(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Minggu, tgl 14 Februari 2010, pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
2Sam 1:1-16 - “(1) Setelah Saul mati, dan ketika Daud kembali sesudah memukul kalah orang Amalek dan tinggal dua hari di Ziklag, (2) maka datanglah pada hari ketiga seorang dari tentara, dari pihak Saul, dengan pakaian terkoyak-koyak dan tanah di atas kepala. Ketika ia sampai kepada Daud, sujudlah ia ke tanah dan menyembah. (3) Bertanyalah Daud kepadanya: ‘Dari manakah engkau?’ Jawabnya kepadanya: ‘Aku lolos dari tentara Israel.’ (4) Bertanyalah pula Daud kepadanya: ‘Apakah yang terjadi? Coba ceriterakan kepadaku.’ Jawabnya: ‘Rakyat telah melarikan diri dari pertempuran; bukan saja banyak dari rakyat yang gugur dan mati, tetapi Saul dan Yonatan, anaknya, juga sudah mati.’ (5) Lalu Daud berkata kepada orang muda yang membawa kabar kepadanya itu: ‘Bagaimana kauketahui, bahwa Saul dan Yonatan, anaknya, sudah mati?’ (6) Orang muda yang membawa kabar kepadanya itu berkata: ‘Kebetulan aku ada di pegunungan Gilboa; maka tampaklah Saul bertelekan pada tombaknya, sedang kereta-kereta dan orang-orang berkuda mengejarnya. (7) Ketika menoleh ke belakang, ia melihat aku, lalu memanggil aku; dan aku berkata: Ya tuanku. (8) Ia bertanya kepadaku: Siapakah engkau? Jawabku kepadanya: Aku seorang Amalek. (9) Lalu katanya kepadaku: Datanglah ke mari dan bunuhlah aku, sebab kekejangan telah menyerang aku, tetapi aku masih bernyawa. (10) Aku datang ke dekatnya dan membunuh dia, sebab aku tahu, ia tidak dapat hidup terus setelah jatuh. Aku mengambil jejamang yang ada di kepalanya, dan gelang yang ada pada lengannya, dan inilah dia kubawa kepada tuanku.’ (11) Lalu Daud memegang pakaiannya dan mengoyakkannya; dan semua orang yang bersama-sama dengan dia berbuat demikian juga. (12) Dan mereka meratap, menangis dan berpuasa sampai matahari terbenam karena Saul, karena Yonatan, anaknya, karena umat TUHAN dan karena kaum Israel, sebab mereka telah gugur oleh pedang. (13) Kemudian bertanyalah Daud kepada orang muda yang membawa kabar itu kepadanya: ‘Asalmu dari mana?’ Jawabnya: ‘Aku ini anak perantau, orang Amalek.’ (14) Kemudian berkatalah Daud kepadanya: ‘Bagaimana? Tidakkah engkau segan mengangkat tanganmu memusnahkan orang yang diurapi TUHAN?’ (15) Lalu Daud memanggil salah seorang dari anak buahnya dan berkata: ‘Ke mari, paranglah dia.’ Orang itu memarangnya, sehingga mati. (16) Dan Daud berkata kepadanya: ‘Kautanggung sendiri darahmu, sebab mulutmulah yang menjadi saksi menentang engkau, karena berkata: Aku telah membunuh orang yang diurapi TUHAN.’”.
3) Dalam Kitab Suci ada 3 versi cerita tentang kematian Saul.
a) 1Sam 31:3-6 - “(3) Kemudian makin beratlah pertempuran itu bagi Saul; para pemanah menjumpainya, dan melukainya dengan parah. (4) Lalu berkatalah Saul kepada pembawa senjatanya: ‘Hunuslah pedangmu dan tikamlah aku, supaya jangan datang orang-orang yang tidak bersunat ini menikam aku dan memperlakukan aku sebagai permainan.’ Tetapi pembawa senjatanya tidak mau, karena ia sangat segan. Kemudian Saul mengambil pedang itu dan menjatuhkan dirinya ke atasnya. (5) Ketika pembawa senjatanya melihat, bahwa Saul telah mati, iapun menjatuhkan dirinya ke atas pedangnya, lalu mati bersama-sama dengan Saul. (6) Jadi Saul, ketiga anaknya dan pembawa senjatanya, dan seluruh tentaranya sama-sama mati pada hari itu”. (cerita ini sama dengan cerita dalam 1Taw 10:3-6).
Cerita ini menunjukkan bahwa Saul mati dengan cara bunuh diri.
b) 1Taw 10:13-14 - “(13) Demikianlah Saul mati karena perbuatannya yang tidak setia terhadap TUHAN, oleh karena ia tidak berpegang pada firman TUHAN, dan juga karena ia telah meminta petunjuk dari arwah, (14) dan tidak meminta petunjuk TUHAN. Sebab itu TUHAN membunuh dia dan menyerahkan jabatan raja itu kepada Daud bin Isai”.
Cerita ini menunjukkan bahwa Saul mati karena Tuhan membunuh dia.
c) Cerita orang muda Amalek ini dalam ay 4-10 ini.
Ay 4-10: “(4) Bertanyalah pula Daud kepadanya: ‘Apakah yang terjadi? Coba ceriterakan kepadaku.’ Jawabnya: ‘Rakyat telah melarikan diri dari pertempuran; bukan saja banyak dari rakyat yang gugur dan mati, tetapi Saul dan Yonatan, anaknya, juga sudah mati.’ (5) Lalu Daud berkata kepada orang muda yang membawa kabar kepadanya itu: ‘Bagaimana kauketahui, bahwa Saul dan Yonatan, anaknya, sudah mati?’ (6) Orang muda yang membawa kabar kepadanya itu berkata: ‘Kebetulan aku ada di pegunungan Gilboa; maka tampaklah Saul bertelekan pada tombaknya, sedang kereta-kereta dan orang-orang berkuda mengejarnya. (7) Ketika menoleh ke belakang, ia melihat aku, lalu memanggil aku; dan aku berkata: Ya tuanku. (8) Ia bertanya kepadaku: Siapakah engkau? Jawabku kepadanya: Aku seorang Amalek. (9) Lalu katanya kepadaku: Datanglah ke mari dan bunuhlah aku, sebab kekejangan telah menyerang aku, tetapi aku masih bernyawa. (10) Aku datang ke dekatnya dan membunuh dia, sebab aku tahu, ia tidak dapat hidup terus setelah jatuh. Aku mengambil jejamang yang ada di kepalanya, dan gelang yang ada pada lengannya, dan inilah dia kubawa kepada tuanku.’”.
Cerita ini menyatakan bahwa Saul mati karena dibunuh oleh oleh Amalek ini atas permintaan Saul sendiri.
Bagaimana mengharmoniskannya? Sangat mudah untuk mengharmoniskan antara cerita a) dan cerita b).
Matthew Henry (tentang 1Taw 10:14): “Saul slew himself, and yet it is said, God slew him. What is done by wicked hands is yet done by the determinate counsel and foreknowledge of God” (= Saul membunuh dirinya sendiri, tetapi dikatakan, ‘Allah membunuh dia. Apa yang dilakukan oleh tangan-tangan jahat dilakukan oleh rencana dan pengetahuan lebih dulu yang tentu / pasti dari Allah).
Hal seperti ini memang sering dilakukan dalam Kitab Suci. Misalnya Yesus jelas dibunuh oleh orang-orang Romawi dan tokoh-tokoh Yahudi. Tetapi Ia sendiri mengatakan bahwa cawan yang harus Ia minum itu diberikan kepadaNya oleh Allah.
Yoh 18:11 - “Kata Yesus kepada Petrus: ‘Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepadaKu?’”.
Demikian juga Ayub, yang hartanya habis dirampok orang Kasdim dan Syeba, dan anak-anaknya semua mati karena angin ribut, mengatakan: ‘TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil’ (Ayub 1:21).
Tetapi bagaimana dengan cerita orang muda Amalek ini? Pulpit Commentary mengatakan (hal 3) bawa dari cerita tentang kematian Saul di sini, yang berbeda dengan yang ada dalam 1Sam 31, ada orang-orang yang menganggap bahwa Kitab Suci salah. Ini kesimpulan yang gegabah dan bodoh. Kita dengan mudah bisa mengatakan bahwa cerita yang di sini yang salah, bukan karena Kitab Sucinya salah, tetapi karena orang ini berdusta. Cerita kematian Saul di sini hanyalah karangan orang muda Amalek itu.
4) Orang muda Amalek ini mengarang cerita seperti ini pasti untuk mendapatkan keuntungan / uang.
Sebetulnya ia sudah mendapatkan gelang dan mahkota Saul, yang rasanya tidak mungkin bernilai rendah. Jadi, ia sudah mendapatkan keuntungan dari ‘jarahan’ itu, tetapi rupanya ia menginginkan keuntungan yang lebih besar lagi, dan karena itu ia bersikap munafik, mengarang cerita dusta, demi mendapatkan keuntungan yang lebih besar itu. Dari sini kita lagi-lagi melihat bahwa banyak orang, demi uang / keuntungan, rela melakukan apa saja!
Bdk. 1Tim 6:6-10 - “(6) Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. (7) Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. (8) Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. (9) Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. (10) Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka”.
Penerapan:
a) Dalam kalangan gereja-gereja tertentu sikap mata duitan ini diwujudkan dengan cara terus menerus menekankan persembahan persepuluhan, dan menjanjikan berkat-berkat jasmani / uang (yang sebetulnya merupakan dusta) bagi yang mau melakukannya.
b) Dalam gereja-gereja lain, ini diwujudkan dengan menjual ‘Firman Tuhan’ dengan sangat mahal, misalnya:
1. Pada waktu mengadakan seminar / acara rohani, selalu pakai tiket masuk yang mahal. Kalau mereka harus menyewa gedung, itu masih bisa diterima, tetapi tarif tetap tak boleh terlalu tinggi. Tetapi kalau tidak ada penyewaan gedung, dan yang dipakai adalah gereja sendiri, maka penerapan tarif, apalagi yang mahal, merupakan suatu sikap mata duitan!
2. Pada waktu menjual buku, VCD khotbah dsb, selalu menjual dengan harga jauh di atas normal.
Bandingkan dengan text ini:
Mat 10:5-8 - “(5) Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: ‘Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, (6) melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. (7) Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. (8) Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma”.
5) Penjelasan tentang detail-detail tertentu dari cerita orang muda Amalek ini.
a) Ay 9: “Lalu katanya kepadaku: Datanglah ke mari dan bunuhlah aku, sebab kekejangan telah menyerang aku, tetapi aku masih bernyawa”.
KJV/RSV: ‘anguish’ (= penderitaan).
NIV: ‘I am in the throes of death’ (= aku ada dalam penderitaan / pergumulan kematian).
NASB: ‘for agony has seized me’ (= karena penderitaan / kesakitan yang hebat telah menangkap / mencengkeram aku).
Barnes’ Notes: “‘Anguish.’ The Hebrew word used here occurs nowhere else, and is of doubtful meaning ... The rabbis interpret it as a cramp or giddiness” (= ‘Kesedihan / penderitaan’. Kata Ibraninya tidak digunakan di tempat lain manapun juga, dan artinya diragukan ... Para rabi menafsirkannya sebagai suatu kekejangan atau perasaan pusing / mabuk).
Bible Works 7 memberikan arti ‘cramp’ (= kekejangan), ‘agony’ (= penderitaan yang hebat / kesakitan), ‘anguish’ (= kesedihan / penderitaan), tetapi menambahkan bahwa artinya memang meragukan.
b) Ay 10: “Aku datang ke dekatnya dan membunuh dia, sebab aku tahu, ia tidak dapat hidup terus setelah jatuh. Aku mengambil jejamang yang ada di kepalanya, dan gelang yang ada pada lengannya, dan inilah dia kubawa kepada tuanku.’”.
Kata ‘jejamang’ dalam KJV/RSV/NIV/NASB adalah ‘the crown’ (= mahkota).
Matthew Henry: “It should seem Saul was so foolishly fond of these as to wear them in the field of battle, which made him a fair mark for the archers, by distinguishing him from those about him; but as pride (we say) feels no cold, so it fears no danger, from that which gratifies it” [= Kelihatannya Saul begitu menyenangi secara bodoh benda-benda ini sehingga memakainya dalam pertempuran, yang membuat dia menjadi sasaran yang baik bagi pemanah-pemanah, dengan membedakannya dari orang-orang lain di sekitarnya; tetapi karena kesombongan (kami katakan) tidak merasa takut, maka kesombongan tidak takut bahaya, dari hal-hal yang memuaskannya].
Penerapan: di tempat rawanpun banyak orang memakai perhiasan yang mahal dan menyolok. Ini tidak berbeda dengan kesombongan Saul yang ‘tidak takut bahaya’ ini!
Matthew Henry: “David had been long waiting for the crown, and now it was brought to him by an Amalekite. See how God can serve his own purposes of kindness to his people, even by designing (ill-designing) men, who aim at nothing but to set up themselves” [= Daud telah lama menunggu untuk mahkota itu, dan sekarang mahkota itu dibawa kepadanya oleh seorang Amalek. Lihatlah bagaimana Allah bisa menjalankan rencana-rencana kebaikanNya kepada umatNya, bahkan oleh orang-orang yang merancang (merancang hal yang buruk / jahat), yang tidak mempunyai tujuan apapun selain meninggikan diri mereka sendiri].
Adam Clarke: “Dr. Delaney remarks that an Amalekite took that crown from off the head of Saul, which he had forfeited by his disobedience in the case of Amalek” (= Dr. Delaney berkata bahwa seorang Amalek mengambil mahkota itu dari kepala Saul, yang hilang darinya / yang ia korbankan oleh ketidak-taatannya dalam kasus orang Amalek).
Catatan: bandingkan dengan 1Sam 15:20-23 - “(20) Lalu kata Saul kepada Samuel: ‘Aku memang mendengarkan suara TUHAN dan mengikuti jalan yang telah disuruh TUHAN kepadaku dan aku membawa Agag, raja orang Amalek, tetapi orang Amalek itu sendiri telah kutumpas. (21) Tetapi rakyat mengambil dari jarahan itu kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas itu, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu, di Gilgal.’ (22) Tetapi jawab Samuel: ‘Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. (23) Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja.’”.
III) Reaksi Daud terhadap cerita / laporan orang muda Amalek ini.
1) Daud bukannya bersukacita atau senang mendengar kabar kematian Saul itu, tetapi sebaliknya menangis dan berkabung.
Ay 11-12: “(11) Lalu Daud memegang pakaiannya dan mengoyakkannya; dan semua orang yang bersama-sama dengan dia berbuat demikian juga. (12) Dan mereka meratap, menangis dan berpuasa sampai matahari terbenam karena Saul, karena Yonatan, anaknya, karena umat TUHAN dan karena kaum Israel, sebab mereka telah gugur oleh pedang”.
Barnes’ Notes: “David’s thoroughly patriotic and unselfish character is strongly marked here. He looked upon the death of Saul, and the defeat of Israel by a pagan foe, with unmixed sorrow, though it opened to him the way to the throne, and removed his mortal enemy out of the way” (= Karakter Daud yang sepenuhnya bersifat patriot dan tidak egois ditandai / diperhatikan secara kuat di sini. Ia memandang kematian Saul, dan kekalahan Israel oleh musuh kafir, dengan kesedihan yang murni / tak bercampur, sekalipun hal itu membukakan jalan baginya pada mahkota, dan menyingkirkan musuh besarnya).
Amsal 17:5b - “siapa gembira karena suatu kecelakaan tidak akan luput dari hukuman”.
Amsal 24:17-18 - “(17) Jangan bersukacita kalau musuhmu jatuh, jangan hatimu beria-ria kalau ia terperosok, (18) supaya TUHAN tidak melihatnya dan menganggapnya jahat, lalu memalingkan murkanya dari pada orang itu”.
Pulpit Commentary: “David desired not elevation for the sake of personal gratification; nor did he desire disaster for Saul that a great obstacle to his own advance might be put aside. Men consecrated to God are open to the subtle temptation of desiring events to move on so as to promote their own personal ease at the cost of much that is sacred” (= Daud tidak menginginkan peninggian demi pemuasan pribadi; ataupun menginginkan bencana bagi Saul supaya halangan yang besar bagi kemajuannya bisa disingkirkan. Orang-orang yang membaktikan diri kepada Allah terbuka bagi pencobaan yang halus / tak kentara dengan menginginkan peristiwa-peristiwa berjalan terus sehingga memajukan kesenangan / ketenteraman pribadi mereka sendiri dengan mengorbankan banyak hal-hal yang keramat).
Penerapan: kalau ada sebuah gereja / pendeta yang baik hancur, dan jemaatnya lalu pindah ke gereja saudara, apakah saudara senang?
Calvin: “David’s weeping was not in the least insincere. For he considered not only the evil side of Saul - his desperate rage, driving him to murder the innocent - but he also recognised that he was king, elected and chosen by God as head of the people, and placed in the seat that God had consecrated. Thus, he could not hate evil in him without at the same time honouring the favours God had bestowed on him. ... David certainly knew that Saul was a desperate man. Nonetheless, God had chosen him to reign over his people, and had anointed his for that purpose. What is more, David knew that he would offend the Lord, and would commit a sacrilege if he ignored this grace which God had put in Saul. That is why he mourned over his death” [= Tangisan Daud sama sekali bukannya tidak tulus. Karena ia mempertimbangkan bukan hanya sisi jahat dari Saul - kemarahannya yang nekat / putus asa, yang mendorongnya untuk membunuh orang-orang yang tidak bersalah - tetapi ia juga mengenali bahwa ia adalah raja, dipilih oleh Allah sebagai kepala / pemimpin dari bangsa itu, dan ditempatkan di kedudukan yang dikuduskan oleh Allah. Karena itu, ia tidak bisa membenci kejahatan dalam dia tanpa pada saat yang sama menghormati kebaikan-kebaikan yang telah Allah berikan kepadanya. ... Daud pasti tahu bahwa Saul adalah orang yang putus asa. Tetapi bagaimanapun, Allah telah memilih dia untuk memerintah atas bangsanya, dan telah mengurapinya untuk tujuan itu. Lebih lagi, Daud tahu bahwa ia akan menyakiti Tuhan, dan melakukan pelanggaran terhadap hal-hal keramat, jika ia mengabaikan kasih karunia yang telah Allah letakkan dalam diri Saul ini. Itu sebabnya ia berkabung atas kematiannya] - ‘Sermons on Second Samuel’, hal 6.
Calvin: “However, when the Lord execute his judgments on our enemies, we do have occasion to think of ourselves. On the one hand, we can rejoice insofar as he demonstrates how he cares for our safety by punishing those who are against us, and who mock us. Yet he does not want us to be so presumptuous in our rejoicing that we fail to consider our own sins, and thus displease him. Thus on the other hand, when those of us whom God has spared consider the matter more carefully, we ought also to tremble before his majesty, knowing that we, too, are as deserving of punishment and grief as those whom he punishes” [= Tetapi, pada waktu Tuhan melaksanakan penghukumanNya kepada musuh-musuh kita, kita memang punya kesempatan untuk berpikir tentang diri kita sendiri. Di satu sisi, kita bisa bersukacita sejauh Ia menunjukkan bagaimana Ia memperhatikan / mempedulikan keamanan / keselamatan kita dengan menghukum mereka yang menentang kita, dan mengejek kita. Tetapi Ia tidak mau kita menjadi begitu congkak dalam sukacita kita sehingga kita gagal untuk mempertimbangkan dosa-dosa kita sendiri, dan dengan demikian tidak menyenangkan Dia. Maka pada sisi lain, pada waktu kita yang telah Allah lindungi mempertimbangkan persoalan ini dengan lebih hati-hati / seksama, kita juga harus gemetar di hadapan keagunganNya, karena kita mengetahui bahwa kitapun layak mendapatkan hukuman dan kesedihan sama seperti mereka yang Ia hukum] - ‘Sermons on Second Samuel’, hal 7.
Matthew Henry: “By this it appears that those passages in David’s psalms which express his desire of, and triumph in, the ruin of his enemies, proceeded not from a spirit of revenge, nor any irregular passion, but from a holy zeal for the glory of God and the public good; for by what he did here, when he heard of Saul’s death, we may perceive that his natural temper was very tender, and that he was kindly affected even to those that hated him” (= Dari sini terlihat bahwa text-text dalam mazmur-mazmur Daud yang menyatakan keinginannya tentang, dan kemenangannya dalam, kehancuran dari musuh-musuhnya, keluar bukan dari roh balas dendam, ataupun nafsu yang luar biasa apapun, tetapi dari semangat yang kudus untuk kemuliaan Allah dan kebaikan umum; karena oleh apa yang ia lakukan di sini, pada waktu ia mendengar tentang kematian Saul, kita bisa merasa / mengerti bahwa sifat / watak alamiahnya adalah sangat lembut, dan ia dengan mudah dipengaruhi secara baik bahkan oleh mereka yang membencinya).
Catatan: sebagai contoh adalah Maz 54 dan Maz 59 dimana Daud berdoa untuk kehancuran musuh-musuhnya, dan dalam kedua pasal ini, yang dimaksudkan sebagai musuh adalah Saul.
Maz 54:7 - “Biarlah kejahatan itu berbalik kepada seteru-seteruku; binasakanlah mereka karena kesetiaanMu!”.
Maz 59:6,14 - “(6) Engkau, TUHAN, Allah semesta alam, adalah Allah Israel. Bangunlah untuk menghukum segala bangsa; janganlah mengasihani mereka yang melakukan kejahatan dengan berkhianat! Sela ... (14) habisilah mereka dalam geram, habisilah, sehingga mereka tidak ada lagi, supaya mereka sadar bahwa Allah memerintah di antara keturunan Yakub, sampai ke ujung bumi. Sela”.
2) Daud menghukum orang Amalek itu dengan hukuman mati.
Ay 13-16: “(13) Kemudian bertanyalah Daud kepada orang muda yang membawa kabar itu kepadanya: ‘Asalmu dari mana?’ Jawabnya: ‘Aku ini anak perantau, orang Amalek.’ (14) Kemudian berkatalah Daud kepadanya: ‘Bagaimana? Tidakkah engkau segan mengangkat tanganmu memusnahkan orang yang diurapi TUHAN?’ (15) Lalu Daud memanggil salah seorang dari anak buahnya dan berkata: ‘Ke mari, paranglah dia.’ Orang itu memarangnya, sehingga mati. (16) Dan Daud berkata kepadanya: ‘Kautanggung sendiri darahmu, sebab mulutmulah yang menjadi saksi menentang engkau, karena berkata: Aku telah membunuh orang yang diurapi TUHAN.’”.
Ada beberapa hal yang perlu dibahas tentang hal ini:
a) Hukuman mati memang harus dipertahankan, karena sesuai dengan Kitab Suci, bahkan dalam Perjanjian Baru (Kis 25:11 Ro 13:4).
Kis 25:11 - “Jadi, jika aku benar-benar bersalah dan berbuat sesuatu kejahatan yang setimpal dengan hukuman mati, aku rela mati, tetapi, jika apa yang mereka tuduhkan itu terhadap aku ternyata tidak benar, tidak ada seorangpun yang berhak menyerahkan aku sebagai suatu anugerah kepada mereka. Aku naik banding kepada Kaisar!’”.
Ro 13:4 - “Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat”.
Pulpit Commentary: “Severity to one is mercy to many” (= Kekerasan terhadap satu orang merupakan belas kasihan terhadap banyak orang) - hal 25.
b) Layakkah orang Amalek itu dihukum mati?
1. Kata-kata dari ay 16 menunjukkan bahwa Daud mungkin merasa bahwa kata-kata orang Amalek itu merupakan dusta. Kalau kata-katanya dusta, ia bersalah dengan mendustai Daud. Dan sebagai tambahan, ia adalah orang Amalek, yang memang harus ditumpas, karena Tuhan memerintahkan demikian.
1Sam 15:2-3 - “(2) Beginilah firman TUHAN semesta alam: Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir. (3) Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai.’”.
Bandingkan dengan:
· Ayub 5:13 - “Ia menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya sendiri, sehingga rancangan orang yang belat-belit digagalkan”.
· Maz 9:17 - “TUHAN telah memperkenalkan diriNya, Ia menjalankan penghakiman; orang fasik terjerat dalam perbuatan tangannya sendiri. Higayon. Sela”.
Salah satu hal yang sangat bagus dari Daud di sini adalah bahwa ia tidak menyenangi orang yang munafik, atau ‘orang yang menjilat pantatnya’, dengan cara menceritakan cerita yang ia kira akan menyenangkan Daud, padahal cerita itu tidak benar.
Penerapan: banyak pejabat yang senang bawahannya menjilat pantatnya. Demikian juga banyak boss senang kalau para pegawainya menjilat pantat mereka. Tetapi betul-betul sangat menyedihkan dan memalukan kalau ada pendeta-pendeta / hamba-hamba Tuhan yang senang kepada bawahannya yang menjilat pantatnya!
2. Kalau katanya benar, maka orang itu telah membunuh raja yang diurapi Tuhan, dan ia layak dihukum mati untuk itu.
Calvin: “David showed that since Saul was the anointed of the Lord, it was not legitimate to attempt anything against him until his hour should come, as we have stated above. Now it is true that today there is no physical anointing, because the custom of applying oil to ordain kings, princes, and those who wish to ape them is no longer in practice. But, nevertheless, ‘all power’, as St. Paul shows us, ‘is of God’ (Rom. 13:1). There is no principality in the world which is not ordained by him. No matter how much those who reign are enemies of the truth, no matter how tyrannical and cruel they are, an individual does not have the right to punish them. Why not? Because God is the one who has to take his sword in his hand. Let us understand, then, from this never to touch the authority that God has established and sanctioned in his name. Rather, let us patiently endure the shame, injuries, cruelties, and extortions of those who rule, until God has remedied the matter in a way that is unknown to us. Let us realise that it is his business to uphold those who are unjustly oppressed” [= Daud menunjukkan bahwa karena Saul adalah orang yang diurapi Tuhan, merupakan sesuatu yang tidak sah untuk berusaha melakukan apapun terhadap / menentang dia sampai saat kematiannya tiba, seperti sudah kita nyatakan di atas. Memang benar bahwa pada jaman sekarang tidak ada pengurapan secara fisik, karena tradisi / kebiasaan menggunakan minyak untuk mentahbiskan raja-raja, pangeran-pangeran, dan mereka yang ingin menirunya tidak lagi dipraktekkan. Tetapi bagaimanapun ‘semua kuasa / pemerintah’, seperti ditunjukkan oleh Santo Paulus, ‘adalah dari Allah’ (Ro 13:1). Tidak ada kerajaan dalam dunia yang tidak ditahbiskan olehNya. Tak peduli bagaimanapun mereka yang memerintah merupakan musuh-musuh dari kebenaran, tak peduli betapa mereka itu bersifat tiran dan kejam, seorang individu tidak mempunyai hak untuk menghukum mereka. Mengapa tidak? Karena Allah adalah satu-satunya yang memegang pedang di tanganNya. Karena itu hendaklah kita mengerti dari hal ini itu tidak pernah menyentuh otoritas yang Allah telah tegakkan dan setujui / dukung dalam namaNya. Sebaliknya, hendaklah kita menahan dengan sabar rasa malu, penderitaan, kekejaman, dan pemerasan dari mereka yang memerintah, sampai Allah telah memperbaiki / menolong persoalan ini dengan suatu cara yang tidak kita ketahui. Hendaklah kita menyadari bahwa adalah urusanNya untuk menegakkan mereka yang ditindas secara tidak adil] - ‘Sermons on Second Samuel’, hal 14-15.
Ro 13:1 - “Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah”.
Catatan: kelihatannya Calvin menekankan hal ini secara mutlak. Tetapi ada penafsir-penafsir lain yang dalam hal-hal tertentu yang sangat khusus, masih membuka peluang bagi orang percaya, untuk memberontak terhadap pemerintah, kalau pemerintah sudah bertindak keterlaluan.
Pulpit Commentary: “He was still Jehovah’s anointed, whatever his conduct might have been; and we have found David on previous occasions actuated by the same generous respect for duty when clearly it was contrary to his own interests” (= Ia tetap adalah orang yang diurapi Yehovah, apapun tingkah lakunya; dan kita telah mendapati Daud dalam peristiwa-peristiwa sebelumnya digerakkan oleh rasa hormat yang murah hati yang sama terhadap kewajiban pada waktu itu secara jelas bertentangan dengan kepentingan-kepentingannya sendiri) - hal 4.
Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:
· 2Sam 4:10 - “Ketika ada orang yang membawa kabar kepadaku demikian: Saul sudah mati! dan memandang dirinya sebagai orang yang menyampaikan kabar baik, maka aku menangkap dan membunuh dia di Ziklag, dan dengan demikian aku memberikan kepadanya upah kabarnya”.
· 1Sam 26:9 - “Tetapi kata Daud kepada Abisai: ‘Jangan musnahkan dia, sebab siapakah yang dapat menjamah orang yang diurapi TUHAN, dan bebas dari hukuman?’”.
· 1Taw 16:22 - “‘Jangan mengusik orang-orang yang Kuurapi, dan jangan berbuat jahat terhadap nabi-nabiKu!’”.
· Maz 105:15 - “‘Jangan mengusik orang-orang yang Kuurapi, dan jangan berbuat jahat kepada nabi-nabiKu!’”.
Apa yang hebat dari Daud di sini, pada waktu ia memberikan hukuman mati terhadap orang Amalek yang mengaku telah membunuh Saul, adalah bahwa ia menilai baik atau jahat, benar atau salah, betul-betul secara obyektif. Tak peduli tindakan orang itu menguntungkan Daud, tetapi tindakannya memang salah, maka Daud menilainya sebagai salah, dan menjatuhkan hukuman mati! Biasanya kita tidak demikian. Tindakan orang yang menguntungkan kita selalu kita bela, dan sebaliknya. Yang benar adalah: kita memutuskan sesuatu bukan berdasarkan untung atau rugi, tetapi berdasarkan benar atau salah!
-AMIN-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali