Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)

Jumat, tanggal 9 Juli 2010, pk 19.00  

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(7064-1331 / 6050-1331)

[email protected]

 

II PETRUS 1:10-21(3)

 

Ay 14-15: “(14) Sebab aku tahu, bahwa aku akan segera menanggalkan kemah tubuhku ini, sebagaimana yang telah diberitahukan kepadaku oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. (15) Tetapi aku akan berusaha, supaya juga sesudah kepergianku itu kamu selalu mengingat semuanya itu”.

 

Ay 14: Sebab aku tahu, bahwa aku akan segera menanggalkan kemah tubuhku ini, sebagaimana yang telah diberitahukan kepadaku oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.

 

1)   Sebab aku tahu, bahwa aku akan segera menanggalkan kemah tubuhku ini.

 

a)      ‘Segera’.

Kata yang diterjemahkan ‘segera’ bisa juga diterjemahkan ‘mendadak’, dan para penafsir berbeda pendapat tentang yang mana yang benar. Tetapi, boleh dikatakan semua Kitab Suci bahasa Inggris menterjemahkan ‘segera’, bukan ‘mendadak’.

KJV: ‘shortly’ (= segera / tak lama lagi).

RSV/NIV: ‘soon’ (= segera).

NASB: imminent (= dekat / sebentar lagi).

 

A. T. Robertson: “‘Cometh swiftly’. ‎tachinee ‎‎estin‎. A late adjective (Theocritus, the Septuagint, inscription), in the New Testament only here and 2 Peter 2:1. It is not clear whether ‎tachinos ‎means ‘soon’ or ‘speedy’ as in Isa 59:7 and like ‎tachus ‎in James 1:19, or ‘sudden’, like ‎tachus ‎in Plato (Republ. 553 D). Either sense agrees with the urgent tone of Peter here, whether he felt his death to be near or violent or both” [= ‘Datang dengan cepat’. tachinee ‎‎estin‎. Suatu kata sifat yang muncul belakangan (Theocritus, Septuaginta, prasasti), dalam Perjanjian Baru hanya di sini dan 2Pet 2:1. Tidak jelas apakah ‎tachinos berarti ‘segera’ atau ‘cepat’ seperti dalam Yes 59:7 dan seperti ‎tachus dalam Yak 1:19, atau ‘mendadak’, seperti ‎tachus dalam Plato (Republ. 553 D). Arti yang manapun cocok dengan nada mendesak dari Petrus di sini, apakah ia merasa bahwa kematiannya sudah dekat atau bersifat bengis / keras atau keduanya].

 

Pulpit Commentary: St. Peter may mean by these words either that his death was near at hand, or that, when it came, it would be sudden, a violent death, not a lengthened illness (= Santo Petrus bisa memaksudkan dengan kata-kata ini atau bahwa kematiannya sudah dekat, atau bahwa, pada waktu kematiannya datang, itu akan bersifat mendadak, suatu kematian yang bengis / keras, bukan suatu keadaan sakit yang berkepanjangan).

 

Lenski: “There is some discussion as to whether this means ‘swift, sudden,’ or ‘soon.’ We prefer the former. ... We know nothing about when, how, and where the Lord made this indication to Peter about his dying soon. ... John 13:36 and 21:18, etc., indicate a violent death by martyrdom, hence one that is swift. Peter was now an old man (John 21:18); the Lord said that when he became old, somebody would tie a rope around his body and hale him to his death; so executioners did with their victims. ... Peter’s end would be swift” [= Ada beberapa diskusi berkenaan apakah ini berarti ‘cepat, mendadak’ atau ‘segera’. Kami memilih yang pertama. ... Kita tidak tahu apapun tentang kapan, bagaimana, dan dimana Tuhan membuat petunjuk ini kepada Petrus bahwa ia akan segera mati. Yoh 13:36 dan 21:18, dsb, menunjukkan suatu kematian yang bengis / keras oleh kematian syahid, dan karena itu suatu kematian yang cepat. Sekarang Petrus adalah seorang yang sudah tua (Yoh 21:18); Tuhan berkata bahwa pada waktu ia menjadi tua, seseorang akan mengikatkan tali sekeliling tubuhnya dan memaksanya pergi menuju kematiannya; demikianlah dilakukan oleh algojo-algojo dengan korban-korban mereka. ... Akhir dari Petrus akan cepat] - hal 282.

Yoh 13:36 - “Simon Petrus berkata kepada Yesus: ‘Tuhan, ke manakah Engkau pergi?’ Jawab Yesus: ‘Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku.’”.

Yoh 21:18 - “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.’”.

 

UBS New Testament Handbook Series: “‘Will be soon’ points to the nearness of Peter’s death. Some commentaries want to understand this to mean violent and unexpected death, but such an interpretation seems to be influenced by reading this passage in the light of John 21:18, where Jesus refers to the way Peter will die some day. The Greek word itself simply suggests swiftness, not violence” (= ‘Akan segera’ menunjuk pada dekatnya kematian Petrus. Beberapa buku tafsiran mau menafsirkan ini untuk berarti kematian yang keras / bengis dan tak terduga, tetapi penafsiran seperti itu kelihatannya dipengaruhi oleh pembacaan text ini dalam terang dari Yoh 21:18, dimana Yesus menunjuk pada cara Petrus akan mati pada suatu hari. Kata Yunaninya sendiri hanya menunjukkan ke-cepat-an / kesegeraan, bukan kekerasan / kebengisan).

 

b)      ‘menanggalkan kemah tubuhku ini’.

Ini menunjukkan bahwa manusia terdiri dari tubuh dan jiwa / roh. Karena itu, kita tidak boleh hanya memperhatikan kebutuhan tubuh, tetapi juga, dan bahkan terutama, kebutuhan jiwa / roh.

 

The Biblical Illustrator (New Testament): “From this notion of putting off our bodies it will appear that - WE DO IN REALITY CONSIST OF BODY AND SOUL, which is the foundation of all religion. If we were all body, the pleasures and interests of the body would be our supreme happiness; but since we have a soul to govern the motions of the body, it must be our wisdom and our interest to take diligent heed of that soul, and not suffer the body to engross all our care. A creature that is made of two distinct parts cannot be completely happy by providing for one part only. Our care of the life of the soul will oblige us to take care of any hurt or mischief that may befall it, as we see it does in our bodies. Again, do we bestow much time and labour upon adorning our bodies, it is abundantly more for our interest that we spare a portion of them to the soul, in exalting that with wisdom and holiness” (= Dari gagasan / pemikiran tentang penanggalan tubuh terlihat bahwa - dalam kenyataannya kita memang terdiri dari tubuh dan jiwa, yang merupakan dasar dari agama. Seandainya kita seluruhnya adalah tubuh, kesenangan-kesenangan dan kepentingan-kepentingan dari tubuh akan merupakan kebahagiaan kita yang tertinggi; tetapi karena kita mempunyai suatu jiwa untuk memerintah pergerakan dari tubuh, maka haruslah merupakan hikmat dan perhatian kita untuk memperhatikan dengan rajin jiwa itu, dan tidak membiarkan tubuh untuk mengasyikkan / menarik seluruh perhatian / pemeliharaan kita. Suatu makhluk yang dibuat dari dua bagian yang berbeda tidak bisa sepenuhnya bahagia dengan menyediakan hanya untuk satu bagian saja. Perhatian / pemeliharaan kita tentang kehidupan dari jiwa akan mewajibkan kita untuk memelihara luka / sakit atau kerusakan yang bisa menimpanya, seperti kita lihat hal itu terjadi dalam tubuh kita. Lagi, kalau kita memberikan banyak waktu dan jerih payah untuk menghiasi tubuh kita, maka lebih-lebih lagi kita harus menyimpan sebagian darinya bagi jiwa, dalam meninggikan jiwa itu dengan hikmat dan kekudusan).

 

The Biblical Illustrator (New Testament): “Are we constantly apprehensive that we must leave our bodies? THIS SHOULD TEACH US NOT TO VALUE OURSELVES UPON ANY BODILY ACCOMPLISHMENTS AND QUALIFICATIONS, NOR TO ALLOW TOO LARGE A SNARE OF OUR PAINS AND TIME IN SEARCHING AFTER THEM, BUT TO PURIFY BOTH SOUL AND BODY, AND TO PREPARE THEM FOR A HAPPY RECEPTION INTO THE OTHER WORLD. It is absurd to boast or grow proud of things which we are soon to part with, or be very eager to obtain what we are sure we cannot hold for a long time. The ornaments of sobriety and temperance, humility and meekness, charity, wisdom, and holiness, will stand us in greatest stead when our bodies have left us. And nothing but they will do us service” (= Apakah kita secara terus menerus melihat / memahami bahwa kita harus meninggalkan tubuh kita? Ini harus mengajar kita untuk tidak menilai diri kita sendiri berdasarkan pencapaian dan kecakapan jasmani apapun, atau mengijinkan usaha dan waktu kita terjerat dalam mencari hal-hal itu, tetapi untuk memurnikan baik jiwa maupun tubuh, dan untuk mempersiapkan mereka untuk suatu penerimaan yang bahagia ke dalam dunia yang lain. Adalah menggelikan untuk membanggakan atau menjadi sombong tentang hal-hal yang segera akan berpisah dengan kita, atau sangat sungguh-sungguh / bersemangat untuk mendapatkan apa yang kita yakin tidak bisa kita pertahankan untuk waktu yang lama. Perhiasan-perhiasan dari kewarasan / ketenangan dan kesederhanaan / penguasaan diri, kerendahan hati dan kelembutan, kasih, hikmat, dan kekudusan, akan menempatkan kita di kedudukan tertinggi pada waktu tubuh kita meninggalkan kita. Dan tidak ada hal lain kecuali hal-hal itu akan bermanfaat bagi kita).

 

The Biblical Illustrator (New Testament): “This observation that we are to put off our bodies will instruct us in THE DIGNITY AND SUPERIORITY OF THE SOUL ABOVE THE BODY. The soul herself suffers nothing by this separation, but is made more glorious by it. The soul is the seat of knowledge and sensation, and the body is very insignificant without it. The soul, therefore, is the best part of us. The body has no life without the soul, but the soul has life though it be stripped of body. How, then, can we justify our neglect of the soul and our unmeasurable, our most unreasonable affection for the body?” (= Pengamatan bahwa kita harus menanggalkan tubuh kita mengajar kita tentang kewibawaan dan kesuperioran / ke-lebih-tinggi-an jiwa di atas tubuh. Jiwa itu sendiri tidak menderita apa-apa oleh perpisahan ini, tetapi dibuat lebih mulia olehnya. Jiwa adalah kedudukan / pusat dari pengetahuan dan perasaan, dan tubuh sangat tidak berarti tanpa jiwa. Karena itu, jiwa adalah bagian terbaik dari diri kita. Tubuh tidak mempunyai kehidupan tanpa jiwa, tetapi jiwa mempunyai kehidupan sekalipun jiwa itu dilucuti tubuhnya. Maka / jadi, bagaimana kita bisa membenarkan pengabaian kita tentang jiwa dan perasaan / cinta kita yang tidak bisa diukur, paling tidak masuk akal untuk tubuh?).

Illustrasi: saya baru saja melihat sebuah film dokumenter (betul-betul terjadi!) tentang gadis yang punya tumor / kanker di otaknya, di bagian yang paling tidak bisa dijangkau. Untuk operasi, ia betul-betul harus dibunuh lebih dulu, dengan mendinginkan darahnya sampai 15° C., dan disuntik jantungnya dengan obat tertentu, sehingga jantung berhenti, dan secara klinis ia betul-betul mati. Lalu darahnya dipompa keluar, supaya tidak ada perdarahan otak pada saat otak itu dioperasi. Setelah otaknya dioperasi, darahnya dikembalikan, ia diberi alat bantu pernafasan, dsb, dan dilakukan kejut jantung, sehingga ia hidup kembali. Besoknya ia sudah sadar. Yang menarik adalah, ia menceritakan bahwa pada saat mati, ia (jiwa/ rohnya) keluar dari tubuhnya, dan bisa melihat (padahal mata dari tubuhnya ditutup!) dan mendengar dengan jelas, bahkan dengan lebih jelas / bening dari pada ketika ia hidup, segala sesuatu yang terjadi dalam ruangan itu. Dan pada saat ia dihidupkan kembali, ia merasa seperti diceburkan dalam sebuah kolam renang, dan rasanya sangat sakit.

 

2)   Alexander Nisbet, yang menerima penafsiran ‘sudah dekat’, menganggap hal ini sebagai argumentasi ke 8, dimana sekalipun sudah dekat dengan kematian, tetapi Petrus masih terus menekankan hal ini kepada mereka. Apa yang kita lakukan sampai detik-detik terakhir hidup kita pastilah merupakan sesuatu yang terpenting bagi kita (bandingkan dengan pelatih tinju saya yang terus bicara tentang tinju sampai akhir hidupnya).

 

Alexander Nisbet: “The nearer our journey’s end be, the faster should we run, according to our strength, in serving Christ, and doing good to souls: for when death is near the best will think the great part of their business undone” (= Makin dekat akhir dari perjalanan kita, makin cepat kita harus lari, sesuai dengan kekuatan kita, dalam melayani Kristus, dan melakukan hal-hal yang baik bagi jiwa-jiwa: karena pada waktu kematian sudah dekat orang-orang yang terbaik akan memikirkan tentang bagian besar dari pekerjaan / kesibukan mereka yang belum dilakukan) - hal 234.

 

Calvin: “We are also taught by the example of Peter, that the shorter term of life remains to us, the more diligent ought we to be in executing our office. It is not commonly given to us to foresee our end; but they who are advanced in years, or weakened by illness, being reminded by such indications of the shortness of their life, ought to be more sedulous and diligent, so that they may in due time perform what the Lord has given them to do; nay, those who are the strongest and in the flower of their age, as they do not render to God so constant a service as it behooves them to do, ought to quicken themselves to the same care and diligence by the recollection of approaching death; lest the occasion of doing good may pass away, while they attend negligently and slothfully to their work” (= Kita juga diajar oleh teladan Petrus, bahwa makin pendek sisa hidup kita, maka seharusnya makin rajin kita melaksanakan tugas kita. Pada umumnya kita tidak diberitahu saat kematian kita; tetapi mereka yang sudah tua, atau dilemahkan oleh penyakit, dan diingatkan oleh petunjuk-petunjuk itu tentang singkatnya hidup mereka, harus lebih bekerja keras dan rajin, sehingga pada waktu yang seharusnya mereka bisa melakukan apa yang Tuhan tugaskan mereka untuk lakukan; tidak, mereka yang paling kuat dan berada pada usia terbaik mereka, karena mereka tidak memberikan kepada Allah pelayanan yang konstan seperti yang harus mereka lakukan, harus mempercepat diri mereka sendiri pada perhatian dan kerajinan yang sama oleh ingatan tentang kematian yang mendekat; supaya jangan kesempatan melakukan apa yang baik lewat, sementara mereka memperhatikan / menyelesaikan pekerjaan mereka dengan lalai / sembrono).

 

Penerapan: ini bertentangan dengan sikap banyak orang, yang pada saat sudah agak tua, lalu berhenti melayani, dengan alasan ‘memberi kesempatan kepada yang muda-muda’. Buang alasan konyol ini! Yang muda-muda memang harus melayani, tetapi yang sudah tua, selama masih memungkinkan, juga harus tetap melayani.

 

3)            “sebagaimana yang telah diberitahukan kepadaku oleh Yesus Kristus, Tuhan kita”.

 

Ada penafsir yang menganggap bahwa Petrus menerima wahyu yang baru, yang memang menunjukkan bahwa ia akan segera mati.

Tetapi Albert Barnes mengatakan bahwa Petrus tahu kalau kematiannya sudah dekat, hanya berdasarkan kata-kata Yesus dalam Yoh 21:18-19, bukan karena mendapatkan petunjuk / firman yang baru berkenaan dengan hal itu.

Yoh 21:18-19 - “(18) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.’ (19) Dan hal ini dikatakanNya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: ‘Ikutlah Aku.’”.

Karena dalam Yoh 21:18-19 itu Yesus mengatakan ‘jika engkau sudah menjadi tua’, maka pada saat ia sudah tua ia tahu bahwa ia akan segera mati. Pulpit Commentary dan Jamieson, Fausset & Brown juga mempunyai pandangan yang sama.

 

Ay 15: Tetapi aku akan berusaha, supaya juga sesudah kepergianku itu kamu selalu mengingat semuanya itu.

 

1)            ‘kepergianku’.

KJV/ASV/NKJV: ‘my decease’ (= kematianku).

RSV/NIV/NASB: ‘my departure’ (= keberangkatanku).

Kata ‘kepergian’ ini diterjemahkan dari kata Yunani EXODON.

 

a)   Ini adalah bahasa halus untuk ‘kematian’.

UBS New Testament Handbook Series: “‘Departure’ is a very dignified euphemism, or way of avoiding the unpleasant word ‘death.’ (The same euphemism is used in Luke 9:31.)” [= ‘Kepergian’ adalah suatu penghalusan bahasa yang sangat bermartabat, atau suatu cara untuk menghindari kata ‘kematian’ yang tidak menyenangkan (penghalusan bahasa yang sama digunakan dalam Luk 9:31).].

Luk 9:31 - “Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergianNya yang akan digenapiNya di Yerusalem”.

KJV/ASV/NKJV: ‘his decease’ (= kematianNya).

RSV/NIV/NASB: ‘his departure’ (= keberangkatanNya).

 

Catatan: saya meragukan bahwa penggunaan kata ‘pergi’ atau ‘kepergian’ ini merupakan suatu penghalusan bahasa. Saya menganggap memang ada alasan theologis sehingga bukan digunakan kata ‘mati’ atau ‘kematian’, tetapi ‘pergi’ atau ‘kepergian’. Untuk itu lihat point b) dan c) di bawah ini.

 

b)   Ini menunjukkan bahwa mati tidak berarti ‘musnah’ atau ‘berhenti mempunyai keberadaan’, tetapi menunjukkan bahwa mati berarti ‘pindah ke tempat lain’.

 

Barnes’ Notes: “This is not the usual word to denote death, but is rather a word denoting that he was going on a journey out of this world. He did not expect to cease to be, but he expected to go on his travels to a distant abode” (= Ini bukan kata yang biasa untuk menunjuk pada kematian, tetapi lebih merupakan suatu kata yang menunjukkan bahwa ia akan menempuh suatu perjalanan keluar dari dunia ini. Ia tidak mengharapkan untuk berhenti ada, tetapi ia mengharapkan untuk menempuh perjalananya ke suatu tempat kediaman yang jauh).

 

Calvin: “He declares that death is departing from this world, that we may remove elsewhere, even to the Lord” (= Ia menyatakan bahwa kematian adalah kepergian / keberangkatan dari dunia ini, sehingga kita bisa dipindahkan ke suatu tempat lain, yaitu kepada Tuhan).

Bdk. Fil 1:23 - “Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus - itu memang jauh lebih baik”.

Catatan: kata ‘pergi’ yang digunakan oleh Paulus dalam Fil 1:23 adalah kata Yunani yang berbeda dengan yang digunakan dalam 2Pet 1:15 dan Luk 9:31.

 

c)   Ini berhubungan dengan keluarnya Israel dari Mesir (EXODUS).

Vincent: “‘Decease’ ‎(exodon‎). ‘Exodus’ is a literal transcript of the word, and is the term used by Luke in his account of the transfiguration. ‘They spake of his decease.’ It occurs only once elsewhere, Heb 11:22, in the literal sense, the ‘departing or exodus’ of the children of Israel [= ‘Kematian’ (EXODON). ‘Exodus’ merupakan suatu salinan hurufiah dari kata itu, dan merupakan istilah yang digunakan oleh Lukas dalam cerita / laporannya tentang perubahan rupa / pemuliaan. ‘Mereka berbicara tentang kematianNya’. Kata itu hanya muncul satu kali di tempat lain, Ibr 11:22, dalam arti yang hurufiah, ‘pemberangkatan atau exodus’ dari anak-anak Israel].

Catatan: kata ‘transfiguration’ menunjuk pada pemuliaan Yesus di atas gunung, dimana Ia berubah rupa. Kata ‘transfiguration’ itu sendiri berarti ‘perubahan rupa / bentuk’.

 

Ibr 11:22 - “Karena iman maka Yusuf menjelang matinya memberitakan tentang keluarnya orang-orang Israel dan memberi pesan tentang tulang-belulangnya”.

KJV: ‘the departing’ (= keberangkatan).

RSV/NIV/NASB: ‘the exodus’ (= exodus).

ASV/NKJV: ‘the departure’ (= keberangkatan).

 

Jamieson, Fausset & Brown: “The very word exodon used in the transfiguration, Moses and Elias conversing about Christ’s decease (found nowhere else in the New Testament, but Heb. 11:22, ‘the departing of Israel’ out of Egypt, to which the saints’ deliverance from the bondage of corruption answers)” [= Kata EXODON digunakan dalam perubahan rupa / pemuliaan, Musa dan Elia berbicara tentang kematian Kristus (tidak ditemukan di tempat lain dalam Perjanjian Baru, tetapi Ibr 11:22, ‘kepergian Israel’ keluar dari Mesir, yang cocok dengan pembebasan orang-orang kudus dari perbudakan kejahatan)].

 

Barclay: “The picture comes from the journeying of the patriarchs in the Old Testament. They had no abiding residence but lived in tents because they were on the way to the Promised Land. The Christian knows well that his life in this world is not a permanent residence but a journey towards the world beyond. We get the same idea in verse 15. There Peter speaks of his approaching death as his EXODOS, his departure. EXODOS is, of course, the word which is used for the departure of the children of Israel from Egypt, and their setting out to the Promised Land. Peter sees death, not as the end but as the going out into the Promised Land of God” (= Gambaran itu datang dari perjalanan dari nenek moyang mereka dalam Perjanjian Lama. Mereka tidak mempunyai tempat tinggal tetap tetapi hidup / tinggal di kemah karena mereka sedang dalam perjalanan ke Negeri Perjanjian. Orang Kristen tahu dengan baik bahwa kehidupannya dalam dunia ini bukanlah suatu tempat tinggal yang permanen tetapi suatu perjalanan menuju dunia yang akan datang / alam baka. Kita mendapatkan gagasan yang sama dalam ay 15. Di sana Petrus berbicara tentang kematiannya yang mendekat sebagai EXODOS-nya, keberangkatannya. Tentu saja, EXODOS adalah kata yang digunakan untuk keberangkatan dari anak-anak Israel dari Mesir, dan keberangkatan mereka ke Negeri Perjanjian. Petrus melihat kematian, bukan sebagai akhir tetapi sebagai keluar menuju Negeri Perjanjian dari Allah) - hal 308.

 

2)         ‘kamu selalu mengingat semuanya itu’.

Ini merupakan tujuan dari usaha Petrus. Ia berusaha supaya setelah ia mati, mereka / orang-orang kepada siapa ia menulis tetap mengingat ajarannya / tulisannya. Jadi, setelah matipun ia berharap bahwa ia masih bisa memberi manfaat bagi gereja! Bandingkan dengan banyak orang yang pada waktu hidup saja tak peduli dengan hal itu, apalagi pada waktu sudah mati!

 

Alexander Nisbet: “The sense of obligation to Jesus Christ will make His servants and people sincerely studious to do that while they live, that may be some way useful for His honour and the good of others, when they are gone. And though every one cannot leave such profitable monuments as some others have done, yet ought every Christian to endeavour to leave behind them the seeds of saving knowledge, sown in the hearts of those with whom they converse, at least the savoury remembrance of their humble and holy walking, the fruits of their charity and other good works, which may do as much good after their decease as some volumes do” (= Perasaan kewajiban terhadap Yesus Kristus akan membuat pelayan-pelayan dan umatNya dengan sungguh-sungguh rajin untuk melakukan hal itu sementara mereka hidup, supaya mereka bisa dengan suatu cara berguna untuk kehormatanNya dan kebaikan orang-orang lain, pada waktu mereka pergi / mati. Dan sekalipun setiap orang tidak bisa meninggalkan monumen yang berguna seperti itu, seperti yang telah dilakukan oleh beberapa orang-orang lain, tetapi setiap orang Kristen harus berusaha untuk meninggalkan di belakang mereka benih dari pengetahuan yang menyelamatkan, ditaburkan dalam hati dengan siapa mereka berbicara, sedikitnya ingatan yang sedap tentang kehidupan mereka yang rendah hati dan kudus, buah-buah dari kasih dan perbuatan baik mereka yang lain, yang bisa melakukan kebaikan yang sama banyaknya setelah kematian mereka seperti kebaikan yang dilakukan oleh buku-buku) - hal 235.

 

The Biblical Illustrator (New Testament): “Here observe the desire is not that after Peter’s decease people should remember him as much as ‘the things’ he had taught them. To the true minister the message is of infinitely more importance than himself” (= Di sini perhatikan keinginannya bukanlah bahwa setelah kematian Petrus orang-orang harus mengingat dia tetapi ‘hal-hal’ yang telah ia ajarkan kepada mereka. Bagi pelayan / pendeta yang sejati berita adalah jauh lebih penting dari pada dirinya sendiri).

 

The Biblical Illustrator (New Testament): “The minister must labour neither for praise nor for purse, but for conscience; he must fish for souls, not for riches. There are too many that seek the Church goods rather than the Church’s good” (= Pelayan / pendeta harus berjerih payah bukan untuk pujian ataupun untuk dompet, tetapi untuk hati nurani; ia harus memancing jiwa, bukan kekayaan. Ada terlalu banyak yang mencari harta Gereja dan bukannya kebaikan dari Gereja).

 

3)            Penafsiran dari sebagian penafsir Katolik tentang ayat ini.

 

Pulpit Commentary: Some Roman Catholic commentators think that this passage contains a promise that the apostle would still, after his death, continue to remember the needs of the Church on earth, and to help them by his intercessions; but this interpretation involves a complete dislocation of clauses, and cannot possibly be the true meaning of the words (= Sebagian penafsir Roma Katolik berpikir / menganggap bahwa text ini berisi suatu janji bahwa sang rasul akan tetap, setelah kematiannya, terus mengingat kebutuhan dari Gereja di bumi, dan menolong mereka oleh syafaatnya; tetapi penafsiran ini melibatkan suatu perpindahan sepenuhnya dari anak-anak kalimatnya, dan tidak mungkin merupakan arti yang benar dari kata-kata ini).

 

-bersambung-  

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali