Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

Kamis, tanggal 10 Maret 2011, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(7064-1331 / 6050-1331)

[email protected]

 

II Petrus 2:1-22(10)

 

4)   (15) Oleh karena mereka telah meninggalkan jalan yang benar, maka tersesatlah mereka, lalu mengikuti jalan Bileam, anak Beor, yang suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat. (16) Tetapi Bileam beroleh peringatan keras untuk kejahatannya, sebab keledai beban yang bisu berbicara dengan suara manusia dan mencegah kebebalan nabi itu (ay 15-16).

 

a)   Oleh karena mereka telah meninggalkan jalan yang benar, maka tersesatlah mereka, lalu mengikuti jalan Bileam, anak Beor, yang suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat (ay 15).

 

1.         Beor atau Bosor?

KJV: ‘Balaam the son of Bosor’ (= Bileam anak Bosor).

RSV/NIV/NASB menuliskan ‘Beor’, tetapi dalam Yunani memang ‘Bosor’ seperti KJV.

Penggunaan ‘Bosor’ terjadi karena bermacam-macam kemungkinan alasan:

a.   Perbedaan dialek. Petrus adalah orang Galilea, dan memang mempunyai dialek khusus.

b.   Kemungkinan lain adalah: ada kemiripan antara kata ‘Bosor’ dengan kata Ibrani BASAR, yang artinya ‘daging’, yang merupakan suatu petunjuk pada dosa-dosa daging ke dalam mana Bileam memikat orang-orang Israel.

c.   Kata ‘Bosor’ dianggap sebagai bentuk kata bahasa Aram yang didapatkan dari Babilonia, dan tetap dipakai sampai jaman Kristen.

d.   Ada lagi yang mengatakan bahwa ayah dari Bileam mungkin mempunyai 2 nama.

e.   Kata ‘Beor’ diubah menjadi ‘Bosor’ oleh orang-orang Yunani supaya lebih mudah mengucapkannya.

 

Pulpit Commentary: “The form ‘Bosor,’ instead of ‘Beor,’ arose probably from a peculiar (perhaps Galilaean) pronunciation of the guttural u in rouB=. Thus we, perhaps, have here an undesigned coincidence, a slight confirmation of St. Peter’s authorship: he was a Galilaean, and his speech betrayed him (Matt 26:73); one characteristic of the Galilaean dialect was a mispronunciation of the gutturals. But some commentators see in the resemblance of the form ‘Bosor’ to the Hebrew rc*B*, flesh, an allusion to those sins of the flesh into which Balaam allured the Israelites. ... There is another explanation in the ‘Speaker’s Commentary,’ that the word ‘Bosor’ is an Aramaic form, and that ‘the form possibly became familiar to St. Peter during his residence at Babylon, and suggests the probability that Aramaic traditions were still current respecting Balaam at the Christian era, and on the banks of the Euphrates’ (additional note on Num 22:5). But the two oldest manuscripts read ‘Beer’ here” (= ).

Barnes’ Notes: “In the Book of Numbers, Balaam is called the son of ‘Beor.’ Perhaps the name Beor was corrupted into Bosor; or, as Rosenmuller suggests, the father of Balaam may have had two names. Schleusner (Lexicon) supposes that it was changed by the Greeks because it was more easily pronounced. The Septuagint, however, reads it as Beoor - ‘Beor.’” (= ).

Catatan: kedua kutipan ini tidak saya terjemahkan karena intinya sudah saya berikan di atas.

 

2.         Mengikuti kejahatan Bileam.

 

Pulpit Commentary: “‘Following the way of Balaam the son of Bosor.’ The word rendered ‘following’ (e)cakolouqh/sante$) is found also in chapter 1:16 and 2:2 of this Epistle, but nowhere else in the New Testament; it means ‘to follow out to the end.’ [= ‘Mengikuti jalan Bileam, anak Bosor’. Kata yang diterjemahkan ‘mengikuti’ (e)cakolouqh/sante$ / EXAKOLOUTHESANTES) ditemukan juga dalam pasal 1:16 dan 2:2 dari Surat ini, tetapi tidak ada di tempat lain dalam Perjanjian Baru; itu berarti ‘mengikuti sampai akhir’].

 

Barnes’ Notes: “‘Which have forsaken the right way.’ The straight path of honesty and integrity. Religion is often represented as a straight path, and to do wrong is to go out of that path in a crooked way. ‘Following the way of Balaam the son of Bosor.’ See Num 22:5, following. ... The meaning here is, that they IMITATED Balaam. The particular point to which Peter refers in which they imitated him, seems to have been the love of gain, or covetousness. Possibly, however, he might have designed to refer to a more general resemblance, for in fact they imitated him in the following things: (1) in being professed religious teachers, or the servants of God; (2) in their covetousness; (3) in inducing others to sin, referring to the same kind of sins in both cases. Balaam counselled the Moabites to entice the children of Israel to illicit connection with their women, thus introducing licentiousness into the camp of the Hebrews (Num 31:16; compare Num 25:1-9); and in like manner these teachers led others into licentiousness, thus corrupting the church” [= ‘Yang telah meninggalkan jalan yang benar’. Jalan yang lurus dari kejujuran dan kelurusan / ketulusan. Agama sering digambarkan sebagai suatu jalan yang lurus, dan melakukan yang salah berarti keluar dari jalan itu ke dalam jalan yang bengkok / berliku-liku. ‘Mengikuti jalan Bileam anak Bosor’. Lihat Bil 22:5 dan seterusnya. ... Artinya di sini adalah, bahwa mereka meniru Bileam. Hal khusus yang ditunjuk oleh Petrus dalam mana mereka meniru dia, kelihatannya adalah kecintaan pada keuntungan, atau ketamakan. Tetapi mungkin, ia telah merancang untuk menunjuk pada kemiripan yang lebih umum, karena dalam faktanya mereka meniru dia dalam hal-hal berikut ini: (1) dalam mengaku sebagai guru-guru agamawi, atau pelayan-pelayan Allah; (2) dalam ketamakan mereka; (3) dalam membujuk orang-orang lain kepada dosa, menunjuk pada jenis dosa yang sama dalam kedua kasus. Bileam menasehati orang-orang Moab untuk membujuk / memikat anak-anak Israel untuk melakukan hubungan gelap / haram dengan perempuan-perempuan mereka, dan dengan demikian memperkenalkan ketidak-bermoralan ke dalam perkemahan orang-orang Ibrani (Bil 31:16; bdk. Bil 25:1-9); dan dengan cara yang sama guru-guru ini membimbing orang-orang lain ke dalam ketidak-bermoralan, dan dengan demikian merusak gereja].

Bil 25:1-2 - “(1) Sementara Israel tinggal di Sitim, mulailah bangsa itu berzinah dengan perempuan-perempuan Moab. (2) Perempuan-perempuan ini mengajak bangsa itu ke korban sembelihan bagi allah mereka, lalu bangsa itu turut makan dari korban itu dan menyembah allah orang-orang itu”.

Bil 31:16 - “Bukankah perempuan-perempuan ini, atas nasihat Bileam, menjadi sebabnya orang Israel berubah setia terhadap TUHAN dalam hal Peor, sehingga tulah turun ke antara umat TUHAN”.

 

The Bible Exposition Commentary: New Testament (tentang ay 19-20): “It is interesting to compare the three men Peter named in this chapter - Noah, Lot, and Balaam. Noah kept himself completely separated from the apostasy of the world of his day. He boldly preached God’s righteousness and was faithful in his walk and witness, even though no one but his family followed the Lord. Lot knew the truth and kept himself pure, but he did not keep himself separated; he lost his family as a result. Lot hated the wickedness of Sodom, yet he lived in the midst of it and, by doing so, exposed his daughters and wife to godless influences. Balaam not only followed the ways of sin, but he encouraged other people to sin! He told Balak how to seduce the nation Israel and his plan almost succeeded. Lot lost his family, but Balaam lost his life” (= Adalah menarik untuk membandingkan ketiga orang yang disebutkan oleh Petrus dan pasal ini - Nuh, Lot, dan Bileam. Nuh menjaga dirinya terpisah dari kemurtadan dunia pada jamannya. Ia dengan berani memberitakan kebenaran Allah dan setia dalam jalan dan kesaksiannya, sekalipun tak seorangpun kecuali keluarganya mengikuti Tuhan. Lot tahu kebenaran dan menjaga dirinya sendiri murni, tetapi ia tidak menjaga dirinya terpisah; sebagai hasilnya / akibatnya ia kehilangan keluarganya. Lot membenci kejahatan Sodom, tetapi ia hidup / tinggal di tengah-tengahnya, dan dengan melakukan hal itu, membuka anak-anak perempuannya dan istrinya terhadap pengaruh-pengaruh jahat. Bileam bukan hanya mengikuti jalan-jalan dosa, tetapi ia mendorong orang-orang lain kepada dosa! Ia memberitahu Balak bagaimana caranya membujuk bangsa Israel dan rencananya hampir berhasil. Lot kehilangan keluarganya, tetapi Bileam kehilangan nyawanya).

 

c)   Tetapi Bileam beroleh peringatan keras untuk kejahatannya, sebab keledai beban yang bisu berbicara dengan suara manusia dan mencegah kebebalan nabi itu.

 

1.         Bileam bertindak bertentangan dengan kebenaran gara-gara ketamakannya.

Ay 16b: ‘mencegah kebebalan nabi itu’.

KJV/RSV/NIV/NASB: ‘madness’ (= kegilaan).

Barnes’ Notes: “‘Forbade the madness of the prophet.’ That is, the mad or perverse design of the prophet. The word here rendered ‘madness’ means, properly, being aside from a right mind. It is not found elsewhere in the New Testament. It is used here to denote that Balaam was engaged in an enterprise which indicated a headstrong disposition; an acting contrary to reason and sober sense. He was so under the influence of avarice and ambition that his sober sense was blinded, and he acted like a madman. He knew indeed what was right, and had professed a purpose to do what was right, but he did not allow that to control him; but, for the sake of gain, went against his own sober conviction, and against what he knew to be the will of God. He was so mad or infatuated that he allowed neither reason, nor conscience, nor the will of God, to control him!” (= ‘mencegah kegilaan dari sang nabi’. Artinya, rancangan yang gila atau jahat dari nabi itu. Kata yang di sini diterjemahkan ‘kegilaan’ secara tepat berarti ‘berada disamping dari pikiran yang benar’. Kata itu tidak ditemukan di tempat lain dalam Perjanjian Baru. Kata itu digunakan di sini untuk menunjukkan bahwa Bileam terlibat dalam suatu kegiatan / usaha yang menunjukkan suatu kecenderungan yang keras kepala; suatu tindakan yang bertentangan dengan akal dan pikiran yang sehat / waras. Ia begitu berada di bawah pengaruh dari ketamakan dan ambisi sehingga akal sehat / warasnya dibutakan, dan ia bertindak seperti seorang gila. Ia sungguh-sungguh tahu apa yang benar, dan telah mengakui suatu tujuan untuk melakukan apa yang benar, tetapi ia tidak mengijinkan itu untuk mengendalikannya; tetapi, demi keuntungan, ia berjalan bertentangan dengan keyakinannya yang waras, dan bertentangan dengan apa yang ia tahu sebagai kehendak Allah. Ia begitu gila atau dibuat menjadi gila sehingga ia tidak mengijinkan baik akal, ataupun hati nurani, ataupun kehendak Allah, untuk mengendalikannya!).

 

Ini bahaya dari ketamakan! Dan luar biasa banyak nabi-nabi palsu seperti ini pada jaman sekarang!

Contoh:

a.   Amerika sudah lama tahu tentang manfaat buah sirsak untuk menyembuhkan kanker, tetapi menyembunyikannya, karena tak mau merugi pada saat obat mereka tidak laku! Ini merupakan pembunuhan pasif terhadap jutaan orang!

b.   Ketidak-pedulian terhadap pemanasan global, mayoritas disebabkan persoalan uang (ingin untung atau tak mau rugi).

 

Kalau dalam dunia sekuler ada hal-hal seperti ini, maka jangan heran kalau dalam dunia rohani juga ada, bahkan sangat banyak, hal-hal seperti ini.

 

Yer 8:10 - “Sebab itu Aku akan memberikan isteri-isteri mereka kepada orang lain, ladang-ladang mereka kepada penjajah. Sesungguhnya, dari yang kecil sampai yang besar, semuanya mengejar untung; baik nabi maupun imam, semuanya melakukan tipu.

Yeh 34:2-4 - “(2) ‘Hai anak manusia, bernubuatlah melawan gembala-gembala Israel, bernubuatlah dan katakanlah kepada mereka, kepada gembala-gembala itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Celakalah gembala-gembala Israel, yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah domba-domba yang seharusnya digembalakan oleh gembala-gembala itu? (3) Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan. (4) Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman”.

Mikha 3:11 - “Para kepalanya memutuskan hukum karena suap, dan para imamnya memberi pengajaran karena bayaran, para nabinya menenung karena uang, padahal mereka bersandar kepada TUHAN dengan berkata: ‘Bukankah TUHAN ada di tengah-tengah kita! Tidak akan datang malapetaka menimpa kita!’”.

Tit 1:11 - “Orang-orang semacam itu harus ditutup mulutnya, karena mereka mengacau banyak keluarga dengan mengajarkan yang tidak-tidak untuk mendapat untung yang memalukan.

 

Contohnya banyak terdapat dalam diri pendeta-pendeta yang memang menggunakan gereja menjadi bisnis! Ada pendeta-pendeta yang mematok tarif pada waktu mereka diundang, minta sekian juta dan sebagainya, masih ditambahi minta tidur di hotel bintang lima, minta dijemput dengan Mercy, dan sebagainya.

Contoh lain: pendeta yang mau berjerih payah memberikan counseling kepada jemaat yang kaya, tetapi tidak kepada jemaat yang miskin!

Sikap mata duitan ini biasanya memang menyebabkan ia baik / ramah kepada orang yang menguntungkannya secara materi, tetapi tidak kepada orang-orang yang tidak menguntungkannya.

Mikha 3:5 - “Beginilah firman TUHAN terhadap para nabi, yang menyesatkan bangsaku, yang apabila mereka mendapat sesuatu untuk dikunyah, maka mereka menyerukan damai, tetapi terhadap orang yang tidak memberi sesuatu ke dalam mulut mereka, maka mereka menyatakan perang.

 

2.         Peristiwa dimana seekor keledai bisa bicara kepada Bileam jelas merupakan mujijat.

Kalau Tuhan bisa memakai seekor keledai untuk berbicara dan menegur Bileam, lebih-lebih Ia pasti bisa memakai kita untuk memberitakan Injil / Firman Tuhan!

Karena itu, kalau Tuhan memanggil saudara untuk memberitakan Firman Tuhan / memberitakan Injil, jangan menolak dengan alasan ‘aku tidak bisa’!

 

Bandingkan dengan:

a.   Penolakan Musa.

Kel 3:10 - “Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umatKu, orang Israel, keluar dari Mesir.’”.

Kel 4:10-12 - “(10) Lalu kata Musa kepada TUHAN: ‘Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hambaMupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.’ (11) Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: ‘Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN? (12) Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan.’”.

 

Calvin (tentang Kel 4:10): whatever difficulty we encounter, this ought to be a sufficient encouragement to us, that as often as God chooses men as His ministers, although they are in themselves good for nothing, He forms and prepares them for their work (= kesukaran apapun yang kita hadapi, ini harus menjadi dorongan yang cukup bagi kita, bahwa sesering Allah memilih manusia sebagai pelayan-pelayanNya, sekalipun mereka, dalam diri mereka sendiri, tidak baik untuk apapun, Ia membentuk dan mempersiapkan mereka untuk pekerjaan mereka).

 

b.   Penolakan Yeremia.

Yer 1:4-10 - “(4) Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: (5) ‘Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.’ (6) Maka aku menjawab: ‘Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.’ (7) Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: ‘Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. (7) Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN.’ (8) Lalu TUHAN mengulurkan tanganNya dan menjamah mulutku; TUHAN berfirman kepadaku: ‘Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataanKu ke dalam mulutmu. (9) Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam.’”.

 

Awas, kedua text di atas ini (tentang Musa dan Yeremia) tidak boleh dijadikan dasar bagi seadanya orang untuk menjadi hamba Tuhan! Hanya kalau seseorang betul-betul dipanggil Tuhan menjadi hamba Tuhan, barulah ia harus, tanpa memperhitungkan kekurangan-kekurangannya, menjadi hamba Tuhan, dan melayani Tuhan sesuai dengan kehendakNya. Tuhan pasti akan memperlengkapinya sehingga ia mampu melakukan tugasnya.

 

Bdk. Yer 23:30-32 - “(30) Sebab itu, sesungguhnya, Aku akan menjadi lawan para nabi, demikianlah firman TUHAN, yang mencuri firmanKu masing-masing dari temannya. (31) Sesungguhnya, Aku akan menjadi lawan para nabi, demikianlah firman TUHAN, yang memakai lidahnya sewenang-wenang untuk mengutarakan firman ilahi. (32) Sesungguhnya, Aku akan menjadi lawan mereka yang menubuatkan mimpi-mimpi dusta, demikianlah firman TUHAN, dan yang menceritakannya serta menyesatkan umatKu dengan dustanya dan dengan bualnya. Aku ini tidak pernah mengutus mereka dan tidak pernah memerintahkan mereka. Mereka sama sekali tiada berguna untuk bangsa ini, demikianlah firman TUHAN”.

 

Penekanan saya dengan Yer 23:30-32 ini sebetulnya ada pada bagian yang saya garis-bawahi, yang menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah mengutus nabi-nabi palsu itu! Tetapi pada waktu membaca Yer 23:30nya saya ingin tahu apa arti kata-kata ‘yang mencuri firmanKu masing-masing dari temannya’. Ternyata bagian ini lagi-lagi berurusan dengan kejahatan yang dilakukan oleh nabi-nabi palsu itu demi uang! Perhatikan komentar Calvin di bawah ini tentang bagian itu.

Calvin (tentang Yer 23:30): He says, first, ‘Behold, I am, against the prophets, who steal my words every one from his neighbor.’ Many explain this verse as though God condemned the false prophets, who borrowed something from the true prophets, so that they might be their rivals and as it were their apes; and no doubt the ungodly teachers had ever from the beginning made some assumptions, that they might be deemed God’s servants. But it seems, however, a forced view, that they stole words from the true prophets, for the words express what is different, that they stole ‘every one from his friend.’ Jeremiah would not have called God’s faithful servants by this name. I rather think that their secret arts are here pointed out, that they secretly and designedly conspired among themselves, and then that they spread abroad their own figments according to their usual manner. For the ungodly and the perfidious, that they might obtain credit among the simple and unwary, consulted together and devised all their measures craftily, that they might not be immediately found out; and thus one took from the other what he afterwards announced and published. And this is what Jeremiah calls stealing, because they secretly consulted, and then declared to the people what they agreed upon among themselves; and they did this as though every one had derived his oracle from heaven. I have, therefore, no doubt but that the Prophet condemns these hidden consultations when he says that every one stole from his neighhour (= Ia berkata, pertama-tama, ‘Lihatlah, Aku menentang nabi-nabi itu, yang mencuri firmanKu, masing-masing dari tetangga / temannya’. Banyak orang  menjelaskan ayat ini seakan-akan Allah mengecam nabi-nabi palsu itu, yang meminjam sesuatu dari nabi-nabi asli, sehingga mereka bisa menjadi saingan-saingan mereka dan seakan-akan monyet mereka; dan tak diragukan guru-guru yang jahat itu sejak semula telah membuat suatu claim / kepura-puraan, supaya mereka bisa dianggap sebagai pelayan-pelayan Allah. Tetapi ini kelihatannya merupakan pandangan yang dipaksakan, bahwa mereka mencuri firman / kata-kata dari nabi-nabi asli, karena kata-katanya menyatakan apa yang berbeda, bahwa mereka mencuri ‘masing-masing dari temannya’. Yeremia tidak akan menyebut pelayan-pelayan yang setia dari Allah dengan sebutan ini. Saya lebih menganggap bahwa di sini keahlian rahasia mereka yang ditunjuk, bahwa mereka secara rahasia / diam-diam dan dengan direncanakan bersekongkol di antara mereka sendiri, dan lalu mereka menyebarkan isapan jempol mereka sendiri menurut cara mereka yang biasa. Karena orang-orang yang jahat dan bersifat mengkhianat, supaya mereka bisa mendapatkan penghargaan / pujian di antara orang-orang yang sederhana / bodoh dan tidak waspada, berunding bersama-sama dan merencanakan semua tindakan mereka dengan licik, supaya mereka tidak segera diketahui; dan demikianlah yang satu mengambil dari yang lain apa yang lalu ia umumkan dan beritakan. Dan ini yang oleh Yeremia disebut ‘mencuri’, karena mereka berunding dengan diam-diam, dan lalu menyatakan kepada orang-orang bahwa mereka setuju di antara mereka sendiri; dan mereka melakukan ini seakan-akan setiap orang dari mereka telah mendapatkan firmannya dari surga. Karena itu, saya tidak mempunyai keraguan bahwa sang Nabi mengecam perundingan-perundingan tersembunyi ini pada waktu ia mengatakan bahwa ‘masing-masing mencuri dari tetangga / sesamanya’).

Catatan: kata Ibrani yang diterjemahkan ‘teman’ adalah REA atau REYA, yang artinya adalah ‘friend, companion, fellow, another person’ (= teman, kawan / rekan, kawan / sesama, orang lain) - Bible Works 7.

Jadi sekalipun penafsiran Calvin memungkinkan, tetapi penafsiran pertama yang ditolak oleh Calvin, juga masih memungkinkan.

Penerapan:

·         pendeta setempat disebut rasul oleh pendeta tamu, dan pendeta setempat juga meninggi-ninggikan si pendeta tamu.

·         orang-orang yang mengambil tulisan saya, tetapi membengkokkannya atau mengambil hanya yang menguntungkan, dan lalu memberitakannya.

 

3.         Hebatnya, mujijat melalui keledai ini tetap tidak mempertobatkan nabi palsu itu!

 

Matthew Henry: “Those who will not yield to usual methods of reproof will be but little influenced by miraculous appearances to turn them from their sinful courses” (= Mereka yang tidak mau menyerah pada metode-metode teguran yang biasa, hanya akan dipengaruhi sedikit oleh penampilan-penampilan yang bersifat mujijat untuk membalikkan mereka dari jalan-jalan berdosa mereka).

Bdk. Luk 16:27-31 - “(27) Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, (28) sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. (29) Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. (30) Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. (31) Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.’”.

 

Penerapan: ini perlu dicamkan oleh orang-orang yang menyatakan mau percaya kalau ada mujijat-mujijat.

 

-bersambung-

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali