Eksposisi
Surat Paulus kepada Timotius yang Pertama
oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.
Ay 14:
“Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya
kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus”.
1) ‘Malah kasih
karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku’.
Dosa Paulus
yang begitu banyak menyebabkan terlihatnya kasih karunia Allah yang begitu besar
pada waktu ia diselamatkan.
Barclay:
“The first part is not difficult; it simply means that the grace of God
rose higher than Paul’s sin” (= Bagian pertama tidak sukar; itu hanya
berarti bahwa kasih karunia Allah naik lebih tinggi dari dosa Paulus) - hal
44.
Bdk. Ro 5:20
- “Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin
banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi
berlimpah-limpah”.
Ini bisa
diterapkan untuk diri sendiri, maupun untuk orang-orang yang kita injili.
2) ‘dengan iman
dan kasih dalam Kristus Yesus’.
a)
Ada yang menganggap bahwa ‘iman dan kasih’ yang dibicarakan di sini adalah
iman dan kasih dari gereja pada saat itu.
Barclay:
“Verse 14 is difficult. In the RSV it runs: ‘The grace of our Lord
overflowed for me with the faith and love that are in Christ Jesus.’ ... what
exactly is the meaning of the phrase ‘with the faith and love that is in
Christ Jesus’? E. F. Brown suggests that it is that the work of the grace of
Christ in Paul’s heart was helped by the faith and the love he found in the
members of the Christian Church, things like the sympathy and then understanding
and the kindness he received from men like Ananias, who opened his eyes and
called him brother (Acts 9:10-19), and Barnabas, who stood by him when the rest
of the Church regarded him with bleak suspicion (Acts 9:26-28)” [= Ay 14
merupakan ayat yang sukar. Dalam RSV itu berbunyi: ‘Kasih karunia dari Tuhan
kita berlimpah-limpah untukku dengan kasih dan iman yang ada dalam Kristus
Yesus’. ... apa tepatnya arti dari ungkapan ‘dengan kasih dan iman yang ada
dalam Kristus Yesus’? E. F. Brown mengusulkan bahwa itu adalah bahwa pekerjaan
dari kasih karunia dari Kristus dalam hati Paulus ditolong oleh iman dan kasih
yang ia temukan dalam anggota-anggota dari Gereja Kristen, hal-hal seperti
simpati dan pengertian dan kebaikan yang ia terima dari orang-orang seperti
Ananias, yang membuka matanya dan menyebutnya ‘saudara’ (Kis 9:10-19), dan
Barnabas, yang membela dia pada waktu sisa Gereja melihat kepadanya dengan
kecurigaan yang suram (Kis 9:26-28)] - hal 44.
b)
Ada yang menganggap bahwa ‘iman dan kasih’ yang dibicarakan di sini
adalah iman dan kasih dari Paulus sendiri.
Calvin
menganggap bahwa ‘iman dan kasih’ itu adalah iman dan kasih dari
Paulus. Kata ‘iman’ dikontraskan dengan ‘di luar iman’ [ay 13b;
NIV: ‘unbelief’ (= ketidak-percayaan)], dan kata ‘kasih’
dikontraskan dengan kekejaman yang ia lakukan (ay 13a). Ini menunjukkan
perubahan drastis dalam diri Paulus, dan itu semua disebabkan oleh kasih karunia
Allah yang diberikan kepadanya.
Saya lebih
condong pada pandangan kedua.
Ay 15:
“Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: ‘Kristus Yesus datang ke
dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,’ dan di antara mereka akulah yang
paling berdosa”.
1) ‘Perkataan ini
benar dan patut diterima sepenuhnya’.
RSV: ‘worthy
of full acceptance’ (= layak mendapat penerimaan penuh).
NIV: ‘deserves
full acceptance’ (= layak mendapat penerimaan penuh).
NASB: ‘deserving
full acceptance’ (= layak mendapat penerimaan penuh).
KJV/Lit: ‘and
worthy of all acceptation’ (= dan layak mendapat semua
penerimaan).
Jamieson,
Fausset & Brown: “‘All’ -
all possible: to be received by all, with all the faculties of the soul, mind,
and heart” (= ‘Semua’ - semua yang mungkin: untuk diterima oleh semua
orang, dengan semua kemampuan dari jiwa, pikiran dan hati).
Aneh sekali
bahwa bagian ini digunakan oleh Clarke untuk mengajarkan Unlimited Atonement
(= Penebusan Tak Terbatas).
Adam Clarke:
“it is worthy of all acceptation; as all need it, it is worthy of being
received by all. It is designed for the whole human race, for all that are
sinners is applicable to all, because all are sinners; and may be received by
all, being put within every man’s reach, and brought to every man’s ear and
bosom, either by the letter of the word, or, where that revelation is not yet
come, by the power of the divine Spirit, the true light from Christ that
lightens every man that cometh into the world. From this also it is evident
that the death of Christ, and all its eternally saving effects, were designed
for every man” (= ini layak mendapatkan semua penerimaan; karena semua
orang membutuhkannya, ini layak untuk diterima oleh semua. Ini direncanakan
untuk seluruh umat manusia, untuk semua yang adalah orang berdosa, dapat dipakai
untuk semua, karena semua orang adalah orang berdosa; dan bisa diterima oleh
semua, karena diletakkan dalam jangkauan setiap orang, dan dibawa kepada telinga
dan dada dari setiap orang, oleh huruf dari firman, atau, dimana wahyu itu belum
datang, oleh kuasa dari Roh ilahi, terang yang benar dari Kristus yang
menerangi setiap orang yang datang ke dalam dunia. Dari sini juga jelas
bahwa kematian Kristus, dan semua akibat yang menyelamatkan yang kekal,
direncanakan untuk setiap orang).
Penjelasan:
a)
Yang saya beri garis bawah tunggal menunjukkan kesalahan dari pandangan /
argumentasi dari Clarke. Tidak semua orang mendapat kesempatan mendengar Injil,
dan mereka yang tidak mendengar Injil pasti binasa.
Saya tidak
melihat dasar Kitab Suci untuk mengatakan bahwa orang-orang yang tidak pernah
mendengar Injil / Firman Tuhan pasti mendengarnya dari Roh Kudus, seperti yang
dikatakan oleh Clarke di atas. Memang Roh Kudus bisa melakukan hal ini, tetapi
jelas bahwa Ia tidak melakukannya untuk setiap orang yang tidak mendapat
kesempatan untuk mendengar Injil.
Juga perlu
diingat bahwa ada banyak orang yang sudah mati, dan karena itu sudah ada ada di
neraka, pada saat Kristus datang ke dunia untuk melakukan penebusan dosa. Mereka
pasti adalah orang-orang untuk siapa Kristus tidak menebus dosa.
b)
Yang saya beri garis bawah ganda dikutip dari Yoh 1:9 yang salah terjemahan.
Yoh 1:9 - “Terang
yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke
dalam dunia”.
Kata-kata ‘sedang
datang ke dalam dunia’ menerangkan ‘Terang yang sesungguhnya’,
bukan menerangkan ‘setiap orang’.
Clarke
kelihatannya mengutip dari KJV yang memberikan terjemahan yang keliru karena
menterjemahkan ay 9 ini sebagai berikut: That was the true light, which
lighteth every man that cometh into the world (= Itu adalah terang yang
sesungguhnya, yang menerangi setiap orang yang datang ke dalam dunia).
Sebetulnya,
ditinjau dari sudut bahasa Yunaninya, kata-kata ‘sedang datang ke dalam
dunia’ itu memang bisa menerangkan baik ‘terang yang sesungguhnya’
maupun ‘setiap orang’. Karena itu sebetulnya ditinjau dari sudut
bahasa Yunaninya terjemahan KJV itu tidak salah. Tetapi istilah ‘datang ke
dalam dunia’ selalu ditujukan kepada Yesus (3:19 9:39 11:27
12:46 16:28 18:37), dan istilah ini tidak cocok untuk diberikan
kepada manusia biasa, karena istilah ini menunjukkan bahwa orang itu mempunyai
keberadaan sebelum lahir (pre existence).
Jadi jelas
bahwa Clarke memberikan argumentasinya berdasarkan ayat yang salah
terjemahannya.
2) ‘Kristus Yesus
datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,’.
a)
Datang untuk menyelamatkan.
William
Hendriksen: “He did not come to
help them to save themselves, nor to induce them to save themselves, nor even to
enable them to save themselves. He came to save them!” (= Ia tidak datang
untuk menolong mereka untuk menyelamatkan diri mereka sendiri, atau untuk
membujuk mereka untuk menyelamatkan diri mereka sendiri, atau bahkan untuk
memampukan mereka untuk menyelamatkan diri mereka sendiri. Ia datang untuk
menyelamatkan mereka!) - hal 79.
b) ‘orang
berdosa’.
Calvin:
“The word ‘sinners’ is emphatic; for they who acknowledge that it is
the office of Christ to save, have difficulty in admitting this thought, that
such a salvation belongs to ‘sinners’. Our mind is always impelled to look
at our worthiness; and as soon as our unworthiness is seen, our confidence
sinks. Accordingly, the more any one is oppressed by his sins, let him the more
courageously betake himself to Christ, relying on this doctrine, that he came to
bring salvation not to the righteous, but to ‘sinners.’” (= Kata
‘orang-orang berdosa’ ditekankan; karena mereka yang mengakui bahwa adalah
tugas dari Kristus untuk menyelamatkan, mempunyai kesukaran untuk mengakui
pemikiran ini, bahwa keselamatan seperti itu menjadi milik dari ‘orang-orang
berdosa’. Pikiran kita selalu terdorong untuk melihat pada kelayakan kita; dan
begitu ketidak-layakan kita terlihat, keyakinan kita tenggelam. Karena itu,
makin seseorang tertekan / tertindas oleh dosa-dosanya, biarlah ia dengan makin
berani membawa dirinya sendiri kepada Kristus, bersandar pada doktrin / ajaran
ini, bahwa Ia datang untuk membawa keselamatan bukan bagi orang benar tetapi
bagi ‘orang-orang berdosa’) - hal 39.
Bdk. Mat 9:12-13
- “(12) Yesus mendengarnya dan berkata: ‘Bukan orang sehat yang
memerlukan tabib, tetapi orang sakit. (13) Jadi pergilah dan pelajarilah arti
firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena
Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.’”.
Wesley:
“Came into the world to save sinners - All
sinners, without exception”
(= Datang ke dalam dunia untuk menyelamatkan orang-orang berdosa - Semua orang
berdosa, tanpa kecuali).
Lagi-lagi
penafsiran Arminian. Kata ‘all’ (= semua), dan kata-kata ‘without
exception’ (tanpa kecuali) sebetulnya tidak ada.
3) ‘dan di antara
mereka akulah yang paling berdosa’.
a)
Pentingnya kesadaran / ingatan akan dosa kita sendiri.
Thomas
Carlyle: “The deadliest sins were
the consciousness of no sin” (= Dosa yang paling mematikan adalah
ketidaksadaran akan adanya dosa) - ‘The Encyclopedia of Religious
Quotations’, hal 605.
Martin
Luther: “The recognition of sin is
the beginning of salvation” (= Pengenalan akan dosa adalah permulaan /
awal keselamatan) - ‘The Encyclopedia of Religious Quotations’,
hal 607.
Barclay:
“The memory of his sin was the surest way to keep him from pride”
(= Ingatan tentang dosanya adalah jalan yang paling pasti untuk menjaga dia dari
kesombongan) - hal 46.
Barclay:
“The memory of his sin was the surest way to keep his gratitude aflame.
To remember what (that?) we have been forgiven is the
surest way to keep awake our love to Jesus Christ” (= Ingatan
tentang dosanya merupakan jalan yang paling pasti untuk menjaga supaya rasa
terima kasihnya tetap berkobar. Mengingat bahwa kita telah diampuni merupakan
jalan yang paling pasti untuk menjaga supaya kasih kita kepada Yesus Kristus
tetap terjaga) - hal 46.
Barclay:
“The memory of his sin was the constant urge to greatest effort. It is
quite true that a man can never earn the approval of God, or deserve his love;
but it is also true that he can never stop trying to do something to show how
much he appreciates the love and mercy which have made him what he is. Whenever
we love anyone we cannot help trying always to demonstrate our love. When we
remember how much God loves us and how little we deserve it, when we remember
that it was for us that Jesus Christ hung and suffered on Calvary, it must
compel us to effort that will tell God we realize what he has done for us and
will show Jesus Christ that his sacrifice was not in vain” (= Ingatan
tentang dosanya merupakan suatu dorongan terus menerus kepada usaha yang
terbesar. Merupakan sesuatu yang benar bahwa seseorang tidak pernah bisa layak
mendapat persetujuan / sikap baik dari Allah, atau layak mendapat kasihNya;
tetapi juga benar bahwa ia tidak pernah bisa berhenti mencoba melakukan sesuatu
yang menunjukkan betapa besar ia menghargai kasih dan belas kasihan yang telah
membuatnya seperti sekarang ini. Pada saat kita mengasihi siapapun, kita tidak
bisa tidak selalu berusaha menunjukkan kasih kita. Pada waktu kita mengingat
betapa besar Allah mengasihi kita dan betapa sedikit kita layak mendapatkannya,
pada waktu kita mengingat bahwa untuk kitalah Yesus Kristus tergantung dan
menderita di Kalvari, itu harus mendorong kita kepada usaha yang akan
memberitahu Allah bahwa kita menyadari apa yang telah Ia lakukan untuk kita dan
akan menunjukkan kepada Yesus Kristus bahwa pengorbananNya tidaklah sia-sia)
- hal 47.
Barclay:
“Paul’s sin was something which he refused to forget, for every time
he remembered the greatness of his sin, he remembered the still greater
greatness of Jesus Christ. It was not that he brooded unhealthily over his sin;
it was that he remembered it to rejoice in the wonder of the grace of Jesus
Christ ” (= Dosa Paulus adalah sesuatu yang ia tak mau lupakan, karena
setiap kali ia mengingat besarnya dosanya, ia ingat kebesaran Yesus Kristus yang
lebih besar lagi. Bukan bahwa ia memikirkan secara tidak sehat akan dosanya;
tetapi ia mengingatnya untuk bersukacita dalam keajaiban dari kasih karunia
Yesus Kristus) - hal 48.
b)
Dosa seseorang yang besar / hebat bukanlah penghalang untuk keselamatannya.
Martin
Luther: “Be a sinner and sin
mightily, but more mightily believe and rejoice in Christ” (= Jadilah
orang berdosa, dan berdosalah dengan hebat, tetapi percayalah kepada Kristus dan
bersukacitalah dalam Kristus dengan lebih hebat) - ‘The
Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 607.
Catatan:
Kata-kata ini tentu tak boleh diartikan bahwa Luther menyuruh kita sengaja
berbuat dosa. Kalau diartikan demikian akan bertentangan dengan Ro 6:1-2 - “(1)
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam
dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? (2) Sekali-kali tidak!
Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di
dalamnya?”.
Maksudnya
adalah: sekalipun kita adalah orang yang sangat berdosa, yang telah melakukan
dosa-dosa yang hebat, iman kepada Kristus bisa mengatasi semua itu, dan
karenanya kita harus tetap bersukacita.
Calvin:
“He shews that it was profitable to the Church that he had been such a
person as he actually was before he was called to the apostleship, because
Christ, by giving him as a pledge, invited all sinners to the sure hope of
obtaining pardon. For when he, who had been a fierce and savage beast, was
changed into a Pastor, Christ gave a remarkable display of his grace, from which
all might be led to entertain a firm belief that no sinner, how heinous and
aggravated soever might have been his transgression, had the gate of salvation
shut against him” (= Ia menunjukkan bahwa merupakan sesuatu yang
bermanfaat untuk Gereja bahwa ia tadinya adalah seseorang seperti bagaimana
adanya ia sebelum ia dipanggil pada kerasulan, karena Kristus, dengan memberi
dia sebagai suatu janji, mengundang semua orang berdosa pada pengharapan yang
pasti dari penerimaan pengampunan. Karena ketika ia, yang dahulunya adalah
binatang yang galak dan buas, diubah menjadi seorang Pendeta / Gembala, Kristus
memberikan pertunjukan yang luar biasa tentang kasih karuniaNya, dari mana semua
bisa dibimbing untuk mempunyai kepercayaan yang teguh bahwa tidak ada orang
berdosa, bagaimanapun mengerikan dan buruknya pelanggarannya, mendapati bahwa
pintu gerbang keselamatan telah tertutup baginya) - hal 38-39.
c)
Ini merupakan kata-kata yang membingungkan dari Paulus.
Pada waktu
Paulus mengatakan bahwa ia adalah yang paling berdosa di antara orang-orang
berdosa, apa maksudnya?
William
Hendriksen: “This final clause has
caused a wider variety of interpretation than almost any other in Paul’s
writings” (= Anak kalimat terakhir ini telah menyebabkan perbedaan
penafsiran yang lebih lebar dari pada hampir semua hal lain dalam tulisan
Paulus) - hal 79.
Ada
bermacam-macam penafsiran tentang bagian ini:
1.
Paulus terlalu keras kepada dirinya sendiri; Ia menganggap dirinya adalah orang
yang paling berdosa, padahal sebetulnya tidak demikian.
Tetapi
pandangan ini bertentangan dengan ‘Infallibility of the Scripture’ (=
Ketidakbersalahan Kitab Suci).
2.
Aku termasuk dalam grup orang yang paling berdosa.
Bdk. Kis 28:17
- “Tiga hari kemudian Paulus memanggil orang-orang terkemuka bangsa
Yahudi dan setelah mereka berkumpul, Paulus berkata: ‘Saudara-saudara,
meskipun aku tidak berbuat kesalahan terhadap bangsa kita atau terhadap adat
istiadat nenek moyang kita, namun aku ditangkap di Yerusalem dan diserahkan
kepada orang-orang Roma”.
Kata ‘terkemuka’
di sini menggunakan kata Yunani yang sama.
3.
Kata-kata Paulus di sini merupakan suatu Hyperbole, yang merupakan suatu gaya
bahasa yang melebih-lebihkan.
Gaya bahasa ini
memang banyak digunakan dalam Kitab Suci.
Contoh: 2Raja 17:10
- “mereka mendirikan tugu-tugu berhala dan tiang-tiang berhala di atas
setiap bukit yang tinggi dan di bawah setiap pohon yang rimbun”.
Tentu tidak
mungkin bahwa betul-betul di bawah setiap pohon yang rimbun ada berhala!
4.
Ini bukan penilaian yang obyektif tetapi subyektif.
Jamieson,
Fausset & Brown: “‘I am’ -
not merely, ‘I was’ (1 Cor. 15:9; Eph. 3:8: cf. Luke 18:13). To each
believer his own sins always appear greater than those of others, which he never
can know as he does his own” [= ‘Sekarang Aku adalah’ - bukan hanya
‘Aku dulunya’ (1Kor 15:9; Ef 3:8: bdk. Luk 18:13). Bagi setiap orang percaya
dosa-dosanya selalu kelihatan lebih besar dari pada dosa-dosa orang-orang lain;
yang tidak pernah bisa ia ketahui seperti ia mengetahui dosa-dosanya sendiri].
5.
Yang dimaksud dengan ‘orang-orang berdosa’ bukanlah seadanya orang berdosa
dalam sepanjang jaman, tetapi hanya ‘orang berdosa yang termasuk orang
pilihan’ atau ‘orang berdosa yang percaya kepada Kristus sampai pada saat
itu’.
William
Hendriksen: “he must have meant,
‘Of all sinners whom Christ Jesus came into the world to save, I am the
greatest’” (= ia pasti memaksudkan: ‘Dari semua orang berdosa untuk
siapa Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan, aku adalah yang
terbesar) - hal 80.
Penafsiran ini
sesuai dengan kata-kata ‘dan di antara mereka’ dalam ay 15b,
karena kata ‘mereka’ menunjuk pada orang-orang yang diselamatkan oleh
Kristus.
Bdk. Ef 3:8
- “Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah
dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan
Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu”.
Adam Clarke
mengatakan bahwa Paulus adalah yang paling berdosa di antara orang yang
diselamatkan oleh Kristus sampai pada saat itu.
6.
Ia adalah orang yang paling berdosa hanya dalam arti tertentu.
Barnes’
Notes: “This does not mean that he
had been the greatest of sinners in all respects, but that in some respects he
had been so great a sinner, that on the whole there were none who had surpassed
him. That to which he particularly refers was doubtless the part which he had
taken in putting the saints to death” (= Ini tidak berarti bahwa ia adalah
orang berdosa yang paling besar / hebat dalam semua hal, tetapi bahwa dalam
hal-hal tertentu ia adalah orang berdosa yang begitu hebat, sehingga secara
keseluruhan tidak ada orang yang melampaui dia. Tak diragukan bahwa hal yang ia
tunjuk secara khusus adalah dimana ia telah mengambil bagian dalam membunuh
orang-orang kudus).
Bdk. 1Kor 15:9
- “Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah
menganiaya Jemaat Allah”.
Tetapi
bagaimana arti-arti ini bisa sesuai dengan kata-kata Paulus dalam ay 16? Bahwa
ia adalah orang yang paling berdosa dijadikan olehnya sebagai dasar bahwa semua
orang bisa datang kepada Kristus dan mendapatkan belas kasihan dan pengampunan.
Kalau ia bukan sungguh-sungguh paling berdosa, maka kata-kata dalam ay 16 ini
kehilangann kekuatannya.
Catatan:
dalam bagian ini Paulus menggunakan ‘present tense’ (bentuk sekarang;
ia mengatakan ‘I am’, bukan ‘I was’). Ini tidak berarti
bahwa pada saat itu, setelah menjadi rasul sekian lama, ia tetap lebih berdosa
dari orang kristen yang lain. Ia menggunakan ‘present tense’ (=
bentuk sekarang) karena ia meninjau seluruh kehidupannya sampai pada saat itu.
d)
Orang yang paling berdosa menjadi orang yang paling kudus.
Matthew
Henry: “he that elsewhere calls
himself the least of all saints (Eph. 3:8) here calls himself the chief of
sinners. ... the chief of sinners may become the chief of saints; so this
apostle was, for he was not a whit behind the very chief apostles (2 Cor.
11:5)” [= ia yang di tempat lain menyebut dirinya sendiri yang paling
kecil / hina dari semua orang-orang kudus (Ef 3:8), di sini menyebut dirinya
sendiri kepala dari orang-orang berdosa. ... kepala orang-orang berdosa bisa
menjadi kepala orang-orang kudus; demikianlah dengan rasul ini, karena ia
sedikitpun tidak berada di belakang kepala rasul-rasul (2Kor 11:5)].
Ef 3:8 - “Kepadaku,
yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih
karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan
Kristus, yang tidak terduga itu”.
2Kor 11:5
- “Tetapi menurut pendapatku sedikitpun aku tidak kurang dari pada
rasul-rasul yang tak ada taranya itu”.
Saya tak setuju
dengan penggunaan 2Kor 11:5, karena ini berbicara bukan tentang rasul-rasul
asli, tetapi tentang rasul-rasul palsu. Mungkin 1Kor 15:9-10 di bawah ini
lebih cocok untuk digunakan.
1Kor 15:9-10
- “(9) Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab
aku telah menganiaya Jemaat Allah. (10) Tetapi karena kasih karunia Allah aku
adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkanNya
kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada
mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang
menyertai aku”.
-AMIN-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali