Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

Kamis, tanggal 17 Maret 2011, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(7064-1331 / 6050-1331)

[email protected]

 

II Petrus 2:1-22(11)

 

5)   Guru-guru palsu itu adalah seperti mata air yang kering, seperti kabut yang dihalaukan taufan; bagi mereka telah tersedia tempat dalam kegelapan yang paling dahsyat (ay 17).

 

a)   Guru-guru palsu itu adalah seperti mata air yang kering.

KJV: These are wells without water (= Mereka adalah sumur-sumur tanpa air).

RSV/NIV/NASB Kitab Suci Indonesia.

 

Seorang hamba Tuhan seharusnya adalah seperti mata air / sumur yang memberikan air, karena dari mereka orang-orang seharusnya belajar kebenaran. Tetapi para nabi palsu ini tidak demikian.

 

Mal 2:7 - “Sebab bibir seorang imam memelihara pengetahuan dan orang mencari pengajaran dari mulutnya, sebab dialah utusan TUHAN semesta alam”.

 

Ef 4:11-15 - “(11) Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, (12) untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, (13) sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, (14) sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, (15) tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala”.

 

Matthew Henry: “In vain then are all our expectations of being fed and filled with knowledge and understanding by those who are themselves ignorant and empty” (= Maka sia-sialah semua pengharapan kita untuk diberi makan dan diisi dengan pengetahuan dan pengertian oleh mereka yang dirinya sendiri tidak mempunyai pengetahuan dan kosong).

 

Adam Clarke: “‘These are wells without water.’ Persons who, by their profession, should furnish the water of life to souls athirst for salvation; but they have not this water; they are teachers without ability to instruct; they are sowers, and have no seed in their basket. Nothing is more cheering in the deserts of the east than to meet with a well of water; and nothing more distressing, when parched with thirst, than to meet with a well that contains no water” (= ‘Mereka adalah sumur-sumur tanpa air’. Orang-orang yang, oleh pengakuan mereka, harus memberi air hidup kepada jiwa-jiwa yang haus akan keselamatan; tetapi mereka tidak mempunyai air ini; mereka adalah guru-guru tanpa kemampuan untuk mengajar; mereka adalah penabur-penabur, dan tidak mempunyai benih dalam keranjang mereka. Tidak ada yang lebih menggembirakan di padang gurun di Timur dari pada menjumpai sebuah sumur air; dan tidak ada yang lebih menyedihkan, pada waktu terbakar kehausan, dari pada menjumpai sebuah sumur yang tidak berisikan air).

 

Calvin: “‘These are wells,’ or fountains, ‘without water.’ He shews by these two metaphors, that they had nothing within, though they made a great display. A fountain, by its appearance, draws men to itself, because it promises them water to drink, and for other purposes; as soon as clouds appear, they give hope of immediate rain to irrigate the earth. He then says that they were like fountains, because they excelled in boasting, and displayed some acuteness in their thoughts and elegance in their words; but that yet they were dry and barren within: hence the appearance of a fountain was fallacious (= ‘Ini adalah sumur-sumur’, atau mata air - mata air, ‘tanpa air’. Ini menunjukkan dengan kedua kiasan ini, bahwa mereka tidak mempunyai apapun di dalam diri mereka, sekalipun mereka membuat pameran / pertunjukan yang besar. Sebuah mata air, oleh penampilannya, menarik orang-orang pada dirinya sendiri, karena itu menjanjikan mereka air untuk diminum, dan untuk tujuan-tujuan lain; begitu awan-awan muncul, mereka memberikan pengharapan tentang hujan yang segera turun untuk mengairi bumi. Lalu ia mengatakan bahwa mereka seperti mata air - mata air, karena mereka unggul dalam membanggakan, dan menunjukkan / memamerkan ketajaman tertentu dalam pikiran-pikiran mereka dan kecantikan / keanggunan dalam kata-kata mereka; tetapi mereka kering dan tandus di dalam: karena itu penampilan dari sebuah mata air itu adalah salah / bersifat menipu).

 

Barnes’ Notes: “Nothing to an oriental mind would be more expressive than to say of professed religious teachers, that they were ‘wells without water.’ It was always a sad disappointment to a traveler in the hot sands of the desert to come to a well where it was expected that water might be found, and to find it dry. It only aggravated the trials of the thirsty and weary traveler. Such were these religious teachers. ... they would only grievously disappoint the expectations of all those who were seeking for the refreshing influences of the truths of the gospel. There are many such teachers in the world” (= Bagi pikiran orang Timur tidak ada yang lebih menggambarkan dari pada mengatakan tentang orang-orang yang mengaku sebagai guru-guru agamawi ini, bahwa mereka adalah ‘sumur-sumur tanpa air’. Selalu merupakan suatu kekecewaan yang menyedihkan bagi seorang pelancong di tanah yang panas dari padang gurun untuk datang pada suatu sumur dimana diharapkan akan ditemukan air, dan mendapatinya kering. Itu hanya memperburuk percobaan dari pelancong yang haus dan lelah. Seperti itulah guru-guru agamawi ini. ... mereka hanya dengan / secara menyedihkan mengecewakan harapan dari semua mereka yang sedang mencari pengaruh-pengaruh yang menyegarkan dari kebenaran-kebenaran injil. Ada banyak guru-guru seperti itu dalam dunia).

 

b)   seperti kabut yang dihalaukan taufan.

KJV/NKJV: ‘clouds’ (= awan).

RSV/NIV/NASB: ‘mists’ (= kabut).

 

Ada problem text di sini, karena ada manuscript-manuscript yang menuliskan OMIKHLAI (kabut) dan ada manuscript-manuscript yang menuliskan NEPHILAI / NEPHELAI (awan). Pulpit Commentary, dan kelihatannya juga Adam Clarke, memilih ‘kabut’. Tetapi Clarke mengatakan bahwa sekalipun kata yang digunakan berbeda, artinya tidaklah terlalu berbeda.

 

Pulpit Commentary: “The best manuscripts have o(mi/xlai, ‘mists,’ instead of nefe/lai, ‘clouds;’” (= ).

Adam Clarke: “It is scarcely necessary to notice a various reading here, which, though very different in sound, is nearly the same in sense. Instead of ‎nephilai‎, ‘clouds,’ which is the common reading, ‎kai ‎‎homichlai‎, ‘and mists,’ or perhaps more properly ‘thick darkness,’ from ‎homou‎, together, and ‎achlus‎, darkness, is the reading in ABC, sixteen others, Erpen’s Arabic, later Syriac, Coptic, AEthiopic, and Vulgate, and several of the fathers. This reading Griesbach has admitted into the text” (= ).

 

Adam Clarke: “‘Clouds that are carried with a tempest.’ In a time of great drought, to see clouds beginning to cover the face of the heavens raises the expectation of rain; but to see these carried off by a sudden tempest is a dreary disappointment. These false teachers were equally as unprofitable as the empty well, or the light, dissipated cloud” (= ‘Awan yang dihembuskan taufan’. Pada waktu kekeringan besar, melihat awan mulai menutup wajah dari langit meningkatkan pengharapan akan hujan; tetapi melihat awan ini dihembuskan oleh taufan yang tiba-tiba adalah suatu kekecewaan yang suram. Guru-guru palsu ini sama tidak bergunanya seperti sumur yang kosong, atau awan ringan yang menghilang).

 

Calvin: “He says that they were ‘clouds carried’ by the wind, either without rain, or which burst forth into a calamitous storm. He thereby denotes that they brought nothing useful, and that often they were very hurtful” (= Ia mengatakan bahwa mereka adalah awan yang dibawa oleh angin, apakah tanpa hujan, atau yang meledak menjadi badai yang bersifat bencana. Dengan itu ia menunjukkan bahwa mereka tidak membawa apapun yang berguna, dan bahwa seringkali mereka adalah sangat merugikan).

 

c)   bagi mereka telah tersedia tempat dalam kegelapan yang paling dahsyat.

KJV: ‘to whom the mist of darkness is reserved for ever’ (= bagi siapa kabut kegelapan disediakan untuk selama-lamanya).

RSV: ‘for them the nether gloom of darkness has been reserved’ (= untuk mereka kesuraman dari kegelapan di bawah bumi telah disediakan).

NIV: ‘Blackest darkness is reserved for them’ (= Kegelapan yang paling hitam disediakan untuk mereka).

NASB: ‘for whom the black darkness has been reserved’ (= untuk siapa kegelapan yang hitam telah disediakan).

 

Calvin: He afterwards denounces on them the dreadful judgment of God, that fear might restrain the faithful. By naming the ‘mist’ or the blackness ‘of darkness,’ he alludes to the clouds which obscure the air; as though he had said, that for the momentary darkness which they now spread, there is prepared for them a much thicker darkness which is to continue for ever (= Belakangan ia memberitahukan kepada mereka penghakiman yang menakutkan dari Allah, supaya rasa takut bisa mengekang orang-orang yang setia / beriman. Dengan menyebutkan ‘kabut’ atau kehitaman ‘dari kegelapan’, ia menyinggung pada awan-awan yang mengaburkan udara; seakan-akan ia telah berkata, bahwa untuk kegelapan sementara yang sekarang menyebar, di sana disiapkan untuk mereka kegelapan yang jauh lebih tebal yang akan berlangsung selama-lamanya).

 

Matthew Henry: “seeing these men are for promoting darkness in this world, it is very just that the mist of darkness should be their portion in the next. Utter darkness was prepared for the devil, the great deceiver, and his angels, those instruments that he uses to turn men from the truth, and therefore for them it is reserved, and that for ever” (= melihat bahwa orang-orang ini ada untuk mempromosikan kegelapan dalam dunia ini, adalah sangat benar / adil bahwa kabut kegelapan menjadi bagian mereka dalam dunia yang akan datang. Kegelapan total disiapkan untuk setan / iblis, sang penipu besar, dan malaikat-malaikatnya, alat-alat yang ia gunakan untuk membalikkan manusia dari kebenaran, dan karena itu untuk mereka tempat itu disediakan, dan itu untuk selama-lamanya).

 

Barnes’ Notes: “It refers undoubtedly to the place of future punishment, which is often represented as a place of intense darkness. See the notes at Matt 8:12” (= Tak diragukan itu menunjuk pada penghukuman yang akan datang, yang sering digambarkan sebagai suatu tempat kegelapan yang hebat. Lihat catatan di Mat 8:12).

 

Mat 8:12 - “sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.’”.

 

Barnes’ Notes (tentang Mat 8:12): “‘Shall be cast out into outer darkness ...’ This is an image of future punishment. It is not improbable that the image was taken from Roman dungeons or prisons. They were commonly constructed under ground. They were shut out from the light of the sun. They were, of course, damp, dark, and unhealthy, and probably most filthy. Masters were in the habit of constructing such prisons for their slaves, where the unhappy prisoner, without light, or company, or comfort, spent his days and nights in weeping from grief, and in vainly gnashing his teeth from indignation. The image expresses the fact that the wicked who are lost will be shut out from the light of heaven, and from peace, and joy, and hope; will weep in hopeless grief, and will gnash their teeth in indignation against God, and complain against his justice. ... add to his sufferings the idea of eternity, and then remember that this, after all, is but an image, a faint image, of hell!” (= ‘Akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap ...’. Ini adalah suatu gambaran dari hukuman yang akan datang. Bukan tidak mungkin bahwa gambaran ini diambil dari ruang-ruang bawah tanah atau penjara-penjara Romawi. Mereka biasanya dibangun di bawah tanah. Mereka ditutup dari terang matahari. Mereka, tentu saja, lembab, gelap, dan tidak sehat, dan mungkin sangat kotor. Tuan-tuan mempunyai kebiasaan untuk membangun penjara-penjara seperti itu untuk budak-budak mereka, dimana sang tahanan yang malang, tanpa terang, atau teman, atau penghiburan, menghabiskan siang-siang dan malam-malamnya dalam tangisan dari kesedihan, dan dengan sia-sia mengertakkan gigi dari kemarahan. Gambaran ini menyatakan fakta bahwa orang-orang jahat yang terhilang akan ditutup dari terang surga, dan dari damai, dan sukacita, dan pengharapan; akan menangis dalam kesedihan tanpa harapan, dan akan mengertakkan gigi mereka dalam kemarahan terhadap Allah, dan mengeluh terhadap keadilanNya. ... Tambahkan pada hal ini gagasan tentang kekekalan, dan lalu ingat bahwa bagaimanapun juga ini hanya merupakan suatu gambaran, suatu gambaran yang redup, tentang neraka!).

 

Suatu buku Saat Teduh menceritakan peristiwa sebagai berikut: “Recently I was in a cave in Kentucky. When we had gone deep into the bowels of the earth through many winding passageways, the guide suddenly turned off all the lights and said, ‘I alone know the way out. If I were to leave you in this dark chamber, you would probably never make your way to the surface. Those who have been lost in this cavern have become insane inside of a week from the oppressive loneliness and the maddening, incessant drip of the water from the roof. Be quiet for a moment and feel the darkness!’ I remember my youngster clutching my arm. Soon terror began to edge its way into all of our hearts. After about thirty seconds, someone in the party could endure the ordeal no longer and whimpered piteously, ‘Turn on the light! I’m going crazy now!’ The guide laughed, but none of us will ever forget that eerie experience. I thought of the ‘outer darkness’ of an eternal Hell and shuddered!” (= Baru-baru ini saya ada di sebuah gua di Kentucky. Pada waktu kami telah masuk dalam di dalam perut bumi melalui banyak jalan yang berliku-liku, sang pemandu / penunjuk jalan tiba-tiba mematikan semua lampu dan berkata, ‘Hanya aku yang tahu jalan keluar. Seandainya aku meninggalkan kalian dalam ruangan gelap ini, mungkin kalian tidak akan pernah menemukan jalan ke permukaan. Mereka yang telah terhilang di gua ini telah menjadi gila dalam 1 minggu karena kesendirian yang menekan, dan tetesan air yang tak henti-hentinya dari langit-langit gua. Tenanglah untuk sesaat dan rasakanlah kegelapan itu!’ Saya teringat anak saya menggenggam / mencengkeram lengan saya. Segera rasa takut mulai masuk ke dalam hati kami semua. Setelah kira-kira 30 detik, seseorang dalam kelompok itu tidak bisa menahan siksaan itu lebih lama lagi dan merengek dengan memilukan, ‘Nyalakan lampu! Aku sedang menjadi gila sekarang!’ Sang pemandu / penunjuk jalan tertawa, tetapi tak seorangpun dari kami akan pernah melupakan pengalaman yang mengerikan itu. Saya berpikir tentang ‘kegelapan yang jauh’ dari Neraka yang kekal dan gemetar!) - ‘Bread For Each Day’, September 14.

 

6)   Sebab mereka mengucapkan kata-kata yang congkak dan hampa dan mempergunakan hawa nafsu cabul untuk memikat orang-orang yang baru saja melepaskan diri dari mereka yang hidup dalam kesesatan (ay 18).

 

a)   Sebab mereka mengucapkan kata-kata yang congkak dan hampa.

KJV: For when they speak great swelling words of vanity (= Karena pada waktu mereka mengatakan kata-kata membengkak yang besar dari kesia-siaan).

 

Calvin: “‘For when they speak great swelling words of vanity.’ He means that they dazzled the eyes of the simple by high-flown stuff of words, that they might not perceive their deceit, for it was not easy to captivate their minds with such dotages, except they were first besotted by some artifice. He then says that they used an inflated kind of words and speech, that they might fill the unwary with admiration [= ‘Karena pada waktu mereka mengatakan kata-kata membengkak yang besar dari kesia-siaan’. Ia memaksudkan bahwa mereka mempesonakan mata dari orang-orang yang sederhana / bodoh dengan kata-kata dari bahan yang diterbangkan tinggi, sehingga mereka tidak mengerti tipuan mereka, karena tidak mudah untuk memikat / menawan pikiran mereka dengan hal-hal yang kekanak-kanakan / bodoh seperti itu, kecuali mereka pertama-tama dibingungkan / dibuat menjadi bodoh dengan kelicikan tertentu. Ia lalu mengatakan bahwa mereka menggunakan suatu jenis kata-kata dan ucapan yang digelembungkan, supaya mereka bisa mengisi orang-orang yang tidak waspada dengan kekaguman].

 

Calvin: “There are fanatics of a similar kind at this day, who call themselves by the plausible title of Libertines or free-men. For they talk most confidently of the Spirit and of spiritual things, as though they roared out from above the clouds, and fascinate many by their tricks and wiles, so that you may say that the Apostle has correctly prophesied of them. For they treat all things jocosely and scoffingly; and though they are great simpletons, yet as they indulge in all vices, they find favor with their own people by a sort of drollery (= Jaman sekarang ada orang-orang fanatik dari jenis yang mirip, yang menyebut diri mereka sendiri dengan gelar yang masuk akal dari Libertines atau orang-orang bebas. Karena mereka berbicara dengan sangat meyakinkan tentang Roh dan tentang hal-hal rohani, seakan-akan mereka menderu dari atas awan-awan, dan mengherankan banyak orang dengan trik-trik dan tipu-tipu muslihat mereka, sehingga engkau bisa mengatakan bahwa sang Rasul dengan tepat telah menubuatkan tentang mereka. Karena mereka memperlakukan segala sesuatu dengan cara melucu dan mengejek / mencemoohkan; dan sekalipun mereka adalah orang-orang yang sangat tolol, tetapi karena mereka mengijinkan segala kejahatan, mereka disenangi oleh orang-orang mereka sendiri sebagai sejenis lelucon).

 

Matthew Henry: “It is with great swelling words of vanity, lofty expressions, which have a great sound, but little sense” (= Itu disertai kata-kata sia-sia yang menggelembung besar, ungkapan-ungkapan yang megah / tinggi, yang mempunyai bunyi yang besar, tetapi arti yang kecil / sedikit).

 

Barnes’ Notes: “‘For when they speak great swelling words of vanity.’ When they make pretensions to wisdom and learning, or seem to attach great importance to what they say, and urge it in a pompous and positive manner. Truth is simple, and delights in simple statements. It expects to make its way by its own intrinsic force, and is willing to pass for what it is worth. Error is noisy and declamatory, and hopes to succeed by substituting sound for sense, and by such tones and arts as shall induce men to believe that what is said is true, when it is known by the speaker to be false” (= ‘Karena pada waktu mereka mengatakan kata-kata membengkak yang besar dari kesia-siaan’. Pada waktu mereka membuat kepura-puraan dalam hikmat dan pengetahuan, atau kelihatannya melekatkan kepentingan yang besar pada apa yang mereka katakan, dan mendesakkannya dengan cara yang muluk / memegahkan diri dan positif. Kebenaran itu sederhana, dan senang dengan pernyataan-pernyataan yang sederhana. Ia berharap untuk membuat jalannya dengan kekuatan yang ada dalam dirinya, dan mau dipandang sebagaimana ia bernilai. Kesalahan adalah keributan dan bersifat deklamasi, dan berharap untuk berhasil dengan menggantikan arti dengan bunyi, dan dengan nada dan keahlian yang akan membujuk orang untuk percaya bahwa apa yang dikatakan adalah benar, pada waktu diketahui oleh pembicaranya sebagai salah).

 

The Bible Exposition Commentary: New Testament: “the teachers are eloquent promoters of their doctrines. They know how to impress people with their vocabulary, ‘Mated words that say nothing’ (literal translation). The average person does not know how to listen to and analyze the kind of propaganda that pours out of the mouths and printing presses of the apostates. Many people cannot tell the difference between a religious huckster and a sincere servant of Jesus Christ. Do not be impressed with religious oratory. Apollos was a fervent and eloquent religious speaker, but he did not know the right message to preach (Acts 18:24-28). Paul was careful not to build his converts’ faith on either his words or his wisdom (1 Cor 2:1-5). Paul was a brilliant man, but his ministry was simple and practical. He preached to express and not to impress. He knew the difference! between communication and manipulation” [= guru-guru itu adalah promotor-promotor yang fasih dari ajaran-ajaran mereka. Mereka tahu bagaimana untuk membuat orang-orang terkesan dengan perbendaharaan kata-kata mereka, ‘Kata-kata yang cocok (?) yang tidak mengatakan apa-apa’ (terjemahan hurufiah). Orang-orang rata-rata tidak tahu bagaimana untuk mendengar pada dan menganalisa jenis propaganda yang mencurahkan dari mulut-mulut dan cetakan-cetakan dari orang-orang murtad itu. Banyak orang tak bisa mengetahui perbedaan antara seorang pedagang keliling dan seorang pelayan yang tulus / sungguh-sungguh dari Yesus Kristus. Jangan terkesan dengan kefasihan berpidato yang bersifat agamawi. Apolos adalah pembicara / pengkhotbah agama yang bersemangat dan fasih, tetapi ia tidak mengetahui berita yang benar untuk dikhotbahkan (Kis 18:24-28). Paulus berhati-hati untuk tidak membangun iman dari para petobatnya pada kata-katanya atau hikmatnya (1Kor 2:1-5). Paulus adalah orang yang brilian, tetapi pelayanannya sederhana dan praktis. Ia berkhotbah untuk menyatakan, dan bukan untuk mengesankan. Ia tahu perbedaannya! antara komunikasi / penyampaian dan manipulasi].

1Kor 2:1-5 - “(1) Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. (2) Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. (3) Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. (4) Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, (5) supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah”.

1Kor 1:22-24 - “(22) Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, (23) tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, (24) tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah”.

 

b)   dan mempergunakan hawa nafsu cabul.

KJV: ‘they allure through the lusts of the flesh, through much wantonness’ (= mereka memikat melalui nafsu-nafsu daging, melalui banyak ketidak-bermoralan).

RSV: ‘they entice with licentious passions of the flesh men’ (= mereka memikat dengan nafsu-nafsu yang tidak bermoral dari manusia-manusia daging).

 

Matthew Henry: “they work upon the corrupt affections and carnal fleshly lusts of men, proposing what is grateful to them” (= mereka mempengaruhi / berusaha untuk membujuk perasaan / kecenderungan yang jahat dan nafsu daging dari manusia, menawarkan apa yang menyenangkan bagi mereka).

Bdk. 2Tim 4:3-4 - “(3) Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. (4) Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng”.

Bdk. 1Raja 22:6,7,11-14 - “(6) Lalu raja Israel mengumpulkan para nabi, kira-kira empat ratus orang banyaknya, kemudian bertanyalah ia kepada mereka: ‘Apakah aku boleh pergi berperang melawan Ramot-Gilead atau aku membatalkannya?’ Jawab mereka: ‘Majulah! Tuhan akan menyerahkannya ke dalam tangan raja.’ (7) Tetapi Yosafat bertanya: ‘Tidak adakah lagi di sini seorang nabi TUHAN, supaya dengan perantaraannya kita dapat meminta petunjuk?’ ... (11) maka Zedekia bin Kenaana membuat tanduk-tanduk besi, lalu berkata: ‘Beginilah firman TUHAN: Dengan ini engkau akan menanduk Aram sampai engkau menghabiskan mereka.’ (12) Juga semua nabi itu bernubuat demikian, katanya: ‘Majulah ke Ramot-Gilead, dan engkau akan beruntung; TUHAN akan menyerahkannya ke dalam tangan raja.’ (13) Suruhan yang pergi memanggil Mikha itu, berkata kepadanya: ‘Ketahuilah, nabi-nabi itu sudah sepakat meramalkan yang baik bagi raja, hendaklah engkau juga berbicara seperti salah seorang dari pada mereka dan meramalkan yang baik.’ (14) Tetapi Mikha menjawab: ‘Demi TUHAN yang hidup, sesungguhnya, apa yang akan difirmankan TUHAN kepadaku, itulah yang akan kukatakan.’”.

 

Matthew Henry: “Erroneous teachers have a peculiar advantage to win men over to them, because they have sensual pleasure to take them with; whereas the ministers of Christ put men upon self-denial, and the mortifying of those lusts that others gratify and please: wonder not therefore that truth prevails no more, or that errors spread so much” (= Guru-guru palsu mempunyai keuntungan khusus untuk memenangkan orang-orang ke pihak mereka, karena mereka mempunyai kesenangan yang bersifat hawa nafsu yang mereka gunakan untuk mengambil mereka; sedangkan pelayan-pelayan Kristus membebankan orang-orang penyangkalan diri sendiri, dan pematian dari nafsu-nafsu itu, yang orang-orang lain puaskan dan senangi: karena itu, jangan heran bahwa kebenaran tidak menang / efektif lagi, atau bahwa kesalahan-kesalahan tersebar begitu banyak).

 

c)   untuk memikat orang-orang yang baru saja melepaskan diri dari mereka yang hidup dalam kesesatan.

 

The Bible Exposition Commentary: New Testament menceritakan tentang seorang pendeta yang membantu suatu penginjilan di suatu tempat terbuka di Filipina. Orang-orang yang mengambil keputusan untuk menerima Kristus diminta untuk masuk ke ruangan dekat dengan tempat itu, dan di sana mereka dibimbing, dan juga diberi bahan-bahan untuk menolong mereka mulai dalam kehidupan Kristen mereka. Begitu orang-orang baru itu keluar dari tempat itu seorang sesat mendatangi mereka dan mulai memperkenalkan agamanya sendiri! Yang harus dilakukan oleh para penyesat itu hanyalah memperhatikan siapa yang membawa bahan yang diberikan itu, lalu mendekatinya. Prosedur yang sama sering terjadi dalam KKR penginjilan yang besar, dimana para penyesat siap untuk menerkam orang-orang percaya yang membawa ‘paket keputusan’ yang mereka dapatkan dari pembimbingan yang mereka terima. Itu sebabnya para hamba Tuhan harus memperkuat dasar iman dari para petobat baru itu. Seperti bayi-bayi yang baru dilahirkan, orang-orang Kristen yang baru itu perlu dilindungi, diberi makan, dan diteguhkan, sebelum mereka bisa dilepaskan dalam dunia yang berbahaya ini. Kita tidak bisa menyalahkan orang-orang Kristen yang baru itu karena ‘tidak teguh / stabil’ (2Pet 2:14), jika kita tidak mengajar mereka bagaimana untuk berdiri!

 

The Bible Exposition Commentary: New Testament: “A pastor friend of mine was assisting some missionaries in the Philippines by conducting open-air meetings near the university. Students who wanted to decide for Christ were asked to step into a building near the square, and there they were counseled and also given follow-up material to help them get started in their Christian life. No sooner did a new convert walk out the door and past the crowd than a cultist would join him and start to introduce his own religion! All the apostates had to do was look for the people carrying follow-up material! This same procedure is often used in large evangelistic crusades: the false teachers are ready to pounce on new believers carrying decision packets. This is why it is important that soul-winners, pastors, and other Christian workers ground new converts in the faith. Like newborn babies, new Christians need to be protected, fed, and established before they can be turned loose in this dangerous world. One reason Peter wrote this letter was to warn the church to care for the new Christians, because the false teachers were out to get them! We cannot blame new believers for being ‘unstable’ (2 Peter 2:14) if we have not taught them how to stand” [=].

 

Matthew Henry: “By application and industry men attain a skilfulness and dexterity in promoting error. They are as artful and as successful as the fisher, who makes angling his daily employment. The business of these men is to draw disciples after them, and in their methods and management there are some things worth observing, how they suit their bait to those they desire to catch” (= Dengan penerapan / ketekunan dan kerajinan orang-orang mendapat suatu keahlian dan ketangkasan dalam mempromosikan kesalahan. Mereka sama ahlinya dan suksesnya seperti si penjala ikan, yang membuat memancing sebagai pekerjaan harian mereka. Kesibukan dari orang-orang ini adalah menarik murid-murid untuk mengikuti mereka, dan dalam metode-metode dan kepengurusan mereka ada hal-hal tertentu yang layak diperhatikan, bagaimana mereka menyesuaikan umpan mereka dengan orang-orang yang mereka ingin tangkap).

 

Penerapan: bandingkan dengan para Saksi Yehuwa yang karena kerajinan dan ketekunan, baik dalam belajar maupun memberitakan ‘Injil’, menjadi ahli dalam melakukan hal itu.

 

Calvin: we must consider the whole sentence of the Apostle. He says that they who had really escaped from the society of those in error were again deceived by a new kind of error, ... He hereby reminds us how dangerous are the wiles of these men. ... Let us be reminded of what we ought especially to beware of, after having been once enlightened, that is, lest Satan entice us under the pretense of liberty, so as to give ourselves up to lasciviousness to gratify the lusts of the flesh. But they are safe from this danger who seriously attend to the study of holiness (= kita harus mempertimbangkan seluruh kalimat dari sang Rasul. Ia mengatakan bahwa mereka yang telah sungguh-sungguh melepaskan diri dari masyarakat yang salah, ditipu lagi oleh suatu jenis kesalahan yang baru, ... Dengan ini ia mengingatkan kita betapa berbahayanya tipu muslihat dari orang-orang ini. ... Hendaklah kita diingatkan tentang apa yang secara khusus harus kita waspadai, setelah sekali pernah dicerahi, yaitu, supaya jangan Iblis memikat kita di bawah kepura-puraan dari kebebasan, sehingga memberikan diri kita sendiri kepada hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu untuk memuaskan nafsu dari daging. Tetapi mereka aman dari bahaya ini, yang dengan serius memperhatikan pelajaran tentang kekudusan).

 

Ada penterjemahan yang berbeda tentang bagian ini.

Kitab Suci Indonesia: untuk memikat orang-orang yang baru saja melepaskan diri dari mereka yang hidup dalam kesesatan.

KJV: ‘were clean escaped’ (= sama sekali lolos).

RSV: ‘who have barely escaped’ (= yang hampir lolos).

NIV: ‘who are just escaping’ (= yang baru lolos).

NASB: ‘who barely escape’ (= yang hampir lolos).

 

Jadi, RSV / NASB mengatakan bahwa orang-orang itu hampir lolos. Sedangkan Kitab Suci Indonesia, RSV, NIV mengatakan bahwa mereka baru lolos. Perbedaan ini muncul karena adanya problem text dalam bagian ini. Ada manuscript-manuscript yang menuliskan ONTOS [= really (= sungguh-sungguh)] dan ada manuscript-manuscript yang menuliskan OLIGOS [= scarcely, barely (= hampir, nyaris)]. Baik Albert Barnes maupun Bruce Metzger memilih yang kedua.

 

Barnes’ Notes: “Most of the later editions of the Greek Testament coincide with the reading in the margin, ‎oligoos meaning ‘little, but a little, scarcely.’ This accords better with the scope of the passage; and, according to this, it means that they had ‘almost escaped’ from the snares and influences of those who live in error and sin. They had begun to think of their ways; they had broken off many of their evil habits; and there was hope that they would be entirely reformed, and would become decided Christians, but they were allured again to the sins in which they had so long indulged. This seems to me to accord with the design of the passage, and it certainly accords with what frequently occurs, that those who are addicted to habits of vice become apparently interested in religion, and abandon many of their evil practices, but are again allured by the seductive influences of sin, and relapse into their former habits” (= Kebanyakan dari edisi-edisi belakangan dari Perjanjian Baru bahasa Yunani serupa / bertepatan dengan pembacaan di catatan tepi, OLIGOOS yang berarti ‘sedikit, tetapi sedikit, hampir’. Ini lebih sesuai dengan tujuan dari text; dan, sesuai dengan ini, itu berarti bahwa mereka ‘hampir lolos’ dari jerat dan pengaruh dari mereka yang hidup dalam kesesatan dan dosa. Mereka telah mulai berpikir tentang jalan mereka; mereka telah memutuskan banyak dari kebiasaan-kebiasaan jahat mereka; dan di sana ada harapan bahwa mereka akan direformasi secara keseluruhan, dan akan menjadi orang-orang Kristen yang pasti, tetapi mereka dipikat lagi kepada dosa-dosa dalam mana mereka sudah begitu lama memuaskan diri. Ini kelihatannya bagi saya sesuai dengan rancangan dari text, dan itu pastilah sesuai dengan apa yang sering terjadi, bahwa mereka yang kecanduan terhadap kebiasaan dari kejahatan kelihatannya menjadi tertarik pada agama, dan meninggalkan banyak dari praktek-praktek jahat mereka, tetapi lalu dipikat lagi oleh pengaruh-pengaruh dosa yang bersifat memikat, dan kambuh / kumat ke dalam kebiasaan yang dahulu / semula).

 

-bersambung-

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali