Pemahaman
Alkitab
(Jl.
Dinoyo 19b, lantai 3)
Jumat,
tanggal 22 Mei 2009, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
I Timotius
6:11-16(3)
Ay 13-15: “(13) Di hadapan Allah yang memberikan hidup kepada segala sesuatu dan di
hadapan Kristus Yesus yang telah mengikrarkan ikrar yang benar itu juga di muka
Pontius Pilatus, kuserukan kepadamu: (14) Turutilah perintah ini, dengan tidak
bercacat dan tidak bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan
diriNya, (15) yaitu saat yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya
dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan”.
1)
“Di hadapan Allah yang memberikan hidup kepada segala sesuatu ... kuserukan
kepadamu”.
KJV:
‘I give thee charge in the sight of God, who quickeneth all things’
(= Aku memberimu perintah / instruksi di hadapan Allah, yang menghidupkan
segala sesuatu).
Matthew
Henry: “He
gives him a solemn charge: I give thee charge in the sight of God that thou do
this. He charges him as he will answer it at the great day to that God whose
eyes are upon us all, who sees what we are and what we do” (= Ia
memberinya suatu perintah / instruksi yang khidmat: Aku memberi perintah
kepadamu di hadapan Allah supaya engkau melakukan ini. Ia memerintahkannya
karena ia akan mempertanggung-jawabkannya pada hari yang besar kepada Allah itu,
yang mataNya tertuju kepada kita semua, yang melihat apa kita ini dan apa yang
kita lakukan).
Albert
Barnes mengatakan bahwa tidak jelas apa sebabnya Paulus tahu-tahu mengatakan ‘di
hadapan Allah yang memberikan hidup / menghidupkan kepada segala sesuatu’.
Ia berkata bahwa mungkin ia memaksudkan bahwa karena Allah adalah sumber
dari kehidupan, dan karena itu Ialah yang memberikan Timotius hidup secara
alamiah maupun rohani, maka Allah itu berhak menuntut supaya hidup itu digunakan
untuk melayaniNya. Dan kalau dalam ketaatan pada perintah ini Timotius harus
mengorbankan nyawanya, ia harus mengingat bahwa Allah mempunyai kuasa untuk
membangkitkannya lagi.
2)
“dan di
hadapan Kristus Yesus yang telah mengikrarkan ikrar yang benar itu juga di muka
Pontius Pilatus”.
Matthew
Henry menganggap bahwa pengakuan yang diberikan oleh Kristus Yesus di hadapan
Pontius Pilatus adalah apa yang ada dalam Yoh 18:36-37 - “(36) Jawab Yesus:
‘KerajaanKu bukan dari dunia ini; jika KerajaanKu dari dunia ini, pasti
hamba-hambaKu telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi,
akan tetapi KerajaanKu bukan dari sini.’ (37) Maka kata Pilatus kepadaNya:
‘Jadi Engkau adalah raja?’ Jawab Yesus: ‘Engkau mengatakan, bahwa Aku
adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam
dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang
berasal dari kebenaran mendengarkan suaraKu.’”.
Matthew
Henry mengatakan bahwa pengakuan Yesus ‘KerajaanKu
bukan dari dunia ini’ merupakan suatu pengakuan yang seharusnya sangat
efektif untuk menarik para pengikutNya dari cinta kepada dunia ini.
3)
“kuserukan
kepadamu: Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela”.
Calvin
menganggap bahwa kata ‘perintah’ di sini menunjuk pada apa yang sudah
diberikan oleh Paulus sampai titik ini berkenaan dengan jabatan / tugas dari
Timotius, dan intinya adalah bahwa Timotius harus menjadi seorang pelayan /
pendeta yang setia kepada Kristus dan Gereja.
Barnes memberi 2
kemungkinan lain, yaitu:
a) Ini ditujukan pada
karakter moral dari Timotius. Dengan demikian, kata-kata ini artinya adalah
bahwa Timotius harus menjaga karakter moralnya sehingga tak ada cacat sama
sekali.
b) Ini ditujukan pada
ajaran dari Timotius. Dengan demikian, ajarannya harus betul-betul murni.
Memang melakukan semua
ini secara sempurna merupakan sesuatu yang mustahil, tetapi kita tidak boleh
menurunkan tujuan kita dengan alasan: kita toh tidak mungkin bisa mencapainya.
Jadi, kesempurnaan dalam hidup maupun ajaran tetap harus menjadi tujuan kita.
4)
“hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diriNya”.
Calvin:
“Thus we know, that the revelation of Christ has its appointed time, for
which we must wait patiently” (= Maka kita tahu, bahwa penyataan Kristus
mempunyai waktu yang ditetapkan, untuk mana kita harus menunggu dengan sabar).
Bdk.
Kis 17:31 - “Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia
dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukanNya,
sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan
membangkitkan Dia dari antara orang mati.’”.
Calvin:
“‘Till
the revelation of our Lord Jesus Christ.’ It
is impossible to tell how necessary it was to all the godly, at that time, to
have their mind entirely fixed on the day of Christ; because innumerable
offenses existed everywhere in the world. They were assailed on every hand, were
universally hated and abhorred, were exposed to the mockeries of all, were
oppressed every day with new calamities; and yet they saw no fruit of so many
toils and annoyances. What then remained, but that in thought they should fly
away to that blessed day of our redemption?”
(= ‘Sampai penyataan dari Tuhan kita Yesus Kristus’. Adalah tidak mungkin
untuk mengatakan betapa perlunya bagi semua orang saleh, pada saat itu, untuk
mengarahkan pikiran mereka sepenuhnya pada hari Kristus; karena tak terhitung
banyaknya pelanggaran / sakit hati yang ada dimana-mana dalam dunia ini. Mereka
diserang dari setiap sisi, dibenci secara universal, terbuka bagi ejekan-ejekan
dari semua orang, ditindas / ditekan setiap hari dengan bencana-bencana baru;
tetapi mereka tidak melihat buah dari begitu banyak jerih payah dan
gangguan-gangguan yang menjengkelkan. Lalu apa yang tersisa, kecuali bahwa dalam
pikiran mereka harus terbang pada hari yang diberkati dari penebusan kita?).
5)
“yaitu saat
yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia,
Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan”.
Pada
waktu Paulus menyebut Allah sebagai ‘Penguasa
yang satu-satunya’, itu tidak boleh diartikan bahwa dalam dunia ini orang
Kristen tidak mengakui pemerintahan / raja-raja yang lain. Calvin menganggap
bahwa artinya adalah bahwa Allah adalah satu-satunya yang bertakhta dan
mempunyai kuasa dari diriNya sendiri. Bahwa tetap ada raja-raja / pemerintahan
duniawi, jelas dari kata-kata selanjutnya yang menyebut Allah sebagai ‘Raja
di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan’.
Calvin
melanjutkan bahwa inti dari hal ini adalah bahwa semua pemerintahan duniawi
tergantung kepada Allah, dan berdiri atau jatuh sesuai kehendak Allah, dan
sebaliknya, otoritas Allah bersifat kekal dan melampaui segala sesuatu.
Bdk. Maz 75:6-8 - “(6)
Jangan mengangkat tandukmu tinggi-tinggi, jangan berbicara dengan bertegang
leher!’ (7) Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun
datangnya peninggian itu, (8) tetapi Allah adalah Hakim: direndahkanNya yang
satu dan ditinggikanNya yang lain”. Bdk. Luk 1:52 di bawah.
Pulpit Commentary
mengatakan bahwa kata Yunani yang diterjemahkan ‘penguasa’ adalah DUNASTES, yang dalam Perjanjian Baru hanya ada
di dua tempat lain, yaitu dalam Kis 8:27 dan Luk 1:52. Tetapi kata ini ditujukan
kepada Allah hanya di sini, dan menunjukkan kesuperioran Allah di atas semua
kuasa duniawi.
Kis 8:27
- “Lalu berangkatlah Filipus. Adalah seorang Etiopia, seorang sida-sida, pembesar
(DUNASTES) dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia,
yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah”.
Luk 1:52
- “Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa (DUNASTAS)
dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah”.
Tentang
kata-kata ‘Raja di atas segala raja dan
Tuan di atas segala tuan’, Pulpit Commentary mengatakan bahwa kata-kata
itu juga digunakan untuk Yesus dalam Wah 17:14 dan Wah 19:16.
Wah 17:14
- “Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba akan
mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di
atas segala raja. Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu
mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia.’”.
Wah 19:16
- “Dan pada jubahNya dan pahaNya tertulis suatu nama, yaitu: ‘Raja
segala raja dan Tuan di atas segala tuan.’”.
Ayat-ayat
yang menggunakan gelar ini untuk Yesus pada umumnya dianggap sebagai salah satu
bukti keilahianNya.
Catatan:
kata-kata ‘Tuan di atas segala tuan’
dalam Kitab Suci bahasa Inggris diterjemahkan ‘Lord
of lords’ (= Tuhan di atas tuan-tuan).
Semuanya
menggunakan kata Yunani KURIOS, dan kata itu bisa diterjemahkan ‘Tuhan’
ataupun ‘tuan’. Kalau melihat kontextnya, dan juga seluruh Kitab Suci, maka
saya menganggap bahwa terjemahan yang seharusnya adalah ‘Tuhan di atas segala
tuan’.
Ay 16: “Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam
terang yang tak terhampiri. Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia
tidak dapat melihat Dia. BagiNyalah hormat dan kuasa yang kekal! Amin.”.
1)
“Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut”.
KJV:
‘Who only hath immortality’
(= satu-satunya yang mempunyai ketidak-binasaan).
Matthew
Henry: “He
only is immortal in himself, and has immortality as he is the fountain of it,
for the immortality of angels and spirits derived from him” (= Hanya Ia
yang tidak binasa dalam dirinya sendiri, dan mempunyai ketidakbinasaan karena Ia
adalah sumber darinya, karena ketidak-binasaan dari malaikat-malaikat dan
roh-roh didapatkan dari Dia).
2)
“bersemayam dalam terang yang tak terhampiri”.
Calvin mengatakan bahwa
bagian ini maksudnya adalah: tak seorangpun bisa mendekati Allah jika orang itu
melakukannya dengan kekuatannya sendiri. Tetapi Allah bisa memberi terang kepada
seseorang sehingga orang itu bisa mengenal Allah dan mendekati Allah. Tetapi
tetap saja orang seperti ini, sementara ia masih hidup dalam dunia ini, tidak
mungkin bisa mengenal Allah sepenuhnya.
Bandingkan dengan
ayat-ayat di bawah ini.
1Kor 13:9-12 - “(9)
Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. (10)
Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap. (11)
Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti
kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi
dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. (12) Karena sekarang kita
melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan
melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna,
tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal”.
3)
“Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat
Dia”.
a) Calvin mengatakan
bahwa kata-kata ini ditambahkan supaya kita tahu bahwa kita tidak bisa
melihatNya dengan mata jasmani ataupun dengan kekuatan dari pengertian kita, dan
belajar untuk memandang kepadaNya dengan iman.
b)
Apakah ini membuktikan bahwa Yesus bukanlah Allah?
Yoh 1:18 - “Tidak
seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di
pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakanNya”.
Kel 33:18-23 - “(18)
Tetapi jawabnya: ‘Perlihatkanlah kiranya kemuliaanMu kepadaku.’ (19) Tetapi
firmanNya: ‘Aku akan melewatkan segenap kegemilanganKu dari depanmu dan
menyerukan nama TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa
yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani.’ (20) Lagi
firmanNya: ‘Engkau tidak tahan memandang wajahKu, sebab tidak ada orang
yang memandang Aku dapat hidup.’ (21) Berfirmanlah TUHAN: ‘Ada suatu
tempat dekatKu, di mana engkau dapat berdiri di atas gunung batu; (22) apabila
kemuliaanKu lewat, maka Aku akan menempatkan engkau dalam lekuk gunung itu dan
Aku akan menudungi engkau dengan tanganKu, sampai Aku berjalan lewat. (23)
Kemudian Aku akan menarik tanganKu dan engkau akan melihat belakangKu, tetapi
wajahKu tidak akan kelihatan.’”.
Merupakan suatu
ketololan yang sangat umum dalam kalangan Saksi Yehuwa dan Unitarian untuk
menggunakan ayat-ayat seperti ini sebagai dasar untuk menganggap bahwa Yesus
bukan Allah, karena Yesus bisa dilihat. Yesus memang bisa dilihat, tetapi Ia
hanya bisa dilihat sebagai manusia, bukan sebagai Allah! Melihat Yesus sebagai
Allah baru bisa terjadi di surga nanti.
1Yoh 3:2 - “Saudara-saudaraku
yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa
keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan
diriNya, kita akan menjadi sama seperti
Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaanNya yang sebenarnya”.
Catatan: kata ‘sama’ yang saya coret
itu harus dibuang, karena kata itu menyesatkan.
KJV: ‘we shall be like him’ (= kita akan menjadi seperti
Dia).
c)
Apakah ini bertentangan dengan ayat-ayat seperti Mat 5:8 dan Ibr 12:14?
Mat 5:8 - “Berbahagialah
orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah”.
Ibr 12:14 - “Berusahalah
hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan
tidak seorangpun akan melihat Tuhan”.
Menurut saya sama
sekali tidak ada kontradiksi di sini, karena kata ‘melihat’ dalam kedua ayat
ini atau harus diartikan ‘melihat dengan iman’, atau ‘melihat Allah di
surga nanti’.
4)
“BagiNyalah hormat dan kuasa yang kekal! Amin.”.
Ini
jelas merupakan suatu doxology (kata-kata pujian). Mungkin setelah membicarakan
Allah dalam ay 15-16, Paulus merasakan begitu hebatnya Allah itu sehingga
tidak bisa tidak ia harus memberikan kata-kata pujian kepadaNya.
Penerapan:
kalau saudara merenungkan / memikirkan atau membicarakan Allah, apakah saudara
juga terdorong untuk memuji Dia?
-o0o-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali