Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)  

Rabu, tanggal 7 Desember 2011, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(7064-1331 / 6050-1331)

[email protected]

 

II Petrus 3:1-18(11)

 

c)   Penafsir-penafsir yang pandangannya plin plan / saling bertabrakan sendiri.

 

Pulpit Commentary (bagian ‘homiletics’): “That day will be a day of terrors. Because of its presence the visible heavens will be on fire; they shall be dissolved. The earth and the heaven, in the vision of judgment that was revealed to St. John, fled away from the face of him who sat on the great white throne, and there was found no place for them. St. Peter, too, saw the awful scene presented to the eye of his mind - he uses the prophetic present - the elements are melting, wasting away, with fervent heat. ... But there will be a new home for the righteous. St. John heard the voice of him that sat on the throne saying, ‘Behold, I make all things new.’ God had promised this long ago by the mouth of his prophet Isaiah. He will surely fulfill his word. He will not leave his people desolate and homeless. He provided a city of refuge for Lot, when his old abode was destroyed by the fire of the wrath of God. So, out of the appalling conflagration of the dreadful day there will arise a new and blessed home for his elect. We look for new heavens and a new earth; and they shall abide for ever. ... The earth that now is hath been defiled with many sins; it has been stained with blood, devastated by war and cruelty, polluted with sensuality and uncleanness. But the new earth shall be all holy. The refining fires of judgment will work a complete and everlasting change. The Deluge cleansed the old world, but only for a time; sin soon began to reassert itself. The fires of the great day will purely purge away all the dross, and leave only the refined gold. Righteousness shall dwell for ever in that new earth” (= Hari itu adalah suatu hari ketakutan. Karena kehadirannya surga / langit yang kelihatan akan terbakar; mereka akan meleleh / hancur / hilang. Bumi dan surga / langit, dalam penglihatan penghakiman yang dinyatakan kepada Santo Yohanes, lari dari muka / hadapan dari Dia yang duduk di takhta putih besar, dan tidak ditemukan tempat lagi untuk mereka. Santo Petrus, juga melihat pemandangan yang dihadirkan pada mata dari pikirannya - ia menggunakan bentuk present nubuatan - elemen-elemen sedang mencair, sedang dihancurkan, dengan panas yang sangat kuat. ... Tetapi di sana akan ada rumah yang baru untuk orang-orang benar. Santo Yohanes mendengar suara dari Dia yang duduk di takhta berkata, ‘Lihatlah, Aku membuat segala sesuatu baru’. Allah telah menjanjikan ini lama sebelumnya oleh mulut nabiNya, Yesaya. Ia pasti akan menggenapi firmanNya. Ia tidak akan membiarkan umatNya terpencil dan tanpa rumah. Ia menyediakan suatu kota perlindungan untuk Lot, pada waktu tempat tinggalnya yang lama dihancurkan oleh api kemurkaan Allah. Demikianlah, dari kebakaran besar / lautan api yang mengerikan dari hari yang menakutkan itu di sana akan muncul rumah yang baru dan diberkati untuk orang-orang pilihanNya. Kita mencari surga / langit yang baru dan bumi yang baru; dan mereka akan tetap ada selama-lamanya. ... Bumi yang sekarang telah dinajiskan oleh banyak dosa, bumi telah dicemari dengan darah, dihancurkan oleh perang dan kekejaman, dikotori dengan nafsu dan kecemaran. Tetapi bumi yang baru akan kudus seluruhnya. Api yang memurnikan dari penghakiman akan mengerjakan perubahan yang sempurna / lengkap dan kekal. Air bah membersihkan dunia yang lama, tetapi hanya untuk suatu waktu; dosa segera mulai menyatakan / meneguhkan dirinya kembali. Api dari hari yang besar itu akan dengan murni menyucikan semua kekotoran, dan meninggalkan hanya emas yang telah dimurnikan. Kebenaran akan tinggal selama-lamanya di bumi yang baru itu) - hal 75-76.

 

Matthew Henry: (1.) ‘The heavens shall pass away with a great noise.’ The visible heavens, as unable to abide when the Lord shall come in his glory, shall pass away; they shall undergo a mighty alteration, and this shall be very sudden, and with such a noise as the breaking and tumbling down of so great a fabric must necessarily occasion. (2.) ‘The elements shall melt with fervent heat.’ At this coming of the Lord it shall not only be very tempestuous round about him, so that the very heavens shall pass away as in a mighty violent storm, but a fire shall go before him, that shall melt the elements of which the creatures are composed. (3.) The earth also, and all the works that are therein, shall be burnt up. ... The earth, and its inhabitants, and all the works, whether of nature or art, shall be destroyed. The stately palaces and gardens, and all the desirable things wherein worldly-minded men seek and place their happiness, all of them shall be burnt up; all sorts of creatures which God has made, and all the works of men, must submit, all must pass through the fire, which shall be a consuming fire to all that sin has brought into the world, though it may be a refining fire to the works of God’s hand, that the glass of the creation being made much brighter the saints may much better discern the glory of the Lord therein. ... All that was made for man’s use is subject to vanity by man’s sin: and if the sin of man has brought the visible heavens, and the elements and earth, under a curse, from which they cannot be freed without being dissolved, what an abominable evil is sin, and how much to be hated by us! And, inasmuch as this dissolution is in order to their being restored to their primitive beauty and excellency, how pure and holy should we be, in order to our being fit for the new heaven and new earth, wherein dwelleth righteousness! ... For though it cannot but terrify and affright the ungodly to see the visible heavens all in a flame, and the elements melting, yet the believer, whose faith is the evidence of things not seen, can rejoice in hope of more glorious heavens after these have been melted and refined by that dreadful fire which shall burn up all the dross of this visible creation. ... As in v. 11 he exhorts to holiness from the consideration that ‘the heavens and the earth shall be dissolved,’ so in v. 14 he resumes his exhortation from the consideration that they shall be again renewed. ‘Seeing you expect the day of God, when our Lord Jesus Christ will appear in his glorious majesty, and these heavens and earth shall be dissolved and melted down, and, being purified and refined, shall be erected and rebuilt, prepare to meet him [= (1) ‘Surga / langit akan hilang dengan suatu suara yang keras’. Surga / langit yang kelihatan, karena tak bisa ada pada waktu Tuhan akan datang dalam kemuliaanNya, akan hilang; mereka akan mengalami suatu perubahan yang sangat / hebat, dan ini akan terjadi dengan sangat mendadak, dan dengan suara sedemikian rupa karena pecahnya dan ambruknya struktur yang begitu besar pasti menyebabkan hal itu. (2) ‘Elemen-elemen akan meleleh dengan panas yang sangat tinggi’. Pada kedatangan Tuhan ini, itu bukan hanya sangat menggelora di sekitarNya, sehingga surga / langit akan hilang seperti dalam suatu badai yang sangat hebat, tetapi suatu api akan berjalan di depanNya, sehingga akan melelehkan elemen-elemen yang membentuk ciptaan-ciptaan. (3) Bumi juga, dan semua pekerjaan-pekerjaan yang ada di dalamnya, akan terbakar. ... Bumi, dan penduduknya, dan semua pekerjaan-pekerjaan, apakah itu dari alam atau dari seni, akan dihancurkan. Istana-istana yang megah dan kebun-kebun, dan semua hal-hal yang diinginkan, dalam mana orang-orang yang berpikiran duniawi mencari dan menempatkan kebahagiaan mereka, semuanya akan terbakar; semua jenis makhluk yang telah diciptakan / dibuat oleh Allah, dan semua pekerjaan-pekerjaan manusia, semuanya harus melewati api, yang akan merupakan api yang menghabiskan bagi semua yang telah dibawa oleh dosa ke dalam dunia, sekalipun itu bisa adalah suatu api yang memurnikan bagi pekerjaan-pekerjaan dari tangan Allah, sehingga gelas dari ciptaan dibuat jauh lebih terang, orang-orang kudus bisa dengan lebih baik melihat kemuliaan Tuhan di sana. ... Semua yang dibuat bagi penggunaan manusia adalah subyek dari kesia-siaan oleh dosa manusia: dan jika dosa manusia telah membawa surga / langit yang kelihatan, dan elemen-elemen dan bumi, ke bawah suatu kutuk, dari mana mereka tidak dibebaskan tanpa dihancurkan / dihabiskan / dihilangkan, maka betapa dosa itu merupakan suatu kejahatan yang menjijikkan, dan betapa itu harus sangat kita benci! Dan, karena penghancuran ini adalah supaya mereka bisa dipulihkan pada keindahan dan mutu / keunggulan mereka yang asli / mula-mula, betapa kita harus murni dan kudus supaya kita cocok untuk surga / langit yang baru dan bumi yang baru, dimana terdapat kebenaran! ... Karena sekalipun tidak bisa tidak itu menakutkan orang-orang jahat untuk melihat surga / langit yang kelihatan semuanya ada dalam nyala api, dan elemen-elemen meleleh, tetapi orang-orang percaya, yang imannya adalah bukti dari hal-hal tidak kelihatan, bisa bersukacita dalam pengharapan tentang surga / langit yang lebih mulia setelah yang sekarang ini telah dilelehkan dan dimurnikan oleh api yang menakutkan yang akan membakar semua kekotoran dari ciptaan yang kelihatan ini. ... Seperti dalam ay 11 ia mendesak pada kekudusan dari pertimbangan bahwa ‘surga / langit dan bumi akan dihancurkan’, demikian juga dalam ay 14 ia melanjutkan desakannya dari pertimbangan bahwa mereka akan diperbaharui lagi. ‘Melihat bahwa kamu mengharapkan hari Allah, pada waktu Tuhan Yesus Kristus akan muncul dalam keagunganNya yang mulia, dan surga / langit dan bumi ini akan dihancurkan dan dilelehkan, dan setelah dimurnikan dan dibersihkan, akan didirikan dan dibangun kembali, bersiaplah untuk menemui Dia].

 

Kedua penafsir di atas ini mulai dengan menggunakan kata-kata yang seakan-akan menunjukkan bahwa mereka menganggap bahwa langit dan bumi yang lama akan dimusnahkan sama sekali, dan lalu diciptakan yang sama sekali baru, tetapi pada bagian akhirnya ternyata mereka menganggap bahwa langit dan bumi ini hanya diperbaharui.

 

d)   Penafsir-penafsir yang tidak memberi pandangannya, atau yang berpandangan bahwa kita tidak bisa mempunyai kepastian dalam hal ini.

 

Pulpit Commentary (tentang ay 13): “But it is impossible to pronounce dogmatically whether the new heavens and earth will be a reproduction of the old in a far more glorious form, through the agency of the refining fire, or an absolutely new creation, as the words of Isaiah seem to imply” (= Tetapi adalah mustahil untuk menyatakan secara dogmatik apakah langit dan bumi yang baru akan merupakan suatu reproduksi dari yang lama dalam suatu bentuk yang jauh lebih mulia, melalui penggunaan api yang memurnikan, atau suatu ciptaan yang baru secara mutlak, seperti yang kelihatannya ditunjukkan secara implicit oleh kata-kata Yesaya).

 

Sedangkan Louis Berkhof, seorang ahli theologia Reformed, hanya mengatakan bahwa ahli-ahli theologia Lutheran memilih pandangan bahwa langit dan bumi yang lama akan dihancurkan sama sekali, dan lalu diciptakan yang sama sekali baru, sedangkan ahli-ahli theologia Reformed memilih pandangan bahwa langit dan bumi yang sekarang ini hanya akan diperbaharui. Tetapi Louis Berkhof sendiri tidak memberikan pandangannya.

 

Louis Berkhof: The question is often raised, whether this will be an entirely new creation, or a renewal of the present creation. Lutheran theologians strongly favor the former position with an appeal to 2 Pet. 3:7–13; Rev. 20:11; and 21:1; while Reformed theologians prefer the latter idea, and find support for it in Ps. 102:26, 27; (Heb. 1:10–12); and Heb. 12:26–28. [= Pertanyaan sering ditanyakan, apakah ini akan merupakan suatu ciptaan yang baru sama sekali, atau suatu pembaharuan dari ciptaan yang sekarang ini. Ahli-ahli theologia Lutheran dengan kuat menyokong posisi / pandangan yang pertama dengan suatu pertimbangan pada 2Pet 3:7–13; Wah 20:11; dan 21:1; sementara ahli-ahli theologia Reformed lebih memilih gagasan / pandangan yang belakangan, dan mendapatkan dukungan untuk itu dalam Maz 102:27,28; (Ibr 1:10–12); dan Ibr 12:26–28.] - ‘Systematic Theology’, hal 736-737.

 

Memang beberapa penafsir dan ahli theologia juga mengatakan hal yang sama. Kelompok Reformed lebih memilih pembaharuan, sedangkan kelompok Lutheran lebih memilih pemusnahan dan penciptaan kembali. Tetapi ini hanya ‘pada umumnya’, karena dari kelompok Lutheran, Lenski justru memilih pandangan bahwa semua hanya akan diperbaharui, sedangkan dari ahli-ahli theologia / penafsir Reformed juga ada yang memilih pandangan bahwa semua akan dihancurkan dan lalu diciptakan yang baru sama sekali, seperti John Owen dan E. J. Young. Dan Alexander Nisbet, yang juga adalah seorang penafsir Reformed, bukan hanya tidak memberikan pandangannya, tetapi ia juga menambahkan bahwa lebih baik kita menggunakan tenaga dan pikiran kita untuk menguduskan diri dari pada untuk mempertanyakan dan menentukan mana yang benar dari kedua pandangan itu.

 

Alexander Nisbet (tentang ay 10): “As for the question which may be stated here, it is much more safe for us to give time and pains that we may be found of Him in peace at that day, than to be taken up in enquiring and determining whether the visible heavens and the earth, and the rest of the creatures of that kind, shall then be totally and for ever annihilated; or whether there shall be a new edition of them all, or some of them only” (= Berkenaan dengan pertanyaan yang bisa dinyatakan di sini, adalah jauh lebih aman bagi kami / kita untuk memberi waktu dan usaha supaya kita bisa didapati Dia dalam damai pada hari itu, dari pada diambil / diangkat dalam mempertanyakan / menyelidiki dan menentukan apakah surga / langit yang kelihatan dan bumi, dan sisa dari makhluk-makhluk dari jenis itu, pada saat itu akan dimusnahkan secara total dan selama-lamanya; atau apakah di sana akan ada suatu edisi / perbaikan terhadap mereka semua, atau hanya sebagian dari mereka) - hal 285-286.

 

Sekalipun tidak bisa memastikan 100 %, tetapi setelah menilai argumentasi-argumentasi dari kedua pandangan utama (no 1 dan no 2), maka saya sangat condong pada pandangan kedua, yaitu bahwa langit dan bumi yang sekarang ini akan dimusnahkan sama sekali, lalu diciptakan langit dan bumi yang sama sekali baru, yang tidak mempunyai kemiripan apapun dengan langit dan bumi yang lama.

 

Sekarang kita masuk pada pembahasan sesuatu yang lain. Apakah seseorang percaya pandangan no 1 atau no 2, tetap ada problem-problem lain yang harus dipecahkan, yaitu:

 

1.   Kalau begitu dalam hidup sesudah kedatangan Kristus yang keduakalinya ada 3 tempat, yaitu surga, neraka dan langit dan bumi yang baru. Apakah demikian?

2.   Dimana orang-orang percaya akan tinggal? Di surga atau di langit dan bumi yang baru? Dan kalau dikatakan kita akan tinggal di bumi yang baru, bukankah itu:

a.   Bertentangan dengan janji-janji Tuhan bahwa orang-orang percaya akan masuk surga (seperti Yoh 14:1-6 dsb).

b.   Mirip dengan pandangan Saksi Yehuwa, yang mengatakan bahwa orang-orang percaya yang tidak kebagian tempat di surga akan tinggal di bumi yang diperbaharui?

 

Jawaban:

 

1.   Tidak akan ada 3 tempat setelah kedatangan Kristus yang keduakalinya.

Langit dan bumi yang baru akan identik dengan surga, atau menjadi bagian dari surga.

Jadi, orang-orang percaya akan tinggal di bumi yang baru itu, sekaligus tinggal di surga, karena surga dan bumi yang baru akan menjadi satu.

 

Pulpit Commentary (bagian ‘homiletics’): “Heaven and earth shall then be very near, the one to the other; for the holy city, new Jerusalem, shall come down from God out of heaven; and the tabernacle of God shall be with men, and he will dwell with them. The commonwealth that is in heaven shall be established (so Holy Scripture seems to teach us) upon the new earth. It shall come down from heaven, having the glory of God; the throne of God and of the Lamb shall be in it; there his servants shall serve him. Heaven will come down to earth; and so the new earth will become a part of heaven, very closely joined with heaven. God will dwell there with men, and they shall see him face to face, and live in that new earth the life of heaven; for it is the unveiled presence of God which makes heaven what it is, the abode of joy, and love, and holiness, and entranced contemplation of the Divine beauty. Into that city entereth nothing that defileth; righteousness dwelleth there” [= Pada saat itu surga / langit dan bumi akan sangat dekat satu dengan yang lain; karena kota kudus, Yerusalem yang baru, akan turun dari Allah dari surga; dan Kemah Suci Allah akan ada bersama manusia, dan Ia akan tinggal bersama mereka. Persemakmuran yang ada di surga akan ditegakkan (demikianlah kelihatannya Kitab Suci yang Kudus mengajar kita) di bumi yang baru. Itu akan turun dari surga, dengan kemuliaan Allah; takhta Allah dan Anak Domba akan ada di dalamnya; di sana pelayan-pelayanNya akan melayani Dia. Surga akan turun ke bumi; dan dengan demikian bumi yang baru akan menjadi bagian dari surga, dengan sangat dekat bergabung dengan surga. Allah akan tinggal di sana bersama manusia, dan mereka akan melihatNya muka dengan muka / berhadapan muka, dan menjalani kehidupan surga di bumi yang baru; karena kehadiran Allah yang tidak terselubunglah yang membuat surga sebagai surga, tempat tinggal dari sukacita, dan kasih, dan kekudusan, dan perenungan yang mempesonakan dari keindahan Ilahi. Ke dalam kota itu tidak akan masuk apapun yang najis; kebenaran akan tinggal di sana] - hal 75-76.

 

Anthony A. Hoekema: “One gets the impression from certain hymns that glorified believers will spend eternity in some ethereal heaven somewhere off in space, far away from the earth. The following lines from the hymn: ‘My Jesus, I Love Thee’ seem to convey that impression: ‘In mansions of glory and endless delight / I’ll ever adore thee in heaven so bright.’ But does such a conception do justice to biblical eschatology? Are we to spend eternity somewhere off in space, wearing white robes, plucking harps, singing songs, and flitting from cloud to cloud while doing so? On the contrary, the Bible assures us that God will create a new earth on which we shall live to God’s praise in glorified, ressurected bodies. On that new earth, therefore, we hope to spend eternity, enjoying its beauties, exploring its resources, and using its treasures to the glory of God. Since God will make the new earth his dwelling place, and since where God dwells there heaven is, we shall then continue to be in heaven while we are on the new earth. For heaven and earth will then no longer be separated, as they are now, but will be one (see Rev 21:1-3) [= Seseorang mendapatkan kesan dari nyanyian pujian tertentu bahwa orang-orang percaya yang telah dimuliakan akan menghabiskan kekekalan di surga di atas di suatu tempat di angkasa, jauh dari bumi. Yang berikut ini adalah baris-baris dari nyanyian pujian: ‘Yesusku, aku cinta kepadaMu’ kelihatannya memberikan kesan itu: ‘Di rumah-rumah kemuliaan dan kesenangan yang tak ada akhirnya / Aku akan selalu memujaMu di surga yang begitu terang’. Tetapi apakah konsep seperti itu pantas / sesuai dengan eschatology yang alkitabiah? Apakah kita akan menghabiskan kekekalan di suatu tempat di angkasa, memakai jubah puith, memainkan kecapi / harpa, menyanyikan lagu-lagu, dan terbang / melayang dari awan ke awan sambil melakukan hal-hal itu? Sebaliknya, Alkitab meyakinkan kita bahwa Allah akan menciptakan bumi yang baru dimana kita akan hidup bagi pujian Allah dalam tubuh yang telah dibangkitkan dan dimuliakan. Karena itu, di bumi yang baru itu, kita berharap untuk menghabiskan kekekalan, menikmati keindahannya, menyelidiki sumber-sumbernya, dan menggunakan hartanya untuk kemuliaan Allah. Karena Allah akan membuat bumi yang baru tempat tinggalNya, dan karena dimana Allah tinggal di situlah surga, maka kita akan terus ada di surga sementara kita ada di bumi yang baru. Karena pada saat itu, surga dan bumi tidak lagi terpisah, seperti mereka sekarang, tetapi akan menjadi satu (lihat Wah 21:1-3)] - ‘The Bible and The Future’, hal 274.

Catatan: saya meragukan bagian yang saya beri garis bawah tunggal itu; entah dari mana ia mendapatkan hal itu.

 

Wah 21:1-3 - “(1) Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi. (2) Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. (3) Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: ‘Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umatNya dan Ia akan menjadi Allah mereka”.

Catatan: seharusnya kalau mau melengkapi pembahasan tentang langit dan bumi yang baru itu, saya juga harus membahas Wah 21:1-dst, tetapi pembahasannya terlalu banyak dan sukar, karena tentang istilah ‘Yerusalem yang baru’ itu ada bermacam-macam pandangan. Karena itu saya kita sebaiknya tentang Wah 21 ini saya bahas di lain.

 

Anthony A. Hoekema: “From verse 3 we learn that the dwelling place of God will no longer be away from the earth but on the earth. Since where God dwellls, there heaven is, we conclude that in this life to come heaven and earth will no longer be separated, as they are now, but will be merged. Believers will therefore continue to be in heaven as they continue to live on the new earth” [= Dari ay 3 (maksudnya Wah 21:3) kita belajar bahwa tempat tinggal Allah tidak lagi akan jauh dari bumi tetapi di bumi. Karena dimana Allah tinggal, di sana surga ada, kita menyimpulkan bahwa dalam kehidupan yang akan datang ini surga dan bumi tidak akan terpisah lagi, seperti mereka ada sekarang, tetapi akan bergabung. Karena itu, orang-orang percaya akan terus ada di surga seperti / pada waktu mereka terus hidup di bumi yang baru] - ‘The Bible and The Future’, hal 285.

 

Pulpit Commentary (tentang ay 13): St. John, like St. Peter, speaks of a new earth, and tells us that that new earth will be the dwelling-place of the blessed. He saw the holy city, new Jerusalem, coming down from God out of heaven; the throne of God and of the Lamb (he tells us) shall be in it: ‘The tabernacle of God is with men, and he will dwell with them.’ The holy city, Jerusalem, which is above, is in heaven now; the commonwealth of which the saints are citizens is in heaven (Phil 3:20). But heaven will come down to earth; the throne of God and of the Lamb shall be there; there his servants shall serve him. The distinction between earth and heaven will be abolished; for where God is, there is heaven [= Santo Yohanes, seperti Santo Petrus, berbicara tentang suatu bumi yang baru, dan memberitahu kita bahwa bumi baru itu akan menjadi tempat tinggal dari orang-orang yang diberkati. Ia melihat kota kudus, Yerusalem yang baru, turun dari Allah dari surga; takhta dari Allah dan dari Anak Domba (ia memberitahu kita) akan ada di dalamnya: ‘Kemah Allah ada bersama manusia, dan Ia akan tinggal bersama mereka’. Kota kudus, Yerusalem, yang ada di atas, ada di surga sekarang; persemakmuran dimana orang-orang kudus adalah warga negara - warga negara ada di surga (Fil 3:20). Tetapi surga akan turun ke bumi; takhta dari Allah dan dari Anak Domba akan ada di sana; di sana pelayan-pelayanNya akan melayani Dia. Perbedaan antara bumi dan surga akan dihapuskan; karena dimana Allah ada di situlah surga].

 

Catatan / komentar saya: saya agak bingung dengan kata-kata ‘dimana Allah ada di situlah surga’. Mengapa? Karena Allah maha ada, sehingga kalau demikian, maka surga itu juga akan ada di mana-mana.

 

2.   Pandangan ini berbeda dengan pandangan Saksi Yehuwa yang mengatakan bahwa hanya 144.000 orang (hurufiah) yang akan tinggal di surga, sedangkan sisanya, yang tidak kebagian tempat di surga, akan tinggal di bumi yang telah disempurnakan, yang mereka sebut ‘Firdaus’. Mengapa, dan apa bedanya? Karena mereka tetap membedakan surga dan bumi yang disempurnakan itu, sedangkan para penafsir dan ahli theologia di atas ini mengatakan bahwa keduanya (surga dan bumi yang baru) bergabung menjadi satu.

 

-o0o-

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali