(Jl.
Dinoyo 19b, lantai 3)
Jum’at,
tanggal 21 November 2008, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331 /
6050-1331)
Ay 16: “Dan
sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: ‘Dia, yang telah menyatakan diriNya
dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diriNya kepada
malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal
Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan.’”.
1)
“Dan
sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita”.
KJV/NIV/NASB:
‘the mystery of godliness’ (= misteri dari kesalehan).
RSV:
‘the mystery of our religion’ (= misteri dari agama kita).
Calvin:
“That the truth of God might not, through the
ingratitude of men, be less esteemed than it ought, he extols its value, by
stating that ‘great is the secret of godliness;’ that is, because it does
not treat of mean subjects, but of the revelation of the Son of God, ‘in whom
are hidden all the treasures of wisdom.’ (Colossians 2:3.) From the greatness
and importance of such matters, pastors ought to judge of their office, that
they may devote themselves to the discharge of it with greater conscientiousness
and deeper reverence” [= Supaya kebenaran Allah, melalui rasa tak
tahu terima kasih manusia, tidak dihargai kurang dari seharusnya, ia memuji
nilainya, dengan menyatakan bahwa ‘agung / besarlah rahasia dari kesalehan’;
yaitu, karena kebenaran itu tidak membicarakan pokok-pokok yang hina / biasa,
tetapi tentang wahyu tentang Anak Allah, ‘dalam Dialah tersembunyi segala
harta hikmat’ (Kol 2:3). Dari kebesaran / keagungan dan pentingnya hal-hal
itu, pendeta-pendeta harus menilai jabatan / tugas mereka, supaya mereka bisa
membaktikan diri mereka sendiri untuk menunaikannya dengan ketelitian yang lebih
besar dan rasa takut / hormat yang lebih dalam].
2)
“Dia, yang telah menyatakan diriNya dalam rupa manusia”.
KJV:
‘God was manifest in the flesh’ (= Allah dinyatakan dalam
daging).
RSV:
‘He was manifested in the flesh’ (= Ia dinyatakan dalam
daging).
NIV: ‘He appeared in a body’ (= Ia muncul dalam auatu tubuh).
NASB: ‘He who was revealed
in the flesh’ (= Ia yang dinyatakan dalam daging).
Ada pertentangan yang
luar biasa tentang penulisan yang benar dari bagian ini, apakah kata pertama
dari anak kalimat ini adalah THEOS (= God / Allah) atau HOS (= who / yang) atau
Ho (which / yang).
Kalau yang benar adalah
kata THEOS (= God / Allah), maka bagian ini secara explicit menyatakan Yesus
sebagai Allah. Kalau yang benar adalah HOS (= who / yang) atau Ho (which /
yang), maka bagian ini hanya menyatakan hal itu secara implicit.
Albert Barnes termasuk
yang membela mati-matian penulisan THEOS (= God). Dan singkatnya argumentasinya
adalah sebagai berikut: Dalam penulisan manuscript-manuscript sering ada suatu
penyingkatan. Jadi, kata THEOS dituliskan hanya THS, kata PATER (= father)
dituliskan hanya PR, kata KURIOS (= Tuhan) dituliskan hanya KS. Tetapi di atas
kata singkatan itu diberi suatu garis tipis, untuk menunjukkan bahwa itu suatu
singkatan.
Sekarang perhatikan
singkatan dari kata Yunani THEOS, yaitu THS. Dalam huruf Yunani tulisannya
adalah q~.
Sedangkan kata HOS dituliskan singkatannya
sebagai HS, yang dalam huruf Yunani tulisannya adalah O~.
Keduanya harus ditambahi garis tipis di atasnya (saya tak bisa menuliskannya
dengan komputer saya). Kemiripan dari keduanya menyebabkan q~
(THEOS) bisa terbaca sebagai O~
(HOS).
Barnes’
Notes: “‘God.’
Probably there is no passage in the New Testament which has excited so much
discussion among critics as this, and none in reference to which it is so
difficult to determine the true reading. It is the only one, it is believed, in
which the microscope has been employed to determine the lines of the letters
used in a manuscript; and, after all that has been done to ascertain the exact
truth in regard to it, still the question remains undecided” (=
‘Allah’. Mungkin tidak ada text dalam Perjanjian Baru yang telah
membangkitkan begitu banyak diskusi di antara para pengkritik seperti text ini,
dan tidak ada yang begitu sukar untuk ditentukan sebagai pembacaan yang benar.
Ini dipercaya adalah satu-satunya text, dalam mana telah digunakan mikroskop
untuk menentukan garis-garis dari huruf-huruf yang digunakan dalam
manuscript-manuscript; dan setelah semua telah dilakukan untuk memastikan
kebenaran yang persis berkenaan dengannya, persoalan / keraguan itu tetap tidak
bisa ditentukan).
Barnes’
Notes: “‘God.’
... The question which has excited so much controversy is, whether the
original Greek word was Theos,
‘God,’ or whether it was hos,
‘who,’ or ho, ‘which.’
The controversy has turned, to a considerable degree, on the reading in the
‘Codex Alexandrinus;’ and a remark or two on the method in which the
manuscripts in the New Testament were written, will show the true nature of
the controversy. Greek manuscripts were formerly written entirely in capital
letters, and without breaks or intervals between the words, and without
accents; ... The small, cursive Greek letters which are now used, were not
commonly employed in transcribing the New Testament, if at all, until the
ninth or tenth centuries. It was a common thing to abridge or contract words
in the manuscript. Thus, [p-r] would be used for pater,
‘father;’ [k-s] for kurios,
‘Lord;’ [Th-s] for Theos,
‘God,’ etc. The words thus contracted were designated by a faint line or
dash over them. In this place, therefore, if the original uncials (capitals)
were [THC], standing for Theos,
‘God,’ and the line in the [Th], and the faint line over it, were
obliterated from any cause, it would easily be mistaken for [OC] - hos
- ‘who.’ To ascertain which of these is the true reading, has been
the great question; and it is with reference to this that the microscope has
been resorted to in the examination of the Alexandrian manuscript. It is now
generally admitted that the faint line ‘over’ the word has been added by
some later hand, though not improbably by one who found that the line was
nearly obliterated, and who meant merely to restore it. Whether the letter O
was originally written with a line within it, making the reading ‘God,’ it
is now said to be impossible to determine, in consequence of the manuscript at
this place having become so much worn by frequent examination. The Vulgate and
the Syriac read it: ‘who,’ or ‘which.’ The Vulgate is, ‘Great is the
sacrament of piety which was manifested in the flesh.’ The Syriac, ‘Great
is the mystery of godliness, that he was manifested in the flesh.’ The
‘probability’ in regard to the correct reading here, as it seems to me,
is, that the word, as originally written, was Theos - ‘God.’
At the same time, however, the evidence is not so clear that it can be
properly used in an argument. But the passage is not ‘necessary’ to prove
the doctrine which is affirmed, on the supposition that that is the correct
reading. The same truth is abundantly taught elsewhere; compare Matt 1:23;
John 1:14”.
Catatan:
ini tidak saya terjemahkan, karena intinya sudah saya berikan di atas.
Ay 16a:
“Dan sesungguhnya agunglah rahasia (misteri)
ibadah (kesalehan) kita: ‘Dia, yang telah menyatakan diriNya dalam
rupa manusia (dalam daging)”.
Barnes’
Notes: “‘In
the flesh.’ In human nature; see this explained in the notes on Rom 1:3. The
expression here looks as though the true reading of the much-disputed word was
‘God.’ It could not have been, it would seem evident, ho, ‘which,’ referring to ‘mystery;’ for how could a
mystery ‘be manifested in the flesh?’ Nor could it it be hos, ‘who,’ unless that should refer to one who was more
than a man; for how absurd would it be to say that ‘a man was manifested, or
appeared in the flesh!’ How else could a man appear? The phrase here means
that God appeared in human form, or with human nature; and this is declared to
be the ‘great’ truth so long concealed from human view, but now revealed as
constituting the fundamental doctrine of the gospel” (= ‘Dalam
daging’. Dalam hakekat manusia; lihat ini dijelaskan dalam catatan tentang Ro
1:3. Ungkapan di sini kelihatannya seakan-akan pembacaan yang benar dari kata
yang banyak diperdebatkan tadi adalah ‘God / Allah’. Kelihatannya jelas
bahwa itu tidak bisa adalah HO, ‘which
/ yang’, menunjuk pada ‘misteri / rahasia’; karena bagaimana suatu misteri
/ rahasia ‘dinyatakan dalam daging?’ Juga itu tidak bisa adalah HOS, ‘who
/ yang’, kecuali itu menunjuk kepada seseorang yang lebih dari seorang
manusia; karena alangkah menggelikannya untuk mengatakan bahwa ‘seorang
manusia dinyatakan, atau muncul / terlihat dalam daging!’ Dengan cara lain
bagaimana seorang manusia bisa muncul / terlihat? Ungkapan di sini berarti bahwa
Allah muncul / terlihat dalam bentuk manusia, atau dengan hakekat manusia; dan
ini dinyatakan sebagai kebenaran yang ‘besar / agung’ yang begitu lama
disembunyikan dari pandangan manusia, tetapi sekarang dinyatakan sebagai sesuatu
yang membentuk ajaran dasari dari injil).
Argumentasi
Albert Barnes ini cukup masuk akal, tetapi dibantah oleh A. T. Robertson.
A.
T. Robertson: “‘He
who’ hos. The correct text, not Theos
(God) the reading of the Textus Receptus (Syrian text) nor ho
(neuter relative, agreeing with musteerion)
the reading of the Western documents. ... Christ, to whom hos
refers, is the mystery (Col 1:27; 2:2)” [= ‘Ia yang’ HOS. Text yang
benar, bukanlah THEOS (Allah), yang merupakan pembacaan dari Textus Receptus
(Syrian text), ataupun HO (neuter relative, sesuai dengan MUSTERION), yang
merupakan pembacaan dari dokumen-dokumen Barat / Western. ... Kristus, kepada
siapa kata HOS menunjuk, adalah misteri itu (Kol 1:27; 2:2)].
Kol 1:27
- “Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia
itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah
kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!”.
Kol
2:2 - “supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga
mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia
Allah, yaitu Kristus”.
Bruce
M. Metzger juga menerima pembacaan HOS (= who / yang). Ia mengatakan bahwa
pembacaan THEOS baru ada dalam manuscript-manuscript yang baru, sedangkan semua
manuscript-manuscript kuno mempunyai HO atau HOS.
Bruce
M. Metzger: “3:16
o%$ *
{A}. The reading which, on the basis of external evidence and
transcriptional probability, best explains the rise of the others is o%$.
It is supported by the earliest and best uncials (a*
A*vid
C* Ggr) as well as by 33
365 442 2127 syrhmg, pal goth ethpp Origenlat
Epiphanius Jerome Theodore Eutheriusacc.
to Theodoret Cyril Cyrilacc. to Ps-Oecumenius
Liberatus. Furthermore, since the
neuter relative pronoun o% must have arisen as a scribal correction of o%$
(to
bring the relative into concord with musth/rion), the witnesses that read o% (D*
itd,
g, 61, 86 vg Ambrosiaster Marius
Victorinus Hilary Pelagius Augustine) also indirectly presuppose o%$
as
the earlier reading. The Textus Receptus reads qeo/$, with ac (this corrector is of the twelfth century) A2 C2 Dc K L P Y
81
330 614 1739 Byz Lect Gregory-Nyssa
Didymus Chrysostom Theodoret Euthalius and later Fathers. Thus, no
uncial (in the first hand) earlier than the eighth or ninth century (Y)
supports qeo/$;
all ancient versions presuppose o%$ or o%;
and no patristic writer prior to the last third of the fourth century
testifies to the reading qeo/$. The reading qeo/$ arose either (a) accidentally, through the misreading of oc
as
q+c,
or (b) deliberately, either to supply a substantive for the following six
verbs, or, with less probability, to provide greater dogmatic precision” -
‘A Textual Commentary on the Greek New
Testament’, hal 641.
Kalau
dilihat dari bukti manuscript-manuscript, maka kelihatannya kita harus menerima
HOS (who / yang), tetapi kalau dilihat kalimatnya, kelihatannya kata THEOS (=
God / Allah) lebih cocok.
Calvin
termasuk yang menerima pembacaan THEOS (= God / Allah), dan ia lalu memberikan
komentar sebagai berikut:
Calvin:
“‘God
manifested in the flesh.’ The Vulgate’s translator, by leaving out the name of God, refers
what follows to ‘the mystery,’ but altogether unskillfully and
inappropriately, as will clearly be seen on a bare perusal, though he has
Erasmus on his side, who, however, destroys the authority of his own views, so
that it is unnecessary for me to refute it. ... But granting that Paul did not
express the name of God, still any one who shall carefully examine the whole
matter, will acknowledge that the name of Christ ought to be supplied”
(= ‘Allah dinyatakan dalam daging’. Penterjemah Vulgate, dengan menghapus
nama / sebutan ‘Allah’, menghubungkan kata-kata berikutnya pada ‘misteri /
rahasia’, tetapi dengan sama sekali tidak cakap dan tidak cocok, seperti akan
terlihat dengan jelas pada suatu pembacaan yang telanjang / paling sederhana,
sekalipun ia mempunyai Erasmus di pihaknya, tetapi yang menghancurkan otoritas
dari pandangannya sendiri, sehingga tidak perlu bagi saya untuk membantahnya.
... Tetapi kalau kita mau mengakui bahwa Paulus tidak menyatakan nama / sebutan
‘Allah’, tetap siapapun yang memerika dengan teliti seluruh persoalan, akan
mengakui bahwa nama / sebutan Kristus harus disuplai).
Calvin:
“He could not have spoken more appropriately about the person of Christ
than in these words, ‘God manifested in the flesh.’ First, we have here an
express testimony of both natures; for he declares at the same time that Christ
is true God and true man. Secondly, he points out the distinction between the
two natures, when, on the one hand, he calls him God, and, on the other,
expresses his ‘manifestation in the flesh.’ Thirdly, he asserts the unity of
the person, when he declares, that it is one and the same who was God, and who
has been manifested in the flesh. Thus, by this single passage, the true and
orthodox faith is powerfully defended against Arius, Marcion, Nestorius, and
Eutyches. There is also great emphasis in the contrast of the two words, God
in flesh. How wide is the difference
between God and man! And yet in Christ we behold the infinite glory of God
united to our polluted flesh in such a manner that they become one”
(= Ia tidak bisa berbicara dengan lebih tepat / cocok tentang pribadi Kristus
dari pada dalam kata-kata ini, ‘Allah dinyatakan dalam daging’. Pertama, di
sini kita mempunyai suatu kesaksian tentang kedua hakekat; karena ia menyatakan
pada saat yang sama bahwa Kristus adalah sungguh-sungguh Allah dan
sungguh-sungguh manusia. Kedua, ia menunjukkan perbedaan di antara kedua hakekat
itu, ketika, pada satu sisi ia menyebutNya Allah, dan pada sisi yang lain
menyatakan ‘manifestasiNya ke dalam daging’. Ketiga, ia menegaskan kesatuan
dari pribadi Kristus, pada saat ia menyatakan bahwa Ia adalah pribadi yang satu
dan yang sama, yang adalah Allah, dan yang telah dinyatakan dalam daging. Jadi,
dengan satu text ini, iman yang benar dan orthodox dipertahankan dengan kuat
terhadap Arius, Marcion,
Nestorius, dan Eutyches. Juga ada penekanan yang besar dalam kontras dari kedua
kata itu, Allah dalam daging. Alangkah besarnya perbedaan antara Allah dan
manusia! Tetapi dalam Kristus kita melihat kemuliaan yang tak terbatas dari
Allah bersatu dengan daging kita yang kotor dengan cara sedemikian rupa sehingga
keduanya menjadi satu).
3)
“dibenarkan dalam Roh”.
KJV:
‘justified’ (= dibenarkan).
RSV/NIV/NASB:
‘vindicated’ (= dipertahankan).
Kata
‘dibenarkan’ di sini tidak
mungkin digunakan dalam arti seperti biasanya, karena Kristus tak mempunyai
dosa. Karena itu lalu diterjemahkan ‘vindicated’ (= dipertahankan) oleh RSV/NIV/NASB.
Barnes’
Notes: “‘Justified
in the Spirit.’ ... The word ‘justified,’ here, is not used in the sense
in which it is when applied to Christians, but in its more common signification.
It means to ‘vindicate,’ and the sense is, that he was shown to be the Son
of God by the agency of the Holy Spirit; he was thus vindicated from the charges
alleged against him. The Holy Spirit furnished the evidence that he was the Son
of God, or ‘justified’ his claims. Thus he descended on him at his baptism,
Matt 3:16; he was sent to convince the world of sin because it did not believe
on him, John 16:8-9; the Saviour cast out devils by him, Matt 12:28; the Spirit
was given to him without measure, John 3:34, and the Spirit was sent down in
accordance with his promise, to convert the hearts of people; Acts 2:33. All the
manifestations of God to him; all the power of working miracles by his agency;
all the influences imparted to the man Christ Jesus, endowing him with such
wisdom as man never had before, may be regarded as an attestation of the Holy
Spirit to the divine mission of the Lord Jesus, and of course as a vindication
from all the charges against him” (= ‘dibenarkan dalam Roh’. ... Kata
‘dibenarkan’ di sini, tidak digunakan dalam pengertian seperti pada waktu
kata itu digunakan untuk orang-orang Kristen, tetapi dalam arti yang lebih umum.
Itu berarti ‘mempertahankan’, dan pengertiannya adalah, bahwa Ia ditunjukkan
sebagai Anak Allah oleh perantaraan / pekerjaan Roh Kudus; dengan demikian Ia
dipertahankan dari serangan-serangan / tuduhan-tuduhan terhadapNya. Roh Kudus
memberikan bukti-bukti bahwa Ia adalah Anak Allah, atau ‘membenarkan’
claimNya. Maka Ia turun kepadaNya pada saat baptisanNya, Mat 3:16; Ia diutus
untuk meyakinkan dunia tentang dosa karena dunia tidak percaya kepadaNya, Yoh
16:8-9; sang Juruselamat mengusir setan-setan oleh / denganNya, Mat 12:28; Roh
diberikan kepadaNya tanpa ukuran / dengan tidak terbatas, Yoh 3:34, dan Roh
diturunkan sesuai dengan janjiNya, untuk mempertobatkan hati dari orang-orang;
Kis 2:33. Semua manifestasi Allah kepadaNya; semua kuasa untuk mengerjakan
mujijat oleh pekerjaanNya; semua pengaruh yang diberikan kepada manusia Kristus
Yesus, memberikan Dia hikmat yang tak pernah dimiliki manusia sebelumnya, bisa
dianggap sebagai suatu pengesahan dari Roh Kudus pada missi ilahi dari Tuhan
Yesus, dan tentu saja sebagai suatu pembelaan / tindakan mempertahankan dari
semua serangan / tuduhan terhadap Dia).
A.
T. Robertson: “Christ
was vindicated in his own spirit (Heb 9:14) before men by overcoming death and
rising from the dead (Rom 1:3f)” [= Kristus dipertahankan dalam RohNya
sendiri (Ibr 9:14) di hadapan manusia dengan mengalahkan kematian dan bangkit
dari orang mati (Ro 1:3-dst)].
Ibr
9:14 - “betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah
mempersembahkan diriNya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak
bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang
sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup”.
Ro
1:3-4 - “(3) tentang AnakNya, yang menurut daging diperanakkan dari
keturunan Daud, (4) dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitanNya
dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus
Tuhan kita”.
Pulpit
Commentary: “‘Justified in the spirit.’ This is rather an obscure expression.
But it seems to describe our Lord’s spotless righteousness, perhaps with
special reference to the declaration of it at his baptism, ‘This is my beloved
Son, in whom I am well pleased.’” (= ‘dibenarkan dalam Roh’. Ini
merupakan suatu ungkapan yang agak kabur. Tetapi kelihatannya ini menggambarkan
kebenaran yang tak bercacat dari Tuhan kita, mungkin dengan referensi khusus
tentangnya pada saat baptisanNya, ‘Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku
berkenan’.).
4)
“yang
menampakkan diriNya kepada malaikat-malaikat”.
Barnes’ Notes: “‘Seen
of angels.’ They were attendants on his ministry, and came to him in times of
distress, peril, and want; compare Luke 2:9-13; 22:43; 24:4; Heb 1:6; Matt 4:11.
They felt an interest in him and his work, and they gladly came to him in
his sorrows and troubles. The design of the apostle is to give an impressive
view of the grandeur and glory of that work which attracted the attention of the
heavenly hosts, and which drew them from the skies that they might proclaim his
advent, sustain him in his temptations, witness his crucifixion, and watch over
him in the tomb. The work of Christ, though despised by people, excited the
deepest interest in heaven; compare notes on 1 Peter 1:12” (= ‘dilihat oleh malaikat-malaikat’.
Mereka adalah pelayan-pelayan pada pelayananNya, dan datang kepadaNya pada
saat-saat sukar, berbahaya, dan kebutuhan’ bandingkan Luk
2:9-13; 22:43; 24:4; Ibr 1:6; Mat 4:11. Mereka merasa punya interest / minat
kepada Dia dan pekerjaanNya, dan dengan gembira mereka datang kepadaNya
dalam kesedihan dan kesukaranNya. Rancangan dari sang rasul adalah untuk
memberikan suatu pandangan yang mengesankan tentang kemegahan dan kemuliaan dari
pekerjaan yang menarik perhatian dari bala tentara surga, dan yang menarik
mereka dari langit sehingga mereka bisa memberitakan kelahiranNya, mendukungNya
dalam pencobaan-pencobaanNya, menyaksikan penyalibanNya, dan menjagaNya dalam
kuburNya. Pekerjaan Kristus, sekalipun direndahkan oleh manusia,
menggairahkan interest / minat yang terdalam di surga; bandingkan dengan
catatan tentang 1Pet 1:12).
5)
“diberitakan
di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah”.
Barnes’
Notes: “‘Preached
unto the Gentiles.’ This is placed by the apostle among the ‘great’ things
which constituted the ‘mystery’ of religion. The meaning is, that it was a
glorious truth that salvation might be, and should be, proclaimed to all
mankind, and that this was a part of the important truths made known in the
gospel” (= ‘diberitakan kepada orang-orang non Yahudi’. Ini
ditempatkan oleh sang rasul di antara hal-hal besar yang membentuk ‘misteri’
dari agama. Artinya adalah, bahwa itu merupakan suatu kebenaran yang mulia
sehingga keselamatan bisa, dan harus, diberitakan kepada seluruh umat manusia,
dan bahwa ini merupakan suatu bagian dari kebenaran-kebenaran yang penting yang
dinyatakan dalam injil).
6)
“yang
dipercayai di dalam dunia”.
Barnes’
Notes: “‘Believed
on in the world.’ This also is mentioned among the ‘great’ things which
constitute the mystery of revealed religion. But why is this regarded as so
remarkable as to be mentioned thus? ... Man, in all his history, had shown a
strong reluctance to believe ANY message from God, or ANY truth whatever
revealed by him. The Jews had rejected his prophets and put them to death (Matt
23; Acts 7:1); and had at last put his own Son - their Messiah - to death. Man
everywhere had shown his strong inclination to unbelief. There is in the human
soul no elementary principle or germ of faith in God. Every man is an unbeliever
by nature - an infidel first; a Christian afterward; an infidel as he comes into
the world; a believer only as he is made so by grace. The apostle, therefore,
regarded it as a glorious fact that the message respecting the Saviour ‘had
been’ believed in the world. ... It had been embraced, not by a few, but by
thousands in all lands where the gospel had been published; and it was proof of
the truth of the doctrine, and of the great power of God, that such high
mysteries as those relating to redemption, and so much opposed to the natural
feelings of the human heart, should have been embraced by so many” [=
‘yang dipercayai di dalam dunia’. Ini juga disebutkan di antara hal-hal
‘agung’ yang membentuk misteri / rahasia dari agama yang diwahyukan. Tetapi
mengapa ini dianggap sebagai begitu hebat sehingga disebutkan demikian? ...
Manusia, dalam seluruh sejarahnya, telah menunjukkan suatu keenganan yang kuat
untuk percaya berita apapun dari Allah, atau kebenaran apapun yang dinyatakan /
diwahyukan olehNya. Orang-orang Yahudi telah menolak nabi-nabiNya dan membunuh
mereka (Mat 23; Kis 7:1); dan akhirnya telah membunuh AnakNya sendiri, Mesias
mereka. Manusia di mana-mana telah menunjukkan kecenderungannya yang kuat pada
ketidak-percayaan. Dalam jiwa manusia tidak ada elemen dasar / kecenderungan
mula-mula atau tunas dari iman kepada Allah. Setiap orang adalah orang yang
tidak percaya secara alamiah - seorang kafir pada mulanya; seorang Kristen
belakangan; seorang kafir ketika ia datang ke dalam dunia; seorang percaya hanya
ketika ia dibuat demikian oleh kasih karunia. Karena itu, sang rasul
menganggapnya sebagai suatu fakta yang mulia bahwa berita berkenaan dengan sang
Juruselamat ‘telah dipercayai’ dalam dunia. ... Itu telah dipercayai, bukan
oleh sedikit, tetapi oleh ribuan orang di semua negara dimana injil telah
diumumkan; dan itu merupakan suatu bukti dari doktrin / ajaran ini, dan tentang
kuasa yang besar dari Allah, sehingga misteri / rahasia yang begitu tinggi
seperti hal-hal yang berhubungan dengan penebusan, dan begitu bertentangan
dengan perasaan-perasaan alamiah dari hati manusia, telah dipeluk / dipercayai
oleh begitu banyak orang].
7)
“diangkat
dalam kemuliaan”.
Barnes’
Notes: “‘Received
up into glory.’ To heaven; compare John 17:5; see the notes on Acts 1:9. This
is mentioned as among the ‘great’ or remarkable things pertaining to
‘godliness,’ or the Christian revelation, because it was an event which had
not elsewhere occurred, and was the crowning grandeur of the work of Christ. It
was an event that was fitted to excite the deepest interest in heaven itself. No
event of more importance has ever occurred in the universe, of which we have any
knowledge, than the re-ascension of the triumphant Son of God to glory after
having accomplished the redemption of a world” (= ‘Diterima dalam
kemuliaan’. Di surga; bandingkan dengan Yoh 17:5; lihat catatan tentang Kis
1:9. Ini disebutkan sebagai salah satu di antara hal-hal besar atau hebat
mengenai ‘kesalehan’, atau wahyu Kristen, karena itu merupakan suatu
peristiwa yang belum pernah terjadi di tempat lain manapun, dan merupakan puncak
kemegahan dari pekerjaan Kristus. Itu merupakan suatu peristiwa yang cocok untuk
membangkitkan minat terdalam di surga sendiri. Tidak ada kejadian yang lebih
penting telah terjadi dalam alam semesta, tentang mana kami mempunyai
pengetahuan, dari pada kembali naik ke surganya Anak Allah yang menang pada
kemuliaan setelah menyelesaikan penebusan dunia).
-o0o-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali