Pemahaman
Alkitab
(Jl. Dinoyo
19b, lantai 3)
Jumat, tanggal
3 September 2010, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331
/ 6050-1331)
Ay 20-21:
“(20) Yang terutama harus kamu
ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan
menurut kehendak sendiri, (21) sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh
kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas
nama Allah”.
1)
“Yang
terutama harus kamu ketahui” (ay 20a).
Pulpit
Commentary: “By
‘knowing this first’ (ginw/skonte$)
is meant that we must recognize this truth as of primary importance, or, before
we commence the study of prophecy” [= Dengan
‘pertama-tama ketahuilah’ (ginw/skonte$
/ GINOSKONTES) dimaksudkan bahwa kita harus mengenali kebenaran ini sebagai
sesuatu yang terpenting, atau, sebelum kita melanjutkan pelajaran tentang nubuat].
2)
“ialah
bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak
sendiri” (ay 20b).
a) Yang dimaksudkan
dengan ‘nubuat-nubuat dalam Kitab
Suci’ adalah apa yang ada dalam Kitab Suci. Ingat bahwa kata ‘nubuat’
sebetulnya tidak harus diartikan ‘ramalan’ (yang merupakan arti populer yang
salah), tetapi seadanya ajaran.
Calvin:
“Understand by ‘prophecy of Scripture’ that
which is contained in the holy Scriptures” (= Mengertilah kata-kata
‘nubuat Kitab Suci’ sebagai apa yang ada dalam Kitab Suci).
b)
Hanya sangat sedikit penafsir yang menafsirkan bagian ini seperti
kelihatannya / seperti bunyi ayatnya, yaitu bahwa tak ada orang / nabi boleh
menafsirkan Kitab Suci menurut kehendak / pikirannya sendiri.
Lenski:
“It is a prevalent conception that Peter intends to say: no
person (some add: not even one of the prophets) is to interpret the
Scripture’s prophesies according to his own notion - which is of course, true
enough. ... The commentators add that we must let the Holy Spirit interpret the
prophecies. Although Peter does not say this, this, too, is true. Luther is a
sample: ‘Thou art not to interpret thyself, the Holy Spirit himself is to
interpret it, or it is to be left uninterpreted.’” [= Merupakan suatu
pengertian yang umum bahwa Petrus bermaksud untuk mengatakan: tidak ada
orang (sebagian menambahkan: bahkan tidak seorangpun dari nabi-nabi) boleh
menafsirkan nubuat-nubuat Kitab Suci sesuai dengan pikirannya sendiri - yang
jelas merupakan sesuatu yang cukup benar. ... Para penafsir menambahkan bahwa
kita harus membiarkan Roh Kudus menafsirkan nubuat-nubuat. Sekalipun Petrus
tidak mengatakan hal ini, ini juga adalah benar. Luther adalah suatu contoh:
‘Engkau tidak boleh menafsirkan sendiri, Roh Kudus sendiri yang harus
menafsirkannya, atau itu harus dibiarkan tidak ditafsirkan’.] - hal
296,297.
Catatan:
saya tak setuju dengan Lenski bahwa ini merupakan pengertian yang umum. Ini
justru penafsiran dari sangat sedikit penafsir.
c)
Mayoritas penafsir menafsirkan: tak ada nubuat-nubuat dalam Kitab Suci
muncul dari nabi-nabi itu sendiri.
Matthew
Henry: “No scripture prophecy
is of private interpretation (or a man’s own proper opinion, an explication of
his own mind), but the revelation of the mind of God. This was the difference
between the prophets of the Lord and the false prophets who have been in the
world. The prophets of the Lord did not speak nor do any thing of their own
mind, as Moses, the chief of them, says expressly (Num. 16:28), ‘I have not
done any of the works (nor delivered any of the statutes and ordinances) of my
own mind.’ But false prophets speak a vision of their own heart, not out of
the mouth of the Lord, Jer. 23:16” [= Tak ada nubuat Kitab
Suci ada dari penafsiran
pribadi (atau pandangan orang itu sendiri, suatu penjelasan dari pikirannya
sendiri), tetapi wahyu / penyataan dari pikiran Allah. Ini adalah perbedaan
antara nabi-nabi dari Tuhan dan nabi-nabi palsu yang telah ada dalam
dunia. Nabi-nabi dari Tuhan tidak berbicara atau melakukan apapun dari pikiran
mereka sendiri, seperti Musa, kepala dari mereka / yang terutama dari mereka,
katakan secara explicit (Bil 16:28), ‘Aku tidak melakukan pekerjaan manapun
(ataupun menyampaikan yang manapun dari hukum-hukum dan peraturan-peraturan)
dari pikiranku sendiri’. Tetapi nabi-nabi palsu mengatakan suatu penglihatan
dari hati mereka sendiri, bukan dari mulut Tuhan, Yer 23:16].
Bil 16:28
- “Sesudah itu berkatalah Musa: ‘Dari hal inilah kamu akan tahu, bahwa
aku diutus TUHAN untuk melakukan segala perbuatan ini, dan hal itu bukanlah
dari hatiku sendiri”.
KJV/ASV:
‘for I have not done them of mine own
mind’ (= karena aku tidak melakukan mereka dari pikiranku sendiri).
RSV:
‘and that it has not been of my own
accord’ (= dan bahwa itu bukan dari kehendakku sendiri).
NIV:
‘and that it was not my idea’ (=
dan itu bukanlah gagasanku).
NASB:
‘for this is not my doing’ (=
karena ini bukanlah tindakanku).
NKJV:
‘for I have not done them of my own
will’ (= karena aku tidak melakukan mereka dari kehendakku sendiri).
Yer 23:16
- “Beginilah firman TUHAN semesta alam: ‘Janganlah dengarkan perkataan
para nabi yang bernubuat kepada kamu! Mereka hanya memberi harapan yang sia-sia
kepadamu, dan hanya mengungkapkan penglihatan rekaan hatinya sendiri, bukan
apa yang datang dari mulut TUHAN”.
Lenski:
“Only false prophets utter prophesies that originate in what they have
willed” (= Hanya nabi-nabi palsu mengucapkan nubuat-nubuat yang berasal
dari apa yang mereka inginkan) - hal 298.
Adam
Clarke: “‘Knowing this
first.’ Considering this as a first principle, that no prophecy of the
Scripture, whether that referred to above, or any other, is of any private
interpretation - proceeds from the prophet’s own knowledge or invention, or
was the offspring of calculation or conjecture. The word epilusis
signifies also impetus, impulse; and probably this is the best sense here; not
by the mere private impulse of his own mind” (= ‘Pertama-tama ketahuilah
ini’. Mempertimbangkan ini sebagai suatu prinsip pertama, bahwa tak ada nubuat
dari Kitab Suci, apakah yang ditunjuk di atas, atau yang lain manapun juga,
adalah dari penafsiran pribadi manapun - keluar dari pengetahuan atau penemuan
sang nabi sendiri, atau merupakan hasil dari perhitungan atau dugaan. Kata
EPILUSIS juga berarti dorongan, dorongan hati yang tiba-tiba; dan mungkin ini
adalah arti yang terbaik di sini; bukan semata-mata oleh dorongan hati pribadi
yang tiba-tiba dari pikirannya sendiri).
Catatan:
dalam KJV/RSV/NIV/NASB/ASV/NKJV kata EPILUSIS diterjemahkan ‘interpretation’
(= penafsiran).
Pulpit
Commentary: “The
word rendered ‘interpretation’ is
e)pilu/sew$,
which is found nowhere else in the New Testament; the corresponding verb occurs
in Mark 4:34, ‘He expounded all things;’ and Acts 19:39, ‘It shall be
determined or settled.’ These considerations, strengthened by the context,
seem to guide us to the following explanation: No prophecy of Scripture arises
from the prophet’s own interpretation of
the vision presented to his mind; for it was from God that the prophecy was
brought, and men spoke as they were borne on by the Holy Spirit” (= Kata yang diterjemahkan ‘penafsiran’ adalah e)pilu/sew$ / EPILUSEOS, yang
tidak ditemukan di tempat lain manapun dalam Perjanjian Baru; kata kerja yang
cocok / dapat disamakan muncul dalam Mark 4:34, ‘Ia menguraikan / menjelaskan
segala sesuatu’; dan Kis 19:39, ‘Itu akan ditentukan atau dibereskan /
diselesaikan’. Pertimbangan-pertimbangan ini, dikuatkan oleh kontext,
kelihatannya memimpin kita pada penjelasan yang berikut: Tidak ada nubuat dari
Kitab Suci muncul dari penafsiran sang nabi sendiri tentang penglihatan yang
diberikan / ditunjukkan pada pikirannya; karena dari Allahlah nubuat itu dibawa,
dan orang-orang berbicara sebagaimana mereka didorong oleh Roh Kudus).
Mark 4:34
- “dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada
murid-muridNya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri”.
Kis 19:39
- “Dan jika ada sesuatu yang lain yang kamu kehendaki, baiklah kehendakmu
itu diselesaikan dalam sidang rakyat yang sah”.
Pulpit
Commentary: “Other
views of this difficult passage are: Prophecy is not its own interpreter; the
guidance of the Spirit is necessary. Or, prophecy is not a matter for the
private interpretation of the readers; only the Holy Spirit can explain it. But
the explanation adopted seems most accordant with the Greek words and with the
general sense of the context (compare St. Paul’s teaching in 1 Cor 12:10)”
[= Pandangan-pandangan lain tentang text yang sukar ini adalah: Nubuat bukanlah
penafsir dari dirinya sendiri; pimpinan dari Roh adalah perlu. Atau, nubuat
bukanlah suatu persoalan untuk penafsiran pribadi dari para pembaca; hanya Roh
Kudus bisa menjelaskannya. Tetapi penafsiran yang diadopsi / diterima
kelihatannya paling sesuai dengan kata-kata Yunaninya dan dengan arti umum dari
kontext (bandingkan dengan ajaran Santo Paulus dalam 1Kor 12:10)].
1Kor
12:10 - “Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat,
dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain
lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang
seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada
yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu”.
Jamieson,
Fausset & Brown (tentang 2Pet 1:20): “that which the sacred writer could
not always interpret; though, being the speaker or writer (1 Pet. 1:10-12), was
plainly not of his own, but of God’s disclosure, origination, and inspiration,
as Peter proceeds to add, ‘But holy men ... spake (and afterward wrote) ...
moved by the Holy Ghost:’” [= itu yang tidak selalu bisa ditafsirkan
oleh penulis kudusnya; sekalipun ia adalah pembicara atau penulisnya (1Pet
1:10-12), jelas bukan berasal dari dirinya sendiri, tetapi dari penyingkapan,
asal usul, dan ilham, dari Allah, seperti Petrus lanjutkan untuk menambahkan,
‘Tetapi orang-orang kudus ... berbicara (dan setelah itu menulis) ...
digerakkan oleh Roh Kudus:’].
Jamieson,
Fausset & Brown:
“In
a secondary sense, as the word is the Holy Spirit’s, it cannot be
interpreted by its readers (anymore than by its writers) by their private human
powers, but by the teaching of the Holy Spirit (John 16:14); for it was by the
Holy Spirit that its speakers and writers were ‘moved.’ {Idias
, ‘private,’ is not opposed to the Catholic Church’s interpretation (as
Rome argues), but to the Holy Spirit’s motion.} It is not by individual
wisdom, but by the Holy Spirit, the Bible’s Author, that any can interpret
it” [= Dalam arti sekunder,
karena firman itu adalah milik Roh Kudus, itu tidak bisa ditafsirkan oleh
pembaca-pembacanya (ataupun oleh penulis-penulisnya) oleh kekuatan pribadi
manusia, tetapi oleh pengajaran dari Roh Kudus (Yoh 16:14); karena oleh Roh
Kuduslah pembicara-pembicara dan penulis-penulisnya ‘digerakkan’ {IDIAS,
‘pribadi / sendiri’, tidaklah dikontraskan dengan penafsiran Gereja Katolik
(seperti diargumentasikan oleh Roma), tetapi dikontraskan dengan gerakan dari
Roh Kudus}. Bukanlah dengan hikmat pribadi / individu, tetapi oleh Roh Kudus,
Pengarang dari Alkitab, maka siapapun bisa menafsirkannya].
Catatan:
saya sendiri tidak mempercayai arti sekunder yang diberikan oleh Jamieson,
Fausset & Brown ini. Saya memberikan kutipan ini untuk menunjukkan bagaimana
Gereja Roma Katolik menafsirkan bagian ini, dan menjadikannya sebagai dasar
untuk melarang pribadi manapun, kecuali Gereja Roma Katolik, untuk menafsirkan
Kitab Suci. Tetapi Jamieson, Fausset & Brown secara tepat mengatakan bahwa
kata ‘pribadi / sendiri’ dalam ayat itu jelas tidak dikontraskan dengan
Gereja Roma Katolik tetapi dengan dorongan / pimpinan dari Roh Kudus.
Bible
Knowledge Commentary: “The
statement, No prophecy of Scripture came about by the prophet’s own
interpretation, has been interpreted several ways: (1) Scripture should be
interpreted only in context, that is, a prophecy cannot stand alone without
other prophecies to aid in its understanding. (2) Scripture should not be
interpreted according to one’s own individual liking. (3) Scripture cannot be
correctly interpreted without the Holy Spirit. (4) The prophecies did not
originate with the prophets themselves. The word epilyseos
(‘interpretation,’ lit., ‘unloosing’) and the word ginetai
(‘came about’) favor the fourth view. The Scriptures did not stem
merely from the prophets themselves; their writings came from God. Verse 20,
then, speaks not of interpretation, but of revelation, the source of the
Scriptures” [= Pernyataan, ‘Tak ada nubuat dari Kitab Suci terjadi oleh
penafsiran sang nabi sendiri’, telah ditafsirkan dalam beberapa cara: (1)
Kitab Suci harus ditafsirkan hanya dalam kontextnya, yaitu suatu nubuat tidak
bisa berdiri sendiri tanpa nubuat-nubuat yang lain untuk membantu dalam
pengertiannya. (2) Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan sesuai kesenangan seorang
individu sendiri. (3) Kitab Suci tidak bisa ditafsirkan secara benar tanpa Roh
Kudus. (4) Nubuat-nubuat tidak berasal usul dari nabi-nabi itu sendiri. Kata
EPILYSEOS (‘penafsiran’, secara hurufiah, ‘penguraian / pelepasan’) dan
kata GINETAI (‘terjadi’) mendukung pandangan keempat. Kitab Suci tidak
berasal semata-mata dari nabi-nabi sendiri; tulisan-tulisan mereka datang dari
Allah. Jadi, ay 20 tidak berbicara tentang penafsiran, tetapi tentang pewahyuan,
sumber dari Kitab Suci].
Bible
Knowledge Commentary (tentang ay 21): “This
verse also supports the view that Peter wrote in verse 20 about prophecies being
born of God, not originating from the prophets themselves. Prophecy came not
from the will of man, but men spoke from God as they were carried along by the
Holy Spirit” [= Ayat ini (ay 21)
juga mendukung pandangan bahwa Petrus menulis dalam ay 20 tentang nubuat-nubuat
yang dilahirkan dari Allah, bukan berasal usul dari nabi-nabi itu sendiri.
Nubuat tidak keluar dari kehendak manusia, tetapi orang-orang berbicara dari
Allah sebagaimana mereka didorong / dibimbing oleh Roh Kudus].
Ay 21:
“sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh
dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah”.
Setelah
memberikan beberapa penafsiran tentang arti dari ay 20 ini Albert Barnes lalu
berkata sebagai berikut:
Barnes’
Notes: “It would be easy to
show that some of these opinions are absurd, and that none of them are sustained
by the fair interpretation of the language used, and by the drift of the
passage. The more correct interpretation, as it seems to me, is that which
supposes that the apostle teaches that the truths which the prophets
communicated were not originated by themselves; were not of their own suggestion
or invention; were not their own opinions, but were of higher origin, and were
imparted by God” (= Adalah mudah untuk menunjukkan bahwa beberapa dari
pandangan-pandangan ini adalah menggelikan, dan bahwa tidak ada dari mereka yang
ditopang oleh penafsiran yang adil dari kata-kata yang digunakan, dan oleh
aliran dari textnya. Penafsiran yang lebih benar, sebagaimana kelihatannya
bagi saya, adalah penafsiran yang menganggap bahwa sang rasul mengajarkan bahwa
kebenaran-kebenaran yang disampaikan oleh nabi-nabi tidaklah berasal usul dari
diri mereka sendiri; bukanlah dari proses pemikiran atau penemuan mereka
sendiri; bukanlah pandangan-pandangan mereka sendiri, tetapi dari asal usul yang
lebih tinggi, dan diberikan oleh Allah).
Untuk
mendukung pandangannya ini Albert Barnes memberikan 3 alasan:
1.
Penafsiran ini sesuai dengan rancangan dari sang rasul, yang menekankan
pentingnya nubuat-nubuat, dan pentingnya mempelajari nubuat-nubuat itu. Ini
hanya bisa dilakukan dengan menekankan bahwa nubuat-nubuat itu berasal dari
Allah.
2.
Penafsiran ini sesuai dengan ayat selanjutnya, yaitu ay 21, yang
menekankan bahwa nubuat-nubuat tidak dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi
karena nabi-nabi itu berbicara atas dorongan Roh Kudus.
3.
Penafsiran ini juga sesuai dengan arti dari kata-kata yang digunakan.
Barnes’
Notes:
“The
word rendered ‘interpretation’ (epilusis)
occurs nowhere else in the New Testament. It properly means ‘solution’
(Robinson’s Lexicon), ‘disclosure,’ (Prof. Stuart on the Old Testament, p.
328,) ‘making free (Passow,)’ with the notion that what is thus released or
loosed was before bound, entangled, obscure. The verb from which this word is
derived (epiluoo) means, ‘to let loose upon,’ as dogs upon a hare,
(Xen. Mem. 7,8; ib 9,10;) to loose or open letters; to loosen a band; to loose
or disclose a riddle or a dark saying, and then to enlighten, illustrate, etc. -
Passow. ... The verb would be applicable to loosing anything which is bound or
confined, and thence to the explanation of a mysterious doctrine or a parable,
or to a disclosure of what was before unknown. The word, according to this, in
the place before us, would mean the disclosure of what was before bound, or
retained, or unknown; either what had never been communicated at all, or what
had been communicated obscurely; and the idea is, ‘no prophecy recorded in the
Scripture is of, or comes from, any exposition or disclosure of the will and
purposes of God by the prophets themselves.’ It is not a thing of their own,
or a private matter originating with themselves, but it is to be traced to a
higher source” [= Kata yang diterjemahkan ‘penafsiran’ (EPILUSIS) tidak
muncul di tempat lain dalam Perjanjian Baru. Itu secara tepat berarti
‘solusi’ (Lexicon dari Robinson), ‘penyingkapan’ (Prof. Stuart tentang
Perjanjian Lama, hal 328), ‘membebaskan / melepaskan’ (Passow),’ dengan
suatu gagasan / pikiran bahwa apa yang dibebaskan atau dilepaskan itu tadinya
diikat, kusut, kabur. Kata kerja dari mana kata ini diturunkan (EPILUOO) berarti
‘melepaskan pada’, seperti melepaskan anjing-anjing pada seekor kelinci, (Xen.
Mem. 7,8; ib 9,10); ‘melepaskan atau membuka surat-surat’; ‘melepaskan
pita / pembalut’; ‘melepaskan atau menyingkapkan suatu teka teki atau
pepatah / peribahasa yang gelap’, dan lalu ‘menerangi, menjelaskan’, dsb.
- Passow. ... Kata kerja itu bisa diterapkan pada pelepasan dari apapun yang
diikat atau dikurung, dan lalu pada penjelasan dari suatu doktrin yang misterius
atau suatu perumpamaan, atau pada suatu penyingkapan dari apa yang sebelumnya
tidak diketahui. Sesuai dengan ini, kata yang ada di tempat di depan kita,
berarti penyingkapan dari apa yang sebelumnya diikat, atau ditahan, atau tidak
diketahui; atau apa yang tidak pernah disampaikan sama sekali, atau apa yang
telah disampaikan secara kabur; dan gagasannya adalah, ‘tak ada nubuat yang
tercatat dalam Kitab Suci yang ada dari, atau datang dari, penjelasan atau
penyingkapan apapun tentang kehendak dan tujuan / rencana Allah oleh nabi-nabi
itu sendiri’. Itu bukanlah sesuatu dari mereka sendiri, atau suatu perkara /
hal pribadi yang berasal dari diri mereka sendiri, tetapi itu harus ditelusuri
jejaknya pada sumber yang lebih tinggi].
Calvin:
“But
the Papists are doubly foolish, when they conclude from this passage, that no
interpretation of a private man ought to be deemed authoritative. For they
pervert what Peter says, that they may claim for their own councils the chief
right of interpreting Scripture; but in this they act indeed childishly; for
Peter calls interpretation private, not that of every individual, in order to
prohibit each one to interpret; but he shews that whatever men bring of their
own is profane. Were, then, the whole world unanimous, and were the minds of all
men united together, still what would proceed from them, would be private or
their own; for the word is here set in opposition to divine revelation; so that
the faithful, inwardly illuminated by the Holy Spirit, acknowledge nothing but
what God says in his word”
[= Tetapi para pengikut Paus adalah tolol secara dobel (sangat
tolol), pada waktu mereka menyimpulkan dari text ini, bahwa tidak ada
penafsiran dari seorang pribadi manusia yang harus dianggap sebagai berotoritas.
Karena mereka menyimpangkan apa yang dikatakan oleh Petrus, sehingga mereka bisa
mengclaim bagi Sidang Gereja - Sidang Gereja mereka sendiri hak utama /
tertinggi dalam menafsirkan Kitab Suci; tetapi dalam hal ini mereka bertindak
secara kekanak-kanakan; karena yang disebut Petrus sebagai penafsiran pribadi,
bukan penafsiran dari setiap pribadi, dengan tujuan untuk melarang setiap orang
untuk menafsirkan; tetapi ia menunjukkan bahwa apapun yang dibawa oleh manusia
dari diri mereka sendiri adalah kotor / duniawi. Maka, seandainya seluruh dunia
mempunyai suara bulat, dan seandainya pikiran dari semua manusia bersatu
bersama-sama, tetap saja apa yang keluar dari mereka adalah pribadi atau milik
mereka sendiri; karena kata itu di sini dipertentangkan / dikontraskan dengan
wahyu / penyataan ilahi; sehingga orang-orang yang setia / beriman, yang hatinya
diterangi / dicerahi oleh Roh Kudus, tidak mengakui apapun kecuali apa yang
Allah katakan dalam firmanNya].
3)
“sebab
tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh
Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah” (ay 21).
Adam
Clarke: “‘For the prophecy
came not in old time.’ That is, in any former time, by the will of man - by a
man’s own searching, conjecture, or calculation; but holy men of God - persons
separated from the world and devoted to God’s service, spake, moved by the
Holy Spirit. So far were they from inventing these prophetic declarations
concerning Christ, or any future event, that they were pheromenoi,
carried away, out of themselves and out of the whole region, as it were, of
human knowledge and conjecture, by the Holy Spirit, who, without their knowing
anything of the matter, dictated to them what to speak, and what to write; and
so far above their knowledge were the words of the prophecy, that they did not
even know the intent of those words, but searched what, or what manner of time
the Spirit of Christ which was in them did signify, when it testified beforehand
the sufferings of Christ, and the glory that should follow, See 1 Pet. 1:11-12,
and the notes there.” (= ‘Karena nubuat tidak datang pada jaman dulu’.
Artinya, pada saat lalu manapun, oleh kehendak manusia - oleh penyelidikan,
dugaan, atau perhitungan manusia sendiri; tetapi orang-orang kudus dari Allah -
pribadi-pribadi yang dipisahkan dari dunia dan dibaktikan bagi pelayanan Allah,
berbicara, digerakkan oleh Roh Kudus. Begitu jauh mereka dari menemukan sendiri
pernyataan-pernyataan nubuatan berkenaan Kristus, atau berkenaan peristiwa yang
akan datang manapun, sehingga mereka PHEROMENOI, dibawa, keluar dari diri mereka
sendiri, dan keluar dari seluruh daerah, seakan-akan, dari pengetahuan dan
dugaan manusia, oleh Roh Kudus, yang, tanpa sepengetahuan apapun dari mereka
dalam persoalan ini, mendikte mereka apa yang harus diucapkan, dan apa yang
harus dituliskan; dan kata-kata nubuatan itu begitu jauh di atas pengetahuan
mereka sendiri, sehingga mereka bahkan tidak tahu maksud dari kata-kata itu,
tetapi menyelidiki apa, atau kapan Roh Kristus yang ada dalam diri mereka
menunjukkan, pada waktu Ia menyaksikan sebelumnya penderitaan-penderitaan
Kristus, dan kemuliaan yang harus mengikutinya, Lihat 1Pet 1:11-12, dan catatan
di sana).
1Pet 1:10-12
- “(10) Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi,
yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu. (11) Dan
mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh
Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi kesaksian
tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala
kemuliaan yang menyusul sesudah itu. (12) Kepada mereka telah dinyatakan, bahwa
mereka bukan melayani diri mereka sendiri, tetapi melayani kamu dengan segala
sesuatu yang telah diberitakan sekarang kepada kamu dengan perantaraan mereka,
yang oleh Roh Kudus, yang diutus dari sorga, menyampaikan berita Injil kepada
kamu, yaitu hal-hal yang ingin diketahui oleh malaikat-malaikat”.
Matthew
Henry: “Seeing it is so
absolutely necessary that persons be fully persuaded of the scripture’s divine
origin, the apostle (v. 21) tells us how the Old Testament came to be compiled,
and that, 1. Negatively: It came not by the will of man. Neither the
things themselves that are recorded, and make up the several parts of the Old
Testament, are the opinions of men, nor was the will of any of the prophets or
penmen of the scriptures the rule or reason why any of those things were written
which make up the canon of the scripture. 2. Affirmatively:
Holy men of God spoke as they were moved by the Holy Ghost. ... these holy men
were moved by the Holy Ghost in what they delivered as the mind and will of God.
The Holy Ghost is the supreme agent, the holy men are but instruments. ... he so
wisely and carefully assisted and directed them in the delivery of what they had
received from him that they were effectually secured from any the least mistake
in expressing what they revealed; so that the very words of scripture are to be
accounted the words of the Holy Ghost” (=
Melihat bahwa adalah begitu perlunya bahwa orang-orang diyakinkan
sepenuhnya tentang asal usul ilahi dari Kitab Suci, sang rasul (ay 21)
memberitahu kita bagaimana Perjanjian Lama disusun, dan itu, 1. Secara
negatif: Itu datang bukan oleh kehendak manusia. Hal-hal yang dicatat itu
sendiri, dan membentuk beberapa bagian dari Perjanjian Lama, bukanlah
pandangan-pandangan manusia, dan juga kehendak dari nabi-nabi atau
penulis-penulis manapun dari Kitab Suci bukanlah peraturan atau alasan mengapa
yang manapun dari hal-hal yang ditulis itu membentuk kanon dari Kitab Suci. 2. Secara
positif: Orang-orang kudus dari Allah berbicara pada saat mereka digerakkan
oleh Roh Kudus. ... dalam apa yang mereka sampaikan sebagai pikiran dan kehendak
Allah. Roh Kudus adalah agen tertinggi, orang-orang kudus hanyalah alat-alat.
... Ia dengan begitu bijaksana dan hati-hati membantu dan mengarahkan mereka
dalam penyampaian dari apa yang telah mereka terima dariNya sehingga mereka
secara efektif dijamin / dilindungi dari kesalahan terkecil manapun dalam
menyatakan apa yang mereka ungkapkan; sehingga kata-kata Kitab Suci itu harus
dianggap sebagai kata-kata dari Roh Kudus).
4)
Penerapan.
a)
Dalam ay 21a dikatakan bahwa tak ada nubuat yang dihasilkan oleh kehendak
manusia. Ini harus juga berlaku untuk bahasa Roh, karena beda antara nubuat dan
bahasa Roh hanya dalam soal bahasa. Jadi, kalau jaman sekarang ada banyak
orang-orang yang menggunakan bahasa Roh sesuai kehendak mereka sendiri,
itu pasti salah / palsu!
Bdk.
Kis 2:4 - “Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai
berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu
kepada mereka untuk mengatakannya”.
b)
Kitab Suci memberikan kita terang dalam dunia yang gelap ini, yang kalau
kita ikuti, akan membawa kita ke surga.
Barnes’
Notes: “The Bible is given to
us to shed light on our way. It is the only light which we have respecting the
future, and though it does not give ALL the information which we might desire in
regard to what is to come, yet it gives us sufficient light to guide us to
heaven. It teaches us what it is necessary to know about God, about our duty,
and about the way of salvation, in order to conduct us safely; and no one who
has committed himself to its direction, has been suffered to wander finally away
from the paths of salvation. It is, therefore, a duty to attend to the
instructions which the Bible imparts, and to commit ourselves to its holy
guidance in our journey to a better world: for soon, if we are faithful to its
teachings, the light of eternity will dawn upon us, and there, amidst its
cloudless splendor, we shall see as we are seen, and know as we are known”
(= Alkitab diberikan kepada kita untuk memberi terang pada jalan kita. Alkitab
adalah satu-satunya terang yang kita punyai berkenaan dengan masa yang akan
datang, dan sekalipun Alkitab tidak memberi semua
informasi yang bisa / mungkin kita inginkan berkenaan dengan apa yang akan
datang, tetapi Alkitab memberi kita terang yang cukup untuk membimbing kita ke
surga. Alkitab mengajar kita apa yang pelu diketahui tentang Allah, tentang
kewajiban kita, dan tentang jalan keselamatan, untuk membimbing kita dengan
selamat / aman; dan tak seorangpun yang telah membaktikan dirinya sendiri pada
pengarahan dari Alkitab, telah dibiarkan untuk akhirnya tersesat dari jalan
keselamatan. Karena itu, merupakan suatu kewajiban untuk memperhatikan
instruksi-instruksi yang Alkitab berikan, dan untuk membaktikan diri kita
sendiri pada bimbingan kudusnya dalam perjalanan kita ke dunia yang lebih baik:
karena segera, jika kita setia pada ajaran-ajarannya, terang dari kekekalan akan
terbit bagi kita, dan di sana, di tengah-tengah kemegahannya yang tanpa awan,
kita akan melihat seperti kita dilihat, dan mengetahui / mengenal seperti kita
diketahui / dikenal).
c)
Tanpa keyakinan bahwa Kitab Suci adalah sungguh-sungguh firman Allah,
kita tidak akan mendapatkan manfaat darinya.
Calvin:
“However, another sense seems to me more simple, that Peter says that
Scripture came not from man, or through the suggestions of man. For thou wilt
never come well prepared to read it, except thou bringest reverence, obedience,
and docility; but a just reverence then only exists when we are convinced that
God speaks to us, and not mortal men” (= Tetapi, suatu arti yang lain
kelihatannya lebih sederhana bagi saya, bahwa Petrus berkata bahwa Kitab Suci
tidak datang dari manusia, atau melalui proses pemikiran manusia. Karena engkau
tidak akan pernah siap untuk membacanya, kecuali engkau membawa rasa hormat,
ketaatan, dan sikap mau diajar; tetapi suatu rasa hormat yang benar hanya bisa
ada pada saat kita diyakinkan bahwa Allah, dan bukan manusia yang fana, yang
berbicara kepada kita).
Matthew
Henry: “The divinity of the
scriptures must be known and acknowledged in the first place, before men can
profitably use them, before they can give good heed to them. To call off our
minds from all other writings, and apply them in a peculiar manner to these as
the only certain and infallible rule, necessarily requires our being fully
persuaded that these are divinely inspired, and contain what is truly the mind
and will of God” (= Keilahian dari Kitab Suci harus diketahui dan
diakui di tempat pertama, sebelum manusia bisa menggunakannya secara bermanfaat,
sebelum mereka bisa memberi perhatian yang baik padanya. Memanggil pikiran kita
dari semua tulisan-tulisan yang lain, dan menerapkannya dengan cara yang khusus
kepada Kitab Suci sebagai satu-satunya peraturan yang pasti dan tak bisa salah,
mengharuskan kita untuk diyakinkan sepenuhnya bahwa Kitab Suci diilhamkan secara
ilahi, dan berisi apa yang betul-betul adalah pikiran dan kehendak Allah).
Catatan:
kata-kata ‘keilahian dari Kitab Suci’ tentu tidak boleh diartikan bahwa
Matthew Henry menganggap bahwa Kitab Suci adalah Allah, tetapi bahwa Kitab Suci
mempunyai asal usul ilahi / dari Allah.
Bahkan,
menurut saya, orang-orang yang membaca Kitab Suci tanpa mempercayainya sebagai
firman Allah sangat mungkin mereka mendapatkan kerugian darinya. Orang-orang
yang datang kepada Kitab Suci dengan kepercayaan bahwa Kitab Suci adalah firman
Allah, akan mendapatkan kebenaran darinya. Tetapi orang-orang yang datang kepada
Kitab Suci tanpa kepercayaan itu, dan apalagi kalau mereka membaca / mempelajari
Kitab Suci dengan pemikiran bahwa Kitab Suci itu salah, dan berusaha menemukan
kesalahan-kesalahan itu, pada umumnya mereka betul-betul akan mendapatkan
kesalahan-kesalahan itu. Karena itu keyakinan / kepercayaan, rasa hormat
terhadap Kitab Suci, dan motivasi yang benar dalam membaca / mempelajarinya
merupakan hal-hal yang sangat penting!!
-o0o-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali