Pemahaman
Alkitab
(Rungkut Megah
Raya, blok D no 16)
Kamis, tanggal
24 Maret 2011, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331
/ 6050-1331)
II Petrus 2:1-22(12)
7)
“Mereka
menjanjikan kemerdekaan kepada orang lain, padahal mereka sendiri adalah
hamba-hamba kebinasaan, karena siapa yang dikalahkan orang, ia adalah hamba
orang itu” (ay 19).
Calvin:
“The name of liberty is sweet, and they abused it for this end, that the
hearer, being loosed from the fear of the divine law, might abandon himself unto
unbridled licentiousness. But the liberty which Christ has procured for us, and
which he offers daily by the gospel, is altogether different, for he has
exempted us from the yoke of the law as far as it subjects us to a curse, that
he might also deliver us from the dominion of sin, as far as it subjects us to
its own lusts. Hence, where lusts reign, and therefore where the flesh rules,
there the liberty of Christ has no place whatever. The Apostle then declares
this to all the godly, that they might not desire any other liberty but that
which leads those, who are set free from sin, to a willing obedience to
righteousness. We hence learn that there have ever been depraved men who made a
false pretense to liberty, and that this has been an old cunning trick of Satan.
We need not wonder that at this day the same filth is stirred up by fanatical
men”
(= Nama / sebutan ‘kemerdekaan’ adalah manis, dan mereka menyalah-gunakan
untuk tujuan ini, supaya pendengar, yang dilepaskan dari rasa takut terhadap
hukum ilahi, bisa menyerahkan diri mereka sendiri pada ketidak-bermoralan yang
tidak dikekang. Tetapi kemerdekaan yang Kristus telah peroleh / dapatkan bagi
kita, dan yang Ia tawarkan setiap hari bagi kita oleh injil, adalah sama sekali
berbeda, karena Ia telah membebaskan kita dari kuk hukum Taurat sejauh hukum
Taurat itu menundukkan kita pada suatu kutuk. Jadi, dimana nafsu-nafsu
bertakhta, dan karena itu dimana daging memerintah, di sana kemerdekaan Kristus
tidak mempunyai tempat apapun. Lalu sang Rasul menyatakan ini kepada semua orang
saleh, supaya mereka tidak menginginkan kemerdekaan yang lain manapun kecuali
kemerdekaan yang membimbing mereka, yang dibebaskan dari dosa, pada suatu
ketaatan yang rela pada kebenaran. Maka kita belajar bahwa di sana selalu ada
orang-orang bejat yang membuat suatu kepura-puraan yang palsu pada kemerdekaan,
dan bahwa ini telah menjadi suatu tipu muslihat yang licik dari Iblis. Kita
tidak perlu heran bahwa pada jaman ini kotoran yang sama digerakkan oleh
orang-orang yang fanatik).
Bdk.
Yoh 8:30-36 - “(30) Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya
kepadaNya. (31) Maka kataNya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepadaNya:
‘Jikalau kamu tetap dalam firmanKu, kamu benar-benar adalah muridKu (32) dan
kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.’
(33) Jawab mereka: ‘Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi
hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?’ (34) Kata
Yesus kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang
berbuat dosa, adalah hamba dosa. (35) Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah,
tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. (36) Jadi apabila Anak itu memerdekakan
kamu, kamupun benar-benar merdeka.’”.
Yang
Yesus tawarkan adalah kemerdekaan dari dosa. Dengan demikian, orang menjadi bisa
berbuat baik. Tetapi yang ditawarkan oleh orang-orang sesat ini adalah merdeka /
bebas untuk berbuat dosa!
The
Bible Exposition Commentary: New Testament:
“doing
whatever you please is not freedom - it is the worst kind of bondage” (=
melakukan apapun yang engkau senangi bukanlah kemerdekaan - itu adalah jenis
perbudakan yang terburuk).
The
Bible Exposition Commentary: New Testament:
“You
cannot set someone free if you are in bondage yourself, and these false teachers
were in bondage. ... They professed to be saved but had never really been
redeemed (set free) at all! The tenses of the verbs in 2 Peter 2:19 are present:
‘While they promise them (the new believers) liberty, they themselves (the
apostates) are the servants of corruption’ ... They claim to be the servants
of God, but they are only the servants of sin. It is bad enough to be a slave,
but when sin is your master, you are in the worst possible condition a person
can experience” [= Kamu tidak bisa memerdekakan seseorang jika kamu
sendiri ada dalam perbudakan, dan guru-guru palsu ini ada dalam perbudakan. ...
Mereka mengaku diselamatkan tetapi tidak pernah sungguh-sungguh sudah ditebus /
dimerdekakan sama sekali! Tensa-tensa dari kata kerja - kata kerja dalam 2Pet
2:19 adalah present: ‘Sementara
mereka menjanjikan mereka (orang-orang percaya yang baru) kemerdekaan, mereka
sendiri (orang-orang murtad itu) adalah pelayan-pelayan dari kejahatan’ ...
Mereka mengclaim sebagai pelayan-pelayan Allah, tetapi mereka hanya
pelayan-pelayan dosa. Adalah cukup buruk untuk menjadi seorang budak, tetapi
pada saat dosa adalah tuanmu, engkau ada dalam kondisi terburuk yang
memungkinkan yang bisa dialami seseorang].
Ay 20-22:
“(20) Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita,
Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi
terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada
yang semula. (21) Karena itu bagi
mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran
dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang
disampaikan kepada mereka. (22) Bagi mereka cocok apa yang dikatakan
peribahasa yang benar ini: ‘Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang
mandi kembali lagi ke kubangannya.’”.
1)
Ay 20: “Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita,
Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi
terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada
yang semula”.
a)
Ini tidak menunjuk kepada orang kristen yang sejati yang lalu murtad.
Orang
Arminian mungkin sekali akan menggunakan ayat ini sebagai ayat pendukung
kepercayaan / ajaran mereka bahwa orang kristen yang sejati bisa kehilangan
keselamatan mereka. Dan Adam Clarke memang menafsirkan seperti itu. Tetapi saya
tidak percaya penafsiran seperti itu. Ayat ini tidak menunjuk kepada orang
kristen yang sejati, tetapi hanya menunjuk kepada orang yang kelihatannya
seperti orang kristen yang sejati!
Barnes’
Notes: “‘For
if after they have escaped the pollutions of the world.’ This does not
necessarily mean that they had been true Christians, and had fallen from grace.
People may outwardly reform, and escape from the open corruptions which prevail
around them, or which they had themselves practiced, and still have no true
grace at heart. ‘Through the knowledge of the Lord and Saviour Jesus
Christ.’ Neither does THIS imply that they were true Christians, or that they
had ever had any saving knowledge of the Redeemer. There is a knowledge of the
doctrines and duties of religion which may lead sinners to abandon their outward
vices, which has no connection with saving grace. They may profess religion, and
may KNOW enough of religion to understand that it requires them to abandon their
vicious habits, and still never be true Christians” (= ‘Sebab
jika mereka telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia’. Ini tidak
harus berarti bahwa mereka telah menjadi orang-orang Kristen yang sejati, dan
telah jatuh dari kasih karunia. Orang-orang bisa direformasi secara lahiriah,
dan lolos dari kejahatan-kejahatan terbuka yang banyak ada di sekitar mereka,
atau yang mereka sendiri telah praktekkan, dan tetap tidak mempunyai kasih
karunia yang sejati dalam hati mereka. ‘Oleh / melalui pengenalan mereka akan
Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus’. Inipun tidak menunjukkan bahwa
mereka adalah orang-orang Kristen yang sejati, atau bahwa mereka pernah
mempunyai pengenalan yang menyelamatkan tentang sang Penebus. Ada suatu
pengetahuan tentang doktrin-doktrin dan kewajiban-kewajiban agama yang bisa
membimbing orang-orang berdosa untuk meninggalkan kejahatan-kejahatan lahiriah
mereka, yang tidak berhubungan dengan kasih karunia yang menyelamatkan. Mereka
bisa mengaku agama, dan bisa TAHU cukup tentang agama untuk mengerti bahwa itu
menuntut / mengharuskan mereka untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan mereka
yang jahat / buruk, tetapi tetap tidak pernah menjadi orang-orang Kristen yang
sejati).
Matthew
Henry: “Some men are, for a time, kept
from the pollutions of the world, by the knowledge of Christ, who are not
savingly renewed in the spirit of their mind” (= Beberapa / sebagian
orang, untuk sementara waktu, dijaga dari polusi dunia, oleh pengetahuan tentang
Kristus, yang tidak diperbaharui secara menyelamatkan dalam roh / kecondongan
dari pikiran mereka).
Matthew
Henry: “A religious education has
restrained many whom the grace of God has not renewed: if we receive the light
of the truth, and have a notional knowledge of Christ in our heads, it may be of
some present service to us; but we must receive the love of the truth, and hide
God’s word in our heart, or it will not sanctify and save us” (= Suatu
pendidikan agamawi telah mengekang banyak orang yang tidak diperbaharui oleh
kasih karunia Allah: jika kita menerima terang dari kebenaran, dan mempunyai
suatu pengetahuan intelektual tentang Kristus dalam kepala kita, itu bisa
memberikan pelayanan / jasa / perbaikan tertentu untuk saat ini; tetapi kita
harus menerima kasih dari / terhadap kebenaran, dan menyembunyikan firman Allah
dalam hati kita, atau itu tidak akan menguduskan dan menyelamatkan kita).
The
Bible Exposition Commentary: New Testament:
“It
is very important that we understand that the pronoun ‘they’ in this entire
paragraph (2 Peter 2:17-22) refers to the false teachers and not to their
converts. It is also important that we remember that these teachers are not
truly born-again people. ... But these apostates did have a ‘religious
experience’! And they would boldly claim that their experience brought them
into fellowship with the Lord. ... But their experience, like their promises,
was false. ... There is no indication that the false teachers had ever
experienced the new birth. They had knowledge of salvation and could use the
language of the church, but they lacked that true saving experience with the
Lord. At one time they had even received the Word of God (2 Peter 2:21), but
then they turned away from it. They never trusted Christ and became His sheep.
... These men could point to ‘an experience,’ but it was a false experience.
... ‘Having an experience’ did not change his nature. ... In my ministry, I
have met people who have told me about their ‘spiritual experiences,’ but in
their narratives I detected no evidence of a new nature”
[= Adalah sangat penting bahwa kita mengerti bahwa kata ganti orang ‘mereka’
dalam seluruh pasal ini (2Pet 2:17-22) menunjuk kepada guru-guru palsu ini dan
bukan kepada petobat-petobat mereka. Jika adalah penting bahwa kita mengingat
bahwa guru-guru palsu ini bukanlah orang-orang yang sudah dilahir-barukan. ...
Tetapi orang-orang murtad ini mempunyai ‘pengalaman agamawi’! Dan mereka
dengan berani mengclaim bahwa pengalaman mereka membawa mereka ke dalam persekutuan
dengan Tuhan. ... Tetapi pengalaman mereka, seperti janji-janji mereka, adalah
palsu. ... Tidak ada petunjuk bahwa guru-guru palsu ini pernah mengalami
kelahiran baru. Mereka mempunyai pengetahuan tentang keselamatan dan bisa
menggunakan bahasa dari gereja, tetapi mereka tidak mempunyai pengalaman
menyelamatkan yang benar dengan Tuhan. Pada satu saat mereka bahkan telah
menerima Firman Allah (2Pet 2:21), tetapi lalu mereka berbalik darinya. Mereka
tidak pernah mempercayai Kristus dan menjadi dombaNya. ... Orang-orang ini bisa
menunjuk pada ‘suatu pengalaman’, tetapi itu adalah pengalaman yang palsu.
... ‘Mempunyai suatu pengalaman’ tidak mengubah hakekat / sifat dasarnya.
... Dalam pelayanan saya, saya telah bertemu dengan orang-orang yang bercerita
kepada saya tentang ‘pengalaman rohani’ mereka, tetapi dalam cerita-cerita
mereka saya tidak mendeteksi bukti dari seorang yang baru].
Contoh:
orang-orang dari kalangan Kharismatik sering menceritakan pengalaman mereka
dilawat Roh Kudus, dipenuhi Roh Kudus, bicara bahasa Roh, Tuhan bicara kepada
mereka, diangkat ke surga / neraka dan sebagainya. Juga orang-orang dari
kalangan pria sejati, menceritakan pengalaman mereka tentang hubungan keluarga /
suami istri yang dipulihkan dan sebagainya. Ini semua bisa saja palsu, dan sama
sekali tidak membuktikan bahwa mereka adalah orang-orang Kristen sejati!
Calvin:
“By naming ‘the pollutions
of the world,’ he shews that we roll
in filth and are wholly polluted, until we renounce the world. ‘By the
knowledge of Christ’ he no doubt
understands the gospel. He testifies that the design of it is, to deliver us
from the defilements of the world, and to lead us far away from them. ... He
then alone makes a right progress in the gospel who faithfully learns
Christ; and he truly knows Christ, who has been taught by him to put off the old
man and to put on the new man, as Paul reminds us in Ephesians 4:22”
(= Dengan menyebut ‘kecemaran-kecemaran dunia’, ia menunjukkan bahwa kita
berguling-guling dalam kotoran dan sepenuhnya terpolusi, sampai kita
meninggalkan / melepaskan dunia. ‘Oleh pengenalan tentang Kristus’ tak
diragukan bahwa ia memaksudkan injil. Ia memberi kesaksian bahwa tujuan darinya
adalah, untuk membebaskan kita dari pencemaran dunia ini, dan untuk membimbing
kita jauh dari hal-hal itu. ... Maka hanya ia yang membuat kemajuan yang benar
dalam injil yang dengan setia mempelajari Kristus; dan ia betul-betul
mengenal Kristus, yang telah diajar olehNya untuk menanggalkan manusia lama dan
mengenakan manusia baru, seperti Paulus mengingatkan kita dalam Ef 4:22).
Ef 4:22
- “yaitu bahwa kamu, berhubung dengan
kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui
kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan”.
Bdk.
Yoh 8:31-32 - “(31) Maka kataNya kepada
orang-orang Yahudi yang percaya kepadaNya: ‘Jikalau kamu tetap dalam
firmanKu, kamu benar-benar adalah muridKu (32) dan kamu akan mengetahui
kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.’”.
Dari
kata-kata Yesus ini jelas bahwa sedikitnya ada 2 syarat supaya seseorang bisa
dianggap sebagai murid / orang Kristen yang sejati, yaitu:
1. Setia terhadap
firman.
2. Bertumbuh dalam
pengudusan (perhatikan kata ‘memerdekakan’).
b)
Orang yang ‘menjadi Kristen’ atau ‘bertobat’ tetapi lalu
‘murtad’, biasanya menjadi lebih buruk keadaannya dibandingkan sebelum ia
‘bertobat’!
Barnes’
Notes: “‘The
latter end is worse with them than the beginning.’ This is usually the case. Apostates
become worse than they were before their professed conversion.
‘Reformed’ drunkards, if they go back to their ‘cups’ again, become more
abandoned than ever. Thus, it is with those who have been addicted to any habits
of vice, and who profess to become religious, and then fall away” (= ‘Akhirnya
keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula’. Ini biasanya adalah
kasusnya. Orang-orang murtad menjadi lebih buruk dari pada sebelum pertobatan
yang mereka akui / nyatakan. Pemabuk-pemabuk ‘Reformed’, jika mereka
kembali pada cawan / gelas mereka lagi, menjadi lebih terbuang dari pada
sebelumnya. Demikian juga dengan mereka yang telah kecanduan terhadap kebiasaan
kejahatan apapun, dan yang mengaku menjadi orang yang religius, dan lalu murtad).
Mat 12:43-45
- “(43) ‘Apabila roh jahat keluar dari manusia, iapun mengembara ke
tempat-tempat yang tandus mencari perhentian. Tetapi ia tidak mendapatnya. (44)
Lalu ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka
pergilah ia dan mendapati rumah itu kosong, bersih tersapu dan rapih teratur.
(45) Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya
dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih
buruk dari pada keadaannya semula. Demikian juga akan berlaku atas angkatan
yang jahat ini.’”.
Calvin:
“It would have been better for them, he says, not to have known the way
of righteousness; for though there is no excuse for ignorance, yet the
servant who knowingly and wilfully despises the commands of his lord, deserves a
twofold punishment” (= Adalah lebih baik bagi mereka, ia katakan,
seandainya mereka tidak pernah mengenal jalan kebenaran; karena sekalipun di
sana tidak ada alasan untuk ketidak-tahuan, tetapi pelayan yang secara sadar
dan sengaja memandang rendah perintah-perintah / hukum-hukum dari Tuhannya,
layak mendapat penghukuman ganda).
Matthew
Henry: “When men are once entangled,
they are easily overcome; therefore should Christians keep close to the word of
God, and watch against those who seek to perplex and bewilder them, and that
because, if men who have once escaped are again entangled, the latter end is
worse with them than the beginning” (= Pada waktu orang-orang sekali
dijerat, mereka dengan mudah bisa ditanggulangi; karena itu orang-orang Kristen
harus tetap dekat dengan firman Allah, dan berjaga-jaga terhadap mereka yang
berusaha untuk membingungkan mereka, dan bahwa karena, jika orang-orang yang
sekali pernah lolos terjerat lagi, akhirnya adalah lebih buruk bagi mereka dari
pada yang semula).
c)
‘Tuhan dan Juruselamat kita,
Yesus Kristus’.
Kata-kata
‘Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus
Kristus’ lagi-lagi memenuhi hukum bahasa Yunani yang sudah dibahas dalam
2Pet 1:1 di atas. Kata-kata ini tidak menunjuk kepada 2 pribadi, tetapi
kepada 1 pribadi. Karena itu kata-kata ini menunjukkan Yesus sebagai Juruselamat
dan sebagai Tuhan!
2)
“Karena
itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan
Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus
yang disampaikan kepada mereka”.
Matthew
Henry: “The apostle, in the last two
verses of the chapter, sets himself to prove that a state of apostasy is worse
than a state of ignorance; for it is a condemning of the way of righteousness,
after they have had some knowledge of it, and expressed some liking to it”
(= Sang rasul, dalam dua ayat terakhir dari pasal ini, membuktikan bahwa keadaan
kemurtadan adalah lebih buruk dari pada keadaan ketidak-tahuan / kebodohan;
karena itu merupakan suatu pengecaman terhadap jalan kebenaran, setelah mereka
mempunyai pengetahuan tertentu tentangnya, dan menyatakan kesenangan tertentu
terhadapnya).
Matthew
Henry: “The devil more narrowly watches
and more closely confines those whom he has recovered, after they had once gone
off from him and professed to be the followers of the Lord Jesus Christ (Mt.
12:45); they are kept under a stronger guard” [= Iblis dengan lebih
seksama menjaga dan dengan lebih teliti membatasi mereka yang telah ia dapatkan
kembali, setelah mereka pernah ‘meninggalkan’ dia dan mengaku sebagai
pengikut-pengikut Tuhan Yesus Kristus (Mat 12:45); mereka dijaga dibawah
penjagaan yang lebih kuat].
Tetapi
sekalipun seseorang menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh, bukankah ia
masih berbuat dosa? Lalu, apa bedanya itu dengan murtad? Calvin menjawab dengan
kata-kata di bawah ini.
Calvin:
“he declares that they who make themselves
slaves again to the pollutions of the world fall away from the gospel. The
faithful also do indeed sin; but as they allow not dominion to sin, they do not
fall away from the grace of God, ... For they are not to be deemed conquered,
while they strenuously resist the flesh and its lusts” (= ia
menyatakan bahwa mereka yang membuat diri mereka sendiri budak-budak lagi pada
polusi / kecemaran dunia murtad dari injil. Orang-orang setia / beriman memang
juga berbuat dosa; tetapi karena mereka tidak mengijinkan penguasaan dosa,
mereka tidak murtad dari kasih karunia Allah, ... Karena mereka tidak dianggap
sebagai dikalahkan, pada waktu mereka dengan kuat menahan daging dan
nafsu-nafsunya).
3)
“Bagi
mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: ‘Anjing kembali
lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.’”.
Bdk.
Amsal 26:11- “Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang bebal
yang mengulangi kebodohannya”.
Adam
Clarke: “Here
is a sad proof of the possibility of falling from grace, and from very high
degrees of it too” (= Di sini ada suatu bukti yang menyedihkan tentang
kemungkinan dari jatuh dari kasih karunia / murtad, dan dari tingkat yang sangat
tinggi darinya juga).
Komentar
/ tanggapan saya tentang kata-kata Clarke ini:
Ini
tidak terlalu berbeda dengan orang-orang yang menggunakan Mat 7:21-23
sebagai dasar bahwa orang-orang Kristen yang sejati, bahkan hamba-hamba Tuhan
yang sejati, bisa murtad. Kontext dari Mat 7:21-23 adalah Mat 7:15-23, dan dari
Mat 7:15-20 terlihat dengan jelas bahwa yang dibicarakan adalah nabi-nabi palsu.
Juga
seluruh kontext dalam 2Pet 2 ini membicarakan nabi palsu. Jadi, bagaimana
mungkin kita menganggap mereka ini sebagai orang kristen yang sejati, apalagi
hamba Tuhan yang sejati, yang lalu murtad dan kehilangan keselamatan mereka? Dan
sangat perlu diperhatikan bahwa dalam bagian ini Petrus tetap menyebut mereka
sebagai ‘babi’ dan ‘anjing’.
Jadi, bagaimana mungkin ia memaksudkan orang kristen yang sejati / hamba Tuhan
yang sejati? Bandingkan dengan beberapa komentar tentang ‘babi dan anjing’
di bawah ini.
Calvin:
“there are many dogs who swallow again what they have vomited to their
own ruin; ... there are many swine who, immediately after washing, roll
themselves again in the mud. At the same time the godly are reminded to take
heed to themselves, except they wish to be deemed dogs or swine” (= ada
banyak anjing yang menelan lagi apa yang telah mereka muntahkan yang menyebabkan
kehancuran mereka; ... ada banyak babi yang, segera setelah mandi / dicuci,
mengguling-gulingkan diri mereka sendiri lagi dalam lumpur. Pada saat yang sama
orang-orang saleh diingatkan untuk memperhatikan / mewaspadai diri mereka
sendiri, kecuali mereka ingin untuk dianggap sebagai anjing atau babi).
Bible
Knowledge Commentary: “Jews
considered both dogs and pigs among the lowest of creatures (cf. Matt 7:6) so
Peter chose these animals to describe people who knew the truth and turned away
from it. The first proverb, ‘A dog returns to its vomit,’ is taken from Prov
26:11. The second proverb, ‘A sow that is washed goes back to her wallowing in
the mud,’ was presumably commonly known by Jews in the first century. The
underlying principle of both is the same: these apostates (whether false
teachers, their victims, or both) never were what they seemed to be and returned
to what they had been all along. Dogs and pigs can be scrubbed but not kept
clean, for it is in their very nature to return to unclean living. Such
apostates are in a tighter bondage, they are farther from the truth, and they
are deeper in spiritual filth than ever before” [= Orang-orang Yahudi
menganggap baik anjing dan babi di antara makhluk-makhluk ciptaan yang paling
rendah / hina (bdk. Mat 7:6), maka Petrus memilih binatang-binatang ini untuk
menggambarkan orang-orang yang pernah tahu kebenaran dan lalu berbalik darinya.
Pepatah pertama, ‘Anjing kembali lagi ke muntahnya’, diambil dari Amsal
26:11. Pepatah yang kedua, ‘Babi yang mandi / yang telah dicuci kembali ke
kubangannya dalam lumpur’, rupanya dikenal secara umum oleh orang-orang Yahudi
pada abad pertama. Prinsip yang mendasari dari kedua pepatah itu adalah sama:
orang-orang murtad ini (apakah guru-guru palsu, korban-korban mereka, atau
keduanya) tidak pernah adalah seperti mereka kelihatannya dan kembali pada apa
adanya mereka selama ini. Anjing dan babi bisa digosok / disikat tetapi tidak
bisa dijaga tetap bersih, karena merupakan sifat dasar / alamiah mereka untuk
kembali pada kehidupan yang najis / kotor. Orang-orang murtad seperti itu ada
dalam perbudakan yang lebih ketat, mereka lebih jauh dari kebenaran, dan mereka
lebih dalam dalam kotoran rohani dari pada sebelumnya].
Mat 7:6
- “‘Jangan kamu memberikan barang
yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi,
supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak
kamu.’”.
Barnes’
Notes: “Under
all the appearances of reformation, still their evil nature remained, as really
as that of the dog or the swine, and that nature finally prevailed. There was no
thorough internal change, any more than there is in the swine when it is washed,
or in the dog. This passage, therefore, would seem to demonstrate that there
never had been any real change of heart, and of course there had been no falling
away from true religion. It should not, therefore, he quoted to prove that true
Christians may fall from grace and perish. The dog and the swine had never
been anything else than the dog and the swine, and these persons had never been
anything else than sinners” (= Dibawah semua penampilan reformasi, sifat
dasar mereka yang jahat tetap, seperti sifat dasar dari anjing dan babi, dan
sifat dasar itu akhirnya menang. Tidak pernah ada perubahan di dalam yang
menyeluruh, lebih dari perubahan di dalam yang ada dalam babi yang dicuci, atau
dalam anjing. Karena itu, text ini kelihatannya menunjukkan bahwa disana
tidak pernah ada perubahan hati yang sungguh-sungguh, dan tentu saja tidak ada
kemurtadan dari agama. Karena itu, ini tidak boleh dikutip untuk membuktikan
bahwa orang-orang kristen yang sejati bisa jatuh dari kasih karunia dan binasa.
Anjing dan babi tidak pernah menjadi apapun yang lain dari pada anjing dan babi,
dan orang-orang ini tidak pernah menjadi apapun yang lain dari pada orang-orang
berdosa).
Barnes’
Notes: “No
matter how clean the swine is made by washing, this would not prevent it, in the
slightest degree, from rolling in filth again. ... So it is with the sinner. No
external reformation will certainly prevent his returning to his former habits;
and when he does return, we can only say that he is acting according to his real
nature - a nature which has never been changed, any more than the nature of the
dog or the swine. ... This passage is often quoted to prove ‘the
possibility of falling from grace, and from a very high degree of it too.’
But it is one of the last passages in the Bible that should be adduced to prove
that doctrine. The true point of this passage is to show that the persons
referred to never ‘were changed;’ that whatever external reformation might
have occurred, their nature remained the same; and that when they apostatized
from their outward profession, they merely acted out their nature, and showed
that in fact there had been ‘no’ real change. This passage will prove - what
(that?)
there are abundant facts to confirm - that persons may reform externally, and
then return again to their former corrupt habits; it can never be made to prove
that one TRUE Christian will fall away and perish. It will also prove that we
should rely on no mere external reformation, no outward cleansing, as certain
evidence of piety. Thousands who have been externally reformed have ultimately
shown that they had no religion, and there is nothing in mere outward
reformation that can suit us for heaven. God looks upon the heart; and it is
only the religion that has its seat there, that can secure our final
salvation” (= Tak peduli betapa
bersih babi dibuat oleh pemandian, ini tidak mencegahnya, dalam tingkat yang
terendah, untuk berguling-guling dalam kotoran lagi. ... Demikianlah dengan
orang berdosa. Tak ada reformasi luar / lahiriah akan dengan pasti mencegah
kembalinya ia pada kebiasaan lamanya; dan pada waktu ia kembali, kita hanya bisa
mengatakan bahwa ia sedang bertindak sesuai dengan sifat dasarnya yang
sesungguhnya - suatu sifat dasar yang tidak pernah diubah, sama seperti sifat
dasar dari anjing dan babi. ... Text ini sering dikutip untuk membuktikan ‘kemungkinan
jatuh dari kasih karunia / murtad, dan dari tempat yang sangat tinggi juga’.
Tetapi ini adalah salah satu dari text yang terakhir dalam Alkitab yang harus
dikemukakan untuk membuktikan doktrin itu. Point sebenarnya dari text ini adalah
untuk menunjukkan bahwa orang-orang yang ditunjuk tidak pernah ‘diubahkan’;
bahwa reformasi luar / lahirah apapun yang bisa terjadi, sifat dasar mereka
tetap sama; dan bahwa pada waktu mereka murtad dari pengakuan lahiriah mereka,
mereka hanya bertindak dari sifat dasar mereka, dan menunjukkan bahwa sebetulnya
di sana ‘tidak ada’ perubahan yang sejati. Text ini akan membuktikan - bahwa
ada banyak fakta untuk menegaskan - bahwa orang-orang bisa direformasi secara
lahiriah, dan lalu kembali lagi pada kebiasaan jahat yang lama; itu tidak pernah
bisa dipakai untuk membuktikan bahwa satu orang Kristen SEJATI akan murtad dan
binasa. Itu juga akan membuktikan bahwa kita harus bersandar bukan semata-mata
pada reformasi luar / lahiriah, bukan pembersihan luar, sebagai bukti pasti dari
kesalehan. Ribuan orang yang telah direformasi secara lahiriah akhirnya
menunjukkan bahwa mereka tidak mempunyai agama, dan tidak ada apapun dalam
semata-mata reformasi lahiriah yang bisa menyesuaikan kita untuk surga. Allah
melihat hati; dan hanyalah agama yang mempunyai kedudukannya di sana, yang bisa
memastikan keselamatan akhir kita).
Catatan:
pada bagian yang saya garis-bawahi, kelihatannya Barnes mengutip kata-kata Adam
Clarke di atas.
The
Bible Exposition Commentary: New Testament:
“To
use Peter’s vivid images, the pig was washed on the outside, but remained a
pig; the dog was ‘cleaned up’ on the inside, but remained a dog. The pig
looked better and the dog felt better, but neither one had been changed. They
each had the same old nature, not a new one. This explains why both animals
returned to the old life: it was part of their nature. A pig can stay clean only
a short time and then must head for the nearest mud hole. ... Certainly the dog
feels better after emptying his stomach, but it is still a dog. ... It is a
disgusting picture, but that is exactly the response Peter wanted to produce”
[= Menggunakan gambaran yang hidup dari Petrus, babi dicuci pada bagian luarnya,
tetapi tetap adalah babi; anjing ‘dibersihkan’ pada bagian dalamnya, tetapi
tetap adalah anjing. Babi itu kelihatan lebih baik, dan anjing itu merasa lebih
baik, tetapi yang manapun dari mereka tidak / belum diubahkan. Mereka
masing-masing mempunyai sifat dasar lama yang sama, bukan sifat dasar yang baru.
Ini menjelaskan mengapa kedua binatang kembali pada hidup yang lama: itu adalah
bagian dari hakekat / sifat dasar mereka. Seekor babi bisa tetap bersih hanya
untuk sementara waktu dan lalu harus menuju ke lubang lumpur yang terdekat. ...
Pastilah anjing merasa lebih baik setelah mengosongkan perutnya, tetapi ia tetap
adalah anjing. ... Ini merupakan penggambaran yang menjijikkan, tetapi itu
adalah tanggapan persis seperti yang Petrus ingin hasilkan].
-o0o-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali