Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)

Jum’at, tanggal 23 Januari 2009, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(7064-1331 / 6050-1331)

 

I Timotius 4:1-16 (4)

 

1Tim 4:12-14 - “(12) Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. (13) Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar. (14) Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua”.

 

Ay 12: Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.

 

1)            Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda.

Timotius memang masih relatif muda; Vincent memperkirakan usia Timotius adalah sekitar 38-40 tahun.

Dan Calvin mengatakan bahwa Paulus tak menghendaki kalau usia muda dari Timotius menyebabkan ia tidak dihormati, asalkan dalam hal-hal lain ia bertingkah laku sesuai dengan tingkah laku seorang pelayan Tuhan.

Penerapan: jangan memandang rendah seorang hamba Tuhan hanya karena ia muda, dan jangan menghormati seorang hamba Tuhan hanya karena ia tua. Yang menjadi kriteria untuk menghormati dia atau tidak, adalah ajarannya dan tingkah lakunya.

 

2)   Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.

 

a)      Persoalan terjemahan KJV.

Dalam KJV ada tambahan ‘in spirit’ (= dalam roh).

KJV: ‘but be thou an example of the believers, in word, in conversation, in charity, in spirit, in faith, in purity (= tetapi jadilah kamu teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataan, dalam tingkah laku, dalam kasih, dalam roh, dalam iman, dalam kemurnian).

Catatan:

·         kata ‘conversation’ dalam bahasa Inggris kuno artinya bukan ‘pembicaraan’ seperti dalam bahasa Inggris modern, tetapi ‘tingkah laku’.

·         Saya tak tahu dari mana KJV mendapatkan kata-kata ‘in spirit’ (= dalam roh). Mungkin dari manuscript-manuscript lain. Dalam RSV/NIV/NASB itu tidak ada.

Wycliffe: “‘In spirit’ is not in the better texts” (= Kata-kata ‘dalam roh’ tak ada dalam manuscript-manuscript yang lebih baik).

 

b)   Ini adalah hal-hal yang harus dilakukan oleh Timotius supaya, sekalipun masih muda, ia tidak dianggap rendah.

 

c)   Menjadi teladan dalam perkataan, misalnya: tidak mengeluarkan kata-kata kotor, tidak menyebut nama Allah dengan sia-sia, tidak berdusta, memfitnah, menyebar gosip, dan sebagainya.

 

d)   Menjadi teladan dalam tingkah laku dan dalam kasih, saya kira cukup jelas dan tak perlu dibahas mendetail.

 

e)   Kata-kata ‘dalam kesetiaanmu’ terjemahan hurufiahnya adalah seperti dalam KJV/RSV/NIV/NASB, yaitu ‘in faith’ (= dalam iman). Tetapi dalam banyak kasus dalam Kitab Suci, kata ini bisa juga diartikan ‘kesetiaan’ seperti dalam Kitab Suci Indonesia.

 

Adam Clarke: “‘In faith.’ En pistei. This word pistis is probably taken here for fidelity, a sense which it often bears in the New Testament” (= ‘Dalam iman’. EN PISTEI. Kata PISTIS di sini ini mungkin diartikan sebagai ‘kesetiaan’, suatu arti yang sering dikandung oleh kata ini dalam Perjanjian Baru).

 

Kalau diambil arti ‘dalam iman’ maka artinya Timotius harus menjadi teladan dalam iman. Jadi, misalnya ada keadaan buruk yang mendatang, Timotius harus bisa tetap beriman, tenang, tidak bingung, gelisah dan sebagainya (bdk. Mat 8:23-27). Juga pada waktu mengalami hal yang tidak enak, ia harus bisa beriman pada janji Tuhan, misalnya Ro 8:28.

Sedangkan kalau diambil arti ‘kesetiaan’, ini menunjukkan bahwa Timotius harus setia dalam segala hal, seperti setia kepada Allah, setia terhadap Firman Tuhan, setia dalam penggunaan karunia-karunia yang ada padanya, setia dalam hal uang, dan sebagainya.

 

f)    Menjadi teladan ‘dalam kemurnian’.

Barnes menekankan ini dalam persoalan sex. Ia juga mengatakan bahwa secara sangat tidak benar Gereja Roma Katolik mengartikan ini sebagai sesuatu yang mendukung kehidupan celibat / tidak menikah.

Tetapi Vincent mengatakan bahwa sekalipun kata ini selalu diterapkan berhubungan dengan moral, tetapi tidak dibatasi dalam dosa-dosa kedagingan, tetapi bisa mencakup kemurnian motivasi (bdk. Fil 1:17) maupun tindakan. Bisa juga digunakan dalam arti kemurnian / kesucian hati / jiwa (Yak 4:8  1Pet 1:22  1Yoh 3:3).

 

Ay 13: Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar.

 

1)            ‘Sementara itu, sampai aku datang’.

A. T. Robertson mengatakan bahwa arti sebenarnya bukan ‘sampai aku datang’ tetapi ‘sementara aku sedang mendatang’. Kalau ini benar, maka rupanya Paulus sedang dalam perjalanan ke tempat dimana Timotius berada.

 

Calvin: Till I come.’ This reference to the time gives additional weight to the exhortation; for, while Paul hoped that he would come soon, yet he was unwilling, meanwhile, that Timothy should remain unemployed even for a short time; how much more ought we to look forward diligently to our whole life!” [= ‘Sampai aku datang’. Keterangan yang berhubungan dengan waktu ini memberi beban tambahan pada desakan / nasehat ini; karena sementara Paulus berharap untuk segera datang, tetapi ia tidak mau bahwa sementara itu Timotius tetap menganggur / bermalas-malasan bahkan untuk suatu waktu yang singkat; alangkah lebihnya kita harus memandang ke depan (?) dengan rajin dalam seluruh kehidupan kita!].

 

2)            ‘Bertekunlah’.

KJV: ‘give attendance’ (= berilah perhatian).

RSV: ‘attend’ (= perhatikanlah).

NIV: ‘devote yourself’ (= baktikanlah dirimu).

NASB: ‘give attention’ (= berilah perhatian).

 

Calvin: He knew Timothy’s diligence, and yet he recommends to him diligent reading of the Scriptures. How shall pastors teach others if they be not eager to learn? And if so great a man is advised to study to make progress from day to day, how much more do we need such an advice? Woe then to the slothfulness of those who do not peruse the oracles of the Holy Spirit by day and night, in order to learn from them how to discharge their office! (= Ia tahu kerajinan Timotius, tetapi ia menganjurkan dia pembacaan Kitab Suci dengan rajin. Bagaimana pendeta-pendeta mengajar orang-orang lain jika mereka sendiri tidak sangat ingin belajar? Dan jika seseorang yang begitu besar / agung dinasehati untuk belajar untuk mendapat kemajuan dari hari ke hari, alangkah lebihnya kita membutuhkan nasehat seperti itu? Maka celakalah kemalasan mereka yang tidak membaca dengan teliti sabda Roh Kudus siang dan malam, untuk mempelajari darinya bagaimana melaksanakan tugas mereka!).

 

3)         ‘dalam membaca Kitab-kitab Suci’.

KJV/Lit: ‘to reading’ (= pada pembacaan).

Jadi, sebetulnya kata-kata ‘Kitab-kitab Suci’ tidak ada. Tetapi pasti ini yang dimaksudkan.

 

a)   Tak ada hamba Tuhan yang tidak perlu / tidak harus menggunakan Kitab Suci.

Matthew Henry: “Though Timothy had extraordinary gifts, yet he must use ordinary means” (= Sekalipun Timotius mempunyai karunia-karunia yang luar biasa, tetapi ia harus menggunakan cara / jalan yang biasa).

Ini merupakan sesuatu yang harus diperhatikan oleh gereja-gereja / hamba-hamba Tuhan, yang karena mempunyai karunia-karunia yang bersifat mujijat, seperti bahasa Roh dan bernubuat, lalu mengabaikan Kitab Suci sendiri! Apalagi perlu dipertimbangkan juga bahwa belum tentu karunia-karunia yang mereka miliki itu asli!

 

b)   A. T. Robertson mengatakan bahwa yang ditekankan adalah pembacaan Kitab Suci di depan umum.

Bdk. Kis 13:15 - “Setelah selesai pembacaan dari hukum Taurat dan kitab nabi-nabi, pejabat-pejabat rumah ibadat menyuruh bertanya kepada mereka: ‘Saudara-saudara, jikalau saudara-saudara ada pesan untuk membangun dan menghibur umat ini, silakanlah!’”.

 

Mungkin RSV/NIV/NASB mempunyai pengertian yang sama sehingga menterjemahkan seperti di bawah ini.

RSV/NIV/NASB: ‘to the public reading of scripture’ (= pada pembacaan umum Kitab Suci).

 

c)   Tetapi A. T. Robertson menambahkan bahwa arti ‘pembacaan Kitab Suci secara pribadi’, yaitu pembacaan Kitab Suci oleh Timotius sendiri, tidak dibuang.

 

4)            ‘membaca ... membangun ... mengajar’.

KJV: ‘reading ... exhortation ... doctrine’ (= pembacaan ... nasehat / desakan ... doktrin / ajaran).

RSV/NIV: ‘reading ... preaching ... teaching’ (= pembacaan ... khotbah / pemberitaan ... pengajaran).

NASB: ‘reading ... exhortation ... teaching’ (= pembacaan ... nasehat / desakan ... pengajaran).

 

A. T. Robertson: “‘To exhortation.’ (tee parakleesei), ‘to teaching’ (tee didaskalia). Two other public functions of the minister. Probably Paul does not mean for the exhortation to precede the instruction, but the reverse in actual public work. Exhortation needs teaching to rest it upon, a hint for preachers today” [= ‘Nasehat / desakan’ (tee parakleesei), ‘pengajaran’ (tee didaskalia). Dua fungsi umum yang lain dari seorang pelayan / pendeta. Mungkin Paulus tidak memaksudkan bahwa nasehat / desakan harus mendahului instruksi / pengajaran, tetapi kebalikannya dalam pekerjaan umum yang sesungguhnya. Nasehat / desakan membutuhkan pengajaran sebagai dasar, dan ini merupakan suatu petunjuk / isyarat bagi pengkhotbah-pengkhotbah jaman sekarang].

 

William Hendriksen: “if there be no pulpit-reading, exhorting, and teaching, divine worship is a misnomer. In the early church, when very few individuals owned private copies of the sacred writings, and all such material had to be copied by hand, one can imagine how important was the public reading of Scripture. But even today the careful selection, and clear and interpretative reading of an appropriate portion of Holy Writ is ‘the most important part of public worship.’ And even today if the choir takes so much time that little is left for exhorting and teaching, something is wrong” (= jika di sana tidak ada pembacaan mimbar, desakan / nasehat / peringatan, dan pengajaran, maka ibadah ilahi merupakan suatu istilah yang tidak cocok. Dalam gereja mula-mula, pada saat sangat sedikit orang mempunyai copy / salinan pribadi dari tulisan kudus, dan semua materi seperti itu harus disalin dengan tangan, bisa dibayangkan betapa pentingnya pembacaan Kitab Suci secara umum. Tetapi bahkan sekarang ini, seleksi yang hati-hati, dan pembacaan yang jelas dan bersifat menafsirkan dari suatu bagian yang cocok dari Tulisan Kudus merupakan ‘bagian yang paling penting dari ibadah umum’. Dan bahkan sekarang, jika paduan suara / acara puji-pujian mengambil begitu banyak waktu sehingga hanya sedikit yang tersisa untuk menasehati dan mengajar, maka ada sesuatu yang salah) - hal 159.

 

William Hendriksen: “Is there not another hint here that has value for today as well as for the times of Paul and Timothy, namely, that a minister should strive to effect a proper balance between the reading of Scripture, exhorting, and teaching? Some never exhort. Others never teach. And the reading of Scripture is prone to be regarded merely as a necessary preface to what the preacher himself is going to say” (= Apakah ini bukan merupakan suatu petunjuk / isyarat yang mempunyai nilai untuk jaman sekarang maupun untuk jaman Paulus dan Timotius, yaitu bahwa seorang pelayan / pendeta harus berjuang untuk menghasilkan suatu keseimbangan yang tepat antara pembacaan Kitab Suci, pemberian desakan / nasehat, dan pengajaran? Sebagian pendeta tidak pernah mendesak / menasehati. Yang lain tidak pernah mengajar. Dan pembacaan Kitab Suci cenderung dianggap semata-mata sebagai suatu pendahuluan yang perlu bagi apa yang akan dikatakan oleh sang pengkhotbah) - hal 159.

 

Calvin: “‘To exhortation, to doctrine.’ Lest it should be thought that careless reading was enough, he, at the same time, shews that it must be explained with a view to usefulness when he enjoins him to give earnest attention ‘to doctrine and exhortation;’ as if he enjoined him to learn in order to communicate to others. It is proper, also, to attend to this order, that he places ‘reading’ before ‘doctrine’ and ‘exhortation;’ for, undoubtedly, the Scripture is the fountain of all wisdom, from which pastors must draw all that they place before their flock (= ‘Desakan / nasehat, doktrin / ajaran’. Supaya jangan dianggap bahwa pembacaan yang sembrono sudah cukup, pada saat yang sama ia menunjukkan bahwa itu harus dijelaskan dengan maksud untuk kebergunaan pada waktu ia memerintahkannya untuk memberi perhatian yang sungguh-sungguh pada ‘doktrin / ajaran dan nasehat / desakan’; seakan-akan ia memerintahnya untuk belajar supaya bisa mengkomunikasikannya kepada orang-orang lain. Merupakan sesuatu yang benar juga untuk memperhatikan urut-urutan ini, bahwa ia menempatkan ‘pembacaan’ di depan ‘doktrin / ajaran’ dan ‘desakan / nasehat’; karena tak diragukan bahwa Kitab Suci adalah sumber dari semua hikmat, dari mana pendeta-pendeta harus mendapatkan semua yang mereka tempatkan di depan kawanan domba mereka).

 

Ay 14: Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua.

 

1)            Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu.

 

Calvin: To neglect a gift is carelessly to keep it unemployed through slothfulness, so that, having contracted rust it is worn away without yielding any profit. Let each of us, therefore, consider what gift he possesses, that he may diligently apply it to use (= Melalaikan / menyia-nyiakan suatu karunia berarti dengan ceroboh / sembrono membiarkan karunia itu tidak digunakan melalui kemalasan, sehingga karena berkarat karunia itu usang tanpa menghasilkan keuntungan apapun. Karena itu, hendaklah setiap kita mempertimbangkan karunia apa yang ia miliki, supaya ia bisa dengan rajin menggunakannya).

 

Saya berpendapat bahwa kata-kata ini tidak bisa diterapkan dalam karunia-karunia yang bersifat mujijat, seperti karunia bahasa Roh dan bernubuat, karena karunia-karunia ini hanya bisa digunakan pada saat Tuhan sendiri menghendakinya. Jadi, dari bagian ini kita tidak bisa / tidak boleh mengajar seseorang yang mempunyai karunia bahasa Roh untuk rajin menggunakannya. Tetapi dalam hal karunia-karunia yang bukan bersifat mujijat, seperti karunia-karunia berkhotbah, mengajar, menyanyi, berorganisasi, musik, dsb, maka kita harus dengan rajin menggunakannya. Camkan bahwa suatu alat yang tidak pernah dipakai justru akan cepat rusak. Misalnya: semprotan baygon yang lama tidak digunakan akan buntu.

 

2)   “karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua.

 

Ini tidak boleh diartikan bahwa Timotius menerima karunia oleh nubuat dan penumpangan tangan.

 

A. T. Robertson: “‘By prophecy.’ (dia profeeteias). Accompanied by prophecy (1 Tim. 1:18), not bestowed by prophecy” [= ‘oleh nubuat’. (dia profeeteias). Disertai oleh nubuat (1Tim 1:18), bukan diberikan oleh nubuat].

1Tim 1:18 - “Tugas ini kuberikan kepadamu, Timotius anakku, sesuai dengan apa yang telah dinubuatkan tentang dirimu, supaya dikuatkan oleh nubuat itu engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni”.

 

Vincent: “‘By prophecy,’ (dia profeeteias). ... The meaning is ‘by the medium of prophecy.’ The reference is to prophetic intimation given to Paul concerning the selection of Timothy for the ministerial office. These prophecies were given by the Holy Spirit who bestowed the ‘gift’; so that the gift itself and the prophecy concurred in attesting the candidate for ordination” [= ‘Oleh nubuat’, (dia profeeteias). ... Artinya adalah ‘oleh / dengan perantaraan nubuat’. Ini menunjuk pada pemberitahuan yang bersifat nubuat yang diberikan kepada Paulus berkenaan dengan pemilihan Timotius untuk tugas / jabatan pendeta. Nubuat-nubuat ini diberikan oleh Roh Kudus yang memberikan ‘karunia’ itu; sehingga karunia itu sendiri dan nubuatnya setuju dalam menyokong sang calon untuk pentahbisan].

 

A. T. Robertson: “‘With the laying on of the hands of the presbytery.’ (meta epitheseoos ton cheiroon tou presbuteriou). In Acts 13:2f, when Barnabas and Saul were formally set apart to the mission campaign (not then ordained as ministers, for they were already that), there was the call of the Spirit and the laying on of hands with prayer. Here again meta does not express instrument or means, but merely accompaniment. In 2 Tim. 1:6 Paul speaks only of his own laying on of hands, but the rest of the presbytery no doubt did so at the same time and the reference is to this incident” [= ‘Dengan penumpangan tangan sidang penatua’. (meta epitheseoos ton cheiroon tou presbuteriou). Dalam Kis 13:2-dst, pada waktu Barnabas dan Saulus secara formil dipisahkan untuk kampanye missi (bukan ditahbiskan sebagai pendeta / pelayan pada saat itu, karena mereka sudah adalah pendeta / pelayan), di sana ada panggilan dari Roh dan penumpangan tangan dengan doa. Di sini lagi-lagi kata Yunani META tidak menyatakan alat atau cara / jalan, tetapi semata-mata penyertaan. Dalam 2Tim 1:6 Paulus berbicara hanya tentang penumpangan tangannya, tetapi sisa dari penatua tak diragukan juga melakukannya pada saat yang sama dan bagian ini menunjuk pada peristiwa ini].

2Tim 1:6 - “Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu”.

 

Jadi, jelas A. T. Robertson mengatakan bahwa penumpangan tangan itu bukan alat / cara / jalan yang menyebabkan Timotius menerima karunia. Tetapi penumpangan tangan itu hanya menyertai pemberian karunia kepada Timotius. Pemberi karunia itu sendiri pasti adalah Roh Kudus / Tuhan sendiri.

Bdk. 1Kor 12:11 - “Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya”.

 

Karena itu, jangan menggunakan ayat ini sebagai dasar ajaran / praktek bahwa dengan menumpangkan tangan, seorang pendeta / hamba Tuhan bisa memberikan karunia tertentu kepada seseorang (biasanya karunia bahasa Roh). Ini omong kosong. Kalau itu tetap terjadi, perlu dipertanyakan: siapa yang memberi karunia itu, Tuhan, setan, atau orang itu sendiri?

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali