Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)

Jumat, tanggal 8 Mei 2009, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

[email protected]

 

I Timotius 6:11-16(1)

 

1Tim 6:11-16 - “(11) Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. (12) Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi. (13) Di hadapan Allah yang memberikan hidup kepada segala sesuatu dan di hadapan Kristus Yesus yang telah mengikrarkan ikrar yang benar itu juga di muka Pontius Pilatus, kuserukan kepadamu: (14) Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diriNya, (15) yaitu saat yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan. (16) Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. BagiNyalah hormat dan kuasa yang kekal! Amin”.

 

Ay 11: Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.

 

1)            Tetapi engkau hai manusia Allah.

Ini merupakan kontras dengan ‘beberapa orang’ dalam ay 10, yang karena ‘memburu uang’, telah ‘menyimpang dari iman’.

Bdk Ay 10: “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka”.

 

Pulpit Commentary: “O man of God. The force of this address is very great. It indicates that the money-lovers just spoken of were not and could not be ‘men of God,’ whatever they might profess; and it leads with singular strength to the opposite direction in which Timothy’s aspirations should point. The treasures which he must covet as ‘a man of God’ were ‘righteousness, godliness, faith, love, patience, meekness.’” (= Hai manusia Allah. Kekuatan dari ucapan ini sangat besar. Itu menunjukkan bahwa pecinta-pecinta uang yang baru dibicarakan itu bukanlah dan tidak bisa adalah ‘manusia-manusia Allah’, tak peduli apapun yang mereka akui; dan itu membimbing dengan kekuatan luar biasa pada arah yang berlawanan kemana cita-cita Timotius harus diarahkan. Harta yang harus ia inginkan sebagai ‘manusia Allah’ adalah ‘kebenaran, kesalehan, iman, kasih, kesabaran, kelemah-lembutan’).

 

2)            jauhilah semuanya itu.

Yang dimaksud jelas adalah ‘jauhilah cinta uang’. Ini berlaku untuk Timotius, semua hamba-hamba Tuhan, dan bahkan semua orang kristen yang sejati.

 

Kata ‘jauhilah’ ada dalam bentuk present imperative (= kata perintah bentuk present), yang menunjukkan bahwa itu merupakan suatu perintah yang harus dilakukan terus menerus.

 

Adam Clarke: “Thou, who hast taken God for thy portion, and art seeking a city that hath foundations, whose builder is the living God, flee these things. Escape for thy life. Even thou art not out of the reach of the love of money. How many of the ministers of religion have been ruined by this! And how much has religion itself suffered by their love of money!” (= Engkau, yang telah mengambil Allah menjadi bagianmu, dan sedang mencari kota yang mempunyai dasar / fondasi, yang pembangunnya adalah Allah yang hidup, larilah dari / jauhilah hal-hal ini. Larilah untuk hidupmu. Bahkan engkau bukannya ada di luar jangkauan dari cinta uang. Betapa banyak pendeta-pendeta agama yang telah dihancurkan oleh ini! Dan betapa banyak agama itu sendiri telah menderita oleh cinta mereka pada uang!).

 

The Bible Exposition Commentary: New Testament: “The word ‘flee’ that Paul used here did not refer to literal running, but to Timothy’s separating himself from the sins of the false teachers. ... Not all unity is good, and not all division is bad. There are times when a servant of God should take a stand against false doctrine and godless practices, and separate himself from them. He must be sure, however, that he acts on the basis of biblical conviction and not because of a personal prejudice or a carnal party spirit (= Kata ‘jauhilah / larilah’ yang Paulus gunakan di sini tidak menunjuk pada lari secara hurufiah, tetapi pada pemisahan Timotius sendiri dari dosa-dosa dari guru-guru palsu itu. ... Tidak semua kesatuan adalah baik, dan tidak semua perpecahan adalah buruk. Ada saat-saat dimana seorang pelayan Allah harus mengambil sikap terhadap doktrin / ajaran yang salah / palsu dan praktek-praktek yang jahat, dan memisahkan dirinya dari mereka. Tetapi ia harus pasti bahwa ia bertindak berdasarkan keyakinan yang Alkitabiah dan bukan karena suatu prasangka pribadi atau suatu roh / kecondongan grup-grupan yang bersifat daging).

 

3)            kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.

KJV: ‘and follow after righteousness, godliness, faith, love, patience, meekness’ (= dan kejarlah kebenaran, kesalehan, iman, kasih, kesabaran, kelemah-lembutan).

 

a)      ‘Kejarlah’.

Sama seperti kata ‘jauhilah’ maka kata ‘kejarlah’ ini juga ada dalam bentuk present imperative (= kata perintah bentuk present), yang menunjukkan bahwa kita harus terus menerus mengejar.

 

Wycliffe: “‘Follow after.’ Pursue, keep pursuing. Vigor and intensity are suggested both in fleeing things that lead from the faith and in pursuing things pertaining to the faith” (= ‘Kejarlah’. Kejarlah, teruslah mengejar. Semangat dan intensitas dikesankan baik dalam menjauhi / lari dari hal-hal yang membimbing menjauhi iman, dan dalam mengejar hal-hal yang berurusan dengan iman).

 

The Bible Exposition Commentary: New Testament: “Separation without positive growth becomes isolation. We must cultivate these graces of the Spirit in our lives, or else we will be known only for what we oppose rather than for what we propose” (= Pemisahan tanpa pertumbuhan positif menjadi pengisolasian. Kita harus menumbuhkan kasih karunia - kasih karunia Roh ini dalam hidup kita, atau kita akan dikenal hanya tentang apa yang kita tentang dari pada tentang apa yang kita anjurkan / kemukakan).

 

b)   Hal-hal apa saja yang harus dikejar?

 

1.            Keadilan.

KJV: ‘righteousness’ (= kebenaran).

Wycliffe: “‘Righteousness’ may be thought of as a comprehensive name for all the fruit of the Spirit” (= ‘Kebenaran’ bisa dianggap sebagai suatu sebutan yang mencakup semua buah Roh).

 

2.            Ibadah.

KJV: ‘godliness’ (= kesalehan).

 

Wycliffe: “‘Godliness’ means ‘godly faith,’ ‘true religion.’” (= ‘Kesalehan’ berarti ‘iman yang saleh’, ‘agama yang benar’).

 

The Bible Exposition Commentary: New Testament: “‘Righteousness’ means ‘personal integrity.’ ‘Godliness’ means ‘practical piety.’ The first has to do with character; the second, with conduct” (= ‘Kebenaran’ berarti ‘kelurusan / kejujuran pribadi’. ‘Kesalehan’ berarti ‘kesalehan praktis’. Yang pertama berurusan dengan karakter; yang kedua dengan tingkah laku).

 

Jamieson, Fausset & Brown: “Righteousness is in relation to our fellow-man; ‘godliness’ to God” (= Kebenaran adalah dalam hubungan dengan sesama manusia kita; ‘kesalehan’ adalah dalam hubungan dengan Allah).

 

3.            Kesetiaan.

KJV: ‘faith’ (= iman).

 

Wycliffe: “‘Faith’ may mean ‘believing’ or ‘faithfulness.’” (= ‘Iman’ bisa berarti ‘percaya’ atau ‘kesetiaan’).

 

The Bible Exposition Commentary: New Testament: “‘Faith’ might better be translated ‘faithfulness.’ It has well been said that the greatest ability is dependability” (= ‘Iman’ bisa diterjemahkan dengan lebih baik sebagai ‘kesetiaan’. Dikatakan secara benar / baik bahwa kemampuan yang terbesar adalah ‘bisa disandari / dipercaya’).

 

4.            Kasih.

 

Wycliffe: “A full realization of love means the experience of God’s love for us, as well as our loving him and others” (= Realisasi sepenuhnya dari kasih berarti pengalaman dari kasih Allah bagi kita, maupun kasih kita kepadaNya dan kepada orang-orang lain).

 

The Bible Exposition Commentary: New Testament: “‘Love’ is the agape love that sacrifices for the sake of others. It seeks to give, not to gain” (= ‘Kasih’ adalah kasih agape yang berkorban demi orang-orang lain. Kasih itu berusaha untuk memberi, bukan untuk mendapatkan keuntungan).

Penerapan: di gereja, atau dalam hubungan saudara dengan orang-orang lain, apakah saudara memikirkan bagaimana bisa memberi, atau bagaimana bisa mendapatkan keuntungan?

 

5.            Kesabaran.

 

Wycliffe: “Patience means ‘endurance,’” (= Kesabaran berarti ‘ketahanan’).

 

The Bible Exposition Commentary: New Testament: “‘Patience’ carries the idea of ‘endurance,’ sticking to it when the going is tough. It is not a complacency that waits, but a courage that continues in hard places” (= ‘Kesabaran’ membawa gagasan tentang ‘ketahanan’, berpegang padanya pada waktu perjalanan menjadi berat / sulit. Itu bukan suatu kepuasan yang menunggu, tetapi suatu keberanian yang melanjutkan di tempat-tempat yang keras).

 

6.            Kelembutan.

 

Wycliffe: “meekness seems to go back to the Lord’s teaching and example (Mt 5:5; 11:29)” [= Kelembutan kelihatannya kembali pada ajaran dan teladan Tuhan (Mat 5:5; 11:29)].

Mat 5:5 - “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi”.

Mat 11:29 - “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan”.

 

Pulpit Commentary: “‘Meekness’ (pra`upaqei/an). This rare word, found in Philo, but nowhere in the New Testament, is the reading of the R.T. (instead of the pra|othta of the T.R.) and accepted by almost all critics on the authority of all the older manuscripts. It has no perceptible difference of meaning from prao/th$, meekness or gentleness [= ‘Kelembutan’ (pra`upaqei/an / PRAUPATHEIAN). Kata yang jarang ini, ditemukan dalam Philo, tetapi tidak pernah muncul dalam Perjanjian Baru, merupakan pembacaan dari R. T. (dan bukannya pra|othta / PRAOTETA dari T. R.) dan diterima oleh hampir semua pengkritik berdasarkan otoritas dari semua manuscript-manuscript yang lebih tua. Kata itu tidak mempunyai perbedaan arti yang jelas dari prao/th$ / PRAOTES, kelembutan / kelemah-lembutan].

Catatan: PRAOTES adalah kata benda; sedangkan kata sifatnya adalah PRAUS, yang digunakan dalam Mat 11:29 (diterjemahkan ‘lemah lembut’).

 

William Barclay (tentang Gal 5:23): “‘Gentleness;’ PRAOTES is the most untranslatable of words. In the New Testament it has three main meanings. (a) It means ‘being submissive to the will of God’ (Matthew 5:5; 11:29; 21:5). (b) It means ‘being teachable,’ being not too proud to learn (James 1:21). (c) Most often of all it means ‘being considerate’ (1Corinthians 4:21; 2Corinthians 10:1; Ephesians 4:2). Aristotle defined PRAOTES as the mean between excessive anger and excessive angerlessness, the quality of the man who is always angry at the right time and never at the wrong time. What throws most light on its meaning is that the adjective PRAUS is used of an animal that has been tamed and brought under control; and so the word speaks of that self-control which Christ alone can give” [= ‘Kelemah-lembutan’; PRAOTES adalah kata yang paling tidak bisa diterjemahkan. Dalam Perjanjian Baru kata itu mempunyai 3 arti utama. (a) Itu berarti ‘tunduk pada kehendak Allah’ (Mat 5:5; 11:29; 21:5). (b) Itu berarti ‘bisa diajar’, tidak terlalu sombong untuk belajar (Yak 1:21). (c) Paling sering dari semua, itu berarti ‘mempunyai perhatian / pemikiran terhadap orang lain’ (1Kor 4:21; 2Kor 10:1; Ef 4:2). Aristotle mendefinisikan PRAOTES sebagai titik tengah antara kemarahan yang berlebih-lebihan dan ketidak-marahan yang berlebih-lebihan, kwalitet dari orang yang selalu marah pada saat yang tepat dan tidak pernah pada saat yang salah. Apa yang memberikan terang yang paling banyak pada arti kata ini adalah bahwa kata sifat PRAUS digunakan tentang seekor binatang yang telah dijinakkan dan dibawa di bawah kontrol / kendali; dan dengan demikian kata itu berbicara tentang penguasaan diri yang hanya bisa diberikan oleh Kristus] - hal 51-52.

 

William Barclay (tentang Mat 5:5): “In our modern English idiom the word ‘meek’ is hardly one of the honourable words of life. Nowadays it carries with it an idea of spinelessness, and subservience, and mean-spiritedness. It paints the picture of a submissive and ineffective creature. But it so happens that the word ‘meek’ - in Greek PRAUS - was one of the great Greek ethical words. Aristotle has a great deal to say about the quality of ‘meekness’ (PRAOTES). It was Aristotle’s fixed method to define every virtue as the mean between two extremes. On the one hand there was the extreme of excess; on the other hand there was the extreme of defect; and in between there was the virtue itself, the happy medium. To take an example, on the one extreme there is the spendthrift; on the other extreme there is the miser; and in between there is the generous man. Aristotle defines ‘meekness,’ PRAOTES, as the mean between ORGILOTES, which means ‘excessive anger,’ and AORGESIA, which means ‘excessive angerlessness.’ PRAOTES, ‘meekness,’ as Aristotle saw it, is the happy medium between too much and too little anger. And so the first possible translation of this beatitude is: ‘Blessed is the man who is always angry at the right time, and never angry at the wrong time.’ If we ask what the right time and the wrong time are, we may say as a general rule for life that it is never right to be angry for any insult or injury done to ourselves; that is something that no Christian must ever resent; but that it is often right to be angry at injuries done to other people. Selfish anger is always a sin; selfless anger can be one of the great moral dynamics of the world. But the word PRAUS has a second standard Greek usage. It is the regular word for an animal which has been domesticated, which has been trained to obey the word of command, which has learned to answer to the reins. It is the word for an animal which has learned to accept control. So the second possible translation of this beatitude is: ‘Blessed is the man who has every instinct, every impulse, every passion under control. Blessed is the man who is entirely self-controlled.’ The moment was have stated that, we see that it needs a change. It is not so much the blessing of the man who is self-controlled, for such complete self-control is beyond human capacity; rather, it is the blessing of the man who is completely God-controlled, for only in his service do we find our perfect freedom, and in doing his will our peace. But there is still a third possible side from which we may approach this beatitude. The Greek always contrasted the quality which they called PRAOTES, and which the Authorized Version translates ‘meekness,’ with the quality which they called HUPSELOKARDIA, which means ‘lofty-heartedness.’ In PRAOTES there is true humility which banishes all pride. ... PRAOTES describes humility, the acceptance of the necessity to learn and of the necessity to be forgiven. It describes man’s only proper attitude to God. So then, the third possible translation of this beatitude is: ‘Blessed is the man who has the humility to know his own ignorance, his own weakness, and his own need.’ ... It is clear that this word PRAUS means far more than the English word ‘meek’ now means; it is, in fact, clear that there is no English word which will translate it, although perhaps the word ‘gentle’ comes nearest to it” [= Dalam ungkapan bahasa Inggris modern kita kata ‘meek / lembut’ hampir tidak merupakan salah satu dari kata yang terhormat dari kehidupan. Sekarang kata itu membawa suatu gagasan kelemahan / keadaan tak bertulang, dan sikap tunduk, dan roh yang rendah / inferior / tak bernilai. Itu menggambarkan gambaran dari suatu makhluk yang tunduk dan tidak efektif. Tetapi kata ‘meek / lembut’ - dalam bahasa Yunani PRAUS - adalah salah satu kata etika yang besar / agung dalam bahasa Yunani. Aristotle mempunyai banyak hal untuk dikatakan tentang kwalitet dari ‘meekness / kelembutan’ (PRAOTES). Merupakan metode yang baku dari Aristotle untuk mendefinisikan setiap kebaikan / kebajikan sebagai titik tengah di antara dua extrim. Pada satu sisi di sana ada extrim yang berlebihan; dan di sisi lain ada extrim yang kekurangan; dan di tengah-tengahnya ada kebaikan / kebajikan itu sendiri, keadaan di tengah yang tepat / cocok. Sebagai contoh, pada satu extrim ada sifat boros; dan pada extrim lain ada orang kikir / pelit; dan di tengah-tengahnya ada orang yang dermawan. Aristotle mendefinisikan ‘kelemah-lembutan’, PRAOTES, sebagai titik tengah di antara ORGILOTES, yang berarti ‘kemarahan yang berlebih-lebihan’, dan AORGESIA, yang berarti ‘ketidak-marahan yang berlebih-lebihan’. PRAOTES, ‘Kelemah-lembutan’, sebagaimana yang dilihat oleh Aristotle, adalah keadaan di tengah antara kemarahan yang terlalu banyak dan terlalu sedikit. Jadi, terjemahan pertama yang memungkinkan dari ucapan bahagia ini adalah: ‘Berbahagialah / diberkatilah orang yang selalu marah pada saat yang benar, dan tidak pernah marah pada saat yang salah’. Jika kita bertanya apa saat yang benar dan saat yang salah itu, kita bisa mengatakan sebagai suatu peraturan umum untuk kehidupan bahwa tidak pernah benar untuk marah untuk penghinaan atau kerugian / luka yang dilakukan pada diri kita sendiri; itu adalah sesuatu yang tak pernah boleh membuat seorang Kristen marah; tetapi bahwa adalah sering benar untuk marah pada luka / kerugian yang dilakukan kepada orang-orang lain. Kemarahan yang egois selalu adalah dosa; kemarahan yang tidak memikirkan diri sendiri bisa merupakan salah satu dari tenaga penggerak moral yang besar / agung dari dunia. Tetapi kata PRAUS mempunyai penggunaan standard kedua dalam bahasa Yunani. Itu merupakan kata yang umum untuk seekor binatang yang telah dijinakkan, yang telah dilatih untuk mentaati perintah, yang telah belajar untuk menyesuaikan dengan kekang. Itu adalah kata untuk seekor binatang yang telah belajar untuk menerima kendali. Jadi, terjemahan kedua yang memungkinkan dari ucapan bahagia ini adalah: ‘Berbahagialah / diberkatilah orang yang mempunyai setiap naluri, setiap dorongan hati, setiap nafsu / keinginan di bawah kontrol / kendali. Berbahagialah / diberkatilah orang yang menguasai diri sepenuhnya’. Pada saat kita telah menyatakan hal itu, kita melihat bahwa hal itu membutuhkan suatu perubahan. Itu bukan berkat dari orang yang mempunyai penguasaan diri, karena penguasaan diri sempurna / lengkap seperti itu merupakan sesuatu yang melampaui kapasitas manusia; tetapi, itu adalah berkat dari orang yang sepenuhnya dikuasai oleh Allah, karena hanya dalam pelayananNya kita mendapatkan kebebasan kita yang sempurna, dan dalam melakukan kehendakNya kita mendapatkan damai kita. Tetapi masih ada sisi ketiga yang memungkinkan dari mana kita bisa mendekati ucapan bahagia ini. Bahasa Yunani selalu mengkontraskan kwalitet yang mereka sebut PRAOTES, dan yang diterjemahkan oleh Authorized Version ‘meekness / kelemah-lembutan’, dengan kwalitet yang mereka sebut HUPSELOKARDIA, yang berarti ‘ketinggi-hatian’. Dalam PRAOTES ada kerendahan hati yang sungguh-sungguh yang membuang semua kesombongan. ... PRAOTES menggambarkan kerendahan hati, penerimaan dari kebutuhan untuk belajar dan dari kebutuhan untuk diampuni. Itu menggambarkan satu-satunya sikap yang benar dari manusia terhadap Allah. Jadi, terjemahan ketiga yang memungkinkan dari ucapan bahagia ini adalah: ‘Berbahagialah / diberkatilah orang yang mempunyai kerendahan hati untuk mengetahui ketidak-tahuannya / kebodohannya sendiri, kelemahannya sendiri, dan kebutuhannya sendiri’. ... Adalah jelas bahwa kata PRAUS ini berarti jauh lebih dari pada arti kata bahasa Inggris ‘meek’ sekarang; dalam faktanya, adalah jelas bahwa tidak ada kata bahasa Inggris yang bisa menterjemahkannya, sekalipun mungkin kata ‘gentle’ merupakan kata yang paling dekat artinya dengannya] - hal 96-98.

 

Bdk. Yak 1:21 - “Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu”.

 

William Barclay (tentang Yak 1:21): “He will receive the word with ‘gentleness.’ ... No one can ever find one English word to translate what is a one word summary of the truly teachable spirit. The teachable spirit is ‘docile’ and ‘tractable,’ and therefore humble enough to learn. The teachable spirit is ‘without resentment’ and ‘without anger’ and is, therefore, able to face the truth, even when it hurts and condemns. The teachable spirit is not blinded by its own overmastering prejudices but is clear-eyed to the truth. The teachable spirit is not seduced by laziness but is so self-controlled that it can willingly and faithfully accept the discipline of learning. PRAUTES describes the perfect conquest and control of everything in a man’s nature which would be a hindrance to his seeing, learning and obeying the truth” [= Ia akan menerima firman dengan ‘kelemah-lembutan’. ... Tak seorangpun bisa pernah mendapatkan satu kata bahasa Inggris untuk menterjemahkan apa yang merupakan satu kata yang merupakan ringkasan dari roh yang sungguh-sungguh bisa diajar. Roh yang bisa diajar adalah ‘jinak / patuh / bisa diajar’ dan ‘penurut / taat / mudah diatur / mudah diajar’, dan karena itu cukup rendah hati untuk belajar. Roh yang bisa diajar adalah ‘tanpa kebencian / kesebalan’ dan ‘tanpa kemarahan’ dan karena itu mampu untuk menghadapi kebenaran, bahkan pada saat kebenaran itu menyakitkan dan mengecam. Roh yang bisa diajar tidaklah dibutakan oleh prasangka-prasangkanya sendiri yang menguasai tetapi mempunyai mata yang jernih terhadap kebenaran. Roh yang bisa diajar tidak dibujuk oleh kemalasan tetapi begitu menguasai diri sendiri sehingga bisa dengan rela dan dengan setia menerima kedisiplinan dari belajar. PRAUTES menggambarkan penundukan dan kontrol yang sempurna dari segala sesuatu dalam diri manusia yang merupakan suatu halangan baginya untuk melihat, mempelajari dan mentaati kebenaran] - hal 58.

 

-bersambung-

 

author : Pdt. Budi Asali, M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]
Base URL  http://www.golgothaministry.org