(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Minggu, tgl 27 Juni 2010, pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
2Sam 2:1-3:1 - “(1) Kemudian bertanyalah Daud kepada TUHAN, katanya: ‘Apakah aku harus pergi ke salah satu kota di Yehuda?’ Firman TUHAN kepadanya: ‘Pergilah.’ Lalu kata Daud: ‘Ke mana aku pergi?’ FirmanNya: ‘Ke Hebron.’ (2) Lalu pergilah Daud ke sana dengan kedua isterinya: Ahinoam, perempuan Yizreel, dan Abigail, bekas isteri Nabal, orang Karmel itu. (3) Juga Daud membawa serta orang-orangnya yang mengiringinya masing-masing dengan rumah tangganya, dan menetaplah mereka di kota-kota Hebron. (4) Kemudian datanglah orang-orang Yehuda, lalu mengurapi Daud di sana menjadi raja atas kaum Yehuda. Ketika kepada Daud diberitahukan bahwa orang-orang Yabesh-Gilead menguburkan Saul, (5) maka Daud mengirim orang kepada orang-orang Yabesh-Gilead dengan pesan: ‘Diberkatilah kamu oleh TUHAN, karena kamu telah menunjukkan kasihmu kepada tuanmu, Saul, dengan menguburkannya. (6) Oleh sebab itu, TUHAN kiranya menunjukkan kasih dan setiaNya kepadamu. Akupun akan berbuat kebaikan yang sama kepadamu, karena kamu telah melakukan hal yang demikian. (7) Kuatkanlah hatimu sekarang dan jadilah orang-orang yang gagah perkasa, sekalipun tuanmu Saul sudah mati; dan aku telah diurapi oleh kaum Yehuda menjadi raja atas mereka.’ (8) Abner bin Ner, panglima Saul, telah mengambil Isyboset, anak Saul, dan membawanya ke Mahanaim (9) serta menjadikannya raja atas Gilead, atas orang Asyuri, atas Yizreel, atas Efraim dan atas Benyamin, bahkan atas seluruh Israel. (10) Isyboset bin Saul berumur empat puluh tahun pada waktu ia menjadi raja atas Israel dan ia memerintah dua tahun lamanya. Hanyalah kaum Yehuda yang mengikuti Daud. (11) Dan lamanya Daud memerintah di Hebron atas kaum Yehuda adalah tujuh tahun dan enam bulan. (12) Lalu Abner bin Ner dengan anak buah Isyboset bin Saul bergerak maju dari Mahanaim ke Gibeon. (13) Juga Yoab, anak Zeruya, dan anak buah Daud bergerak maju. Mereka saling bertemu di telaga Gibeon, lalu tinggal di sana, pihak yang satu di tepi telaga sebelah sini, dan pihak yang lain di tepi telaga sebelah sana. (14) Berkatalah Abner kepada Yoab: ‘Biarlah orang-orang muda tampil dan mengadakan pertandingan di depan kita.’ Jawab Yoab: ‘Baik.’ (15) Lalu tampillah mereka dan berjalan lewat dengan dihitung: dua belas orang dari suku Benyamin, dari Isyboset, anak Saul, dan dua belas orang dari anak buah Daud. (16) Kemudian mereka masing-masing menangkap kepala lawannya, dan menikamkan pedangnya ke lambung lawannya, sehingga rebahlah mereka bersama-sama. Sebab itu tempat itu disebutkan orang Helkat-Hazurim; letaknya dekat Gibeon. (17) Pada hari itu pertempuran sangat hebat, dan Abner serta orang-orang Israel terpukul kalah oleh anak buah Daud. (18) Ketiga anak laki-laki Zeruya, yakni Yoab, Abisai dan Asael ada di sana; Asael cepat larinya seperti kijang di padang. (19) Asael mengejar Abner dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dalam membuntutinya. (20) Lalu Abner berpaling ke belakang dan bertanya: ‘Engkaukah itu Asael?’ Jawabnya: ‘Ya, aku.’ (21) Kemudian berkatalah Abner kepadanya: ‘Menyimpanglah ke kiri atau ke kanan, tangkaplah salah seorang dari orang-orang muda itu dan ambillah senjatanya.’ Tetapi Asael tidak mau berhenti membuntuti Abner. (22) Berkatalah sekali lagi Abner kepada Asael: ‘Berhentilah membuntuti aku. Apa aku harus memukul engkau sampai jatuh? Bagaimana aku dapat memandang muka Yoab, abangmu itu?’ (23) Tetapi Asael menolak berhenti. Lalu Abner menusuk ke belakang ke perut Asael dengan tombaknya, sehingga tombak itu menembus belakangnya; dan rebahlah ia di sana dan mati di tempat itu juga. Semua orang yang datang ke tempat Asael rebah dan mati itu, berhenti di sana. (24) Tetapi Yoab dan Abisai mengejar Abner. Ketika matahari masuk dan mereka sampai ke dekat bukit Ama, yang ada di sebelah timur Giah, ke arah padang gurun Gibeon, (25) berhimpunlah bani Benyamin di belakang Abner menjadi satu gabungan dan bersiap-siap di puncak sebuah bukit. (26) Berserulah Abner kepada Yoab: ‘Haruskah pedang makan terus-menerus? Tidak tahukah engkau, bahwa kepahitan datang pada akhirnya? Berapa lama lagi engkau tidak mau mengatakan kepada rakyat itu, supaya mereka berhenti memburu saudara-saudaranya?’ (27) Jawab Yoab: ‘Demi Allah yang hidup, sekiranya engkau berbicara tadi, maka tentulah sudah dari tadi pagi rakyat menarik diri dari memburu saudara-saudaranya.’ (28) Lalu Yoab meniup sangkakala dan seluruh rakyat berhenti; mereka tidak lagi mengejar orang Israel dan tidak berperang lagi. (29) Semalam-malaman Abner dan orang-orangnya berjalan melalui Araba-Yordan, menyeberangi sungai Yordan, berjalan terus hampir sepanjang siang, lalu sampai ke Mahanaim. (30) Ketika Yoab berhenti memburu Abner dan menghimpunkan seluruh rakyat, ternyata sembilan belas orang dari anak buah Daud hilang termasuk Asael. (31) Tetapi anak buah Daud menewaskan dari suku Benyamin, dari orang-orang Abner, tiga ratus enam puluh orang. (32) Mereka mengangkat mayat Asael dan menguburkannya di dalam kubur ayahnya yang di Betlehem. Kemudian berjalanlah Yoab dan orang-orangnya semalam-malaman itu dan sampai ke Hebron, ketika hari sudah terang. (3:1) Peperangan antara keluarga Saul dan keluarga Daud berlarut-larut; Daud kian lama kian kuat, sedang keluarga Saul kian lama kian lemah”.
III) Daud menjadi raja atas Yehuda.
2Sam 2:4-7 - “(4) Kemudian datanglah orang-orang Yehuda, lalu mengurapi Daud di sana menjadi raja atas kaum Yehuda. Ketika kepada Daud diberitahukan bahwa orang-orang Yabesh-Gilead menguburkan Saul, (5) maka Daud mengirim orang kepada orang-orang Yabesh-Gilead dengan pesan: ‘Diberkatilah kamu oleh TUHAN, karena kamu telah menunjukkan kasihmu kepada tuanmu, Saul, dengan menguburkannya. (6) Oleh sebab itu, TUHAN kiranya menunjukkan kasih dan setiaNya kepadamu. Akupun akan berbuat kebaikan yang sama kepadamu, karena kamu telah melakukan hal yang demikian. (7) Kuatkanlah hatimu sekarang dan jadilah orang-orang yang gagah perkasa, sekalipun tuanmu Saul sudah mati; dan aku telah diurapi oleh kaum Yehuda menjadi raja atas mereka.’”.
1) Orang-orang Yehuda mengurapi Daud menjadi raja mereka (ay 4a).
Matthew Henry: “The honour done him by the men of Judah: They anointed him king over the house of Judah, v. 4. The tribe of Judah had often stood by itself more than any other of the tribes. In Saul’s time it was numbered by itself as a distinct body (1 Sam 15:4) and those of this tribe had been accustomed to act separately. They did so now; yet they did it for themselves only; they did not pretend to anoint him king over all Israel (as Judg 9:22), but only over the house of Judah. The rest of the tribes might do as they pleased, but, as for them and their house, they would be ruled by him whom God had chosen. See how David rose gradually; he was first anointed king in reversion, then in possession of one tribe only, and at last of all the tribes. Thus the kingdom of the Messiah, the Son of David, is set up by degrees; he is Lord of all by divine designation, but we see not yet all things put under him, Heb 2:8” [= Kehormatan yang diberikan kepadanya oleh orang-orang Yehuda: Mereka mengurapinya menjadi raja atas kaum Yehuda, ay 4. Suku Yehuda telah sering berdiri sendiri lebih dari suku yang lain manapun. Pada jaman Saul suku Yehuda dihitung sendiri sebagai suatu tubuh yang berbeda (1Sam 15:4) dan mereka dari suku ini telah terbiasa untuk bertindak secara terpisah. Mereka melakukan hal itu sekarang; tetapi mereka melakukannya hanya bagi diri mereka sendiri; mereka tidak berpura-pura untuk mengurapi dia sebagai raja atas seluruh Israel (seperti Hak 9:22), tetapi hanya atas kaum Yehuda. Sisa dari suku-suku boleh melakukan seperti yang mereka senangi, tetapi bagi mereka dan kaum mereka, mereka mau diperintah oleh orang yang telah dipilih oleh Allah. Lihatlah bagaimana Daud naik secara perlahan-lahan; ia mula-mula diurapi menjadi raja secara inidividuil, lalu dalam kepemilikan dari hanya satu suku, dan akhirnya dari semua suku. Demikianlah kerajaan dari Mesias, Anak Daud, ditegakkan sedikit demi sedikit; Ia adalah Tuhan dari semua oleh penunjukan ilahi, tetapi kita belum melihat segala sesuatu diletakkan di bawahNya, Ibr 2:8].
Catatan: lagi-lagi saya ragu-ragu apakah ini merupakan penafsiran yang bisa diterima atau suatu perohanian yang salah.
1Sam 15:4 - “Lalu Saul memanggil rakyat berkumpul dan memeriksa barisan mereka di Telaim: ada dua ratus ribu orang pasukan berjalan kaki dan sepuluh ribu orang Yehuda”.
Hak 9:22 - “Setelah tiga tahun lamanya Abimelekh memerintah atas orang Israel”.
Ibr 2:8 - “segala sesuatu telah Engkau taklukkan di bawah kakiNya.’ Sebab dalam menaklukkan segala sesuatu kepadaNya, tidak ada suatupun yang Ia kecualikan, yang tidak takluk kepadaNya. Tetapi sekarang ini belum kita lihat, bahwa segala sesuatu telah ditaklukkan kepadaNya”.
Pulpit Commentary: “Verse 4. - They anointed David. Samuel’s anointing (1 Sam 16:13) had been private, and, if we may judge by the manner in which Eliab treated David (1 Sam 17:28), even his own family had not attached much importance to it. It was nevertheless the indication of Jehovah’s purpose, and now the anointing of David by the elders of Judah was the first step towards its accomplishment” [= Ayat 4. - Mereka mengurapi Daud. Pengurapan dari Samuel (1Sam 16:13) merupakan sesuatu yang bersifat pribadi, dan, jika kita boleh menilai dari cara dengan mana Eliab memperlakukan Daud (1Sam 17:28), bahkan keluarganya sendiri tidak menganggap penting hal itu. Tetapi itu tetap merupakan petunjuk tentang tujuan / rencana Yehovah, dan sekarang pengurapan Daud oleh tua-tua Yehuda adalah langkah pertama menuju penggenapannya].
1Sam 16:13 - “Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama”.
1Sam 17:28 - “Ketika Eliab, kakaknya yang tertua, mendengar perkataan Daud kepada orang-orang itu, bangkitlah amarah Eliab kepada Daud sambil berkata: ‘Mengapa engkau datang? Dan pada siapakah kautinggalkan kambing domba yang dua tiga ekor itu di padang gurun? Aku kenal sifat pemberanimu dan kejahatan hatimu: engkau datang ke mari dengan maksud melihat pertempuran.’”.
Penerapan: kalau saudara memang dipanggil oleh Tuhan untuk suatu tugas / jabatan tertentu, jangan pusingkan pemikiran / pandangan orang tentang hal itu. Bahkan jangan pikirkan pemikiran saudara sendiri tentang hal itu. Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:
· Kel 3:10-12 - “(10) Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umatKu, orang Israel, keluar dari Mesir.’ (11) Tetapi Musa berkata kepada Allah: ‘Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?’ (12) Lalu firmanNya: ‘Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.’”.
· Kel 4:10-12 - “(10) Lalu kata Musa kepada TUHAN: ‘Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hambaMupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.’ (11) Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: ‘Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN? (12) Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan.’”.
· Yer 1:4-8 - “(4) Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: (5) ‘Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.’ (6) Maka aku menjawab: ‘Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.’ (7) Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: ‘Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. (8) Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN.’”.
· Hak 6:14-16 - “(14) Lalu berpalinglah TUHAN kepadanya dan berfirman: ‘Pergilah dengan kekuatanmu ini dan selamatkanlah orang Israel dari cengkeraman orang Midian. Bukankah Aku mengutus engkau!’ (15) Tetapi jawabnya kepadaNya: ‘Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan akupun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku.’ (16) Berfirmanlah TUHAN kepadanya: ‘Tetapi Akulah yang menyertai engkau, sebab itu engkau akan memukul kalah orang Midian itu sampai habis.’”.
· 1Sam 17:26-37 - “(26) Lalu berkatalah Daud kepada orang-orang yang berdiri di dekatnya: ‘Apakah yang akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan orang Filistin itu dan yang menghindarkan cemooh dari Israel? Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup?’ (27) Rakyat itupun menjawabnya dengan perkataan tadi: ‘Begitulah akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan dia.’ (28) Ketika Eliab, kakaknya yang tertua, mendengar perkataan Daud kepada orang-orang itu, bangkitlah amarah Eliab kepada Daud sambil berkata: ‘Mengapa engkau datang? Dan pada siapakah kautinggalkan kambing domba yang dua tiga ekor itu di padang gurun? Aku kenal sifat pemberanimu dan kejahatan hatimu: engkau datang ke mari dengan maksud melihat pertempuran.’ (29) Tetapi jawab Daud: ‘Apa yang telah kuperbuat? Hanya bertanya saja!’ (30) Lalu berpalinglah ia dari padanya kepada orang lain dan menanyakan yang sama. Dan rakyat memberi jawab kepadanya seperti tadi. (31) Terdengarlah kepada orang perkataan yang diucapkan oleh Daud, lalu diberitahukanlah kepada Saul. Dan Saul menyuruh memanggil dia. (32) Berkatalah Daud kepada Saul: ‘Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.’ (33) Tetapi Saul berkata kepada Daud: ‘Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.’ (34) Tetapi Daud berkata kepada Saul: ‘Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, (35) maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. (36) Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup.’ (37) Pula kata Daud: ‘TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.’ Kata Saul kepada Daud: ‘Pergilah! TUHAN menyertai engkau.’”.
· Gal 1:15-17 - “(15) Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karuniaNya, (16) berkenan menyatakan AnakNya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia; (17) juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik”.
Kesaksian: pada waktu saya dipanggil Tuhan menjadi hamba Tuhan, bahkan pendeta saya sendiri menganggap bahwa pergumulan saya salah, tetapi belakangan Tuhan sendiri mengatakan kepadanya bahwa Ia memang memanggil saya.
2) Daud menghargai orang-orang Yabesh-Gilead, karena telah menguburkan Saul (ay 4b-7). Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari hal ini:
a) Di sini Daud hanya menyebutkan Saul, padahal orang-orang Yabesh-Gilead juga menguburkan Yonatan dan anak-anak Saul yang lain.
1Sam 31:11-13 - “(11) Ketika penduduk Yabesh-Gilead mendengar tentang apa yang telah dilakukan orang Filistin kepada Saul, (12) maka bersiaplah segenap orang gagah perkasa, mereka berjalan terus semalam-malaman, lalu mengambil mayat Saul dan mayat anak-anaknya dari tembok kota Bet-Sean. Kemudian pulanglah mereka ke Yabesh dan membakar mayat-mayat itu di sana. (13) Mereka mengambil tulang-tulangnya lalu menguburkannya di bawah pohon tamariska di Yabesh. Sesudah itu berpuasalah mereka tujuh hari lamanya”.
Mungkin Daud menganggap bahwa orang-orang Yabesh-Gilead itu bisa saja kuatir bahwa kebaikan mereka terhadap Saul akan tidak menyenangkan Daud. Dan Daud mengirimkan pesan ini untuk menunjukkan kepada mereka bahwa ia justru memuji tindakan mereka.
b) Dalam 1Sam 31:11-13 dikatakan bahwa mayat Saul dan anak-anaknya dibakar dulu, baru dikuburkan. Kalau kremasi merupakan sesuatu yang salah, bagaimana mungkin Daud memuji tindakan orang-orang Yabesh-Gilead itu?
c) Penghargaan Daud kepada orang-orang Yabesh-Gilead.
The Bible Exposition Commentary: Old Testament: “Jabesh Gilead was located across the Jordan in the tribe of Gad, and the men who recovered the bodies had to travel northwest and cross the Jordan River to reach Beth Shan, a round trip of perhaps twenty-five miles. It was a courageous endeavor, and David thanked them for their devotion to Saul and to the kingdom of Israel. They had displayed ‘kindness,’ and the Lord would show them ‘kindness and faithfulness.’ ... David used this occasion as an opportunity to invite the brave men of Jabesh Gilead to cast their lot with him. They had been valiant for Saul, and now they could be valiant for David. Some warriors from Gad had already joined David’s army while he was in Ziklag (1 Chron 12:8-15), affirming their confidence that he was God’s anointed king. Unfortunately, the people of Jabesh Gilead didn’t choose to submit to David but instead followed Abner and Saul’s weak son Ish-Bosheth. The people of Jabesh Gilead allowed their affection for Saul to blind them to God’s plan for the nation. They had a good motive, but they made a bad choice. How often in the history of the church have God’s people allowed human affection and appreciation to overrule the will of God! Jesus Christ is King and He deserves our submission, loyalty, and obedience. To put human leaders ahead of God’s anointed King is to create division and weakness in the ranks of the Lord’s followers and invite multiplied problems for the Lord’s people. As Augustine of Hippo said, ‘Jesus Christ will be Lord of all or He will not be Lord at all.’” [= Yabesh-Gilead terletak di seberang Yordan dalam suku Gad, dan orang-orang yang menemukan mayat-mayat (dari Saul dan anak-anaknya) harus berjalan ke Barat Laut dan menyeberangi sungai Yordan untuk mencapai Bet-Sean, suatu perjalanan memutar dari mungkin 25 mil (= 40 km). Itu merupakan suatu usaha yang berani, dan Daud berterima kasih kepada mereka untuk pembaktian mereka kepada Saul dan kepada kerajaan Israel. Mereka telah menunjukkan ‘kebaikan / kasih’ dan Tuhan akan menunjukkan kepada mereka ‘kebaikan / kasih dan kesetiaan’. ... Daud menggunakan peristiwa ini sebagai suatu kesempatan untuk mengundang orang-orang yang berani dari Yabesh-Gilead untuk bergabung dengan dia. Mereka telah berani bagi Saul, dan sekarang mereka bisa berani untuk Daud. Beberapa pejuang dari Gad telah bergabung dengan tentara Daud pada waktu ia ada di Ziklag (1Taw 12:8-15), meneguhkan keyakinan mereka bahwa ia adalah raja yang diurapi oleh Allah. Sayang sekali, orang-orang Yabesh-Gilead tidak memilih untuk tunduk kepada Daud, tetapi mengikuti Abner dan anak Saul yang lemah Isyboset. Orang-orang Yabesh-Gilead mengijinkan kasih mereka bagi Saul untuk membutakan mata mereka terhadap rencana Allah bagi bangsa itu. Mereka mempunyai motivasi yang baik, tetapi mereka melakukan pemilihan yang buruk. Betapa sering dalam sejarah dari gereja umat Allah telah mengijinkan kasih dan penghargaan manusiawi untuk mengesampingkan kehendak Allah! Yesus Kristus adalah Raja dan Ia layak mendapatkan ketundukan, kesetiaan, dan ketaatan kita. Meletakkan pemimpin-pemimpin manusia di depan Raja yang diurapi Allah berarti menciptakan perpecahan dan kelemahan dalam barisan dari pengikut-pengikut Tuhan dan mengundang banyak problem bagi umat Tuhan. Seperti dikatakan oleh Agustinus dari Hippo, ‘Yesus Kristus akan menjadi Tuhan dari semua atau Ia bukan Tuhan sama sekali’.].
IV) Abner menjadikan Isyboset menjadi raja Israel.
2Sam 2:8-11 - “(8) Abner bin Ner, panglima Saul, telah mengambil Isyboset, anak Saul, dan membawanya ke Mahanaim (9) serta menjadikannya raja atas Gilead, atas orang Asyuri, atas Yizreel, atas Efraim dan atas Benyamin, bahkan atas seluruh Israel. (10) Isyboset bin Saul berumur empat puluh tahun pada waktu ia menjadi raja atas Israel dan ia memerintah dua tahun lamanya. Hanyalah kaum Yehuda yang mengikuti Daud. (11) Dan lamanya Daud memerintah di Hebron atas kaum Yehuda adalah tujuh tahun dan enam bulan”.
1) Nama Isyboset.
Saya akan memberikan beberapa komentar tentang nama ‘Isyboset’ ini.
Pulpit Commentary: “‘Ishbosheth.’ This name signifies ‘man of shame,’ that is, ‘man of the shameful thing,’ the idol. Originally he was named Eshbaal (1 Chron 8:33; 9:39), that is ‘man of Baal,’ the word esh being merely a dialectic variation for ish, equivalent to ‘man.’ At this early date Baal was not the specific name of any idol, but simply meant ‘lord,’ ‘master,’ ‘husband.’ In the earlier books of the Bible we find the word used of many local deities, who were lords of this or that, but had nothing in common with the Phoenician Baal, whose worship Ahab attempted to introduce into Israel. From that time Baal became a term of reproach, and Bosheth, ‘the shame,’ was substituted for it in the old names of which it had formed part. Thus Gideon is still called Jerubbaal in 1 Sam 12:11, but the title is transformed into Jerubbesheth, or more correctly, Jerubbosheth, ‘let the shame plead,’ in 2 Sam 11:21. Originally, therefore, the name Ishbaal had no discreditable meaning, but signified, ‘man of the Lord,’ or, as Ewald supposes, ‘lordly man.’ It was not till long afterwards, when Israel had been horrified by Jezebel’s doings, that Baal, except in the sense of ‘husband,’ became an ill-omened word. Jonathan, ... called his son’s name Meribbaal, ‘the Lord’s strife’ (1 Chron 8:34). In some strange way this was altered into Mephibosheth, that is, ‘from the face of the shameful thing’ (ch. 4:4. etc.). Possibly it is a corruption of Meribbosheth, but it is remarkable that a son of Saul by his concubine Rizpah also bore the name (2 Sam 21:8). Among the ancestors of Saul, the simple name Baal, ‘Lord,’ occurs (1 Chron 8:30)” [= ‘Isyboset’. Nama ini berarti ‘orang laki-laki dari sesuatu yang memalukan’, artinya ‘orang laki-laki dari hal yang memalukan’, berhala. Semula ia dinamakan Esybaal (1Taw 8:33; 9:39), artinya, ‘orang laki-laki dari Baal’, kata ‘Esy’ hanya semata-mata merupakan variasi yang bersifat dialek dari kata ‘Ish’, yang berarti ‘laki-laki / suami’. Pada waktu yang mula-mula / awal ‘Baal’ bukanlah nama spesifik dari berhala manapun, tetapi sekedar berarti ‘tuan’, ‘pemilik’, ‘suami’. Dalam kitab-kitab yang awal / mula-mula dari Alkitab kita mendapati kata itu digunakan untuk banyak dewa-dewa lokal, yang adalah tuan dari ini atau itu, tetapi tidak mempunyai persamaan dengan Baal dari Fenisia, yang penyembahannya diusahakan untuk diperkenalkan ke dalam Israel oleh Ahab. Sejak saat itu, ‘Baal’ menjadi suatu istilah celaan, dan Boset, ‘sesuatu yang memalukan’ dijadikan pengganti baginya dalam nama-nama kuno dimana kata ‘Baal’ merupakan bagian darinya. Karena itu, Gideon tetap disebut Yerubaal dalam 1Sam 12:11, tetapi gelar itu diubah menjadi Yerubeset, atau lebih tepat, Yeruboset, ‘hendaklah sesuatu yang memalukan membela / mengaku / menjawab’, dalam 2Sam 11:21. Karena itu semula nama ‘Isybaal’ tidak mempunyai arti yang mendiskreditkan, tetapi berarti ‘orang laki-laki dari Tuhan’, atau, seperti diduga oleh Ewald, ‘orang laki-laki yang bersifat agung / mulia’. Baru pada waktu sangat belakangan, pada waktu Israel telah dikejutkan oleh tindakan Izebel, maka ‘Baal’, kecuali dalam arti dari ‘suami’, menjadi suatu kata yang memberi suatu pertanda buruk. Yonatan, ... menamakan anak laki-lakinya Meribbaal, ‘usaha / konflik dari Tuhan’ (1Taw 8:34). Dengan cara yang aneh ini diubah menjadi Mefiboset, artinya ‘dari wajah / hadapan sesuatu yang memalukan’ (pasal 4:4 dsb). Mungkin ini merupakan suatu perusakan dari Meriboset, tetapi perlu diperhatikan bahwa seorang anak laki-laki dari Saul oleh gundiknya, Rizpa, juga mempunyai nama itu (2Sam 21:8). Di antara nenek moyang dari Saul, nama ‘Baal’, ‘Tuhan’, muncul (1Taw 8:30)].
Jamieson, Fausset & Brown: “‘Ish-bosheth’ - or ‘Esh-baal’ (i.e., man of Baal), 1 Chron 8:33; 9:39. The Hebrews usually changed names ending with ‘Baal’ into ‘Bosheth’ (shame): cf. Judg 9:53 with 2 Sam 11:21. This prince, being not mentioned with the other sons of Saul (1 Sam 14:40), was probably not born until his father had violated his duty as a theocratic king, and the Spirit of the Lord had departed from him, (1 Sam 15.) ‘Esh-baal’ was the proper name of this young son, while ‘Ish-bosheth’ (man of shame) was a popular nickname, most probably applied to him, as ‘bosheth,’ shame, abomination, is uniformly in the sacred writings, with reference to the idol after whom he was called (cf. Judg 6:32 with 2 Sam 11:21). The name of this son seems to warrant the inference that Saul became in his latter days an unhappy apostate to the worship of Baal (see the note at 1 Chron 8:34).’” [= ‘Isyboset’ - atau Esy-Baal, (yaitu ‘orang laki-laki dari Baal’), 1Taw 8:33; 9:39. Orang-orang Ibrani biasanya mengganti nama-nama yang berakhiran dengan ‘Baal’ menjadi ‘Boset’ (sesuatu yang memalukan): bdk. Hak 9:53 dengan 2Sam 11:21. Pangeran ini, yang tidak disebutkan dengan anak-anak laki-laki yang lain dari Saul (1Sam 14:40), mungkin belum dilahirkan sampai ayahnya telah melanggar kewajibannya sebagai raja theokrasi, dan Roh Tuhan telah meninggalkannya, (1Sam 15). ‘Esy-baal’ adalah nama sebenarnya dari anak laki-laki muda ini, sedangkan ‘Isyboset’ (orang laki-laki dari sesuatu yang memalukan) adalah nama julukan yang populer, mungkin diterapkan kepadanya, karena ‘boset’, sesuatu yang memalukan, sesuatu yang menjijikkan, secara seragam dalam tulisan-tulisan kudus, berhubungan dengan berhala menurut siapa ia dipanggil (bdk. Hak 6:32 dengan 2Sam 11:21). Nama dari anak laki-laki ini kelihatannya membenarkan kesimpulan bahwa Saul pada hari-hari belakangannya menjadi seorang murtad yang malang kepada penyembahan dari Baal (lihat catatan di 1Taw 8:34)].
Catatan:
· saya kira 1Sam 14:40 itu seharusnya adalah 1Sam 14:49 - “Anak-anak lelaki Saul ialah Yonatan, Yiswi dan Malkisua. Nama kedua anaknya yang perempuan: yang tertua bernama Merab, yang termuda bernama Mikhal”.
· Saya tak terlalu yakin dengan kata-kata yang saya garis-bawahi. Kalau kata-kata itu benar, maka hal itu juga harus diterapkan kepada Yonatan, karena anaknya mula-mula juga diberi nama ‘Meribaal’.
Keil & Delitzsch: “Ishbosheth (i.e., man of shame) was the fourth son of Saul (according to 1 Chron 8:33; 9:39): his proper name was Esh-baal (i.e., fire of Baal, probably equivalent to destroyer of Baal). This name was afterwards changed into Ishbosheth, just as the name of the god Baal was also translated into Bosheth (‘shame,’ Hos 9:10; Jer 3:24, etc.), and Jerubbaal changed into Jerubbosheth (see at Judg 8:35)” [= Isyboset (artinya, orang dari sesuatu yang memalukan) adalah anak laki-laki ke 4 dari Saul (menurut 1Taw 8:33; 9:39): namanya yang sebenarnya adalah Esy-Baal (artinya, api dari Baal, mungkin sama dengan penghancur dari Baal). Nama ini belakangan diganti menjadi Isyboset, sama seperti nama dari dewa Baal juga diterjemahkan menjadi Boset (‘sesuatu yang memalukan’, Hos 9:10; Yer 3:24, dsb), dan Yerubaal diganti menjadi Yeruboset (lihat di Hak 8:35)].
Catatan: Keil & Delitzsch berbeda dengan Jamieson, Fausset & Brown dan Pulpit Commentary di atas, yang mengatakan bahwa nama Esybaal berarti ‘a man of Baal’ (= seorang laki-laki dari Baal). Saya lebih setuju dengan Jamieson, Fausset & Brown dan Pulpit Commentary dari pada dengan Keil & Delitzsch.
Ada beberapa hal yang bisa kita dapatkan dari kutipan-kutipan di atas:
a) Kata ‘Baal’ dulunya bukan nama berhala / dewa, dan tidak mempunyai konotasi yang negatif, dan karena itu banyak digunakan dalam nama-nama dari orang-orang Israel, atau sebagai bagian dari nama mereka.
1Taw 5:3-5 - “(3) Anak-anak Ruben, anak sulung Israel, ialah Henokh, Palu, Hezron dan Karmi. (4) Keturunan Yoel ialah Semaya, anaknya; anak orang ini ialah Gog, anak orang ini ialah Simei; (5) anak orang ini ialah Mikha; anak orang ini ialah Reaya; anak orang ini ialah Baal”.
1Taw 8:29-30 - “(29) Tetapi di Gibeon diam bapa Gibeon, yakni Yeiel, dan nama isterinya ialah Maakha. (30) Anak sulungnya ialah Abdon, lalu Zur, Kish, Baal, Nadab”. Bdk. 1Taw 9:35-36.
b) Arti dari kata ‘Baal’ sebetulnya adalah ‘tuan’ atau ‘pemilik’, dan bisa juga diartikan sebagai ‘suami’. Dan kata ‘Baal’ ini, sekalipun juga banyak digunakan untuk dewa-dewa lokal (tetapi bukan sebagai nama dewa), dulunya juga digunakan terhadap Allah Israel (Yahweh). Perhatikan kutipan di bawah ini:
The International Standard Bible Encyclopedia: “BAAL ... III. Baal-Worship.: - In the earlier days of Hebrew history the title Baal, or ‘Lord,’ was applied to the national God of Israel” (= BAAL ... III. Penyembahan Baal.: - Pada jaman awal dari sejarah Ibrani gelar ‘Baal’, atau ‘Tuhan’, diterapkan kepada Allah nasional dari Israel).
Perhatikan ayat-ayat di bawah ini dimana nama / kata ‘Baal’ muncul dalam bahasa Ibraninya dan ditujukan kepada Allah Israel (Yahweh):
1. Yer 31:32 - “bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjianKu itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan (Ibrani: BAAL) yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN”.
2. Yes 54:5 - “Sebab yang menjadi suami (Ibrani: BAAL) mu ialah Dia yang menjadikan engkau, TUHAN semesta alam namaNya; yang menjadi Penebusmu ialah Yang Mahakudus, Allah Israel, Ia disebut Allah seluruh bumi”.
3. 1Taw 12:5 - “Eluzai, Yerimot, Bealya, Semarya dan Sefaca, orang Harufi”.
Nama ‘Bealya’ berarti ‘Yahweh is my Baal’ (= Yahweh adalah Baalku).
c) Belakangan, kata ‘Baal’ menjadi nama dari dewa / berhala.
‘The International Standard Bible Encyclopedia’, vol I: “During Ahab’s reign, however, the name became associated with the worship and rites of the Tyrian deity introduced into Samaria by Jezebel, and its idolatrous associations accordingly caused it to fall into disrepute” (= Tetapi selama pemerintahan Ahab, nama itu menjadi berhubungan dengan penyembahan dan upacara dari allah / dewa Tirus yang diperkenalkan kepada / dimasukkan ke dalam Samaria oleh Izebel, dan hubungannya yang bersifat penyembahan berhala menyebabkannya mendapat nama buruk) - hal 378.
Catatan: kelihatannya, jauh sebelum jaman Ahab kata / nama ‘Baal’ sudah dihubungkan dengan berhala, karena pada jaman Gideon dan bahkan sebelumnya, Israel sudah pernah jatuh ke dalam penyembahan terhadap Baal (Hak 2:11,13 Hak 3:7 Hak 6:25). Tetapi mungkin ini terjadi karena penulisnya hidup setelah jaman Ahab.
Penghubungan kata ‘Baal’ dengan berhala / dewa ini menyebabkan:
1. Belakangan kata ‘Baal’ tidak lagi digunakan untuk Allah Israel (Yahweh).
Hos 2:15 - “Maka pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN, engkau akan memanggil Aku: Suamiku (Ibrani: ISHI), dan tidak lagi memanggil Aku: Baalku!”.
Unger’s Bible Dictionary (dengan topik ‘Baali’): “‘Thou shalt call me Ishi; and shalt call me no more Baali’ (Hos 2:16). The meaning is that Israel will enter into right relation with God, in which she will look toward Him as her husband (Ishi) and not merely as Baal, ‘owner, master.’” [= ‘Engkau akan memanggil Aku: Suamiku (ISHI), dan tidak lagi memanggil Aku: Baalku (BAALI)’ (Hos 2:15). Artinya adalah bahwa Israel akan masuk ke dalam hubungan dengan Allah, dalam mana ia akan memandang kepadaNya sebagai suaminya (Ishi) dan bukan semata-mata sebagai ‘Baal’, ‘pemilik, tuan’] - hal 113.
Catatan: dari kata-kata Unguer ini kelihatannya perubahan dari ‘BAALI’ menjadi ‘ISHI’ tak ada hubungannya dengan penggunaan kata ‘BAAL’ sebagai nama dewa. Tetapi bandingkan dengan kata-kata Adam Clarke di bawah ini.
Adam Clarke (tentang Hos 2:15): “‘Thou shalt call me Ishi.’ That is, my man, or my husband; a title of love and affection; and not BAALI, my master, a title exciting fear and apprehension; which, howsoever good in itself, was now rendered improper to be applied to Yahweh, having been prostituted to false gods” (= ‘Engkau akan memanggil Aku ISHI’. Artinya, ‘orang laki-lakiKu’, atau ‘suamiKu’; suatu gelar dari kasih dan sayang; dan bukan BAALI, ‘tuanKu’, suatu gelar yang membangkitkan rasa takut dan ketakutan; yang, bagaimanapun baik dalam dirinya sendiri, sekarang dianggap tidak benar untuk diterapkan kepada Yahweh, setelah disalah-gunakan pada allah / dewa palsu).
Bavinck: “’Adhōnāy, Lord, in strengthened form ‘Lord of lords’ and ‘Lord of all the earth,’ indicates God as the Ruler to whom everything is subject, and to whom man is related as a servant, ... In an earlier period the name Ba‘al was applied to God with the same signification, but later on this name was given an idolatrous meaning; hence, its use was discontinued” (= ’Adhōnāy, Tuhan, dalam bentuk yang dikuatkan ‘Tuhan dari semua tuhan’ dan ‘Tuhan dari seluruh bumi’, menunjukkan Allah sebagai Penguasa / Pemerintah kepada siapa segala sesuatu tunduk, dan kepada siapa manusia dihubungkan sebagai pelayan, ... Pada jaman yang lebih awal, nama Baal diterapkan kepada Allah dengan arti yang sama, tetapi belakangan nama ini diberi arti yang bersifat berhala; karena itu penggunaannya dihentikan) - ‘The Doctrine of God’, hal 100.
2. Banyak orang Israel yang dulunya mempunyai nama yang mengandung kata ‘baal’, belakangan mengubah kata ‘baal’nya. Ada yang mengubahnya menjadi ‘boset’, yang berarti ‘sesuatu yang memalukan’, dan ada yang mengubahnya menjadi sesuatu yang lain atau membuangnya. Misalnya:
a. Nama Isyboset berasal dari Esybaal atau Ishbaal.
1Taw 8:33 / 1Taw 9:39 - “Ner memperanakkan Kish; Kish memperanakkan Saul; Saul memperanakkan Yonatan, Malkisua, Abinadab dan Esybaal”.
b. Gideon yang mula-mula diberi nama Yerubaal, lalu berubah menjadi Yerubeset atau Yeruboset.
Hak 6:32 - “Dan pada hari itu diberikan oranglah nama Yerubaal kepada Gideon, karena kata orang: ‘Biarlah Baal berjuang dengan dia, setelah dirobohkannya mezbahnya itu.’”.
Hak 8:35 - “juga tidak menunjukkan terima kasihnya kepada keturunan Yerubaal-Gideon seimbang dengan segala yang baik yang telah dilakukannya kepada orang Israel”.
KJV: ‘Jerubbaal, namely, Gideon’ (= Yerubaal, yaitu, Gideon)
RSV/NIV/NASB: ‘Jerubbaal (that is, Gideon)’ [= Yerubaal (yaitu, Gideon)].
Hak 9:1 - “Adapun Abimelekh bin Yerubaal pergi ke Sikhem kepada saudara-saudara ibunya dan berkata kepada mereka dan kepada seluruh kaum dari pihak keluarga ibunya”.
1Sam 12:11 - “Sesudah itu TUHAN mengutus Yerubaal, Barak, Yefta dan Samuel, dan melepaskan kamu dari tangan musuh di sekelilingmu, sehingga kamu diam dengan tenteram”.
2Sam 11:21 - “Siapakah yang menewaskan Abimelekh bin Yerubeset? Bukankah seorang perempuan menimpakan batu kilangan kepadanya dari atas tembok, sehingga ia mati di Tebes? Mengapa kamu demikian dekat ke tembok itu? - maka haruslah engkau berkata: Juga hambamu Uria, orang Het itu, sudah mati.’”.
Tentang kata / nama / sebutan ‘Yerubeset’ ini Bible Works 7 memberi komentar sebagai berikut: “a variant name of Jerubbaal (the other name of Gideon) substituting the word ‘shame’ for the name of the pagan god ‘Baal’” [= suatu nama variasi dari Yerubaal (nama lain dari Gideon) menggantikan kata ‘sesuatu yang memalukan’ untuk nama dari dewa kafir ‘Baal’].
c. Nama Meribaal menjadi Mefiboset.
1Taw 8:34 - “Anak Yonatan ialah Meribaal dan Meribaal memperanakkan Mikha”.
Nama Meribaal muncul dalam 2 bentuk dalam 1Taw 9:40, yaitu Merib-baal dan Meri-baal.
1Taw 9:40 - “Anak Yonatan ialah Meribaal, dan Meribaal memperanakkan Mikha”.
Catatan: dalam bahasa Ibraninya dua kata ini berbeda. Yang pertama seharusnya adalah ‘Meribbaal’, dan yang kedua ‘Meribaal’.
Ada yang menduga bahwa nama orang ini yang semula adalah ‘Meri-baal’, yang artinya adalah ‘hero of Baal’ (= pahlawan dari Baal). Tetapi lalu diganti menjadi ‘Merib-baal’, yang artinya adalah ‘Baal contends’ (= Baal melawan / berjuang) atau ‘contender with Baal’ (= orang yang menghadapi / melawan Baal). Tetapi nama ini lalu diubah lagi menjadi Mefiboset (2Sam 4:4) - ‘The International Standard Bible Encyclopedia’, vol III, hal 324. Arti dari Mefiboset adalah ‘exterminator of shame / idol’ (= pembasmi hal yang memalukan / berhala) - ‘Unger’s Bible Dictionary’, hal 712.
2Sam 4:4 - “Yonatan, anak Saul, mempunyai seorang anak laki-laki, yang cacat kakinya. Ia berumur lima tahun, ketika datang kabar tentang Saul dan Yonatan dari Yizreel. Inang pengasuhnya mengangkat dia pada waktu itu, lalu lari, tetapi karena terburu-buru larinya, anak itu jatuh dan menjadi timpang. Ia bernama Mefiboset”.
Jamieson, Fausset & Brown (tentang 1Taw 8:34): “And the son of Jonathan was Merib-baal (contender against Baal) ... - popularly changed into Mephihosheth, the destroyer of shame, or, according to Gesenius, exterminator of idols” [= Dan anak laki-laki dari Yonatan adalah Merib-baal (penantang melawan / terhadap Baal) ... - secara populer diubah menjadi Mefiboset, ‘penghancur dari sesuatu yang memalukan’, atau, menurut Gesenius, ‘pembasmi berhala-berhala’].
d. Daud mempunyai anak yang bernama Beelyada, yang belakangan diubah menjadi Elyada.
1Taw 14:3-7 - “(3) Daud mengambil lagi beberapa isteri di Yerusalem, dan ia memperanakkan lagi anak-anak lelaki dan perempuan. (4) Inilah nama anak-anak yang lahir bagi dia di Yerusalem: Syamua, Sobab, Natan, Salomo, (5) Yibhar, Elisua, Elpelet, (6) Nogah, Nefeg, Yafia, (7) Elisama, Beelyada dan Elifelet”.
2Sam 5:14-16 - “(14) Inilah nama anak-anak yang lahir bagi dia di Yerusalem: Syamua, Sobab, Natan, Salomo, (15) Yibhar, Elisua, Nefeg, Yafia, (16) Elisama, Elyada dan Elifelet”.
‘The International Standard Bible Encyclopedia, vol I: “BEELIADA ... The name of a son of David born in Jerusalem (1Ch. 14:7), but changed to ELIADA in order to remove the element of ‘Baal’ from the name (2Sam. 5:16; 1Ch. 3:8)” [= BEELIADA ... Nama dari seorang anak Daud yang lahir di Yerusalem (1Taw 14:7), tetapi diganti menjadi ELYADA untuk membuang elemen ‘Baal’ dari nama itu (2Sam 5:16; 1Taw 3:8)] - hal 447.
Sekarang, apa perlunya membahas semua ini? Saya membahas semua ini karena sekarang ada ‘aliran’ atau kelompok yang disebut Yahweh-isme, yang selain mengharuskan pengembalian nama Yahweh, juga ingin membuang kata ‘Allah’. Alasan mereka adalah bahwa kata ‘Allah’ itu merupakan nama dari Tuhannya orang Islam, dan bahkan dulunya merupakan nama dewa. Apakah pembuangan kata ‘Baal’, atau perubahannya menjadi ‘boset’ dsb, bisa menjadi argumentasi yang sah untuk membuang penggunaan kata ‘Allah’ bagi orang Kristen? Menurut saya tidak! Mengapa? Karena ‘Allah’ bukan nama, tetapi berarti ‘the God’ (= sang Allah). Kelompok Yahweh-isme memang menyatakan bahwa ‘Allah’ adalah nama pribadi dari Tuhannya orang Islam, dan dulunya juga adalah nama pribadi dari dewa. Tetapi saya tidak mempercayai hal itu (kalau mau melihat penjelasan panjang lebar tentang hal itu baca buku saya tentang Yahweh-isme).
Bahwa kata ini juga digunakan oleh orang Islam, atau oleh penyembah berhala, tak menyebabkan kita tidak boleh menggunakan kata itu lagi, karena ini merupakan kata yang umum. Sama saja dengan kata Ibrani EL / ELOHIM atau kata Yunani THEOS, yang bisa digunakan untuk menunjuk baik kepada Allah yang benar maupun kepada berhala / dewa.
Bdk. Kis 17:23-24 - “(23) Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu. (24) Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia”.
Dalam ayat ini terlihat bahwa Paulus bertemu dengan orang-orang yang menyembah berhala, yang mezbahnya bertuliskan ‘Kepada Allah (THEOS) yang tidak dikenal’. Ia lalu berkata bahwa ‘Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu’. Lalu dalam ay 24nya ia tetap menyebutNya sebagai ‘Allah’ (Yunani: THEOS).
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali