Pemahaman
Alkitab
(Rungkut Megah
Raya, blok D no 16)
Rabu, tanggal 7
Desember 2011, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331
/ 6050-1331)
II Petrus 3:1-18(11)
c)
Penafsir-penafsir yang pandangannya plin plan / saling bertabrakan
sendiri.
Pulpit
Commentary (bagian ‘homiletics’): “That
day will be a day of terrors. Because of its presence the visible heavens will
be on fire; they shall be dissolved.
The earth and the heaven, in the vision of judgment that was revealed to St.
John, fled away from the face of him who sat on the great white throne,
and there was found no place for them. St. Peter, too, saw the awful
scene presented to the eye of his mind - he uses the prophetic present - the
elements are melting, wasting away, with fervent heat. ... But there will
be a new home for the righteous. St. John heard the voice of him that sat on the
throne saying, ‘Behold, I make all things new.’ God had promised this long
ago by the mouth of his prophet Isaiah. He will surely fulfill his word. He will
not leave his people desolate and homeless. He provided a city of refuge for
Lot, when his old abode was destroyed by the fire of the wrath of God. So, out
of the appalling conflagration of the dreadful day there will arise a new and
blessed home for his elect. We look for new heavens and a new earth; and
they shall abide for ever. ... The earth that now is hath been defiled with many
sins; it has been stained with blood, devastated by war and cruelty, polluted
with sensuality and uncleanness. But the new earth shall be all holy. The
refining fires of judgment will work a complete and
everlasting change. The Deluge cleansed the
old world, but only for a time; sin soon began to reassert itself. The fires of
the great day will purely purge away all the
dross, and leave only the refined gold. Righteousness shall dwell for ever
in that new earth” (= Hari itu adalah
suatu hari ketakutan. Karena kehadirannya surga / langit yang kelihatan akan
terbakar; mereka akan meleleh / hancur / hilang. Bumi dan surga / langit,
dalam penglihatan penghakiman yang dinyatakan kepada Santo Yohanes, lari
dari muka / hadapan dari Dia yang duduk di takhta putih besar, dan tidak
ditemukan tempat lagi untuk mereka. Santo Petrus, juga melihat pemandangan
yang dihadirkan pada mata dari pikirannya - ia menggunakan bentuk present
nubuatan - elemen-elemen sedang mencair, sedang dihancurkan, dengan panas
yang sangat kuat. ... Tetapi di sana akan ada rumah yang baru untuk
orang-orang benar. Santo Yohanes mendengar suara dari Dia yang duduk di takhta
berkata, ‘Lihatlah, Aku membuat segala sesuatu baru’. Allah telah
menjanjikan ini lama sebelumnya oleh mulut nabiNya, Yesaya. Ia pasti akan
menggenapi firmanNya. Ia tidak akan membiarkan umatNya terpencil dan tanpa
rumah. Ia menyediakan suatu kota perlindungan untuk Lot, pada waktu tempat
tinggalnya yang lama dihancurkan oleh api kemurkaan Allah. Demikianlah, dari
kebakaran besar / lautan api yang mengerikan dari hari yang menakutkan itu di
sana akan muncul rumah yang baru dan diberkati untuk orang-orang pilihanNya. Kita
mencari surga / langit yang baru dan bumi yang baru; dan mereka akan tetap ada
selama-lamanya. ... Bumi yang sekarang telah dinajiskan oleh banyak dosa,
bumi telah dicemari dengan darah, dihancurkan oleh perang dan kekejaman,
dikotori dengan nafsu dan kecemaran. Tetapi bumi yang baru akan kudus
seluruhnya. Api yang memurnikan dari penghakiman akan mengerjakan perubahan yang
sempurna / lengkap dan kekal. Air bah membersihkan dunia yang lama, tetapi
hanya untuk suatu waktu; dosa segera mulai menyatakan / meneguhkan dirinya
kembali. Api dari hari yang besar itu akan dengan
murni menyucikan semua kekotoran, dan meninggalkan hanya emas yang telah
dimurnikan. Kebenaran akan tinggal selama-lamanya di bumi yang baru itu)
- hal 75-76.
Matthew
Henry: “(1.)
‘The heavens shall pass away with a great noise.’ The visible heavens, as
unable to abide when the Lord shall come in his glory, shall pass away;
they shall undergo a mighty alteration, and
this shall be very sudden, and with such a noise as the breaking and tumbling
down of so great a fabric must necessarily occasion. (2.) ‘The elements shall
melt with fervent heat.’ At this coming of the Lord it shall not only be very
tempestuous round about him, so that the very heavens shall pass away as
in a mighty violent storm, but a fire shall go before him, that shall melt
the elements of which the creatures are composed. (3.) The earth also, and
all the works that are therein, shall be burnt up. ... The earth, and its
inhabitants, and all the works, whether of nature or art, shall be destroyed.
The stately palaces and gardens, and all the desirable things wherein
worldly-minded men seek and place their happiness, all of them shall be burnt
up; all sorts of creatures which God has made, and all the works of men,
must submit, all must pass through the fire, which shall be a consuming fire
to all that sin has brought into the world, though it may be a
refining fire to the works of God’s hand, that the glass of the creation
being made much brighter the saints may much better discern the glory of the
Lord therein. ... All that was made for man’s use is subject to vanity by
man’s sin: and if the sin of man has brought the visible heavens, and the
elements and earth, under a curse, from which they cannot be freed without being
dissolved, what an abominable evil is sin, and how much to be hated by us!
And, inasmuch as this dissolution is in order to their
being restored to their primitive beauty and excellency, how pure and holy
should we be, in order to our being fit for the new heaven and new earth,
wherein dwelleth righteousness! ... For though it cannot but terrify and
affright the ungodly to see the visible heavens all in a flame, and the elements
melting, yet the believer, whose faith is the evidence of things not seen, can
rejoice in hope of more glorious heavens after these have been melted and refined
by that dreadful fire which shall burn up all
the dross of this visible creation. ... As in v.
11 he exhorts to holiness from the consideration that ‘the heavens and
the earth shall be dissolved,’ so in v. 14
he resumes his exhortation from the consideration that they shall
be again renewed. ‘Seeing you expect the day of God, when our Lord Jesus
Christ will appear in his glorious majesty, and these heavens and earth shall
be dissolved and melted down, and, being
purified and refined, shall be erected and rebuilt, prepare to meet him” [= (1) ‘Surga / langit akan
hilang dengan suatu suara yang keras’. Surga / langit yang kelihatan, karena
tak bisa ada pada waktu Tuhan akan datang dalam kemuliaanNya, akan hilang;
mereka akan mengalami suatu perubahan yang
sangat / hebat, dan ini akan terjadi dengan sangat mendadak, dan dengan
suara sedemikian rupa karena pecahnya dan ambruknya struktur yang begitu besar
pasti menyebabkan hal itu. (2) ‘Elemen-elemen akan meleleh dengan panas yang
sangat tinggi’. Pada kedatangan Tuhan ini, itu bukan hanya sangat menggelora
di sekitarNya, sehingga surga / langit akan hilang seperti dalam suatu
badai yang sangat hebat, tetapi suatu api akan berjalan di depanNya, sehingga akan
melelehkan elemen-elemen yang membentuk ciptaan-ciptaan. (3) Bumi juga, dan
semua pekerjaan-pekerjaan yang ada di dalamnya, akan terbakar. ... Bumi,
dan penduduknya, dan semua pekerjaan-pekerjaan, apakah itu dari alam atau dari
seni, akan dihancurkan. Istana-istana yang megah dan kebun-kebun, dan
semua hal-hal yang diinginkan, dalam mana orang-orang yang berpikiran duniawi
mencari dan menempatkan kebahagiaan mereka, semuanya akan terbakar; semua
jenis makhluk yang telah diciptakan / dibuat oleh Allah, dan semua
pekerjaan-pekerjaan manusia, semuanya harus melewati api, yang akan merupakan
api yang menghabiskan bagi semua yang telah dibawa oleh dosa ke dalam dunia,
sekalipun itu bisa adalah suatu api yang
memurnikan bagi pekerjaan-pekerjaan dari tangan Allah, sehingga gelas dari
ciptaan dibuat jauh lebih terang, orang-orang kudus bisa dengan lebih baik
melihat kemuliaan Tuhan di sana. ... Semua yang dibuat bagi penggunaan manusia
adalah subyek dari kesia-siaan oleh dosa manusia: dan jika dosa manusia telah
membawa surga / langit yang kelihatan, dan elemen-elemen dan bumi, ke bawah
suatu kutuk, dari mana mereka tidak dibebaskan tanpa dihancurkan / dihabiskan
/ dihilangkan, maka betapa dosa itu merupakan suatu kejahatan yang
menjijikkan, dan betapa itu harus sangat kita benci! Dan, karena penghancuran
ini adalah supaya mereka bisa dipulihkan
pada keindahan dan mutu / keunggulan mereka yang asli / mula-mula, betapa kita
harus murni dan kudus supaya kita cocok untuk surga / langit yang baru dan bumi
yang baru, dimana terdapat kebenaran! ... Karena sekalipun tidak bisa tidak itu
menakutkan orang-orang jahat untuk melihat surga / langit yang kelihatan
semuanya ada dalam nyala api, dan elemen-elemen meleleh, tetapi orang-orang
percaya, yang imannya adalah bukti dari hal-hal tidak kelihatan, bisa
bersukacita dalam pengharapan tentang surga / langit yang lebih mulia setelah
yang sekarang ini telah dilelehkan dan dimurnikan
oleh api yang menakutkan yang akan membakar
semua kekotoran dari ciptaan yang kelihatan ini. ... Seperti dalam ay 11 ia mendesak pada kekudusan dari pertimbangan bahwa
‘surga / langit dan bumi akan dihancurkan’, demikian juga dalam ay 14
ia melanjutkan desakannya dari pertimbangan bahwa mereka akan diperbaharui lagi. ‘Melihat bahwa kamu mengharapkan hari Allah,
pada waktu Tuhan Yesus Kristus akan muncul dalam keagunganNya yang mulia, dan
surga / langit dan bumi ini akan dihancurkan dan dilelehkan, dan setelah dimurnikan
dan dibersihkan, akan didirikan dan dibangun kembali, bersiaplah untuk
menemui Dia].
Kedua
penafsir di atas ini mulai dengan menggunakan kata-kata yang seakan-akan
menunjukkan bahwa mereka menganggap bahwa langit dan bumi yang lama akan
dimusnahkan sama sekali, dan lalu diciptakan yang sama sekali baru, tetapi pada
bagian akhirnya ternyata mereka menganggap bahwa langit dan bumi ini hanya
diperbaharui.
d)
Penafsir-penafsir yang tidak memberi pandangannya, atau yang berpandangan
bahwa kita tidak bisa mempunyai kepastian dalam hal ini.
Pulpit
Commentary (tentang ay 13):
“But
it is impossible to pronounce dogmatically whether the new heavens and earth
will be a reproduction of the old in a far more glorious form, through the
agency of the refining fire, or an absolutely new creation, as the words of
Isaiah seem to imply” (= Tetapi adalah mustahil untuk menyatakan secara
dogmatik apakah langit dan bumi yang baru akan merupakan suatu reproduksi dari
yang lama dalam suatu bentuk yang jauh lebih mulia, melalui penggunaan api yang
memurnikan, atau suatu ciptaan yang baru secara mutlak, seperti yang
kelihatannya ditunjukkan secara implicit oleh kata-kata Yesaya).
Sedangkan
Louis Berkhof, seorang ahli theologia Reformed, hanya mengatakan bahwa ahli-ahli
theologia Lutheran memilih pandangan bahwa langit dan bumi yang lama akan
dihancurkan sama sekali, dan lalu diciptakan yang sama sekali baru, sedangkan
ahli-ahli theologia Reformed memilih pandangan bahwa langit dan bumi yang
sekarang ini hanya akan diperbaharui. Tetapi Louis Berkhof sendiri tidak
memberikan pandangannya.
Louis
Berkhof:
“The
question is often raised, whether this will be an entirely new creation, or a
renewal of the present creation. Lutheran theologians strongly favor the
former position with an appeal to 2 Pet. 3:7–13; Rev. 20:11; and 21:1; while
Reformed theologians prefer the latter idea, and find support for it in Ps.
102:26, 27; (Heb. 1:10–12); and Heb. 12:26–28.” [= Pertanyaan sering ditanyakan, apakah ini akan
merupakan suatu ciptaan yang baru sama sekali, atau suatu pembaharuan dari
ciptaan yang sekarang ini. Ahli-ahli theologia Lutheran dengan kuat menyokong
posisi / pandangan yang pertama dengan suatu pertimbangan pada 2Pet 3:7–13; Wah 20:11; dan 21:1; sementara
ahli-ahli theologia Reformed lebih memilih gagasan / pandangan yang belakangan,
dan mendapatkan dukungan untuk itu dalam Maz 102:27,28; (Ibr 1:10–12); dan Ibr
12:26–28.] - ‘Systematic
Theology’, hal 736-737.
Memang
beberapa penafsir dan ahli theologia juga mengatakan hal yang sama. Kelompok
Reformed lebih memilih pembaharuan, sedangkan kelompok Lutheran lebih memilih
pemusnahan dan penciptaan kembali. Tetapi ini hanya ‘pada umumnya’, karena
dari kelompok Lutheran, Lenski justru memilih pandangan bahwa semua hanya akan
diperbaharui, sedangkan dari ahli-ahli theologia / penafsir Reformed juga ada
yang memilih pandangan bahwa semua akan dihancurkan dan lalu diciptakan yang
baru sama sekali, seperti John Owen dan E. J. Young. Dan Alexander Nisbet, yang
juga adalah seorang penafsir Reformed, bukan hanya tidak memberikan
pandangannya, tetapi ia juga menambahkan bahwa lebih baik kita menggunakan
tenaga dan pikiran kita untuk menguduskan diri dari pada untuk mempertanyakan
dan menentukan mana yang benar dari kedua pandangan itu.
Alexander
Nisbet (tentang ay 10): “As for the question which may be stated here, it is much more safe
for us to give time and pains that we may be found of Him in peace at that day,
than to be taken up in enquiring and determining whether the visible heavens and
the earth, and the rest of the creatures of that kind, shall then be totally and
for ever annihilated; or whether there shall be a new edition of them all, or
some of them only” (= Berkenaan dengan pertanyaan yang bisa dinyatakan di
sini, adalah jauh lebih aman bagi kami / kita untuk memberi waktu dan usaha
supaya kita bisa didapati Dia dalam damai pada hari itu, dari pada diambil /
diangkat dalam mempertanyakan / menyelidiki dan menentukan apakah surga / langit
yang kelihatan dan bumi, dan sisa dari makhluk-makhluk dari jenis itu, pada saat
itu akan dimusnahkan secara total dan selama-lamanya; atau apakah di sana akan
ada suatu edisi / perbaikan terhadap mereka semua, atau hanya sebagian dari
mereka) - hal 285-286.
Sekalipun
tidak bisa memastikan 100 %, tetapi setelah menilai argumentasi-argumentasi dari
kedua pandangan utama (no 1 dan no 2), maka saya sangat condong pada pandangan
kedua, yaitu bahwa langit dan bumi yang sekarang ini akan dimusnahkan sama
sekali, lalu diciptakan langit dan bumi yang sama sekali baru, yang tidak
mempunyai kemiripan apapun dengan langit dan bumi yang lama.
Sekarang
kita masuk pada pembahasan sesuatu yang lain. Apakah seseorang percaya pandangan
no 1 atau no 2, tetap ada problem-problem lain yang harus dipecahkan, yaitu:
1.
Kalau begitu dalam hidup sesudah kedatangan Kristus yang keduakalinya ada
3 tempat, yaitu surga, neraka dan langit dan bumi yang baru. Apakah demikian?
2.
Dimana orang-orang percaya akan tinggal? Di surga atau di langit dan bumi
yang baru? Dan kalau dikatakan kita akan tinggal di bumi yang baru, bukankah
itu:
a.
Bertentangan dengan janji-janji Tuhan bahwa orang-orang percaya akan
masuk surga (seperti Yoh 14:1-6 dsb).
b.
Mirip dengan pandangan Saksi Yehuwa, yang mengatakan bahwa orang-orang
percaya yang tidak kebagian tempat di surga akan tinggal di bumi yang
diperbaharui?
Jawaban:
1.
Tidak akan ada 3 tempat setelah kedatangan Kristus yang keduakalinya.
Langit
dan bumi yang baru akan identik dengan surga, atau menjadi bagian dari surga.
Jadi,
orang-orang percaya akan tinggal di bumi yang baru itu, sekaligus tinggal di
surga, karena surga dan bumi yang baru akan menjadi satu.
Pulpit
Commentary (bagian ‘homiletics’):
“Heaven
and earth shall then be very near, the one to the other; for the holy city, new
Jerusalem, shall come down from God out of heaven; and the tabernacle of God
shall be with men, and he will dwell with them. The commonwealth that is in
heaven shall be established (so Holy Scripture seems to teach us) upon the new
earth. It shall come down from heaven, having the glory of God; the throne of
God and of the Lamb shall be in it; there his servants shall serve him. Heaven
will come down to earth; and so the new earth will become a part of heaven, very
closely joined with heaven. God will dwell there with men, and they shall see
him face to face, and live in that new earth the life of heaven; for it is the
unveiled presence of God which makes heaven what it is, the abode of joy, and
love, and holiness, and entranced contemplation of the Divine beauty. Into that
city entereth nothing that defileth; righteousness dwelleth there” [= Pada
saat itu surga / langit dan bumi akan sangat dekat satu dengan yang lain; karena
kota kudus, Yerusalem yang baru, akan turun dari Allah dari surga; dan Kemah
Suci Allah akan ada bersama manusia, dan Ia akan tinggal bersama mereka.
Persemakmuran yang ada di surga akan ditegakkan (demikianlah kelihatannya Kitab
Suci yang Kudus mengajar kita) di bumi yang baru. Itu akan turun dari surga,
dengan kemuliaan Allah; takhta Allah dan Anak Domba akan ada di dalamnya; di
sana pelayan-pelayanNya akan melayani Dia. Surga akan turun ke bumi; dan dengan
demikian bumi yang baru akan menjadi bagian dari surga, dengan sangat dekat
bergabung dengan surga. Allah akan tinggal di sana bersama manusia, dan mereka
akan melihatNya muka dengan muka / berhadapan muka, dan menjalani kehidupan
surga di bumi yang baru; karena kehadiran Allah yang tidak terselubunglah yang
membuat surga sebagai surga, tempat tinggal dari sukacita, dan kasih, dan
kekudusan, dan perenungan yang mempesonakan dari keindahan Ilahi. Ke dalam kota
itu tidak akan masuk apapun yang najis; kebenaran akan tinggal di sana] -
hal 75-76.
Anthony
A. Hoekema: “One gets the impression from certain hymns that glorified
believers will spend eternity in some ethereal heaven somewhere off in space,
far away from the earth. The following lines from the hymn: ‘My Jesus, I Love
Thee’ seem to convey that impression: ‘In mansions of glory and endless
delight / I’ll ever adore thee in heaven so bright.’ But does such a
conception do justice to biblical eschatology? Are we to spend eternity
somewhere off in space, wearing white robes, plucking harps, singing songs, and
flitting from cloud to cloud while doing so? On the contrary, the Bible assures
us that God will create a new earth on which we shall live to God’s praise in
glorified, ressurected bodies. On that new earth, therefore, we hope to spend
eternity, enjoying its beauties, exploring its resources, and using its
treasures to the glory of God. Since God
will make the new earth his dwelling place, and since where God dwells there
heaven is, we shall then continue to be in heaven while we are on the new earth.
For heaven and earth will then no longer be separated,
as they are now, but will be one (see Rev 21:1-3)”
[= Seseorang mendapatkan kesan dari
nyanyian pujian tertentu bahwa orang-orang
percaya yang telah dimuliakan akan menghabiskan kekekalan di surga di atas di
suatu tempat di angkasa, jauh dari bumi. Yang berikut ini adalah baris-baris
dari nyanyian pujian: ‘Yesusku, aku cinta kepadaMu’ kelihatannya memberikan
kesan itu: ‘Di rumah-rumah kemuliaan dan kesenangan yang tak ada akhirnya /
Aku akan selalu memujaMu di surga yang begitu terang’. Tetapi apakah konsep
seperti itu pantas / sesuai dengan eschatology yang alkitabiah? Apakah kita akan
menghabiskan kekekalan di suatu tempat di angkasa, memakai jubah puith,
memainkan kecapi / harpa, menyanyikan lagu-lagu, dan terbang / melayang dari
awan ke awan sambil melakukan hal-hal itu? Sebaliknya, Alkitab meyakinkan
kita bahwa Allah akan menciptakan bumi yang baru dimana kita akan hidup bagi
pujian Allah dalam tubuh yang telah dibangkitkan dan dimuliakan. Karena itu, di
bumi yang baru itu, kita berharap untuk menghabiskan kekekalan, menikmati
keindahannya, menyelidiki sumber-sumbernya, dan menggunakan hartanya untuk
kemuliaan Allah. Karena Allah akan membuat
bumi yang baru tempat tinggalNya, dan karena dimana Allah tinggal di situlah
surga, maka kita akan terus ada di surga sementara kita ada di bumi yang baru.
Karena pada saat itu, surga dan bumi tidak lagi terpisah, seperti mereka
sekarang, tetapi akan menjadi satu (lihat Wah 21:1-3)] - ‘The Bible
and The Future’, hal 274.
Catatan:
saya meragukan bagian yang saya beri garis bawah tunggal itu; entah dari mana ia
mendapatkan hal itu.
Wah
21:1-3 - “(1) Lalu aku melihat langit
yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama
telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi. (2) Dan aku melihat kota yang kudus,
Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan
pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. (3) Lalu aku mendengar suara
yang nyaring dari takhta itu berkata: ‘Lihatlah, kemah Allah ada di
tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan
menjadi umatNya dan Ia akan menjadi Allah mereka”.
Catatan:
seharusnya kalau mau melengkapi pembahasan tentang langit dan bumi yang baru
itu, saya juga harus membahas Wah 21:1-dst, tetapi pembahasannya terlalu banyak
dan sukar, karena tentang istilah ‘Yerusalem yang baru’ itu ada
bermacam-macam pandangan. Karena itu saya kita sebaiknya tentang Wah 21 ini saya
bahas di lain.
Anthony
A. Hoekema: “From
verse 3 we learn that the dwelling place of God will no longer be away from the
earth but on the earth. Since where God dwellls, there heaven is, we conclude
that in this life to come heaven and earth will no longer be separated, as they
are now, but will be merged. Believers will therefore continue to be in heaven
as they continue to live on the new earth” [= Dari ay 3 (maksudnya Wah 21:3) kita belajar bahwa tempat tinggal Allah tidak lagi
akan jauh dari bumi tetapi di bumi. Karena dimana Allah tinggal, di sana surga
ada, kita menyimpulkan bahwa dalam kehidupan yang akan datang ini surga dan bumi
tidak akan terpisah lagi, seperti mereka ada sekarang, tetapi akan bergabung.
Karena itu, orang-orang percaya akan terus ada di surga seperti / pada waktu
mereka terus hidup di bumi yang baru] - ‘The Bible and The
Future’, hal 285.
Pulpit
Commentary (tentang ay 13): “St.
John, like St. Peter, speaks of a new earth, and tells us that that new earth
will be the dwelling-place of the blessed. He saw the holy city, new Jerusalem,
coming down from God out of heaven; the throne of God and of the Lamb (he tells
us) shall be in it: ‘The tabernacle of God is with men, and he will dwell with
them.’ The holy city, Jerusalem, which is above, is in heaven now; the
commonwealth of which the saints are citizens is in heaven (Phil 3:20). But
heaven will come down to earth; the throne of God and of the Lamb shall be
there; there his servants shall serve him. The distinction between earth and
heaven will be abolished; for where God is, there is heaven” [=
Santo Yohanes, seperti Santo Petrus, berbicara tentang suatu bumi yang baru, dan
memberitahu kita bahwa bumi baru itu akan menjadi tempat tinggal dari
orang-orang yang diberkati. Ia melihat kota kudus, Yerusalem yang baru, turun
dari Allah dari surga; takhta dari Allah dan dari Anak Domba (ia memberitahu
kita) akan ada di dalamnya: ‘Kemah Allah ada bersama manusia, dan Ia akan
tinggal bersama mereka’. Kota kudus, Yerusalem, yang ada di atas, ada di surga
sekarang; persemakmuran dimana orang-orang kudus adalah warga negara - warga
negara ada di surga (Fil 3:20). Tetapi surga akan turun ke bumi; takhta dari
Allah dan dari Anak Domba akan ada di sana; di sana pelayan-pelayanNya akan
melayani Dia. Perbedaan antara bumi dan surga akan dihapuskan; karena dimana
Allah ada di situlah surga].
Catatan
/ komentar saya: saya agak bingung
dengan kata-kata ‘dimana Allah ada di situlah surga’. Mengapa? Karena Allah
maha ada, sehingga kalau demikian, maka surga itu juga akan ada di mana-mana.
2.
Pandangan ini berbeda dengan pandangan Saksi Yehuwa yang mengatakan bahwa
hanya 144.000 orang (hurufiah) yang akan tinggal di surga, sedangkan sisanya,
yang tidak kebagian tempat di surga, akan tinggal di bumi yang telah
disempurnakan, yang mereka sebut ‘Firdaus’. Mengapa, dan apa bedanya? Karena
mereka tetap membedakan surga dan bumi yang disempurnakan itu, sedangkan para
penafsir dan ahli theologia di atas ini mengatakan bahwa keduanya (surga dan
bumi yang baru) bergabung menjadi satu.
-o0o-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali