Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

Rabu, tanggal 16 November 2011, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(7064-1331 / 6050-1331)

[email protected]

 

II Petrus 3:1-18(8)

 

i)    Hal-hal yang perlu diperhatikan berkenaan dengan pertumbuhan.

 

1.         Pertumbuhan yang ideal / bagus.

 

The Biblical Illustrator (New Testament): The true growth of a Christian is proportionable and uniform; by which I mean that he is one who grows in all his parts. The new man is not monstrous in its accretion (= Pertumbuhan yang benar dari seorang Kristen adalah seimbang dan seragam / merata; dengan mana saya memaksudkan bahwa ia adalah seseorang yang bertumbuh dalam semua bagian-bagiannya. Orang yang baru tidaklah bersifat aneh / abnormal / seperti monster dalam pertumbuhannya).

Catatan: menurut saya, yang ideal seperti ini jarang ada, atau mungkin, bahkan tidak pernah ada.

 

Pulpit Commentary: “We are to grow in self-abasement, in power of work, in power of concentrating the mind on the truth, in power to bear hardships and injuries. We are to grow especially in that in which we find ourselves to be deficient (= Kita harus bertumbuh dalam perendahan diri sendiri, dalam kuasa dari pekerjaan, dalam kuasa tentang mengkonsentrasikan pikiran pada kebenaran, dalam kuasa untuk memikul kesukaran / penderitaan dan kerugian / ketidak-adilan. Kita harus bertumbuh khususnya dalam hal dimana kita mendapati diri kita sendiri kurang / tidak sempurna).

 

2.         Peringatan untuk orang yang mau / ingin bertumbuh.

The Biblical Illustrator (New Testament): He who will grow in grace must be READY TO SUFFER. The natural life in us dies not without some species of internal agony. For one Christian God has one form of trial; for another, another form (= Ia yang mau bertumbuh dalam kasih karunia harus SIAP untuk menderita. Kehidupan alamiah di dalam kita tidak akan mati tanpa sejenis penderitaan di dalam / batin. Untuk satu orang Kristen, Allah mempunyai satu bentuk ujian; untuk orang Kristen yang lain, bentuk yang lain).

The Bible Exposition Commentary: New Testament: Growing in grace often means experiencing trials and even suffering. We never really experience the grace of God until we are at the end of our own resources. The lessons learned in the ‘school of grace’ are always costly lessons, but they are worth it (= Bertumbuh dalam kasih karunia sering berarti mengalami ujian-ujian dan bahkan penderitaan. Kita tidak pernah sungguh-sungguh mengalami kasih karunia Allah sampai kita berada pada akhir dari sumber-sumber kita sendiri. Pelajaran yang dipelajari dalam ‘sekolah dari kasih karunia’ selalu merupakan pelajaran yang mahal, tetapi mereka memang sepadan untuk itu).

 

3.         Sifat-sifat / ciri-ciri dari pertumbuhan.

 

The Biblical Illustrator (New Testament): THE CHARACTERISTICS OF GROWTH. 1. The first characteristic of growth that we would notice is its silence. It is of all things the most calm, the most quiet, the most dignified. Whatever else may give rise to agitation and commotion and excitement, it is not spiritual growth. ... 2. A second characteristic of growth is, that it is a gradual process. People sometimes feel discouraged by the littleness of their attainments in the Christian life and the tardiness of their spiritual growth, and too often there is cause for humiliation on this score; but, for my part, I would prefer the slowest rate of progress that is compatible with growth to that unnatural rapidity of development that is sure to fall into rapid consumption. ... 3. There are many other characteristics of growth, but of these we shall mention only one, and that is the tendency of growth whenever found to develop in a definite direction. ... Spiritual growth is in a definite direction. It tends to a perfect type. It advances in the direction of Christ (= Ciri-ciri dari pertumbuhan. 1. Ciri pertama dari pertumbuhan yang akan kita perhatikan adalah ke-diam-annya. Dari semua hal itu adalah yang paling tenang, paling diam, paling bermartabat. Apapun yang lain yang meningkatkan pergolakan dan keributan / huru hara dan kegemparan / kehebohan, itu bukanlah pertumbuhan rohani. ... 2. Ciri kedua dari pertumbuhan adalah, bahwa itu merupakan suatu proses perlahan-lahan. Orang-orang kadang-kadang merasa kecil hati oleh kecilnya pencapaian-pencapaian mereka dalam kehidupan Kristen dan kelambatan dari pertumbuhan rohani mereka, dan terlalu sering ini menyebabkan perendahan dari penilaian ini; tetapi, untuk saya sendiri, saya lebih memilih kemajuan yang paling lambat yang cocok dengan pertumbuhan dari pada kecepatan yang tidak alamiah / tidak wajar dari perkembangan yang pasti jatuh pada penghancuran yang cepat. ... 3. Ada banyak ciri lain dari pertumbuhan, tetapi tentang hal-hal ini kita hanya akan menyebutkan satu saja, dan itu merupakan kecenderungan dari pertumbuhan dimanapun itu ditemukan, untuk berkembang ke arah yang tertentu. ... Pertumbuhan rohani ada dalam arah tertentu. Itu cenderung pada type yang sempurna. Itu maju ke arah Kristus).

Catatan:

a.   Untuk point pertama, saya kira perlu diwaspadai untuk tidak salah paham dalam hal ke-diam-annya. Yang dipersoalkan oleh penafsir ini adalah pertumbuhan rohani di dalam diri seseorang. Kalau pertumbuhan gereja, maka sering ada pergolakan. Perhatikan pelayanan dari Yesus sendiri, ataupun dari Paulus, yang sering menimbulkan pergolakan, karena adanya banyak orang yang menentang! Demikian juga kalau kita melihat pada Reformasi oleh Martin Luther pada tahun 1517.

b.   Untuk point kedua, bandingkan dengan praktek penengkingan segala macam roh (roh dusta, roh zinah dsb) dalam kalangan Kharismatik. Kalau ini memungkinkan, itu bukan proses perlahan-lahan tetapi suatu proses mendadak / seketika. Tidak ada pertumbuhan seperti itu!

c.   Untuk point ketiga, bandingkan dengan Ef 4:11-15 - “(11) Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, (12) untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, (13) sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, (14) sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, (15) tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.

 

4.         Pendeta harus bertumbuh, supaya gereja bisa bertumbuh.

The Biblical Illustrator (New Testament): Unless ministers grow in grace it is impossible for the Church to grow. ‘Like priest like people’ is a maxim founded on principles of correct philosophy (= Kecuali pendeta-pendeta / pelayan-pelayan bertumbuh dalam kasih karunia adalah mustahil bagi Gereja untuk bertumbuh. ‘Umat / jemaat akan seperti imamnya’ merupakan suatu pepatah yang didasarkan pada prinsip-prinsip filsafat yang benar).

 

2)         dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.

 

The Biblical Illustrator (New Testament): Grow in the knowledge of Christ, then. And do ye ask me why? Oh! if ye have ever known Him you will not ask that question. He that longs not to know more of Christ, knows nothing of Him yet (= Maka, bertumbuhlah dalam pengenalan akan Kristus. Dan apakah engkau bertanya kepadaku mengapa? Oh! jika engkau pernah mengenalNya, engkau tidak akan menanyakan pertanyaan itu. Ia yang tidak rindu untuk lebih mengenal Kristus, belum mengenalNya).

Bdk. Fil 3:7-11 - “(7) Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. (8) Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, (9) dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan. (10) Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya, (11) supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati”.

 

The Biblical Illustrator (New Testament): If knowledge be necessary to promote the growth of grace, then the most instructive preaching must be the most profitable (= Jika pengenalan / pengetahuan adalah perlu untuk memajukan pertumbuhan dari kasih karunia, maka khotbah yang paling mengandung pelajaran pastilah yang paling berguna).

Catatan: bandingkan kata-kata ini dengan khotbah-khotbah jaman sekarang, yang pada umumnya tidak ada isinya, dan dipenuhi hanya dengan lelucon, cerita, kesaksian dan sebagainya. Pengkhotbah yang tidak banyak belajar tidak mungkin bisa memberikan khotbah yang banyak mengandung pelajaran! Karena itu setiap pengkhotbah harus mendisiplinkan dirinya untuk belajar Firman Tuhan!

 

The Bible Exposition Commentary: New Testament: We must also grow in knowledge. How easy it is to grow in knowledge but not in grace! All of us know far more of the Bible than we really live. Knowledge without grace is a terrible weapon, and grace without knowledge can be very shallow. But when we combine grace and knowledge, we have a marvelous tool for building our lives and for building the church. But note that we are challenged to grow, not just in knowledge of the Bible, as good as that is, but ‘in the knowledge of our Lord and Saviour Jesus Christ.’ It is one thing to ‘know the Bible,’ and quite another thing to know the Son of God, the central theme of the Bible. The better we know Christ through the Word, the more we grow in grace; the more we grow in grace, the better we understand the Word of God (= Kita juga harus bertumbuh dalam pengetahuan. Alangkah mudahnya untuk bertumbuh dalam pengetahuan tetapi tidak dalam kasih karunia! Semua kita tahu jauh lebih banyak dari Alkitab dari pada yang sungguh-sungguh kita jalani. Pengetahuan tanpa kasih karunia merupakan suatu senjata yang mengerikan / dahsyat, dan kasih karunia tanpa pengetahuan bisa sangat dangkal. Tetapi pada waktu kita menggabungkan kasih karunia dan pengetahuan, kita mempunyai suatu alat yang sangat bagus untuk membangun kehidupan kita dan untuk membangun gereja kita. Tetapi perhatikan bahwa kita ditantang untuk bertumbuh, bukan hanya dalam pengetahuan Alkitab, betatapun baiknya hal itu, tetapi ‘dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita Yesus Kristus’. Mengetahui Alkitab sangat berbeda dengan mengenal Anak Allah, thema pokok dari Alkitab. Makin baik kita mengenal Kristus melalui Firman, makin kita bertumbuh dalam kasih karunia; makin kita bertumbuh dalam kasih karunia, makin baik kita mengerti Firman Allah).

Catatan: dalam bahasa Inggris, kata ‘know’ bisa diterjemahkan ‘tahu’ atau ‘kenal’, sedangkan kata ‘knowledge’ bisa diterjemahkan ‘pengetahuan’ atau ‘pengenalan’. Dalam bahasa Indonesia kedua hal ini berbeda. Kita tidak bisa mempunyai pengenalan tanpa pengetahuan, tetapi kalau kita mempunyai pengetahuan, kita belum tentu mempunyai pengenalan. Ini merupakan sesuatu yang harus sangat diwaspadai oleh orang-orang Kristen yang mempunyai intelek yang tinggi, supaya jangan bertumbuh hanya dalam pengetahuan, tetapi tidak dalam pengenalan!

 

Pulpit Commentary: “In the knowledge of the Lord Jesus Christ. Paul prayed, on behalf of the Colossians, that they might increase in the knowledge of God. And our Lord himself deemed this knowledge so important that he made it a petition of his great intercessory prayer that his disciples might ‘know the only true God, and Jesus Christ whom he had sent.’ Now, all human knowledge is susceptible of increase; and the Lord and Saviour in whom we trust is a theme, an object of knowledge, so vast as to be inexhaustible” (= Dalam pengenalan akan Tuhan Yesus Kristus. Paulus berdoa untuk jemaat Kolose supaya mereka bisa bertambah dalam pengenalan akan Allah. Dan Tuhan kita sendiri menganggap pengenalan ini begitu penting sehingga Ia membuatnya sebagai suatu permohonan dari doa syafaatNya yang agung supaya murid-muridNya bisa ‘mengenal satu-satunya Allah yang benar, dan Yesus Kristus yang telah Ia utus’. Semua pengetahuan / pengenalan manusia memungkinkan pertambahan; dan Tuhan dan Juruselamat, kepada siapa kita percaya, adalah suatu thema, suatu tujuan dari pengetahuan / pengenalan, begitu luas sehingga menjadi tidak habis-habisnya).

Catatan:

a)   Mungkin ayat yang dimaksudkan adalah Kol 1:9-10 - “(9) Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, (10) sehingga hidupmu layak di hadapanNya serta berkenan kepadaNya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah.

b)   Sedangkan tentang doa syafaat Yesus ada dalam Yoh 17:3 - “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus”, tetapi kelihatannya ini bukan merupakan suatu permohonan.

 

The Bible Exposition Commentary: New Testament: So, the separated Christian must constantly be guarding himself, lest he be led away into error; he also must be constantly growing in grace and knowledge. This requires diligence! It demands discipline and priorities. Nobody automatically drifts into spiritual growth and stability, but anybody can drift out of dedication and growth. ‘For this reason we must pay much closer attention to what we have heard, lest we drift away from it’ (Heb 2:1, NASB). Just as the boat needs the anchor, so the Christian needs the Word of God [= Maka, orang-orang Kristen masing-masing harus terus menerus menjaga dirinya sendiri, supaya jangan ia disimpangkan pada kesalahan; ia juga harus terus menerus bertumbuh dalam kasih karunia dan pengetahuan. Ini membutuhkan kerajinan! Ini menuntut disiplin dan prioritas. Tak seorangpun secara otomatis hanyut ke dalam pertumbuhan dan kestabilan rohani, tetapi siapapun bisa hanyut dan meninggalkan dedikasi dan pertumbuhan. ‘Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus’ (Ibr 2:1). Sama seperti perahu membutuhkan jangkar, demikian juga orang Kristen membutuhkan Firman Allah].

 

Matthew Henry: That we may the better avoid being led away, the apostle directs us what to do, v. 18. And, (1.) We must grow in grace. He had in the beginning of the epistle exhorted us to add one grace to another, and here he advises us to grow in all grace, in faith, and virtue, and knowledge. ... (2.) We must grow in the knowledge of our Lord Jesus Christ. ... Such a knowledge of Christ as conforms us more to him, and endears him more to us, must needs be of great use to us, to preserve us from falling off in times of general apostasy [= Supaya kita bisa makin baik menghindari penyimpangan / penyesatan, sang rasul menunjukkan kita apa yang harus kita lakukan, ay 18. Dan, (1) Kita harus bertumbuh dalam kasih karunia. Ia, pada awal dari surat ini, telah mendesak kita untuk menambahkan satu kasih karunia pada kasih karunia yang lain, dan di sini ia menasehati kita untuk bertumbuh dalam semua kasih karunia, dalam iman, dan kebaikan, dan pengetahuan. ... (2) Kita harus bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan kita Yesus Kristus. ... Pengenalan seperti itu tentang Kristus lebih menyesuaikan kita dengan Dia, dan membuat kita lebih menyayangi Dia, pasti sangat bermanfaat bagi kita, untuk menjaga kita dari jatuh pada masa penyesatan umum].

 

Adam Clarke: “The life of a Christian is a growth; he is at first born of God, and is a little child; becomes a young man, and a father in Christ. Every father was once an infant; and had he not grown, he would have never been a man. Those who content themselves with the grace they received when converted to God, are, at best, in a continual state of infancy: but we find, in the order of nature, that the infant that does not grow, and grow daily, too, is sickly and soon dies; so, in the order of grace, those who do not grow up into Jesus Christ are sickly, and will soon die, die to all sense and influence of heavenly things. There are many who boast of the grace of their conversion; persons who were never more than babes, and have long since lost even that grace, because they did not grow in it” (= Kehidupan dari seorang Kristen adalah suatu pertumbuhan; ia mula dilahirkan dari Allah, dan adalah seorang anak kecil; menjadi seorang muda, dan seorang bapa dalam Kristus. Setiap bapa dulu pernah adalah seorang bayi; dan seandainya ia tidak bertumbuh, ia tidak akan pernah menjadi seorang manusia dewasa. Mereka yang puas dengan kasih karunia yang mereka terima pada waktu bertobat kepada Allah, paling-paling terus ada dalam kondisi bayi: tetapi kita mendapati, dalam pengaturan alam, bahwa bayi yang tidak bertumbuh, dan juga bertumbuh setiap hari, adalah sakit dan segera mati; demikian juga dalam pengaturan kasih karunia, mereka yang tidak bertumbuh kepada Yesus Kristus adalah sakit, dan akan segara mati, mati terhadap semua pengertian / perasaan dan pengaruh dari hal-hal surgawi. Ada banyak orang yang membanggakan kasih karunia dari pertobatan mereka; orang-orang yang tidak pernah lebih dari bayi-bayi, dan sudah sejak lama kehilangan, bahkan kasih karunia itu, karena mereka tidak bertumbuh di dalamnya).

Catatan: Adam Clarke, yang memang adalah orang Arminian ini, menggunakan seadanya ayat untuk menekankan bahwa keselamatan bisa hilang! Tidak perlu diragukan bahwa ada banyak orang yang kelihatannya kristen, dan kelihatannya sungguh-sungguh sudah bertobat dan percaya kepada Yesus, yang akhirnya terhilang. Tetapi siapa yang bisa tahu apakah mereka sungguh-sungguh Kristen / percaya kepada Yesus? Menurut pandangan Reformed, semua orang yang tadinya kelihatannya percaya, tetapi lalu terhilang, sebetulnya tadinya hanya orang kristen KTP, dan tidak pernah menjadi orang Kristen yang sejati! Ia bukannya kehilangan kasih karunia ataupun keselamatannya, tetapi ia tidak pernah betul-betul ada dalam kasih karunia itu / tidak pernah sungguh-sungguh selamat!

Bandingkan dengan:

 

3)         BagiNya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.

KJV/NIV: To him be glory both now and forever! Amen (= BagiNyalah kemuliaan baik sekarang dan selama-lamanya! Amin).

RSV/NASB: To him be the glory both now and to the day of eternity. Amen. (= BagiNyalah kemuliaan baik sekarang dan sampai pada hari dari kekekalan. Amin).

 

a)   Semua terjemahan Kitab Suci bahasa Inggris mengakhiri ay 18 dengan kata ‘Amin’. Entah mengapa dalam Kitab Suci Indonesia kata ini dihapuskan.

 

b)   Kata-kata ini ditujukan kepada Kristus, dan ini membuktikan keilahianNya.

Ay 18: “Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. BagiNya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya”.

Yang terakhir dibicarakan / disebutkan pada kalimat sebelumnya adalah ‘Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus’. Jadi, kata ‘Nya’ yang saya beri garis bawah ganda itu pasti menunjuk kepada Yesus. Dan kalau doxology ini ditujukan kepada Yesus, maka jelas bahwa Ia haruslah Allah sendiri.

 

Calvin: “‘To him be glory.’ This is a remarkable passage to prove the divinity of Christ; for what is said cannot belong to any but to God alone (= ‘BagiNyalah kemuliaan’. Ini merupakan text yang hebat / luar biasa untuk membuktikan keilahian Kristus; karena apa yang dikatakan tidak bisa menjadi milik siapapun kecuali Allah saja).

 

c)   ‘selama-lamanya’.

Terjemahan hurufiahnya adalah seperti dalam RSV/NASB: ‘to the day of eternity’ (= sampai hari dari kekekalan).

 

1.   Banyak penafsir yang menafsirkan bahwa ungkapan ini menunjukkan bahwa dalam kekekalan nanti ‘waktu’ tidak ada lagi.

 

Adam Clarke: and forever, ‎eis ‎‎heemeran ‎‎aioonos‎, ‘to the day of eternity,’ that in which death, and misery, and trial, and darkness, and change, and time itself, are to the righteous forever at an end: it is eternity; and this eternity is one unalterable, interminable, unclouded, and unchangeable DAY! (= ‘dan selama-lamanya’. eis ‎‎heemeran ‎‎aioonos‎, ‘sampai hari dari kekekalan’, yaitu hari dimana kematian, dan kesengsaraan, dan ujian / pencobaan, dan kegelapan, dan perubahan, dan waktu itu sendiri, ada pada akhirnya bagi orang-orang benar: itu adalah kekekalan, dan kekekalan ini adalah satu HARI yang tak berubah, tidak berkesudahan, tidak ada keredupan / kegelapan, tidak bisa berubah!).

 

Pulpit Commentary: “‘For ever’ is, literally, ‘for the day of the age or of eternity (ei)$ h(mera\n ai)w=no$).’ This remarkable expression is found only here, and is variously interpreted. ... Huther as, ‘the day on which eternity begins as contrasted with time, but which day is likewise all eternity itself.’ Fronmuller quotes St. Augustine: ‘It is only one day, but an everlasting day, without yesterday to precede it, and without tomorrow to follow it; not brought forth by the natural sun, which shall exist no more, but by Christ, the Sun of Righteousness.’” [= ‘Selama-lamanya’, secara hurufiah adalah ‘untuk hari dari jaman atau dari kekekalan (ei)$ h(mera\n ai)w=no$ / EIS HEMERAN AIONOS)’. Ungkapan yang luar biasa ini hanya ditemukan di sini, dan ditafsirkan secara bervariasi. ... Huther menafsirkan sebagai, ‘hari dimana kekekalan dimulai pada saat dikontraskan dengan waktu, tetapi hari itu adalah seperti seluruh kekekalan itu sendiri’. Fronmuller mengutip Agustinus: ‘Itu hanyalah satu hari, tetapi suatu hari yang kekal, tanpa kemarin yang mendahuluinya, dan tanpa besok yang mengikutinya; tidak dilahirkan oleh matahari alamiah, yang tidak mempunyai keberadaan lagi, tetapi oleh Kristus, Matahari dari Kebenaran’].

 

Pulpit Commentary: “To him be glory for ever, literally, ‘to the day of the age’ - the day on which eternity, as contrasted with time, begins, and which is never to be broken up, but is to be one long day” (= BagiNyalah kemuliaan selama-lamanya, secara hurufiah, ‘sampai hari dari jaman’ - hari dimana kekekalan, dikontraskan dengan waktu, mulai, dan yang tidak pernah terputus, tetapi akan merupakan satu hari yang panjang).

 

2.   Saya tak percaya bahwa dalam kekekalan nanti (di surga) maka tidak ada lagi waktu. Ini sudah saya bahas secara mendetail dalam pembahasan tentang 2Pet 3:8 di depan, dan akan saya ulangi di sini, dalam seluruh bagian yang ada dalam kotak di bawah ini.

 

William Hendriksen mengatakan dalam bukunya yang berjudul ‘The Bible on the Life Hereafter’, hal 72, mengatakan bahwa banyak orang, termasuk seorang ahli theologia Reformed bernama Kuyper mengatakan bahwa dalam kekekalan nanti tidak ada lagi waktu. Pandangan ini didasarkan pada Wah 10:6 (KJV): ‘And sware by him that liveth for ever and ever, who created heaven, and the things that therein are, and the earth, and the things that therein are, and the sea, and the things which are therein, that there should be time no longer (= Dan bersumpah demi Dia yang hidup selama-lamanya, yang telah menciptakan langit dan segala isinya, dan bumi dan segala isinya, dan laut dan segala isinya, bahwa di sana tidak akan ada waktu lagi).

 

Tetapi baik Kitab Suci Indonesia maupun Kitab Suci bahasa Inggris yang lain menterjemahkan ‘delay’ / ‘penundaan’ bukan ‘waktu’!

Kitab Suci Indonesia: “dan ia bersumpah demi Dia yang hidup sampai selama-lamanya, yang telah menciptakan langit dan segala isinya, dan bumi dan segala isinya, dan laut dan segala isinya, katanya: ‘Tidak akan ada penundaan lagi!”.

RSV: there should be no more delay (= di sana tidak ada penundaan lagi).

NIV: There will be no more delay (= Di sana tidak ada penundaan lagi).

NASB: that there will be delay no longer (= bahwa di sana tidak ada penundaan lagi).

 

Dan dalam buku yang sama hal 73 William Hendriksen memberikan dua kutipan dari 2 orang ahli theologia Reformed, yaitu Vos dan Bavinck, yang akan saya berikan di bawah ini:

 

Kutipan dari Vos: “Paul nowhere affirms that to the life of man, after the close of this aeon, no more duration, no more divisibility in time-units shall exist. Life so conceived is plainly the prerogative by nature of the Creator: to externalize the inhabitants of the coming aeoon in this sense would be equivalent to deifying them, a thought whose place is in a pagan type of speculation but not within the range of biblical religion” (= Paulus tidak menegaskan dimanapun bahwa bagi hidup manusia, setelah akhir dari jaman ini, tidak ada lagi masa / durasi, tidak ada lagi ke-dapat-dibagi-an dalam unit-unit waktu akan ada. Kehidupan yang dimengerti seperti itu dengan jelas merupakan hak istimewa secara alamiah dari sang Pencipta: mengekalkan / menjadikan kekal penghuni-penghuni dari jaman yang akan datang dalam arti ini adalah sama dengan mendewakan mereka / menjadikan mereka Allah, suatu pemikiran yang tempatnya adalah dalam suatu type spekulasi kafir tetapi bukan dalam jenis / kelas dari agama yang Alkitabiah) - ‘The Bible on the Life Hereafter’, hal 73.

 

Kutipan dari Bavinck: “Those who have died remain finite and limited beings and cannot exist in any other way than in space and time. The measurement of space and the computation of time, to be sure, will be entirely different on the other side of the grave than they are here, where miles and hours are our standard of measurement. But even the souls that dwell there will not become eternal and omnipresent like God ... They are not raised above every form of time, that is, above time in the sense of succession of moments” (= Mereka yang telah mati tetap adalah makhluk-makhluk yang terbatas dan tidak bisa berada dengan cara lain apapun dari pada dalam ruang dan waktu. Ukuran ruang dan perhitungan waktu jelas akan berbeda pada sisi lain dari kubur dari pada mereka di sini, dimana mil-mil dan jam-jam adalah standard ukuran kita. Tetapi bahkan jiwa-jiwa yang tinggal di sana tidak akan menjadi kekal dan maha hadir / maha ada seperti Allah ... Mereka tidak diangkat mengatasi setiap bentuk dari waktu, artinya, di atas waktu dalam arti penggantian / urut-urutan dari saat-saat) - ‘The Bible on the Life Hereafter’, hal 73.

 

William Hendriksen: “So, when the question is asked, ‘Is there time in heaven?’ namely, in the sense of movement from the past, into the present, into the future - call it duration or succession of movements -, the answer must be, ‘Yes.’ When the further question is asked, ‘Will it in every respect be time as we now know it (that is, will it be measured by our present earthly standards?), the answer will have to be ‘No.’” [= Jadi, pada waktu suatu pertanyaan ditanyakan, ‘Apakah ada waktu di surga?’ yaitu, dalam arti dari pergerakan / perpindahan dari lampau, ke dalam saat ini / present, ke dalam yang akan datang- sebutlah itu masa / durasi atau penggantian / urut-urutan dari pergerakan / perpindahan -, jawabannya haruslah ‘Ya’. Pada waktu pertanyaan selanjutnya ditanyakan, ‘Apakah itu dalam setiap hal adalah waktu yang kita kenal sekarang ini (yaitu, apakah waktu itu akan diukur oleh standard duniawi kita sekarang ini?), jawabannya harus adalah ‘Tidak’.] - ‘The Bible on the Life Hereafter’, hal 73-74.

 

Karena itu, saya lebih memilih penafsiran di bawah ini.

A. T. Robertson: One of the various ways of expressing eternity by the use of ‎aioon [= Salah satu dari bermacam-macam cara untuk menyatakan kekekalan dengan penggunaan dari AION (= age / jaman)].

Dengan kata lain, artinya hanyalah sekedar ‘kekal’ atau ‘selama-lamanya’.

 

Penutup.

 

Sebagai penutup, ada sedikit komentar dari Adam Clarke tentang kedua surat Petrus dan ajaran Gereja Roma Katolik.

 

Adam Clarke: “We have now passed over all the canonical writings of Peter that are extant; and it is worthy of remark that, in no place of the two letters already examined, nor in any of this apostle’s sayings in any other parts of the sacred writings do we find any of the peculiar tenets of the Romish church: not one word of his or (of?) the pope’s supremacy; not one word of those who affect to be his successors; nothing of the infallibility claimed by those pretended successors; nothing of purgatory, penances, pilgrimages, auricular confession, power of the keys, indulgences, extreme unction, masses, and prayers for the dead; and not one word on the most essential doctrine of the Romish church, transubstantiation. Now, as all these things have been considered by themselves most essential to the being of that church; is it not strange that he, from whom they profess to derive all their power, authority, and influence, in spiritual and secular matters, should have said nothing of these most necessary things? Is it not a proof that they are all false and forged; that the holy apostle knew nothing of them; that they are no part of the doctrine of God; and, although they distinguish the church of Rome, do not belong to the church of Christ? It is no wonder that the rulers of this church endeavour to keep the Scriptures from the common people; for, were they permitted to consult these, the imposture would be detected, and the solemn, destructive cheat at once exposed” [= Kita sekarang telah melewati semua tulisan kanonik dari Petrus yang masih ada; dan adalah layak untuk diperhatikan bahwa, tidak ada tempat manapun dari kedua surat yang sudah diperiksa, ataupun dalam perkataan manapun dari rasul ini di bagian-bagian lain manapun dari tulisan-tulisan kudus, kita menemukan ajaran khas dari Gereja Roma (Katolik): tidak satu katapun darinya atau (tentang?) keunggulan dari paus; tak satu katapun tentang mereka yang berpura-pura menjadi pengganti-penggantinya; tak ada apapun tentang ketidak-bisa-bersalahan yang diclaim oleh mereka yang berpura-pura menjadi pengganti-penggantinya; tak ada apapun tentang api penyucian, pengakuan dosa, perjalanan ziarah, pengakuan yang diucapkan langsung ke telinga, kuasa tentang kunci-kunci, pengampunan dosa (indulgence), sakramen perminyakan, misa, dan doa-doa untuk orang mati; dan tidak satu katapun tentang doktrin yang paling penting dari Gereja Roma, transubstantiation (= a change of substance / perubahan zat). Sekarang, karena semua hal-hal ini telah dianggap oleh mereka sendiri sebagai hal-hal yang paling penting bagi keberadaan dari gereja itu; tidakkah aneh bahwa ia, dari siapa mereka mengaku mendapat semua kuasa, otoritas, dan pengaruh, dalam persoalan-persoalan rohani dan sekuler, tidak mengatakan apa-apa tentang hal-hal yang paling perlu itu? Tidakkah ini merupakan suatu bukti bahwa hal-hal itu dusta dan dipalsukan; bahwa sang rasul yang kudus tak tahu apapun tentang hal-hal itu; bahwa mereka bukanlah bagian dari doktrin / ajaran dari Allah; dan, sekalipun mereka membedakan gereja Roma, tidak termasuk dalam gereja Kristus? Tidak heran bahwa penguasa-penguasa gereja ini berusaha untuk menjaga / mencegah Kitab Suci dari orang-orang biasa / awam; karena, pada waktu mereka diijinkan untuk mencari keterangan dari Kitab Suci, penipuan itu akan terdeteksi, dan penipuan yang kudus dan bersifat merusak itu segera terbuka].

 

Catatan: pada jaman dahulu, memang orang Katolik dilarang membaca, atau bahkan sekedar mempunyai Alkitab. Tetapi sekarang itu sudah berubah, dan mereka malah dianjurkan untuk membaca Alkitab. Ada dua hal yang perlu diperhatikan berkenaan dengan hal ini. Pertama, itu menunjukkan bahwa ajaran yang mereka claim sebagai tidak bisa salah, ternyata bisa salah. Dan kalau bisa salah dalam hal yang satu ini, mengapa tidak bisa salah dalam hal-hal yang lain? Kedua, setelah diijinkan, dan bahkan dianjurkan, untuk membaca Alkitab, saya tidak melihat ada protes dari orang-orang Katolik bahwa ajaran gereja mereka tidak sesuai, dan bahkan bertentangan, dengan Alkitab. Mengapa? Karena mereka memang tidak dididik untuk tunduk pada otoritas Alkitab / Firman Tuhan, tetapi dididik untuk lebih tunduk pada gereja, Sidang Gereja, keputusan Paus dan sebagainya.

 

-o0o-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali