kebaktian online

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Minggu, tgl 9 Juni 2024, pk 09.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

II Samuel 10:1-19(3)

 

Tindakan / Sikap Daud terhadap hanuN

 

2Sam 10:1-19 - “(1) Sesudah itu matilah raja bani Amon; dan Hanun, anaknya, menjadi raja menggantikan dia. (2) Lalu berkatalah Daud: ‘Aku akan menunjukkan persahabatan kepada Hanun bin Nahas, sama seperti ayahnya telah menunjukkan persahabatan kepadaku.’ Sebab itu Daud menyuruh menyampaikan pesan turut berdukacita kepadanya dengan perantaraan pegawai-pegawainya karena kematian ayahnya. Tetapi ketika pegawai-pegawai Daud sampai ke negeri bani Amon itu, (3) berkatalah pemuka-pemuka bani Amon itu kepada Hanun, tuan mereka: ‘Apakah menurut anggapanmu Daud hendak menghormati ayahmu, karena ia telah mengutus kepadamu orang-orang yang menyampaikan pesan turut berdukacita? Bukankah dengan maksud untuk menyelidik kota ini, untuk mengintainya dan menghancurkannya maka Daud mengutus pegawai-pegawainya itu kepadamu?’ (4) Lalu Hanun menyuruh menangkap pegawai-pegawai Daud itu, disuruhnya mencukur setengah dari janggut mereka dan memotong pakaian mereka pada bagian tengah sampai pantat mereka, kemudian dilepasnya mereka. (5) Hal ini diberitahukan kepada Daud, lalu disuruhnya orang menemui mereka, sebab orang-orang itu sangat dipermalukan. Raja berkata: ‘Tinggallah di Yerikho sampai janggutmu itu tumbuh, kemudian datanglah kembali.’ (6) Setelah dilihat bani Amon, bahwa mereka dibenci Daud, maka bani Amon itu menyuruh orang menyewa dari orang Aram-Bet-Rehob dan orang Aram dari Zoba dua puluh ribu orang pasukan berjalan kaki, dari raja negeri Maakha seribu orang dan dari orang-orang Tob dua belas ribu orang. (7) Ketika Daud mendengar hal itu, disuruhnyalah Yoab maju dengan segenap pasukan pahlawan. (8) Lalu bani Amon maju, diaturnya barisan perangnya di depan pintu gerbang, sedang orang Aram dari Zoba dan dari Rehob dan orang-orang Tob dan Maakha ada tersendiri di padang. (9) Ketika Yoab melihat, bahwa serangan itu mengancam dia dari depan dan dari belakang, maka dipilihnyalah sebagian dari orang pilihan Israel, lalu ia mengatur barisan mereka berhadapan dengan orang Aram itu. (10) Selebihnya dari rakyat itu ditempatkannya di bawah pimpinan Abisai, adiknya, yang mengatur barisan mereka berhadapan dengan bani Amon itu. (11) Lalu berkatalah Yoab: ‘Jika orang Aram itu lebih kuat dari padaku, maka haruslah engkau menolong aku, tetapi jika bani Amon itu lebih kuat dari padamu, maka aku akan datang menolong engkau. (12) Kuatkanlah hatimu dan marilah kita menguatkan hati untuk bangsa kita dan untuk kota-kota Allah kita. TUHAN kiranya melakukan yang baik di mataNya.’ (13) Lalu Yoab dan tentara yang bersama-sama dengan dia maju berperang melawan orang Aram dan orang-orang itu melarikan diri dari hadapannya. (14) Ketika bani Amon melihat, bahwa orang Aram sudah melarikan diri, maka merekapun larilah dari hadapan Abisai dan masuk ke dalam kota. Sesudah itu pulanglah Yoab setelah memerangi bani Amon dan sampailah ia ke Yerusalem. (15) Ketika orang Aram melihat, bahwa mereka telah terpukul kalah oleh orang Israel, maka berkumpullah mereka bersama-sama. (16) Juga Hadadezer menyuruh orang Aram yang di seberang sungai Efrat maju berperang; mereka sampai ke Helam di bawah pimpinan Sobakh, panglima tentara Hadadezer. (17) Setelah hal itu diberitahukan kepada Daud, maka dikumpulkannya seluruh orang Israel, diseberanginya sungai Yordan, lalu sampai ke Helam. Orang Aram mengatur barisannya berhadapan dengan Daud dan bertempur melawan dia, (18) tetapi orang Aram itu lari dari hadapan orang Israel, dan Daud membunuh dari orang Aram itu tujuh ratus ekor kuda kereta dan empat puluh ribu orang pasukan berkuda. Sobakh, panglima tentara mereka, dilukainya sedemikian, hingga ia mati di sana. (19) Ketika dilihat semua raja, yang takluk kepada Hadadezer, bahwa mereka telah terpukul kalah oleh orang Israel, maka mereka mengadakan perdamaian dengan orang Israel dan takluk kepada mereka; sesudah itu takutlah orang Aram memberi pertolongan lagi kepada bani Amon.”.

 

4) Tindakan / sikap Daud ketika mengetahui hal itu (ay 5).

 

Ay 5: “Hal ini diberitahukan kepada Daud, lalu disuruhnya orang menemui mereka, sebab orang-orang itu sangat dipermalukan. Raja berkata: ‘Tinggallah di Yerikho sampai janggutmu itu tumbuh, kemudian datanglah kembali.’”.

 

Adam Clarke: “‘Tarry at Jericho.’ This city had not been rebuilt since the time of Joshua; but there were, no doubt, many cottages still remaining, and larger dwellings also, but the walls had not been repaired. Since it must have been comparatively a private place, it was proper for these men to tarry in, as they would not be exposed to public notice.” [= ‘Tinggallah sementara di Yerikho’. Kota ini belum dibangun kembali sejak zaman Yosua; tetapi tak diragukan bahwa di sana masih ada banyak pondok yang tersisa, serta tempat tinggal yang lebih besar juga, tetapi temboknya belum diperbaiki. Karena kota ini relatif merupakan tempat yang pribadi, maka pantas bagi para lelaki ini untuk tinggal sementara di sana, karena mereka tidak akan terpapar perhatian publik.].

 

Yos 6:26 - “Pada waktu itu bersumpahlah Yosua, katanya: ‘Terkutuklah di hadapan TUHAN orang yang bangkit untuk membangun kembali kota Yerikho ini; dengan membayarkan nyawa anaknya yang sulung ia akan meletakkan dasar kota itu dan dengan membayarkan nyawa anaknya yang bungsu ia akan memasang pintu gerbangnya!’”.

 

Baru dibangun kembali dalam jaman raja Ahab.

1Raja 16:34 - “Pada zamannya itu Hiel, orang Betel, membangun kembali Yerikho. Dengan membayarkan nyawa Abiram, anaknya yang sulung, ia meletakkan dasar kota itu, dan dengan membayarkan nyawa Segub, anaknya yang bungsu, ia memasang pintu gerbangnya, sesuai dengan firman TUHAN yang diucapkanNya dengan perantaraan Yosua bin Nun.”.

 

5) Hanun menyewa tentara bayaran (ay 6).

 

Ay 6: “Setelah dilihat bani Amon, bahwa mereka dibenci Daud, maka bani Amon itu menyuruh orang menyewa dari orang Aram-Bet-Rehob dan orang Aram dari Zoba dua puluh ribu orang pasukan berjalan kaki, dari raja negeri Maakha seribu orang dan dari orang-orang Tob dua belas ribu orang.”.

KJV: they stank before David [= mereka menyebabkan kemarahan Daud].

RSV/NASB: they had become odious to David [= mereka telah menimbulkan kebencian Daud].

NIV: they had become a stench in David’s nostrils [= mereka telah menyebabkan kemarahan Daud].

 

Calvin: “Thus, we see that the Ammonites, after such excess, recognised their fault - not in order to be displeased with it, but rather in order to make it worse.” [= Jadi, kita melihat bahwa orang Amon, setelah tindakan kelewat batas seperti itu, menyadari kesalahan mereka - bukan supaya menjadi tidak senang dengan itu, tetapi malah supaya membuatnya menjadi lebih buruk.] - ‘Sermons on 2Samuel’, hal 453.

 

Calvin: “The Amonnites, however, instead of appeasing David, thought that they must play double or quit! ... So it is with all the wicked whom God clearly forces (as I have said) to feel their evil. Yet he does not give them the grace of arriving at the remedy. ... So it is with those who undoubtedly have some remorse, but nevertheless remain obstinate in their evil ways. For they will not cease to add evil to evil until they are totally destroyed.” [= Orang Amon, bagaimanapun, alih-alih meredakan kemarahan Daud, berpikir bahwa mereka harus bermain ganda atau berhenti! ... Demikianlah dengan semua orang jahat yang jelas-jelas dipaksa oleh Allah (seperti yang telah saya katakan) untuk merasakan kejahatan mereka. Namun, Dia tidak memberikan mereka kasih karunia untuk mencapai obatnya. ... Begitu juga dengan mereka yang tak diragukan memiliki penyesalan, tetapi tetap keras kepala dalam jalan mereka yang jahat. Karena mereka tidak akan berhenti menambah kejahatan kepada kejahatan sampai mereka dihancurkan secara total.] - ‘Sermons on 2Samuel’, hal 455.

Catatan: ‘double or quit’ artinya: orang yang sudah menang dalam berjudi, lalu mempertaruhkan semua kemenangannya sehingga atau ia mendapatkan kemenangan ganda atau ia berhenti main - https://www.merriam-webster.com/dictionary/double%20or%20quits

 

Pulpit Commentary: “From 1 Chron. 19:6 we learn that his mercenaries from Aram cost Hanun a thousand talents of silver, or nearly five hundred thousand pounds - a vast sum, especially considering the great relative value of silver in those days.” [= Dari 1Taw 19:6, kita belajar bahwa pasukan bayaran dari Aram itu membuat Hanun kehilangan seribu talenta perak, atau hampir lima ratus ribu pounds - jumlah yang sangat besar, terutama mengingat nilai relatif besar perak pada masa itu.].

 

Ay 6: “Setelah dilihat bani Amon, bahwa mereka dibenci Daud, maka bani Amon itu menyuruh orang menyewa dari orang Aram-Bet-Rehob dan orang Aram dari Zoba dua puluh ribu orang pasukan berjalan kaki, dari raja negeri Maakha seribu orang dan dari orang-orang Tob dua belas ribu orang.”.

 

1Taw 19:6-7 - “(6) Setelah dilihat bani Amon, bahwa mereka telah membuat dirinya dibenci oleh Daud, maka Hanun dan bani Amon itu mengirim seribu talenta perak untuk menyewa kereta dan orang-orang berkuda dari Aram-Mesopotamia, dari Aram-Maakha dan dari Aram-Zoba. (7) Mereka menyewa tiga puluh dua ribu kereta, serta raja negeri Maakha dengan tentaranya, yang datang berkemah dekat Medeba. Juga bani Amon itu berkumpul dari kota-kota mereka dan datang untuk berperang..

 

Pulpit Commentary: “The whole number of the allies was thirty-three thousand, with which total the parallel place agrees, as they are described there as ‘thirty-two thousand, and the King of Maacah and his people,’ who are here said to have been a thousand strong. The text, however, there must be corrupt, as it describes them all as horsemen (Authorized Version, ‘chariots;’ 1 Chron. 19:7); here footmen only are mentioned, with which the narrative agrees (see note on ver. 18). [= Jumlah keseluruhan dari sekutu adalah tiga puluh tiga ribu, dan jumlah tersebut sesuai dengan bagian paralelnya, karena mereka digambarkan sebagai ‘tiga puluh dua ribu, dan Raja Maakha dan rakyatnya,’ yang di sini dikatakan seribu orang yang kuat (?). Namun, teks di sana pasti mengandung kesalahan, karena menggambarkan mereka semua sebagai penunggang kuda (Versi Authorized Version / KJV, ‘kereta perang;’ 1Taw 19:7); di sini hanya disebutkan pasukan infanteri / berjalan kaki, yang sesuai dengan narasi (lihat catatan pada ayat 18).] - hal 232.

 

2Sam 10:18 - “tetapi orang Aram itu lari dari hadapan orang Israel, dan Daud membunuh dari orang Aram itu tujuh ratus ekor kuda kereta dan empat puluh ribu orang pasukan berkuda. Sobakh, panglima tentara mereka, dilukainya sedemikian, hingga ia mati di sana.”.

 

Barnes’ Notes (tentang 1Taw 19:7): ‘They hired thirty and two thousand chariots.’ The reading is corrupt. Such a number as 32,000 chariots alone was never brought into battle on any occasion. Compare the numbers in Ex 14:7; 1 Kings 10:26; 2 Chron 12:3. The largest force which an Assyrian king ever speaks of encountering is 3,940. The words ‘and horsemen’ have probably fallen out of the text after the word ‘chariots’ (compare 1 Chron 19:6). The 32,000 would be the number of the warriors serving on horseback or in chariots; and this number would agree closely with 2 Sam 10:6, [= ‘Mereka menyewa tiga puluh dua ribu kereta’. Pembacaannya mengandung kesalahan. Jumlah sebesar 32.000 kereta saja tidak pernah dibawa ke medan perang dalam kejadian / peristiwa manapun. Bandingkan angka-angka dalam Kel 14:7; 1Raja 10:26; 2Taw 12:3. Pasukan terbesar yang pernah dihadapi oleh raja Asyur adalah 3.940. Kata-kata ‘dan para penunggang kuda’ rupanya telah terhapus dari teks setelah kata ‘kereta’ (bandingkan 1Taw 19:6). Angka 32.000 kemungkinan adalah jumlah prajurit yang melayani di atas kuda atau di dalam kereta; dan angka ini cocok dengan 2Sam 10:6.].

 

Kel 14:7 - Ia membawa enam ratus kereta yang terpilih, ya, segala kereta Mesir, masing-masing lengkap dengan perwiranya..

 

1Raja 10:26 - Salomo mengumpulkan juga kereta dan orang berkuda, sehingga ia mempunyai seribu empat ratus kereta dan dua belas ribu orang berkuda, yang semuanya ditempatkan dalam kota-kota kereta dan dekat raja di Yerusalem..

 

2Taw 12:3 - dengan seribu dua ratus kereta dan enam puluh ribu orang berkuda, sedang rakyat yang mengikutinya dari Mesir, yakni orang Libia, orang Suki dan orang Etiopia, tidak terhitung banyaknya..

 

6) Perang terjadi.

 

Ay 7-9: “(7) Ketika Daud mendengar hal itu, disuruhnyalah Yoab maju dengan segenap pasukan pahlawan. (8) Lalu bani Amon maju, diaturnya barisan perangnya di depan pintu gerbang, sedang orang Aram dari Zoba dan dari Rehob dan orang-orang Tob dan Maakha ada tersendiri di padang. (9) Ketika Yoab melihat, bahwa serangan itu mengancam dia dari depan dan dari belakang, maka dipilihnyalah sebagian dari orang pilihan Israel, lalu ia mengatur barisan mereka berhadapan dengan orang Aram itu. (10) Selebihnya dari rakyat itu ditempatkannya di bawah pimpinan Abisai, adiknya, yang mengatur barisan mereka berhadapan dengan bani Amon itu.”.

 

7) Saling menolong dalam perang (ay 11).

Ay 11: “Lalu berkatalah Yoab: ‘Jika orang Aram itu lebih kuat dari padaku, maka haruslah engkau menolong aku, tetapi jika bani Amon itu lebih kuat dari padamu, maka aku akan datang menolong engkau.”.

 

Matthew Henry: Note, Mutual helpfulness is brotherly duty. If occasion be, ‘thou shalt help me, and I will help thee.’ Christ’s soldiers should thus strengthen one another’s hands in their spiritual warfare. The strong must succour and help the weak. Those that through grace are conquerors over temptation must counsel, and comfort, and pray for, those that are tempted. ‘When thou art converted, strengthen thy brethren,’ Luke 22:32. The members of the natural body help one another, 1 Cor 12:21. [= Perhatikan, Saling membantu adalah kewajiban persaudaraan. Jika ada kesempatan, ‘kamu akan menolongku, dan aku akan menolongmu.’ Prajurit-prajurit Kristus harus saling menguatkan satu sama lain dalam peperangan rohani mereka. Orang-orang yang kuat harus memberi pertolongan dan bantuan kepada yang orang-orang yang lemah. Mereka yang melalui kasih karunia adalah pemenang-pemenang atas pencobaan harus memberi nasihat, dan penghiburan, dan berdoa bagi mereka yang dicobai. ‘Setelah engkau bertobat, kuatkanlah saudara-saudaramu’, Lukas 22:32. Anggota-anggota dari tubuh alamiah / manusia saling membantu satu sama lain, 1 Korintus 12:21.].

 

Luk 22:32 - “tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.’”.

KJV: “converted” [= bertobat].

 

1Kor 12:21 - “Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: ‘Aku tidak membutuhkan engkau.’ Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: ‘Aku tidak membutuhkan engkau.’”.

 

Gal 6:2 - “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.”.

 

The Biblical Illustrator: “MUTUAL HELPFULNESS. As occasion demands, says Joab, you will help me, or I will help you. Now, this is a word for us all. God has so ordained that we are mutually dependent on one another; and I hardly know which of the two is worse, the self-conceit of the man who imagines he can stand alone, or the selfishness of the man who has no instinctive desire to help his neighbour when in trouble.” [= SALING MENOLONG. Pada waktu keadaan menuntut, kata Joab, kamu akan menolongku, atau aku akan menolongmu. Sekarang, ini adalah suatu perkataan bagi kita semua. Allah telah menyusun sehingga kita saling bergantung satu sama lain; dan saya tidak tahu mana yang lebih buruk, kesombongan diri dari orang yang mengira dia bisa berdiri sendiri, atau keegoisan dari orang yang tidak memiliki keinginan naluriah untuk membantu tetangganya ketika dalam kesulitan.].

 

8) Alasan yang benar dalam perang (ay 12).

 

Top of Form

Ay 12: “Kuatkanlah hatimu dan marilah kita menguatkan hati untuk bangsa kita dan untuk kota-kota Allah kita. TUHAN kiranya melakukan yang baik di mataNya.’”.

NIV: fight bravely [= berperang dengan berani].

 

Calvin: “Let us come to the exhortation which is included here. Joab tells his brother Abishai ‘to fight for their people and for the cities of God’ (2 Sam. 10:12). Now here are the only two just causes of war: the good and common safety of the people, and the honour of God, which is included here in the second place. Not that God’s honour should be considered of least value, but the main thing is often placed at the end and at the tail, as being of the most value. Be that as it may, men will never have a just cause for waging war except for the common good and conservation of the public condition, or for the honour of God. These should take precedence over all that men can conceive. However, if we consider, on the other hand, the reasons which have always caused wars, we will find that the majority stem from avarice and ambition.” [= Mari kita datang kepada nasehat yang termasuk di sini. Yoab mengatakan kepada saudaranya Abisai ‘untuk bertempur demi bangsa mereka dan untuk kota-kota Allah’ (2Sam 10:12). Sekarang di sini hanya ada dua penyebab yang benar untuk berperang: kebaikan dan keselamatan umum rakyat, dan kehormatan Allah, yang termasuk di sini dalam urutan kedua. Bukan berarti kehormatan Allah harus dianggap paling tidak berharga, tetapi hal utama sering kali ditempatkan di akhir dan di ekor, sebagai yang paling berharga. Terlepas dari itu, manusia tidak akan pernah memiliki alasan yang benar untuk berperang kecuali demi kebaikan umum dan pelestarian kondisi publik, atau demi kehormatan Allah. Hal-hal ini harus diutamakan di atas semua yang bisa dipikirkan manusia. Namun, jika kita mempertimbangkan, di sisi lain, alasan-alasan yang selalu menyebabkan perang, kita akan menemukan bahwa sebagian besar berasal dari keserakahan dan ambisi.] - ‘Sermons on 2Samuel’, hal 457-458.

 

Calvin: “We see many people who argue for a good cause and, indeed, seem to be motivated by nothing but zeal. Yet when we look at their motives more closely, we discover that under the pretext of the honour of God and the public good, they are actually seeking an occasion to enrich themselves.” [= Kita melihat banyak orang yang berargumentasi untuk suatu tujuan yang baik dan, memang, kelihatannya dimotivasi bukan oleh apapun kecuali semangat. Namun ketika kita melihat lebih dekat pada motivasi mereka, kita menemukan bahwa di balik kepura-puraan tentang kehormatan Allah dan kebaikan publik, sebenarnya mereka mencari kesempatan untuk memperkaya diri mereka sendiri.] - ‘Sermons on 2Samuel’, hal 461-462.

 

Ini sama dengan orang yang kelihatannya perang secara rohani, tetapi tujuannya memperkaya diri sendiri!

 

Calvin: “a good cause which is right will always make us brave. ... Let us carefully note, therefore, that in the first place we should have the foundation of a good conscience, so that we attempt nothing which is not part of our calling and in God’s good will.” [= Suatu penyebab yang benar dan baik akan selalu membuat kita berani. ... Oleh karena itu, mari kita perhatikan dengan seksama bahwa pertama-tama kita harus memiliki fondasi dari suatu hati nurani yang baik, sehingga kita tidak mengusahakan apapun yang bukan bagian dari panggilan kita dan kehendak baik Allah.] - ‘Sermons on 2Samuel’, hal 462.

 

Calvin: “However, Joab added that the ‘Lord will do whatever will seem good to him’ (2 Sam. 10:12). Well, it certainly seems that Joab was thinking like all those poor unbelievers who have always risked their lives on chance when they had a good cause to fight for. Well, that would not be appropriate for a man of faith who would be taught in the Word of God. For this is precisely where we should differ from profane people, that is, when we have a good cause, we are to learn to take refuge in God and to assure ourselves that he will be on our side to help us in time of need.” [= Namun, Yoab menambahkan bahwa ‘Tuhan akan melakukan apapun yang tampak baik bagiNya’ (2Sam 10:12). Nah, sepertinya Yoab benar-benar berpikir seperti semua orang yang tidak percaya yang malang yang selalu mempertaruhkan nyawa mereka pada nasib / kebetulan ketika mereka memiliki tujuan baik untuk berperang. Nah, itu tidak sesuai untuk seorang yang beriman yang diajar Firman Tuhan. Karena di sinilah kita seharusnya berbeda dari orang-orang yang tidak menghormati hal-hal yang sakral, yaitu, ketika kita memiliki penyebab yang baik, kita harus belajar untuk berlindung kepada Allah dan meyakinkan diri kita sendiri bahwa Dia akan berada di pihak kita untuk membantu kita pada saat dibutuhkan.] - ‘Sermons on 2Samuel’, hal 462-463.

 

Calvin: “Well, it certainly seems that Joab resembles these unbelievers here, for instead of praying to God, trusting that he would give victory to those who have a good cause, he said: ‘The Lord will do what will seem good to him’. He talks like someone confused, who does not know what it is to rest on the promises of God. But however brief the words are, there is no doubt that Joab looked further. In the first place, he confessed that it was up to God to govern, which the pagans did not do. ... Well, Joab shows here that God keeps everything so much in control that when men have battled and bravely persisted, it is still up to him to give the victory. ... he clearly understood that no matter how bravely he behaved, all his forces could still do nothing unless God gave the victory. Now that is what this sentence means, where Joab exhorted his brother Abishai to be valiant, and then he was immediately encouraged to do the same. But after having spoken thus, he added: ‘The Lord is over us. It is up to him either to make all that we have done useless, or to make us prosper according to his good will.’ [= Nah, sepertinya Yoab menyerupai orang-orang yang tidak percaya di sini, karena alih-alih dari berdoa kepada Allah, dengan percaya bahwa Dia akan memberikan kemenangan bagi mereka yang memiliki penyebab yang baik, dia berkata: ‘Tuhan akan melakukan apa yang tampak baik bagiNya’. Dia berbicara seperti seseorang yang bingung, yang tidak tahu apa artinya bersandar pada janji-janji Allah. Tetapi meskipun kata-katanya singkat, tidak diragukan lagi bahwa Yoab melihat lebih jauh. Pertama-tama, dia mengakui bahwa terserah kepada Allah untuk memerintah, yang tidak dilakukan oleh orang-orang kafir. ... Jadi, Joab menunjukkan di sini bahwa Allah mengendalikan segalanya sehingga ketika manusia telah bertempur dan bertahan dengan berani, masih terserah kepadaNya untuk memberikan kemenangan. ... dia dengan jelas memahami bahwa tidak peduli seberapa berani perilakunya, semua pasukannya masih tidak dapat melakukan apa pun kecuali Allah memberikan kemenangan. Itulah arti dari kalimat ini, dimana Yoab mendorong saudaranya Abisai untuk berani, dan kemudian dia segera didorong untuk melakukan hal yang sama. Tetapi setelah berbicara demikian, dia menambahkan: ‘Tuhan ada di atas kita. Terserah kepadaNya atau untuk menjadikan semua yang telah kita lakukan menjadi sia-sia, atau untuk membuat kita berhasil sesuai dengan kehendakNya yang baik.’] - ‘Sermons on 2Samuel’, hal 463-464.

 

Calvin: “But if someone replies that he did not call on God - still, although his words are brief, they do imply invocation, as if Joab were declaring: ‘We must have recourse to God, and put everything that belongs to him back in his hands’. He glorifies him in these words, as if he were saying: ‘Even if we have done marvellously, still the whole thing will amount to nothing unless God blesses it’. Now that is how the sense of Joab’s prayer - although it is not formulated here - is still essentially seeking the help of God, so that it might please him to have pity on his people.” [= Tetapi jika seseorang menjawab bahwa dia tidak memanggil Allah - tetap, meskipun kata-katanya singkat, mereka menyiratkan doa, seolah-olah Yoab menyatakan: ‘Kita harus berlindung / meminta tolong kepada Allah, dan meletakkan segala sesuatu yang adalah milikNya kembali kepadaNya’. Dia memuliakanNya dalam kata-kata ini, seolah-olah dia berkata: ‘Bahkan jika kita telah melakukan secara sangat baik, namun semuanya tidak akan berarti apa-apa kecuali Allah memberkatinya’. Nah, begitulah esensi doa Yoab - meskipun tidak dinyatakan di sini - pada dasarnya masih mencari pertolongan dari Allah, agar memperkenanNya untuk berbelas kasihan kepada umat / bangsaNya.] - ‘Sermons on 2Samuel’, hal 464.

 

Calvin: “Well, if someone still claims that Joab did not show that he trusted in God, that he was not thoroughly assured of the promises of the Law, the reply to that is that God does not give particular promises about this or that to his children. We certainly have this point which should firmly persuade us that God will never abandon us, and that in the end he will show that our hope in him was not in vain, so that our faith will not be frustrated when it rests upon his mercy and his truth. Nevertheless, we must remain in suspense about many things. For instance, when we ask God for our daily bread, it is not that we are assured that he will send us a good harvest or a great vintage. We should leave that in his hands, and patiently await what pleases him. When we have any illness, we must rest well assured that he has not forgotten us, and that we have such access to him that, in the end, we will feel that he has looked on us in pity. The promise of God should be fully sufficient in regard to that. However, when we would like to have the word that today or tomorrow he will restore our health, we do not know - we are even in doubt of living or dying. Therefore, when Joab said that the Lord would do what seemed good to him, it was not that he was failing to wait upon God to uphold his people in the end, and maintain this good cause of which he had spoken. But he did not know whether God would like to humble him for a time, and if he would like him to be defeated by his enemies; to lose instead of winning. He could not be certain about that, for he had no special promise about it. We see, therefore, that Joab’s uncertainty was not lack of faith, for we can certainly doubt, although we embrace the promises of God and hold them as absolutely certain and infallible. What we doubt are the things which are not clear to us. That is how he wants us to remain in suspense about many things and to leave it all to his secret counsel and his providence.” [= Jika seseorang masih mengclaim bahwa Joab tidak menunjukkan bahwa dia percaya kepada Allah, bahwa dia tidak benar-benar yakin akan janji-janji dari hukum Taurat, jawaban untuk itu adalah bahwa Allah tidak memberikan janji khusus tentang ini atau itu kepada anak-anakNya. Tentu kita memiliki titik ini yang seharusnya meyakinkan kita bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan kita, dan bahwa pada akhirnya Dia akan menunjukkan bahwa harapan kita kepadaNya tidak sia-sia, sehingga iman kita tidak akan sia-sia ketika bergantung pada belas kasihan dan kebenaranNya. Namun demikian, kita harus tetap meragukan banyak hal. Misalnya, ketika kita meminta roti harian kita kepada Allah, bukan berarti bahwa kita yakin bahwa Dia akan mengirimkan kepada kita panen yang baik atau anggur yang hebat. Kita harus menyerahkan itu kepadaNya, dan dengan sabar menunggu apa yang menyenangkanNya. Ketika kita mempunyai penyakit apapun, kita harus yakin bahwa Dia tidak melupakan kita, dan bahwa kita memiliki akses kepadaNya sehingga, pada akhirnya, kita akan merasa bahwa Dia telah melihat kita dengan belas kasihan. Janji Allah seharusnya cukup sepenuhnya dalam hal itu. Namun, ketika kita ingin mendengar perkataan / firman bahwa hari ini atau besok Dia akan mengembalikan kesehatan kita, kita tidak tahu - kita bahkan ada dalam keraguan tentang kehidupan atau kematian. Oleh karena itu, ketika Yoab mengatakan bahwa Tuhan akan melakukan apa yang tampak baik bagiNya, bukan berarti dia gagal menunggu kepada Allah untuk mendukung umatNya pada akhirnya, dan mempertahankan penyebab yang baik ini yang telah dia bicarakan. Tetapi dia tidak tahu apakah Allah ingin merendahkan dirinya untuk sementara waktu, dan jika Dia ingin dia dikalahkan oleh musuh-musuhnya; kalah alih-alih dari menang. Dia tidak bisa yakin tentang itu, karena dia tidak memiliki janji khusus tentang hal itu. Kita melihat, oleh karena itu, bahwa ketidakpastian Yoab bukanlah kekurangan iman, karena kita tentu dapat meragukan, meskipun kita merangkul janji-janji Allah dan memegangnya sebagai pasti secara mutlak dan tidak bisa salah. Apa yang kita ragukan adalah hal-hal yang tidak jelas bagi kita. Begitulah Dia menginginkan kita untuk tetap meragukan banyak hal dan menyerahkan semuanya kepada rencana rahasiaNya dan providensia rahasiaNya.] - ‘Sermons on 2Samuel’, hal 464-465.

 

Cerita dalam Hak 20 betul-betul cocok dengan kata-kata Calvin. Israel perang melawan suku Benyamin, jelas di bawah ijin dan pimpinan Tuhan. Tetapi 2 x mereka kalah dalam pertempuran. Dan pada waktu mau melakukan pertempuran untuk ketigakalinya barulah Tuhan berjanji secara khusus bahwa besok Ia akan menyerahkan suku Benyamin ke dalam tangan Israel. Dan barulah dalam pertempuran ke 3 itu Israel memang mengalahkan suku Benyamin!

 

Hak 20:1-48 - “(1) Lalu majulah semua orang Israel; dari Dan sampai Bersyeba dan juga dari tanah Gilead berkumpullah umat itu secara serentak menghadap TUHAN di Mizpa. (2) Maka berdirilah para pemuka dari seluruh bangsa itu, dari segala suku orang Israel, memimpin jemaah umat Allah yang jumlahnya empat ratus ribu orang berjalan kaki, yang bersenjatakan pedang. (3) Kedengaranlah kepada bani Benyamin, bahwa orang Israel telah maju ke Mizpa. Berkatalah orang Israel: ‘Ceritakan bagaimana kejahatan itu terjadi.’ (4) Lalu orang Lewi, suami perempuan yang terbunuh itu, menjawab: ‘Aku sampai dengan gundikku di Gibea kepunyaan suku Benyamin untuk bermalam di sana. (5) Lalu warga-warga kota Gibea itu mendatangi aku dan mengepung rumah itu pada malam hari untuk menyerang aku. Mereka bermaksud membunuh aku, tetapi gundikku diperkosa mereka, sehingga mati. (6) Maka kuambillah mayat gundikku, kupotong-potong dia dan kukirimkan ke seluruh daerah milik pusaka orang Israel, sebab orang-orang itu telah berbuat mesum dan berbuat noda di antara orang Israel. (7) Sekarang kamu sekalian, orang Israel, telah ada di sini. Berikanlah di sini pertimbanganmu dan nasihatmu.’ (8) Kemudian bangunlah seluruh bangsa itu dengan serentak, sambil berkata: ‘Seorangpun dari pada kita takkan pergi ke kemahnya, seorangpun dari pada kita takkan pulang ke rumahnya. (9) Inilah yang akan kita lakukan kepada Gibea; memeranginya, dengan membuang undi! (10) Kita akan memilih dari seluruh suku Israel sepuluh orang dari tiap-tiap seratus, seratus orang dari tiap-tiap seribu, seribu orang dari tiap-tiap sepuluh ribu, untuk mengambil bekal bagi laskar ini, supaya sesudah mereka datang, dilakukan kepada Gibea-Benyamin setimpal dengan segala perbuatan noda yang telah diperbuat mereka di antara orang Israel.’ (11) Demikianlah orang Israel berkumpul melawan kota itu, semuanya bersekutu dengan serentak. (12) Kemudian suku-suku Israel mengirim orang kepada seluruh suku Benyamin dengan pesan: ‘Apa macam kejahatan yang terjadi di antara kamu itu! (13) Maka sekarang, serahkanlah orang-orang itu, yakni orang-orang dursila yang di Gibea itu, supaya kami menghukum mati mereka dan dengan demikian menghapuskan yang jahat itu dari antara orang Israel.’ Tetapi bani Benyamin tidak mau mendengarkan perkataan saudara-saudaranya, orang Israel itu. (14) Sebaliknya, bani Benyamin dari kota-kota lain berkumpul di Gibea untuk maju berperang melawan orang Israel. (15) Pada hari itu dihitunglah jumlah bani Benyamin dari kota-kota lain itu: dua puluh enam ribu orang yang bersenjatakan pedang, belum termasuk penduduk Gibea, yang terhitung tujuh ratus orang pilihan banyaknya. (16) Dari segala laskar ini ada tujuh ratus orang pilihan yang kidal, dan setiap orang dari mereka dapat mengumban dengan tidak pernah meleset sampai sehelai rambutpun. (17) Juga orang-orang Israel dihitung jumlahnya; dengan tidak termasuk suku Benyamin ada empat ratus ribu orang yang bersenjatakan pedang; semuanya itu prajurit. (18) Lalu orang Israel berangkat dan maju ke Betel. Di sana mereka bertanya kepada Allah: ‘Siapakah dari kami yang lebih dahulu maju berperang melawan bani Benyamin?’ Jawab TUHAN: ‘Suku Yehudalah lebih dahulu.’ (19) Lalu orang-orang Israel bangun pagi-pagi dan berkemah mengepung Gibea. (20) Kemudian majulah orang-orang Israel berperang melawan suku Benyamin; orang-orang Israel mengatur barisan perangnya melawan mereka dekat Gibea. (21) Juga bani Benyamin maju menyerang dari Gibea dan menggugurkan ke bumi dua puluh dua ribu orang dari antara orang Israel pada hari itu. (22) Tetapi laskar orang Israel mengumpulkan segenap kekuatannya, lalu mengatur pula barisan perangnya di tempat mereka mengatur barisannya semula. (23) Kemudian pergilah orang-orang Israel, lalu menangis di hadapan TUHAN sampai petang, sesudah itu mereka bertanya kepada TUHAN: ‘Akan pergi pulakah kami berperang melawan bani Benyamin, saudara kami itu?’ Jawab TUHAN: ‘Majulah melawan mereka.’ (24) Tetapi ketika orang-orang Israel pada hari kedua sampai di dekat bani Benyamin, (25) maka pada hari kedua itu majulah suku Benyamin dari Gibea menyerbu mereka, dan digugurkannya pula ke bumi delapan belas ribu orang di antara orang-orang Israel; semuanya orang-orang yang bersenjatakan pedang. (26) Kemudian pergilah semua orang Israel, yakni seluruh bangsa itu, lalu sampai di Betel; di sana mereka tinggal menangis di hadapan TUHAN, berpuasa sampai senja pada hari itu dan mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan di hadapan TUHAN. (27) Dan orang-orang Israel bertanya kepada TUHAN - pada waktu itu ada di sana tabut perjanjian Allah, (28) dan Pinehas bin Eleazar bin Harun menjadi imam Allah pada waktu itu - kata mereka: ‘Haruskah kami maju sekali lagi untuk berperang melawan bani Benyamin, saudara kami itu, atau haruskah kami hentikan itu?’ Jawab TUHAN: ‘Majulah, sebab besok Aku akan menyerahkan mereka ke dalam tanganmu.’ (29) Lalu orang Israel menempatkan penghadang-penghadang sekeliling Gibea. (30) Pada hari ketiga majulah orang-orang Israel melawan bani Benyamin dan mengatur barisannya melawan Gibea seperti yang sudah-sudah. (31) Maka majulah bani Benyamin menyerbu laskar itu; mereka terpancing dari kota, dan seperti yang sudah-sudah, mereka mulai menyerang laskar itu pada kedua jalan raya - yang satu menuju ke Betel, dan yang lain ke Gibea melalui padang - sehingga terbunuh beberapa orang, kira-kira tiga puluh orang di antara orang Israel. (32) Maka kata bani Benyamin: ‘Orang-orang itu telah terpukul kalah oleh kita seperti semula.’ Tetapi orang-orang Israel telah bermupakat lebih dahulu: ‘Marilah kita lari dan memancing mereka dari kota ke jalan-jalan raya.’ (33) Jadi orang Israel bangun dari tempatnya dan mengatur barisannya di Baal-Tamar, sedang orang Israel yang menghadang itu tiba-tiba keluar dari tempatnya, yakni tempat terbuka dekat Geba, (34) dan sampai di depan Gibea, sebanyak sepuluh ribu orang pilihan dari seluruh Israel. Pertempuran itu dahsyat, tetapi bani Benyamin tidak tahu bahwa malapetaka datang menimpa mereka. (35) TUHAN membuat suku Benyamin terpukul kalah oleh orang Israel, dan pada hari itu orang-orang Israel memusnahkan dari antara suku Benyamin dua puluh lima ribu seratus orang, semuanya orang-orang yang bersenjatakan pedang. (36) Bani Benyamin melihat, bahwa mereka telah terpukul kalah. Sementara orang-orang Israel agak mundur di depan suku Benyamin - sebab mereka mempercayai penghadang-penghadang yang ditempatkan mereka untuk menyerang Gibea - (37) maka segeralah penghadang-penghadang itu menyerbu Gibea. Mereka bergerak maju dan memukul seluruh kota itu dengan mata pedang. (38) Tetapi orang-orang Israel telah bermupakat dengan penghadang-penghadang itu untuk menaikkan gumpalan asap tebal dari kota itu. (39) Ketika orang-orang Israel mundur dalam pertempuran itu, maka suku Benyamin mulai menyerang orang Israel, sehingga terbunuh kira-kira tiga puluh orang, karena pikir mereka: ‘Tentulah orang-orang itu terpukul kalah sama sekali oleh kita seperti dalam pertempuran yang dahulu.’ (40) Tetapi pada waktu itu mulailah gumpalan asap naik dari kota itu seperti tiang asap. Suku Benyamin menoleh ke belakang dan tampaklah kota itu seluruhnya terbakar, apinya naik ke langit. (41) Lagipula orang-orang Israel maju lagi. Maka gemetarlah orang-orang Benyamin itu, sebab mereka melihat, bahwa malapetaka datang menimpa mereka. (42) Jadi larilah mereka dari depan orang-orang Israel itu, ke arah padang gurun, tetapi pertempuran itu tidak dapat dihindari mereka, lalu orang-orang dari kota-kota menghabisi mereka di tengah-tengahnya. (43) Mereka mengepung suku Benyamin itu, mengejarnya dengan tak henti-hentinya dan melandanya sampai di depan Gibea, di sebelah timur. (44) Dari bani Benyamin ada tewas delapan belas ribu orang, semuanya orang-orang gagah perkasa. (45) Yang lain berpaling lari ke padang gurun, ke bukit batu Rimon. Tetapi di jalan-jalan raya masih diadakan penyabitan susulan di antara mereka: lima ribu orang; mereka diburu sampai ke Gideom dan dipukul mati dua ribu orang dari mereka. (46) Maka yang tewas dari suku Benyamin pada hari itu seluruhnya berjumlah dua puluh lima ribu orang yang bersenjatakan pedang, semuanya orang-orang gagah perkasa. (47) Tetapi enam ratus orang berpaling lari ke padang gurun, ke bukit batu Rimon, dan tinggal empat bulan lamanya di bukit batu itu. (48) Tetapi orang-orang Israel kembali kepada bani Benyamin dan memukul mereka dengan mata pedang, baik manusia baik hewan dan segala sesuatu yang terdapat di sana. Juga segala kota yang terdapat di sana mereka musnahkan dengan api.”.

 

Calvin: “when it comes to battling for the name of God and for his honour, let us never be dismayed when we see that all the world is against us; on the contrary, let us be strengthened.” [= ketika berbicara tentang berjuang untuk nama Tuhan dan kehormatannya, jangan pernah kecil hati ketika melihat bahwa seluruh dunia menentang kita; sebaliknya, mari kita dikuatkan.] - ‘Sermons on 2Samuel’, hal 466.

 

Bdk. Maz 3:6-7 - “(6) Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku! (7) Aku tidak takut kepada puluhan ribu orang yang siap mengepung aku.”.

 

Di bawah ini Calvin membahas kata-kata Yoab: “TUHAN kiranya melakukan yang baik di mataNya.” (ay 12b).

 

Calvin: “when we are convinced that it is up to God to govern, and that all that we can do amounts to nothing unless he chooses to bless it, then let us also learn to pray to him and to worship him, confessing that we hold everything from him, and then let us wait on him also for the victory.” [= Ketika kita yakin bahwa adalah tergantung Allah untuk memerintah / mengarahkan, dan bahwa segala yang bisa kita lakukan tidak berarti apa-apa kecuali Dia memilih untuk memberkatinya, maka mari kita juga belajar untuk berdoa kepadaNya dan menyembahNya, mengakui bahwa kita mempunyai segala sesuatu dari Dia, dan kemudian mari kita juga menantikan kemenangan dari Dia.] - ‘Sermons on 2Samuel’, hal 466.

 

Calvin: “When it appears  that all is lost and in despair ... let us learn to strengthen ourselves in such a way that when God does not want to please us in all our wishes, but permits us to receive blows from the rod, and we seem to be poor people, scattered and totally abused - even when this happens, let us not fail to hope in him.” [= Ketika tampaknya semuanya hilang dan dalam keputus-asaan ... mari kita belajar untuk memperkuat diri kita sendiri sedemikian rupa sehingga ketika Allah tidak ingin menyenangkan kita dalam semua keinginan kita, tetapi mengijinkan kita menerima pukulan-pukulan dari tongkat, dan kita kelihatannya seperti orang miskin, tersebar dan benar-benar diperlakukan secara buruk - bahkan ketika ini terjadi, mari kita tidak gagal untuk berharap kepada Dia.] - ‘Sermons on 2Samuel’, hal 468.

 

Calvin: “Hence, no matter what out external conditions may be, let us always keep our minds on this conclusion, that God in the end will have pity on us as on the whole body of his Church. Nevertheless, let us allow him to dispose events differently from what we think should happen, and let us not be so heated in our feelings that we are angered when things happen contrary to our desires. Or let us not be lazy, and let us not lose control, as many people do when they fail to see the progress that they had imagined.” [= Karena itu, tidak peduli apa kondisi lahiriah kita, mari kita selalu mempertahankan pikiran kita pada kesimpulan ini, bahwa pada akhirnya Allah akan mengasihani kita seperti kepada seluruh tubuh dari GerejaNya. Namun, mari kita biarkan Dia mengatur peristiwa dengan cara yang berbeda dari apa yang kita pikir seharusnya terjadi, dan mari kita tidak terlalu dipanaskan dalam perasaan kita sehingga kita marah ketika hal-hal terjadi bertentangan dengan keinginan-keinginan kita. Atau mari kita tidak malas, dan mari kita tidak kehilangan kendali, seperti banyak orang yang melakukannya ketika mereka gagal melihat kemajuan yang telah mereka bayangkan.] - ‘Sermons on 2Samuel’, hal 469.

 

Semua ini sejalan dengan kata pengantar dalam buku Institutes-nya, yang ditujukan kepada raja Perancis, yang pada bagian terakhirnya berbunyi sebagai berikut: “... for though you are now averse and alienated from us, and even inflamed against us, we despair not of regaining your favor, if you will only once read with calmness and composure this our confession, which we intend as our defence before your Majesty. But, on the contrary, if your ears are so preoccupied with the whispers of the malevolent, as to leave no opportunity for the accused to speak for themselves, and if those outrageous furies, with your connivance, continue to persecute with imprisonments, scourges, tortures, confiscations, and flames, we shall indeed, like sheep destined to the slaughter, be reduced to the greatest extremities. Yet shall we in patience possess our souls, and wait for the mighty hand of the Lord, which undoubtedly will in time appear, and show itself armed for the deliverance of the poor from their affliction, and for the punishment of their despisers, who now exult in such perfect security. [= ... karena sekalipun engkau sekarang menolak / menentang kami dan jauh dari kami, dan bahkan marah terhadap kami, kami tidak putus asa untuk mendapatkan kembali perkenanmu, asal saja engkau mau membaca satu kali dengan ketenangan dan kesabaran pengakuan kami ini, yang kami maksudkan sebagai pembelaan kami terhadap yang Mulia. Tetapi, sebaliknya, kalau telingamu begitu dipenuhi dengan bisikan-bisikan dari orang-orang pendengki, sehingga tidak memberi kesempatan kepada orang-orang yang dituduh untuk berbicara bagi diri mereka sendiri, dan jika kemurkaan yang melampaui batas itu, dengan kerja samamu secara diam-diam, terus menganiaya dengan pemenjaraan, pencambukan / penyesahan, penyiksaan, penyitaan, dan nyala api, kami memang akan seperti domba yang ditetapkan untuk dibantai, dikurangi / dimusnahkan sampai tingkat terendah. Tetapi kami akan hidup dengan sabar, dan menunggu tangan yang kuat / hebat dari Tuhan, yang tanpa diragukan akan muncul pada saatnya, dan menunjukkan dirinya dengan bersenjata untuk pembebasan orang-orang miskin dari penderitaannya, dan untuk penghukuman para penghinanya, yang sekarang bersukaria dalam keamanan yang begitu sempurna.] - David Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 334.

 

Barnes’ Notes: “‘For the cities of our God.’ This rather indicates that the relief of Medeba was one of the immediate objects in view, and consequently that at this time Medeba was still in the possession of the Reubenites. To prevent an Israelite city falling into the hands of a pagan people, and the rites of Moloch being substituted for the worship of Yahweh, was a very urgent motive to valor.” [= ‘Untuk kota-kota Allah kita.’ Ini lebih menunjukkan bahwa penolongan kepada Medeba adalah salah satu tujuan langsung yang dipertimbangkan, dan akibatnya bahwa pada saat ini Medeba masih berada di bawah kepemilikan orang-orang dari suku Ruben. Mencegah kota Israel jatuh ke tangan bangsa kafir, dan ritual Molokh menggantikan ibadah kepada Yahweh, merupakan suatu motivasi yang sangat mendesak untuk keberanian.].

 

The Biblical Illustrator: “Listen again to General Joab: ‘Be of good courage, brother, and let us behave ourselves valiantly for our people, and for the cities of our God.’ ... ‘God and our country’ was their cry. ... it was a call to action and to danger, impelled by love to Israel, and to Israel’s God. Sirs, patriotism is one of the noblest sentiments that can occupy the human breast; but there is no patriotism so pure and disinterested as that which is kindled at the altar of love to God.” [= Dengarkan lagi kata-kata Panglima Yoab: ‘Bersemangatlah, saudara, dan marilah kita berperilaku dengan gagah berani demi bangsa kita, dan untuk kota-kota Allah kita.’ ... ‘Allah dan negara kita’ adalah teriakan mereka. ... itu adalah seruan untuk bertindak dan menghadapi suatu bahaya / kemungkinan yang tidak menyenangkan, didorong oleh kasih kepada Israel, dan kepada Allah Israel. Tuan-tuan, patriotisme adalah salah satu perasaan yang paling mulia yang dapat mengisi dada manusia; tetapi tidak ada patriotisme yang begitu murni dan tanpa pamrih seperti yang menyala di altar dari kasih kepada Allah.].

 

The Biblical Illustrator: “Let us do our best; but after all, let us be sensible, that the success does not depend on us; that it is entirely in the hands of an all-ruling God.” [= Mari kita berusaha sebaik mungkin; namun, pada akhirnya, mari kita menyadari, bahwa kesuksesan tidak tergantung kepada kita; bahwa itu sepenuhnya dalam tangan Allah yang memerintah segalanya.].

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali