribadah kepada Allah, bahkan seorang yang baik / saleh bisa salah. Merupakan suatu fakta yang didukung oleh pengalaman, dan disokong oleh suara dari sejarah, bahwa sebaik-baiknya manusia ia hanyalah seorang makhluk ciptaan yang bisa salah. Kebodohannya sering ditunjukkan dalam saat-saat terbaiknya. ... Claim bahwa ia tidak bisa salah hanyalah merupakan ambisi dari seorang anak - kesalahan yang sangat besar dari seorang buta. Bukankah merupakan suatu kemajuan / perbaikan yang sangat bagus terhadap gaya yang lama dari hal-hal untuk menggunakan kereta yang baru? Bukankah itu akan harmonis dengan kondisi baru yang ditegakkan? Jangan pedulikan rencana yang sudah usang dan kuno tentang pengangkatan tabut; tinggalkan kayu-kayu pengusung dan pakailah ‘kereta yang baru’. Itu akan menghemat bahu-bahu dari orang-orang Lewi; itu akan merupakan segi / ciri-ciri yang baru dalam perjalanannya; itu akan dikagumi untuk konstruksinya, dan dipuji untuk penggunaan untuk mana itu akan dibaktikan. Dan demikianlah kita berargumentasi dalam pekerjaan kita untuk Allah. Kekunoan tidak mendapatkan penghormatan dari kita. Kayu-kayu pengusung yang lama dengan mana bapa-bapa / nenek moyang kita melakukan pekerjaan mereka, dianggap ketinggalan jaman dan tak berguna, dan kita menarik ‘kereta baru’ kita pada setiap kesempatan, pada waktu jerih payah kita dibutuhkan. Mulai dengan hal yang baru / segar, menemukan / menciptakan sesuatu yang baru, sementara itu melupakan bahwa jalan / cara Allah adalah jalan / cara yang terbaik).

 

The Biblical Illustrator (Old Testament): Have a new cart, and the world will stop and stare. Affect originality, even if it be a spurious thing, and you may speak to listening ears. Stop not to ask questions about propriety; pay no respect to the past; be extravagant and sensational, and you will gather a crowd. We have grown liberal all at once. God’s commandments are without authority in this age; you may be religious in whatever way is most appropriate. By all means have a cart. If you find yourself in doubt as to the Saviour’s Divinity, you can have an Unitarian cart; if you think the mode of Nonconformist worship too dull, and that more aesthetic beauty is desirable in the service then have a Ritualistic cart; if you have any scruples about the immortality of your soul, then have the Annihilationist cart; ... Get rid of the old poles; ‘new carts’ are the fashion of this novelty-loving age. Let all the old-fashioned things rot. Reform your plans, improve your methods, ... produce a ‘new cart.’ Oh! how fond we are of novelties! The last new thing is the best. The last new creed; the latest criticism on ‘supernatural religion;’ the last utterance of the scientist; the last sceptical theory from, the professor; these are the things that win admiration. But give me religion without these inventions. Let it be pure and simple, without any man-made additions - the old ark borne by the consecrated poles. Take away those mocking substitutes. ‘For other foundation can no man lay, than that is laid, which is Jesus Christ.’ (= Pakailah kereta yang baru, dan dunia akan berhenti dan melihat. Pakailah sesuatu yang asli, bahkan jika itu adalah sesuatu yang palsu, dan engkau akan berbicara pada telinga-telinga yang mendengarkan. Jangan berhenti untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan tentang kepatutan; jangan pedulikan yang lalu; jadilah luar biasa / berlebih-lebihan dan sensasional / menggemparkan, dan engkau akan mengumpulkan banyak orang. Kita telah bertumbuh menjadi liberal sepenuhnya pada satu saat. Perintah-perintah / hukum-hukum Allah tidak punya otoritas pada jaman ini; engkau bisa religius dalam cara / jalan apapun yang paling cocok. Dengan cara apapun / bagaimanapun, pakailah sebuah ‘kereta’. Jika engkau mendapati dirimu sendiri meragukan keilahian sang Juruselamat, engkau bisa menggunakan ‘kereta’ Unitarian; jika engkau berpikir bahwa cara ibadah dari orang-orang yang tak mau berkompromi sebagai terlalu membosankan, dan bahwa lebih banyak keindahan estetika / seni merupakan sesuatu yang diinginkan dalam kebaktian, maka pakailah ‘kereta’ yang menekankan ritual / upacara agama; jika engkau mempunyai keberatan apapun tentang kekekalan dari jiwamu, maka pakailah ‘kereta’ Annihilationist / orang yang percaya bahwa manusia berdosa nanti akan dimusnahkan; ... Buanglah kayu-kayu pengusung yang lama; ‘kereta-kereta baru’ adalah mode dari jaman yang mencintai hal-hal yang baru ini. Biarlah semua hal-hal yang kuno membusuk. Reformasikanlah rencana-rencanamu, perbaikilah metode-metodemu, ... hasilkanlah ‘sebuah ‘kereta yang baru’. Oh! alangkah senangnya kita pada hal-hal yang baru! Hal yang terbaru adalah yang terbaik. Pengakuan Iman yang terbaru, kritik yang terbaru terhadap ‘agama yang supranatural’; ucapan yang terbaru dari ilmuwan; teori skeptis yang terbaru dari profesor; hal-hal ini adalah hal-hal yang memenangkan kekaguman. Tetapi berilah aku agama tanpa penemuan-penemuan baru ini. Hendaklah itu murni dan sederhana / biasa, tanpa tambahan-tambahan buatan manusia yang manapun - tabut yang lama yang dipikul dengan kayu-kayu pengusung. Buanglah / singkirkanlah pengganti-pengganti yang menghina / mengejek ini. ‘Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus’.).

 

‘Baru’ tetapi salah! Jauh lebih baik yang ‘lama’ atau bahkan ‘kuno’ tetapi benar! Bandingkan dengan Elia yang menggunakan mezbah Tuhan yang lama.

1Raja 18:30 - “Kata Elia kepada seluruh rakyat itu: ‘Datanglah dekat kepadaku!’ Maka mendekatlah seluruh rakyat itu kepadanya. Lalu ia memperbaiki mezbah TUHAN yang telah diruntuhkan itu.

 

1Kor 3:11 - “Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus”.

 

Hati-hati dalam melakukan sesuatu yang baru yang saudara anggap baik / menyenangkan Tuhan, tetapi tidak ada dasar Alkitabnya atau bahkan bertentangan dengan Alkitab! Hati-hati juga dengan ajaran / doktrin yang baru, atau praktek-praktek yang baru dalam gereja, yang bukan hanya tidak punya dasar Alkitab, tetapi bahkan bertentangan dengan Alkitab!

Contoh:

1.   Doa yang diiringi musik.

2.   Sekarang bahkan kata-kata chairman / pemimpin liturgi, kata-kata dari orang yang memberi kesaksian, bahkan khotbah, juga ada yang diiringi dengan musik!

3.   Doa bersuara dalam kalangan gereja-gereja Tionghoa, termasuk GRII.

4.   Cara berdoa dimana yang sebagian menyanyi dan yang sebagian berdoa. Atau yang sebagian berdoa untuk hal satu dan sebagian yang lain berdoa hal lain, dan semua dilakukan masing-masing dengan suara keras.

5.   Bersalam-salaman dengan sedikitnya 10 orang pada saat ibadah! Ini merusak persekutuan vertikal dengan Tuhan! Ingat bahwa ibadah / kebaktian bukan merupakan persekutuan horizontal, tetapi vertikal. Karena itu kalau mau melakukan persekutuan horizontal, lakukan itu sebelum atau sesudah kebaktian, bukan pada saat kebaktian.

6.   Buang cara ibadah lama yang tenang, dan pakailah cara ibadah baru yang meriah, disertai bahasa Roh, tumbang dalam Roh, tari-tarian, loncat-loncat, dan sebagainya.

7.   Buang liturgi yang lama, dan gunakan liturgi yang baru, bahkan buang seluruh liturgi secara total. Ada hal-hal yang boleh dibuang dari liturgi karena memang tak ada perintah, explicit atau implicit, untuk menggunakannya. Misalnya: 12 Pengakuan Iman Rasuli dan Doa Bapa Kami. Tetapi kalau doa pengakuan dosa atau khotbah, dibuang, itu tidak Alkitabiah!

8.   Buang lagu-lagu pujian yang lama dan pakai lagu-lagu yang baru. Tak masalah dengan lagu baru, selama:

a. Saudara bukannya menganggap usang lagu lama yang justru sangat bermutu.

b. Lagu baru itu tidak mengandung kesalahan-kesalahan dalam kata-katanya. Dalam faktanya banyak sekali terjadi kesalahan-kesalahan, bahkan kesesatan-kesesatan, dalam lagu-lagu baru itu, karena pengarangnya bukan orang yang mengerti theologia!

9.   Buang buku-buku tafsiran / theologia yang lama dan pakai yang baru! Lagi-lagi saya tak bermasalah dengan orang yang menggunakan buku-buku tafsiran / theologia yang baru, asal bermutu, dan asal mereka tak menganggap buku-buku lama itu usang! Sangat banyak buku-buku lama itu yang betul-betul hebat dan tak tertandingi sampai jaman sekarang, atau mungkin sampai kapanpun.

10.  Buang ajaran / doktrin yang lama dan pakai ajaran / doktrin yang baru, apakah itu Liberalisme, Kharismatik, Yahweh-isme, Pria Sejati / Wanita Bijak, atau banyak ajaran-ajaran baru yang sesat jaman ini!

Catatan: saya tak memberi alasan mengapa hal-hal yang saya contohkan ini salah, karena terlalu panjang kalau semua diberikan di sini. Tetapi saya punya dasar-dasarnya.

 

Tetapi pada saat yang sama, jangan terlalu mudah menyalahkan dan menganggap tidak Alkitabiah, kalau saudara tidak punya dasar Alkitab untuk menyalahkan! Penggunaan tepuk tangan, band, dalam kebaktian, menurut saya tidak apa-apa, karena tak ada ayat manapun yang menentangnya.

Kebaktian pakai DVD untuk acara Firman Tuhan; salah atau benar? Kalau saya, saya tak bisa melihat apapun yang salah dalam hal ini! Kalau mau menyalahkan, harus punya dasar Alkitab. Misalnya pemain musik tak ada, dan kita lalu pakai musik dari tape recorder, apakah salah? Saya percaya itu tidak salah juga.

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali