Pemahaman
Alkitab
(Rungkut Megah
Raya, blok D no 16)
Kamis, tanggal
17 Maret 2011, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331
/ 6050-1331)
II Petrus 2:1-22(11)
5)
“Guru-guru
palsu itu adalah seperti mata air yang kering, seperti kabut yang dihalaukan
taufan; bagi mereka telah tersedia tempat dalam kegelapan yang paling dahsyat”
(ay 17).
a)
“Guru-guru
palsu itu adalah seperti mata air yang kering”.
KJV:
‘These are wells without water’
(= Mereka adalah sumur-sumur tanpa air).
RSV/NIV/NASB
≈
Kitab Suci Indonesia.
Seorang
hamba Tuhan seharusnya adalah seperti mata air / sumur yang memberikan air,
karena dari mereka orang-orang seharusnya belajar kebenaran. Tetapi para nabi
palsu ini tidak demikian.
Mal 2:7
- “Sebab bibir seorang imam memelihara
pengetahuan dan orang mencari pengajaran dari mulutnya, sebab dialah utusan
TUHAN semesta alam”.
Ef 4:11-15
- “(11) Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik
pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, (12)
untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi
pembangunan tubuh Kristus, (13) sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman
dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat
pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, (14) sehingga kita bukan lagi
anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh
permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, (15) tetapi
dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam
segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala”.
Matthew
Henry: “In vain then are all our
expectations of being fed and filled with knowledge and understanding by those
who are themselves ignorant and empty” (= Maka sia-sialah semua
pengharapan kita untuk diberi makan dan diisi dengan pengetahuan dan pengertian
oleh mereka yang dirinya sendiri tidak mempunyai pengetahuan dan kosong).
Adam
Clarke: “‘These
are wells without water.’ Persons who, by their profession, should furnish the
water of life to souls athirst for salvation; but they have not this water; they
are teachers without ability to instruct; they are sowers, and have no seed in
their basket. Nothing is more cheering in the deserts of the east than to meet
with a well of water; and nothing more distressing, when parched with thirst,
than to meet with a well that contains no water” (= ‘Mereka adalah
sumur-sumur tanpa air’. Orang-orang yang, oleh pengakuan mereka, harus memberi
air hidup kepada jiwa-jiwa yang haus akan keselamatan; tetapi mereka tidak
mempunyai air ini; mereka adalah guru-guru tanpa kemampuan untuk mengajar;
mereka adalah penabur-penabur, dan tidak mempunyai benih dalam keranjang mereka.
Tidak ada yang lebih menggembirakan di padang gurun di Timur dari pada menjumpai
sebuah sumur air; dan tidak ada yang lebih menyedihkan, pada waktu terbakar
kehausan, dari pada menjumpai sebuah sumur yang tidak berisikan air).
Calvin:
“‘These are wells,’ or
fountains, ‘without water.’ He
shews by these two metaphors, that they had nothing within, though they made
a great display. A fountain, by its appearance, draws men to itself, because
it promises them water to drink, and for other purposes; as soon as clouds
appear, they give hope of immediate rain to irrigate the earth. He then says
that they were like fountains, because they excelled in boasting, and
displayed some acuteness in their thoughts and elegance in their words; but that
yet they were dry and barren within: hence the appearance of a fountain was
fallacious”
(= ‘Ini adalah sumur-sumur’, atau mata air - mata air, ‘tanpa air’. Ini
menunjukkan dengan kedua kiasan ini, bahwa mereka tidak mempunyai apapun di
dalam diri mereka, sekalipun mereka membuat pameran / pertunjukan yang besar.
Sebuah mata air, oleh penampilannya, menarik orang-orang pada dirinya sendiri,
karena itu menjanjikan mereka air untuk diminum, dan untuk tujuan-tujuan lain;
begitu awan-awan muncul, mereka memberikan pengharapan tentang hujan yang segera
turun untuk mengairi bumi. Lalu ia mengatakan bahwa mereka seperti mata air -
mata air, karena mereka unggul dalam membanggakan, dan menunjukkan /
memamerkan ketajaman tertentu dalam pikiran-pikiran mereka dan kecantikan /
keanggunan dalam kata-kata mereka; tetapi mereka kering dan tandus di dalam:
karena itu penampilan dari sebuah mata air itu adalah salah / bersifat menipu).
Barnes’
Notes: “Nothing
to an oriental mind would be more expressive than to say of professed religious
teachers, that they were ‘wells without water.’ It was always a sad
disappointment to a traveler in the hot sands of the desert to come to a well
where it was expected that water might be found, and to find it dry. It only
aggravated the trials of the thirsty and weary traveler. Such were these
religious teachers. ... they would only grievously disappoint the expectations
of all those who were seeking for the refreshing influences of the truths of the
gospel. There are many such teachers in the world” (= Bagi pikiran orang
Timur tidak ada yang lebih menggambarkan dari pada mengatakan tentang
orang-orang yang mengaku sebagai guru-guru agamawi ini, bahwa mereka adalah
‘sumur-sumur tanpa air’. Selalu merupakan suatu kekecewaan yang menyedihkan
bagi seorang pelancong di tanah yang panas dari padang gurun untuk datang pada
suatu sumur dimana diharapkan akan ditemukan air, dan mendapatinya kering. Itu
hanya memperburuk percobaan dari pelancong yang haus dan lelah. Seperti itulah
guru-guru agamawi ini. ... mereka hanya dengan / secara menyedihkan mengecewakan
harapan dari semua mereka yang sedang mencari pengaruh-pengaruh yang menyegarkan
dari kebenaran-kebenaran injil. Ada banyak guru-guru seperti itu dalam dunia).
b)
“seperti
kabut yang dihalaukan taufan”.
KJV/NKJV:
‘clouds’ (= awan).
RSV/NIV/NASB:
‘mists’ (= kabut).
Ada
problem text di sini, karena ada manuscript-manuscript yang menuliskan OMIKHLAI
(kabut) dan ada manuscript-manuscript yang menuliskan NEPHILAI / NEPHELAI
(awan). Pulpit Commentary, dan kelihatannya juga Adam Clarke, memilih
‘kabut’. Tetapi Clarke mengatakan bahwa sekalipun kata yang digunakan
berbeda, artinya tidaklah terlalu berbeda.
Pulpit
Commentary: “The best manuscripts have o(mi/xlai,
‘mists,’ instead of nefe/lai,
‘clouds;’” (= ).
Adam
Clarke: “It
is scarcely necessary to notice a various reading here, which, though very
different in sound, is nearly the same in sense. Instead of nephilai,
‘clouds,’ which is the common reading, kai
homichlai, ‘and mists,’ or perhaps more
properly ‘thick darkness,’ from homou,
together, and achlus,
darkness, is the reading in ABC, sixteen others, Erpen’s Arabic, later
Syriac, Coptic, AEthiopic, and Vulgate, and several of the fathers. This
reading Griesbach has admitted into the text” (= ).
Adam
Clarke: “‘Clouds
that are carried with a tempest.’ In a time of great drought, to see clouds
beginning to cover the face of the heavens raises the expectation of rain; but
to see these carried off by a sudden tempest is a dreary disappointment. These
false teachers were equally as unprofitable as the empty well, or the light,
dissipated cloud” (= ‘Awan yang dihembuskan taufan’. Pada waktu
kekeringan besar, melihat awan mulai menutup wajah dari langit meningkatkan
pengharapan akan hujan; tetapi melihat awan ini dihembuskan oleh taufan yang
tiba-tiba adalah suatu kekecewaan yang suram. Guru-guru palsu ini sama tidak
bergunanya seperti sumur yang kosong, atau awan ringan yang menghilang).
Calvin:
“He says that they were ‘clouds
carried’ by the wind, either without rain, or which burst forth into a calamitous
storm. He thereby denotes that they brought nothing useful, and that often they
were very hurtful” (= Ia mengatakan bahwa mereka adalah awan yang
dibawa oleh angin, apakah tanpa hujan, atau yang meledak menjadi badai yang
bersifat bencana. Dengan itu ia menunjukkan bahwa mereka tidak membawa apapun
yang berguna, dan bahwa seringkali mereka adalah sangat merugikan).
c)
“bagi
mereka telah tersedia tempat dalam kegelapan yang paling dahsyat”.
KJV:
‘to whom the mist of darkness is
reserved for ever’ (= bagi siapa kabut kegelapan disediakan untuk
selama-lamanya).
RSV:
‘for them the nether gloom of darkness
has been reserved’ (= untuk mereka kesuraman dari kegelapan di bawah bumi
telah disediakan).
NIV:
‘Blackest darkness is reserved for
them’ (= Kegelapan yang paling hitam disediakan untuk mereka).
NASB:
‘for whom the black darkness has been
reserved’ (= untuk siapa kegelapan yang hitam telah disediakan).
Calvin:
“He afterwards denounces on them the dreadful
judgment of God, that fear might restrain the faithful. By naming the ‘mist’
or the blackness ‘of
darkness,’ he alludes to the clouds
which obscure the air; as though he had said, that for the momentary darkness
which they now spread, there is prepared for them a much thicker darkness which
is to continue for ever”
(= Belakangan ia memberitahukan kepada mereka penghakiman yang menakutkan dari
Allah, supaya rasa takut bisa mengekang orang-orang yang setia / beriman. Dengan
menyebutkan ‘kabut’ atau kehitaman ‘dari kegelapan’, ia menyinggung pada
awan-awan yang mengaburkan udara; seakan-akan ia telah berkata, bahwa untuk
kegelapan sementara yang sekarang menyebar, di sana disiapkan untuk mereka
kegelapan yang jauh lebih tebal yang akan berlangsung selama-lamanya).
Matthew
Henry: “seeing these men are for
promoting darkness in this world, it is very just that the mist of darkness
should be their portion in the next. Utter darkness was prepared for the devil,
the great deceiver, and his angels, those instruments that he uses to turn men
from the truth, and therefore for them it is reserved, and that for ever”
(= melihat bahwa orang-orang ini ada untuk mempromosikan kegelapan dalam dunia
ini, adalah sangat benar / adil bahwa kabut kegelapan menjadi bagian mereka
dalam dunia yang akan datang. Kegelapan total disiapkan untuk setan / iblis,
sang penipu besar, dan malaikat-malaikatnya, alat-alat yang ia gunakan untuk
membalikkan manusia dari kebenaran, dan karena itu untuk mereka tempat itu
disediakan, dan itu untuk selama-lamanya).
Barnes’
Notes: “It
refers undoubtedly to the place of future punishment, which is often represented
as a place of intense darkness. See the notes at Matt 8:12” (= Tak
diragukan itu menunjuk pada penghukuman yang akan datang, yang sering
digambarkan sebagai suatu tempat kegelapan yang hebat. Lihat catatan di Mat
8:12).
Mat
8:12 - “sedangkan anak-anak Kerajaan
itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah
akan terdapat ratap dan kertak gigi.’”.
Barnes’
Notes (tentang Mat 8:12): “‘Shall
be cast out into outer darkness ...’ This is an image of future punishment. It
is not improbable that the image was taken from Roman dungeons or prisons. They
were commonly constructed under ground. They were shut out from the light of the
sun. They were, of course, damp, dark, and unhealthy, and probably most filthy.
Masters were in the habit of constructing such prisons for their slaves, where
the unhappy prisoner, without light, or company, or comfort, spent his days and
nights in weeping from grief, and in vainly gnashing his teeth from indignation.
The image expresses the fact that the wicked who are lost will be shut out from
the light of heaven, and from peace, and joy, and hope; will weep in hopeless
grief, and will gnash their teeth in indignation against God, and complain
against his justice. ... add to his sufferings the idea of eternity, and then
remember that this, after all, is but an image, a faint image, of hell!”
(= ‘Akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap ...’. Ini adalah
suatu gambaran dari hukuman yang akan datang. Bukan tidak mungkin bahwa gambaran
ini diambil dari ruang-ruang bawah tanah atau penjara-penjara Romawi. Mereka
biasanya dibangun di bawah tanah. Mereka ditutup dari terang matahari. Mereka,
tentu saja, lembab, gelap, dan tidak sehat, dan mungkin sangat kotor. Tuan-tuan
mempunyai kebiasaan untuk membangun penjara-penjara seperti itu untuk
budak-budak mereka, dimana sang tahanan yang malang, tanpa terang, atau teman,
atau penghiburan, menghabiskan siang-siang dan malam-malamnya dalam tangisan
dari kesedihan, dan dengan sia-sia mengertakkan gigi dari kemarahan. Gambaran
ini menyatakan fakta bahwa orang-orang jahat yang terhilang akan ditutup dari
terang surga, dan dari damai, dan sukacita, dan pengharapan; akan menangis dalam
kesedihan tanpa harapan, dan akan mengertakkan gigi mereka dalam kemarahan
terhadap Allah, dan mengeluh terhadap keadilanNya. ... Tambahkan pada hal ini
gagasan tentang kekekalan, dan lalu ingat bahwa bagaimanapun juga ini hanya
merupakan suatu gambaran, suatu gambaran yang redup, tentang neraka!).
Suatu
buku Saat Teduh menceritakan peristiwa sebagai berikut: “Recently I was in a cave in Kentucky. When we had gone deep into the
bowels of the earth through many winding passageways, the guide suddenly turned
off all the lights and said, ‘I alone know the way out. If I were to leave you
in this dark chamber, you would probably never make your way to the surface.
Those who have been lost in this cavern have become insane inside of a week from
the oppressive loneliness and the maddening, incessant drip of the water from
the roof. Be quiet for a moment and feel the darkness!’ I remember my
youngster clutching my arm. Soon terror began to edge its way into all of our
hearts. After about thirty seconds, someone in the party could endure the ordeal
no longer and whimpered piteously, ‘Turn on the light! I’m going crazy
now!’ The guide laughed, but none of us will ever forget that eerie
experience. I thought of the ‘outer darkness’ of an eternal Hell and
shuddered!” (= Baru-baru ini saya ada di sebuah gua di Kentucky. Pada
waktu kami telah masuk dalam di dalam perut bumi melalui banyak jalan yang
berliku-liku, sang pemandu / penunjuk jalan tiba-tiba mematikan semua lampu dan
berkata, ‘Hanya aku yang tahu jalan keluar. Seandainya aku meninggalkan kalian
dalam ruangan gelap ini, mungkin kalian tidak akan pernah menemukan jalan ke
permukaan. Mereka yang telah terhilang di gua ini telah menjadi gila dalam 1
minggu karena kesendirian yang menekan, dan tetesan air yang tak henti-hentinya
dari langit-langit gua. Tenanglah untuk sesaat dan rasakanlah kegelapan itu!’
Saya teringat anak saya menggenggam / mencengkeram lengan saya. Segera rasa
takut mulai masuk ke dalam hati kami semua. Setelah kira-kira 30 detik,
seseorang dalam kelompok itu tidak bisa menahan siksaan itu lebih lama lagi dan
merengek dengan memilukan, ‘Nyalakan lampu! Aku sedang menjadi gila
sekarang!’ Sang pemandu / penunjuk jalan tertawa, tetapi tak seorangpun dari
kami akan pernah melupakan pengalaman yang mengerikan itu. Saya berpikir tentang
‘kegelapan yang jauh’ dari Neraka yang kekal dan gemetar!) - ‘Bread
For Each Day’, September 14.
6)
“Sebab
mereka mengucapkan kata-kata yang congkak dan hampa dan mempergunakan hawa nafsu
cabul untuk memikat orang-orang yang baru saja melepaskan diri dari mereka yang
hidup dalam kesesatan” (ay 18).
a)
“Sebab
mereka mengucapkan kata-kata yang congkak dan hampa”.
KJV:
‘For when they speak great swelling words
of vanity’ (= Karena pada waktu mereka mengatakan kata-kata membengkak yang besar
dari kesia-siaan).
Calvin:
“‘For when they speak great swelling words of vanity.’ He
means that they dazzled the eyes of the simple by high-flown stuff of words,
that they might not perceive their deceit, for it was not easy to captivate
their minds with such dotages, except they were first besotted by some artifice.
He then says that they used an inflated kind of words and speech, that they
might fill the unwary with admiration”
[= ‘Karena pada waktu mereka mengatakan kata-kata
membengkak yang besar dari kesia-siaan’. Ia memaksudkan bahwa mereka mempesonakan mata dari orang-orang yang
sederhana / bodoh dengan kata-kata dari bahan yang diterbangkan tinggi, sehingga
mereka tidak mengerti tipuan mereka, karena tidak mudah untuk memikat / menawan
pikiran mereka dengan hal-hal yang kekanak-kanakan / bodoh seperti itu, kecuali
mereka pertama-tama dibingungkan / dibuat menjadi bodoh dengan kelicikan
tertentu. Ia lalu mengatakan bahwa mereka menggunakan suatu jenis kata-kata dan
ucapan yang digelembungkan, supaya mereka bisa mengisi orang-orang yang tidak
waspada dengan kekaguman].
Calvin:
“There are fanatics of a similar kind at this day, who call themselves
by the plausible title of Libertines or free-men. For they talk most
confidently of the Spirit and of spiritual things, as though they roared out
from above the clouds, and fascinate many by their tricks and wiles, so that
you may say that the Apostle has correctly prophesied of them. For they treat
all things jocosely and scoffingly; and though they are great simpletons, yet as
they indulge in all vices, they find favor with their own people by a sort of
drollery” (= Jaman sekarang ada orang-orang fanatik dari jenis yang
mirip, yang menyebut diri mereka sendiri dengan gelar yang masuk akal dari
Libertines atau orang-orang bebas. Karena mereka berbicara dengan sangat
meyakinkan tentang Roh dan tentang hal-hal rohani, seakan-akan mereka menderu
dari atas awan-awan, dan mengherankan banyak orang dengan trik-trik dan
tipu-tipu muslihat mereka, sehingga engkau bisa mengatakan bahwa sang Rasul
dengan tepat telah menubuatkan tentang mereka. Karena mereka memperlakukan
segala sesuatu dengan cara melucu dan mengejek / mencemoohkan; dan sekalipun
mereka adalah orang-orang yang sangat tolol, tetapi karena mereka mengijinkan
segala kejahatan, mereka disenangi oleh orang-orang mereka sendiri sebagai
sejenis lelucon).
Matthew
Henry: “It is with great swelling words
of vanity, lofty expressions, which have a great sound, but little sense”
(= Itu disertai kata-kata sia-sia yang menggelembung besar, ungkapan-ungkapan
yang megah / tinggi, yang mempunyai bunyi yang besar, tetapi arti yang kecil /
sedikit).
Barnes’
Notes: “‘For
when they speak great swelling words of vanity.’ When they make pretensions to
wisdom and learning, or seem to attach great importance to what they say, and
urge it in a pompous and positive manner. Truth is simple, and delights in
simple statements. It expects to make its way by its own intrinsic force, and is
willing to pass for what it is worth. Error is noisy and declamatory, and hopes
to succeed by substituting sound for sense, and by such tones and arts as shall
induce men to believe that what is said is true, when it is known by the speaker
to be false” (= ‘Karena
pada waktu mereka mengatakan kata-kata membengkak yang besar dari
kesia-siaan’. Pada waktu mereka membuat kepura-puraan dalam hikmat dan
pengetahuan, atau kelihatannya melekatkan kepentingan yang besar pada apa yang
mereka katakan, dan mendesakkannya dengan cara yang muluk / memegahkan diri dan
positif. Kebenaran itu sederhana, dan senang dengan pernyataan-pernyataan yang
sederhana. Ia berharap untuk membuat jalannya dengan kekuatan yang ada dalam
dirinya, dan mau dipandang sebagaimana ia bernilai. Kesalahan adalah keributan
dan bersifat deklamasi, dan berharap untuk berhasil dengan menggantikan arti
dengan bunyi, dan dengan nada dan keahlian yang akan membujuk orang untuk
percaya bahwa apa yang dikatakan adalah benar, pada waktu diketahui oleh
pembicaranya sebagai salah).
The
Bible Exposition Commentary: New Testament:
“the
teachers are eloquent promoters of their doctrines. They know how to impress
people with their vocabulary, ‘Mated words that say
nothing’ (literal translation). The average person does not know how to listen
to and analyze the kind of propaganda that pours out of the mouths and printing
presses of the apostates. Many people cannot tell the difference between a
religious huckster and a sincere servant of Jesus Christ. Do not be impressed
with religious oratory. Apollos was a fervent and eloquent religious speaker,
but he did not know the right message to preach (Acts 18:24-28). Paul was
careful not to build his converts’ faith on either his words or his wisdom (1
Cor 2:1-5). Paul was a brilliant man, but his ministry was simple and practical.
He preached to express and not to impress. He knew the difference!
between communication and manipulation”
[= guru-guru itu adalah promotor-promotor yang fasih dari ajaran-ajaran mereka.
Mereka tahu bagaimana untuk membuat orang-orang terkesan dengan perbendaharaan
kata-kata mereka, ‘Kata-kata yang cocok (?) yang tidak mengatakan apa-apa’
(terjemahan hurufiah). Orang-orang rata-rata tidak tahu bagaimana untuk
mendengar pada dan menganalisa jenis propaganda yang mencurahkan dari
mulut-mulut dan cetakan-cetakan dari orang-orang murtad itu. Banyak orang tak
bisa mengetahui perbedaan antara seorang pedagang keliling dan seorang pelayan
yang tulus / sungguh-sungguh dari Yesus Kristus. Jangan terkesan dengan
kefasihan berpidato yang bersifat agamawi. Apolos adalah pembicara / pengkhotbah
agama yang bersemangat dan fasih, tetapi ia tidak mengetahui berita yang benar
untuk dikhotbahkan (Kis 18:24-28). Paulus berhati-hati untuk tidak membangun
iman dari para petobatnya pada kata-katanya atau hikmatnya (1Kor 2:1-5). Paulus
adalah orang yang brilian, tetapi pelayanannya sederhana dan praktis. Ia
berkhotbah untuk menyatakan, dan bukan untuk mengesankan. Ia tahu
perbedaannya! antara komunikasi / penyampaian dan manipulasi].
1Kor
2:1-5 - “(1) Demikianlah pula, ketika
aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang
indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. (2)
Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain
Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. (3) Aku juga telah datang kepadamu
dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. (4) Baik perkataanku
maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan,
tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, (5) supaya iman kamu jangan
bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah”.
1Kor
1:22-24 - “(22) Orang-orang Yahudi
menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, (23) tetapi kami
memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu
sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, (24) tetapi
untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi,
Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah”.
b)
“dan
mempergunakan hawa nafsu cabul”.
KJV:
‘they allure through the lusts of the
flesh, through much wantonness’ (= mereka memikat melalui nafsu-nafsu
daging, melalui banyak ketidak-bermoralan).
RSV:
‘they entice with licentious passions of
the flesh men’ (= mereka memikat dengan nafsu-nafsu yang tidak bermoral
dari manusia-manusia daging).
Matthew
Henry: “they work upon the corrupt
affections and carnal fleshly lusts of men, proposing what is grateful to
them” (= mereka mempengaruhi / berusaha untuk membujuk perasaan /
kecenderungan yang jahat dan nafsu daging dari manusia, menawarkan apa yang
menyenangkan bagi mereka).
Bdk.
2Tim 4:3-4 - “(3) Karena akan datang
waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan
mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.
(4) Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi
dongeng”.
Bdk.
1Raja 22:6,7,11-14 - “(6) Lalu raja Israel mengumpulkan para nabi, kira-kira empat ratus
orang banyaknya, kemudian bertanyalah ia kepada mereka: ‘Apakah aku boleh
pergi berperang melawan Ramot-Gilead atau aku membatalkannya?’ Jawab
mereka: ‘Majulah! Tuhan akan menyerahkannya ke dalam tangan raja.’ (7)
Tetapi Yosafat bertanya: ‘Tidak adakah lagi di sini seorang nabi TUHAN, supaya
dengan perantaraannya kita dapat meminta petunjuk?’ ... (11) maka Zedekia
bin Kenaana membuat tanduk-tanduk besi, lalu berkata: ‘Beginilah firman TUHAN:
Dengan ini engkau akan menanduk Aram sampai engkau menghabiskan mereka.’ (12)
Juga semua nabi itu bernubuat demikian, katanya: ‘Majulah ke Ramot-Gilead, dan
engkau akan beruntung; TUHAN akan menyerahkannya ke dalam tangan raja.’
(13) Suruhan yang pergi memanggil Mikha itu, berkata kepadanya: ‘Ketahuilah,
nabi-nabi itu sudah sepakat meramalkan yang baik bagi raja, hendaklah engkau
juga berbicara seperti salah seorang dari pada mereka dan meramalkan yang baik.’
(14) Tetapi Mikha menjawab: ‘Demi TUHAN yang hidup, sesungguhnya, apa yang
akan difirmankan TUHAN kepadaku, itulah yang akan kukatakan.’”.
Matthew
Henry: “Erroneous teachers have a
peculiar advantage to win men over to them, because they have sensual pleasure
to take them with; whereas the ministers of Christ put men upon self-denial, and
the mortifying of those lusts that others gratify and please: wonder not
therefore that truth prevails no more, or that errors spread so much” (=
Guru-guru palsu mempunyai keuntungan khusus untuk memenangkan orang-orang ke
pihak mereka, karena mereka mempunyai kesenangan yang bersifat hawa nafsu yang
mereka gunakan untuk mengambil mereka; sedangkan pelayan-pelayan Kristus
membebankan orang-orang penyangkalan diri sendiri, dan pematian dari nafsu-nafsu
itu, yang orang-orang lain puaskan dan senangi: karena itu, jangan heran bahwa
kebenaran tidak menang / efektif lagi, atau bahwa kesalahan-kesalahan tersebar
begitu banyak).
c)
“untuk
memikat orang-orang yang baru saja melepaskan diri dari mereka yang hidup
dalam kesesatan”.
The
Bible Exposition Commentary: New Testament menceritakan tentang seorang pendeta
yang membantu suatu penginjilan di suatu tempat terbuka di Filipina. Orang-orang
yang mengambil keputusan untuk menerima Kristus diminta untuk masuk ke ruangan
dekat dengan tempat itu, dan di sana mereka dibimbing, dan juga diberi
bahan-bahan untuk menolong mereka mulai dalam kehidupan Kristen mereka. Begitu
orang-orang baru itu keluar dari tempat itu seorang sesat mendatangi mereka dan
mulai memperkenalkan agamanya sendiri! Yang harus dilakukan oleh para penyesat
itu hanyalah memperhatikan siapa yang membawa bahan yang diberikan itu, lalu
mendekatinya. Prosedur yang sama sering terjadi dalam KKR penginjilan yang
besar, dimana para penyesat siap untuk menerkam orang-orang percaya yang membawa
‘paket keputusan’ yang mereka dapatkan dari pembimbingan yang mereka terima.
Itu sebabnya para hamba Tuhan harus memperkuat dasar iman dari para petobat baru
itu. Seperti bayi-bayi yang baru dilahirkan, orang-orang Kristen yang baru itu
perlu dilindungi, diberi makan, dan diteguhkan, sebelum mereka bisa dilepaskan
dalam dunia yang berbahaya ini. Kita tidak bisa menyalahkan orang-orang Kristen
yang baru itu karena ‘tidak teguh / stabil’ (2Pet 2:14), jika kita tidak
mengajar mereka bagaimana untuk berdiri!
The
Bible Exposition Commentary: New Testament:
“A
pastor friend of mine was assisting some missionaries in the Philippines by
conducting open-air meetings near the university. Students who wanted to
decide for Christ were asked to step into a building near the square, and
there they were counseled and also given follow-up material to help them get
started in their Christian life. No sooner did a new convert walk out the door
and past the crowd than a cultist would join him and start to introduce his
own religion! All the apostates had to do was look for the people carrying
follow-up material! This same procedure is often used in large evangelistic
crusades: the false teachers are ready to pounce on new believers carrying
decision packets. This is why it is important that soul-winners, pastors, and
other Christian workers ground new converts in the faith. Like newborn babies,
new Christians need to be protected, fed, and established before they can be
turned loose in this dangerous world. One reason Peter wrote this letter was
to warn the church to care for the new Christians, because the false teachers
were out to get them! We cannot blame new believers for being ‘unstable’
(2 Peter 2:14) if we have not taught them how to stand” [=].
Matthew
Henry: “By application and industry men
attain a skilfulness and dexterity in promoting error. They are as artful and as
successful as the fisher, who makes angling his daily employment. The business
of these men is to draw disciples after them, and in their methods and
management there are some things worth observing, how they suit their bait to
those they desire to catch” (= Dengan penerapan / ketekunan dan kerajinan
orang-orang mendapat suatu keahlian dan ketangkasan dalam mempromosikan
kesalahan. Mereka sama ahlinya dan suksesnya seperti si penjala ikan, yang
membuat memancing sebagai pekerjaan harian mereka. Kesibukan dari orang-orang
ini adalah menarik murid-murid untuk mengikuti mereka, dan dalam metode-metode
dan kepengurusan mereka ada hal-hal tertentu yang layak diperhatikan, bagaimana
mereka menyesuaikan umpan mereka dengan orang-orang yang mereka ingin tangkap).
Penerapan:
bandingkan dengan para Saksi Yehuwa yang karena kerajinan dan ketekunan, baik
dalam belajar maupun memberitakan ‘Injil’, menjadi ahli dalam melakukan hal
itu.
Calvin: “we must consider the whole sentence of the Apostle. He says that
they who had really escaped from the society of those in error were again
deceived by a new kind of error, ... He hereby reminds us how dangerous are the
wiles of these men. ... Let us be reminded of what we ought especially to beware
of, after having been once enlightened, that is, lest Satan entice us under the
pretense of liberty, so as to give ourselves up to lasciviousness to gratify the
lusts of the flesh. But they are safe from this danger who seriously attend
to the study of holiness”
(= kita harus mempertimbangkan seluruh kalimat dari sang Rasul. Ia mengatakan
bahwa mereka yang telah sungguh-sungguh melepaskan diri dari masyarakat yang
salah, ditipu lagi oleh suatu jenis kesalahan yang baru, ... Dengan ini ia
mengingatkan kita betapa berbahayanya tipu muslihat dari orang-orang ini. ...
Hendaklah kita diingatkan tentang apa yang secara khusus harus kita waspadai,
setelah sekali pernah dicerahi, yaitu, supaya jangan Iblis memikat kita di bawah
kepura-puraan dari kebebasan, sehingga memberikan diri kita sendiri kepada
hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu untuk memuaskan nafsu dari daging. Tetapi
mereka aman dari bahaya ini, yang dengan serius memperhatikan pelajaran tentang
kekudusan).
Ada
penterjemahan yang berbeda tentang bagian ini.
Kitab
Suci Indonesia: “untuk
memikat orang-orang yang baru saja melepaskan diri dari mereka yang hidup
dalam kesesatan”.
KJV:
‘were clean escaped’ (= sama
sekali lolos).
RSV:
‘who have barely escaped’
(= yang hampir lolos).
NIV:
‘who are just escaping’ (= yang
baru lolos).
NASB:
‘who barely escape’ (= yang
hampir lolos).
Jadi,
RSV / NASB mengatakan bahwa orang-orang itu hampir lolos. Sedangkan Kitab
Suci Indonesia, RSV, NIV mengatakan bahwa mereka baru lolos. Perbedaan
ini muncul karena adanya problem text dalam bagian ini. Ada
manuscript-manuscript yang menuliskan ONTOS [= really (= sungguh-sungguh)] dan ada manuscript-manuscript yang
menuliskan OLIGOS [= scarcely, barely
(= hampir, nyaris)]. Baik Albert Barnes maupun Bruce Metzger memilih yang kedua.
Barnes’
Notes: “Most
of the later editions of the Greek Testament coincide with the reading in the
margin, oligoos meaning
‘little, but a little, scarcely.’ This accords better with the scope of the
passage; and, according to this, it means that they had ‘almost escaped’
from the snares and influences of those who live in error and sin. They had
begun to think of their ways; they had broken off many of their evil habits; and
there was hope that they would be entirely reformed, and would become decided
Christians, but they were allured again to the sins in which they had so long
indulged. This seems to me to accord with the design of the passage, and it
certainly accords with what frequently occurs, that those who are addicted to
habits of vice become apparently interested in religion, and abandon many of
their evil practices, but are again allured by the seductive influences of sin,
and relapse into their former habits” (= Kebanyakan dari edisi-edisi
belakangan dari Perjanjian Baru bahasa Yunani serupa / bertepatan dengan
pembacaan di catatan tepi, OLIGOOS yang berarti ‘sedikit, tetapi sedikit,
hampir’. Ini lebih sesuai dengan tujuan dari text; dan, sesuai dengan ini, itu
berarti bahwa mereka ‘hampir lolos’ dari jerat dan pengaruh dari mereka yang
hidup dalam kesesatan dan dosa. Mereka telah mulai berpikir tentang jalan
mereka; mereka telah memutuskan banyak dari kebiasaan-kebiasaan jahat mereka;
dan di sana ada harapan bahwa mereka akan direformasi secara keseluruhan, dan
akan menjadi orang-orang Kristen yang pasti, tetapi mereka dipikat lagi kepada
dosa-dosa dalam mana mereka sudah begitu lama memuaskan diri. Ini kelihatannya
bagi saya sesuai dengan rancangan dari text, dan itu pastilah sesuai dengan apa
yang sering terjadi, bahwa mereka yang kecanduan terhadap kebiasaan dari
kejahatan kelihatannya menjadi tertarik pada agama, dan meninggalkan banyak dari
praktek-praktek jahat mereka, tetapi lalu dipikat lagi oleh pengaruh-pengaruh
dosa yang bersifat memikat, dan kambuh / kumat ke dalam kebiasaan yang dahulu /
semula).
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali