Pemahaman
Alkitab
(Jl. Dinoyo
19b, lantai 3)
Jumat, tanggal
5 Maret 2010, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331 /
6050-1331)
2Pet 1:10-21 - “(10) Karena itu, saudara-saudaraku,
berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab
jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. (11) Dengan
demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan
kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. (12) Karena
itu aku senantiasa bermaksud mengingatkan kamu akan semuanya itu, sekalipun
kamu telah mengetahuinya dan telah teguh dalam kebenaran yang telah kamu
terima. (13) Aku menganggap sebagai kewajibanku untuk tetap mengingatkan kamu
akan semuanya itu selama aku belum menanggalkan kemah tubuhku ini. (14) Sebab
aku tahu, bahwa aku akan segera menanggalkan kemah tubuhku ini, sebagaimana
yang telah diberitahukan kepadaku oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. (15) Tetapi
aku akan berusaha, supaya juga sesudah kepergianku itu kamu selalu mengingat
semuanya itu. (16) Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol
manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita,
Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaranNya.
(17) Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari
Allah Bapa, ketika datang kepadaNya suara dari Yang Mahamulia, yang
mengatakan: ‘Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan.’ (18)
Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia
di atas gunung yang kudus. (19) Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh
firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu
memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat
yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam
hatimu. (20) Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam
Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, (21) sebab tidak
pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus
orang-orang berbicara atas nama Allah”.
Ay 11: “Dengan
demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal,
yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.”.
1)
“Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh
untuk memasuki Kerajaan kekal”.
a)
Terjemahan ini ngawur!
Bandingkan
dengan terjemahan-terjemahan dari Kitab Suci bahasa Inggris dibawah ini.
KJV:
‘For so an entrance shall be ministered unto you abundantly into the
everlasting kingdom’ (= Karena dengan demikian suatu jalan masuk akan
disediakan bagimu dengan berlimpah-limpah ke dalam kerajaan kekal).
RSV:
‘so
there will be richly provided for you an entrance into the eternal kingdom’
(= jadi di sana akan disediakan secara kaya / berlimpah-limpah bagimu suatu
jalan masuk ke dalam kerajaan kekal).
NIV:
‘and
you will receive a rich welcome into the eternal kingdom’
(= dan kamu akan mendapat sambutan yang kaya ke dalam kerajaan kekal).
NASB:
‘for
in this way the entrance into the eternal kingdom ... will be abundantly
supplied to you’ (= karena dengan jalan ini jalan masuk ke dalam kerajaan kekal ... akan
disuplai secara berlimpah-limpah bagimu).
Terjemahannya
memang beraneka ragam. Kata Yunani yang dipakai adalah EPIKHOREGETHESETAI, yang
berarti ‘will be supplied’ (= akan disuplai).
b)
Ini merupakan argumentasi / motivasi kelima mengapa kita harus melakukan
ay 5-7.
Alexander
Nisbet:
“Here
is the fifth motive. The life of a Christian growing in grace and diligent in
duties shall be to him a begun heaven upon earth, his clearness concerning his
right to it and his feeling of the first fruits of it being a begun entry into
heaven, and the blessing of God upon his pains” (= Di sini adalah motivasi kelima. Kehidupan dari seorang
Kristen yang bertumbuh dalam kasih karunia dan kerajinan dalam
kewajiban-kewajiban baginya akan merupakan suatu surga yang dimulai di bumi,
kejelasannya berkenaan dengan haknya tentang hal itu dan perasaannya tentang
buah pertama darinya adalah suatu permulaan jalan masuk ke dalam surga, dan
berkat dari Allah pada rasa sakitnya / usahanya)
- hal 232.
The
Bible
Exposition Commentary: New Testament: “In
fact, the growing Christian can look forward to ‘an abundant entrance’ into
the eternal kingdom! The Greeks used this phrase to describe the welcome given
Olympic winners when they returned home. Every believer will arrive in heaven,
but some will have a more glorious welcome than others. Alas, some believers
‘shall be saved, yet so as by fire’ (1 Cor 3:15)” [= Dalam faktanya orang Kristen yang bertumbuh bisa mengantisipasi ‘suatu
jalan masuk yang berlimpah-limpah’ ke dalam kerajaan kekal! Orang-orang Yunani
menggunakan ungkapan ini untuk menggambarkan sambutan yang diberikan kepada
pemenang Olympic pada waktu mereka pulang ke rumah. Setiap orang percaya akan
tiba di surga, tetapi sebagian / beberapa akan mendapatkan sambutan yang lebih
mulia dari pada yang lain. Bahkan, beberapa orang percaya ‘akan diselamatkan,
tetapi seperti dari dalam api’ (1Kor 3:15)].
1Kor
3:15 - “Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia
sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api”.
1Pet
4:18 - “Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, apakah yang
akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa?”.
2)
“yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus”.
KJV/RSV/NIV/NASB:
‘of our Lord and Saviour Jesus Christ’ (= dari Tuhan dan Juruselamat
kita Yesus Kristus).
a)
Ini menunjukkan Yesus sebagai Tuhan.
Pulpit
Commentary: “Notice
the exact correspondence of the Greek words here, tou=
Kuri/ou h(mw=n kai\ Swth=ro$ )Ihsou= Cristou=, with these in
verse 2, tou= Qeou= h(mw=n kai\ Swth=ro$ )Ihsou= Cristou=,
as a strong argument in favour of the translation, ‘Our God and Saviour Jesus
Christ,’ in that verse”
(= Perhatikan persesuaian yang persis dari kata-kata Yunani di sini, TOU KURIOU
HUMON KAI SOTEROS IESOU KHRISTOU, dengan kata-kata ini dalam ayat 2, TOU THEOU
HUMON KAI SOTEROS IESOU KHRISTOU, suatu argumentasi yang kuat untuk keuntungan
dari terjemahan ‘Allah dan Juruselamat kita Yesus Kristus’, dalam ayat itu).
Ay
11: TOU KURIOU HEMON KAI SOTEROS IESOU KHRISTOU
Ay
2: TOU THEOU HEMON KAI SOTEROS IESOU KHRISTOU
Sekarang
perhatikan terjemahan dari Terjemahan Dunia Baru (TDB), Kitab Suci Saksi-Saksi
Yehuwa:
Ay
11: “Tuan dan Juru Selamat kita, Yesus
Kristus”. Ini menunjuk kepada satu pribadi.
Ay
2: “Tentang Allah dan tentang Yesus,
Tuan kita”. Ini menunjuk kepada dua pribadi.
Ini
jelas terjemahan yang tidak konsisten, karena kedua kalimat tersebut strukturnya
persis, hanya saja yang ay 11 menggunakan kata KURIOU (Tuhan), sedangkan yang ay 2
menggunakan kata THEOU (Allah). Keduanya juga ada dalam case yang sama, yaitu
genitive case.
Kelihatannya
bagi para Saksi Yehuwa tidak terlalu bermasalah kalau Yesus disebut Tuhan
(Tuan), dan karena itu mereka menterjemahkan ay 11 sedemikian rupa sehingga anak
kalimat itu hanya menunjuk kepada satu pribadi, dan dengan demikian menyatakan
Yesus sebagai Tuhan. Tetapi mereka tidak mau kalau Yesus disebut sebagai Allah,
dan karena itu mereka menterjemahkan ay 2 sedemikian rupa sehingga anak kalimat
itu menunjuk kepada dua pribadi, dan dengan demikian tidak menyatakan Yesus
sebagai Allah.
b)
Mengapa surga disebut dengan istilah Kerajaan dari Yesus Kristus?
Calvin:
“He calls it the kingdom of Christ,
because we cannot ascend to heaven
except under his banner and guidance” (= Ia menyebutnya kerajaan Kristus, karena kita tidak
bisa naik ke surga kecuali di bawah panji dan pimpinanNya).
Ay 12: “Karena
itu aku senantiasa bermaksud mengingatkan kamu akan semuanya itu, sekalipun kamu
telah mengetahuinya dan telah teguh dalam kebenaran yang telah kamu terima”.
1)
Terjemahan-terjemahan yang berbeda.
KJV:
‘Wherefore I will not be negligent to put you always in remembrance of
these things, though ye know them, and be established in the present truth.’
(= Karena
itu aku tidak akan lalai untuk selalu mengingatkan kamu tentang hal-hal ini,
sekalipun engkau mengetahuinya, dan didirikan dalam kebenaran saat ini).
RSV:
‘Therefore I intend always to remind you of these things, though you know
them and are established in the truth that you have’ (= Karena itu aku bermaksud untuk selalu
mengingatkan kamu tentang hal-hal ini, sekalipun engkau mengetahui hal-hal itu
dan didirikan dalam kebenaran yang engkau miliki).
NIV:
‘So
I will always remind you of these things, even though you know them and are
firmly established in the truth you now have’
(= Demikianlah
aku akan selalu mengingatkan engkau tentang hal-hal ini, sekalipun engkau
mengetahui hal-hal ini dan didirikan dengan teguh dalam kebenaran yang sekarang
engkau miliki).
NASB:
‘Therefore,
I shall always be ready to remind you of these things, even though you already
know them, and have been established in the truth which is present with you’
(= Karena
itu, aku akan selalu siap untuk mengingatkan kamu tentang hal-hal ini, sekalipun
engkau sudah mengetahui hal-hal ini, dan telah didirikan dalam kebenaran yang
ada / hadir bersamamu).
Pulpit
Commentary: “Verse
12. - ‘Wherefore I will not be negligent to put you always in remembrance of
these things;’ rather, as in the Revised Version, ‘wherefore I shall be
ready.’” (= Ayat 12 - ‘Karena itu aku tidak akan lalu
untuk selalu mengingatkan kamu tentang hal-hal ini’; lebih baik, seperti dalam
Revised Version, ‘karena itu aku akan siap’.).
Catatan:
ada beda manuscript-manuscript, yang menyebabkan terjemahan yang berbeda.
Pulpit
Commentary: “‘Though
ye know them, and be established in the present truth;’ better, as in the
Revised Version, ‘and are established in the truth which is with you.’” (= ‘Sekalipun engkau mengetahui hal-hal itu,
dan didirikan dalam kebenaran saat ini’; lebih baik, seperti dalam Revised
Version, ‘dan didirikan dalam kebenaran yang ada bersamamu’.).
2)
Nisbet mengatakan bahwa sebagai argumentasi ke 6, Petrus menerapkan
ajarannya kepada dirinya sendiri sebagai seorang pelayan Tuhan. Karena bahaya
dari pengabaian, dan berkat dari ketaatan, terhadap ay 5-7 itu, maka ia
sendiri sangat rajin untuk mengingatkan mereka tentang hal itu.
Matthew
Henry: “If
ministers be negligent in their work, it can hardly be expected that the people
will be diligent in theirs; therefore Peter will not be negligent (that is, at
no time or place, in no part of his work, to no part of his charge), but will be
exemplarily and universally diligent, and that in the work of a remembrancer.
This is the office of the best ministers, even the apostles themselves; they are
the Lord’s remembrancers (Isa 72:6)” [= Jika
pendeta-pendeta lalai dalam pekerjaan mereka, hampir tidak bisa diharapkan bahwa
umatnya akan rajin dalam pekerjaan mereka; karena itu Petrus tidak akan lalai
(yaitu, tidak pada saat atau tempat manapun, tidak dalam bagian manapun dalam
pekerjaannya, tidak pada bagian manapun dari perintahNya), tetapi akan rajin
sebagai teladan dan secara universal (?), dan itu dalam pekerjaan sebagai
seorang pengingat. Ini merupakan tugas dari pendeta-pendeta yang terbaik, bahkan
rasul-rasul sendiri; mereka adalah pengingat-pengingat Tuhan (Yes 72:6)].
Catatan:
Yes 72:6 pasti salah, seharusnya Yes 62:6 - “Di atas
tembok-tembokmu, hai Yerusalem, telah Kutempatkan pengintai-pengintai. Sepanjang
hari dan sepanjang malam, mereka tidak akan pernah berdiam diri. Hai kamu
yang harus mengingatkan TUHAN kepada Sion, janganlah kamu tinggal tenang”.
Barnes’
Notes (tentang ay 13): “It
was of importance for Peter, as it is for ministers of the gospel now, to bring
known truths to remembrance. Men are liable to forget them, and they do not
exert the influence over them which they ought. It is the office of the ministry
not only to impart to a people truths which they did not know before, but a
large part of their work is to bring to recollection well-known truths, and to
seek that they may exert a proper influence on the life. Amidst the cares, the
business, the amusements, and the temptations of the world, even true Christians
are prone to forget them; and the ministers of the gospel render them an
essential service, even if they should do nothing more than remind them of
truths which are well understood, and which they have known before. A pastor, in
order to be useful, need not always aim at originality, or deem it necessary
always to present truths which have never been heard of before. He
renders an essential service to mankind who ‘reminds’ them of what they know
but are prone to forget, and who endeavors to impress plain and familiar truths
on the heart and conscience, for these truths are most important for man”
(= Adalah penting bagi Petrus, sama seperti bagi
pendeta-pendeta / pelayan-pelayan dari injil sekarang, untuk mengingatkan
kebenaran yang sudah diketahui. Manusia condong untuk melupakannya, dan
tidak menggunakan pengaruh dari kebenaran itu atas mereka seperti seharusnya.
Merupakan tugas dari pelayanan bukan hanya untuk memberikan kepada suatu umat
kebenaran-kebenaran yang belum mereka ketahui sebelumnya,
tetapi suatu bagian besar dari pekerjaan mereka adalah mengingatkan kembali
kebenaran-kebenaran yang telah diketahui dengan baik,
dan mengusahakan supaya mereka bisa menggunakan suatu pengaruh yang benar pada
kehidupan. Di tengah-tengah perhatian / kesusahan, kesibukan, hiburan, dan
godaan / pencobaan dari dunia, bahkan orang-orang Kristen yang sejati condong
untuk melupakan kebenaran-kebenaran itu; dan pendeta-pendeta /
pelayan-pelayan dari injil memberikan kepada mereka pelayanan yang sangat perlu,
bahkan jika mereka tidak melakukan lebih dari mengingatkan mereka tentang
kebenaran-kebenaran yang telah mereka mengerti dengan baik, dan yang telah
mereka ketahui sebelumnya. Seorang pendeta, untuk bisa berguna, tidak perlu
selalu mengarah pada keorisinilan, atau menganggap perlu untuk selalu
menyampaikan kebenaran-kebenaran yang tidak pernah didengar sebelumnya. Ia
memberikan suatu pelayanan yang sangat perlu kepada umat manusia, kalau ia
‘mengingatkan’ mereka tentang apa yang mereka ketahui tetapi yang condong
mereka lupakan, dan kalau ia berusaha mencamkan kebenaran-kebenaran yang jelas /
sederhana dan sudah lazim / dikenal pada hati dan hati nurani, karena
kebenaran-kebenaran ini adalah yang paling penting untuk manusia).
Bdk.
Ro 15:14-15 - “(14) Saudara-saudaraku, aku sendiri memang yakin tentang
kamu, bahwa kamu juga telah penuh dengan kebaikan dan dengan segala
pengetahuan dan sanggup untuk saling menasihati. (15) Namun, karena kasih
karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadaku, aku di sana sini dengan agak
berani telah menulis kepadamu untuk mengingatkan kamu, ... ”.
Ay 13: “Aku
menganggap sebagai kewajibanku untuk tetap mengingatkan kamu akan semuanya itu
selama aku belum menanggalkan kemah tubuhku ini”.
1)
Tubuh disebut sebagai kemah.
Kitab
Suci Indonesia: ‘kemah tubuhku’.
KJV:
‘this tabernacle’ (= kemah ini).
RSV:
‘this body’ (= tubuh ini).
NIV:
‘the tent of this body’ (= kemah dari tubuh ini).
NASB:
‘this earthly dwelling’ (= tempat tinggal duniawi).
Adam
Clarke: “‘As
long as I am in this tabernacle.’ By tabernacle we are to understand his body;
and hence, several of the versions have soomati,
‘body,’ instead skeenoomati,
‘tabernacle.’” (= ‘selama
aku ada dalam kemah ini’. Dengan ‘kemah’ kita harus mengertinya sebagai
tubuhnya; dan karena itu, beberapa versi mempunyai SOOMATI, ‘tubuh’, dan
bukannya SKEENOOMATI, ‘kemah’).
a)
Karena kata ‘kemah’ digunakan sebagai suatu kiasan untuk ‘tubuh’
maka kata-kata ‘kemah dibongkar’ diartikan sebagai ‘mati’.
Bdk.
Yes 38:10-12 - “(10) Aku ini berkata: Dalam pertengahan umurku aku harus
pergi, ke pintu gerbang dunia orang mati aku dipanggil untuk selebihnya dari
hidupku. (11) Aku berkata: aku tidak akan melihat TUHAN lagi di negeri
orang-orang yang hidup; aku tidak akan melihat seorangpun lagi di antara
penduduk dunia. (13) Pondok kediamanku dibongkar dan dibuka seperti kemah
gembala; seperti tukang tenun menggulung tenunannya aku mengakhiri hidupku;
TUHAN memutus nyawaku dari benang hidup. Dari siang sampai malam Engkau
membiarkan aku begitu saja”.
Bdk.
2Kor 5:1 - “Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di
bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga
bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan
manusia”.
2Pet
1:14 - “Sebab aku tahu, bahwa aku akan segera menanggalkan kemah tubuhku
ini, sebagaimana yang telah diberitahukan kepadaku oleh Yesus Kristus, Tuhan
kita”.
b)
Kata ‘kemah’ digunakan sebagai kiasan untuk ‘tubuh’ untuk
menunjukkan kesementaraan hidup kita ini. Dan ini dikontraskan dengan kehidupan
yang akan datang, yang kekal.
Pulpit
Commentary: “The
natural body is but a tabernacle for the soul, a tent to dwell in during our
earthly pilgrimage, not a permanent habitation. The word reminds us of 2 Cor
5:1-4, where St. Paul uses the same metaphor” (= Tubuh
alamiah hanyalah suatu kemah untuk jiwa, suatu kemah untuk tinggal di dalamnya selama
ziarah kita di bumi ini, bukan suatu tempat tinggal permanen. Kata-kata ini
mengingatkan kita tentang 2Kor 5:1-4, dimana Paulus menggunakan kiasan yang sama).
Barnes’
Notes: “The
body is called a tabernacle, or tent, as that in which the soul resides for a
little time” (= Tubuh disebut suatu kemah,
sebagai sesuatu dalam mana jiwa bertempat tinggal untuk suatu waktu yang
pendek).
Calvin:
“there is to be understood an implied contrast
between a fading tabernacle and a perpetual habitation, which Paul explains in 2
Corinthians 5:1” (= di sana harus
dimengerti suatu kontras yang implicit antara suatu kemah yang memudar /
menghilang dan suatu tempat tinggal kekal, yang dijelaskan oleh Paulus dalam
2Kor 5:1).
Bdk.
2Kor 5:1-4,8 - “(1) Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman
kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di
sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang
kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia. (2) Selama kita di dalam
kemah ini, kita mengeluh, karena kita rindu mengenakan tempat kediaman
sorgawi di atas tempat kediaman kita yang sekarang ini, (3) sebab dengan
demikian kita berpakaian dan tidak kedapatan telanjang. (4) Sebab selama
masih diam di dalam kemah ini, kita mengeluh oleh beratnya tekanan, karena
kita mau mengenakan pakaian yang baru itu tanpa menanggalkan yang lama, supaya
yang fana itu ditelan oleh hidup. ... (8) tetapi hati kami tabah, dan terlebih
suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan”.
Penerapan:
mengingat kesementaraan hidup ini, merupakan sesuatu yang sangat penting bagi
kita untuk hidup sedemikian rupa sehingga lebih menekankan kehidupan yang akan
datang! Dan itu harus dilakukan dengan menekankan hal-hal yang bersifat rohani
lebih dari pada hal-hal yang bersifat jasmani. Pikirkan: dalam hal mana saudara
lebih rajin, cari firman atau cari uang?
2)
Nisbet mengatakan bahwa argumentasi ke 7 ditunjukkan oleh Petrus dari
fakta bahwa selama ia hidup ia akan terus menggerakkan mereka untuk mentaati ay
5-7 itu. Apapun yang seseorang lakukan selama hidupnya seharusnya merupakan
sesuatu yang memang penting baginya.
3)
‘Aku menganggap sebagai kewajibanku untuk tetap mengingatkan kamu
akan semuanya itu’.
Ini
menunjukkan pentingnya bagi seorang pelayan firman untuk membuat jemaat selalu
ingat akan Firman Tuhan.
Dalam
KJV ada kata-kata ‘to stir you up’ (= mengaduk
kamu). The Bible Exposition Commentary mengatakan bahwa kata-kata ‘to
stir you up’ ini berarti ‘membangunkan’, dan kata yang sama digunakan
untuk menggambarkan badai di danau Galilea.
Yoh
6:18 - “sedang laut bergelora karena angin kencang”.
Jadi,
apa yang Petrus lakukan adalah mengaduk pikiran mereka untuk mengingatkan mereka
akan Firman Tuhan.
4)
Alkitab: Firman Tuhan yang tertulis.
The
Bible
Exposition Commentary: New Testament: “Peter
knew that he was going to die, so he wanted to leave behind something that would
never die - the written Word of God. His two epistles became a part of the
inspired Scriptures, and they have been ministering to the saints for centuries.
Men die, but the Word of God lives on! ... If there were no dependable written
revelation, we would have to depend on word-of-mouth tradition. If you have ever
played the party game ‘Gossip,’ you know how a simple sentence can be
radically changed when passed from one person to another! We do not depend on
the traditions of dead men; we depend on the truth of the living Word. Men die,
but the Word lives forever. If we did not have a
dependable written revelation, the church would be at the mercy of men’s
memories. People who pride themselves on having good memories should sit on the
witness stand in a courtroom! It is amazing that three perfectly honest
witnesses can, with good conscience, give three different accounts of an
automobile accident! Our memories are defective and selective. We usually
remember what we want to remember, and often we distort even that. Fortunately,
we can depend on the written Word of God. ‘It is written’ and it stands
written forever. We can be saved through this living Word (1 Peter 1:23-25),
nurtured by it (1 Peter 2:2), and guided and protected as we trust and obey” [= Petrus
tahu bahwa ia akan mati, dan karena itu ia ingin meninggalkan sesuatu yang tidak
akan pernah mati - Firman Allah yang tertulis. Kedua suratnya menjadi suatu
bagian dari Kitab Suci yang diilhamkan, dan mereka telah melayani orang-orang
kudus selama berabad-abad. Manusia mati, tetapi Firman Allah hidup terus! ...
Jika tidak ada wahyu tertulis yang dapat dipercayai / diandalkan, kita akan
harus bersandar pada tradisi dari mulut ke mulut. Jika kamu pernah memainkan
permainan pesta yang disebut ‘gosip’, kamu tahu bagaimana suatu kalimat yang
sederhana bisa berubah secara radikal pada waktu disampaikan dari satu orang ke
orang lain! Kita tidak tergantung pada tradisi-tradisi dari orang-orang mati;
kita bersandar pada kebenaran dari Firman yang hidup. Manusia mati, tetapi
Firman hidup selama-lamanya. Jika kita tidak mempunyai wahyu tertulis yang bisa
dipercayai / diandalkan, gereja akan tergantung pada belas kasihan dari
ingatan-ingatan manusia. Orang-orang yang membanggakan diri mereka karena
mempunyai ingatan yang baik harus duduk di tempat saksi dalam ruangan
pengadilan! Adalah mengherankan bahwa tiga saksi yang betul-betul jujur bisa,
dengan hati nurani yang baik, memberikan tiga cerita / laporan yang berbeda
tentang suatu kecelakaan mobil. Ingatan kita cacat dan bersifat memilih. Kita
biasanya ingat apa yang ingin kita ingat, dan sering kita bahkan menyimpang
dalam hal itu. Untungnya, kita bisa bersandar / mempercayai Firman Allah yang
tertulis. ‘Itu / ada tertulis’ dan itu tetap tertulis selama-lamanya. Kita
bisa diselamatkan melalui Firman yang hidup ini (1Petrus 1:23-25), dipelihara /
diberi makan olehnya (1Pet 2:2), dan dibimbing dan dilindungi pada waktu kita
percaya dan taat].
Catatan:
bandingkan Al-Quran dan Alkitab dalam hal ini. Al-Quran, dalam kepercayaan Islam
sendiri, biarpun sekarang tertulis, tetapi dulunya hanya diingat.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali