Pemahaman
Alkitab
(Jl. Dinoyo
19b, lantai 3)
Jumat, tanggal
8 Januari 2010, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331 /
6050-1331)
2Pet 1:1-2 - “(1) Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus,
kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena
keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. (2) Kasih karunia dan
damai sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus,
Tuhan kita”.
3)
“oleh
karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus”.
a)
Kata ‘keadilan’ seharusnya adalah ‘righteousness’
(= kebenaran).
Calvin: “He adds, ‘through the righteousness of
God,’ in order that they might know
that they did not obtain faith through their own efforts or strength, but
through God’s favor alone. For these things stand opposed the one to the
other, the righteousness of God (in the sense in which it is taken here) and the
merit of man. For the efficient cause of faith is called God’s righteousness
for this reason, because no one is capable of conferring it on himself. So the
righteousness that is to be understood, is not that which remains in God, but
that which he imparts to men, as in Romans 3:22” [= Ia menambahkan, ‘melalui kebenaran
Allah’, supaya mereka bisa tahu bahwa mereka tidak mendapatkan iman melalui
usaha atau kekuatan mereka sendiri, tetapi melalui kebaikan Allah saja. Karena
hal-hal ini saling bertentangan satu sama lain, kebenaran Allah (dalam arti yang
diambil di sini) dan jasa manusia. Karena penyebab yang efisien dari iman
disebut kebenaran Allah untuk alasan ini, karena tak seorangpun mampu untuk
memberikan iman kepada dirinya sendiri. Jadi, kebenaran yang harus dimengerti
bukan sebagai apa yang ada dalam diri Allah tetapi apa yang Ia berikan kepada
manusia, seperti dalam Ro 3:22].
Ro 3:22
- “yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang
yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan”.
Bdk.
Ro 9:30-10:3 - “(9:30) Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan?
Ini: bahwa bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah beroleh
kebenaran, yaitu kebenaran karena iman. (9:31) Tetapi: bahwa Israel,
sungguhpun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai
kepada hukum itu. (9:32) Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena
iman, tetapi karena perbuatan. Mereka tersandung pada batu sandungan, (9:33)
seperti ada tertulis: ‘Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu
sentuhan dan sebuah batu sandungan, dan siapa yang percaya kepadaNya, tidak akan
dipermalukan.’ (10:1) Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan
ialah, supaya mereka diselamatkan. (10:2) Sebab aku dapat memberi kesaksian
tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa
pengertian yang benar. (10:3) Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran
Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka
sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah”.
b)
Anak kalimat ini merupakan bukti keilahian Kristus.
1.
Anak kalimat ini bisa dibaca dengan 2 cara, yaitu:
a.
“oleh karena keadilan (Allah)
dan (Juruselamat kita, Yesus Kristus)”.
Kalau
dibaca seperti ini, maka anak kalimat ini membicarakan 2 pribadi, yaitu
‘Allah’, dan ‘Juruselamat kita, Yesus Kristus’, dan dengan demikian
tidak menunjukkan keilahian Yesus.
b.
“oleh karena keadilan (Allah
dan Juruselamat kita), Yesus Kristus”.
Kalau
dibaca seperti ini, maka anak kalimat ini membicarakan hanya 1 pribadi, yaitu
‘Yesus Kristus’, yang disebut sebagai ‘Allah dan Juruselamat kita’.
Dengan demikian maka anak kalimat ini menunjukkan keilahian Yesus.
2.
Terjemahan-terjemahan dari Kitab Suci bahasa Inggris.
KJV:
‘through the righteousness of God and our Saviour Jesus Christ’ (=
melalui kebenaran Allah dan Juruselamat kita Yesus Kristus).
Terjemahan
KJV ini menunjuk kepada dua pribadi. Karena itu jangan heran kalau nanti di
bawah, kita melihat adanya penafsir-penafsir yang menentang terjemahan dari KJV.
Tetapi pada waktu terjemahan KJV ini diterjemahkan ke bahasa Indonesia, hal itu
tidak terlihat.
Sekarang
bandingkan dengan Kitab Suci bahasa Inggris yang lain.
RSV:
‘in the righteousness of our God and Savior Jesus Christ’ (= dalam
kebenaran Allah dan Juruselamat kita Yesus Kristus).
NIV:
‘through
the righteousness of our God and Savior Jesus Christ’
(= melalui kebenaran dari Allah dan Juruselamat kita Yesus Kristus).
NASB:
‘by
the righteousness of our God and Savior, Jesus Christ:’
(= oleh kebenaran dari Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus).
Jelas
terlihat bahwa terjemahan RSV, NIV, NASB menunjuk kepada satu pribadi.
Sekarang
mari kita melihat terjemahan dari New World Translation (NWT) - Kitab Suci dari
Saksi-Saksi Yehuwa.
NWT:
‘by the righteousness of our God and (the) Savior Jesus Christ’
[= oleh kebenaran dari Allah kita dan (sang) Juruselamat Yesus Kristus].
Terjemahan
ini salah / sengaja disalahkan karena menambahkan kata ‘the’
sebelum kata ‘Savior’ (biarpun
dalam tanda kurung). Padahal dalam bahasa Yunani kata ‘Savior’
itu tidak mempunyai kata sandang tertentu. Dengan terjemahan seperti ini mereka
mau memastikan bahwa yang ditunjuk oleh potongan kalimat ini adalah dua pribadi,
yaitu ‘Allah kita’ dan ‘sang Juruselamat Yesus Kristus’.
3.
Komentar dari beberapa penafsir.
Barclay:
“The Authorized Version translates, ‘the
righteousness of God and our Saviour Jesus Christ,’ as if this referred to two
persons, God and Jesus; but, as Moffat and the Revised Standard Version both
show, in the Greek there is only one person involved and the phrase is correctly
rendered ‘our God and Saviour Jesus Christ.’ ... It calls Jesus God”
[= Authorized Version (KJV)
menterjemahkan ‘kebenaran Allah dan Juruselamat kita Yesus Kristus’
seakan-akan ini menunjuk kepada dua pribadi, Allah dan Yesus; tetapi, seperti
ditunjukkan oleh Moffat dan Revised Standard Version (RSV), dalam bahasa
Yunani hanya ada satu pribadi yang terlibat dan ungkapan ini secara benar
diterjemahkan ‘Allah dan Juruselamat kita Yesus Kristus’. ... Ini menyebut
Yesus Allah] - hal 294.
Adam
Clarke: “‘Of
God and our Saviour Jesus Christ.’ This is not a proper translation of the
original tou Theou heemoon kai Sooteeros
Ieesou Christou, which is literally, ‘Of our God and Saviour Jesus
Christ;’ and this reading, which is indicated in the margin, should have been
received into the text; and it is an absolute proof that Peter calls Jesus
Christ God, even in the properest sense of the word, with the article
prefixed” (= ‘Dari Allah dan Juruselamat kita Yesus Kristus’.
Ini bukan terjemahan yang tepat dari kata-kata orisinilnya tou
Theou heemoon kai Sooteeros Ieesou Christou,
yang secara hurufiah adalah, ‘dari Allah dan Juruselamat kita Yesus
Kristus’; dan pembacaan ini, yang ditunjukkan dalam catatan tepi, seharusnya
telah diterima ke dalam text; dan itu adalah bukti yang mutlak bahwa Petrus
menyebut Yesus Allah, bahkan dalam arti yang paling benar dari kata itu, dengan
tambahan kata sandang tertentu di depannya).
Bible
Knowledge Commentary: “The
grammar here clearly indicates that ‘God and Savior’ are one Person, not two
(i.e., there is one Gr. article with two substantives). This passage ranks with
the great Christological passages of the New Testament which plainly teach that
Jesus Christ is coequal in nature with God the Father (cf. Matt 16:16;
John 1:1; 20:28; Titus 2:13).’” [= Tata bahasa / gramatika di sini
dengan jelas menunjukkan bahwa ‘Allah dan Juruselamat’ adalah satu Pribadi,
bukan dua (yaitu, hanya ada satu kata sandang tertentu dalam bahasa Yunani
dengan dua kata benda). Text ini digolongkan dalam text-text kristologi yang
agung dari Perjanjian Baru yang dengan jelas mengajar bahwa Yesus Kristus setara
dalam hakekat dengan Allah Bapa (bdk. Mat 16:16; Yoh 1:1; 20:28; Titus 2:13)].
IVP
Bible Background Commentary: New Testament:
“applying
the title ‘God and Savior’ (the most natural translation) to Jesus was a
clear statement of his divinity and would have offended most Jewish readers who
were not Christians” [= menerapkan gelar ‘Allah dan
Juruselamat’ (penterjemahan yang paling alamiah) kepada Yesus merupakan suatu
pernyataan yang jelas tentang keilahianNya dan membuat marah pembaca-pembaca
Yahudi yang bukan orang-orang Kristen].
A.
T. Robertson:
“‘Of
our God and Saviour Jesus Christ.’ (tou Theou heemoon kai sooteeros Ieesou
Christou). So the one article (tou)
with Theou and sooteeros requires precisely as with tou kuriou heemoon kai sooteeros Ieesou Christou (of our Lord
and Saviour Jesus Christ), one person, not two, in 2 Pet. 1:11 as in 2 Pet.
2:20; 3:2,18. So in 1 Pet. 1:3 we have ho
Theos kai pateer (the God and Father), one person, not two. The grammar
is uniform and inevitable (Robertson, Grammar, p. 786), as even Schmiedel
(Winer-Schmiedel, Grammatik, p. 158) admits: ‘Grammar demands that one person
be meant.’”
[= ‘Dari Allah dan Juruselamat kita Yesus Kristus’. (tou
Theou heemoon kai sooteeros Ieesou Christou). Jadi, satu kata sandang
tertentu (TOU) dengan THEOU dan SOOTEEROS menuntut secara persis seperti dengan tou
kuriou heemoon kai sooteeros Ieesou Christou (dari Tuhan dan Juruselamat
kita Yesus Kristus), satu pribadi, bukan dua pribadi, dalam 2Pet 1:11 seperti
dalam 2Pet 2:20; 3:2,18. Demikian juga dalam 1Pet 1:3 kita mempunyai ho
Theos kai pateer (Allah dan Bapa), satu pribadi, bukan dua pribadi.
Gramatika / tata bahasanya seragam dan tidak terhindarkan (Robertson, Grammar,
hal 786), sehingga bahkan Schmiedel (Winer-Schmiedel, Grammatik, hal 158)
mengakui: ‘Gramatika / tata bahasa menuntut bahwa satu pribadi yang
dimaksudkan’.].
Catatan:
mungkin kata-kata A. T. Robertson ini membingungkan bagi orang yang sama sekali
tidak mengerti bahasa Yunani, dan belum mengetahui tentang hukum bahasa Yunani
yang akan saya jelaskan di bawah (point 4.). Tetapi penekanan saya adalah: A. T.
Robertson yang merupakan salah satu ahli bahasa Yunani yang terbaik, menganggap
bahwa secara gramatika, anak kalimat dalam 2Pet 1:1 ini secara pasti menunjuk
kepada satu pribadi, bukan dua pribadi.
Pulpit
Commentary: “‘God’ and ‘Saviour’ are both
predicates of ‘Jesus Christ,’ as in Titus 2:13” (= ‘Allah’
dan ‘Juruselamat’ keduanya merupakan sebutan-sebutan dari ‘Yesus
Kristus’, seperti dalam Titus 2:13).
4. Hukum bahasa Yunani
berkenaan dengan struktur anak kalimat ini.
Seorang
bernama Granville Sharp (1735-1813) mengeluarkan suatu hukum bahasa Yunani
berkenaan dengan struktur seperti ini, dan hukum bahasa Yunani itu lalu dikenal
dengan nama Granville Sharp’s rule.
Catatan:
mengingat saat dimana Granville Sharp hidup, maka tidak aneh bahwa
penafsir-penafsir kuno yang hidup sebelum jamannya, misalnya Calvin (1509-1564),
tidak tahu akan hukum bahasa Yunani ini, karena memang hukumnya belum
diciptakan. Karena itu para penafsir kuno banyak yang tidak bisa memastikan
bagaimana menafsirkan potongan kalimat ini, dan juga ayat-ayat lain yang
penafsirannya membutuhkan hukum ini, seperti Tit 2:13 dan sebagainya. Bahkan
penafsir-penafsir yang hidup sejaman dengan Granville atau setelah jaman
Granville, seperti misalnya Albert Barnes (1797-1870), tetap banyak yang tidak
bisa memastikan penafsiran tentang potongan ayat ini. Rupanya hukum bahasa
Yunani ini biarpun sudah diciptakan, tetapi belum populer pada jaman mereka,
sehingga penafsir-penafsir itu tidak tahu adanya hukum tersebut.
Dalam
buku-buku mereka, Dana & Mantey, dan juga ahli-ahli bahasa Yunani yang lain,
memberikan Granville Sharp’s rule ini.
Dana
& Mantey mengatakan bahwa bila kata Yunani KAI (= dan) menghubungkan 2 kata
benda dengan case / kasus yang sama, dan jika ada kata sandang tertentu
yang mendahului kata benda yang pertama, dan kata sandang tertentu itu tidak
diulangi sebelum kata benda yang kedua, maka kata benda yang terakhir selalu
berhubungan dengan pribadi / orang yang dinyatakan / digambarkan oleh kata benda
yang pertama. Dengan kata lain, kata benda yang kedua merupakan pengambaran
lebih jauh tentang pribadi / orang itu (‘A Manual Grammar of the Greek New
Testament’, hal 147).
Juga
Curtis Vaughan dan Virtus E. Gideon dalam buku mereka yang berjudul ‘A
Greek Grammar of the New Testament’, berkata sebagai berikut: “If
two nouns of the same case are connected by kai
and the article is used with both nouns, they refer to different persons
or things. If only the first noun has the article, the second noun refer to the same person or thing referred to in the
first” [= Jika dua kata benda dari case / kasus yang sama dihubungkan
oleh kai / KAI (= dan) dan kata sandang
digunakan dengan kedua kata benda itu, maka kedua kata benda itu menunjuk kepada
pribadi-pribadi atau hal-hal yang berbeda. Jika hanya kata benda pertama
yang mempunyai kata sandang, maka kata benda yang kedua menunjuk kepada pribadi
atau hal yang sama dengan yang ditunjuk oleh kata benda pertama] -
hal 83.
William
Hendriksen:
“the
rule holds that when the first of two nouns of the same case and connected by
the conjunction ‘and’ is preceded by the article, which is not repeated
before the second noun, these two nouns refer to the same person. When the
article is repeated before the second noun, two persons are indicated”
(= peraturan ini menganggap bahwa pada waktu kata benda yang pertama dari kedua
kata benda dari case / kasus yang sama, dan dihubungkan dengan kata
penghubung ‘dan’, didahului oleh kata sandang, yang tidak diulangi sebelum
kata benda yang kedua, maka kedua kata benda itu menunjuk kepada pribadi yang
sama. Pada waktu kata sandang itu diulangi sebelum kata benda yang kedua, dua
pribadi ditunjukkan / dinyatakan) - hal 374.
Catatan:
·
tentang hal yang pertama (hanya kata benda pertama menggunakan kata
sandang tertentu), maka tidak ada perkecualian dalam seluruh Alkitab.
Kedua kata benda selalu menunjuk
kepada satu pribadi.
·
tentang hal yang kedua (kedua kata benda didahului oleh kata sandang
tertentu), maka pada umumnya ini menunjuk pada dua pribadi (ada
perkecualiannya).
Istilah
‘case’ / ‘kasus’ merupakan
suatu istilah dalam gramatika bahasa Yunani. Untuk mengerti sedikit tentang hal
ini, perhatikan kutipan yang saya berikan dari Gresham Machen di bawah ini.
Gresham
Machen: “The
noun in Greek has gender, number, and case. ... There are five cases;
nominative, genitive, dative, accusative, and vocative. ... The subject of a
sentence is put in the nominative case. ... The object of a transitive verb is
placed in the accusative case. ... The genitive case expresses possession. ...
The dative case is the case of the indirect object. ... The vocative case is the
case of direct address” [= Kata benda dalam bahasa Yunani mempunyai
jenis kelamin (laki-laki, perempuan dan netral), bilangan / jumlah (tunggal
dan jamak), dan case / kasus. ... Ada lima cases / kasus;
nominatif, genitif, datif, akusatif, dan vokatif. ... Subyek dari suatu kalimat
diletakkan dalam kasus nominatif. ... Obyek dari suatu kata kerja transitif
ditempatkan dalam kasus akusatif. ... Kasus genitif menyatakan kepemilikan. ...
Kasus datif adalah kasus dari obyek tidak langsung. ... Kasus vokatif adalah
kasus dari sapaan langsung] - ‘New Testament Greek For Beginners’,
hal 23,24,25.
Penerapan
dari hukum bahasa Yunani ini mensyaratkan case / kasus yang sama dari
kedua kata benda tersebut. Case
/ kasusnya sama atau tidak, bisa terlihat dari bentuk kata itu dalam bahasa
Yunaninya.
Untuk
penerapan dari hukum bahasa Yunani ini, ada beberapa contoh yang diberikan oleh
Dana & Mantey:
a.
2Pet 2:20a - “Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus
Kristus”.
k.b.
1 k.b. 2
pribadi yg digbrkan
kata penghubung KAI
Di
sini ada dua kata benda dengan case yang sama (Genitive Case),
yaitu ‘Tuhan’ dan ‘Juruselamat’, yang dihubungkan oleh
kata penghubung KAI (= dan). Kata benda yang pertama, yaitu ‘Tuhan’
mempunyai kata sandang tertentu (TOU KURIOU / the Lord)
tetapi kata benda yang kedua, yaitu ‘Juruselamat’ tidak mempunyainya
(SOTEROS). Kata benda pertama, yaitu ‘Tuhan’, merupakan penggambaran
dari kata ‘Yesus Kristus’. Maka kata benda kedua, yaitu ‘Juruselamat’,
merupakan penggambaran lanjutan terhadap pribadi yang sama, yaitu ‘Yesus
Kristus’. Jadi, 2Pet 2:20 ini menggambarkan Yesus Kristus dengan
istilah ‘Tuhan’ maupun ‘Juruselamat’.
b.
Tit 2:13 - “Allah yang Mahabesar dan Juruselamat
kita Yesus Kristus”.
k.b. 1
k.b. 2
pribadi
yg digbrkan
kata penghubung KAI
Di
sini ada dua kata benda dengan case yang sama (Genitive Case),
yaitu ‘Allah yang Mahabesar’ dan ‘Juruselamat’. Kedua kata
benda itu dihubungkan oleh kata penghubung KAI (= dan). Kata benda yang pertama,
yaitu ‘Allah yang Mahabesar’ mempunyai definite article / kata
sandang tertentu (TOU MEGALOU THEOU / the great God),
tetapi kata benda yang kedua, yaitu ‘Juruselamat’ tidak mempunyainya
(SOTEROS). Kata benda pertama, yaitu ‘Allah yang Mahabesar’ merupakan
penggambaran dari kata ‘Yesus Kristus’. Maka kata benda kedua, yaitu ‘Juruselamat’
merupakan penggambaran lanjutan terhadap pribadi yang sama, yaitu ‘Yesus
Kristus’. Jadi, Tit 2:13 ini menggambarkan Yesus Kristus dengan
istilah ‘Allah yang Mahabesar’ maupun ‘Juruselamat’.
c.
2Pet 1:11 - “Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus
Kristus”.
k.b. 1
k.b. 2
pribadi yg digbrkan
kata
penghubung KAI
Kata
‘Tuhan’ dan ‘Juruselamat’ ada dalam case yang sama
(Genitive Case). Kedua kata benda itu dihubungkan oleh kata penghubung
KAI (= dan). Kata benda pertama, yaitu ‘Tuhan’ didahului oleh kata
sandang tertentu (TOU KURIOU / the Lord), tetapi kata sandang tertentu itu tidak diulangi di
depan kata benda yang kedua, yaitu ‘Juruselamat’ (SOTEROS). Jadi,
bagian ini menggambarkan satu pribadi, yaitu Yesus Kristus, yang digambarkan
sebagai ‘Tuhan’ dan ‘Juruselamat’.
d.
2Pet 1:1 - “Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus,
kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena
keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus”.
2Pet 1:1b
- “Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus”.
k.b.1 k.b.2
pribadi
yg digbrkan
kata penghubung KAI
Di
sini ada dua kata benda dengan case yang sama (Genitive Case),
yaitu ‘Allah’ dan ‘Juruselamat’. Kedua kata benda itu
dihubungkan oleh kata penghubung KAI (= dan). Kata benda yang pertama (k.b.1),
yaitu ‘Allah’ mempunyai kata sandang tertentu (TOU THEOU / the
God), tetapi kata benda yang kedua (k.b.2), yaitu ‘Juruselamat’,
tidak mempunyainya (SOTEROS). Kata benda
pertama, yaitu ‘Allah’ merupakan penggambaran dari kata ‘Yesus
Kristus’. Maka kata benda kedua, yaitu ‘Juruselamat’ merupakan
penggambaran lanjutan terhadap pribadi yang sama, yaitu ‘Yesus
Kristus’. Jadi, 2Pet 1:1b ini menggambarkan Yesus Kristus dengan
istilah ‘Allah’ maupun ‘Juruselamat’.
Ay 2:
“Kasih karunia dan damai sejahtera
melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita”.
1)
Kata ‘pengenalan’.
Dalam
bahasa Yunani digunakan kata Yunani EPIGNOSIS. Ini berbeda dengan kata Yunani
yang pada umumnya digunakan untuk menunjuk pada ‘pengetahuan / pengenalan’,
yaitu GNOSIS. Apa bedanya?
a)
Ada yang menafsirkan bahwa GNOSIS adalah pengetahuan / pengenalan yang
tidak sempurna, sedangkan EPIGNOSIS adalah pengetahuan / pengenalan yang
sempurna / lebih penuh.
Pulpit
Commentary: “Comp. 1 Cor 13, where, after saying in verse
8 that ‘knowledge (GNOSIS) shall be done away,’ St. Paul continues, in verse
12, ‘Now I know (GINOSKO) in part, but then I shall know (EPIGNOSOMAI) even as
also I am known (EPEGNOSTHEN).’ He contrasts our present imperfect knowledge
with the full knowledge which the blessed will have in heaven, and which God now
has of us, using the verb EPIGINOSKO of that fuller knowledge, as he had used
GNOSIS of the imperfect knowledge” [=
Bdk. 1Kor 13, dimana, setelah mengatakan dalam ay 8 bahwa ‘pengetahuan
(GNOSIS) akan lenyap’, Santo Paulus melanjutkan, dalam ay 12, ‘Sekarang aku
mengenal (GINOSKO) sebagian / dengan tidak sempurna, tetapi nanti / pada saat
itu aku akan mengenal (EPIGNOSOMAI) bahkan seperti aku dikenal (EPEGNOSTHEN)’.
Ia mengkontraskan pengenalan kita yang tidak sempurna sekarang ini dengan
pengenalan penuh yang akan didapat oleh orang-orang yang diberkati di surga, dan
yang sekarang dimiliki Allah tentang kita, menggunakan kata kerja EPIGINOSKO
tentang pengenalan yang lebih penuh itu, seperti ia telah menggunakan GNOSIS
untuk pengenalan yang tidak sempurna].
1Kor 13:8,12
- “(8) Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan
berhenti; pengetahuan akan lenyap. ... (12) Karena sekarang kita melihat
dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat
muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi
nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal”.
Saya
berpendapat bahwa penafsiran ini tak cocok, karena pengenalan yang sempurna yang
dibicarakan oleh 1Kor 13 itu terjadi di surga, sedangkan yang dibicarakan
oleh 2Pet 1:2 ini adalah pengenalan semasa kita hidup di dunia ini.
b)
Ada yang mengatakan bahwa GNOSIS adalah pengetahuan / pengenalan, tetapi
EPIGNOSIS adalah pengetahuan / pengenalan yang bertumbuh.
Pulpit
Commentary: “EPIGNOSIS is a stronger word than GNOSIS; it
means ‘knowledge’ directed towards an object, gradually approaching nearer
and nearer to it, concentrated upon it, fixed closely upon it. So it comes to
mean the knowledge, not merely of intellectual apprehension, but rather of deep
contemplation; the knowledge which implies love - for only love can concentrate
continually the powers of the soul in close meditation upon its object”
(= EPIGNOSIS merupakan suatu kata yang lebih kuat dari GNOSIS; itu berarti
‘pengetahuan / pengenalan’ yang diarahkan pada suatu obyek, secara
perlahan-lahan mendekatinya makin lama makin dekat, berkonsentrasi padanya,
dipancangkan secara rapat dengannya. Jadi, kata itu lalu berarti pengetahuan /
pengenalan, bukan semata-mata tentang pengertian intelektual, tetapi lebih pada
perenungan yang dalam; pengetahuan / pengenalan yang secara tak langsung
menunjuk pada kasih - karena hanya kasih bisa mengkonsentrasikan terus menerus
kekuatan dari jiwa dalam meditasi yang dekat pada obyeknya).
Barclay: “let us
look at the word which he uses for ‘knowledge’ (EPIGNOSIS). ... It can mean
‘increasing knowledge.’ GNOSIS, the normal Greek word for ‘knowledge,’
is here preceded by the preposition EPI which means ‘towards,’ ‘in the
direction of.’ EPIGNOSIS then could be interpreted as knowledge which is
always moving further in the direction of that which it seeks to know” [= marilah kita melihat pada kata yang ia
gunakan untuk ‘pengetahuan / pengenalan’ (EPIGNOSIS). ... Itu bisa berarti
‘pengetahuan / pengenalan yang bertumbuh’. GNOSIS, kata Yunani yang normal /
biasa untuk ‘pengetahuan / pengenalan’, di sini didahului oleh kata depan
EPI yang berarti ‘kepada’, ‘ke arah’. Jadi EPIGNOSIS bisa ditafsirkan
sebagai pengetahuan / pengenalan yang selalu bergerak lebih jauh ke arah dari
apa yang diusahakan untuk mengenalnya] - hal
294.
Barclay
menambahkan bahwa dalam Perjanjian Baru pengetahuan / pengenalan merupakan
pengetahuan / pengenalan yang bersifat pribadi. Dan karena itu ayat ini
menekankan keharusan adanya pengetahuan / pengenalan yang bersifat pribadi, dan
makin lama makin dalam, terhadap Yesus Kristus.
Barclay: “If this
knowledge of Jesus Christ does not come by philosophic speculation or by
mystical experience, what is it and how does it come? In the New Testament
knowledge is characteristically ‘personal knowledge.’ Paul does not say,
‘I know what I have believed’; he says, ‘I know whom I have
believed’ (2Timothy 1:12). Christian knowledge of Christ is personal
acquaintance with him; it is knowing him as a person and entering day by day
into a more intimate relationship with him. When Peter speaks of grace and peace
coming through the knowledge of God and of Jesus Christ, he is not
intelectualizing religion; he is saying that Christianity means an
ever-deepening personal relationship with Jesus Christ” [= Jika pengetahuan / pengenalan tentang Yesus Kristus tidak datang oleh
spekulasi yang bersifat filsafat atau oleh pengalaman mistik, apakah itu dan
bagaimana itu datang? Dalam Perjanjian Baru pengetahuan / pengenalan secara khas
merupakan ‘pengetahuan / pengenalan yang bersifat pribadi’. Paulus tidak
berkata, ‘Aku tahu apa yang aku percaya’; ia berkata, ‘Aku tahu siapa
yang aku percaya’ (2Timotius 1:12). Pengetahuan / pengenalan Kristen tentang
Kristus merupakan pengenalan pribadi dengan Dia; itu adalah mengenal Dia sebagai
pribadi dan memasuki hari demi hari ke dalam hubungan yang lebih intim dengan
Dia. Pada waktu Petrus berbicara tentang kasih karunia dan damai yang datang
melalui pengetahuan / pengenalan tentang Allah dan tentang Yesus Kristus, ia
bukannya menjadikan agama sesuatu yang bersifat intelektual; ia sedang berkata
bahwa kekristenan berarti suatu hubungan pribadi yang makin lama makin dalam
dengan Yesus Kristus] - hal
296.
2)
Hasil / akibat dari pengetahuan / pengenalan yang makin dekat terhadap
Allah / Yesus Kristus itu adalah kasih karunia dan damai.
Ay
2:
“Kasih karunia dan damai sejahtera
melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita”.
KJV:
‘Grace and peace be multiplied unto you through the knowledge of God, and
of Jesus our Lord,’ (= Kasih karunia dan damai dilipat-gandakan kepadamu
melalui pengenalan akan Allah, dan akan Yesus Tuhan kita).
a)
Berbeda dengan dalam ay 1, maka dalam ay 2 ini, memang dibicarakan 2
pribadi, yaitu ‘Allah’ dan ‘Yesus, Tuhan kita’. Di sini baik kata
‘Allah’ maupun kata ‘Tuhan’ menggunakan definite
article (= kata sandang tertentu), dan lebih-lebih di sini kata ‘Yesus’
diletakkan sebelum kata ‘Tuhan’. Karena itu potongan ayat ini membicarakan
dua pribadi, bukan satu pribadi.
Ayat-ayat
seperti ini sering digunakan oleh kelompok Unitarian untuk menunjukkan bahwa
Allah beda dengan Yesus, dan karena itu Yesus bukanlah Allah. Ini salah, karena
kalau ditafsirkan seperti ini, maka kita mengabaikan banyak ayat yang secara
jelas menunjukkan Yesus sebagai Allah. Jadi, kalau bertemu dengan ayat yang
membedakan Yesus dengan Bapa / Allah, kita harus menyadari bahwa ini menekankan
pribadi-pribadi dari Yesus dan Bapa / Allah. Yesus dan Bapa memang adalah dua
pribadi, bukan satu pribadi seperti yang diajarkan oleh ajaran sesat
Sabelianisme.
Sebaliknya,
kalau kita bertemu dengan ayat-ayat yang kelihatannya mengidentikkan Yesus
dengan Bapa (seperti Yoh 10:30 Yoh 14:7-10),
maka kita perlu menyadari bahwa yang dimaksudkan bukan pribadi, tetapi hakekat!
b) Kasih karunia dan damai akan makin berlimpah bagi orang yang bertumbuh dalam pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita. Pengenalan akan Allah tak bisa dipisahkan dari pengenalan akan Yesus, Tuhan kita.
Calvin:
“the more any one advances in the knowledge of
God, every kind of blessing increases also equally with the sense of divine
love. Whosoever then aspires to the full fruition of the blessed life which is
mentioned by Peter, must remember to observe the right way. He connects together
at the same time the knowledge of God and of Christ; because God cannot be
rightly known except in Christ, according to that saying, ‘No one knoweth the
Father but the Son, and he to whom the Son will reveal him.’ (Matthew
11:27)” [= siapapun makin maju dalam
pengenalan terhadap Allah, setiap jenis berkat juga bertambah secara sama dengan
perasaan tentang kasih ilahi. Jadi, siapapun menginginkan hasil yang penuh dari
kehidupan yang diberkati yang disebutkan oleh Petrus, harus mengingat untuk
memperhatikan jalan / cara yang benar. Ia menghubungkan menjadi satu pada saat
yang sama pengenalan terhadap Allah dan terhadap Kristus; karena Allah tidak
bisa dikenal dengan benar kecuali dalam Kristus, menurut kata-kata itu, ‘Tidak
seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan
menyatakannya’. (Matius 11:27)].
Bdk. Yoh
14:7-10 - “(7) Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal
BapaKu. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.’ (8)
Kata Filipus kepadaNya: ‘Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah
cukup bagi kami.’ (9) Kata Yesus kepadanya: ‘Telah sekian lama Aku
bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa
telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata:
Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. (10) Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di
dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku
katakan dari diriKu sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang
melakukan pekerjaanNya”.
Jadi,
agama-agama lain atau sekte-sekte, yang tidak mempercayai Kristus dengan benar
(sesuai dengan Alkitab), tidak mungkin bisa mengenal Allah dengan benar.
Barclay: “Grace and
peace are multiplied to the Christian as he comes to know Jesus Christ better
and better” (= Kasih karunia dan damai
dilipat-gandakan bagi orang Kristen pada waktu ia datang mengenal Yesus Kristus
makin lama makin baik) - hal 294.
Barclay: “The other science may bring
new skill, new knowledge, new abilities, but the master-science, the knowledge
of Jesus Christ, alone brings the grace men need and the peace for which their
hearts crave” (= Ilmu pengetahuan yang lain bisa
membawa keahlian yang baru, pengetahuan yang baru, kemampuan yang baru, tetapi
ilmu pengetahuan kepala, pengetahuan / pengenalan terhadap Yesus Kristus saja
membawa kasih karunia yang dibutuhkan manusia dan damai yang sangat diinginkan
oleh hati mereka) - hal 295.
3)
‘akan Yesus, Tuhan kita’.
Lenski:
“He is our Lord, we are his DOULOI (verse 1) who have been
purchased and won by him to be his own forever. We know no authority save his;
our will is his alone. KURIOS suggests his deity just as much as THEOS, ... We
note that ‘Savior’ is placed first, ‘Lord’ second. Who would not follow
the Lord who has rescued him as a Savior? There is no Lord like this Lord; no
pleasure like serving this Lord as a DOULOS or ‘slave.’”
[= Ia adalah Tuhan kita, kita adalah hamba-hambaNya (ayat 1) yang telah dibeli
dan dimenangkan oleh Dia untuk menjadi milikNya selama-lamanya. Kita tidak
mengenal otoritas kecuali otoritasNya; kehendak kita adalah kehendakNya saja.
KURIOS (=
Tuhan) menunjukkan (secara tak langsung) keilahianNya sama seperti THEOS (=
Allah), ... Kita memperhatikan bahwa ‘Juruselamat’ ditempatkan pertama (ay
1), ‘Tuhan’ kedua. Siapa yang tidak mau mengikuti Tuhan yang telah
menolongnya sebagai seorang Juruselamat? Tidak ada Tuhan seperti Tuhan ini;
tidak ada kesukaan / kesenangan seperti melayani Tuhan ini sebagai seorang
DOULOS atau ‘hamba’] -
hal 254.
-o0o-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali