Eksposisi
Surat Paulus kepada Timotius yang Pertama
oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.
Ay 5-6:
“(5) Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara
Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, (6) yang telah menyerahkan
diriNya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang
ditentukan”.
1) ‘Karena Allah
itu esa’.
Bagian ini
tidak bertentangan dengan doktrin Allah Tritunggal, Keilahian Kristus, dan
Keilahian Roh Kudus, karena sekalipun kita mempercayai bahwa Yesus dan Roh Kudus
juga adalah Allah, kita tetap mempercayai bahwa Allah hanya mempunyai satu
hakekat, dan karena itu kita tidak mempercayai adanya 3 Allah, tetapi hanya satu
Allah.
Bandingkan
dengan Pengakuan Iman Athanasius: “15. Thus the Father is God, The
Son is God, the Holy Ghost is God. 16. And yet there are not three Gods,
but one God. 17. Thus The Father is Lord, the Son is Lord, the Holy Ghost
is Lord. 18. And yet there are not three Lords, but one Lord. 19. Because
as we are thus compelled by Christian verity to confess each person severally to
be God and Lord; so we are prohibited by the Catholic religion from saying that
there are three Gods or Lords.” (= 15. Demikian juga Bapa adalah
Allah, Anak adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah. 16. Tetapi tidak ada tiga
Allah, tetapi satu Allah. 17. Demikian pula Bapa adalah Tuhan, Anak adalah
Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan. 18. Tetapi tidak ada tiga Tuhan, tetapi
satu Tuhan. 19. Karena sebagaimana kami didorong seperti itu oleh kebenaran
Kristen untuk mengakui setiap pribadi secara terpisah / individuil sebagai Allah
dan Tuhan; demikian pula kami dilarang oleh agama Katolik / universal / am untuk
mengatakan bahwa ada tiga Allah atau Tuhan.) - A. A. Hodge, ‘Outlines
of Theology’, hal 117-118.
2)
‘esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu
manusia Kristus Yesus’.
a)
Hanya ada satu pengantara, yaitu Kristus Yesus; tidak ada pengantara lain selain
Dia.
Donald
Guthrie (Tyndale): “That no bond
between God and man was possible apart from Christ Jesus is also fundamental to
Paul’s thought” (= Bahwa tidak ada ikatan yang dimungkinkan antara Allah
dan manusia terpisah dari Kristus Yesus juga merupakan sesuatu yang dasari bagi
pemikiran Paulus) - hal 72.
b)
Dalam Gereja Roma Katolik ada pengantara-pengantara lain selain Yesus Kristus.
Dalam Gereja
Roma Katolik, Maria memang dianggap sebagai Pengantara, baik dalam penebusan
maupun dalam doa syafaat. Bahwa Maria memang dianggap sebagai pengantara dalam
Gereja Roma Katolik, terlihat dari kutipan-kutipan di bawah ini.
‘Catechism
of the Catholic Church’:
· No 969:
“This motherhood of Mary in the order of grace continues uninterruptedly
from the consent which she loyally gave at the Annunciation and which she
sustained without wavering beneath the cross, until the eternal fulfilment of
all the elect. Taken up to heaven she did not lay aside this saving office
but by her manifold intercession continues to bring us the gifts of eternal
salvation .... Therefore the Blessed Virgin is invoked in the Church under
the titles of Advocate, Helper, Benefactress, and Mediatrix” [=
Keibuan dari Maria dalam urutan kasih karunia berlanjut secara tak terganggu
dari persetujuan yang dengan setia ia berikan pada saat Pengumuman / Pemberitaan
(oleh Gabriel) dan yang ia teruskan tanpa ragu-ragu di bawah kayu salib,
sampai penggenapan kekal dari semua orang-orang pilihan. Pada waktu diangkat ke
surga, ia tidak mengesampingkan tugas penyelamatan ini tetapi oleh doa
syafaatnya yang bermacam-macam ia melanjutkan untuk membawa kepada kita
karunia-karunia keselamatan yang kekal ... Karena itu, Perawan yang terpuji
/ diberkati disebut di dalam Gereja dengan gelar-gelar Advokat, Penolong,
Dermawan, dan Pengantara].
· No
2677: “... Because she gives us Jesus, her son, Mary is Mother of God
and our mother; we can entrust all our cares and petitions to her: she prays
for us as she prayed for herself ...” (= ... Karena ia memberi kita
Yesus, anaknya, Maria adalah Bunda Allah dan bunda kita; kita bisa
mempercayakan semua kesusahan dan permohonan kita kepadanya: ia berdoa untuk
kita pada waktu ia berdoa untuk dirinya sendiri ...).
· No
2679: “... The prayer of the Church is sustained by the prayer of Mary
and united with it in hope” (= ... Doa dari Gereja ditopang oleh doa Maria
dan bersatu dengannya dalam pengharapan).
· No
2682: “Because of Mary’s singular cooperation with the action of the
Holy Spirit, the Church loves to pray in communion with the Virgin Mary,
to magnify with her the great things the Lord has done for her, and to
entrust supplications and praises to her” (= Karena kerja sama yang
luar biasa dari Maria dengan tindakan Roh Kudus, Gereja senang untuk berdoa
dalam persekutuan dengan Perawan Maria, untuk membesarkan bersama dia
hal-hal yang besar yang telah Tuhan lakukan untuknya, dan mempercayakan
permohonan dan puji-pujian kepadanya).
Bukan hanya
Maria, tetapi juga orang-orang suci yang telah mati dijadikan juru syafaat dan
pengantara dalam Gereja Roma Katolik. Ini terlihat dari ‘Catechism of the
Catholic Church’ no 2683: “The witnesses who have preceded us into
the kingdom, ... Their intercession is their most exalted service to God’s
plan. We can and should ask them to intercede for us and for the whole world”
(= Saksi-saksi yang telah mendahului kita ke dalam kerajaan, ... Doa syafaat
mereka adalah pelayanan mereka yang tertinggi bagi rencana Allah. Kita bisa dan
seharusnya meminta mereka untuk menjadi juru syafaat untuk kita dan untuk
seluruh dunia).
Calvin:
“There are others who think themselves more acute, and who lay down this
distinction, that Christ is the only Mediator of redemption, while they
pronounce the saints to be mediators of intercession. But the folly of these
interpreters is reproved by the scope of the passage, in which the Apostle
speaks expressly about prayer” (= Ada orang-orang lain yang mengira diri
mereka sendiri lebih tajam / teliti, dan yang memberikan perbedaan ini, bahwa
Kristus adalah satu-satunya Pengantara penebusan, sementara mereka menyatakan
orang-orang suci sebagai pengantara-pengantara doa syafaat. Tetapi kebodohan
dari penafsir-penafsir ini dicela oleh daerah / jangkauan dari text ini, dalam
mana sang Rasul berbicara secara explicit tentang doa) - hal 58-59.
Barnes’
Notes: “It may be added also that
the doctrine of the Papists that the saints or the Virgin Mary may act as
mediators to procure blessings for us, is false. There is but ‘one
Mediator;’ and but one is necessary. Prayer offered to the ‘saints,’ or to
the ‘Virgin,’ is idolatry, and at the same time removes the one great
Mediator from the office which he alone holds, of making intercession with
God” (= Bisa juga ditambahkan bahwa doktrin dari para pengikut Paus bahwa
orang-orang suci atau sang Perawan Maria bisa bertindak sebagai
pengantara-pengantara untuk menyebabkan / memastikan berkat-berkat untuk kita,
adalah salah. Hanya ada satu Pengantara, dan hanya satu yang diperlukan. Doa
yang dipanjatkan kepada ‘orang-orang suci’, atau kepada sang ‘Perawan’,
adalah pemberhalaan, dan pada saat yang sama menyingkirkan satu Pengantara yang
besar / agung dari jabatan / tugas yang hanya dipegang olehnya, yaitu membuat
pengantaraan dengan Allah).
c)
Karena hanya ada satu Pengantara, maka kita wajib untuk memberitakan Injil
kepada semua orang.
Homer
A. Kent Jr.: “Since there is only
one Mediator, then Christians have the responsibility of making Him known to all
men” (= Karena hanya ada satu Pengantara, maka orang-orang kristen
mempunyai kewajiban untuk menyatakan Dia kepada semua orang) - hal 100.
d)
Mengapa Paulus mengatakan ‘manusia Kristus Yesus’?
1.
Ini tentu tidak berarti bahwa Yesus Kristus hanya manusia biasa seperti kita dan
sama sekali bukan Allah. Bandingkan dengan:
· Yoh 1:1
- “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman
itu adalah Allah”.
· Yoh 20:28
- “Tomas menjawab Dia: ‘Ya Tuhanku dan Allahku!’”.
· Ro 9:5
- “Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam
keadaanNya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah
yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!”.
· Ibr 1:8
- “Tetapi tentang (kepada) Anak Ia berkata: ‘TakhtaMu, ya Allah,
tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanMu adalah tongkat
kebenaran”.
· 1Yoh 5:20
- “Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah
mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita
ada di dalam Yang Benar, di dalam AnakNya Yesus Kristus. Dia adalah Allah
yang benar dan hidup yang kekal”.
2.
Apakah Yesus melakukan tugas / jabatanNya sebagai Pengantara hanya sebagai
manusia?
Barnes’
Notes: “‘The man Christ Jesus.’
Jesus was truly and properly a man, having a perfect human body and soul, and is
often called a man in the New Testament. But this does not prove that he was not
also divine - anymore than his being called God (John 1:1; 20:28; Rom. 9:5; 1
John 5:20; Heb. 1:8), proves that he was not also a man. The use of the word
‘man’ here was probably designed to intimate that though he was divine, it
was in his human nature that we are to consider him as discharging the office”
[= ‘Manusia Kristus Yesus’. Yesus sungguh-sungguh dan secara benar adalah
manusia, mempunyai tubuh dan jiwa manusia yang sempurna, dan sering disebut
‘manusia’ dalam Perjanjian Baru. Tetapi ini tidak membuktikan bahwa Ia
bukannya juga ilahi - sama seperti penyebutanNya sebagai Allah (Yoh 1:1; 20:28;
Ro 9:5; 1Yoh 5:20; Ibr 1:8), tidak membuktikan bahwa Ia juga adalah manusia.
Penggunaan kata ‘manusia’ di sini mungkin dimaksudkan untuk menunjukkan
bahwa sekalipun Ia adalah ilahi, adalah dalam hakekat manusiaNyalah kita
harus menganggapNya menunaikan tugas / jabatanNya].
Penerapan:
Kalau kata-kata
di atas ini benar, maka mungkin pada waktu kita mengakhiri doa kita dengan
kata-kata ‘dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami’,
atau ‘dalam nama Tuhan kami Yesus Kristus’, atau ‘dalam
nama Yesus Kristus, Allah kami yang hidup’, dsb, agak kurang tepat.
Mengapa? Karena pada waktu berbicara tentang jabatanNya sebagai Pengantara, maka
yang disoroti adalah kemanusiaanNya, bukan ketuhananNya atau keilahianNya!
Tetapi Calvin
menganggap bahwa berhubungan dengan jabatan Yesus sebagai Pengantara, kita tidak
berbicara atau tentang hakekat manusia saja, atau tentang hakekat ilahi saja,
tetapi tentang seluruh Pribadi Yesus Kristus (the God-man).
Calvin:
“Let this, then, be our key to right understanding: those things which
apply to the office of the Mediator are not spoken simply either of the divine
nature or of the human” (= Hendaklah ini menjadi kunci bagi kita untuk
mendapatkan pengertian yang benar: hal-hal yang berhubungan dengan jabatan dari
Pengantara, tidak dikatakan hanya tentang hakekat ilahi atau manusia) - ‘Institutes
of the Christian Religion’, Book II, chapter XIV, 3.
3.
Mengapa kata ‘manusia’ ditekankan di sini?
Pulpit
Commentary: “The human nature is
naturally emphasized because of the work of suffering and death which is here
ascribed to him. ... He is elsewhere frequently called God and true God, but
here there is a necessary reference to the catholic doctrine of a subordination
of office” [= Hakekat manusiaNya tentu saja ditekankan karena pekerjaan
penderitaan dan kematian yang disini diberikan kepadaNya (ay 6). ... Di
tempat lain Ia sering disebut Allah dan Allah yang benar, tetapi di sini ada
hubungan yang perlu dengan doktrin universal tentang suatu jabatan yang lebih
rendah] - hal 39.
Donald
Guthrie (Tyndale): “It is because a
mediator must be representative that the humanity of Christ, ‘the man Christ
Jesus,’ is also brought into prominence” (= Karena seorang pengantara
harus bersifat wakil maka kemanusiaan dari Kristus, ‘manusia Kristus Yesus’,
juga ditonjolkan) - hal 72.
3) ‘yang telah
menyerahkan diriNya sebagai tebusan bagi semua manusia’.
a) ‘yang
telah menyerahkan diriNya sebagai tebusan’.
Donald
Guthrie (Tyndale): “The mention of
a ‘ransom’ (ANTILUTRON) echoes the words of Jesus, ‘the Son of man came
... to give his life a ransom (LUTRON) for many’ (Mk. 10:45). The addition of
the preposition ANTI, ‘instead of’, is significant in view of the
preposition HUPER, ‘on behalf of’, used after it. Christ is conceived of as
an ‘exchange price’ on behalf of and in the place of all, on the grounds of
which freedom may be granted” [= Penyebutan dari suatu ‘tebusan’
(ANTILUTRON) menggemakan kata-kata Yesus, ‘Anak Manusia datang ... untuk
memberikan nyawaNya sebagai tebusan (LUTRON) untuk banyak orang’ (Mark 10:45).
Penambahan kata depan ANTI, ‘sebagai ganti dari’, merupakan sesuatu yang
penting mengingat adanya kata depan HUPER, ‘demi kepentingan dari’ yang
digunakan setelahnya. Kristus dimengerti sebagai ‘harga pengganti’ demi
kepentingan dari dan menggantikan tempat dari semua orang, berdasarkan mana
kebebasan bisa dianugerahkan] - hal 72.
Homer
A. Kent Jr.: “The prefixing of ANTI
emphasizes the idea of substitution. ANTI signified substitution and its usual
translation is ‘instead of.’ ... Thus by its very nature, this ransom is
substitutional in character” (= Penambahan awalan ANTI menekankan gagasan
tentang penggantian. ANTI menunjukkan penggantian dan terjemahannya yang umum
adalah ‘sebagai ganti dari’. ... Karena itu, pada dasarnya, tebusan ini
mempunyai sifat menggantikan) - hal 100.
Adam Clarke:
“‘Who gave himself a ransom.’ The word lutron
signifies a ransom paid for the redemption of a captive; and antilutron,
the word used here, and applied to the death of Christ, signifies that ransom
which consists in the exchange of one person for another, or the redemption of
life by life” (= ‘Yang telah menyerahkan diriNya sebagai tebusan’.
Kata LUTRON berarti suatu tebusan yang dibayarkan untuk penebusan seorang
tawanan; dan ANTILUTRON, kata yang digunakan di sini, dan diterapkan pada
kematian Kristus, berarti tebusan yang terdiri dari penggantian satu pribadi /
orang untuk pribadi / orang lain, atau penebusan nyawa oleh nyawa).
Jamieson,
Fausset & Brown: “‘Ransom’
- properly of a captive. Man was the slave of Satan, sold under sin. He was
unable to ransom himself, because absolute obedience is due to God; therefore no
act of ours can satisfy for the least offence. Lev. 25:48 allowed one sold
captive to be redeemed by one of his brethren. The Son of God therefore became
man in order that, as our older brother, He should redeem us (Matt. 20:28; Eph.
1:7; 1 Pet. 1:18-19). Antilutron
implies not merely ransom, but a substituted or equivalent ransom: the ‘anti’
implying vicarious substitution” [= ‘Tebusan’ - secara tepat dari
seorang tawanan. Manusia adalah budak dari setan, terjual di bawah dosa. Ia
tidak dapat menebus dirinya sendiri, karena ketaatan mutlak harus diberikan
kepada Allah; karena itu tidak ada tindakan kita yang bisa menghilangkan
pelanggaran yang terkecil. Im 25:48 mengijinkan satu tawanan yang dijual untuk
ditebus oleh salah satu saudaranya. Karena itu Anak Allah menjadi manusia
supaya, sebagai saudara kita yang lebih tua, Ia menebus kita (Mat 2028; Ef 1:7;
1Pet 1:18-19). ANTILUTRON tidak berarti semata-mata suatu tebusan, tetapi suatu
tebusan yang menggantikan atau tebusan yang sama / setara: kata ‘ANTI’
menunjuk pada penggantian untuk orang lain].
Im 25:47-48
- “(47) Apabila seorang asing atau seorang pendatang di antaramu telah
menjadi mampu, sedangkan saudaramu yang tinggal padanya jatuh miskin, sehingga menyerahkan
dirinya kepada orang asing atau pendatang yang di antaramu itu atau kepada
seorang yang berasal dari kaum orang asing, (48) maka sesudah ia menyerahkan
dirinya, ia berhak ditebus, yakni seorang dari antara saudara-saudaranya
boleh menebus dia”.
Kata-kata ‘menyerahkan
dirinya’ seharusnya adalah ‘menjual dirinya’.
KJV: ‘...
sell himself ... is sold’ (= ... menjual dirinya sendiri ... dijual).
NIV: ‘...
sells himself ... has sold himself’ (= ... menjual dirinya sendiri ...
telah menjual dirinya sendiri).
b) ‘bagi
semua manusia’.
Adam Clarke:
“As God is the God and father of all (for there is but one God, 1 Tim.
2:5), and Jesus Christ the mediator of all, so he gave himself a ransom for all;
i. e., for all that God made, consequently for every human soul; unless we could
suppose that there are human souls of which God is not the Creator; for the
argument of the apostle is plainly this: 1. There is one God; 2. This God is the
Creator of all; 3. He has made a revelation of his kindness to all; 4. He will
have all men to be saved, and come unto the knowledge of the truth; and 5. He
has provided a Mediator for all, who has given himself a ransom for all. As
surely as God has created all men, so surely has Jesus Christ died for all men.
This is a truth which the nature and revelation of God unequivocally proclaim”
[= Karena Allah adalah Allah dan Bapa dari semua orang (karena hanya ada satu
Allah, 1Tim 2:5), dan Yesus Kristus adalah pengantara dari semua orang,
demikianlah Ia memberikan diriNya sendiri sebagai suatu tebusan untuk semua
orang; yaitu untuk semua orang yang dibuat / diciptakan oleh Allah, dan
karenanya untuk setiap jiwa manusia; kecuali kita bisa menganggap bahwa ada
jiwa-jiwa manusia yang tidak diciptakan oleh Allah; karena argumentasi sang
rasul jelas adalah ini: 1. Hanya ada satu Allah; 2. Allah ini adalah Pencipta
dari semua; 3. Ia telah membuat suatu penyataan kebaikanNya kepada semua; 4. Ia
menghendaki semua orang untuk diselamatkan, dan mendapat pengertian tentang
kebenaran; dan 5. Ia telah menyediakan seorang Pengantara untuk semua, yang
telah memberikan diriNya sendiri sebagai suatu tebusan bagi semua. Sama pastinya
seperti Allah telah menciptakan semua orang, demikian pastinya Yesus Kristus
mati untuk semua orang. Ini adalah suatu kebenaran yang dinyatakan dengan tegas
oleh alam dan wahyu Allah].
Catatan:
lagi-lagi Adam Clarke menyerang doktrin Limited Atonement (= Penebusan
Terbatas). Ini sudah saya bahas dalam pembahasan 1Tim 2:3-4, dan karena itu
tidak saya ulang di sini.
4) ‘itu kesaksian
pada waktu yang ditentukan’.
Kata-kata ini
disambung dengan kata-kata dalam ay 7a: ‘Untuk kesaksian itulah aku telah
ditetapkan sebagai pemberita dan rasul’.
Adam Clarke:
“This appears to be the apostle’s meaning: Christ gave himself a
ransom for all. This, in the times which seemed best to the divine wisdom, was
to be testified to every nation, and people, and tongue. The apostles had begun
this testimony; and, in the course of the divine economy, it has ever since been
gradually promulgated and at present runs with a more rapid course than ever”
(= Kelihatannya ini adalah maksud dari Paulus: Kristus memberikan diriNya
sebagai suatu tebusan bagi semua orang. Ini pada waktu yang kelihatannya terbaik
bagi hikmat ilahi, harus disaksikan kepada setiap bangsa, dan orang, dan bahasa.
Sang rasul telah memulai kesaksian ini; dan dalam perjalanan dari pengaturan
ilahi, sejak saat itu hal itu disebar-luaskan secara berangsur-angsur dan pada
saat ini berjalan dengan kecepatan yang tertinggi).
Pulpit
Commentary: “Thus the death of
Christ is the great message to be carried to all the world. It is not his birth,
or his example, or his truth, but, above all, what is the completion of them all
- his death on Calvary” (= Karena itu, kematian Kristus adalah berita yang
besar yang harus dibawa kepada seluruh dunia. Bukan kelahiranNya, atau
teladanNya, atau kebenaranNya, tetapi, di atas segala-galanya, apa yang
merupakan penyelesaian dari semua itu - kematianNya di Kalvari) - hal 40.
Ay 7:
“Untuk kesaksian itulah aku telah ditetapkan sebagai pemberita dan rasul -
yang kukatakan ini benar, aku tidak berdusta - dan sebagai pengajar orang-orang
bukan Yahudi, dalam iman dan kebenaran”.
1) ‘yang
kukatakan ini benar, aku tidak berdusta’.
KJV: ‘I
speak the truth in Christ, and lie not’ (= aku mengatakan kebenaran
dalam Kristus, dan tidak berdusta).
Mungkin dalam
KJV ada kata-kata ‘in Christ’ (= dalam Kristus) karena KJV
menggunakan manuscript yang berbeda.
2) ‘dan sebagai
pengajar orang-orang bukan Yahudi’.
Paulus
menyatakan bahwa dirinya mempunyai panggilan khusus, yaitu untuk melayani
orang-orang non Yahudi.
Gal 2:7-9
- “(7) Tetapi sebaliknya, setelah mereka melihat bahwa kepadaku telah
dipercayakan pemberitaan Injil untuk orang-orang tak bersunat, sama seperti
kepada Petrus untuk orang-orang bersunat (8) - karena Ia yang telah memberikan
kekuatan kepada Petrus untuk menjadi rasul bagi orang-orang bersunat, Ia juga
yang telah memberikan kekuatan kepadaku untuk orang-orang yang tidak bersunat.
(9) Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus,
Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan
dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi
kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang
bersunat”.
Dari sini
terlihat bahwa kita bukan hanya perlu mendapat pimpinan Tuhan mengenai bidang
pelayanan kita, tetapi juga siapa yang kita layani.
3) ‘dalam iman
dan kebenaran’.
Adam Clarke:
“Instead of en pistei,
‘in faith,’ the Codex Alexandrinus has en pneumati, ‘in spirit.’” (= Sebagai ganti dari EN
PISTEI, ‘dalam iman’, Codex Alexandrinus mempunyai EN PNEUMATI, ‘dalam
roh’).
Tetapi
kelihatannya tak ada Kitab Suci yang mengambil dari manuscript ini.
Adam Clarke:
“‘In faith and verity.’ Faithfully and truly; preaching the TRUTH,
the whole TRUTH, and nothing but the TRUTH; and this fervently, affectionately,
and perseveringly” (= ‘Dalam iman dan kebenaran’. Dengan setia dan
sungguh-sungguh; memberitakan KEBENARAN, seluruh KEBENARAN, dan tidak lain
selain KEBENARAN; dan ini dengan sungguh-sungguh, dengan penuh kasih, dan dengan
tekun).
-AMIN-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali