(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Minggu, tgl 11 Juli 2010, pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
2Sam 2:1-3:1 - “(1) Kemudian bertanyalah Daud kepada TUHAN, katanya: ‘Apakah aku harus pergi ke salah satu kota di Yehuda?’ Firman TUHAN kepadanya: ‘Pergilah.’ Lalu kata Daud: ‘Ke mana aku pergi?’ FirmanNya: ‘Ke Hebron.’ (2) Lalu pergilah Daud ke sana dengan kedua isterinya: Ahinoam, perempuan Yizreel, dan Abigail, bekas isteri Nabal, orang Karmel itu. (3) Juga Daud membawa serta orang-orangnya yang mengiringinya masing-masing dengan rumah tangganya, dan menetaplah mereka di kota-kota Hebron. (4) Kemudian datanglah orang-orang Yehuda, lalu mengurapi Daud di sana menjadi raja atas kaum Yehuda. Ketika kepada Daud diberitahukan bahwa orang-orang Yabesh-Gilead menguburkan Saul, (5) maka Daud mengirim orang kepada orang-orang Yabesh-Gilead dengan pesan: ‘Diberkatilah kamu oleh TUHAN, karena kamu telah menunjukkan kasihmu kepada tuanmu, Saul, dengan menguburkannya. (6) Oleh sebab itu, TUHAN kiranya menunjukkan kasih dan setiaNya kepadamu. Akupun akan berbuat kebaikan yang sama kepadamu, karena kamu telah melakukan hal yang demikian. (7) Kuatkanlah hatimu sekarang dan jadilah orang-orang yang gagah perkasa, sekalipun tuanmu Saul sudah mati; dan aku telah diurapi oleh kaum Yehuda menjadi raja atas mereka.’ (8) Abner bin Ner, panglima Saul, telah mengambil Isyboset, anak Saul, dan membawanya ke Mahanaim (9) serta menjadikannya raja atas Gilead, atas orang Asyuri, atas Yizreel, atas Efraim dan atas Benyamin, bahkan atas seluruh Israel. (10) Isyboset bin Saul berumur empat puluh tahun pada waktu ia menjadi raja atas Israel dan ia memerintah dua tahun lamanya. Hanyalah kaum Yehuda yang mengikuti Daud. (11) Dan lamanya Daud memerintah di Hebron atas kaum Yehuda adalah tujuh tahun dan enam bulan. (12) Lalu Abner bin Ner dengan anak buah Isyboset bin Saul bergerak maju dari Mahanaim ke Gibeon. (13) Juga Yoab, anak Zeruya, dan anak buah Daud bergerak maju. Mereka saling bertemu di telaga Gibeon, lalu tinggal di sana, pihak yang satu di tepi telaga sebelah sini, dan pihak yang lain di tepi telaga sebelah sana. (14) Berkatalah Abner kepada Yoab: ‘Biarlah orang-orang muda tampil dan mengadakan pertandingan di depan kita.’ Jawab Yoab: ‘Baik.’ (15) Lalu tampillah mereka dan berjalan lewat dengan dihitung: dua belas orang dari suku Benyamin, dari Isyboset, anak Saul, dan dua belas orang dari anak buah Daud. (16) Kemudian mereka masing-masing menangkap kepala lawannya, dan menikamkan pedangnya ke lambung lawannya, sehingga rebahlah mereka bersama-sama. Sebab itu tempat itu disebutkan orang Helkat-Hazurim; letaknya dekat Gibeon. (17) Pada hari itu pertempuran sangat hebat, dan Abner serta orang-orang Israel terpukul kalah oleh anak buah Daud. (18) Ketiga anak laki-laki Zeruya, yakni Yoab, Abisai dan Asael ada di sana; Asael cepat larinya seperti kijang di padang. (19) Asael mengejar Abner dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dalam membuntutinya. (20) Lalu Abner berpaling ke belakang dan bertanya: ‘Engkaukah itu Asael?’ Jawabnya: ‘Ya, aku.’ (21) Kemudian berkatalah Abner kepadanya: ‘Menyimpanglah ke kiri atau ke kanan, tangkaplah salah seorang dari orang-orang muda itu dan ambillah senjatanya.’ Tetapi Asael tidak mau berhenti membuntuti Abner. (22) Berkatalah sekali lagi Abner kepada Asael: ‘Berhentilah membuntuti aku. Apa aku harus memukul engkau sampai jatuh? Bagaimana aku dapat memandang muka Yoab, abangmu itu?’ (23) Tetapi Asael menolak berhenti. Lalu Abner menusuk ke belakang ke perut Asael dengan tombaknya, sehingga tombak itu menembus belakangnya; dan rebahlah ia di sana dan mati di tempat itu juga. Semua orang yang datang ke tempat Asael rebah dan mati itu, berhenti di sana. (24) Tetapi Yoab dan Abisai mengejar Abner. Ketika matahari masuk dan mereka sampai ke dekat bukit Ama, yang ada di sebelah timur Giah, ke arah padang gurun Gibeon, (25) berhimpunlah bani Benyamin di belakang Abner menjadi satu gabungan dan bersiap-siap di puncak sebuah bukit. (26) Berserulah Abner kepada Yoab: ‘Haruskah pedang makan terus-menerus? Tidak tahukah engkau, bahwa kepahitan datang pada akhirnya? Berapa lama lagi engkau tidak mau mengatakan kepada rakyat itu, supaya mereka berhenti memburu saudara-saudaranya?’ (27) Jawab Yoab: ‘Demi Allah yang hidup, sekiranya engkau berbicara tadi, maka tentulah sudah dari tadi pagi rakyat menarik diri dari memburu saudara-saudaranya.’ (28) Lalu Yoab meniup sangkakala dan seluruh rakyat berhenti; mereka tidak lagi mengejar orang Israel dan tidak berperang lagi. (29) Semalam-malaman Abner dan orang-orangnya berjalan melalui Araba-Yordan, menyeberangi sungai Yordan, berjalan terus hampir sepanjang siang, lalu sampai ke Mahanaim. (30) Ketika Yoab berhenti memburu Abner dan menghimpunkan seluruh rakyat, ternyata sembilan belas orang dari anak buah Daud hilang termasuk Asael. (31) Tetapi anak buah Daud menewaskan dari suku Benyamin, dari orang-orang Abner, tiga ratus enam puluh orang. (32) Mereka mengangkat mayat Asael dan menguburkannya di dalam kubur ayahnya yang di Betlehem. Kemudian berjalanlah Yoab dan orang-orangnya semalam-malaman itu dan sampai ke Hebron, ketika hari sudah terang. (3:1) Peperangan antara keluarga Saul dan keluarga Daud berlarut-larut; Daud kian lama kian kuat, sedang keluarga Saul kian lama kian lemah”.
2) Abner menjadikan Isyboset raja Israel.
a) Mengapa Abner menjadikan Isyboset raja?
The Bible Exposition Commentary: Old Testament: “The key actor in this drama was Abner, Saul’s cousin and the commander of his army (1 Sam 14:50). It was Abner who brought David to Saul after David killed Goliath (17:55-58) and who with Saul pursued David for ten years (26:5ff). Abner was rebuked and humiliated by David when he failed to protect the king (26:13-16) and Abner had no special love for David. The people of Israel honored David above Saul and eventually the nation would learn that David was God’s choice as king of Israel. But David already had a commander, Joab, so when David became king, what would happen to Abner? Most of what Abner did during those seven and a half years wasn’t for the glory of God or the strengthening of Israel, but for his own self-interest” [= Pemeran / aktor kunci dalam drama ini adalah Abner, saudara sepupu Saul dan panglima tentaranya (1Sam 14:50). Abnerlah yang membawa Daud kepada Saul setelah Daud membunuh Goliat (17:55-58) dan yang bersama Saul mengejar-ngejar Daud selama 10 tahun (26:5-dst). Abner ditegur dan dipermalukan / direndahkan oleh Daud pada waktu ia gagal untuk melindungi sang raja (26:13-26) dan Abner tidak mempunyai kasih yang khusus untuk Daud. Bangsa Israel menghormati Daud lebih dari Saul dan akhirnya bangsa itu akan mempelajari / mengetahui bahwa Daud adalah adalah pilihan Allah sebagai raja Israel. Tetapi Daud sudah mempunyai panglima, Yoab, jadi, pada waktu Daud menjadi raja, apa yang akan terjadi dengan Abner? Kebanyakan dari apa yang Abner lakukan selama tujuh setengah tahun itu bukanlah untuk kemuliaan Allah, ataupun untuk penguatan Israel, tetapi bagi kepentingan dirinya sendiri].
Jamieson, Fausset & Brown: “‘Abner’ was first cousin of Saul, commander of the forces, and held in high respect throughout the country. Loyalty to the house of his late master was mixed up with opposition to David, and views of personal ambition in his originating this factious movement. He, too, was alive to the importance of securing the Eastern tribes; so, taking Ish-bosheth across the Jordan, he proclaimed him king at Mahanaim” (= Abner, pertama-tama adalah saudara sepupu dari Saul, komandan / panglima dari tentara, dan dihormati di seluruh negara. Kesetiaan kepada keluarga dari almarhum tuannya bercampur dengan oposisi / permusuhan terhadap Daud dan pandangan-pandangan tentang ambisi pribadi, dalam dia memulai gerakan perpecahan ini. Ia, juga, hidup untuk kepentingan dari keamanan dari suku-suku di sebelah Timur; jadi, ia membawa Isyboset ke seberang Yordan dan memproklamirkannya menjadi raja di Mahanaim).
Penerapan: ini seperti orang yang fanatik kepada gereja / pendeta tertentu.
Matthew Henry: “Abner was the person who set up Ishbosheth in competition with David, perhaps in his zeal for the lineal succession (since they must have a king like the nations, in this they must be like them, that the crown must descend from father to son), or rather in his affection to his own family and relations (for he was Saul’s uncle), and because he had no other way to secure to himself the post of honour he was in, as captain of the host. See how much mischief the pride and ambition of one man may be the occasion of. Ishbosheth would never have set up himself if Abner had not set him up, and made a tool of him to serve his own purposes” [= Abner adalah orang yang menegakkan Isyboset dalam persaingan dengan Daud, mungkin dalam semangatnya bagi penggantian langsung / bersifat warisan (karena mereka harus mempunyai raja seperti bangsa-bangsa lain, dalam hal ini mereka harus seperti bangsa-bangsa itu, dimana mahkota harus turun dari ayah kepada anak), atau dalam kasihnya kepada keluarga dan sanaknya sendiri (karena ia adalah paman dari Saul), dan karena ia tidak mempunyai jalan lain untuk mengamankan bagi dirinya sendiri jabatan / kedudukan kehormatan yang dimilikinya, sebagai kapten / komandan dari pasukan. Lihatlah betapa banyak kejahatan yang disebabkan oleh kesombongan dan ambisi dari satu orang. Isyboset tidak akan pernah menegakkan dirinya sendiri seandainya Abner tidak menegakkannya, dan membuatnya sebagai alatnya untuk melayani tujuan-tujuannya sendiri].
Catatan: kata-kata Matthew Henry yang saya beri garis bawah tunggal itu salah; Abner bukan paman dari Saul, tetapi anak dari pamannya Saul. Jadi, Abner adalah saudara sepupu dari Saul.
1Sam 14:50-51 - “(50) Isteri Saul bernama Ahinoam, anak Ahimaas. Panglima tentaranya bernama Abner, anak Ner, paman Saul. (51) Kish, ayah Saul, dan Ner, ayah Abner, adalah anak-anak Abiel”.
b) Tindakan Abner jelas bertentangan dengan kehendak Allah.
The Bible Exposition Commentary: Old Testament: “Ish-Bosheth may have been crowned by the general, but he was never anointed by the Lord” (= Isyboset bisa telah dimahkotai oleh sang jendral, tetapi ia tidak pernah diurapi oleh Tuhan).
Bandingkan dengan Pdt. Alex yang ‘diangkat jadi rasul’! Juga banyak pendeta yang mengangkat anaknya / istrinya jadi pendeta, tetapi Tuhan tidak pernah mengangkat mereka ke posisi / kedudukan itu.
Matthew Henry: “A rivalship between two kings - David, whom God made king, and Ishbosheth, whom Abner made king. One would have thought, when Saul was slain, and all his sons that had sense and spirit enough to take the field with him, David would come to the throne without any opposition, since all Israel knew, not only how he had signalized himself, but how manifestly God had designated him to it; but such a spirit of contradiction is there, in the devices of men, to the counsels of God, that such a weak and silly thing as Ishbosheth, who was not thought fit to go with his father to the battle, shall yet be thought fit to succeed him in the government, rather than David shall come peaceably to it. Herein David’s kingdom was typical of the Messiah’s, against which the heathens rage and the rulers take counsel, Ps 2:1,2” (= Suatu persaingan di antara dua raja - Daud, yang Allah buat menjadi raja, dan Isyboset, yang Abner buat menjadi raja. Orang akan berpikir, pada waktu Saul dibunuh, dan juga semua anak laki-lakinya yang mempunyai pengertian / kegunaan dan semangat yang cukup untuk bertempur dengannya, Daud akan naik takhta tanpa oposisi, karena seluruh Israel tahu, bukan hanya bagaimana ia menunjukkan dirinya sendiri, tetapi bagaimana Allah dengan jelas telah merencanakan dia untuk hal itu; tetapi ada suatu semangat kontradiksi sedemikian rupa di sini, dalam rencana manusia, terhadap rencana Allah, sehingga suatu hal / benda tolol seperti Isyboset, yang dianggap tidak cocok untuk pergi bersama ayahnya ke pertempuran, dianggap cocok untuk menggantikan dia dalam pemerintahan, dari pada Daud akan datang dengan damai pada pemerintahan itu. Dalam hal ini kerajaan Daud merupakan type dari kerajaan Mesias, terhadap mana orang-orang kafir marah dan raja-raja berunding / bermufakat, Maz 2:1-2).
Maz 2:1-2 - “(1) Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? (2) Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan TUHAN dan yang diurapiNya”.
c) Sikap Israel terhadap tindakan Abner.
Matthew Henry: “Mahanaim, the place where he first made his claim, was on the other side Jordan, where it was thought David had the least interest, and being at a distance from his forces they might have time to strengthen themselves. But having set up his standard there, the unthinking people of all the tribes of Israel (that is, the generality of them) submitted to him (v. 9), and Judah only was entirely for David. This was a further trial of the faith of David in the promise of God, and of his patience, whether he could wait God’s time for the performance of that promise” [= Mahanaim, tempat dimana ia mula-mula membuat claimnya, ada di sisi satunya dari sungai Yordan, dimana dianggap Daud mempunyai kepentingan terkecil, dan karena ada pada jarak yang jauh dari kekuatan / pasukan Daud mereka bisa mempunyai waktu untuk memperkuat diri mereka sendiri. Tetapi setelah menegakkan standardnya di sana, orang-orang yang tidak berpikir dari semua suku-suku Israel (yaitu, mereka pada umumnya) tunduk kepadanya (ay 9), dan hanya Yehuda yang sepenuhnya untuk Daud. Ini merupakan suatu pencobaan lebih jauh bagi iman Daud kepada janji Allah, dan bagi kesabarannya, apakah ia bisa menunggu waktu Allah untuk pelaksanaan janji itu].
Penerapan: kalau ada perpecahan gereja, banyak orang-orang tidak berpikir seperti ini!
d) Sikap Daud terhadap tindakan Abner.
Keil & Delitzsch: “The promotion of Ishbosheth as king was not only a continuation of the hostility of Saul towards David, but also an open act of rebellion against Jehovah, who had rejected Saul and chosen David prince over Israel, and who had given such distinct proofs of this election in the eyes of the whole nations, that even Saul had been convinced of the appointment of David to be his successor upon the throne. But David attested his unqualified submission to the guidance of God, in contrast with this rebellion against His clearly revealed will, not only by not returning to Judah till he had received permission from the Lord, but also by the fact that after the tribe of Judah had acknowledged him as king, he did not go to war with Ishbosheth, but contented himself with resisting the attack made upon him by the supporters of the house of Saul, because he was fully confident that the Lord would secure to him in due time the whole of the kingdom of Israel” [= Promosi Isyboset sebagai raja bukan hanya merupakan suatu lanjutan dari permusuhan dari Saul terhadap Daud, tetapi juga suatu tindakan pemberontakan terbuka terhadap Yehovah, yang telah menolak Saul dan memilih Daud sebagai raja atas Israel, dan yang telah memberikan bukti-bukti yang jelas tentang pemilihan ini di depan mata dari seluruh bangsa, sehingga bahkan Saul telah diyakinkan tentang penetapan Daud menjadi penggantinya di atas takhta (1Sam 24:21). Tetapi Daud memperlihatkan ketundukannya yang tak bersyarat kepada pimpinan dari Allah, dalam kontras dengan pemberontakan terhadap kehendakNya yang dinyatakan dengan jelas ini, bukan hanya dengan tidak kembali ke Yehuda sampai ia telah menerima ijin dari Tuhan, tetapi juga oleh fakta bahwa setelah suku Yehuda mengakuinya sebagai raja, ia tidak pergi berperang dengan Isyboset, tetapi puas dengan menahan serangan yang dibuat terhadapnya oleh pendukung-pendukung dari keluarga Saul, karena ia yakin sepenuhnya bahwa Tuhan akan memastikan baginya, pada waktuNya, seluruh kerajaan Israel].
e) Penerapan cerita ini untuk jaman sekarang.
The Bible Exposition Commentary: Old Testament: “There’s a modern touch to this scenario, for our political and religious worlds are populated by these same three kinds of people. We have weak people like Ish-Bosheth, who get where they are because they have ‘connections.’ We have strong, selfish people like Abner, who know how to manipulate others for their own personal profit. We also have people of God like David who are called, anointed, and equipped but must wait for God’s time before they can serve. During more than fifty years of ministry, I have seen churches and other ministries bypass God’s chosen men and women and put unqualified people into places of leadership just because they were well-known or had ‘connections.’” (= Ada suatu persamaan modern dengan skenario ini, karena dunia politik dan agama kita dihuni oleh tiga jenis manusia yang sama. Kita mempunyai orang-orang lemah seperti Isyboset, yang sampai di tempatnya / mencapai tempatnya karena mereka mempunyai ‘koneksi-koneksi’. Kita mempunyai orang-orang kuat dan egois seperti Abner, yang tahu bagaimana caranya memanipulasi orang-orang lain untuk keuntungan dirinya sendiri. Kita juga mempunyai orang-orang dari Allah seperti Daud, yang dipanggil, diurapi, dan diperlengkapi, tetapi harus menunggu waktu Allah sebelum mereka bisa melayani. Selama lebih dari 50 tahun pelayanan, saya telah melihat gereja-gereja dan pelayanan-pelayanan yang lain menghindari orang-orang laki-laki dan perempuan pilihan Allah, dan menempatkan orang-orang yang tidak memenuhi syarat ke dalam tempat-tempat kepemimpinan, hanya karena mereka terkenal atau mempunyai ‘koneksi-koneksi’.).
Catatan: ini berlaku dalam negara / politik, dalam pekerjaan / bisnis, dan juga dalam gereja / pelayanan!
3) Ketidak-sesuaian masa pemerintahan Daud dan Isyboset.
Ay 10-11: “(10) Isyboset bin Saul berumur empat puluh tahun pada waktu ia menjadi raja atas Israel dan ia memerintah dua tahun lamanya. Hanyalah kaum Yehuda yang mengikuti Daud. (11) Dan lamanya Daud memerintah di Hebron atas kaum Yehuda adalah tujuh tahun dan enam bulan”.
Bagaimana caranya mengharmoniskan dua hal yang kelihatannya kontradiksi ini? Ada bermacam-macam cara yang diberikan oleh para penafsir.
a) Sementara Daud memerintah atas Yehuda, Abner membutuhkan waktu 5 ½ tahun untuk membujuk seluruh Israel (kecuali Yehuda) untuk mengakui Isyboset sebagai raja. Jadi, Isyboset betul-betul memerintah sebagai raja atas Israel, kecuali Yehuda, hanya selama 2 tahun.
b) Ada waktu 5 ½ tahun sebelum, atau sesudah, atau gabungan dari waktu sebelum dan sesudah, Isyboset menjadi raja selama 2 tahun, dimana keluarga Saul secara umum memerintah atas Israel (kecuali Yehuda).
c) Isyboset memerintah hanya 2 tahun, dan setelah itu Abner yang dalam faktanya memerintah selama 5 ½ tahun, sedangkan Isyboset hanya menjadi raja dalam teori (Clarke).
d) Ay 10 diartikan: ketika Isyboset telah memerintah 2 tahun, ia berusia 40 tahun (Clarke). Menurut saya, ini aneh dan tak masuk akal.
e) Ada juga penafsir yang meragukan baik bilangan 40 sebagai umur Isyboset, maupun bilangan 2 sebagai masa pemerintahannya (Albert Barnes).
Barnes mempersoalkan usia 40 dari Isyboset waktu naik takhta. Ia mengatakan, kalaupun Isyboset baru betul-betul memerintah atas seluruh Israel 5 ½ tahun setelah kematian Saul, adalah mengejutkan bahwa anak yang lebih muda dari Saul ini sudah berusia 35 tahun pada waktu Saul mati, yang berarti bahwa ia dilahirkan 3 tahun sebelum Saul naik takhta, dan 5 tahun lebih tua dari Daud. Juga Mefiboset, anak Yonatan, yang berusia 5 tahun pada saat ayahnya mati, rasanya membimbing kita untuk mengharapkan usia yang lebih muda untuk pamannya (Isyboset).
Lalu Barnes juga mempersoalkan bilangan 2 tahun untuk masa pemerintahan Isyboset. Karena Daud memerintah 7 ½ tahun di Hebron atas Yehuda saja, maka jika bilangan 2 itu benar, ada dua kemungkinan. Atau ada waktu 5 ½ tahun berlalu antara kematian Isyboset dan pengurapan Daud menjadi raja atas seluruh Israel, atau ada waktu 5 ½ tahun antara kematian Saul dan permulaan pemerintahan Isyboset. Kemungkinan kedua lebih memungkinkan, dan mempunyai keuntungan karena mengurangi usia Isyboset 5 ½ tahun. Tetapi cerita dalam 2Sam 3-4, tentang adanya perang yang berlarut-larut, tentang kelahiran 6 anak laki-laki bagi Daud, dan tentang persekongkolan Abner dan kematiannya, kelihatannya menunjukkan waktu yang lebih lama dari 2 tahun.
Jadi, menurut Barnes, ada kemungkinan kedua bilangan ini salah dan harus dikoreksi.
3) Perang saudara.
2Sam 2:12-3:1 - “(12) Lalu Abner bin Ner dengan anak buah Isyboset bin Saul bergerak maju dari Mahanaim ke Gibeon. (13) Juga Yoab, anak Zeruya, dan anak buah Daud bergerak maju. Mereka saling bertemu di telaga Gibeon, lalu tinggal di sana, pihak yang satu di tepi telaga sebelah sini, dan pihak yang lain di tepi telaga sebelah sana. (14) Berkatalah Abner kepada Yoab: ‘Biarlah orang-orang muda tampil dan mengadakan pertandingan di depan kita.’ Jawab Yoab: ‘Baik.’ (15) Lalu tampillah mereka dan berjalan lewat dengan dihitung: dua belas orang dari suku Benyamin, dari Isyboset, anak Saul, dan dua belas orang dari anak buah Daud. (16) Kemudian mereka masing-masing menangkap kepala lawannya, dan menikamkan pedangnya ke lambung lawannya, sehingga rebahlah mereka bersama-sama. Sebab itu tempat itu disebutkan orang Helkat-Hazurim; letaknya dekat Gibeon. (17) Pada hari itu pertempuran sangat hebat, dan Abner serta orang-orang Israel terpukul kalah oleh anak buah Daud. (18) Ketiga anak laki-laki Zeruya, yakni Yoab, Abisai dan Asael ada di sana; Asael cepat larinya seperti kijang di padang. (19) Asael mengejar Abner dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dalam membuntutinya. (20) Lalu Abner berpaling ke belakang dan bertanya: ‘Engkaukah itu Asael?’ Jawabnya: ‘Ya, aku.’ (21) Kemudian berkatalah Abner kepadanya: ‘Menyimpanglah ke kiri atau ke kanan, tangkaplah salah seorang dari orang-orang muda itu dan ambillah senjatanya.’ Tetapi Asael tidak mau berhenti membuntuti Abner. (22) Berkatalah sekali lagi Abner kepada Asael: ‘Berhentilah membuntuti aku. Apa aku harus memukul engkau sampai jatuh? Bagaimana aku dapat memandang muka Yoab, abangmu itu?’ (23) Tetapi Asael menolak berhenti. Lalu Abner menusuk ke belakang ke perut Asael dengan tombaknya, sehingga tombak itu menembus belakangnya; dan rebahlah ia di sana dan mati di tempat itu juga. Semua orang yang datang ke tempat Asael rebah dan mati itu, berhenti di sana. (24) Tetapi Yoab dan Abisai mengejar Abner. Ketika matahari masuk dan mereka sampai ke dekat bukit Ama, yang ada di sebelah timur Giah, ke arah padang gurun Gibeon, (25) berhimpunlah bani Benyamin di belakang Abner menjadi satu gabungan dan bersiap-siap di puncak sebuah bukit. (26) Berserulah Abner kepada Yoab: ‘Haruskah pedang makan terus-menerus? Tidak tahukah engkau, bahwa kepahitan datang pada akhirnya? Berapa lama lagi engkau tidak mau mengatakan kepada rakyat itu, supaya mereka berhenti memburu saudara-saudaranya?’ (27) Jawab Yoab: ‘Demi Allah yang hidup, sekiranya engkau berbicara tadi, maka tentulah sudah dari tadi pagi rakyat menarik diri dari memburu saudara-saudaranya.’ (28) Lalu Yoab meniup sangkakala dan seluruh rakyat berhenti; mereka tidak lagi mengejar orang Israel dan tidak berperang lagi. (29) Semalam-malaman Abner dan orang-orangnya berjalan melalui Araba-Yordan, menyeberangi sungai Yordan, berjalan terus hampir sepanjang siang, lalu sampai ke Mahanaim. (30) Ketika Yoab berhenti memburu Abner dan menghimpunkan seluruh rakyat, ternyata sembilan belas orang dari anak buah Daud hilang termasuk Asael. (31) Tetapi anak buah Daud menewaskan dari suku Benyamin, dari orang-orang Abner, tiga ratus enam puluh orang. (32) Mereka mengangkat mayat Asael dan menguburkannya di dalam kubur ayahnya yang di Betlehem. Kemudian berjalanlah Yoab dan orang-orangnya semalam-malaman itu dan sampai ke Hebron, ketika hari sudah terang. (3:1) Peperangan antara keluarga Saul dan keluarga Daud berlarut-larut; Daud kian lama kian kuat, sedang keluarga Saul kian lama kian lemah”.
a) Bukan pihak Daud yang memulai peperangan!
1. Panglima Daud bernama Yoab, yang adalah anak Zeruya, saudara perempuan Daud.
Jamieson, Fausset & Brown: “Joab the son of Zeruiah. She was one of David’s sisters (1 Chron 2:16)” [= Yoab anak Zeruya. Ia adalah satu dari saudari-saudari Daud (1Taw 2:16)].
1Taw 2:15-16 - “(15) Ozem, anak yang keenam, dan Daud, anak yang ketujuh; (16) saudara-saudara perempuan mereka ialah Zeruya dan Abigail. Anak-anak Zeruya ialah Abisai, Yoab dan Asael, tiga orang”.
2. Abner yang maju lebih dulu, jadi bukan Daud yang memulai peperangan.
Pulpit Commentary: “The war was of Abner’s choosing, and shows him to us in the character of an able but ambitious and restless man” (= Perang itu adalah pemilihan Abner, dan menunjukkan dia kepada kita sebagai orang yang mempunyai kemampuan tetapi ambisius dan tidak bisa diam / selalu aktif).
Catatan: orang yang ambisius salah, tetapi orang yang ‘easy going’ / santai dan tak punya semangat untuk maju, adalah extrim sebaliknya.
Berbeda dengan pandangan orang-orang seperti Saksi-Saksi Yehuwa yang menganggap perang itu mutlak salah, saya / kristen berpendapat bahwa perang belum tentu merupakan hal yang salah. John Stott mengatakan bahwa sekalipun sekarang tidak ada lagi ‘holy war’ (= perang kudus), tetapi tetap ada apa yang ia sebut ‘just war’ (= perang yang adil / benar).
b) Permainan atau pertandingan / perkelahian?
2Sam 2:14 - “Berkatalah Abner kepada Yoab: ‘Biarlah orang-orang muda tampil dan mengadakan pertandingan di depan kita.’ Jawab Yoab: ‘Baik.’”.
KJV/RSV: ‘play’ (= permainan).
NIV: ‘fight hand to hand’ (= perkelahian tangan dengan tangan).
NASB: ‘a contest’ (= suatu kontes / pertandingan).
Kalau menurut Bible Works 7 maka terjemahan yang benar adalah terjemahan KJV/RSV.
Jamieson, Fausset & Brown: “Abner said to Joab, Let the young men now arise, and play before us. Some think that the proposal was only for an exhibition of a little tilting match, a skirmishing or mock fight, for diversion. (The Septuagint takes this view, because it has rendered the original word by paixatoosan, let them sport.) Accordingly others suppose that both parties being reluctant to commence a civil war, Abner proposed to leave the contest to the decision of twelve picked men on either side. This fight by championship, instead of terminating the matter, inflamed the fiercest passions of the two rival parties” [= Abner berkata kepada Yoab, Sekarang biarlah orang-orang muda itu bangkit, dan ‘bermain’ di depan kita. Sebagian orang menganggap bahwa usul itu hanyalah untuk suatu pertunjukan dari suatu pertandingan lembing kecil, suatu perkelahian yang merupakan olok-olok, untuk hiburan / peralihan (Septuaginta mengambil pandangan ini, karena ia menterjemahkan kata orisinilnya dengan PAIXATOOSAN ‘biarlah mereka bermain / berolok-olok’). Sesuai dengan itu orang-orang lain menganggap bahwa karena kedua pihak segan untuk memulai perang saudara, Abner mengusulkan untuk menyerahkan pertempuran pada keputusan dari 12 orang yang diambil dari masing-masing pihak. Perkelahian oleh para jago ini, bukannya menghentikan persoalan, tetapi bahkan menyalakan nafsu yang paling sengit / ganas dari kedua pihak yang bersaing].
Pulpit Commentary: “It is by no means certain that Abner meant that this single combat should decide the war; for similar preludes before a battle are not uncommon among the Arabians, and serve, as this did, to put an end to the mutual unwillingness to begin the onslaught. ... And this was probably Abner’s object. He was the assailant, but now found that his men shrank from mortal combat with their brethren. ... ‘Let them play.’ The word is grim enough, though intended to gloss over the cruel reality. On each side twelve of the most skilful champions were to be selected, who were to fight in stern earnest with one another, while the rest gazed upon the fierce spectacle. The sight of the conflict would whet their appetite for blood, and their reluctance would give place to thirst for revenge. The request was too thoroughly in accordance with Joab’s temper for him to refuse, and his immediate answer was, ‘Let them arise.’” (= Sama sekali tidak pasti bahwa Abner memaksudkan bahwa perkelahian ini menentukan peperangan; karena pendahuluan yang serupa sebelum suatu pertempuran bukanlah sesuatu yang tidak umum di antara orang-orang Arab, dan bermanfaat, seperti yang terjadi di sini, untuk mengakhiri ketidak-mauan pada masing-masing pihak untuk memulai serangan. ... Dan ini mungkin merupakan tujuan Abner. Ia adalah penyerang, tetapi sekarang ia mendapati bahwa orang-orangnya segan untuk melakukan pertempuran besar dengan saudara-saudara mereka. ... ‘Biarlah mereka bermain’. Kata ini cukup seram, sekalipun dimaksudkan untuk menghaluskan kenyataan yang kejam. Pada masing-masing pihak 12 dari jago-jago yang paling ahli dipilih, yang harus berkelahi dengan kesungguhan yang keras satu dengan yang lain, sementara yang lain menonton pertunjukan yang ganas itu. Penglihatan tentang perkelahian itu akan merangsang nafsu mereka terhadap darah, dan keengganan mereka akan digantikan oleh kehausan akan balas dendam. Permintaan ini juga sepenuhnya terlalu sesuai dengan temperamen dari Yoab untuk menolaknya, dan jawabannya langsung adalah ‘Biarlah mereka bangkit’.).
Pulpit Commentary: “what an action! Twenty-four experienced men each take the other by the head, and, without any attempt at self-defence, thrust their swords into their opponents’ side, and leave their own sides exposed to a similar thrust. Were they, then, unskilful in the use of weapons? Impossible. Were they blinded by hatred of one another? But no rancour would make a man forget his skill in defence. Here there is no variety, no checkered fortune of the combatants, but all twenty-four do and suffer just the same; and it is remarkable that they had swords only, and no shields. With shields on their arms, they could not have seized one another by the hair. It seems certain, therefore, that this mutual butchery was the ‘play;’ nor can we conceive of a more murderous and savage proceeding. Abner, at the head of his fierce Benjamites, thought, perhaps, that Joab had no men among his followers willing to throw life away in so senseless a manner. But Joab was as ready as Abner, and possibly some code of false honour, such as used to make men practise duelling, required the acceptance of the challenge. And so, with their appetite for blood whetted by the sight of twenty-four murders, they hastened to begin the fight” (= betul-betul suatu tindakan yang luar biasa! 24 orang-orang yang berpengalaman masing-masing memegang yang lain pada kepalanya, dan tanpa usaha pertahanan apapun, menusukkan pedang mereka ke rusuk lawan, dan membiarkan rusuk mereka sendiri terbuka terhadap tusukan yang serupa. Kalau demikian, apakah mereka tidak ahli dalam penggunaan senjata? Tidak mungkin. Apakah mereka dibutakan oleh kebencian satu sama lain? Tetapi tidak ada kebencian yang akan membuat seseorang melupakan keahliannya dalam bertahan. Di sini tidak ada variasi, tidak ada nasib yang berbeda-beda dari petarung-petarung itu, tetapi semua 24 dari orang itu melakukan dan mendapat hal yang sama; dan merupakan sesuatu yang luar biasa bahwa mereka hanya mempunyai pedang, tetapi tidak mempunyai perisai. Dengan perisai pada lengan mereka, mereka tidak bisa menangkap satu sama lain pada rambut. Karena itu, kelihatannya pasti, bahwa tindakan saling menjagal ini adalah ‘permainan’; dan kita tidak bisa memahami suatu pemulaian yang lebih bersifat pembunuhan dan buas / ganas / biadab. Abner, yang merupakan pimpinan dari orang-orang Benyamin yang ganas, mungkin mengira bahwa Yoab tidak mempunyai orang-orang di antara para pengikutnya yang rela membuang nyawanya dalam cara yang begitu tolol / tak berperi-kemanusiaan. Tetapi Yoab sama siapnya seperti Abner, dan mungkin ada undang-undang tentang kehormatan yang palsu, seperti yang digunakan untuk membuat orang-orang mempraktekkan suatu duel, menuntut penerimaan dari tantangan itu. Dan demikianlah, dengan nafsu mereka terhadap darah dirangsang oleh penglihatan dari 24 pembunuhan, mereka bergegas untuk memulai pertempuran).
Apa yang mengherankan adalah: mengapa Daud membiarkan hal itu? Ia sebagai raja yang nggenah, mempunyai panglima yang brengsek, dan membiarkan apa yang dilakukan oleh panglimanya, padahal itu mengorbankan 12 orang secara sia-sia! Mungkinkah ia ‘sungkan’ terhadap panglimanya sendiri sehingga tidak mau menegurnya? Ini memungkinkan kalau kita melihat pada 2Sam 3:22-dst dimana setelah Yoab melakukan pembunuhan terhadap Abner, sekalipun Daud mengutuk tindakan itu, tetapi ia sama sekali tidak menegur atau mengambil tindakan terhadap Yoab. Ini adalah sikap sungkan yang tidak pada tempatnya. Ini adalah sikap sungkan yang mengatasi kebenaran, dan jelas merupakan suatu dosa! Mungkin sekali sikap sungkanan termasuk kebiasaan orang Timur, tetapi kita tidak boleh mempertahankan kebiasaan dari manapun, kalau itu memang bertentangan dengan Firman Tuhan.
Penerapan: seorang pimpinan, baik dalam perusahaan, pemerintahan, maupun gereja, harus memperhatikan apakah terjadi hal-hal yang salah yang dilakukan oleh bawahannya. Dan kalau memang terjadi hal-hal seperti itu, ia tidak boleh membiarkannya, tetapi harus menindaknya!
Cerita: saya marah dalam acara firman di STRIS karena ada pendeta terima hand phone.
c) Perang dimulai dan pasukan Abner terpukul kalah (ay 17).
Jelas bahwa Tuhan beserta dengan pasukan Daud, dan karena itu mereka menang. Tetapi ingat bahwa hal seperti itu tidak selalu langsung terjadi. Kadang-kadang, sekalipun disertai Tuhan, tetapi kita mula-mula kalah, baru belakangan kita menang! Bdk. Hak 19-20. Karena itu, kalau kita yakin bahwa kita melakukan kebenaran, dan ‘berperang’ sesuai kehendak Tuhan, tetapi kelihatannya kita kalah / gagal, kita tidak boleh berputus asa, tetapi harus berjuang terus. Pada akhirnya kita pasti menang! Bandingkan dengan pelayanan dari Yesaya, atau bahkan Yesus sendiri, yang kelihatannya gagal / kecil hasilnya!
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali