(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 2 Februari 2025, pk 09.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
nabi murtad
1Raja 13:1-34 - “(1) Sedang Yerobeam berdiri di atas mezbah itu sambil membakar korban, maka atas perintah TUHAN datanglah seorang abdi Allah dari Yehuda ke Betel. (2) Lalu atas perintah TUHAN berserulah orang itu terhadap mezbah itu, katanya: ‘Hai mezbah, hai mezbah! Beginilah firman TUHAN: Bahwasanya seorang anak akan lahir pada keluarga Daud, Yosia namanya; ia akan menyembelih di atasmu imam-imam bukit pengorbanan yang membakar korban di atasmu, juga tulang-tulang manusia akan dibakar di atasmu.’ (3) Pada waktu itu juga ia memberitahukan suatu tanda ajaib, katanya: ‘Inilah tanda ajaib, bahwa TUHAN telah berfirman: Bahwasanya mezbah itu akan pecah, sehingga tercurah abu yang di atasnya.’ (4) Demi raja Yerobeam mendengar perkataan abdi Allah yang diserukannya terhadap mezbah di Betel itu, ia mengulurkan tangannya dari atas mezbah dan berkata: ‘Tangkaplah dia!’ Tetapi tangan yang diulurkannya terhadap orang itu menjadi kejang, sehingga tidak dapat ditariknya kembali. (5) Mezbah itupun pecahlah, sehingga abu yang di atasnya tercurah, sesuai dengan tanda ajaib yang diberitahukan abdi Allah itu atas perintah TUHAN. (6) Lalu berbicaralah raja dan berkata kepada abdi Allah itu: ‘Mohonkanlah belas kasihan TUHAN, Allahmu, dan berdoalah untukku, supaya tanganku dapat kembali.’ Dan abdi Allah itu memohonkan belas kasihan TUHAN, maka tangan raja itu dapat kembali dan menjadi seperti semula. (7) Kemudian berbicaralah raja kepada abdi Allah itu: ‘Marilah bersama-sama dengan aku ke rumah, segarkan badanmu, sesudah itu aku hendak memberikan suatu hadiah kepadamu.’ (8) Tetapi abdi Allah itu berkata kepada raja: ‘Sekalipun setengah dari istanamu kauberikan kepadaku, aku tidak mau singgah kepadamu; juga aku tidak mau makan roti atau minum air di tempat ini. (9) Sebab beginilah diperintahkan kepadaku atas firman TUHAN: Jangan makan roti atau minum air dan jangan kembali melalui jalan yang telah kautempuh itu.’ (10) Lalu pergilah ia melalui jalan lain dan tidak kembali melalui jalan yang telah diambilnya untuk datang ke Betel. (11) Di Betel diam seorang nabi tua. Anak-anaknya datang menceritakan kepadanya segala perbuatan yang dilakukan abdi Allah pada hari itu di Betel. Mereka menceriterakan juga kepada ayah mereka perkataan yang dikatakannya kepada raja. (12) Kemudian ayah mereka bertanya: ‘Dari jalan manakah ia pergi?’ Lalu anak-anaknya menunjukkan kepadanya jalan yang diambil abdi Allah yang datang dari Yehuda itu. (13) Ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Pelanai keledai bagiku!’ Mereka memelanai keledai baginya, lalu ia menunggangnya (14) dan pergi mengikuti abdi Allah itu dan mendapatinya duduk di bawah sebuah pohon besar. Ia bertanya kepadanya: ‘Engkaukah abdi Allah yang telah datang dari Yehuda?’ Jawabnya: ‘Ya, akulah itu.’ (15) Katanya kepadanya: ‘Marilah bersama-sama aku ke rumah untuk makan roti.’ (16) Tetapi jawabnya: ‘Aku tidak dapat kembali bersama-sama engkau dan singgah kepadamu; aku tidak dapat makan roti atau minum air bersama-sama engkau di tempat ini, (17) sebab telah diperintahkan kepadaku atas firman TUHAN: Jangan makan roti atau minum air di sana. Jangan berjalan pulang melalui jalan yang telah kauambil itu.’ (18) Lalu jawabnya kepadanya: ‘Akupun seorang nabi juga seperti engkau, dan atas perintah TUHAN seorang malaikat telah berkata kepadaku: Bawa dia pulang bersama-sama engkau ke rumahmu, supaya ia makan roti dan minum air.’ Tetapi ia berbohong kepadanya. (19) Kemudian orang itu kembali bersama-sama dia, lalu makan roti dan minum air di rumahnya. (20) Sedang mereka duduk menghadapi meja, datanglah firman TUHAN kepada nabi yang telah membawa dia pulang. (21) Ia berseru kepada abdi Allah yang telah datang dari Yehuda: ‘Beginilah firman TUHAN: Karena engkau telah memberontak terhadap titah TUHAN dan tidak berpegang pada segala perintah yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, (22) tetapi kembali dan makan roti dan minum air di tempat ini walaupun Ia telah berfirman kepadamu: Jangan makan roti atau minum air, - maka mayatmu tidak akan masuk ke dalam kubur nenek moyangmu.’ (23) Setelah orang itu makan roti dan minum air, dipelanailah keledai baginya. (24) Orang itu pergi, tetapi di tengah jalan ia diserang seekor singa dan mati diterkam. Mayatnya tercampak di jalan dan keledai itu berdiri di sampingnya; singa itupun berdiri di samping mayat itu. (25) Orang-orang yang lewat melihat mayat itu tercampak di jalan dan singa berdiri di sampingnya. Dan mereka menceriterakannya di kota tempat kediaman nabi tua itu. (26) Ketika hal itu kedengaran kepada nabi yang telah membujuk dia berbalik kembali, ia berkata: ‘Dialah abdi Allah yang telah memberontak terhadap titah TUHAN. TUHAN menyerahkan dia kepada singa, yang mencabik dan membunuhnya sesuai dengan firman TUHAN yang diucapkanNya kepadanya.’ (27) Lalu berbicaralah ia kepada anak-anaknya: ‘Pelanailah keledai bagiku.’ Dan mereka memelanainya. (28) Kemudian ia pergi dan menemukan mayat orang itu tercampak di jalan, sedang keledai dan singa berdiri di sampingnya. Singa itu tidak memakan mayat itu dan tidak mencabik keledai itu. (29) Nabi tua itu mengangkat mayat abdi Allah itu, menaruhnya ke atas keledai dan membawanya kembali ke kotanya sendiri untuk diratapi dan dikuburkan. (30) Mayat orang itu dikuburkannya di dalam kuburnya sendiri, maka diratapilah dia: ‘Wahai, saudaraku!’ (31) Setelah ia menguburkannya, ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Kalau aku mati, kuburkanlah aku dalam kubur ini bersama dengan abdi Allah itu, dan taruhlah tulang-tulangku di sisi tulang-tulangnya. (32) Sebab perkataan yang atas perintah TUHAN telah diserukannya terhadap mezbah yang di Betel itu dan terhadap segala kuil di bukit-bukit pengorbanan yang di kota-kota Samaria akan betul-betul terjadi.’ (33) Sesudah peristiwa inipun Yerobeam tidak berbalik dari kelakuannya yang jahat itu, tetapi mengangkat pula imam-imam dari kalangan rakyat untuk bukit-bukit pengorbanan. Siapa yang mau saja, ditahbiskannya menjadi imam untuk bukit-bukit pengorbanan. (34) Dan tindakan itu menjadi dosa bagi keluarga Yerobeam, sehingga mereka dilenyapkan dan dipunahkan dari muka bumi.”.
Ay 31-32: “(31) Setelah ia menguburkannya, ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Kalau aku mati, kuburkanlah aku dalam kubur ini bersama dengan abdi Allah itu, dan taruhlah tulang-tulangku di sisi tulang-tulangnya. (32) Sebab perkataan yang atas perintah TUHAN telah diserukannya terhadap mezbah yang di Betel itu dan terhadap segala kuil di bukit-bukit pengorbanan yang di kota-kota Samaria akan betul-betul terjadi.’”.
1) “Setelah ia menguburkannya, ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Kalau aku mati, kuburkanlah aku dalam kubur ini bersama dengan abdi Allah itu, dan taruhlah tulang-tulangku di sisi tulang-tulangnya.” (ay 31).
Mengapa nabi tua itu ingin dikuburkan dengan abdi Allah dari Yehuda itu?
Jamieson, Fausset & Brown: “‘Bury me in the sepulchre wherein the man of God is buried.’ His motive in making this request was either that his remains might not be disturbed when the predicted events took place (see the notes at 2 Kin. 23:18), or he had some superstitious hope of being benefited at the resurrection by being in the same grave with a man of God” [= ‘Kuburkanlah aku dalam kubur dimana abdi Allah itu dikuburkan’. Motivasinya untuk membuat permintaan ini adalah supaya jenazahnya bisa tidak diganggu pada waktu peristiwa yang dinubuatkan terjadi (lihat catatan pada 2Raja 23:18), atau karena ia mempunyai pengharapan yang bersifat takhyul bahwa ia akan mendapatkan keuntungan / manfaat dengan berada dalam kubur yang sama dengan seorang abdi Allah].
Bdk. 2Raja 23:16-18 - “(16) Dan ketika Yosia berpaling, dilihatnyalah kuburan-kuburan yang ada di gunung di sana, lalu menyuruh orang mengambil tulang-tulang dari kuburan-kuburan itu, membakarnya di atas mezbah dan menajiskannya, sesuai dengan firman TUHAN yang telah diserukan oleh abdi Allah yang telah menyerukan hal-hal ini. (17) Ia berkata: ‘Apakah tanda keramat yang kulihat ini?’ Lalu orang-orang di kota itu menjawab dia: ‘Itulah kuburan abdi Allah yang sudah datang dari Yehuda dan yang telah menyerukan segala hal yang telah kaulakukan terhadap mezbah Betel ini!’ (18) Lalu katanya: ‘Biarkanlah itu, janganlah ada orang yang menjamah tulang-tulangnya!’ Jadi mereka tidak mengganggu tulang-tulangnya dan tulang-tulang nabi yang telah datang dari Samaria itu.”.
2) “Sebab perkataan yang atas perintah TUHAN telah diserukannya terhadap mezbah yang di Betel itu dan terhadap segala kuil di bukit-bukit pengorbanan yang di kota-kota Samaria akan betul-betul terjadi.’” (ay 32).
a) ‘terhadap segala bukit pengorbanan’.
Keil & Delitzsch: “There is a prophetic element in the words ‘upon all the houses of the high places,’ etc., inasmuch as the only other erection at that time beside the one at Bethel was a temple of the high places at Dan. But after such a beginning the multiplication of them might be foreseen with certainty, even without any higher illumination” [= Ada elemen nubuatan dalam kata-kata ‘terhadap segala bukit-bukit pengorbanan’ (bentuk jamak), dsb, karena pada saat itu satu-satunya pendirian (bukit pengorbanan) yang lain disamping bukit pengorbanan di Betel adalah kuil bukit pengorbanan di Dan. Tetapi setelah permulaan yang seperti itu, penggandaan dari bukit-bukit pengorbanan itu dilihat lebih dulu dengan suatu kepastian, bahkan tanpa pencerahan yang lebih tinggi].
Catatan: maksud dari bagian yang saya garis-bawahi mungkin adalah bahwa tanpa terang khusus dari Tuhan, dan hanya dengan menggunakan logika biasa, orang bisa meramalkan terjadinya hal itu.
b) ‘kota-kota Samaria’.
Keil & Delitzsch: “The expression ‘cities of Samaria’ belongs to the author of these books, and is used proleptically of the kingdom of the ten tribes, which did not receive this name till after the building of the city of Samaria as the capital of the kingdom and the residence of the kings of Israel (1 Kin 16:24)” [= Ungkapan ‘kota-kota Samaria’ merupakan milik dari pengarang dari kitab-kitab ini (kitab Raja-raja), dan digunakan secara antisipasi tentang kerajaan dari 10 suku itu, yang tidak menerima nama itu sampai setelah pembangunan kota Samaria sebagai ibu kota dari kerajaan dan tempat tinggal dari raja-raja Israel (1Raja 16:24)].
1Raja 16:24 - “Kemudian ia membeli gunung Samaria dari pada Semer dengan dua talenta perak. Ia mendirikan suatu kota di gunung itu dan menamainya Samaria, menurut nama Semer, pemilik gunung itu.”.
Matthew Henry: “The cities of Israel are here called ‘cities of Samaria,’ though that name was not yet known; for, however the old prophet spoke, the inspired historian wrote in the language of his own time” [= Kota-kota Israel di sini disebut ‘kota-kota Samaria’, sekalipun nama itu belum dikenal; karena tak peduli apa yang diucapkan nabi tua itu, ahli sejarah yang diilhami (penulis dari kitab Raja-raja) menulis dalam bahasa dari zamannya sendiri].
Barnes’ Notes: “The word ‘Samaria’ cannot have been employed by the old prophet, in whose days Samaria did not exist (1 Kings 16:24). The writer of Kings has substituted for the term used by him that whereby the country was known in his own day” [= Kata ‘Samaria’ tidak bisa digunakan oleh nabi tua itu, dalam jaman siapa Samaria belum ada (1Raja 16:24). Penulis dari Raja-raja telah menggantikan istilah yang ia gunakan dengan istilah dengan mana negara itu dikenal pada zamannya sendiri].
c) “Sebab perkataan yang atas perintah TUHAN telah diserukannya ... akan betul-betul terjadi.’”.
Ini merupakan suatu peneguhan dari nabi tua ini terhadap nubuat yang telah disampaikan oleh abdi Allah dari Yehuda kepada Yerobeam dalam ay 2, dan ini menyebabkan adanya orang-orang yang menganggap nabi tua ini sebagai betul-betul seorang nabi.
Keil & Delitzsch: “The conduct of the old prophet at Bethel appears so strange, that Josephus and the Chald., and most of the Rabbins and of the earlier commentators both Catholic and Protestant, have regarded him as a false prophet, who tried to lay a trap for the prophet from Judah, in order to counteract the effect of his prophecy upon the king and the people. But this assumption cannot be reconciled with either the divine revelation which came to him at the table, announcing to the Judaean prophet the punishment of his transgression of the commandment of God, and was so speedily fulfilled (vv. 20-24); or with the honour which he paid to the dead man after this punishment had fallen upon him, by burying him in his own grave; and still less with his confirmation of his declaration concerning the altar at Bethel (vv. 29-32). We must therefore follow Ephr. Syr., Theodor., Hengstenberg, and others, and regard the old prophet as a true prophet, who with good intentions, and not ‘under the influence of human envy’ (Thenius), but impelled by the desire to enter into a closer relation to the man of God from Judah and to strengthen himself through his prophetic gifts, urged him to enter his house. The fact that he made use of sinful means in order to make more sure of securing the end desired, namely, of the false pretence that he had been directed by an angel to do this, may be explained, as Hengstenberg suggests (Dissert. vol. ii. p. 149), on the ground that when Jeroboam introduced his innovations, he had sinned by keeping silence, and that the appearance of the Judaean prophet had brought him to a consciousness of this sin, so that he had been seized with shame on account of his fall, and was anxious to restore himself to honour in his own eyes and those of others by intercourse with this witness to the truth” [= Tingkah laku dari nabi tua di Betel itu begitu aneh, sehingga Josephus dan orang-orang Kasdim / Kitab Suci Kasdim dan kebanyakan Rabi-rabi dan penafsir-penafsir mula-mula, baik Katolik maupun Protestan, telah menganggapnya sebagai seorang nabi palsu, yang mencoba untuk meletakkan suatu jerat untuk nabi dari Yehuda ini, untuk menetralkan pengaruh / akibat dari nubuatnya terhadap raja dan bangsa itu. Tetapi anggapan ini tidak bisa didamaikan dengan wahyu ilahi yang datang kepadanya di meja, yang mengumumkan kepada nabi Yehuda itu hukuman dari pelanggarannya terhadap perintah Allah, dan yang digenapi dengan begitu cepat (ay 20-24); atau dengan kehormatan yang ia berikan kepada orang yang mati itu setelah hukuman ini jatuh kepadanya, dengan menguburkannya dalam kuburnya sendiri; dan lebih-lebih dengan peneguhannya tentang pernyataannya mengenai mezbah di Betel (ay 29-32). Karena itu kita / kami harus mengikuti Ephr. Syr., Theodor., Hengstenberg, dan yang lain-lain, dan menganggap nabi tua itu sebagai seorang nabi asli, yang dengan maksud baik, dan bukan ‘ada di bawah pengaruh dari rasa iri hati manusia’ (Thenius), tetapi didorong oleh keinginan untuk mendapatkan hubungan yang lebih dekat dengan abdi Allah dari Yehuda itu, dan untuk menguatkan dirinya sendiri melalui karunia nubuatnya, mendesaknya untuk masuk ke rumahnya. Fakta bahwa ia menggunakan cara yang berdosa untuk lebih memastikan tujuan yang diinginkannya, yaitu, dengan kepura-puraan palsu bahwa ia telah diarahkan oleh seorang malaikat untuk melakukan hal ini, bisa dijelaskan, seperti diusulkan oleh Hengstenberg (Dissert. vol. ii. hal. 149), berdasarkan fakta dimana pada waktu Yerobeam memperkenalkan pembaharuan / perubahannya, ia telah berdosa dengan berdiam diri, dan munculnya nabi Yehuda ini telah membawanya pada kesadaran akan dosa ini, sehingga ia telah dicengkeram oleh rasa malu karena kejatuhannya, dan sangat ingin untuk memulihkan kehormatan dirinya sendiri dalam pandangannya sendiri dan orang-orang lain dengan hubungan dengan saksi kebenaran ini].
Ay 33-34: “(33) Sesudah peristiwa inipun Yerobeam tidak berbalik dari kelakuannya yang jahat itu, tetapi mengangkat pula imam-imam dari kalangan rakyat untuk bukit-bukit pengorbanan. Siapa yang mau saja, ditahbiskannya menjadi imam untuk bukit-bukit pengorbanan. (34) Dan tindakan itu menjadi dosa bagi keluarga Yerobeam, sehingga mereka dilenyapkan dan dipunahkan dari muka bumi.”.
1) “Sesudah peristiwa inipun Yerobeam tidak berbalik dari kelakuannya yang jahat itu, tetapi mengangkat pula imam-imam dari kalangan rakyat untuk bukit-bukit pengorbanan. Siapa yang mau saja, ditahbiskannya menjadi imam untuk bukit-bukit pengorbanan.” (ay 33).
a) Yerobeam tidak bertobat.
Sudah jelas Yerobeam tidak mungkin bertobat, karena kalau ia bertobat, maka nubuat nabi dari Yehuda itu tak akan terjadi.
b) Yerobeam melanjutkan dosanya.
1. Dosa Yerobeam mula-mula digambarkan dalam 1Raja 12:28-31.
1Raja 12:28-31 - “(28) Sesudah menimbang-nimbang, maka raja membuat dua anak lembu jantan dari emas dan ia berkata kepada mereka: ‘Sudah cukup lamanya kamu pergi ke Yerusalem. Hai Israel, lihatlah sekarang allah-allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir.’ (29) Lalu ia menaruh lembu yang satu di Betel dan yang lain ditempatkannya di Dan. (30) Maka hal itu menyebabkan orang berdosa, sebab rakyat pergi ke Betel menyembah patung yang satu dan ke Dan menyembah patung yang lain. (31) Ia membuat juga kuil-kuil di atas bukit-bukit pengorbanan, dan mengangkat imam-imam dari kalangan rakyat yang bukan dari bani Lewi.”.
Bandingkan ay 31nya dengan terjemahan dari KJV dan NIV di bawah ini.
KJV: ‘And he made an house of high places, and made priests of the lowest of the people, which were not of the sons of Levi’ [= Dan ia membuat suatu rumah / kuil bukit pengorbanan, dan membuat imam-imam dari orang-orang yang paling rendah, yang bukan anak-anak Lewi].
NIV: ‘Jeroboam built shrines on high places and appointed priests from all sorts of people, even though they were not Levites’ [= Yerobeam membangun kuil-kuil di bukit-bukit pengorbanan dan menetapkan imam-imam dari semua jenis orang, sekalipun mereka bukan dari suku Lewi].
Adam Clarke (tentang 1Raja 12:31): “‘Made priests of the lowest of the people.’ He took the people indifferently as they came, and made them priests, ... without troubling himself whether they were of the family of Aaron or the house of Levi, or not” [= ‘Membuat imam-imam dari orang-orang yang paling rendah’. Ia mengambil orang-orang biasa, dan membuat mereka imam-imam, ... tanpa mempersoalkan apakah mereka berasal dari keluarga Harun atau Lewi, atau tidak].
Jamieson, Fausset & Brown (tentang 1Raja 12:31): “‘Made priests of the lowest of the people,’ kohªniym miqtsowt haa`aam - ‘from the extremities of the people;’ i. e., out of all the people” [= ‘Membuat imam-imam dari orang-orang yang paling rendah’, kohªniym miqtsowt haa`aam - ‘dari orang-orang yang paling jauh’; yaitu, dari semua bangsa itu].
Barnes’ Notes (tentang 1Raja 12:31): “‘Made priests of the lowest of the people.’ More correctly, ‘from all ranks of the people.’” [= ‘Membuat imam-imam dari orang-orang yang paling rendah’. Lebih tepat, ‘dari semua tingkat dari bangsa itu’].
2. Sekarang, dalam 1Raja 13:33 ini dinyatakan bahwa Yerobeam tidak bertobat, tetapi melanjutkan dosa tersebut.
Ay 33: “Sesudah peristiwa inipun Yerobeam tidak berbalik dari kelakuannya yang jahat itu, tetapi mengangkat pula imam-imam dari kalangan rakyat untuk bukit-bukit pengorbanan. Siapa yang mau saja, ditahbiskannya menjadi imam untuk bukit-bukit pengorbanan.”.
a. Yerobeam tidak bertobat.
Matthew Henry: “The obstinacy of Jeroboam in his idolatry (v. 33): He returned not from his evil way; some hand was found that durst repair the altar God had rent, and then Jeroboam offered sacrifice on it again, and the more boldly because the prophet who disturbed him before was in his grave ... and because the prophecy was for a great while to come” [= Kekeras-kepalaan Yerobeam dalam penyembahan berhalanya (ay 33). Ia tidak bertobat dari jalannya yang jahat; ditemukan tangan-tangan yang berani memperbaiki mezbah yang dipecahkan oleh Allah, dan lalu Yerobeam mempersembahkan korban di atasnya lagi, dan dengan makin berani karena sang nabi yang mengganggunya sebelumnya ada dalam kuburnya ... dan karena nubuat itu baru akan terjadi lama setelah itu].
b. Yerobeam mengangkat lagi imam-imam dari kalangan orang biasa.
Ay 33: “tetapi mengangkat pula imam-imam dari kalangan rakyat untuk bukit-bukit pengorbanan. Siapa yang mau saja, ditahbiskannya menjadi imam untuk bukit-bukit pengorbanan.”.
KJV: ‘but made again of the lowest of the people priests of the high places: whosoever would, he consecrated him, and he became [one] of the priests of the high places’ [= tetapi membuat lagi dari orang-orang yang paling rendah dari bangsa itu imam-imam bukit-bukit pengorbanan: siapapun yang mau, ditahbiskannya, dan ia menjadi salah satu imam dari bukit-bukit pengorbanan].
RSV: ‘but made priests for the high places again from among all the people; any who would, he consecrated to be priests of the high places’ [= tetapi membuat imam-imam untuk bukit-bukit pengorbanan lagi dari antara semua bangsa itu; siapapun yang mau, ditahbiskannya menjadi imam-imam dari bukit-bukit pengorbanan].
NIV: ‘but once more appointed priests for the high places from all sorts of people. Anyone who wanted to become a priest he consecrated for the high places’ [= tetapi sekali lagi menetapkan imam-imam untuk bukit-bukit pengorbanan dari semua jenis orang. Siapapun yang mau menjadi seorang imam ditahbiskannya untuk bukit-bukit pengorbanan].
NASB: ‘but again he made priests of the high places from among all the people; any who would, he ordained, to be priests of the high places’ [= tetapi membuat lagi imam-imam bukit-bukit pengorbanan dari antara semua bangsa itu; siapapun yang mau, ditahbiskannya, untuk menjadi imam-imam dari bukit-bukit pengorbanan].
Catatan: KJV menterjemahkan secara paling berbeda; dalam KJV ada kata ‘lowest’ [= terendah]. Tetapi dalam pembahasan 1Raja 12:31 di atas, kita sudah melihat arti sebenarnya dari kata-kata tersebut.
Adam Clarke: “‘Made again of the lowest of the people priests.’ in the formation of his priesthood, he seems to have gone aside from all models. Amongst the worst of pagans, the priesthood was filled with respectable men; but Jeroboam took of the lowest of the people, and put them in that office” [= ‘Membuat lagi imam-imam dari orang-orang yang paling rendah’. Dalam pembentukan ke-imam-annya, ia kelihatannya telah menyimpang dari semua model. Di antara orang-orang kafir yang paling buruk, ke-imam-an diisi dengan orang-orang yang terhormat; tetapi Yerobeam mengambil orang-orang yang paling rendah, dan meletakkan mereka dalam jabatan itu].
Adam Clarke: “‘Whosoever would, he consecrated him.’ He made no discrimination: any vagabond that offered was accepted even of those who had no character, who were too idle to work, and too stupid to learn” [= ‘Siapapun yang mau, ia mentahbiskannya’. Ia tidak membeda-bedakan: pengembara / gelandangan manapun yang menawarkan diri diterima, bahkan dari mereka yang tidak mempunyai karakter, yang terlalu malas untuk bekerja, dan terlalu bodoh untuk belajar].
2) “Dan tindakan itu menjadi dosa bagi keluarga Yerobeam, sehingga mereka dilenyapkan dan dipunahkan dari muka bumi.” (ay 34).
Mari kita perhatikan mengapa mula-mula Yerobeam sampai melakukan dosa ini.
1Raja 12:26-29 - “(26) Maka berkatalah Yerobeam dalam hatinya: ‘Kini mungkin kerajaan itu kembali kepada keluarga Daud. (27) Jika bangsa itu pergi mempersembahkan korban sembelihan di rumah TUHAN di Yerusalem, maka tentulah hati bangsa ini akan berbalik kepada tuan mereka, yaitu Rehabeam, raja Yehuda, kemudian mereka akan membunuh aku dan akan kembali kepada Rehabeam, raja Yehuda.’ (28) Sesudah menimbang-nimbang, maka raja membuat dua anak lembu jantan dari emas dan ia berkata kepada mereka: ‘Sudah cukup lamanya kamu pergi ke Yerusalem. Hai Israel, lihatlah sekarang allah-allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir.’ (29) Lalu ia menaruh lembu yang satu di Betel dan yang lain ditempatkannya di Dan.”.
Sebelumnya Tuhan telah menjanjikan keamanan mahkota itu, kalau ia hidup sesuai kehendak Tuhan.
1Raja 11:38 - “Dan jika engkau mendengarkan segala yang Kuperintahkan kepadamu dan hidup menurut jalan yang Kutunjukkan dan melakukan apa yang benar di mataKu dengan tetap mengikuti segala ketetapan dan perintahKu seperti yang telah dilakukan oleh hambaKu Daud, maka Aku akan menyertai engkau dan Aku akan membangunkan bagimu suatu keluarga yang teguh seperti yang Kubangunkan bagi Daud, dan Aku akan memberikan orang Israel kepadamu.”.
Tetapi ternyata, untuk menjamin keamanan mahkota kerajaannya, Yerobeam justru melakukan dosa, dengan menciptakan ibadah baru / penyembahan berhala itu. Ini ia ciptakan, jelas bukan karena ia menganggapnya sebagai suatu kebenaran, tetapi hanya karena latar belakang politik.
Barnes’ Notes: “He was not a man content to remain quiet, trusting simply to the promise made him (1 Kings 11:38). Hence, he gave way to the temptation of helping forward the plans of Providence by the crooked devices of a merely human policy” [= Ia bukan orang yang puas untuk tinggal diam, hanya percaya pada janji yang diberikan kepadanya (1Raja 11:38). Karena itu, ia menyerah pada pencobaan untuk membantu rencana dari providensia oleh muslihat yang bengkok dari semata-mata politik manusia].
Matthew Henry: “He was distrustful of the promise of God, could not take his word that, if he would keep close to his duty, God would build him a sure house (1Kin 11:38); but he would contrive ways and means, and sinful ones too, for his own safety. A practical disbelief of God’s all-sufficiency is at the bottom of all our treacherous departures from him” [= Ia tidak percaya pada janji Allah, tidak bisa menerima kata-kataNya bahwa, jika ia dekat pada kewajibannya, Allah akan membangun baginya keluarga yang teguh (1Raja 11:38); tetapi ia membuat / menyusun jalan dan cara, yang berdosa, demi keamanannya sendiri. Ketidak-percayaan praktis tentang kecukupan Allah merupakan dasar dari semua penyimpangan yang bersifat pengkhianatan dari Dia].
Adam Clarke: “This was not the last time that religion was made a state engine to serve political purposes” [= Ini bukan yang terakhir kalinya bahwa agama dijadikan mesin negara untuk melayani tujuan-tujuan politik].
Sekarang ia dengan keras kepala mempertahankan dosa itu. Rupanya ia tetap beranggapan bahwa dosa itu bisa menjaga keamanan mahkotanya. Tetapi ay 34 ini menunjukkan bahwa dosa yang ia anggap bisa menjamin mahkota kerajaannya itu, ternyata justru menjadi penyebab kehancuran mahkotanya.
Matthew Henry: “he promised himself that the calves would secure the crown to his family, but it proved they lost it, and sunk his family. Those betray themselves that think by any sin to support themselves” [= ia menjanjikan kepada dirinya sendiri bahwa anak-anak lembu itu akan mengamankan / menjamin mahkota bagi keluarganya, tetapi terbukti bahwa anak-anak lembu itu menghilangkan mahkota itu, dan menenggelamkan keluarganya. Mereka yang mengira bahwa ada dosa apapun yang bisa menopang diri mereka sendiri, mengkhianati diri mereka sendiri].
Adam Clarke: “A holy priesthood, a righteous ministry, is a blessing to any state, because it has a most powerful effect on the morals of the community; inducing order, sobriety, and habits of industry among the people: on the contrary, the profligacy of the clergy, and false principles of religion, are the most likely to unsettle a kingdom, and to bring about destructive revolutions in the state” [= Suatu ke-imam-an yang kudus, suatu pelayanan / kependetaan yang benar, merupakan suatu berkat bagi negara manapun, karena itu mempunyai suatu pengaruh yang paling kuat pada moral dari masyarakat; menyebabkan keteraturan, kewarasan, dan kebiasaan yang rajin di antara bangsa: sebaliknya, kebejatan dari kependetaan, dan prinsip-prinsip agama yang salah, adalah yang paling mungkin untuk menggoncangkan suatu kerajaan, dan menyebabkan revolusi yang bersifat menghancurkan dalam negara].
-o0o-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali
Alamat Gereja :
Jl. Raya Kali Rungkut 5 - Ruko Rungkut Megah Raya BLOK D - 16, SURABAYA
Rek Gereja : Account BCA 3631422185 a/n Tjoe Ming Tjhuin