Pemahaman
Alkitab
(Rungkut Megah
Raya, blok D no 16)
Kamis, tanggal
24 Februari 2011, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331
/ 6050-1331)
II Petrus 2:1-22(8)
Ay 10-19: “(10)
terutama mereka yang menuruti hawa
nafsunya karena ingin mencemarkan diri dan yang menghina pemerintahan Allah.
Mereka begitu berani dan angkuh, sehingga tidak segan-segan menghujat
kemuliaan, (11) padahal
malaikat-malaikat sendiri, yang sekalipun lebih kuat dan lebih berkuasa dari
pada mereka, tidak memakai kata-kata hujat, kalau malaikat-malaikat menuntut
hukuman atas mereka di hadapan Allah. (12) Tetapi mereka itu sama dengan hewan
yang tidak berakal, sama dengan binatang yang hanya dilahirkan untuk ditangkap
dan dimusnahkan. Mereka menghujat apa yang tidak mereka ketahui, sehingga oleh
perbuatan mereka yang jahat mereka sendiri akan binasa seperti binatang liar,
(13) dan akan mengalami nasib yang buruk sebagai upah kejahatan mereka.
Berfoya-foya pada siang hari, mereka anggap kenikmatan. Mereka adalah kotoran
dan noda, yang mabuk dalam hawa nafsu mereka kalau mereka duduk makan minum
bersama-sama dengan kamu. (14) Mata mereka penuh nafsu zinah dan mereka tidak
pernah jemu berbuat dosa. Mereka memikat orang-orang yang lemah. Hati mereka
telah terlatih dalam keserakahan. Mereka adalah orang-orang yang terkutuk!
(15) Oleh karena mereka telah meninggalkan jalan yang benar, maka tersesatlah
mereka, lalu mengikuti jalan Bileam, anak Beor, yang suka menerima upah untuk
perbuatan-perbuatan yang jahat. (16) Tetapi Bileam beroleh peringatan keras
untuk kejahatannya, sebab keledai beban yang bisu berbicara dengan suara
manusia dan mencegah kebebalan nabi itu. (17) Guru-guru palsu itu adalah
seperti mata air yang kering, seperti kabut yang dihalaukan taufan; bagi
mereka telah tersedia tempat dalam kegelapan yang paling dahsyat. (18) Sebab
mereka mengucapkan kata-kata yang congkak dan hampa dan mempergunakan hawa
nafsu cabul untuk memikat orang-orang yang baru saja melepaskan diri dari
mereka yang hidup dalam kesesatan. (19) Mereka menjanjikan kemerdekaan kepada
orang lain, padahal mereka sendiri adalah hamba-hamba kebinasaan, karena siapa
yang dikalahkan orang, ia adalah hamba orang itu”.
2)
“(12)
Tetapi mereka itu sama dengan hewan yang tidak berakal, sama dengan binatang
yang hanya dilahirkan untuk ditangkap dan dimusnahkan. Mereka menghujat apa yang
tidak mereka ketahui, sehingga oleh perbuatan mereka yang jahat mereka sendiri
akan binasa seperti binatang liar, (13) dan akan mengalami nasib yang buruk
sebagai upah kejahatan mereka. Berfoya-foya pada siang hari, mereka anggap
kenikmatan. Mereka adalah kotoran dan noda, yang mabuk dalam hawa nafsu mereka
kalau mereka duduk makan minum bersama-sama dengan kamu”
(ay 12-13).
a)
“Tetapi
mereka itu sama dengan hewan yang tidak berakal, sama dengan binatang yang hanya
dilahirkan untuk ditangkap dan dimusnahkan” (ay 12a).
1.
‘sama dengan hewan yang tidak
berakal’.
KJV:
‘as natural brute beasts’
(= seperti binatang-binatang tak berakal yang alamiah).
Manuscript-manuscript
yang terbaik menempatkan kata Yunani yang diterjemahkan ‘natural’ di tempat
yang berbeda dalam kalimat itu sehingga terjemahannya menjadi lain.
RSV:
‘like irrational animals, creatures of
instinct’ (= seperti binatang-binatang tak berakal, makhluk-makhluk dari
naluri).
NIV:
‘like brute beasts, creatures of
instinct’ (= seperti binatang-binatang tak berakal, makhluk-makhluk dari
naluri).
NASB:
‘like unreasoning animals, born as
creatures of instinct’ (= seperti binatang-binatang tak berakal,
dilahirkan sebagai makhluk-makhluk dari naluri).
Bible
Knowledge Commentary: “‘Creatures
of instinct’ translates the one Greek word physika,
‘belonging to nature.’” (= ‘Makhluk-makhluk dari naluri’
menterjemahkan satu kata Yunani PHUSIKA, ‘termasuk dalam alam’).
Bible
Works 7 menterjemahkan PHUSIKA sebagai ‘natural’
(= alamiah).
The
Bible Exposition Commentary: New Testament:
“Animals
have life, but they live purely by instinct. They lack the finer sensibilities
that humans possess” (= Binatang-binatang mempunyai kehidupan, tetapi mereka hidup
semata-mata oleh naluri. Mereka tidak mempunyai kapasitas kecerdasan dan moral
yang lebih halus yang dimiliki manusia).
Alkitab
memang berulangkali menyatakan binatang sebagai ‘tidak berakal / tidak
mempunyai pengertian’.
Yudas
10 - “Akan tetapi mereka menghujat segala sesuatu yang tidak mereka ketahui
dan justru apa yang mereka ketahui dengan nalurinya seperti binatang yang
tidak berakal, itulah yang mengakibatkan kebinasaan mereka”.
Ayub
39:16-20 - “(16) Dengan riang sayap burung unta berkepak-kepak, tetapi
apakah kepak dan bulu itu menaruh kasih sayang? (17) Sebab telurnya
ditinggalkannya di tanah, dan dibiarkannya menjadi panas di dalam pasir, (18)
tetapi lupa, bahwa telur itu dapat terpijak kaki, dan diinjak-injak oleh
binatang-binatang liar. (19) Ia memperlakukan anak-anaknya dengan keras
seolah-olah bukan anaknya sendiri; ia tidak peduli, kalau jerih payahnya
sia-sia, (20) karena Allah tidak
memberikannya hikmat, dan tidak membagikan pengertian kepadanya”. Catatan:
dalam Kitab Suci Inggris Job 39:13-17.
Maz 32:9
- “Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang
kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia
tidak akan mendekati engkau”.
Maz 49:21
- “Manusia, yang dengan segala kegemilangannya tidak mempunyai
pengertian, boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan”.
Maz
73:22 - “aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di
dekatMu”.
Karena
itu binatang tidak bisa mengembangkan kemampuannya sendiri. Contoh:
·
Ikan / katak dalam berenang.
Bandingkan dengan manusia yang bisa berenang dalam bermacam-macam gaya yang
mereka ciptakan sendiri.
·
Harimau / singa dalam menangkap
mangsa, yang selalu dengan cara-cara yang itu-itu saja. Bandingkan dengan
manusia dalam berburu atau mencari nafkah, yang menggunakan cara-cara yang
beraneka ragam dan makin lama makin canggih.
·
Burung berkicau. Bandingkan dengan
manusia dalam menyanyi yang bisa menggunakan suara 1, 2, 3, dan 4. Tidak ada
burung-burung dimanapun yang bisa melakukan hal itu.
·
Burung / binatang dalam membuat
sarang. Bandingkan dengan manusia dalam membuat rumah yang begitu bervariasi.
·
Binatang makanannya terus sama.
Bandingkan dengan manusia dalam menciptakan bermacam-macam makanan.
Jadi,
binatang dianggap hanya mempunyai naluri, bukan akal. Tetapi kalau saya menonton
film-film tentang binatang, saya melihat binatang kelihatannya mempunyai akal,
sekalipun jelas tidak sepandai manusia. Contoh:
¨
Singa dalam mengepung mangsa.
Sekalipun memang tidak bisa memikirkan untuk membuat jebakan dsb, tetapi mereka
jelas menggunakan taktik / strategi pada waktu mengepung mangsanya.
¨
Simpanse dalam menangkap kera lain
yang lebih kecil, juga menggunakan taktik pengepungan yang hebat.
¨
Orca / Killer Whale juga
menggunakan taktik dalam mencari mangsa, dan bahkan dalam membunuh hiu putih
(great white shark) yang hampir sama besarnya dengan mereka. Hiu putih akan
pingsan kalau ditaruh dalam posisi terbalik. Karena itu mereka menyerangnya
sedemikian rupa sehingga hiu itu ada pada posisi terbalik, sehingga sama sekali
tidak mampu melawan. Dari mana mereka tahu hal itu?
¨
Anjing yang digunakan untuk
menggembalakan domba, atau menuntun orang buta, betul-betul kelihatannya punya
akal!
¨
Burung bisa menggunakan batu untuk
dipukulkan pada telur yang keras untuk memecahkannya, sehingga bisa memakan
isinya.
¨
Kera bisa menggunakan alat dalam
mencari makan, misalnya menggunakan ranting kecil untuk memancing semut dalam
lubang. Semut-semut itu merambat pada ranting, lalu ditarik dan dimakan.
¨
Yang paling luar biasa yang pernah
saya saksikan adalah sejenis burung gagak, yang memancing ulat dalam sebuah
lubang. Ia menggunakan ranting yang kecil, untuk ‘memancing’ ulat itu,
tetapi dengan menggunakan paruhnya ia membentuk lebih dulu ujung ranting itu,
sehingga ujung ranting itu menjadi seperti kait. Dengan dengan ranting berujung
kait itu, ia memancing ulat itu, dan ia berhasil!
Mungkin
ada yang mengatakan bahwa binatang-binatang yang melakukan hal-hal di atas ini
hanya meniru dari pendahulu-pendahulu mereka. Tetapi binatang pertama yang
melakukannya belajar dari siapa?
Jadi, dari semua ini saya tidak tahu apakah
memang kata-kata ‘tidak berakal’ yang digunakan Alkitab bagi binatang itu
harus diartikan apa adanya, atau harus sekedar diartikan bahwa mereka tidak
sepandai manusia. Tetapi kelihatannya para penafsir menganggap binatang
memang tidak punya akal.
Satu hal yang saya kira
harus diperhitungkan adalah: pada jaman Alkitab ditulis tidak ada orang yang
tahu tentang binatang-binatang ‘pintar’ yang saya ceritakan di atas. Dan
Alkitab memang sering ditulis bukan berdasarkan fakta, tetapi berdasarkan
pengertian orang pada saat itu, atau berdasarkan kelihatannya oleh orang-orang
pada jaman itu.
2.
Nabi-nabi palsu itu seperti binatang yang tak berakal.
Adam
Clarke: “As
those natural animals void of reason, following only the gross instinct of
nature, being governed neither by reason nor religion” (= Seperti
binatang-binatang alamiah itu tidak mempunyai akal, hanya mengikuti naluri yang
kasar dari alam, tidak dipimpin baik oleh akal maupun oleh agama).
Adam
Clarke (tentang Yudas 10):
“Like
the irrational animals; but, in the indulgence of their animal propensities, they
corrupt themselves, beyond the example of the brute beasts. A fearful
description; and true of many in the present day” (= Seperti binatang-binatang yang tidak
berakal; tetapi, dalam pemuasan dari kecenderungan binatang mereka, mereka
merusak diri mereka sendiri lebih dari contoh / teladan dari binatang yang tak
berakal. Suatu penggambaran yang menakutkan; dan benar tentang banyak orang
pada jaman sekarang ini).
Bible
Knowledge Commentary: “The
false teachers of the first century were like ‘brute beasts.’ They operated
from instinct, which was locked into their sin nature, rather than from rational
choice. ... They followed their natural desires” (= Guru-guru palsu dari
abad pertama adalah seperti ‘binatang-binatang yang tidak berakal’. Mereka
beroperasi dari naluri, yang dikunci / dikurung dalam sifat alamiah mereka, dari
pada dari pemilihan yang rasionil. ... Mereka mengikuti keinginan-keinginan
alamiah mereka).
The
Biblical Illustrator (New Testament):
“Such
is the power of sin, it can transform men into beast. While idolaters turn
beasts into gods, they turn themselves into beasts” (= Demikianlah kuasa dari dosa, itu bisa mengubah manusia menjadi
binatang. Sementara penyembah-penyembah berhala mengubah binatang-binatang
menjadi dewa-dewa / allah-allah, mereka mengubah diri mereka sendiri menjadi
binatang-binatang).
Barnes’
Notes: “The
word rendered ‘brute,’ means without reason; irrational. Man has reason, and
should allow it to control his passions; the brutes have no rational nature, and
it is to be expected that they will act out their propensities without
restraint. Man, as an animal, has many passions and appetites resembling those
of the brute creation, but he is also endowed with a higher nature, which is
designed to regulate and control his inferior propensities, and to keep them in
subordination to the requirements of law. If a man sinks himself to the level of
brutes, he must expect to be treated like brutes” (= Kata yang
diterjemahkan ‘brute’, berarti
‘tanpa akal’. Manusia mempunyai akal, dan harus mengijinkan akal itu untuk
mengendalikan nafsu-nafsunya; binatang-binatang yang tak berakal tidak mempunyai
sifat rasionil, dan diharapkan bahwa mereka akan melakukan kecenderungan mereka
tanpa pengekangan. Manusia, seperti binatang, mempunyai banyak nafsu-nafsu dan
keinginan-keinginan yang menyerupai nafsu dan keinginan dari ciptaan yang tak
berakal, tetapi ia juga diberkati dengan suatu sifat yang lebih tinggi, yang
dirancang untuk mengatur dan mengendalikan kecenderungannya yang lebih rendah,
dan untuk menjaganya dalam ketundukan kepada tuntutan-tuntutan dari hukum /
hukum Taurat. Jika seseorang menurunkan dirinya sendiri ke tingkatan binatang
yang tak berakal, ia harus mengharapkan untuk diperlakukan seperti binatang yang
tidak berakal).
Penerapan:
semua keinginan / nafsu yang alamiah, seperti nafsu makan, sex, keinginan untuk
tidur, untuk relax, untuk jalan-jalan / piknik, untuk rekreasi, untuk nonton TV,
atau bahkan untuk membeli barang-barang yang kita senangi, harus dicek dengan
pikiran (yang dikuasai Firman Tuhan). Kalau semua itu dituruti begitu saja tanpa
pengendalian, maka itu menjadikan saudara binatang yang tidak berakal. Ingat
bahwa hal ke 9 dari buah Roh adalah ‘penguasaan
diri’ (Gal 5:23).
3.
Apakah Tuhan menciptakan binatang memang hanya untuk ditangkap dan
dimusnahkan?
Bdk.
ay 12a: “Tetapi
mereka itu sama dengan hewan yang tidak berakal, sama dengan binatang yang
hanya dilahirkan untuk ditangkap dan dimusnahkan”.
Barnes’
Notes: “We
are not to suppose that this teaches that the only object which GOD had in view
in making wild animals was that they MIGHT BE destroyed; but that people so
regard them”
(= Kita tidak boleh beranggapan bahwa ini mengajar bahwa satu-satunya tujuan
yang Allah punyai dalam membuat binatang-binatang liar adalah supaya mereka bisa
dibinasakan; tetapi bahwa orang-orang mempunyai anggapan demikian tentang
binatang-binatang itu).
Jadi,
jelas bahwa manusia tidak boleh membunuhi binatang-binatang dengan semena-mena.
Binatang hanya boleh dibunuh untuk dimakan, atau kalau membahayakan /
menyebarkan penyakit / merugikan / mengganggu.
Berkenaan
dengan boleh tidaknya binatang dimakan, memang pada jaman Adam dan Hawa, memakan
binatang tidak diijinkan.
Kej 1:29
- “Berfirmanlah Allah: ‘Lihatlah, Aku
memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan
segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu”.
Ayat
ini sering dipakai oleh orang-orang yang termasuk dalam kelompok vegetarian,
untuk mendesak orang Kristen untuk tidak memakan binatang. Tetapi menyoroti
hanya satu ayat, tanpa mempedulikan ayat-ayat yang lain seperti ini, adalah
salah. Setelah air bah jaman Nuh, maka Tuhan mengijinkan manusia untuk memakan
binatang.
Kej 9:3
- “Segala yang bergerak, yang hidup,
akan menjadi makananmu. Aku telah memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga
tumbuh-tumbuhan hijau”.
Memang
ada perkecualian, yaitu binatang-binatang yang tidak boleh dimakan, yang
daftarnya ada dalam Im 11, tetapi semua ini sudah dihapuskan pada jaman
Perjanjian Baru (Kis 10 dsb). Jadi, pada jaman sekarang, semua binatang
boleh dimakan. Semua alasan yang melarang orang memakan binatang, seperti ‘kasihan,
mereka juga makhluk hidup yang punya hak untuk hidup’, dsb, tidak
Alkitabiah!
b)
“(12b) Mereka menghujat apa yang tidak mereka ketahui, sehingga oleh perbuatan
mereka yang jahat mereka sendiri akan binasa seperti binatang liar, (13a) dan
akan mengalami nasib yang buruk sebagai upah kejahatan mereka”.
Barnes’
Notes: “‘Speak
evil of the things that they understand not.’ Of objects whose worth and value
they cannot appreciate. This is no uncommon thing among people, especially in
regard to the works and ways of God” (= ‘Berbicara jahat tentang hal-hal
yang tidak mereka mengerti’. Tentang obyek-obyek yang harga dan nilainya tidak
bisa mereka hargai. Ini bukan sesuatu yang tidak umum di antara orang-orang,
khususnya berkenaan dengan pekerjaan-pekerjaan dan jalan-jalan Allah).
Ini
memang banyak terjadi, misalnya pada saat orang-orang berkata: kalau Allah itu
memang ada dan Allah itu adil, mengapa ada banyak penindasan yang Ia biarkan
terjadi dalam dunia ini? Kalau Allah itu ada dan suci, mengapa ada banyak dosa
dalam dunia ini?
Barnes’
Notes: “‘And
shall receive the reward of unrighteousness.’ The appropriate recompense of
their wickedness in the future world. Such people do not always receive the due
recompense of their deeds in the present life; and as it is a great and
immutable principle that all will be treated, under the government of God, as
they deserve, or that justice will be rendered to every rational being, it
follows that there must be punishment in the future state” [= ‘Dan akan
menerima upah dari ketidak-benaran’ (dari KJV). Pembalasan / imbalan yang cocok dari kejahatan mereka dalam dunia yang
akan datang. Orang-orang seperti itu tidak selalu menerima pembalasan / imbalan
yang seharusnya dari tindakan-tindakan mereka dalam kehidupan sekarang ini; dan
karena merupakan suatu prinsip yang besar / agung dan kekal bahwa semua orang
akan diperlakukan, di bawah pemerintahan dari Allah, sebagaimana yang mereka
layak dapatkan, atau bahwa keadilan akan diberikan kepada setiap makhluk
rasionil, maka akibatnya harus ada penghukuman dalam keadaan yang akan datang].
Penerapan:
kalau dalam hidup ini kita melihat ada banyak ketidak-adilan, seperti
orang-orang yang korupsi yang tidak ditindak, orang-orang yang dengan kekayaan
dan kekuasaan bisa memutar-balikkan keadilan, orang-orang yang membakar /
merusak gereja bisa bebas, bonek-bonek bisa berbuat apa saja tanpa hukuman, dsb,
maka perlu kita renungkan bahwa pengadilan akhir jaman memang belum
dilaksanakan. Karena itu kita tak perlu heran dengan adanya banyak
ketidak-adilan seperti itu. Tetapi pengadilan akhir jaman itu akan terjadi, dan
baru pada saat itu, keadilan akan betul-betul ditegakkan!
Karena
itu kalau saudara sendiri adalah orang-orang yang melakukan kejahatan tanpa
dihukum, jangan merasa aman, tetapi sebaliknya, bertobatlah sebelum penghakiman
dan hukuman itu tiba. Dan kalau saudara adalah orang-orang yang ditindas secara
tidak adil, dan saudara jengkel melihat orang-orang brengsek yang terus enak,
jangan berhenti mempercayai keadilan Allah. Lambat atau cepat, penghakiman Allah
dan keadilanNya itu akan datang!
The
Bible Exposition Commentary: New Testament:
“So
with these apostates: they make a lot of noise about things they know nothing
about! ... Whenever her pupils were noisy in class, one of my teachers used to
say, ‘Empty barrels make the most noise!’ And so they do!” (=
Demikianlah dengan orang-orang murtad ini: mereka membuat banyak keributan /
suara tentang hal-hal yang sama sekali tidak mereka ketahui! ... Kapanpun
murid-muridnya ribut di kelas, salah satu dari guru-guru saya biasa berkata,
‘Gentong kosong berbunyi paling nyaring!’ Dan demikianlah mereka!).
Hati-hati
untuk tidak mengextrimkan kata-kata di atas ini. Kalau semua orang yang
mempunyai pengertian yang benar diam / tutup mulut, sedangkan orang-orang bodoh
dan sesat berani buka mulut, bayangkan kemana dunia dan gereja akan berjalan?
Jadi, adalah suatu keharusan bagi orang-orang yang berkepala penuh (betul-betul
mempunyai pengertian yang benar), untuk berani menjadi orang-orang yang vokal /
berani menyatakan kebenaran!
The
Bible Exposition Commentary: New Testament:
“It
is sad when the media concentrates on the ‘big mouths’ of the false teachers
instead of the ‘still small voice’ of the Lord as He ministers through those
who are true to Him. It is sadder still when innocent people become
fascinated by these ‘great swelling words of vanity’ (2 Peter 2:18) and
cannot discern between truth and propaganda. The truth of the Word of God leads
to salvation, but the arrogant words of the apostates lead only to
condemnation” [= Merupakan sesuatu yang menyedihkan pada waktu media
berkonsentrasi pada ‘mulut-mulut besar’ dari guru-guru palsu itu dan
bukannya pada ‘suara kecil yang tenang’ dari Tuhan pada waktu Ia melayani
melalui mereka yang adalah benar bagiNya. Lebih menyedihkan lagi pada waktu
orang-orang yang tidak bersalah menjadi terpesona oleh ‘kata-kata
sombong yang sia-sia’ ini (2Petrus 2:18) dan tidak bisa membedakan antara
kebenaran dan propaganda. Kebenaran dari Firman Allah membimbing kepada
keselamatan, tetapi kata-kata sombong dari orang-orang murtad itu hanya
membimbing kepada penghukuman].
2Pet 2:18
- “Sebab mereka mengucapkan kata-kata
yang congkak dan hampa dan mempergunakan hawa nafsu cabul untuk memikat
orang-orang yang baru saja melepaskan diri dari mereka yang hidup dalam
kesesatan”.
Catatan:
saya tidak setuju kalau orang-orang yang tidak bisa membedakan kebenaran dan
propaganda ini disebut sebagai ‘innocent’ (= tidak
bersalah),
kecuali mereka adalah orang yang baru bertobat.
Kalau sudah lama bertobat tetap seperti itu, mereka bersalah, karena hal seperti
itu hanya bisa terjadi kalau mereka tidak belajar Firman Tuhan!
c)
“Berfoya-foya
pada siang hari, mereka anggap kenikmatan” (ay 13b).
1.
‘Berfoya-foya
pada siang hari’.
Kelihatannya
ada beberapa penafsiran tentang kata-kata ‘pada siang hari’, tetapi Pulpit
Commentary menganggap terjemahan ini yang benar.
Pulpit
Commentary: “As
they that count it pleasure to riot in the daytime; ... The words e)n h)me/ra
cannot, with some ancient interpreters, be taken as equivalent to maq h(me/ran, daily (Luke 16:19). Many commentators, as Huther and Alford,
translate ‘delicate living for a day’ - enjoyment which is temporal and
short-lived. But when we compare 1 Thess 5:7, ‘They that are drunken are
drunken in the night,’ and St. Peter’s own words in Acts 2:15, it seems more
probable that the apostle means to describe these false teachers as worse than
ordinary men of pleasure. They reserve the night for their feasting; these men
spend the day in luxury”
[= Karena mereka menganggapnya kenikmatan untuk memuaskan diri tanpa pengekangan
pada siang hari; ... Kata-kata e)n h)me/ra (EN HEMERA) tidak bisa,
bersama dengan sebagian penafsir-penafsir kuno, diartikan sebagai sama dengan maq h(me/ran (Math Hemeran), ‘setiap hari / sehari-hari’ (Luk 16:19).
Banyak penafsir, seperti Huther dan Alford, menterjemahkan ‘hidup menyenangkan
untuk satu hari’ - penikmatan yang sementara dan berlangsung singkat. Tetapi
pada waktu kita membandingkan 1Tes 5:7, ‘mereka yang mabuk, mabuk waktu
malam’, dan kata-kata Santo Petrus sendiri dalam Kis 2:15, kelihatannya lebih
memungkinkan bahwa sang rasul memaksudkan untuk menggambarkan guru-guru palsu
ini sebagai lebih buruk dari pada orang-orang biasa tentang kenikmatan. Mereka
menyimpan malam hari untuk pesta mereka; orang-orang ini menghabiskan siang hari
dalam kemewahan].
Luk
16:19 - “‘Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus,
dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan”.
1Tes
5:7 - “Sebab mereka yang tidur, tidur waktu malam dan mereka yang mabuk,
mabuk waktu malam”.
Kis
2:15 - “Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka, karena hari
baru pukul sembilan”.
2.
‘mereka
anggap kenikmatan’.
Calvin:
“‘Count it pleasure.’ As though
he had said, ‘They place their happiness in their present
enjoyments.’ We know that men excel brute animals in this, that they extend
their thoughts much farther. It is, then, a base thing in man to be occupied
only with present things. Here he reminds us that our minds ought to be
freed from the gratifications of the flesh, except we wish to be reduced to the
state of beasts” (= ‘Menganggapnya kesenangan / kenikmatan’.
Seakan-akan ia mengatakan, ‘Mereka menempatkan kebahagiaan mereka dalam
penikmatan mereka sekarang ini’. Kita tahu bahwa manusia lebih unggul
dari binatang-binatang yang tak berakal dalam hal ini, yaitu mereka meluaskan
pikiran mereka jauh lebih luas / jauh. Maka, merupakan suatu hal yang jelek /
hina dalam diri manusia untuk sibuk / diisi hanya dengan hal-hal sekarang ini.
Di sini ia mengingatkan kita bahwa pikiran kita harus dibebaskan dari pemuasan
daging, kecuali kita ingin direndahkan sampai pada keadaan dari
binatang-binatang).
d)
“Mereka
adalah kotoran dan noda, yang mabuk dalam hawa nafsu mereka kalau mereka duduk
makan minum bersama-sama dengan kamu” (ay 13c).
KJV:
‘Spots they are and blemishes, sporting themselves with
their own deceivings while they feast with you’ (= Mereka adalah noda
dan cacat / cela, menyenangkan diri mereka sendiri dengan penipuan mereka sendiri sementara mereka berpesta dengan
kamu).
RSV:
‘They are blots and blemishes, reveling
in their dissipation, carousing with you’ (= Mereka adalah noda dan cacat
/ cela, bersukaria dalam pemborosan mereka, bermabuk-mabukan dengan kamu).
NIV:
‘They are blots and blemishes, reveling
in their pleasures while they feast with you’ (= Mereka adalah noda dan
cacat / cela, bersukaria dalam kesenangan-kesenangan mereka sementara mereka
berpesta dengan kamu).
NASB:
‘They are stains and blemishes, reveling
in their deceptions, as they carouse with you’ (= Mereka adalah noda dan
cacat / cela, bersukaria dalam penipuan mereka, pada waktu mereka
bermabuk-mabukan dengan kamu).
Saya
membahas bagian ini menurut terjemahan KJV.
1.
‘sporting themselves’ (=
menyenangkan diri mereka sendiri).
Barnes’
Notes: “‘Sporting
themselves.’ The Greek word here means to live delicately or luxuriously; to
revel. The idea is not exactly that of sporting, or playing, or amusing
themselves; but it is that they take advantage of their views to live in riot
and luxury” (= ‘Menyenangkan diri mereka sendiri’. Kata Yunaninya di
sini berarti ‘hidup dengan bersenang-senang atau dengan mewah; bersukaria /
berfoya-foya’. Gagasannya bukanlah bersenang-senang, atau bermain, atau
menghibur diri sendiri; tetapi bahwa mereka mengambil keuntungan dari
pandangan-pandangan mereka untuk hidup dalam pemuasan diri tanpa pengekangan dan
dalam kemewahan).
2.
‘with their own
deceivings’ (=
dengan penipuan mereka sendiri).
Adam
Clarke: “‘With
their own deceivings.’ En
tais apatais. But instead of this, AB,
and almost all the versions and several of the fathers, have en
tais agapais, ‘in your love
feasts,’ which is probably the true reading” (= ‘Dengan penipuan
mereka sendiri’. En tais
apatais. Tetapi bukannya mempunyai ini, AB, dan
hampir semua versi dan beberapa dari bapa-bapa gereja, mempunyai en tais agapais, ‘dalam
pesta / perjamuan kasihmu’, yang mungkin merupakan pembacaan yang benar).
Bruce
Metzger, berbeda dengan Clarke, lebih memilih pembacaan APATAIS. Menurut dia,
ini mempunyai dukungan manuscript-manuscript jauh lebih kuat, dan penyalin
mungkin mengubah Agapais menjadi apatais
untuk menyesuaikan dengan surat Yudas, tetapi mungkin sekali Petrus memang mau
mengatakan sesuatu yang berbeda dengan yang Yudas katakan di tempat ini. Albert
Barnes, sama dengan Bruce Metzger, juga memilih APATAIS.
Barnes’
Notes: “‘With
their own deceivings.’ Jude, in the parallel place, (Jude 12), has, ‘These
are spots in your feasts of charity, when they feast with you.’ Several
versions, and a few manuscripts also, here read ‘feasts’ instead of
‘deceivings,’ agapais
for apatais. The common reading, however, is
undoubtedly the correct one, ... and the meaning is, that they took advantage of
their false views to turn even the sacred feasts of charity, or perhaps the
Lord’s Supper itself, into an occasion of sensual indulgence. Compare the
notes at 1 Cor 11:20-22. The difference between these persons, and those in the
church at Corinth, seems to have been that these did it at design, and for the
purpose of leading others into sin; those who were in the church at Corinth
erred through ignorance” [= ‘Dengan penipuan-penipuan mereka’. Yudas,
di tempat yang paralel, (Yudas 12), mempunyai ‘Mereka inilah noda dalam
perjamuan kasihmu, pada waktu mereka berpesta dengan kamu’. Beberapa versi,
dan juga sedikit manuscript, di sini membaca ‘pesta-pesta’ dan bukannya
‘penipuan-penipuan’, AGAPAIS untuk APATAIS. Tetapi pembacaan yang umum (KJV),
tak diragukan merupakan pembacaan yang benar, ... dan artinya adalah, bahwa
mereka mengambil keuntungan dari pandangan-pandangan palsu mereka untuk
membelokkan / mengubah bahkan pesta-pesta kasih / perjamuan kasih yang kudus,
atau mungkin Perjamuan Kudus itu sendiri, menjadi suatu saat / kesempatan untuk
pemuasan keinginan daging. Bandingkan dengan catatan pada 1Kor 11:20-22.
Perbedaan antara orang-orang ini, dan mereka yang di Korintus, kelihatannya
adalah bahwa orang-orang ini melakukannya dengan terencana, dan untuk tujuan
membimbing orang-orang lain ke dalam dosa; mereka yang ada di gereja di Korintus
bersalah melalui ketidak-tahuan].
Catatan:
dalam Yudas 12 versi Kitab Suci Indonesia ada kata-kata yang kurang, sehingga
berbeda dengan KJV (perhatikan kata-kata yang saya beri garis bawah ganda dalam
terjemahan KJV di bawah). Kata-kata itu juga ada dalam terjemahan NASB/ASV/NKJV,
tetapi tidak ada dalam RSV/NIV.
Yudas
12a - “Mereka inilah noda dalam perjamuan kasihmu, di mana mereka
tidak malu-malu melahap dan hanya mementingkan dirinya sendiri”.
KJV:
‘These are spots in your feasts of charity, when they feast with you,
feeding themselves without fear’ (= Mereka adalah noda dalam perjamuan
kasihmu, pada waktu mereka berpesta dengan
kamu, memberi makan diri mereka sendiri tanpa takut).
1Kor 11:20-22
- “(20) Apabila kamu berkumpul, kamu bukanlah berkumpul untuk makan
perjamuan Tuhan. (21) Sebab pada perjamuan itu tiap-tiap orang memakan dahulu
makanannya sendiri, sehingga yang seorang lapar dan yang lain mabuk. (22) Apakah
kamu tidak mempunyai rumah sendiri untuk makan dan minum? Atau maukah kamu
menghinakan Jemaat Allah dan memalukan orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa?
Apakah yang kukatakan kepada kamu? Memuji kamu? Dalam hal ini aku tidak
memuji”.
3.
‘while they feast
with you’ (=
sementara mereka berpesta dengan kamu).
Barnes’
Notes: “‘While
they feast with you.’ suneuoochoumenoi.
This word means to feast several together; to feast with anyone; and the
reference seems to be to some festival which was celebrated by Christians, where
men and women were assembled together, (2 Peter 2:14), and where they could
convert the festival into a scene of riot and disorder. If the Lord’s Supper
was celebrated by them as it was at Corinth, that would furnish such an
occasion; or if it was preceded by a ‘feast of charity’ (notes, Jude 12),
that would furnish such an occasion. It would seem to be probable that a
festival of some kind was connected with the observance of the Lord’s Supper
(notes, 1 Cor 11:21), and that this was converted by these persons into a scene
of riot and disorder” [= ‘sementara
mereka berpesta dengan kamu’. suneuoKhoumenoi.
Kata ini berarti berpesta bersama beberapa orang; berpesta dengan siapapun; dan
kelihatannya ini menunjuk pada pesta yang dirayakan oleh orang-orang Kristen,
dimana orang laki-laki dan perempuan dikumpulkan bersama-sama, (2Pet 2:14), dan
dimana mereka bisa mengubah pesta itu menjadi suasana kerusuhan dan kekacauan.
Jika Perjamuan Kudus dirayakan oleh mereka seperti di Korintus, itu akan
menyediakan kesempatan seperti itu; atau jika Perjamuan Kudus itu didahului oleh
‘perjamuan kasih’ (catatan, Yudas 12), itu akan menyediakan kesempatan
seperti itu. Kelihatannya mungkin bahwa suatu jenis pesta tertentu dihubungkan
dengan peringatan dari Perjamuan Kudus (catatan, 1Kor 11:21), dan bahwa ini
diubahkan oleh orang-orang ini menjadi suatu suasana kerusuhan dan kekacauan].
Yudas
12a - “Mereka inilah noda dalam
perjamuan kasihmu, di mana mereka tidak malu-malu melahap dan hanya mementingkan
dirinya sendiri”.
1Kor
11:20-22 - “(20) Apabila kamu
berkumpul, kamu bukanlah berkumpul untuk makan perjamuan Tuhan. (21) Sebab pada
perjamuan itu tiap-tiap orang memakan dahulu makanannya sendiri, sehingga yang
seorang lapar dan yang lain mabuk. (22) Apakah kamu tidak mempunyai rumah
sendiri untuk makan dan minum? Atau maukah kamu menghinakan Jemaat Allah dan
memalukan orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa? Apakah yang kukatakan kepada
kamu? Memuji kamu? Dalam hal ini aku tidak memuji”.
Thomas
Manton (tentang Yudas 12):
·
“it
is an odious filthiness to make religion serve our bellies, and to turn charity
into luxury” (= merupakan suatu
kekotoran yang menjijikkan kalau kita membuat agama melayani perut kita, dan
kalau kita mengubah kasih menjadi kemewahan).
·
“When
men aim at nothing but their own ease and pleasure, they set the belly in
God’s stead” (= Pada waktu orang
hanya mengincar kesenangan dan kenikmatan mereka sendiri, mereka meletakkan
perut sebagai pengganti Allah).
Bandingkan
kata-kata Manton ini dengan 2 ayat di bawah ini:
¨
Ro 16:18 - “sebab
orang-orang demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut
mereka sendiri”.
¨
Fil 3:19 - “Tuhan
mereka ialah perut mereka”.
4.
‘Spots they are and
blemishes’ (=
Mereka adalah noda dan cacat / cela).
The
Bible Exposition Commentary: New Testament:
“Instead
of bringing blessing to the fellowship, these false teachers were ‘spots’
and ‘blemishes’ that defiled the assembly. Somehow their behavior at the
feasts defiled others and brought disgrace to the name of the Lord. ...
Certainly our churches need to exercise authority and practice discipline.
Christian love does not mean that we tolerate every false doctrine and every
so-called ‘lifestyle.’ The Bible makes it clear that some things are right
and some things are wrong. No Christian whose belief and behavior are contrary
to the Word of God should be permitted to share in the Lord’s Supper or to
have a spiritual ministry in the church. His defiling influence may not be seen
immediately, but ultimately it will create serious problems” (= Bukannya
membawa berkat kepada persekutuan, guru-guru palsu ini adalah ‘noda’ dan
‘cacat / cela’ yang menodai / mengotori persekutuan itu. Entah bagaimana
kelakuan mereka pada pesta itu menodai orang-orang lain dan memalukan nama
Tuhan. ... Pastilah gereja-gereja kita perlu untuk menjalankan otoritas dan
mempraktekkan disiplin. Kasih Kristen tidak berarti bahwa kita menoleransi
setiap ajaran palsu dan setiap dari apa yang disebut ‘gaya hidup’. Alkitab
membuat jelas bahwa beberapa hal adalah benar dan beberapa hal adalah salah. Tak
ada orang Kristen yang kepercayaan dan kelakuannya bertentangan dengan Firman
Allah yang boleh diijinkan untuk ambil bagian dalam Perjamuan Kudus atau untuk
mempunyai suatu pelayanan rohani dalam gereja. Pengaruhnya yang menodai bisa
tidak kelihatan dengan segera, tetapi pada akhirnya itu akan menimbulkan problem
yang serius).
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali