Kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Minggu, tgl 13 Maret 2011, pk 17.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

[email protected]

 

II SAMUEL 3:1-39(4)

 

V) Yoab membunuh Abner dan sikap Daud terhadap hal itu.

 

Ay 22-39:(22) Anak buah Daud dan Yoab baru saja pulang setelah mengadakan penggerebekan dan mereka membawa pulang jarahan yang banyak. Tetapi Abner tidak lagi bersama-sama Daud di Hebron, sebab ia telah dilepasnya pergi dengan selamat. (23) Ketika Yoab bersama dengan segenap tentaranya sudah pulang, diberitahukan kepada Yoab, demikian: ‘Abner bin Ner telah datang kepada raja dan ia sudah dibiarkannya pergi dengan selamat.’ (24) Kemudian pergilah Yoab kepada raja, katanya: ‘Apakah yang telah kauperbuat? Abner telah datang kepadamu; mengapa engkau membiarkannya begitu saja? (25) Apakah engkau tidak kenal Abner bin Ner itu. Ia datang untuk memperdaya engkau dan untuk mengetahui gerak-gerikmu dan untuk mengetahui segala yang hendak kaulakukan.’ (26) Sesudah itu keluarlah Yoab meninggalkan Daud dan menyuruh orang menyusul Abner, lalu mereka membawanya kembali dari perigi Sira tanpa diketahui Daud. (27) Ketika Abner kembali ke Hebron, maka Yoab membawanya sebentar ke samping di tengah-tengah pintu gerbang itu, seakan-akan hendak berbicara dengan dia dengan diam-diam; kemudian ditikamnyalah dia di sana pada perutnya, sehingga mati, membalas darah Asael, adiknya. (28) Ketika hal itu didengar Daud kemudian, berkatalah ia: ‘Aku dan kerajaanku tidak bersalah di hadapan TUHAN sampai selama-lamanya terhadap darah Abner bin Ner itu. (29) Biarlah itu ditanggung oleh Yoab sendiri dan seluruh kaum keluarganya. Biarlah dalam keturunan Yoab tidak putus-putusnya ada orang yang mengeluarkan lelehan, yang sakit kusta, yang bertongkat, yang tewas oleh pedang atau yang kekurangan makanan.’ (30) Demikianlah Yoab dan Abisai, adiknya, membunuh Abner, karena ia telah membunuh Asael, adik mereka, di Gibeon dalam pertempuran. (31) Dan berkatalah Daud kepada Yoab dan kepada segala rakyat yang bersama-sama dengan dia: ‘Koyakkanlah pakaianmu dan lilitkanlah pada tubuhmu kain kabung dan merataplah di depan mayat Abner.’ Raja Daud sendiripun berjalan di belakang usungan mayat. (32) Ketika orang menguburkan Abner di Hebron, maka menangislah raja dengan suara nyaring pada kubur Abner dan seluruh rakyatpun menangis. (33) Karena Abner raja mengucapkan nyanyian ratapan ini: ‘Apakah Abner harus mati seperti orang bebal? (34) Tanganmu tidak terikat dan kakimu tidak dirantai. Engkau gugur seperti orang gugur oleh orang-orang durjana.’ Dan seluruh rakyat itu makin menangis karena dia. (35) Seluruh rakyat datang menawarkan kepada Daud untuk makan roti selagi hari siang, tetapi Daud bersumpah, katanya: ‘Kiranya Allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika sebelum matahari terbenam aku mengecap roti atau apapun.’ (36) Ketika seluruh rakyat melihat hal itu, mereka menganggap hal itu baik, seperti segala sesuatu yang dilakukan raja dianggap baik oleh seluruh rakyat. (37) Maka tahulah seluruh rakyat dan seluruh Israel pada hari itu, bahwa pembunuhan Abner bin Ner bukanlah rancangan raja. (38) Kemudian berkatalah raja kepada para pegawainya: ‘Tidak tahukah kamu, bahwa pada hari ini gugur seorang pemimpin, seorang besar, di Israel? (39) Tetapi aku ini sekarang masih lemah, sekalipun sudah diurapi menjadi raja, sedang orang-orang itu, yakni anak-anak Zeruya, melebihi aku dalam kekerasan. Kiranya TUHAN membalas kepada orang yang berbuat jahat setimpal dengan kejahatannya.’.

 

1)   Yoab pulang (ay 22).

 

a)         Jadi, perundingan Daud dengan Abner terjadi pada saat Yoab absen / tidak ada.

 

Pulpit Commentary: “It is not unlikely that David had arranged this expedition in order that his interview with Abner might take place in Joab’s absence; ... Had David acted frankly and honourably, Joab would not have stood in the way of his master’s exaltation, and the blood feud between him and Abner might have been arranged. But it is evident that David secretly disliked and chafed under the control of his strong-willed and too-able nephew. ... Had David acted openly, all would have been done with Joab’s consent and approval” (= Bukan tidak mungkin bahwa Daud telah mengatur expedisi ini supaya wawancaranya dengan Abner bisa terjadi pada saat Yoab absen; ... Seandainya Daud bertindak dengan terus terang dan terhormat, Yoab tidak akan menghalangi pemuliaan / peninggian tuannya, dan permusuhan / dendam berdarah antara dia dan Abner bisa dibereskan. Tetapi adalah jelas bahwa Daud dengan diam-diam tidak menyukai dan jengkel berada di bawah kontrol dari keponakannya yang keras kepala dan terlalu banyak kemampuan. ... Seandainya Daud bertindak secara terbuka, semua akan terjadi dengan persetujuan dan restu Yoab).

Catatan:

·         saya berpendapat bahwa kata-kata ini hanya merupakan dugaan yang tidak pasti.

·         Yoab adalah anak Zeruya, dan Zeruya adalah kakak perempuan Daud (1Taw 2:16). Jadi Yoab adalah keponakan Daud.

 

b)         Yoab mendapat laporan tentang kehadiran Abner, dan menjadi marah.

Ay 23-25: (23) Ketika Yoab bersama dengan segenap tentaranya sudah pulang, diberitahukan kepada Yoab, demikian: ‘Abner bin Ner telah datang kepada raja dan ia sudah dibiarkannya pergi dengan selamat.’ (24) Kemudian pergilah Yoab kepada raja, katanya: ‘Apakah yang telah kauperbuat? Abner telah datang kepadamu; mengapa engkau membiarkannya begitu saja? (25) Apakah engkau tidak kenal Abner bin Ner itu. Ia datang untuk memperdaya engkau dan untuk mengetahui gerak-gerikmu dan untuk mengetahui segala yang hendak kaulakukan.’.

 

1.   Sangat mungkin kemarahan Yoab ini disebabkan oleh iri hati dan kekuatiran kalau kedudukannya direbut oleh Abner.

Lagi-lagi kita menjumpai kasus yang menunjukkan bahayanya iri hati dan rasa kuatir akan digesernya kedudukannya oleh orang lain! Dan hal seperti ini bisa terjadi dalam pemerintahan, perusahaan, dan bahkan dalam gereja!

 

2.   Yoab berani memarahi / menegur Daud (ay 24), dan bahkan memfitnah Abner (ay 25).

Ay 24-25: (24) Kemudian pergilah Yoab kepada raja, katanya: ‘Apakah yang telah kauperbuat? Abner telah datang kepadamu; mengapa engkau membiarkannya begitu saja? (25) Apakah engkau tidak kenal Abner bin Ner itu. Ia datang untuk memperdaya engkau dan untuk mengetahui gerak-gerikmu dan untuk mengetahui segala yang hendak kaulakukan.’”.

 

Bible Knowledge Commentary: “Particularly incensed was Joab. When he found out that David had entertained Abner at a feast (v. 20) and made overtures of friendship to him (v. 22), he chided the king, saying that Abner’s purpose was to spy on David (vv. 24-25)” [= Orang yang secara khusus menjadi marah adalah Yoab. Ketika ia tahu bahwa Daud telah menjamu Abner di sebuah pesta (ay 20) dan membuat tawaran persahabatan kepadanya (ay 22), ia memarahi / mencela sang raja, sambil mengatakan bahwa tujuan Abner adalah untuk memata-matai Daud (ay 24-25)].

 

Keil & Delitzsch: “Joab hoped in this way to prejudice David against Abner, to make him suspected as a traitor, that he might then be able to gratify his own private revenge with perfect impunity” (= Yoab berharap dengan cara ini untuk membuat Daud berprasangka terhadap Abner, membuatnya mencurigainya sebagai seorang pengkhianat, supaya pada saat itu ia bisa memuaskan dendam pribadinya dengan kebebasan yang sempurna dari hukuman).

 

Matthew Henry: “he chides David, and reproaches him to his face as impolitic (v. 24,25): What hast thou done? As if David were accountable to him for what he did: ‘Why hast thou sent him away, when thou mightest have made him a prisoner? He came as a spy, and will certainly betray thee.’” [= ia memarahi Daud, dan mencela / menyalahkannya secara terang-terangan sebagai tidak bijaksana (ay 24,25): ‘Apa yang telah engkau lakukan?’. Seakan-akan Daud bertanggung jawab kepadanya untuk apa yang ia lakukan: ‘Mengapa engkau telah menyuruhnya pergi, pada waktu engkau bisa menjadikannya seorang tahanan / tawanan? Ia datang sebagai seorang mata-mata, dan pasti akan mengkhianati engkau’].

 

Matthew Henry: “I know not whether to wonder more that Joab had impudence enough to give such an affront to his prince or that David had patience enough to take it. He does, in effect, call David a fool when he tells him he knew Abner came to deceive him and yet he trusted him. We find no answer that David gave him, not because he feared him, as Ish-bosheth did Abner (v. 11), but because he despised him, or because Joab had not so much good manners as to stay for an answer” [= Saya tidak tahu yang mana yang lebih mengherankan, bahwa Yoab cukup kurang ajar untuk memberikan penghinaan seperti itu kepada pangeran / rajanya, atau bahwa Daud mempunyai kesabaran yang cukup untuk menerima penghinaan itu. Ia sebetulnya menyebut Daud seorang tolol pada waktu ia memberitahunya bahwa ia tahu kalau Abner datang untuk menipunya tetapi ia mempercayainya. Kita tidak mendapati jawaban yang Daud berikan kepadanya, bukan karena ia takut kepada Yoab, seperti Isyboset takut kepada Abner (ay 11), tetapi karena ia meremehkannya, atau Yoab tidak mempunyai kesopanan yang baik sehingga tetap ada untuk mendapatkan jawaban].

Catatan: saya tak setuju kalau dikatakan Daud tidak takut kepada Yoab. Dari kata-kata Daud dalam ay 39, dan juga dari tidak adanya tindakan apa-apa terhadap pembunuhan terhadap Abner oleh Yoab, kelihatannya ia memang takut kepada Yoab. Mungkin ia tidak takut secara pribadi terhadap Yoab, tetapi ia tahu ia membutuhkan Yoab, dan karena itu takut kehilangan Yoab.

 

The Bible Exposition Commentary: Old Testament: “The text records no reply from David. Joab had never been easy to deal with (3:39), and the fact that he was a relative made the situation even more difficult. ... David’s silence wasn’t that of agreement, because he didn’t agree with his general; it was the silence of restraint and the evidence of a deep desire to put the nation back together again. David wasn’t promoting ‘peace at any price,’ because he was a man of integrity” [= Textnya tidak mencatat jawaban dari Daud. Yoab tidak pernah mudah untuk ditangani (3:39), dan fakta bahwa ia adalah seorang keluarga membuat situasi bahkan makin sukar. ... Diamnya Daud bukan diam karena setuju, karena ia tidak setuju dengan jendralnya; itu adalah ke-diam-an karena pengendalian diri dan merupakan bukti dari suatu keinginan yang dalam untuk mempersatukan bangsa itu lagi. Daud bukannya sedang mengembangkan ‘damai tak peduli apapun ongkos / pengorbanannya’, karena ia adalah orang yang jujur / lurus].

Catatan: saya tidak melihat alasan untuk mengatakan bahwa Daud bukannya sedang mengembangkan ‘damai tak peduli apapun ongkos / pengorbanannya’. Menurut saya ia memang melakukan hal itu.

 

2)   Yoab membunuh Abner.

Ay 26-27: (26) Sesudah itu keluarlah Yoab meninggalkan Daud dan menyuruh orang menyusul Abner, lalu mereka membawanya kembali dari perigi Sira tanpa diketahui Daud. (27) Ketika Abner kembali ke Hebron, maka Yoab membawanya sebentar ke samping di tengah-tengah pintu gerbang itu, seakan-akan hendak berbicara dengan dia dengan diam-diam; kemudian ditikamnyalah dia di sana pada perutnya, sehingga mati, membalas darah Asael, adiknya.”.

 

a)         Ia tidak mau disaingi, dan karena itu ia membunuh saingannya itu.

Barnes’ Notes: “Joab saw that if Abner was reconciled to David, his own post as second in the state would be forfeited; and then with characteristic unscrupulosity he proceeded to take Abner’s life” (= Yoab melihat bahwa jika Abner diperdamaikan dengan Daud, kedudukannya sendiri sebagai orang kedua dalam negara akan hilang; dan lalu dengan tindakan jahat / tak mengindahkan moral yang khas, ia maju untuk membunuh Abner).

 

Matthew Henry: This Joab was jealous of, and could better bear the guilt of blood than the thoughts of a rival (= Ini yang dicemburui oleh Yoab, dan ia lebih bisa memikul kesalahan berdarah dari pada pemikiran tentang seorang saingan).

 

b)   Jelas bahwa pembunuhan itu juga dilatar-belakangi oleh balas dendam karena kematian adiknya di tangan Abner dalam perang (ay 27c,30).

Ay 27,30: “(27) Ketika Abner kembali ke Hebron, maka Yoab membawanya sebentar ke samping di tengah-tengah pintu gerbang itu, seakan-akan hendak berbicara dengan dia dengan diam-diam; kemudian ditikamnyalah dia di sana pada perutnya, sehingga mati, membalas darah Asael, adiknya. ... (30) Demikianlah Yoab dan Abisai, adiknya, membunuh Abner, karena ia telah membunuh Asael, adik mereka, di Gibeon dalam pertempuran.

 

Mengapa dalam ay 30 ada Abisai, adik Yoab? Sekalipun dalam ayat-ayat sebelumnya tidak diceritakan tentang Abisai, tetapi dalam ay 30 Abisai ikut disebut sebagai pembunuh Abner. Ini jelas menunjukkan bahwa ia tahu tentang rencana Yoab untuk membunuh Abner, dan bersekongkol dengan Yoab untuk membunuh Abner. Mungkin sekali ia juga ada di tempat pembunuhan itu, untuk membantu Yoab, seandainya hal itu dibutuhkan.

 

c)   Pembunuhan ini dilakukan dengan cara licik / bersifat mengkhianat.

 

1.   Hampir pasti, Yoab mencatut nama Daud, untuk meminta Abner kembali.

Keil & Delitzsch: “For Abner had only just gone away from David, when Joab sent messengers after him, no doubt in David’s name, though without his knowledge, and had him fetched back ‘from Bor-hasirah, i.e., the cistern of Sirah.’” (= Karena Abner baru meninggalkan Daud, pada waktu Yoab mengirim utusan-utusan untuk menyusul dia, tak diragukan atas nama Daud, sekalipun tanpa sepengetahuannya, dan menyuruh orang untuk menjemputnya kembali ‘dari Bor-hasirah, artinya sumur / perigi Sirah’).

Catatan: menggunakan / mencatut nama orang tanpa ijin merupakan kekurang-ajaran, tetapi banyak dilakukan, bahkan dalam gereja.

Contoh: Pdt. Sucipto Subeno sering mencatut nama Pdt. Stephen Tong.

 

2.   Pembunuhan licik dan bersifat pengecut / pengkhianat.

Dengan mula-mula berpura-pura mau bicara, Yoab tahu-tahu menikam Abner di perutnya sehingga mati.

Yoab menusuk Abner pada perutnya, tempat yang persis sama dimana Abner menusuk Asael, adik Yoab (2Sam 2:23). Dalam bahasa Ibrani sama-sama digunakan kata KHOMESH, yang bisa diartikan ‘perut’ (RSV/NIV/NASB) atau ‘rusuk kelima’ (KJV).

Boleh dikatakan semua penafsir menganggap bahwa pembunuhan yang dilakukan oleh Abner terhadap Asael tidak salah, karena dilakukan dalam perang dan untuk membela dirinya sendiri. Tetapi saya tidak yakin bahwa Abner tidak salah, karena perang yang ia lakukan bukanlah ‘just war’ (= perang yang adil / benar). Ia ada di pihak yang salah, dan berperang melawan Daud, yang adalah orang yang memang Tuhan sendiri urapi untuk menjadi raja. Kalau perang yang ia lakukan salah, maka semua pembunuhan yang ia lakukan dalam perang itu juga harus dianggap sebagai dosa!

Tetapi bagaimanapun, itu tidak membenarkan tindakan Yoab yang melakukan balas dendam pribadi seperti itu, apalagi dengan cara penipuan / pengkhianatan!

 

The Bible Exposition Commentary: Old Testament: “Everything about the death of Abner was wrong. The two brothers knew what their king wanted, yet they deliberately put their own interests ahead of that of the kingdom. Asahel had been pursuing Abner on the battlefield, so he was another casuality of war; but the death of Abner was murder. Hebron was a city of refuge, a sanctuary where an accused murderer could get a fair trial, but the two brothers never gave the elders in Hebron a chance to hear the case. Abner killed Asahel in self-defense; but when Joab and Abishai killed Abner, it was pure revenge, and Abner never had an opportunity to defend himself. Asahel’s death occurred in broad daylight where everybody could witness what happened, but Abner was deceived and led into the shadows. Abishai had accompanied David into Saul’s camp and had seen him refuse to kill his father-in-law (1 Sam 26:6ff), so he knew that David would never countenance the murder of Saul’s general” (= ).

 

Keil & Delitzsch: “‎The principal motive for Joab’s act was the most contemptible jealousy, or the fear lest Abner’s reconciliation to David should diminish his own influence with the king, as was the case again at a later period with the murder of Amasa (2 Sam 20:10)” [= Motivasi utama dari tindakan Yoab adalah kecemburuan yang paling menjijikkan, atau rasa takut bahwa perdamaian Abner dengan Daud akan mengurangi pengaruh dirinya sendiri terhadap sang raja, seperti dalam kasus lain pada masa belakangan dengan pembunuhan terhadap Amasa (2Sam 20:10)].

 

2Sam 20:9-10 - “(9) Berkatalah Yoab kepada Amasa: ‘Engkau baik-baik, saudaraku?’ Sementara itu tangan kanan Yoab memegang janggut Amasa untuk mencium dia. (10) Amasa tidak awas terhadap pedang yang ada di tangan Yoab itu; Yoab menikam pedang itu ke perutnya, sehingga isi perutnya tertumpah ke tanah. Tidak usah dia ditikamnya dua kali, sebab ia sudah mati. Lalu Yoab dan Abisai, adiknya, terus mengejar Seba bin Bikri”.

Ini tidak berbeda dengan ciuman Yudas Iskariot.

 

Ul 27:24 - “Terkutuklah orang yang membunuh sesamanya manusia dengan tersembunyi. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!”.

 

Maz 55:20-22 - “(20) Allah akan mendengar dan merendahkan mereka, - Dia yang bersemayam sejak purbakala. Sela Karena mereka tidak berubah dan mereka tidak takut akan Allah. (21) Orang itu mengacungkan tangannya kepada mereka yang hidup damai dengan dia, janjinya dilanggarnya; (22) mulutnya lebih licin dari mentega, tetapi ia berniat menyerang; perkataannya lebih lembut dari minyak, tetapi semuanya adalah pedang terhunus.

Penerapan: karena itu, hati-hatilah terhadap orang yang suka menjilat / bermulut manis.

 

Matthew Henry: “It is as certain that Joab was unrighteous, and, in what he did, did wickedly. David was a man after God’s own heart, but could not have those about him, no, not in places of the greatest trust, after his own heart. Many a good prince, and a good master, has been forced to employ bad men” (= Adalah pasti bahwa Yoab adalah orang yang tidak benar, dan dalam apa yang ia lakukan, ia lakukan secara jahat. Daud adalah orang yang mengikuti hati Allah, tetapi tidak bisa mendapatkan orang-orang di sekitarnya, tidak, tidak di tempat-tempat dari kepercayaan yang terbesar, mengikuti hatinya sendiri. Banyak pangeran-pangeran yang baik, dan tuan yang baik, telah dipaksa untuk mempekerjakan orang-orang yang jahat).

 

3.   Tuhan mengijinkan terjadinya pembunuhan terhadap Abner juga sebagai hukuman terhadap Abner.

Abner jelas adalah orang brengsek, yang melawan Daud yang ia tahu adalah orang yang diurapi Tuhan menjadi raja. Lalu ia berpindah pihak ke pihak Daud, tetapi dengan alasan / motivasi yang buruk, yaitu kemarahan dan keinginan balas dendam terhadap Isyboset. Karena itu, Allah tidak mau menggunakan Abner untuk mempersatukan Israel. Sebaliknya, Ia mempersatukan Israel dengan mengambil Abner, melalui tangan Yoab.

Catatan: ini tidak berarti bahwa Yoab tidak bersalah, apalagi berjasa, dalam membunuh Abner. Ia tetap melakukan kejahatan, tetapi Allah menggunakan kejahatannya untuk menghasilkan sesuatu yang baik.

 

d)         Pembunuhan terhadap Abner ini jelas merupakan dosa.

Bdk. 1Raja 2:5 - “Dan lagi engkaupun mengetahui apa yang dilakukan kepadaku oleh Yoab, anak Zeruya, apa yang dilakukannya kepada kedua panglima Israel, yakni Abner bin Ner dan Amasa bin Yeter. Ia membunuh mereka dan menumpahkan darah dalam zaman damai seakan-akan ada perang, sehingga sabuk pinggangnya dan kasut kakinya berlumuran darah”.

 

3)   Sikap Daud terhadap pembunuhan oleh Yoab terhadap Abner.

 

a)         Menyatakan dirinya tidak bersalah dalam pembunuhan itu.

Ay 28: Ketika hal itu didengar Daud kemudian, berkatalah ia: ‘Aku dan kerajaanku tidak bersalah di hadapan TUHAN sampai selama-lamanya terhadap darah Abner bin Ner itu”.

Saya merasa bahwa tindakan Daud di sini tidak terlalu berbeda dengan cuci tangannya Pontius Pilatus pada saat menghakimi Yesus (Mat 27:24).

 

b)   Berpuasa dan berkabung, dan menyuruh seluruh rakyat melakukan hal itu.

Ay 31,35: (31) Dan berkatalah Daud kepada Yoab dan kepada segala rakyat yang bersama-sama dengan dia: ‘Koyakkanlah pakaianmu dan lilitkanlah pada tubuhmu kain kabung dan merataplah di depan mayat Abner.’ Raja Daud sendiripun berjalan di belakang usungan mayat. ... (35) Seluruh rakyat datang menawarkan kepada Daud untuk makan roti selagi hari siang, tetapi Daud bersumpah, katanya: ‘Kiranya Allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika sebelum matahari terbenam aku mengecap roti atau apapun.’”.

 

c)   Menangis dan meratapi Abner dan memberikan kata-kata pujian untuk dia.

Ay 32-34,38: (32) Ketika orang menguburkan Abner di Hebron, maka menangislah raja dengan suara nyaring pada kubur Abner dan seluruh rakyatpun menangis. (33) Karena Abner raja mengucapkan nyanyian ratapan ini: ‘Apakah Abner harus mati seperti orang bebal? (34) Tanganmu tidak terikat dan kakimu tidak dirantai. Engkau gugur seperti orang gugur oleh orang-orang durjana.’ Dan seluruh rakyat itu makin menangis karena dia. ... (38) Kemudian berkatalah raja kepada para pegawainya: ‘Tidak tahukah kamu, bahwa pada hari ini gugur seorang pemimpin, seorang besar, di Israel?”.

KJV/RSV/NIV/NASB: a prince and a great man (= seorang pangeran dan seorang yang besar).

 

Terus terang, saya tidak mengerti mengapa Daud memberikan pujian setinggi itu untuk orang sebejat Abner. Matthew Henry mengatakan bahwa Daud hanya melihat apa yang dulu Abner lakukan bagi Saul.

 

Matthew Henry: “His alliance to Saul, his place as general, his interest, and the great services he had formerly done, were enough to denominate him a prince and a great man. When he could not call him a saint or a good man, he said nothing of that, but what was true he gave him the praise of, ... that he was a prince and a great man.’” (= Aliansinya dengan Saul, jabatan / kedudukannya sebagai jendral, perhatiannya, dan pelayanannya yang besar yang telah ia lakukan sebelumnya, adalah cukup untuk menyebutnya sebagai seorang pangeran dan seorang yang besar. Pada waktu ia tidak bisa menyebutnya seorang kudus atau seorang yang baik / saleh, ia tidak mengatakan apapun tentang hal itu, tetapi apa yang benar ia memberinya pujian tentangnya, ... bahwa ia adalah seorang pangeran dan seorang yang besar).

 

d)         Mengecam pembunuhan itu dan mengutuk Yoab.

Ay 29,39: (29) Biarlah itu ditanggung oleh Yoab sendiri dan seluruh kaum keluarganya. Biarlah dalam keturunan Yoab tidak putus-putusnya ada orang yang mengeluarkan lelehan, yang sakit kusta, yang bertongkat, yang tewas oleh pedang atau yang kekurangan makanan.’ ... (39) Tetapi aku ini sekarang masih lemah, sekalipun sudah diurapi menjadi raja, sedang orang-orang itu, yakni anak-anak Zeruya, melebihi aku dalam kekerasan. Kiranya TUHAN membalas kepada orang yang berbuat jahat setimpal dengan kejahatannya.’.

Catatan: kata-kata yang saya garis-bawahi salah terjemahan.

KJV: ‘be too hard for me’ (= adalah terlalu sukar / berat untuk aku).

RSV: ‘are too hard for me’ (= adalah terlalu sukar / berat untuk aku).

NIV: ‘are too strong for me’ (= adalah terlalu kuat untuk aku).

NASB: ‘are too difficult for me’ (= adalah terlalu sukar untuk aku).

 

Pulpit Commentary: “Hatred of wrong is a sign and measure of the love of right. ‘Ye that love the Lord, hate evil’ (Ps 97:10) . David was as severe toward evil doers as he was tender and pitiful toward the victims of their wickedness.’” [= Kebencian terhadap kesalahan adalah suatu tanda dan ukuran dari kasih / kecintaan terhadap kebenaran. ‘Hai orang-orang yang mengasihi TUHAN, bencilah kejahatan!’ (Maz 97:10)].

 

Semua ini menyebabkan bangsa Israel tahu / yakin bahwa Daud tidak ikut campur dalam pembunuhan terhadap Abner.

Ay 36: Ketika seluruh rakyat melihat hal itu, mereka menganggap hal itu baik, seperti segala sesuatu yang dilakukan raja dianggap baik oleh seluruh rakyat”.

 

Tetapi bagaimanapun, Daud bersalah karena tidak menghukum Yoab. Daud takut kepada manusia, dan karena itu melakukan kompromi, dengan hanya memberikan kutukan, tetapi tidak menghukum orang itu. Ini jelas salah. Apakah kekuatan posisinya sebagai raja tergantung kepada Yoab atau kepada Tuhan??

 

Matthew Henry: “He entailed the curse for it upon Joab and his family (v. 29): ... But methinks a resolute punishment of the murderer himself would better have become David than this passionate imprecation of God’s judgments upon his posterity” [= Ia meminta kutuk untuknya atas Yoab dan keluarganya (ay 29): ... Tetapi kelihatannya bagi saya, suatu hukuman yang tegas terhadap si pembunuh akan lebih pantas / cocok bagi Daud dari pada kutukan yang bernafsu tentang penghakiman Allah terhadap keturunannya].

 

Wycliffe Bible Commentary: “‘Too hard for me.’ David organized six hundred malcontents, dealt harshly with the Amalekites (2 Sam 1), put to death the men who murdered Ishbosheth (2 Sam 4), but failed to act in the case of Joab’s misdeeds. David washed his hands and left the family of Joab to the judgment of God” [= ‘Terlalu sukar bagiku’. Daud mengorganisir 600 orang-orang yang tidak puas, menangani dengan keras orang Amalek (2Sam 1), membunuh orang yang membunuh Isyboset (2Sam 4), tetapi gagal untuk bertindak dalam kasus kejahatan-kejahatan Yoab. Daud mencuci tangannya dan meninggalkan / membiarkan keluarga Yoab pada penghakiman Allah].

 

The Biblical Illustrator (Old Testament): “IT IS WHERE THE FLESH IS STRONG THAT WE ARE WEAK. ... these sons of Zeruiah were his greatest strength. What could he have done without Joab and Abishai - Joab the man who smote the garrison of Jebus, and Abishai who slew three hundred men in single-handed fight. What could he do without these? ... So it is with us. Whatever is our strength in the flesh is sure to be our weakness in the spirit. Remember that your sons of Zeruiah will be hard to manage. I believe the strength of God’s ministers generally lies in the points where they are the weakest, and their weakness usually lies in their strength. ... God can do better without means than he can with means that are audacious enough to think themselves necessary (= Dimana daging itu kuat adalah dimana kita lemah. ... anak-anak Zeruya ini adalah kekuatannya yang terbesar. Apa yang bisa ia lakukan tanpa Yoab dan Abisai - Yoab orang yang memukul pasukan Yebus, dan Abisai yang seorang diri membunuh 300 orang. Apa yang bisa ia lakukan tanpa orang-orang ini? ... Demikian juga halnya dengan kita. Apapun yang merupakan kekuatan kita dalam daging pasti adalah kelemahan kita dalam roh. Ingatlah bahwa ‘anak-anak Zeruya’mu akan sukar untuk diurus / diatur. Saya percaya bahwa kekuatan dari pelayan-pelayan Allah umumnya terletak di titik dimana mereka adalah paling lemah, dan kelemahan mereka biasanya terletak dalam kekuatan mereka. ... Allah bisa melakukan dengan lebih baik tanpa alat-alat dari pada yang Ia bisa lakukan dengan alat-alat yang cukup berani untuk menganggap diri mereka perlu / dibutuhkan).

Catatan: apapun yang telah saudara lakukan bagi Tuhan / gereja, jangan itu membuat saudara merasa bahwa Tuhan membutuhkan saudara! Saudara yang membutuhkan Tuhan. Dan apapun yang saudara lakukan tak akan bisa mengalahkan besarnya pengorbanan yang Yesus lakukan bagi saudara!

Bdk. Luk 17:7-10 - “(7) ‘Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! (8) Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. (9) Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? (10) Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.’”.

 

Matthew Henry: “David bears the sword in vain, and contents himself, as a private person, to leave them to the judgment of God: ... He ought to have done his duty, and trusted God with the issue. Fiat justitia, ruat coelum - Let justice be done, though the heavens should fall asunder. ... It was carnal policy and cruel pity that spared Joab. Righteousness supports the throne and will never shake it. Yet it was only a reprieve that David gave to Joab; on his death-bed he left it to Solomon ... to avenge the blood of Abner” [= Daud membawa pedangnya dengan sia-sia, dan merasa puas, sebagai seorang pribadi, membiarkan mereka pada penghakiman Allah: ... Ia seharusnya melakukan kewajibannya, dan mempercayai Allah dengan persoalan / hasilnya. Fiat justitia, ruat coelum - ‘Hendaklah keadilan dilakukan, sekalipun surga / langit roboh’. ... Adalah politik yang bersifat daging dan belas kasihan yang kejam yang menyayangkan Yoab. Kebenaran menopang takhta dan tidak akan pernah menggoncangkannya. Tetapi hanyalah sebuah penangguhan hukuman yang Daud berikan kepada Yoab; di ranjang kematiannya ia menyerahkannya kepada Salomo ... untuk membalaskan darah Abner (bdk. 2Raja 2:5-6,28-34)].

Catatan: apa yang Matthew Henry katakan sebagai ‘penangguhan hukuman’ menurut saya tetap salah!

 

The Biblical Illustrator (Old Testament): “The assassin spared: - ‘It is worse than a crime,’ says an astute politician, ‘it is a blunder.’ And though it was a clear enough crime in David to pass by Joab’s murder of Abner, it came out afterwards to be a most terrible blunder. All David’s after life might well have been different but for that blunder. ... Joab was deep enough to understand quite well why his life was spared. He knew quite well that it was fear and not love that had moved David to let him live. It was a diplomatic act of David to spare Joab, but David was playing with a far deeper diplomatist than himself. Very soon we shall see this respited assassin ordering David about and dictating to him till we shall pity David as well as blame him. Joab’s impunity speedily shot up into an increased contempt for David, till secret contempt became open insolence, and open insolence open and unavenged rebellion. Was it not a blunder?” (= Si pembunuh diselamatkan: - ‘Itu lebih buruk dari suatu kejahatan’, kata seorang tokoh politik yang tajam, ‘itu merupakan suatu blunder / kesalahan yang sangat besar’. Dan sekalipun adalah cukup jelas bahwa itu adalah suatu kejahatan dalam diri Daud untuk mengabaikan pembunuhan oleh Yoab terhadap Abner, belakangan itu menyatakan diri sebagai suatu blunder yang sangat buruk. Seluruh kehidupan Daud setelah ini akan berbeda seandainya tidak ada blunder itu. ... Yoab cukup mengerti dengan baik mengapa hidupnya diselamatkan. Ia tahu dengan baik bahwa adalah rasa takut, dan bukannya kasih, yang telah menggerakkan Daud untuk membiarkannya hidup. Merupakan suatu tindakan diplomatik dari Daud untuk menyelamatkan Yoab, tetapi Daud sedang bermain-main dengan seorang diplomat yang jauh lebih dalam dari dirinya sendiri. Segera kita akan melihat pembunuh yang mendapat kelonggaran ini memerintah Daud dari segala sisi dan mendikte dia sampai kita mengasihani Daud maupun menyalahkannya. Pembebasan Yoab dari hukuman dengan cepat melonjak menjadi suatu sikap merendahkan Daud yang terus meningkat, sampai sikap merendahkan yang diam-diam menjadi kekurang-ajaran yang terbuka, dan kekurang-ajaran yang terbuka menjadi pemberontakan yang terbuka dan tak terhukum. Bukankah itu merupakan suatu blunder / kesalahan yang sangat besar?).

Catatan: beberapa kekurang-ajaran dan pemberontakan Yoab setelah ini bisa saudara baca dalam 2Sam 18:5,9-14  19:1-8  19:13 & 20:9-10  1Raja 1:7  2:28.

Untuk tidak menggambarkan Yoab lebih buruk dari yang seharusnya, saya memberikan juga ayat-ayat yang menunjukkan bagusnya Yoab, yaitu 2Sam 14:1-33  24:3.

 

Bandingkan takutnya Daud kepada Yoab dengan ayat-ayat di bawah ini:

·         Yes 2:22 - “Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?”.

·         Yes 51:12-13 - “(12) Akulah, Akulah yang menghibur kamu. Siapakah engkau maka engkau takut terhadap manusia yang memang akan mati, terhadap anak manusia yang dibuang seperti rumput, (13) sehingga engkau melupakan TUHAN yang menjadikan engkau, yang membentangkan langit dan meletakkan dasar bumi, sehingga engkau terus gentar sepanjang hari terhadap kepanasan amarah orang penganiaya, apabila ia bersiap-siap memusnahkan? Di manakah gerangan kepanasan amarah orang penganiaya itu?”.

·         Maz 146:3-5 - “(3) Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan. (4) Apabila nyawanya melayang, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya. (5) Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya:”.

 

Hendaklah kita belajar, untuk tidak bergantung ataupun takut kepada manusia, tetapi hanya bergantung / bersandar dan takut kepada Allah saja. Kiranya Tuhan memberkati saudara sekalian.

 

 

 

-AMIN-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali