Pemahaman
Alkitab
(Jl.
Dinoyo 19b, lantai 3)
Jumat,
tanggal 8 Mei 2009, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
I Timotius
6:11-16(1)
1Tim 6:11-16 - “(11) Tetapi engkau hai manusia
Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih,
kesabaran dan kelembutan. (12) Bertandinglah dalam pertandingan iman yang
benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan
telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi. (13) Di hadapan
Allah yang memberikan hidup kepada segala sesuatu dan di hadapan Kristus Yesus
yang telah mengikrarkan ikrar yang benar itu juga di muka Pontius Pilatus,
kuserukan kepadamu: (14) Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan
tidak bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diriNya,
(15) yaitu saat yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan yang
penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan. (16)
Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang
yang tak terhampiri. Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia
tidak dapat melihat Dia. BagiNyalah hormat dan kuasa yang kekal! Amin”.
Ay 11: “Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah
keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan”.
1)
“Tetapi engkau hai manusia Allah”.
Ini
merupakan kontras dengan ‘beberapa
orang’ dalam ay 10, yang karena ‘memburu
uang’, telah ‘menyimpang dari
iman’.
Bdk
Ay 10: “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu
uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa
dirinya dengan berbagai-bagai duka”.
Pulpit
Commentary: “O man of God. The force of this address is very great. It indicates
that the money-lovers just spoken of were not and could not be ‘men of God,’
whatever they might profess; and it leads with singular strength to the opposite
direction in which Timothy’s aspirations should point. The treasures which he
must covet as ‘a man of God’ were ‘righteousness, godliness, faith, love,
patience, meekness.’” (= Hai manusia Allah. Kekuatan dari ucapan ini
sangat besar. Itu menunjukkan bahwa pecinta-pecinta uang yang baru dibicarakan
itu bukanlah dan tidak bisa adalah ‘manusia-manusia Allah’, tak peduli
apapun yang mereka akui; dan itu membimbing dengan kekuatan luar biasa pada arah
yang berlawanan kemana cita-cita Timotius harus diarahkan. Harta yang harus ia
inginkan sebagai ‘manusia Allah’ adalah ‘kebenaran, kesalehan, iman,
kasih, kesabaran, kelemah-lembutan’).
2)
“jauhilah semuanya itu”.
Yang
dimaksud jelas adalah ‘jauhilah cinta uang’. Ini berlaku untuk Timotius,
semua hamba-hamba Tuhan, dan bahkan semua orang kristen yang sejati.
Kata
‘jauhilah’ ada dalam bentuk
present imperative (= kata perintah bentuk present), yang menunjukkan bahwa itu
merupakan suatu perintah yang harus dilakukan terus menerus.
Adam
Clarke: “Thou,
who hast taken God for thy portion, and art seeking a city that hath
foundations, whose builder is the living God, flee these things. Escape for thy
life. Even thou art not out of the reach of the love of money. How many of the
ministers of religion have been ruined by this! And how much has religion itself
suffered by their love of money!” (= Engkau, yang telah mengambil Allah
menjadi bagianmu, dan sedang mencari kota yang mempunyai dasar / fondasi, yang
pembangunnya adalah Allah yang hidup, larilah dari / jauhilah hal-hal ini.
Larilah untuk hidupmu. Bahkan engkau bukannya ada di luar jangkauan dari cinta
uang. Betapa banyak pendeta-pendeta agama yang telah dihancurkan oleh ini! Dan
betapa banyak agama itu sendiri telah menderita oleh cinta mereka pada uang!).
The
Bible Exposition Commentary: New Testament:
“The
word ‘flee’ that Paul used here did not refer to literal running, but to
Timothy’s separating himself from the sins of the false teachers. ... Not
all unity is good, and not all division is bad. There are times when a
servant of God should take a stand against false doctrine and godless practices,
and separate himself from them. He must be sure, however, that he acts on the
basis of biblical conviction and not because of a personal prejudice or a carnal
party spirit” (= Kata ‘jauhilah / larilah’ yang Paulus gunakan di
sini tidak menunjuk pada lari secara hurufiah, tetapi pada pemisahan Timotius
sendiri dari dosa-dosa dari guru-guru palsu itu. ... Tidak semua kesatuan
adalah baik, dan tidak semua perpecahan adalah buruk. Ada saat-saat dimana
seorang pelayan Allah harus mengambil sikap terhadap doktrin / ajaran yang salah
/ palsu dan praktek-praktek yang jahat, dan memisahkan dirinya dari mereka. Tetapi
ia harus pasti bahwa ia bertindak berdasarkan keyakinan yang Alkitabiah dan
bukan karena suatu prasangka pribadi atau suatu roh / kecondongan grup-grupan
yang bersifat daging).
3)
“kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan”.
KJV: ‘and follow after righteousness, godliness, faith, love,
patience, meekness’ (= dan kejarlah kebenaran, kesalehan, iman, kasih,
kesabaran, kelemah-lembutan).
a) ‘Kejarlah’.
Sama
seperti kata ‘jauhilah’ maka kata
‘kejarlah’ ini juga ada dalam
bentuk present imperative (= kata perintah bentuk present), yang menunjukkan
bahwa kita harus terus menerus mengejar.
Wycliffe:
“‘Follow
after.’ Pursue, keep pursuing. Vigor and intensity are suggested both in
fleeing things that lead from the faith and in pursuing things pertaining to the
faith” (= ‘Kejarlah’. Kejarlah, teruslah mengejar. Semangat dan
intensitas dikesankan baik dalam menjauhi / lari dari hal-hal yang membimbing
menjauhi iman, dan dalam mengejar hal-hal yang berurusan dengan iman).
The
Bible Exposition Commentary: New Testament:
“Separation
without positive growth becomes isolation. We must cultivate these graces of the
Spirit in our lives, or else we will be known only for what we oppose rather
than for what we propose” (= Pemisahan tanpa pertumbuhan positif menjadi
pengisolasian. Kita harus menumbuhkan kasih karunia - kasih karunia Roh ini
dalam hidup kita, atau kita akan dikenal hanya tentang apa yang kita tentang
dari pada tentang apa yang kita anjurkan / kemukakan).
b) Hal-hal apa saja
yang harus dikejar?
1.
Keadilan.
KJV:
‘righteousness’ (= kebenaran).
Wycliffe:
“‘Righteousness’
may be thought of as a comprehensive name for all the fruit of the Spirit”
(= ‘Kebenaran’ bisa dianggap sebagai suatu sebutan yang mencakup semua buah
Roh).
2.
Ibadah.
KJV: ‘godliness’ (= kesalehan).
Wycliffe:
“‘Godliness’
means ‘godly faith,’ ‘true religion.’” (= ‘Kesalehan’ berarti
‘iman yang saleh’, ‘agama yang benar’).
The
Bible Exposition Commentary: New Testament:
“‘Righteousness’
means ‘personal integrity.’ ‘Godliness’ means ‘practical piety.’ The
first has to do with character; the second, with conduct” (=
‘Kebenaran’ berarti ‘kelurusan / kejujuran pribadi’. ‘Kesalehan’
berarti ‘kesalehan praktis’. Yang pertama berurusan dengan karakter; yang
kedua dengan tingkah laku).
Jamieson,
Fausset & Brown: “Righteousness
is in relation to our fellow-man; ‘godliness’ to God” (= Kebenaran
adalah dalam hubungan dengan sesama manusia kita; ‘kesalehan’ adalah dalam
hubungan dengan Allah).
3.
Kesetiaan.
KJV:
‘faith’ (= iman).
Wycliffe:
“‘Faith’
may mean ‘believing’ or ‘faithfulness.’” (= ‘Iman’ bisa
berarti ‘percaya’ atau ‘kesetiaan’).
The
Bible Exposition Commentary: New Testament:
“‘Faith’
might better be translated ‘faithfulness.’ It has well been said that the
greatest ability is dependability” (= ‘Iman’ bisa diterjemahkan dengan
lebih baik sebagai ‘kesetiaan’. Dikatakan secara benar / baik bahwa
kemampuan yang terbesar adalah ‘bisa disandari / dipercaya’).
4.
Kasih.
Wycliffe:
“A
full realization of love means the experience of God’s love for us, as well as
our loving him and others” (= Realisasi sepenuhnya dari kasih berarti
pengalaman dari kasih Allah bagi kita, maupun kasih kita kepadaNya dan kepada
orang-orang lain).
The
Bible Exposition Commentary: New Testament:
“‘Love’
is the agape love that sacrifices for the sake of others. It seeks to give, not
to gain” (= ‘Kasih’ adalah kasih agape yang berkorban demi orang-orang
lain. Kasih itu berusaha untuk memberi, bukan untuk mendapatkan keuntungan).
Penerapan:
di gereja, atau dalam hubungan saudara dengan orang-orang lain, apakah saudara
memikirkan bagaimana bisa memberi, atau bagaimana bisa mendapatkan keuntungan?
5.
Kesabaran.
Wycliffe:
“Patience
means ‘endurance,’” (= Kesabaran berarti ‘ketahanan’).
The
Bible Exposition Commentary: New Testament:
“‘Patience’
carries the idea of ‘endurance,’ sticking to it when the going is tough. It
is not a complacency that waits, but a courage that continues in hard places”
(= ‘Kesabaran’ membawa gagasan tentang ‘ketahanan’, berpegang padanya
pada waktu perjalanan menjadi berat / sulit. Itu bukan suatu kepuasan yang
menunggu, tetapi suatu keberanian yang melanjutkan di tempat-tempat yang keras).
6.
Kelembutan.
Wycliffe:
“meekness
seems to go back to the Lord’s teaching and example (Mt 5:5; 11:29)” [=
Kelembutan kelihatannya kembali pada ajaran dan teladan Tuhan (Mat 5:5; 11:29)].
Mat 5:5
- “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki
bumi”.
Mat 11:29
- “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah
lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan”.
Pulpit
Commentary: “‘Meekness’
(pra`upaqei/an).
This rare word, found in Philo, but nowhere in the New Testament, is the reading
of the R.T. (instead of the
pra|othta
of the T.R.) and accepted by almost all critics on the authority of all the
older manuscripts. It has no perceptible difference of meaning from prao/th$, meekness
or gentleness” [= ‘Kelembutan’ (pra`upaqei/an
/ PRAUPATHEIAN).
Kata yang jarang ini, ditemukan dalam Philo, tetapi tidak pernah muncul dalam
Perjanjian Baru, merupakan pembacaan dari R. T. (dan bukannya pra|othta
/ PRAOTETA dari T. R.) dan diterima oleh hampir semua pengkritik berdasarkan
otoritas dari semua manuscript-manuscript yang lebih tua. Kata itu tidak
mempunyai perbedaan arti yang jelas dari prao/th$
/
PRAOTES, kelembutan / kelemah-lembutan].
Catatan:
PRAOTES adalah kata benda; sedangkan kata sifatnya adalah PRAUS, yang digunakan
dalam Mat 11:29 (diterjemahkan ‘lemah lembut’).
William
Barclay (tentang Gal 5:23):
“‘Gentleness;’ PRAOTES is the most untranslatable of words. In the
New Testament it has three main meanings. (a) It means ‘being submissive to
the will of God’ (Matthew 5:5; 11:29; 21:5). (b) It means ‘being
teachable,’ being not too proud to learn (James 1:21). (c) Most often of all
it means ‘being considerate’ (1Corinthians 4:21; 2Corinthians 10:1;
Ephesians 4:2). Aristotle defined PRAOTES as the mean between excessive anger
and excessive angerlessness, the quality of the man who is always angry at the
right time and never at the wrong time. What throws most light on its meaning is
that the adjective PRAUS is used of an animal that has been tamed and brought
under control; and so the word speaks of that self-control which Christ alone
can give” [= ‘Kelemah-lembutan’; PRAOTES adalah kata yang paling tidak
bisa diterjemahkan. Dalam Perjanjian Baru kata itu mempunyai 3 arti utama. (a)
Itu berarti ‘tunduk pada kehendak Allah’ (Mat 5:5; 11:29; 21:5). (b) Itu
berarti ‘bisa diajar’, tidak terlalu sombong untuk belajar (Yak 1:21). (c)
Paling sering dari semua, itu berarti ‘mempunyai perhatian / pemikiran
terhadap orang lain’ (1Kor 4:21; 2Kor 10:1; Ef 4:2). Aristotle mendefinisikan
PRAOTES sebagai titik tengah antara kemarahan yang berlebih-lebihan dan
ketidak-marahan yang berlebih-lebihan, kwalitet dari orang yang selalu marah
pada saat yang tepat dan tidak pernah pada saat yang salah. Apa yang memberikan
terang yang paling banyak pada arti kata ini adalah bahwa kata sifat PRAUS
digunakan tentang seekor binatang yang telah dijinakkan dan dibawa di bawah
kontrol / kendali; dan dengan demikian kata itu berbicara tentang penguasaan
diri yang hanya bisa diberikan oleh Kristus] - hal 51-52.
William
Barclay (tentang Mat 5:5):
“In our modern English idiom the word ‘meek’ is hardly one of the
honourable words of life. Nowadays it carries with it an idea of spinelessness,
and subservience, and mean-spiritedness. It paints the picture of a submissive
and ineffective creature. But it so happens that the word ‘meek’ - in Greek
PRAUS - was one of the great Greek ethical words. Aristotle has a great deal to
say about the quality of ‘meekness’ (PRAOTES). It was Aristotle’s fixed
method to define every virtue as the mean between two extremes. On the one hand
there was the extreme of excess; on the other hand there was the extreme of
defect; and in between there was the virtue itself, the happy medium. To take an
example, on the one extreme there is the spendthrift; on the other extreme there
is the miser; and in between there is the generous man. Aristotle defines
‘meekness,’ PRAOTES, as the mean between ORGILOTES, which means ‘excessive
anger,’ and AORGESIA, which means ‘excessive angerlessness.’ PRAOTES,
‘meekness,’ as Aristotle saw it, is the happy medium between too much and
too little anger. And so the first possible translation of this beatitude is:
‘Blessed is the man who is always angry at the right time, and never angry at
the wrong time.’ If we ask what the right time and the wrong time are, we may
say as a general rule for life that it is never right to be angry for any insult
or injury done to ourselves; that is something that no Christian must ever
resent; but that it is often right to be angry at injuries done to other people.
Selfish anger is always a sin; selfless anger can be one of the great moral
dynamics of the world. But the word PRAUS has a second standard Greek usage. It
is the regular word for an animal which has been domesticated, which has been
trained to obey the word of command, which has learned to answer to the reins.
It is the word for an animal which has learned to accept control. So the second
possible translation of this beatitude is: ‘Blessed is the man who has every
instinct, every impulse, every passion under control. Blessed is the man who is
entirely self-controlled.’ The moment was have stated that, we see that it
needs a change. It is not so much the blessing of the man who is
self-controlled, for such complete self-control is beyond human capacity;
rather, it is the blessing of the man who is completely God-controlled, for only
in his service do we find our perfect freedom, and in doing his will our peace.
But there is still a third possible side from which we may approach this
beatitude. The Greek always contrasted the quality which they called PRAOTES,
and which the Authorized Version translates ‘meekness,’ with the quality
which they called HUPSELOKARDIA, which means ‘lofty-heartedness.’ In PRAOTES
there is true humility which banishes all pride. ... PRAOTES describes humility,
the acceptance of the necessity to learn and of the necessity to be forgiven. It
describes man’s only proper attitude to God. So then, the third possible
translation of this beatitude is: ‘Blessed is the man who has the humility to
know his own ignorance, his own weakness, and his own need.’ ... It is clear
that this word PRAUS means far more than the English word ‘meek’ now means;
it is, in fact, clear that there is no English word which will translate it,
although perhaps the word ‘gentle’ comes nearest to it” [= Dalam
ungkapan bahasa Inggris modern kita kata ‘meek / lembut’ hampir tidak
merupakan salah satu dari kata yang terhormat dari kehidupan. Sekarang kata itu
membawa suatu gagasan kelemahan / keadaan tak bertulang, dan sikap tunduk, dan
roh yang rendah / inferior / tak bernilai. Itu menggambarkan gambaran dari suatu
makhluk yang tunduk dan tidak efektif. Tetapi kata ‘meek / lembut’ - dalam
bahasa Yunani PRAUS - adalah salah satu kata etika yang besar / agung dalam
bahasa Yunani. Aristotle mempunyai banyak hal untuk dikatakan tentang kwalitet
dari ‘meekness / kelembutan’ (PRAOTES). Merupakan metode yang baku dari
Aristotle untuk mendefinisikan setiap kebaikan / kebajikan sebagai titik tengah
di antara dua extrim. Pada satu sisi di sana ada extrim yang berlebihan; dan di
sisi lain ada extrim yang kekurangan; dan di tengah-tengahnya ada kebaikan /
kebajikan itu sendiri, keadaan di tengah yang tepat / cocok. Sebagai contoh,
pada satu extrim ada sifat boros; dan pada extrim lain ada orang kikir / pelit;
dan di tengah-tengahnya ada orang yang dermawan. Aristotle mendefinisikan
‘kelemah-lembutan’, PRAOTES, sebagai titik tengah di antara ORGILOTES, yang
berarti ‘kemarahan yang berlebih-lebihan’, dan AORGESIA, yang berarti
‘ketidak-marahan yang berlebih-lebihan’. PRAOTES, ‘Kelemah-lembutan’,
sebagaimana yang dilihat oleh Aristotle, adalah keadaan di tengah antara
kemarahan yang terlalu banyak dan terlalu sedikit. Jadi, terjemahan pertama yang
memungkinkan dari ucapan bahagia ini adalah: ‘Berbahagialah / diberkatilah
orang yang selalu marah pada saat yang benar, dan tidak pernah marah pada saat
yang salah’. Jika kita bertanya apa saat yang benar dan saat yang salah itu,
kita bisa mengatakan sebagai suatu peraturan umum untuk kehidupan bahwa tidak
pernah benar untuk marah untuk penghinaan atau kerugian / luka yang dilakukan
pada diri kita sendiri; itu adalah sesuatu yang tak pernah boleh membuat seorang
Kristen marah; tetapi bahwa adalah sering benar untuk marah pada luka / kerugian
yang dilakukan kepada orang-orang lain. Kemarahan yang egois selalu adalah dosa;
kemarahan yang tidak memikirkan diri sendiri bisa merupakan salah satu dari
tenaga penggerak moral yang besar / agung dari dunia. Tetapi kata PRAUS
mempunyai penggunaan standard kedua dalam bahasa Yunani. Itu merupakan kata yang
umum untuk seekor binatang yang telah dijinakkan, yang telah dilatih untuk
mentaati perintah, yang telah belajar untuk menyesuaikan dengan kekang. Itu
adalah kata untuk seekor binatang yang telah belajar untuk menerima kendali.
Jadi, terjemahan kedua yang memungkinkan dari ucapan bahagia ini adalah:
‘Berbahagialah / diberkatilah orang yang mempunyai setiap naluri, setiap
dorongan hati, setiap nafsu / keinginan di bawah kontrol / kendali.
Berbahagialah / diberkatilah orang yang menguasai diri sepenuhnya’. Pada saat
kita telah menyatakan hal itu, kita melihat bahwa hal itu membutuhkan suatu
perubahan. Itu bukan berkat dari orang yang mempunyai penguasaan diri, karena
penguasaan diri sempurna / lengkap seperti itu merupakan sesuatu yang melampaui
kapasitas manusia; tetapi, itu adalah berkat dari orang yang sepenuhnya dikuasai
oleh Allah, karena hanya dalam pelayananNya kita mendapatkan kebebasan kita yang
sempurna, dan dalam melakukan kehendakNya kita mendapatkan damai kita. Tetapi
masih ada sisi ketiga yang memungkinkan dari mana kita bisa mendekati ucapan
bahagia ini. Bahasa Yunani selalu mengkontraskan kwalitet yang mereka sebut
PRAOTES, dan yang diterjemahkan oleh Authorized Version ‘meekness /
kelemah-lembutan’, dengan kwalitet yang mereka sebut HUPSELOKARDIA, yang
berarti ‘ketinggi-hatian’. Dalam PRAOTES ada kerendahan hati yang
sungguh-sungguh yang membuang semua kesombongan. ... PRAOTES menggambarkan
kerendahan hati, penerimaan dari kebutuhan untuk belajar dan dari kebutuhan
untuk diampuni. Itu menggambarkan satu-satunya sikap yang benar dari manusia
terhadap Allah. Jadi, terjemahan ketiga yang memungkinkan dari ucapan
bahagia ini adalah: ‘Berbahagialah / diberkatilah orang yang mempunyai
kerendahan hati untuk mengetahui ketidak-tahuannya / kebodohannya sendiri,
kelemahannya sendiri, dan kebutuhannya sendiri’. ... Adalah jelas bahwa kata
PRAUS ini berarti jauh lebih dari pada arti kata bahasa Inggris ‘meek’
sekarang; dalam faktanya, adalah jelas bahwa tidak ada kata bahasa Inggris yang
bisa menterjemahkannya, sekalipun mungkin kata ‘gentle’ merupakan kata yang paling dekat artinya dengannya]
- hal 96-98.
Bdk.
Yak 1:21 - “Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang
begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah
lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa
menyelamatkan jiwamu”.
William
Barclay (tentang Yak 1:21):
“He will receive the word with ‘gentleness.’ ... No one can ever
find one English word to translate what is a one word summary of the truly
teachable spirit. The teachable spirit is ‘docile’ and ‘tractable,’ and
therefore humble enough to learn. The teachable spirit is ‘without
resentment’ and ‘without anger’ and is, therefore, able to face the truth,
even when it hurts and condemns. The teachable spirit is not blinded by its own
overmastering prejudices but is clear-eyed to the truth. The teachable spirit is
not seduced by laziness but is so self-controlled that it can willingly and
faithfully accept the discipline of learning. PRAUTES describes the perfect
conquest and control of everything in a man’s nature which would be a
hindrance to his seeing, learning and obeying the truth” [= Ia akan
menerima firman dengan ‘kelemah-lembutan’. ... Tak seorangpun bisa pernah
mendapatkan satu kata bahasa Inggris untuk menterjemahkan apa yang merupakan
satu kata yang merupakan ringkasan dari roh yang sungguh-sungguh bisa diajar.
Roh yang bisa diajar adalah ‘jinak / patuh / bisa diajar’ dan ‘penurut /
taat / mudah diatur / mudah diajar’, dan karena itu cukup rendah hati untuk
belajar. Roh yang bisa diajar adalah ‘tanpa kebencian / kesebalan’ dan
‘tanpa kemarahan’ dan karena itu mampu untuk menghadapi kebenaran, bahkan
pada saat kebenaran itu menyakitkan dan mengecam. Roh yang bisa diajar tidaklah
dibutakan oleh prasangka-prasangkanya sendiri yang menguasai tetapi mempunyai
mata yang jernih terhadap kebenaran. Roh yang bisa diajar tidak dibujuk oleh
kemalasan tetapi begitu menguasai diri sendiri sehingga bisa dengan rela dan
dengan setia menerima kedisiplinan dari belajar. PRAUTES menggambarkan
penundukan dan kontrol yang sempurna dari segala sesuatu dalam diri manusia yang
merupakan suatu halangan baginya untuk melihat, mempelajari dan mentaati
kebenaran] - hal 58.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali