(Jl.
Dinoyo 19b, lantai 3)
Jum’at,
tanggal 13 Februari 2009, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
I
Timotius 5:17-18
Ay 17-18: “(17)
Penatua-penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat, terutama
mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar. (18) Bukankah Kitab Suci
berkata: ‘Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik,’
dan lagi ‘seorang pekerja patut mendapat upahnya.’”.
1)
“Penatua-penatua
yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat”.
Calvin: “Chrysostom
interprets ‘double honor’ as meaning ‘support and reverence.’ I do not
oppose his opinion; let it be adopted by any one that chooses. But for my own
part, I think it is more probable that a comparison is here drawn between widows
and elders. Paul had formerly enjoined that honor should be paid - to widows;
but elders are more worthy of being honored than widows, and, with respect to
them, ought therefore to receive double honor”
(= Chrysostom menafsirkan ‘kehormatan ganda’ sebagai berarti ‘tunjangan
dan rasa / sikap hormat’. Saya tidak menentang pandangannya; biarlah itu
diambil oleh siapapun yang memilihnya. Tetapi untuk saya sendiri, saya
menganggap bahwa adalah lebih mungkin bahwa di sini diambil suatu perbandingan
antara janda-janda dan penatua-penatua. Paulus telah memerintahkan bahwa hormat
harus diberikan kepada janda-janda; tetapi penatua-penatua lebih layak untuk
dihormati dari pada janda-janda, dan karena itu, berkenaan dengan mereka, mereka
harus menerima kehormatan ganda).
Nanti di bawah kita melihat bahwa Adam
Clarke juga mempunyai pandangan yang sama. Saya sendiri tak setuju dengan penafsiran
Calvin tentang hal ini. Menurut saya, Paulus sudah berhenti membicarakan
janda-janda, dan mulai ay 17 ia membicarakan penatua-penatua. Disamping
itu, kelihatannya dalam ay 17 ini Paulus membicarakan 3 golongan penatua:
a) Penatua yang
memerintah / memimpin secara biasa-biasa saja.
b) Penatua yang baik
pemerintahan / pimpinannya.
c) Penatua yang berjerih
payah dalam berkhotbah dan mengajar (memberitakan Firman Tuhan).
Jadi,
hormat dua kali lipat itu merupakan perbandingan antara hormat yang diberikan
kepada penatua kelompok a) dibandingkan dengan hormat yang diberikan kepada
penatua kelompok b). Dengan demikian tak ada perbandingan dengan hormat yang
diberikan kepada janda-janda.
William
Hendriksen: “A man who spends all his time and effort in kingdom-work (a
‘minister’) certainly deserves ‘a good salary.’ Not that the word
‘honor’ in and by itself has here the meaning ‘honorarium.’ It means
‘honor.’ But it would be evidence of lack of honor if the church should
demand of a man who devotes himself entirely to spiritual work that he do this
gratis” [= Seseorang yang menghabiskan seluruh waktu dan usahanya dalam
pekerjaan kerajaan (seorang ‘pendeta’) pasti layak mendapatkan ‘gaji yang
baik’. Bukan bahwa kata ‘honor’ itu sendiri di sini mempunyai arti
‘uang jasa / imbalan’. Itu berarti ‘kehormatan’. Tetapi merupakan
bukti tidak adanya rasa hormat jika gereja menuntut seseorang yang membaktikan
dirinya sepenuhnya bagi pekerjaan rohani untuk melakukan hal itu secara
cuma-cuma] - hal 181.
Lenski
(hal 681) juga mempunyai pandangan yang sama dengan William Hendriksen, dan ia
mengatakan bahwa kata untuk ‘hormat’ di sini adalah TIMEE, sedangkan kata
untuk ‘upah / gaji’ adalah MISTHOS.
Tetapi
ada banyak penafsir yang menganggap bahwa kata ‘honor’ artinya memang
mencakup baik ‘rasa hormat’ maupun ‘upah / gaji / honorarium’.
Wycliffe:
“‘Double
honor.’ ‘Honor’ has two meanings: ‘Honor’ and ‘honorarium’ or
‘compensation.’ Both meanings are doubtless intended here. In the case of
those who labor in preaching and teaching, their whole time is thus devoted, and
they are deserving of compensation from the church (see 1 Tim 5:18). The word
‘double’ seems to argue for a sufficient or appropriate recompense, rather
than a double amount. In the LXX, in Isa 40:2, the same word is used, and it
carries in context the idea of ‘full equivalent.’ Note also Paul’s
parallel usage of ‘honor’ in 1 Tim 6:1, where it is ‘all’ or ‘full
honor.’” [= ‘Kehormatan ganda’. ‘Kehormatan’ (honor) mempunyai
dua arti: ‘kehormatan’ (honor) dan ‘uang jasa’ (honorarium) atau
‘bayaran / upah / kompensasi’. Tak diragukan bahwa kedua arti dimaksudkan di
sini. Dalam kasus dari mereka yang berjerih payah dalam berkhotbah dan mengajar,
seluruh waktu mereka dibaktikan, dan mereka layak mendapat bayaran / upah /
kompensasi dari gereja (lihat 1Tim 5:18). Kata ‘ganda / dua kali lipat’
kelihatannya menganjurkan / mendesak untuk suatu upah / bayaran / kompensasi
yang cukup atau pantas, dari pada jumlah dua kali lipat. Dalam LXX, dalam Yes
40:2, kata yang sama digunakan, dan dalam kontext itu kata itu membawa gagasan
‘jumlah sepenuhnya’. Perhatikan juga penggunaan paralel oleh Paulus tentang
kata ‘kehormatan’ (honor) dalam 1Tim 6:1, dimana itu adalah ‘semua /
segala’ atau ‘kehormatan sepenuhnya’].
Yes 40:2
- “tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa
perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah
menerima hukuman dari tangan TUHAN dua kali lipat karena segala
dosanya”.
1Tim 6:1
- “Semua orang yang menanggung beban perbudakan hendaknya menganggap tuan
mereka layak mendapat segala penghormatan, agar nama Allah dan ajaran
kita jangan dihujat orang”.
Adam
Clarke:
“‘Double honour’. Diplees
timees. Almost every critic of note allows that timee
here signifies ‘reward, stipend, wages.’ Let him have a double or a
larger salary who rules well” (= ‘Kehormatan ganda’. Diplees timees.
Hampir setiap pengkritik catatan mengijinkan bahwa timee
di sini berarti ‘pahala, gaji, upah’. Hendaklah ia yang memerintah dengan
baik mendapat gaji dobel atau gaji yang lebih besar).
Barnes’
Notes: “‘Be counted worthy
of double honour.’ Of double respect; that is, of a high degree of
respect; ... compare 1 Thes 5:12-13. From the quotation which is made in 1 Tim.
5:18, in relation to this subject, it would seem probable that the apostle
had some reference also to their support, or to what was necessary for their
maintenance. There is no improbability in supposing that all the officers of
the church, of whatever grade or rank, may have had some compensation,
corresponding to the amount of time which their office required them to devote
to the service of the church. Nothing would be more reasonable than that, if
their duties in the church interfered with their regular employments in their
secular calling, their brethren should contribute to their support; compare
notes on 1 Cor. 9” (= ‘Dianggap layak untuk kehormatan / honor ganda’.
Rasa hormat ganda; yaitu suatu rasa hormat tingkat tinggi; ... bandingkan dengan
1Tes 5:12-13. Dari kutipan yang dibuat dalam 1Tim 5:18, berhubungan dengan pokok
ini, kelihatan memungkinkan bahwa sang rasul menghubungkan ini juga dengan
tunjangan mereka, atau dengan apa yang perlu untuk pemeliharaan / biaya hidup
mereka. Tidak ada ketidak-mungkinan dalam menduga bahwa semua pejabat
gereja, dari tingkat apapun, mungkin mendapatkan suatu bayaran / upah /
kompensasi, sesuai dengan jumlah waktu yang dituntut untuk dibaktikan oleh
jabatan / tugas mereka kepada pelayanan gereja. Tidak ada yang lebih masuk akal
dari pada bahwa, jika kewajiban mereka dalam gereja mencampuri / mengganggu
pekerjaan biasa mereka dalam panggilan sekuler, maka saudara-saudara mereka
harus menyumbang tunjangan mereka; bandingkan dengan catatan tentang 1Kor 9).
1Kor
9:4-14 - “(4) Tidakkah kami mempunyai hak untuk makan dan minum? (5)
Tidakkah kami mempunyai hak untuk membawa seorang isteri Kristen, dalam
perjalanan kami, seperti yang dilakukan rasul-rasul lain dan saudara-saudara
Tuhan dan Kefas? (6) Atau hanya aku dan Barnabas sajakah yang tidak mempunyai
hak untuk dibebaskan dari pekerjaan tangan? (7) Siapakah yang pernah turut
dalam peperangan atas biayanya sendiri? Siapakah yang menanami kebun anggur dan
tidak memakan buahnya? Atau siapakah yang menggembalakan kawanan domba dan yang
tidak minum susu domba itu? (8) Apa yang kukatakan ini bukanlah hanya
pikiran manusia saja. Bukankah hukum Taurat juga berkata-kata demikian? (9)
Sebab dalam hukum Musa ada tertulis: ‘Janganlah engkau memberangus mulut
lembu yang sedang mengirik!’ Lembukah yang Allah perhatikan? (10) Atau
kitakah yang Ia maksudkan? Ya, untuk kitalah hal ini ditulis, yaitu pembajak
harus membajak dalam pengharapan dan pengirik harus mengirik dalam pengharapan
untuk memperoleh bagiannya. (11) Jadi, jika kami telah menaburkan benih
rohani bagi kamu, berlebih-lebihankah kalau kami menuai hasil duniawi dari pada
kamu? (12) Kalau orang lain mempunyai hak untuk mengharapkan hal itu dari
pada kamu, bukankah kami mempunyai hak yang lebih besar? Tetapi kami tidak
mempergunakan hak itu. Sebaliknya, kami menanggung segala sesuatu, supaya jangan
kami mengadakan rintangan bagi pemberitaan Injil Kristus. (13) Tidak tahukah
kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya
dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian
mereka dari mezbah itu? (14) Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa
mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu”.
1Tes 5:12-13
- “(12) Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang
memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu; (13) dan supaya kamu
sungguh-sungguh menjunjung mereka dalam kasih karena pekerjaan mereka. Hiduplah
selalu dalam damai seorang dengan yang lain”.
Kata
Yunani yang digunakan untuk ‘menghormati’ di sini berbeda dengan yang
digunakan dalam 1Tim 5:17. Kata Yunani yang digunakan di sini adalah EIDENAI,
yang terjemahan hurufiahnya adalah ‘to know’
(= mengetahui)! Tetapi hanya KJV yang menterjemahkan ‘to
know’ (= mengetahui), sedangkan RSV/NIV menterjemahkan ‘to respect’ (= menghormati), dan NASB menterjemahkan ‘appreciate’
(= menghargai).
Sekalipun
terjemahan hurufiahnya adalah ‘to know’
(= mengetahui) tetapi memang bisa diartikan ‘to
respect’ / ‘to appreciate’
(= menghormati / menghargai). Kalau mau tahu penjelasannya bisa melihat tafsiran
dari Vincent tentang 1Tes 5:12 dan 1Tes 4:4 di bawah ini (tetapi tidak saya beri
terjemahannya).
Vincent
(tentang 1Tes 5:12): “‘Know’.
eidenai. See the
note at 1 Thess 4:4. Recognise them for what they are, and as entitled to
respect because of their office” (= ).
1Tes
4:4 - “supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi
isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan”.
KJV:
‘That every one of you should know (Yunani: EIDENAI) how to
possess his vessel in sanctification and honour’ (= ).
Vincent
(tentang 1Tes 4:4): “Eidenai
is used Hebraistically in the sense of ‘have a care for, regard,’
as 1 Thess 5:12, ‘Know them that labour,’ etc.: recognise their claim to
respect, and hold them in due regard. Compare Gen 39:6: Potiphar ouk eedei toon kath'
heauton ouden ‘gave himself no concern
about anything that he had.’ 1 Sam 2:12: the sons of Eli ouk
eidotes ton kurion ‘paying
no respect to the Lord.’ Ex 1:8: Another King arose hos ouk eedei ton
Iooseef ‘who did not recognise or regard Joseph’ did
not remember his services and the respect in which he had been held” (=
).
Bahkan
Calvin yang telah saya tunjukkan di atas menafsirkan bahwa ‘double
honor’ (= kehormatan ganda) merupakan perbandingan antara hormat yang
diberikan kepada janda-janda dan kepada penatua-penatua, juga menganggap bahwa
‘hormat’ itu mencakup suatu tunjangan, yang merupakan suatu kepedulian dari
gereja terhadap orang-orang yang mengurusi gereja.
Calvin: “For
preserving the good order of the Church, it is likewise highly necessary that
elders should not be neglected, but that due regard should be paid to them; for
what could be more unfeeling than to have no care about those who have the care
of the whole Church?” (= Untuk menjaga tata tertib yang baik dari
Gereja, juga merupakan sesuatu yang sangat perlu bahwa penatua-penatua tidak
boleh diabaikan, tetapi hormat yang seharusnya harus diberikan kepada mereka;
karena apa yang bisa lebih tak berperasaan dari pada tidak mempedulikan mereka
yang mengurusi seluruh Gereja?).
Calvin: “But
in order to shew that he does not recommend masks, he adds, ‘who rule well;’ that
is, who faithfully and laboriously discharge their office. For, granting that a
person should a hundred times obtain a place, and though he should boast of his
title; yet, if he do not also perform his duty, he will have no right to demand
that he shall be supported at the expense of the Church. In short, he means that
honor is not due to the title, but to the work performed by those who are
appointed to the office”
(= Tetapi untuk menunjukkan bahwa ia tidak memuji topeng / kedok, ia menambahkan
‘yang memerintah dengan baik’ / ‘yang baik pimpinannya’; yaitu, yang
dengan setia dan dengan berjerih payah melaksanakan tugas mereka. Karena
sekalipun seseorang mendapatkan suatu tempat / kedudukan 100 x, dan sekalipun ia
membanggakan kedudukannya; tetapi jika ia tidak juga melakukan kewajibannya, ia
tidak mempunyai hak untuk ditunjang atas biaya Gereja. Singkatnya, ia
memaksudkan bahwa kehormatan itu tidak diberikan pada kedudukan / jabatan,
tetapi pada pekerjaan / pelayanan yang dilakukan oleh mereka yang ditetapkan
bagi jabatan itu).
2)
“terutama
mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar.”.
a)
Dari kata-kata ini muncul ajaran tentang adanya 2 kelompok penatua, yaitu
yang hanya memerintah gereja (majelis gereja), dan yang memerintah maupun
mengajar (pendeta / penginjil).
Calvin:
“We may learn from this, that there were at that time two kinds of
elders; for all were not ordained to teach. The words plainly mean, that there
were some who ‘ruled well’ and honorably, but who did not hold the office of
teachers” (= Kita bisa melajar dari sini, bahwa pada saat itu ada dua
jenis penatua; karena tidak semua ditahbiskan untuk mengajar. Kata-kata itu
secara jelas berarti bahwa ada beberapa / sebagian yang ‘memerintah dengan
baik’ dan dengan terhormat, tetapi yang tidak memegang jabatan pengajar).
Ada
yang menolak pembedaan 2 kelompok penatua ini. Contohnya: Matthew Henry. Ia
menganggap semua penatua memerintah dan mengajarkan Firman Tuhan.
Juga
ada beberapa penafsir seperti Adam Clarke dan A. T. Robertson yang menganggap
bahwa pada saat itu (abad pertama) belum ada pembedaan antara penatua yang hanya
memerintah, dan penatua yang memerintah dan mengajar. Tetapi William Hendriksen
dalam buku tafsirannya tentang bagian ini (hal 180) mengatakan bahwa pada jaman
Paulus itu pembedaan itu sudah ada.
b)
Dari kata-kata ini jelas bahwa penatua yang berjerih payah dalam
memberitakan Firman Tuhan lebih dihargai.
Calvin:
“Yet he prefers ‘those who
labor in word and doctrine,’ that is,
those who are diligent in teaching the word; for those two terms, ‘word’
and ‘doctrine,’ signify
the same thing, namely, the preaching of the word” (= Tetapi ia
lebih memilih ‘mereka yang berjerih payah dalam firman dan doktrin /
ajaran’, yaitu, mereka yang rajin dalam mengajarkan firman; karena kedua
istilah itu, ‘firman’ dan ‘doktrin / ajaran’, menunjuk pada hal yang
sama, yaitu pemberitaan firman).
c)
Gereja yang tidak mau mencukupi kebutuhan hidup pendetanya telah ditipu
oleh setan.
Calvin:
“he enjoins that support shall be provided chiefly for pastors, who are
employed in teaching. Such is the ingratitude of the world, that very little
care is taken about supporting the ministers of the word; and Satan, by this
trick, endeavors to deprive the Church of instruction, by terrifying many,
through the dread of poverty and hunger, from bearing that burden” (= ia
memerintahkan bahwa tunjangan disediakan terutama untuk pendeta-pendeta, yang
dipekerjakan dalam pengajaran. Merupakan suatu sikap tidak tahu terima kasih
dari dunia, bahwa sangat sedikit perhatian yang diambil tentang pemberian
tunjangan bagi pelayan-pelayan firman; dan Iblis, dengan akal / muslihat ini,
berusaha untuk menghilangkan pengajaran dari Gereja, dengan membuat banyak orang
takut untuk memikul beban itu, melalui rasa takut pada kemiskinan dan kelaparan).
Tetapi
perlu diingat bahwa setan juga melakukan sebaliknya. Pada waktu pendeta-pendeta
bukan hanya dicukupi, tetapi diberi kebutuhan hidup yang sangat berlebihan, maka
setan mendorong banyak orang, tanpa dipanggil Tuhan, untuk menjadi
‘hamba-hamba Tuhan’! Ini jelas merupakan sesuatu yang bahkan lebih merusak
lagi bagi gereja! Karena itu, gereja harus betul-betul selektif dalam memilih
hamba Tuhan / pendeta.
3)
“Bukankah Kitab Suci berkata: ‘Janganlah engkau memberangus mulut lembu
yang sedang mengirik,’ dan lagi ‘seorang pekerja patut mendapat upahnya.’”.
a)
Dalam kalimat ini Paulus mengutip dari:
·
Ul 25:4 - “Janganlah engkau
memberangus mulut lembu yang sedang mengirik.’”.
·
Mat 10:10 - “Janganlah
kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai,
kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya”.
·
Luk 10:7 - “Tinggallah
dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang
pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah”.
b)
Ini merupakan bukti bahwa Injil Lukas / Matius sedang ada pada saat itu,
dan dianggap sebagai Kitab Suci oleh Paulus.
Wycliffe:
“‘Pekerja’.
Bentuk orisinil yang persis dari kutipan itu ditemukan hanya dalam Lukas.
Pengutipan itu di sini, ‘Kitab Suci berkata’, menunjukkan bahwa Injil Lukas
sudah ada dan dianggap sebagai Kitab Suci).
Catatan:
dalam bahasa Indonesia, kata-kata dalam ay 18
ini sama persis, baik dengan yang ada dalam Mat 10:10, maupun dengan yang
ada dalam Luk 10:7. Tetapi dalam bahasa Yunani maupun bahasa Inggris, hanya
yang dalam Luk 10:7 yang sama persis dengan yang ada dalam ay 18 ini,
sedangkan yang dalam Mat 10:10 agak berbeda sedikit. Ay 18 dan Luk 10:7
mengatakan ‘upah’ (Yunani: MISTHOU), sedangkan Mat 10:10 mengatakan
‘makanan’ (Yunani: TROPHES).
Ay 18 (NIV): ‘The
worker deserves his wages’ (= Si pekerja layak mendapat upahnya).
Luk 10:7
(NIV): ‘the worker deserves his wages’
(= si pekerja layak mendapat upahnya).
Mat 10:10 (NIV): ‘the laborer
deserves his food’ (= si pekerja layak mendapat makanannya).
Albert
Barnes memberi komentar yang kurang lebih sama dengan Wycliffe. Tetapi Barnes
menambahkan Injil Matius sebagai kemungkinan tambahan, bukan hanya Injil Lukas
saja. Dan ia menambahkan bahwa kalau Paulus mengutip dari Matius / Lukas, maka
itu menunjukkan bahwa Paulus menegaskan bahwa Injil itu ditulis dibawah
pengilhaman Roh Kudus.
A.
T. Robertson memberi kemungkinan yang berbeda dengan mengatakan bahwa, atau
Paulus mengutip dari Injil Lukas, atau Paulus mengutip kata-kata Yesus yang
tidak / belum tertulis, seperti yang terjadi dalam Kis 20:35. Tetapi saya
berpendapat, kalau pengutipan itu dari kata-kata Yesus yang tidak tertulis,
seperti dalam Kis 20:35, maka tidak mungkin dikatakan ‘Kitab Suci berkata’
seperti di sini.
Bdk.
Kis 20:35 - “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa
dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus
mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan:
Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.’”.
Lalu
Calvin mempunyai pandangan lain lagi.
Calvin:
“‘The
laborer is worthy of his hire.’ He
does not quote this as a passage of Scripture, but as a proverbial saying, which
common sense teaches to all. In like manner, when Christ said the same thing to
the Apostles, (Matthew 10:10,) he brought forward nothing else than a statement
approved by universal consent” [=
‘Seorang pekerja patut mendapat upahnya’. Ia tidak mengutip ini sebagai
suatu text Kitab Suci, tetapi sebagai suatu pepatah / peribahasa, yang diajarkan
oleh akal sehat kepada semua orang. Dengan cara yang sama, ketika Kristus
mengatakan hal yang sama kepada Rasul-rasul, (Mat 10:10), Ia mengajukan tidak
lain dari suatu pernyataan yang disetujui oleh persetujuan universal].
Jadi,
Calvin beranggapan bahwa kata-kata ‘Kitab
Suci berkata’ dalam ay 18 ini hanya berlaku untuk Ul 25:4nya, tetapi tidak
berlaku untuk Luk 10:7 / Mat 10:10nya.
Catatan:
dalam terjemahan Kitab Suci Indonesia bunyinya adalah: “Bukankah Kitab Suci berkata: ‘Janganlah engkau
memberangus mulut lembu yang sedang mengirik,’ dan lagi ‘seorang pekerja patut mendapat upahnya.’”.
Kata
‘lagi’ kelihatannya menunjukkan
bahwa yang merupakan kutipan dari Kitab Suci bukan hanya Ul 25:4nya tetapi
juga Mat 10:10 / Luk 10:7nya. Tetapi sebetulnya kata ‘lagi’
(yang saya coret) itu tidak ada.
c)
Dalam Ul 25:4, tidak terlihat kalau Musa memaksudkan ‘pekerja
gereja / pendeta’; kelihatannya ia betul-betul memaksudkan ‘lembu’.
Ul 25:4
ini boleh dikatakan ‘tidak punya kontext’, karena ayat-ayat sebelumnya
maupun sesudahnya kelihatannya sama sekali tak ada hubungannya dengan ayat itu.
Jadi, kita tak bisa melihat dari kontextnya apakah Musa memaksudkan betul-betul
lembu atau memaksudkan ‘pendeta’ di bawah gambaran lembu itu. Tetapi
pengutipan oleh Paulus, jelas memastikan bahwa pendeta pasti tercakup dalam
gambaran lembu itu.
Jamieson,
Fausset & Brown: “The
Scripture (Deut 25:4; 1 Cor 9:9). The Spirit often designs a fuller meaning
under literal precepts” [= ‘Kitab Suci’ (Ul 25:4; 1Kor 9:9). Roh (Kudus)
sering merancangkan suatu arti yang lebih penuh di bawah suatu perintah yang
hurufiah].
Barnes’
Notes: “‘For
the Scripture saith.’ This is adduced as a reason why a church should show all
due respect and care for its ministers. The reason is, that as God took care to
make provision for the laboring ox, much more should due attention be paid to
those who labor for the welfare of the church” (= ‘Karena Kitab Suci
berkata’. Ini dikemukakan sebagai suatu alasan mengapa suatu gereja harus
menunjukkan seluruh hormat dan perhatian yang seharusnya bagi pendeta-pendeta /
pelayan-pelayannya. Alasannya ialah, bahwa seperti Allah memperhatikan untuk
memberi persediaan untuk lembu yang sedang bekerja, lebih-lebih perhatian yang
seharusnya harus diberikan kepada mereka yang bekerja bagi kesejahteraan gereja).
Bible
Knowledge Commentary (tentang Ul 25:4):
“The
command not to muzzle an ox while it is treading ... stressed kindness and
fairness to the animals that helped a person earn his daily bread. Paul’s use
of this verse (1 Cor 9:9) did not imply that God did not care about oxen. Paul
meant that if God cares about a working ox, how much more He cares about human
laborers, especially those laboring for His kingdom” [= Perintah / hukum
untuk tidak memberangus seekor lembu yang sedang mengirik ... menekankan
kebaikan dan keadilan terhadap binatang-binatang yang membantu seseorang untuk
mendapatkan roti hariannya. Penggunaan ayat ini oleh Paulus (1Kor 9:9) tidak
menyiratkan bahwa Allah tidak mempedulikan lembu. Paulus memaksudkan bahwa jika
Allah peduli pada lembu yang bekerja, alangkah lebihnya Ia peduli kepada
pekerja-pekerja manusia, khususnya mereka yang berjerih payah bagi kerajaanNya].
1Kor 9:9-10
- “(9) Sebab dalam hukum Musa ada tertulis: ‘Janganlah engkau memberangus
mulut lembu yang sedang mengirik!’ Lembukah yang Allah perhatikan? (10)
Atau kitakah yang Ia maksudkan? Ya, untuk kitalah hal ini ditulis, yaitu
pembajak harus membajak dalam pengharapan dan pengirik harus mengirik dalam
pengharapan untuk memperoleh bagiannya”.
Calvin:
“‘Thou
shalt not muzzle the ox.’ This is a political precept which recommends to us equity and humanity
in general; ... if he forbids us to be unkind to brute animals, how much greater
humanity does he demand towards men! ... It follows that they are cruel, and
have forgotten the claims of equity, who permit cattle to suffer hunger; and
incomparably worse are they that act the same part towards men, whose sweat they
suck out for their own accommodation. And how intolerable is the ingratitude of
those who refuse support to their pastors, to whom they cannot pay an
adequate salary!” (= ‘Janganlah
engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik’. Ini merupakan suatu
peraturan hikmat praktis yang menganjurkan kita keadilan dan kemanusiaan secara
umum; ... jika ia melarang kita untuk bersikap kejam terhadap binatang yang tak
berakal, betapa lebihnya rasa kemanusiaan yang Ia tuntut terhadap manusia! ...
Karena itu, mereka adalah kejam, dan telah melupakan tuntutan keadilan, yang
mengijinkan ternak untuk menderita kelaparan; dan lebih buruk secara tak
terbandingkan jika mereka bertindak secara sama terhadap manusia, yang
keringatnya mereka hisap bagi kenyamanan mereka. Dan alangkah tidak bisa
ditoleransinya rasa tidak tahu terima kasih dari mereka yang menolak memberi
tunjangan kepada pendeta-pendeta mereka, bagi siapa mereka tidak bisa
memberi suatu gaji yang cukup!).
Catatan:
saya lebih setuju kalau kata-kata ‘cannot’
(= tidak bisa) diganti dengan ‘will
not’ (= tidak mau). Kalau gerejanya memang ‘tidak mampu’, maka gereja
itu tidak bisa disalahkan. Yang salah adalah kalau gereja itu mampu tetapi tetap
‘tidak mau’ mencukupi kebutuhan pendetanya!
d)
Ay 18 ini merupakan bukti bahwa kata ‘hormat’
/ ‘dihormati’ dalam ay 17
mencakup pemberian tunjangan / honorarium.
Adam
Clarke: “‘The
Scripture saith, Thou shalt not muzzle the ox.’ This is a manifest proof that
by timee, honour, in
the preceding verse, the apostle means salary or wages: ‘Let the elders that
rule well be accounted worthy of double honour,’ a larger salary than any
of the official widows mentioned before, for ‘the labourer is worthy of
his hire.’ The maintenance of every man in the church should be in proportion
to his own labour, and the necessities of his family. He that does no work
should have no wages. In the church of Christ there never can be a sinecure.
They who minister at the altar should live by the altar; the ox that treadeth
out the corn should not be muzzled; the labourer is worthy of his hire: but the
altar should not support him who does not minister at it; if the ox won’t
tread out the corn, let him go to the common or be muzzled; if the man will not
labour, let him have no hire” (= ‘Kitab Suci berkata, Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang
mengirik’. Ini merupakan bukti yang nyata / jelas bahwa dengan TIMEE,
‘hormat’, dalam ayat sebelumnya, sang rasul memaksudkan gaji atau upah:
‘Hendaklah penatua yang memerintah dengan baik dianggap layak untuk kehormatan
ganda’, suatu gaji yang lebih tinggi dari janda-janda resmi yang disebutkan
sebelumnya, karena ‘seorang pekerja patut mendapat upahnya’. Pemeliharaan
dari setiap orang dalam gereja harus sebanding dengan jerih payahnya, dan
kebutuhan dari keluarganya. Ia yang tidak melakukan pekerjaan tidak boleh
mendapat upah. Dalam gereja Kristus tidak pernah bisa ada seorang pejabat gereja
yang dibayar tanpa melakukan pekerjaan apapun. Mereka yang melayani mezbah harus
hidup dari mezbah itu; lembu yang mengirik jagung / gandum tidak boleh
diberangus; pekerja layak mendapat upahnya: tetapi mezbah tidak boleh menunjang
dia yang tidak melayani padanya; jika lembu tidak mau mengirik jagung / gandum,
hendaklah ia ada dalam keadaan biasa dan diberangus; jika seseorang tidak mau
bekerja, hendaklah ia tidak mendapat upah).
Ada
2 hal yang ingin saya tekankan dari kata-kata Adam Clarke ini:
1.
Pemeliharaan / upah / gaji dari pekerja gereja / pendeta harus sebanding
dengan jerih payahnya. Herannya, dalam kebanyakan gereja, pendeta hanya khotbah
sebulan 1 x, tetapi tetap menerima tunjangan yang besar! Setengah kutipan bagian
akhir dari Adam Clarke di atas harus diperhatikan!
2.
Pemeliharaan / upah / gaji dari pekerja gereja / pendeta harus sebanding
dengan kebutuhan keluarganya.
a.
Karena itu, saya lebih setuju bahwa untuk pendeta, istilah yang tepat
bukan ‘gaji’ atau ‘upah’, tetapi ‘biaya hidup’ (kalau kita melihat
1Kor 9:4-14, jelas bahwa istilah ‘biaya hidup’ ini memang Alkitabiah).
b.
Pendeta yang anaknya hanya satu, tentu mendapat lebih sedikit dari yang
anaknya tiga. Tetapi saya juga menganggap bahwa pendeta itu sendiri harus tahu
diri dalam urusan ‘membuat anak’. Jangan punya terlalu banyak anak, supaya
tidak memberati gereja.
-o0o-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali